29 Mei 2017

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 8 Bab 9 LN Bahasa Indonesia

6 AGUSTUS 2092 / OKINAWA – VILLA ~ PANGKALAN UDARA ONNA
(Translater : Michael Alexander)

Di pagi hari ketiga liburan kami, mulai muncul badai.
Langit gelap, dan angin bertiup sangat kencang.
Sepertinya badai tropis sedang mendekat dari Laut Timur.
Tampaknya saat angin itu sampai disini, angin itu tidak akan berubah menjadi topan. Tapi jika dilihat-lihat, mungkin juga angin itu nantinya akan menyerupai topan.
Setiap saluran menyarankan untuk menghindari tempat-tempat pinggir laut, tapi kurasa memang tidak akan ada orang yang ingin ke pantai pada cuaca seperti ini. Kapal jelas saja tidak perlu dikatakan lagi.
Kami akan disini selama dua minggu, jadi kami tidak perlu tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu saat ini.
“Apa rencana Anda hari ini?”
Saat ia menyajikan roti panggang kepada Okaa-sama, Sakurai-san bertanya pertanyaan itu.
“Di cuaca seperti ini, rasanya berbelanja pun akan……”
Sedikit memiringkan kepalnya, sambil Okaa-sama berbicara sendiri. Melihatnya seperti itu, dia hampir terlihat seperti seorang gadis muda. Itu hanya sesaat, tapi dia benar-benar terlihat muda.
“Apa yang enaknya kita lakukan?”
Ditanya balik, Sakurai-san juga berhenti makan dan memiringkan kepalanya.
Dia juga tampak muda sekali, tapi tidak seperti Okaa-sama, Sakurai-san memberikan kesan seperti seorang ‘Onee-san’…… Walaupun tentu saja, Okaa-sama jauh lebih tua darinya.
“Hm…. Bagaimana kalau melihat pertunjukan tari Ryuukyuu?”
Selagi berkata seperti itu, Sakurai-san dia segera melihat ke layar di dinding.
Sambil mengoperasikan remote nya, dia menunjukkan petunjuk wisata tentang tari Ryuukyuu.
“Kelihatannya Anda juga bisa ikut mencoba bajunya.”
“Kelihatannya menarik. Bagaimana menurutmu, Miyuki-san?”
“Saya rasa bagus juga.”
“Akan kusiapkan mobilnya. Hanya saja ada satu masalah……”
Melihat aku dan Okaa-sama setuju dengan kegiatan itu, Sakurai-san tampak muram membicarakannya.
“Pertunjukan itu hanya untuk wanita saja.”
Ah, itu benar. Hal itu memang tertulis dibawah video.
Lalu, Ani…
“Baiklah kalau begitu……”
Okaa-sama merobek rotinya kecil-kecil, dan memasukkannya ke mulutnya satu per satu.
“…kau akan bebas dari tugas hari ini, Tatsuya.”
“Baik.”
“Kemarin kau mendapat undangan ke pangkalan dari Kapten bukan? Sekarang akan menjadi saat yang bagus untuk mengunjunginya. Kau bisa saja diajak untuk ikut latihan dengan mereka.”
“Baik, saya mengerti.”
Okaa-sama mengatakan kalau, kau bisa bebas, tapi pada akhirnya dia memerintahnya melakukan sesuatu.
Tanpa menunjukkan ketidaksenangan sedikit pun, Ani dengan mudahnya menerima perintah itu dengan ekspresi datarnya.
Sama seperti biasa.
“Um, Okaa-sama!”
Aku sendiri tidak tahu, mengapa aku melakukannya.
“Apa saya bisa ikut dengan Ni, Nii-san?”
Bibirku, lidahku, dan pita suaraku mengatakan hal seperti itu. Alasan mengapa aku terbata-bata menyebut ‘Nii-san’ karena biasanya aku selalu memanggilnya ‘Ani’ atau ‘orang itu’.
Bukan berarti aku gugup… atau semacamnya.
“Miyuki-san?”
Aku rasa aku sudah melakukan hal yang mengejutkan. Seperti yang kuduga, Okaa-sama melihatku dengan tatapan bingungnya.
Uuuu, sangat tidak nyaman………!
“Saya, uhm, aku juga tertarik dengan latihan yang dilakukan penyihir di militer, dan uh, sebagai seorang Ojou-sama saya harus tahu lebih banyak tentang kemampuan Guardian saya.”
“Jadi seperti itu… luar biasa sekali.”
Mengatakan kata ‘Ojou-sama’ membutuhkan perjuangan tersendiri bagiku.
Apapun yang terjadi, aku ingin Okaa-sama percaya dengan alasanku yang penuh keputusasaan.
Untuk alasan tertentu, aku merasa bersalah….
Tapi, aku tidak bermasuk berbohong. Entah bohong atau tidak, aku bahkan tidak tahu perasaanku yang sesungguhnya.
“Tatsuya, seperti yang kau dengar. Kau akan ditemani oleh Miyuki-san dalam jalan-jalanmu di pangkalan.”
“Baik.”
“Yang terpenting jangan lupa. Didepan publik, jangan gunakan honorifik seperti saat memanggil Miyuki-san. Daripada ‘Ojou-sama’, panggillah saja ‘Miyuki’. Dilarang melakukan aksi apapun yang dapat membuat mereka mengetahui kalau Miyuki-san adalah kandidat pewaris keluarga Yotsuba.”
“……Saya mengerti.”
Kali ini, anggukan Ani agak tertunda.
Tidak hanya Ani yang merasa kebingungan.
Aku sendiri merasa benar-benar malu. Bagian tentang menjadi ‘kandidat’ segera berputar-putar di kepalaku, dan sebaliknya, pikiranku dipenuhi kejadian saat Ani memanggilku ‘Miyuki’.
“Jangan salah paham. Ini hanya untuk membohongi orang lain. Tidak ada perubahan hubungan antara dirimu dan Miyuki-san.”
Ani hanya menjawab ‘seperti yang Anda minta’, pada perkataan Okaa-sama yang tidak menyenangkan.
◊ ◊ ◊
Walupun kami sedang liburan, kami tetap sedang berada ditengah-tengah perkerjaan institusi nasional. Agar tidak terlalu terkena paparan sinar matahari, aku menggunakan cardigan tembus pAndang tahan UV diluar gaun lengan pendekku, sementara itu Ani mengenakan kaos polo lengan pendek dibalik jaket musim panasnya dengan celana pendek saat kami mengunjungi Kapten Kazama di pangkalan.
“Saya Sanada, dari Departemen Pertahanan bagian Pengembangan Senjata.”
Tentara yang menyambut kami saat kami datang segera memperkenalkan dirinya. Pangkatnya Letnan. Mendengar itu, Ani tampaknya sedikit terkejut.
Memangnya kenapa… saat dia sedang bersama orang lain, dia bisa menunjukkan ekspresi-ekspresi seperti itu?
“Apa ada masalah?”
“Tidak… hanya saja kukira yang akan menjadi pemandunya adalah petugas biasa. Juga, kupikir ini adalah pangkalan udara.” *Letnan bukanlah pangkat pada angkatan udara
Mendengar perkataan Ani, ujung dari mulut Sanada-san berkedut. Rasanya dia mencoba ramah dengan kita.
“Tampaknya kau tahu banyak tentang militer.”
“Guru bela diriku pernah bekerja di militer.”
“Ahh, aku mengerti…. Ya, alasan mengapa seorang petugas teknologi sedang ada di pangkalan udara karena kemampuanku sedikit unik, dan kami kekurangan orang seperti itu disini. Alasan mengapa pemandu kalian tidak diserahkan kepada petugas biasa adalah….. karena kami sudah mengharapkan kedatanganmu.”
Letnan Sanada tersenyum saat mengatakannya. Dia tidak terlalu tampan, tapi dia memiliki hal-hal tertentu yang dapat membuat siapapun terkagum-kagum melihatnya.
Tapi entah mengapa Ani sepertinya meningkatkan penjagaannya saat melihat senyuman itu.
Sanada-san memandu kami ke sebuah ruang olahraga besar. Aku menyebutnya ruang olahraga karena itulah hal yang terlintas di pikiranku, dan mungkin juga nama aslinya bukan itu.
Dari langit-langitnya yang setinggi lima lantai tergantung banyak sekali tali, yang digunakan para tentara untuk memanjat keatas lalu melompat kembali ke bawah. Mereka tidak menggunakan parasut. Walaupun mereka memakai parasut rasanya pun itu tidak akan berguna jika melihat ketinggiannya, tapi yang jadi masalah mereka akan mengalami patah tulang.
Teknik itu adalah Sihir Akselerasi Sistematik – Deceleration, bukan….
Mungkin ditempat ini ada 50 orang.
Semua tentara yang memanjat tali itu adalah penyihir.
Tingkat kesulitan sihir ini tidaklah tinggi, tapi sangatlah tidak mungkin mereka mengajari penyihir di pangkalan ini. Melihat banyaknya penyihir di satu pangkalan yang sama… ini adalah wilayah perbatasan garis terdepan.
Aku juga bisa melihat ‘tentara kasar’ itu diantara mereka, err, Kopral Higaki maksudku.
Jadi orang itu juga penyihir…..
Kapten Kazama sudah menunggu kami. Aku dapat mengetahuinya dari caranya dia menyambut kami dengan mengirim Sanada-san, tapi aku tidak mengira dia sampai membiarkan bawahannya memimpin latihan itu sementara menunggu kedatangan kami.
Tidak, dia tidak menunggu kami, tapi dia menunggu Ani.
“Melihatmu datang secepat ini, apa bisa kuanggap kau tertarik dengan militer?”
Dengan senyuman tulus diwajahnya, Kapten Kazama berbicara dengan Ani.
“Aku tidak tertarik. Namun, aku masih belum tahu apa aku ingin jadi tentara atau tidak.”
“Yah, memang mau bagaimana lagi. Kau masih SMP bukan?”
Cara bicaranya berbeda dari kemarin, aku merasakan ada tujuan tertentu dibalik perkataannya, walaupun itu sedikit kasar.
“Baru-baru ini.”
“Kau berumur 12 tahun, tidak, 13 tahun ‘kan? Walau begitu kau adalah orang yang keren.”
“Aku 13 tahun.”
Ani menjawab dengan baik pertanyaan Kapten. Aku terkejut mendengarnya, dan aku segera terjebak dalam pikiranku.
Ani adalah seorang siswa yang terhormat di sekolah. Tidak hanya saat SD, tapi bahkan di SMP, dia adalah siswa yang sangat berprestasi dalam semua pelajaran non-sihir.
Dia tidak bisa dikatakan orang yang mudah bersosialisasi, tapi dia sudah berkali-kali diAndalkan baik oleh teman-temannya maupun adik kelasnya, dan bahkan oleh gurunya.
Kalau saja dia terlahir di keluarga bukan penyihir.
Kalau saja dia bukan keponakan dari kepala keluarga Yotsuba.
Kalau saja dia bukan anak Okaa-sama.
Kalau saja dia bukan kakakku.
….Tidak ada gunanya berpikir seperti itu.
Itu sama saja seperti berpikir, bagaimana kalau aku tidak mempunyai darah ‘Yotsuba’ Miya didalamku.
Saat aku sedang terbawa pikiranku, disaat itu, kami ditawari untuk ikut dalam latihan memanjat. Tentu saja hal itu bukan ditujukan kepadaku, tapi kepada Ani.
“Tidak, aku tidak ahli dalam sihir.”
Mendengarnya menyebut dirinya ‘aku’, bulu kudukku merinding. Apa itu maksud Okaa-sama untuk terlihat normal?
Hal itu benar-benar tidak cocok dengannya… tidak tunggu, itu bukan masalahnya!
“Um, bagaimana kau tahu tentang Nii-san?”
Sekali lagi, aku merasa susah sekali menyebut ‘Nii-san’.
Mengapa?
Walaupun tidak bisa dipungkiri kalau dia adalah kakakku.
“Bagaimana kau tahu kalau dia adalah penyihir?”
Tapi jika kebohongan kami terungkap di tempat seperti ini akan menjadi masalah.
Terlebih lagi, itu sangat penting bagiku.
Biasanya, Ani tidak mengenakan CAD. Tentu saja, dia juga tidak mengenakan barang-barang tradisional seperti jimat atau vajra.
Berdua aku dan Okaa-sama membawa terminal CAD mobile, jadi selama empat hari ini, satu-satunya orang yang benar-benar terlihat seperti penyihir hanyalah Sakurai-san.
Jangan katakan, kami sedang diamati….?
“….Hanya menebak, aku rasa.”
Kapten Kazama tampaknya kaget saat kutanyai tentang itu, dan dengan ekspresi serius dia memberikan jawaban yang kelihatannya tidak serius.
Hanya menebak, apa maksudnya itu?
Apa dia mencoba untuk melarikan diri dari pertanyaanku!?
“Bukan berarti aku menyembunyikan sesuatu.”
Disaat itu, seolah-olah dia membaca pikiranku, wajahku menegang.
“Setelah melihat ratusan penyihir, aku dapat mengetahui mereka hanya dengan melihat hawa disekitar mereka. Apa mereka penyihir atau bukan. Apa dia kuat atau lemah.”
Tidak ada gunanya, aku pikir, aku tidak bisa berhenti menunjukkan ekspresiku.
“Memangnya, mengapa kau bertanya seperti itu?”
Ini gawat….!
Reaksiku sudah memicu kecurigaannya.
Walaupun aku sudah diperingati Okaa-sama untuk menjaga hubunganku dengan Yotsuba tidak diketahui siapapun.
“Maafkan aku, adikku selalu sensitif tentang kemampuan sihirku yang rendah… dia lebih gugup daripada biasanya.”
Ani menjadi pelindungku, yang sudah kehilangan fokus dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Jadi begitu. Kau memiliki adik yang baik.”
“Terima kasih. Dia adalah kebanggaanku.”
“Haha, kalian sangat akrab. Aku iri dengan kalian.”
Aku dapat merasakan adanya sarkasme dalam perkataannya.
Tapi Ani tidak punya maksud seperti itu.
Dia hanya membantuku karena aku sedang dalam masalah.
Aku tidak merasa terganggu dengan hal itu.
Tapi mengapa dia sangat perhatian denganku?
Walaupun masalahku barusan tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya sebagai Guardian.
Walaupun menjaga rahasia tentang Yotsuba tidak ada untungnya bagi Ani.
Walaupun hanya aku nanti yang akan dimarahi.
Tapi, mengapa dia menolongku seperti yang dilakukan sepasang saudara, seperti kakak yang melindungi adiknya…?

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 8 Bab 9 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.