06 Juli 2017

Hyouka Jilid 5 Bab 2-1 LN Bahasa Indonesia


SAAT INI : 1.4KM; 18.6KM TERSISA
(Translater : Hujan; Editor : Hikari)


Aku tidak bisa menggerakkan gerigi di benakku saat menuruni lereng.
Meskipun aku berjuang dengan gigih saat memanjat, tetapi semua hasil kerja kerasku hilang dalam sekejap begitu mulai menuruni lereng. Jika ini memang ulahku dan akhirnya mengharuskanku menuruni lereng, kenapa pula aku harus mendaki? Kini aku menyesali perbuatanku.
Walau permulaan tanjakan lereng sangat mulus, turunannya berubah drastis menjadi sangat curam. Ini mengingatkanku pada jalur Hiyodorigoe1. Kedua sisi lereng mulai dipenuhi bermacam jenis pohon pinus, sehingga menghalangi pandanganku. Jika aku bermalas-malasan menuruni lereng ini, aku bisa berakhir dalam posisi layaknya orang yang terperosok dari lereng, karena itu aku mengabaikan semua ide tersebut. Jika aku mulai berlari asal-asalan, maka suara kakiku menghentak aspal  akan terdengar keras. Berlari seperti ini hanya akan menghancurkan lututku. Sambil mengingat itu, aku putuskan untuk menerapkan gaya berlari energik bersamaan dengan langkah-langkah pendek yang natural. Walau normalnya kakiku akan terasa sakit jika aku berlari terlalu cepat, tetapi sudah jadi ketetapan jika turunan ada untuk memudahkan berjalan cepat. Kalau aku tidak berlari serius sepanjang lintasan 20km ini, aku tidak akan sampai hingga matahari tenggelam.
Karena itu, aku hanya fokus menuruni lereng.
Dan pada saat yang bersamaan, perkataan Ibarakalimat sederhana yang dia dengar dari Ohinataterus berputar di dalam kesadaranku.
Seperti seorang bodhisattva .... Seperti seorang Bodhisattva…
Entah kenapa, aku justru merasa sedikit merinding mendengar kata-kata yang seharusnya membawa keberuntungan itu. Namun, aku tengah menuruni lereng dengan langkah terlalucepat untuk bisa memikirkan arti dibaliknya.
Lintasan menurun lereng ini memiliki belokan besar. Kelompok siswa laki-laki yang telah dengan mulus melewatiku sebelumnya dengan terlalu bersemangat dan kini berakhir keluar dari belokan. Sepertinya kaki mereka kelelahan. Saat mereka menyadari situasi mereka, aku bisa mendengar para siswa di depan sedang dengan panik menghentak aspal dengan kaki mereka.
Sedangkan aku, aku agak menyusuri lekukan bagian dalam saat berbelok di sudut, kemudian bidang penglihatanku akhirnya terbuka sekali lagi. Aku bisa melihat masih ada salju yang tersisa di pegunungan di sekitar Kamikakiuchi. Tidak bisa dipastikan apakah angin musim dingin berembus dari arah itu, yang jelas tiba-tiba aku merasa kedinginan.
Satosi telah pergi lebih dulu dengan sepedanya. Ibara juga sudah pergi. Sebelum Chitanda juga bisa menyusulku, ada yang ingin kupikirkan dahulu.
Begitu lerengnya berakhir dan jalanan kembali menjadi datar, aku mulai merelakskan kakiku.
Aku tidak ingat kapan aku dan Ohinata pernah berdiskusi panjang dan bertatap muka secara langsung. Mungkin karena Ohinata telah bergabung dengan klub. Namun, ada sesuatu yang tidak pernah kupikirkan serius hingga sekarang. Lagi pula, jika benar ada masalah antara Chitanda dan Ohinata, mungkin “hal ini” mungkin sangat penting untuk bisa memahami situasi ini.
Aku tidak suka ide memikirkan apa yang terjadi hari itu. Bagaimana harus kubilang ya ...? Ini bukan seperti menyebabkan keringat dingin mengalir di punggungku. Tapi aku punya firasat buruk bahwa rasa gelisah yang kurasakan saat itu, masih tersisa hingga sekarang.
Aku masih bisa mengingat dengan jelas, baik tanggal dan waktu saat itu.
Itu terjadi di hari minggu.

Catatan Penerjemah:
1.    Hiyodorigoe:
Jalur pegunungan yang terletak di Gunung Tekkai (Daerah Suma, Prefektur Hyogo, Kobe). Secara teori ada lintasan pegunungan, tetapi tidak ada penjelasan jelas mengenai lintasannya. Berikut ini adalah gambaran Hiyodorigoe.

Hyouka Jilid 5 Bab 2-1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.