08 April 2017

Date A Live Jilid 12 Bab 5 LN Bahasa Indonesia



TARIAN SPIRIT
(Translater : Ilham)

Bagian 1
Di langit, sebuah kilatan cahaya muncul dari pertarungan dua pedang.
Ellen menghunuskan pisau laser <Caledvwlch>. Perbandingannya, Mana menggunakan <Vanagandr>nya dengan pedang <Wolftail>.
Tidak peduli dari sudut manapun, Ellen menggambarkan teritorinya agar dapat menangkap serangannya. Sebuah penghalang muncul sebelum kedua pedang bertubrukan. Berulang-ulang bertarung dengan jarak yang dekat, Ellen menggunakan pembukaan dari serangan terakhir Mana untuk berbalik menyerang. Mana cepat-cepat menghindar dan membalas serangan Ellen sebelum dia dapat melepaskan yang selanjutnya.
Namun, <Caledvwlch> adalah pedang yang seluruhnya terbuat dari sihir. Secara struktur, itu kelas terpisah dari <Wolftail>, yang merupakan pedang asli yang dilapisi sihir. Struktur yang lebih besar menghasilkan nilai produksi maksimum yang lebih besar.
Namun, pedang Ellen mengkonsumsi lebih banyak sihir, dimana Mana memiliki keuntungan dalam jangka panjang. Namun, tidak ada di dunia yang dapat menyamai Ellen dalam penggunakan kekuatan sihir. Mana tidak dapat sepenuhnya hanya mengandalkan kekuatan; untuk mengimbanginya dia harus menggunakan tekniknya. Tidak memberikan waktu untuk Ellen beristirahat, dia melanjutkan serangan cepatnya.
Tapi lawannya adalah wizard terkuat. Dia bukan lawan yang dapat dengan mudah dikalahkan Mana. Ellen dengan tepat memprediksi serangan Mana dan memberikan serangan balasan yang akhirnya merusak perisai pertahanan Mana. Faktanya, bahkan sekarang masih belum ada luka pada tubuh Ellen.
Namun, tujuan Mana bukan untuk mengalahkan Ellen, pertarungan mereka adalah untuk memberikan waktu pada Kotori untuk menyelamatkan Shidou. Akan salah untuk nekat menyerang untuk melukai Ellen. Prioritas utamanya adalah untuk memperpanjang durasi pertarungan.
Jika ini berlanjut, seharusnya cukup untuk mendapatkan waktu yang diperlukan. Tidak peduli seberapa lama, selama mereka dapat menyelamatkan Nii-
Tapi saat itu.
Jauh di bawah, fasilitas <Ratatoskr> tiba-tiba mulai bersinar, mengeluarkan tiang cahaya ke atas langit. Gelombang kejut yang keras mendorongnya ke belakang.
“…….A!?”
Dia tidak bisa apa-apa kecuali hanya menatapnya. Perhatiannya terambil alih, pertahannya tersendat sesaat, meninggalkannya benar-benar terekspos.
Momen seperti ini cukup untuk memberikan serangan mematikan kepada lawan.
“Kalian sangat terbuka”
“Ku—“
Terkejut, tapi itu tidak sepenuhnya menghapus pertahanannya. Namun, seperti pukulan smash bola voli, tubuhnya jatuh ke tanah.
“Waaaah….!”
Dia cepat-cepat menggunakan teritorinya sebagai penyerap untuk mengurangi rasa sakitnya. Tanahnya menjadi hancur seperti ada bola tak terlihat menghantamnya.
“Ku….kau sudah melakukannya………Tapi yang tadi itu apa?”
Selagi pertarungannya belum berakhir, dia secara singkat mengelilingi tiang cahaya itu. Kemudian, Mana tersentak. Shidou sedang melayang, dikelilingi oleh cahaya Reiryoku.
“Nii-sama!?”
Mendengar suaranya, Shidou perlahan menoleh ke Mana.
Kesadarannya samar, matanya kabur, dia terlihat seperti sudah minum suatu obat.
Kemudian, bibirnya mengucapkan sesuatu pada Mana.
“Ah – Mana. Aku senang. Kau baik-baik saja”

Shidou berbisik dengan suara lembut.
“…….Nii-sama?”
Setelah mendengarkan perkataan Shidou, Mana mengerutkan alisnya; sesuatu terasa aneh dari yang dikatakannya.
Di permukaan terdengar seperti Shidou mengkhawatirkan tubuhnya. Itu dapat dimengerti, karena di saat seperti ini, Mana masih bertarung dengan Ellen dan terhempas kuat karena serangan tadi.
Namun – untuk beberapa alasan. Mana berpikir bahwa Shidou juga mencoba untuk mengatakan sesuatu yang lain.
Shidou, dalam keadaan gembira, membuka mulutnya dan melanjutkan.
“Aku…..mengkhawatirkanmu. Semenjak kau diculik oleh orang-orang DEM itu……tapi aku senang…….sangat senang……..”
“………Diculik? Nii-sama, apa yang kau bicarakan?”
“Mio…….Bukankah orang itu menolongmu?”
“Apa yang kau bicarakan, Nii-sa –“ Sebelum dia dapat menyelesaikannya, dia merasakan sakit yang tajam di kepalanya. Dia menekan jidatnya dengan tangannya dan mengerut.
“Ah……!”
Sangat jelas ini bukanlah sakit kepala biasa. – Mio. Setelah Shidou menyebut nama itu, adegan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya masuk ke dalam pikirannya.
“I….Ini……”
Adegan di dalam kepalanya berubah seperti shutter kamera. Dia melihat taman dimana dia bermain dengan temannya, guru yang mengajar di kelas, ulang tahunnya dimana Shidou merayakannya bersamanya.
Dan kemudian – punggung perempuan berambut panjang.
“Ah……….”
Saat perempuan itu datang ke dalam pikirannya, pandangannya berkedip.
Untuk beberapa alasan, Mana tidak dapat mengingat wajah perempuan itu. Dia tahu dia mengenalnya, tapi –
Dan itu saat sesuatu mengganggu pemikirannya. Mana mendengar suara Ellen dari atasnya, “—Tenggelam dalam pikiranmu di depanku? Kau terlalu meremehkanku.” Ellen mengikuti kata-katanya dengan menyiapkan sebuah serangan.
“! …… Oh –“
Saat itu, Ellen sudah mendarat ke arahnya, dan mengangkat <Caledfwlch>.
Tapi sudah terlambat; Mana dalam kondisi panik.
“…………!”
Namun, dia tidak merasakan serangan pisau lasernya.
Sebelum <Caledfwlch> dapat menyerangnya, dia terpaksa menggunakan kekuatan spritualnya mengelilinginya untuk menghalangi pedang berkekuatan sihir.
“Oh ……?”
Ellen mengeluarkan suara terkejut, selagi menatap dengan kesal ke arah Shidou.
“--- Itsuka Shidou. Bukankah kau terlihat luar biasa saat ini. Walau aku tidak tahu apa yang terjadi, aku dapat melihat kenapa Ike begitu menginginkanmu.” Ellen mengatakannya, selagi bibirnya tersenyum berani.
Tapi berlawanan, Shidou hanya dapat terlihat muram.
“D – E, M ………”
Menggeram seperti binatang buas, nafasnya semakin menjadi-jadi.
“- Wuwa ah, ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah!"
Saat itu, kekuatan spiritual yang mengitari Shidou bertambah dan menghempaskan Ellen dan Mana yang ada di dekatnya. “……….!”
“Apa!?”
Mana melepaskan lapangan teritori untuk menahan dampaknya. Berhenti di tengah udara, dia meninggikan suaranya dan berteriak.
“Nii-sama! Ada apa ini! Dan apa maksud yang sebelumnya – siapa itu Mio-san!?”
Tapi Shidou tidak menjawab. Walaupun mereka tidak jauh, Shidou tidak mendengar kata-kata Mana. Dia terus menggeram seperti binatang buas dan terus melepaskan kekuatan spiritual dalam jumlah sangat besar.
“………”
Semuanya dapat melihat sekilas bahwa Shidou bersikap tidak rasional, tapi jika mungkin, Mana ingin bertanya lebih lanjut.
Namun, lawannya saat ini adalah wizard yang paling kuat. Dia tidak dapat membiarkan dirinya sendiri bahkan untuk sedikit kelalaian. Mana menggertakkan giginya dan mengalihkan pandangannya dari Shidou.
Bagian 2
“Uhuk……..uhuk………..apa semuanya baik-baik saja!?”
Di aula pesta yang dihancurkan oleh cahaya dari kekuatan Roh, Kotori meninggikan suaranya untuk menanyakan keadaan semuanya, selagi berbatuk karena awan debu.
Lalu, dari samping muncul suara yang familiar.
“Woo………apa yang terjadi…………?”
Tohka berdiri dari tanah untuk melihat-lihat. Di saat itu Kotori juga mengangkat kepalanya.
Serangan Shidou sebelumnya tiba-tiba membuka lubang besar di langit-langit dan dinding. Namun, sepertinya para Roh dan staff <Ratatoskr> semuanya selamat.
“…………..A-apa-apaan itu”. Kotori kemudian mendengar suara yang tidak diduga.
“Kotori-san!”
Suaranya datang dari luar kerumunan; Kotori hanya bisa menatap.
“Suara itu, mungkinkah…………..!?”
Ya, suaranya berasal dari adik Shidou yang sesungguhnya, Takamiya Mana.
Lebih dari itu, di sebelahnya adalah wizard DEM. Ellen juga mengenakan CR-Unitnya, dan perlahan mengangkat pisaunya.
“Mana! Apa yang kau lakukan………..!”
Ellen langsung pergi dari pandangannya. Meresponnya, kepada Kotori, Mana memanjangkan <Wolf Tail>nya di tangan kanannya dan mengangkat suaranya.
“Aku akan memberikan detilnya nanti! Untuk sekarang……..aku serahkan Nii-sama padamu!”
Keduanya terbang ke langit, Ellen mengayunkan tebasannya. Cahaya ajaib memercik seperti percikan dari pertarungannya.
Jadi, dialah penangkal yang Reine maksud. Kotori mengatakannya sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Perempuan itu benar-benar…………dia menghilang tanpa memberitahukan informasi kontaknya……….?”
Namun, bagus dia terus membuat sibuk Ellen. Kotori akan sangat ingin untuk menyelesaikan permintaan Mana untuk menyelamatkan Shidou.
-Tapi.
“Ah…………”
Melihat penampilan Shidou, Kotori tidak sengaja mengeluarkan suara gemetarnya.
Ini bukan Shidou yang biasanya lembut, ataupun Shidou versi playboy sebelumnya.
“Benda” yang berdiri di sana melepaskan cahaya berwarna itu tidak bisa disebut sebagai manusia.
Berdiri di tengah, sekumpulan kekuatan spiritual berputar-putar di sekitar Shidou mati nyala seperti detak jantung. Kotori merasa sedikit shok karena fenomena tersebut. Udara, tanah, dan ruang udara semuanya bergetar seolah merespon kekuatan Shidou.
Tidak, lebih dari itu. Sebagian kekuatan spiritualnya membentuk sebuah fragmen logam. Itu seperti Roh yang mengenakan astral dressnya.
Kemudian, setelah melihat seperti apa Shidou.
Kotori mendengar sebuah sirine keras dari headsetnya.
“Ah –“
Ini alarm yang berbeda dari yang biasanya mendeteksi gempa luar angkasa atau status mental Roh yang abnormal.
Kotori hanya pernah sekali mendengar alarm itu sebelumnya.
Dan itu saat mereka bilang untuk mengingatnya saat testing, mengatakan bahwa akan lebih baik jika dia tidak pernah mendengarnya lagi.
“…… Dari semua kebohongan –“
Kotori dapat merasakan jarinya sedikit gemetar. Dia merasakan adanya retakan di dalam keberadaannya. Jantungnya mulai berdetak kencang. Bernafas menjadi sulit. Pandangannya mulai berantakan. Kotori merasakan sangat sulit untuknya terus berdiri.
Kesadaran Kotori terganggu oleh suara alarm kematian untuk beberapa saat.
“------------------!”
Pada masalah kemanusiaan, dia tidak percaya dengan raungan yang dikeluarkan Shidou. Seperti fenomena pelepasan listrik, kekuatan spiritualnya retak, mencerahkan sekitarnya.
“………!”
“—Seperi yang kukatakan, sudah seharusnya untukku melakukan sesuatu pada Shidou. Serahkan padaku. <Ratatoskr> sudah menyiapkan sesuatu untuk kejadian seperti ini.” Para Roh mengangguk selagi merasa tidak enak. Kotori menjawab pada mereka dan berjalan ke tangga ke tanah. Shidou masih bergerak selagi menyapu habis pohon yang menghalanginya. Jika dia lanjut terus, dia pasti akan sampai ke kota.
Kemudian, dia mengeluarkan alat kecilnya dari kantung gaunnya.
-Itu adalah sesuatu yang Kotori harap tidak akan pernah dia pakai, kunci kehancuran.
“…….” Kotori menggenggam alat itu dengan jarinya yang bergemetar.
Dia memindai sidik jarinya, retinanya, memasukan password dan meletakkan jarinya pada tombolnya. Tombolnya mengaktifkan <Dainslaif>; senjata satelit yang selalu membidik Shidou.

“…….Maafkan aku, Onii-chan”
Kotori dengan lembut bergumam pada dirinya sendiri.
“Tolong maafkan aku……….yang tidak bisa menemukan akhir yang lain”
Tapi – saat itu.
Dia merasakan keinginan membunuh dari sebelah kirinya; Kotori kebingungan. Lalu bermasaan dengan sebuah klik, pelipisnya merasakan sentuhan yang dingin.
Kotori langsung sadar. – Dia sedang ditodong oleh sebuah senjata. “……!”
Kotori menggerakkan matanya ke arah itu. Di sana, Origami yang seharusnya mash ada di fasilitas bawah tanah dengan Roh yang lain. Dengan mata yang berbahaya dan pistol 9mm nya, Origami membuka mulutnya dengan suara yang tenang dan dingin.
“Benda apa itu di tanganmu? Apa yang akan kau lakukan pada Shidou? Itsuka Kotori, kau –“
Tapi, Origami berhenti sebelum dia selesai. Kemudian, dengan sedikit pemahaman, Origami menghentakkan alisnya dengan terkejut.
Alasannya adalah wajah Kotori.
--- Wajahnya menangis dan putus asa.
“……Jelaskan. Apa maksudnya ini?”
KOrigami mengerut dan melanjutkan.
Untuk pemikiran intelejen seperti Origami, akan mustahil untuk membodohinya. Tapi jika dia melanjutkan, Origami pasti akan menghambatnya. Kotori benar-benar kehilangan harapan dan membuka mulutnya.
“……..Untuk membunuh, Shidou”
Setelah mendengar perkataan Kotori, Origami memberikan tatapan yang lebih menyeramkan.
“Apa maksudmu ini adalah perintah dari <Ratatoskr>?”
“…Kau setengah benar”
Kotori berbicara seperti mengutuk dirinya sendiri.
“……Shidou saat ini adalah bom waktu. Kekuatan Roh yang ada di dalam tubuhnya berkembang pesat. Jika kita membiarkannya seperti ini, akan menjadi ledakan yang lebih besar daripada insiden Kanto Selatan.” “……….”
Origami menggertakkan giginya.
“… Dan itu kenapa kau membunuhnya?”
“…Ya. Itu adalah pekerjaan terakhirku yang ‘gagal’. Jika Shidou dibunuh sebelum sampai batasnya, makan kita bisa meminimalkan ledakannya. Ini adalah pilihan antara melihat 10 juta orang mati atau hanya Shidou yang mati. Jika seseorang memberitahuku untuk memilih, aku akan memilih yang terakhir. – Karena bahkan Shidou, mungkin tidak ingin melihat banyak orang mati karena dirinya”
“…………..”
Jari Origami bergemetar lembut. Kotori memalingkan matanya pada Shidou.
“Jika aku memencet tombol ini, <Dainslaif> yang ada di satelit yang mengorbit akan melepaskan meriam Kekuatan Sihir.”
“<Dainsleif>……..?”
“……..Itu dibuat setelah penyelidikan lebih detil tentang tubuh Shidou, pedang terkutuk yang dibuat khusus untuk membunuhnya.”
-Itulah <Dainslaif>. Kotori tidak tahu cara terburuk menggunakan Realizer. Bahkan jika Shidou memiliki kekuatan regenerasi Kotori, dia tidak dapat meregenerasi dirinya sendiri jika setiap bagian tubuhnya dihancurkan.
“……. Kau bercanda. Itu rencana <Ratatoskr>?”
Tampang pembunuh muncul di mata Origami, dia melanjutkan.
“…..Jangan main-main. Apa ini caranya <Ratatoskr> melakukan sesuatu? Membunuhnya saat dia tidak bisa lagi menyimpan kekuatan Roh yang sudah dia segel? Sebelum itu, yang membuat Shidou menyegel kekuatan para Roh adalah <Ratatoskr>. Mereka menggunakannya untuk tujuan mereka sendiri, dan begitu menjadi sulit, mereka akan melepaskannya begitu saja? Walaupun kau begitu memikirkan Shidou, kenapa kau menyetujuinya ---“
“—Tidak!”
Seolah memotong perkataan Origami, Kotori mengatakan sesuatu dengan gemetar.
“Walaupun kekuatan Shidou secara ajaib sama dengan tujuan <Ratatoskr> -- tapi setidaknya Ketua Woodman cemas pada apa yang mungkin terjadi padanya. Dia bilang tidak akan ada hal baik yang muncul dari menyegel kekuatan Roh dalam tubuh manusia. Dia menyarankan kita untuk mencari cara lain. Tapi……..sudah terlambat. Saat Shidou ditemukan oleh <Ratatoskr>, dia sudah menyegel satu Roh di dalam tubuhnya.”
“Mungkinkah itu………..”
“Ya --- itu aku.”
Kotori mengatakannya dengan suara yang gemetar.
Itu adalah pertentangan yang tidak dapat dihindari karena <Ratatoskr> mengetahui kekuatan Shidou dari saat dia menyegel kekuatan Kotori.
“Ada kemungkinan Shidou menjadi seperti ini sejak 5 tahun yang lalu. Tapi bahkan jika kau mengembalikan Kekuatan Roh pada pemiliknya, Jalurnya tidak akan menghilang… 5 tahun yang lalu; aku memasukkan bom waktu pada Shidou tanpa mengetahuinya.”
“…..Tapi bukannya membiarkannya menyegel lebih banyak Roh malah hanya akan menambah resikonya menjadi seperti ini?”
“…Tidak ada cara lain. …..Hanya ada satu cara untuk menstabilkan Shidou.”
“Apa itu?”
“—Untuk membuat Shidou mengekstrak semua Kekuatan Roh yang dia miliki dan melepaskannya di luar tubuhnya sebagai kristal Sephira.”
“…! Itu –“
Kristal Sephira, kristal misterius yang dimiliki <Phantom>, kristal permata yang memiliki kekuatan Roh yang mengubah Origami menjadi Roh.
“Kau benar. Tapi apakah itu mungkin dilakukan………..”
“……Ya, kita tidak bisa melakukannya bahkan jika kita mengambil kembali 100% kekuatan Roh kami. Aku memperbolehkan <Ratatoskr> menganalisis diriku beberapa kali. Untuk mengesktrak Sephira yang sudah bersatu dengan partikel, membutuhkan banyak sekali Kekuatan Roh untuk melakukannya. Lebih mudahnya – kita harus menyegel seluruh Roh yang ada di dalam Shidou untuk melakukannya.”
“………..”
Origami membuka matanya dengan takjub.
Dari reaksinya dia dapat melihat bahwa dia sangat curiga terhadap <Ratatoskr>.
Tidak sulit untuk dimengerti. Faktanya, Kotori juga tidak sepenuhnya percaya pada <Ratatoskr>.
“Tapi – semuanya sudah terlambat”
Tidak ada waktu lagi untuk terus berbicara. Kotori mengambil nafas dalam-dalam, dan bersiap untuk menekan tombol dengan jarinya.
Namun, saat itu.
“Kotori! Origami!”
Kotori mendengar suara Tohka dari belakang. Berbalik, dia juga melihat Roh yang lain. Mereka mengikutinya ke atas sini seperti Origami.
“Kita keluar untuk mengikutimu! Semua ini terjadi, kenapa kau tidak datang dan mendiskusikannya dengan kita!?”
Kotori terkejut bagaimana Tohka bisa mengerti situasinya. Kotori kemudian sadar bahwa dia masih mengenakan headsetnya. Semua orang yang mengenakan headset dapat masuk ke dalam channel untuk berbicara satu sama lain. Itu artinya semuanya juga mendengar percakapannya dengan Origami sebelumnya.
Kotori jelas sadar dengan fungsi headset ini, tapi di depan situasi yang berbahaya, dia tidak mempedulikannya karena ini darurat.
“………Aku minta maaf, tapi semua sudah berakhir-“
“Ini masih belum berakhir!”
Tohka berteriak pada Kotori.
“Aku tidak tahu detilnya! Tapi jika kau berpikir bahwa situasi saat ini dalam keputus asaan, itu karena Kotori berpikir bahwa Kotori sendirian!”
“…………….!”
Kotori mendengar perkataan Tohka.
Dia merasa seolah jantungnya sudah di genggam sangat erat.
“Semua….nya…..”
Para Roh mengangguk pada Kotori.
“Menyerah tidak seperti Kotori-san!”
“Ya…ayo selamatkan Shidou-san…….”
“………………”
Jari Kotori yang ada di tombol bergemetar. Ingatan saat mereka memberikannya terminal ini muncul dalam benaknya.
Saat itu, Kotori sangat ketakutan. Walau hanya untuk keadaan darurat, Kotori tidak bisa tidur dengan fakta bahwa dia mempunyai cara untuk membunuh Shidou di tangannya.
Ah, ah, tapi.
Namun, Kotori saat ini berbeda dengan yang dulu. Determinasi, pengalaman, dan lebih dari apapun – kawannya yang berbagi ide yang sama dengannya.
Maka tidak mungkin dia akan mengambil keputusan yang lain.
Kotori membiarkannya kunci itu jatuh dari tangannya.
Bagian 3
“Kenapa, ah, kenapa kau tidak menyerang, Komandan Itsuka!?”
Dari ruang yang gelap terdengar raungan ketidaksabaran.
Suara kekesalan bergema di ruangan yang kelam. Dari 5 orang yang ada di ruangan itu, hanya 2 yang sebenarnya ada di sana. Eliot Woodman dan yang lainnya adalah Karen Mathers. Yang lain hanyalah hologram dari anggota eksekutif <Ratatoskr> yang berpartisipasi dari seluruh penjuru dunia.
“Serang! Serang, Komandan Itsuka!”
“………………..”
Clayton, orang tua yang direpresentasikan sebagai seekor Bulldog.
Walaupun tingkahnya sangat konsisten dengan tindakan biasanya membuka meja bundar……….Tapi hari ini Clayton memiliki alasan untuk marah. Itu karena gambar di tengah meja bundar <Ratatoskr> sudah memprediksi skenario terburuk.
Kekuatan Roh anak lelaki itu masih terus meningkat. Jika ini berlanjut, ini mungkin akan menyebabkan bencana seperti 30 tahun yang lalu. Walaupun dua orang yang lain tidak mengatakan apapun, mereka juga berekspresi sama.
“Tuan. Woodman”
Dari dua orang, yang satu mengenakan kacamata lensa, mempresentasikan manusia tikus. Frazer Douglas berbicara seolah dia mengusap keringat di dagunya.
“Ini benar-benar akan membuat gempa angkasa yang besar. Kenapa kau memberikan alat pemancar <Dainsleif> hanya untuk Komandan Itsuka?”
Orang yang memancarkan seperti kucing kartun setuju dengan manusia tikus. Dia adalah orang terakhir di meja bundar: Gillian Almsted.
“Itu ah. Walau begitu, dia hanya murid SMP. Orang yang harus dipertanyakan adalah kakaknya; apa kau pikir dia bisa membuat penilaian yang tepat?”
“………………….”
Woodan bergumam dalam kepalanya jika dia memberikan ijin tersebut, mereka akan menarik pelatuknya tanpa tunda.
<Ratatoskr> adalah organisasi yang dibentuk untuk menyelamatkan Roh. Namun, hanya fraksi utama Woodman yang memikirkan ide ini di dalam hatinya. Yang lain kurang lebih hanya berpartisipasi hanya untu keuntungan sendiri.
Memprioritaskan keinginan diri sendiri, Woodman tidak menyangkal ini seolah dia berpikir bahwa ini normal untuk seorang manusia.
Saat resiko menjadi lebih tinggi dari normal, mereka siap untuk memotong hubungan mereka dengan Roh.
Karena itu, Woodman memberikan pemancar <Dainsleif> hanya pada Kotori, satu-satunya kandidat yang terpercaya.
Bahkan jika itu maksudnya memaksa Kotori untuk menerima misi yang mungkin menyerang kakaknya.
“Tuan-tuan, harap tenang”
Woodman mengatakannya pada meja bundar.
“Memang apa yang terjadi ini adalah mungkin skenario yang terburuk. Namun, bukan berarti kita bisa menyimpulkannya lebih dahulu.”
Setelah mendengar perkataan Woodman, Clayton menjadi sangat marah.
“Kau masih terus membicarakannya! Pada akhirnya, bagaimana kau akan mengubah situasi ini!”
“Siapa tahu? Tapi selama Komandan Itsuka belum menyerah, aku juga tidak akan menyerah.”
Mata Woodman menjadi tajam; tiga orang yang lain berekspresi tidak puas.
Namun, kemungkinan pulihnya Shidou hanya ada di dalam kesadaran Woodman sendiri. Jika bersikeras apa masalahnya – bahwa dia tidak berpikir “kemungkinan” ini yang ada pantas dibicarakan di depan trio ini.
Yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengulur waktu untuk Kotori.
“Ah………aku tahu. Aku entah bagaimana mengatakan ini dengan bermalas-malasan. Jadi begitulah. Mulau sekarang, setiap satu menit terlewati, aku akan memberikanmu satu persen dari saham Asgard Electronics”
“Apa………!”
Ketiga orang itu terkejut mendengar perkataan Woodman.
Itu, tentu saja. Selain menjadi satu-satunya agensi luar selain DEM yang dapat menciptakan Realizer, Asgard Electronic, adalah sumber teknologi utama <Ratatoskr>, dan juga kelangsungan hidup Woodman. Untuk ketiga orang itu, persetujuan ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Tapi ketiga orang itu tidak langsung menjawab. Kondisi yang ditawarkan terlalu menggiurkan, jadi mereka bertiga sebenarnya menjadi curiga.
Woodman tersenyum. – Itu bagus. Semakin mereka khawatir, semakin banyak waktu yang dapat dia berikan pada Kotori untuk bertarung.
Tapi nilai kekuatan Roh yang muncul di gambar terus meningkat; sirine yang keras mengganggu trio yang sedang merenung itu.
“…………!”
Clayton tersentak.
“………Tidak ada jalan lain! Mustahil untuk menghentikan kekuatan Roh yang sudah mengamuk! Sekarang satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah untuk menghancurkannya secepat mungkin!”
Gambar 3 dimensi Clayton berteriak, menarik tangannya untuk sebuah alat kecil.
“……….! Clayton, itu.”
Melihat alatnya, Woodman tersentak.
Clayton sedang memegang benda yang harusnya hanya dimiliki oleh Kotori dan Woodman; alat pengaktifan <Dainsleif>.
“Clayton, kenapa kau harus melakukannya?”
“Ada pepatan lama Jepang mengatakan, “Bersiaplah dan tidak akan ada penyesalan.”
“Hentikan! Jangan lakukan hal bodoh seperti itu!”
Clayton mengabaikan permohonan Woodman, dan tidak ragu menekan tombolnya.
Bagian 4
“…………….”
Kotori mengusap ke bawah dengan bekas tangisannya dan hidungnya yang berkedut.
“…..Kalian harusnya menertawaiku. Aku mengatakan banyak hal luar biasa, tapi saat masalah sesungguhnya terjadi, seperti inilah kelihatannya.”
Kotori mengatakannya dengan nada merendah. Tapi Origami menggelengkan kepalanya.
“Jangan bilang begitu. Kamu masih adik Shidou yang sangat luar biasa.”
“Origami…………”
“Pasti masih ada jalan. Jangan menyerah.”
Saat Origami berbicara, Roh yang lain mengangguk dan mencoba untuk menyemangati Kotori.
“Kita tidak bisa menjadi kamus yang tidak ada kata-kata di dalamnya”
“Setuju. Kita akan datang untuk membantu.”
“…………Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi pasti selalu ada cara yang benar.”
Tapi – saat itu.
“—Kode pengaktifan <Dainslaif> terdeteksi. Memulai serangan pada target.” “………..!?”
Kotori langsung tersentak, saat dia mengambil alatnya. Walaupun meyakinkan dirinya sendiri kalau dia salah, tapi gambarnya menunjukkan <Dainsleif> sudah dimulai.
Wajah Origami penuh dengan ketakutan, saat dia melihat ke arah alat pengaktif.
“Apa ini aktif karena tadi aku menjatuhkannya?”
“! Aku tidak tahu apa yang terjadi; ini di desain agar tidak mudah di manipulasi! –“
Walau dia tidak tahu kenapa, tapi sekarang <Dainsleif> sudah mulai. Untuk membatalkan peluncurannya, Kotori dengan ragu mencoba menggenggam alat pengaktifannya.
Tapi itu sudah terlalu terlambat.
Seperti meteor di langit malam.
Pemandangan Kotori penuh dengan cahaya.
“Shidou -- !!”
Kotori berteriak sekeras yang dia bisa selagi menjulurkan tangannya ke arah Shidou.
Tapi itu tidak dapat mengubah takdir seseorang. Tubuh Shidou dilalap cahaya itu.
Serangannya melubangi tanahnya. Serangannya membuat Kotori dan yang lain berdiri di dekatnya terpental.
--- Atau seperti itulah yang dia pikir.
“Huh …?”
Kotori mengkeraskan tubuhnya, dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum dia mengangkat wajahnya. Roh yang lain juga melakukan hal yang sama.
Kotori melebarkan matanya. Dia untuk sesaat berpikir bahwa Shidou  menggunakan kekuatan Rohnya untuk menangkis serangan <Dainsleif>, namun, itu berbeda.
“Apa –“
Mata Kotori terbuka keheranan.
Untuk sesaat, dia pikir Shidou menggunakan kelebihan kekuatan Rohnya untuk membuat sebuah tameng, tapi --.
[-Phew, tadi itu benar-benar berbahaya]
Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tapi Roh yang lain muncul di dekat Shidou.
Tidak…… Kotori bahkan tidak tahu apakah dia dapat menyebut itu sebagai Roh.
Itu karena bahkan gendernya disamarkan, tertutupi oleh beberapa lapis noise.
“Kau --!”
Kotori mengatakannya dengan jarinya yang sedikit bergemetar. Yang lain, dengan berbagai sudut, memiliki reaksi yang sama dengan Kotori.
Khususnya, Miku dan Origami juga bertemu dengan makhluk itu. Miku terlihat sangat terguncang. Origami menatap noisenya dengan kewaspadaan di wajahnya.
Ya, itu adalah Roh yang dapat membuat Roh yang lain.
Yang mengubah Miku, Kotori, dan Origami menjadi Roh dengan memberikan kristal Sephira.
--- Makhluk yang disebut <Phantom> itu ada di sini sekarang.
“<Phantom> - ?!”
Kotori sekerasnya menyebut nama itu.
Walaupun kau dapat melihat bentuknya, kau tidak dapat memastikan bentuk apa itu. Hawa yang aneh dari keberadaan ini, walau mereka ingin melupakannya, kau tidak bisa benar-benar melupakannya. Dan lima tahun yang lalu, makhluk itu muncul di depan Kotori muda dalam bentuk yang sama seperti sekarang.
Semua tentang keberadaan itu ditutupi oleh misteri. Tidak peduli berapa kali Kotori selidiki, dia bahkan tidak dapat sedikitpun petunjuk sama sekali. Tentu saja kau ingin memastikan sesuatu dan sesuatu yang tidak kau tahu, tapi dengan <Phantom> tepat di depan mereka, Kotori tidak dapat berkata-kata untuk beberapa detik.
Dikelilingi oleh mosaik, “suatu objek” yang membuatnya mustahil untuk menyamarkan kualitas suaranya.
[…….Sepertinya manusia juga melakukan hal yang gegabah.]
--- <Phantom> dengan canda mengatakannya dan memutar tubuhnya. Penahan yang menutupi atas Shidou seperti payung kemudian menghilang.
“……… Aku tidak ingin mendengarnya darimu!”
Kotori mengerut mendengar perkataan <Phantom>.
Kotori berpikir dia penyebab tidak langsung Shidou menjadi seperti ini. Karena dia mengubah Kotori menjadi Roh 5 tahun yang lalu dan membuat Shidou menyegelnya, itu membuatnya menjadi mengamuk.
Di dalam pikirannya, pikiran Kotori terus bertanya-tanya.
Kenapa <Phantom> tiba-tiba muncul disini sekarang?
Dan kenapa dia melindungi Shidou dari <Dainsleif>?
“<Phantom>…………..Apa kau ini?”
Namun <Phantom> tampaknya tidak menanggapi pertanyaan tersebut, dan terus berjalan ke arah Shidou.
[….Begitu, kondisinya benar-benar berbahaya. Aku bisa mengerti determinasimu yang menyakitkan. – Tapi jika dia tidak terus hidup, maka aku akan banyak masalah.]
“Kau………..Apa kau bilang………?”
Kotori meninggikan suaranya dengan kebingungan. <Phantom> kemudian turun ke depan Shidou seolah dia tidak peduli dengan kekuatan Roh di sekitarnya. […….Anak baik.]
-<Phantom> mengatakannya dengan suara lembut dan menyentuh jidat Shidou.
“--------------------------------!”
Shidou bergemetar seolah dia membuat langit berteriak. Tubuhnya menggeliat kesakitan.
"Gaa - ah, ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah ah!"
"Shi… Shidou!?"
"Darling!"
“Apa yang kau lakukan pada Shidou?”
“Setuju. Situasinya menjadi lebih buruk.”
-Merespon para Roh, <Phantom> sedikit menghela.
[--- Menyambutku dengan nada seperti itu. Walau aku baru saja memberikanmu kesempatan.]
“Apa katamu …… !?”
“! Kotori! Look!”
Kotori mengerut, dinilai dari nadanya, Tohka tampaknya cukup terkejut.
Kotori kemudian menyadari kekuatan Roh yang mengelilingi Shidou semakin melemah.
“Ini…..”
[…Mulai dari sinilah kekuasaanmu. Aku berharap kau beruntung. ---Selamat tinggal, anak-anakku.]
“…. !? Kau bilang apa-“
Kotori meninggikan suaranya pada <Phantom>. Namun, <Phantom> tidak membalas. Dia berbalik dan menghilang ke udara.
“! Hei, tunggu sebentar!”
“Kotori-san……. Sekarang dengan ini, Shidou-san, dia…..”
Yoshino mengatakannya dengan nada tenang.
Kotori menekan keras dengan kakinya, “…….kau benar,” dia mengatakannya sembari mengangguk setuju.
“Walau aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi celah yang mengelilingi kekuatan Roh Shidou sudah terbuka. Jika begitu, kita masih punya waktu.”
“! Benarkah, Kotori!”
Tohka tiba-tiba menatap, selagi Kotori mengangguk dan turun.
“Ya. ….. Tapi kita juga hanya selangkah dari skenario terburuk. Satu langkah ke depan, tapi situasi putus asa belum berubah. Kita harus melewati kekuatan Rohnya dan berbagi ciuman dengan Shidou, tapi untuk sekarang kita –“
“Apa, hanya ciuman. Apa tidak sesimpel itu?”
“Aku setuju. Jadi, tidak ada masalah.”
Setelah selesai, Kaguya dan Yuzuru menggenggam tangan satu sama lain dan berpose.
“Sebenarnya…….kau tidak tahu betapa sulitnya untuk melakukannya….”
Kotori masih mengerut. Tapi Kaguya dan Yuzuru melemaska bibir mereka dan menutup mata mereka untuk menambah konsentrasi.
Dan kemudian –
“Ha! – Sekarang, kekuatan anak dari badai sudah muncul!”
“Konfirmasi. Ini muncul sekarang.”
Berbicara di saat yang sama, keduanya mengenakan baju pengekang yang sama.
--Mereka berdua menggunakan astral dress terbatas mereka.
“Apa…..!”
Kotori menahan nafasnya. Yamai menggunakan sisa-sisa kekuatan Roh mereka untuk memberikan sedikit kekuatan.
Memang, menggunakan astral dress terbatas secepat ini bisa sangat berbahaya. Jalurnya masih terlalu tajam. Skenario terburuknya, mereka mungkin akan mati sebelum sampai pada Shidou.
“………Dari contoh Natsumi, mungkin hanya akan bertahan sekitar lima menit.”
Ekspresi Kotori serius selagi berbicara, tapi Yamai malahan tertawa.
“Kaka tidak mengerapkan kecelakaan dalam waktu yang singkat.”
“Setuju. Yamai tidak memiliki cukup waktu untuk berlebihan.”
Sedikit mengangguk ke satu sama lain, mereka membiarkan angin mengitari tubuh mereka dan terbang ke langit.
--Yang lain mengarah ke hutan, arah dimana Shidou berada.
Bagian 5
<Wolftail>
Dan <Caledfwlch>.
Mereka bertarung di dalam kegelapan sehingga menciptakan letupan percikan.
“Ha!”
“Terlalu naif.”
Ellen dengan mudah langsung berjaga setelah merasakan serangan yang sama dari Mana berkali-kali, dia memutar tubuhnya untuk menyerang perut Mana.
Saat itu, Mana mencoba untuk mengeluarkan teritorinya agar bisa dengan bebas pergi dari belakang. Namun, karena reaksinya tertunda, kekuatannya tidak sepenuhnya bisa menahan. Mana batuk karena sakit pada perutnya.
“Walau kau bilang kau akan menghentikanku tadi itu serangan yang cukup lambat. Kau pikir kau bisa membunuhku dengan sesuatu seperit itu?”
“Hmp…. Bunuh, bunuh kau bilang. Kau tidak tahu cara lain untuk menang? Walau Kekuatan Sihirmu yang paling kuat, sepertinya kecerdasanmu tidaklah cukup.”
“Ini benar-benar provokasi yang murahan. Kau pikir aku akan terjatuh oleh itu?” Ellen merespon dengan wajah berani ke depan. Saat Wizard menggunakan Realizer, sedikit gangguan bisa menyebabkan sensitifitas Teritori menurun. Ellen tidak bisa diprovokasi dengan mudah. Bagaimanapun, dengan gelar wizard terkuat sedunia, tingkat gangguan seperti itu memang seharusnya tidak bereaksi apapun. “Ha… Aku tidak berpikir kau akan begitu. Aku tidak berpikir apa-apa tentangmu. Aku selalu berpiki bahwa kau entah bagaimana membosankan sejak aku masih di DEM.”
“Jangan bercanda. Tidak mungkin aku salah.”
“Tidak, aku melihat kau tersandung beberapa kali saat tidak ada apapun di sekitarmu. Juga aku melihatmu beristirahat dua kali saat kau membawa berkas-berkas dari lantai 2 ke lantai 4.”
“!? Bagaimana kau bisa tahu?”
“Bagaimanapun, selagi aku memiliki sesuatu untuk dikatakan, para Wizard di grup 2 tidak memanggilmu ‘Shikkou-buchou’ tapi malah ‘Moyashikkou-buchou’
TL Note :
Shikkou-buchou artinya Manajer Departemen, Moyashikko biasanya digunakan untuk menyebut anak yang lemah yang kelelahan dengan mudah. Jadi Mana menambahkan ‘Moya’ di depan ‘Shikkou’ untuk mengejeknya
“……………..”
Saluran pembuluh darah menonjol di jidat Ellen. Ellen dengan cepat mengayunkan <Caledvwlch> ke arah Mana. Mana menghindari serangannya dan mulai menertawainya.
“Oh ~? Bukannya kau bilang kau tidak bisa diprovokasi?”
“Tutup mulutmu! Julukan yang sangat tidak menyenangkan….!”
Ellen berteriak tak sabar. Saat dia kembali ke Inggris, tidak diragukan lagi bawahannya akan mendapatkan ‘latihan spesial’.
Kebetulan, Mana baru saja memikirkan julukan itu. Jika Ellen sedikit menggunakan kepalanya, dia akan sadar bahwa grup 2 penuh dengan Wizard yang juga berasal dari Inggris. Tidak mungkin mereka akan mengerti humor Jepang yang bodoh. Tentu saja, mereka bisa mengerti sedikit, tapi………sepertinya Ellen terlalu marah untuk memikirkannya.
Tapi – saat itu.
Ellen mengangkat alisnya seperti dia sedang mendengarkan alat komunikasi.
“—Ah….. apa kau bilang “Material A”???”
Ellen merapikan alisnya dan mengkilkan lidahnya sebelum merendahkan <Caledvwlch>nya,
“Beruntungnya kau. – Tapi ingat, berikutnya kau tidak akan memiliki kesempatan.”
Setelah mengatakannya, Ellen memanipulasi teritorinya dan terbang ke langit malam.
Mana memutuskan tidak mengikutinya. Lagipula, tujuannya untuk membuang-buang waktu. Juga tidak ada jaminan bahwa dia akan menang jika dia mengikutinya.
Namun, memang benar bahwa ada alasan yang lebih penting.
Nama yang Shidou sebutkan sebelumnya masih terbayang dalam pikirannya.
“…Siapa itu Mio-san ---“
Mana bergumam di bawah gelap malam.
Bagian 6
Di depan hutan yang luas, binatang liar yang dikelilingi oleh cahaya yang menyilaukan bergerak ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Kaguya dan Yuzuru menyaksikannya dari langit.
“Yuzuru kau siap!?”
“Jawab. Tentu saja. Aku tidak seperti Kaguya yang akan melewatkan kesempatan karena takut.”
“Yah, lihat apa yang kau katakan jika kau pikir anak badai akan takut karena hal ini!”
“Negatif. Bukan aku khawatir tentang itu. Tapi, ya, aku khawatir jika Kaguya benar ingin mencium dan ragu di saat-saat terakhir.”
“Apa…….! Itu mustahil! Hal semacam itu cukup mudah dan simpel untukku!”
Yuzuru mulai berlebihan seolah dia bersuara curiga melihat bagaimana Kaguya bertahan.
“Benarkah? Aku curiga Kaguya sudah jago dalam mencium karena dia berlatih dengan seekor kucing.”
“Aku tidak melakukan hal seperti itu! Bisa tidak jangan berbohong!?”
“Meniru. Meong ah………. Kaguya sangat aneh jika dia menggantikan Shidou dengan seekor kucing.”
“Kenapa kau meniruku!? Aku tidak pernah bilang begitu!”
Kaguya mengangkat suaranya, “Yuzuru, kau tidak harus meniruku agar bisa menyesuaikan serangan kita.”
Mereka berdua mengurangi ketinggian mereka selagi bergerak melewati pepohonan, mengepung Shidou dari dua arah.
“………Yuzuru, sekarang!”
“Jawab. Mengerti.”
Mereka mengangguk satu sama lain; mereka mengeluarkan angin yang kuat dari sisi kiri dan kanan Shidou. Dengan tekanan angin sebesar itu, pergerakan Shidou mulai melambat.
Mereka berdua tahu mereka tidak bisa sepenuhnya menghentikannya dengan kekuatan yang terbatas. Ya. Pertarungan bau saja dimulai.
“Echo <Rapheal> - [El Na’ash]!”
Yuzuru berteriak, melemparkan angelnya ke arah Shidou.
Namun, tujuannya bukanlah menyerang. Tapi menggunakan rantai [El Na’ash] untuk mengikat tangan Shidou, menyegel tindakannya.
“Kesempatan. Kaguya!”
“Datang!”
Saat itu, keduanya mendekati Shidou. Dengan tangan dan kakinya yang dirantai, keduanya membisikkan sesuatu.
“Shidou – Sekarang, kita datang untuk menyelamatkanmu.”
“Hutang budi. Seperti yang Shidou pernah lakukan pada Yuzuru.”
Yuzuru dan Kaguya mengatakannya dan menggerakkan wajahnya kedekat Shidou dan meletakkan bibir mereka pada bibir Shidou.
“……..!”
Saat itu, Kaguya dan Yuzuru merasa tubuhnya memanas. Hampir seperti aliran darah yang terhenti sekarang mengalir lagi. “Ini……… Jalurnya terbuka?”
“Setuju. Mungkin. Saat Yuzuru menahan Shidou, yang lain tolong – “
Sebelum Yuzuru dapat menyelesaikan perkataannya, “- Ah ah ah ah!”
Shidou melolong dan dia juga bebas dari kekangan [El Na’ash]. Melepaskan gelombang kejut yang kuat, Kaguya dan Yuzuru akan segera terhempas dari Shidou.
“Wuwa -!”
“Efek. Dia kabur.”
Bebas dari kekangan, Shidou sekali lagi mulai berjalan ke depan dengan penuh ketakutan.
Kemudian, keduanya bersiap mengejar Shidou. Namun–
Dari mata mereka, melintas seekor kelinci besar berwarna perak.
“Yoshino!?”
Kaguya meneriakkan nama itu selagi sebuah Roh mengendarai kelinci itu ke depan. Responnya, Yoshino menganggukkan kepalanya dengan lembut.
“-<Zadkiel>!”
Dengan perintah Yoshino, angel kelinci besar itu membuka mulutnya, jadi tempat sekitarnya kemudian ditutupi oleh udara dingin. Embun di udara mulai membeku ke tanah, batu, pohon, dan bahkan kaki Shidou.
Karena es yang menghambat, Shidou sekali lagi berhenti bergerak. Yoshino kemudian memberikan perintah pada <Zadkiel> untuk maju ke arah Shidou.
Kemudian dia membiarkan <Zadkiel> jatuh ke tanah, dia bersandar ke depan dan mendekati wajah Shidou.
“Shidou-san……. Tolong kembali normal.”
Yoshino kemudian meletakkan bibirnya pada bibir Shidou. Dia merasakan tubuhnya memanas. Astral Dressnya bersinar dengan cahaya redup.
Yoshino kemudian memanggil orang yang menempel di belakangnya.
“Natsumi-san, tolong…..!”
“Y-ya……..”
Mengikuti desakan Yoshino, Natsumi perlahan mengeluarkan kepalanya dari belakang <Zadkiel>.
Secara tidak sengaja, Natsumi satu-satunya yang tidak mengenakan Astral Dressnya. Bukan berarti dia tidak ingin menolong Shidou, tapi dia sudah menggunakan kekuatan Rohnya di tengah penaklukkan Shidou. Itu kenapa Natsumi tidak bisa mengeluarkan Astral Dressnya. “Aku tidak memikirkan dengan hati-hati hasilnya sebelumnya……. Sekarang aku menyebabkan kesulitan untuk Yoshino. Aku ingin mati.”
“Apa?”
“Ti-tidak ada………Aku harus menolong Shidou.”
Natsumi merespon dengan suara gugup. Saat Natsumi mencoba untuk menyandarkan dirinya ke depan dari <Zadkiel>, dia terpeleset dan jatuh.
“Sial!”
“N-Natsumi-san!”
“Tidak, aku tak apa, tak apa………”
Natsumi mendorong hidungnya selagi melambaikan tangannya pada Yoshino. Walau dia bilang baik-baik saja, matanya mengeluarkan air mata dan ada darah keluar dari hidungnya.
“Ka-kalau begitu Shidou, maaf harus aku. …..Aslinya salahmu untuk tidak memberikanku kekuatan Rohnya, itulah kenapa aku dalam bentuk ini. Jangan menuntutku karena aku menciummu selagi kau tidak sadar…. Aku akan cium sekarang, oke? Oke? Jika kau tidak ingin, bilang saja.”
“Um, Natsumi-san, kita tidak punya waktu…”
Kemudian, saat itu.
“—Ah!”
Shidou menggertakkan giginya, dengan mengeluarkan segenap kekuatannya dan dia menghancurkan es di kakinya. Shidou kemudian pergi menyerang Natsumi di sekitarnya.
Tapi – Sebelum tangan Shidou dapat menyentuh Natsumi.
Sebuah pipa perak muncul di dekat Shidou, mengeluarkan suara yang mengekang tubuh Shidou.
“Ufufu~ Aku tepat waktu~.”
Saat itu, Miku memuncul astral dressnya; dia menggunakan angelnya <Gabriel> untuk menepis serangan Shidou pada Natsumi.
“Miku…………”
“Kau tak apa, Natsumi-san? Jika kau ingin berterima kasih padaku cium saja aku~”
“Si-siapa yang ingin!”
“Um, sepertinya Shidou-san mencoba untuk bergerak lagi……”
Natsumi kemudian menyadari situasinya saat Yoshino mengatakannya. Dia berpikir untuk beberapa saat dan, setelah momen keraguan, perlahan meletakkan bibirnya pada bibir Shidou. “Itu dia! Sekarang tak apa! Itu dihitung sebagai ciuman, kan!?”
“Ah, Natsumi-san, sayang sekali –“
Mengikuti Natsumi, Miku menuntun ke arah wajah Shidou. Setelah bertukar cium, Miku mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir Shidou. Yoshino dan Natsumi tidak bisa apa-apa selain tersipu malu.
“Ufufu….. sebuah ciuman dengan darling, dan ciuman tidak langsung dengan Natsumi-san…. Benar-benar bagus~”
“Apa…..!? Ciuman tidak langsung!? Aku tidak….”
Setelah mengatakannya, Natsumi menyadari sesuatu yang mengguncang bahunya.
“Tunggu, eh? Itu artinya aku juga melakukan ciuman tidak langsung dengan Yoshino….?”
Natsumi memerah. Setelah melihat reaksinya, Yoshino juga merasa malu.
Namun, situasi ini tidak bertahan lama. Shidou merusak pipa yang mengekang tubuhnya dan lanjut bergerak ke depan, mendorong <Zadkiel>.
“Kya…….!”
Yoshino memanipulasi <Zadkiel>nya untuk menjaga keseimbangan. Miku pergi dengan Natsumi yang jatuh lagi. “Sepertinya semua yang pergi duluan berhasil. Ayo pergi juga!”
“Aku tahu”
Kotori menutupi dirinya sendiri dengan api selagi Origami menutupi dirinya sendiri dengan cahaya. Keduanya bergegas ke langit untuk mengejar Shidou.
Shidou, yang kehilangan kesadarannya, adalah monster. Bisa dibilang sekarang dia adalah bencana berjalan dalam bentuk manusia.
Ya. Dia adalah ‘Roh’ berdasarkan definisi AST.
Namun Kotori tidak merasa putus asa. Atau malahan, dia merasakan kebangkitan yang aneh pada emosinya. Walau situasinya masih gawat, harapan kecil untuk dapat menyelamatkan Shidou seperti keajaiban untuknya. – Walau dia tidak ingin berterima kasih pada <Phantom> untuk itu.
Kotori mendengus selagi melihat Origami.
“Origami, kau bisa melakukannya!?”
“Tentu saja.”
Origami membalas singkat, ketika ia disepuh ke arah Shidou.
“- <Metatron>”
Ketika suaranya bergema, jumlah bulu yang banyak muncul di dekat kepala Origami, berhubung untuk membentuk susunan mahkota.
Origami mengangkat tangannya di saat yang sama; setiap sayap yang membentuk <Metatron> mulai beranyakan. Mahkota yang tersebar mengeluarkan cahaya yang bersinar saat meluncur melewati tanah.
Tentu saja, Origami tidak ingin menyakiti Shidou, hanya mencoba menangkisnya.
“-!”
Bereaksi pada serangannya, Shidou melompat melewati garis pandangan dan pergi ke langit.
“Ah ah ah!”
Kemudian di tangannya, dia mengeluarkan angel berbentuk pedang <Sandalphon> yang dia coba gunakan untuk memotong Origami.
“Origami!”
Kotori memanggilnya tanpa berpikir. Bahkan jika Origami pada astral dress terbatasnya, serangan langsung dari angel dapat berakibat fatal.
Namun, sebelum <Sandalphon> dapat mengenai Origami, tubuhnya tiba-tiba menghilang dalam cahaya. Berikutnya, dia muncul kembali di tangan Shidou.
“-“
Origami meletakkan tangannya pada pipi Shidou dan mendorong bibirnya pada bibir Shidou.
Shidou langsung menunjukkan respon tersentak yang sama dan mengerang selagi melambaikan <Sandalphon>nya.
Tubuh Origami menghilang dan muncul lagi beberapa meter di belakang Shidou. Menggenggam kesempatan ini, Kotori mencoba mendekat pada Shidou.
“Ah – ah ah ah!”
Sadar bahwa Kotori mendekat, Shidou mengayunkan <Sandalphon>, melepaskan gelombang energi Roh ke arah Kotori.
Kotori menghindari serangannya. Tentu saja, reaksi Shidou perlahan berubah. Saat dengan Yamai, dia hanya bencana yang berjalan. Kemudian dia menunjukkan reaksi kasar ke arah Natsumi. Dan sekarang dia menunjukkan Angelnya untuk bertarung dengan ‘musuhnya’.
Penolakannya semakin kuat, dan walaupun membuatnya menjadi sulit, tapi dari perspektif yang lain, Shidou semakin memperoleh kecerdasannya- itu dia, persepsi manusianya perlahan muncul kembali.
“- Shidou”
Kotori membuka tangannya agar bisa mendekati Shidou.
“-!”
Shidou mengayunkan <Sandalphon>, tapi Kotori tidak menghindari serangannya. Darah mulai menyembur keluar dari lukanya.
“Kotori!”
Origami menyebut namanya dengan khawatir, tapi Kotori hanya menggerakkan tangannya untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Api kemudian mulai menjilati lukanya, menyembuhkannya.
Walau lukanya sudah disembuhkan, bukan berarti dia tidak merasakan sakit apapun. Rasa sakit ini menebus fakta bahwa dia akan membunuh Shidou dengan tangannya sendiri.
“Onii-chan”
Kotori menempel pada Shidou, dan kemudian dengan lembut menciumnya.
“………Aku akan menunggu untuk ciuman Dewasa berikutnya”
Kotori mengatakannya dengan senyum.
“----------!”
Shidou mengeluarkan raungan bisu saat dia pergi dari tangan Kotori. Dia mulai bergerak sekali lagi.
“Tinggal satu lagi”
Kotori meletakkan tangannya pada lukanya dan mengeluarkan suara mengerang. Apinya tidak sepenuhnya menyembuhkan lukanya. Namun, dia juga merasakan peningkatan jumlah kesenangannya saat rasa sakitnya memudar.
Bagaimanapun, hanya tersisa satu lagi. Dan setelah orang terakhir mencium Shidou, jalurnya akan pulih antara Shidou dan para Roh kembali normal.
Dengan mata buram, dia melihat ke arah Shidou.
Di arah Shidou, ada putri cantik dengan Astral Dress ungunya menunggunya selagi memegang pedang emasnya di tanah.
Suaranya menghempaskan dedaunan saat dia memotong pepohonan di jalannya. Kekuatan Rohnya berlinang melewati malam seperti gemuruh kemenangan. Dalam responnya, Tohka merasakan setiap senti kulitnya bergetar.
Tohka dengan tenang membuka matanya, selagi menggenggam ujung <Sandalphon> lurus ke depan.
Kekuatan Roh perlahan membentuk pusaran, Shidou juga menggenggam <Sandalphon> di tangannya. Saat dia lihat Tohka menghalangi jalannya, dia bersiap untuk mengayunkan <Sandalphon> ke arahnya.
“Hmm…”
Tohka menjatuhkan serangannya dengan sempurna, dan berlari mendekati Shidou.
Saat kedua <Sandalphon> membentur satu sama lain, kekuatan Roh mereka menciptakan letusan percikan.
Atas, dan bawah. Serangan datang dari setiap sudut, Tohka menyadari pertahanannya mulai goncang. Dampak dari serangannya terkena sektiarnya, menyebabkan kaki Tohka tenggelam ke tanah.
Itu perasaan yang aneh. Tohka tidak pernah berpikir Shidou dapat bertarung melawannya.
Tapi Shidou di depannya bukanlah Shidou yang sebenarnya. Mata Tohka menajam saat dia mengayunkan <Sandalphon> dengan segenap kekuatannya.
“Ah ah ah ah ah!”
Clang! Ditemani dengan suara yang keras, <Sandalphon> Shidou terbang dari tangan Shidou dan terbang ke langit, perlahan hancur menjadi partikel cahaya yang berterbangan di udara.
Walaupun, Tohka bukan tandingan Shidou dalam kekuatan Roh, kemampuannya dalam permainan pedang membuat perbedaan besar. Saat Shidou mengayunkan <Sandalphon>, Tohka memperkirakan serangannya dan merebut kesempatannya. “Shidou, sekarang aku akan menyelamatkanmu.”
Tohka mengangguk penuh ambisi, saat dia bergerak ke tangan Shidou. Dia menggenggam tangannya pada dagunya, dekat dengan bibirnya.
--Namun, saat itu.
“-! Gaa ah…….!”
Tiba-tiba, dia merasakan sensasi kegelian di dadanya; Tohka menggenggam dadanya kesakitan.
“Ini……………..”
Dalam sekejap, <Sandalphon> dan astral dress terbatasnya mulai menghilang. Tampaknya dia akhirnya kehabisan kekuatan Rohnya.
Dia merasakan kekuatan yang kuat menarik tubuhnya ke bawah. Tanpa astral dress terbatasnya, tubuh Tohka dalam kontak langsung dengan kekuatan Roh Shidou.
“Ku-----“”---------“
Shidou dengan lembut melambaikan tangannya. Tapi bahkan dengan hanya seperti itu, Tohka terhempas mengenai pohon.
“Ah………!”
Punggung Tohka mendarat dengan keras pada sebuah pohon, kesadarannya menjadi samar. Tulang dan otot tubuhnya kesakitan karena gesekannya.
“Tohka!”
“Tohka-san…….!”
Dia mendengar Kotori dan yang lain dari langit.
Namun, sebelum mereka dapat menggunakan Angelnya untuk menolong Tohka, dia meninggikan suaranya.
“- Tunggu sebentar!”
“….!? Ada apa, Tohka!”
Kotori membalas dengan nada terkejut. Namun, Tohka tetap tenang dan melanjutkan.
“Tolong……jangan tolong aku. Aku merasa ini sesuatu yang harus kulakukan sendiri.”
“…….Tohka.”
Mengerti pemikiran Tohka, Kotori melambaikan tangannya untuk menghentikan yang lain.
Tohka berterima kasih pada Kotori dan perlahan berjalan ke arah Shidou.
“----!”
Shidou mengerang keras sampai bergema.
Walau yang lain sudah membuka jalurnya, sebagian besar kekuatan Rohnya masih tersegel di tubuh Shidou. Jika Shidou menyerang sekarang, jelas dia akan kalah.
“Ah……….”
Tohka mengabaikan rasa sakitnya dan menggeser tubuhnya ke arah Shidou.
Pandangannya memudar, kesadarannya samar. Tidak ada satupun bagian tubuhnya yang merasa sakit. Namun, dia tidak dapat membuang kesempatan terakhir yang sudah dibuat oleh semuanya.
“Ha ha……….”
Kekuatan Roh yang mengelilingi Shidou meningkat secara intensitas, seolah mencoba menolak akses Tohka. Tohka merasa seperti dia melompat ke lautan belerang dengan tubuhnya. Kekuatan yang tak terlihat menjilati seluruh tubuhnya, meninggalkan hanya rasa sakit yang hampir membuatnya kehilangan kesadarannya.
Namun, Tohka tidak menghentikan langkahnya. Jika Tohka menyerah di sini, dia tidak akan dapat menyelamatkan Shidou. Semua yang sudah mereka lakukan sejauh ini. Semua yang sudah mereka lakukan sejauh ini akan sia-sia. Dia jelas tidak bisa membiarkan itu terjadi.
“Shidou…….jadi kau selalu bertarung…..selagi merasakan sakit ini……?”
Walau Shidou memiliki kekuatan regenerasi Kotori, dia masih manusia yang bisa merasakan rasa sakit. Tohka akhirnya menyadarinya untuk pertama kali bagaimana Shidou rasakan saat dia menghadapi Shidou dan Wizard tanpa Astral Dress.
Namun, Shidou tidak pernah menyerah. Tidak peduli berapa kali dia merasakan sakitnya, tidak peduli berapa kali dia dipukuli, Shidou selalu berdiri untuk menyelamatkan Tohka dan Roh yang lain.
Tohka tidak tahu alasan kenapa Shidou melakukannya banyak hal untuk menyelamatkan Shidou. Tidak beralasan untuk mengakhiri hidupnya disini.
Tidak –
“……………..Aku”
Tohka bergumam pada dirinya sendiri.
Memang, Tohka berhutang banyak pada kebaikan Shidou. Ya, itu adalah kebaikannya yang menyelamatkannya.
Dan, pasti akan jadi masalah jika orang sebaik Shidou tidak dapat diselamatkan.
Namun, Tohka melangkah ke depan bukan hanya karena itu.
Jika ada cara untuk membayar hutangnya, Tohka pasti sudah pingsan berkali-kali.
Tapi di dalamnya, ada perasaan yang tidak akan membiarkannya menyerah apapun kerasnya. “--- Ah, begitu.”
Di ujung jalannya yang sakit, untuk pertama kalinya Tohka akhirnya mengerti bagaimana rasanya.
Walau dia sudah mendengarnya berkali-kali, ini pertama kalinya ini sama dengan perasaan yang ada di dalamnya.
Perasaannya adalah “cinta”.
Ini adalah “cinta” yang berbeda dari yang dia miliki untuk Kotori dan Yoshino.
Tohka mencintai Shidou, dan karena perasaan itu- dia sangat ingin menyelamatkannya.
“- Shidou”
Tohka memanggil namanya, menggunakan tangan kanannya dia menggenggam dasi Shidou.
Kemudian, dia menarik Shidou ke arahnya – dan menciumnya.
“---“

Berikutnya, Tohka merasa tubuhnya memanas. Kekuatan Roh yang mengelilingi Shidou mulai menghilang.
Setelah beberapa detik, pernapasan Shidou yang panik perlahan menjadi tenang, kekuatannya mulai meninggalkan tubuhnya.
Saat cahaya kembali ke mata Shidou, Shidou gemetar setelah menyadari bahwa Tohka menciumnya.
“…!? T-Tohka!? Apa yang kau lakukan….!?”
Suara yang biasa dan reaksi yang biasa.
Shidou yang Tohka cintai sedang berdiri di sana.
Tohka dengan halus melemaskan bibirnya, dan mengeluarkan suara samar.
“Aku tidak akan memberitahumu. Baka……Baka”
Setelah menyelesaikan kalimat itu, Tohka jatuh pingsan ke genggaman Shidou.

Date A Live Jilid 12 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.