11 Juni 2017

Only Sense Online Jilid 4 Bab 5 LN Bahasa Indonesia


WISTERIA PEACH PETALS DAN BATU-BATU PENJURU

Setelah mengetahui identitas Emily, bersama dengan kedua pemula itu kami telah menciptakan sebuah party dengan empat orang anggota dan bermain bersama selama beberapa hari di titik-titik perburuan dengan sedikit player di dalamnya.
Saat aku menemani mereka dalam perburuan, aku membuat ulang pound cake atau bermain bersama Ryui dan Zakuro. Aku menikmati aktivitas yang tidak berbeda dengan yang kunikmati saat di Atelier.
Eh? Aku tidak merasa inilah maksud dari "menghilang, mungkin.
"Jadi, Yun. Bagaimana situasimu saat ini?"
"Oh, untuk sementara ini aku berpasangan dengan seorang player yang kutemui saat menghilang dan kami tinggal di satu tempat dengan sedikit orang."
"Di sini kami melakukan banyak hal untuk menyelesaikan masalah perekrutan guild. Kami mungkin akan berhasil mengatasinya sebelum acara event."
"Yah, aku akan menunggu dengan sabar kalau begitu."
Itu adalah friend call dari Cloude. Karena saat ini aku sedang bersembunyi dan tidak dapat bertemu dengannya secara langsung, aku mengontaknya dengan anggota Crafting Guildseperti ini untuk bertukar informasi.
Terakhir kali adalah Magi, dan sebelum itu adalah Lyly.
"Setelah aku kembali ke Atelier, aku berencana untuk menciptakan Fireworks dan Insect Repelling Incense. Ingin mendengar kemajuannya?"
"Silakan."
"Kupikir Fireworks harus diwarnai sebelumnya, tapi aku bisa hanya mengantarkan Exploding Balls dan kau bisa menentukan sendiri kembang api seperti apa yang kau inginkan. Bagaimana kalau begitu?"
"Hmm. Memang, daripada kau memutuskan tentang kembang apinya sendirian, menyerahkannya pada sejumlah pengrajin akan menjadi lebih menarik. Ayo lakukan seperti itu kalau begitu."
"Kalau begitu, aku akan mengirimkan Exploding Ball tanpa warna. Juga, Insect Repelling Incense berjalan baik sejauh ini."
"Sejauh ini?"
"Aku butuh waktu sampai ini selesai."
Prosedur membuat Insect Repelling Incense adalah dengan menghancurkan Bark of the Fragrant Moss Wood menjadi bubuk dan mencampurnya dengan Pyrethrum kering.
Sejauh ini sederhana saja, tapi sampai saat ini jadi mirip dengan kepingan kayu dan belum dipadatkan serta dibentuk dengan kompresi hawa panas.
Setelah membentuknya, benda ini dikeringkan di tempat yang teduh. Saat ini aku sedang menunggu selesainya langkah terakhir.
"——Jadi, aku akan menetapkan tanggal pengirimannya, tapi itu akan membutuhkan waktu."
"Aku mengerti. Kalau begitu, tidak ada masalah. Nah, hati-hati ya.
"Tentu, kau juga."
Sedikit mengkhawatirkan satu sama lain, kami memutuskan kontak chat.
Fuuh, aku menghela nafas dan berbicara ke langit.
"Menyelesaikan masalah perekrutan paksa guild…ya ampun, apa yang mereka lakukan? Aku tadi terlalu takut untuk menanyakannya."
Saat chat dengan Magi-san dan Lyly, mereka mengatakan hal yang sama. Aku berpikir untuk menanyakannya pada Cloude, tapi percakapannya berpusat pada permintaan dan aku tidak punya kesempatan.
"Yun-kun, apa kau dihubungi seseorang lagi?"
Emily-san yang berada di dekatku bertanya begitu aku menutup komunikasi friend chat dengan Cloude.
"Ah, ya…kali ini, tentang pengiriman barang."
Selain itu, ada orang-orang yang menghubungiku karena khawatir dengan fakta diriku yang tidak muncul di toko. Mengenai hal itu, aku harus menanggapinya setiap orang dengan sopan, menjelaskan bahwa aku sedang bersembunyi.
"Kau benar-benar disayangi semua orang, Yun-kun."
Menanggapi gumaman Emily-san, aku berkata "Benarkah?" dan memiringkan kepalaku.
Si kembar, Raina dan Al tidak berminat dengan hal tersebut, malah, mereka berdekatan, merenungkan tentang stok ulang potion dan kerja sama saat pertarungan.
Dan saat aku akan berbicara dengan Emily-san, sekali lagi friend chat muncul. Aku memeriksa siapakah yang mengontakku.
"Siapa ini? Baru saja selesai…ah, ini dari Taku."
Menanggapi gumamku, ekspresi senyum lembut Emily-san menjadi sangat kaku. Raina dan Al melihat ke arahku dengan penasaran.
"Yun-kun, kurasa kau sudah tahu, tapi…"
"Aku tidak akan membocorkan apapun mengenai Emily-san."
Tepat sekali, terima kasih. Sambil masih menatap Emily-san, aku menghubungkan chat dengan Taku.
"Ada apa? Kau sampai menghubungiku…kau tahu kalau aku sedang menyembunyikan diri, 'kan?"
"Aku akan langsung saja memberitahukan permintaanku. Aku ingin kau memproses Wisteria Peach Petal."
"…hei, itu adalah item pembangkit, 'kan? Kenapa aku harus memprosesnya?"
"Oh, aku mengerti. Jadi kau masih belum tahu"
Saat aku mendengar Taku berbicara seakan dia tahu segalanya, aku mengingat kembali hal berbahaya yang terjadi padaku karena video level rendah miliknya dan sekali lagi bertekad untuk meninju dia.
"Jadi, ada apa? Kalau kau tidak ada hal lain untuk dibicarakan, aku akan memutuskan kontaknya."
"Ah, maaf. Sebelumnya, aku mendengar tentang obat pembangkit dari kematian yang dibuat dari Wisteria Peach Petals. Nah, item ini sayangnya barang berkualitas rendah yang belum lengkap."
"Soal itu, bisa kau mengatakannya padaku lebih rinci?"
Sejauh ini, aku hanya mendengar setengah dari yang Taku katakan, tapi aku dengan segera merasa bersemangat.
"Kupikir kau akan tertarik. Sebenarnya, jumlah pemulihan dari obat pembangkit itu tidak berubah, hanya 1 HP."
"Tunggu sebentar. Kalau aku tidak salah, Wisteria Peach Petals juga membangkitkan dengan 1 HP. Tidak ada perubahan sama sekali kalau begitu, 'kan?"
Eh? Bukannya aku sudah menjelaskannya secara rinci? Dan begitulah Taku memiringkan kepalanya di sisi lain friend chat.
"Ada perbedaan besar antara kelopak bunga dengan obat pembangkitnya."
"Tidak, aku tidak mengerti apa yang kau maksud di sini…"
Karena bagaimanapun caranya aku tidak dapat memahaminya, Taku akhirnya memberiku contoh yang sederhana.
Dalam kasus Wisteria Peach Petals, jika Player A tewas, Player B bisa menggunakannya untuk membangkitkan Player A, tapi Player A tidak bisa menggunakan kelopak bunganya sendiri untuk membangkitkan dirinya. Ini adalah tipe item yang membuatmu dapat membangkitkan orang lain.
Di sisi lain, untuk obat pembangkit, jika Player A tewas, dia dapat membangkitkan dirinya sendiri dengan menggunakan obat pembangkit di inventorynya. Terlebih lagi, sama seperti kelopak bunga, ini dapat digunakan pada player lainnya.
"Karena itulah, untuk menggunakan kelopak bunga, diperlukan banyak orang."
"Aku mengerti. Yah, itu adalah perbedaan yang besar. Daripada itu, kenapa kau tiba-tiba membutuhkannya?"
"Oh, aku berpikir untuk mengikuti event turnamen PVP pengrajin! Untuk itu, aku berniat untuk menyimpan sebanyak mungkin obat tersebut."
"Itu, memangnya peraturannya mengijinkan itu? Melakukan hal semacam itu di turnamen PVP."
Jika mereka mengijinkan obat semacam itu, tidak peduli seberapa sulitnya…
"Tentang hal itu, jika item untuk dilemparkan seperti pemulih HP dan MP potion dilarang, keseimbangan kekuatannya akan hancur. Karena itulah benda ini akan diijinkan."
Yang benar? Meskipun aku berpikir seperti itu, kurasa itu memang tidak bisa dihindari.
"Baiklah. Kalau aku sudah memiliki jawabannya, aku akan menghubungimu lagi, kuputuskan sekarang, ya."
"Ya, kupercayakan padamu."
Aku mematikan chat dan berbalik pada Emily-san, Raina dan Al.
Tapi, apa yang harus kukatakan? Untuk bisa meninju Taku setidaknya sekali, aku harus menemuinya. Tapi pergi di tengah menolong para pemula…
"Apa yang kau pikirkan? Kau dipanggil, 'kan? Dan lagi itu adalah Taku."
"Ya, itu benar, tapi…"
"Ayo, pergilah! Dan bawakan kembali beberapa cerita tentang Taku-san!"
Tatapan polos Raina dan Al benar-benar menyilaukan.
Berkata "serahkan padaku" dengan senyum simpul, Emily-san mendorong punggungku. "Tapi jangan katakan apapun tentang aku", matanya tidak tertawa sama sekali saat berkata begitu.
"Baiklah. Tapi sebelum itu…"
Aku perlu mendukung para pemula ini, Raina dan Al, dengan benar.
"Baiklah, ini mungkin sedikit lebih cepat, tapi aku akan menyerahkan Potion di atas Beginner Potion. Juga, aku akan membuatkan kalian cincin perunggu dari bijih logam yang kita kumpulkan. Dan, untuk batu-batu yang kita kumpulkan, aku akan membuat beberapa Enchant Stone. Kalian bisa menanyakan Emily-san bagaimana cara menggunakannya. Juga…"
"Yun-san! Tidak apa-apa, pergi sajalah!"
Melihatku mengeluarkan barang satu demi satu untuk mendukung para pemula ini, Raina mengomel. Dan kemudian, dengan sedikit nada kesal, dia mendorong punggungku, mencoba mengantarku pergi dengan paksa.
"Yun-san, kami bukan anak kecil."
"Tapi.."
"Tidak apa-apa, pergilah! Tidak perlu khawatir!"
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku!"
"Memangnya kau itu wali kami atau semacamnya? Tidak perlu khawatir, kami tidak akan menyebabkan lebih banyak masalah bagi orang lain!"
"Jadi Rai-chan sadar bahwa dia membuat orang lain khawatir."
Yah, kalau ada Al yang membantahnya, maka kurasa itu akan baik-baik saja.
"Ya ampun. Kalau seperti ini, pantas saja kau mendapat julukan seperti Nanny."
Aku memperlihatkan ekspresi tak yakin menanggapi perkataan Emily-san dan menghela nafas.
Akan tetapi, aku pun tidak dapat terus berdiam di sini, jadi aku meninggalkan party.
Untuk diam-diam kembali ke Atelier, aku log out sekali, lalu menggunakan starting point yang kupasang di bengkel kerja.
Biasanya aku menggunakan Mini Portal untuk pergi keluar seperti ini. Dengan melakukan prosedur ini, aku dapat bergerak ke mana pun tanpa menggunakan pintu masuk Atelierataupun portal yang biasanya.
Setelah datang ke Atelier, aku membuat persiapan untuk bertemu Taku dan menghubunginya kembali.
Balasannya datang cukup cepat dan aku dapat mengundang Taku ke bagian bengkel kerja tidak lama kemudian.
"Yo! Aku sedang menunggumu."
Begitu Taku muncul, aku maju selangkah. Aku menekuk pinggangku dan merosot serendah mungkin mengumpulkan seluruh energi tubuhku untuk memukul wajah senang Taku dengan tinju kananku.
"Woah, apa ini? Salam yang mendadak."
Karena video anehnya, aku harus berurusan dengan hasil dari para player pemula yang mencoba untuk menirunya, karena itulah aku memukul untuk membalasnya, tapi dia dengan mudah menangkap tinjuku dengan tangannya.
Aku semakin merasa jengkel, tidak senang dengan statsku yang rendah dan dengan mudahnya dihentikan. Aku segera melepaskan kekuatan di lenganku dan Taku membiarkanku pergi.
"Maaf, membuatmu menunggu. Jadi, ayo bicarakan detailnya sekarang."
Saat aku berbicara seakan tidak ada yang terjadi, Taku memiringkan kepalanya penasaran dan ikut masuk.
"Seperti  yang kukatakan sebelumnya lewat friend chat, aku ingin kau membuat obat pembangkit dari Wisteria Peach Petals."
"Seperti yang kukatakan juga, aku memerlukan beberapa barang."
"Karena itulah, ayo pergi dan mengambilnya! Daripada sendirian, kita akan mengajak orang lain selain kita berdua. Kuserahkan semua yang akan kudapatkan padamu untuk keperluan penelitian!"
"Jangan bicara sembarangan. Kau pikir aku bisa membuatnya dengan mudah tanpa resep atau informasi mengenai material lain?"
"Karena itulah aku bergantung pada intuisi dan Sense-mu."
Saat Taku mendatangiku dengan kepercayaan diri yang tak berdasar seperti itu, setengah bagian dari diriku ingin mengabulkannya dan setengah bagian lainnya merasa sedikit tertekan. Yah, kali ini waktunya tepat.
"Aku tidak tahu siapa yagn membuat obat pembangkit, tapi aku sudah memeriksa resep yang belum selesai."
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun sebelumnya?"
"Kupikir permintaan untuk membuat obat pembangkit akan muncul cepat atau lambat, jadi aku sedang membuat persiapan. Aku berpikir untuk memberitahu orang yang pertama kali menemuiku tentang resepnya."
Itu adalah salah satu resep yang bahkan Magi-san dan yang lainnya tidak tahu.
Aku mengeluarkan catatan-catatan yang kukumpulkan dengan menggunakan Sense Linguistic. Resep mixing OSO ini adalah sesuatu yang menyimpulkan rasio campuran dan tidak siap untuk ditunjukkan pada orang lain. Itu adalah salah satu keuntunganku.
"Yun, darimana kau mengumpulkan informasi itu?"
"Aku adalah seorang pengrajin. Markas besarku adalah seluruh kota termasuk toko ini dan lahan material. Yah, pencarian resep lainnya berdasarkan produk dan aku belum tahu prosedurnya."
"Karena itulah ini adalah resep yang belum selesai. Jadi, apa saja materialnya?"
"Pertukaran rahasia. Yah, sejujurnya, aku kekurangan materialnya. Aku tidak bisa menemukan satu dari keempat materialnya. Karena itulah, aku mencari material tersebut bersamaan dengan pengumpulan Wisteria Peach Flower."
Aku punya dua material di tanganku saat ini dan menjadwalkan pengumpulan Wisteria Peach Flower sekarang. Akan tetapi, untuk material yang terakhir, aku tidak tahu apapun tentang hal tersebut selain namanya saja.
"Benda yang aku ingin kau carikan adalah —— Water of Life."
"Baiklah kalau begitu. Nah, ayo pergi mengumpulkan kelopak wisterianya nanti… Ohh, iya. Kau masih belum melewati Horror Cave, ya 'kan? Kau harus melewatinya setidaknya sekali."
"Aku tidak mengatakan apapun tentang aku yang akan pergi ke situ untuk mengumpulkan."
"Yah, bukannya tidak masalah. Di sisi lain gua adalah sebuah portal untuk berpindah."
Aku memelototi Taku dan balas ditatap dengan mata setengah tertutup.
"Kenapa kau sangat enggan, Yun?"
"Um, itu…"
"Monster Horror Cave tidak sekuat itu."
"Uhh…sebenarnya, kata 'horor' dalam namanya yang kubenci!"
"Ada apa, nih? Kenapa tiba-tiba mengamuk?"
"Khhh…tidak mendadak. Aku tidak mau pergi ke Horia Cave itu!"
Aku benar-benar tidak mau, tapi memang benar bahwa aku harus melewatinya cepat atau lambat.
Nama resminya adalah 'Horia Cave', tapi karena monster tipe hantu muncul di situ, maka tempat itu disebut sebagai 'Horror Cave'.
Untuk mencapati Pohon Wisteria Tree, para player harus berjalan dari Kota Kedua dan pergi ke persimpangan di tengah kota untuk memasuki Horia Cave. Kemudian, setelah melewati desa yang terlantar di mana portalnya berada, terdapat sebatang pohon yang tumbuh di atas sebuah bukit.
Taku seharusnya tahu bahwa aku lemah terhadap hantu.
"Menyerahlah. Aku akan ikut sebagai pengawal. Juga, kalau kau sampai di desa yang ditelantarkan itu, kau tidak akan harus melewati gua itu lagi. Dan, mempertimbangkan levelmu, seharusnya itu mudah. Tidak masalah."
"Baiklah, tapi aku masih ragu-ragu tentang itu. Aku pergi dulu, aku akan mengontakmu setelah makan."
"Baik. Aku juga akan beristirahat. Aku akan datang lagi ke Atelier siang nanti."
Setelah berkata begitu, kami log out dan mengembalikan kesadaran kami ke dunia nyata.

Setelah log out, aku bangun dari tempat tidur dan dengan perasaan berat aku menyiapkan makan siang.
Makan siang hari ini adalah spaghetti saus daging, sup jagung instan dan salad sayuran segar.
Karena bawangnya masih ada dari saat terakhir aku membuat gratin dengan tomat dan daging cincang, aku mencampurkannya dengan anggur putih sebagai ganti anggur untuk memasak, saus tomat dan menempatkan banyak campuran itu di atas pasta. Kemudian, aku menambahkan sedikit peterseli, mencampurnya dan selesailah.
Sup dan saladnya mudah dibuat dan disiapkan sementara pastanya direbus.
Saat aku menyiapkan makan siang, seseorang turun dari lantai dua.
"Selamat pagi~, Onii-chan."
"Selamast pagi. Hei, ini sudah makan siang. Kau bermalas-malasan hanya karena sekarang liburan? Bukannya kau terlalu banyak tidur?"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Waktu tidurnya sama seperti biasa…sekitar empat jam. Aku tidur larut malam."
Hei, hei. Gaya hidupmu itu benar-benar berantakan. Itu sudah kurang lebih siang hari saat dia bangun tidur. Biasanya waktu tidur Miu bervariasi dari enam sampai tujuh jam. Itu berarti dia biasanya pergi tidur pukul empat atau lima. Sampai saat itu, dia mungkin berburu tanpa henti di malam hari.
Itu bukan sesuatu yang mengesankanku sebagai kakaknya.
"Cobalah hidup dengan jam yang benar, kau juga jadi melewatkan sarapan…"
"Tapi Onii-chan tahu, selama hari kerja tidak ada seorang pun hingga larut malam, jadi aku berpetualang sampai larut dengan kenalanku. Bermain dalam sebuah party itu lebih efisien saat mengincar level yang lebih tinggi."
"Ya ampun…khawatirkan tentang kesehatanmu daripada efisiensi. Cepat cuci wajahmu dan ganti baju."
"Yaa~a."
Saat Miu menghilang ke kamar mandi dengan suara sandal yang berisik, aku menghela nafas dan menambahkan cukup banyak spaghetti untuk mengganti sarapannya.
Setelah beberapa saat, bersama dengan Miu yang sudah mencuci mukanya dan segar, kami duduk di meja makan.
"Yaay! Spaghetti saus daging! Ada banyak keju bubuknya juga jadi enak sekali. Boleh aku minta saus carbonara untu besok?"
"Mungkin lain waktu. Aku punya bahan lain untuk besok yang sudah kusiapkan."
"Apa yang akan kau lakukan siang nanti, Onii-chan? Kalau kau masih bersembunyi, bagaimana kalau pergi ke area yang tidak populer denganku? Seperti, menambang dungeon dengan monster tipe orc. Kesulitannya termasuk sedang."
"Ah, tidak bisa. Aku sudah ada janji lebih dulu."
Saat aku berkata demikian, Miu menyipitkan matanya dan tatapannya menjadi tajam.
"Oh-ho. Janji lebih dulu, ya…Hmm, dengan siapa?"
"Bukan begitu, barusan saja——di dalam game…"Tunggu sebentar. Aku akan menebaknya."…oke."
Apa itu? Tapi…mempertimbangkan keadaannya… Seperti itu, Miu memiringkan kepalnya dan mencoba untuk memprediksi dengan siapa aku akan bertemu.
"Kemungkinannya rendah bagi Onii-chan untuk memperluas lingkaran pertemanannya. Itu berarti…dari orang-orang yang sedang liburan hari ini——yang menjadi favorit adalah Takumi-san. Yang kedua, pastinya adalah aktivitas crafting yang ingin kau prioritaskan. Yang paling mungkin untuk itu adalah Cloude mungkin?"
"…tepat. Aku diundang oleh Takumi."
"Hmm hmm. Boleh aku ikut? Sepertinya lebih menyenangkan daripada mencari sebuah party."
"Ahh, aku akan menghubungi Takumi setelah makan, jadi aku akan minta persetujuannya."
Kami berdua mengobrol tentang hal-hal konyol, dan setelah makan siang, aku mengirim pesan pada Takumi untuk menanyakannya dan mendapat "tentu saja" sebagai balasannya.
Karena Takumi dan Miu kelihatannya kadang-kadang bermain bersama satu tim di dalam game, kerja sama mereka bisa menjadi sebuah referensi. Juga, Miu tidak hanya akan menjadi pengawal yang kuat, tapi cahayanya bisa sedikit menenangkan di dalam gua yang gelap.
Dengan begitu, aku merasa sangat bersyukur karena Miu datang bersama kami.
·
Setelah aku log in melewati layar perkenalan OSO yang tidak pernah berubah, aku berdiri di Atelier.
"Maaf, aku terlambat."
"Tidak masalah, aku sedang menjelaskan semuanya secara rinci pada Myu-chan."
"Tidak, ini bagian dari bisnis, jadi…"
"Baiklah kalau begitu, panggil Ryui dan Zakuro. Ayo, cepatlah."
"Mau bagaimana lagi."
Aku bergumam dan saat aku memanggil kedua monster muda itu, Myu memeluk mereka berdua dan mulai menikmatinya.
Setiap kali mereka muncul, dia akan mengelus dan memeluk mereka.
Awalnya mereka menolak dan meminta bantuanku, tapi karena aku tidak dapat menolong mereka dari tangan setan Myu, mereka harus menerima situasi saat ini dan menyerah.
Mari berpura-pura aku tidak mereka yang terlihat menatap dengan tatapan menerawang jauh saat mereka dielus…
"Haafuu…ini sama sekali tidak adil! Tapi aku puas."
Sementara Myu memperlihatkan senyum menawan, Ryui dan Zakuro menyelinap menjauh dengan letih.
"Karena Myu sudah puas, ayo pastikan semuanya. Kita memiliki dua tujuan hari ini. Sukses mengantar Yun ke portal desa yang ditinggalkan dan mencari material yang Yun perlukan untuk membuat obat pembangkit. Tidak ada masalah sejauh ini, 'kan?"
"Tidak masalah! Ayo pergi!"
Myu mengayunkan tinjunya dengan heboh. Di sisi lain, aku sudah memikirkan Horia Cave dan merasa berkecil hati.
Kelelahan, Ryui dan Zakuro menghibur satu sama lain saat mereka saling menjilati luka-lukanya.
Selama perjalanan ke gua, tidak ada apapun yang di luar kendali.
Kami melompat ke portal di Kota Kedua dan melanjutkan sambil mengalahkan monster yang muncul di perjalanan.
Monster-monster yang muncul di jalan utama adalah Fairy Panther dan Furball Demon yang disetting untuk menjarah. Kami mengalahkan mereka, tapi…
Karena Myu dengan kebiasaan langsung-bunuh-begitu-terlihat, menebas segalanya bersama dengan Taku. Aku dapat melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman.
"Ahahaha, kalian terlalu kuat dan kita menjalaninya dengan sangat cepat… Aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar dibutuhkan di sini."
"Kalau begitu pasanglah enchant pada dirimu sendiri. Dan juga lindungi dirimu sendiri."
"Sejak awal, Yun akan tidak berguna begitu kita memasuki gua…tepat sejak awal, kau tidak terhitung sebagai bagian dari tenaga tempur."
Sebuah tawa kering terdengar dari mulutku begitu saja. Ahh, seperti yang kupikirkan, keberadaanku benar-benar tipis saat ini…
"Mereka sangat lemah~. Orc dungeon tambang atau dungeon normal lantai dua cukup memadai untuk level kita kurasa?"
"Itu kalau kita bermain solo. Denganku dan Myu-chan, kita bisa pergi sedikit lebih dalam, ya 'kan. Lain kali, ayo pilih area dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, bagaimana?"
"Baiklah kalau begitu. Fufufu, aku tidak sabar menantikannya."
Sahabat dan adik perempuanku memang akrab. Saat ada kami bertiga, seseorang selalu tidak bisa memasuki percakapan, dan itu adalah aku.
"Boleh aku kembali? Aku merasa seperti membuat beberapa bom. Juga, aku benci hantu."
"Hei! Onee-chan, kembali kemari! Kau bukan anak kecil!"
"Tidak apa-apa, ayolah! Jangan mengambek begitu dan semakin mempersulitnya!"
""Aku tidak mau! Aku akan pulang!"
Aku melawan sampai ke tingkat yang sangat langka bahkan menurutku sendiri, tapi Myu menyambar tangan kiriku dan menghentikanku untuk melarikan diri.
"Ayolah, lihat. Kita tidak tahu apa yang akan muncul, jadi mungkin pasanglah defence."
"Uuu, aku akan mengingat ini. Enchant ——Defence."
Setelah memastikan apakah aku memasangkan enchant, Taku menyeretku ke bagian dalam gua seakan aku adalah tersangka kepolisian.
Di dalam Horia Cave, tempat itu gelap dan ada rasa dingin yang membekukan tulang. Rasa dingin itu meremangkan bulu kudukku dan setiap tarikan nafasku terasa dingin, menyakitkan dan berat.
Dan terlebih lagi——
"Uwaaa! Itu suara ratapan hantu barusan!"
"Tidak apa-apa. Itu hanya angin. Bayangkan hal tersebut sebagai efek suara dari rumah hantu."
"Lihaaaat, ada sebuah jiwaa…"
"Itu bola api Zakuro bukan?"
Saat aku melihat bola api yang melayang di sekitar kami, aku membeku di tempat. Zakuro yang sedang kupeluk di depan, menciptakan sebuah bola cahaya api sebagai tambahan cahaya yang bergerak bersama dengannya, tapi kerlipannya malah menambah rasa takut dalam diriku.
"Cih, mereka keluar dengan cepat karena Yun berisik."
Aku bahkan tidak berpikir untuk menanyakan apa yang keluar.
Suara angin bercampur dengan erangan dan suara berderak seakan sesuatu yang keras berbenturan dengan tanah. Sihir Myu menerangi kedalaman gua dan apa yang kulihat menembus kegelapan dengan nHawk Eyesku adalah mata yang bersinar menakutkan berwarna merah.
"Uuu…"
"Tidak semenakutkan itu, 'kan? Hal semacam ini…"
Monster tipe mayat hidup, Zombie dan kerangka melintasi perbatasan antara cahaya dan kegelapan, bergerak mendekati kami.
Taku berbicara seakan itu bukanlah apa-apa dan menyerang kerangka yang mendekat dengan pelindung tinjunya. Tengkoraknya terguling dengan berisik ke tanah. Berikutnya adalah sesosok zombie. Taku menebasnya tajam dan membuat bagian atas dan setengah bagian bawahnya mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.
Bagian atas dan bawah Zombie yang jatuh ke tanah bergerak begitu saja. Pemandangan itu sendiri menyebabkan semangatku terkikis sedikit demi sedikit. Kerangkanya juga bergerak meskipun tanpa kepala.
Kedua bagian dari Zombie itu merangkak di tanah.
Melihat mereka yang tidak merasa terganggu dengan ditebas dan dipukul, mendekati kami tanpa melakukan pertahanan meskipun diserang, menambah rasa takutku.
Tidak seperti Wisp, aku tidak dapat berkomunikasi dengan mereka. Mereka menyerang secara sepihak.
Terlebih lagi, setelah dikalahkan, mereka terlihat anehnya realistis dan menyeramkan. Kenapa mereka tidak mati setelah bagian tubuh mereka seperti lengannya dipotong?
"Myu-chan!"
"Baiklah. Ryui, kau bisa melakukannya lagi, 'kan! —— Sol Ray!"

Myu dan Ryui menembakkan cahaya ke daerah yang terpencil. Sebuah pancaran cahaya panas dilepaskan dari Myu, dan dari Ryui datang tabir pemurnian yang muncul dari atas kepala para mayat hidup.
Sorotan cahaya menyilaukan dari Myu memanjang dalam garis lurus ke bagian belakang gua dan menyebabkan para mayat hidup terbakar dalam kobaran api yang hebat, kemudian berubah menjadi partikel-partikel cahaya. Pemurnian Ryui menyebabkan para mayat hidup perlahan hancur seperti pasir saat mereka melayang dengan ekspresi damai.
"Kelemahan mayat hidup adalah hal seperti cahaya dan pemurnian, jadi Ryui akan lebih berkontribusi daripadaYun. Tetap saja, mereka terbakar habis, para Zombie dan kerangkanya."
"Lihat, Onee-chan. Tidak perlu merasa takut, jangan takut. Mereka semua menghilang dan semuanya bersih."
Betapa bersyukurnya aku atas keberadaan Myu yang menggenggam tanganku sepanjang waktu sejak kami memasuki gua ini tanpa melepaskannya.
Akan tetapi, kebalikkannya, itu juga berarti aku tidak dapat melarikan diri dari Horia Cave.
"Aku ingin meninggalkan tempat ini secepatnya."
"Oke, oke. Taku-san di depan dan aku berada di dekatmu dengan Ryui. Jangan khawatir."
"Yun, kuatkan dirimu. Kalau tidak, kau akan menjadi beban di dalam gua ini."
Benar, aku tidak ingin menjadi beban, tapi aku juga tahu bahwa aku tidak memiliki kekuatan apapun dalam party ini.
Rasa takutku terhadap monster humanoid horor memudar. Tapi meskipun itu memudar, rasa takut dan ngeri tidak berubah dan terus membungkusku.
Yang ada, rasanya semakin memburuk dibandingkan dengan saat aku memasuki gua.
Rasanya seakan seseorang sedang mengawasiku.
Bukan hanya satu tatapan, rasanya seperti ada begitu banyak tatapan yang terarah langsung padaku dari seluruh gua, membungkus tubuhku dan membuatnya terasa berat.
"Ayo, Onee-chan. Semakin banyak kau berjalan, semakin banyak kemajuan kita."
"Kubilang…aku tidak bisa."
Setiap kali aku mencoba untuk maju selangkah, gerakanku jadi semakin melambat karena rasa takut. Terburu-buru membuatku semakin mengerem diri dan aku menjadi macet.
Saat itulah sumber cahaya yang Myu buat dengan sihir cahayanya mulai berkerlip dan sinarnya mulai melemah.
"Taku-san! Seekor Spectre datang!"
"Baik! Kalau begitu tindakan pengamanan!"
Menyelusup melewati dinding, munculah sesosok tubuh roh tembus pandang yang disebut Spectre. Mengikis cahaya dalam gua, makhluk itu mengapung di tengah udara.
Mataku terpaku pada sosok yang berayun bagaikan pohon willow dan jantungku mulai berdegup kencang.
Dan, pada saat itu enchantku telah habis masa berlakunya saat kegelapan yang tak terlihat menghampiriku.
"——Aku akan pulang! Aku tidak mau di sini!"
"Onee-chan!"
Aku menyentak tangan Myu dan menyembunyikan kepala dengan kedua lenganku. Zakuro yang sedang kugendong dengan satu tangan melompat pada saat yang sama dan berlari ke punggung Ryui.
"Taku-san! Onee-chan terkena sepenuhnya!"
"Cih, kena ya. Dia lupa untuk memasang enchant. Myu-chan, kuserahkan roh Spectre itu padamu. Aku akan memeriksa Yun."
Percakapan Myu dan Taku terasa jauh bagiku.
Sekarang, aku menyesal telah melepaskan tangan Myu dan memegangi kepalaku.
Jari-jemariku terasa dingin, sangat dingin. Tidak, jangan lepaskan. Takut, ini menakutkan, takut…itu benar. Aku aman di sebelah Ryui dan Zakuro.
Aku mencoba secara membabi buta melewati kegelapan di depanku dan memeluk kuat-kuat kedua hewan itu.
Aku merasakan kehangatan mereka berdua, tapi itu juga membuat tangan dan pipiku terasa begitu dingin. Kaki tanganku menjadi kebas dan aku meringkuk di tempat, gemetaran.
Tatapan yang membelitku dari segala arah terasa menakutkan.
Merasa takut karena tidak dapat melihat apapun dan rasa dendam yang pekat, aku menelan ludah karena tegang.
Rasanya tubuhku yang sedingin es akan dilahap oleh kegelapan.
Dan, sementara memikirkan hal-hal yang tidak ingin kupikirkan, aku menyadari sesuatu yang tidak ingin kusadari. Di dalam gua ini——terdapat jasad-jasad makhluk hidup.
Rasa dendam yang tidak ada sumbernya ini terasa seperti lendir yang kental.
Kehangatan menghilang dari tubuhku sendiri, aku merasa seperti sedang dicerna.
Pada akhirnya, aku akan dimakan oleh para Zombie itu bukan?
Aku membayangkannya dalam sekejap dan rasa takutku meningkat, gigi-geligiku bergemeletuk dan begemeretak kuat.
Menanggapi rasa dingin yang kurasakan seakan aku dilemparkan ke dalam sebuah lemari es dan suara gigi-geligiku sendiri yang bergema dalam tengkorak kepalaku, aku mulai melihat sebuah ilusi di mana aku sendiri menjadi kerangka.
Aku sudah meleleh dan menjadi sesosok kerangka.
"Cih, level Confusionnya berkembang pesat. Kembalilah sadar dengan obat Awareness ini!"
Aku tidak ingin mendengar apapun, aku tidak ingin tahu apapun. Rasa dingin memasuki tubuhku dan aku hanya dipenuhi rasa takut semata. Saat cairan dingin dituangkan ke atasku, rasanya entah kenapa melegakan.
Aku jadi penasaran. Telinga yang menolak mendengar apapun mulai mengenali suara, meskipun pikiranku masih kabur, aku dapat mendengar dengan baik.
"…Yun! Sadarlah!"
"Ta…ku? My-u…"
Mataku yang tidak fokus mulai melihat mereka berdua.
Ada Myu yang sedang melepaskan peluru-peluru cahaya dari tangannya saat dia berhadapan dengan hantu semi transparan yang mengapung di udara.
Lusinan Spectre sedang menatap kami. Mereka terlihat seakan mereka sedang menutupi seluruh gua. Akan tetapi, mereka tidak menyerang secara bersamaan. Sedikit dari mereka datang menyerang secara serentak dan mereka semua dihabisi Myu dalam sekali tebasan.
"Ayo, satu lagi. Obat Awareness!"
"Apa, ho…"
Sebuah wadah kaca didorong ke dalam mulutku dengan paksa dan ada cairan yang mengalir menuruni tenggorokanku.
Supaya aku tidak tersedak, cairan itu mengalir menuruni tenggorokkanku dan wadah tersebut menyingkir dari mulutku agar aku bernapas. Cairan yang tumpah mengalir turun dari dagu ke tenggorokkanku sebelum mendarat di pakaian bagian dadaku.
Dan kemudian, pada saat yang sama aku menyadari betapa memalukannya penampilanku, pikiranku menjadi jernih.
"Fuhaa, sudah cukup. Aku tidak apa-apa sekarang."
"Ayo cepat dan tinggalkan area dengan nSpectre ini kalau begitu. Itu pasti adalah ujungnya."
"Taku-san! Bawa Onee-chan dan pergilah lebih dulu!"
Saat aku masih duduk, Taku menarik tanganku dan mulai berlari melintasi gua.
Aku hanya terus maju dengan ditarik pada tanganku. Aku mencoba untuk melihat ke belakang, khawatir dengan Myu dan Ryui yang berada di barisan belakang, tapi aku dihentikan olehTaku.
"Jangan lihat ke belakang! Fokus saja ke depan!"
"B-Baik!"
Aku dengan patuh mengikuti perintah Taku dan memalingkan wajah dari belakang.
Di depan, kami dapat melihat ujung dari gua di mana kerlipan cahaya masuk.
Seperti itu, kami menyelinap daripara mayat hidup yang menjulurkan tangan mereka ke arah kami dan melompat keluar dari gua.
Di depan pintu keluar Horia Cave membentang desa yang ditelantarkan. Rumah-rumah sederhana dibangun dari bahan batu dengan atap-atap kayu yang lapuk. Sedikit perasaan kehidupan muncul dari peralatan yang ditelantarkan itu.
Tentu saja, tempat ini tidak segelap gua. Aku berjalan perlahan melewati desa terlantar yang memiliki suasana yang menenangkan, kemudian melemah dan merasa begitu lelah, aku berjongkok di portal yang dipasang dekat dengan air mancur.
"…itu menakutkan."
"Hari yang berat untukmu. Aku tidak mengira kau akan semudah itu 'menangkap'nya."
"Apa maksudnya dengan kata 'menangkap' yang kau katakan? Juga, apa yang barusan itu? Apa yang kau paksakan untuk kutelan di sana?"
Aku menatap Taku, tapi aku tidak menyadarinya karena aku mendongak padanya sementara berjongkok dengan mata melihat ke atas.
Tertawa, dia mengelus kepalaku dengan cara yang kasar.
"A-da apa?!"
"Yah, aku akan menjelaskannya sedikit demi sedikit. Pertama, aku memintamu untuk menaikkan defense untuk melindungimu dari status buruk."
"Haa…"
Setelah aku balas menyahut yang menunjukkan aku kurang lebih mengerti, Taku melanjutkan.
"Status buruk yang dapatkan adalah Confusion. Awalnya itu adalah Confusion 1, tapi setelah menerima serangan status buruk beberapa kali, kau mendapat 2, lalu meningkat menjadi 3, dan saat aku melihatnya, itu sudah 4."
Gara-gara hal itu, hal tersebut tidak akan menghilang kecuali menggunakan penawar untuk confusion, itulah yang dia katakan.
"Apakah yang menyerangku dengan status buruk adalah monster semi-transparan Spectre itu?"
"Bisa juga, tapi dari awal, itu adalah efek wilayah Horia Cave."
Efek wilayah, secara sederhana, itu adalah karakteristik dan sifat alamiah dari sebuah wilayah.
Hutan dan dataran tidak memiliki sifat alamiah tertentu dan tidak memiliki karakteristik apapun, keduanya adalah ukuran standar.
Ambil dataran sebagai dasarnya dan bandingkan dengan rawa-rawa. Sedikit sulit untuk berjalan melintasi rawa-rawa dan seringkali kakimu bisa saja tenggelam dan tersangkut. Kalau kau memikirkannya sebagai efek wilayah, itu mungkin saja adalah SPEED Decrease kurasa.
Selain itu, dungeon normal memiliki beragam jebakan yang dipasang di dalamnya, dan karena itu adalah sebuah gua yang tidak memiliki sumber pencahayaan di dalamnya, jadi gelap secara alamiah.
Perbedaan antara siang dan malam hari juga bisa dianggap bagian dari sifat alamiah.
Meskipun hal semacam itu dapat dianggap sebagai efek wilayah—
"Untuk efek Horia Cave, sebagai tambahan untuk kegelapannya, diberikan juga status buruk Confusion. Dengan begitu, karena ini adalah status buruk tipe spirit, kalau seseorang meningkatkan status MINDnya, dia akan sulit untuk tertangkap status buruk itu…"
"Jadi aku tidak beruntung dan tertangkap, ya?"
"Tidak, itu terhalang dengan enchant defence, tapi karena kau mendapat Confusion segera setelah enchant tersebut menghilang, secara sederhananya kau jadi tidak memiliki cukup MIND."
Merasa kecewa dengan kenyataan bahwa aku mengganggu Myu dan Taku karena gua itu, aku merosot lemas.
"Yah, tergantung dari keadaan pikiran seseorang, bisa saja sulit untuk tertangkap hal tersebut."
"Maksudmu, semangat tempur dan keberanian?"
"Hal-hal semacam itu. Yah, kali ini sangat mudah karena gerakanmu terhenti dan kau tidak mengamuk. Juga, karena kau terkena gelombang serangan kemunculan tiba-tiba Spectre yang meningkatkan kecepatan pertumbuhan Confusion."
"………"
Aku sudah dibilang tidak akan berguna, tapi kenyataannya aku menjadi beban.
Kalau aku tahu tentang sifat alamiah dari gua ini, aku mungkin sudah mempersiapkan satu atau dua tindakan pencegahan terlebih dahulu. Ini adalah sebuah hukuman karena mengabaikan pengumpulan informasi.
Sebelum mengambek seperti "aku tidak mau" "tidak mungkin", aku seharusnya menanyakan soal tersebut dan mungkin saja menghindari hasil yang seperti ini…
Sebagai contoh, aku bisa saja mengambil Sense Confusion Resistance terlebih dulu. Kalau aku bertindak lebih tenang, mungkin hasilnya akan sedikit lebih baik.
"Y-yah, jangan terlalu berkecil hati. Bahkan aku tidak mengira kau akan tertangkap hal itu. Aku seharusnya menjelaskan hal tersebut sejak awal."
"………"
Ingatanku samar-samar dan aku juga tidak dapat mengingat penampilan sedih dan putus asaku saat itu serta pikiran saat itu menjadi kacau dan kosong melompong. Hanya samar-samar rasa takut yang tersisa dan sebuah perasaan tidak nyaman karena tidak dapat mengingat apa yang kutakuti.
Karena kenaifan dan rasa tidak nyaman, suasana hatiku memburuk.
"Sudah kubilang, jangan merasa begitu sedih. Dilihat dari sudut pandang yang lain, memiliki orang sepertimu yang dapat menangkap hal tersebut adalah hal yang bagus. Pencipta game ingin para player untuk merasakan suasana yang realistis dari rumah hantu dan uji nyali. Karena itu, orang-orang sepertimu yang dapat menangkap confusion dan tidak berdaya karenanya adalah hal yang penting. Yang ada, ini adalah pengalaman langka dan menyenangkan.
"…Taku, apa kau sedang mencoba menghiburku atau kau membuatku marah?"
Menertawakan kelemahan orang lain. Akan kupanah orang ini dari belakang suatu hari nanti.
"Ohh, ekspresimu yang biasanya sudah kembali. Itu dia, itulah ekspresi yang seharusnya kau miliki."
"Apa maksudnya? ekspresi apa?"
Bahkan saat aku meringis tidak puas, aku meletakkan tanganku di wajah untuk memeriksanya. Sepertinya otot-otot wajahku sudah mengendur, tapi aku tidak terlalu yakin.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kau sudah kembali menjadi dirimu yang biasanya. Kelihatannya kau baik-baik saja."
"Aku ingin berpikir kalau aku baik-baik saja…hei, tunggu dulu. Aku tadi dalam keadaan linglung jadi aku tidak menyadarinya, tapi Myu tidak di sini. Ryui juga."
Satu manusia dan satu hewan yang memiliki serangan ampuh terhadap para makhluk hidup masih belum menyusul.
Mereka tidak akan membiarkan diri mereka terbunuh jadi tidak ada rasa khawatir. Aku mengalihkan tatapanku ke arah pintu masuk gua dan menunggu mereka datang.
Zakuro juga, dengan gelisah melihat ke arah yang sama denganku.
"Yah, Myu-chan pasti sedang bersenang-senang, 'kan? Maksudku, menembakkan cahaya menyerang para Zombie dan Spectre."
"Tidak, tidak, tidak. Ini bukan atraksi taman bermain atau FPS horor, ya 'kan…"
Akan tetapi, melihat mereka tidak keluar untuk waktu yang cukup lama, aku perlahan-lahan mulai merasa cemas.
Aku tidak dapat melihat menembus celah kosong di pintu masuk gua bahkan meskipun dengan menggunakan Hawk Eyes.
"Oh, sepertinya Myu-chan sudah datang."
"Tidak, bukan sekedar datang…bagaimana aku mengatakannya…"
Awalnya, kupikir seseorang datang, tapi perlahan suara derap kaki menjadi berkali-kali lipat, bergema di dalam gua. Aku mengerutkan alis karena kejanggalan bunyi dan derap kaki yang bertambah.
Myu dan Rui keluar dari gua dengan melompat. Saat aku bisa secara visual mengenali mereka, aku menghela napas lega. Di belakang mereka, ada beberapa lusin monster.
Roh-roh jahat dari gunung dan sungai. Melihat pemandangan yang serupa dengan Hyakki Yakou1, wajahku yang warnanya sudah pulih, kembali memucat sekali lagi.
"——Terima itu!"
Pada saat Myu memekik dengan suara yang sama sekali tidak feminin, mayat hidup yang  mengejarnya diserang dengan cahaya siang hari dan menderita kesakitan saat mereka perlahan-lahan terbakar habis.
Aku samar-samar ingat saat Myu kembali sambil menarik monster bersama dengannya sebelumnya.
Akan tetapi, kali ini berbeda karena para mayat hidup yang mencoba untuk kembali ke gua menyebabkan kemacetan parah dan mayat hidup di belakang mendorong mereka keluar dari pintu masuk.
Setelah didorong keluar, para mayat hidup yang kehilangan tempat perlindungan dari sinar matahari, menjerit kesakitan, membuat pemandangan yang seperti di neraka.
Erangan Zombie, jeritan SpectreSkeleton yang memelintir mengekspresikan kesakitan mereka.
Menanggapi pemandangan itu, Myu membuat pose bersemangat saat dia menerima sejumlah besar item drop sekaligus. Bersama-sama dengan Myu, Ryui memancarkan aura kepercayaan diri.
Ini malah membuat para mayat hidup terlihat menyedihkan.
"Entah kenapa, daripada dibilang menyeramkan, ini malah membuat mereka terlihat mengibakan."
"Yah, monster-monster lemah seperti itu."
Aku menyambut jumlah item drop yang muncul di dalam inventoriku dengan perasaan melankolis.
Mayat hidup yang menghindar dari mandi cahaya matahari, menyingkir dan tertahan di pintu masuk gua sampai keributan itu mereda.
"Aku kembali! Aku juga membawa banyak oleh-oleh!"
Sebagai hasilnya, aku mendapatkan banyak item drop.
Item drop dari Zombie itu berkarat, ada Iron Sword dan Bronze Sword dengan tambahan kata 'rusty' tertera di namanya.
Performa dan daya tahannya lebih rendah karena berkarat, tapi dengan menggunakan Smithing dan Engraving, mereka bisa digunakan untuk membuat batangan logam. Rasionya kira-kira dia item berkarat untuk sebuah batangan logam. Ini sering disebut tambang tersembunyi atau tambang monster oleh para pengrajin.
Item drop dari Skeleton adalah Bone Powder yang dapat digunakan sebagai pupuk. Jika dicampur dengan rumput liar dan tanah lalu disebar secara teratur di ladang, maka kualitas item yang bisa dipanen akan meningkat.
Dalam hal ini, setelah membuat pupuknya, aku memberikannya pada Kyouko-san dan monster sintetis yang akan menaruhnya di dalam pada saat waktunya tepat.
Akhirnya, item drop dari Spectre adalah Tears of Soul's Repose.
Sebagai ganti atas kenyataan bahwa Zombie dan Skeleton tidak memiliki item drop langka, Spectre hanya menjatuhkan barang langka. Akan tetapi, kemungkinan jatuhnya barang tersebut luar biasa rendah.
Kali ini, berkat perburuan Myu yang berlebihan, kedua benda ini muncul dalam inventoryku.
Benda ini digunakan sebagai material penguat equipment. Dengan menggunakan ini pada senjata akan menambahkan efek Undead Slayer dan saat menggunakannya pada armor akan memberikan efek Undead Resistance.
"Ya ampun, Myu. Kau terlalu nekat."
"Ehehe, begitulah. Risiko tinggi akan memberi hasil yang tinggi, itu sangat bagus, 'kan. Juga, belilah barang yang tidak kuperlukan ini dariku."
"Ya, ya. Ryui, kau benar-benar menjaga Myu dengan baik. Sangat mengagumkan."
Saat aku mengelus surai Ryui, dia menyipit nyaman dan bertingkah manja, menggosokkan lehernya padaku.
"Tidak adil! Aku juga berusaha keras!"
"Ya, ya. Kau melakukannya dengan baik, kau berusaha dengan keras."
Saat aku mengelus kepala Myu dengan cara yang sama, dia memperlihatkan ekspresi senyum yang berlebihan.
"Ha! Benar, aku hampir lupa! Aku memungut oleh-oleh untuk Onee-chan sambil bertempur."
"Ahahaha, jadi kau bahkan memungut bebatuan di dalam gua. Jadi karena itulah kau terlambat datang."
Tiba-tiba teringat, Myu mengeluarkan permata, bijih tambang, dan bebatuan dari inventory dengan berantakan. Taku mengambilnya dan tertawa.
"Taku, jangan coba menyembunyikannya dengan tertawa. Ya ampun, Myu benar-benar suka untuk membuat orang khawatir."
"Onee-chan, kau sendiri juga begitu."
"…Maaf."
Dibalas dengan argumen yang tepat sasaran oleh Myu dan Taku, aku pun terdiam. Segera, Myu menepukkan tangannya, menghapus suasana merenungkan kesalahan itu. Aku memungut barang-barang yang dikeluarkan Myu untuk menaksirnya.
Setengah dari bebatuan yang diambil di dalam gua adalah batu-batu yang normal, tapi setengahnya lagi adalah sebuah keberuntungan.
"Hampir semuanya adalah permata dan bijih tambang. Aku tidak akan tahu detailnya kecuali aku memoles mereka terlebih dulu. Apa benar tidak apa-apa kalau aku mengambilnya?"
"Benar-benar tidak masalah~"
"Ayo mencari material obat pembangkit daripada hanya mengobrol. Di sini tidak ada musuh yang muncul di sekitar sini selain di bawah pohon Wisteria Peach."
"Kalau begitu, bagaimana kalau di sana?"
Di arah yang kutunjuk, terdapat sebuah jalan setapak antara pepohonan yang berlanjut ke gunung. Itu adalah arah yang berlawanan dari arah di mana kami dapat melihat bunga-bunga berwarna merah cerah menari-nari.
"Di sebelah sana itu mustahil. Itu benar-benar level yang terlalu tinggi. Kalau kau ke sana, kau pasti mati. Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi dan hanya dapat melarikan diri."
"Ba-bahkan kau tidak bisa melakukannya, Myu?"
"Begitulah. Karena itu, kecuali kita mendekati gunung atau bukit, tidak ada musuh yang muncul."
Aku merasa yakin dengan itu, dan mulai mencari di tengah-tengah desa yang ditinggalkan dan hutannya.
Meski demikian, aku sama sekali tidak mengetahui daerah itu.
"Hei, apa ada simbol atau objek yang menonjol di daerah sini? Kurasa mungkin ada di tempat seperti ini…"
"Benar. Setelah datang untuk pertama kalinya, kau tidak akan tahu apa yang harus dilakukan, jadi——di dalam Basement adalah sebuah permadani hias dengan peta desa ini."
"Ngomong-ngomong, memang ada itu. Aku tidak meninggalkan data gambar apapun jadi aku hanya mengingatnya samar-samar, tapi memang benar, meskipun ada sebuah ruang bawah tanah di bawah rumah walikota, sepertinya tidak ada apapun di situ. Lihat, di rumah yang itu."
Di arah yang ditunjukkan Myu, ada sebuah rumah bobrok yang membentang antara portal dan air mancur dalam bentuk setengah lingkaran. Rumah terbesar yang dibangun dengan batu yang memiliki sedikit bentuk asalnya sepertinya adalah rumah walikota.
Mereka berdua memanduku ke rumah walikota. Sementara penampilan luarnya membuatnya terlihat rusak parah, bagian dalamnya secara mengejutkan bersih. Meskipun ada debu di atas perabotnya, ini entah dibuat begitu kuat atau rumah ini bertahan lebih baik daripada yang lain.
"Kalau aku tidak salah, jika kau pergi ke ruangan di bagian belakang dan melepaskan lantainya, seharusnya ada ruang bawah tanah di situ."
"Baiklah. Aku akan melihatnya."
Aku menggunakan Sense See-Through untuk memeriksa reaksi lokasi itu. Saat aku dengan cepat melepaskan bagian lantai kayu yang membusuk, sebuah pintu kayu tebal berbingkai besi pun muncul.
Saat aku membuka dengan mengangkatnya, bau apek dan debu memasuki hidungku dan menyebabkan para monster kecil melarikan diri dari rumah walikota dan pergi keluar,  sementara itu Myu dan Taku menutup hidung mereka.
Udara busuk mengalir keluar dari dalam ruang bawah tanah, menyerang rongga hidungku dan sebaliknya, udara segar mengalir masuk ke dalam ruangan.
"Myu, kuserahkan pencahayaan padamu."
"Baik. —— Light."
Myu menurunkan sebuah bola cahaya ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Mengintip dari pintu masuk, aku memastikan bahwa tempat itu aman dan turun ke bawah menggunakan tangga yang ditinggalkan di situ.
Di dalam ruang luas bawah tanah itu, terdapat rak-rak buku dan meja. Di dinding terdapat sebuah permadani hias bersulam gambar peta. Ada sebuah suasana yang membuatnya terlihat seperti sesuatu bisa saja di situ.
"Ini adalah permadani hias berpeta. Apa itu memberitahukanmu sesuatu?"
"Tunggu sebentar."
Menelusuri peta permadani hias di dinding itu dengan jariku, aku memeriksa lokasinya.
Di bagian tengah terdapat sebuah air mancur dan rumah walikota. Ada sebuah jalan yang menghubungkan rumah-rumah di desa yang tersebar secara melingkar.
Selain daripada itu, rute Horia Cave yang kami gunakan untuk datang kemari dan jalanan antara pepohonan menuju ke gunung juga tertera secara detail.
Dan di bukit dengan Pohon Wisteria Peach, meskipun warnanya memudar, terdapat sebuah sulaman bunga-bunga berwarna merah muda cerah.
"Aku mengerti. Aku paham seperti apa bentuk desa ini. Juga, aku penasaran dengan tanda di sini. Bahan yang terakhir mungkin ada di situ."
Saat aku memeriksa permadani hias itu sendirian, Myu yang bosan membongkar ruang bawah tanah dan menyerahkan barang yang ada di rak buku padaku.
Itu adalah lembaran-lembaran tipis kayu yang digunakan sebagai media untuk menulis. Terdapat sebuah lubang di dalamnya dan seutas benang linen melewatinya. Benda itu membuat suara berisik saat aku memeriksanya.
"Ini, adalah salah satu benda yang tidak bisa dibawa keluar dari ruang bawah tanah ini. Ini juga tidak bisa disimpan dalam inventory. Kalau kau mencoba untuk membawanya pergi, benda ini akan terkirim kembali ke dalam ruang bawah tanah dengan sendirinya."
"Kalau aku tidak salah, Kalau kau bisa membaca ini, pastikan untuk tidak melibatkan dirimu sendiri dengan monster itu——."
Taku membaca barisan teks dari ingatannya, tapi sepertinya dia tidak mengingatnya secara rinci.
Aku mengganti salah satu Senseku dengan Linguistic dan melihat lembaran kayu itu.
"Tunggu, itu salah."
Aku membaca isi dari lembaran kayu itu keras-keras.
Apa yang tertulis di lembaran itu adalah kata-kata dari walikota desa dan peramal.
Asal mula desa itu. Hubungan antara dewa tanah, seekor serigala raksasa dan kurban. Juga, keselamatan dan krisis desa. Peningkatan kurban dan bunga yang terus mekar.
Meskipun tanahnya sangat subur, populasi desa terus menurun. Pada akhirnya, ada kematian orang-orang muda yang berdiri melawannya dan arus spectre yang muncul bersama mereka.
Pada akhirnya adalah sebuah peringatan yang ditulis oleh peramal desa.
"——Jangan terlibat. Dia adalah penjaga gerbang dunia bawah dan begitulah."

      R Quest : Taklukkan Serigala Raksasa Penjaga Pohon Wisteria Peach telah dimulai.
Pada saat itu, kami telah memulai sebuah quest yang tidak diketahui.
·
" " "……?‼ " " "
Kami bertiga terkejut dengan kemunculan tiba-tiba informasi quest itu.
"Hei, Taku. Kenapa sebuah quest dimulai?"
"Aku tidak tahu, pasti ada semacam kondisi. Kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya."
"Um, tidak pernah dilakukan sebelumnya. Itu mungkin, membaca dan menguraikan kata-kata yang ditinggalkan oleh walikota? Tapi itu pernah dilakukan sebelumnya. Tapi, menguraikannya dari sebuah screenshot…"
"Mungkin menguraikan pesan objek yang tidak dapat dibawa pergi di tempat ini adalah syaratnya?"
Aku menyusun syarat quest yang diajukan Myu.
Menguraikan Pesan Objek di dalam Ruang Bawah Tanah. Jika lokasi, target dan syaratnya terpenuhi, maka questnya dimulai. Itu meyakinkan.
Hanya ada sedikit player yang memiliki Linguistic untuk menguraikan pesan itu dan lebih sedikit lagi yang akan datang ke tempat ini secara langsung.
Sejujurnya, ada sebuah titik buta dalam syaratnya. Aku memiliki segudang pertanyaan tentang hal itu.
Apa yang dimaksud huruf R dalam R Quest ini? Bagaimanapun, mari pastikan detail questnya dari menu untuk saat ini.

——【R Quest: Taklukkan Serigala Raksasa Pohon Wisteria Peach 1 / 3】——
Hancurkan batu-batu penjuru. ——0 / 7

Tidak memahami arti dari isi quest ini, aku melihat ke arah Taku dan Myu untuk mencari bantuan, tapi mereka menggelengkan kepala mereka bersamaan.
"Aku tidak tahu. Tapi ayo ambil screenshot dari benda-benda penting di sini. Mungkin berguna nantinya."
"Kau benar. Ayo coba cari info lain dan pergi keluar."
Seperti yang diusulkan Myu, aku menyimpan peta di permadani hias pada sebuah screenshot dan menjelajah ruang bawah tanah. Aku tidak menemukan apapun yang lainnya selain peta pada permadani hias.
"R Quest, ya. Myu-chan, apa kau tahu sesuatu apa yang dimaksud huruf R ini?"
"Hmm, mungkin itu sesuatu seperti R untuk 'Rare'? Atau mungkin R untuk 'Relation'?"
Apa yang Myu sebutkan mungkin saja benar. Akan tetapi, Taku menggugurkan salah satunya.
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi kurasa itu bukan berarti 'Relation'. Kalau ini adalah quest yang berhubungan, seharusnya ada huruf C untuk 'Chain' tertulis di depannya. Kurasa ini juga bukan 'Rare'. Yun, apa ada yang terpikirkan olehmu?"
"Tidak mungkin aku tahu kalau dua maniak game tidak mengetahuinya. Sebelum itu, tantangan pertama quest, sebuah batu penjuru…"
"Bukankah kita akan bisa mengetahuinya setelah kita naik? Aku pergi duluan."
Pergi begitu saja, Myu melarikan diri dari ruang bawah tanah yang bau.
Taku dan aku menaikkan bahu dalam ruang yang temaram, merasakan hal yang sama dan tidak ingin berdiam di tempat yang suram itu selamanya.
Setelah kami meninggalkan rumah sempit ditinggalkan yang membuat tertekan itu, kami dapat merasakan hembusan angin yang menyenangkan di bawah langit yang biru. Aku merenggangkan tubuh, merasakan keterbukaan dan melihat ke sekitar.
"Petunjuknya mungkin adalah tanda di permadani hias, kurasa."
Jumlah tanda-tanda pada permadani hias di ruang bawah tanah ada 7 dan cocok dengan jumlah batu penjuru, mungkin itu.
Juga, batu penjuru mungkin adalah batu-batu yang diletakkan di tanah untuk mengontrol aliran air bawah tanah dan gempa bumi, sekaligus digunakan untuk menyegel roh-roh.
Kalau kau memikirkan itu sebagai simbol spiritual, maka itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh. Apakah itu artinya? Dan menghancurkannya…
"'Batu penjuru' terdengar tidak menyenangkan. Itu seperti sesuatu yang menyegel roh jahat…"
"Daripada itu, yang terdekat dari sini ada di sana."
Myu bergerak maju sendirian. Bukankah itu sedikit terlalu memaksa, pikirku. Tapi melihatnya dari belakang, aku jadi mengerti.
"Mau bagaimana lagi. Hanya karena mengetahui kalau di sini ada quest yang tidak diketahui, dia menjadi waspada dan bersemangat. Biarkan sajalah."
Myu menahan keinginannya untuk bergegas sendirian dan rasa tidak sabar dapat terasa dari bagaimana dia melompat-lompat menuju target. Dia benar-benar tidak tenang. Masih bocah ya, pikirku.
"Tetap saja, menaklukkan serigala raksasa, itu mungkin adalah bos pertarungan…apa kita akan melakukannya dengan kita bertiga saja?"
"Yah, kalau kelihatannya kita tidak bisa melakukannya, kita selalu bisa melarikan diri. Kalau kita tidak meloloskan diri dan mati, kita akan selalu bisa mengambil ulang quest ini."
Kurasa mati dan mendapat penalti kematian akan terasa menyakitkan, tapi kami juga tidak akan kehilangan selevel pun.
Kerugiannya adalah kehilangan setengah uang dan pengurangan stats selama jangka waktu tertentu. Sementara itu, kami mungkin akan mendapat waktu untuk menyusun ulang strategi dan menghabiskan waktu untuk mendinginkan kepala kami.
"Lihat, lihat. Taku-san, Onee-chan, bukankah itu batu penjuru pertama?"
Di arah yang ditunjukkan Myu, terdapat sebuah batu yang kami lihat sebelumnya saat kami menjelajah desa terlantar ini. Selain dari batu tanpa penjelasan itu, tidak ada lagi objek lain yang mungkin dijadikan batu penjuru.
"Nah, ayo mulai. Onee-chan, silakan."

"Aku, ya? Yah, apa yang harus kita lakukan tidak akan berubah, jadi tidak masalah."
Aku mengeluarkan sebuah beliung dari dalam inventory dan mengayunkannya ke bawah. Dengan suara melengking tinggi dan keras sebagai responnya, sebuah goresan kecil muncul di batu tersebut. Tidak seperti penampilannya, sepertinya ini sulit untuk dihancurkan.
"Keras! Bukankah beliungku akan patah sebelum kita selesai menghancurkan semuanya?"
"Kalau itu terjadi, aku akan meledakkannya dengan sihir."
"Kalau begitu, kuserahkan padamu. Ha!"
Aku mengayunkannya dua, tiga kali, memperbesar goresannya. Dan saat batu penjuru itu hancur, sebuah perubahan terjadi.
"Apa?"
"Yun, mundur! Myu-chan!"
"Ya!"
Aku berpindah ke belakang, Myu dan Taku maju ke depan dan memposisikan pedang mereka. Ryui dan Zakuro juga siap memasuki pertempuran, ekor mereka naik saat mereka menatapi batu yang hancur itu.
Sebuah asap putih mengalir dari dalam dan perlahan membentuk sesosok manusia. Bentuknya adalah seorang wanita dewasa semi transparan dan kelihatannya dia berasal dari daerah pedesaan. Tidak ada semangat di wajahnya dan dia berbicara secara sepihak.
"Aku berterima kasih karena kalian melepaskan aku. Tapi kalian lebih baik pergi secepatnya. Kalian masih sempat."
Setelah berkata begitu, dia menghilang, lenyap di tengah udara seperti hantu atau sebuah penampakan yang bergerak.
"Apa yang barusan itu?"
"Bukannya itu NPC Quest? Mungkin ada yang sama di batu penjuru lainnya."
Taku menanggapi pertanyaanku. Benar, itu meyakinkan kalau yang barusan adalah karakter event.
"Lihat, angka yang ada di quest juga meningkat jadi ini berjalan dengan baik."
Meskipun mendengar peringatan yang dikatakan wanita yang menghilang barusan, ada daya tarik dalam quest ini dan rasa penasaran yang mengatakan pada kami bahwa batu penjuru berikutnya akan menjelaskan mengapa desa ini hancur.
Bahkan meskipun kami dihentikan, orang yang berikutnya akan membawa kami semakin dekat dengan kebenarannya. Itu seperti seakan seseorang membaca tentang pemandangan yang mengerikan tapi tidak akan mengetahui kebenarannya sampai mereka terus lanjut membacanya, sebuah perkembangan dari novel misteri.
"…Ini jadi semakin menarik."
"Ohh, setelah datang sejauh ini, kau akhirnya jadi memiliki keinginan yang kuat, Yun. Baiklah kalau begitu, ayo pelajari tentang identitas serigala raksasa sebagai quest hari ini."
"Setuju! Berikutnya adalah ke sini! Ayo!"
Kami terus menghancurkan batu-batu penjuru satu demi satu.
Dari batu-batu penjuru yang hancur, muncullah seorang anak kecil, anak muda pemberani, gadis muda dengan bintik-bintik di wajah, pemburu bermata satu, dan seorang pedagang gemuk. Setelah mendengar perkataan mereka masing-masing, kami perlahan-lahan mendekati inti dari ceritanya.
Kami mendengarkan setiap kata dari orang yang terakhir, seorang wanita yang mengenakan sehelai jubah.
"Aku adalah sang peramal. Yah, aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mempelajari banyak hal. Baiklah kalau begitu, karena kau akan berkeliling menghancurkan batu-batu penjuru, itu pasti berarti kau ingin melawan serigala raksasa itu. Meskipun aku meninggalkan lembaran kayu untuk menghentikanmu, karena sudah sampai seperti ini, sekarang sudah terlalu terlambat. Jadi, mengenai makhluk itu, dia hanyalah sesosok hantu serigala yang dipercayakan sebatang pohon oleh seorang dewi. Meski demikian, dia hidup sebagai sesosok hantu untuk waktu yang  sangat sangat lama. Kau sebaiknya ingat bahwa kekuatannya bukanlah hal yang biasa. Kalau kau bisa, aku ingin kau menolong serigala itu yang terobsesi dengan misinya. Inilah permintaan terakhir dari wanita tua ini."
Setelah semua batu penjuru dihancurkan dan pemerannya selesai bicara, aku memiliki perkiraan tentang latar belakang kisahnya.
Itu adalah sebuah kisah tentang sebuah desa gelap yang menjadi reruntuhan.
Setelah panen buruk yang menimpa desa, tempat ini mempersembahkan kurban pada serigala raksasa yang merupakan dewa tanah di sini. Beberapa penduduk yang memberontak, menghancurkan batu-batu penjuru dan memberontak, mencoba untuk mengalahkan serigala raksasa itu. Akan tetapi, rencana itu gagal dan desa ini dihancurkan.
Yang hidup menjadi kurban dan yang mati menjadi mayat hidup di dalam Horia Cave.
Itu adalah Serigala Raksasa dan Pohon Wisteria Peach yang melahap musuh asing, melindungi rakyat. Dan pada saat yang sama, adalah Serigala Raksasa dan Pohon Wisteria Peach yang diberikan kurban oleh desa.
Pada akhirnya, mereka tidak dapat melarikan diri dari desa ataupun menyelesaikan kondisi desa saat ini. Serigala raksasa itut hanya mempedulikan tentang misinya. Dalam percobaannya untuk mengatasi takdirnya, mereka menimbulkan kemarahan sang serigala raksasa dan segalanya musnah.
"Itu adalah kisah yang cukup menyedihkan. Aku terkejut saat anak-anak dan wanita muncul sebagai hantu."
"Benar. Meskipun ini hanyalah buatan, ini sangat menyedihkan. Tetap saja, questnya berjalan. Kalau kita mengalahkan Serigala Raksasa, setidaknya jiwa mereka akan terselamatkan, jadi kita dapat memberikan mereka keselamatan yang seharusnya."
"Seperti yang Myu-chan katakan, questnya berlangsung ke tahap berikutnya."
Menanggapi perkataan Taku yang memeriksa quest di menu, aku juga melihat quest yang berlangsung.

—— R Quest: Taklukkan Serigala Raksasa Pohon Wisteria Peach 2/ 3 ——
Kalahkan monster yang muncul di Pohon Wisteria Peach. —— 0/1

Questnya benar-benar berjalan.
Kami tiba di titik quest yang adalah Pohon Wisteria Peach.
Setelah kami mendaki bukit, kami melihat langit biru yang normal membentang dan angkasa yang membentang di bawahnya, tapi setelah kami mengambil satu langkah melewati perbatasan yang tak terlihat, kami melihat angkasa yang berbeda membentang.
"Wa?! Ini…"
Ada langit yang berwarna ungu dan sebatang Wisteria Peach dengan bunga-bunga indahnya yang berwarna ungu. Dan, di pohon terdapat segerombolan monster yang menanti kami.
Diterangi oleh cahaya matahari hitam yang menyeramkan, mereka semua siap sedia pada incaran mereka masing-masing.
"Uwaa…mustahil. Mereka ada banyak."
"Wheeew…hmm. Itu ada lebih dari seratus kurasa? Taku-san, menurutmu kita bisa menghadapi mereka?"
"Kalau setiap dari kita menghadapi 30 dari mereka…kita bisa mengusahakannya."
"Myu, Taku! Bukan waktunya untuk bersikap santai! Kita melari…kan…"
Aku berbalik, dan saat aku mencoba untuk melangkah menjauh dari pohon, lusinan mayat hidup lain merangkak keluar dari dalam tanah dan mengepung kami.
Terkepung sepenuhnya, aku menyadari bahwa kami tidak bisa melarikan diri.
"Oh, ayolah. Kita akan kalah, 'kan. Maaf Ryui, Zakuro. —— Dismissal."

"Oh-hoh. Melawan musuh sebanyak ini sekaligus, itu terlalu sulit. Aku tertantang."
"Itu adalah jumlah yang bahkan membuatku ingin lari menyelamatkan nyawaku, tapi yah, ayo hadapi mereka sekuat tenaga!"
Aku sudah menyadarir bahwa kami akan kalah dan mengembalikan Ryui dan Zakuro ke summoning stonenya. Myu dan Taku juga sepertinya sudah menguatkan tekad untuk menerima penalti kematian. Akan tetapi, kami memperlihatkan tekad untuk bertarung sampai akhir.
"Yun. Berikan aku attack. Untuk Myu-chan, speed enchant!"
"Baik. Enchant ——Attack, Speed."
Dengan enchantku sebagai permulaan, para mayat hidup menyerang kami.
Membentuk lingkaran di sekeliling kami, mereka menghunuskan pedang dan tombak mereka ke arah kami, tidak membiarkan kami untuk melarikan diri. Tumpukan tulang menjejakkan kakinya ke permukaan tanah dengan sepatu kulit kotor yang hampir tidak mereka pakai, membentuk dinding pengepungan di sekitar kami.
Dan melompat melewati para mayat hidup itu adalah seseorang yang memasuki bagian dalam pengepungan.
"——Skeleton Raider?!"
Di arah di mana Taku bergumam, terdapat tiga kerangka yang menunggangi tiga serigala semi tranparan yang cukup besar untuk dinaiki manusia. Setiap dari mereka memiliki sebuah senjata dan merupakan pasukan kavaleri kerangka yang tidak biasa. Kavaleri serigala ini memiliki tubuh yang semi transparan dan terbungkus dalam api berwarna ungu. Mereka mempunyai kerangka yang duduk di sadel kasar di atas mereka.
Saat mereka bertiga keluar, mayat hidup di sekeliling hanya menghunuskan senjata mereka dan merapat di tempat.
"Tindakan pertama untuk menang! —— Sunlight Arrow!"
Myu menembakkan banyak anak panah cahaya dari tangannya yang bebas, menelan salah satu Skeleton Raider dan mengubah sebagian pasukan mayat hidup menjadi abu.
Hanya dengan satu serangan, dia mengirimkan Skeleton Raider dan sejumlah mayat hidup dalam kebinasaan.
Yang tersisa adalah para mayat hidup yang tidak akan menyerang dan dua Skeleton Raider.
Kalau seperti itu, maka kami bisa bertarung…kami berpegang pada harapan samar itu. Akan tetapi…
"Hahaha, tidak mungkin. Mereka muncul lagi."
Gumaman Myu terhisap oleh langit ungu.
Mayat hidup bergerak menutupi lubang yang terbuka di barisan kepungan dan di belakang mereka, mayat hidup yang baru muncul, merangkak keluar dari daam tanah.
Pasukan mayat hidup itu muncul kembali begitu saja dan sekali lagi, sesosok Skeleton Raider melompat dari atas dinding mayat hidup.
"Ini seperti event pertempuran. Kita tidak bisa menyingkir, tapi kita tidak akan diserang secara kasar sampai binasa. Kita harus mengalahkan sejumlah dari mereka dan mungkin ada batas waktunya. Yun, kau siap?!"
"Yah, kita harus melakukannya sampai kita bisa melihat akhirnya! Onee-chan, tolong supportnya!"
Myu dan Taku menjejakkan kaki pada saat yang bersamaan dan memangkas jarak dengan para Skeleton Raider.
Saling memunggungi satu sama lain, Myu dan Taku melindungi titik buta satu sama lain, bertarung berdua melawan tiga Skeleton Raider sekaligus.
Setelah kecepatannya meningkat karena enchant, Myu bermain-main dengan Skeleton Raider, menghambat pergerakan monster itu dengan mengincar serigala yang bertanggung jawab atas hal tersebut.
Menggunakan kesempatan itu, Taku memakai sebuah art dan secara perlahan melancarkan serangan pada tubuh kerangka penunggangnya.
Myu memancing makhluk itu di sekitar hidungnya dan Taku menyerangnya.
Saat target berubah ke Taku, dia mengendurkan serangannya dan Myu merangsek menggantikannya untuk ditargetkan monster itu lagi.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan kedua orang itu mempertunjukkan manajemen kebencian monster selama pertarungan. Aku menyerang santai untuk menghindari perubahan target, memasangkan enchant pada mereka berdua dan menggunakan speed cursed pada para kerangka.
Sebagai tambahan, aku mengambil peran pendukung untuk memulihkan HP dan MP yang berkurang saat kedua orang itu terkena serangan atau menggunakan art.
Berulang kali kedua orang itu mengalahkan Skeleton Raider  yang muncul kembali. Bahkan sekalipun yang satu dikalahkan, yang lainnya selalu melompat ke dalam pengepungan. Sendirian, mereka cukup lemah, tapi dengan tiada akhir ataupun istirahat, kegugupan kami bertambah dan kami perlahan-lahan kelelahan.
"Yun, yang baru keluar lagi!"
"Baik!"
Karena mereka terlambat untuk mengimbangi Skeleton Raider yang melompat masuk dari luar pengepungan, targetnya tidak berubah ke Myu dan datang ke arahku.
Seperti yang diduga dari monster tipe tunggangan, dia mendekat dengan kecepatan yang cukup tinggi. Saat dia menyerang ke arahku dengan momentum yang kuat dan jarak pencapaiannya yang tinggi dari tombak di lengannya, suara udara yang terbelah mencapai telingaku.
Juga, karena dia menghunusku dari posisi yang lebih tinggi, hal tersebut sulit untuk ditangkis dengan pisau dapurku yang memiliki jarak yang pendek dan longbow yang memiliki tingkat manuver yang rendah.
Tetap saja, meskipun tidak selevel Myu ataupun Taku, aku masih mampu untuk melindungi diri sendiri.
"Cursed ——Defence."
Berguling di tanah, aku menghindari hujaman yang datang dari atas dan memasangkan cursed di punggung Skeleton Raider yang berlari melintas.
Skeleton Raider berbalik di pinggir pengepungan dengan mengarahkan serigalanya dan tanpa kehilangan momentum dia menyerangku lagi.
"Onee-chan!"
"Yun!"
Mereka berdua berteriak, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah siap untuk menghalanginya.
"—— Clay Shield!"
Sebuah dinding tanah muncul antara aku dan Skeleton Raider tersebut.
Tanpa mengurangi momentumnya, Skeleton Raider membentur hebat dinding tanah yang tiba-tiba muncul dan tulang-belulang tubuhnya berserakan ke mana-mana.
Dengan status cursed yang terpasang padanya, Skeleton Raider menerima dampak serangan dari serbuannya sendiri.
Serigalanya berdiri goyah dan penunggangnya hampir tidak memiliki tulang yagn tersisa di tubuhnya untuk bertempur. Saat itulah aku melancarkan serangan penghabisan padanya.
"—— Bow Skill – Arrow Stitching!"
Aku melompat keluar dari samping dinding tanah dan menarik tali busur sampai ke batasnya. Art tersebut dilepaskan pada jarak dekat dan menembus tubuh bagian atas Skeleton Raider, menghancurkannya dan memencarkan tulang-tulangnya.
Bagian atas tubuh Skeleton Raider berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan roh serigala yang membawa tubuh bagian bawahnya melarikan diri ke luar dinding pengepungan sambil menghamburkan partikel-partikel cahaya ke sekitar.
Sebelum kami dapat memeriksa apakah lawan dikalahkan atau tidak, sesosok Skeleton Raider baru muncul dari luar pengepungan dan ditahan oleh Myu dan Taku.
Aku berbalik pada punggung mereka berdua dan memasang kembali enchant.
"Enchant ——Attack, Speed!"
"Terima kasih! Myu-chan, tahan yang di sebelah kanan!"
"Baik!"
Kami terus bertarung, bekerja sama bertiga tanpa gagal. Akan tetapi, kami tidak berpikir bahwa sebuah pertarungan di mana tidak kelihatan akhirnya akan semelelahkan ini.
"Level musuhnya tidak masalah, tapi…berapa lama kita harus menghadapi mereka?!"
"Tenang, Myu-chan!"
"Ahh, bisakah kita mati saja dan kembali? Aku sama sekali tidak keberatan dengan hal itu…"
"Kau juga mengatakan sesuatu semacam itu, Yun?! Ayolah, yang lainnya datang!"
Saat Taku menebas Skeleton Raider, tidak ada musuh baru yang muncul. Sebaliknya, dua musuh yang tersisa melompat melewati pengepungan dan kerangka-kerangka yang mengelilingi kami membubarkan diri ke samping, membuka sebuah jalan ke pohon.
"Apa? Apa akhirnya kita maju?"
"Sepertinya…begitu."
Kami mengalahkan beberapa lusin Skeleton Raider. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi ada sangat banyak.
Dan kami melanjutkan ke langkah terakhir——

—— R Quest : Taklukkan Serigala Raksasa Pohon Wisteria Peach 3 / 3 ——
Kalahkah Serigala Raksasa Pohon Wisteria Peach Garm Phantom. Tersisa —— 0 / 1.

Questnya berlanjut ke tahap akhir dan pada saat yang sama, kabut mulai menyembur keluar dari dasar pohon.
Semburan gas mirip gas beracun berwarna ungu itu membentuk spiral. Serigala yang terbentuk oleh gas semi transparan itu memang pantas untuk disebut raksasa.
Panjangnya sekitar sepuluh meter. Itu tiga kali lebih panjang daripada manusia. Kaki serigala itu terlihat jelas meskipun tubuhnya adalah roh, dan mulutnya cukup besar untuk menelan manusia bulat-bulat.
Boss ini sudah jelas berada pada level yang tidak dapat dihadapi para player. Aku merasakan déjà vu saat mendongak dan melihat betapa besarnya dia.
"Jadi kalianlah yang menghancurkan batu-batu penjuruku…"
"…bossnya berbicara. Jadi dia memiliki AI."
Taku bergumam kagum. Akan tetapi, itu diabaikan dan ceritanya terus berlanjut.
Batu-batu penjuru itu adalah titik kunci yang dipasang untuk menyerap kehidupan! Karena kalian menghancurkannya, mayat-mayat hidup meluap! Dasar tolol! Atau mungkin, kalian tergoda dengan penyembuhan pohon ini!"
Oh, aku ingat. Aku pernah melihat monster sebesar ini sebelumnya. Dia sama dengan Great Eater of Mythical Beasts yang muncul di hari terakhir even perkemahan musim panas. Terlalu gegabah untuk satu orang, tidak, ini juga terlalu gegabah untuk hanya satu party yang menghadapinya.
Sesosok boss kelas raid. R berarti Raid. Sebuah quest yang direkomendasikan untuk diselesaikan oleh banyak party.
"Hanya kalian bertiga saja tidak akan cukup untuk menjadi kurban. Mau bagaimana lagi, panggil mereka kembali."
Lolongan-lolongan bergaung bersama dengan perkataan Garm Phantom. Tujuh Skeleton Raider muncul dari dalam tanah dan terbang ke suatu tempat.
"Aku akan merasa puas dengan melahap kalian di sini dan memberi makan pohon dengan kalian bertiga. Akan tetapi, untuk kurbang yang baru, kalian terlalu sedikit. Akan kupikirkan lagi jika kalian bisa menahan serangan ini."
Serigala raksasa itu mengayunkan kaki depannya yang besar. Kami bereaksi terhadap tindakan tersebut.
Taku berdiri sebagai barisan terdepan dan mengambil posisi bertahan. Aku memasangkan enchant DEF dan MIND ganda padanya dan Myu memperluas membran pertahanan elemen cahayanya.
"——Kalian bertahan, ya. Kalau begitu, akan kutunjukkan pada kalian."
Sebuah ayunan. Sebuah gelombang kejut dilepaskan oleh kaki depan yang mengayun dari atas, melubangi tanah, menelan para mayat hidup dan menyerang kami.
Kami mencoba menahannya dengan berpegang erat ke tanah, tapi pertahanan kami sia-sia dan kami terangkat dan tidak dapat memposisikan tubuh kami saat terjatuh pada punggung.
"k-khha…"
Itu adalah serangan mencolok yang memiliki cukup kekuatan untuk mengangkat tubuh player. Akan tetapi, guncangan yang kurasakan dengan kelima inderaku lebih lemah daripada yang mungkin kudapatkan di dunia nyata, membuatku bingung.
Kalau ini adalah realita, aku seharusnya merasakan rasa sakit yang sama dengan terkoyak, tapi dengan rasa sakit yang dikurangi dalam game menyebabkan syaraf perasaku menggila, membuatku membayangkannya meluap.
Myu dan Taku juga terjatuh ke tanah, memelototi si serigala raksasa.
"Hmph. Konyol, kalian berpikir bisa mengalahkanku hanya dengan kekuatan sebesar itu! Kalau kalian berharap untuk menghancurkan kami, bawalah pasukanmu sepuluh kali lipat lebih banyak!"
Suara tersebut bergema di medan pertempuran ini. Seperti yang kupikirkan, quest ini direkomendasikan untuk orang-orang dalam jumlah besar.
Daripada dikatakan ada enam batu penjuru untuk enam player untuk sebuah party, ada tujuh batu untuk tujuh party. Serigala raksasa itu juga berkata bahwa tidak ada cukup kurban. Dengan kata lain, itu berarti 'panggil lebih banyak orang' bukan begitu?
Mesk demikian, suara yagn terdengar itu sangatlah kasar. Suara bass berat sesekali mengirimkan sebuah serangan ke kepalaku.
"Hmph. Sepertinya mereka berhasil tepat waktu."
Sementara kami tidak dapat bangkit, para Skeleton Raider yang terbang sebelumnya telah kembali.
Di tangan mereka, mereka memegang tujuh hantu kurban dengan rantai yang melilit mereka.
Baik yang tua dan yang muda, mereka semua menjerit dengan tangan dan kaki yang tidak bergerak.
"Jadi kita sama sekali tidak selamat." "Tidak! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" "Padahal kupikir aku akhirnya bisa bertemu dengan isteriku tercintan!" Kembali ke dalam tanah yang gelao...aku bertanya-tanya kapan waktu berikutnya akan tiba…" "Wahai Dewi, apakah ini juga adalah ujian?" "Aku tidak urusan apapun dengan desa ini sejak awal! Lepaskan aku!" "Jadi ini pun gagal, ya. Yah, anggaplah bahwa kalian beruntung tidak menjadi kurban manusia seperti kami, lupakan ini."
Para kurban itu yang telah menjadi hantu diseret kembali ke tanah bersama dengan para Skeleton Raider.
Apa yang kami lihat pada akhirnya, adalah para hantu yang membuat ekspresi filosofis atau semacam kesan bahwa mereka menyerah, anak-anak yang menangis memohon pertolongan dan jeritan yang terdengar terus berlanjut seakan untuk selamanya.
"Kami akan kembali tidur. Tidak akan ada kesempatan berikutnya."
Kembali menjadi kabut, Garm Phantom menghilang. Mengejarnya, para mayat hidup tengelam ke dalam tanah. Apa yang tersisa, hanyalah kami, bergulingan di tanah.
Menengadah melihat Pohon Wisteria Tree dari bawah, memiliki waktu untuk menyaksikannya dengan santai, kupikir pohon itu indah dan tidak pada tempatnya.
Itulah apa yang orang katakan dengan melarikan diri dari kenyataan, bukan begitu?
"Yun, Myu-chan. Kalian tidak apa-apa?"
"Aku entah bagaimana hidup. Aku berada jauh di belakang jadi aku hanya mendapat sedikit luka."
"Aku berada di dekatnya. Sial, daya tahan armorku…"
Tepat setelah situasi menegangkan itu, kami bercakap-cakap konyol. Akan tetapi, Myu berdiri sendirian dalam diam tanpa mengatakan apapun.
"Maaf, aku merasa kurang baik, bisa aku pergi dulu?"
"Y-yah, tentu. Santai saja."
"Myu, kau tidak apa-apa?"
"Yup. Aku akan minum air dulu dan menenangkan diri. Maaf."
Myu menyunggingkan senyuman lembut dan log out. Ini hanyalah sebuah game, tapi dia benar-benar kehilangan sifatnya yang bersemangat tinggi dan penuh motivasi yang biasanya.
Event ini pasti terlalu mengguncangnya. Biasanya dipenuhi dengan kebanggaan dan kepercayaan diri, Myu mungkin kehilangan itu semua dalam sekali serang…
"Baiklah. Karena tidak cukup dengan kita saja, aku akan berbicara dengan beberapa kenalanku."
"Tentu, akan kuserahkan semuanya padamu, Taku. Aku akan pergi melihat keadan Myu."
Aku merasa khawatir tentang Myu yang log out dan lumayan mengabaikan apa yang Taku katakan.
"Myu-chan tidak dalam keadaan yang terbaik. Mau bagaimana lagi. Cepatlah pergi."
"Terima kasih, Taku."
"Apa yang kau katakan? Baik Myu-chan dan kau adalah temanku yang terpenting. Ini adalah pemberian."
Aku berterima kasih pada Taku dalam hatiku. Menerima dukungan semangatnya, aku juga log out.

Setelah log out, aku pergi ke kamar Miu untuk memeriksanya dan mengetuk pintu.
"Miu? Bagaimana perasaanmu? Boleh aku masuk?"
Aku mendengar sebuah suara datang dari dalam, setelah beberapa saat, "kau boleh masuk", aku mendengar suara Miu berkata begitu.
"Aku masuk. Kau baik-baik saja?"
"Ehehe, aku kalah."
Dia menyunggingkan senyum lebar saat aku mengelusnya, tapi kali ini terasa kosong tanpa energi dan motivasi. Itu terasa seperti dia sedang berpura-pura kuat.
Aku bertanya pada Miu, sama sekali tidak mempedulikannya.
"Apakah kekalahan begitu mengguncangmu?"
"Hmm. Aku…kurasa begitu? Maksudku, aku tidak pernah kalah sebelumnya."
Begitulah~. Dia bercanda, tapi ekspresinya muram tidak lama kemudian.
"Seperti yang kupikirkan, kalah dalam game adalah hal yang normal, ya 'kan. Menang dan kalau, kalah dan menang. Mengulanginya adalah hal yang menyenangkan, tapi aku mungkin sudah lupa seperti apa rasanya kalah."
"Aku hampir tidak pernah menang, semuanya adalah kegagalan. Itu bukan sesuatu yang sangat mengganggu, 'kan?"
"Itu karena Onii-chan tahu bagaimana rasanya kalah. Tapi, kau tahu, karena itulah aku tidak pernah berpikir bahwa kalah dalam VR akan begitu membuatku terguncang. Ini adalah pengalaman pertamaku…"
Miu berhenti di tengah kalimat. Aku menunggunya untuk melanjutkan.
"…juga, quest itu. Hantu NPC quest yang terakhir menatapku sebelum dia menghilang. Matanya begitu penuh dengan kebencian, itu menakutkan. Aku tidak pernah ditatap seperti itu sebelumnya."
"Tidak kusangka, ternyata kau memikirkan hal semacam itu juga."
"Hei, itu membuatku marah! Tapi, bukankah itu tujuan dari questnya?"
Tujuan dari quest, aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan, tapi sepertinya ada makna dari hal tersebut bagi Miu.
Dia menatap langit-langit kamar, menghela napas dalam-dalam dan menjawabnya.
"Game adalah hal yang menyenangkan, 'kan. Itu membuat semangat, menegangkan, dan membuat ketagihan, membuatmu ingin bermain. Mereka membuatku ingin berjuang keras, bersenang-senang, dan membuat kehebohan. Saat-saat menyenangkan seperti dalam festival yang nampaknya berlangsung selamanya, 'kan."
"Yah, kurasa akan jadi hal yang bagus kalau saat-saat yang menyenangkan berlanjut selamanya."
"Tapi, bermain game harus berakhir suatu hari nanti. Dunia mimpi tidak akan ada selamanya. Kadang-kadang, aku mengurangi waktu bermain untuk mengingatkan diriku sendiri tentang dunia nyata. Bukankah saat-saat seperti ini meninggalkan kesan buruk untuk hal-hal yang dipikirkan ulang?"
"...sebuah kesempatan untuk dipikirkan ulang, ya. Mungkin begitu."
Saat aku melewati Horia Cave, aku membencinya dari dalam lubuk hatiku. Karena game menyediakan kesenangan, ditarik kembali ke realita sangatlah tidak membuat nyaman. Tidak seorang pun dapat mengatakan trauma macam apa yang dimiliki orang-orang, apa yang membuat mereka tidak nyaman atau apa yang akan menstimulasi mereka. Akan tetapi, di antara orang-orang dengan kepribadian yang berbeda pasti ada yang ditarik ke dunia nyata oleh hal semacam itu.
Untuk mengubah suasana hati mereka yang tidak menyenangkan, mereka akan memalingkan wajah dari game dan akan mengingat masyarakat yang ada di dunia nyata. Aku penasaran, apakah itu niat di balik hal semacam itu?
"Jadi, Miu, apa kau akan menyesuaikan situasi dalam dirimu?"
"Yup, aku mungkin tidak akan menerobosnya dengan segera, tapi tidak apa-apa. Paladin terhebat Myu sudah pasti akan kembali. Um…tunggulah, oke?"
Aku mengulurkan tangan pada Miu yang bersikap malu-malu. Saat aku mengelus kepalanya, dia menanggapi dengan senyum yang sedikit malu-malu.
Dan——perut Miu berbunyi kencang. Sejujurnya, perutnya mengingatkan tentang keberadaannya dengan suara yang cukup kencang untuk kudengar. Miu mencoba membuat alasan dengan terburu-buru.
"Ti-tdak, bukan begitu! Bukan begitu!"
"Ya, ya. Ya ampun, apa ada yang ingin kau makan?"
"Uu…kalau begitu sesuatu yang terasa lembut."
Aku melihat Miu yang mencengkeram seprai ranjangnya dan wajah yang memerah hingga ke telingan karena malu.
"Kalau begitu, aku akan membuat bubur dengan kepiting dan telur. Seharusnya ada kepiting untuk hot pot, jadi aku meminjam satu atau dua kakinya untuk itu."
"…terima kasih."
Saat aku meninggalkan kamar Miu, sebuah gumaman membuatku membalas dengan senyuman sebelum aku menutup pintu kamar.
Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi ini akan memerlukan waktu.

Only Sense Online Jilid 4 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

3 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.