09 Mei 2017

Mondaiji-tachi ga Isekai Kara Kuru sou Desu yo? Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia


CHAPTER 2
(Translater : Orion)

Part 1
---Dataran Tenggara dari [Underwood].
Pertempuran di Dataran yang kini menjadi kacau saat Asuka, Sala dan Aliansi [Draco Grief] berada di tengah - tengah barisan musuh dan dikelilingi oleh Titan yang bangkit kembali.
Titan yang terlepas dari kutukan Wabah Kematian Hitam Percher.
Menyadari turunnya semangat juang para rekannya dari Aliansi, Sala meneriakkan kata – kata penyemangat kepada mereka :
“Tetaplah Bersemangat! Bahkan jika musuh – musuh kita telah terlepas dari kutukan Kematian Hitam, kekuatan mereka masih belum pulih sepenuhnya! Selama kita mengalahkan penyihir ini, ini masih akan menjadi kemenangan kita! TIDAK PERDULI APA YANG AKAN DATANG, TETAPLAH JAGA FORMASI KALIAN SAMPAI AKHIR!”
Kata – kata tersebut bukanlah kalimat bijaksana untuk menginspirasi mereka, yang sedang di kepung. Berada terlalu jauh sampai ke wilayah musuh mereka tidak memiliki kesempatan untuk keluar dari situasi ini jika mereka diliputi dengan rasa takut. Dan solusi terbaik berdasarkan keadaan mereka saat ini adalah mengalahkan Aura yang memanipulasi para Titan.
“Kawan – kawan, Aku akan mengatasi dia! Atasi para Titan dan jangan biarkan mereka menyerbu tempat yang kita tinggalkan! Mari bergerak!”
Dengan semangat pertarungan dan teriakan para anggota Aliansi, mereka bergerak dan melancarkan serangan kepada para Titan.
Sala yang berdiri di depan Aura melirik dengan penuh arti ke arah Asuka dan Percher.
“Tolong pinjamkan kekuatan kalian untuk mengalahkannya.”
“Bukankah kau pikir sekarang sudah sedikit terlambat untuk mengatakan hal itu? Aku sudah merencanakan hal itu dari awal.”
“Meskipun kau bilang begitu, tanpa ada kemungkinan bagi kita untuk menang, semua yang barusan kau katakan hanyalah murni kebohongan. Bagaimana kau mengharapkanku untuk membantu mengalahkan seseorang yang mempunyai kekuatan melebihiku?”
Percher bertanya dengan menyindir dan nadanya tampak mempunyai rasa  marah.
Namun, sebelum Asuka membantahnya, Jin masuk kedalam pikirannya untuk berbicara :
Percher, apakah kau bisa menyentuh [Mata Kematian Balor] untuk sementara ?
.....apa katamu?
Sebagai strategi pertempuran, pertanyaan semacam itu cukup aneh tapi Percher memutuskan untuk menjawabnya.
Aura berdiri di tengah – tengah ritual memegang [Mata Kematian Balor] sementara cahaya hitam keruh berada di sekitarnya. Dilihat dari bentuk pusaran yang tampaknya berbeda dari angin Kematian Hitam, Percher menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik.
.....Tidak, itu tidak mungkin. Itu mirip dengan mencelupkan tangan ke rawa beracun.
Bahkan Percher tidak mampu melakukannya?
Aku sudah katakan bahwa itu mustahil. Meskipun aku mendeskripsikannya sebagai rawa beracun, benda itu pada dasarnya adalah Gift yang secara fundamental setara dengan Angin Kematian yang aku keluarkan saat aku masih menjadi roh kelas Dewa. Siapapun yang menyentuhnya akan segera mati.
.....begitukah?
Selain itu, jika hanya bisa menyentuhnya bukannya tak akan ada gunanya kan ? Jin, rencana apa yang ingin kau lakukan untukku ?
Percher bertanya dengan ekspresi keheranan. Jin tediam untuk sementara waktu sebelum bergumam pelan, seakan sedang berpikir serius tentang sesuatu.
---tapi mungkin itu mungkin adalah hal yang sama.
Hah?
Baik kau dan [Mata Kematian Balor] mungkin pada dasarnya sama.
Sudut pandang seperti itu membuatnya terkejut dan Percher tidak mengira tapi melebarkan matanya dan meragukan apa yang di dengarnya.
.....Bukan dari cabang keluarga yang sama tapi dari jenis tipe dan elemen yang sama ?
Nn. Raja Iblis Balor pada dasarnya Humanoid. Tapi karena ras-nya adalah Titan. Selain itu, dikatakan dalam mitologi Celtic bahwa ‘Mata Kematian’nya adalah sesuatu yang tercipta setelah beberapa saat dan bukannya dari lahir. Dari sana, kita bisa berspekulasi bahwa ia mendapatkan kekuatan Dewa-nya semasa hidupnya di suatu tempat dan juga secara bersamaan menjadi sebuah subjek yang menguasai ketakutan dan rasa hormat. Dengan kata lain, selama masa dimana cara perbudakan Kematian Hitam dibuat yang membuat ia menjadi simbol kekaguman dan kematian. Dan aku percaya bahwa Mata Kematian alias [Mata Kematian Balor] muncul pada saat itu ketika terkumpul ke tingkat tertentu. Kemungkinannya tinggi bahwa itu tipe yang sama dari roh kelas-Dewa seperti kelas-Dewa Percher---Black Percher.
Mendengar dugaan Jin, Percher sangat terkejut dan dia mengerutkan alisnya sambil mengangguk.
...Aku mengerti. Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan kepada [Mata Kematian Balor]?
Kau mempunyai kecocokan yang tinggi dengan kekuatan [Mata Kematian Balor] di pertempuran, dan itu membuatmu mampu merebut Mata Kematian dari genggaman musuh pada saat dalam proses masih merapal mantra.
...kau mempunyai rencana dengan beberapa tuntutan yang tidak masuk akal.
Nn.....itu sebabnya aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya...jika kau setuju dengan rencana tersebut, tolong kasih informasinya ke Asuka-san. Kupikir dia akan membantumu.
Begitukah? Aku akan memikirkannya jika aku sedang berada dalam mood yang bagus.
Pada saat itu, Percher memotong pembicaraan telepatinya. Melebarkan matanya, dia melihat ke Asuka.
Terkejut dengan tatapan yang tiba – tiba dari Percher ke arahnya, Asuka memiringkan kepalanya dan bertanya :
“Ada apa? Sudah punya rencana?”
“Yes. Tapi ini akan menjadi pertaruhan yang kecil dengan hanya satu kali kesempatan.....Tertarik untuk bergabung denganku?” Percher menjawab dengan senyum santai sambil Asuka menganggukan kepalanya dengan antusias.
“Tidak ada waktu lagi untuk di sia – sia kan dengan menyembunyikan rahasia dan menahan informasi! Jika kau punya rencana, cepat katakan saja!”
“.....baiklah, ini tidak terlalu rumit. Kau dan Deen akan membuka jalan sampai ke tempat di mana  [Mata Kematian Balor] berada. Dan aku akan berlari di sepanjang jalan itu untuk merebut Mata Kematian dari tangan musuh. Bagaimana dengan itu? Sederhana kan? Kata Percher sambil tersenyum.
Wajah Asuka menjadi murung dengan kata – kata Percher saat ia melihat ke arah cahaya hitam keruh yang berkumpul di sekitar tempat ritual.
“..... Maksudmu Deen harus menerjang ke arah gumpalan cahaya hitam yang berkumpul?”
“Yeah, begitulah. Benda tersebut pada dasaarnya mirip dengan elemen Anging Kematian-ku. Tidak akan berefek apa – apa terhadap Boneka Besi-mu..... Hanya saja Aura tidak akan membiarkan hal tersebut. Jadi, apa keputusanmu?”
“.....Okay. Tidak ada waktu lagi untuk ragu – ragu pada keputusan tersebut.”
Memutar pandangannya ke belakang, Asuka bisa melihat para Titan yang telah terlepas dari kutukan Kematian Hitam menuju ke kota [Underwood] dan mulai merusak bangunan. Tidak ada waktu lagi untuk rasa ragu.
Percher melihat ke arah Asuka dengan sikap yang dingin sebelum tersenyum.
“Baiklah, karena gadis kecil merah telah setuju, lalu aku juga akan memainkan peranku dalam pertaruhan ini. Ah, benar juga. Salamander bisa mundur sekarang.”
“Ta...Tap---“
“Sala, jangan khawatir tentang kita, pimpin pertempuran dengan Titan.”
Dengan itu, Asuka mulai mengambil tindakan dengan turun dari bahu Deen untuk berdiri di tanah sambil menjangkau tangannya ke arah tangan Deen, berkata dengan lembut :
“.....Maaf Deen. Aku selalu memberikanmu misi yang paling membosankan. Tapi ini adalah sesuatu yang hanya kau dapat lakukan.
“DeeN.”
Deen memberikan gerakan kecil dari kepala satu matanya sambil memberikan tanggapan yang singkat. Lagi pula, tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya permintaan Asuka, Boneka Besi Merah ini selalu melaksanakan perintahnya tanpa pertanyaan.
Dan meskipun mereka tidak berkomunikasi dengan kata – kata, Asuka merasa bahwa ia lebih diandalkan daripada orang lain.
Percher mengambil langkah mundur saat dia membuat jalan bagi Deen yang pandangannya mengarah ke arah Aura langsung---
“Hanya sebentar juga tidak apa – apa. Terjang dan bukakan jalan bagiku untuk dapat meraih [Mata Kematian Balor].”
“Aku mengerti---Deen! Terobos!”
“DEEEEEEEEeeeEEEEEEEEEEEEEEEEEN!”
Deen meraung dengan keras sebelum melancarkan serangan terbang menuju rawa yang keruh seperti cahaya hitam yang menyelubungi.
Aura yang berdiri di tengah – tengah tertawa terbahak – bahak yang tampaknya mengejek upaya Asuka dan Percher yang mana dia percaya yang tampaknya gagah berani tapi tindakan yang lemah dan bodoh.
“Aku mengira kalian akan mencoba sesuatu yang lebih baik daripada mencoba menerobos dengan kekuatan yang brutal! Sepertinya kau telah rusak berkali – kali dan tidak bisa bertindak dengan benar, [Raja Iblis Kematian Hitam]!”
“Siapa yang tahu? Biarkan hasil yang akan berbicara bukan begitu?”
Percher menanggapi senyuman mengejek Aura dengan senyumannya sendiri.
Kata – katanya tepat dan Aura kehilangan ketenangannya segera.
Deen yang mengubah dirinya sendiri ke mode tempur terus mnerjang maju ke gumapaln cahaya hitam yang terselubungi dengan tubuh besinya. Sama seperti pertempuran dengan Percher sebelumnya, terbukti sekali lagi bahwa Gift Kematian tidak memiliki efek terhadap Besi Suci Langka yang telah dibangun.
Dan Aura telah bersiap untuk skenario ini.
“Hoho, menggunakan jenis serangan yang sama dan berharap itu akan bekerja ? .....Jangan meremehkanku!”
Aura mengeluarkan [Harpa Emas] unuk memanggil petir dari awan petir di atas. Meskipun tampaknya bahwa kontrol dari target petirnya tidak dapat dikatakan tepat, beberapa dari mereka berhasil mengenai Deen. Tapi meskipun tombak petir diturunkan dari langit mengenai Deen, ia terus maju menerobos sambil mengaum dengan marah.
“DEEEEEEEEeeeEEEEEEEEEEEEEEEEEN!”
Petir yang diturunkan oleh pengontrol cuaca mengalir melalui tubuh Raksasa Merah. Di tengah ledakan, debu dan asap ledakan dari wilayah di sekitar Deen.
Menyadari bahwa Boneka Besi masih bergerak maju sambil menghancurkan penutup dengan tangannya, Aura mendecihkan lidahnya dengan perasaan menjengkelkan.
“Tch, menjengkelkan......! Baiklah, Aku hanya harus mengincar yang mengendalikannya!”
Aura mengumpulkan bagian dari cahaya hitam yang terpancar dari [Mata Kematian Balor] ke dalam telapak tangannya. Dan menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi, Percher dengan panik berteriak :
“Tidak Baik.....Asuka, Sembunyi! CEPAT---!
“Uu!”
Percher berteriak dengan keras tapi sudah terlambat.
Cahaya hitam pekat yang ada di tangan Aura dilempar ke arah dada Asuka. Asuka yang merasakan bahaya panik mengangkat tangan kanannya dan sinar.....

Part 2
“.....Eh?”
Kuro Usagi yang bergegas untuk menyelamatkan Asuka sangat terkejut dengan pemandangan itu sampai dia berhenti sejenak. Demikian pula, Sala yang juga bergegas, Percher, dan bahkan Aura musuhnya sendiri, perhatian mereka tertuju kepada api yang dikeluarkan dari tangan kanan Asuka.
“Apa...Apa ini?”
Bahkan Asuka sendiri tidak bisa berkata – kata oleh pemandangan yang ada di depannya.
---Benar. Ini bukan kiasan.
Api yang dikeluarkan dari sarung tangan kanan Asuka telah MEMBAKAR HABIS SINAR HITAM TERSEBUT---
“Bagaimana....Bagaimana itu mungkin?! Manusia...ada Manusia yang dapat memusnahkan skill Gift kelas Dewa?”
Alasan Aura begitu kesal disebabkan oleh pemandangan tidak masuk akal di depan matanya.
Asuka hanya memberikan perintah untuk “BAKAR!” pada saat sebelum Sinar Kematian mengenainya dan dengan itu, dia telah memusnahkan sinar yang akan menyegel takdirnya. Ini bukan berarti Aura tidak tahu cara kerja dari dunia tapi itu kebalikannya yang menyebabkan dia memahami sejauh mana pemandangan ini sebelum dia melanggar hukum yang normal dari dunia. Bahkan Kuro Usagi yang lebih mengenal Gift Asuka butuh waktu untuk segera memahami situasinya.
[Kekuasaan] dari Asuka-san..... Mungkinkah itu juga termasuk [Sinar Medusa] dan [Sinar Balor] berada di bawah kontrol Gift-nya?!
Kuro Usagi melihat kejadian di mana Asuka menunjukkan kekuatannya.
Satu, menggunakan kekuatan Roh untuk menundukkan orang – orang yang lebih rendah daripada dirinya.
Dua, menambah tingkat spiritual seseorang.
Tiga, menggunakan kekuatannya untuk meningkatkan kekuatan spiritual dari Gift ke level selanjutnya.
Gift yang tidak dapat ditempatkan ke dalam klasifikasi tertentu karena luasnya tingkat kemampuannya. Oleh karena itu, Kuro Usagi mengira bahwa kekuatan Gift yang sesungguhnya adalah salah satu yang mendasar dengan beragam kekuatan dibaliknya.
Sinar dari Medusa adalah Gift yang dapat menghentikan serangan target.
Sedangkan Sinar dari Balor adalah Gift yang dapat mematahkan semangat target.
Mungkinkah Sinar yang barusan dikeluarkan oleh Asuka juga merupakan salah satu jenis yang bisa mempengaruhi semangat target ?
Gift yang dibuat oleh Sala-sama tidaklah begitu kuat dengan sendirinya. Dengan kekuatan yang berada di sarung tangan yang bahkan tidak dapat melelehkan setumpuk besi. Tapi ketika Gift yang begitu sederhana berada di tangan Asuka untuk digunakan, bahkan yang seharusnya dihasilkan adalah semburan kecil api akan berubah menjadi keajaiban yang dapat bersaing setara dengan tingkat Dewa hanya dengan perintah “BAKAR”!
Benar juga---pemaksimalkan dari Gift ke tingkat terhebatnya. Jika tebakan ini benar, Asuka bisa mendapatkan kekuatan untuk bertarung setara dengan Dewa hanya dengan Gift yang sederhana.
Percher yang juga menyaksikan pemandangan itu tiba – tiba tertarik dengan kekuatan misterius Asuka yang ada di dalam dirinya.
Itu memang menarik! Sebuah komunitas yang telah mengumpulkan begitu banyak orang – orang berbakat dengan kekuatan misterius masih berkeliaran di tingkat rendah.....
Asuka yang saaat ini masih belum bisa mengendalikan bakatnya.
Tapi dilihat dari standar permata yang masih mentah dan kasar, bisa dikatakan ini adalah bakat yang sangat mengesankan yang akan berada di peringkat tinggi. Dan itulah penilaian Percher atas Gift Asuka.
Diikuti dengan semangat juang yang membara di hatinya, Percher berlari di sepanjang jalan yang dibuka oleh Deen dan mengulurkan tangannya ke arah [Mata Kematian Balor].
Dengan senyum yang mengejek ke arah Aura, dia berkata :
“Ini berakhir di sini, Aura. Sekarang giliranmu untuk merasakan Sinar [Mata Kematian Balor].
“Kau... Dasar bedebah! SIALAN KAU!”
Aura berteriak putus asa dengan rasa marah saat dia terus memegang [Mata Kematian Balor] dengan erat.
Tapi itu hanya tindakan yang sia – sia olehnya. Seorang  penyihir biasa melawan gabungan dari jutaan toh yang dibangkitkan setelah dibunuh oleh Kematian Hitam, bahkan jika dia memiliki pengalaman dan bakat, tidak butuh banyak waktu untuk memahami siapa yang akan menang nantinya.
Aura yang sangat menolak tampaknya menyadari hal yang tak terelakkkan saat dia memejamkan matanya untuk sesaat.
.....Maafkan aku, Yang Mulia. Sepertinya tidak ada cara lain selain itu.
Aura mengeluarkan sebuah benda dari jubahnya yang tampak mirip seperti ujung tombak.
Namun, tombak itu yang panjangnya hanya seperti belati memancarkan cahaya terang yang menyilaukan. Dan ketika Aura mengangkat ujung tombak ke Percher, yang mengeluarkan kekuatan penuh untuk merebutnya, Percher menyadari.
“Aura! Bukankah ujung tombak itu.....”
“Yes. Betul. Ini adalah ujung tombak yang telah menembus [Mata Kematian Balor] di Masa lalu. [Tombak Suci Brionac]. Meskipun ini tidak lengkap, tapi dengan jarak sedekat ini.....”
Membulatkan tekadnya, Aura menancapkan ujung tombak ke Mata kematian, menyebabkannya membatu dan retak menjadi dua bagian.
Separuhnya berada di tangan Percher sementara yang lainnya berada di tangannya.
Cahaya gelap yang mengelilingi mereka mengeluarkan suara siulan keras yang mulai meningkat di dalam kekacauan tersebut dan menyerang semua musuh dan teman tanpa kenal ampun. Pada saat cahaya gelap akan menyerang Aura yang telah terlempar oleh ledakkan sebelumnya, dia diselamatkan oleh Rin yang datang tepat pada waktunya.
“Aura-san! Apa kau baik – baik saja?!”
“.....Nn. Rin, terima kasih.”
Menopang Aura dengan dirinya sebagai sandaran, Rin cepat – cepat kabur dari tempat Ritual dalam sekejap mata. Di timpat di mana Sinar kematian mengamuk dengan lepas kendali, tidak ada yang menyadari kepergian mereka.
Memegang setengah dari [Mata Kematia Balor], Percher melihaat ke sekeliling medan perang dimana jeritan dan rintihan kesakitan mulai terdengar.
“Ini terlihat seperti perkelahian...”
Sinar kematian yang mirip dengan Angin Hitam kematian itu berputar – puutar dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya. Kemungkinan besar karena Percher yang mempunyai kecocokan yang tinggi dengan elemen tersebut ketika bertemu sebelum itu hancur, mengarah dari sebagian kekuatan Mata Kematian dikeluarkan.
Dan karena [Mata Kematian Balor] hancur, mereka hanya bisa menunggu itu untuk tenang dengan berlalunya waktu.
“---Percher! Dibelakangmu! Hindari itu dengan cepat!”
“Eh?” Percher berpaling melihat ke belakanganya untuk melihat kumpulan awan dari Sinar kematian mendekatinya dengan cepat.
Dan untuk melindungi Percher, Kuro Usagi berdiri di antara Sinar kematian dan Percher.
“SUN ARMOR GUH.....”
Meskipun Kuro Usagi telah mengeluarkan [Kertas Mahabharata-nya] untuk melengkapi dirinya dengan armor yang tak bisa dihancurkan, dampak dari sinar berhasil membuatnya terlempar ke tanah beberapa meter dari Percher.
Percher yang terkejut dengan kejadian tersebut pikirannya terdiam sesaat sebelum sadar kembali untuk bergegas ke arah Kuro Usagi.
“Kuro...Kuro Usagi! Kau...!”
“.....Uu.....” Kuro Usagi yang kehilangan kesadarannya terbring lemas di tanah.
Percher yang pucat karena khawatir, lungsung mulai mengecek Kuro Usagi. Setelah menyadari bahwa Kuro Usagi hanya kehilangan kesadaran tanpa luka serius lainnya, Percher merasa lega.
Asuka yang bergegas dengan wajah penuh kekahawatiran bertanya dengan emosi khawatirnya :
“Apakah Kuro Usagi baik – baik saja?”
“Nn. Hanya saja dia pingsan dari dampak tersebut.”
Mendengar itu, Asuka juga merasa lega.
Dan mungkin itu adalah efek samping dari Armor Matahari pada miasma dari [Mata Kematian Balor] yang berputar – putar di sekitar medan perang pada awalnya agar tenang dan mereda setelah berhadapan dengan Kuro Usagi.
Saling menatap satu sama lain, mereka berdua jatuh ke tanah dengan posisi duduk saat adrenalin keluar dari mereka dan kelelahan mulai terasa.
“Betapa leganya..... Aku tidak tau apa yang harus dikatakan kepada Izayoi-san dan Kasukabe-san jika sesuatu terjadi kepada Kuro Usagi.”
Asuka merasa lega di hatinya. Baginya Kuro Usagi adalah keberadaan yang penting bagi mereka bertiga.
Percher merasa ngeri jika membayangkan ada kejadian dimana Kuro Usagi meninggal karena kesalahannya dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meringis.
“Tapi.....Dengan ini, segalanya berakhir kan?”
“Game-nya sendiri belum berakhir dan masih ada tugas untuk mengejar para Titan yang masih tersisa.”
“Nn, hal semacam itu adalah hal kecil yang tidak perlu disebut lagi. Selama mereka tidak memiliki [Mata Kematian Baalor].....”
Percher ingin mengatakan ‘bahwa tidak ada yang perlu ditakuti’ tapi perkataannya terputus dan ekspresi wajahnya memburuk.
“.....Asuka, apakah tanggal berlanjutnya game jatuh pada hari ini?”
“Eh?... Eh?”
Asuka mengarahkan pandangannya ke langit dan dia pun juga membeku.
Muncul di langit yang penuh dengan badai, sebuah kepala dengan leher yang sangat panjang menembus awas untuk melihat ke bawah di arah mereka dengan tubuh aslinya masih tersembunyi dari pengelihatan.
Membuka rahangnya yang besar yang dengan mudahnya bisa menelan Gunung dan sungai secara keseluruhan, hal itu membuat bumi bergetar saat turun ke daratan.
Part 3
---Kastil Vampir Kuno, Dinding Luar.
Izayoi dan Gry bertemu Ayesha dan yang lainnya dipimpin oleh shikigami Jack. Dan mendengar tentang dugaan Yō dari Ayesha, wajah Izayoi menjadi muram dan ia segera memberi instruksi untuk mencari kepingan Rasi bintang ke tiga belas.
“Sial, ini salahku karena selangkah tertinggal. Setidaknya aku seharusnya memberi tahu Yō tentang peringatan yang diberikan Leticia sebelum dia dibawa pergi. Jika aku melakukannya, segala sesuatunya mungkin belum berkembang sampai ke tahap ini!”
“Itu... itu bukan kesalahanmu kan? Daripada memikirkannya, ayo cari kepingan terakhir.”
Sambil menghiburnya, Ayesha terus mencari kepingannya. Izayoi jarang merasa  resah seperti ini sampai dimana ia membutuhkan Ayesha untuk menghiburnya tapi ini dapat dimaafkan karena Game-nya mulai kembali dan Naga besar itu sedang menunggu di awan petir di atas.
Siapa yang tahu kapan Naga itu akan mulai turun ke [Underwood] di bawah.
Mungkin masih akan diam untuk saat ini tapi jika ia mengamuk, kerusakan tersbut akan besar pastinya akan menghancurkan.....mungkin.....
Izayoi tanpa sadar mencengkram lengan kirinya.
Untuk mempersiapkan yang terburuk, ia harus mempersiapkan diri secara mental.
Bahkan jika serangan tersebut---akan membunuh rekannya.

Part 4
Yō melakukan segala upaya untuk menghindar dan melindungi dirinya sendiri. Awalnya terbang di sekitar Istana, Yō segera menyadari bahwa keahliannya dalam terbang pun jauh lebih rendah dari musuhnya. Dibandingkan dengan Gryphon yang sebenarnya dan juga memiliki tanduk naga, tidak ada jalan keluar di langit.
Jadi, mengubah strategi pertarungannya, dia mendarat di bangunan di luar Dinding luar, berencana mencari perlindungan di reruntuhan untuk memberikan waktu bagi yang lainnya.
Memasuki pertarungan di tempat sempit, Yō dengan kelima inderanya yang sensitif mendorong mereka sampai batas maksimal untuk menentukan musuhnya. Mengontrol langkahnya dengan lebih ringan, dia melewati banyak bangunan di reruntuhan sementara menyembunyikan jejaknya.
Seharusnya aku tidak akan mudah ditemukkan di reruntuhan kota Dinding luar....
Ada banyak rintangan dan sedikit tempat persembunyian. Tapi selama Garol dan yang lainnya mencari kepingan terakhir, dia telah bertekad untuk menunda musuhnya selama mungkin.
Graiya menunduk menatap kota yang terbentang di luar tembok luar sambil ia mulai mengejek Yō yang sedang bersembunyi :
“Hah, mencoba untuk mengulur waktu? Kau pikir kau bisa benar - benar bersembunyi seperti itu?”
Graiya meraung dengan keras saat penampilan Gryphon Hitam-nya langsung mengalami perubahan yang cepat. Pohon Filogenetik yang di ukir di [Genome Tree] yang ada di dadanya terus menerus berputar dan menyebabkan struktur DNA-nya mengalami perubahan besar yang seperti terlahir kembali.
Suara tulang terdengar seperti di tekan bergema di langit di atasnya dan Yō tidak mengiranya sehingga ia menarik nafas tajam saat ia mengawasi perubahannya dari bayang – bayang.
Apa...Apa - apaan itu.......!
Graiya tidak lagi memiliki sayap hitam pekat dan paruh tersebut tapi muncul dua kepala dari lehernya dan sepasang rahang raksasa. Perubahan akhirnya adalah sebuah Anjing Raksasa. Graiya yang telah menjalani perubahan yang sempurna, yang tidak meninggalkan jejak dari wujud sebelumnya, sekarang adalah sebuah Cerberus yang berada di tanah di Kota luar.
Dan sambil mengendus dengan ketiga hidung itu, Graiya menatap tajam ke arah bangunan tua di mana Yō bersembunyi---
“....jadi kau disana!”
Melebarkan rahang besarnya, tanduk naga itu berkilauan saat mengeluarkan serangan badai pasir panas yang melintas menuju Yō.
Yō tersandung saat dia kehabisan bangunan tua dan melarikan diri ke langit dengan teknik terbangnya.
“Gadis bodoh! Apa kau lupa bahwa kami Gryphon tidak perlu sayap untuk terbang?”
“Uu.....!”
Bagian tubuh Graiya yang kuat melangkah ke udara dengan banyak kekuatan yang dikeluarkan dan segera mendekatkan jaraknya untuk mengigit Yō. Taring yang tajam hampir mengenainya dan Yō berhasil menghindarinya.
Namun, musuh adalah anjing berkepala tiga. Rahang besar dari anjing tersebut sekali lagi mendekat ke Yō dengan serangan yang cepat, berniat untuk mengunyah tulangnya. Dan hanya satu serangan kecil oleh taring tersebut yang mengincarnya dengan serangan terus menerus membuat luka yang cukup serius di kaki Yō, menyebabkan tetesan darah merah keluar dari luka tersebut.
Sampai pada kesimpulan dimana dia akan kehilangan anggota tubuhnya jika dia tidak segera menjauh, Yō menendang hidung dari Anjing dan mengunakan momentum tersebut untuk jatuh dengan cepat. Namun, pergerakannya tidak sempurna dan Yō hampir terjatuh ke tanah karena menendang hidung Anjing dengan kakinya, menyebabkan dia meringis kesakitan saat dia mendarat dengan canggung.
“Sakit.....!”
Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan rasa sakit. Yō segera bangun, berencana untuk melarikan diri ke reruntuhan, namun jalannya dihadang oleh Graiya yang telah kembali ke wujud Gryphon-nya sekali lagi.
Saat Yō bersiap untuk bertempur, Graiya memandang Yō dengan heran.
“......?”
“......Aku tidak mengerti. Mengapa kau tidak menggunakan [Genome Tree]-mu untuk berubah? Bahkan jika hasilnya tidak akan berubah sedikitpun, mungkin kau setidaknya akan bisa bertahan sedikit lebih lama.”
“......Berubah?” Yō terengah – engah saat dia menjawabnya dengan sebuah pertanyaan.
Tampaknya menyadari sesuatu yang tak terduga tentang lawannya, Graiya menyipitkan matanya.
“Ojou-chan, mungkinkah kau tidak tahu apa – apa tentang Gift-mu?”
“Eh?”
“[Genome Tree] adalah Gift yang bisa menciptakan Senjata Genome. Penggunanya akan berubah menjadi binatang mutan dengan cara mencontoh data dari ras lain melalui kontak fisik.....Mungkinkah kau menggunakannya tanpa mengetahui apa itu?”
Yō menahan anafasnya saat dia mengenggam liontin yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya.
“Kontak fisik.....Mengambil contoh.....?”
“Benar. Serangan kuat yang kau lancarkan padaku sebelumnya berasal dari kekuatan para Titan. Kau masih bisa mengingatnya kan? Pertarungan dengan Titan ketika mereka menyerang [Underwood] beberapa hari yang lalu, kau pasti melakukan kontak dengan mereka.”
Mendengar itu, Yō merasa seakan hatinya berhenti untuk sementara waktu.
Tanpa perlu dikatakan lagi, Yō pasti ingat saat dia diserang oleh Titan dalam pertempuran tapi dia tidak pernah berfikir bahwa dengan kontak fisik seperti itu, dia mendapatkan sebuah Gift baru.
......Tidak, sebelum itu, bukankah seharusnya kekuatan Gift berasal dari bukti bahwa dia telah menjadi dekat dengan ras yang lain---?
“....Hng. Betapa menyedihkannya. Gadis kecil, tampaknya kau bahkan tidak tahu bahwa Ayahmu telah menciptakan mondter darimu.”
“Diamlah---!”
Sementara melupakan rasa sakitnya dan dengan kemarahannya, dia mengambil sebuah langkah maju untuk melancarkan tendangan ke rahang bawah Graiya. Tendangan tersebut cukup kuat hingga membuat getaran di tanah.
Tapi menghindari hal tersebut, Graiya terbang ke arah langit sambil memberi peringatan karena belas kasihan---
“Bahkan jika kau terus hidup, kau akan terus menderita karena kemunculan binatang mutan yang ada di dalam dirimu. Nah, itu dia. Sebuah kepingan dari sebuah pengetahuan tentang Gift yang telah diciptakan ayahmu. Dan itu juga akan menjadi hadiah terakhirku untukmu sebelum kau mengucapkan Selamat Tinggal pada dunia ini!”
Api yang dipancarkan dari Tanduk Naga Graiya mulai menutupi tubuhnya dan sosok yang dibalut oleh api mulai berubah dan berubah menjadi monster yang mempunyai tubuh yang besar. Penampilan dari Gryphon Hitam tidak dapat lagi terlihat---Di tengah badai api, sebuah Naga Hitam dengan tangan dan kaki yang kokoh berdiri di tempatnya dengan tanduk Naga yang tumbuh dari kepalanya.
“Gryphon menjadi Naga.......!”
“Ini hanyalah sebagian dari kekuatan yang telah diciptakan ayahmu dengan Gift ini. Dan ini adalah kekuatan sebenarnya dari [Genome Tree]
Graiya yang telah berubah menjadi Wyvern membuka rahangnya untuk mengumpulkan api di mulutnya yang ia tembakkan untuk menghancurrkan yang ada di Luar Kota, menghanguskan daerah tersebut menjadi abu hitam sambil membuat kumpulan angin dalam udara panas memenuhi area tersebut sepertimembentuk badai. Badai yang berapi – api.
Dengan kekuatan dahsyat yang bisa menghancurkan seluruh pekarangan Istana, ia membuat badai api dan angin di daerah tersebut.
Yō hanya bisa melindungi dirinya sendiri di penutup angin puyuhnya untuk menyelamatkan dirinya karena dia tidak bisa menemukan celah dalam serangan tersebut untuk melarikan diri.
Sial.....!
Namun, pertahanan ini seperti secarik kertas yang akan terkena angin. Yō yang dikelilingi oleh Badai Api yang mengamuk bahkan tidak bisa mengankat tangannya untuk membalas dan dengan mudah terlempar kembali bersamaan dengan potongan puing – puing dari reruntuhan.
Dengan hawa panasnya yang seperti mengurangi tingkat oksigen di dearah itu, sebuah keajaiban baginya untuk bisa menjaga bagian tubuhnya tetap berada pada tempatnya.
Dan meskipun dia tahu bahwa perlu baginya untuk melarikan diri begitu ada kesempatan, Yō mendapati dirinya tidak mampu untuk memerintahkan tubuhnya untuk melakukannya.

Tubuhku.....tidak bisa bergerak.....
Rasa sakit yang berdenyut dari tubuhnya yang sudah babak belur dan luka tersebut yang terasa seperti terbakar, semuanya menambah rasa sakitnya saat dia menderita dari luka – lukanya yang membuatnya merasa seolah kematian akan mendatanginya. Dan dia tahu dia tidak dalam kondisi untuk mencari tempat persembunyian lagi.
Graiyan segera ke tempat Yō, menggelengkan kepalanya sambil melihatnya dalam keadaan yang menyedihkan.
“Jika kau tidak berjuang dengan keras, kau akan mati dengan sedikit lebih mudah. Berjuang sampai titik darah penghabisan benar – benar tak enak dipandang kau tahu, Ojou-chan.”
“Kedengarannya seperti hal yang benar ketika kau mengatakannya seperti itu.”
Meskipun terdengar seperti jawaban yang asal – asalan, itu adalah segalanya yang dapat Yō lakukan. Karena kekuatannya terkuras dengan cepat disebabkan karena tubuhnya mati rasa dan luka bakar yang menutupi tubuhnya melemahkan dirinya dengan segala rasa sakit yang digabungkan.
Dirinya saat ini bisa disamakan seperti mangsa yang tergeletak di tanah tak berdaya. Dipandang rendah oleh orang lain adalah sesuatu yang tak dapat terelakkan lagi dan saat Yō memikirkan hal itu, dia mulai tertawa pahit.
Graiya menatapnya dengan kasihan saat ia mendekat perlahan sambil mengumpulkan api lain di rahangnya. Tepat saat itu---
Sebuah bayangan kecil muncul di antara mereka berdua.
“Tinggalkan...Tinggalkan Yō-san sendiri!”
Hiasan bunga itu berada di depan mata Yō saat Kirino, yang mengikuti pergerakan Yō di langit dari bawah, berdiri di antara keduanya.
Graiya menatap tajam ke arah Kirino :
“Minggir kau anak kecil.”
“Tidak, Aku tidak akan! Yō-sama adalah salah satu penyelamat [Underwood] ! Jika...Jika penyelamatku sedang dalam kesulitan, bagaimana aku bisa meringkuk dalam ketakutan! Aku...Harga diri kami tidak serendah itu sampai melakukan hal seperti itu!”
“Kiri...Kirino...!”
Mata Kirino dipenuhi air mata tapi kata – kata yang dia teriakkan dipenuhi dengan tekadnya.
Mata Graiya yang besar berkilauan dengan cahaya yang berbahaya saat ia menelan ludahnya sambil ia mengintimidasi Kirino dengan berdiri lebih tinggi.
“Kami? [Underwood]-mu akan dimusnahkan malam ini. Selama Naga besar itu mengamuk, bahkan tidak akan bertahan sedetik pun. Kebanggaan apa yang kau andalkan huh? Minggir sekarang!”
Intimidasinya menyebabkan Kirino ketakutan tapi meskipun usianya masih muda, hatinya kuat dan didukung dengan alasan bahwa dia tidak akan minggir. Kirino berjuang melawan inderanya saat dia menatap kembali Naga Hitam untuk meneriakkan tekadnya :
“Jika...Jika begitu, itu menjadi alasan bagiku untuk menghalangi jalanmu! Menjadi bagian dari [Underwood] , jika komunitasku akan dimusnahkan, hidup kami akan terus berlanjut sampai saat itu! Jadi, sampai saat terakhir itu, Aku akan melayani moralitas dan keadilan yang aku yakini untuk melindungi penyelamat dari komunitasku!”
Dengan suara yang bergetar hampir mau menangis, dia meneriakkan kata – kata yang bisa dibenarkan secara moral bahkan jika kata – kata tersebut diberikan kepadanya. Dan sepertinya percakapan itu telah berakhir.
Graiya menyipitkan matanya saat ia menilai Kirino---
“.....Baiklah, peluklah harga diri tersebut dan lenyaplah bersama maka---!”
“Ugh...Kirino.....!”
Yō berlari setelah pulih dari mati rasa dan shock untuk berdiri di depan Kirino. Itu adalah upaya putus asa tapi dia tidak memiliki rencana yang lain. Untuk menyelamatkan Kirino, dia hanya bisa menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai dan lalu dia berdiri di depan Kirino.
Tanpa ada tempat lain untuk lari dan tanpa ada waktu lagi untuk melarikan diri.
Graiya menggetarkan bumi sambil mengeluarkan gelombang panas ke arah mereka.
Part 5
---Dalam benak Kasukabe Yō, kilatan dari pertemuan masa lalunya mulai terulang dalam pikirannya seperti lentera yang berputar.
Mulai dari gunung, laut, hutan, sungai, tempat terbuka, danau, kota, pulau, daratan, dunia, dunia baru yang aneh dansemua pertemuan lainnya di Little Garden.
Orang pertama yang mengatakan kepadanya ‘Tolong menjadi temanku’
Orang yang diam – diam duduk di samping tempat tidurnya saat dia terbaring di tempat tidur karena penyakit.
Semua orang yang membutuhkannya.
“Abaikan keluargamu, teman, kekayaan dan semua yang kau miliki di duniamu dan datanglah ke Little Garden.”
Memberiku, gadis yang tidak punya apa – apa untuk menyerah, sebuah kesempatan untuk mengubah diriku.
“.....!”
Tidak. Aku tidak bisa menyerah sekarang! Bahkan jika itu hanya kesempataan kecil, Aku pasti tidak akan membiarkannya.
Jadi, dia berhenti memutar ulang masa lalunya dalam pikirannya untuk fokus.
---Pada hari pertama pertempuran. Faceless mengatakan bahwa [Genome Tree] memiliki dua tahap dari [Berkembang] dan [Menggabungkan]. Dengan mengacu pada sarannya dan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan dari Pohon Filogenetik yang tampaknya hampir tak terbatas, seseorang bisa saja membentuk struktur DNA yang bisa meniru Eudemon itu.
---Ras Eudemon adalah eksistensi yang terbentuk dari kombinasi dua ras atau lebih.
Pemegang gen Elang dan Singa.
Pemegang gen Rusa dan Burung.
Pemegang gen Monyet, Ular dan Harimau.
Justru karena evolusi yang seharusnya tidak mungkin terjadi di Pohon Filogenetik asli, mahluk ini kemudian disebut sebagai Eudemon.
Oleh karena itu jika seseorang bisa dengan leluasa mengontrol struktur DNA untuk mengubah dasar dari sebuah kehidupan---orang tersebut pasti adalah penggabungan dari semua binatang dan mutan yang mengerikan.
Tapi,itu tidak benar! Apa yang ayah berikan kepadaku..... bukanlah sesuatu seperti itu!
Sebuah Gift yang memperbolehkan putrinya untuk bisa berdiri dengan kedua kakinya untuk berjalan ke dunia luar.
Sebuah Gift yang memegang perasaan semacam ini seharusnya bukanlah barang berbahaya semacam itu.
Jadi dia memilih untuk percaya. Untuk percaya pada waktu yang dia habiskan bersama ayahnya, untuk percaya pada hadiah itu, untuk percaya bahwa dia memiliki hak untuk menggunakan berbagai Gift.
---Kuro Usagi pernah mengatakan bahwa semangat adalah prestasi dan ciri khas kehidupan seseorang.
Kemudian semangat Kasukabe Yō akan mengumpulkan banyak harta benda sejak saat dia mulai berjalan di jalan’Pertemuan’. Liontin yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya---memegang arti dari Gift ‘Pertemuan’ baginya.
Untuk membuka jalan ke dunia dengan kakinya sendiri; memeluk sprial di tangannya, mulai dari awal kehidupan sampai akhir dunia, semua berbagai DNA dari jutaan bentuk kehidupan. Untuk mengandalkan bintang – bintang itu bersinar terang dalam jutaan pertemuan. Bentuk Kehidupan tunggal. Bentuk Kehidupan tingkat tinggi. Generasi ketiga Eudemon--- Satu yang memerintah semua ras lainnya dari zaman kuno sampai sekarang, untuk memanfaatkan semua untaian itu melebihi Tiga Puluh dua ribu tujuh ratus dan enam puluh delapan untuk membentuk keberadaan tunggal dalam waktu secepat mungkin, menjadi kolektor yang terhebat dari semua kehidupan itu sendiri---!
“APA?!”
Graiya tidak bisa menahan kekhawatiran dari ucapannya.
Gelombang panas telah di tahan oleh benda yang ada di tangannya---sebuah [Genome Tree] yang berubah.
“Itu salah! [Genome Tree] yang kau jelaskan bukanlah [Genome Tree] yang aku tahu!”
Yō menggengam liontin yang telah berubah menjadi tongkat di tangannya.
Mengangkat tongkat yang memiliki kepala ular besar di ujungnya dan sayap hijau tembaga, taring dari ular tersebut menahan panasnya sebelum mengeluarkan hal yang tampak seperti sinar energi yang menyilaukan yang mengenai sayap dari Naga Hitam.
“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!”
Gelombang energi tersebut merobek sayap seperti kertas tipis di angin. Dan dengan jeritan kesakitan yang sepertinya menandai akhir dari pertarungan, Graiya yang telah terkena serangan tersebut terlempar dari Kastil jatuh ke tanah di bawah.
Saat kesadaranya mulai samar – samar, Yō megnkonfirmasi kemenangannya sebelum membiarkan dirinya pingsan ke tanah.

Mondaiji-tachi ga Isekai Kara Kuru sou Desu yo? Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.