31 Juli 2017

Date A Live Jilid 13 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


JANGAN PANIK. ITU SEBUAH JEBAKAN YANG DIBUAT OLEH ROH
(Translater : Eri; Editor Hikari)


Bagian 1
Zuuuuuuu..............Bersama dengan suara mesin yang bersuar rendah, tempat tidur perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam mesin pemeriksa besar.
"U............"
Di situ terbaring Itsuka Shidou, yang perlahan-lahan menurunkan kelopak mata saat menutup matanya.
Sampai sekarang, dia menerima beberapa pemeriksaan; seperti yang diduga, rasanya tidak terlalu bagus.
Itu adalah rasa takut terpenting pada semua organisme, rasa takut ditelan bulat-bulat oleh hewan besar.
Setelah Tubuh Shidou masuk ke dalam mesin itu, cahaya dari x-ray melewati tubuh Shidou.
Setelah beberapa menit kemudian, mesin itu akhirnya mengeluarkan sendiri tempat tidur dimana Shidou sedang berbaring di dalamnya.
"Baik, sudah selesai, Shidou”
“Ng.........”
Mendengar suara itu dari atasnya, Shidou perlahan membuka matanya yang tertutup.
Di samping tempat tidurnya, ada seorang gadis berdiri dan sedang memperhatikannya. Rambutnya di ikat dengan pita hitam.
Dan, dia sedang memakan Chupa-chups di mulutnya. Jika kau melihat baik-baik karakteristiknya, satu-satunya yang bisa kau rasakan darinya hanyalah dia seorang gadis yang imut.
Dia memakai seragam militer merah tua, ekspresinya datar. Itu menciptakan kesan aneh dia karena dia terlihat masih sangat muda untuk memakai seragam itu.
Sudah seharusnya. Gadis ini tidak lain adalah adik Shidou, dan juga Komandan <Ratatoskr>, Itsuka Kotori.
Bagaimana keadaan fisikmu?”
“Aah, tidak ada yang salah. Tapi........ Berapa lama aku harus melalui ini? Ini sudah seperti setengah bulan berlalu.........”
 Shidou membuat senyum kecut dan bangun. Itu benar, bahkan sampai sekarang, setelah menyegel Reiryoku Roh, dia selalu melalui pemeriksaan ini; akan tetapi, akhir-akhir ini periodenya lebih lama dari biasanya.
Sejauh ini, dia sendiri telah mengerti mekanisme mesin ini. Perlengkapan mesin MR1 dan peralatannya membentuk tampilan silinder besar. Bagian pintu masuknya yang besar membuatnya terlihat seperti seekor ular.
Meliahat reaksi Shidou, Kotori menghela nafas.
“Hey .........Shidou, kamu sudah mengerti, 'kan? Tentang kondisi tubuhmu?
“Uhh..........”
Sejujurnya, Shidou ragu-ragu untuk menjawab.
Di awal bulan ini, ada sesuatu yang mencampuri antara dengan dia dan Para Roh.
Bukannya kekuatan Para Roh yang mengamuk, malah Shidou yang kekuatannya di luar kendali.
Berkat upaya dari semuanya maka masalah itu dapat terselesaikan. Terlebih, sekarang Kotori lebih perhatian terhadap kondisi tubuh Shidou.
“Maaf..........Terima kasih, karena aku tidak mengingat apapun waktu itu, aku tidak tahu harus berkata apa............”
Shidou mengatakan kata permintaan maaf. Kotori hanya menjawab “Huh.....” dan lalu dia mengalihkan tatapannya.
“............Fuu. Itu benar. Aku minta maaf.”
“Ah, tidak, itu bukan apa yang aku...........”
Melihat respon Kotori, Shidou terdiam
Dari sini, percakapan berhenti sejenak.
Kotori menunjukkan sikap yang tidak biasa. Dia tidak membalas dengan omelan sarkastis seperti biasanya. Itu karena Kotori merasa bertanggung jawab mengenai perannya untuk menghentikan dia.
“Ah.............”
Bagaimanapun, rasanya tidak nyaman. Dia bukannya mau membuat Kotori marah, tapi melihat Kotori terlihat sangat depresi membuat dia merasa sakit sebagai kakaknya.
Shidou merubah posisi tubuhnya dari tempat tidur, dan begitu dia mulai bergerak, dia mendekatKotori.
“ Apa~, janganlah murung begitu~Onii-chan kesepian~”
“Ap...........?! Tu-Tunggu, apa yang kamu lakukan!”
“Hey~, Kotori~”
Apa~, jangan murung begitu~, Onii-chan kesepian~,”
“Ahh! Jangan menempel padaku!”
Wajah Kotori memerah, dan kemudian Kepala Shidou menerima pukulan. Bagaimanpun, mood Kotori telah kembali seperti biasa. Menerima rasa sakit di kepalanya, Shidou memegang kepalanya sambil tertawa kecil.
“................Apa tadi, sangat menyeramkan. Apakah kamu berpikir tidak ada yang salah denganmu?
Bukan begitu; pukulanmu tadi menandakan bahwa kamu telah kembali seperti biasanya. Terima kasih Kotori.”
Setelah Shidou mengatakan itu, Wajah Kotori kembali memerah. Itu terlihat jelas sekali. Karena itu, Shidou mengelus kepala Kotori. Bahu Kotori berguncang sedikit, tapi dia membiarkan Shidou terus mengelus kepalanya.
Setelah itu, suara kecil panggilan seseorang bisa terdengar.
“................Maaf mengganggu kalian berdua”
“..............!”
Mendengar suara itu, tubuh Kotori mulai bergetar. Seketika, dia menarik tangan Shidou dari kepalanya.
“A-Aah Reine, kau sangat cepat. Apakah hasilnya sudah keluar?”
Dan lalu wajah semuanya terlihat menjadi serius, mereka mendekat ke arah suara itu datang. Shidou dan Kotori berjalan bersama keluar, ada yang sedang mencarinya di luar sana.
Selama itu, berdiri seorang wanita yang memakai seragam <Ratatoskr>. Dia mempunyai rambut putih panjang dengan model yang sederhana dan boneka teddy tua yang masukkan dalam saku dadanya. Boneka beruang itu memiliki banyak goresan, dan wajah wanita itu terlihat sangat pucat. Dadanya yang besar menggencet boneka dan membuatnya semakin besar.
Murasame Reine, dia adalah analisis disini, di Perusahan Kotori.
“.................Ya. benda ini sama dengan <Fraxinus>; mesin ini memiliki Realizer yang terpasang di dalamnya juga.”
Sambil mengucapkan itu, tangan Reinne mengeluarkan sebuah dokumen dari Clip board.
“............Lihatlah itu, energi spiritual milikmu dari awal sampai sekarang sudah mulai kembali dalam status Normal. Peralatan ini tidak mampu mendeteksi ketidaknormalan Reiryoku. Rute status saat ini antara para Roh dan kamu sekarang juga sudah normal.............Dengan begitu, kamu bisa kembali ke pemeriksaan medis seperti biasanya.”
“Apakah itu benar? Itu melegakan.”
Sambil mengatakan itu. Shidou, merubah posisi tubuhnya dan meregangkan tubuhnya.
Sekarang Shidou dan yang lain berada di dalam fasilitas bawah tanah yang dimiliki <Ratatoskr>. Karena <Fraxinus> masih dalam tahap perbaikan, mereka harus pergi ke fasiliatas bawah tanah untuk pemeriksaan kesehatan.
Dan selain itu, sudah setengah bulan terlewati sejak hari itu dan sekarang mereka mencapai akhir bulan. Sekarang sekolah sedang masa liburan musim dingin, setelahnya liburan  tahun baru menunggu. Ada berbagai hal yang harus mereka lihat. Mulai dari sekarang, sampai akhir liburan, mereka bisa menggunakan waktu bebasnya untuk hal apapun. Berkat itu Shidou bisa mengurus di bagian dapur lagi.
Dan setelah melihat reaksi Shidou, “......Tapi” lalu Reine melanjutkan kata-katanya.
“..................Setelah ini, kita harus berbicara mengenai sesuatu tentang Kondisi tubuhmu.”
“Eh.............?”
Dengan nada Khawatir, ekspresi Shidou menjadi suram.
“Apa maksudmu?...........Jangan katakan, Sesuatu juga terjadi pada Para Roh juga!?”
“................Tidak, bukan itu maksudku.............Ini tentang catatan pengukuran fisik yang kami buat saat kamu sedang sakit dan tindakanmu yang menggodai Ai, Mai, Mii dan Nona Okamine saat terlalu bersemangat, yang masih belum kami karang ceritanya.”
“Buh!”
Mendengar perkataan Reine, Shidou seketika langsung terbatuk.
Benar. Saat jalur Reiryokunya terganggu, kesadaran Shidou menjadi tidak jelas, ini seperti Shidou sedang setengah sadar. Dia mendengar dari orang lain bahwa perilakunya menjadi sangat aneh saat itu.
…………Tentang catatan pengukuran fisik yang tidak biasanya, kami mencoba menanganinya, Catatan lari 50 meter cukup merepotkan............kami bisa mengatakan penyebab itu mungkin dikarenakan oleh angin kencang waktu itu, atau mungkin juga bisa karena kamu tidak sengaja meminum obat flu yang mengandung obat bius (Ed.: Dopingdi dalam komposisinya. Aku pikir kita masih punya kesempatan untuk membuat penjelasan.”
“Ya, Aku tidak berpikir ini akan berjalan mudah, kurasa..........”
Tapi, daripada membiarkan orang lain tahu tentang para Roh, Shidou memilih setuju menjalankan rencana ini.
Namun, masalah yang sebenarnya adalah yang lain, Reine juga mengerti tentang ini dengan baik. Bahkan sampai sekarang, masalah ini belum juga terpecahkan.
“Tapi untuk kasus Ai, Mai, dan Mii, kamu bisa mengatakan ini hanya sebuah lelucon. Sekarang hanya ada satu yang belum di jelaskan. Orang itu adalah Nona Okanime. Singkatnya, kita bisa membatalkan upacara resepsi perinkahan................”
Gwah!
Mendengar kalimat itu, Shidou mulai batuk lagi dengan kagetnya.
“U-upacara resepsi pernikahan..........!?”
“.............Ya. Entah bagaimanakami bisa menjelaskan kondisi ini padanya, sekarang dia mengerti situasinya, tapi tetap saja, dia ingin kepastian bahwa itu adalah kesalahan dari mulutmu. Aku akan mengatur tempat untuk menemuinya dan mencoba memperbaiki masalah ini di liburan musim dingin ini. "  
“................Kuh, ini cukup menyulitkan...........”
Banyak kemungkinan mucul dalam pikiran Shidou.
Setelah itu, suara yang terdengar dari saku seragam Reine. Suara pipipip terdengar dari alarm yang berdering.
“...............Ng, jadi sudah waktunya.”
“Apa kamu punya urusan lain?”
“...............Ya. Nanti kita bertemu kagi, kita akan bertemu di pertemuan berikutnya.”
“Begitukah? Baiklah, aku akan permisi pergi untuk meminta maaf kepadanya.”
Shidou pamit pergi, Reine menyetujui rencananya dan Kotori melambaikan tangannya.
“..........Aah. Maafkan aku.”
Mungkin aku juga, aku akan kembali ke rumah saat makan malam. Apakah kamu membutuhkan sebuah mobil?.”
“Ng............. aku tidak berpikir membutuhkannya. Aku akan pergi belanja sebelum kembali ke rumah.”
Begitukah? Baiklah, sampai jumpa.”
“Ya.”
Shidou melambaikan tanganya dan meninggalkan ruangan.
Setelah itu, dia pergi ke ruang sebelah ke ruang ganti untuk mengganti bajunya. Lalu dia berjalan di sepanjang lorong dengan santainya.
Di jalan, dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat waktu; belum pukul 2 siang.
“Ng..................Masih ada banyak waktu. Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang.............”
Sambil jalan, pikiran Shidou dipenuhi menu apa untuk makan malam nanti. Langkah kakinya bergema di lorong..
Saat dia berjalan, ada suara langkah kaki yang berlawanan mendekat ke arah Shidou.
“Ooh, Shidou-kun. Apa kamu mau pulang sekarang?”
“Apakah pemeriksaannya sudah selesai?”
Pria itu memakai sarung tangan dan kacamata, dan gadis itu memiliki rambut sebahu. Wanita itu yang sedang memanggilnya. Mereka adalah anggota <Ratatoskr>.
Natsugawa Munechika dan Shiizako Hinaki. Mereka seperti baru kembali dari berbelanja, karena mereka berdua memegang tas vinyl putih di tangan mereka.
“Ya. Akhirnya aku bebas karena kondisi tubuhku sudah kembali normal.”
“Haha, Itu bagus. Tubuh adalah fitur yang paling penting.”
“Aku juga berpikir begitu. Rawatlah tubuhmu dengan baik.”
“Haha.........Aku janji. Apakah kalian  habis kembali berbelanja?.”
“Ya. Di <Fraxinus>, sangat sulit untuk bisa keluar, tapi di fasilitas bawah tanah ini kami bisa dengan mudahnya pergi ke luar.”
"Aah, tentu saja."  
Menyetujui. Shidou menangguk pada mereka. Dekat bagian pintu keluar dan pintu masuk di fasilitas bawah tanah ini adalah bagian Utama Kota Tengu. Dikelilingi oleh banyak bangunan di setiap titik point pejalan kaki, Sebagaimana juga dengan rumah-rumah warga sipil. Dua dari mereka terlihat lebih bahagia tinggal di tempat ini karena mereka bisa keluar dengan mudahnya.
Tentu saja sebagai anggota <Ratatoskr>, mereka tidak bisa membiarkan warga sipil tahuu tentang organisasi ini. Jadi, Nakatsugawa dan yang lain sekarang tidak mengenakan seragam <Ratatoskr>. Gantinya, mereka menggunakan mantel yang lebih mirip dengan seragam perusahaan biasa. Mereka juga memakai name tag di leher mereka untuk membuktikan bahwa mereka itu karyawan perusahaan.
Dengan cara ini, tidak ada yang akan berpikir bahwa mereka adalah bagian dari organisasi rahasia.
“Tapi, entah kenapa aku merasa sedikit kesepian. Sebagai pria, aku merindukan sensasi saat aku melakukan tugasku saat berada di pesawat. Mendorong diriku sampai pada batasku! Aku harap <Fraxinus> segera selesai diperbaiki!”
Kemudian, Nakatsugawa mencengkeram telapak tangannya untuk menunjukkan tinjunya dan kacamatanya mulai berkilauan. Shido tersenyum kecut saat melihat tindakan Nakatsugawa............. Tapi sebagai laki-laki Shidou bisa mengerti apa arti Nakatsugawa itu.
“Jadi............Apa saja yang kalian beli?”
Saat Shidou bertanya, mereka berdua tersenyum dan menunjukan isi tas vinyl di tangan mereka.
Di dalam, ada banyak makanan manis yang mungkin diminta Kotori untuk membelinya.
“Chupa-Cups, ya?”
“Ah, kamu sudah tahu?”
Mendengar tebakan Shidou, Shiizaki tersenyum.
“Seperti yang diharapkan Onii-chan.”
“Aku juga membeli beberapa makanan manis dan yang ini!”
Selanjutnya, Natsugawa mengeluarkan sebuah buku dari tas itu.
Itu adalah Majalah manga Shounen berukuran sekitar B5. Ilustrasi sampulnya adalah anak laki-laki sedang berpose dengan memegang pedang. Di atas tercetak <Weekly Shounen Blast>.
”Ng? Ini..........Blast?”
“Itu benar. Ini adalah isu terbaru yang mereka jual hari ini. Apakah Shidou-kun pernah membacanya?”
"Tentu saja. Itu sudah jelas. Di era kita, tidak ada seorang pun yang tidak pernah membaca majalah populer ini. "
Tapi, apa itu? Shido memiringkan kepalanya dengan heran. Melihat reaksi Shidou, Nakatsugawa menunjukkan jarinya ke sisi kiri bawah sampul depan.
Apa  maksudmu, ini adalah...........Eeh?”
Tidak percaya dengan yang dia lihat, Shidou melihatnya lebih dekat lagi.
Melihat reaksinya, Nakatsugawa mengangguk dengan puas.
“Benar. Setelah Hiatus sekian lamanya, seri Hounjou Souji’s [SILVER BULLET], baru saja melanjutkan publikasinya bulan ini!.”
"Ah, kamu benar. Aku dulu juga membaca yang satu ini. Untuk beberapa alasan beberapa tahun yang lalu, seri ini tiba-tiba berhenti terbit, dan setelah itu belum pernah dipublikasikan di majalah tersebut untuk waktu yang lama. Benar?"
"Benar! Penulis dan penerbit mengambil seri ini lagi. Dikatakan alasan mereka hiatus karena penyakit sang penulis yang tiba-tiba kambuh, tapi kenyataannya, itu hanya sebuah karanganyang dibuat agar Honjou bisa bekerja lagi! Hal yang seperti ini terjadi ......... aku juga masih belum percaya ini, aku bisa membaca kelanjutan dari [SILVER BULLET] adalah hal luar biasa yang tak pernah kuduga sebelumnya .......!
“Ha~, Uwaah~, Jadi nostalgia.”
Tertarik, Shidou dan Nakatsugawa melanjutkan diskusi hangat mereka, Shiizaki mengerutkan alisnya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dan mendekatkannya ke telinga.
“Ya, di sini Shiizaki yang berbicara..........Aah, ya, aku mengerti. Kami akan segera ke sana.”
Shiizaki mengakhiri teleponnya. Dan meminta maaf pada Shidou bahwa mereka harus pergi.
“Maafkan aku, kami harus pergi sekarang. Ini, bisa kamu menyerahkan ini kepada komandanmu?”
Setelah berkata begitu, dia mengangkat tangannya, dan menyerahkan tas belanjaan padanya. Shidou mengambil tas dan setuju untuk memberikannya kepada Kotori.
“Tidak apa. Kalian bisa fokus pada pekerjaan kalian.”
“Terima kasih banyak. Kami tertolong. Baiklah kalau begitu............”
Shiizaki membungkuk kepadanya, lalu dia berjalan terburu-buru ke arah yang berlawanan dan menghilang dari pandangannya. Melihat dia pergi, Nakatsugawa juga mengucapkan selamat tinggal padanya.
“Baiklah, aku permisi juga. Sebelum waktu istirahat selesai, aku akan menyelesaikan membaca [SILVER BULLET]!”
“Haha.............Baiklah, sampai jumpa.”
Setelah Shidou mengucapkan sampai jumpa padanya. Dia berjalan berlawanan arah dengan Shiizaki yang sekarang sudah pergi.
“Baiklah~ aku harus cepat cepat mengantarkan ini padanya.”
Karena tas belanja yang dibawa Shidou ringan, dia kembali dalam waktu singkat; pintu kamar sudah terbuka.
“Oi~, Kotori. Ini pesananmu dari Shiizaki-san...............Eh.”
Seketika, tubuh Shidou tidak bisa bergerak.
Tapi reaksi itu normal. Di dalam ruangan ada Kotori dan Reine, tapi juga seorang gadis yang dicengkeram erat......... Kotori tiba-tiba melemparkan gadis itu ke tempat tidur dan dengan keras berusaha melepaskan pakaian rumah sakit gadis itu.
“Kya~! Kyaaaaaaaaa!”
“Kamu harus patuh..........! Lepaskan  bajumu!”
“Ko, Kotori...?”
Tepat di depan matanya sekarang, ada taman bunga. Detak jantung Shidou mulai berdetak lebih cepat. Kotori mulai menyadari kehadiran Shidou. Mengenalinya, bahu Kotori mulai bergetar.
“S-Shidou!? Bukankah kamu sudah pergi?”
“Y-ya..Baru saja aku mengantarkan pesananmu............”
Shidou mengalihkan pandangannya dari dia.
“Bagaimana ya mengatakannya................maaf. Tapi, memaksa kehendak seseorang bukanlah hal yang baik, kamu tahu............”
“Kamu sudah salah paham!”
Kotori mencoba menjelaskan. Dia memperbaiki kain gadis yang terbaring di tempat tidur. Dia menarik tangannya dari gadis itu dan bangun sampai Shidou bisa melihat gadis itu.
Gadis itu terlihat seumuran Kotori. Rambutnya diikat ekor kuda, dan ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Dia memakai pakaian rumah sakit yang sama dengan yang dikenakan Shido sebelumnya. Hanya ada satu alasan baginya untuk memakainya. Kondisi fisik si gadis tidak dalam kondisi baik.
Melihat sosok itu, Shidou melebarkan matanya.
“Mana!?”
“Eh........? Ah, Nii-sama!”
Sang gadis menjawab dengan nanda terkejut.
Di sebelah sana sekarang, ada gadis yang menyatakan sendiri sebagai adik Shidou yang sedarah, namanya adalah Takamiya Mana.
“Ya, Tidak ada yang khusus. Saat ini aku berpikir bahwa kita harus melakukan pemeriksaan detail kepadanya, tapi gadis ini terus menolak.”
“Itu tidak perlu, karena Mana tidak merasakan sakit apapun~ Itu saja! Itu sebabnya aku baik-baik saja!”
“............”
Kotori memelototi Mana. Mana membuat senyum kecut dan keringat mengalir di pipinya.
Kalau dipikir-pikir, dia mulai ingat. Saat itu ketika Shidou Reiryoku mengamuk, DEM datang untuk menyerangnya. Dia mendengar bahwa Mana berhasil datang tepat pada waktunya sebelum sesuatu bisa terjadi.
“Begitukah.......Kamu menolong aku juga. Terima kasih, Mana.”
“Nii-sama.......”
Mendengar kata Shidou, Mana membuat senyuman sebelum dia berdiri.
"Apa yang kamu bicarakan? Mana dan Nii-sama bukan orang asing Tidak perlu mengatakan itu! "
“Haha........Itu benar.”
Shidou menjawab sambil tersenyum
Lalu Mana, yang tersenyum ceria, tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi sangat serius. Dia berjalan perlahan dan terus maju sambil menatap kepadaa Shidou
"Omong-omong, Nii-sama. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kalau aku bertemu Nii-sama ......... "
“Ng, tentang apa itu?”
“Ya. Tentang apa yang dikatakan Nii-sama saat itu-“
Tapi ada yang menyela Mana sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya. Kotori bersuara “Ngh............”
Kotori tertawa dengan cara yang aneh dan menempatkan tangannya di bahu Mana.
“Maaaaanaaaa? Kenapa kamu melarikan diri seperti itu saat berbicara kepada Shidou?”
“Eh? Ah, tidak, aku tidak mencoba melarikan diri atau lainya.......”
Meski Kotori bersikap sangat ramah, entah kenapa ada sesuatu yang sangat dingin yang bisa dirasakan antara kata-katanya. Wajah Mana menjadi pucat. Meskipun Shidou tidak bisa melihat wajah Kotori dari posisinya saat ini, entah bagaimana dia tahu bahwa Kotori saat ini pasti memiliki ekspresi yang sangat menakutkan.
Tapi, Kotori hanya menghela napas.
"Jangan salah paham. Bukannya aku marah atau semacamnya. Saat ini, jika kamu tidak berada di sana tepat waktu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu. Dan aku benar-benar bersyukur untuk itu.”
Mana merasakan perasaan Kotori di balik kata-katanya, Mana sedikit santai saat melihat inii; tiba-tiba Kotori menaruh kekuatan lebih dalam cengkeramannya di bahu Mana.
"Karena itulah, kamu tidak perlu takut. Jadi jangan terlalu takut. Tentang fakta bahwa kamu pergi keluar tanpa peduli dengan tubuhmu atau menggunakan Realizer dengan ceroboh, atau kenyataan bahwa kamu tidak pernah melakukan tindakan yang tidak disengaja, namun bertukar kontak dengan Reine tanpa sepengetahuanku, aku tidak terganggu karena ituseeeeeeeedikit pun.”
“H-Hiiiiiiiiiiiii!?”
Jari jemari Kotori mencengkram bahu Mana dengan kuat. Air mata mulai mengalir dari mata Mana dan mengangguk berapa kali.
“H-Hey, Kotori.......... Jangan terlalu khawatir, oke?”
Mendengar Shidou, Kotori berbalik dan memelototinya.
“Mendengar hal semacam ini darimu, bagaimana aku bisa melakukan ini, aku tidak tahu siapa yang akan melakukan hal sembrono seperti yang dilakukan kalian dua bersaudara ini.”
“Ugh......”
“Itu......”
Baik Shidou dan Mana tidak bisa menyangkal hal itu dan menghentikan kalimat mereka. Dengan ini, mereka kembali ke masalah sebelumnya.
Melihat reaksi mereka, Kotori hanya bisa menghela nafas. Lalu, dia berbalik lagi dan menatap Mana.
"Bagaimanapun juga, jangan mencoba kabur kali ini, oke. Kamu harus menyelesaikan pemeriksaan ini, dan Kamu akan mendapat perawatan yang benar. Bersiaplah. Kami akan memeriksamu bahkan ke tempat-tempat yang bahkan tidak kamu sendiri belum mengetahuinya. "
“Kyaaa~! Kyaaaaaaa!”
Sambil mengatakan itu, Kotori terus memegang bahu Mana. Kaki Mana mulai bergetar dan dia mulai menjerit.
“Nii-samaaaa! Selamatkan akuuuuu!”
“Tidak, tidak baik melarikan diri...............Sampai jumpa.”

Bagian 2
Terlepas dari jeritan Mana, Shidou mengambil tas belanja di dekatnya, lalu dia berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dan masuk ke lift. Dia melewati tiga lapis pintu elektronik dan akhirnya muncul di dalam gedung publik. Dibanding desain interior dari fasilitas rahasia bawah tanah, bagian luarnya terlihat biasa.
Lalu Shidou ingat apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Selanjutnya......”
Sebuah tempat tertentu muncul di benak Shidou saat ia terus berjalan.
Meskipun hanya satu hari setelah Natal, dekorasi jalanan distrik perbelanjaan telah berubah dari gaya barat menjadi gaya yang sangat ke Jepangan. Pohon Natal yang berjajar di depan toko sudah diganti dengan deretan hiasan Tahun Baru, yang menandakan bahwa Tahun Baru hampir tiba. Tidak hanya itu, bahkan Santa Claus dan Rusa-rusanya juga tidak terlihat lagi. Hanya paket kue di atas rak yang masih tersisa, meski ini tidak sesuai mood sekarang.
Perubahan instan ini bukanlah sesuatu yang telah terjadi untuk pertama kalinya. Sebenarnya, ini terjadi setiap tahun, tapi sekali lagi dia pikir itu fenomena yang menarik. Lagipula, berbagai orang yang telah merayakan malam suci sampai hari yang lain sudah kembali ke kehidupan sehari-hari mereka dan menunggu Tahun Baru. Meski ada beberapa festival nasional yang tidak berhubungan dengan agama Jepang; Sampai sekarang, festival tersebut telah masuk dalam acara besar selama kurang lebih satu minggu sejauh ini. Saat itu, semua orang akan cukup sibuk.
Shidou sambil berjalan di jalanan, melihat-lihat hiasan toko yang dipenuhi dengan suasana Tahun Baru, lalu dia membuat suara *fuu* sambil menghembuskan napas.
"Meski ini adalah sesuatu yang terjadi setiap tahun ...... Perubahan instan ini tetap terasa mengesankan. Suasana hati orang tentu mungkin berubah begitu cepat.”
Meski dia berkata begitu, Shidou sama sekali tidak terganggu. Malahan dia juga menyambut event ini.
Melihat kota yang sangat meriah adalah hal yang baik, dan yang terpenting dalam periode ini, ada banyak bahan langka yang dipajang di depan toko. Selama ini juga ada banyak diskon saat ini. Hanya dengan melihatnya, dia merasa bisa memasak lebih senang.
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang ........"
Shidou meletakkan tangannya di dagunya sambil berpikir. Dia berpikir bahwa dia harus sesuatu untuk makan malam yang hemat dari pada membuatnya saat Natal. Selain itu, Persyukuran tahun baru dan menyambut tahun baru akan tiba dalam beberapa hari. Bahkan jika <Ratatoskr> mengatakan bahwa mereka akan membayar biaya makanan, makan terlalu banyak sama sekali tidak baik untuk tubuh.
Dia memutuskan untuk tidak memasak terlalu banyak, tapi Shidou memutuskan bahwa dia akan memasak menu makanan yang lezat untuk hari ini.
“Mungkin menu makanan Jepang akan bagus....... Akhir-akhir ini aku belum makan ikan sama sekali.”
Bicara pada dirinya sendiri dengan nada ceria, dia menangguk sebelum mengatakan oke.
Waktu sudah menunjukan jam 14:30 siang. Matahari masih naik menuju titik tertinggi. Namun, suhu agak rendah karena fakta bahwa sekarang minggu terakhir bulan Desember. Berkat musim panas lalu, dia sudah tahu beberapa bahan yang harus dia beli. Dia pergi ke sebuah toko yang tidak asing untuknya. Saat melihat-lihat, dia mengumpulkan semua yang dia perlu beli.
“..............Oke. Ada di sini bukan?”
30 menit kemudian, Shidou selesai membeli semua bahan-bahan untuk makan malam. Setelah itu, dia berniat pulang dari daerah distrik dan kembali ke rumahnya dengan jalan kaki.
Lalu........
“..........Ng?”
Tiba-tiba, Shidou berhenti di sekitar sudut jalanan.
Tapi itu semua normal. Saat ini di depan Shidou, ada seorang gadis terjatuh pingsan di jalanan.
“Ap.......!?”
Melihat situasi tak terduga, bahu Shidou gemetaran.
“A, apa kamu baik-baik saja!?”
Dia bergegas pergi melihat gadis itu. Menaruh tas belanjaan di jalan, dia membantu gadis itu berdiri.
Tapi, Shidou menghentikan tangannya. Dikatakan bahwa jika kebetulan kau menemukan seseorang yang jatuh di jalan, maka lebih baik tidak menggerakkan tubuh mereka dengan ceroboh. Jika gadis ini menjadi korban kecelakaan lalu lintas dan, mengubah postur tubuhnya kemungkinan akan menjadi sangat fatal.
Lalu, sementara Shidou bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya, gadis itu tiba-tiba menggerakkan ujung jarinya.
Habis itu, perlahan dia mengangkat kepalanya dengan tidak stabil. Demikian, wajah gadis yang telah mencium tanah mulai menunjukkan wajahnya.
Dari penampilannya, dia mungkin satu atau dua tahun lebih tua dari Shidou. Matanya  lelah sekali dan bibirnya terlihat kering. Melihat wajahnya, warna keletihan bisa terlihat jelas. Kantong matanya menurun dan lingkaran hitam mengelilingi matanya. Daripada dibilaing dia terluka oleh sebuah mobil dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, lebih meyakinkan untuk mengatakan bahwa dia telah pingsan karena kerja paksa.
Menyadari gadis itu masih sadar, Shidou membantu gadis itu dan mengangkat bahu gadis itu, dan membantunya beridiri.
Dia tidak bisa mengatakan dengan baik karena dia hanya bisa melihat sisi belakangnya, tapi ternyata gadis itu hanya mengenakan mantel dan atasannya cuma pakai rumahan saja. Begitulah cara dia berpakaian. Selain itu, di bawah cuaca dingin ini, gadis itu hanya memakai sepasang sandal tanpa mengenakan stoking sama sekali.
Mungkin dia seseorang yang tinggal di dekatnya, karena gadis ini berani pergi keluar dengan gaya berpakain seperti ini tanpa khawatir kedinginan. Kadang-kadang, Shidou juga berpakaian dengan gaya yang sama saat pergi ke toko terdekat di tengah malam.
Lalu, gadis itu fokus melihat wajah Shidou dan menggerakkan bibirnya dan berbicara. Lalu, dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti nada menangis.
“...........erut,......so.....”
“Eh? A-Apa yang kamu katakan? Apa ada yang salah?
Sementara Shidou mendengarkan gadis itu bicara dan mengulangi perkataannya.
“...........Perutku kosong..........”
“.................Huh?”
Setelah mendengar itu, Shidou melebarkan matanya dengan tidak sengaja. Lalu dari peerut gadis itu keluar suara **Kruuk, "Kruyuuuk...........Kurang lebih seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Shidou membantu gadis yang terjatuh di tanah. Mereka berjalan di sepanjang jalan yang dan dibantu oleh Shidou.
"......... ..Ng ~, ma maaf ~ ...... .."
Gadis yang sedang Shidou gendong di punggung mengeluarkan kata-kata tanpa semangat.
Pada akhirnya, meski kesadarannya telah kembali, dia bersikeras bahwa dia tidak bisa bergerak karena perutnya yang kosong, jadi Shidou tidak punya pilihan lain selain mengantarnya ke rumahnya.
"Jangan pedulikan itu.......selain itu, kamu benar-benar tidak apa kan? Apakah tidak apa kamu tidak ke rumah sakit? "
"Ya ~, baiklah ~ baiklah ~. Aku tidak sakit sama sekali. Lagi pula, bukankah akan membuang begitu banyak waktu hanya untuk sampai di sana? "
Setelah mengatakan itu, gadis itu melambaikan tangan dan mengibaskan tangannya.
"Omong-omong, tidak perlu bersikap terlalu sopan seperti itu ~ Aku tidak suka terlalu formal ~"
"Aah ..... aku mengerti."
"Hei ~, Kamu masih belum mengubah cara berbicaramu."
"Aku-aku .... mengerti itu."
Dengan nada itu, Shidou menjawabnya dan berkeringatan.
Bertentangan dengan gadis yang ramping itu, kepribadiannya cukup menonjol, gadis yang tidak bisa diduga.
Selain itu, ambruk akibat kelaparan di negara maju seperti Jepang saat ini adalah hal yang tidak biasa. Namun, pemandangan yang tak terduga ini terlalu mengejutkan bagi dia; bahkan pernah mendengar keadaannya. Hal itu membuat dia bertanya-tanya apa yang terjadi di dunia ini padanya.
"Ah, pergilah ke rumah besar di sana."
Sementara Shidou berpikir, gadis itu mengangkat lengan kanannya dan menunjuk ke arah yang berlawanan dari tempat mereka sekarang.
Shidou melebarkan matanya begitu pandangannya mengikuti arah yang sedang di tunjuk oleh gadis itu.
Di sana, ada bangunan tinggi, yang tingginya dua kali lebih tinggi dari bangunan lainnya. Rumah itu bertingkat tinggi.
"Eh? Di sanai?"
"Hmm ...... Itu benar ...... Ah, jangan bilang kamu harap aku bisa tinggal di apartemen yang lebih bobrok?"
 "T-tidak, aku tidak berpikir begitu ......"
Shidou ragu untuk menjawab. Sebenarnya tebakannya benar.
Pada dasarnya, tingginya tinggi mansion ini, semakin tinggi harganya. Melihat penampilan gadis ini Sebenarnya, dia tidak bisa menandingi penampilannya dengan rumah mewah besar di hadapannya.
"Ehehe ..... Ayo, itu bukan apa-apa. Bagaimana mengatakannya, ya? kamu lihat, ini adalah celah. Sesuatu seperti itu juga terjadi pada kamu, bukan? Sama seperti remaja biasa lainnya. "
 "............. Eh, itu, aku tidak mengerti."
Shidou menautkan alisnya saat membalasnya ......... Entah kenapa, berbicara tentang celah, dia masih belum bisa memahami kepribadian gadis ini sama sekali.
"Ah, astaga, maafkan aku, tolong bawa aku ke kamarku? Aku tidak tahu kenapa, tapi untuk beberapa alasan kakiku tidak bisa bergerak ~. Apakah karena aku jarang menggunakan kakiku sampai keduanya mendapat semacam degenerasi? "
"Aah, aku pikir aku bisa ...... Apakah kau yakin tidak apa-apa jika kau tidak pergi ke rumah sakit?"
Bukannya dia punya masalah mendesak lagi, jadi dia tidak punya alasan untuk menolaknya. Dan lagi, jika dia meninggalkan gadis ini di tempat ini, ada kemungkinan dia akan sekarat dan mati di jalan dan dia merasa tidak enak jika itu terjadi ..........
Biasanya, hal seperti itu seharusnya tidak mungkin terjadi. Sesuatu seperti ini hanya akan terjadi di Manga, meskipun situasi Manga seperti itu memang terjadi pada gadis ini. Terkadang hal seperti itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata juga.
Shidou, sambil menggendong gadis itu, dan berjalan melewati pintu masuk rumah besar itu. Kemudian, mereka tiba di depan pintu terkunci otomatis.
 "Lalu…….."
Di sebuah rumah kelas tinggi, mereka memiliki kunci otomatis yang harus dibuka terlebih dahulu. Tapi, nomor pinnya yang tahu hanya pemiliknya, dan orang yang bersangkutan tidak bisa mengetikkan nomor pin dari punggung Shidou.
Mungkin, mengintip keamanan bukanlah sesuatu yang sangat mengagumkan, namun situasi saat ini membuatnya tidak punya pilihan lain. Kemudian, Shidou berbicara dengan gadis yang dia bawa di punggungnya.
"Aku akan menutup mataku, jadi pada saat itu ......"
"Ah, nomor kamarnya 1801, dan nomor pinnya 1234, oke."
"Keamanan!?"
Bingung dengan kata-kata gadis itu, Shidou tanpa sengaja mengeluarkan suara aneh.
"Eh, sekarang kamu meneriaki apa? Sangat lucu. Lakukan sekali lagi, sekali lagi. "
"Lupakan itu! Kamu seharusnya tidak membiarkan orang lain tahu hal-hal seperti itu dengan mudah! "
"Eh? Kenapa?"
Gadis itu bertanya kembali dengan heran. Shidou menggaruk kepalanya dengan stres dan terus berbicara.
"Itu tidak baik untuk keamanan, bukan?" Jika orang lain selain penghuninya mengetahui kata sandinya, maka dia bisa masuk dan keluar dengan bebasnya! Kita baru bertemu untuk pertama kalinya, dan aku adalah anak laki-laki, kau tahu! "
Shidou menjelaskan teorinya dengan nada tinggi Gadis itu kemudian berkata "Oh" dan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Apakah kau akan melakukan itu? Tidak mungkin, itu sangat mengejutkan. "
"Tidak akan! Aku hanya mengatakan hal yang umum! "
"..............Ah ~, begitu. Meskipun kamu tampak seperti herbivora, sebenarnya kamu adalah karnivora ........ Mungkin ini yang kamu sebut sebagai celah. Aku jadi sedikit bijak sekarang."
"Apakah kau bahkan mendengarkan saat orang lain berbicara denganmu !?
"Aku mendengarkan, aku mendengarkan. Aku sangat mendengarkannya ............ Bagaimanapun, aku hanya ingin ini sebagai referensi, jika seorang anak laki-laki masuk ke kamar seorang gadis, apa hal pertama yang akan dia lakukan? "
"Kamu benar-benar tidak mendengarkan, ya!?"
Shidou meninggikan suaranya pada gadis itu sambil berteriak, tiba-tiba dia merasa seperti seseorang sedang mengawasi dari suatu tempat.
"Ng ... ..?"
Dan di sana, ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan tajam ...... Karena itu, tubuhnya mulai bergetar.
Di sana, berdiri sosok seorang wanita. Wanita itu adalah manajer mansion ini ...... Tampaknya, dia adalah pengurus mansion. Karena Shidou dan gadis itu sedang membuat keributan di depan pintu masuk lobi mansion itu, dia menatap mereka dengan tatapan curiga. Wanita itu sepertinya bermaksud memanggil polisi, karena sekarang dia mencengkeram telepon.
"A, Ahaha ......"
Shidou tersenyum lemah dan tidak tulus, dia memasukkan nomor pin kamar yang dia dengar dari gadis itu sebelumnya, lalu pintu pun langsung terbuka secara otomatis.
"...... aku masuk."
"Aye-aye, Pak ~"
Gadis itu menjawab dengan nada riang. Shidou mengembuskan napas, lalu berjalan menjauh dari lobi dan menuju koridor.
Setelah itu, dia naik lift. Dia bisa melihat hiasan indah ruangan di bawah ini sebelum menuju ke ruang yang ditunjuk.
"...........Hei, kita sampai. Tidak apa-apa kalau aku menurunkanmu disini? "
"Ng ~, terima kasih Tapi jika kamu meninggalkan aku seperti ini, aku pasti akan mati nanti. "
"………..Ha. Baiklah, beri aku kunci. Aku akan membukanya. "
"Baiklah. Ah, tapi kuncinya ada di saku bokongku, jadi tolong ambil dengan lembut ~ "
"Mengapa kamu menaruhnya di situ !?"
Teriak Shidou saat gadis itu mencengkeram lengannya ke leher Shidou.
"Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku karena telah membantuku di jalan, jadi aku pikir aku harus memberimu sedikit layanan untuk menyegarkanmu. Bahkan sekalipun kamu memasukkan tanganmu ke tempat yang salah seperti bagian dalam pakaianku, aku baik-baik saja jika berada di bagian atas celanaku. "
"Apa yang kamu katakan !?"
"Ng ~, tidak ~ hmm ~, aku pikir setidaknya aku ingin menunjukkan rasa terima kasihku, jadi aku terus 'mendorong'k diriku  padamu sepanjang waktu ini, tapi kau tidak menunjukkan reaksi sama sekali ~. Oh, mungkin anak ini memiliki minat khusus pada bokong? Itulah yang aku pikir."
"Perhatianmu telah melampaui akal sehat !?"
"Ah, atau mungkin anak laki-laki ini hanya tertarik pada payudara besar? Kamu tidak tertarik pada payudara di bawah 80 cm? Maafkan aku tentang itu ~. Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun tentang ini ~ "
"Bisa tidak kau tidak membawa orang lain ke dalam minat anehmu itu?"
Shidou terus berteriak untuk beberapa saat, dan kemudian sekali lagi, dia menghela napas panjang.
"Lupakan itu, serahkan saja kuncinya. Atau aku akan meninggalkanmu di sini. "
"Ah, sepertinya aku tidak punya pilihan ~"
Setelah mengatakan itu, gadis itu memasukkan tangannya ke saku bok*ngnya.
"Ah ........., tiba-tiba sekali .......kya ....."
"Jangan membuat suara aneh di belakang punggung seseorang, oke ......"
"Kenapa begitu? Kau tidak menyenangkan."
Gadis itu menggembungkan pipi, lalu dia menyerahkan kuncinya. Shidou membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Maaf mengganggu."
"Ku maafkan karena mengganggu ~"
"............."
"Eh, kamu melakukan Tsukkomi lagi?"
Mengabaikan suara gadis itu, Shidou melepaskan sepatunya sebelum memasuki ruangan.
Dari jalan masuk, ada koridor panjang. Di sana, ruangan itu dihiasi dengan gunungan majalah dan Manga.
"Lalu, di mana kamar tidurnya?"
"Di sana ~"
Setelah gadis itu menunjukkan arah, dia berjalan menuju kamar.
Sekali lagi, kamar tidur gadis itu ditutupi dengan berton-ton Manga. Hampir seluruh dinding telah berubah menjadi rak buku, namun tetap saja pada akhirnya, buku-buku itu hanya menumpuk tinggi di dalam ruangan.
Tempat tidur gadis itu bahkan lebih buruk lagi. Ada tempat tidur di tengah ruangan besar, tapi sepertinya hanya ada ruang untuk satu orang. Selain itu, di ruangan tersebut berserakan buku di mana-mana. Secara keseluruhan, dia tampaknya memiliki minat besar terhadap buku, karena tempat tidurnya tampak seperti peti mati yang disiapkan khusus yang dibuat untuk orang yang meninggal untuk menggunakan buku dan bukan bunga.
"Uh, tunggu."
Sementara Shidou berdiri di depan tempat tidur sejenak, gadis itu menggerakkan tubuhnya dari punggung ke tempat tidur. Jatuh seperti lendir dan sepotong puzzle, dia berbaring di tempat tidur dengan manisnya.
"Ng ~, akhirnya kita sampai."
"Haa ... .."
Kemudian, setelah akhirnya membaringkan gadis itu, Shidou mengembuskan napas. Dia melihat sekeliling bagian dalam ruangan dan menemukan sesuatu di dalamnya.
"Ini adalah……."
Meskipun tidak sopan melihat-lihat kamar seorang gadis yang baru saja dia temui, dia tidak bisa menang melawan rasa ingin tahunya. Dia berjalan maju ke tempat tertentu; di sana dia melihat sesuatu yang luar biasa. Ruangan kerja itu cukup besar Ada berbagai jenis peralatan lukis, juga lampu neon besar yang bisa menerangi permukaan seluruh meja.
Selain itu, ada kertas ukuran B4 tebal di tengah meja. Naskah komanya, tidak hanya karakter dan latar belakang yang digambar, tapi juga ada beberapa teks yang tertulis di dalamnya. Sepertinya sudah selesai dan hampir siap untuk ditinta, karena sketsa kasar yang digambar oleh pensil belum terhapus.
Benar——Ini adalah pertama kalinya Shidou melihat ini secara langsung, tidak diragukan lagi.
Dan apa yang ada di sana disebut kertas naskah Manga
"Eh, mungkinkah, apakah kamu menggambar Manga?"
Shidou bertanya pada gadis yang sedang tidur nyenyak di ranjang seperti mayat. Lalu, dia mengangkat tangannya.
"Ng.........? Ya benar, aku seorang profesional ...... Aku terlalu fokus dengan pekerjaanku sehingga aku lupa makan~ ...... aku pikir aku tidak punya pilihan lain selain pergi ke toko terdekat atau ke supermarket. Kemudian, aku menyadari bahwa gravitasi bumi menjadi lebih kuat. "
Setelah mengatakan itu, dia mengangkat tangannya sebelum menjatuhkannya kembali ke tempat tidur. Shidou membuat wajah tercengang dan tersenyum pahit.
"Jadi, itulah yang terjadi ...... Tapi jika kamu seorang profesional, kamu tidak punya asisten ......"
"Ng.......Pada dasarnya, begitulah adanya, tapi aku suka melakukan semuanya sendiri sampai selesai. Nah, jika kamu merasa nyaman melakukan itu sendiri, maka tidak masalah. Meski terkadang, aku merasa seolah-olah aku akan mati. "
"Tapi aku pikir ini adalah kesalahan fatal ......"
Shidou menggaruk pipinya sebelum melihat lagi naskah Manga di atas meja.
Bukannya Shidou membaca keseluruhan buku Manga dengan liar seperti maniak atau semacamnya, tapi Shidou juga suka membaca Manga sama seperti siswa SMA biasa lainnya. Dia bahkan membeli buku Manga yang dia suka. Namun, ini adalah pertama kalinya dia melihat manuskrip mentah, jadi ini adalah pengalaman yang cukup menggairahkan.
Menebak dari karya seni, ini adalah Manga Shonen. Meskipun masih belum selesai, dia dapat mengatakan bahwa dia benar-benar seorang profesional pro-
"..........hmm?"
Lalu, Shidou mengerutkan alisnya Dia membungkukkan badannya ke depan dan mendekatkan wajahnya untuk melihat naskah lebih dekat.
Karena naskahnya belum selesai, dia tidak begitu yakin. Namun, ia mengenali gaya itu di suatu tempat.
"...........Eh, ini, jangan bilang ini adalah [SILVER BULLET] !?"
Teriak Shidou pada saat itu juga. Benar. Di sana ada Manga yang dibicarakan Nakatsugawa sebelumnya, [SILVER BULLET].
"Oh? Kamu sangat tahu. Mungkin, kamu adalah salah satu pembaca ya? Terima kasih~
Gadis itu mengayunkan salah satu tangannya lagi, Shidou menjadi lebih penasaran. Dia membalikkan tubuh dan terus bertanya.
"Tidak, tunggu sebentar. Apakah itu berarti kamu HonjouSouji ......? "
"Ng ~, ya ~"
"K-kau bukan laki-laki?"
"Ah, itu? Itu nama pena, nama pena. Nama asliku adalah Nia. Honjou Nia. Senang bertemu denganmu ~ "
Setelah mengatakan itu, gadis bernama Nia itu melontarkan senyum yang membuat suara "Nii", lalu berlanjut.
"Ini sangat umum, kau tahu. Ada cukup banyak penulis wanita yang melakukannya saat menulis manga Shonen. Misalnya, Takajou-san dari [OTHER FAKE] sebenarnya adalah wanita juga. "
"Eh !? A-apakah itu benar !? "
Setelah mendengar informasi ini, Shidou melebarkan matanya....... Lalu dia terus berpikir.
Selain soal masalah gender tadi, dia bahkan menemukan yang lebih aneh lagi.
"Tidak-tidak-tidak ...... Masih aneh. Karena [SILVER BULLET] adalah sebuah Manga yang telah ada sekitar saat aku masih di sekolah dasar, kau tahu? Itu berarti karya debut HonjouSouji bahkan lebih tua dari itu ... .. "
Shidou berteriak lagi membuat tenggorokannya bergetar. Dia melihat penampilan Nia lagi.
Umurnya mungkin sekitar 18 atau 19 tahun...... Betapapun suksesnya make up-nya untuk membuat dirinya terlihat lebih muda, berusia dua puluhan adalah batasnya. Jika usia sebenarnya gadis ini benar-benar berumur 30 tahun, penampilan awet muda itu adalah sesuatu yang selalu diinginkan setiap orang. Tidak salah lagi bahwa setiap perusahaan kecantikan dan TV Channel akan mendekatinya untuk memanfaatkan hal ini.
Dalam kasus ini, dia pasti putri Honjou Souji yang memiliki gaya gambar yang sama persis dan mewarisi nama yang sama dengannya sebagai generasi kedua...... Ada juga beberapa orang yang melakukan hal yang sama.
Namun, Nia bisa melihat melalui apa yang Shidou pikirkan, dia kemudian mengatakan *fufu*, sambil mengangkat bahunya.
"Maaf, tapi sejak awal sampai sekarang, Honjou Souji dan aku adalah orang yang sama. Omong-omong, sudah sekitar sepuluh tahun sejak karya debutku. "
"S-sepuluh tahun ....."
Shidou tercengang dengan penjelasannya, kebenaran Nia bergema seperti suara drumShidou mengalihkan pandangannya bertanya-tanya tentang teori semacam itu.
Berpikir secara normal, hal seperti itu seharusnya tidak mungkin. Kemungkinan keseluruhan teori ini hanya bagian dari pidato acak Nia yang cukup tinggi.
Tapi, naskah yang diletakkan di meja kerja itu jelas merupakan gaya menggambar Honjou. Tentu saja, ada kemungkinan juga bahwa itu hanya salinan dari gambar aslinya. Namun, jika Manga ini benar-benar diterbitkan oleh [BLAST], itu akan menjadi bukti orisinalitas naskah tersebut.
Sementara Shidou memikirkan hal itu, Nia berkata * Oh, baiklah~ * dan membuang napas.
"Uhm ~ ...... Urutannya sedikit berbeda dari yang aku inginkan, tapi oh baiklah, tidak apa apa. ~ Aku akan memberitahumu, rahasiaku adalah- "
"Eh ...?"
Mendengar kata-kata Nia, Shidou mengangkat bahunya sedikit.
Memang benar dia penasaran dengan itu, tapi ...... Apapun itu, apakah baik untuk menceritakannya kepada orang asing seperti Shidou? Pertanyaan itu yang muncul dalam pikirannya.
"Sebenarnya ~"
Namun, beberapa saat kemudian ...
Gu ~ ......... ..Kyururururururu .............
Suara itu keluar dari perut Nia lebih keras dari sebelumnya.
Lebih jauh lagi, karena dia akan membicarakan masalah serius, dia menciptakan wajah serius untuk menunjukkan bahwa situasi sebelumnya menjadi sangat tidak nyata.
"K-Ka ........."
Nia memanggil Shidou dengan suara lemah. Shidou menghembuskan napas dan menggaruk kepalanya.
"Oke, oke……. Aku akan memakai dapurmu untuk sementara. "
"Ya ~ ......."
Lalu, Shidou keluar ruangan, tapi dengan cepat dia kembali ke Nia.
"......... Aku hanya ingin mendengar ini untuk memastikannya. Kamu bisa makan makanan biasa, 'kan? Kamu tidak mengisap darah untuk menjaga penampilan awet mudamu, bukan? "
"Eh, Kamu akan membolehkanku untuk menghisap darahmu?"
Kemudian, Nia mencoba meniru hewan karnivora dengan menekuk jari kedua tangannya, "Gaah ~" dan kemudian dia memamerkan giginya. Tapi, tak lama kemudian dia kehilangan kekuatan fisiknya dan terjatuh.
".........Untuk saat ini, aku akan menerima jawaban itu sebagai jawaban ya."
Shidou mengatakan itu dengan mata setengah terbuka. Dia meninggalkan ruangan dan berjalan sendirian ke dapur.
Melihat tingkah laku Nia, dia menduga bak cuci piringnya terisi dengan piring-piring kotor. Namun, selain dari peralatan makan yang berdebu, dapurnya tidak disangka tertata dengan baik.
"Heee. Betapa mengejutkannya...... Aku tahu tidak sopan mengatakan ini, tapi ini cukup tertata dengan baik. "
Tapi, sesaat kemudian, Shidou mengubah kesan awalnya. Melihat permukaan meja dapur cukup mengonfirmasikannya. Di sudut ruangan, ia bisa melihat sampah makanan instan dari minimarket.
Dengan kata lain, alih-alih Nia tidak pernah merapikan tempat ini, nampaknya dia tidak pernah menggunakan dapur. Dia selalu makan di luar atau membeli kotak makan siang dari minimarket. Singkatnya, dia selalu mengonsumsi makanan instan setiap kali makan.
"............."
Shidou diam dan meletakkan tangan di dahinya. Dia membasahi meja dan mulai menyeka permukaan meja dapur dengan beberapa kain.
"Baiklah .............sekarang."
Setelah selesai membersihkan kotoran, dia melihat ke sekeliling dapur dan berjalan untuk membuka kulkas,
"............ ..Ha-Hanya sake ............??"
Shidou menyuarakan ketidakpercayaannya pada apa yang baru saja dilihatnya, lalu dia menarik laci sayuran untuk dilihat. Hanya ada beberapa botol sake di dalamnya, juga beberapa buku yang menutupi mereka.
".............."
Shidou menutup kulkas dalam diam. Dia kembali ke pintu masuk dan mengambil tas belanja yang dia bawa tadi, dan memutuskan untuk memilih beberapa bahan yang sesuai sebelum kembali ke dapur. Awalnya, ini dimaksudkan untuk makan malam para Roh, tapi ........... karena jumlah yang dia beli lebih banyak dari biasanya, seharusnya baik-baik saja. Dan yang lebih penting, dia tidak bisa membiarkan si Nia ini mati kelaparan.
Shidou mencuci tangannya, dan kemudian mulai memasak seperti biasanya. Meskipun, tidak banyak alat dapur yang bisa dia gunakan, jadi tidak mungkin membuat makanan lezat. Juga, tidak banyak waktu yang tersisa untuk memasak karena dia tidak bisa membiarkan Nia menunggu terlalu lama.
Setelah Shidou memutuskan, dia menuangkan sedikit air ke dalam panci kecil yang tersedia di dapur. Kemudian, dia juga memasukkan beras mentah ke dalam air, dan dia menyalakan api untuk memasak.
Setelah itu, dia menaruh beberapa daun bawang ke tempat api menyala, begitu juga beberapa pasta kacang. Dia juga menambahkan beberapa sake Jepang yang dia pinjam dari kulkas untuk menambahkan beberapa rasa. Pada langkah terakhir, dia menjatuhkan beberapa butir telur ke dalam campuran untuk melengkapi sup sederhana.
Dengan begini, saat ini makanan sudah selesai dimasak hanya dalam waktu singkat. Dia membawa makanan itu ke Nia, yang saat ini kelaparan sampai mati. Terlepas dari kenyataan bahwa ini hanya menu biasa, menurutnya makanan ini akan cukup baik untuk gadis itu.
"Baiklah, aku harap ini sudah cukup."
Setelah Shidou mengatakan itu, dia kembali ke ruang sebelumnya untuk mengantarkan mangkuk yang diisi dengan Zousui.
"Ini, sudah matang. Hati-hati masih panas "
"Waa! Aku makan ~! "
Shidou meletakkan Zousui di atas meja dekat tempat tidur, Nia lalu *Pan!* bertepuk tangan. Dan dengan sedikit kekuatan dia mengambil Zousui.
"Whoaaa!"
Tentu saja, makanannya masih panas. Tubuh Nia bergetar sedikit.
"Whoaaa!"
Tentu saja, makanannya masih panas. Tubuh Nia bergetar sedikit.
"Aku sudah memberitahumu masih panas........"
"Fuu ~, Fuu ~"
Belajar dari kesalahannya yang terakhir, Nia meniup sendok dengan napas sebelum memasukan makanan ke mulutnya.
Setelah itu, dia mencicipi Zousui sambil mengunyahnya di dalam mulutnya, lalu dia mengeluarkan sebuah suara.
"Aaaa ~ ...... .."
Nia membuat suara yang terdengar sama seperti orang tua di sumber air panas. Air mata mulai mengalir turun dari matanya karena dibanjiri oleh sensasi makanan. Dia terus menggerakkan sendoknya.
"Enak sekali ...... Makanan apa yang kau buat untukku...... Apa ......"
Sambil mengucapkan kata-kata ini, dia terus makan Zousui yang tersisa. Setelah lima menit berlalu, mangkuk Zousui sudah kosong.
"Fuh ~ terima kasih atas makanannya. Tidak ~, itu enak sekali. Sudah seminggu sejak terakhir kali aku makan makanan hangat. "
"Seminggu ......."
Shidou tersenyum kecut dan kemudian membersihkan peralatan makannya. Dia berbalik kembali saat hendak membuka pintu untuk kembali ke dapur.
"Baiklah, aku akan mencuci piring, setelah itu aku akan pulang. Mulai sekarang, makanlah dengan benar sebelum kamu pingsan lagi. "
"Ah, tunggu sebentar”
Kemudian, saat Shidou hendak keluar dari ruangan, Nia mengeluarkan sebuah suara.
"Apakah itu tidak cukup? Maaf, tapi bahan-bahan itu awalnya untuk makan malam di rumahku. Kalau mau lebih, pesan saja dari layanan pengiriman. "
"Ah ~ bukan itu! Bukan itu maksudku?
Kemudian Nia membuat suara *Bung-Bung* sambil melambaikan tangannya, dia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk pada naskah gambar yang belum selesai yang diletakkan di atas meja.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak mempekerjakan asisten apapun. Kalau hanya sebuah tugas sederhana, maukah kamu membantuku? Kumohon! aku akan membayar ekstra untuk itu. "
"............ .Eh?"
Diajukan permintaan tak terduga seperti itu, Shidou melebarkan matanya.
Tapi dia harus menolak permintaan Nia yang tidak masuk akal tepat setelah memasak makanan.
"Tidak-tidak-tidak. Apa yang kamu bicarakan? Itu sama sekali tidak mungkin. "
"Eh ~, tidakkah itu baik ~. Apakah ada hal lain yang harus dilakukan? "
"Bukan, bukan itu yang ingin kukatakan ........ Aku belum pernah menyentuh naskah pro sebelumnya, aku tidak mau mengambil tanggung jawab jika aku melakukan kesalahan."
"Tidak apa-apa~, tidak apa-apa~. Aku hanya memintamu untuk melakukan penghapusan. Kamu hanya perlu menaruh beberapa kekuatan untuk melakukan itu. "
"Bahkan sekalipun kamu mengatakannya ........."
"Aku mohon, aku mohon, aku mohon! Saat ini tanganku sudah penuh dengan pekerjaan penting yang harus di selesaikan~. Dalam kasus ini, aku tidak akan bisa menyelesaikan naskahkutepat waktu ......... .. "
Nia terus memohon padanya, Shidou menghela napas dalam-dalam.
"..........Haa. Oke, tapi hanya tugas yang sederhana, oke? "
Setelah Shidou memberikan argumennya, Nia kemudian mulai tersenyum dengan senang hati.
"Mengerti~, mengerti~. Kalau begitu, ayo kita pergi ke ruang kerja. Seperti yang diharapkan, tempat ini terlalu kecil untuk digunakan bagi kita berdua ~. "
Sambil mengatakan itu, Nia bangkit dari tempat tidur, lalu "Nggggh ...... .."
Dia menggaruk tubuhnya. Setelah bertingkah malas sampai barusan, gadis itu sudah mendapatkan kembali energinya dengan sangat cepat.
 "Ruang kerja...... apakah ada tempat lain selain kamar ini?"
"Iya. aku mempersiapkan semuanya seperti ini, jadi kapan pun aku merasa ingin mati saat bekerja, aku bisa langsung pingsan, tapi aku juga punya ruang kerja lain untk diunakan ~ "
"Bahkan sekalipun kau mengatakannya seolah itu hal yang biasa, itu masih aneh."
Shidou setengah menutup mata saat mengatakan itu, Nia nampaknya tidak terlalu memperhatikannya. Setelah itu, Shidou mengikuti Nia ke ruang kerja yang lain.
"Nah, masuklah, masuklah."
"Wah ............"
Nia meminta Shidou masuk ke ruang kerja, pemandangannya membuat Shidou melebarkan matanya.
Di dalam ruangan, ada meja kerja besar yang ditempatkan; di atasnya, ada berbagai alat tulis yang disiapkan. Dindingnya masih terlihat sama dengan yang sebelumnya, di mana seluruh permukaan dinding diubah menjadi rak buku. Selain itu, ada bahan gambar, buku lukisan, juga buku foto dan lain-lain yang semuanya berbaris.
Di dalam ruangan, ada suasana yang tenang entah bagaimana. Tampilan tempat ini pastinya sama seperti tempat kerja seorang seniman.
"Di sana, kamu bisa menggunakan meja itu."
"Eh, apa tidak apa-apa? Entah bagaimana suasana membuatnya terasa seperti ini adalah tempat suci seorang seniman ...... "
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ah, atau mungkin lebih baik kamu suka meja di ruang sebelumnya? Apakah kau ingin mencium aromaku saat bekerja? "
"Ah, tempat ini juga bagus."
Shidou langsung menolak, gadis itu tampaknya tidak puas dan bibirnya membuat suara "Buu ~" saat dia mengerutkan bibirnya.
"Nah, bagian mana yang harus aku hapus?"
"Aah, tolong hapus bagian ini."
Setelah Shidou bertanya, Nia memakai kacamatanya dan mulai menandai bagian atas kertas itu. Dia menunjukkan beberapa lembar naskah yang sudah ditinta.
"Setelah kamu selesai menghapus drafnya, tolong isi ruang kosong dengan tinta hitam."
".............Ng?"
Nia mengucapkan kata-kata itu secara alami, Shidou memiringkan kepalanya.
"T-tunggu sebentar! Bukankah kau ingin aku hanya melakukan Gomu-kake!" Bahkan jika itu Beta-nuri, sebaiknya jangan biarkan seorang amatir melakukannya! "
 "Tidak apa-apa~, tidak apa-apa~. Karena kamu cukup terampil, kamu pasti bisa melakukannya. Bagaimanapun, selama kamu melukisnya dengan warna hitam, kamu bisa leluasa menggunakan alat lukis. Triknya adalah dengan melukis sudut kecil dengan ujung pena halus terlebih dahulu, lalu lakukan bagian yang lebih besar dengan lebih cepat.”
"Tidak, tunggu, apakah kamu mendengarkan saat orang lain berbicara ............??"
"Aku sedang mendengarkan~. Tapi seperti yangku katakan, tidak apa-apa. Nak, kau pernah menggunakan alat lukis sebelumnya kan? "
"Hah………? A-apa, tiba-tiba ....... "
Mendengar kata-kata yang mendadak itu, wajah Shidou tiba-tiba menjadi pucat.
Lalu, Nia mengangkat ujung bibirnya dan terus berbicara.
"Kamu tahu? Bagi mereka yang tidak tahu apa-apa tentang Manga, mereka tidak akan menyebut penghapusan sebagai [Gomu-kake], atau penintaan sebagai [Beta]. "
"...... .cih!"
Berbisik, Shidou menahan napas.
"I-itu ............"
"Mungkin memang begitu, kan? Saat kamu masih di sekolah SMA, kamu menggambar ilustrasi karakter asli yang kamu buat senidiri. Tidak, aku mengerti, aku mengerti. Pada awalnya, kamu menggambarnya di buku catatanmu  dengan menggunakan pensil. Kemudian, suatu hari kamu memutuskan untuk pergi ke toko alat tulis untuk membeli pena Manga dan juga tinta, tapi kemudian kamu merasa itu cukup sulit untuk digunakan."
"?! Ti-tidak, aku ........ "
"emudiankau pikirbahwa kau ingin menggunakan screen tone juga tapi, 'Tidak mungkin, kenapa harga satu lembar begitu mahal, meski hanya bisa digunakan satu kali!' Kemudian Anda menyerah setelah mengatakannya. "
"G-Guu ............."
"Setelah itu, suatu sat kau tahu ada metode untuk menggambar menggunakan komputer. Dengan begitu aku bisa menggambar sebanyak yang aku suka! Itulah yang kamu pikirkan, tapi kau benar-benar terkejut begitu mengetahui harga pen tablet dan perangkat lunaknya, bukan? "
"A-Aaaaaaaaaah ...............!"
Tubuh Shidou mulai bergetar saat menggaruk kepalanya.
"Dan kemudian………."
"OK, aku mengerti! Aku akan melakukannya, tidak perlu lagi mengatakannya. Tolong."
"Kalau begitu, aku akan mengandalkanmu! Dan aku akan bekerja di sana. "
Shidou mengatakan bahwa dengan nada tidak senang, Nia mulai menertawakan saat melihatnya dan melambaikan jempolnya sambil berjalan kembali ke kamar tidurnya.
"Astaga………."
Shidou mengehela nafas, * Fiuh *.
Tapi, mau bagaimana lagi. Lalu, dia duduk di kursi; dia mencengkeram penghapus di tangannya dan dengan hati-hati mulai menghapus jejak pensilnya.
Setelah itu, dia mengambil Fude-pen di tangannya dan mulai mengerjakan Beta-nuri seperti yang dia instruksikan.
 Dia mulai melukis bagian diberi tanda x menggunakan Fude-pen, dengan arah dari dalam ke bagian pinggir. Setelah itu, ia mulai melukis seluruh permukaan.
Sekalipun ia hanya mengulangi pekerjaan yang sama, namun bentuk dan ragamnya untuk melukis pun beragam.
Kewalahan oleh tekanan bahwa dia seharusnya tidak merusak naskah pro membuat Shigou merasa gugup. Saat menyelesaikan pekerjaan, dia mencoba menyelesaikannya sesegera mungkin.
Setelah beberapa saat berlalu, Shidou membawa naskah yang telah selesai ditinta di tangannya, lalu pergi ke tempat Nia.
"Oh, apakah kamu sudah selesai? Hee ~, bukankah kamu cukup terampil? "
 "................Aah, entah bagaimana aku bisa berhasil melakukanntyaSudah lama sejak terakhir aku menangani hal yang sangat rumit seperti ini. "
Menghembuskan napas, ia terus menggerakkan tubuhnya perlahan dan memutar bahunya.
Lalu, saat dia melihat ke sana, wajah Shidou menjadi pucat saat tubuhnya mulai gemetar.
"Ap...........!?"
Tidak salah lagi. Di sana, Nia sudah mengganti pakaian kamar yang dikenakannya sampai sekarang. Dia mengganti baju dengan pakaian pembantu yang memiliki banyak bagian terbuka. Roknya sangat pendek, dan sebagian payudaranya banyak terekspos. Melihat penampilan sensasionalnya, Shidou menelan air liurnya.
“A-Apa yang kamu pakai .........."
"Eh? Aah, aku membeli ini untuk referensi pekerjaan aku memutuskan bahwa aku akan memberimu layanan sebagai asisten. Lihat, bukankah gaji ekstra ini terlihat sangat menggairahkanBagaimana menurutmu? Meski dadaku datar, gayaku tidak terlalu buruk, 'kan? "
"Aku tidak berpikir bahwa ini yang kamu maksud gaji ekstra?"
Menempatkan tangan di pinggulnya, Nia mengangkat suaranya. Setelah itu, Nia mengibaskan amplop di tangannya.
"Aku cuman bercanda. Ini hanya fan service. Ini gajimu. "
Kemudian, Nia menyerahkan amplop itu ke Shidou, tapi ada sesuatu yang muncul dalam pikirannya.
Setelah itu, senyum jahil muncul di wajahnya, dia menarik bagian dadanya dari pakaian pembantu itu, dan meletakkan amplop di antara payudaranya.
"Baiklah. Inilah gajimu. "
"Hei......... Apa yang kamu lakukan !?"
"Tidak apa-apa ~, tidak apa-apa ~, lihat-lihat, ambilah."
Setelah mengatakan itu, Nia mengangkat tangannya di bawah dadanya untuk menekankan payudaranya.
Kemudian, *suton*, amplop itu tergelincir dan terjatuh melalui roknya.
".............."
"Ah………."
Shidou berbicara dengan suara kecil, Nia sangat terkejut sehingga dia jatuh ke tempat dia berdiri.
"Ku .........,apakah memliliki payudara kecil benar-benar adalah sebuah kejahatan......... !?

 "............ Err, aku harus pulang sekarang juga."
Shidou mengucapkan permisi sambil berkeringat, dia mulai menyiapkan barangnya sebelum kembali. Entah bagaimana kalau seperti ini, dia tidak akan bisa kembali ke rumahnya lagi.
"Eh? Bagaimana dengan gajinya? "
"Tidak apa-apa, tidak perlu. Aku juga mendapat banyak pengalaman berharga. "
"Eeh~ Kau tidak bisa melakukan itu~. Dengar, belilah lebih banyak makanan lezat dengan menggunakan uang ini. "
"Harusnya Nia yang butuh itu untuk membeli makanan untuk dimakan, tidak peduli itu enak atau tidak."
Shidou mengatakan dengan mata setengah terpejam, Nia melebarkan matanya karena terkejut.
"Uwah, aku tidak menyangka tentang hal ini."
"Aku tidak punya maksud apapun....... Baiklah selamat tinggal. Lain kali, jangan pingsan di jalan lagi. "
Lalu, Shidou melambaikan tangannya dan berhasil meninggalkan ruangan. Nia yang tidak tahu apa yang harus berbuat apa mulai menarik kemeja Shidou.
"Tu-tu-tu-tunggu sebentar. Aku rasa ini tidak bisa selesai dengan cara begini. "
"Bahkan jika kamu mengatakan itu ........."
Shidou memperlihatkan ekspresi wajah terganggu. Lalu Nia membuat suara *Pon* saat dia menepuk tangannya.
"Ah, begini saja. Apa kamu tidak ada acara pada hari sabtu ini "
"Ng ......? Kenapa tiba-tiba. "
"Aku akan berlibur satu hari setelah menyelesaikan naskah ini. Ayo kita berkencan. Aah, tentu saja aku yang akan membayar semuanya. "
"Eh ......?
Setelah mendengar kata-kata yang tak terduga, Shidou melebarkan matanya. Siapa tahu, dia tidak menyangka dia akan mendapatkan usulan seperti itu.
"Ah, tapi sebagai gantinya, izinkan aku menentukan lokasinya. Karena aku belum sempat berbelanja akhir-akhir ini, aku ingin pergi ke Akiba ~ "
Dengan nada acuh tak acuh, Nia tersenyum. Shidou menghela napas dan menggaruk kepalanya.
".............Itu, apakah kamu ingin aku membawa barang barangmu?"
"Giku!?"
Ekspresi terkejut Nia menggambarkan dia sudah berada di puncak reaksi  dia berhenti sejenak. Ini adalah pertama kalinya Shidou mendengar suara "Giku" keluar dari mulut seseorang.
"Haa ......... Maaf, tapi bisakah kamu meminta pada orang lain? Bagaimana kalau meminta pada temanmu? "
Setelah Shidou mengatakan itu, ekspresi wajah Nia muram seketika.
Tapi dia segera kembali ke nada biasa dan dia mengayunkan kepalanya.
"Tidak ... haha. Itu karena aku tidak punya teman~ "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nia menyipitkan kelopak matanya.
"Tapi, tidak apa apa jika seperti ini?"
"Eh?"
Entah kenapa, ada beberapa makna tersembunyi di balik kata-kata itu, Shidou mengerutkan alisnya. Lalu, Nia mengangkat ujung bibirnya dan terus berbicara.
"Bukankah tugasmu membuat para Roh jatuh cinta padamu? Tidak ......... Itsuka Shidou-kun?"
"Hah……….?"
Untuk sesaat, dia tidak mengerti apa yang dia katakan, lalu Shido mengeluarkan suara konyol.

Date A Live Jilid 13 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.