21 Maret 2017

Hyouka Jilid 3 Bab 2-3 LN Bahasa Indonesia


BADAI YANG LAIN
(Translater : Faris; Editor : Hikari)

Aku hanya ingin tetap menjadi diriku sendiri.
Aku sungguh tidak bermaksud beradu argumen dengan siapapun.
Itu semua dimulai saat Kouchi-senpai mengatakan sesuatu kepada ketua Yuasa ketika pelanggan mulai berkurang, “Baikah, sepertinya ada kesalahan saat menjual ini semua. Tak ada yang datang. Tetapi ini belum terlambat bagi kita untuk berubah dan terus maju. Kita mempunyai poster karakter anime di luar. Kalau ada yang memiliki waktu senggang, tak ada salahnya apabila untuk menggambar salah satunya."
Aku tak percaya alasan yang dia katakan mengapa pelanggan sangat sedikit. Antologinya terjual dengan baik. Akan tetapi, itu memang benar jika kami tidak mempunyai semangat, tidak peduli bagaimana aku mencoba melihatnya. Aku bukan orang yang melawan ide menggambar poster karakter anime untuk menarik perhatian pelanggan; itu lebih baik daripada berpakaian cosplay untuk menarik perhatian anak laki-laki.
Tapi aku tak mengerti saat Kouchi-senpai mencoba membawa ketua ke dalam semua ini, melihat bagaimana dia sekarang dikelilingi oleh pengikut Kouchi-senpai. Dia terlihat seperti melawan dan protes. Walaupun Ketua Yuasa terus tersenyum, aku penasaran apa yang dia rasakan.
“Kau mungkin benar, tapi ini harus menjadi kesepakatan bersama...”
“Mungkin sudah diputuskan, tapi tidak mayoritas. Omong-omong, apa ini antologi? Sebuah review ratusan judul manga terdengar membosankan, siapa yang ingin membacanya? Seharusnya kita membuat manga komedi.”
Pikirkan, seseorang menyarankan setiap orang di Klub Manga mencoba membuat manga komedi mereka sendiri. Sekarang, beberapa dari mereka berdiri di sekeliling stand. Alasan mengapa mereka ada disana karena mereka tidak yakin dengan pekerjaan mereka di Festival Budaya, atau mereka tidak ingin berakhir dengan kerugian. Tetapi, menyalahkan adanya Zeamis tak masuk akal.
Karena tak ada seorangpun yang membaca antologi yang kami kerjakan, suasana ruangan menjadi tegang. Grup Kouchi-senpai seluruhnya tidak bisa diajak kerja sama untuk membuat Zeamis. Tidak bisa bekerja sama mendorong yang lainnya. Orang malas seperti Oreki tetap kesulitan saat membuat manuskrip walaupun selalu mengeluh tentang bagian yang menyusahkan, tapi pengikut Kouchi-senpai tidak mempunyai semangat. Sekarang, tidak ada satupun dari mereka untuk membantu menjualnya. Sungguh ada beberapa orang di Klub yang memiliki sikap pemberontak.
Satu-satunya alasan seperti perasaan yang tidak mengganggu Kouchi-senpai, yang bekerja dengan rajin sesuai dengan ketertarikannya. Dia tidak bohong bahwa dia menyelesaikannya seharian.
Panjang lengan dari pakaian jubah Pendeta Taoist, Kouchi-senpai menyilangkan tangannya dan terlihat mengatakan beberapa kebenaran.
“Jika kita asumsikan kalau di sana tidak ada manga yang membosankan, ini akan seperti membaca manga populer ratusan tahun lalu. Siapapun akan bosan melakukan itu. Sederhananya, itu tak berguna, kan?” ucapnya, mencari persetujuan dari sekitarnya. Suara persetujuan bisa terdengar, dari gumaman pengikutnya. Jika kau mau menjadi seorang Yes Man, kau harus lebih tegas dengan persetujuanmu.
Tapi mengatakan kalau ini tidak berarti, well....
Beberapa anggota menatap stand penjualan yang aku duduki sekarang... Kalau aku memang satu-satunya yang tidak setuju dengan Kouchi-senpai, aku lebih suka kalau mereka tidak menatapku seperti ini.
Kouchi-senpai sambil berjalan, “Sebaliknya, bukankah lebih baik jika menggunakan karakter anime unuk menarik perhatian? Mengapa harus antologi suram itu yang menjadi pusatnya? Kita harus memiliki sesuatu yang mencolok.”
Dia kemudian menatap ke anggota lain selain pengikutnya. Saat aku duduk di stand penjualan, mata kami bertemu.
Aku tidak tahu apa yang ada di imajinasiku, tapi Kouchi-senpai melihatku, ujung bibirnya terangkat.
Dia mencoba memprovokasiku? Senyumannya itu sekarang adalah sebuah provokasi?
Apakah Fuku-chan percaya padaku? Pikiran yang terlintas dikepalaku mengatakan tidak. Tapi itu benar setelah selama Festival Budaya, aku berada di Klub Manga, aku tetap peduli terhadap antologi lub Sastra Klasik.
Tapi aku sudah mencapai batasku. Aku penasaran mengapa aku berakhir begini. Diriku terkejut saat aku mendengarnya membeku di kursi dan mengatakan, “Lebih tepatnya yang kau maksud itu semuanya tak berguna, senpai?”
Kouchi-senpai terlihat mengharap jawaban dariku. Dibalik punggung Ketua Yuasa, dia tersenyum, “Tak berguna walaupun itu menarik atau tidak. Apakah kau mengerti yang aku maksud, tidak?”
“Aku mengerti perkataanmu, tapi aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan itu. Aku menghabiskan waktu mengerjakan antologi ini, dan juga yang lainnya.
“Aku tidak meminta untuk pengakuan kerja keras kami, tapi jika kau mengatakan bahwa semua itu tidak berguna, maka tolong jelaskan alasanmu itu.”
Di satu sisi Kouchi-senpai terlihat menenangkan diri, saat aku dan yang lain mungkin terlihat tajam. Aku mungkin terlihat seperti idiot.
Dengan senyum menyeringai, Kouchi-senpai mengambil satu langkah didepanku.
“Yah, mungkin aku salah kalu mengatakan itu tidak berguna. Maafkan aku, Ibara, aku mencoba untuk mengatakan kalau itu terlalu keras.”
“Terserah, aku heran kenapa kau berpikir begitu.”
“Kau lihat, aku terus berpikir.”
Seolah-olah menunjukkan sekitarnya, menggerakkan tangannya.
“Tidak setiap manga berakhir dengan klasik. Hanya karena kau menyukai judulnya bukan berarti membuatnya klasik. 999 orang dari 1000 orang mengatakan itu omong kosong. Namun, bukankah kau mengabaikan persetujuan dan pertimbanganmu menyimpang? Itulah yang kusebut berbahaya.”
Untuk sesaat aku ragu bagaimana meresponnya. Seorang anggota dibelakangku bereaksi.
“Bagaimana kau yakin kalau itu menyimpang!?”
Ketika aku mengerti perasaannya, ini bukan saat yang tepat untuk menyisipkannya. Namun Kouchi-senpai selalu memberikannya tatapan sekilas dan menolaknya. Dia dapat dengan mudah membalas tuduhan apakah antologi itu menyimpang atau tidak dengan memberikan sebuah penjelasan dari arti kata “menyimpang” itu. Dengan tenang, dia tidak dapat melakukan itu.
Ini berarti dia tidak bermaksud membuat argumennya ambigu.
Dengan mengambil segelas air, “Mari kita luruskan ini. Kau mencoba untuk mengatakan bahwa ini subjektif?”
“Yeah.”
“Jadi kau menemukan pandangan secara ‘subjektif, setiap manga bisa saja klasik, dan itu juga bukan berarti dapat disebut manga jelek’ berbahaya?”
Kouchi-senpai mengangguk memuaskan.
“Yup, itu yang kumaksud.”
“Tapi-“
Saat aku meresponnya, aku melihat pergerakan tangan seseorang. Sebelumnya, tumpukan Zeamis dipindahkan oleh Ketua Yuasa, saat aku tak memperhatikannya.
Hal itu menentukan kelemahan pada argumen Kouchi-senpai, aku masih penasaran apakah dia sudah mencatatnya? Saat merasa sulit, aku mencoba untuk berkata dengan suara tenang dan melanjutkan, “Pada kasus ini, bukankah juga berbahaya kalau berpikir secara subjektif bahwa setiap manga dapat menjadi sampah dan juga tak berarti untuk disebut sebagai manga yang bagus?”
Dia mungkin tak setuju dengan ini. Tapi jika dia tak setuju, maka dia akan membentuk argumenya lagi. Meskipun menghadapi perlawanan, Kouchi-senpai memberi sebuah senyuman dan berkata, “Yeah.”
“Ap-“
Untuk sesaat, aku kehilangan kata-kata. Pengikutnya berbisik. Situasi yang mengherankan saat terjatuh dalam ketiadaan. Tak satupun dapat mengerti apa yang dia pikirkan saat dia membuat respon seperti itu.
Mengambil keuntungan dari keragu-raguanku, Kouchi-senpai berkata dengan gembira.
“Tapi itu benar, kan? Karena kau berpikir seperti itu.”
“Hanya karena sebuah manga membosankan bukan berarti manga itu membosankan. Sederhananya berarti toleransi orang menganggap rendah sebuah judul. Jadi untuk pengecut yang tidak ingin mengungkapkan diri mereka akan jelas mengatakan ‘Manga ini tidak cocok denganku’ daripada menyebutnya membosankan.
“Jadi untuk hal yang sama. Hanya karena sebuah manga disebut menarik bukan berarti itu benar-benar menarik. Itu hanya orang yang mempunyai toleransi tinggi terhadap aspek judulnya. Apa aku benar?”
Untuk beberapa waktu, aku selalu menemukan Kouchi-senpai agak sembrono. Walaupun dia memiliki penggemar sebagai anggota inti dari Klub Manga, aku menemukan diriku tenggelam diantara mereka. Sekarang, kurasa aku tahu mengapa aku berada di jalan ini. Kouchi-senpai hanyalah orang biasa.
Aku tak bisa kalah darinya.. aku hanya tak boleh kalah.
Pertama, aku selalu merasakan reaksinya ketika dia menyebut kalau antologi yang kami kerjakan dengna keras tak berarti. Tapi sekarang lebih dari itu, dia tertawa diatas dasar kepercayaanku sendiri. Aku bukan tipe yang mudah tertawa dan menelannya. Keinginan untuk melawan balik mengalir dalam diriku, aku menggigit bibirku dan membalas, “... Jadi kau pada dasarnya mengatakan bahwa tak ada manga yang bisa disebut klasik atau mahakarya? Media lain seperti musik, seni dan novel dan semuanya bisa disebut klasik dan mahakarya. Apakah kau mengatakan bahwa itu tidak ada? Atau kau mengatakan hal ini hanya berlaku untuk manga?”
Aku, diantara anggota Klub Manga, tidak percaya kalau manga sebuah media untuk mengungkapkan perasaan, ada kekurangan dalam manga yang tidak bisa diralat.
Bahkan Kouchi-senpai mengatakan hanya karena sebuah karya itu sebuah manga, tidak bisa menjadi klasik.
Dan sungguh dia berkata seperti itu.
“Aku tak pernah mengatakan kalau tak ada sesuatu seperti manga yang bisa disebut klasik atau mahakarya.”
“Tetapi bukankah tadi kau katakan? Kalau karya itu sampah tak masalah bagaimana kau melihatnya?”
“Yeah, begitulah.”
Dia menunjukkan senyum yang mencurigai dan berkata, “Tapi mahakarya itu ada.
“Setelah bertahun-tahun diteliti dengan kritik dan pengertian selama beberapa waktu, hanya beberapa yang memiliki faktor diatas rata-rata. Itulah yang kita sebut mahakarya. ‘Jika bukan ditentukan oleh faktor tertinggi, tetapi diterima oleh masyarakat banyak, pada dasarnya itu hal yang sama.
“Jadi aku akan mengatakan ini: ini adalah kebodohan Klub Manga dengan melakukan sesuatu seperti mereview manga, dimana kita harus memutuskan kalau karya ini bagus atau tidak. Mengatakan sesuatu yang ada didalam kepala. Kami harusnya tidak melakukan itu dan hanya menikmati karya yang ingin kami baca.”
“Kemudian,”
Sebelum aku memikirkannya, aku langsung membalas, “Apakah kau mengetahui keberadaan jenius yang menciptakan mahakarya? Apakah kau mengetahui karya yang bagus dan diterima beberapa generasi?”
“Jangan berpikir terlalu jauh Ibara, tentu saja aku tidak tahu. Itulah mengapa ini semua merupakan bagian opini subjektif. Aku sudah mengatakan kalau mahakarya itu karya yang bertahan melalui waktu.”
“....”
Tatapan Kouchi-senpai lebih tajam dari sebelumnya. Mungkin juga menyolok mataku dibalik punggungnya. Aku merasa berat untuk bernafas.
Aku merasakan sekarang saatnya untuk  mengeluarkan kartu andalanku.
Aku punya sesuatu yang akan kutunjukkan padanya jika dia tak mau mengakuinya. Jika aku tidak bisa membuatnya mengaku, maka aku aku akan meninggalkan benda ini. Walaupun aku enggan untuk melakukannya, aku tak punya pilihan. Lalu dengan pelan kukatakan padanya, “Kau salah.”
“Tentang apa?”
“Ini bukan opini belaka. Kau mengatakan sesuatu yang memalukan hanya karena kau tidak pernah merasakan apa yang kurasakan. Ada seseorang yang membuat manga ini hebat walaupun aku belum pernah bertemu dengan mangakanya.”
“Oh, sekarang kau mempunyai bualan baru.”
Kouchi-senpai berkata dengan nada gelap saat dia menggunakan pakaian Jiangshi. Tanpa merasa terancam, aku melanjutkan, “Berdasarkan apa yang kau katakan, manga yang kubaca berada dalam level yang sama dengan manga yang lain. Tetapi itu tidak benar. Apa yang kukatakan dapat dikatakan kalau mangaka ini orang yang berdedikasi. Karya yang tak lekang oleh zaman.
“Jadi beritahu aku senpai, apakah kau pernah membaca manga Ashes at Dusk, yang terjual habis saat Festival Budaya tahun lalu?”
Ketika aku memberitahunya, Kouchi-senpai kehilangan sikap tenangnya. Dengan ekspresi mencoba untuk mencekikku, dia membalas dengan singkat,
“... Tidak,”
“Pada masalah ini,”
Jika itu tidak bekerja, maka aku tidak bisa membantu. Jika dia tidak mengenal karya itu, maka aku harus mengibarkan bendera putih.
“Aku akan membawanya besok. Jika setelah membacanya kau masih merasakan hal yang sama, aku tak akan mengatakan hal itu lagi.”
Duh aku mengeluh. Untuk mengatakan kebenarannya, hal ini tak dapat dihindari. Akhirnya, aku mengeluh lagi, ini berarti aku kehilangan kesempatan untuk meminta Klub Manga menjual antologi Hyouka.
Lalu aku menyadari, “Ada apa ini?”
Ruangan tiba-tiba penuh dengan orang. Sesaat yang lalu hanya anggota Klub Manga, dan sekarang penuh dengan pelanggan. Huh? Mengapa? Kapan mereka datang? Mungkinkah mereka datang saat melihatku berdebat?
Saat aku melihat pelanggan, mereka menghindari tatapanku, dan walaupun bisa dimaafkan, mulai membeli Zeamis. Setiap tumpukan terdapat 10 copy. Aku juga melihat dua tumpukan Zeamis telah terjual dan Ketua Yuasa membawa tumpukan baru untuk restock lagi.
Erm, aku...
Dengan mengambil nafas dalam, aku memberikan sebuah senyuman dan, “Selamat datang.”
Orang disekitarku melihat sekilas ke arahku dan kembali lagi. Mungkin aku mengatakannya dengan kasar, dan mungkin mereka menganggap aku berbahaya?
Jika ini sebuah manga, maka sudah melekat di dalam kepalaku.

***
Text Box: Pertunjukkan saat ini:
Pertarungan Para Gadis!
Dalam perdebatan Teori Manga
(Jiangshi vs Hermaphrodit)



... aku penasaran poster ini tentang apa? Ditulis dengan besar dan font yang unik.
Setelah sesuatu terjadi, aku memutuskan untuk menuju Klub Penelitian Manga dan mengunjungi Mayaka-san, tapi aku heran dengan poster aneh diluarnya.
Apakah pertarungan pada gadis masih berlanjut? Aku mengintip kedalam, seorang gadis muncul dari balik pintu. Aku kenal orang ini; orang itu adalah Ketua Klub Manga, Yuasa Naoko-san.
“Um, apa ini?” Aku menunjuk poster dan bertanya.
Yuasa-san memberikan senyum sambil menurunkan posternya, kemudian dia kembali lagi kedalam membuatku bingung dan menjawab, “Oh, kami baru selesai. Kami akan mengadakannya lagi besok jam 1 siang, jadi datanglah lagi. Klub Manga berharap semoga harimu menyenangkan.”
Aku mengerti.
Umm.
...Klub Sastra Klasik juga berharap semoga harimu menyenangkan.

***

Jam tangan menunjukkan pukul lima. Hari pertama akan segera berakhir.
Anggota Klub Sastra Klasik yang tersebar di lingkungan sekolah mulai kembali lagi ke ruang Geologi. Chitanda dan Satoshi sering bertemu sepanjang hari, ini pertama kalinya Ibara menunjukkan wajahnya disini sejak tadi pagi.
Saat waktu kosong, aku menaruh tumpukan cetakan Hyouka kedalam kotak dan menyimpannya agar tak terlihat. Sebagai orang yang menjaga kios, tidak terlihat bagus jika pelanggan melihat kami kesulitan untuk menjualnya.
“Jadi bagaimana menurutmu? Daya tarik penjualanku sedikit bekerja kan?” Satoshi bertanya.
Walaupun aku bukan orang yang optimis seperti dia, aku membalas seperti sikapnya, “Beberapa.”
“Eh, benarkah?”
Aku mengangguk. Kenyataannya begitu, saat Satoshi membuat pidato, beberapa pelanggan muncul. Dalam pemasaran, itu terdengar bodoh. Aku tidak tahu bagaimana rasanya bersenang-senang dalam kompetisi, tetapi usahanya tentu memberikan sedikit dorongan bagi penjualan.
Satoshi membuat pose kemenangan.
“Baiklah! Kita lakukan yang terbaik untuk besok. Kita akan mengikuti turnamen memasak yang diadakan oleh Klub Memasak besok pagi.”
Ibara bertanya acuh pada sikap gembiranya, “Pertama, kau membutuhkan tiga orang untuk membentuk sebuah tim?”
“Huh?”
Senyum Satoshi membeku.
“Tiga orang? Sungguh?” dia berkata sambil mengambil pamflet. Ini tidak bagus untuk seseorang dari panitia yang tidak menyadari acaranya.
Sementara, Chitanda terlihat sedikit sedih.
“Maafkan aku, aku...aku tidak bisa melakukan yang terbaik...”
“Jangan khawatirkan tentang itu.”
Jujur, aku tak berharap banyak darinya. Daripada tak ada harapan dari kemampuannya, lebih baik melakukan sesuatu dengan meminta izin khusus untuk membuat perubahan pada acara yang telah diputuskan. Dia menunduk, dia terlihat memikirkan sesuatu.
“Oh, tapi, aku melihat sesuatu yang membuat penasaran.”
Sesuatu, penasaran?
Aku merasa takut mendengar kata itu. Sewaktu-waktu gadis ini mengatakan “Aku sungguh penasaran tentang itu,” itu berarti sesuatu yang membuat kami tak bisa kembali. Untuk seseorang yang penuh dengan rasa penasaran, Chitanda tidak pernah merasa puas untuk mencari jawabannya.
Setiap waktu dia mengatakan “Aku sungguh penasaran,” Dia memberiku... maksudku, kami sedikit gempar... Ingatan itu mulai muncul di kepalaku.
Akan tetapi, ini bukan saatnya bagi dia untuk melakukan itu. Sekali dia mendapat sesuatu, mustahil untuk menahannya, tapi ini bukan berarti Chitanda membiarkan dirinya membabi buta. Dia bukan jenis orang kurang ajar yang mencari jawaban di balik bendera penasaran. Dengan cara yang sama, jika ada sesuatu yang harus diselesaikan, dia tidak memprioritaskan rasa penasarannya.
Walaupun menyadari bagaimana berbahayanya dia, dia mengarahkan pandangannya ke arah kotak tumpukan Hyouka.
“... Oh, bukan apa-apa. Aku tidak terlalu tertarik,” ucap gadis itu.
Itu sebuah pertolongan.
Akhirnya, Ibara sungguh terlihat cemberut. Walaupun biasanya dia tak seperti itu, dia tak akan membiarkan dirinya seperti itu, dia selalu terlihat ingin mengatakan apa yang ada dikepalanya, tapi kemudian menyerah melakukannya. Tanpa suara, bibirnya komat-kamit. Aku tak bisa membantu jika seperti itu.
“Ibara, apakah terjadi sesuatu di Klub Manga?”
Aku memutuskan untuk bertanya.
“Tidak.”
Dia terlihat kesal. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Dia tidak terlihat agak marah walaupun wajahnya tidak memerah.
“Jadi, Houtarou, berapa banyak yang terjual hari ini?”
Sejak dia bertanya, aku bersandar dibangku, “Tiga belas.”
Ini jawaban terbaik yang bisa kuberikan. Kami berniat menjual dua puluh empat eksemplar, seperti seorang figur yang mengesankan untuk hari pertama penjualan. Bagaimanapun juga, pertarungan sesungguhnya pada hari ketiga, hari Sabtu.
Aku lebih dulu tidak mengatakannya, karena tak ingin menderita karena sindiran Ibara, dan Satoshi menunjukkan wajah berapi-api sambil mengatakan “Sungguh?”
Dua hari lagi... Tidak seperti kami mencoba untuk bangkit dari semua dukungan yang kami dapatkan. Jika bisa kami mengharapkan sesuatu yang meledak untuk terjadi. Sekarang bukan waktunya bagi kami untuk mengharapkan keajaiban.
Bel berbunyi, hari pertama Festival Budaya SMA Kamiyama berakhir.

Hyouka Jilid 3 Bab 2-3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.