11 Juni 2017

Hyouka Jilid 3 Bab 3-1 LN Bahasa Indonesia


PEMANDANGAN PAGI HARI
(Translater : Faris)

023 - ♦05
Ashes at Dusk adalah manga 30 halaman yang berisi cerita pendek. Walau kedengarannya tidak wajar, sebenarnya berawal dari sajak terkenal Rennyo[1] : “Kita mungkin punya wajah berseri-seri di pagi hari, tapi disore hari berubah menjadi seputih abu.”
Lingkup tema cerita pendek itu menekankan pada sifat abstrak tak tahan lama pada kehidupan. Mengambil latar klasik pada zaman Showa, kisahnya menceritakan kejadian menyedihkan. Berdasarkan kisahnya, manga itu sendiri tidak terasa seperti retro, tapi sebenarnya fokus pada kisah cinta gadis sma kepada saudaranya, juga penuh dengan hiburan.
Sebagai siswa tahun ketiga SMA, aku kehilangan kata-kata ketika aku melihat dan membeli ini saat mengunjungi Festival Budaya SMA Kamiyama. Walaupun tak terasa spesial tentang temanya, aku merasa ceritanya sangat hidup.
Sebuah kisah unik yang membanguncerita dengna kaya dialog, didukung dengan artwork yang sensitif, terlihat seperti sesuatu yang ada diluar Teater Kabuki. Beberapa poin penting diplotnya, seninya memberikan efek surealis. Jika aku harus membuat listnya, tanpa harus memperhatikan apakah itu komersial atau tidak, dari beberapa buku, maka aku memilih Ashes at Dusk.
Dan juga, manga ini memiliki beberapa daya tarik dimana setiap kata tidak bisa dideskripsikan. Jika harus memberi kritik, maka aku akan mangatakan gambar latar belakangnya terlihat sedikit amatir, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya buruk.
Hanya ada dua doujinshi yang menemani nafasku selama ini, pertama yaitu Ashes at Dusk, yang lainnya yaitu Body Talk, sebuah judul yang kutemukan di acara doujinshi diluar sekolah SMA Kamiyama. Aku menghargai dua karya ini sebagai harta karunku. Tetapi jika aku harus memilih satu diantara dua itu, aku akan memilih Ashes at Dusk.
Unutk menghadapi argumen Kouchi-senpai akan bagus kalau dimulai dengan ini, tanpa memperhatikan apa yang pembaca pikirkan, aku akan menunjukkan padanya tentang judul ini. Seperti keyakinanku dalam memahami daya tariknya.
Aku merasa senang ketika aku masuk SMA Kamiyama. Selain senang saat masuk sma, aku lebih senang ketika masuk sekolah dimana kau bisa menjual apapun jenis manga dengan bebas seperti memilih minuman di mesin otomatis. Itulah mengapa aku masuk Klub Manga saat aku mulai sekolah.
Sebelum aku menemukan diriku sedikit kecewa setelahnya.
Di Klub tidak ada satupun yang tahu apapun tentang pemilik Ashes at Dusk.
Tetapi aku tetap senang saat berdiskusi tentang apa yang kami suka, aku pikir kalau keputusanku bergabung dengan Klub Manga sudah tepat.
... itulah yang kupikirkan.

Pagi hari kedua Festival Budaya SMA Kamiyama, aku tiba disekolah dengan ekspresi suram. Aku tak punya pilihan untuk menunda apa yang ingin kulakukan. Sebelum datang ke upacara kehadiran wajib, pertama-tama aku menuju Klub Manga.
Berniat datang lebih awal, tetapi aku menemukan Kouchi-senpai datang lebih awal lagi. Dia berpakaian tuxedo klasik hai ini. Mungkin dia memakai boxer Thailand, walaupun dia agak tinggi, kemarin kostumnya tidak cocok dengannya. Dia mencoba berpakaian seperti karakter game berbeda setiap hari, atau hanya ingin variasi cosplay? Ketika aku cosplay sebagai karakter yang berbeda dibanding kemarin, aku tidak punya waktu dan uang untuk kostum seperti yang dia gunakan.
Kouchi-senpai melihat kearahku, atau lebih, bros bentuk hati di dadaku.
“Mencoba fashion lama lagi, kulihat?” dia bertanya. Hari ini aku menggunakan kardigan dengan blus, dan sepasang sepatu tinggi dengan rok layang. Satu bagian yang dapat disebut cosplay hanya bagian bros dan baret yang kugunakan.
“Apakah kau memerankan Jintan[2] ... dengan itu?”
“Tidak, ini hanya untuk gaya.”
“Jika ingin cosplay sebagai karakter, seharusnya kau lebih berusaha pada rambutmu.”
Jangan tertawa. Ini sudah cukup memalukan bagiku seperti menentang gravitasi rambut, aku tidak mengatakan kalau rambutku ini tidak panjang.
Aku butuh topik utama.
“Jadi, dimana Ashes at Dusk itu?”
Kouchi-senpai malah memulai percakapan seperti itu. Aku terkejut kalau dia bisa mengingat judulnya hanya dengan sekali dengar. Aku selalu berpikir kalau dia orang yang dapat berpikir cepat, jadi bukan berarti dia bisa membaca pikiranku atau semacamnya.
Sebagian anggota belum datang, ruang Klub Manga sunyi sekali. Setiap orang, termasuk anggota yang tidak hadir kemarin, mengetahui pertengkaranku dengan Kouchi-senpai.
Kouchi-senpai terlihat lebih yakin dibanding kemarin, sekarang melihatku dengan ekspresi tanpa beban.
Ini buruk.
Tetapi, sekarang ku tidak bisa lari. Mengambil nafas dalam memenuhi kapasitas paru-paru, dan melakukan yang terbaik tanpa melihat objek, aku mengatakan, “Maafkan aku, aku tidak membawanya hari ini.”
“Apa?”
“Aku pasti meniggalkannya disuatu tempat saat libur musim panas.”
Ya, sejak malam hingga pagi ini aku mencari buku Ashes at Dusk dikamarku.
Aku yakin untuk mencarinya di semua tempat. Aku melihat sekitar sepuluh kali atau mungkin lebih rak buku tempat buku favorit. Aku melakukan hal yang sama dengan rak yang lain, juga membuka kardus yang berisi koleksi manga lama.
Aku tidak bisa menemukan Ashes at Dusk  dimanapun. Aku tidak ingat kalau pernah meminjamkannya kepada seseorang. Itu bukan buku yang akan kutunjukkan kepada Fuku-chan. Dan aku selalu membacanya berulang-ulang selama semester pertama....
Jadi aku membawa Body Talk sebagai gantinya. Tapi aku sudah memutuskan untuk membawa Ashes at Dusk di hari kemarin, jadi ini terkesan memalukan. Membawa sebuah buku yang bukan tujuanku lebih baik daripada tidak membawa apa-apa.
Sebelumnya aku tidak kehilangan buku itu. Aku ingat saat aku merapihkan buku selama libur musim panas, dan memisahkan buku lama kedalam kardus untuk dikirim ke gudang rumah kakekku. Mungkin tercampur disana saat itu. Mungkin aku akan menemukannya disana.
“Hmm, jadi kau tidak memilikinya.”
Kouchi-senpai terlihat tenang. Sebaliknya, aku menggigit bibirku.
Aku merasa seperti ikan yang akan dipotong sekarang. Kemenangan tidak diputuskan dari argumen yang diutarakan, tetapi aku mengatakan kalau aku mempunyai bukti untuk memperkuat alasan, sekarang itu tidak dapat membantu karena aku tidak membawanya. Mendengar teman Kouchi-senpai tertawa membuatku gelisah.
Satu dari mereka mengatakan, “Ibara kau besar mulut ya kemarin? Dan kau pikir kau bisa pergi begitu saja karena tidak membawanya?”
Yang lainnya ikut menimpali, “Itu benar. Tak bisakah kau meminta maaf?”
Mereka mungkin tidak puas sampai aku berlutut. Aku memutuskan untuk menolak permintaan mereka, karena masalah ini hanya antara aku dan Kouchi-senpai. Jika dia memintaku berlutut, maka aku akan melakukannya.
Biarpun begitu, Kouchi-senpai tidak melepas perhatiannya terhadapku, dia mengangkat tangannya dan berkata dengan pelan, “Lalu, bisakah kau membantuku menggambar sebuah poster.”
“P-poster?
“Menggambar sebuah karakter moe... aku akan pergi sebentar.”
Dia mengatakan itu dan meninggalkan ruang klub.
Diriku bagai jemuran yang ditatap dingin oleh teman-temannya, meninggalkan mereka, aku berbicara dengan Ketua Yuasa.
“Ketua, apakah kau memiliki alat tulis untuk menggambar poster?”
“Hmm? Oh, ya, ada disini.”
Aku mengangguk dan melihat jam tangan. Hampir waktunya untuk pergi ke Gedung Olah Raga. Aku menunjukkkan jamku, “Aku akan menggambar nanti setelah kembali.”
Jika ingin menggambar sesuatu, lebih baik mengerahkan seluruh tenaga untuk membuatnya daripada berhenti ditengah jalan. Aku penasaran ”karakter moe” apa yang harus kugambar dari permintaan sang juaranya?

024 - ♣08
Setelah upacara selesai, aku meniggalkan Gedung Olahraga.
Bukan karena ada sesuatu yang ingin kulihat, sejak semua anggota panitia memiliki pekerjaan berat untuk memastikan acara Festival Budaya berjalan dengan lancar. Sesuai jam pertemuan, aku harus menghadiri pertemuan di Ruang Konferensi dimana panitia berada, dalam rangka membawa perintah dari OSIS. Selain keamanan, juga ada panitia luar yang ikut mengambil bagian. Sebagian mengatur dan membawa kebutuhan acara oleh klub yang membutuhkan tenaga tambahan. Omong-omong, jika tidak ada pekerjaan yang bisa diselesaikan maka bisa bebas untuk hari ini. Membawa rasa kebangsawanan dalam diriku, aku mengetuk pintu Ruang Konferensi.
“Fukube melaporkan. Kulihat aku tidak ada pekerjaan hari ini, kupikir aku akan pergi sekarang.”
Aku merasa kasihan tidak bisa membantu panitia Festival Budaya SMA Kamiyama. Hanya karena aku ingin mengetahui beberapa acara aneh dimulai dari Klub penelitian Sains Fiksi, seseorang menghentikanku.
“Tunggu Fukube, kau punya pekerjaan.”
Eh~.
Hanya ada Ketua Tanabe didalam, dengan sebuah papan tulis dibelakangnya beserta jam meja. Dia berbalik kedepan menghadapku dan sedikit tersenyum.
“Hey, apa yang membuatmu kecewa hingga datang kemari?”
“Tidak, sebenarnya aku berterima kasih kalau aku bisa memberi bantuan.”
Sebenarnya, aku punya rencana nanti jam 11.30 di Klub Memasak, jadi aku hanya berniat bekerja dengan panitia untuk mengisi waktu yang sesuai. Dengan menunjukkan wajah melucu, lebih tepatnya tidak senang. Membuka pintu, memasuki ruangan.
Menggosok tangan dan bertanya, “Jadi, apa ini? Sebelum pukul 11.30, aku akan terjun kedalam inferno atau melompat kedalam samudera untukmu.”
“Ini akan berakhir. Ada tas berisi sendal pengunjung di ruang staf, kau harus membawa dua tas itu setiap memasuki gedung. Hanya itu.”
Memang tidak memakan banyak waktu.
Ketua Tanabe serius saat membuat pamflet. Biasanya, aku memulai percakapan dengannya.
“Senpai, kau tidak keliling selama festival?”
“Hmm? Oh.”
Melihat papan tulis dengan jam meja, dia menuju arahku dan bebicara lembut.
“Ada beberapa staf yang menangani itu. Tenang, aku juga harus berkeliling disekitar sekolah, jadi bukan berarti aku tidak ingin melihat apapun. Oh ya, pertunjukan film oleh Kelas 2-F kudengar kelihatan bagus.”
Oh, ini kabar baik untuk kami.
“Tapi, kau tidak bisa bergabung di setiap acara kan?”
Tanabe-senpai sedikit tersenyum.
“Aku tidak bisa hadir di kepanitiaan kalau aku mau. Tidak sepertimu, aku bukan orang yang mempunyai bakat atau ketertarikan tertentu.”
Apakah aku berbakat atau banyak hal menarik yang ingin dilihat?
“Yah, apa itu? Kau mendapat sesuatu yang menarik yang bisa kau beritahu?”
“Hal yang menarik, huh?”
Tentang hal itu, ada masalah dengan Klub Sastra klasik yang mempunyai antologi 200 eksemplar, tapi Mayaka tidak akan senang jika aku menggunakannya sebagai bahan candaan. Penampilan Klub Rakugo pada upacara pembukaan merupakan hal yang menarik, tapi itu hanya opini pribadi. Aku juga mendengar yang lainnya, tetapi mereka tidak terlalu menarik jika dilihat satu per satu.
Hmm. Aku tidak menemukan sebagian minatku, tapi jika aku memberitahunya tak ada yang menarik, percakapan ini seperti omong kososng. Jadi bagaimana dengan yang satu ini?
“Kami melihat adanya hantu pencuri di Klub Go.”
“Oh?”
“Beberapa batu mereka dicuri dari kotak penyimpanan, dan pencurinya meninggalkan sebuah pesan.”
“Sungguh?”
Sekarang ini mengejutkan. Sebenarnya Ketua Tanabe tertarik pada kekesalan ini.
Aku mengerti. Klub Go ya, huh?”
Hanya dengan mengatakan ini mungkin saja sebuah prank (candaan) yang dibuat oleh Klub Go sendiri, Ketua Tanabe melanjutkan, “Aku mendengar dari Okano sesuatu yang sama terjadi pada Klub Acapella.”
“Apa?”
Ini waktunya bagiku untuk menunjukkan kekesalanku. Sesuatu yang sama juga terjadi pada Klub Acapella berarti kemungkinan kalau orang dari Klub Go bukan pelakunya.
“Mereka kehilangan satu botol minuman dari kotak minuman dingin.”
“Apakah ada pesan yang ditinggalkan disana?”
“Aku tidak yakin dengan pelakunya, tapi mereka menemukan catatan aneh di dalamnya.”
Sekarang ini terlihat menarik. Sedikitnya, aku tertarik saat bagaimana meningkatkan level kesulitan ketika aku mendengar ini dari Tani-kun. Kami memiliki hantu pencuri bersembunyi didalam Festival Budaya SMA Kamiyama! Ini mungkin sebuah lelucon yang menyenangkan.
Hmm hmm, sekarang bagaimana aku mengatur jadwal dari sini.
... tidak tunggu, sekarang bukan waktunya untuk itu.
“Ada apa Fukube? Kau menyeringai.”
“Tidak, bukan apa-apa.”
Masih terlalu awal untuk menduganya. Jika pencuri ini melanjutkan aksinya, pencuri ini akan terus berlanjut dengan leluconnya. Jika aku menakutkan pencurinya secara prematur, aku akan terlihat bodoh. Pengalaman memberitahuku kalau lebih baik bermain dengan pencurinya.
Selanjutnya, tidak banyak sekolah yang waspada terhadap hal ini. Sejauh ini aku hanya mendengarnya. Aku sungguh tidak berkaitan dengan apakah pencurinya bermaksud untuk lebih banyak aksi atau tidak, tapi sekarang, sulingnya berbunyi samar-samar.
Sejak aku masih manghadiri acara kehadiran wajib, tidak terlambat untuk jika mengambil istirahat sebentar dan mengijinkan pencurinya mengejutkanku lebih lanjut. Jadi lebih baik bagiku untuk mengesampingkan masalah ini sekarang.
Baiklah, sekarang dimana tas kecilku?”
“Kupikir aku akan bekerja sekarang.”
“Baiklah, selamat bekerja.”
Dengan mendukungku, Ketua Tanabe kembali ke mejanya.

025 - ♠07
“Aku akan melakukan yang terbaik lagi untuk hari ini!” Sambil mengatakan itu, Chitanda meninggalkan ruangan.
Sekarang dimulai dengan menjaga kios lagi sepanjang hari.
Bagaimana harusnya mengatakan ini? Aku tak pernah kalau menjaga kios dimana orang jarang datang akan  membuatku bosan seperti ini. Aku suka bermalas-malasan dan tanpa beban pikiran, tetapi pasti tidak akan membosankan. Pokoknya, tidak membutuhkan usaha banya untuk memasukkan koin kecil kedalam kotak secara berulang. Jika aku pergi ke kamar kecil, tak ada yang akan datang. Juga, saat aku membawa sebuah novel untuk membunuh waktu, itu bukan buku yang tepat. Ini bukan sesuatu yang pantas untuk orang dengan prinsip hemat energi sepertiku untuk melakukan sesuatu hanya karena aku merasa bosan.
Omong-omong, aku harus mengeluarkan tumpukan antologi Hyouka. Sepuluh eksemplar tiap tumpukan mungkin cukup.
Saat selesai menyusunnya, seorang pembeli datang. Siswa laki-laki yang aku tidak tahu. Badge dilehernya menunjukkan kalau dia siswa tahun kedua.
“Kau menjualnya?”
Sekarang itu pertanda yang baik. Lebih baik aku menunjukkan sikap yang baik.
“Ya, kami menjualnya.”
Hmm mungkin harus kukatakan lebih panjang, seperti “Yeah, kami menjualnya bung.” Tapi itu terdengar formal, bukan? Siswa tahun kedua itu membuka tumpukan Hyouka dan melihat sampulnya.
“Jadi ini menjelaskan darimana nama Festival Kanya itu berasal?”
Wow, sepertinya pidato satoshi mempunyai daya tarik untuk memberikan pengaruh. Atau dia mendengarnya dari seseorang? Apapun itu, aku bersyukur akan hal itu.
Dengan mengangguk, siswa itu bertanya, “Bolehkah aku mengambil dan membacanya?”
“Aku takut kau tidak mengizinkannya.”
“Oh ayolah, hanya 200 yen kan?”
“Mungkin hanya 200 yen, tapi tolong dengan membelinya. Kami memiliki banyak stok, aku merasa ingin menangis.”
Bukan berarti aku akan melakukannya.
Siswa itu tertawa dan mengambil dompetnya dan membeli satu. Setelah mengucapkan terima kasih dan melihatnya menaruh dompetnya kembali, aku memberitahunya, “Senpai, risletingmu terbuka.”
“Apa?! Tidak mungkin!”
Dia kebingungan dengan tangan yang berada diantara dua kaki. Setelah memeriksanya, mengangkat kepala dan mengeluh, “Argh, tidak bisa dibetulkan. Ini rusak!”
Dengan melihat lebih dekat, aku melihat bahan sutera hitam menjuntai dari celahnya. I see, sekarang akan kukatakan, “Risletingmu rusak?”
“Yeah, dan aku butuh waktu untuk memperbaikinya.”
Kau mendapat simpatiku. Tidak ada yang bisa aku lakukan.
Tunggu, itu tidak benar. Benda itu masih bersamaku, kan? Dengan melihat sekitar meja, aku menemukannya. Badge yang kudapatkan kemarin. Saat aku tidak menghadiri acara fashion show, dibalik badge itu ada penitinya, bisa dilepas.
“Hanya ada satu, tapi coba gunakan ini.”
Aku memberikan peniti itu padanya. Siswa itu terlihat bersyukur dengan berkah yang didapatnya dari surga.
“Whoa, terima kasih. Mengagumkan dengan peniti yang kau berikan.”
Dia meneruskan peniti itu ke dalam lubang... walau terdengar aneh, hanya itu yang bisa kau lakukan.
Siswa tahun kedua ituterlihat bersyukur dengan mengungkapkan, “Kau hebat teman, sangat membantu dengan cepat.”
“Jika kau ingin menunjukkan rasa syukurmu, maka belilah lagi antologinya.”
Dia tersenyum dan mengangkat tangannya.
“Tidak ,terima kasih.”
Dia terlihat mencari sesuatu, dan tangannya mencari didalam saku celana. Dan merogoh kantung belakang, dia mengambil senjata tangan.
Menatap moncongnya, aku bertanya, “Ini sebuah perampokan?”
“Jangan bodoh. Ini sebuah pistol air.”
Dia meletakannya di meja.
“Kau dapat memilikinya sebagai rasa terima kasih.”
Aku mengerti.”
Dengan melihat pistol air itu dan memandangnya.
“.. Ini hobimu?”
Dengan menggulung Hyouka ditangannya, dia memukulku menggunakan Hyouka.
“Tentu saja tidak. Aku dari Klub berkebun. Kami memanggang kentang hari ini.”
Aku masih tidak paham apa yang harus kulakukan dengan ini.
Siswa tahun kedua itu melanjutkan kalimatnya, “Kau lihat, kami membutuhkan api untuk memanggang kentang. Dan jika ada api, maka kami membutuhkan air untuk memadamkannya. Tapi bukankah membosankan kalau hanya menggunakan ember, ya kan?”
Ahh aku paham. Jadi dia mengira akan menjadi tentara atau sesuatu... Jadi ada klub dengan menggunakan peralatan konyol seperti itu. Aku memandang senjata itu.
“Bukankah kau akan membutuhkannya?”
“Aku sudah punya. Untuk pengguna tangan kanan. Itu adalah Kalashnikov.”
Hebat. Jadi mereka berpikir untuk menggunakan water gun untuk memadamkan api? Mereka mungkin handal dalam mengatasi api.
Omong-omong, apa yang kulakukan dengan water gun ini di kios Klub Sastra Klasik? Hal yang sama untuk badge, aku terlihat menerima jenis barang tak berguna. Lagipula aku tak punya alasan untuk menolaknya.
Terima kasih. Sampai jumpa!”
Siswa itu meniggalkan Ruang Geologi dengan gembira.
Aku melihat water gun itu dan bergumam, “..... Sebuah Glock 17?”
Mempunyai sebuah AK sebagai senjata utama dan sebuah Glock di tangan kanan, bukankan itu tidak konsisten?
[176 Eksemplar Tersisa]

026 - ♥06
Aku akan melakukan yang tebaik untuk hari ini!
Aku berpikir tadi malam. Apakah Tanabe-san dan Toogaito-san mengatakan kalau keduanya benar. Aku tidak bisa mengatur tempat untuk penjualan, juga tidak bisa mendapat perhatian dari Klub Majalah Dinding. Tetapi masih terlalu awal untuk menyerah dan berkata tak ada yang bisa diselesaikan.
Aku mendengar rumor kalau film yang dibuat oleh Kelas 2-F sangat populer. Beberapa temanku ingin pergi dan melihatnya, tapi untuk melihatnya di hari pertama, Ruang Audio Visual pasti penuh selama film berlangsung.
Klub Sastra Klasik sedikit terlibat dalam pembuatan film kelas 2-F. Ketika menyelesaikan masalah yang ditemukan saat pembuatan film, Fukube-san menyebutnya “Peristiwa Kaisar Wanita”. Aku rasa itu tidak tepat, karena Oreki-san yang terlihat memberikan bantuan saran kepada mereka. Jadi menurutku, itu sebuah kesuksesan mendengar kalau filmnya sukses.
Aku berkenalan dengan salah satu siswa dari kelas 2-F, Irisu Fuyumi-san. Berbicara tentang “Peristiwa Kaisar Wanita” juga berlaku baginya, sejak dia terlibat dalam pengawasan film.
Jika kami bisa mengatur agar Hyouka bisa terjual disamping film populer, mungkin penjualan kami bisa meningkat. Hari ini ,aku memastikan bahwa sebuah kesepakatan bisa terjadi.
Aku akan melakukannya dengan baik.

Ruang Audio Visual sedang menayangkan The Blind Spot of 10,000 people. Pintu masuknya terbuka, dengan tirai hitam untuk mencegah cahaya masuk dari luar. Terlihat seperti ruangan pada umumnya, tapi aku tak tahu apa yang terjadi didalam sana tanpa melihat kedalam. Diluar ruangan terdapat papan bertuliskan “Pertunjukkan saat ini – The Blind Spot of 10,000 People,” lengkap dengan waktu penayangannya.
Di sebelahnya ada meja seperti tempat resepsionis. Walaupun disebut tempat resepsionis, filmnya gratis, jadi tak perlu mengeluarkan uang. Sepertinya, mereka menjual pamflet untuk filmnya. Seorang gadis ditugaskan menjaga tempat itu, namun tak terlihat akan ada yang datang saat filmnya sedang diputar, dia berbicara dengan seseorang.
Tidak ada orang lain selain Irisu-san dan lawan bicaranya. Ini harus menjadi hari keberuntunganku, aku bersiap hari ini untuk bertemu dengannya. Dengan menunggu percakapan mereka selesai, aku mulai berbicara.
“Selamat pagi, Irisu-san,”
“Hmm? Oh, Chitanda.”
Mengetahui kehadiranku, dia mengakhiri percakapannya. Berjalan beberapa jarak dari pintu masuk Ruang Audio Visual. Dia memberi isyarat padaku untuk menuju pintu keluar darurat.
Irisu Fuyumi-san adalah putri dari pengawas Rumah Sakit Rengou, yang terletak di sebelah SMA Kamiyama. Tingginya sama sepertiku, walaupun dia lebih langsing. Hanya untuk berhati-hati, bukan berarti aku membandingkan diriku dengannya. Dia memberikan satu kesan yang sangat tajam, orang yang dapat menyelesaikan masalah yang ada. Dia membuatku terkagum.
Sebelum mengatakan sesuatu, Irisu-san menunjuk ke arah Ruang Audio Visual.
“Terima kasih, film kami berhasil, seperti yang kau lihat. Kami pikir kami tidak bisa menyelesaikannya. Aku sangat berterima kasih.”
“Oh, tidak, itu tidak perlu.... Bagaimana keadaan Hongou-san ?”
 “Oh, dia baik-baik saja. Kau ingin menjenguknya?”
“Begitu.. Oh tidak, tidak sekarang.”
Mungkin melihatku ragu-ragu, Irisu-san merendahkan suaranya.
“Kau butuh sesuatu?”
“Ya, lebih dari itu, aku punya permintaan untuk Kelas 2-F.”
Aku mengangguk.
Harus mengatakan intinya.
“Tolong bantu Klub Sastra Klasik untuk menjual antologi.”
Irisu-san mengedipkan matanya dua kali, sebelum membalas dengan, “Jadi kau meminta kami menjual antologi ditempat pertunjukan film, begitu?”
“Ya, itulah intinya.”
“Baiklah. Berapa banyak yang kau punya?”
Eh?
“K-kau menerima permintaanku?”
Aku membalas dengna cepat tanpa berpikir, Irisu-san mengangkat alisnya.
“Kenapa kau terlihat terkejut?”
“Oh, tidak, umm.....”
Kemarin sudah ditolak, aku tidak salah dengar sekarang kalau sekarang mendapatkan bantuan... sebaliknya, aku malah lupa menjelaskan detailnya.
“... Terima kasih banyak!”
“Terima kasihnya nanti saja setelah terjual. Jadi berapa banyak jumlah antologinya?”
Irisu-san menempatkan tangannya di pinggul dan bertanya, mungkin saja airmatanya jatuh.
“Kami mencetak 200 eksemplar....”
“200?!”
Mata Irisu-san membesar sekilas.
“Sebanyak itu.”
“Kami mencetak sebanyak itu karena ada kesalahan. Itulah mengapa, kami berharap bisa menjual sebanyak yang kami bisa. Ak-aku...”
Oh tidak. Walaupun aku mendapat bantuan dari Irisu-san, aku tak boleh kehilangan kata-kata. Aku masih dalam permbicaraan, jadi aku menggertakkan gigi dan, “Maafkan aku. Untuk harganya, kami menjualnya 200 yen per eksemplar.”
Irisu-san mengangguk lembut.
“Jika kau menurunkan harganya menjadi 150 per eksemplar, maka aku dapat mengambil dua puluh eksemplar darimu.”
“Eh? Menurunkan harga?”
“Pamflet kami mempunyai harga 50 yen perlembar. Bersama dengan antologimu, itu akan menjadi 200 yen per set. Kami harus membuat penyesuaian.”
“Umm, tapi, bukankah kau harus mendiskusikannya dengan teman kelasmu...?”
“Oh, aku akan mengurusnya nanti.”
Luar biasa. Jika Irisu-san, dia menerima permintaan tanpa bertanya. Disamping itu, bukankah akan menyusahkan menerima dua puluh eksemplar dari kami? Sejak kami hanya berniat menjual dua puluh empat selama tiga hari.
Dia melihat kegelisahan di wajahku, Irisu-san menambahkan dengan acuh tak acuh, “Kami bisa menjualnya pada hari ini. Jika bisa, kami mungkin bisa meminta stok tambahan darimu.”
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Tak apa-apa.”
... Dadaku terasa sesak.
Irisu-san meregangkan tangannya dari pinggul. Dia mencoba menjabat tanganku? Memegang tanganku, aku menempatkan tanganku diatasnya.
“?”
“Daripada berjabat tangan, seharusnya kau menunjukkan sampelnya kepadaku.”
Sebuah sampel? Aku menggelengkan kepala. Irisu-san memberikan keluhan. Apa aku memenghancurkan segalanya? Dia kemudian berbicara pelan sementara aku tetap terkejut
“... Itu benar saat aku berkata begitu, tapi jika kau sungguh meminta seseorang menjual antologi untukmu, seharusnya kau membawanya. Atau kau tidak bisa meyakinkan siapapun.”
Be-begitu. Jadi begitu caranya.
“Aku mengerti. Terima kasih banyak!”
Kemudian aku mulai berpikir. Kemarin aku sangat kesulitan. Mungkin aku menghabiskan banyak waktu khawatir tentang apa yang harus dilakukan kalau permintaanku tidak bisa dipenuhi. Aku banyak berusaha menjelaskan situasinya kepada Tanabe-san dan Toogito-san, tapi jika aku meminta Irisu-san untuk mendukungku, mungkin permintaanku bisa dipenuhi.
Ya, aku tidak boleh melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin. Aku harus yakin keberhasilanku bisa diperbaiki sekarang.
Membuat pikiran seperti itu, aku memutuskan untuk membuat permintaan lain.
“Irisu-san,”
“A-ada apa ini?”
Oh tidak, aku terlalu dekat. Ini kebiasaan buruk yang sering dilakukan Oreki-san dengan hati-hati. Aku mengambil satu langkah mundur.
“Irisu-san, kau bagus dalam memahami permintaan orang, bukan?”
“....”
“Tolong ajari aku bagaimana cara kau melakukanya!”
“AP-!?”
Irisu-san menjadi bingung, diluar kebiasaanya, walaupun dia kebingungan untuk sesaat sebelum dia tertawa kecil.
“... Heh, aku pernah mengatakan sesuatu, tetapi tidak pernah ‘bagus dalam memenuhi permintaan orang’ sebelumnya,” gerutunya.
Berlawanan dengan sandaran pintu darurat, Irisu-san menatapku dan berkata dengan pelan.
“Baiklah. Terkadang kau harus membiasakan jangan langsung berbicara. Aku akan mengajarkanmu dua atau tiga metode yang mudah kau ingat.”
“Terima Kasih.”
“Apakah kau tahu cara memainkan peranan?”
Irisu-san merendahkan kepalanya, menutup mata dan mulai berpikir. Ini adalah pertama kalinya aku terlihat berpikir untuk sesaat. Rasa cemas meninggalkan tubuhku.
“... Baiklah... Well, mari kita coba ini,” gumamnya sambil membuka mata. Kemudia dia mengangkat tangannya seperti kepalan tinju kearahku. Instingku bekerja dengan berdiri condong ke belakang.
“Ada dua cara agar kau orang lain bisa memenuhi permintaanmu. Pertama, kau harus menyokong balas jasa.”
Dia mengangkat jarinya.
“Yang kedua adalah dimana kau tidak harus membalas apa-apa.”
Kemudia dia mengangkat jari tengahnya. Sebelumnya, dia menarik kedua jarinya dan menempatkan tangannya di pinggul.
“Untuk permintaan dimana kau harus membalas jasanya, ini berarti kau meminta orang yang tidak percaya padamu.”
“Eh?”
Mungkin itu sesuatu yang dia lakukan saat berbicara dengan tenang, tapi suara tenang Irisu-san terdengar menghalangi suara yang ditimbulkan saat Festival Budaya disekitar kami.
“Untuk situasi dimana kau membuat kesepakatan dengan orang asing yang mana kau tidak ingin berkongsi lagi dengannya setelah kau membalas jasanya, dalam sembilan atau sepuluh kasus, mereka akan mempertimbangkan permintaanmu. Jika tidak, mereka akan mencoba mengurangi usaha mereka untuk menangani permintaanmu. Jadi pada kasus ini dimana kau mengharapkan untuk membalasnya, kau tidak hanya berpikir tentang apa yang akan kau lakukan terhadap permintaaan mereka, tapi juga mengambil pertimbangan waktu yang mereka punya dan usaha yang rela mereka lakukan. Kau juga harus mempertimbangkan kalau mereka tidak bisa memenuhi permintaanmu. Jika kau segan melakukannya, maka mereka juga tak mau mengambil resiko untuk permintaanmu.
“Saat kau bisa menggunakan psikologi terbalik untuk membuat mereka berpikir kalau mereka bisa membodohimu, maka akan menyulitkanmu. Jadi untuk itu, kau harus memilih tipe yang kedua, dimana kepercayaan dibutuhkan.
“Di dalam situasi ini, kau harus melayani mereka dengan kepuasan mental dalam memenuhi permintaan mereka. Ini hal mudah untuk memotong jalan ketika hanya ada penghargaan fisik, tapi bukan juga untuk penghargaan mental. Cara terbaik untuk mencapai itu dengan membuat mereka merasa karismatik atau populer, tapi kau akan menemukan kalau kau tidak punya banyak kesempatan untuk menggunakannya. Berikutnya akan menjadi kepercayaan dan kasih sayang, tapi ini membutuhkan banyak waktu untuk persiapan sebelumnya. Btw, aku sendiri tidak pernah mengandalkan keduanya.
“Jika mungkin, kau harus mengambil keuntungan dari rasa keadilan dan kewajiban mereka, semangat profesional atau rasa harga diri, tapi selanjutnya akan sulit. Sekali kau bergantung kepada mereka, kau bisa menggunakan mereka di banyak situasi.”
“Pada akhirnya akan membuat mereka berpikir takut atau tinggi hati terhadapmu, tapi tentu saja kita tidak akan begitu hari ini.
“Untukmu, sebagai pemula, kau harus mengarahkan harapan mereka.”
“Dengar, dasarnya untuk membuat mereka berpikir kalau ’hanya mereka yang bisa memenuhi permintaanmu.’ Untuk membuat mereka berpikir kalau merekalah harapanmu satu-satunya, dimana akan mudah melakukannya. Tidak jarang dari mereka yang akan berkorban untukmu, sejak kau memenuhi harapan mereka, jika kau menganggapnya seperti itu.
“Sebagai tambahan, jangan membuat mereka berpikir kalau masalahnya sangat besar. Jangan biarkan mereka tahu kalau kau putus asa terhadap bantuan mereka. Mereka bukan orang banyak yang ingin saling membantu untuk menyelesaikan masalah dengan tanpa keuntungan bagi mereka. Malahan, kau harus membuat itu terlihat seperti masalah yang sangat sepele, itulah cara agar membuat mereka merasa luar biasa.
“Terakhir, jika memungkinkan, buat permintaan dimana tak ada satu orangpun di sekitar orang itu berlawanan jenis kelamin.”
Untuk sesaat, kepalaku terasa pusing.
Aku, aku baru saja mendengar sesuatu yang menakjubkan. Aku tidak pernah mendengar ide ini sebelumnya. Untuk memenuhi permintaan orang asing, pertama harus membuat mereka merasa di sayangi dan di percaya, sebaik mungkin karena kau memiliki harapan kepada mereka, sendiri di sebuah tempat tak ada satupun yang melihat... Akan sulit bagiku memahami semua ini dalam satu kalimat.
Aku butuh waktu dengan pelan agar bisa memahami semuanya. Bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih kepada Irisu-san.
“Um, umm, aku...”
Irisu-san langsung mengatakan, “Cepatlah dan bawa sampelnya.”
Dan segera kembali ke Ruang Audio Visual.
Aku membungkuk dan berterima kasih kepadanya.
Terima kasih banyak! Irisu-san, aku tidak akan menyia-nyiakan pendapatmu!

027 - ♠08
Novel yang kubawa begitu membosankan.
Aku tak tahu mengapa menghabiskan uang sebanyak 100 yen ketika membeli buku ini dari toko buku bekas, aku merasa dibodohi oleh mereka. Aku  tidak bisa memaksa diriku untuk terus membacanya. Mengatakan hal itu, tak ada yang bisa kulakukan selain menguap kantuk. Seharusnya aku membeli novel cadangan.
Mendengar Klub Acapella bernyayi kemarin merupakan hal yang bagus untuk membunuh waktu. Penasaran apakah mereka akan bernyayi lagi, kuputuskan untuk berdiri dan membuka jendela... Dan aku mencium sesuatu yang terbakar, tepat dibawahku ada beberapa orang mengelilingi kompor elektrik. Terlihat beberapa dari mereka mempunyai penjaga dengan senjata, itu pasti Klub Berkebun.
Kentang manis – hanya dengan mencium baunya membuat lapar. Apakah itu kentang atau bukan, sekarang aku ingin makan apapun, sejak aku terlambat bangun dan melewatkan sarapan pagi. Ini sungguh kesalahan kakakku yang mengambil jam alarm dari kamarku tanpa sepengetahuanku. Hasilnya, aku merasa lapar. Dan baru pukul sebelas, masih terlalu awal untuk makan siang.
Melanjutkan tatapan di kompor listrik...
“Trick or Treat!”
“Yay!”
Seseorang bersorak sorai dengan suara aneh. Terdengar seperti suara gadis, tapi aku tak tahu siapa mereka jika tak bisa melihat wajahnya. Atau, aku tidak bisa melihat mereka. Disana ada dua pengacau, keduanya membawa keranjang dilapisi dengan kain putih dan menggunakan topeng labu dikepala mereka... Labu?
Ada apa ini? Kepala labu? Kostum Halloween?
Lanjut melihat mereka dengan bingung, “Trick or Treat!”
“Yay!”
Mereka membuat salam yang sama sambil memukuli tangan mereka.
Mereka mencoba menari?
... Aku harus tetap tenang. Baiklah, jadi mereka dalam suasana Halloween. Apakah ini berarti aku harus melempar kacang kepada mereka? Atau aku harus menuangkan teh manis kepada mereka?[3]
Tidak, tunggu sebentar, aku ingat sekarang. Aku melihat kepala labu menari itu dengan tanpa kasihan, “Jika kau ingin permen, aku tidak punya, jadi pergilah.”
Salah satu dari mereka menghembuskan nafas.
“Yikes! Payah!”
“Tetapi aku akan berterima kasih jika kalian membeli antologi kami.”
“Tidak tertarik!”
“Jadi siapa kalian sebenarnya!?”
Kemudian mereka berjalan bersamaan dan menunjukkan keranjangnya. Seperti orang yang terlatihuntuk ini, mereka berbicara bersamaaan.
“Kami melakukan penjualan door-to-door untuk Klub Penelitian Manisan. Kau mau mencoba beberapa kue, biskuit atau krim?”
...
“Kalau aku bilang tidak?”
“... Trick or Treat!”
“Yay!”
OK, baiklah. Aku ingin membelinya jadi berhenti menari, dasar gadis ambisius.
Sekarang waktu yang tepat.
“Berapa harga satu biskuit?”
“Heh heh, 100 yen per bungkus, tuan!”
Mereka sungguh tidak punya konsistensi terhadap penjualan mereka. Aku mengambil satu antologi Hyouka.
“.... Apa itu?”
Whoa, mereka menggunakan suara normal.
“Ini sebuah antologi Klub Sastra Klasik. 200 yen satunya. Aku bisa menukar 2 bungkus biskuit dengan ini.”
“Tak tertarik.”
“Oh, jangan berkata begitu, aku ingin biskuit itu.”
“Itu akan merusak keseimbangan antara persediaan dan permintaan~”
Tak berguna. Aku mengeluarkan dompet.
“Wow! Apa itu? Sangat keren!”
Satu dari mereka melihat sekitar ruangan, tiba-tiba meniggikan suaranya. Ditangannya ada pistol Glock 17.
“Wow, keren! Bagaimana kau mendapatkannya? Apakah kau seorang kolektor?”
“Hey, kau pikir akan bagus jika kami membawa ini untuk mendongkrak penjualan?”
Sungguh? Kupikir kalian akan menakuti semua orang.
Oh, baiklah, jika mereka menginginkannya, “Aku akan memberi kalian benda ini dengan antologinya untuk dua bungkus biskuit.”
“Sungguh? Kau memberinya kepada kami?”
Aku mengangguk. Memegang Glock ditangannya, dia mulai menari lagi. Setelah berputar satu arah, dia mengambil dua bungkus biskuit dari keranjangnya dengan kantung kuning.
“Ini sebagai tanda terima kasih dari labu.”
“Apa itu?”
“Yay!”
“Yay!”
Tanpa menjawab pertanyaanku, dua kepala labu itu mengambil pistol glock dan satu antologi Hyouka dan pergi. Kepala mereka terlihat besar, berjalan pergi dengan baik seperti itu... kuharap mereka tidak tersandung.
Membuka bungkusan itu. Dan melihat kedalam.
Rasa gandum. Melihat deskripsinya, mengatakan “sedikit tepung.”
Sekali lagi, aku memperoleh sesuatu yang tidak berguna.
Dari pena rusak menjadi badge, dari badge menjadi pistol Glock, dan sekarang dari sebuah Glock menjadi bungkusan tepung. Entah bagaimana ini seperti kisah jutawan[4], tapi entah, barang yang kudapat tidak terlihat bernilai. Memikirkan hal itu, bukankah orang-orang memberikanku benda sederhana ini karena mereka tidak menggunakannya untuk mereka sendiri?
Mengambil 200 yen dari dompet, kuletakkan kedalam kotak permen yang juga berfungsi sebagai catatan. Bersandar dibalik jendela, aku membuka bungkusan biskuit.
[171 Eksemplar Tersisa]

028 - ♣09
Pukul sebelas. Turnamen Klub Memasak dimulai setengah jam lagi.
Aku mungkin terdengar membual, tapi aku punya beberapa rahasia dalam memasak. Terlebih aku tidak memasukkan tiga orang sebagai tim. Aku akan menjalaninya lebih baik jika kulakukan sendiri, tetapi karena tidak diizinkan untuk sendiri, aku menduga tidak akan berjalan baik. Tetap saja, aku tidak menjalaninya sendiri, jadi aku mengajak Mayaka dan Chitanda. Menarik juga jika mengajak Houtarou membawa pisau, dia mungkin tidak akan datang jika aku mengajaknya.
Kecuali.... Dengan satu tangan, Mayaka sungguh bisa memasak. Aku tahu itu, dia selalu membawa kotak makan siangnya. Aku tidak tahu tentang Chitanda-san, jadi dia faktor yang belum diketahui. Ketika aku memberitahunya tentang memasak, dia bersedia, “Aku mengerti. Ini juga untuk mempromosikan antologi kita, ya kan?”
Ini menjadi salah satu perhtianku. Sebenarnya, aku mempunyai dua perhatian. Ngomong-ngomong, haruskah menyebutnya”perhatian?” Bukankah lebih baik kalau menyebutnya “masalah?” Hmm, aku harus melakukan penelitian mengenai kedua kata itu. Dan juga, perhatianku apakah Mayaka bisa tepat waktu setelah menyelesaikannya dengan Klub Manga.
Memutuskan untuk mengunjunginya, aku mengarah ke Ruang Persiapan No. 1.
Whoa, ada banyak orang disini. Dan Mayaka sudah mengatakan kalau kemarin sepi. Sederhananya hari ini penuh, seperti sebuah pasar malam. Setelah memikirkan itu, aku melihat papan pemberitahuan yang ditempel di dinding.
Text Box: Menggambar Cepat Poster

Dengan dua artis terbaik kami! (Esper vs Harimau)
Saksikan bagaimana kemampuan artistik mereka bersinar dengan kecepatan yang luar biasa!


... Aku belum pernah mendengar ini sebelumnya.
Kuputuskan untuk mengintip sedikit.
“... Whoa.”
Aku megnhembsukan nafas kaget.
Mayaka menggunakan kardigan dengan blus dan menggunakan topi beret, sedang menulis dengan terburu-buru menggunakan pena diatas kertas ukuran A3 tanpa memindahkan pandangannya. Mayaka sedang dalam mode serius. Aku bisa mendengar penanya menyentuh kertas diatasnya. Kulihat pipinya memerah seperti darah memenuhi kepalanya. Aku tidak bisa melihat apa yang digambarnya dari sini.
Disebelahnya, gadis menggunakan tuxedo yang menakjubkan. Kulihat dia menggambar bagian yang kosong, dengan terlebih dahulu mendapatkan beberapa inspirasi hebat, dia mulai menebalkan warna digambarnya.
Lagi, aku tak bisa melihat apa yang digambarnya, tapi dalam lima menit....
“Selesai!”
Dia mengangkat gambarnya ke gadis yang menunggunya. Dalam sekejap, banyak orang berkumpul dan menaruh gambarnya diatas meja untuk dikeringkan. Kemudian saat aku melihat gambarnya, sebuah karakter perempuan dari manga populer bulanan. Itu bagus. Gambar Mayaka, tidak buruk. Jadi Mayaka yang menggambar dan gadis tuxedo yang memberi warna.
Dua artis terbaik Klub Manga, huh? Begitu.
Aku sedikit tertawa dan kembali.
Jika Mayaka tidak bisa menghadiri turnamen masak dan berakhir kalah karena hal ini, aku tidak bisa mengeluh.



[1] Biksu Budha (1415–1499)
[2] Obat-obatan Jepang abad 20
[3] Oreki kebingungan antara kebiasaan Haloween atau libur musim semi
[4] Kisah adat yang menceritakan kesuksesan seseorang yang berawal dari sehelai jerami

Hyouka Jilid 3 Bab 3-1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.