18 Juni 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 18 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 2
(PART 18)
(Translater : Setiawan Danu)

Achilles. Seorang pahlawan besar yang menyaingi Heracles pahlawan Yunani yang legendaris dalam hal ketenaran. Mungkin terdapat kurang dari sepuluh pahlawan, termasuk dirinya, yang namanya dikenal diseluruh dunia. Namun, jumlahnya menurun ketika orang-orang yang mengetahui bahwa cerita Achilles terlalu pendek mengenai sepak terjangnya yang besar.
Terlahir dari dewi laut Thetis dan pahlawan Peleus, Achilles diberkati oleh para dewa sejak dari lahir. Ibunya Thetis, sangat mencintai anaknya, telah mencoba menghangatkan Achillesdalam api suci untuk membuatnya abadi. Tapi suaminya Peleus menentangnya, mengatakan "Kau akan menghancurkan Achilles sebagai manusia", dan pada akhirnya Achilles tumbuh sementara hanya beberapa bagian tertentu dari dirinya yang tetap manusia.
Akhirnya, ketika peperangan pecah antara Troia dan Achaea, Achilles disuruh memilih oleh ibunya Thetis, berikut:
Apakah kau ingin dapat hidup panjang dan damai tanpa namamu dikenang oleh banyak orang ? Atau apakah kau ingin menjalani kehidupan singkat sebagai pahlawan dengan prestasi cemerlang dalam pertempuran?
Pilihan Achilles sudah pasti. Pada saat yang sama, ibunya merasakan kebanggan di dalam diri Achilles, dia juga merasakan kesedihan yang mendalam. Karena takdir anaknya sudah ditetapkan sejak dia dilahirkan. Jika dia memilih menjadi pahlawan, dia akan memiliki umur yang pendek, sama seperti berlari kencang untuk menerobos maju.
Setelah tumbuh dewasa, dia berpartisipasi dalam Perang Troya sebagai bagian dari tentara Achaean dan terus mencetak banyak prestasi besar. Tubuhnya, diberkati oleh semua dewa-dewa, dia tidak pernah menerima luka apapun, dan tombak yang telah diberikan oleh ayahnya pada dirinya menembus semua pahlawan lainnya. Dengan keretanya yang dipimpin oleh tiga tunggangan, yang terdiri dari dua kuda dewa yang diberikan kepadanya sebagai hadiah dari dewa laut dan kuda terkenal yang dia curi ketika menyerang sebuah kota, dan tidak ada yang bisa mengejarnya dari belakang.
Namun, selama duel antara Achilles dan pahlawan terbesar dalam perang Troya, Hector, yang kekuatan dan keterampilannya menyamai Achilles, akhirnya titik kelemahanya terbuka. Bahkan jika Hector adalah pembunuh sahabat dekat Achilles, Patroclus, cara Achilles mempermalukan Hector dengan menyeret mayatnya dengan kereta kuda miliknya adalah tindakan yang sangat bodoh dan tidak dapat dimaafkan.
Akibatnya, dia memicu kemarahan sang dewa matahari, Apollo. Padahal dia sudah diperingatkan berkali-kali untuk lebih menahan dirinya sendiri, namun Achilles terus  membantai tentara Troya di sekitarnya. Lalu, kemarahan dewa Apollo membantu pemanah ahli tentara Troya, Paris, dan menuntunnya untuk memanah titik kelemahan Achilles, yaitu di tumitnya.
Setelah panah-panah menembus jantungnya, Achilles merasakan kematianya, namun Achilles terus menerus bertarung dan membantai para tentara Troya di sekitar menggunakan seluruh kekuatanya. Sama seperti yang diramalkan, masa hidupnya sangat pendek, namun legendanya sebagai pahlawan telah terukir di dunia.
Seorang manusia yang hampir menyamai tingkatan seorang dewa, seorang pahlawan yang bisa berlari sangat cepat dengan tubuh yang kebal. Namun, tumitnyalah, satu-satunya titik kelemahan pahlawan ini.
Lalu, Archer of Black, Chiron, menjadi guru Achilles. Ketika Achilles masih kecil, ibunya Thitis kembali ke rumahnya di dasar laut karena terjadi perselisihan dengan ayahnya, Peleus. Chiron yang telah mendidik banyak pahlawan , adalah teman lama dari Peleus, dan dengan senang hati menerima peran menjadi pelatih Achilles.
…begitulah. Sangatlah alami kalau Achilles merasa goyah untuk sesaat.  Chiron telah menjadi figur yang mutlak dan  simbol bagi dirinya yang muda. Kelembutan, keseriusan, dan kata-katanya telah terukir seperti sihir ke dalam Achilles muda.
Selama sembilan tahun, Chiron adalah seorang ayah, guru kakak, dan teman dekat Achilles yang telah mereka habiskan bersama saat Achilles masih muda. Bagi Achilles, anak seorang pahlawan, telah menerima berkah-berkah dari para dewa Olimpian dan telah diberi penampilan yang mengagumkan, kehormatan dan dikagumi banyak prajurit muda, hanya ada beberapa orang yang benar-benar dia sebut sahabat atau guru.
Adalah Chiron, tanpa diragukan lagi, salah satu dari beberapa orang itu. Dia adalah seseorang yang sangat Achilles percayai sama seperti sahabatnya Patroclus.
Pahlawan itu sekarang menghalangi jalanya mencari Holy Grail.
Sebagai seorang Archer of Black, sebagai seorang musuh, dan juga sebagai seorang lawan yang harus di bunuh….
“Bersiaplah, Guru.”
“Sungguh kata-kata yang tidak perlu, Rider of Red
Meskipun dia sedikit goyah karena kata-kata kasar itu, Rider merah mengayunkan dengan kuat tombaknya mereka berdua mulai bertarung sambil menjaga jarak yang di butuhkan diantara mereka agar bisa berbicara satu sama lainya. Dengan kata lain, pemanah itu memperbolehkan menyerangya, seorang prajurit dengan baju zirah ringan untuk mendekatinya.
Bahkan saat Rider Merah sedang dicengkram sedikit penyesalan, ujung tombak miliknya sama sekali tidak tumpul, dan selalu menargetkan jantung musuhnya. Namun, dengan keberanian yang sembrono seperti itu, seperti prajurit gila yang tidak kenal akan ketakutan, Archer Hitam mengambil sebuah langkah maju bersamaan dengan saat tombak di hunuskan.
Kemampuan Achilles sebagai pelari terkenal dengan tombaknya sangatlah hebat, dan itu memungkinkan dirinya bisa dipanggil sebagai Lancer Class. Normalnya, serangan Achilles dapat mencongkel jantung Archer Hitam keluar.
Namun Rider Merah melupakan satu hal.
Bukanya mencongkel jantung musuhnya, ujung tombak miliknya hanya melewati sisi Archer Hitam saja.
“Ap…..!!”
“Apa kau lupa, Rider? Siapa yang memberimu tombak ini dan siapa juga yang telah mengajarimu dasar-dasar menggunakannya?”
Rider menerima kejutan dari kata-kata Archer Hitam. Sepeti apa yang dia katakan, Rider tidakllah mempelajari kemampuan menggunakan tombaknya secara otodidak. Awalnya dia dilatih dasar-dasarnya saja oleh Chiron. Oleh karena itu, sangatlah alami bagi Archer melihat keseluruhan pergerakan tubuh dan kebiasaan Achilles. Bukan hanya itu, tombak itu awalnya adalah hadiah untuk Peleus dan istrinya atas pernikahanya, jadi dia sangat mengetahui jarak dan jangkauan seranganya.
Dan Arhcer juga memperlihatkan kemampuan yang lebih mengejutkan lebih daripada itu. Pada saat yang sama saat dia mengambil langkah maju, dia telah menyiapkan anak panah yang siap di tembakkan pada busurnya. Benar-benar sangat cepat. Dia telah menyiapkan tembakan yang tidak dapat dihindari dalam jarak yang sangat dekat.
“…kau tahu, kau akan mati, Rider?
Memperbaiki bidikanya ke arah kepala Rider MerahArcher Hitam menembakkan anak panah tanpa ragu-ragu. Rider segera melakukan salto ke belakang untuk menghindarinya. Dengan pergerakan dengan kecepatan yang mengaggumkan, dia nyaris bisa menghindarinya, sehingga serangan Archer hanya menggores kulitnya saja.
Namun kemudian Archer menendang kakinya saat itu juga. Dengan kuda-kuda yang telah rusak, Rider terpental ke belakang  dan menabrak pohon. Di saat jarak mereka melebar, Archermenyiapkan lagi beberapa anak panah dan segera menembakkanya.
Di dalam diri Rider, semacam saklar telah memicunya. Dia menggeretakkan giginya, dan menyoroti Archer dengan mata yang penuh kesiapan. Dia berlari lurus menerjang anak panah yang telah di tembakkan oleh Archer ke arahnya. Sambil menghindari anak panah, dia melakukan salto ke depan, dia mengayunkan tombaknya dan berniat menebas Archer, namun Archer  berhasil menghindarinya.
Sebuah perasaan gembira menyebar ke seluruh penjuru urat nadinya. Dia melolong dengan ganasnya, menghunuskan tombkanya lagi dan lagi. Archer sanggup menghindari hujaman tombak Rider yang seperti peluru terus menerus, sambil mempersiapkan anak panah miliknya dan mengontrol jarak di antara mereka.
Sangat tidak memungkinkan untuk seorang pemanah bertarung jarak dekat, dan jika saja Rider sanggup menjangkau Archer dengan tombak miliknya, dia bisa saja menang. Rider terlalu sibuk melancarkan serangan membabi buta untuk berpikir demikian. Lawanya adalah Chiron, orang bijak yang paling terkenal, yang tidak hanya mendidik Rider seorang, namun beberapa pahlawan terkenal lainya seperti: Heracles, Jason, Castor dan Asclepius.
Memendekkan jarak akan membuat mereka bertarung dengan seimbang. Pada poin ini, jika Rider melebarkan jarak mereka lebih jauh lagi, kekalahannya sudah akan dipastikan…..!
Rider menyerang dengan menghunuskan, mengayunkan dan menggunakan tipuan dengan tombkanya. Archer menghindari seranganya dan terkadang bertahan menggunakan busurnya, dan selanjutnya, dia menambahkan tinjuan dan tendangan ketika sedang menembakkan anak panahnya ketika ada kesempatan.
Tubuh Rider terluka parah karena tembakan dari jarak dekat milik Archer. Meskipun dengan tubuhnya yang telah diberkati oleh para dewa, dia tidak berdaya oleh serangan Archer yang juga memiliki [Divinity] sama seperti dirinya.
Semua serangan yang dilancarkan Rider sudah terbaca, dan di sisi lainya, dia tidak bisa membaca serangan yang di lancarkan oleh musuhnya. entah bagaimana caranya dia berhasil menjaga sebuah keseimbangan antara sifat keras kepala miliknya. Namun jika keadaan ini terus berlanjut, dia akan terpojok.
Rider melepas semua pikiran dari pertarungan sebelumnya untuk sesaat. Alasan mengapa semua seranganya dapat terbaca ialah karena dia belajar teknik dasarnya dari Archer yang ada di depanya saat ini. Semuanya, mulai dari kuda-kuda hingga timing ketika menghunuskan tombaknya untuk membuat sebuah tebasan.
Jangan tertipu….”
Memang benar bahwa Archer-lah yang telah mengajarinya teknik dasar-dasar. Namun Rider tidak berhasil selalu menang sejak saat dia melemparkan dirinya ke dalam pertempuran di usia muda dengan hanya teknik dasar-dasar. Dia telah belajar bagaimana menerapkan teknik dasarnya dalam pertarungan dan bagaimana untuk bertahan hidup di tengah-tengah keputusasaan medan pertempuran. Dia telah bertarung dengan banyak pahlawan dan mempertajam keahlianya selama proses tersebut.
Bagaimana caranya menemukan jalan agar dia sanggup bertahan hidup dalam setiap pertarungan dan juga pada saat- saat kritis? Benar, sama seperti waktu itu dia—
Gerakan Rider. Dia berhenti menggunakan teknik dasar dan mencoba untuk membanjiri lawan dengan kecepatan yang luar biasa, dan sekaligus mulai mengubah serangannya dengan gerakan mengecoh.
Ketika dia terlihat melepaskan tombaknya, dia menendang Archer dan mengirimnya terbang menggunakan titik kelemah fatal miliknya, yaitu tumitnya.
Dia kemudian menendang tombaknya ke atas saat terjatuh dan meraihnya sekali lagi di udara, dan kemudian menetapkan tujuannya dan menghunuskan tombaknya. Tombaknya berhasil menggores leher Archer, menyebabkan darahnya mengalir keluar.
“Kuh…!!”
Menyadari dirinya sangat terpojok, Archer memperlebar jarak di antara mereka. Rider melambaikan tombaknya seolah-olah mengatakan, "Bagaimana serangan barusan?"
Ketika tatapan mereka saling bertemu, mereka memberikan senyuman tanpa takut.
“…Hmm. Jadi kau sudah berhasil meraih posisimu sebagai Heroic Spirit 
“Itu benar. Tidak sepertimu yang hanya mendidik dan mengajari, aku sudah pernah melewati pertarungan  yang tak terbatas jumlahnya.”
Dia telah menyeberangi pisau, berjuang sampai mati, dan bertukar persahabatan jiwa dengan banyak pahlawan. Memang benar bahwa dia telah mempelajari teknik dasar-dasar dari Chiron. Namun mayat yang Rider tumpuk dalam pertempuran-juga kebenaran lain baginya.
“Tidak, aku merasa lega. Hal ini akan meninggalkan rasa yang buruk di dalam mulutku jika aku membunuh muridku sendiri secara sepihak.”
Archer tersenyum, dan Rider tersenyum kembali.
Rider sudah membuang keraguannya atas melawan gurunya. Semua yang tersisa adalah sukacita pertarungan sampai mati  terhadap lawan yang kuat.
Rider goyah mengenai apakah dia harus menutup jarak di antara mereka atau tidak. Itu taktik standar baginya untuk menyerang musuhnya, tapi mungkin ini saat yang tepat untuk membuang  taktik standar itu.
Tujuan utama dari tombak yang dipegangnya adalah untuk dilempar. Ini adalah senjata yang dapat menghancurkan semua pertahanan dan menembus dada pahlawan. Chiron sangatmemahami kengerian tombak itu lebih baik dari orang lain. Itu karena, dialah orang yang telah memberikan tombak itu sebagai hadiah.
“Sekarang, apa yang harus kulakukan?”
Tatapan mereka saling bertemu. Rider merah dan Archer hitam sedang merencanakan langkah mereka selanjutnya sambil mengamati setiap tindakan satu sama lainya.
Rider tersenyum, dan Archer tersenyum kembali. Pasti ada sebuah ikatan di antara mereka. Guru dan murid, teman dan sahabat yang dipercaya satu sama lain dari dasar hati mereka. Bahkan jika mereka sedang menekan perasaan masing-masing,  perasaan 'sukacita' ketika saling berhadapan satu sama lain telah melampaui perasaan mereka yang lain sudah pasti ada di dalam hati mereka.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 18 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.