09 Juli 2017

1/2 Prince Jilid 3 Bab 2 LN Bahasa Indonesia


INFINITE CITY
(Translater : Hikari)

"Kenapa harus aku yang menjadi penguasanya?" gerutuku, merasa tak senang. Aku bahkan tak punya gagasan sedikit pun tentang apa yang harus dilakukan sebagai seorang penguasa; bukankah akan lebih baik kalau posisi itu diberikan pada Wolf-dàgē? Menjadikanku seorang penguasa! Aku bahkan tidak yakin apa yang harus kulakukan dengan wilayah baru kami. Apa yang akan kita lakukan dengan ini? Bertani?
"Biar kutanyakan ini padamu, Prince," kata Lolidragon dengan gaya menginterogasi saat dia menudingkan satu jarinya ke hidungku. "Apa kau tahu bagaimana caranya menyusun strategi atau memerintah pasukan seperti Wolf-dàgē, dan dengan begitu ditempatkan di departemen militer?"
Aku memiringkan kepalaku ke satu sis, berpikir, Aku, menangani masalah militer? Aku bahkan tidak tahu perbedaan antara strategi dan taktik… "Aku tidak tahu caranya."
"Atau apakah kau entah bagaimana seperti Yulian-dàsăo, dengan bakat mengatur keuangan dan pembukuan yang tidak ada bandingannya, dapat menggunakan uang untuk menghasilkan lebih banyak uang, dan demikian mengatur departemen keuangan? Apakah kau, sebagai tambahan, seorang mage, dan dengan begitu dapat mengambil tugas mengatur departemen mage juga?"
"Tidak, aku tidak bisa." Itu sudah menjadi sebuah pencapaian tersendiri kalau aku tidak menghabiskan seluruh uangku, dan selain itu, aku bukan seorang magepikirku, merasa sedih pada diriku sendiri.
"Kalau begitu, apakah kau memiliki otak sebagus Gui? Apakah kau bisa membuat cetak biru denah seluruh wilayah dan bahkan mengawasi seluruh proses pembangunan?"
Aku pergi ke sudut untuk bermuram-durja. "Tentang menggambar…Orang-orang selalu berkata bahwa anjing yang kugambar terlihat lebih mirip kucing."
"Kalau begitu, apakah kau memiliki pengetahuan tekhnisku, yang dapat memasang perangkap di sekitar wilayah untuk mencegah monster atau player lain menyerang?"
"Tidak menginjak salah satu perangkap itu sendiri, sudah bisa dianggap sebagai berkah…" Sekarang ada dua api hantu yang melayang di sebelahku.
"Kalau begitu, apakah kemungkinan kau memiliki kemampuan untuk memanggil skeletons seperti Doll untuk membantu pembangunan?" tanya Lolidragon, menyerangku dengan sebuah serangan penghabisan.
Aku tidak mengira…bahkan Doll lebih berguna daripada aku! Aku ingin meratap… "Kalau aku begitu tidak berguna, kenapa kau masih ingin aku untuk menjadi penguasa?" Aku memberengut, merajuk.
Lolidragon menepuk bahuku, wajahnya adalah gambaran kebaikan — atau apakah itu kebaikan palsu? — saat dia menatapku. "Karena itulah kami mau kau menjadi penguasa! Bagaimanapun, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah menjadi penguasa, yang tidak perlu melakukan apapun selain terlihat tampan, pantas, dan tidak melakukan apapun yang menghancurkan reputasi wilayah kita!"
"Jadi begitu! Jadi karena aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan apapun makanya aku hanya bisa menjadi penguasa…" Mataku dipenuhi dengan dua tetes besar air mata yang berkilauan dan aku merengek. "Aku harus mempelajari beberapa keahlian mulai sekarang, kalau tidak aku tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun selain sebagai penguasa."
…Apakah menjadi sang penguasa benar-benar hal yang menyedihkan? pikir anggota Odd Squad yang lainnya.
Kilas balik singkat, di hari saat Lolidragon menggunakan Burrowing untuk menyingkir dengan aman dari malapetaka yang diakibatkan oleh dua mantera AOE skala besar, menginjak-injak Feng Wu Qing sampai mati, dan kemudian merampas kembali kemenangan untuk Odd Squad di Adventurers' Tournament, kami berdiri di panggung dengan senangnya untuk mengambil hadiah sebagai sebuah tim. Kami dibanjiri sorakan yang menulikan telinga dari para penonton dan mengagumi pemandangan luar biasa dari para anggota Dark Emperor yang berdiri terpaku, mulut menganga terkejut selama sejam penuh…sampai rasa sakit kepala dimulai.
Dari semua hadiah, yang paling signifikan adalah sebidang lahan, di mana kami tiba-tiba dibebani tanpa alasan. Menurut desas-desus yang beredar, ini bisa dibandingkan dengan kota Sun, Moon, dan Star dalam hal ukuran, dan kami tidak punya pilihan selain mulai mendiskusikan cara bagaimana mengatur sepotong masalah ini…
"Tanah ini adalah milik kita, ini sama sekali bukan beban yang kecil. Kota-kota Sun, Moon, dan Star menyebar di sekitar pinggiran benua ini dalam bentuk formasi segitiga; sebagai kota yang sangat jauh dari satu sama lainnya, dan dengan biaya teleportasi yang mahal, kebanyakan player biasanya akan memilih satu dari ketiga kota itu sebagai markas mereka dan kemudian berlatih di lingkungan sekitarnya. Wilayah kita berada tepat di tengah-tengah seluruh benua, akan tetapi, jumlah yang diperlukan untuk berpergian dari wilayah kita ke area penting lainnya di benua ini kurang lebih sama.
"Dengan begitu, kalau kita memainkan kartu kita dengan benar, kita pasti akan dapat memancing sebagian besar player pergi dari kota Sun, Moon, dan Star dan membuat mereka tinggal di sini. Akan tetapi, untuk alasan yang sama, akan ada banyak orang yang mengincar lahan ini…dan itu mungkin akan lebih menyeramkan daripada serangan dari monster." Lolidragon merenung, mengerutkan alis. "Meskipun pengembang game telah menyediakan NPC penjaga untuk sementara, begitu waktunya habis, mereka akan dihilangkan, dan setelah itu kita harus menjaga kota ini sendirian. Walaupun kita dapat memperkerjakan NPC penjaga, mereka akan terlalu mahal dan, bagaimanapun juga, mereka bukanlah player manusia. Mereka kekuarangan kemampuan adaptasi dan dengan demikian tidak dapat menjadi pilar utama pertahanan kita. Kita harus mengatur kekuatan pertahanan kita sendiri, menciptakan ekonomi yang cerah, dan mendesain kota kita juga…"
Seperti itulah kami mulai membagikan tugas di antara kami… Dan, seperti yang kau lihat, karena tidak ada yang spesial tentangku kecuali wajahku yang tampan, aku berakhir menjadi seperti sebuah hiasan — seorang penguasa!
"Meskipun penguasa seharusnya tidak lebih dari sekedar hiasan, Prince, aku punya tugas untukmu untuk mencegahmu mati karena bosan." Wolf-dàgē berdeham melegakan tenggorokkannya. "Kita punya masalah kekurangan tenaga yang serius, jadi kau harus merekrut orang untuk mendapatkan bantuan."
"Siapa yang akan kurekrut…?" Fans-clubku? Kau pasti bercanda!
"Tim Rose." Lolidragon berkata sambil mengetukkan salah satu jarinya ke dagu dengan penuh pertimbangan. Saat melihatku berjengit, dia buru-buru menambahkan, "Meskipun ada beberapa hal yang tidak menyenangkan di saat terakhir kali kita bertemu, mereka adalah orang-orang yang baik. Kurasa mereka tidak benar-benar beranggapan bahwa apa yang terjadi adalah salahmu. Selain itu, ada beberapa individual berbakat di Tim Rose."
"Kakak-kakak dari Dark Emperor juga!" seru Doll riang. "Mereka semua orang baik!"
"Nan Gong Zui!" Yu Lian-dàsăo menambahkan, bahkan saat wajah Gui mengeras saat mendengar nama itu. (Keberatannya ditolak walau begitu.) "Menjadi salah satu dari tiga pemimpin aliansi besar di turnamen, dia pasti memiliki pengaruh yang kuat. Kalau kau bisa membuatnya untuk bergabung dengan kita, Prince, jumlah pasukan kita akan sangat terbantu."
"Itu benar, pada dasarnya adalah orang-orang ini untuk sekaran," Wolf-dàgē berkata sambil mengangguk. "Sementara kami berjuang keras mati-matian mengucurkan darah dan keringat untuk membangun kota, Prince kau sebaiknya memanfaatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan mereka dan menjalin hubungan, dan kemudian buat mereka untuk bergabung dengan kita sambil melakukannya. Oh, ngomong-ngomong, akan sangat bagus kalau kau bisa menemukan individual berbakat lainnya. Bagaimana menurutmu? Bukankah tugasmu sangat mudah?"
Menggigiti jari telunjukku, dengan kepala yang miring ke satu sisi, aku berpikir, Kelihatannya…sangat mudah?!
"Oke, kalau begitu aku akan pergi. Ini akan jadi hal yang sulit bagi kalian semua!" Aku merasa sedikit bersalah.  Semua orang akan bekerja keras dalam pembangunan, sementara aku berpergian untuk mengobrol…Haah! Ini semua karena aku tidak tahu bagaimana cara melakukan apapun, karena itulah aku begitu tidak berguna.
Semuanya melambai dengan riangnya saat aku pergi. Aku juga melambat pada mereka dengan sangat antusias, dan kemudian berangkat menuju perjalanan "mengobrol"ku…

Tidak lama setelah mereka tidak lagi bisa Prince, senyuman-senyuman itu, yang menempel di wajah anggota Odd Squad yang lain, akhirnya menghilang.
"Hmm…aku merasa sedikit bersalah. Kita telah memperdaya Prince untuk melakukan pekerjaan tersulit; aku penasaran apakah dia akan baik-baik saja?" kata Wolf-dàgē, terlihat sedikit cemas.
"Jangan khawatir soal itu; orang itu luar biasa beruntung dengan orang-orang pada umumnya. Selain itu, aku tidak punya hati nurani sejak awal, jadi aku tidak merasa bersalah sedikit pun," Lolidragon berkata dengan senyum jahat.
"Prince adalah sang penguasa, jadi bagaimanapun juga dia memiliki sedikit tanggung jawab!" Yu Lian-dàsăo tersenyum, meregangkan telunjuk dan ibu jarinya sejauh mungking saat dia berkata "sedikit".
Dengan nada risau, Gui bertanya, "Tapi apakah Prince akan kehilangan arah?"
…Itulah pertanyaan yang paling dicemaskan!

"Siapa yang sebaiknya kucari lebih dulu?" Aku merasa tersiksa. "Oh, ya sudahlah. Kurasa aku akan mencari Dark Emperor dulu; karena Zhuo-gēge di situ, seharusnya tidak terlalu sulit untuk merekrut mereka, ya 'kan?!"
Aku menetapkan tekadku dan segera mem-PM Wicked, berkata, "Wicked, di mana kalian semua? Ada sesuatut yang ingin kubicarakan dengan kalian!"
"…Kami ada di Star City, tapi lebih baik kalau kau tidak datang sekarang." Saat menerima pesannya, Wicked awalnya merasa sangat senang dengan kemungkinan dapat bertemu dengan Xiao Lan. Akan tetapi, setelah dia lama memandangi teman-teman satu timnya yang mabuk bergelimpangan di lantai restoran dan memikirkan tentang bagaimana mereka telah membicarakan tentang menebas anggota Odd Squad mencari jutaan serpihan beberapa saat lalu sambil minum-minum, Wicked berpikir bahwa lebih baik untuk tidak membiarkan Xiao Lan berkunjung. "Ada apa?"
"Aku ingin menjerat kalian untuk mengatur wilayah!" Aku berkata langsung ke topiknya.
"Hmm…Akan kubicarakan dulu dengan anggota timku, tapi mereka terlalu marah untuk berpikir jernih saat ini, jadi akan lebih baik kalau kau tidak datang dulu."
"Oh, kalau begitu aku akan mencari Nan Gong Zui dulu," balasku, bahkan saat aku berpikir, Tim Rose…kurasa aku akan mencari mereka untuk yang terakhir.  Aku masih merasa sedikit bersalah tentang apa yang telah terjadi, jadi aku belum siap untuk bertemu dengan mereka.
Tidak diketahui oleh Prince, mata Wicked menyipit berbahaya. "Kau akan mencari Nan Gong Zui?! Si Gui itu memangnya tidak mencoba menghentikanmu?"
"Yah, dia melarangku. Aku tidak mengerti kenapa dia keberatan, tapi setelah Lolidragon mencekiknya, dia tidak keberatan lagi.>" (Atau mungkin itu karena dia tidak ada jalan untuk menyuarakan keberatannya?) Benar-benar deh, Gui cemburu pada segala hal. Apakah semua homo sama merepotkannya seperti ini? Dia menjadi kesal jika siapapun mendekatiku, tidak peduli apakah mereka laki-laki atau perempuan… Dia benar-benar orang yang menyedihkan!
"Jangan cari Nan Gong Zui! Kujamin Dark Emperor akan bergabung dengan kalian!" Wicked melihat dengan tatapan mengancam pada teman-teman setimnya yang berada di lantai, kemalangan akan menimpa siapapun yang berkata tidak!
"Aku tahu kau adalah yang terbaik, Zhuo-gēge! Kita sepakat kalau begitu; kalian harus bergabung dengan kami!" kataku dengan senang, berpikir, Satu tim sudah didapat, sepertinya aku akan segera kembali dengan teman-teman Odd Squad setimku tidak lama lagi! "Aku akan mencari Nan Gong  Zui sekarang kalau begitu."
"Hei—!"
Aku menutup channel private chatku dengan Wicked dan mem-PM Nan Gong Zui untuk pertama kalinya. "Nan Gong Zui, panggilan untuk Nan Gong Zui!"
"Siapa ini?"
"Prince," aku melaporkan namaku dengan riang.
"…Sang Blood Elf?" Nan Gong Zui entah kenapa terdengar terkejut.
"Panggil saja aku Prince." Kenapa Nan Gong Zui sangat suka memanggilku dengan "Blood Elf"?
"Ok, Prince. Apa ada sesuatu?" Nan Gong Zui bertanya dengan sangat bersemangat. "Mencariku untuk minum bersama?"
"Erm…sesuatu seperti itu, dan ada hal lainnya yang ingin kubicarakan denganmu."
"Tidak masalah, datanglah dulu ke sini! Aku ada di Moon City, beritahu aku kalau sudah sampai," balas Nan Gong Zui, dan suaranya terdengar sedikit frustrasi. "Aku masih harus menangani masalah dengan adik angkatku, Ice Phoenix terlebih dulu."
"Tentu. Mungkin aku akan makan waktu beberapa hari untuk sampai di sana, karena aku masih sangat jauh dari Moon City, jadi manfaatkan waktumu sebaik-baiknya untuk menyelesaikannya," balasku.
Jadi, tujuanku adalah Moon City? Aku membuka peta dan melihat Moon City berada di sebelah barat benua. Yang sebelah mana arah barat? Aku menatap kosong bulan besar dan langit yang penuh bintang, berpikir, Gui mengatakan padaku sebelumnya kalau aku bisa menemukan Bintang Utara, aku akan bisa tahu di mana utara…tapi apa lagi yang dia katakan soal menemukan Bintang Utara? Pertama aku harus mengetahui lokasi Bintang Biduk…tapi apa itu Bintang Biduk? Kepalaku miring ke satu sisi, tidak paham. (Gui: Aku tidak bisa membuatmu mengerti pada akhirnya, tapi bukankah aku sudah memberikanmu kompas?)

"Phoenix, apa kau bermaksud membuatku marah sampai mati? Nan Gong Zui berada di ambang meledak karena amarah saat dia menatap adik angkatnya. "Fan sudah jelas menipumu; apakah kau masih tidak bisa melihat itu? Kenapa kau dengan bodohnya mengirim dia hadiah lagi?"
Ice Phoenix tersenyum sedih. "Dàgē, apakah benar-benar suatu kesalahan untuk mencintai seseorang, untuk berkorban demi dirinya, ingin mendedikasikan dirimu untuknya? Aku yakin bahwa hatinya akan benar-benar tergerak olehku suatu hari nanti."
"Kau, kau…!" Nan Gong Zui menghela napas jengkel sambil bertanya-tanya, Bagaimana wanita bisa sebodoh ini?
"Aku telah begitu mencintai Fan sejak aku pertama kali melihatnya," kata Phoenix. Terdapat ekspresi mabuk di wajahnya saat dia mengenang kembali. "Dia bagaikan dewa yang sempurna. Saat itu, saat dia berjalan ke arahku, aku bahkan berpikir bahwa aku sedang melihat Dewa Matahari yang paling tampan, Apollo! Aku yakin bahwa tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat menandingi kesempurnaannya."
Bulu kuduk seluruh tubuh Nan Gong Zui merinding. Fan memang sangat tampan… Aku penasaran, antara dia dan Prince, yang mana yang akan lebih disukai Phoenix?
"Ah…Fan mem-PM-ku, aku harus segera pergi ke sana," kata Phoenix, hampir lupa diri karena begitu bahagia dengan pesan dari Fan.
"Aku melarangmu pergi—" Sebelum dia sempat selesai bicara, adik angkatnya sudah pergi, dan dengan demikian Nan Gong Zui tidak punya pilihan lain selain segera mengejar sosok adik angkatnya yang menghilang itu.

Pada akhirnya, aku tetap mengambil arah yang salah. Aku tidak berhati-hati berjalan ke arah timur sebagai gantinya, dan dengan demikian berakhir di Star City…dan setelahnya aku memilih untuk pergi ke Moon City lewat stasiun teleportasi. Seperti yang diduga, Moon City adalah sebuah kota bergaya Cina. Saat aku berkeliling melewati kota, aku dengan senang mengagumi bangunan-bangunan dari bambu, lentera-lentera merah, dan jalanan yang penuh dengan para pendekar pedang yang mengibaskan kipasnya.
Berbicara tentang bagaimana budaya sebuah kota mempengaruhi karakter orang-orang yang tinggal di dalamnya… Itu aneh, kenapa saudaraku, yang bercita-cita menjadi Chu Liu Xiang, malah berakhir di Star City? renungku sambil menggerogoti sebatang sate manisan yang baru saja aku beli.
"Berhenti di situ, Phoenix!" Nan Gong Zui menyambar tangan Phoenix dengan marah.
"Lepaskan aku, Dàgē; biarkan aku mencari Fan!" ratap Phoenix.
Aku mengunyah sate manisan lain sambil menyaksikan adegan yang terjadi di depan mataku, berpikir, Sepertinya keberuntunganku sangat bagus; aku menemukan Nan Gong Zui bahkan tanpa harus mem-PM dia!
Fan berjalan santai perlahan ke arah dua orang itu dari ujung lain jalan dengan seulas senyuman di wajahnya. "Nan Gong Zui, bukankah menurutmu sikapmu ini sangat tidak pantas? Kau tidak bisa memenangkan hati adik angkatmu, jadi sekarang  kau menyelesaikannya dengan menggunakan kekerasan?"
"Apa katamu? Jangan berbicara omong kosong, aku hanya tidak ingin dia tertipu oleh orang brengsek sepertimu," raung Nan Gong Zui, murka.
"Nan Gong Zui, kau seharusnya lebih berhati-hati dengan apa yang kau katakan. Siapa yang menipunya? Phoenix, pernahkah aku mencoba untuk menipumu?" tanya Fan, dan ekspresinya penuh dengan rasa percaya diri. "Aku membuat semuanya jelas padamu, termasuk kenyataan bahwa hanya kaulah satu-satunya wanita yang kulihat."
"Aku tahu. Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan," balas Phoenix, terpesona dengan sosok Fan yang tampan.
Fan mengangkat bahu dan memberi Nan Gong Zui tatapan tak berdaya.
"Kau…" Nan Gong Zui begitu marah sampai dia menarik keluar pedangnya dan berniat untuk maju menyerang dan berduel dengan Fan.
Ketakutan karena orang yang dicintainya, Phoenix bergegas maju menghalangi langkah Nan Gong Zui. "Hentikan ini, Gēge! Aku tidak akan membiarkanmu melukai Fan!"
Ekspresi Nan Gong Zui memperlihatkan betapa terlukanya dia karena tindakan gadis itu. "Phoenix, kau…"
"Dàgē, aku…" Phoenix hancur karena rasa bersalah, tapi tidak bersedia untuk menyingkir.
Suasananya menjadi begitu berat saat situasinya menjadi buntu. Aku menelan manisan terakhir, menjilati bibirku, dan membuang tusuk sate dari bambu tersebut ke dalam tempat sampah.
…Wanita yang tergila-gila, seorang kakak laki-laki yang cemas, dan seorang playboy yang kejam dan keji; ini benar-benar sebuah sinetron yang menjijikkan. Biarkan aku menghancurkan drama yang tak berarti ini! pikirku dengan cengiran jahat.
Aku menegakkan postur tubuhku, mengulas senyum tipis di wajahku, keanggunan memancar dari seluruh pori-poriku. Saat ini, aku adalah…Lord Prince yang paling sempurna! Dengan suara rendah dan hangat, aku berkata, "Nan Gong Zui, apakah itu kau?"
Semua yang hadir mengalihkan tatapannya padaku — atau lebih tepatnya, menatapku, bersemu merah padam, jantung mereka berdegup liar — dan aku melihat dengan puas bahwa Ice Phoenix pun menatapku tergila-gila. Dengan langkah-langkah luwes, aku berjalan menuju Nan Gong Zui, berujar, "Maafkan aku, aku tiba lebih cepat. Aku bermaksud untuk berkeliling melihat-lihat lebih dulu dan kemudian mengunjungimu. Kuharap ini tidak terlalu merepotkan?"
"Tidak…" Nan Gong Zui melihatku dengan ketidakyakinan. Di dalam kepalanya, Nan Gong Zui berpikir, Prince yang  ada di sini hari ini terlihat…sangat berbeda daripada sebelumnya?
"Hmm, nona ini…Dia pasti adalah adik angkatmu, Ice Phoenix, benar?" Aku berbalik ke arah Phoenix yang terlihat mematung dan menyunggingkan senyuman paling cemerlang dan tiada taranya — yang dapat memikat baik wanita dan pria — padanya. "Nan Gong Zui sering membicarakan dirimu!"
"Be-benarkah?" Phonix terbata saat dia menatap lekat-lekat wajahku, terpesona.
"Kau sangat menawan seperti yang dia ceritakan!" Seinci demi seinci, wajahku semakin dekat dan dekat padanya saat aku berbicara, aku hampir dapat mendengar jantungnya yang berdegup liar dalam dadanya. Akhirnya aku mengambil tangannya dalam tanganku, mengangkatnya ke bibirku, dan mengecup punggung tangannya dengan sebuah ciuman.
Phoenix bernapas tajam, dan kemudian ternyata pingsanSekarang aku tahu bahwa aku cukup tampan untuk membuat orang pingsan, pikirku, saat aku membopong gadis yang tidak sadarkan diri itu di lenganku, dengan sedikit jengkel. "Nan Gong Zui, datang dan bawalah adikmu!"
"…" Nan Gong Zui datang mendekat dan mengambil Ice Phoenix dariku tanpa berkata apapun.
"Kau lagi, Prince!" bentaknya. Topeng ketenangan yang sejak tadi dia pakai mulai hancur berguguran.
Aku menyengir jahat padanya. "Apa? Kau begitu ingin melihatku?"
"Siapa yang ingin melihatmu?" Wajah Fan mengerut dengan kebencian.
"Aiyah! Masih bersikap tangguh?" Aku berjalan ke arah Fan dengan langkah-langkah pelan dan tenang, tidak lupa untuk memberinya senyum bermakna rancu. "Kalau kau begitu ingin melihatku, seharusnya kau katakan saja. Aku jamin bahwa aku akan mencarimu kapanpun aku senggang."
"Menjauh dariku," kata Fan, mundur tiga langkah, dan dia bahkan ingat untuk menarik pedang dan menghunuskannya padaku.
Aku tertawa dingin. Menaruh tanganku di pinggul untuk menunjukkan sikap tak peduli sepenuhnya, aku berkata, "Kau yakin ingin bertarung denganku?"
Mendengar itu, Fan meragu. Dia tidak lupa kelihaian Blood Elf di medan pertempuran, tapi tidak mungkin baginya untuk mundur saat reputasinya sendiri dipertaruhkan, dan karena itulah pedangnya tetap terangkat ke arahku tanpa goyah.
Ekspresiku berubah, menjadi bengis dalam sekejap. "Jangan pernah mendekati Ice Phoenix lagi. Kau seharusnya tahu bahwa mulai hari ini, hatinya tidak lagi menjadi milikmu."
Wajah Fan menjadi hampir diwarnai kemurkaan, dan dia tertawa mengejek sebelum berkata, "Blood Elf, bukankah kau sedikit terlalu ikut campur? Apa yang terjadi antara Phoenix dan aku sama sekali bukanlah urusanmu."
"Hmph! Nan Gong Zui adalah temanku, saudarinya adalah saudariku, jadi bagaimana mungkin aku bisa berdiam diri dan menonton saat Phoenix dipermainkan oleh monster sepertimu?" Aku menarik Black Dao-ku dan menyaksikan dengan amat sangat puas saat Fan memucat, yang membuatku memutuskan untuk menantangnya lebih jauh. "Kalau kau ingin pertarungan, hentikan omong kosong ini dan datanglah padaku!"
Fan melihatku dengan ekspresi muak, dan kemudian dengan hati-hati melirik Nan Gong Zui, yang sedang berdiri di dekatku. "Berencana untuk melawanku satu lawan dua, ya 'kan?"
Aku membalas dingin, "Berhenti mencari-cari alasan, kau tahu dengan sangat baik bahwa Nan Gong Zui tidak akan ikut campur."
"Itu sulit untuk dikatakan!" sahut Fan licik, menyarungkan pedangnya. "Aku tidak ada minat dikeroyok oleh dua orang!"
Aku tidak berkata apa-apa lagi dan hanya menatap dingin Fan. Bagaimanapun, aku tidak benar-benar berniat untuk bertarung melawannya di sini di jalanan, terutama tidak untuk alasan seperti berkompetisi demi hati seorang wanita…
Fan melepaskan sebuah tatapan dingin sebelum dia berbalik pergi. "Suatu hari, aku pasti akan membalas segala sesuatu yang kau hutang dariku, Blood Elf."
Aku menaikkan sebelah alisku. "Aku akan menunggu."
Haah, kunjungan ke Nan Gong Zui ini meninggalkanku dengan gadis cantik lainnya lagi sebagai pelamar dan membuatku mendapatkan kebencian dari saingan yang kuat…Kalau dia masih menolak untuk bergabung dengan kami, meskipun dia adalah seorang teman, aku pasti akan mengubahnya menjadi daging cincang. Dengan pikiran itu, aku berbalik untuk menatap Nan Gong Zui dengan tatapan mengancam, tapi dia terus melihatku dengan tatapan bingung tanpa rasa bersalah.
"Nan Gong Zui, apa kau akan bergabung denganku atau tidak?" tuntutku, mencengkeram kerah lehernya.
"Hah?"

Di rumah Nan Gong Zui…
"Aku mengerti, jadi ini tentang wilayah yang kau menangkan!" Nan Gong Zui tersenyum. "Sudahkah kau menentukan nama untuk kotamu?"
Aku menyeruput panjang bubble teaku, tapi segera membeku saat mendengar pertanyaan Zui. "Nama…kotaku?"
"Apa? Kalian masih belum memutuskannya?" Keterkejutan Nan Gong Zui terlihat jelas.
Aku memiringkan kepalaku ke satu sisi, berpikir, Mungkin mereka sudah memutuskannya tapi lupa untuk memberitahukannya padaku? "Tunggu sebentar, biar kutanyakan mereka."
"Wolf-dàgē, apakah kota sudah punya nama?"
"…Oh tidak, kita benar-benar lupa soal itu. Prince, karena kau adalah penguasanya, pikirkanlah satu nama!" itulah jawaban tidak bertanggung jawab dari Wolf-dàgē. "Setelah kau mendapatkan satu nama, kau juga sebaiknya pergi dan daftarkan nama tersebut ke Kantor Pengembangan Wilayah di kota. Itu saja."
Kenapa jadi seperti ini… Aku mengernyit. "Mereka memintaku untuk memikirkan sebuah nama sendirian! Nan Gong Zui, bantu aku memikirkan sebuah nama."
"…Tanggung jawab berat semacam ini lebih baik diserahkan padamu, sang penguasanya!"
Aku berpikir dan berpikir, memutar kepalaku ke dalam dan ke luar dan kembali lagi saat aku menyiksa otakku mencari sebuah ide, ide apapun…tapi aku ambruk di lantai berlinang air mata pada akhirnya. Uwaaah, aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun! Aku mengalihkan tatapan sedihku pada Nan Gong Zui, memohon dalam hening…
"…Kenapa tidak menyebutnya sebagai Infinite City (TL: Kota Tanpa Batas), untuk menggambarkan potensi tanpa batas di masa yang akan datang?" Nan Gong Zui menyatakan setelah merenungkannya secara singkat.
"Nama yang bagus!" aku menyerbu Nan Gong Zui dan menggenggam tangannya. Menatapnya dengan mata yang dipenuhi rasa syukur, aku berkata dengan nada membujuk, "Karena kau sudah membantu pendirian Infinite City, kau tidak melarikan diri sekarang! kau harus bergabung dengan kami, oke? Kumohon, Zuiiiii…"
"…Kurasa kami sepertinya dapat bergabung dengan kalian. Aku tidak ada masalah dengan itu, dan Phoenix dari tim kami sudah pasti akan mengikutimu, yang berarti kakak perempuannya juga akan ikut. Suami kakaknya juga merupakan priest tim kami, dan adik laki-lakinya adalah thief tim kami, dan orang-orang yang tersisa juga mungkin akan ikut juga."
"…Kita sepakat kalau begitu, a-aku masih ada orang lain yang harus kucari, jadi kalian tinggal bertemu dengan teman-teman setimku di Infinite City." Senyum di wajahku menjadi kaku. Apa yang barusan Zui katakan…apakah maksudnya kalau aku tidak bertanggung jawab atas Phoenix, saudari dan kedua saudara iparnya pasti akan memburuku? Haah, bagaimana aku bisa selamat di masa depan nanti? Aku mempertimbangkan untuk meminta Gui mendesaikan sebuah ruangan rahasia tempatku bersembunyi.
"Tentu! Sama sekali tidak masalah."
"Terima kasih, Zui!" Aku tersenyum riang, berpikir, Dengan begini satu tugas lainnya selesai!
Nan Gong Zui memberiku sebuah tinju bersahabat di dadaku dan berkata, "Jangan sungkan-sungkan begitu, itulah gunanya teman! Ayo, kita daftarkan nama kotamu dan kemudian pergi minum."
Aku tersenyum bodoh…Apakah aku akan dapat tahan minum?

"Ini adalah satu-satunya thief di grupku, Kong Kong," Nan Gong Zui memperkenalkan teman minum yang dia undang datang, si thief bertubuh kecil, Kong Kong.
"Halo, aku Prince," aku memperkenalkan diriku dengan sopan.
"Jangan tertipu dengan betapa kurus dan kecilnya tubuh Kong Kong; dia dapat minum sampai seribu cawan. Kau sebaiknya berhati-hati, Prince," Nan Gong Zui berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku ikut tertawa terbahak-bahak…tapi dalam hati aku merasa tidak berdaya! Aku tidak pernah minum sebelumnya dan aku akan berada dalam kompetisi minum dengan dua orang lelaki untuk pertama kalinya aku minum? Wahai langit! Bukankah ini terlalu berlebihan untukku? Waaah…aku tidak peduli lagi! Ini bukan masalahku tidak peduli bagaimana hasilnya nanti!
"Mari kita pertama-tama bersulang untuk Prince yang sukses meraih kemenangan! Bersulang!" seru Nan Gong Zui.
"Bersulang!" Kong Kong juga, mengangkat cawannya dan berseru
"Bersulang!" Aku hanya dapat mengikuti cara mereka. Aku menatap cairan dalam cawanku selama tiga detik, menggertakkan gigi, dan kemudian meneguk seluruh isi cawanku… Panas terbakar! Aku berjuang untuk menahan air mataku. Jangan bilang aku harus menenggak lebih banyak lagi minuman ini sekarang? Tidak mungkin, 'kan? Aku ingin menangis…

Setelah tiga jam…
"Satu ronde lagi!" seruku, bergoyang goyah saat aku memegang cawanku.
"Urgh…Aku tidak bisa, Prince. Kau terlalu kuat, ayo berhenti minum…" Kong Kong mengerang dari tempatnya duduk, setengah tergeletak di atas meja. "Kalau kita terus minum, aku benar-benar akan mati…"
"Hahahahaha, kau tidak mengalahkanku minum!" tawaku liar, tapi tubuhku bergoyang tak terkendali. "Dan kau masih berkata kau dapat menahan seribu, seribu cawan?!"
"Itu karena kau, kau tidak ambruk bahkan setelah sepuluh ribu kali minum, Prince." Zui yang pingsan lebih dulu sebelumnya, tiba-tiba terbangun dan menyahut. Dia memijat pelipisnya. "Ayo berhenti minum dan kembali!"
"Oke…" balasku, merasa sedikit tidak senang.
Kami bertiga berjalan sempoyongan di sepanjang jalan yang dibanjiri cahaya rembulan. Perasaan melankolis samar membungkus hatiku dan aku tiba-tiba merasakan dorongan untuk menarik senjataku dan melampiaskan perasaanku. Tanpa berpikir lebih jauh, aku menarik Black Dao-ku dan, seperti orang yang kerasukan, aku mengayunkan dan menebas dan menyayat, melompat dan menghindar mati-matian, meraung…sampai aku terlalu letih untuk melanjutkan amukanku. Aku berdiri diam, terengah-engah, semua jurus yang kulakukan sampai saat ini di dalam game berkelebat di dalam kepalaku.
Pada akhirnya, aku mulai menari, tekhnik-tekhnik saling menyatu menjadi sebuah aliran tanpa batas, sebuah tarian. Bermandikan dalam cahaya bulan yang jernih dan dingin, mendengar suara menyenangkan dari desingan Black Dao-ku yang menebas angin, aku merasakan kegembiraan luar biasa dan seulas senyuman perlahan timbul di wajahku, semakin melebar dan melebar. Cahaya bulan, bilah pedang, sosok yang ramping dan bergerak dengan cepat, dan tawa arogan namun halus — yang hanya dapat dilakukan oleh seorang elf — terjalin menjadi satu menjadi sebuah melodi yang luar biasa indah yang bergema di seluruh Moon City  yang sederhana.
"Hahahaha…haha!" tawaku liar.
"Luar biasa! Seorang pendekar pedang angkuh yang luar biasa," raung Nan Gong Zui menyetujui. "Mari kita uji seberapa hebat kau, Prince!" Dengan perkataan itu, dia menarik pedangnya dan melompat ke depanku. Pedang kami bertemu dengan suara dentang, seperti sebuah lagu dari baja yang menghancurkan kesunyian malam.
"Aku juga ikut!" Kong Kong tidak dapat menahan dorongan hati untuk menarik belatinya dan bergabung dengan kehebohan itu, segesit angin.
Aku melancarkan sebuah tendangan pada Kong Kong bahkan saat dao-ku terus menangkis pedang Nan Gong Zui, dan diikuti dengan dengan sebuah putaran di tengah udara, menghindari serangan gabungan mereka berdua. Kami bertiga seperti anak kecil yang sedang bermain-main di jalanan, mengindar di sini dan berlari cepat di sana, menyerang satu sama lain dengan senjata kami dari waktu ke waktu. Kami bermain-main dengan cara ini dan bersenang-senang sepanjang waktu…sampai kami mencapai tempat Nan Gong Zui.
Setelah melambai mengucapkan selamat tinggal pada Zui, aku menatap langit yang bertabur bintang, tiba-tiba dipenuhi dengan hasrat untuk menjelajah ke ujung bumi! Dan dengan demikian kakiku membawaku ke jalanan yang tidak kuketahui…
[1/2 Prince Jilid 3 Bab 2 End]

1/2 Prince Jilid 3 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.