11 Juli 2017

Hyouka Jilid 3 Bab 3-2 LN Bahasa Indonesia


WILD FIRE
(Translater : Faris; Editor : Hikari)

029 - ♣07
Karena rambut panjangku mengganggu, aku mengikatnya  di belakang kepala.
Aku selalu penasaran mengapa klub memasak (Ed.:The Cooking Club) memiliki awalan 'the' pada namanya.
Pertanyaan itu dengan cepat dijawab oleh ketuanya.
“Sesuatu yang tidak diduga telah terjadi dengan klub memasak yang lama, dan mengarah pada pembubaran klub. Jadi kami mendaftarkan ulang dengan nama baru sebagai gantinya.”
Sepertinya mereka telah melalui semua itu.
Setelah diajak oleh Fukube-san, sekarang aku mengikuti turnamen memasak “Wild Fire.” Nama yang aneh untuk sebuah turnamen, sejak mengikutinya, satu hal yang mudah dimengerti mengapa nama itu digunakan. Turnamen Wild Fire tidak bertempat di ruang Ekonomi, tetapi di lapangan luar.
Meja diatur seperti dapur yang sempit, dan air disediakan terbatas. Api untuk memasak disediakan di kompor berkaki dua di setiap meja....Tentu hal ini terlihat aneh, tapi di sisi lain, ini berarti penonton dapat melihat apa yang terjadi.
Selain itu, turnamen ini melibatkan tim yang terdiri dari tiga orang...
“Mayaka-san benar-benar terlambat.”
Batas akhir untuk menerima entri hampir berakhir, dan tinggal tiga menit lagi menuju 11.30, dimana turnamen resmi dimulai. Anehnya Fukube-san tetap tenang.
“Setiap anggota tim mempunyai dua puluh menit, jadi kami memasukkan nama Mayaka di bagian terakhir. Jika dia tetap tidak datang dalam empat puluh menit, maka mau bagaimana lagi. Kami di sini hanya untuk mempromosikan klub, jadi tidak masalah kalau kami menang atau tidak.”
Meski dia berkata benar, aku tetap memandang sekilas ke arah pintu masuk lapangan.
Seorang siswa laki-laki berbicara dari arah belakang kami.
“Tak masalah kau menang atau kalah? Itu tidak lucu, Fukube!”
Apakah dia teman Fukube-san? Aku tak pernah melihat dia sebelumnya.
Meskipun Fukube biasanya terlihat bersemangat, mungkin dia kelelahan karena begitu aktif selama turnamen, karena dia terdengar sangat acuh tak acuh ketika menjawab temannya.
Tidak, kami berjuang sekuat tenaga.”
Temannya tidak terlihat memikirkannya dan sedikit tersenyum.
“Dalam kondisi apapun, aturan tiga orang dalam satu tim memang hebat! Jika masakanku tidak cukup tercium wanginya, aku tetap didukung oleh dua temanku yang lain. Tetap, tidak seorangpun dapat menang sendirian, jadi kau bisa menjalankan sesuai rencana.”
“Bukankah sama saja untuk semua tim turnamen?”
Ngomong-ngomong, apakah kau sudah teman satu tim yang bagus? Perlu diketahui, Tim B mempunyai Suhara, anak dari chef Miraku di Jalan Utama.”
“Ah, aku sudah dengar itu.”
“Dan aku satu tim dengannya.”
Fukube-san memberikan senyum ambigu.
“Wow, itu bagus. Semoga tim terbaik yang menang nanti.”
Seperti yang kuduga sebelumnya, sesuatu terasa aneh. Fukube-san yang kutahu lebih ramah. Tetap saja, temannya sangat bersemangat dan kembali ke timnya. Aku dengan lembut memanggil Fukube-san.
“Fukube-san.... apakah kau baik-baik saja?”
Orang yang menoleh adalah Fukube-san yang biasanya,
“Bagaimana perasaanku? Aku merasa luar biasa! Aku rasa hari ini ingin membuat Nasi Goreng Seafood Fukube!”
Kelihatannya aku terlalu memikirkan hal ini. Aku tersenyum.
Aku menantikannya.. Aku tak tahu apakah aku salah, tetapi kita hanya diijinkan memasak nasi dari nol. Jika kau akan membuat nasi goreng, bukankah kau harus memasaknya dengan baik di bagian akhir?”
Fukube-san tidak terlihat begitu bersemangat. Seperti yang kuduga, mungkin dia kelelahan, itulah yang ditunjukkan wajahnya.

Keramaian mulai terlihat, sekitar seratus atau dua ratus, mungkin lebih. Jika dipikir lagi kami memasak di depan banyak orang... Ini sedikit memalukan.
“Um.. jika Mayaka-san memasak terakhir, siapa yang akan memasak pertama?”
“Hmm? Chitanda-san, aku mengatakan kalau kita akan memasak nasi, jadi mungkin kau masak giliran pertama.”
“Tapi akan memakan waktu lebih dari satu jam untuk mempersiapkan nasi, mungkin terlalu lama...”
Aku tak bisa menjelaskan dengan baik, tapi mungkin Fukube-san menyadarinya dari tatapanku.
Dia menjawab, “Baik, aku akan masak yang pertama. Kalau untuk membuat Nasi Goreng Seafood Fukube. Aku bisa membuatnya kapan saja!”
Oh tidak, kau sungguh tidak perlu mengatakannya begitu jelas.
Selain menyiapkan meja dapur di podium, dimana ketua Klub Memasak berjalan dan mulai menjelaskan aturan main. Dengan suara keras, dia mulai mengenalkan tim yang ikut serta dalam turnamen.
“Kami memiliki total lima tim yang mengikuti turnamen ini, tapi kami hanya punya empat meja dapur, hanya empat tim pertama yang bisa mengikuti Kejuaraan Wild Fire.”
“Dan sekarang, kita perkenalkan diri mereka. Peserta No. 1 : Tim Ajiyoshi!”
Sebuah tim dengan tiga siswa kelas tiga. Aku melihat mereka sekilas dan dua lainnya memiliki kuku yang panjang. Apakah mereka sangat jarang memasak?
“Peserta No. 2 : Tim Fata Morgana!”
Tim dimana teman Fukube berada. Satu anggotanya terlihat tenang dan pendiam. Mungkin dia anak dari chef Miraku.
“Peserta No. 3 : Tim Klub Astronomi!”
Huh?! Sepertinya klub lain berpikiran sama seperti Fukube-san lakukan dan berpatisipasi. Satu anggotanya mengangkat tangan untuk menyapa para penonton… Kami pernah bertemu sebelumnyadia Sawakiguchi-san, orang yang dengan rambut gaya chignon yang biasanya. Oh, dia melemparkan ciuman kepada penonton. Dia terlihat seperti lawan yang tangguh.
“Peserta No. 4 : Tim Klub Sastra Klasik!”
Fukube-san mengangkat tangan kanannya ke udara. Aku tak tahu apa yang kulakukan, tetapi, aku memutuskan untuk membungkuk memberi hormat kepada penonton sekeliling.
“Aturannya sudah dijelaskan dengan baik sebelumnya. Setiap tim membuat tiga hidangan. Bahan-bahan tersedia di dalam keranjang yang berada di tengah lapangan dengan siapa cepat dia dapat. Kami seringkali menemukan peserta yang hanya mendapat beras, jadi tolong rencanakan apa yang kalian butuhkan sebelumnya. Jika bahan di keranjang habis, kalian diizinkan untuk mendapatkan bahan dalam batas wilayah sekolah. Kami juga memiliki Klub Berkebun yang memasak ubi hari ini, apa kalian tahu?”
Oh, begitu. Bahan yang didapat dengan siapa cepat dia dapat, akan lebih baik untuk peserta pertama yang mempersiapkan bahan untuk anggota yang lain. Aku senang Fukube-san memasak yang pertama, karena aku akan kewalahan dengan begitu banyaknya pilihan.
“Dan sekarang, peserta pertama, bersiap di posisi kalian...”
“Baiklah, aku akan mulai.”
Fukube-san melambaikan tangannya dan berjalan menuju meja dapur. Empat meja diatur dengan cara mengelilingi bahan-bahan yang ada di bagian tengah.
Ketua Klub Memasak meniggikan suaranya dari podium.
“Wild Fire : MULAI!”

Fukube-san mendapatkan bahan tiga gelas beras, satu kantung ikan sarden kering, sedikit minyak goreng, sebotol cuka jahe, empat potong tahu, setengah potong lobak, tiga batang daun bawang, enam kentang, sedikit wijen hitam, 200g irisan daging babi, satu bungkus udang, dan sebungkus tepung kentang. Untuk bumbu dan penyedap rasa seperti miso, saus kecap, wasabi, merica, nampaknya tidak dibatasi seberapa banyak kami dapat menggunakannya.
Fukube-san berpikir sebentar sebelum melanjutkan dengan merebus sepanci air. Sambil menunggu air mendidih, dia memulai memotong daun bawang. Mengambil satu dari tiga daun bawang yang dia dapatkandia melanjutkan dengan memotongnya menjadi potongan kecil, walaupun tidak secepat orang yang profesional. Sungguh terlihat berbahaya. Kemudian dia mengambil sarden kering. Ah, jadi dia menyiapkan sup miso.
Memantau dari podium, Ketua Klub Memasak mulai mengomentari untuk kepentingan penonton.
“Oh, nampaknya klub sastra klasik sangat teliti! Mereka dengan perlahan mengambil isi perut sarden satu per satu! Ini merupakan langkah yang penting!”
Setelah mengmbil isi perut sarden, Fukube mulai memotong lobak menjadi potongan kecil.
Tunggu, Fukube-san! Tak masalah bagaimana kau memotongnya, tapi kau lupa untuk mengupas kulitnya! Tapi anggota tim tidak diijinkan untuk berbicara ketika anggota yang lain sedang memasak. Lobaknya! Lobaknya! Aku mencoba menggerakkan badan untuk memberitahunya... lobaknya!
Setelah memotong semuanya, akhirnya dia memyadarinya dan mengambil alat pengupas. Oh, ya ampun! Dia mengupas kulitnya di setiap potongan kecil satu per  satu! Tapi jika kau lakukan itu, lobaknya akan terlalu kering ketika kau memasukkannya ke dalam air panas!
Setelah mengupas kulit lobak, Fukube-san menempatkan sarden kering di sampingnya... Walaupun dia berhati-hati dengan isi perutnya, seharusnya itu tidak tercium amis lagi. Fukube-san lanjut memusatkan perhatiannya pada potongan daging babi. Dia berjalan menuju tengah lapangan dan mengambil bumbu miso. Ada tiga tipe miso : merah, putih, dan koji, kemudian Fukube-san memilih putih. Sekarang, bahkan aku tahu apa yang akan dibuatnya dan itu bukan sup miso biasa. Sekarang dia menaruh sendok sup miso di tangan kirinya dan sendok biasa di tangan kanannya.
Dua puluh menit berjalan dan kompor di meja dapur penuh dengan  sup miso daging babi.
“Dua puluh menit berakhir! Harap bergantian sekarang.”
Fukube-san berlari kembali ke tempat kami duduk, dan hal pertama yang ia katakan, “Tidak berjalan sebaik yang kupikirkan!
“Mengupas kulit?”
Fukube-san menggelengkan kepala.
“Yeah itu jugatapi kalau aku akan membuat sup miso daging babi, seharusnya aku tidak menghabiskan begitu banyak waktu untuk berhati-hati saat mengupas isi perut sarden! Itu memakan banyak waktu...”
Dia benar, kami tak boleh menghabiskan banyak waktu.
“A-aku mengharapkanmu, Chitanda-san.”
Aku mengangguk.
Serahkan padaku.

030 - ♣10
Dan saat aku penasaran bagaimana jalannya kompetisi memasak Chitanda...
Dia cepat! Tidak hanya gerakannya, tapi bagaimana cara dia mengatur semuanya dengan baik. Walaupun sekelilingnya sempit, dia bisa bergerak seakan dia memiliki banyak kaki dan tangan. Komentator pun sampai terkejut.
“Ada apa dengan anggota kedua tim Klub Astronomi Sawakiguchi? Apa yang sedang ia buat?... Whoa! Lihatlah betapa luar biasanya Chitanda dari Tim Klub Sastra Klasik mengiris kulit lobak!”
Sebelumnya, kulit lobak sudah dikupas tipis seperti selembar kertas panjang. Kemudian Chitanda menempatkan daung bawang pada talenan sambil mempersiapkan cuka jahe. Bagaimana Chitanda-san bisa berpindah dengan cepat saat dia biasanya lemah gemulai, maksudku, lemah lembut?
Menggunakan potongan tipis lobak, dia membungkusnya dengan potongan daun bawang dan jahe sebelum menaruhnya di atas piring. Satu masakan selesai. Sial, hanya sekitar dua menit sejak dia memulai.
Chitanda tiba-tiba berhenti bergerak, sekitar sepuluh detik. Saat aku menyadari apa yang terjadi, dia mulai bergerak kebingungan lagi. “Ah ya, nasinya.” Fyuuh, itulah Chitanda-san yang kutahu.
Dia lebih dulu mulai dengan mencuci beras, caranya mencuci sungguh luar biasa.
“Tim Sastra Klasik menggunakan waktu mereka untuk mencuci beras... Mereka dengan baik mengguanakan setiap ons dengan alokasi 6 liter air! Untuk membawa rasa terbaik pada nasinya, Klub Sastra Klasik tidak menyia-nyiakan sumber daya yang dimiliki! Lihat dengan baik, itulah caranya mencuci beras, dengan perlahan-lahan mengalirkan airnya dengan tanganmu!
Dia sangat lembut, tapi cepat. Setelah memutuskan seberapa banyak menggunakan air, Chitanda kemudian merebusnya dan kembali memusatkan perhatian pada hal yang lain.
“... Tim Ajiyoshi sudah menyelesaikan hidangan kedua sup miso. Apakah mereka merencanakan untuk membuat variasi sup miso? Sementara itu, teriyaki Tim Fata Morgana terlihat berjalan dengan mulus!”
Perpindahan Chitanda-san lebih intens. Dia membungkus tahu dengan kain dan menaruhnya di mangkuk, kemudian menaburi garam dan gula saat memanaskan wajan. Tidak, dia tidak hanya memanaskan wajan, dia juga menaburinya dengan wijen hitam dan minyak. Lalu menaruh dan menyebarkan secara merata di atas wajan. Komentator langsung berbicara cepat.
“Oh lihat, Tim Sastra Klasik membuat GiseyakiAku merasa begitu tersentuh sampai menitikkan air mata karena Chitanda dari Tim Sastra Klasik!”
Sepertinya itu adalah hidangan yang belum pernah kudengar...
Chitanda-san kemudian mulai mengupas kulit kentang sambil sesekali kembali ke wajan untuk mengawasinya. Sesudah mengupas kulit kentang, dia mengeluarkan tahu dari wajan. Tahu itu sekarang mempunyai warna yang mengagumkan saat dia  menempatkannya di atas talenan. Memotong tahu, dan menempatkanya ke piring. Hidangan kedua selesai.
Aku bisa mencium aroma manis yang berasal dari gula yang terpanggang dan juga wijen hitam. Aku tak bisa berkata apa-apa, sungguh, aku merasa seperti ingin memakannya!
“...Tercium aroma manis dari hidangan dari Tim Sastra Klasik! Sungguh hebat, mengesankan hanya dengan aromanya!”
Sementara itu, aroma masakan saus kecap datang dari tim Tani-kun.
“Tim Fata Morgana juga sudah menyelesaikan teriyaki mereka. Warnanya terlihat luar biasa. Orang tidak bisa menganggap mereka hanya sebagai murid biasa. Jadi siapa mereka sebenarnya?!”
Kalian berhadapan dengan Nona Chitanda Eru, putri dari klan petani Chitanda! Ingatlah namanya!
Tidak cukup waktu untuk mencuci wajan. Segera setelah dia mengisi panci dengan air dan mendidihkannya, tanpa menunggu lagi dia langsung membaut udang , dengan cepat mengupas kulitnya. Dia lalu kembali mengecilkan api ketika nasi mulai mendidih. Dan ketika air panas sudah mendidih, dia memasukkan ubi. Mengambil beberapa lobak, Chitanda mulai membuat saus wasabi. Yup, sepertinya begitulah cara menyiapkan udang .
Sementara itu, dia dengan cepat membersihkan mangkuk wadah tahu sebelumnya dan menaruh tepung ke dalamnya. Aku penasaran apa yang dilakukannya sekarang. Merasa penasaran, aku memutuskan untuk melihatnya.
Meskipun ubinya sekarang sudah mendidih, dia tidak langsung membuang air rebusannya. Menggunakan garpu dan sendok sup miso, dengan mahirnya dia mengeluarkan isinya. Setelah menguras kelembapannyadia menaruhnya ke dalam mangkuk berisi tepung dan mulai menghaluskannya dengan lesung. Apakah dia bisa membuat makanan yang melibatkan penggilingan? Tepung dan ubi yang panas, apa yang akan dia buat? Memasak sungguh sulit. Oran yang paling banyak memiliki kejutan adalah yang paling menarik. Aku sungguh ingin melihatnya. Mengambil peralatan putih yang muncul dari mangkuk, dia membungkus dengan kain dan mulai menekannya menjadi gumpalan. Dia kemudian mencemplungkan gumpalan itu kembali ke dalam air rebusan.
“Nampaknya Tim Klub Astronomi melanjutkan dengan memasak Avant-Garde mereka, aku berdoa untuk kesehatan juri kita.... Whoa, Tim Sastra Klasik membuat imo-mochi! Chitanda sangat mahir! Tapi apakah mereka akan baik-baik saja?”
Imo-mochi, huh? Aku sangat menyukainya. Sekarang waktunya tinggal berapa menit lagi? Dengan melihat jam tanganku, kami masih mempunyai dua menit. Tapi bukankah komentator harusnya mengatakan sesuatu tentang waktu yang tersisa?
Melihat meja dapurnya, aku melihat deretan piring, juga deretan perkakas, dan hidangannya sekarang sudah disiapkan, dan kemudian bahannya....
“AHH-~!”
Aku berteriak. Dan dengan segera,
“Whoa di sana, Tim Sastra Klasik! Tidak diijinkan untuk bicara.”
Sial, ini buruk.
Itu dia, masih ada waktu agar dia tahu! Ini sungguh buruk. Chitanda-san membuat kesalahan besar. Tapi apakah bisa diselesaikan? Aku menyilangkan tangan di atas kepala untuk mengindikasikan kalau dia membuat kesalahan.
Chitanda-san melihatku memberikan gerak isyarat, apakah dia menyadarinya?
Dia memberikan senyuman lembut dan menyilangkan tangannya.
“....”
Sepertinya kami tak bisa berkomunikasi satu sama lain.
Ini tak berguna. Bahkan kalau dia menyadarinya, tak ada yang bisa dilakukan.
Imo-mochi mulai mendidih di panci. Menempatkannya di piring kecil, dia menaruh sedikit saus kecap diatasnya.
Dan sekarang instruksi diberikan, “Empat puluh menit berakhir! Silakan berganti dengan anggota terakhir kalian sekarang,” ucap komentator.

“Bagaimana menurutmu?”
Walaupun bergerak dengan sangat gesitnya, Chitanda-san tak menunjukkan tanda kelelahan dan tersenyum. Sedangkan aku, aku balas tersenyum, mengetahui bahwa aku tak bisa melakukan seperti yang dia lakukan.
“Kau luar biasa, Chitanda-san. Aku tak tahu kau bisa memasak sebaik itu.”
Chitanda-san menjawab dengan malu-malu, ”Benarkah begitu? Aku sangat suka memasak.”
“Yeah, bisa kulihat itu. Tapi.....”
“Tapi?”
Ekspresinya menjadi suram.
“... Apa ada sesuatu yang salah?”
Ketua Klub Memasak berbicara,
“Anggota terakhir Tim Sastra Klasik tidak terlihat! Padahal mereka memiliki penampilan yang luar biasa hingga sekarang....”
“Chitanda-san, ini sebuah tim tiga orang.”
“Tentu saja. Aku khawatir tentang Mayaka-san.”
“Tidak, bahkan seandainya dia datang..”
Aku menunjuk ke arah meja dapur tempat Chitanda-san bekerja dengan penuh semangat.
Ada satu panci nasi, gulungan lobak yang diisi dengan jahe dan irisan daun bawang, giseyaki, imo-mochi, sashimi udang dan sup miso daging babi.
Chitanda-san terlihat ceria, saat kami melihat mahakaryanyaTapi... dia melihat ke kanan, dan kemudian melihat ke kiri lagi. Kemudian dia menutup mulutnya.
“...OH!”
Jika ini sebuah candaan, ini sungguh lucu. Bahan yang tersisa hanya lobak dengan kulit yang sudah dikupas, dan sepotong bawang. Itu sama saja dengan sampah.
Hahaha, maaf tentang itu, Mayaka.

031 - ♦06
Jika aku punya banyak waktu, aku akan menggambar lebih baik, tapi jika ini tentang kecepatan menggambar aku akan tetap memilih agar sempurna, dan dengan demikian aku berakhirdengan meyelesaikan ulang detailnya yang tidak terlalu kusenangi lagi dan lagi. Aku menyadari kalau aku sudah melewati waktu yang kujanjikan untuk bertemu dengan Fuku-chan, tapi jika aku tidak menyelesaikan bentuk mata di sebelah sini, maka gambarnya tidak akan terlihat seimbang.
Dengan demikan, tidak mudah kalau hanya memutuskan dimana untuk mengulangnya. Dengan semua tekadku, aku bekerja pada bagian itu dengan pena dan penghapus, dan waktu berjalan sebelum aku menyadarinya.
“Aku selesai!”
Kouchi-senpai mengangkat alis matanya dan melihat gambar wanita tersenyum.
“Itu tidak terlihat selesai, tapi cukup bagus,” katanya.
Selama dua setengah jam, kami menggambar potret seluruh tubuh dan gambar potret wajah. Walaupun itu bukan angka untuk dibanggakan tentang kecepatan kami, ini tetap banyak. Walau sebagian besar aku bertanggung jawab dalam urusan penghapusan setiap kerusakan yang kulihat dan juga menyelesaikan bagian yang belum digambarnya, aku harus pergi sekarang. Aku telah memberitahu kalau aku bisa tepat waktu jika sampai jam 12 siang, tapi sekarang sudah lewat sepuluh menit sejak saat itu.
Menggulung poster, Ketua Yuasa berkata, “Terima kasih Ibara. Aku sungguh minta maaf telah mengambil waktumu, walau sebelumnya kau ada janji.”
Sebagai ketua, dia tidak harus melakukan apapun dalam menggambar, dan pada dasarnya hanya terlibat dalam menyampaikan gambar yang sudah selesai ke booth penjualan untuk ditampilkan. Aku memberi hormat dan beranjak pergi dari Ruang Persiapan No.1
Dengan segera, aku ditelan atmosfir Festival Budaya. Seluruh koridor ditutupi dengan iklan dan dekorasi, juga siswa yang berjalan dengan santai. Aku mempercepat langkahku melewati mereka, dan saat itulah aku bisa dengan cekatan melewati mereka dengan tubuh kecilku.
Sementara aku tidak bisa memperhatikan waktu karena aku sangat sibuk menggambar poster, seperti turnamen Klub Kuis kemarin, aku bisa mendengar apa yang terjadi di lapangan melalui speaker.
“.... Tim Ajiyoshi sekarang mulai menyiapkan makanan penutup dengan mengupas kulit apel. Tapi akan kau apakan kulit apel ini? Mereka membuat suatu bentuk yang menarik! Anggota terakhir Tim Sastra Klasik masih belum datang...”
Aku meluncur melintasi koridor dan berbelok pada ujungnya, lompat melewati tangga yang ditempeli poster. Mengganti sepatu untuk di dalam ruangan di loker sepatu memang menyusahkan, dan dalam sekejap mengambil sepatuku. Di ujung barisan poster putih adalah cahaya matahari yang menyilaukanAda keramaian  yang berkumpul di lapangan, dan aku melihat kelebatan Chi-chan yang menuju ke arahku. Ini pertama kalinya aku melihat dia mengikat rambutnya di belakang kepala.
Ketika berpikir tentang itu, kumpulan keramaian tiba-tiba serempak memandang ke arahku, saat pembawa acaranya berseru, “Oh! Apakah gadis dengan pakaian kasual itu merupakan anggota Tim Sastra Klasik? Apakah dia bisa berhasil?”
Untuk beberapa alasan, keramaian mulai bertepuk tangan. Saat itulah aku menyadari apa yang kupakai. Itu benar, aku masih menggunakan pakaian cosplay....
Badanku terasa panas. Aku sungguh ingin mengeluh. Aku tak ingin berpakaian seperti ini! Tapi nyatanya, jika harus seperti ini maka mau bagaimana lagi.
Aku buru-buru menuju tempat turnamen tempat dimana Chi-chan berada. Fuku-chan mengangkat tanganya dan menuju laki-laki yang ada di podium dengan sebuah mic.
“Juri! Karena anggota kami terlambat, ijinkan kami menjelaskan situasi kepadanya!”
Sang lelaki terlihat sedikit tidak setuju, tapi kemudian dia berbicara melalui microphonnya.
“Singkat saja”, katanya
Fuku-chan mungkin sudah mengatur semua sebelumnya jadi dia bisa berbicara dengan cepat.
“Di sana ada nasi yang sudah dimasak di panci sebelah kanan, seharusnya sudah siap. Di sebelah kiri ada sup miso daging babi, semua yang kau butuhkan adalah menghangatkannya. Dan untuk bahan-bahannya...”
Chi-chan terlihat seperti ingin menangis... apakah Fuku-chan telah menjahilinya?
“Aku sungguh minta maaf, Mayaka-san!”
“... Selain barang-barang yang tersisa di dapur, kau hanya diijinkan untuk menggunakan bahan yang ada di dalam sekolah. Aku sungguh minta maaf kau selalu mendapat bagian yang terburuk, tapi kau harus mencari tahu bagaimana membuat sesuatu dari itu semua. Kami mengandalkanmu.”
Dia tersenyum lembut kepadaku dari belakang menuju dapur.
Pertama aku harus mengurus nasinya. Apinya diatur kecil, dan panci itu membuat suara mendesis karena tutupnya menghalangi uap agar tidak keluar. Aku mengambil kain di dekatku, jadi aku mematikan apinya, mengambil penutupnya dan menutupi pancinya dengan kain. Ini seharusnya sudah selesai sekarangKini, apa yang bisa kubuat?
“...Eh?”
Ummm.
Bagaimana mengatakan ini? Tak ada apapun kecuali yang bisa kau sebut sampahYang kupunya hanyalah sebuah lobak dan potongan daun bawang hijau. Daun bawang dan lobak... Apa yang bisa kubuat dengan iniAtau ditumis dengan apa?
Di sekeliling empat meja dapur terdapat satu keranjang di tengah. Aku bisa melihat sebungkus wasabi didalamnya. Jika aku kesana mungkin ada sesuatu yang berguna, jadi  aku berlari kesana untuk melihat.
... Satu-satunya bahan yang bisa kutemukan adalah sebuah bawang jelek yang cukup kecil seukuran telapak tangan. Selain itu ada beberapa blok es... Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu tak cukup.
Di sisi lain, aku melihat hidangan yang telah kami buat, dan aku melihat beberapa hidangan yang luar biasa. Fuku-chan tidak bisa membuat itu, jadi pasti Chi-chan yang membuatnya. Wow. Tidak mungkin aku bisa mengalahkannya. Tapi masalahnya sekarang adalah hidangan apa yang cocok di samping semua hidangan mengagumkan itu. Jika membuat sesuatu yang aneh, usaha Chi-chan akan terbuang sia-sia.
Potongan lobak, irisan bawang hijau dan bawang yang buruk... Apa ini? Kumpulan teka-teki? Aku diam tidak bergerak sambil menatap talenan. Sekarang aku tahu maksud Fuku-chan tentang aku yang mendapat yang terburuk itu. Komentar dari lelaki yang ada di podium cukup menjengkelkan.
“Tim Sastra Klasik kelihatannya keluar dari satu kesulitan ke masalah yang lebih besar! Mereka kehabisan bahan. Jika anggota terakhir tidak bisa memasak apapun, maka seluruh skor mereka menjadi nol. Apakah ini akhir dari Tim Sastra Klasik?”
Apa yang bisa kulakukan?
... apa yang bisa kubuat?

032 - ♠09
“Tim Sastra Klasik kelihatannya keluar dari satu kesulitan ke masalah yang lebih besar! Mereka kehabisan bahan. Jika anggota terakhir tidak bisa memasak apapun, maka seluruh skor mereka menjadi nol. Apakah ini akhir dari Tim Sastra Klasik?”
Apa yang mereka lakukan sih...
Dari ruang Geologi lantai empat Blok Khusus, aku bisa melihat apa yang terjadi di sana. Atau lebih tepatnya, aku bisa mendengar apa yang terjadi dengan turnamen Wild Fire. Ketika aku tidak punya ide bagaimana sebuah tim tiga orang bisa mengatur semua bahan setelah giliran anggota kedua, aku tahu kalau anggota kedua tim Sastra Klasik pasti Chitanda Eru, jadi aku tidak terkejut.
Aku bergumam pelan, “Apa yang akan kau lakukan?”
Mengatakan itu, bukan berarti “Apa yang akan dilakukan Ibara.” Sebaliknya, apakah aku akan menelan harga diriku dan membantu Ibara keluar dari kesulitan, menutupi kesalahan Chitanda, dan membantu promosi Satoshi.
Jawabannya sudah jelas dari awal.
Tidak.
..... Bagaimanapun juga, mereka ini main-main. Bergerak dari jendela, kembali ke kursi dan mulai membuka lembaran buku yang sungguh membosankan aku berhenti membaca setengahnya.
[150 HALAMAN TERSISA]

033 - ♣11
Chitanda-san telah melepaskan ikatan rambut dan mengembalikannya menjadi rambut yang terurai panjang, dan sekarang secara terus-menerus berbisik sambil melihat Mayaka.
“Apa yang akan dilakukan Mayaka-san dengan bahan-bahan itu?... Aku sungguh penasaran.”
Dan tepatnya itu gara-gara kesalahan siapa?
Tapi dia Chitanda-san, aku tak bisa memberinya balasan jawaban yang tepat.
Mayaka tetap membeku di tempat. Jika itu aku, aku akan mengambil daun bawang, lobak dan bawang dan menumis semuanya tanpa memikirkannya lagi, tapi Mayaka mungkin tidak seperti itu. Dia mungkin berpikir hidangan aneh semacam itu hanya akan menjadi gangguan untuk masakan Chitanda-san.
Sementara aku tidak begitu memperhatikan apa yang dilakukan tim lain, aku melihat sekilas Tim Fata Morgana, memikirkan bagaimana Tani-kun terlihat memperlakukan Klub Sastra Klasik sebagai saingannya. Mengambil alih tanggung jawab dari anak chef, sekarang giliran Tani-kun memasak.... Nasi Omelet? Itu sungguh pilihan masakan yang sulit, semoga berhasil.
Mayaka hanya terdiam di dapur dengan tangan tersilang. Jika itu aku, maka aku akan mengangkat tangan dan menyerah, tapi Mayaka bukan tipe orang yang akan menyerah. Dan dia mungkin kelelahan setelah bekerja keras saat di Klub Manga. Komentator pun berteriak.
“Sepertinya Tim Sastra Klasik kehilangan (...TOSHI!) ide. Tinggal sepuluh menit waktu tersisa, waktu terus berkurang, apa yang bisa mereka lakukan sekarang?”
Hmm? Kupikir aku mendengar sesuatu dalam komentarnya. Apakah itu panggilan untukku?
Ketika aku berpikir aku hanya membayangkan sesuatu, Chitanda-san, orang yang pendengarannya jauh lebih baik dariku, mulai melihat sekitarnya.
Kupikir aku mendengar seseorang memanggil namamu, Fukube-san.”
“Huh? Menurutmu juga begitu?”
“Hidangan Tim Klub Astronomi tidak lagi bisa disebut sebagai hidangan dari dunia ini! Sesuai dengan namanya, masakannya terlihat seperti berasal dari luar angkasa! Dengan memasak pisang dalam stew, wangi yang tak bisa dilukiskan dari panci mereka!”
Stew pisang, terdengar menarik, tapi.
“Permisi, bisakah kau tenang untuk sesaat?”
Ketua Klub Memasak sedikit mengerutkan dahi, dengan perlahan menurunkan micnya dan bertanya apa masalahnya. Momen yang bisa didengar dengan jelas.
“SATOSHI!”
Itu suara Houtarou, dan asalnya jauh. Tapi dimana?
“Di sana! Ruang klub!”
Aku memutar kepalaku.
Mengikuti arah yang ditunjuk Chitanda-san, aku melihat ruang Geologi lantai empat Blok Khusus. Dan tak bisa dipercaya, di sana Houtarou melambaikan tangan!
Bagi Houtarou yang ternyata repot-repot berteriak melalui jendela untuk mendukung kami, itu tak terpikirkan, karena dia adalah orang terakhir yang bisa melakukan hal semacam ituSelain itu, Houtarou bukan orang yang perlahan mulai menarik perhatian banyak dan lebih banyak lagi orang.
“... Apa itu?”
“... Itu siapa?”
Penonton mulai berbisik.
“Dia terlihat memberi isyarat padamu untuk ke sana, Fukube-san,” bisik Chitanda-san.
Sungguh? Hmm, dari yang terlihat, sepertinya Houtarou itu memang memintaku untuk menuju ke sana bukan hanya melambaikan kepadaku.  Dia lanjut berteriak.
“Satoshi! Ke sini! Ke bawah sini!”
Apa yang mendesak Houtarou yang hemat-energi sampai repot-repot melakukan ini?
Mayaka menatap lantai empat dengan mulut terbuka lebar. Jika Houtarou memanggil seperti itu, pasti sesuatu yang mendesak.
Pemandangan yang langka terjadi, tapi pasti terjadi sesuatu, jadi aku berkata kepada Chitanda-san, “Yah, karena dia memanggilku, maka aku harus datang.”
Jarak antara dapur turnamen dengan gedung sekitar seratus meter. Berlari ke sana, aku melihat ke atas dan menangkupkan tangan diatas mulutku.
“Ada apa?”
“Ini, tangkap!”
Houtarou memiliki sesuatu di tangannya. Tangkap? Tangkap apa? Tanpa waktu untuk berpikir, Houtarou menghempaskan sesuatu keluar jendela. Whoa! Biarkan aku bersiap...
Aku berhasil melihat sekilas sesuatu yang jatuh.
Meski begitu, sulit untuk menentukan sesuatu yang jatuh tepat di atasmu. Saat itu jatuh dari lantai empatbenda itu jatuh tepat di lenganku dengan kecepatan tinggi..
Ini sangat berat, tapi barusan tangkapan bagus, jika kukatakan pada diriku sendiri. Tapi apa ini?
“... I-ini!”
Sesuatu yang tidak bisa kupercaya dalam tanganku. Bagaimana Houtarou mendapatkannya?

034 - ♦07
Fuku-chan kembali dengan bungkusan kuning di tangannya. Dan tanpa mengatakan apapun, dia langsung melemparnyayang kutangkap secara refleks. Apa yang Oreki berikankepadanya?
Dimana Oreki mendapatkan ini? Di bungkusnya tertulis “tepung serba guna.
Terlihat kebingungan setelah dia berlari-lari sepanjang jalan, Fuku-chan memberiku acungan jempol. Orang yang berada di podium berkomentar.
“Sebuah perkembangan luar biasa terjadi pada Tim Sastra Klasik! Memang benar kalian diijinkan untuk mendapatkan bahan dalam lingkungan sekolah, tapi mereka mendapatkan tepung terigu!”
Masalah bisa datang kemudian. Tepung terigu, dengan daun bawang ,lobak dan bawang, dan kemudian...
Sebuah gambar yang lengkap terbayang dalam kepalaku, juga proses untuk membuatnya.
Ayo lakukan ini.

035 - ♣12
Mayaka mulai bergerak.
Menuangkan tepung ke dalam mangkuk, lalu diisi dengan air. Mengambil beberapa es balok dari keranjang di tengah dan menaruhnya di mangkuk. Kemudian mulai memanaskan wajan dan menuangkan minyak ke dalamnya. Dia juga memotong daun bawang dengan panjang yang sama, juga memotong bawang secara melingkar dan memarut lobak dengan parutan. Lalu dia mulai menggoreng sesuatu.
“Tim Sastra Klasik sekarang mengumpulkan kepala udang yang dibuang Chitanda sebelumnya. Apa yang dia rencanakan dengan itu?”
Kepala udang... sementara ini tidak bisa dimakan, apa yang bisa kau lakukan dengan tepungnya?
Saat aku memiringkan kepala dengan kebingungan, Chitanda-san dengan pelan berbisik, “... Kakiage.”
Itu dia! Dilihat dari dapurnya, Mayaka memang sedang membuat kakiage.
Menggunakan bahan yang terlihat seperti sampah, Mayaka bisa membuat sampah itu berkilau. Dia baru saja menghembuskan nafas baru dalam “sampah” ini dan memberinya nama baru: “kakiage.” Mayaka pada dasarnya orang yang menasehati kami untuk tidak pernah menyerah! Ini bukan sampah! Siapapun bisa bersinar! Panjang umur Mayaka! Nyatanya, kami semua luar biasa! Aku merasa kepalaku kosong seperti anak sekolah dasar.
Mencelupkan sayuran dan kepala udang ke dalam larutan tepung, dia memanaskan minyaknya. Akan tetapi...
“Waktu tinggal lima menit lagi!”
Bisakah dia membuatnya tepat waktu?
Mayaka terlihat mencari sesuatu. Apa itu? Dia harusnya menuangkan minyaknya di atas kakiage sekarang.
Setelah melihat sekitar alat perkakas, dia menatap ketua yang berada di podium dan berbicara, “Hey, Klub Memasak! Tolong sediakan sendok sayur!”
Oh ya, disana tidak ada sendok sayur. Sungguh itu merupakan hambatan ketika aku membuat sup miso daging babi, aku harus membuatnya menggunakan sebuah sendok biasa. Ketua dengan kebingungan menginstruksikan kepada satu anggotanya yang perempuan untuk menyediakannya saat itu juga. Gadis itu mulai mencari-cari sendok sayur. Cepat! Sendok sayur apapun boleh, tak ada waktu! Akhirnya, dia berhasil meminjam sendok sayur dari tim lain yang tidak menggunakannya dan langsung diberikan kepada Mayaka. Sial, satu menit terbuang!
Mayaka langsung mengambilnya dari gadis itu dan mulai menuangkan minyak diatas kakiage. Suara mendesis muncul dari yang ia lakukan. Kemudian Mayaka bergerak dengan gesit, memarut lobak, memanaskan sup daging dan mencampur saus kecap dengan anggur manis sebelum menaruhnya ke semangkuk nasi.... Nasi?
“Tim Sastra Klasik bergerak dengan cepat! Bisakah mereka tepat waktu? Tinggal satu menit lagi!”
Mungkin merasa khawatir dengan komentarnya, Mayaka tetap melihat wajan minyak. Detik-detik berikutnya sangat luar biasa panjang dan tenang. Dan tiba-tiba, matahari musim gugur tertutup oleh pasangan sumpit, dia menaruh kakiage diatas mangkuk nasi dan menaburkan p[arutan lobak di atasnya.
“Ayolah!”
“Waktu hampir berakhir!”
“Kau bisa melakukannya!”
Para penonton bersorak sorai menyemangatinyaBahkan mereka bersemangat karena .
“Mayaka-san...”
Suara Chitanda-san terdengar menyedihkan.
Seperti yang diduga dari Mayaka. Aku sangat bangga padamu.
“Waktuhabis!”
Menaruh sentuhan terakhir untuk toppingnya, Mayaka telah menyelesaikan nasi Kakiage, dan tepat sesuai isyarat, Turnamen Wild Fire berakhir.
Aku tidak ada penyesalan. Tak masalah dengan hasilnya, aku tidak menyesal.

(Hidangan Tim Sastra Klasik
Anggota Pertama - Fukube Satoshi : Sup Miso daging babi.
Anggota Kedua – Chitanda Eru : Gulungan lobak cuka jahe, Giseyaki, sashimi udang, imo-mochi.
Anggota Ketiga – Ibara Mayaka : Nasi Kakiage.)

036 - ♥08
Kemampuan Mayaka-san membawa kami keluar dari ambang kekalahan. Dia tidak hanya ahli dalam menggunakan pisau, tapi juga berpikir untuk membuat kakiage dengan situasi yang tidak memungkinkan semacam itu merupakan hal yang luar biasa. Kemudian kulihat jendela ruang Geologi lantai empat. Aku tidak tahu bagaimana Oreki-san mendapatkan bungkusan tepung, tapi dia orang yang cerdas sekali. Mungkin dia bisa meramalkan kejadian sebelum sesuatu terjadi. Saat aku tidak melihatnya di jendela, aku tetap membungkuk ke arahnya untuk berterima kasih.
Dalam ribuan tepuk tangan, Mayaka-san kembali ke kursinya. Topi beret lucu di atas kepalanya dan bros hati di dadanya sedikit menarik perhatian. Walau penampilannya menarik, Mayaka-san tidak terlihat begitu senang.
Teringat dengan kesalahanku sendiri, aku merasa harus meminta maaf padanya, tapi sesuatu yang pertama diucapkannya, “Itu kurang digoreng!”
“Yah, bukankah waktunya tidak cukup. Tapi itu tetap hebat, kan.”
Fukube-san mencoba menghibur, tapi Mayaka tetap terlihat tidak puas
“Di sana tidak ada sendok sayur! Mereka punya parutan dan pengupas, jadi kupikir mereka harusnya mempunyai sendok sayur. Satu menit terbuang. Jika bukan karena itu, aku bisa menggorengnya lebih baik. Aku seperti orang bodoh, harusnya aku menggunakan sesuatu yang lain untuk mengganti sendoknya!”
“Aku sungguh minta maaf.”
Seseorang muncul dari samping. Orang itu adalah Ketua Klub Memasak, orang yang berkomentar di podium beberapa waktu lalu. Ketika dia berkomentar lucu saat di podium, sekarang dia meminta maaf atas kesalahannya.
“Kami sudah memeriksa semua peralatan ada di raknya... Kami juga memeriksanya dua kalisebelum turnamen.”
Fukube-san berdiri diantara mereka dan menengahi.
“Yah, aku memang merasa aneh saat memasak sup miso. Harusnya aku mengajukan pertanyaan ini ketika giliranku, karena aku punya lebih banyak waktu.”
“... Kupikir begitu.”
Dengan mengatakan itu, tampaknya Mayaka-san menerima permintaan maaf ketua.
“Tapi kau luar biasa berhasil memasak sesuatu dengan kondisi seperti itu...” Saat ketua melanjutkan percakapan, aku memutuskan untuk melihat meja dapur, aku masih penasaran mengapa sebuah perkakas bisa hilang di turnamen itu sendiri.
Juri mulai mencicipi hidangan, dan setiap orang memusatkan perhatiannya sekarang pada mereka. Setelah mencoba hidangan coklat kehijauan milik Klub Astronomi (atau mungkin warna bambu), satu juri menutup matanya berdiri condongKupikir aku tidak penasaran terhadap rasanya. Saat aku tidak begitu setuju dengan kutipan “ketidaktahuan merupakan kebahagiaan”, kuputuskan untuk bersikap fleksibel setidaknya untuk hari ini.
Perkakas ditempatkan di dalam sebuah nampan yang dilapisi kain. Di dalamnya ada peralatan yang tidak dipakai berjejer dengan rapi, seperti tusuk daging bambu, pemeras lemon, dan spatula barbekyu. Bukankah sendok sayur merupakan perkakas dasar dapur; apakah ini hanya sekedar kesalahan biasa?
Bukannya aku mengharapkan sesuatu, atau mencari sesuatu yang tidak beres. Aku hanya mengangkat nampan untuk melihat,
“Oh!”
Sebuah kartu ucapan. Dan di bawahnya ada pamflet “Panduan Festival Kanya.” Dimana aku pernah melihat ini sebelumnya?
Mungkinkah? Apakah mungkin? Dengan cepat aku berbalik.
“Fukube-san! Mayaka-san!”
Dan berteriak kearah mereka berdua. Saat ini, ketua sudah kembali ke podium untuk melanjutkan tugasnya.
“Hey, Chitanda-san, sepertinya ketua sangat mengagumimu.”
Mengagumiku? Tidak mungkin, aku sungguh mengenalnya. Ini mungkin menjadi masalah. Tidak, lebih penting lagi,
“Lihat disini, di bawah nampan.”
“Apa ini?”
Mayaka-san dengan santai mengambil kartu ucapan itu, tapi saat melihat sekilas, ekspresinya menjadi kaku. Di atasnya tertulis deretan kata yang sudah kukira akan kulihat:

Klub Memasak kehilangan sendok sayurnya.
Juumoji

“Ini ...”
Mata Fukube-san mulai berkilau. Secara spontan aku berbicara setelah melihat kartunya.
“Sama seperti Klub Ramalan Keberuntungan!”
“Sama seperti Klub Go!”
Eh?
Mataku melihat Fukube-san, yang terbuka lebar. Aku mungkin terlihat terkejut juga.
Hanya Mayaka yang terlihat tenang. Halaman yang terbuka di pamflet “Panduan Festival Kanya” menunjukkan daftar klub yang berpartisipasi, seperti yang ditunjukkan Kaho-san padaku.Halaman yang dimaksud “Klub Memasak – Cooking Battle ‘Wild Fire’ di lapangan sekolah pada hari kedua pukul 11 siang! Mencari peserta.”
Mayaka-san melihat Fukube-san terlebih dulu dan kemudian mengarah padaku dan dengan pelan berkata, “Jadi, tentang apa semua ini?”
Dia bertanya apa maksud semua ini.
... Jadi apa maksud semua ini?
Sekali lagi aku melihat Fukube-san.

Hyouka Jilid 3 Bab 3-2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.