09 April 2017

Clockwork Planet Jilid 3 Epilog LN Bahasa Indonesia


SAVER (00:00)
(Translater : DarksLight21)

Di bawah sinar rembulan, bunyi ombak yang begelombang menggema dengan tenang.
Tempat itu adalah Grid Ariake–sebuah kota plustelabuhan di Tokyo yang menghadap ke arah laut lepas.
Disana ada fasilitas pelabuhan yang dibangun di pinggiran Grid Ariake, berputar dengan arah yang sangat berlawanan, mengikuti Grid Ariake yang berputar dengan lambat. Dahulu kala, tempat ini disebut–Odaiba.
Keributan selama tadi siang membuat pelabuhan ini sepi, tidak ada satu orang pun disana, lalu di suatu sudut Odaiba, di dalam dermaga yang terlihat seperti sebuah gudang.
Itulah tempat berkumpul yang telah mereka sepakati sebelumnya, dan pada saat ini–

“Aaaaaannnnnnnnnn~~cccccccccccchhhhhhhhhhhhoooooooooo——RRRRRR!?”

Tangisan Naoto menggema ke seluruh penjuru dermaga, seakan-akan hari kiamat telah tiba di hadapanannya.
Tetapi, memang sulit menyalahkan dirinya.
Apa yang berada tepat di depan matanya adalah AnchoR yang babak belur dan tidak bertenaga, AnchoR yang kehilangan anggota tubuhnya dan hanya tersisa tubuhnya saja.
Naoto menjatuhkan semua benda yang dia pegang, lalu meloncat ke arah AnchoR, yang terbaring di suatu platform berukuran besar.
Marie mengamati situasinya dari belakang, dan bahkan dirinya sendiri pun mau tidak mau berwajah pucat dan terkesiap.
–Kerusakannya benar-benar mengerikan.
Tidak peduli bagaimanapun orang mencoba memperhalus kata-katanya–kerusakan itu adalah ‘kerusakan yang berat’.
Jika saja AnchoR adalah automata biasa, dia pasti akan dibuang tanpa belas kasihan sebagai  barang rongsokan. Dengan pertimbangan waktu dan usaha yang dihabiskan untuk memperbaiki kerusakan ini, akan lebih efisien jika membangun automata yang baru–jika AnchoR adalah automata biasa.
Marie melirik ke arah Naoto.
Tangan Naoto bergemetar ketika dia menyentuh AnchoR, lalu dia mengangguk lembut,
“…Tidak apa-apa. Sungguh, luka fatal di tubuhmu, cuma sedikit. Aku ingat segala hal tentang struktur tubuhmu, AnchoR, bahkan kabel-kabelnya sekalipun. Aku akan–dan juga Marie…pasti mampu memperbaikimu…haaa…”
“Benarkah…syukurlah?”
Naoto jatuh lemas di lantai, dan Marie juga menghela napas lega dengan sungguh-sungguh.
Lalu tiba-tiba saja–Marie sadar kalau dia tidak punya kesulitan apapun saat berurusan dengan anak ini.
Tepat ketika Marie merasa kehilangan, Naoto mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah RyuZU,
“…Makasih RyuZU. Terimakasih sudah menghentikan AnchoR.”
RyuZU membungkuk dengan anggun seraya menjawab,
“Sebagai seorang pelayan, sudah seharusnya hamba melakukan ini. Selain itu, ini juga demi adik perempuan hamba yang sudah terpedaya.”
“Aku juga akan memperbaikimu, RyuZU…menjadi kakak perempuan itu memang berat, kan?”
–RyuZU diam-diam terkesiap ketika mendengar kata-kata Naoto.
RyuZU sendiri menderita banyak kerusakan ketika dia memasuki ‘Yatsukahagi’ untuk menghentikan AnchoR–tetapi, alasan kenapa RyuZU terhenyak, adalah bukan karena telinga Naoto menyadari hal itu.
–Masternya yang mulia berjanji untuk memperbaikinya–RyuZU lebih merasa bahagia atas ‘pertumbuhan terus menerus’ tuannya, daripada prospek perbaikan untuk dirinya sendiri, lalu dia pun kembali membungkuk.
“…Ma…af…”
Pada saat itu, AnchoR, yang berada di pelukan Naoto, bersuara lemah.
Ketika mendengar suara yang dipenuhi noise tersebut, wajah Naoto berubah menjadi masam dan Marie pun menunduk.
Sebelum mereka bisa berbicara, AnchoR melanjutkan kata-katanya,

“An, choR…tidak bisa, menghancurkan…meskipun…An-choR hanya bisa menghancurkan…”
–Untuk memusnahkan musuh, untuk menghancurkan segalanya. Itulah satu-satunya alasan dia ada.
AnchoR menentang perintah tuannya, Naoto, bertindak secara independen, dan pada akhirnya–tidak bisa menghancurkan sama sekali.
Ketika dia melihat anak kecil ini meratap dengan mata seperti itu–Marie tanpa sadar memikirkan sesuatu.
Tetapi nalurinya berteriak sebelum pikiran rasionalnya: Tidak, itu cara yang salah untuk memikirkan hal ini
“…Saya mau…sebuah perintah…”
Mata merah yang bergemetar itu tampak seperti sedang menahan tangis ketika menatap Naoto dan Marie.
Kata-kata dan wajahnya mirip seperti seorang anak kecil yang gelisah, bingung dan berkaca-kaca setelah menghadapi sebuah masalah yang tidak bisa dia atasi.
Apa yang AnchoR inginkan bukanlah sebuah instruksi maupun perintah–tapi sebuah hukuman, cara untuk menebus kesalahannya yang lalu.
Orang akan bertanya-tanya apakah Naoto menyadari hal itu, Naoto pun angkat bicara,
“Baiklah, ini perintah, AnchoR–”
Naoto memberitahu AnchoR secara langsung,

“Kamu bisa mengangkat kepalamu dengan tegak–dan bilang ‘Saya sudah bekerja dengan keras, saya ingin dipuji’.”

–AnchoR membelalakkan matanya.
Mata merahnya yang gelisah menatap ke arah RyuZU dengan limlung.
RyuZU hanya menutup matanya dengan tenang, menandakan kalau dia memperterguh kata-kata Naoto.
Anak yang rusak itu menarik napas dengan terengah-engah seraya bergumam,
“…An-choR…bekerja keras…?”
“Yep! Tidak ada anak yang lebih bekerja keras daripada kamu meskipun aku mencari ke seluruh dunia.”
Napas AnchoR terengah-engah. Lalu setelah diam sejenak, matanya menatap ke arah Marie.
Dengan suara bergetar, AnchoR bertanya,
“…Mama…apakah kamu…mengizinkan AnchoR…meminta untuk…dipuji?”
“–”
Di momen itu, Marie merasakan sebuah dorongan yang naik dari lubuk hatinya.
Dan, dia sadar–
–Bahwa dia tidak lagi menentang panggilan ‘mama’ dari anak ini.
Marie mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi AnchoR, merasakan kulit artifisial yang rusak tersebut, lalu merangkul AnchoR, menggendongnya seperti seorang bayi.
Telinganya menangkap bunyi suatu hati.
Marie merasa jijik dengan dirinya sendiri–karena telah memperlakukan benda–bukan, anak ini sebagai automata biasa, sebuah senjata penghancur yang mengerikan, dia benar-benar jijik dan muak akan dirinya yang dulu. Anak kecil seperti ini pergi dan berakhir babak belur, atas keinginannya sendiri, hanya untuk melindungi mereka. Selain itu, anak ini memang berhasil melindungi mereka–tapi dia tampak seperti akan menangis kapanpun, bertanya-tanya apakah dia bisa dipuji.
Apakah itu hanya automata biasa? Tida punya hati? Bodo amat! Aku muak mendengar hal itu, mati saja sana, sialan.
“Makasih, AnchoR…kamu benar-benar mengalami hal yang berat. Kamu–benar-benar sudah bekerja keras.”
Sambil berkata begitu, Marie tersenyum simpul dan berpikir, Aku benar-benar tidak mau mengakui ini–
Tapi entah kenapa, dia bisa memahami Naoto–perasaan si mesum yang tidak segan melamar sebuah automata.
Hanya sebuah automata. Hanya sebuah simulasi–jika Marie membagi-bagi semuanya dengan cara ini, dan berhenti berpikir…
Maka umat manusia, hanyalah sebuah mesin simulasi yang terdiri dari protein dan sinyal biologis.
Jika orang harus bertanya apakah hati itu ada–maka buktikan kalau hati itu benar-benar ada.”
“…Hiii…aaa…!!”
AnchoR meneteskan air mata saat dipeluk oleh marie.
Naoto mengelus kepala AnchoR, dan menatap tajam seraya menyipitkan matanya,
“Selain itu, AnchoR, kamu salah besar tentang satu hal. Aku harus sedikit memarahimu karena hal ini.”
“…Uh…eh?”
“Kamu bilang kalau kamu ‘hanya tahu cara menghancurkan’. AnchoR, kamu bukan anak seperti itu.”
Naoto berkata dengan tegas, dan di saat yang sama, AnchoR teringat sesuatu–
–Saat saya kembali, papa akan mengajari saya–tentang diri saya sendiri yang tidak saya ketahui–
Dan seperti yang RyuZU katakan, Naoto mengatakan jawabannya,
“AnchoR, kamu ini anak pintar yang tahu cara melindungi semua orang, membawa kebahagian bagi semua orang dan tersenyum. Tidak peduli seberapa kuat anak sepertimu, itu bukan kekerasan–tapi itu ‘kekuatan’.
–Kekerasan dan kekuatan. Tampaknya AnchoR tidak mengerti perbedaan diantara keduanya, karena dia berkedip.
Ketika mendengar ucapan Naoto, Marie teringat sesuatu,
“…’Trishula’–simbol kekuatan yang dimiliki oleh Dewa Penghancur Siwa. Tombak bermata tiga…”
Hal ini membuat Marie berpikir. Tidak mungkin Naoto tahu hal-hal seperti ini
Meskipun dia tidak tahu hal itu, Naoto memahami–bukan, dia menyadarinya.
“–Karakteristik yang mendefinisikan ‘kekuatan’ dari Dewa Penghancur adalah ‘tekad’, ‘pengetahuan’–dan ‘tindakan’. Hanya dengan memiliki ketiga syarat tersebut maka ‘kekuatan yang benar’ itu ada, dan itulah cara bagaimana Siwa menjadi salah satu dari tiga dewa…itu adalah mitos Asia kuno.”
“Jadi AnchoR–kamu bisa menggunakan kekuatanmu berdasarkan keinginanmu sendiri, kan?”
“Ah…”
AnchoR terkesiap dan matanya terbelalak.
“Kamu ini anak baik, anak yang pintar, AnchoR. Kekuatan untuk menghancurkan–itu juga kekuatan untuk memperbaiki. Sama seperti bagaimana kamu harus–‘mempreteli dengan akurat’ ketika memperbaiki sebuah jam. Itu bukan kekerasan. Tapi itu kemampuan yang kuat.”
Naoto bicara begitu pada AnchoR dengan senyuman lembut di wajahnya.
“RyuZU juga bilang, kan? Kamu harus mendengarkan kakakmu, lho. AnchoR, kamu ini anchor[1]–kekuatan untuk membatasi. Karena itulah ‘Y’ memberimu nama itu, kan?”
Setelah mendengar hal itu, mata AnchoR berkedip-kedip, bibirnya bergetar dan tanpa sadar bersuara.
Lalu sekali lagi, dia menghadap ke arah Marie, dan bertanya dengan ragu-ragu,
“…AnchoR…bukan anak nakal? Mama…mama tidak takut, pada AnchoR?”
Pada saat itu–Marie benar-benar merasa malu akan dirinya sendiri.

Dia ketahuan–dia memang selalu takut pada anak ini, selalu menganggap anak automata ini sebagai sebuah senjata, hatinya bersikeras untuk menarik garis pembatas diantara keduanya.
–Lalu Marie, mengikuti perasaannya dan mengecup AnchoR di pipi. Dia lalu menggerakkan bibirnya ke kelopak mata dan pipi yang memerah itu, kemudian, dia tidak bisa menahan isak tangisnya seraya memberitahu AnchoR,
“Bagaimana mungkin aku, takut padamu…! AnchoR–”
–…

“Hei Non, kau tahu? Biarpun di film, adegan penuh tangis seperti ini bisa sedikit menjengkelkan jika berlarut-larut selama 10 menit.”
Mendengar ujaran itu, Marie menyeka air matanya, dan menolehkan kepalanya dengan marah.
Kepala Vermouth menyembul dari pintu yang setengah terbuka sambil mengetuk-ketuk dinding.
“Waktunya lanjut ke adegan selanjutnya, kan? Contohnya, bagaimana cara kita keluar dari sini, atau semacamnya?”
“–Tentu saja dengan kapal pesiar. Kalau kau muak dengan adegan itu, jangan ditonton.”
“Oh, memangnya bisa begitu. Kita baru saja jalan-jalan di udara, dan aku sudah berharap kalau kita akan berjalan-jalan di laut! Kalau begitu–adegan kita selanjutnya adalah meninggalkan dermaga dengan santai dan kapal pesiar kita penuh lubang karena ditembaki mereka, kan?”
Vermouth tertawa sinis–tapi mata miliknya itu tampak sangat serius.
Fakta bahwa para teroris biadab telah meloloskan diri mungkin telah diketahui oleh semua orang.
Mengesampingkan rute darat, udara dan laut–tidak, mengingat cara senjata raksasa itu muncul, kemungkinan besar rute bawah tanah pun disegel.
Jika sebuah kapal pesiar mencurigakan tiba-tiba muncul, tidak aneh jika kapal itu akan ditembaki tanpa peringatan apapun.
Tapi Naoto menjawab keraguan Vermouth,
“Tenang saja. Dalam sekitar–46 menit? Akan ada angin tornado acak yang melanda area ini. Kita akan melaju menembus ‘ruang itu’ selama tornado berlangsung.”
“Oh, itu mungkin berhasil. Jadi siapa yang punya ide itu?”
“Tentu saja Naoto. Inilah ide yang bisa dipikirkan orang gila.”
“Tentu saja ya, haha! Pemikiranmu sesuai dengan perkiraanku bocah! Kurasa aku akan memper–”
Ketika Vermouth hampir mengatakan lelucon yang sangat vulgar, dia ditampar oleh sabit RyuZU.
Setelah beberapa saat, shutter sebuah kapal pesiar terbuka.
Sebuah kapal pesiar berwarna putih merapat dari laut.
Kapal pesiar itu berukuran cukup besar, juga dilengkapi dengan dapur, kabin dan bahkan bengkel sederhana.
Kapalnya berlabuh tanpa hambatan, dan dua orang pria turun dari kapal tersebut.
“…Hah, kurasa aku memang lebih memilih bentuk manusia.”
“Halo, Profesor Marie, saya sedikit terlambat. Maaf membuat anda menunggu.”
Orang yang turun dari kapal pesiar itu adalah Halter, yang sudah kembali ke diri prostetiknya, beserta Conrad.
Marie berdiri untuk menyambut keduanya seraya menjawab,
“Jangan bicara begitu dong, Profesor Conrad. Anda benar-benar membantu kami disini…banyak hal terjadi, dan hasilnya saya hampir meremehkan anda. Bisa dibilang kalau saya masih punya sedikit masalah tentang hal itu.”
Marie bicara dengan mata setengah terbuka.
Tetapi, Conrad tampak mengabaikan bagian yang merugikannya, dan berkata dengan wajah berseri-seri,
“Tidak tidak. Pekerjaan ini memiliki banyak keuntungan bagi saya. Benar-benar pekerjaan yang dipenuhi dengan kegembiraan.”
Marie tersenyum penuh arti, lalu melirik ke arah Halter dan bertanya,
“…Tapi saya harus akui, anda berhasil mendapatkan tubuh cyborg untuk menggantikan tubuhnya.”
“Tentu saja. Karena keributan ini, Negara ini saat ini sedang berada dalam kekosongan pemerintahan. Saya sendiri juga mendapat beberapa hal yang bagus, lho”
Ujar Conrad dengan riang.
–Banyak keuntungan. Barangkali itu bukan hanya tentang pengalaman maupun cyborg ini–Marie tersenyum kaku. Tetapi, dia tidak bisa membiarkan Halter meloloskan diri sementara dia terhubung ke ‘Kura-Kura Hitam’. Keenggenannya untuk meminta bantuan pada orang lain benar-benar tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Tubuhnya jauh lebih kasar dibadingkan tubuh sebelumnya. Rasanya tidak stabil…dan wajahnya–kuharap ada cara untuk mengubah wajahnya nanti.”
Marie berkata begitu seraya membelai wajah Halter, yang tubuhnya tampak jauh berbeda dari sebelumnya.
Penampilannya yang sekarang adalah seorang pria muda dan tampan, dengan penampilan fisik yang tampak lebih kurus karena perbedaan dalam gir otot yang menyusun tubuhnya.
Satu-satunya hal yang sama diantara tubuhnya yang sekarang dengan yang dulu adalah kepala botaknya.
Selain itu, Halter juga mengenakan kacamata hitam yang serasi dengan setelan kelabunya, perbedaan itu begitu mencolok seolah-olah dia adalah orang asing yang sedang menyamar sebagai dirinya.
Tapi meskipun begitu–Marie mengangkat bahunya,
“Yah, tubuh cyborg manapun saat ini akan kelihatan kasar jika dibandingkan dengan generasi ke-8 keluarga Breguet. Bisa dibilang kita beruntung bisa mendapatkan pengganti saat ini–dan penampilanmu sudah terbongkar. Kurasa lebih bagus jika kau tidak kembali ke penampilanmu yang lama.”
“Apa kau bodoh? Wajahku dulu adalah wajah sebelum aku berubah menjadi seorang cyborg, dibuat berdasarkan perkiraan proses penuaan. Kau mau menyerah soal itu hanya karena aku sekarang seorang buronan? Jangan meremehkan pria paruh baya yang baik ini!”
Halter mengusap kepala botaknya dengan tidak senang. Lalu Vermouth menyela dari samping.
“Ngomong-ngomong, aku…tidak mendapat salah satu tubuh itu? Aku ingin kembali jadi laki-laki.”
“Bagaimana kalau kau tetap begitu seumur hidupmu?”
“Hei cur–benda ini bahkan bukan cyborg! Kau cuma mencoba menakutiku kan!”
Vermouth balas berteriak, tapi tiba-tiba, dia merasakan sesuatu di selangkangannya, lalu berkata,
“–Tapi sejujurnya, aku sangat khawatir tentang sayangku di selanganku ini. Dalam keadaan darurat, kulupnya…”
“Tenanglah Vermouth! Akan kucarikan cyborg yang benar-benar jelek buatmu! Tiba-tiba saja aku ingat kalau ada sesuatu yang benar-benar jorok di depanku!”
Marie tampak bahagia–dan kelihatan siap untuk melakukan modifikasi di seluruh tubuh Vermouth. Vermouth memalingkan wajahnya, dan memindai sekelilingnya.
“Hm–yah, karena kita sudah jelas meloloskan diri menggunakan kapal pesiar dan metodenya, boleh aku bertanya satu hal terakhir–?”
Sambil berkata begitu, Vermouth menoleh ke salah satu sudut dermaga.
Dengan awalan darinya, semua orang disana menoleh ke arah seorang pria tua, yang ditempatkan disana.
–Gennai Hirayama, dalang ‘sesungguhnya’–di belakang semua rentetan peristiwa ini. Lengannya yang terpotong telah diobati dengan kasar, dan dia tidak diikat tetapi hanya duduk diam di kursi.
“…Aku penasaran, Non, kenapa pria tua ini ada disini?”
Baik Vermouth maupun Halter sama-sama mengeluarkan nafsu membunuh anorganik. Tapi–
“Eh? Aku sudah bilang kita bisa merebusnya di panci, lho. Kita bisa menggunakan drum di dekat sini–”
Naoto berkata begitu seraya melihat-lihat ke sekelilingnya. Marie mengabaikan perbuatan Naoto dan menjawab,
“Aku meminta hal ini pada RyuZU sebelum operasinya dimulai. Aku ingin menangkap dalangnya hidup-hidup jika memungkinkan–”
Ketika mendengar hal itu, Halter menepuk dahinya sendiri.
Dia menunduk ke arah gadis yang usianya belasan tahun tersebut seraya berkata,
“…Akan kuberitahu, Non, hal yang normal jika hati nuranimu berkecamuk ketika kau membunuh, tapi akan bermasalah jika kau membiarkan orang ini hidup. Paham?”
Benar–jika mereka ingin menciptakan ‘kejahatan’ yang hanya berasal dari ‘satu sel kriminal’, meninggalkan saksi hanya mengundang masalah. untungnya–meskipun Marie tidak berniat untuk seoptimis ini, tapi selain Gennai, semua ‘militer’ Shiga lama telah terbunuh.
Kalau begitu–
“Bunuh orang ini, dan semuanya akan berakhir. Apa kau ingin aku menangani hal ini? Aku sudah terbiasa menyingkirkan siapa saja dan membuang mayatnya sama seperti minum secangkir the. Beri aku waktu sepuluh menit, dan aku akan memilih 6 metode membunuh yang berbeda untukmu, mulai dari yang tercepat sampai ke yang paling menyiksa.”
…Jadi inikah para ‘veteran’ di medan perang? Marie menyaksikan kedua orang itu mengeluarkan aura dingin, lalu dia menghela napas,
“…Bohong jika aku bilang kalau aku menentang jika dia dibakar hidup-hidup–”
Sambil berkata begitu, Marie melotot tegas ke arah Naoto.
Naoto, yang dengan setengah hati–tidak, dengan sangat amat serius mencari-cari sebuah drum, merasakan tatapan tersebut, dan menoleh,
“…Baiklah, jika kau mau aku mengatakan hal yang serius, akan kukatakan saja–”
Naoto berhenti sejenak.
“Pertama, biarpun pria tua ini dibiarkan hidup, kurasa tidak masalah. Atau bisa dibilang–nantinya dia juga akan dibunuh.”
Ketika mendengar hal itu, Marie tampak skeptis.
Di sisi lain, Halter, Vermouth, Conrad dan RyuZU tampak mengerti.
“–Begitu ya. Memang begitu sih.”
“Jika ada berita kalau ada korban selamat dari ‘militer’ Shiga yang terlibat dalam coup d’etat, bukan hanya kita yang akan berada dalam masalah.”
“Tidak peduli kesaksiannya, dia akan dianggap sebagai salah satu dari kita, dan pada akhirnya hanya hukuman mati yang menunggunya.”
“Itu mungkin akan menghemat waktu daripada kita harus membungkam (membunuh)nya. Memang benar, tidak akan ada masalah apapun.”
Setelah mendengar pendapat ketiga pria, sebuah mesin dan Naoto yang tampak tidak mengatakan apapun lagi, wajah Marie menjadi tegang.
–Kenapa orang-orang ini selalu punya ide-ide busuk seperti itu dari awal?
Naoto terus bersikeras.
“Jika aku harus mengatakan alasan lain–pria tua ini tampaknya hanya mengincarku, itu alasan kesatu. Jika aku membiarkannya, rasanya seperti membiarkan AnchoR dan RyuZU membunuh seseorang, dan aku kesal akan hal itu, itu alasan kedua. Dan jika aku jarus mengatakan alasan ketiga–”
Naoto menunduk ke arah sang pria tua yang masih terduduk, dan berkata,

“Kupikir ada ‘orang lain’ di belakang pria tua ini”

–Apa…?
Tepat ketika semuanya bermuka masam, Halter menanyakan apa yang ada di pikiran semua orang yang ada disana.
“Memang benar kalau ada banyak hal yang tidak kumengerti–tapi apa dasar pemikiranmu?”
“Eh, yah…seseorang yang benar-benar membenci ‘Y’ sampai-sampai pikirannya jadi gila–mustahil memanfaatkan warisan ‘Y’ yaitu AnchoR dengan sengaja, kan? Selain itu, teknologi elektromagnetik yang begitu dia banggakan pun tidak ada di tubuhnya.”
Ketika mendengar hal ini, semua orang disana terkesiap.
Marie, dan bahkan Halter dan Vermouth, para pria yang ‘ditempa oleh perang’ pun, melewatkan fakta ini.
Dengan asumsi bahwa AnchoR memiliki kekuatan penuh, menghancurkan ‘Yatsukahagi’ adalah hal yang mudah–itu akan menjadi hal yang sangat ironis bagi pria ini, kan?
Gennai menerima tatapan-tatapan orang-orang yang ada disana, lalu mengangkat kepalanya.
Wajahnya, yang berambut dan berjanggut putih, begitu pucat seperti kertas, hanya saja matanya yang berwarna logam itu dipenuhi dengan kebencian yang berkobar.
“–Ahh, mengesankan.”
Suaranya terdengar acuh tak acuh dan parau.
“Kau memang mengesankan sampai bagian paling akhir, ‘Y’–dasar Dewa sialan.”
Naoto menghela napasnya dengan kesal.
“Apa kau tidak bosan bicara begitu…aku ini punya nama, dan namaku itu Naoto Miura. Apa kau menciptakan keributan ini hanya karena kau gila akibat kepikunanmu atau semacamnya?”
“Mengesankan sekali kalau dia mencoba menghancurkan dunia karena kepikunannya.”
Marie berujar sinis dengan mata setengah terbuka. Kemudian, dia menunduk ke arah Gennai dan bertanya,
“…Kau terus memanggil Naoto ‘Y’. apa alasanmu?”
Mendengar pertanyaan Marie, gennai mengangkat wajahnya dengan pelan-pelan.
Di hadapan mata kelabu yang terbuat dari logam dan beralamat buruk itu, Marie tanpa sadar mundur.
“–Marie Bell Breguet. Si teknisi mesin jam muda yang jenius. Mutiara keluarga Breguet–aku benar-benar kecewa karena kau tidak mengerti.”
“Apa…?”
Gumam Marie, lalu Gennai memalingkan wajahnya dari marie.
Dia lalu menatap wajah Halter, vermouth, dan Conrad secara bergantian dan berkata,
“…Kalian mungkin sudah berkontak dengan ‘Y’. kurasa kalian tidak begitu dungu sampai-sampai kalian tidak punya pikiran apapun setelah melihat sihir seperti itu, ketidakrasionalan seperti itu.”
Dan akhirnya, dia menatap mata Naoto, serta menyimpulkan,
“–Pemuda ini bukanlah manusia.”
“Tidak tidak, yang benar saja, apa yang dikatakan pria tua ini sih?”
Naoto langsung membantah, tapi Gennai mengabaikannya serta melanjutkan kata-katanya,
“–Kalian mungkin sudah melihatnya. Pemuda ini mengubah dan memodifikasi dunia dengan begitu mudahnya. Apa kalian benar-benar percaya…kalau orang yang mampu melakukan hal-hal seperti itu hanyalah seorang manusia biasa, seorang teknisi biasa?”
Marie terkesiap.
Halter, Vermouth dan Conrad juga bersungut-sungtu. Setelah menyaksikan hasil kerja yang melampaui ranah Dewa, menolak kata-kata si pria tua sebagai omong kosong adalah hal yang memang mustahil bagi mereka.
“Dan bagiku, Clockwork Planet ini dipenuhi dengan keragu-raguan. Menciptakan kembali dunia menggunakan gir-gir adalah hal yang mustahil bagi umat manusia…!”
Gennai tetap terduduk di kursi, suara seraknya pun meneruskan kata-katanya,
“Sebuah keberadaan yang tidak mungkin, sebuah teknologi yang mustahil. Kita tidak yakin apakah dunia ini benar-benar ada. Dalam situasi ini, kupikir membiarkan ‘Y’ memahami keputusasaan seperti itu serta batasan umat manusia adalah hal yang diperlukan–bisa dibilang kalau inilah motifnya.”
Setelah berkata begitu, Gennai bersandar di kursinya.
Dia menunduk lalu melihat ke arah lengan kanannya yang sudah hilang.
“…Aku mungkin saja kalah…tapi apa ini artinya manusia biasa tidak mampu menentang Dewa? Kalau kalian ingin membunuhku, lakukan saja. Pada akhirnya dunia ini hanyalah sebuah ilusi, ilusi buatan yang diciptakan oleh Dewa sombong yang memanggil dirinya sendiri manusia…aku tidak punya penyesalan apapun.”
Gennai menyarankan begitu dengan tenang.
Nada suaranya terdengar dingin, letih dan telah menerima kekalahan.
“–”
Kalau saja, pikir Marie.
Kalau saja ini terjadi beberapa hari yang lalu–ketika Akihabara terkena EMP, yang menyebabkan segalanya rusak, barangkali dia akan setuju dengan kata-kata si pria tua.
Keputusasaan itu, perasaan tidak percaya itu, kesan bahwa seluruh dunia ini hanyalah sebuah ilusi, kalau saja pada saat itu–
–Tidak, tetapi saat ini dia sudah mengerti.
Kalau dunia ini bukanlah ilusi.
Lalu dengan pemahaman dan kepercayaan itu, Marie angkat bicara,
“–Berhenti bercanda.”
Kata-katanya, yang lebih tegas dan meyakinkan daripada suaranya, terdengar.
Gennai mengangkat wajahnya, mata kelabunya yang suram melotot ke arah Marie, matanya tampak menentang kata-kata Marie.
Tapi Marie tidak takut dan mundur.

–Dunia memang diselimuti oleh sebuah ‘ilusi’.
Setelah satu lapisan ilusi ini dikupas dari muka Bumi, apa yang tersisa adalah–‘Clockwork Planet’ ini.
Naoto Miura hanya mendengar bunyi dunia setelah lapisan-lapisannya dikupas.
Marie yang sekarang paham betul akan hal ini.
–Dunia memperbolehkan paradoks.
Akal sehat, konsep yang sudah ada, teori saat ini–hal-hal seperti itu hanyalah ‘ilusi-ilusi’ yang menyelimuti dunia.
Setidaknya bagi umat manusia, alam semesta adalah sebuah epoch, sementara hukum fisika hanyalah kecacatan.
Dengan mengubah sudut pandang, ‘Gir Imajiner’ RyuZU serta ‘Gir Kekal AnchoR akan ada tanpa menimbulkan paradox, dan tidak akan ada lagi keraguan mengenai keduanya.
Saat itu, dunia yang Marie lihat–dunia yang Naoto tunjukkan dengan mengupas lapisan ilusi dari dunia–semua hal itu hanyalah ‘sifat’.
Dunia ini adalah sebuah ilusi, tapi di saat yang sama, dunia ini benar-benar ada–tentu saja itu bukan suatu mantra sihir yang mudah digunakan.
Bahkan teknologi gir saat ini, yang Marie kira salah, bukanlah ‘hal yang begitu berbeda’ dari pengetahuan yang dia miliki.
Perbedaannya sekecil molekul, beberapa hal kecil yang tampak seperti sebuah ilusi–

–Dan karena hal itu, Marie menyimpulkan sesuatu. Marie mampu menarik kesimpulan.
Hebatnya, kata-kata yang dia katakana merupakan kata-kata yang sama dengan yang pernah Gennai dengar.
“Terserah kau jika kau ingin mengaku kalah dan menggerutu disini. Memikirkan apa yang kau inginkan adalah pilihanmu, tapi–”
Mendengar perkataan tersebut, mata Gennai terbuka begitu lebar.
Marie menatap tajam ke arah mata logam kelabu yang kusam itu seraya berkata,
“Perkataanmu yang subyektif itu membuatmu terlalu sombong–siapa yang mengizinkanmu bicara mewakili ‘umat manusia’!?”
Lalu,
“Jangan kelompokkan kami dengan dirimu. Kami belum putus asa. Kami berbeda darimu.”
Mata zamrudnya dibakar api yang tenang.
“Beraninya kau mendefinisikan batasan kita sebagai manusia saat kau sendiri menyerah.”
Marie menyatakan begitu.
Dia tahu kalau Naoto yang berada di sampingnya sedang tertawa terkikih-kikih.
Gennai balas menatap dengan wajah yang menyadari sesuatu, lalu meratap,
“…Begitu ya. Jadi ada dua ‘Y’.”
Di bibirnya terulas senyum mengejek seraya berkata begini kepada Naoto dan Marie.
“Tidak peduli bagaimanapun kalian terus mengagungkan umat manusia, aku tidak akan pernah setuju dengan itu–tidak bisa melampaui batasannya itu sudah menjadi sifat manusia. Jika kalian tidak belajar dan memahami hal ini sebelum memanipulasi hukum-hukum dunia, bagaimana bisa kalian menyebut diri kalian sebagai manusia?”
Mata Gennai masih tampak kusam saat dia menatap wajah keduanya.
“TIdak peduli seberapa amoral kami ini, tidak peduli sebanyak apapun kami mengotori diri kami sendiri, kami akan terus mengulangi kegagalan kami berulang-ulang-ulang kali dengan wajah-wajah jelek kami yang dipenuhi tanah, terus membicarakan keberhasilan-keberhasilan yang kecil; itulah ‘umat manusia’–hal yang sama juga terjadi biarpun kami bukanlah pihak yang menang.”
Setelah berkata begitu, Gennai berhenti sejenak.
“Ya, contohnya–pria itu adalah salah satu contoh yang sempurna.”
Pada saat itu–
Di dalam dermaga, dimana hanya suara mereka berbicara yang bisa didengar, terdengar suatu bunyi yang nyaring.
“Ada apa ini–!?”
Kelompok Naoto melihat ke sekelilingnya dengan terkejut, lalu mereka langsung mengerti penyebab bunyi nyaring tersebut.
Komunikator resonansi di dalam dermaga telah aktif dengan sendirinya.
–Seseorang telah meretas komunikator tersebut dari luar.
Dan sebelum siapapun disana bisa bergerak, salurannya telah terhubung.
“Hahaha–saya rasa kata-katamu itu merujuk padaku? Pak Gennai–“

–Siapa itu?
Suara seorang pria yang datang dari komunikator tersebut menyebabkan semua orang yang ada disana menanyakan satu hal yang sama.
Tidak, hanya Gennai yang sedang memasang wajah mengejek, dia menatap ke arah komunikator tersebut tanpa mengatakan apapun.
Melihat reaksi Gennai, Marie memiliki suatu hipotesis.
Tapi sebelum dia bisa mengatakannya, suara itu mengumumkan jawabannya,
“Ah, mengenai siapa diriku ini–kalian pasti mengerti jika saya bilang ‘dalang’, kan?”
“–!!”
Marie hampir saja berteriak kencang.
Sang dalang–orang yang mendorong Gennai dari belakang, seperti yang Naoto isyaratkan.
Tapi dia tidak menduga kalau sang dalang akan menghubungi mereka seperti ini.
Sementara mereka tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, sang dalang melanjutkan kata-katanya dengan santai,
“Oh, iya! Sebelum kalian terkejut, maukah kalian membuka jendelanya dulu?”
“…Jendela?”
Halter merespons dengan skeptis.
“Ini sama sekali bukan jebakan. Cepat buka jendelanya. Kalau tidak, kalian akan melewatkannya!”
Suaranya yang riang dan tidak bisa ditebak–dipenuhi dengan kedengkian, mendesak mereka.
…Ada batasan seberapa mencurigakannya desakan tersebut.
Setelah menyadari hal itu, baik Marie maupun Naoto saling bertukar pandangan–lalu mengangguk. Kemudian Marie segera membuka kunci jendela yang sudah berkarat dan membukanya.
Angin laut berhembus menerpa pipinya. Tetapi–
“Tidak ada apapun…”
Tepat ketika Marie menggumamkan hal itu–
–Sebuah ledakan mengguncang langit malam, bunyinya menggema luas.
Marie hampir saja terjatuh akibat guncangan luar biasa ini, dan karena kepanikannya, dia menyondongkan tubuhnya keluar jendela untuk melihat ke arah langit.
Sumber ledakan tadi–adalah sesuatu yang menembus tembok suara[2]
Mata Marie terpusat ke arah mesin yang terbang ke langit.
–Sebuah jet tempur taktis?
Disana ada sebuah batalyon yang terdiri dari lebih dari 20 unit, mereka terbang ke ujung langit malam yang tidak berawan sebelum menghilang dari pandangan,
Kemana mereka pergi…tidak, yang lebih penting–ada senjata dan mesin yang tidak kuketahui?
Ketika pertanyaan ini muncul di benak Marie, sang dalang menjawab,
“Jadi bagaimana? Apa kalian melihatnya? –Mesin-mesin yang baru saja terbang melewati kalian tadi itu adalah produk-produk terbaru dari keluarga Vacheron!”
“Apa…Vacheron…!?”
Marie memalingkan wajahnya dari jendela dan berseru ketakutan. Sesaat kemudian–

–Sebuah kilatan cahaya mengubah langit malam menjadi sepenuhnya putih.
Beberapa detik kemudian, sebuah ‘noise ledakan’ yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya mengguncang atmosfir, laut dan kota.

Sang dalang lalu memekik gembira dari ujung komunikator,
“Tentu saja–mereka sudah memprediksikan situasi seperti ini serta menyiapkan sebuah senjata anti elektromagnetik–dan pesawat-pesawat itu adalah salah satu! Musuhnya adalah ‘Yatsukahagi’ yang sudah setengah hancur, tapi tidak ada orang lain yang tahu kenyataan ini selain kalian!”
Dari kata-kata tersebut, Marie memahami sesuatu.
Dengan kata lain, ledakan sebelumnya–adalah bunyi senjata raksasa yang sedang dihancurkan oleh senjata-senjata Vacheron.
“Ini adalah pertunjukan yang paling hebat! Terimakasih atas bantuan kalian–eh? Apa kau bilang?”
Suara dari komunikator tersebut berhenti, lalu diikuti dengan suara tawa jahat.
“Haha, saya benar-benar ingin berterimakasih lagi. Kudengar, pada saat ini, semua negara sedang menghubungiku!”
“Kau ini..!”
Marie mendesis dengan wajah yang mendendam.
Pada saat ini, ketika ancaman senjata elektromagnetik jelas dilihat oleh siapapun, dan kenyataan kalau mereka telah mengatasinya–
Tujuannya sudah jelas.
Popularitas keluarga Vacheron yang tadinya menurun tentu saja akan terangkat kembali…
Dan saat Jepang mencoba menangani masalah yang ditimbulkan oleh situasi ini, mereka tidak bisa menghentikan para Perusahaan untuk tidak ikut campur..
Tapi itu artinya–
“Kalian semua–mengincar hal ini sejak awal, kan!?”
Marie berteriak, tubuhnya gemetar karena tidak bisa menahan kemarahannya.
Senjata anti elektromagnetik? Tidak mungkin mereka bisa mengembangkan dan menyelesaikannya pada hari ini.
Sesuatu yang mereka siapkan untuk jaga-jaga? Omong kosong–mereka menyiapkannya ‘hanya untuk saat ini’!
Sekelompok orang ini diam-diam mengendalikan politik, menciptakan krisis, dan berniat mengakhiri masalahnya seperti ini. Senjata anti elektromagnetik itu ada untuk tujuan ini!
Mereka melakukannya hanya untuk–hanya untuk mempromosikan produk mereka sendiri…!
Tetapi, sang dalang tertawa samar, lalu suaranya menjawab raungan Marie,
“Hahaha, bagaimana itu mungkin terjadi!? Saya benar-benar ingin berterimakasih karena kalian begitu memuji kami, tapi saya tidak bisa melihat masa depan. Ini hanyalah salah satu dari hasil baik yang telah diprediksi sebelumnya yang kami manfaatkan sepenuhnya–tetapi…”
Dia berhenti sejenak.
“Biarpun saya tidak bisa melihat masa depan, tindakan kalian masih berada dalam kendaliku, lho. Hahaha–!!”
–Orang ini…,
Marie merasa sangat kesal, tubuhnya pun terasa semakin mendingin–kepalan tangannya gemetar karena rasa takut.
Apa yang mereka lakukan–bahkan keajaiban semacam itu juga dimanfaatkan untuk sesuatu.
Tetapi, dengan pelototan tajam ke arah komunikator, Naoto berujar,
“Berhenti mengoceh tentang ‘kebohongan’ yang jelas itu dengan suara misterius yang menjijikan itu, pak tua.”
“Oh–?”
…Kebohongan? Marie menoleh ke arah Naoto, yang melanjutkan kata-katanya,
“Bagaimana mungkin kau bisa bilang kalau segalanya yang kami lakukan–masih berada di dalam perkiraanmu? Jika kami yang berhasil merebut AnchoR adalah bagian dari perkiraanmu, apa kau tidak terlalu baik?”
–Benar juga. Marie menelan ludahnya.
Dia hampir saja tertipu oleh sandiwara sang dalang.
Naoto memang benar. Karena pria ini mengirim AnchoR untuk melindungi Gennai dan yang lainnnya, mengingat bahwa mereka tahu tentang kemampuan tempurnya yang luar biasa, apa ada alasan kenapa mereka menyerahkan AnchoR?
“Kurasa kau ingin menenggelamkan ibukota, memulai perang, serta mendapat banyak uang–? Tidak…”
Ujar Naoto seraya menolehkan kepalanya. Marie pun teringat akan apa yang dia dengar di Kyoto beberapa pekan yang lalu. Dia ingat saat dia menginterogasi salah satu anggota Angkatan Teknik militer, yang berteriak,
–“Kalianlah penyebab insiden di Amsterdam 2 tahun lalu, kan!?”–
Isu tentang penghancuran sebuah Menara Inti secara sengaja untuk menganalisis teknologinya–apakah itu…
Halter menghela napas sambil bergumam dari samping,
“…Begitu ya. Jika coup d’etatnya berhasil, kalian bisa mengangkat wibawa kalian sebagai salah satu pendukungnya. Jika gagal, kalian bisa mempromosikan senjata yang digunakan untuk melawan senjata elektromagnetik tersebut. Jika itu bekerja, Ibukota akan ambruk, dan kalian akan menganalisis teknologinya lalu memulai perang, menjual senjata dan membuat bisnis kalian berjalan lancar–dasar bajingan tengik.”
“Hahaha, dipuji oleh kalian merupakan kehormatan bagiku. Atau harusnya itulah yang kukatakan, ya?”
Umpatan Halter dibalas dengan ejekan dari pihak lawan, sementara Marie tampak tercengang.
…Apa yang sedang terjadi? Pola pikir macam apa yang bisa membuatnya melakukan hal rendahan seperti itu?”
Siapa sebenarnya–pada saat itu, Marie mengikuti apa kata nalurinya, dan berseru,
“Kau ini–bukan dari keluarga Vacheron, kan–siapa kau!?”
Alasan logisnya mengikuti sesaat kemudian, ketika Marie kembali berseru.
Pria ini yang menyebut dirinya sebagai dalang terdengar seolah-olah dia berasal dari keluarga Vacherons–tapi itu mustahil.
Lima Perusahaan memang benar-benar memliki pengaruh yang luar biasa.
Biasanya, di planet yang berjalan berdasarkan teknologi mesin jam ini, serta karena teknologi mesin jam merupakan nadi planet ini, Kelima Perusahaan, yang mengendalikan teknologi serta kewenangan, memiliki kekuasaan yang melebihi kekuasaan SSI. Tetapi, hanya ada beberapa orang yang bisa melakukan rencana seperti ini–dalam dua cara.
Pertama, orang itu haruslah seseorang dengan posisi yang setara dengan pemimpin kelima Perusahaan, serta–
Kedua, orang itu tidak akan pernah mempertimbangkan resiko jika masalah ini terungkap ke publik–gila.
Paling tidak, keluarga Vacheron sekalipun tidak akan mampu menyusun sebuah konspirasi untuk menenggelamkan sebuah kota, menganalisis teknologinya, serta menyulut peperangan.
Biarpun mereka mentolerir perbuatan jahat seperti itu–hal ini bukanlah hal yang akan disetujui sebuah Perusahaan di atas kertas, dengan pertimbangan resiko yang harus mereka ambil jika tujuan mereka ketahuan.
Tetapi, orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai dalang tersebut menjawab pertanyaan Marie dengan nada mengejek,
“Hahaha–siapa saya? Saya tidak pernah memikirkan pertanyaan ini sebelumnya. Selain itu, saya jarang punya peluang untuk memperkenalkan diri.”
Ujar sang dalang dengan riang.
Lalu, sebelum Marie bisa meraung, sang dalang bertanya,
“Ngomong-ngomong, saya ingin bertanya–apa kalian tahu apa yang dunia luar sematkan pada kelompok kalian? 12 jam setelah rekaman kalian yang menduduki Istana bocor, saat ini tidak ada orang di Bumi yang tidak tahu siapa kalian ini–“
Dia lalu melanjutkan kata-katanya sambil tertawa kecil,
“–‘Second Upsilon, konon disebut-sebut sebagai kedatangan ‘Y’ yang kedua! Semua orang bilang kalau ‘Y’ di masa lalu datang untuk menyelamatkan dunia, tapi kali ini, dia muncul untuk menghancurkannya–! Oh, nama yang benar-benar keren! Orang tidak bernama sepertiku ini benar-benar iri!”
Tetapi, sang dalang mengubah nada bicaranya menjadi tenang, dan meneruskan perkataannya,
“–‘Y’ ‘tidak akan pernah melampaui X’–itu kata-kata yang kuno kan? Karena itulah saya akan menamai diriku sendiri dengan nama yang lebih keren–“
Setelah berkata begitu, sang dalang berhenti sejenak,
Lalu menyatakan sesuatu,

“–Saya adalah ‘Ω’. Dari bidang usaha yang sama dengan kalian, tentu saja yang sungguhan..”

…Marie mengingat nama itu di hatinya–Omega. Itu mungkin nama yang sang dalang pikirkan secara acak, tapi itu tidak masalah.
Karena jiwa Marie memberitahu dirinya sendiri kalau orang ini adalah musuh yang harus mereka kalahkan.
Sang dalang mengabaikan determinasi Marie dan terus berlagak bodoh seraya berkata,
“Tapi kalian bisa mengambil rute kuno dan menganggap kami sebagai ‘organisasi jahat’. Sebagai tambahan, sayang sekali Unit 04 dicuri, tapi unit 04 hanyalah sebuah senjata. Karena kami tahu kalau unit itu adalah ‘benda’ yang ditandai sebagai ‘kekal’ tapi pada akhirnya bisa hancur, aku tidak tertarik lagi. Jika kalian tidak keberatan membawa rongsokan kuno itu, kalian bisa membawa semua yang kalian inginkan! Hahaha–!!”
Sementara pria yang menyebut dirinya sendiri Omega it uterus tertawa terbahak-bahak dengan suara yang terdengar begitu jahat–
“–Tutup mulut kotormu, dasar brengsek!”
Naoto mengeraskan suaranya dengan kesal.
Dan entah kenapa, dia melotot ke atap seraya berseru,
“–Berhenti bersembunyi dan mengoceh di tempat seperti itu. Turun dan katakan hal yang sama di depan wajahku kalau kau berani! Akan kuhajar wajahmu itu!!”
–Beberapa saat kemudian
“Haha–“
Omega tertawa. Tawanya itu begitu tiba-tiba dan nyaring,
“–Haha, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA–!!”
Tawa gila itu terus berlarut, setelah dia berhenti tertawa, Omega menyela,
“Saya benar-benar tidak bisa percaya sampai saya memastikannya sendiri. Sepertinya kau memang bisa ‘mendengar segalanya’, nak Naoto! Hanya ini satu-satunya cara untuk menjelaskan semuanya, tapi aku tidak pernah mengira kalau ‘kemampuan’ seperti itu benar-benar ada–wow, dunia ini benar-benar menarik, kan, nak Naoto!?”
Mendengar kata-kata Omega tersebut, Marie berpikir “ini buruk”, dan menyesali semuanya.
Alasan kenapa pria ini menghubungi mereka dan mengoceh panjang lebar–
Adalah untuk memastikan–kemampuan ‘kartu as’ mereka, Naoto!
Omega melanjutkan kata-katanya dengan riang,
“Saya meminta maaf karena sudah bicara berlebihan, nak Naoto. Saya memang sangat tertarik padamu, dan kaulah satu-satunya hal yang ingin kuanalisis melebihi dari ‘Pilar Surga’. Sebagai permintaan maaf–sejujurnya, analisis ‘Gir Kekal’ masih belum komplit, dan saya benar-benar tidak bisa memaksa diriku untuk menyerah soal Unit 04, jadi saya serahkan itu padamu untuk sementara. Maaf sudah memprovokasimu.”
“Enak saja! Dari awal AnchoR sudah menjadi milikku. Mati saja sana!”
“Naoto! Kenapa kau…!”
Marie berseru. Meskipun itu karena tantangan sang dalang, mereka sudah kalah karena mereka membuka ‘kartu as’ mereka. Tetapi–
“…Pintu palkanya sudah tertutup.”
“Eh…?”
Kata-kata mendadak Naoto itu membuat Marie terbungkam.
Naoto terus melotot marah ke atap seraya berujar,
“…Ada bom siluman raksasa di ketinggian sekitar 20.000 m. Kalau itu Cuma bom, RyuZU bisa menanganinya. Tapi aku baru saja mendengar suara meriam resonansi yang AnchoR gunakan sebelumnya.”
Mendengar kata-kata tersebut, Marie membelalakkan matanya,
“–Meriam Resonansi? Mustahil ada Meriam Resonansi dengan jarak tembak lebih dari 20.000 m!?”
Jarak tembak itu melebihi tiga kali lipat dari jarak tembak reali–bukan, batas teroritisnya. Tetapi–
“Jadi itu sesuatu yang mirip seperti Meriam Resonansi? Aku bisa menyimpulkan kalau ada suara lain orang ini.”
Sambil berkata begitu, Naoto menarik napasnya, lalu kembali menengadah ke langit dengan muak sambil berujar,

“Tebak dimana aku berada. Kalau kau benar, saya tidak akan membunuh kalian. Kalau salah, kalian akan kubunuh”–begitulah.”

Makna di balik kata-kata tersebut membuat Marie merasa sangat terkejut dan kesulitan bernapas.
Konyol–Marie menelan kembali apa yang hampir saja dia katakan tanpa pikir panjang itu.
Tidak peduli seberapa konyolpun itu, seberapa mustahilnya hal itu–jika Naoto berkata begitu, situasinya memang begitu.
Oleh karena itu, jika itu memang benar, dengan kata lain, mereka baru saja–
Mereka hampir terbunuh di saat-saat terakhir–serta ‘masih tetap hidup karena mereka dibiarkan hidup’.
Itu mungkin karena–‘begini lebih menguntungkan bagi mereka’.
Karena tidak ada masalah jika Marie dkk dibiarkan hidup–dan di saat yang sama, mereka bisa dimanfaatkan.
Suara ejekan keluar dari alat komunikasi yang digunakan sang dalang, seolah-olah menunggu Marie menarik kesimpulan ini,
“–Bagus sekali, jawaban yang tepat. Sesuai perkiraanku, nak Naoto!”
“B-beraninya kau meremehkan kami…!”
Alis Marie terangkat dan suaranya terdengar menahan amarah. Rasa malu yang tidak tertahankan membuat darahnya naik ke kepala.
Kapan terakhir kali dia dipermainkan secara kurang ajar seperti ini
Tampaknya sang dalang pun menganggap kemarahan Marie sebagai salah satu bentuk hiburan sambil melanjutkan perkataannya,
“Dan berkat kalian, saya bisa jauh lebih leluasa bergerak dari sebelumnya! Sel teroris internasional Second Upsilonku tersayang, tolong terus persembahkan pertunjukan yang menarik dan biarkan aku terus bersembunyi–tapi nak Naoto Miura, ada dua kesalahpahaman yang ingin saya luruskan, lho”
Keheningan sesaat menyelimuti tempat tersebut.
“Unit 04 yang dicuri sebenarnya memang benar-benar ada dalam perkiraanku. Mustahil menjelaskan gagalnya kejatuhan Kyoto tanpa suatu bentuk sihir, jadi saya memilih ‘umpan’ premium–haha, senang rasanya kalau kau menyukainya. Unit 04 memang koin yang berharga, tapi itu adalah investasi yang pantas!”
Mendengar kata-kata tersebut, Marie berkeringat dingin.
Itu artinya–
Musuh–benar-benar mengincar Naoto, dan memberinya umpan.
Kapan itu dimulai–kapan sebenarnya mereka mulai menyusun rencana, dan seberapa luas rencananya?
“Dan yang kedua–Kalau kau benar, saya tidak akan membunuh kalian. Kalau salah, kalian akan kubunuh…yah, itulah jawaban yang benar–“
tapi karena kata-kata setelahnya, keringat dingin Marie berubah menjadi rasa takut akan kematian.

“–Kecuali orang yang bisa menebak dengan benar, nak Naoto, yang lain boleh dibunuh, lho?”

“–Tiarap–!!”
Teriak Naoto.
Marie melakukannya tanpa pikir panjang. Dia melihat dengan matanya kalau Halter, Conrad dan Vermouth juga melakukan hal yang sama.
Orang yang tidak tiarap adalah RyuZU, yang bersiap-siap untuk bertempur–serta Gennai yang sedang menyeringai.
Kemudian kepala Gennai–meledak.
“–!”
Darah dan otaknya meledak, mengeluarkan bau karat yang memenuhi tempat tersebut.
Sesaat kemudian, sebuah suara tembakan terdengar.
…Kita ditembaki!
Marie menggertakkan giginya, sementara Naoto tampak khawatir dan membalikkan badannya.
Ini buruk. Pikir Marie. Tembakan kedua–
“……?”
Tembakan kedua tidak datang–?

Di atas atap sebuah bangunan yang tinggi, dimana semua fasilitas pelabuhan di Grid Ariake bisa terlihat dengan jelas,
“Hah…tidak kusangka aku bisa bertahan hidup. Kayaknya keberuntunganku berguna juga…biarpun ini pastinya kerja di luar gaji yang kudapatkan.”
Karasawa berseloroh, lalu memutar alat yang sedang tertusuk ke dalam sesuatu dengan mudah.
Klank, terdengar suara rusaknya sebuah suku cadang yang rumit.
Diikuti dengan gir-gir yang berputar dan lenyap, lalu mesin yang memiliki ukuran sebuah sepeda itu berhenti.
Mesin ini dilengkapi dengan kain hitam serta laras panjang, membuat mesin ini samar-samar mengeluarkan bau kekerasan.
–Sebuah mesin sniping yang digunakan untuk membunuh.
Karasawa menusukkan suatu alat yang mampu menembus armor tipis mesin tersebut untuk menghancurkan AInya, lalu dia menghela napas serta menggerutu sambil menggumam,
“…Aku harus bilang kalau pekerjaan ini melebihi bayaranku…yah, akan kuanggap ini sebagai bunga dari ‘hutang’ yang pernah kumiliki. Kelihatannya Profesor Marie sudah aman sekarang…ugh!”
Karasawa mengerang lirih, serta memegangi bagian samping tubuhnya.
Darah segar mengucur diantara jari-jarinya.
“…Ini benar-benar…apakah asuransi akan membayar kalau aku bilang aku terluka akibat kecelakaan kerja…kayaknya tidak, haha–tempat kerjaku terlalu gelap untuk ditempati siapapun.”
Dia berhasil mengalahkan sang pembunuh, tapi dia pun tidak keluar tanpa luka.
Pergelangan tangan kanannya, ditambah dengan beberapa tulang rusuknya, patah, lalu dia menerima dua tembakan di bagian perut.
Perkiraannya, setelah menerima luka separah itu, dia butuh waktu sebulan untuk pulih sepenuhnya.
Lukanya tidak cukup serius untuk memaksanya menjadi seorang cyborg…tapi nyawanya bisa terancam jika dia tidak segera mendapat pengobatan.
Napas Karasawa menjadi semakin tidak beraturan akibat lukanya yang parah tersebut.
“Harus memikirkan…kemana aku pergi selanjutnya…”
Kali ini, dia benar-benar mengetahui sesuatu yang harusnya tidak dia ketahui.
Dia berhasil mengalahkan seorang pembunuh, tapi keberuntungan yang sama tidak akan muncul terlalu sering.
Dia harus segera menyembunyikan keberadaannya–atau dia akan membutuhkan perlindungan seseorang.
Untuk saat ini, satu-satunya harapannya adalah…benar, mencari Tuan Putri? Berdasarkan pengalamannya di ‘Meister Guild’, bekerja di lapangan bersama gadis yang cantik dan ahli itu akan menyenangkan.
“Profesor Marie…kurasa dia akan baik-baik saja. Aku hanyalah karakter figuran jika dibandingkan dengan mereka. Mereka akan menemukan cara untuk meloloskan diri–woah, hampir saja.”
Karasawa menyeret keluar kesadarannya yang hampir menghilang, lalu tertawa kecil.
Kemudian, dia menelan kembali segumpal darah yang naik ke tenggorokannya.
“Ahh sial, ternyata memang lukanya parah…sebelum ganti pekerjaan, dokter gelap terdekat…”
Karasawa menyeret tubuhnya yang terluka lalu menghilang di kegelapan Tokyo.

Matahari hampir terbenam di ufuk barat.
Lalu di lautan yang berwarna merah karena matahari terbenam tersebut, Marie bersandar di kursi yang terletak di dek kapal.
Temperaturnya terasa hangat dan angin laut yang bertiup dari waktu ke waktu terasa sangan nyaman.
Matanya yang ditutupi kacamata hitam mendongak ke atas, dimana di langit yang berwarna tersebut ada bayangan ‘Equatorial Spring’ yang membentang.
Marie sedikit memiringkan lehernya, lalu melihat seorang pria di samping kapal yang sedang memancing.
Sementara si pria terus memunggunginya, Marie memanggil,
“Halter, bisa bawakan aku jus?”
“Tentu, jus jeruk tidak masalah, kan?”
Marie mengangguk. Lalu Halter mengambil sekaleng jus jerus dari ember berisi es di sampingnya tanpa melihat, dan melemparkannya ke belakang.
Kaleng jus tersebut terbang melengkung, lalu Marie menangkapnya di udara, sebelum mulai membuka kaleng tersebut.
Kalengnya mengeluarakan suara soda yang menenangkan.
Marie menikmati jus yang manis dan dingin tersebut seraya menyalakan radio resonansi yang dia letakkan di meja di sampingnya.
Presenter membawakan beberapa laporan berita bersama dengan suara statis.

“–Kami sekarang akan membawakan laporan tentang ‘insiden 8 Februari’. Pada tanggal 10 Februari, kelompok kriminal–yang umumnya dikenal sebagai ‘Second Upsilon’, menyerang Istana, menyandera Putri Houko Hoshinomiya serta menduduki ‘Pilar Surga’. Saat ini, keberadaan mereka masih belum diketahui. Selain itu, telah dipastikan bahwa senjata raksasa yang digunakan untuk serangan terorisme ini menggunakan teknologi elektromagnetik. Negara-negara di seluruh penjuru dunia mulai mengambil tindakan dan membeli senjata-senjata anti elektromagnetik terbaru dari Perusahaan Vacheron…”

Marie mendengar laporan yang disampaikan oleh presenter wanita tersebut, lalu dia mendengus dengan tidak senang.
“Jadi semuanya berjalan sesuai rencana si dalang sialan itu…”
“Bukan itu saja. Sekarang masing-masing negara memiliki teknologi untuk menangkal elektromagnetisme–artinya mereka semua mulai mencurigai negara lain memiliki senjata elektromagnetik.”
Halter masih memunggungi Marie sambil berkata,
“Saat ini sih masih tidak masalah, tapi ketika keributannya mulai mereda, mungkin nanti akan ada hal lain yang menjadi pemicu baru. Jika konflik lain terjadi, orang-orang itu akan kembali mendapat uang.”
Mendengar kata-kata tersebut, Marie menghela napas dengan suram, lalu mengganti saluran radionya.
Program yang sedang mengudara di saluran tersebut adalah segmen opini.

“–Dengan kata lain, saya pikir tindakan berani Putri Houkolah yang menyebabkan serangan teroris tersebut gagal. Jika saja ‘Second Upsilon’ tidak terburu-buru menyerang ‘Pilar Surga’, Grid Akihabara tidak akan hilang kendali sehingga menyebabkan kehancuran senjata raksasa itu.”
“–Bicara tentang Putri Houko, konon katanya setelah tim serbu ‘militer’ masuk untuk menyelamatkkan beliau, beliau mengambil alih komando dan turun tangan untuk menyelesaikan situasi ini…”
“–Ya, benar. Tidak banyak orang yang tahu tetapi Putri Houko memang mendapat lisensi Gazelle ketika beliau pergi bersekolah di Eropa. Bisa dibilang bahwa karena komando Putrilah Angkatan Teknisi Kerajaan dapat menangani keadaan darurat dengan cepat, dan ‘Pilar Surga’ yang rusak masih bisa berfungsi meskipun minimal.”

Halter angkat bicara dengan nada optimistis.
“Tuan Purti itu terdengar baik-baik saja, ya?”
“Kayaknya sih. Dia itu cocok sebagai pemimpin, kalau saja bukan karena posisinya.”
Marie mengangguk, dan teringat kembali akan laporan yang dia dengar di siang hari.

–Dilaporkan bahwa ‘Pilar Surga’ yang rusak akan diinvestigasi dan diperbaiki oleh “Guild’. Selain itu, semua perbaikan di Lingkar Ibukota telah dimulai dengan lancar atas bantuan negara-negara lain.
Oleh karena itu, Houko, yang telah diselamatkan, diperlakukan sebagai seorang pahlawan yang telah menyelamatkan negaranya. Pemerintah telah sepenuhnya kehilangan dukungan masyarakat akibat insiden ini, dan orang bisa membayangkan kalau Houko memiliki pengaruh besar atas hal ini.

Marie pun merasa ceria ketika dia tahu teman baiknya akan memiliki masa depan yang cerah, lalu dia meneruskan kata-katanya,
“Dan aktingnya juga cukup bagus…saat dia diwawancara, dia menutupi diriku yang baik hati ini sebagai ‘seorang egois yang bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri, orang sombong yang tidak bisa dikompromi’.”
“.–Sebagian besarnya mungkin benar.”
Bantahan dari atas kepalanya membuat Marie langsung merasa kesal.
Marie bangkit dengan malas, lalu membalikkan tubuhnya dan berkata,
“Aku merasa kesal sekarang setelah kau bilang begitu, dan nafsu membunuhku mulai keluar–wahai tersangka utama Naoto?”
Marie menolehkan kepalanya ke arah Naoto, yang mengenakan pakaian Hawai, celana pendek dan sandal dengan malas–Naoto tampak benar-benar lesu saat dia berdiri disana.
Apa yang berada di sampingnya adalah RyuZU, yang berpakaian seperti biasanya, berdiri diam disana seakan-akan dia adalah orang luar.
Lalu–
“Ah, AnchoR! Akhirnya kamu baik-baik saja!?”
Marie melihat seorang anak, AnchoR, yang berjalan keluar dari kabin, dan langsung mengendurkan wajahnya seraya menyambut sang anak.
“Ah, mama…”
AnchoR pelan-pelan mendekati Marie sambil balas tersenyum.
Tubuhnya kehilangan anggota badan, dan bahkan strukturnya pun rusak parah. Untuk saat ini, tubuhnya dipasangi anggota badan sementara.
…Sesuai dugaanku pikir Marie.
Sederhananya, dari awal AnchoR sudah mengalami kerusakan yang parah.
Apalagi, suku cadang yang digunakan di dalam tubuhnya itu unik, masing-masing suku cadangnya berbeda dari jenis-jenis yang biasa ada di pasaran—mustahil kapal pesiar ini memiliki bahan yang bisa digunakan untuk memperbaiki AnchoR.
Oleh karena itu, AnchoR dipasangi prostetik untuk automata, suku cadang yang diperoleh ketika Marie mempreteli ‘Kura-Kura Hitam’ yang Halter gunakan dan mengambil suku cadangnya.
Tetapi, berbeda dari RyuZU, yang sudah beberapa kali Marie preteli serta cetak birunya dia ingat, hanya Naoto yang tahu struktur AnchoR.
Dia memasang ‘prostetik’ tersebut serta memperbaiki sensor-sensornya sampai ke batas minimum yang dibutuhkan agar AnchoR bisa berjalan–tetapi Naoto praktis menghabiskan setengah bulan di dalam kabin untuk melakukan pekerjaan ini.
Terlepas dari bagaimana Naoto mencoba menangani hal ini–tampaknya AnchoR masih tidak terbiasa dengan anggota badannya tersebut, gerakannya tampak kaku.
Marie melengkungkan bibirnya dan berkata,
“–Lambat sekali. Berapa lama kau mau membuatku menunggu?”
“Kau pasti bercanda…aku tidak bisa memaksa diriku melakukan tindakan darurat ini saat hal ini pun tidak bisa dianggap perbaikan.”
–Ya. Itu bukanlah perbaikan–itu hanyalah prosedur yang ‘tidak komplit’.
Jika saja Naoto masih seperti dulu, meskipun dia ingin melakukannya, mustahil dia bisa melakukan pekerjaan ini.
Di masa lalu, meskipun dia bisa memperbaikinya sampai ke ‘tahap sempurna’, mustahil dia bisa menggunakan bahan pengganti sebagai placeholder dengan mahir seperti ini.
–Sejujurnya. Pikir Marie.
Dia sama sekali tidak tahu kenapa anggota badan itu bisa bergerak setelah disambungkan.
Marie memang menyiapkan bahan pengganti yang secara teoritis sempura. Itulah hal yang berani dia simpulkan.
Tetapi, hal yang pentingnya adalah AnchoR itu sendiri, karena semua gir-gir nano pada system syaraf artifisialnya telah penyok dan meleleh akibat temperatur tinggi. Tidak ada hal apapun di dalam tubuhnya yang normal. Apalagi, AnchoR menerima luka akibat tembakan Gennai, tapi meskipun tanpa luka tembak itu, memperbaiki AnchoR adalah hal yang sangat amat sulit.
Tetapi, Naoto sendiri mencoba segala macam metode, dan memperbaiki gir-gir penyok tersebut.
Penglihatan Marie tanpa sadar menjadi suram ketika dia melihat Silinder Utama di tulang selangka AnchoR telah rusak, tapi Naoto berhasil memperbaiki bagian itu dengan tindakannya yang rumit dan indah.
Tentu saja, itu menghabiskan banyak waktu. Meskipun dengan telinga Naoto dan ketrampilan teknis yang baru dia pelajari, dia menghabiskan setengah bulan untuk melakukannya.
Tapi bicara hal yang normal, proses itu merupakan proses yang bisa saja menghabiskan bertahun-tahun–
Tidak, kalau boleh jujur, itu adalah sebuah hal yang ‘memangnya itu mungkin’…?
Apalagi, mereka sedang tidak berada di sebuah bengkel dengan perlengkapan terbaru.
Proses itu hanya dilakukan di dalam ‘area kerja’ yang ditambahkan ala kadarnya di dalam kapal pesiar yang bergoyang-goyang diterpa ombak, bukan sebuah bengkel.
Marie sendiri pun tidak yakin kalau dia bisa mencapai tingkat hasil yang sama dalam lingkungan dan waktu yang sama–untuk saat ini.
Tetapi, Marie diam-diam memutuskan–kalau cepat atau lambat, dia akan mengejarnya.

Karena itulah, Marie bangkit dari kursinya dan berlari ke arah AnchoR yang sedang berjalan pelan, lalu menuntunnya berjalan dengan lembut.
Tubuh mungilnya itu ditutupi oleh Smock Blouse[3] putih.
Marie mencubit permukaan pakaian tersebut, tetapi Naoto memperingatinya,
“Ah, tunggu! Cuma mau bilang, jangan lepaskan pakaiannya! Kulit artifisialnya–”
“Jangan samakan aku denganmu, dasar mesum–yuk kesini, AnchoR. Angin disini rasanya sangat enak. Duduk sini sama mama, oke?”
“Hm, oke…”
AnchoR tersenyum dan mengangguk, lalu Marie menuntun AnchoR ke arah kursi di dek.
…Sejak setengah bulan yang lalu.
Tingkah Marie terhadap AnchoR menjadi begitu memanjakan anchor, marie tampak sangat menyayanginya.
Tapi sebaliknya–
“Hei–tunggu, hei! Kenapa kau menculik anakku!?’
“Eh?”
Tiba-tiba Naoto memprotes dengan keras, lalu Marie memandangnya rendah dan berkata,

“Bagaimana mungkin kuserahkan AnchoR pada orang mesum sepertimu? Aku akan mengajari anak ini cara menjadi seorang nona yang luar biasa.”
“Atas dasar apa kau bisa memanggil dirimu sendiri seorang nona! Menyerahkan AnchoR padamu hanya akan menciptakan seorang gadis pemarah yang baru. Kau pasti bercanda!!”
“Menyerahkannya padamu dan RyuZU akan mengubah AnchoR menjadi orang mesum baru. Pikirkan baik-baik dan pilihlah mana yang lebih kau sukai.”
“Setelah dipikir-pikir, satu lagi orang sepertimu akan menimbulkan petaka bagi dunia! Uwaahhh!! Tapi aku tidak mau masa depan dimana AnchoR berubah menjadi seperti itu!”
Naoto memegangi kepalanya dengan menderita seraya berkata begitu.
Marie mengabaikan Naoto lalu duduk di kursi sambil memangku AnchoR.
Menyadari hal itu, Naoto menoleh ke arah RyuZU di sampingnya dan mengeluh,
“Ryu—-ZU!! Marie baru saja mencuri hakku sebagai orang tua AnchoR! Hukum macam apa ini!? Kenapa dia yang mendapat hak asuh!!”
RyuZU memandang dingin kepada Naoto seraya menjawab,
“Maafkan atas kejujuran hamba, Master Naoto, tapi meskipun alam semesta ini terjungkir balik, mustahil Master Marie bisa menjadi istri anda.”
“Woaaahhh!! Kau benar–! Pengantinku itu RyuZU! Eh, ah! Kalau begitu ini tidak masuk akal! Atas dasar apa dia mengambil hak asuh AnchoR!”
“Izinkan hamba mengulangi perkataan hamba, master Naoto. Apakah anda tidak puas atas kinerja hamba?”
“—-Tidak, tunggu, tunggu sebentar, RyuZU. Kenapa kau kelihatannya berada di pihak Marie?’
Naoto berseru, sementara RyuZU tampak merenung untuk beberapa saat, sebelum menggelengkan kepalanya dan berkata,
“–Itu tidak benar sama sekali. Tetapi, daripada beradu dengan adik hamba demi Tuan tercinta hamba, hamba lebih memilih–hamba sudah memikirkan hal ini sebelumnya, jadi karena masalah ini bisa diselesaikan tanpa menimbulkan keributan, barangkali skenario ini akan berkerja.
“Eh, itu hal yang benar-benar berbeda!? Kenapa kita malah membicarakan masalah yang berbeda!? A-AnchoR! Siapa yang kamu pikir lebih baik, aku atau si gadis pemarah itu!?”
Sementara Naoto melempar pertanyaan ini karena keraguannya, Marie kembali bertanya,
“Aku kan? Iya kan, AnchoR?”
“—-fueeh…”
AnchoR, terjepit diantara Naoto dan Marie, memasang wajah gelisah.
Kemudian Halter, yang tidak mampu menyaksikan pertengkaran ini lagi, menyela,
“Hei, sudah cukup…kalian berdua ini contoh orang tua terburuk, menanyai anaknya apakah dia lebih menyukai papa atau mamanya.”
““Siapa yang papa dan mama sih!?””
Keduanya berteriak bersamaan.
AnchoR masih memasang wajah dilemma saat dia angkat bicara dengan ragu-ragu,
“…Saya sayang, papa…”
“Oh yesssh–!”
“Wha–”
Naoto memasang pose kemenangan, sementara Marie tampak tercengang.
Tetapi–
AnchoR melanjutkan kata-katanya dengan senyum ceria,
“…Tapi saya juga sayang mama, yang selalu bersama papa…”
““–“”
“Papa yang hebat, dan mama yang tersenyum bersama papa yang hebat…AnchoR sayang mama yang itu.”
……
Setelah kesunyian yang panjang, Naoto mengangkat wajahnya dengan gigih dan berujar,
“–Baiklah, ayo kita putuskan siapa yang lebih cocok dengan AnchoR.”
“…Heh?”
“Siapa yang bisa sepenuhnya memperbaiki AnchoR dan RyuZU akan mendapat hak asuh. Ada masalah!?”
Mendengar hal itu, Marie menyeringai dengan santai,
“Apa kau lupa, nak Naoto? Suku cadang yang digunakan AnchoR–tidak, begitu pula dengan RyuZU. Suku cadang keduanya melebihi spesifikasi normal! Apa kau bisa mendapat bahan suku cadang yang setara tanpa pengaruh dan koneksiku!?”
“Ha! –Akan kupikirkan cara untuk mendapatkannya. Jadi, beritahu aku apa yang perlu kulakukan!”
Fufu Marie mendengus dengan gembira.
“Kau perlu cabang suku cadang nano yang setingkat dengan Pusat Riset Teknis Internasional. Perusahaan Breguet memilikinya, dan di rumahku, aku punya suku cadang RyuZU–semua suku cadangnya telah dibuat dari suku cadang nano…dengan kata-kataku saja…aku akan–ah!”
Wajah percaya diri Marie membeku dalam sekejap.
“Sial–aku tidak punya suku cadang AnchoR! Ugh…kalau begitu, aku hanya bisa menyerang ‘pabrik’ rumah lamaku…!”
Marie menggigit kukunya dan meraung, dan kali ini, Naoto yang tertawa terkekeh-kekeh seraya mengejek Marie,
“Sekarang peluangnya menjadi setara! Tujuan selanjutnya sudah diputuskan! Kita akan menyerang rumah Marie–tidak, runggu. Kenapa kita harus melakukannya?”
Naoto memiringkan wajahnya karena bingung, lalu Marie bicara dengan takjub,
“Kau pikir aku bisa pulang ke rumah lamaku dan bilang, ‘maaf, sekarang aku ini buronan internasional, tolong izinkan aku menggunakan sumber daya keluargaku❤’, dan keluargaku akan bilang ‘tentu saja’? kau pikir ayahku itu idiot!? Itu akan menjadi pukulan besar bagi keluarga Breguet jika ayahku dicurigai terlibat dengan sebuah kelompok teroris internasional. Aku bisa membayangkan ayahku akan menembakiku saat dia melihatku, lho!? Karena itu kita akan mulai menyerang mereka! Dan selagi sempat, kita akan mulai menyerang Perusahaan lainnya tanpa alasan yang jelas agar serangan ini tampak tidak memihak…ahh, karena ini kesempatan langka, kita serang Vacheron–cuma untuk mengobrak-abrik mereka.”
Naoto mengangguk setuju. Dia mengepalkan tangannya dan memberi jempol.
“Baiklah, sudah diputuskan. Kita akan melakukannya! AnchoR, saksikan papa menjadi pahlawan di luar sana.”
“Tolong tunggu dan saksikan mama menunjukkan martabatnya pada orang kampong tidak berguna ini, AnchoR♪”
“…? …Oke!”
AnchoR tidak mengerti sama sekali tentang apa yang sedang terjadi–
Tapi tampaknya kedua orang itu sedang merasa senang, jadi dia mengangguk dan tersenyum.
Halter menepuk dahinya dan memberitahu keduanya,
“Yang lebih penting, kalian berdua…kalau kita ingin menggunakan kapal rusak ini sampai Prancis, setidaknya cari tahu dimana kita sekarang berada…? Kalau mungkin, lihatlah ke belakang.”
Mendengar hal itu, Marie menghela napas dengan kesal.
Dia terus memeluk AnchoR sambil mengelus rambutnya, dan bertanya pada Halter,
“Apa…? Lagi? Mereka ini menyebalkan…darimana para pengejar kali ini berasal?”
Setengah bulan berlalu, dan ini adalah ketiga kalinya mereka diserang.
Mereka mampu mengusir para pengejar, tapi kalau terus begini, situasinya akan menjadi menyebalkan.
Sementara Marie bertanya dengan enteng, Halter memberikan jawaban yang tepat,
“Entahlah…saat ini, kita ada di Teluk Bengal. Myanmar, Malaysia, Bangladesh–dimana tepatnya?”
Terserah kau, kata-kata Halter sederhananya memberikan kesal itu, lalu Marie menoleh ke belakang.
Dia melihat sebuah kapal patroli berkecepatan tinggi di ujung sana, serta automata kapal mini yang sedang melaju tepat ke arah kapal ini. Tampaknya kecepatan mereka lebih tinggi, dan sebentar lagi Marie dkk akan terkejar.
“–Itu polisi pesisir Thailand, lho. Aku pernah dikejar sebelumnya, jadi aku tahu itu.”
Kepala Vermouth menyembul dari serambi dek seraya menjawab.
“Ya ampun…saat ini kita berada di Samudera India, dan penjaga pesisir Thailand sudah dimobilisasi…ini mulai merepotkan.”
Halter mengusap kepalanya dan mengerang, tapi Naoto tampak tidak keberatan seraya bertanya,
“Apa itu mengacu pada kita? Atau masalah politik?”
“Politik–”
Naoto langsung menarik kesimpulan, dan mengaktifkan Thermobaric Buster yang awalnya terpasang di ‘Kura-Kura Hitam’–senjata itu sekarang terpasang di buritan. Tetapi–
“Hei, Marie, aku memikirkan hal yang bagus. Ayo kita curi kapal itu.”
Tiba-tiba saja Naoto mengusulkan hal tersebut sambil tersenyum lebar, Halter pun mengusap kepala botaknya dan bertanya,
“–Kau berniat melintasi Samudera Hindia dengan kapal militer? Itu terlalu mencolok. Itu seperti mengibarkan bendera pada semua orang dan bilang kalau kita berada disini.”
“Itu tidak ada bedanya dengan perbuatan kita yang sudah ketahuan biarpun kita tidak mengibarkan bendera. Selain itu, kita tidak melintasi Samudera Hindia. Kita akan berlabuh.”
Naoto berkata begitu, lalu Marie mempertimbangkannya sementara Halter merengut karena terkejut.
Hanya Vermouth yang tersenyam-senyum.
“Ide yang bagus tuh. Thailand itu negara yang bagus lho–? Lembut, wanita cantik, dan ada juga jenis kelamin ketiga, lho. Kupikir mereka akan benar-benar ramah terhadap ‘Naoko’, ya kan?”
Vermouth melanjutkan kata-katanya dengan candaan kotor dengan ceria, sementara Marie menghela napasnya dan berkata,
“…Tapi itu ide yang bagus. Memang mengecewakan, tapi ide yang benar-benar bagus, Naoto.”
“Oh? Kau kenapa, Milady? Merasa bersemangat?”
“Aku menyarankan kalau kita pergi ke Prancis melalui jalan darat dari Thailand. Jangan samakan aku dengan orang mesum sepertimu.”
“…Perjalanan darat dari Thailand? Alasannya apa?”
Naoto memiringkan kepalanya sambil bertanya pada Marie yang sedang memasang wajah buas, kemudian, Marie mengangguk,
“Grid Krungthepmahanakhon Amonrattanakosin Mahintharayutthaya Mahadilokphop Noppharatratchathaniburirom Udomratchaniwetmahasathan Amonphimanawatansathit Sakkathattiyawitsanukamprasit.”
Marie mengatakannya dalam satu napas sekaligus.
Naoto mengerutkan dahinya seraya menatap Marie dan bertanya,
“…Maaf, tapi mantra macam apa tadi itu?”
“Itulah nama resmi dari Ibukota Thailand, Grid Bangkok.”
Marie langsung menjawab pertanyaan Naoto, dan meneruskan kata-katanya,
“Bangkok–sebuah Multi Grid di Thailand. Dulu pernah ada masalah kegagalan fungsi disini, dan ‘Guild’ ikut campur dalam masalah itu. Saat itu, mereka punya kesepakatan diantara 5 Grid, keempat negara tetangganya yaitu Malaysia, Myanmar, Vietnam dan Bangladesh…sederhananya, ada banyak lubang di perbatasan mereka dan banyak jalur masuk illegal. Kita bisa mendapatkan suku cadang untuk AnchoR dan RyuZU, lalu kita bisa pergi ke utara menuju India.”
“–Politik memang luar biasa ya…”
“Pokoknya, itu berarti–”
Kali ini, Marie menunjukkan senyuman lebar yang sangat amat buas seraya memberitahu naoto,
“Kita akan menenggelamkan semua automata kapalnya, membuat kru di kapal patroli itu pingsan, lalu ambil alih kapalnya, dan masuk ke pelabuhan militer Thailand tanpa banyak masalah.”
–Dia mungkin sudah diracuni oleh Naoto. Pikir Halter.
Tentu saja, Halter tidak mengatakan itu keras-keras, karena dia tidak tahu reaksi apa yang akan dia dapatkan jika dia mengatakannya keras-keras.
“Haha! Saat ini, aku cuma ingin memastikan. Apa kalian akan menjadi bajak laut dan merebut kapal patroli itu? Apa kalian tahu seberapa banyak meriam dan senjata yang benda itu miliki?”
Vermouth berseru, lalu Naoto balas berteriak dengan kesal,
“6 senapan mesin 15 cm, 18 silo rudal, 121 orang di atas kapal, 28 automata terbang–harusnya mudah, kan?”
“Brilian! Ini benar-benar gila! Ayo kita putar balik kapal ini–lalu serang!”
Vermouth tersenyum lebar seraya memutar balik kapalnya.
RyuZU tampak tidak peduli sedikitpun dengan keributan ini, tetapi dia tampak menyadari sesuatu dan akhirnya angkat bicara,
“Ngomong-ngomong, Master Marie–ada sesuatu yang ingin saya katakana pada anda.”
“–Aku punya firasat buruk tentang hal ini, tapi ada apa?”
Baik, RyuZU mengangguk dan berkata,
“Tidak peduli bagaimanapun cara anda meributkan hal ini, Tuannya AnchoR tetaplah Master Naoto. Dia tidak bisa bergerak terlalu jauh dari Master Naoto, jadi tolong perhatikan itu.”
Peringatan RyuZU membuat mata Marie terbelalak dan napasnya menjadi tidak beraturan.
Dia merasa pusing, rasa kecewanya hampir membuat kesadarannya menghilang.
Jadi, apa maksudnya itu? Jika dia ingin terus bersama AnchoR–
“–A-aku harus tetap bersama dengan orang mesum ini atas keinginanku sendiri!?”
Marie berseru terkejut,
Halter menyaksikan mereka mengoceh tanpa henti, dia mulai merasa kesal dan berujar,
“…Apa kalian sudah lupa kalau kita ini buronan internasional yang dicari oleh seluruh dunia? Suka atau tidak, kita perlu bergerak bersama.”
““Bagaimana hal bodoh seperti itu bisa terjadi!?””
“…Kalianlah yang bodoh, dasar…”
Naoto dan Marie berseru secara serempak, membuat Halter menghela napas dalam-dalam.
Di titik ini, setelah mereka harus bertarung sendiri melawan kekuatan raksasa, dia mulai semakin merasa kalau dialah yang bodoh karena hanya dia yang memikirkan hal ini dengan serius.
Lalu, Halter tiba-tiba berbalik ke arah Vermouth, yang sedang mengemudikan kapal, dan berkata,
“–Oh, iya, nak. Sampai mana kau mau mengikuti kami?”
“Memangnya kenapa, mas? Bukannya kita punya nasib yang sama, kita cuma punya kepala saja? Kau tidak perlu mencurigaiku seperti ini, kan?”
Vermouth terkekeh.
“Eh, cukup carikan aku tempat menginap dan tinggalkan aku di sana, aku juga berniat untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi sebelum itu, tolong bantu aku kembali ke tubuh normalku. Meninggalkanku di tubuh seperti ini dan pergi begitu saja itu kejam, kan?”
Vermouth mengacu pada tubuhnya yang seksi dan berambut pirang ini, lalu Halter mengangguk,
Memang benar, pikir Halter Kalau aku ada di situasi yang sama, aku ingin secepatnya keluar dari sini.
“Dan biarpun kita berpisah, aku akan datang membantu jika ada hal yang menarik. Bocah-bocah ini memikirkan beberapa hal yang benar-benar menarik–”
Kayaknya sih begitu. Halter mengangkat bahunya, lalu menendang kotak logam di sampingnya untuk membukanya.
Kotak itu terbuka dengan suara nyaring, di dalamnya ada banyak harta karun–bukan, di dalamnya ada berbagai macam senjata mulai dari senapan rifle sampai meriam antitank.
Halter mengambil sebuah Gear Launcher yang besar, lalu membawanya di bahu.

Tiba-tiba saja Naoto tampak memikirkan sesuatu saat dia berkata,
“Hei, Marie, mungkin kita harus memberikan peringatan di saat seperti ini, kan?”
“Benar juga. Beri aku waktu…bahasa Thaiku tidak terlalu bagus…”
“Oh? Jadi ada subyek yang bahkan tidak dikuasai oleh sang gadis super jenius? Aku tercengang. Kalau begitu, serahkan padaku.”
Vermouth menggoda Marie, sementara Marie mengerutkan dahinya,
“Kau tahu bahasa Thai?’
“Sudah kubilang kalau Thailand adalah ‘negara yang bagus’, kan? Aku dulunya seorang Agen, lho. Jangan meremehkanku, Non.”
“…Aku merasa kalau kalah darimu adalah hal paling menyebalkan nomor dua bagiku di dunia ini. Saat kita sampai di Thailand, aku akan menguasai bahasa ini sendiri.”
“Silakan saja–jadi? Apa yang harus kukatakan?”
“…Sebentar. Menyerahlah dan serahkan kapal patroli itu. Kalian akan disidang di mahkamah militer jika sebuah kapal pesiar berhasil mencuri kapal, tapi tenang saja. Bilang saja kalau ‘Second Upsilon’ melakukannya untuk mencari simpati, oke?”
“Oke, jangan jadi bernafsu karena keahlianku dalam bahasa asing, oke?”
Vermouth tertawa, lalu menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, dia berseru ke pengeras suara yang ada di kapal tersebut.

เห..เห้ย..เรือลาดตระเวนลำที่อยู่ข้างลางนั่นมันน่าหงุดหงิดที่พวกซิงขับเธออยู่เนอะฉันจะทำให้เธอครางด้วยลีลาส่ายสะโพกของฉันจนเธอต้องร้องขออีก!ถ้าไม่อยากให้พวกนั้นขี่เธอก็ทำให้ห้องควบคุมเปียกซะก่อนซิไอพวกซิงทั้งหลายที่กำลังสั่นอยู่บนนั้น รีบๆกระโดดลงทะเลได้แล้ว[4]!”

–Setelahnya, badai peluru menghujani kapal pesiar Naoto dkk, menandakan kesia-siaan kata-kata tadi.
Marie terjerembab akibat ledakan dan pilar air di dekatnya, lalu dia bertanya dengan tidak percaya,
“…Apa yang kau katakan?”
“Aku mengatakan apa yang tadi kau suruh.”
Vermouth menjawab dengan enteng.
Halter menghela napasnya dengan lesu, lalu dia mengangguk,
“…Ya. Kelihatannya mereka merasakan kejujuran anak ini. Mustahil mereka bisa merasakan sesuatu yang sedari awal memang tidak ada.”
“Hahahaa! Menerjemahkan itu benar-benar sulit, mas!”
Vermouth berseru, dia tampak tidak berniat merenungkan akibat perbuatannya saat berkata begitu.
Peluru-peluru itu meluncur di udara, lalu mencabik samudera. Ledakannya mengguncang atmosfir, dan gelombang kuatnya menabrak kapal pesiar Naoto dkk.
Dalam keadaan darurat ini, Marie berseru dengan senang,
“Konfirmasi terakhir! Vermouth bertugas di bagian kemudi! Dekati mereka dan hindari pelurunya dengan kecepatan maksimum! Halter bertugas di bagian serangan! Tenggelamkan automata kapal itu menggunakan Gear Launcher dan senapan mesin!”
Naoto pun angkat bicara,
“RyuZU, setelah kita cukup dekat sampai kau bisa melompat kesana, robohkan mereka semua. AnchoR, saksikan papa membajak kemudi kapal patroli itu!”
“Dimengerti.”
“…Papa, mama, berjuanglah…!”
RyuZU membungkuk dengan anggun, sementara AnchoR tersenyum sambil menyemangati mereka.

…Saat dia menyaksikan obrolan itu.
Halter bertanya-tanya.
Apakah Naoto dan Marie sebenarnya telah menyadari hal itu.
Kenyataan tak terbantahkan–kalau kedua orang itu telah ‘setara dengan Dewa’ di planet ini.
Tidak peduli apakah mereka berdua benar-benar manusia, tidak peduli bagaimana cara mereka mendifinisikan diri mereka sendiri.
Tidak peduli bagaimanapun anggapan mereka terhadap diri mereka sendiri, bagaimana orang biasa yang tahu kekuatan mereka memandang mereka–
Publik menyebut mereka Second Upsilon–Kedatangan Kedua ‘Y’, itulah makna di balik julukan tersebut.
Tentu saja dunia tidak akan duduk diam dan hanya menyaksikan saja.
Dunia tidak mungkin akan mengabaikan para ‘Dewa’ yang telah muncul di kenyataan ini–Dewa yang memiliki kekuatan yang luar biasa seperti ini.
Naoto dan Marie telah tumbuh.
Praktis, mereka telah melompat ke dalam tingkatan Dewa dalam sekali lompatan, dan mereka berdua telah melampaui tingkatan itu.
Itulah yang Halter rasakan di Kyoto, mimpi yang dia miliki saat dia masih muda yang menjadi kenyataan.
Tapi di sisi lain, kegelisahan yang dia miliki sejak saat itu tampaknya semakin meningkat hari demi hari–
Sampai-sampai orang sepertinya memiliki perasaan seperti itu, itu menandakan bahwa–
“Aku semakin tua, ya?”
Halter tanpa sadar mengeluarkan kata-kata familiar itu, lalu dia menghela napasnya,
Kemudian, dia bicara kepada automata berpakaian hitam yang tidak jauh darinya, automata yang sedang mengikuti instruksi Naoto dan siap untuk mengakhiri segalanya dengan ‘Mute Scream’ kapanpun, Halter berkata,
“Hei, Nona. RyuZU.”
“Berani sekal–Saya rasa saya sudah mengatakan ini sebelumnya, tapi ada apa?”
“Apa kau pikir ini ‘gir takdir’ yang sedang bekerja?”
Halter bertanya begitu.
RyuZU menjawabnya dengan senyuman anggun,
“Saya tidak punya fungsi yang mampu mengamati hal seperti itu, tetapi–”
RyuZU pelan-pelan mengangkat tataannya.
Melihat ke arah apa yang dia lihat–adalah ‘Equatorial Spring’ yang terus berputar di langit jauh sana.
RyuZU bertanya,
“Menurutmu ke arah mana pegas itu bergerak?”
“…Ke kanan.”
“Benarkah? Tapi jika kau bergerak ke selatan dari sini, melewati ekuator, lalu menatap pegas itu lagi, jawabanmu akan menjadi ‘kiri’.”
…Kapalnya terus bergoyang.
Peluru terus menghujani mereka, dan tiap peluru bisa saja membuat kapal menjadi pecah berkeping-keping. Tetapi dalam situasi seperti itu, RyuZU terus mendongak ke langit dan kembali berkata,
“Kebenaran adalah hal subyektif berdasarkan seberapa banyak pengamat yang ada–tapi faktanya hanya ada satu. Pegas itu saat ini sedang berputar, dan itulah poin utamanya, kan?”
…Sang automata mendiskusikan masalah filosofi melalui efek pengamat[5].
Halter mau tidak mau meragukan hal itu.
Tapi di saat yang sama, itu meyakinkan karena dia yang mengatakannya–Halter pun bertanya-tanya.
Sang automata yang bisa bergerak di dalam waktu imajiner, dan memiliki output negatif.
Faktanya adalah waktu itu hanyalah masalah kebenaran belaka.
Tidak peduli seberapa menyimpang, atau bagaimana caranya berputar terbalik…Halter tidak bisa menyangkal kalau itu memang berputar…dan itulah yang namanya takdir.
Di ujung penglihatannya, dua orang yang memiliki kemampuan untuk mengubah dunia sedang berdiskusi meskipun mereka sedang dihujani peluru.
“Hei Halter! Kau perlu melakukan sesuatu! Tubuh itu memang jelek, tapi setidaknya gunakan senapan mesinnya!”
“Kita kehabisan peluru Thermobaric Buster, paman! Cepatlah!”
“–Begitulah, Tuan Rongsokan. Anda harus segera bekerja, kan?”

…Ya ampun.
Halter tersenyum kecut.
“…Yah, karena Dewa takdir yang menuntun kita, aku akan meneruskannya sampai titik akhir.”
Sambil berkata begitu, Halter mengarahkan Gear Launcher yang dia bawa di bahunya.

Halter membayangkan hari di masa lalu dimana dunia berakhir–dan ketika dunia diciptakan kembali.
Dia menghadapi kebenaran kalau hari itu akan datang kembali.
Dia menertawakan kenyataan bahwa tidak peduli sebera tua dirinya ini, pada akhirnya dia adalah seorang bocah yang tidak berbeda dari anak-anak di depannya itu
Halter mengelus kepala botaknya, dan pelan-pelan menekan pelatuknya.




–Tik tok, tik tok.

Gir itu terus berputar.

Teratur, mekanis, tak terelakkan.

Dan seterusnya, mereka terus menghitung waktu sejak mereka ada.

Walaupun jam berhenti, itu tidak berarti apa-apa.

Walaupun rusak atau bengkok, roda waktu akan terus berputar.

Teratur, mekanis, tak terelakkan.

–Menunjuk ke arah malfungsi, waktu yang menyimpang.

Tik tok, tik tok–

–Roda waktu itu hanya terus berputar maju ke arah yang harus dia tuju.
Mengenai siapa yang dituju, maupun ke arah mana harusnya roda waktu itu bergerak, bahkan Dewa sekalipun tidak mengetahuinya–
                             


[1] Jangkar, sauh.
[2] Efek yang terjadi ketika sebuah pesawat mencapai kecepatan yang mendekati kecepatan suara.
[3] https://www.google.com/search?q=smock+blouse&ie=utf-8&oe=utf-8
[4] “H-Hei Kapal yang ada disana! Rasanya menyebalkan ditunggangi oleh para perjaka itu, kan? Aku akan membuatmu melenguh dengan goyangan pinggulku sampai kau memohon tambah! Kalau kau tidak mau para perjaka itu menunggangimu, buatlah ruang kendalimu basah dulu! Untuk semua perjaka yang ada di atas kapal, cepatlah meloncat ke dalam air!
[5] Efek pengamat mengacu pada perubahan yang dilakukan oleh pengamatan terhadap fenomena yang sedang diamati.

Clockwork Planet Jilid 3 Epilog LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.