11 Juni 2017

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 8 Bab 14 LN Bahasa Indonesia


11 AGUSTUS 2092 / OKINAWA – PANGKALAN UDARA ~ VILA
(Translater : Michael Alexander)

Dua hari sudah berjalan dengan normal.
Orang itu selalu mengikutiku seperti biasa, dan aku juga selalu memperlakukannya seperti biasa.
Aku rasa aku akan lebih ramah lagi dengan Ani. Tidak, aku masih berpikir seperti itu.
Aku pikir kalau aku seperti itu, sesuatu mungkin akan berubah.
Tapi itu hanya sebagai pengingat sementara saja, sekali sudah terbiasa, akan sangat sulit untuk merubahnya.
Kemarin, dan kemarin lusa, aku melakukannya lagi seperti biasa, memperlakukannya seenakku sendiri. Masih ada tujuh hari yang tersisa dari liburan kami. Dalam tujuh hari ini, aku mungkin akan tetap memperlakukannya seperti itu lagi. Aku tidak bisa merubah diriku.
…..Kalau saja ini masih minggu lalu, aku tidak mungkin akan terbebani seperti ini.
Memangnya apa yang terjadi denganku?
Aku tidak mengerti perasaanku sendiri. Aku tidak mengerti apa yang kuinginkan.
Dalam kondisi seperti ini, aku rasa aku tetap harus menjalani hari-hari liburanku dengan hal itu berputar-putar di pikiranku.
Tapi, untunglah…… berbicara seperti ini rasanya agak tidak sopan, tapi rasanya itu sudah bukan masalah lagi, aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi.
Tepat setelah aku selesai menyantap sarapanku, sebuah peringatan darurat terdengar dari semua perangkat dan peralatan sekitar.
Peringatan ini dikirim oleh Pasukan Pertahanan.
Dengan kata lain, ada serangan dari pihak luar.
Aku segera melihat layar dengan tajam, seperti binatang buas akan menangkap mangsanya.
“Sebuah Invasi muncul dari dasar Laut Barat.”
“Hingga saat ini belum ada deklarasi perang.”
“Musuh telah meluncurkan serangan rudal balistik kapal selam.”
“Sekarang, musuh sedang berada di permukaan dan menyerang Pulau Kerama.”
Dibanjiri dengan kata-kata asing itu, diriku diserang oleh rasa panik. Satu-satunya kata yang menempel di pikiranku hanyalah ‘rudal balistik kapal selam’. Apa kapal selam yang kita temui saat itulah yang melakukannya?
“Tolong izinkan saya menyampaikan hal ini kepada Maya-sama secepatnya!”
Sakurai-san tidak bisa menyembunyikan ketidaksabarannya saat mengatakan permintaannya.
“Baiklah, kalau begitu tolong sampaikan.”
Dan disaat dia mengangguk, tidak ada sedikitpun kekhawatiran yang terlukis di wajahnya.
Tentu saja, pikirku.
Aku sendiri yakin sekali tidak mungkin kami akan berada ditengah-tengah peperangan tanpa satupun peringatan.
Pembawa berita tersebut berulang kali mengulangi perkataannya kepada pemirsa untuk ‘tetap tenang’, walaupun dia sendiri tidak tampak tenang sedikitpun.
Tentu saja. Mengatakan sesuatu seperti ‘jangan panik’ disituasi seperti ini rasanya agak lucu.
Alasan aku tidak benar-benar panik adalah karena aku tidak mengetahui bahaya sebenarnya dari kejadian seperti ini. Aku rasa itu terjadi karena aku melihat semuanya seolah-olah itu hanyalah masalah bagi orang lain, dan aku melarikan diri dari masalah tersebut.
Tapi…. Bagaimana dengan orang itu?
Ani sedang membaca terminal kecilnya yang berisi laporan yang lebih rinci daripada berita TV itu dengan tenang, dia terlihat seperti orang yang kehilangan emosi ‘tegang’ dan ‘gelisah’nya.
Dengan perasaan tenang itu, seolah-olah menganggap semua hal ini hanyalah hal biasa, jika orang lain menyebutnya sebuah android aku pun mungkin tidak akan bisa menyangkalnya.
Apa Ani merasa sepertiku?
Ataukah dia benar-benar, tidak bisa merasakan apapun?
Saat aku melihatnya, wajah Ani tampak seolah-olah mengatakan ‘oh?’.
Tepat seperti yang kubayangkan ‘apa itu?’, Ani mengeluarkan terminal komunikasi dari kantung jaket musim panasnya.
“Ya, ini Shiba….. tidak, akulah yang seharusnya berterima kasih atas waktu itu……menuju ke pangkalan, katamu?”
Dari responnya, aku rasa yang baru saja menghubungi kami adalah kenalan kami dari Angkatan Udara, Kapten dan pasukannya. Tapi seharusnya pangkalan sedang berada di situasi perang saat ini, apa lagi yang mungkin terjadi?
“Aku menghargai tawaran itu, tapi…. Tidak….. ya, aku akan coba membicarakannya dengan ibuku…. baiklah, akan kuhubungi lagi nanti.”
Saat dia selesai berbicara, tidak hanya diriku yang sedang menatapnya.
Didepan Okaa-sama yang sedang duduk di sofa, Ani berdiri dan menunduk.
“Nyonya.”
Orang itu memanggilnya seperti itu, saat berhadapan dengan ibu kandungnya.
Mengapa, di saat seperti ini, rasa sakit itu muncul kembali, rasanya hatiku seperti diremas?
Rasa sakit ini adalah rasa sakit yang kurasakan seminggu yang lalu.
“Kami telah menerima tawaran untuk berlindung di pangkalan dari Kapten Kazama di Pangkalan Udara Onna.”
“Eh!?”
Secara tidak sengaja, aku menunjukkan kekagetanku.
Dia baru saja bertemu kami dua kali, dan hanya sekali yang bisa dianggap pertemuan, jadi mengapa….?
Hal-hal yang tidak bisa dipercaya kerap muncul satu demi satu seperti perasaanku ini, tapi tidak hanya sampai disitu.
“Nyonya.”
Sakurai-san memegang alat komunikasi suara tanpa kabel yang disebut ‘handset’ ditangannya.
“Ini panggilan dari Maya-sama.”
Kali tidak hanya ‘eh’ yang keluar dari mulutku.
Panggilan dari Oba-ue?
Kepada Okaa-sama?
Okaa-sama dan Oba-ue adalah saudara kembar, seharusnya tidaklah aneh bagi mereka untuk berbicara satu sama lain, tapi…. sudah bukan rahasia lagi dikalangan Yotsuba bahwa Okaa-sama dan Oba-ue tidak memiliki hubungan yang baik.
Mereka memang tidak menunjukkannya secara terbuka, tapi hubungan mereka berdua terlihat seperti perang dingin.
“Halo, Maya?.....Ya,ini aku….. Aku mengerti. Aku rasa kau sedang menggunakan pengaruhmu…. Tapi, bukankah bergerak disaat seperti ini berbahaya?.....aku rasa ya…… baiklah. Terima kasih.”
Setelah dia selesai berbicata, Okaa-sama menyerahkan handset itu kembali pada Sakurai-san.
“Nyonya. Apa yang dikatakan Maya-sama?”
Mengambil handset itu, Sakurai-san menanyakan hal normal.
“Dia meminta kita untuk berlindung di tempat Pasukan Pertahanan.”
“Jadi, panggilan yang baru saja diterima Tatsuya-kun.”
“Rasanya memang seperti itu.”
“Tapi, bukankah berbahaya untuk keluar disaat seperti ini?”
“Itulah yang kukatakan, tapi,”
…..Mengapa? Bukankah pangkalan militer lebih aman dan kokoh daripada rumah ini?
“Walaupun kita bukan sedang dalam keadaan perang, melihat musuh kita sudah melancarkan serangan kejutan seperti ini, rasanya tidak mungkin berharap mereka akan mengikuti aturan perang.”
“Itu….. aku rasa juga seperti itu…..”
Melihat Okaa-sama dan Sakurai-san, dan ekspresi suram Ani, membuatku terlihat seperti satu-satunya yang tidak memahami situasi. Akan memalukan untuk meminta mereka menjelaskannya satu per satu… aku rasa aku akan tetap diam untuk sekarang.
“Walaupun tidak sulit baginya, dia sudah berusaha, jadi mari kita ikuti perkataan Maya. Tatsuya.”
“Baik.”
Ani, yang hanya berdiri selama ini, segera merespon. ….Karena orang itu sendiri tidak menunjukkan kepuasan di wajahnya, pastinya tidak ada alasan bagiku untuk merasa puas.
“Hubungi Kapten dan katakan padanya, kami menerima tawaran itu. Juga, kalau bisa mintakan jemputan ke pangkalan.”
“Baik.”
Hampir seperti semua masalah dilimpahkan kepada Ani, tapi, aku yakin itu hanyalah pikiranku saja yang melebih-lebihkannya.
Entah bagaimana, aku sudah menduganya.
Tentara yang pergi menjemput kami, tidak lain adalah Kopral Higaki Joseph.
“Tatsuya, maaf membuatmu menunggu!”
“Joe, terima kasih sudah datang.”
“Ayolah, tidak perlu terlalu formal.”
Kopral Higaki menunjukkan senyum cerianya.
Ani sebaliknya menunjukkan ekspresi tidak terlalu ceria, tapi ini sudah jauh lebih ekspresif dari biasanya.
Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, sikapnya kepada Kopral yang baru saja kita kenal jauh lebih ramah daripada sikapnya kepada kami keluarganya.
Kerutan alis Okaa-sama tidak diragukan lagi merupakan tanda ketidaksenangannya melihat sikap itu.
Tidak mungkin ketidaksenangannya disebabkan oleh sikap Ani yang lebih ramah kepada orang lain bukan?
Entah dia menyadari ketidaksenangan Okaa-sama, ataupun sikap tidak sabar Sakurai-san, Kopral Higaki segera menghentikan sikap akrabnya dan, segera memberi hormat kepada mereka.
“Saya datang untuk menjemput anda sekalian atas perintah Kapten Kazama.”
“Terima kasih atas kedatangannya. Tolong antar kami kesana.”
“Baik Nyonya!”
Selesai mendengar perkataan Kopral yang tidak tegas, Sakurai-san segera menjawabnya dengan seringai di wajahnya.
Kopral Higaki tidak terlihat menyadarinya.
….Sejujurnya aku berharap aku lebih khawatir tadi, tapi sekarang aku setidaknya bisa sedikit mengerti alasan mereka menolak untuk pergi ke pangkalan.
Jalanan-jalanan dibanjiri oleh warga sipil yang sedang evakuasi, suara klakson kendaraan-kendaraan militer ditengah-tengah kekacauan, adalah pemandangan yang tidak kuduga.
Seolah-olah pulau ini berhenti beraktivitas, satu-satunya kendaraan yang berada di jalan hanyalah kendaraan milik militer.
Suasananya, daripada disebut kekacauan biasa, suasana ini lebih tepat disebut darurat militer. Aku hanya pernah melihatnya di video sebelumnya, jadi aku tidak tahu keadaan sebenarnya di lapangan.
Menaiki kendaraan Pasukan Pertahanan, tanpa berhenti sedikitpun sebelum sampai tujuan, tanpa terkena satu serangan pun dari musuh, kami sampai di pangkalan tanpa masalah.

Sudah sejam berjalan sejak musuh memulai serangannya, dan meskipun telah diserang dengan serangan kejutan oleh musuh yang masih belum teridentifikasi, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sepertinya mampu menahan mereka dipinggir pantai.
Kecuali kau memiliki intel dari pulau Kerama, kau pasti tidak akan tahu apapun apa yang sebenarnya terjadi dan hanya bisa percaya dengan perkataan militer.
Secara mengejutkan, kami bukanlah satu-satunya warga sipil yang telah dievakuasikan ke pangkalan.
Meskipun tidak sampai ratusan, jumlah orang yang ada disitu kelihatannya hampir mendekati.
Selain kami, ada lima warga sipil lain yang telah dipandu menuju ke penampungan bawah tanah.
Itu memang bukan urusanku, tapi aku tidak mengerti mengingat ancaman dari serangan musuh, apa tidak apa-apa membawa orang-orang yang tidak berhubungan dan tidak berguna sebanyak ini ke pangkalan?
Mungkin nantinya, bahkan kami, bahkan aku, pada akhirnya harus ikut bertarung.
Aku tidak bisa selalu mengandalkan Sakurai-san. Okaa-sama yang sedang duduk di sofa, masih beristirahat. Dan tugas Sakurai-san lah untuk melindunginya.
Sampai hari ini aku tidak pernah ikut di pertarungan sesungguhnya, tapi kemampuan sihir bertarungku sudah diakui setara dengan penyihir dewasa.
Itu penilaian dari Sakurai-san, jadi bisa dipercaya.
Tapi itu saja tidaklah cukup untuk menghilangkan kekhawatiranku, dan aku mencoba untuk melihat sekelilingku.
Ani duduk disebelahku kali ini.
Biasanya dia selalu hanya berdiri disamping atau dibelakangku, tapi sekarang kami sedang duduk bersebelahan mencoba untuk tidak menarik perhatian.
Di kantung dadanya, ada dua CAD yang disembunyikan dan siap digunakan kapanpun.
Aku tidak yakin apa orang bisa bisa dianggap memiliki ‘pengalaman bertarung’ juga, tapi tidak sepertiku, dia memiliki banyak pengalaman membunuh orang.
Jumlahnya tidak hanya lima atupun sepuluh saja.
Aku belum pernah melihatnya dengan mataku sendiri, tapi tidak ada gunanya aku dibohongi tentang itu, pasti apa yang kuketahui adalah kebenarannya.
Mendukung hal itu, Ani sedang dalam posisi siap.
Matanya tidak jelalatan, badannya pun tidak gemetaran pula.
Melihat Ani, kekhawatiranku hilang sedikit demi sedikit.
Sekali lagi…… memikirkannya, aku melihatnya lagi.
Untuk alasan tertentu, mata kami bertemu.
Eh? Eh? Ap...? Mengapa?
“Apa kau tidak apa-apa, Miyuki?”
…………!
Sepertinya yang diperintahkan tiga hari lalu, orang itu memanggilku ‘Miyuki’.
Tidak seperti waktu itu, bukan pura-pura akrab, tapi dengan suara yang lembut.
“Aku disini.”
……Itu, itu curang…………..!
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku sekarang.

Hey! Bertahanlah aku! Ini hanyalah Suspension Bridge Effect[1]! Seperti di rumah hantu! Stockholm Syndrome[2]…..
…..Entah bagaimana berbeda dari situasi ini, tapi bagaimanapun juga, itu semua terjadi di kepalaku!
Yang benar saja, tidaklah baik memojokkan adik kandungmu disaat seperti ini!
Dia sendiri mungkin tidak bermaksud seperti itu, tapi itu benar-benar tidak relevan, tidak, itu benar-benar menyebalkan!
Aku menatap Ani.
Saat aku melakukannya, Ani segera berdiri dari kursinya.
Eh? Apa aku, apa wajahku setidaksenang itu?
Sebenarnya, seolah-olah tidak membiarkan keenaifan menguasaiku, kejadian demi kejadian terus terjadi didepan mataku dengan cepat. Dan aku akan mengetahuinya segera.
◊ ◊ ◊
Tidak hanya Ani saja yang tiba-tiba berdiri.
Sedetik kemudian, Sakurai-san juga beranjak dari kursinya.
Orang lain yang duduk dengan kami, menunjukkan ekspresi kaget di wajahnya, melihat Sakurai-san dan Ani seperti itu.
“Tatsuya-kun, itu…..”
“Sakurai-san, kau juga mendengarnya ‘kan?”
“Jadi, itu memang benar-benar suara tembakan……!”
“Itu bukan pistol tapi itu mungkin suara auto rifle.”
…….Eh? Itu berarti, musuh sudah masuk sampai sini!?
Bagaimana bisa?
Bukankah tempat ini berada didalam pangkalan militer?
“Apa kau mengetahui situasinya?”
“Tidak, dari sini….. tembok-tembok ruangan ini sepertinya bisa menghalangi sihir.”
“Ya….. sepertinya begitu, sepertinya ada sebuah pelindung tradisional yang baru saja diaktifkan. Tidak hanya di ruangan ini, tapi seluruh tempat ini seluruhnya dikelilingi oleh pelindung sihir itu.”
“Tapi kita masih tetap bisa menggunakan sihir di dalam ruangan ini.”
Sakurai-san sependapat dengan perkataan Ani.
Aku tidak mengerti sama sekali denga apa yang mereka bicarakan…..
“Hey, ka-kalian penyihir ‘kan?”
Secara tidak terduga, pria yang agak jauh dari kami berbicara kepada Sakurai-san dan Ani. Dia mengenakan baju yang sangat rapi, dan sepertinya dia orang yang berkedudukan tinggi. Orang-orang yang ada disampingnya sepertinya adalah keluarganya.
“Betul?”
Mendengar suara itu, Sakurai-san menjawab dengan ragu-ragu. Orang itu lalu melanjutkan perkataannya lagi dengan sikap sok kuasa, walaupun kurasa itu hanyalah kesombongannya belaka.
“Kalau begitu, periksalah apa yang sedang terjadi!
……Apa-apaan itu?
Dia seperti sedang berbicara dengan bawahannya.
Itu sangat….!
“…..Kami tidak ada hubungan sama sekali dengan pangkalan ini.”
Sakurai-san juga menjawab dengan nada tersinggung.
Dibawah tekanan siapapun memang bisa menunjukkan sikap aslinya, tapi seharusnya itu tidak ditujukan kepada orang lain, terutama yang benar-benar tidak kau kenal, mungkin itu pikir Sakurai-san.
Namun, apa yang dipikirkan Sakurai-san tidak sesuai dengan kenyataannya.
“Itu omong kosong. Kalian benar-benar penyihir bukan?”
“Ya, aku sudah mengatakannya ‘kan.”
Orang ini bahkan tidak mendengar perkataan Sakurai-san.
“Bukankah sudah menjadi tugas kalian para penyihir untuk melayani manusia?”
…………!
Tidak mungkin ada orang yang bisa mengatakan hal seperti itu seyakin ini………..
Tidak lupa juga, dia mengatakannya di depan seorang penyihir………..!
“Apa maksudmu dengan itu?”
Merasakan ada ancaman dari suara Sakurai-san. Matanya makin melotot.
Mendengar perkataan Sakurai-san, orang itu mulai mencoba menenangkan dirinya perlahan-lahan, tapi usahanya itu tetap saja tidak menghentikan ocehannya.
“Dari awal, penyihir adalah ‘alat’ yang dibuat untuk melayani ‘manusia’. Jadi tidak peduli kalau kau anggota militer atau bukan.”
Kekagetan dan kemarahanku sudah tidak bisa digambarkan lagi oleh kata-kata.
Orang ini sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan.
Tetapi sayangnya, memang masih banyak warga non-sihir yang berpikir seperti itu.
“Kami tidak memiliki kewajiban untuk melayanimu.”
“Apa!?”
“Penyihir, sebagai keberadaan yang ada untuk melayani masyarakat dan tatanan publik, tidak diwajibkan untuk mengikuti keinginan dari seseorang yang tidak dikenal.”
Untuk melayani masyarakat dan tatanan publik adalah kalimat dari ‘Piagam Asosiasi Sihir Internasional’ yang diketahui semua orang bahkan para non-penyihir. Tentu saja, orang itu pasti juga mengetahuinya.
“Ka-kau dasar anak kurang ajar!”
Dengan reaksi seperti itu.
Orang itu berteriak kepada Ani.
Melihat mata Ani, yang menunjukkan rasa kasihan dan penghinaan.
Orang itu tersentak, dengan tatapannya.
“Kau sepertinya salah memahami sesuatu….. di negara ini, lebih dari 80% penyihir berasal dari keturunan asli. Walaupun kau memperhitungkan juga yang ikut dalam percobaan kecil, jumlah penyihir yang ‘dibuat’ secara biologis bahkan tidak sampai 20%.”
“Tatsuya.”
Walaupun biasanya dia tidak akan seperti itu, tapi orang yang menghentikan Ani adalah Okaa-sama.
Berbicara dengan suara lemasnya dari sofa, Okaa-sama memanggil nama Ani. Ani segera memalingkan pandangannya dari pria tersebut.
“Ada apa?”
“Pergilah keluar dan periksalah situasi di luar.”
Seperti biasa, Okaa-sama memberikan perintah dengan nada yang biasa digunakannya.
Tapi yang tidak biasa, Ani mengerutkan alisnya.
“…….Kalau aku keluar untuk melihat situasi, aku tidak bisa melindungi Miyuki dari jauh.”
“Miyuki?”
Dengan nada dingin, Okaa-sama memotong perkataan Ani. Matanya, dingin sekali, melotot.
“Tatsuya, apa kau lupa posisimu?”
Hanya nadanya saja yang masih halus; suaranya gemetaran seperti tubuhnya. Ani memanggilku Miyuki, karena aku yang memintanya. Tapi mendengar perintah halus Okaa-sama, aku jadi tidak bisa membelanya.
“Maafkan saya.”
Ani meminta maaf, dan tidak berbicara lebih banyak lagi.
“…….Tatsuya-kun, serahkan saja semua yang disini padaku.”
Memecah ketegangan itu, Sakurai-san angkat bicara.
Hilang ketertarikan, Okaa-sama lalu memalingkan pandangannya.
“Baiklah. Aku pergi dulu.”
Menunduk dihadapan Okaa-sama, dia segera meninggalkan ruangan.
Tentu saja, tidak mungkin mereka mengadakan festival diluar sana.
Dan tidak hanya suara tembakan saja yang makin dekat.
Suara langkah-langkah kaki juga makin mendekati ruangan, dan berhenti tepat diluar.
Sakurai-san melangkah maju didepanku dan Okaa-sama.
Gelang CADnya sudah dipenuhi psion, siap untuk meluncurkan sihir kapanpun.
Tidaklah mudah untuk mempertahankan sikap siaga untuk waktu yang lama seperti saat itu; Sakurai-san benar-benar luar biasa.
Aku hanya bisa melihatnya dari belakang, tapi dia mungkin sedang menatap pintu ruangan itu dengan tajam.
“Permisi! Saya PFC[3] Kinjou, pasukan kedua Angkatan Udara!”
Selagi tetap mempertahankan sikap siaganya, aku dapat mengetahui ketegangan Sakurai-san sedikit berkurang. Aku juga merasa tenang setelah mendengar suara dibalik pintu itu.
Sepertinya mereka adalah tentara dari pangkalan.
Empat tentara muda sedang berdiri dibalik pintu saat pintu itu dibuka. Mereka semua kelihatannya adalah generasi kedua Left Bloods, tapi aku tidak peduli dengan hal itu. Itu adalah hal yang biasa mengingat lokasi dari pangkalan ini.
Machine gun mereka masih panas mungkin karena terjadi baku tembak dengan musuh saat sedang menuju kesini.
“Kami disini ditugaskan untuk mengantarkan anda semua ke ruang bawah tanah. Semuanya, tolong ikuti kami.”
Aku sudah menduga mereka akan berkata seperti itu, tapi aku ragu dengan itu. Kalau aku pergi sekarang, aku akan terpisah dari Ani.
“Maafkan aku, tapi salah satu dari kami pergi untuk melihat situasi di luar.”
Sebelum aku sempat, Sakurai-san sudah terlebih dahulu mengatakannya.
Tentu saja, PFC itu mengerutkan keningnya,
“Tapi pasukan musuh sudah masuk hingga kedalam pangkalan. Akan berbahaya untuk tetap disini.”
Jawabannya juga sudah kuduga.
“Kalau begitu, tolong bawalah mereka saja bersamamu.
Namun, perkataan Okaa-sama benar-benar tak terduga.
“Aku tidak akan pergi begitu saja meninggalkan putraku.”
Sakurai-san dan diriku hanya bisa menatap satu sama lain saat mendengarnya.
Walaupun perkataannya adalah perkataan yang biasa dikatakan oleh seorang ibu, tapi rasanya ada yang aneh setelah mendengarnya.
“Tapi…….”
“Kau, Kinjou-kun bukan. Tolong pergilah dulu dan bawa mereka bersamamu, kami akan tetap disini.”
Pria yang tadi sempat berdebat dengan kami maju untuk melihat apa yang sedang terjadi, dan sekarang empat tentara itu mulai terlihat suram, dan mulai berbisik-bisik.
“……..Tentang Tatsuya-kun, bisakah kita menghubungi Kapten Kazama nanti dan memintanya untuk menyusul kita?”
Di tengah-tengah itu, Sakurai-san berbicara dengan Okaa-sama dengan suara kecil.
“Aku tidak khawatir tentang Tatsuya. Itu hanya untuk cari muka saja.”
Jawaban Okaa-sama kembali seperti biasa.
Aku dipaksa untuk menahan kakiku yang akan kuhentakkan setelah mendengarnya.
Bisa-bisanya Okaa-sama, pada anak kandungnya sendiri, membeda-bedakan seperti itu…..?
“Lalu mengapa?”
“Intuisi.”
“Intuisi?”
“Ya. Intuisiku mengatakan kalau mereka tidak bisa dipercaya.”
Dalam sekejap, kewaspadaan Sakurai-san meningkat sampai puncak.
Aku juga segera lupa akan kegeramanku tadi.
Intuisi Okaa-sama, membuatnya mendapat julukan Penguasa dari Sungai Kelalaian ‘Nyonya dari Lethe[4]’.
Sihir khusus Okaa-sama bukanlah sebuah persepsi maupun sihir prediksi, tapi sihirnya adalah Sihir Penganggu Mental, dan karena pengguna sihir ‘mental’ terhipnotis hingga dekat dengan yang namanya ‘Akashic Record’[5], mereka memiliki intuisi yang tinggi…… walaupun juga ada pengecualian, seperti diriku.
Disaat itu, empat tentara itu juga sudah selesai berunding.
“Kami minta maaf, tapi kami tidak bisa meninggalkan anda diruangan ini. Tolong bertindaklah dengan tanggung jawab dan ikutlah dengan kami.”
Perkataannya sama seperti sebelumnya.
Tapi, perasaan kalau sikap mereka sudah berubah, tentu saja hanya persepsiku saja ‘kan?
“Dick!”
Seorang karakter baru muncul membawa perkembangan pesat pada masalah ini.
PFC Kinjou, mendengar suara itu, segera menembak ke arah sumber suara itu, Kopral Higaki.
Tidak ada jendela sama sekali di koridor jadi aku tidak tahu apa dia terkena tembakan itu, tapi yang baru saja adalah suara Kopral Higaki, dan tentu saja orang yang berusaha ditembak oleh PFC Kinjou adalah dia.
Keluarga Pria itu mulai berteriak-teriak.
Rekan-rekan PFC Kinjou segera menyebar didalam ruangan, dan siap untuk menembak.
Melihat itu Sakurai-san segera mengaktifkan rangkaian sihir, tapi sebuah ‘suara’ mendadak berdengung dikepalaku, seperti suara gelas yang tercakat, dan konstruksi sihir itu segera hancur.
Ini, gelombang psion? Cast Jamming!?
Sambil menutup telingaku dan melihat sekitar, aku melihat salah satu dari mereka mengenakan sebuah cincin kuningan.
Okaa-sama sedang memegangi dadanya dan terbaring lemas!
Ini tidak bagus…….!
Sejak awal, Okaa-sama memiliki kesensitifitasan terhadap psion. Mengingat dia sudah tidak muda lagi, dan karena itu ketahanannya terhadap gelombang psion sudah menurun.
Gelombang psion dari Cast Jamming itu sekarang memperburuk kondisi tubuh Okaa-sama.
Aku harus menghentikannya!
“Dick! Al! Mark! Ben! Mengapa?”
Saatanganku masih menutup telingaku, aku mendengar suara Kopral Higaki.
Syukurlah, jadi dia tidak terkena tembakan itu….
“Mengapa kau mengkhianati kami!?”
“Joe, mengapa kau begitu setia dengan Jepang!”
Diantara suara baku tembak itu, aku berpikir, jadi machine gun juga bisa menembak hanya satu peluru saja, walaupun sejujurnya aku agak ceroboh saat ini. PFC Kinjou berteriak balik.
“Apa kau sudah lupa, Dick! Bukankah Jepang adalah tanah air kita!”

“Lihatlah bagaimana Jepang memperlakukan kita! Walaupun kita bergabung dalam militer, walaupun kita bekerja demi Jepang, kita tetap saja merupakan ‘Left Blood’ bagi mereka! Kita tetaplah saja orang asing, tidak peduli sampai kapanpun!”
“Kau salah! Dick, itu hanya perasaanmu saja! Orang tua kita memanglah orang asing. Dibandingkan dengan mereka yang sudah tinggal disini bertahun-tahun, sudah pasti mereka memperlakukan kita sebagai orang asing! Tapi militer! Pasukan! Atasan dan rekan kita, memperlakukan kita seperti keluarga mereka! Menerima kita sebagai teman!”
“Joe, itu karena kau penyihir! Karena mereka menganggapmu bernilai, militer memperlakukanmu dengan baik!”
“Dick, apa kau benar-benar berpikir seperti itu? Apa kau benar-benar mengatakan kalau karena kau Left Blood kau diperlakukan sebagai orang asing, dan sebagai seorang penyihir kehidupanku berbeda dari kalian? Aku juga rekanmu, Dick!”
Suara baku tembak itu berhenti.
Dan, gelombang psion Cast Jamming itu mulai melemah.
Ini waktunya!
Melihat kesempatan ini, si pengguna Antinite sebenarnya adalah seorang non-penyihir. Hanya karena kau menyerang kami dengan gelombang psion, dan menggunakan Cast Jamming yang kau sendiri tidak kuasai, kau pikir hal seperti itu bisa menahanku, kandidat dari kepala keluarga Yotsuba selanjutnya, itu adalah kesalahan besar!
Aku tidak bisa menggunakan CAD. Akan makan waktu banyak untuk mengaktifkan rangkaian aktivasinya.
Karena itu satu-satunya sihir yang bisa kugunakan, adalah itu.
Sihir Pengganggu Mental yang kuwarisi dari Okaa-sama.
Berbeda dari sihir Okaa-sama, yang mengganggu struktur mental, tapi seperti sihir Okaa-sama, sihirku bekerja pada pikiran target.
Ini adalah sihir yang akan membekukan jiwa mereka.
Jadi agar tidak melibatkan orang lain terkena efeknya, aku hanya mentarget orang yang menggunakan Antinite.
Dan mengaktifkan sihir mentalku, ‘Cocytus’.
Cast Jamming itu terhenti seketika.
Aku juga tahu kalau orang juga sudah ‘berhenti’.
Dia adalah orang ketiga yang pernah ‘kuhentikan’ seperti ini.
Mereka tidak terbunuh, tapi pikiran mereka membeku dan tidak akan pernah meleleh lagi, yang membuat mereka tidak akan pernah bisa bergerak lagi; sama seperti mati.
Untuk menahan rasa bersalahku, aku hanya bisa menggertakkan gigiku.
Selagi aku melakukan itu, waktu-waktu berharga terbuang sia-sia.
Itulah kelemahanku.
Bagiku, hasil seperti ini sudah cukup.
Aku tahu kalau dia tidak sendirian.
Aku tahu ada beberapa senapan yang siap menembak kami.
Saat Sakurai-san mengaktifkan sihirnya, pelatuk itu ditarik juga disaat yang sama.
Sihir Sakurai-san kalah cepat.
Sekali sapuan machine gun itu menerjangku, Okaa-sama, dan Sakurai-san, kami tertembak di sekujur tubuh.
Luka-lukaku,
Tidak terlalu sakit,
Panas.
Seluruh tubuhku,
Dingin.
Aku sadar kalau yang mengalir keluar dari tubuhku tidak hanya darah, tapi juga nyawaku.
Aku, akan mati………..
Aku selalu berpikir kalau seseorang akan mati dia seharusnya merasa seperti menyesali sesuatu atau mengingat kembali kenangan-kenangannya, tapi secara mengejutkan aku tidak seperti itu.
Kalau saja ada yang kusesalkan, adalah aku yang tidak bisa meminta maaf kepada orang itu.
Kalau saja aku tidak ada, orang itu pasti akan memiliki hidup yang normal.
Dia pasti akan bebas.
Maafkan aku, Nii-san.
Maafkan aku, Onii-sa……
“Miyuki!”
Aku mendengar sesuatu.
Aku berpikir tentang Ani, jadi pikiranku sekarang dipenuhi dengan suara Ani yang memanggilku, kupikir.
Maksudku, tidak mungkin Ani akan memanggilku dengan perasaan seperti itu, dengan suara yang begitu putus asa.
Seolah-olah dia tidak ingin merelakan kepergianku.
Aku mencoba untuk membuka mataku dengan kesusahan, dan disambut oleh pemandangan dari langit mendung, tembok yang sudah tidak ada, para pemberontak yang juga sudah tidak ada, dan, Ani, dengan tangan kirinya yang menahanku.
Ada ‘sesuatu’ yang sangat luar biasa keluar dari tangan kiri Ani.
Hal itu memenuhi tubuhku, dan dengan mudah masuk dalam ‘Benteng Data’ku, dan mengalir didalamku.
‘Hati’ Ani menyelimutiku.
Aku tidak bisa memikirkan cara lain untuk menggambarkannya.
Hal itu membaca semua tubuhku, dan membuat semuanya seperti baru.
Tubuhku, ‘diriku’ sendiri, sedang dibuat ulang.
Oleh keinginan Ani, oleh kemampuan Ani.
Hanya menyebutnya sihir tidak bisa menjelaskan kekuatannya, kelembutannya, yang kuat tapi tetap lembut.
Tidak, tidak diragukan lagi, ini adalah ‘sihir’.
Aku merasa seperti melihat Dewa Kematian, dari kejauhan, pergi menjauh.
Tampak tak bisa berbuat apa-apa dan jengkel.
Tentu saja, itu hanyalah halusinasiku.
Dewa Kematian yang kulihat di halusinasiku tampak seperti manusia, dan tanpa pikir panjang, aku tertawa kecil.
Tidak ada lagi sensasi darah yang mengalir di tenggorokanku.
“Miyuki, apa kau tidak apa-apa!?”
Wajah khawatir Ani memenuhi seluruh pandanganku.
Untuk pertama kalinya aku melihat emosi seperti ini di wajah orang itu.
“Onii-sama……..”
Untuk alasan tertentu, kata itu keluar sendiri dari mulutku.

Rasanya tidak ada yang aneh sama sekali.
“Syukurlah………!”
Tidak apa-apa bagiku untuk gemetaran, apalagi tersipu.
Maksudku, orang itu sedang memelukku dengan erat.
Tapi dengan tak tahu malu aku merasa kalau aku memang seharusnya berada di pelukan Onii-sama, seolah-olah hal itu sudah biasa.
Pasti itu alasannya, mengapa saat Onii-sama memelukku, aku secara refleks menarik ujung lengan bajunya.
Onii-sama melihatku dengan matanya yang terbuka lebar, lalu sambil menenangkan dirinya, tangannya menahan kepalaku.
“Ah…..”
Tanpa kusadari, suaraku keluar.
Menjawab senyuman yang diberikan Onii-sama, lalu memalingkan pandanganku seolah-olah sedang tersipu, wajah Onii-sama kembali seperti biasa.
Dia tidak memiliki ekspresi bukan karena tidak memiliki perasaan, tapi karena konsentrasinya yang terlalu terpaku pada suatu hal.
Seolah-olah dia sedang mengingat sesuatu dengan keras.
Di depan matanya, ada Okaa-sama dan Sakurai-san, yang sedang diambang kematian.
“Onii-sama!”
Tanpa menjawabku, atau mungkin karena terlalu fokus dia tidak bisa menjawabku, Onii-sama menarik keluar CAD dengan tangan kirinya
Gelombang psion kuat berputar-putar tubuh di seluruh tubuh Onii-sama.
Onii-sama sedang membentuk Penampung Informasi Psion yang dapat menampung jumlah data yang tak terhitung banyaknya.
Jari telunjuknya lalu menarik pelatuk CADnya.
Pemandangan itu terlihat seolah-olah tubuh Okaa-sama sedang ditarik kedalam tangan kiri Onii-sama.
Tentu saja itu hanyalah ilusi belaka.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi aku tahu apa yang sedang terjadi.
Aku dapat menebaknya dengan benar, karena hal yang sama juga terjadi padaku.
Onii-sama membaca semua data dari tubuh Okaa-sama, menyalinnya kedalam area pemrosesan sihirnya, dan setelah itu menimpanya dengan data tubuh Okaa-sama saat itu.
Seluruh bekas luka tembakan itu menghilang.
Semua darah yang terpercik di lantai dan bajunya juga menghilang.
Dengan cepat, aku langsung berlari menuju Okaa-sama.
Walaupun dia terlihat pucat, tapi dia masih bernafas.
Keadaannya sama seperti saat dia sebelum tertembak….. tidak, sihir itu….. membuatnya seperti tidak tertembak sama sekali?
Onii-sama lalu menghadapkan CADnya pada Sakurai-san.
Dengan kecepatan yang sama seperti pada Okaa-sama, dia dengan cepat dan mulus membentuk Penampung Informasi Psion untuk Sakurai-san.
Apa dia sudah terbiasa melakukannya……?
Hanya dengan melakukannya tiga kali saja, Onii-sama sudah dapat menguasai sihir tingkat ultra-tinggi yang dapat memulihkan tubuh seseorang sepenuhnya.
Aku terkejut melihatnya, tapi disaat yang sama didalam hatiku aku merasa kalau ini adalah hal yang biasa.
Maksudku, lagipula orang itu adalah Onii-sama.
Dadaku dipenuhi rasa bangga.
Semua kekhawatiranku, hilang tertiup angin.
Dengan wajah seperti mengatakan ‘aku tidak percaya’, Sakurai-san melihat sekujur tubuhnya. Okaa-sama masih belum tersadarkan, tapi nafasnya sudah stabil. Dia tidak pingsan tetapi hanya sedang tidur saja, kata tim medis yang segera mendatangi kami setelahnya, dan aku merasa sangat lega mendengarnya.
“Maafkan aku. Semua kekacauan yang terjadi adalah salahku sepenuhnya. Aku tahu kalau ini tidak akan mengubah apa-apa, tapi kalau ada yang kau inginkan, katakan saja. Sebagai seoarang tentara dari Departemen Pertahanan Nasional, akan memberikannya semampuku.”
Onii-sama, disampingku, sedang menghadap Kapten Kazama.
Melihat tundukan Kapten, dia berkata ‘angkatlah kepala anda’.
Sepertinya alasan mengapa Onii-sama bisa sampai di detik-detik terakhir adalah berkat bantuan dari Kapten Kazama dan Letnan Sanada. Pemberontak itu sebenarnya bermaksud menjadikan kami sebagai sandera, tapi aku tidak lupa kami bisa lolos berkat adanya intervensi dari Kopral Higaki. Target mereka sesungguhnya adalah pria itu, dan kami sebenarnya hanya terseret situasi saja. Itu berarti pihak militer, bertanggung jawab atas kematian kami, karena mencampurkan kami seruangan dengan pria itu. Dan juga tidak bisa disangkal kalau waktu yang diberikan Higaki-san sangatlah berguna, berkat waktu itu Onii-sama bisa sampai tepat waktu.
Tapi, kalau saja tidak ada Onii-sama, maka tidak diragukan lagi Okaa-sama, Sakurai-san, dan aku pasti sudah mati.
Sejujurnya, hal itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Kalau begitu yang pertama, tolong beritahukan kepada kami keadaannya.”
Aku tidak ingin meminta apapun.
Maafkan aku, tapi aku juga tidak akan membiarkan Sakurai-san untuk mengambil kesempatan itu.
Walaupun nanti Okaa-sama sadar, aku pun juga harus menghalanginya.
Hak ini hanyalah milik Onii-sama sendiri.
“Apa musuh kita adalah Great Asian Alliance?”
“Kami masih belum punya bukti konkretnya, tapi kemungkinan besar memang seperti itu.”
“Berita bahwa militer berhasil menahan mereka di pantai itu bohong, bukan?”
“Betul sekali. Di Pantai Barat Nagoshi, kapal selam musuh sudah berhasil berlabuh di pantai.”
……Jadi kapal selam waktu itu dipersiapan untuk ini?
“Angkatan Laut musuh sudah memegang kendali atas pulau Kerama. Karena itu, dari Naha hingga Nago, para gerilyawan musuh saat ini sedang menahan pergerakan pasukan militer kami.”
…….Itu kedengarannya sangat buruk.
“Tapi kita belum kalah sepenuhnya. Jumlah para gerilyawan itu tidaklah banyak. Kami sudah memegang kembali kendali sebanyak 80% dari daerah musuh. Para pemberontak dalam pasukan juga akan segera dihentikan.”
“Kegunaan para gerilyawan tersebut hanyalah untuk mengulur waktu bagi berlabuhnya kapal mereka yang sudah selesai, jadi mereka pasti akan diabaikan. Seperti membuang sampah, aku yakin kalau Great Asian Alliance tidak peduli dengan kekalahan mereka.”
Mendengar kesimpulan Onii-sama, wajah Kapten Kazama berubah masam.
“Selanjutnya, tolong lindungi ibuku, adikku, dan Sakurai-san di tempat yang aman. Kalau bisa, tempat yang lebih aman dari penampungan ini.”
“……Kami akan membawa mereka menuju ke Pusat Komando Angkatan Udara. Pelindung ruangan itu dua kali lebih tebal dari yang ada di tempat penampungan.”
….Aku tersinggung mendengarnya. Ruangan Pusat Komando yang digunakan oleh militer dibangun lebih aman daripada tempat penampungan yang mereka bangun untuk tempat evakuasi warga sipil. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, lagipula ini adalah markas militer, jadi tidaklah aneh jika seperti itu.
“Terakhir, tolong pinjamkan aku Baju Pelindung dan senjata. Juga, aku mengatakannya pinjam, tapi aku tidak akan bisa mengembalikannya dengan utuh kepada kalian.”
“….Untuk apa?”
Aku juga tidak tenang setelah mendengar permintaan itu.
Untuk apa, Onii-sama?
Dan mengapa kau tidak menyebut namamu juga di permintaan keduamu?
Melihat mata Onii-sama, aku mencoba untuk menerka maksud sesungguhnya, dan aku terkejut.
Dalam matanya, ada api kemarahan yang membara. Membakar semua hal.
“Mereka sudah berani menyentuh Miyuki. Maka mereka akan mendapat akibatnya.”
Diantara semua orang yang merinding mendengarnya, Kapten Kazama berusaha keras untuk menutupi kekagetannya.
“Apa kau bermaksud untuk pergi sendirian?”
“Ini bukanlah sebuah operasi militer. Ini hanyalah masalah pribadi.”
“Aku tidak terlalu memerdulikan itu. Mustahil rasanya bagi manusia untuk berperang tanpa mengikutkan emosinya. Bahkan dalam pertarungan balas dendam, asalkan masih terkendali, maka tidak ada masalah.”
Mata Onii-sama dan Kapten Kazama bertemu.
Daripada disebut seperti itu, labih tepat kalau mereka saling melihat satu sama lain.
“Kami tidak akan memperbolehkan adanya pembunuhan kepada para non-kombatan dan pihak yang menyerah, tapi aku yakin kau tidak akan seperti itu bukan?”
“Aku tidak bermaksud untuk membiarkan mereka menyerah.”
“Kalau begitu tidak apa-apa. Misi kami adalah mengusir mereka. Tidak perlu membuat mereka untuk menyerah.”
Kapten Kazama adalah tipe orang yang berbeda dari Onii-sama, tapi pemikirannya segera dapat sejalan dengan Onii-sama.
“Shiba Tatsuya-kun. Kami menerimamu sebagai pasukan kami.”
Onii-sama, tidak menunjukkan rasa terima kasih sama sekali.
“Aku tidak berencana sama sekali untuk mengikuti perintah militer. Apa yang kulakukan, dan tujuanku, berbeda dengan kalian. Tapi kita memiliki musuh yang sama, dan karena seperti itu, mari kita bertarung bersama-sama.”
Seperti sebuah pedang, hawa disekitar Onii-sama terasa dingin, tajam, dan tanpa ampun….. Aku hanya bisa terkagum-kagum, melihat Onii-sama yang seperti itu.
“Baiklah kalau begitu. Sanada, carikan baju pelindung dan senjatanya baginya! Semua pasukan, kita berangkat jam 10!”
“Sakurai-san, tolong jaga ibu dan adikku.”
Sambil berdiri, Onii-sama berkata seperti itu kepada Sakurai-san, lalu tanpa menunggu jawabannya, ia langsung pergi mengikuti Letnan Sanada.
Waktu itu, senyuman tulusnya yang ditunjukkan kepadaku pastinya bukanlah sebuah ilusi.
◊ ◊ ◊
“Um, apa kau yakin dengan ini?”
Saat aku melihat punggung Onii-sama berjalan menjauh, Sakurai-san menoleh padaku dan mulai berbicara.
“Apanya?”
Sepertinya, seolah-olah pikiranku sedang disabotasi; aku tidak bisa mengalihkan perhatianku sedikit pun.
“Seberapa hebatnya Tatsuya-kun, sampai-sampai ikut berperang….. walaupun tidak sampai garis depan, itupun sudah berbahaya bukan?
“!”
Bisikan Sakurai-san, terdengar di telingaku seperti sebuah alarm jam.
Itu benar! Apa yang kupikirkan sampai-sampai aku membiarkannya pergi? Onii-sama akan pergi berperang!
“Miyuki-san!?”
Suara Sakurai-san terdengar dari belakang saat aku berusaha mengejar Onii-sama.
Suaranya makin lama makin kecil.
Dia tidak bisa meninggalkan Okaa-sama sendirian.
Maafkan aku.
Aku meminta maaf kepadanya didalam hatiku.
Rasanya sakit sekali harus meninggalkan Okaa-sama, tapi sekarang, aku harus menghentikan Onii-sama!
Aku berlari dengan hal itu berputar-putar dipikiranku.
Untunglah, dia belum pergi jauh, dan aku masih bisa mengejarnya tanpa tersesat sedikitpun.
“Onii-sama!”
Dia mungkin tidak akan menengok kebelakang. Ada sebuah ketakutan yang muncul di pikiranku tapi itu sekarang tidak penting.
Onii-sama sedang berbicara dengan Letnan Sanada didepannya, lalu berhenti dan menengok ke belakang.
Sanada-san juga ikut berhenti. Dia mungkin melakukan karena melihat Onii-sama berhenti.
“Ada apa, Miyuki?”
Mendengarnya memanggilku ‘Miyuki’, membuatku melamun lagi, tapi bukan saatnya untuk itu.
“Onii-sama, um.”
Aku mendadak merasa kalau aku seharusnya tidak mengatakannya, dalam kondisi seperti, berkata kepadanya ‘tolong jangan pergi’ lagi dan lagi.
Itu sudah terlalu jauh seperti apa yang dikatakan seorang heroine saat akan mencoba untuk menghentikan kekasihnya di sebuah film romantis (atau novel atau manga atau apapun) atau semacamnya.
Hal itu juga pasti akan membawa-bawa kesan seperti ‘cinta terlarang antara adik dan kakak’.
“Miyuki?”
Selagi aku hanya terdiam tak bisa berkata-kata, Onii-sama melihatku dengan kebingungan.
Pipiku pasti merah sekali.
“……To-tolong jangan pergi.”
Walau begitu, aku tetap mengatakannya. Aku harus menghentikannya.
“Tolong jangan lakukan sesuatu yang berbahaya seperti itu. Aku yakin tidak ada gunanya bagi Onii-sama untuk melakukan hal seperti itu.”
Aku mengatakannya…….!
Merasa aku telah berhasil, aku merasa ‘seharusnya itu sudah cukup’.
Untuk membuat Onii-sama kembali, untuk membuatnya mundur, itulah pikirku.
“Tentu saja, tidak ada gunanya bagiku. Aku tidak ikut berperang karena sesuatu itu berguna atau tidak, tapi karena aku ingin, Miyuki.”
Itu merupakan jawaban Onii-sama yang membuatku terkejut.
Kaget dengan penolakannya tersebut, dan terkejut dengan perkataannya yang secara tidak langsung mengatakan kalau dia ingin membunuh orang.
Tapi tubuhku, daripada mundur dan kembali, aku semakin mengejarnya dan memegangi lengan bajunya.
Dengan senyumannya, dia memegang tanganku, dan dengan lembut melepaskan tanganku dari bajunya.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku akan balas dendam terhadap orang yang sudah melukaimu.”
Melihat mataku, ekspresi Onii-sama agak malu.
“Bukan demi kepentinganmu, tapi demi perasaanku sendiri.”
Selagi mengatakannya, pupil Onii-sama..
“Kalau aku tidak pergi, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang.”
Terlihat seperti berkata kalau semuanya demi kepentinganku.
“Bagiku, satu-satunya yang kurasa berharga hanyalah dirimu, Miyuki.”
Itu bukan salahku.
“Maafkan aku menjadi seorang kakak yang egois.”
Itu tidak sesuai dugaanku.
Onii-sama dengan halus melepaskan peganganku, dan tertawa selagi mempertahankan ekspresi malunya.
Seluruh wajahku pasti sudah merah.
Tapi, merasakan ada yang aneh dari perkataan Onii-sama, aku mengerutkan keningku.
“Dia bisa merasakan sesuatu, yang berharga…..?”
Baru saja Onii-sama tidak menyebut ‘berharga’, tapi ‘yang kurasa berharga’ bukan?
Perbedaannya memang kecil, dan mungkin maknanya juga tidak terlalu berbeda tapi…..untuk alasan tertentu, aku merasa gelisah memikirkannya.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulutku, Onii-sama hanya bisa tertawa seperti mengatakan ‘ketahuan’.
Ekspresinya terlihat seperti sedang tertawa tapi juga menangis.
Tidak seperti air mata, belum lagi aku juga belum pernah melihat Onii-sama menangis, tapi entah bagaimana aku dapat merasakan kalau Onii-sama dipenuhi rasa sakit dan kesedihan.
“Maafkan aku!”
Jadi aku meminta maaf kepadanya. Aku sudah berjanji kalau aku tidak akan membuat Onii-sama sedih lagi, dan lagi-lagi aku….. selagi memikirkannya, aku menunduk kepalaku.
Kedua tangannya memegang pipiku. Tangan Onii-sama, kurus tapi lebih besar dan dariku.
Tangannya dengan lembut mengangkat kepalaku, dan aku melihat keatas.
Tidak ada kekuatan didalamnya, tapi aku tidak bisa menolaknya. Sebaliknya, lebih cepat daripada yang bisa ditahan kepalaku, tubuhku mengikuti keinginan Onii-sama.
“Tidak….. aku rasa ini sudah waktunya bagimu untuk mengetahuinya. Kalau bisa, aku ingin kau untuk tidak mengetahuinya tapi….. Karena kau anak ibu, dan keponakan orang itu, hal ini rasanya tidak akan terlalu mempengaruhimu.”
Perkataan Onii-sama itu ditujukan kepadaku, tapi terasa seperti dia tidak sedang berbicara denganku, tapi mengingatkanku.
“Onii-sama?”
“Tidak ada waktu lagi sekarang, dan aku tidak yakin kalau kau harus mendengarnya dariku. Jadi Miyuki, tanyalah kepada Okaa-sama. Jawaban dari pertanyaanmu ada disana.”
“Dari Okaa-sama…….?”
Aku yang mendapat ketidakpastian seperti itu, hanya bisa mengulang kembali perkataannya, Onii-sama lalu tersenyum sekali lagi, kali ini senyumannya begitu dalam.
“Miyuki, jangan khawatir. Kau sangatlah berharga bagiku. Karena itu, agar aku bisa melindungimu terus, aku pasti akan kembali dengan selamat.”
Aku tidak merasakan adanya kebohongan sedikitpun dari kalimat Onii-sama.
Aku tidak merasa kalau perkataannya hanya untuk menenangkanku saja.
“Aku akan baik-baik saja.”
Sambil tersenyum, pandangannya tetap tertuju kedepan, seolah-olah itu adalah hal yang pasti.
“Tidak ada didunia ini yang bisa melukaiku.”
Aku percaya tidak ada seorangpun yang dapat membahayakan Onii-sama.
Onii-sama melepaskan tangannya dari pipiku menuju ke kepalaku, dan membelai rambutku.
Dia sedang membelai rambutku sampai-sampai rambutku sedikit acak-acakan, tertawa sebentar, lalu kembali mengikuti Letnan Sanada.
Kali ini, untuk pertama kalinya, Onii-sama pergi ke medan tempur.
◊ ◊ ◊
Lalu, seperti yang kalian duga, aku tidak tahu sama sekali jalan menuju ke Ruang Komando.
Aku tidak punya pilihan lain selain kembali ke ruangan tadi.
Ngomong-ngomong, bagaimana tembok-tembok itu bisa hilang?
Onii-sama dan Sakurai-san mengatakan kalau ada pelindung penghalang sihir yang dipasang, itu berarti kemungkinannya kecil kalau pelindung itu dihancurkan oleh sihir, tapi ada yang kelihatan sangatlah susah untuk dibayangkan.
Walaupun aku sangat yakin kalau mereka tidak mungkin meninggalkanku, aku tetap tidak bisa menghilangkan kegelisahan ini sambil berlari menuju ruangan itu.
Ah……
“Maaf sudah membuatmu menunggu.”
Pertama-tama aku meminta maaf kepada Okaa-sama, yang menyambutku.
Sama pentingnya dengan memulihkan kekuatannya, tidak mungkin dia bisa dibawa dengan tandu bagitu saja, jadi jika dipikir-pikir, wajar saja kalau dia terbangun.
Karena keinginanku yang egois dan aku yang meninggalkan Okaa-sama, membuat mereka terpaksa menunggu, aku meminta maaf untuk menghindari kemarahan Okaa-sama, tapi akumemang merasa bersalah.
“Tidak perlu meminta maaf, Miyuki-san. Kau pergi untuk menghentikan Tatsuya melakukan sesuatu semaunya sendiri, bukan?”
Okaa-sama menjawab dengan senyuman di wajahnya.
Uu…. Dia marah besar…..
“Jadi, Tatsuya pergi kemana? Aku tidak melihatnya.”
“Itu, um….. Onii-sama pergi membantu militer melawan musuh.”
“Onii-sama?”
Okaa-sama mengangkat alisnya.
Secara refleks dalam hati aku berkata ‘oh sial’, tapi aku tidak merasa butuh untuk memperbaiki cara bicaraku.
Okaa-sama juga tidak menegurku.
Daripada menegurku, dia hanya menghela nafas panjang.
“Melakukan hal semaunya sendiri seperti biasa….. anak itu memang benar-benar tidak berguna.”
Kata-katanya tidak mencelanya, tapi membuangnya.
Bukan tidak mengakuinya, tapi mengabaikannya.
Aku bahkan tidak perlu bertanya kepadanya.
Alih-alih marah, aku merasa takut.
Bagi seorang ibu sampai-sampai membeda-bedakan anaknya sendiri seperti itu.
“Ya, terserah. Kali ini sepertinya apa yang dia lakukan memang berguna, jadi biarkan saja dia berbuat semaunya….. Terima kasih telah menunggu. Tolong antarkan kami sekarang.”
Okaa-sama berbicara kepada tentara yang sudah menunggu untuk memandu kami.
Tidak, ini bukan masalah ‘berguna’ atau tidak.
Satu-satunya alasan aku masih hidup, satu-satunya alasan mengapa Okaa-sama selamat, adalah karena Onii-sama.
Tapi aku memang tidak bisa menyangkal perkataan Okaa-sama.
Untuk memasuki Ruangan Komando, kami sudah melewati lima blast door[6].
Diruangan yang luasnya kira-kira sebesar empat ruang kelas tanpa jendela ini, ada sekitar 30 operator yang sedang duduk di depan tiga baris konsol, sementara itu diseberang sana ada sebuah layar besar di dinding.
Kami lalu dipandu masuk kedalam suatu ruangan dengan kaca yang besar di temboknya.
“Aku tidak merasakan adanya satupun kamera pengawas ataupun perekam suara disini. Tampaknya ini adalah ruangan yang biasanya digunakan oleh para pejabat tinggi dari Kementerian Pertahanan saat melakukan inspeksi.”
Setelah melihat-lihat ruangan, Sakurai-san mengatakan hal seperti itu kepada Okaa-sama.
Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan hal seperti itu, tapi pengamatannya selalu berguna nanti.
Itu berarti kita bisa membicarakan rahasia disini.
“Kaca yang ada didepan kita bukanlah kaca biasa juga. Kaca itu sama seperti milik Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo. Kaca itu mampu menampilkan apapun yang muncul di layar ruangan Pusat Komando.”
Sakurai-san berkata seperti itu selagi mengoperasikan konsol yang ada.
“Okaa-sama, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
Disaat seperti ini, aku memutuskan untuk mengambil risiko, dan bertanya pada Okaa-sama tentang apa yang dikatakan Onii-sama sebelumnya.
“Tadi, Onii-sama mengatakan satu-satunya hal yang dirasanya berharga adalah diriku, tapi…. Saat aku bertanya mengapa dia mengatakannya ‘kurasa berharga’, dan dia menyuruhku untuk menanyakannya kepada Okaa-sama, jadi…..”
“Aku mengerti. Jadi Tatsuya berkata seperti itu.”
Mendengarkan pertanyaanku dengan wajah yang tidak senang, Okaa-sama menjawabnya dengan ekpresi bosan.
“Aku rasa ini juga sudah waktunya bagimu untuk mengetahuinya.”
Onii-sama juga mengatakan hal yang sama. Aku langsung merasa tegang, hanya dengan memikirkannya.
“Tapi, sebelum itu…… Miyuki-san, berhentilah memanggil Tatsuya dengan ‘Onii-sama’. Aku benar-benar tidak mempermasalahkannya kalau itu di tempat publik, tapi saat sedang bersama Yotsuba, kau tidak seharusnya memperlakukan Tatsuya seperti kakakmu.”
Okaa-sama tidak menegurku dengan keras, tapi dia seolah ingin membuatku tenang dengan kebenaran tak terbantahkan itu.
“Kau adalah penerus dari Maya yang akan menjadi kepala Keluarga Yotsuba selanjutnya. Kalau ada yang melihatmu bergantung pada kakakmu yang merupakan sebuah produk gagal, suatu saat hal itu akan merugikanmu.”
Bisa-bisanya kau bicara seperti itu…….!”
Aku secara tidak sadar lupa untuk menahan diri, dan dengan kasar menegur Okaa-sama.
Selagi ketegangan makin meningkat, tidak peduli apapun yang dikatakan Okaa-sama aku tetap tidak akan membiarkannya tidak terjawab.
“Menyebut anakmu sendiri sebagai produk gagal seperti itu!”
“Aku memang menyayangkannya, tapi fakta itu tak terbantahkan.”
“Itu tidak benar! Dengan kekuatannya, Onii-sama menyelamatkanku.!”
“Hal seperti itu tadi? Memang benar, kalau sampai dia tidak bisa melakukan sihir setingkat itu…. tetap saja, hanya itulah yang bisa dilakukannya.”
Okaa-sama menjawab dengan suara yang lebih dingin dari yang pernah kudengar sebelumnya, saat menjawab tentanganku.
Suaranya seperti seseorang yang sudah tidak punya harapan lagi.
“Kalau Tatsuya samapi memintamu untuk menanyakannya padaku, maka akan keberitahu. Darimana mulainya…..”
Saat Okaa-sama sedang berpikir keras, tanpa peringatan sebelumnya, layar ruangan itu menampilkan sesuatu.
Operator yang sedang mengoperasikannya merubah sudut pandangnya menjadi sudut pandang burung yang sedang melihat kebawah.
Pada saat itu aku melihat Onii-sama, yang baru saja turun dari langit.
Aku melihat pada orang yang menyalakannya, Sakurai-san.
Sakurai-san melihatku tanpa mengatakan apa-apa, melihatku dan Okaa-sama.
Dari pandangannya dia mengatakan kalau dia tidak akan berkata satu kata pun.
Aku juga mengerti mengapa dia tahu banyak yang hal yang tidak kuketahui.
Okaa-sama tidak terlalu melihat ke arah layar yang sekarang sedang menampilkan Onii-sama.
“Tatsuya terlahir sebagai seorang penyihir yang gagal.”
Okaa-sama juga tidak melihat kearahku saat berbicara.
“Bukan berarti aku merasa bertanggung jawab memiliki anak seperti itu, tapi yang pasti adalah Tatsuya tidak punya harapan sebagai seorang penyihir.”
Dia tidak menutup-nutupi fakta tersebut.
“Sejak awal dia lahir, Tatsuya hanya bisa menggunakan dua tipe ‘sihir’. Dekomposisi Eidos, dan rekonstruksi Badan Informasi. Dengan dua sihir tersebut Tatsuya berhasil menghasilkan banyak teknik-teknik yang dapat digunakannya, tapi bagaimanapun kau melihatnya, mustahil untuk menyebutnya sebagai seorang penyihir, hanya dengan kedua sihir itu saja.”

 Matanya penuh dengan kekosongan.
“Sihir adalah teknik yang dapat memodifikasi sebuah Badan Informasi, dan dengan itu bisa merubah suatu fenomena. Namun masalahnya adalah, untuk dapat melakukan perubahan itu butuh yang namanya sihir. Tapi Tatsuya tidak memilikinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah merusak sebuah Badan Informasi, dan membangunnya lagi seperti semula. Ini bukanlah sihir yang sebenarnya. Anak itu, lahir tanpa talenta untuk menggunakan sihir ataupun memodifikasi sebuah Badan Informasi, tak diragukan lagi orang seperti itu adalah seorang penyihir gagal.”
Mungkin, apa yang dikatakan Okaa-sama, berasal dari hatinya……..
“Yah, kemampuan membangun ulang Badan Informasi miliknya pada akhirnya memang menyelamatkan kita, tapi tetap saja itu bukanlah ‘sihir’.”
Aku tidak bisa menyangkal perkataannya.
Tapi, aku rasa.
Kalau itu bukan sihir, jadi apa, kekuatan itu harus disebut apa.
Kalau harus diberi nama selain ‘sihir’, maka yang cocok untuk menggambarkannya adalah ‘mukjizat’?
“Tapi, kami Yotsuba merupakan anggota Sepuluh Master Clan, dan karena itu jika ada salah satu dari Yotsuba yang tidak bisa menggunakan sihir. Maka anak itu, tidak bisa hidup sebagai Yotsuba. Jadi Maya dan aku, tujuh tahun yang lalu, mencoba melakukan operasi padanya. Walaupun sejujurnya, alasan dibalik operasi itu bukan hanya itu saja……..”
Eksperimen? Okaa-sama kepada Onii-sama?
“Proyek Penyihir Buatan. Sebuah rencana untuk menanamkan pada kesadaran seseorang yang bukan penyihir, untuk menghasilkan seorang manusia hasil eksperimen yang memiliki kemampuan sihir.”
Proyek Penyihir Buatan, perkataan itu terasa panas ditelingaku.
“Hasil dari operasi rekonstruksi mental tersebut, anak itu berakhir kehilangan semua emosinya.”
Operasi rekonstruksi mental? Kehilangan semua emosinya?
“Tidak, alih-alih menyebutnya emosi lebih cocok kalau disebut dorongan atau keinginan. Kemarahan, Kesedihan, Kecemburuan, Dendam, Kebencian, Nafsu Makan, Nafsu Seks, dan Cinta Buta. Semuanya hilang, kecuali satu, dan sebagai gantinya Tatsuya mendapatkan kemampuan untuk dapat menggunakan sihir.”
Itu berarti…….
“Sayangnya, operasi itu tidak dapat meningkatkan kemampuan seseorang, dan pada akhirnya dia hanya bisa dipergunakan sebagai Guardian saja.”
Tidak bisa kupercaya, pikirku.
Tidak mungkin seperti itu, pikirku.
“Dan orang yang melakukan ‘operasi’ itu…….. apakah itu kau, Okaa-sama?”
Selagi memikirkannya, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya memastikannya.
Layar besar itu sekarang sedang menampilkan Onii-sama, dikelilingi oleh banyak orang dewasa berbadan besar, sedang berada di tempat berlabuhnya musuh.
“Siapa lagi kalau bukan diriku?”
Keinginanku yang sebenarnya, adalah dia menyangkalnya, tapi ternyata tidak.
Seharusnya aku sudah menduganya.
Area Operasi Sihir bukanlah bagian dari otak besar, melainkan merupakan fungsi langsung dari kesadaran seseorang.
Memasukkan Area Operasi Sihir buatan itu pada seseorang, oleh karena itu, untuk melakukannya butuh yang namanya perubahan struktur mental.
Dan hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa adanya sihir Okaa-sama, ‘Sihir Pengganggu Struktur Mental’…….
“………Mengapa kau melakukan hal seperti itu?”
“Aku sudah memberitahumu alasannya. Mari kita ganti pertanyaan yang lebih penting untuk kujawab daripada ini.”
Ah, aku mengerti…..
Aku juga sudah menyadarinya.
Aku mengerti.
Pada eksperimen itu, tidak hanya Onii-sama sajalah yang kehilangan sebagian emosinya.
Aku tidak tahu apakah itu bagian dari efek samping sihir tersebut, sebuah rasa bersalah atau semacam efek mental tapi,
Untuk pertama kalinya, aku merasa takut dengan yang namanya ‘sihir’.
‘Sihir’, yang dapat merubah hati manusia dengan sangat kejam.
Di layar, Onii-sama mengarahkan CADnya yang berbentuk pistol besar kehadapan musuh.
Tepat didepannya, musuhnya satu per satu berubah menjadi debu.
“Katakan kepadaku……. Satu-satunya emosi yang masih dimilikinya adalah.”
“Satu-satunya yang tersisa darinya, adalah rasa cintanya terhadap adiknya.”
Tolong hentikan sekarang juga, Okaa-sama.
“Cinta terhadap adiknya, dengan kata lain dirimu, dan keinginan untuk melindungimu.”
Aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi.
“Itulah satu-satunya yang tersisa, satu-satunya emosinya.”
Tapi aku benar-benar tidak menduganya.
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Walaupun itu terlihat hanya seperti refleks.
Tapi memang seperti itulah perasaanku saat itu.
Aku sangat terkejut, sampai-sampai aku tidak bisa mengeluarkan air mata sama sekali.
“Tatsuya sendiri memahaminya. Itulah yang dimaksudnya ‘kurasa berharga’. Dia hanya menganggapku sebagai ‘ibu’nya, dan tidak ada sama sekali hubungan ibu-anak diantara kami. Satu-satunya yang bisa disayanginya hanyalah kau, Miyuki. Tadi, dia kebetulan saja menyelamatkanku. Atau mungkin, dia berpikir kalau adiknya akan sedih kalau aku mati.”
“Apa Okaa-sama… sengaja merencanakan ini untuk terjadi?”
Walaupun aku hanya berbicara kepada diriku sendiri, rasanya seperti orang lainlah yang berbicara. Rasanya seperti bukan aku yang mengendalikan tubuhku dan menanyakan pertanyaan itu.
“Aku jelas saja tidak merencanakannya sampai sejauh itu. Namun, aku rasa kalau kapasitas yang tersisa hanya untuk satu emosi saja, maka seharusnya itu benar-benar ditujukan kepadamu. Lagipula, Tatsuya akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu denganmu.”
“Apa kau juga mengatakannya kepada O… maksudku, orang itu?”
“Tentu saja aku juga menjelaskan kepadanya. Anak itu juga masih memiliki akal sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan darinya karena aku tidak memiliki hubungan ibu anak dengannya.”
Saat dia mengatakannya,
Rasanya,
Aku sedikit merasa kalau Okaa-sama menderita saat mengingat dia tidak bisa mencintai anaknya sendiri.
“Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?”
“Tidak………terima kasih banyak.”
Sebagian dari diriku, merasa kalau aku seharusnya tidak menanyakannya.
Tapi sebagian lainnya, juga merasa lega karena aku sudah menanyakannya.
Untuk menghadapi masa lalu dan kebenaran yang menyakitkan, namun tanpa ragu-ragu melihat ke depan sampai sekarang dan seterusnya.
Layar itu menunjukkan Onii-sama, sedang maju ke sebuah tanah kosong.
Tidak ada satu peluru pun yang dapat mengenainya.
Sebuah kendaraan mirip tank mengarahkan turetnya pada Onii-sama, dan dengan sekejap menghilang bersama dengan awak yang ada didalamnya.
Onii-sama melanjutkan serangannya tanpa berubah sedikit pun.
Tapi para tentara yang ikut dengan Onii-sama tidak sejalan dengannya.
Agar tidak tertinggal dari Onii-sama, mereka berlari berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, disaat yang sama menghindari tembakan dan sihir dari musuh.
Ah!
Ada satu tentara yang tertembak.
Melihat medan perang dari kamera di langit, rasanya seperti menonton sebuah film.
Didalam layar, bahkan sebelum aku sempat terkejut, Onii-sama menghadapkan CAD di tangan kirinya pada tentara itu.
Sejak kapan dia?
Bahkan tidak ada waktu sedikit pun baginya untuk menoleh.
Setelah itu, tentara itu mulai bangkit berdiri lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Turet musuh menembakkan banyak peluru.
Tapi peluru itu tidak mengenainya.
Onii-sama mengangkat tangan kanannya.
Seketika musuh didepannya menghilang sekejap. Rasanya seperti melihat spesial effect sebuah film.
Para tentara berjatuhan.
Onii-sama mengangkat tangan kirinya.
Hanya dengan itu, semua tentara itu segera bangkit kembali tanpa luka sedikit pun dan melanjutkan peperangan.
Apa yang tampil di layar bagiku, jauh dari apa yang dimengerti banyak orang bahkan bagi para penyihir sekalipun, pemandangan itu terasa seperti sebuah film yang tidak masuk akal.
Tapi itu hanyalah pikiran dari seorang penonton.
Bagi tentara yang ikut dengan Onii-sama, hal itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak pernah mereka banyangkan. Semua luka, bahkan luka dalam sekalipun, sembuh seketika seolah-olah mereka baru saja terbangun dari mimpi mereka.
Dan bagi musuh yang melawan Onii-sama, dia terlihat seperti inkarnasi dari teror. Sebuah mimpi buruk yang ada dihadapan mereka, melenyapkan diri mereka satu per satu dan hanya menyisakan bayangan dan debu.
Seperti seorang Avatar, Onii-sama melangkah melintasi medan perang.
Semua ini terjadi hanya karena aku tertembak.
Itu adalah sesuatu yang terjadi tujuh tahun lalu, saat dia masih berumur enam tahun.
Bagaimana bisa aku membayarnya?
Apa yang bisa kulakukan untuk membayar apa yang sudah dilakukannya kepadaku?
Bahkan nyawaku sekarang ini, adalah sesuatu yang kudapat dari Onii-sama.


[1] Perasaan saat seseorang menyeberang jembatan reot dan bertemu dengan lawan jenis. Saat jembatan tersebut bergoyang-goyang, orang tersebut merasa berdebar-debar. Lalu perasaan itu disalahartikan oleh orang tersebut sebagai rasa jatuh cinta.
[2] Respon psikologis dimana dalam kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya yang telah dialami oleh sandera itu.
[3] Private First Class (Prajurit Satu), pangkat dalam kemiliteran
[4] Salah satu dari lima sungai di dunia bawah menurut mitologi Yunani. Dikatakan setiap jiwa yang meminum airnya maka ia akan melupakan masa lalunya di dunia.
[5] Ringkasan dari semua kejadian, pemikiran, kata, emosi dan maksud manusia yang pernah terjadi, yang diyakini oleh para teosofis dikodekan dalam bidang eksistensi non-fisik yang dikenal sebagai bidang eterik.
[6] Model pintu dengan tingkat keamanan tinggi yang biasanya diceritakan ada di tempat-tempat seperti fasilitas militer, laboratorium, dll.

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 8 Bab 14 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.