04 Maret 2017

Only Sense Online Jilid 4 Bab 3 LN Bahasa Indonesia


TREANT DAN MONSTER ALKEMIS
(Translater : Hikari)

"Fuuh, apa yang sebaiknya kulakukan untuk menghabiskan hari ini?"
Aku membuka jendela, membiarkan angin segar masuk ke dalam ruangan dan keluar ke taman dengan memakai sandal.
"Onii-chan, sekarang hari libur tapi kau tidak log in ke OSO?"
"Itu karena berisik di mana-mana. Bahkan saat aku log ini, aku mencoba untuk menghindari tempat-tempat yang banyak orangnya."
Aku menjawab Miu yang sedang duduk di sofa dan bermain game mobile, kemudian membawa cucian baju ke luar untuk mengeringkannya di bawah langit kosong musim gugur.
Di hari libur, ada kegiatan bersih-bersih, mencuci baju, dan menyiapkan makanan. Hal tertentu untuk dikerjakan.
"Yah, meskipun aku log in, aku membaca bu…ngomong-ngomong, aku sudah selesai membaca semuanya. Aku harus pergi ke perpustakaan. Tetap saja, untuk meminjamnya aku harus melewati tempat yang banyak orangnya.
Saat aku bergumam demikian, Miu yang duduk di atas sofa menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Mengunci dirimu sendiri di dalam kamar itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu!"
"Tidak, bahkan saat kita bermain, kita tidur di kamar kita, 'kan? Dengan VR Gear yang terpasang. Itu tidak ada bedanya."
"Kau salah! Itu menyegarkan hanya dengan berjalan menlintasi padang rumput dan hutan yang luas!  Untuk apa kau mengurung diri di tempat yang lebih suram daripada kamarmu sendiri?! Onii-chan, pergi keluarlah sedikit!"
"Kau benar. Kita hampir kehabisan miso. Aku akan pergi membelinya."
"Berbicara soal belanja lagi! Manfaatkan waktu untuk dirimu sendiri!"
Aku merasa senang dengan Miu yang mengkhawatirkanku, tapi meski begitu, tidak ada hal yang bisa kulakukan.
"Ya ampun. Kalau begitu, aku mampir di toko buku saat berbelanja siang nanti."
Aku akan mempertimbangkannya. Aku berbalik ke arah Miu dan melihatnya menelengkan kepalanya dan kemudian menurunkan arah pandangannya ke game mobile-nya.
"Aku akan pergi keluar setelah makan siang. Apa ada yang kau inginkan?"
"Pound cake atau kue kalau begitu!"
"Baiklah."
Setelah aku selesai menggantungkan cucianku, aku membawa keranjang cucian yang kosong ke dalam rumah.
Aku mengambil celemek yang tergantung di dapur dan dengan gerakan yang terbiasa aku mengenakannya, kemudian aku menanyakan permintaan makan siang Miu.
"Kau mau apa untuk makan siang?"
"Gratin! Aku ingin makan banyak keju!"
"Ya, ya. Kalau begitu gratin dengan daging cincang dan saus tomat, oke?"
Aku mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas dan memulai persiapannya. Aku mencampurkan daging cincang dengan bawang bombai dan mengupas tomat-tomatnya, lalu menggabungkannya dengan makaroni, menempatkannya dalam panci kecil, menutupinya dengan tomat dan white sauce (TL : white sauce di sini istilah dalam masakan Eropa, jadi kurang afdol klo diterjemahin :3 ) dan juga keju lalu menggorengnya.
Gratin adalah hidangan la carte yang sangat sederhana, tapi makanan cepat saji semacam itu tidaklah memuaskan. Apa lagi yang sebaiknya kubuat? Aku memikirkannya saat Miu memanggil karena dia teringat sesuatu.
"Oh iya. Hari ini, Ayah dan Ibu akan pulang ke rumah lebih awal, jadi tidak perlu membuat makan malam."
"Kalau begitu, aku bisa membuat sesuatu yang sederhana. Bagaimana dengan nabe?"
Kalau seperti itu, tidak lagi perlu memikirkan ragam hidangan dan jumlahnya. Tidak perlu memikirkan pekerjaan rumah lagi, aku akhirnya bisa mendapatkan saat-saat senggang.
Aku membariskan hidangan yang disiapkan untuk makan siang dan memakannya bersama Miu.
Setelah selesai bersih-bersih seusai makan siang, aku cepat-cepat merapikan diriku dan memegang game pinjaman, aku meninggalkan rumah.
"Kalau buku dan bahan makanan, kurasa akan lebih baik untuk pergi pusat perbelanjaan di depan stasiun."
Aku pergi menggunakan alat transportasi publik. Saat aku melihat sekitar pusat perbelanjaan untuk menemukan sesuatu sebagai tambahan bahan pangan dan buku, satu sosok yang akrab memasuki penglihatanku.
Orang lain itu menyadariku dan mengangguk.
"Halo, Shun-kun."
"Halo, apa kau berbelanja juga, Endo-san?"
"Aku ingin membeli beberapa kue setelah membeli buku."
"Aku ditendang keluar dari rumah karena sepertinya tidak sehat bagiku untuk berada di dalam rumah selama liburan."
Menanggapi perkataanku, Endo-san berkata, "Itu sama di mana saja, ya", dan tertawa pelan. Aku juga menyunggingkan senyuman miris. Dan kemudian pandangannya terarah ke mana-mana seakan dia sedang mencari sesuatu.
"Ada apa? Apa kau sedang mencari sesuatu?"
"Eh? Tidak, aku hanya penasaran apakah Takumi-kun bersamamu, karena kalian selalu bersama."
"Saat ini dia mungkin sedang memainkan game di rumahnya, kurasa? Dia selalu terobsesi dengan game. Dia mungkin berada dalam party dengan seseorang karena dia memiliki banyak teman."
Menanggapi perkataanku, Endo-san berkata, "Kau tega, ya" dan tertawa kecil.
"Aku mengerti, jadi dia tidak ada di sini. Kalau begitu, kau sendirian saja?"
"Yup, aku dimintai kue yang enak oleh adikku."
"Kalian benar-benar akrab, ya."
"Yah, kurasa itu tidak buruk, ya 'kan? Juga, kalau kalau punya sesuatu seperti pound cake untuk direkomendasikan, aku akan menerimanya dengan senang hati."
"Kalau begitu, ada sebuah toko di mana aku selalu membelinya. Kujamin rasanya."
Aku diajak Endo-san ke sebuah toko khusus yang di mana barang dagangannya berbaris dan dikemas dalam ukuran kecil.
"Pound cake di sini rasanya enak. Aku sangat suka jenis pound cake dengan campuan buah yang dikeringkan dan brendi dengan aroma dan kelembapan yang kuat."
"Aku mengerti. Aku penasaran dengan apa yang sebaiknya kubeli. Memikirkan selera Miu…"
Hmm, semuanya terlihat enak. Aku memikirkannya baik-baik.
Aku mengambil dua potong dengan brendi dan buah kering yang direkomendasikan Endo-san. Selain itu, sebuah pound cake sederhana dengan lemon dan beberapa dengan rasa teh hitam lalu kemudian menaruhnya dalam kantung kertas.
"Setelah memakan sebanyak ini, aku akan mengingat rasanya. Akan sangat membantu kalau aku bisa membuat ulang rasanya. Yup."
"Aku tahu kau selalu membuat bekal makan siangmu, tapi kau juga bisa membuat kue ya, Shun-kun."
"Yah, saat Miu merasa ingin memakannya, aku mencoba membuat apa yang bisa kubuat dengan bahan-bahan yang kupunya."
Akan tetapi, akhir-akhir ini setelah mengumpulkan banyak sekali bahan-bahan, aku merasa aku dengan mantap meningkatkan level Cooking-ku.
"Begitukah? Tapi bahan-bahan untuk membuat ulang begitu banyak jenis kue seorang diri akan sangat mahal, ya 'kan?"
"Itu tidak masalah. Aku bebas untuk berlatih di VR. Juga, aku bisa mempelajari beberapa resep…menemukan beberapa di internet. Hei, apa ada yang aneh? Kau menatapi wajahku."
"Ti-tidak. Kedengarannya menyenangkan menurutku saat mendengarnya. Aku ingin mencoba pound cake yang kau buat nantinya."
"Itu tidak akan seenak yang dijual, tapi aku akan membaginya denganmu."
Aku berjanji pada Endo-san yang berharap tanpa pikir panjang, tapi seharusnya tidak ada masalah. Aku akan mempraktekkannya sedikit di dalam OSO dan setelah mengingat prosedurnya dan rasanya, aku akan memberinya beberapa. Sudah cukup pembicaraan soal itu untuk saat ini.
"Nah kalau begitu, sampai bertemu lagi di sekolah. Selamat tinggal."
"Selamat tinggal, Endo-san."
Dengan seulas senyum lembut, Endo-san menundukkan kepalanya.
Aku melihatnya pergi setelah dia berbalik memunggungiku dan menghela nafas.
"Sopan dan bertanggung jawab, dia benar-benar seorang anggota komite kelas. Akan bagus kalau dia memuji kue yang kubuat."
Tapi, dia mencari-cari Takumi. Apakah itu berarti dia benar-benar menaruh perhatian khusus pada Takumi?
Tidak mungkin, apakah musim semi akan mendatangi Takumi? Aku membayangkannya dan kembali ke rumah  sambil nyengir.
Pada saat yang sempurna untuk cemilan, aku membandingkan pound cake yang kubeli bersama Miu.
"Onii-chan, kau kelihatan sangat senang. Apa telah terjadi sesuatu yang bagus?"
"Bukan apa-apa. Daripada itu, pound cake ini direkomendasikan padaku oleh orang lain, tapi rasanya sangat enak."
Aku benar-benar dalam suasana hati yang baik saat mencicipi kue yang direkomendasikan padaku oleh Endo-san.
Miu menelengkan kepalanya dengan penasaran sambil menyantap rakus kuenya.
Aku membaca buku yang kubeli, menghabiskan sedikit waktu untuk memeriksa resep kue dan log in ke OSO tidak lama sebelum pergi tidur.
Aku meninggalkan pekerjaan penjualan sehari-hari dan manajemen persediaan Atelier pada Kyouko-san. Setelah meninggalkan instruksi tentang apa yang harus dilakukan esok hari, aku log out.
Pada instruksi yang kuberikan padanya, aku menambahkan untuk membeli bahan-bahan membuat kue.
·
Siang tiga hari kemudian setelah aku meninggalkan armorku pada Cloude, equipmentnya tiba setelah diminta untuk diperkuat. Kelihatannya itu dibawa oleh Kyouko-san si NPC saat dia membawa barang-barang yang dititipkan untuk dijual.

CS No. 6 Ochre Creator Outwear
DEF+29 Additional Effect : DEX Bonus, Auto Repair, Recognition Inhibition

Efek tambahannya diberikan pada pakaian luar dan semua equipment yang diberikan telah ditingkatkan dengan material level yang lebih tinggi.
Selama beberapa hari tanpa Ochre Creator, ketika aktivitas crafting, aku mengalami kemungkinan kegagalan sebesar 10% sampai 20% dan mengamati penurunan kualitas barang yang dibuat, yang membuatku sadar betapa besarnya pengaruh DEX Bonus.
"Tetap saja, meskipun aku mengurung diriku sendiri dalam ruangan bengkel yang kecil ini, itu tidak mengubah kenyataan bahwa ini benar-benar berisik."
Malahan, selama aku tidak ada, beberapa peristiwa terjadi di Atelier dengan banyak party dan player yang berkerumun.
Mereka menamakan diri mereka sebagai anggota dari Fosch Hound dan datang untuk terus melakukan perekrutan guild mereka yang gagal waktu lalu dan bertingkah jelas-jelas mengancam. Toko menjadi sangat berisik. Sambil berpikir begitu, aku mengelus Ryui dan Zakuro yang sedang berbaring di lantai batu yang dingin.
"Aku tidak begitu menyadari masalah ini sebelumnya, tapi tindakan gerombolan itu juga mengakibatkan masalah pada orang lain juga, ya 'kan?"
Aku mengingat kembali bagaimana aku menyadari kenyataan itu setelah seorang player yang datang ke toko menghubungiku lewat friend chat. Aku segera melarang semua anggota Fosch Hound untuk masuk dan segera melaporkannya pada Cloude.
"Mereka memandang rendah para pengrajin, ya. Baiklah. Kita akan menghadapi mereka dengan sekuat tenaga!"
Magi-san yang mendengarnya dari Cloude begitu marah sampai dia terlihat seperti kobaran api yang mengamuk.
Setelah dia mengajak untuk bertindak, sebagian besar Guild Pengrajin segera menyampaikan tindakan kasar Fosch Hound. Terlebih lagi, karena beberapa pengrajin juga dikasari dengan cara yang sama oleh guild yang berbeda, beberapa guild telah diasingkan dan jumlah guild yang ada mulai menurun.
"Dua guild PK dan delapan guild lainnya telah diabaikan oleh banyak pengrajin dan mulai menyalahkan satu sama lain. Mereka terlalu aktif selama dua hari terakhir ini."
Ya ampun, kenapa aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan tenang. Aku menghela nafas dan segera melakukan tindakan menghilangkan diri untuk melarikan diri dari hal yang merepotkan ini.
Untuk sementara, aku sedang berada dalam suasana hati untuk piknik, ingin berjalan-jalan di lapangan bersama dengan para monster muda sambil mengumpulkan bahan untuk menyelesaikan permintaan Cloude.
Karena Ryui dan Zakuro sangat menarik perhatian, aku meminta Ryui untuk menggunakan ilusi untuk menyembunyikan dirinya sendiri dan berdiri di depan Mini Portal yang telah terinstal.
Aku menaikkan bagian tudung yang biasanya diturunkan dari Ochre Creator di mana biasanya Zakuro masuki dan melakukan pengecekan pada equipmentku.
"Baiklah, equipmentnya siap. —— Mini Portal, berpindah."
Bersama dengan Ryui dan Zakuro, aku melompat ke kota yang kudaftarkan beberapa hari yang lalu.
Maze Town yang terdaftar bukanlah tujuanku, tapi material yang ada bagian selatan rawa-rawa. Karena itulah supaya tidak terlihat, aku harus memasukinya dari sisi Maze Town


"Nah sekarang, ayo pergi secara kebalikannya dari sini. Aku penasaran, seberapa kuat efek dari Recognition Inhibition"
Saat aku memasuki rawa-rawa, ada sebuah reaksi dari Sense See-Through.
Darkman si bos adalah yang pertama kutemui setelah mendatangi rawa-rawa dari sisi Maze Town. Dia tidak aktif pada saat ini, tapi tidak diketahui kapan dia akan menyerang. Jadi tanpa mengalihkan pandangan darinya, aku menyelinap menjauh. Tapi, saat aku melewatinya, aku melakukan anggukan kecil entah pada siapa. Mungkin itu karena aku adalah orang Jepang.
"Pertama-tama, mari kita lihat seberapa besar efek Recognition Inhibition untuk bekerja seorang diri. Aku perlu memeriksanya. Enchant ——Attack, Speed."
Aku memastikan bahwa ada seekor Moor Frog di rawa yang dangkal, bersembunyi di bawah teratai dan menarik busur ke arahnya.
Anak panah yang dilepaskan, menembus daun teratai kira-kira sama dengan yang kulakukan saat melakukan latihan tempur dengan Myu dan yang lainnya. Dengan begini, Moor Frog di sekitar akan melompat secara bersamaan. Kali ini, berkat efek Recognition Inhibition, hasilnya hanyalah lima dari mereka yang mendatangiku.
"Mengurangi jangkauan jarak musuhmu merasakan keberadaanmu adalah salah satu efeknya. Berikutnya…"
Karena Ryui dan Zakuro tidak terlihat, mereka tidak menjadi sasaran dan para katak mendatangiku. Saat aku mengambil jarak menjauh dengan melangkah mundur, beberapa dari mereka berhenti sejenak sebelum mereka kembali ke lokasi mereka yang sebelumnya.
"…Kurasa jangkauan pengejaran mereka juga menurun? Yah, ini akan mudah digunakan saat bermain solo."
Aku bergumam, saat aku semakin memperlebar jarak. Semuanya, kecuali yang kuserang telah berbalik pergi. Sepertinya, tidak peduli betapa kuat penurunan efek kebenciannya, yang diserang akan tetap mengejarku.
Apa yang kupelajari dari aksi party Myu adalah — kemenangan  mendatangi mereka yang bergerak lebih dulu. Aku harus melakukannya.
Katak yang menggunakan hempasan tubuh dan serangan lidah, untuk merobohkannya sebelum menggunakan serangan air, aku menarik nafasku dan menghujaninya dengan serangan beruntun.
"—— Bomb."
Menggunakan kombinasi busur dan sihir, saat musuh mendekat, aku mencoba untuk melancarkan serangan sebanyak mungkin, dan saat dia mendekat, aku mengganti senjataku dengan pisau, menyayatnya sambil menghindari serangan hempasan tubuh.
"Apakah aku jadi terbiasa menghindarinya secara alamiah setelah bertarung melawan mereka beberapa kali?"
Aku bertarung melawan mereka secara satu lawan satu beberapa kali, dan karena menerima serangan bantingan tubuh mereka itu membuat frustrasi, aku senang bahwa kemampuan menghindarku telah meningkat.
Aku berputar mengitari katak yang melompat ke arahku, menginjaknya dengan salah satu kakiu dan menghujam kepalanya dengan pisau dapur untuk menghentikan pergerakannya. Bersama dengan respon yang ringan, aku melihat HP-nya berkurang secara signifikan. Aku memastikan bahwa dia samat sekali belum dikalahkan dan menikamnya lagi. Dalam sekejap mata, Moor Frog itu menghilang, tidak meninggalkan apapun. Kecuali——
"Baiklah, material untuk Fireworks sudah didapat."
Apa yang kudapatkan adalah item drop dari Moor Frog, Frog's Stomach.
Aku mendapatkan beberapa saat aku berburu bersama Myu, tapi lebih baik untuk mendapatkan beberapa lagi agar penyesuaiannya lebih mudah.
 "Ayo memburunya dengan aman satu demi satu sampai kita mencapai safety area. Ryui, Zakuro, berhati-hatilah."
Bersama dengan dua hewan yang tidak terlihat, aku melanjutkan ke arah safety area sambil mengalahkan lawan.
Di area dengan banyak monster yang menyerang secara mendadak, aku memperkirakan situasinya dan menyerang duluan.
Sebagai tambahan pada kumpulan Moor Frog, aku menemukan monster jeli kuning dan datar yang tidak agresif dengan intinya yang terbuka——Mold Slime. Monster-monster ini menjatuhkan material Strongly Acidic Jelly yang dipakai dalam Firework juga.
Karena sulit untuk mengenai nukleus yang merupakan titik kelemahannya dengan senjata yang menyerang satu titik dengan busur, aku menggunakan Bomb Elemen Tanah empat kali untuk mengalahkannya.
Kebanyakan material untuk Firework bisa didapatkan dari area ini. Tidak hanya dari monste, tapi juga dikumpulkan atau ditambang.
"Oh, tempat itu, bukankan itu sebuah collection point. Tapi itu ada di tengah-tengah kumpulan slime."
Di sebuah tempat dengan tanah yang berwarna hitam dan lembap, aku biasanya tidak akan menyadarinya, ada sebuah titik ekstraksi. Di sekelilingnya, terdapat Mold Slime kuning yang tersembunyi sedang mengintai. Mereka berkumpul bersama untuk memakan sesuatu yang mirip dengan lumut.
Untuk mengalahkan kelimat Mold Slime itu dalam satu waktu menggunakan sihir Bomb terus menerus akan jadi membosankan. Meskipun mereka lebih lemah daripada slime lainnya yang sama tingkatannya, aku masih tidak berniat untuk menghadapi dengan lebih dari satu serangan pada satu waktu.
"Meskipun aku melemparkan beberapa magic gem pada mereka dan menang karena bonus serangan berantai, menggunakan gem akan jadi pemborosan…hm? Ada yang muncul."
Barusan, aku menaikkan level Sense Earth Element Talent dengan menghadapi Moor Frog sebelumnya dan sepertinya aku telah menguasai sebuah mantera baru.
Ini kelihatannya sempurnya untuk mengalahkan sekumpulan monster seperti ini pada saat yang bersamaan.
"Tidak perlu harus menaklukan semuanya dalam satu serangan, mungkin aku akan meng-enchantnya menjadi magic gem dan…tidak berhasil ya."
Permata yang kuambil adalah yang berukuran sedang, tapi tidak berhasil.
"Kalau begitu, aku akan meningkatkan kekuatan serangannya dan menghadapi sisanya nanti. Enchant ——Intelligence."
Aku memasangkan enchant INT pada diriku sendiri dan menekankan tanganku pada permukaan tanah.
"—— Earthquake"
Tanah mulai bergemuruh di sekelilingku, dan tidak lama kemudian tubuhku bergetar.
Mantera keempat dari Elemen Tanah Earthquake adalah mantera yang menghasilkan gempa bumi dengan si peraoal mantera sebagai ousatnya.
Efek sampingnya adalah serangan yang menyebabkan musuh menjadi kebingungan selama gempa tersebut. Melawan musuh yang bergerak di tanah seperti cacing atau kali ini Moor Frog dan juga Mold Slime yang mengintai di tanah sangatlah efektif.
Akan tetapi, kegunaannya sangatlah kurang. Meskipun getarannya tidak melukai sesama rekan, guncangannya dapat dirasakan secara langsung oleh rekannya dan menghalangi pergerakan mereka.
Terlebih lagi, kalau ada party lain di sekitar, itu tidak dapat digunakan begitu saja. Ini juga memiliki jangkauan yang kecil untuk menahan gerombolan monster yang banyak karena dipusatkan pada si pengguna dan memiliki jangkauan yang rendah.
Selain itu, tidak ada gunanya untuk menggunakannya pada monster yang terbang.
"Jumlah monster yang dikalahkan ada dua, ya. Yah, baiklah."
Mold Slime yang tersembunyi di tanah meloncat keluar dan muncul, sekitar setengah dari mereka dikalahkan.
(TL : Harap maklum, meskipun teksnya bilang "slime" tapi entah kenapa authornya malah masukkin gambar kodok. Mungkin...dia lelah...?)
Aku melemparkan dua Magic Gem di tengah-tengah slime yang tersisa dan mengalahkan mereka dengan sebuah ledakan.
"Jadi, aku tidak bisa mengalahkan mereka dengan satu serangan, ya. Seperti yang kupikirkan, ini mungkin karena Sense-nya baru saja bertumbuh, atau karena Sense-ku terlalu rendah. Ini lebih lemah daripada yang kupikirkan."
Ada banyak hal yang harus dipikirkan, tapi sebelum itu aku harus menggali collection point itu.
Kebalikan dari mining point di mana aku menggunakan beliung, di sini aku mengeluarkan sekop untuk bertani dari dalam inventory.
Aku menggali tanah collection point sambil mendengarkan suara lembut itu. Apa yang kugali adalah batu berwarna hitam legam dan bijih logam tingkat rendah, dan kemudian batu-batu permata bermunculan.
Ada lebih banyak dari itu daripada yang kugunakan sebelumnya dan kupikir ini memiliki keseimbangan positif yang bagus. Item yang kucari ada di situ juga jadi aku merasa puas.
Aku memungut batu-batu hitam legam itu —— Black Exploding Stones dan menaruhnya dalam inventory. Karena hanya ada delapan yang mana tidak cukup, aku berpindah dari tempat tersebut dan mencari collection point lainnya. Mencari tanah gelap yang sama, aku terus memanennya.
 Kadang, ada beberapa kumpulan Moor Frog di collection point yang terlalu berdesakan agar Recognition Inhibition berpengaruh, membuatku menyerah. Di saat lain, aku mengisi ulang persediaan material herba dan bijih logam di collection point dan menghabiskan waktu sebaik-baiknya.
"Ayo istirahat di safety area. Ayo, Ryui, Zakuro."
Aku duduk di permukaan tanah yang tempatnya sedikit lebih tinggi di rawa-rawa itu dan menyandarkan punggungku di pohon.
*pat* *pat* Aku menepuk pahaku dengan ringan, memanggil kedua partner monster mudaku, dan sosok mereka yang tersembunyi di balik ilusi pun muncul. Ryui menaruh kepalanya di lututku dan aku mengelus Zakuro yang menggesekkan lehernya ke belakang kepalaku.
Fuuh, aku menarik napas dalam-dalam dan menikmati tempat yang luas itu dan perasaan bebas.
Akhir-akhir ini, sampai persiapan untuk menghilangkan diriku selesai, aku mengurung diriku sendiri di dalam ruangan yang sempit sepanjang waktu. Bukannya aku membenci Atelier, tapi aku merasakan perasaan bebas setelah bermain solo untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Mengejutkan, aku mungkin benar-benar lelah secara mental."
Gumamku, merasa sangat kelelahan.
Setelah melamun tanpa alasan untuk beberapa saat, aku mengeluarkan roti lapis dari inventory.
Aku membaginya menjadi beberapa potong untuk memudahkan Ryui dan Zakuro memakannya dan memberikannya pada mereka. Aku tersenyum saat menyaksikan mereka makan.
"Ahh, aku merasa disembuhkan~"
Sambil melihat Zakuro yang memakan sedikit demi sedikit potongan rotinya dan Ryui yang memakan sepertiga bagiannya sekaligus, aku mengeluarkan sebotol teh panas untuk diriku sendiri.
Desain dari game ini benar-benar tipe fantasi, tapi selama itu ditempatkan dalam inventory, panas dari teh tersebut tidak akan menghilang. Setelah meminum teh manis yang panas, aku menghela nafas dalam-dalam.
"Haa, teh hitam memang enak."
Karena tidak ada tanda-tanda orang yang datang kemari, aku melepaskan tudung yang menutupi kepalaku sampai ke mata dan melepaskan baik rambut maupun udara panas dari dalamnya.
Saat aku mulai merasakan niat untuk piknik dan bermalas-malasan, aku tiba-tiba menemukan suatu keberadaan di luar perbatasab safety area. Sebuah bola api berwarna kuning yang bergetar bergoyang-goyang membentuk angka 8 di udara, mencoba menarik perhatian ke arahku.
"Sebuah wisp, ya. Kurasa aku akan menerima ajakannya mumpung ada."
Aku mengangkat pinggulku dengan berat dan bergerak mendekati bola api Wisp itu——atau lebih tepatnya monster yang disebut  Will-o'-Wisp. Itu adalah seekor monster tipe bola api atau soul (TL: jiwa).
Sama seperti Mold Slime, Wisp adalah monster yang tidak agresif. Meskipun mereka menjatuhkan material Phosphorus Soul Crystal's Fragment , ada juga cara lain untuk mendapatkannya. Phosphorus Soul Crystal's Fragment memiliki efek yang sama dengan Phosphorus Soul Crystal tapi ukurannya lebih kecil dan lima buah dari item ini diperlukan alih-alih satu saja.
"Apa kau bisa makan ini?"
Aku membuat Ryui dan Zakuro menunggu di samping pohon dan bergerak ke depan Wisp.
Aku menebarkan Medical Spirit Grass yang baru saja kukumpulkan dan merupakan bahan untuk High Potion di depan Wisp itu.
Seperti seekor serangga yang tertarik pada cahaya, wisp itu mendekati Spirit Medical Grass. Meskipun api Wisp itu menyelimuti sekeliling tanganku, tapi karena dia tidak bersikap bermusuhan, aku tidak merasakan hawa panas apapun darinya.
Saat apinya menyentuh kumpulan daun herba itu seakan sedang menjilatinya, item tersebut menghilang berubah menjadi partikel…tidak, benda tersebut sebenarnya diserap oleh Wisp itu, dan lidah apinya berubah menjadi warna hijau yang merupakan lidah api tanda senang sekali.
Dan setelah Wisp itu selesai memakan semua herba itu dari tanganku, tubuhnya membuat lidah api yang gemetar.
Bersama dengan suara *pop*, kristal-kristal berwarna putih keluar dari tubuh Wisp.
Dua, tiga item itu jatuh di tanah bertumpukkan.
"Banyak sekali. Phosphorus Soul Crytal ya. Aku penasaran apakah sebanyak ini cukup?"
Wisp adalah seekor monster yang mencuri energi kehidupan dari makhluk hidup. Dengan memberikan item pada Wisp yang tidak bersifat bermusuhan, dia akan melepaskan energi yang berlebihan dalam bentuk sebuah Phosphorus Soul Crystal.
Kalau mereka dikalahkan, player hanya akan mendapatkan pecahan-pecahan kristal sebagai gantinya. Melakukan barter dengan seekor monster di alam liar itu adalah hal yang menarik dan seseorang bisa mendapatkan item yang lebih baik daripada melakukannya secara normal.
"Oh, ada sebuah Phosphorus Soul Ore yang tercampur di dalamnya. Tidak hanya ini adalah item drop yang langka, tapi juga item drop dengan tingkat kemungkinan yang rendah."
Aku menaruh item-item tersebut di dalam inventory, puas dengan hasilnya.
Pada akhirnya, aku mendapatkan 23 Phosphorus Soul Crystal dan 2 buah Phosphorus Soul Ore.
Aku bermain-main dengan wisp tersebut yang menyelimuti tanganku sampai Ryui dan Zakuro lelah menunggu dan datang ke sampingku.
Zakuro mencengkeram pakaianku dan berayun-ayun dengan tubuhnya yang ringan dan terus berayun, tapi Ryui menyenggolku dengan tanduk kecilnya sambil memastikan dirinya tidak menyakitiku untuk memperlihatkan rasa tidak puasnya.
"Uwah?! Maaf! Nah sekarang, ayo lanjutkan pencarian."
Pada saat yang sama aku dikejutkan mereka, aku melihat Wisp yang menghilang ke dalam kehampaan dan mengakhiri waktu istirahat, memulai kembali pencarian di rawa-rawa ini.
·
Saat aku melanjutkan pencarian di rawa-rawa di bagian selatan, aku melihat seorang player laki-laki dan perempuan berjalan dari arah Kota Pertama sambil bertengkar.
"Karena itu! Kita datang kemari! Aku mau bergegas dan semakin jauh ke dalam!"
"Kubilang tidak. Ayo lakukan secara perlahan-lahan. Hei, dengarkan omonganku!"
Mereka seumuran Myu. Gadis itu melangkah maju dengan marah dan dari percakapannya, sepertinya si anak laki-laki ingin menghentikan dia untuk bertindak berlebihan dengan datang kemari.
Saat aku memeriksa equipment mereka, sepertinya itu adalah pakaian pemula.
Melihat equipment yang tadinya ada di mana saja saat game OSO baru dimulai membuatku merasa kangen.
Equipment pemula itu memberikan kesan tak rapi, yang segera membuatku berpikir betapa masih hijaunya para pemula ini.
Gadis itu menyadari tatapanku dan mata kami bertemu, kemudian dia memperlihatkan tatapan bertanya-tanya ke arahku.
Dia terlihat sedikit waspada, mungkin karena aku mencurigakan dengan tudung yang menutupi kepalaku. Sementara aku berpikir demikian, si anak laki-laki mengangguk ke arahku dan mulai membujuk si gadis lagi.
Di area yang sesuai dengan level mereka, aku hanya akan melihat mereka pergi seperti ini.
Tapi kali ini, aku menengahi dan menghentikan mereka.
"Ya ampun, apa yang kalian lakukan? Ada masalah yang lebih besar daripada melakukannya dengan perlahan atau cepat."
Aku bergerak ke arah si anak laki-laki dan perempuan yang tidak curiga berkelana ke dalam rawa-rawa itu. Meskipun mereka belum begitu dalam memasukinya, adalah sebuah keajaiban mereka bisa sejauh ini tanpa diserang Moor Frog. Aku menghela nafas menanggapi keberuntungan kedua orang ini.
"Apa-apaan barusan? Karena kau melakukannya secara solo, itu berarti kau sangat kuat, ya 'kan? Apa kau mencoba untuk pamer dengan tudung yang terpasang itu?"
Mungkin sebaiknya berhenti ikut campur, aku berpikir dengan tatapan jauh menerawang. Akan tetapi, begitu aku melepaskan pandanganku, mereka pun mulai bergerak.
"Rai-chan, ada sebuah collection point di sini. Kalau kita mengambil item ini pulang, kita bisa membeli beberapa item tanpa melakukannya berlebihan."
"Ayolah, dasar orang yang mudah cemas. Aku mengerti. Entah baik atau buruk, kita tidak menemui musuh apapun. Kalau bertemu, kita akan mengalahkan mereka dan mendapatkan EXP."
Begitu berpaling dari mereka, mereka menuju ke collection point yang sedikit jauh jaraknya. Akan tetapi, aku menemukan tempat itu sebelumnya dan menghindarinya.
"Tunggu! Itu——"
Aku memanggil mereka untuk menghentikan  mereka, tapi kedua orang itu menuju ke collection point di dasar pohon.
Aku mengeluarkan pisau dapur dari inventory dan menggenggam Magic Gem Clay Shield di tangan kiriku.
Tempat yang kedua orang itu tuju bukanlah sekumpulan Moor Frog. Seekor monster yang meniru sebatang pohon, sesosok Treant berada di situ.
"Apa? Apakah dia terburu-buru karena dia tidak ingin kita mengambil item itu?"
"Hei! Orang yang barusan datang ke arah kita!"
Mereka berdua berbalik melihatku dan ekspresi mereka menegang.
Ya ampun, sekalipun aku mencoba untuk  menghentikan kecerobohan kedua anak itu, aku malah berakhir dikira sebagai seorang PK. Parah sekali. Aku merutuk dalam hati dan meneruskan serbuanku.
"Apa kau mencoba menghalangi kami?! Al, kita akan merubuhkan dia!"
"Rai-chan…oke."
Oh, yang benar saja. Kedua orang itu mengeluarkan senjata mereka, menghunuskannya ke arahku dan membalikkan punggung mereka menghadap ke Treant. Konyol sekali.
Di belakang mereka berdua, Treant perlahan-lahan membatalkan peniruannya dan pelan-pelan membentangkan cabang-cabangnya. Lubang-lubang yang mirip dengan mata dan mulut muncul, menyunggingkan senyuman licik dan meruncingkan dahan-dahannya.

"Ryui, Water Shield! Enchant ——Defence, Speed. Cursed ——Attack!"
Aku melancarkan sebuah speed enchant pada diriku sendiri dan mempersempit jarak dalam sekejap, kemudian melewati kedua orang itu yang memposisikan senjatanya. Setelah aku mendekati mereka, si gadis dengan posisi berdiri yang naif, menusukku dengan tombaknya. Aku menghindarinya dan kemudian melewati si anak laki-laki yang memegang sebatang tongkat panjang dengan kedua tangannya sebelum menangkis dahan tajam Treant.
"A-apa?! Kyaa‼"
"Uwaa‼"
Aku masuk ke antara keduanya dan menghalangi tombak dahan-dahan yang tajam itu. Aku memotongnya, tapi hanya yang berada dalam jangkauanku. Pisau dapur yang memiliki jangkauan yang pendek tidak dapat memotong beberapa dahan tersebut dan serangan-serangannya merapat pada kedua orang itu.
Akan tetapi, aku melakukan apa yang bisa kulakukan dan membiarkan sisanya.
"Bagus, Ryui! Kalian berdua, cepat lari!"
Tombak-tombak dahan yang hampir menembus kedua orang itu dihentikan oleh perisai Ryui. Perisai itu dengan sangat baik menghalangi serangan yang datang setelah kekuatan serangannya dikurangi oleh cursedku.
Aku memangkas dahan-dahan yang memanjang dan mencegah serangan kejutan si peniru pohon tersebut.
Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa aku menahan semua serangan. Aku tidak dapat memblokir serangan-serangan yang mendatangi kepalaku saat mereka mendekati tubuhku dan kepalaku pun tergores. Saat itulah tudung yang kukenakan terlepas. Rambutku tergerai ke udara luar, tapi aku tidak mempedulikan hal tersebut saat ini.
"…cantik."
"Y-ya."
"Jangan bengong! Larilah mengikuti Ryui!"
Saat aku memanggil kedua orang itu yang melamun, mereka kembali sadar.
"Ayo lari! Nana-chan!"
"Jangan panggil aku 'Nana-chan'! aku Raina saat ini!"
"Ma-maaf, Rai-chan."
"Cepat pergi kalian berdua!"
Saat aku mendengarkan percakapan tenang mereka berdua, aku menyingkirkan sebatang tombak dahan dan cambuk sulur tanaman dengan pisau dapur. Awalnya aku menyerah dengan serangan dan memusatkan diriku pada pertahanan, tapi serangan musuh tidak akan beralih padaku.
Meskipun aku begitu menghalanginya, monster itu tidak akan mengubah targetnya, membuatku merasa tidak sabaran. Sebuah kenyataan mendatangi pikiranku.
"Sial! Jadi karena itu!"
Efek dari tambahan baru pada armor, Recognition Inhibition, juga menekan munculnya hate value terhadapku oleh monster lawan. Itu sangat menguntungkan bagi player di garis belakang dan player penyerang hit-and-run (TL : Serang dan kabur), tapi untuk membuat target mengubah sasarannya pada dirimu sendiri, player tersebut perlu untuk melancarkan serangan yang lebih besar daripada normalnya.
"Kau bilang kami sebaiknya lari, tapi kami juga bisa bertarung!"
"Jangan coba-coba melakukannya sekarang! akan ada penalti serangan gabungan!"
"Ghh…"
"Gawat. Tidak ada waktu untuk melarikan diri."
Untuk serangan Treant yang tidak bisa kuhalangi, aku menerimanya dengan tubuhku setelah meningkatkan kekuatan pertahananku. Tetap saja, HP-ku terpangkas sedikit demi sedikit.
"Entah tenggelam atau berenang saat ini. Ayo coba lukai dia sekaligus!"
Aku menjatuhkan Magic Gem Clay Shield yang kupegang ke tanah dan mengeluarkan Bomb.
Dan setelah melemparkannya pada Treant, aku mengucapkan kata kuncinya.
"——Clay ShieldBomb!"
Dimulai dengan permata yang dijatuhkan di tanah, sebuah dinding tanah telah muncul. Tombak-tombak dahan itu diterima oleh penghalang tanah tersebut, dan ujung-ujungnya dapat terlihat saat menembus dinding itu.
Apa yang bergema berikutnya adalah suara dari banyak ledakan Bomb dan sebuah serangan yang mengenai dinding tanah.
Pada saat yang sama, sebuah raungan terdengar dan kepulan asap debu menyapu saat aku memanggil mereka, memberi tahu mereka untuk melarikan diri.
"Kita akan lari! Ryui, Zakuro, pergilah duluan!"
Menanggapi suaraku, Ryui yang melindungi kedua orang itu menuju ke pintu keluar rawa-rawa. Aku mendorong punggung kedua orang itu seakan untuk membuat mereka tetap mengikuti Ryui.
"Aku juga akan lar——?!"
Sesuatu menusuk bahu dan pinggangku. Aku secara refleks melihat ke arah itu.
Apa yang menempel di situ adalah daun-daun hijau terang yang dikeraskan. Setelah dilepaskan dinding lumpur dan membuat lengkungan, daun-daun itu terbang ke arahku.
"Haha, shuriken? Yang benar saja."
Sebagai tambahan untuk itu, di sisi lain dinding yang runtuh, aku dapat melihat Treant itu memperlihatkan ekspresi marah karena mangsanya melarikan diri.
Itu bukanlah seulas senyuman licik. Saat dia melihatku, ujung-ujung mata dan mulutnya kembali naik, memperlihatkan ekspresi tersenyum.
"Apa-apaan itu? Setelah akhirnya melarikan diri, dia mengubah sasarannya padaku. Lambat sekali."
Aku merutuk, kemudian setelah aku diserang daun-daun yang dilemparkan ke arahku itu, aku kehilangan keseimbangan.
Jumlah HP-ku yang tersisa sebanyak 30%. Akan sangat buruk kalau aku tidak cepat-cepat dan memulihkan diri dengan potion. Berpikir demikian, aku mendongak pada Treant yang ada di depanku.
"Hei, hei, dia datang ke arahku dengan kekuatan penuh. Sialan!"
Sejumlah dahan-dahan memuntir menggabungkan diri, membentuk sebuah massa padat. Untuk menggambarkannya secara sederhana, itu terlihat seperti sebuah gada. Dia mengangkat gada tersebut sangat tinggi.
"Ya ampun, dengan kekuatan sebanyak ini, tidak mungkin kita akan keluar dari sini dengan aman."
Aku lemah seperti biasa. Saat aku menghela nafas setelah berpikir sesederhana itu, aku mendengar sebuah suara.

"——Summon. Pergilah, Bronze Golem!"

Lubang-lubang di Treant itu membentuk ekspresi tidak senang.
Sebuah tinju berwarna tembaga melesak ke dalam wajahnya.
Aku tidak bisa bergerak saat kumpulan logam muncul bersama dengan tekanan angin yang kuat.
Sesuatu yang begitu besar berwarna tembaga muncul dari tanah rawa-rawa dan menghajar Treant, mengangkatnya sedikit.
Treant dan golem berwarna tembaga. Juga, ada seorang player yang muncul di antara kami.
Sebagi hasil dari Bronze Golem yang menghalangi pertarunganku, kami terbungkus dalam aura hitam dari penalti serangan gabungan; aku, si golem, dan masternya.
Bronze Golem yang dilemahkan, terdesak oleh Treant.
"H-hei! Ada penalti serangan gabungan!"
"Ya…aku akan meminta maaf sekarang, maafkan aku."
Yang memegang tanganku adalah seorang gadis cantik dengan topeng di setengah bagian atas wajahnya. Dia memiliki rambut panjang berwarna krem dikepang yang menjulur ke bagian depan bahunya dan berbicara dengan nada suara seperti mesin (TL : mirip robot). Dia memberi kesan yang sangat netral.
Si cantik bertopeng itu menarik sebatang pedang dari sarung pedang di pinggangnya.
Meskipun itu adalah pedang lurus bermata ganda, benda itu sangatlah misterius karena bilahnya terbagi menjadi beberapa rentang bagian yang sama. Benda itu ditekankan pada bahuku. Aku ditikam ringan.
"Oww!"
"Golem! Kalahkan Treant itu dengan seluruh kemampuanmu!"
Si cantik bertopeng itu memberikan sejumlah serangan minimal untuk melepaskan penalti serangan gabungang dan memberi instruksi pada Bronze Golem tersebut.
Raksasa berwarna tembaga terbungkus dalam aura hitam yang terbelit sulur tanaman Treant itu mengamuk saat dia terlepas dari kekangan ganda sulur tanaman dan aura.
Bahkan saat kami mengawasi dari belakang, tekanan angin dari tinju berwarna tembaga itu mencapai kami. Serangan tubuh raksasa Golem tersebut menghancurkan batang pohon Treant, menggeseknya habis.
Menjepit bagian batang pohon yang berhubungan dengan wajah Treant, golem itu mengerahkan kekuatan dalam cara yang mirip dengan sebuah catokan. Perlahan melukainya dengan tekanan, HP Treant perlahan tapi pasti berkurang.
"Lanjutkan dan hancurkan!"
Menanggapi perintah si cantik itu, golem tersebut meningkatkan kekuatan pegangannya.
Treant itu mencoba untuk melarikan diri dan dengan memelintir tombak-tombak dahan dan cambuk sulur-sulur tanaman membentuk sebuah gada untuk menyerang si golem. Gada itu tergelincir pada permukaan tubuh yang berkilauan warna tembaga tersebut, dan gagal untuk meloloskan diri.
"Gi-giiiiiiiiiiyaaAAaAAaaaA——"
Pada akhirnya, retakan-retakan muncul pada pohon tersebut bersama dengan teriakan kasar kesakitan saat makhluk tersebut dihancurkan oleh genggaman si golem. Kepingan pecahan pohon berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan perlahan menghilang. Tubuh Treant itu juga lenyap.
"…drop-nya adalah Treant Wood, ya. Apa kau baik-baik saja? Kau perlu penyembuhan?"
"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa. Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri."
Aku mengeluarkan High Potion dari dalam inventory dan meminumnya.
Sementara itu, aku mengamati orang yang ada di hadapanku. Kepangan rambutnya yang indah bergoyang dan dia menyunggingkan seulas senyuman dengan mulutnya. Meskipun matanya tersembunyi oleh topeng, dinilai dari bentuk tubuhnya, dia sudah jelas adalah seorang wanita.
"Akan merepotkan kalau kau begitu waspada. Tentu saja, aku telah menyerangmu untuk melepaskan penalti serangan gabungan, dan maaf karena aku tidak menjelaskan."
"Tidak, aku tidak keberatan."
"Aku mengerti, baguslah kalau begitu."
"Um…terima kasih. Kau menolongku."
Ada sedikit kebenaran dalam apa yang dia katakan tentang diriku yang bersikap waspada. Akan tetapi, ada lebih banyak orang eksentrik di dunia OSO. Dibandingkan dengan mereka, dia masih terlihat imut. Malahan, tergantung dari sudut pandang, seorang gadis muda bersikap keren itu adalah pemandangan yang sangat menyenangkan.
"…untuk beberapa alasan, kau membuat seulas senyuman yang sangat menawan. Apakah kau salah paham tentang sesuatu?"
Aku  ditanya dengan suara yang mekanis tersebut. Aku menegaskan "tidak juga". Tidak hanya Myu, ada juga player lain yang datang ke Atelier yang punya kebiasaan khusus dan mengkhususkan diri mereka pada semacam role-playing atau karakterisasi.
"Haa~, ya sudahlah, kalau begitu. Nah sekarang, ayo kembali."
"Kau benar. Apakah Ryui dan Zakuro dapat dengan baik memimpin mereka keluar?"
"Apakah anak-anak itu kenalanmu?"
"Tidak, hanya beberapa pemula ceroboh yang datang kemari jadi aku membantu mereka."
Haa, aku menyerah. Aku menghela nafas. Setelah mencoba untuk menolong orang yang sama sekali asing bagiku, aku hampir kehilangan diriku sendiri…mata yang tersembunyi di balik topeng itu menatapku lekat-lekat.
Merasakan tekanan dari tatapan itu, aku tertawa kering "ahahaha".
"Daripada itu, ayo temukan player yang barusan itu."
Karena arah mereka melarikan diri adalah menuju ke Kota Pertama, mereka seharusnya baik-baik saja.
Setelah aku berdiri di depan dan mulai berjalan melintasi rawa-rawa, si player bertopeng bergerak tepat ke sebelahku dan golem tersebut mengikuti kami dari belakang.
Kadang-kadang, aku menoleh ke belakang untuk melihat si golem.
Sesosok raksasa berwarna tembaga. Dari bagian yang berhubungan dengan mata di kepalanya, aku tidak merasakan kecerdasan, tapi sosoknya terlihat bisa diandalkan.
Player yang bisa menjinakkan golem sekuat itu pastilah sangat berpengalaman.
"Ah, benar juga. Aku masih belum memperkenalkan diriku. Aku Yun, senang bertemu denganmu."
"Benar. Untuk nama saat ini, silakan panggil aku Emilio. Orang lain memanggilku—— Pedagang Material. Oke? Nanny Yun."
Saat aku memperlihatkan ekspresi jijik, Emilio tertawa diam-diam dengan suara mekanis.
"Maaf. Aku meralatnya. Pemilik toko Atelier, Yun."
"Grr, aku benci nama panggilan yang sebelumnya…"
"Aku akan berhati-hati kalau begitu."
Aku mengerti, begitu kami mulai pergi bersama dengan aliran cahaya, pintu masuk ke hutan muncul di hadapan kami.
Ryui dan Zakuro yang sedang menungguku di perbatasan hutan, berlari ke arahku jadi aku menangkap mereka.
Aku mengelur Ryui dan Zakuro yang bertingkah sangat manja. Itu adalah akibat setelah mengkhawatirkanku. Di sisi lain, player-player pemula tersebut tidak dapat berdiri dari tempatnya setelah melihat Bronze Golem.
Beberapa waktu berlalu sampai kedua orang itu dapat berbicara dengan tenang.

Only Sense Online Jilid 4 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.