08 April 2017

Date A Live Jilid 12 Epilog LN Bahasa Indonesia

“SI KEDUA” YANG SUDAH DILEPAS
(Translater : Ilham)

Bagian 1
Hutan yang tertelan oleh gelap malam, diterangi oleh cahaya api.
Di sini jauh dari hutan yang damai di kota yang biasa. Tidak ada yang datang, belum lagi ada api. Api ini sepertinya tidak disebabkan oleh petir yang menyambar pepohonan.
Namun, api hutan hari ini berbeda. Pepohonan yang terbakar bukan karena petir atau orang yang menyalakan api unggun------ini bocor dari bensin alat transportasi udara yang jatuh.
“--------Astaga.”
Kegelapannya tampaknya berubah menjadi bentuk manusia, wanita muda merangkak keluar dari tanah.
“Sebenarnya, aku berencana untuk menyergap fasilitas DEM, aku tidak menduganya ini akan jatuh di tempat seperti ini.”
Perempuan itu----------Kurumi mengambil sedikit dari puih-puih yang berserakan dengan satu tangan, dan kemudian menaruhnya di tangan yang lainnya di depan.
Kemudian, bayangan yang ada di sekitar kakinya mulai bergerak, menerbangkan senapan dan mengulurkan tangannya untuk menangkap Kurumi.
“<Zafkiel>---------[Peluru ke-10/Yud].”
Setelah Kurumi menyebut nama itu, bayangannya masuk ke dalam senapannya dan berubah menjadi peluru.
Peluru ke-10/Yud, peluru ke-10 menembus objek untuk menyampaikan masa lalunya ke dalam bentuk peluru Kurumi.
Kurumi meletakkan senapannya ke arah dirinya sendiri, dan kemudian tidak ragu menembak dirinya sendiri. Bayangan terpancarkan melalui puing-puing langsung mengenai kepala Kurumi.
Normalnya, peluru seperti itu akan menghancurkan kepala Kurumi seperti puing-puing pesawat. Namun, dengan pikiran Kurumi, dia melihat adegan saat pesawat ini masih terbang.
Menembus suara alarm, pesawatnya bergetar seperti embrio, [Material A]. Roh itu tampaknya beresonasi dengan gelombang tidak diketahui yang luar biasa.
Kemudian, dalam sekejap di langit; sebuah pilar cahaya muncul dari jarak yang tidak diketahui dari pesawat.
“……Begitu. Penyebab langsungnya itu adalah Shidou-san.”
Kurumi hanya tertawa. Walau dia menerima laporan tentang perilaku aneh Shidou dari tiruannya, dia tidak pernah berpikir dia akan terlibat dengan ini.
“Roh-san yang kedua menemukan gelombang Roh Shidou-san dari dalam transportasi ini dan mencari pertolongannya……..begitu? Tapi jika kekuatan Shidou-san menjadi liar karena itu, dia jelas menyebabkan banyak masalah untuk Kotori-san dan yang lain.”
---Kurumi berpikir tidak ada gunanya mengatakan bahwa Roh yang terkunci di dalam kontenernya. Apapun hasilnya, tidak ada gunanya menyalahkan seseorang yang sedang mencari bantuan.
“Bagaimanapun---------Aku tidak menduga, Shidou-san bisa sangat menolong.”
Kurumi masuk menyelam ke dalam bayangannya, dan kemudian berjalan menuju conveyor belakang dengan bising.
Dengan harapan kedatangan pesawat itu, dia harus menempatkan tiruannya di tempat-tempat fasilitas DEM dimana dia pikir pesawatnya mungkin datang. Bahkan jika pesawatnya tidak jatuh, dia masih akan memiliki Roh Kedua tanpa kecuali, tapi harus mengorbankan banyak sekali tiruannya.
Kurumi beruntung dapat mendapatkan tujuannya tanpa pengorbanan.
Tujuannya bukan hanya [Material A]. Juga untuk mendapatkan informasi tentang Roh Pertama darinya untuk mengalahkannya. Makin banyak tenaga yang dia simpan, semakin lebih baik.
“—Kalau begitu, Roh-san? Tunjukkanlah wajahmu padaku.”
Kurumi mengatakannya sembari mengintip ke kontener yang jatuh dari pesawatnya.
Namun—
“Huh?”
Kurumi tidak bisa apa-apa selain melebarkan matanya.
Disana, ada kontener kosong yang dibuka paksa dari dalam.
Bagian 2
--Meja bundar <Ratatoskr> sedang dalam atmosfir yang berat.
Tapi ini sangat mengejutkan. Satu orang, Clayton, meluncurkan <Dainsleif> melewati kewenangannya, dan untuk mencegahnya, bahkan Roh misterius <Phantom> muncul.
“<Phantom>……..!? Apa artinya ini! Kenapa Roh itu muncul disana!”
“Tidak, kita benar-benar beruntung. Apapun alasannya, kita tidak kehilangan Reiryoku yang sudah kita kumpulkan. Clayton, kau terlalu gegabah!”
“Apa katamu! Jika aku tidak menyerangnya, situasinya tidak akan bertambah.”
“Namun, kau tidak berhak untuk mengaktifkannya. Ini pelanggaran serius.”
“Yah, lebih penting lagi <Phantom>. Apa kau punya cara untuk menangkapnya? Keberadaan itu bisa merubah manusia menjadi Roh. Jika kita memiliki kekuatan itu….”
Woodman dengan kesal memukul meja.
“Diam, sialan”
“………….!”
Woodman berbicara dengan suara dingin, ketiga eksekutif menahan nafasnya.
“Aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti perintahku, tapi setidaknya kau harus mengikuti perjanjian. Jika kau ingin melanggar perjanjian, aku juga memiliki niatku sendiri.”
“……………..”
Menutup trio yang gugup, Woodman melanjutkan.
“Untuk hukumannya, kau akan diberitahu nanti Clayton.”
“Hukuman untuk………? Kau bilang kau ingin aku dihukum!? Aku melakukan ini hanya demi <Ratatoskr>…….!”
“Itu benar Sir Woodman. Dia memang tidak sabaran, tapi dia….”
“Aku bilang diam Almsted. Kau pikir aku tidak akan menyadarinya? Dalam pikiranmu kau pikir aku bodoh?”
“…………………”
Setelah mendengar perkataan Woodman, Almsted langsung terdiam.
Woodman berpikir seseorang seperti Clayton tidak bisa menyiapkan semua ini sendirian. Kunci untuk <Dainsleif> mungkin dibuat oleh Almsted dan diberikan pada Clayton. Ini dapat diduga dari Almsted yang tidak suka tangannya menjadi kotor. Clayton sepertinya tidak menyadari keikutsertaan Almsted.
“Aku mengakhiri pertemuan hari ini. Semuanya, ingat untuk berhati-hati dengan langkah kakimu.”
Setelah banyak berbicara, duduk di kursi roda, Woodman menyuruh Karen untuk mendorongnya pergi dari ruangan pertemuan.
Bagian 3
“Nn……….”
Dengan mengerang lembut, Shidou membuka matanya.
Ini bukan ruangannya sendiri, tapi mirip dengan UKS sekolah. Setelah beberapa detik, Shidou akhirnya menyadari bahwa dia sedang ada di fasilitas <Ratatoskr>.
“Oh, kau sudah bangun?”
Setelah mendengar suara itu, Shidou melihat, dan menemukan Kotori.
Setelah melihat Kotori, Shidou mencoba mengingat apa yang terjadi.
“Begitu, setelah itu aku…….”
Setelah Shidou dan Tohka kehilangan kesadaran, Kotori membawa mereka ke fasilitas bawah tanah <Ratatoskr> untuk pengecekkan tubuh.
“Uh…………..”
Tapi sebelum itu, ingatannya sangatlah samar, dia tidak ingat bagaimana. Dia tidak bisa mengingat----perkataan tu dengan sangat akurat. Jelas, dia ingat apa yang sudah mereka lakukan, tapi jika dia ingin mengingat insiden itu dengan jelas, dia tidak ingat apapun. Itu seperti dia sedang mengingat mimpinya kemarin; hasilnya berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi.
“Jangan memaksakan diri. Jalurnya sudah tenang, tapi keadaanmu saat ini tidaklah berbeda dari saat demam.”
“Ah……….Dimana yang lain?”
Setelah mendengar pertanyaan Shidou, Kotori menghela nafas dan membalas.
“Menunggu di ruangan lain. Aku beritahu mereka untuk beristirahat, tapi mereka bilang akan menunggumu bangun. Dan------“
Berbicara begitu, Kotori menunjuk ke kasur di sebelah kanan Shidou. Mengejar jarinya dalam pandangannya, dia sadar. Disana, dengan perban dan kompres di seluruh tubuhnya, adalah figur Tohka yang sedang tidur disana.
“Tohka……………”
“Aku mengizinkannya untuk tidur disini karena dia tidak bisa tidur jika tidak melihat kondisi Shidou. Saat dia bangun, ingat untuk berterima kasih padanya. Kita dapat menyelamatkanmu karena kegigihan Tohka. Menembus pusaran Reiryoku bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang.” [Yah, si idiot pernah melakukan hal yang mirip sebelumnya], Kotori menambahkan. Shidou tidak bisa apa-apa selain tersenyum.
Di saat yang sama, ingatannya yang samar tiba-tiba menjadi jelas.
Shidou memikirkannya, saat itu Tohka, tidak peduli dalam bahaya mencoba tuk menyelamatkannya.
“……Terima kasih, Tohka.”
Shidou menyandarkan tubuhnya dari tempat tidur dan, mengelus kepala Tohka. Merasa geli, Tohka sedikit menggeliat, membuat suara *Tsu**tsu* yang lembut sebelum mengeluarkan nafasnya.
Melihat Tohka tertidur, Shidou hanya tersenyum. Kemudian dia mengembalikan pandangannya ke arah Kotori.
“Kotori juga……Terima kasih banyak. Kau juga bekerja keras untukku, kan?”
“………..I, Itu”
Kotori mulai gagap mendengar perkataan Shidou dan----tidak lama, selagi menggenggam ujung roknya, air mata mulai bercucuran.
“Ko, Kotori? Apa yang terjadi?”
“……..Maafkan, aku,………..Aku------“
Kotori melanjutkan permintaan maafnya dengan terputus-putus.
Dia mengetahui resiko Shidou menjadi liar tapi dia tetap diam. Fakta bahwa <Ratatoskr> menyiapkan senjata untuk jaga-jaga membunuh Shidou. Dan----fakta bahwa orang yang bertanggung jawab atas kuncinya adalah Kotori sendiri.
“Maafkan aku…….diam terus selama ini. Ini semua dimulai saat kau menyegel Reiryoku milikku, membiarkan tubuhmu menjadi sesuatu seperti itu…….maafkan aku.”
“…………….”
Shidou yang diam mendengarkan perkataan Kotori, menghela nafasnya.
“Jangan nangis, Kotori.”
“Tapi, aku membuat Onii-chan……….”
“Yah, diawasi tiap hari itu tidak bagus……tapi tidak ada jalan lain. Mempertimbangkan situasi dimana aku akan mengamuk, maka masuk akal untuk menyiapkan tindakan balasan lebih lanjut.----Jika banyak orang mati karenaku, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.”
“Onii-chan…………….”
Dan, Shidou melanjutkan.
“Bahkan semuanya kembali ke 5 tahun yang lalu sekarang, aku tetap akan menyegel Reiryokumu…….Bilang begitu, mungkin membuatmu bilang aku tidak memasukkan diriku sendiri ke daftar orang yang harus diselamatkan------tapi ini sekarang kepribadianku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Bagiku, lebih menyakitkan melihatmu jatuh dengan tangisan.”
“………..”
“Jadi, tolong jangan menangis, Kotori. Aku baru saja berhasil kabur dari gerbang neraka, hasilnya bangun melihatmu menangis itu sulit tuk ditahan.”
“…………..”
Kotori menyeka air matanya dengan lengannya dengan mata dan hidungnya masih memerah.
Seolah meresponnya, Shidou juga tersenyum.
“Lihat, kau lebih imut begitu. Adikku adalah yang terbaik di dunia.”
“…….Bodoh”
Kotori bergumam dengan malu, dan berbalik ke arah sebaliknya dan membuka pintu.
“Aku akan memanggil yang lain. Mereka pasti mengkhawatirkanmu.”
“Aa, aku mengandalkanmu.”
Setelah Shidou selesai, Kotori mengangguk dan meninggalkan ruangan. Tapi sebelum Kotori keluar pintu……
“………Terima kasih, Onii-chan.”
Meninggalkan kata-kata itu, dia menutup pintu.
Setelah melihatnya pergi, Shidou mencobaa meregangkan tubuhnya yang kaku. Namun, dia tidak bisa mengangkat tangannya karena ototnya yang sakit.
“Aduh sakit………”
Dan, seolah merespon suaranya, Tohka yang tidur di kasur di sebelah Shidou mengeluarkan suara dan *Goshi**Goshi* menggosok matanya.
“Nn……….Uu………”
“Ou, Tohka. Selamat pagi.”
“………….,………! Shidou!”
Penglihatan Tohka tidak terlalu jelas, tapi setelah melihat figur Shidou, dia langsung membuka matanya dan duduk.
“Ugu………..”
Mungkin karena rasa sakitnya tidak hilang, Tohka tidak bisa apa-apa selain mengerang kesakitan.
“Hei, jagan paksakan dirimu.”
“Tidak…….aku baik-baik saja. Lebih penting lagi, apa tubuh Shidou baik-baik saja?”
“Berkatmu, aku baik-baik saja. Terima kasih, aku benar-benar memberikan kalian semua banyak masalah huh.”
Setelah Shidou selesai, Tohka menggelengkan kepalanya.
“Jangan khawatir. Aku sudah pernah diselamatkanmu berkali-kali. Akan aneh untuk Shidou yang selalu berjuang untuk tidak diselamatkan. Lagipula……”
“Lagipula?”
Dia memiringkan kepalanya dalam tanya. Kemudian pipi Tohka menjadi sangat merah.
“Tidak……….yang terakhir itu, rahasia.”
“Apa-apaan itu, aku penasaran. Bilang saja sekarang.”
“Tidak. Rahasia tetaplah rahasia------Lebih penting lagi, Shidou”
Tohka kemudian melihat sekitar dengan gelisah dan, matanya tertuju pada keranjang apel yang ada di atas lemari. Dia mengambilnya dengan tangannya, dan mulai mengupas apelnya.
Kemudian dia mengambil sepotong apel dan datang ke arah Shidou.
“Ini Shidou, bilang [An~-----].”
“Eh? Kenapa tiba-tiba”
Setelah Shidou bertanya, Tohka melanjutkan dengan serius.
“Saat itu, bukankah Shidou bilang untuk membuatmu jatuh cinta? Tapi, akulah satu-satunya yang belum membuat Shidou jatuh cinta.”
“Hah? Benarkah?”
“Ya. Jadi ini, An~---------.”
“Ah. An~~--------.”
Kewalahan oleh semangat Tohka, Shidou dengan patuh membuka mulutnya untuk membiarkan Tohka menyuapi apel padanya.
“Apa enak!?”
“Nn……..ya, ini enak.”
“Apa kau berdebar-debar!?”
“Ah……..aku berdebar-debar.”
“Begitu!”
Saat Shidou mengatakannya, Tohka tersenyum bahagia. Melihat senyum polos Tohka, Shidou benar-benar merasa detak jantungnya mengencang. Kemudian, seolah dia tidak menyadari keadaannya, Tohka menjadi serius dan mulai melihat ke dalam mata Shidou.
“Omong-omong, Shidou. Aku ingin memastikan sat hal.”
“Nn, apa itu?”
“……Aku dengar dari Kotori bahwa kau harus mencium untuk menyegel Reiryoku……….Seperti yang kuduga, kau sudah mencium semuanya sampai sekarang?”
“Buuu…..!”
Setelah mengatakannya, Shidou tiba-tiba tersedak.
Kalau dipikir-pikir, setelah menyegel Reiryoku Yoshino, Tohka bilang, “Jangan mencium orang lain selain aku.”
Untuk menstabilkan keadaan mental Tohka, dia harus setuju pada janji Tohka…….tapi tampaknya setelah kejadian ini Tohka akhirnya tahu.
“…….Itu, Tohka, tentang itu……..”
“Tidak, tidak apa-apa. Malahan, aku minta maaf memberikanmu pemerintaan yang egois. Akan jadi bertentangan untuk memintamu menyelamatkan para Roh selagi melarangmu menggonakan metode itu.”
Namun, Tohka melanjutkan.
“Tapi walau begitu, bukankah lebih baik untuk mengatakannya terus terang? Aku selalu berpikir sampai sekarang, bahwa ada cara lain untuk menyegel Roh selain ciuman.”
“Itu…….aku minta maaf, kau memang benar.”
Saat Shidou merendahkan kepalanya, Tohka menggelengkan kepalanya lagi.
“Jangan minta maaf. Aku memaafkanmu. Sebagai gantinya—“
“Eh?”
Shidou melebarkan matanya. Tohka, sembari mengerut kesakitan, perlahan keluar dari kasurnya dan naik ke atas kasur Shidou.
“Er, Tohka?”
“Aku tidak punya keluhan. Tapi, memang benar Shidou mengingkari janji kita. Jadi—“
Yoshino, Kotori, Kaguya, Yuzuru, Miku, Natsumi, Origami, Tohka menghitung dengan jarinya saat dia menyebut nama para Roh.
Kemudian, sembari pipinya memerah, dia mengatakannya dengan suara kecil.
“…….Jumlahnya tujuh orang. Itu jumlah berapa kali kau berbohong padaku. Aku akan memaafkanmu jika kau menciumku tujuh kali.”
“Ha………..? H-Hei, tunggu, Tohka!?”
“Tidak ada pertanyaan. Atau…….kau tidak ingin menciumku?”
“Tidak, bukan begitu, tapi nanti-----“
“Kalau begitu tidak masalah! Duduk, aku akan melakukannya dengan cepat.”
“T-Tunggu----“
Sebelum Shidou dapat menyelesaikannya, Tohka, tanpa penjelasan lagi, menempelkan bibirnya pada bibir Shidou. Shidou merasakan kenikmatan seperti otaknya terbakar oleh perasaan lembut dan aroma keringat yang samar.
“Nn…………, chu………..”
“……….!............!?”
Namun, saat itu.
“Maaf membuatmu menunggu, Shidou. Aku membawa semuanya----“
Membuka pintu untuk melihat ke dalam, Kotori pun tercengang.
Tohka melebarkan matanya karena terkejut dan memisahkan bibirnya. Bibir Shidou terdorong oleh bibirnya sebelum memantul kembali. Bibir mereka terhubung satu sama lain dengan benang yang berkilauan dari air liur.
Dengan adegan itu, para Roh dan Mana bergegas masuk ke ruangan.
“T-Tunggu, apa yang kau lakukan dalam jangka waktu yang pendek ini, Shidou!?”
“U-um……..kalian berdua masih dalam proses pemulihan……kau tidak seharusnya……”
“Ka, Kaka………..Tohka benar-benar mengambil kuenya.”
“Menunjuk. Kaguya terlihat frustasi.”
“Kyaaa! Eh? Aku tidak melihatnya dengan benar, jadi bisakah kau melakukannya lagi! Tolong!”
“Uwa……..bangun dan melakukan hal seperti ini, menjijikkan….”
“…Seperti yang kuduga, aku tidak boleh lengah.”
“Nii-sama! Apa yang kau lakukan!?”
Mengatakannya, semuanya datang mengelilingi kasur Shidou.
“H-hei, semuanya tolong tenang. Ini……..”
Shidou sedang berpikir bagaimana mempertahankan dirinya sendiri.
Tapi, alasan untuk menyelesaikan situasi ini dengan mudah tidak terlintas dalam pikirannya.
“Muu………..”
Kemudian, entah Tohka juga memikirkan hal yang sama, karena sudah seperti ini, Tohka *giyuu* memeluk Shidou. Roh yang lain [Ah!] meninggikan suara mereka.
“Haha……..”
Merespon suara yang keras, Shidou tidak bisa apa-apa selain tersenyum kecut sembari mengelus kepala Tohka.

Date A Live Jilid 12 Epilog LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.