18 Maret 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 12 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 2
(PART 12)
(Translater : Setiawan Danu; Editor: Hikari)
Archer Merah —Atalanta—menarik dua anak panah ke dalam busur favoritnya, Touroplos. Dia tidak membidik ke arah jauh ke bawah, melainkan ke arah langit malam yang mana disinari cahaya bulan,
Sebuah hembusan dingin angin akhir musim dingin menerpa rambutnya, dan kemono-mimi1-nya bergerak-gerak.
Sudah waktunya.
“Dengan busur dan panahku, aku memohon dengan hormat meminta perlindungan kepada sang dewa matahari Apollo dan kepada dewi bulan Artemis.”
Dua anak panah tersebut mulai bersinar dengan indah. Noble Phantasm miliknya bukan busur miliknya ataupun anak panahnya yang sudah di tembakkan barusan. Noble Phantasmmiliknya adalah Teknik itu sendiri. Dalam menarik dan menembakkan anak panah dengan busurnya.
“Aku persembahkan kepadamu kekacauan ini—Phoebus Catastrope: Complaint Message on the Arrow!
Dua anak panah yang ditembakkan menembus melewati awan dan menghilang dari pandangan, meninggalkan garis berkilauan di belakang. Hal ini adalah sebuah sinyal untuk memulai pertarungan, sebuah tembakan pertama.
…. Panah-panah itu adalah sebuah keluhan terhadap dewa. Dewa matahari Appollo, dan dewi bulan Artemis. Mereka adalah dewa yang terhubung dengan matahari dan bulan secara langsung.  Apollo adalah dewa panah dan busur, sedangkan Artemis adalah dewi berburu.
Sebagai imbalan untuk permohonan perlindungan dewa untuk Archer, mereka menginginkan sebuah kekacauan. Dengan kata lain, perlindungan dewa mereka sama dengan sebuah kekacauan untuk musuh.
Seberkas sinar yang pucat yang mengisi langit malam, bersamaan dengan suara pelan seperti suara hujan. Namun itu bukanlah hal yang sederhana seperti berkah hujan. Para dewa menginginkan sebuah pengorbanan, dan menyebarkan sebuah hujan deras dengan nama ‘bencana’.
Panah-panah cahaya menghujani dari langit, dan para Homonculi tertembus dan terbunuh oleh panah-panah itu satu-per satu. Bahkan Golem yang terkuat mendapati tubuhnya remuk oleh panah yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Para Servant Hitam dengan alami menghindar, menahan, dan menangkal hujan panah-panah tersebut, namun garis pertarungan mereka masih saja jatuh tidak beraturan.
Melihat adegan suram itu dengan ekspresi yang tenang, Archer Merah menoleh dan berbicara.
“— dengan ini serangan pembukaan selesai. Waktunya untuk pergantian, Rider!”
“Baiklah!”
Rider menepuk lututnya, dan berlari dengan wajah yang bahagia, melompat dari Taman Gantung. Dia bersiul, dan sebuah kereta (chariot) dengan tiga tunggangan membelah melalui langit dan menangkap Rider yang sedang terjun.
Dia meraih tali kekang kendali dan menyentakkanya sekali. Ringkihan dari kuda yang berotot bergema di atas langit medan pertempuran.
“Sekarang, pertarungan dimulai! Aku, Rider Merah, akan membelah barisan depan musuh.”
Berkata demikian, Rider turun ke bawah tanah. Para Homonculi dan Golem berdiri menghalangi jalannya. Namun, keduanya, Homonculi yang dikhususkan untuk pertarungan, berton-ton beratnya satu Golem hancur berkeping-keping setelah dilewati oleh kuda abadi yang telah diberikan sebagai hadiah oleh dewa lautan, Poseidon.
Kereta kuda yang besar sangat cepat seperti peluru dan dapat meninggalkan bekas di tanah saat dilewatinya. Kereta kuda milik Rider Merah memporak-porandakan medan perang dengan hanya menaikinya saja.
“Keluarlah, Archer Hitam! Perlihatkan kekuatanmu pada kami! Jika kau berpikir dapat menghentikan kereta kuda ini, cobalah!”
Tidak ada seorang Servant pun yang menanggapi provokasinya, hanya para Golem saja.
Tiga Golem melangkah di depan para kuda yang sedang berlari. Mendecitkan lidahnya, Rider Merah lebih memilih menabrak mereka, seperti hal yang wajar.
“Minggir, makhluk-makhluk lemah!”
Pada kata-katanya, Caster Hitam yang mengamati medan pertempuran dari kejauhan, bergumam.
“—sekarang. Aku penasaran seberapa jauh lagi benda itu bisa maju, Rider Merah.
Dengan cepat kereta kuda milik Rider menghancurkan mereka, tiga Golem tercerai-berai. Tidak mepedulikan serangan kejutan dari Rider, tiap Golem merangkulkan dirinya ke kaki-kaki kuda, dan dengan cepat mengeraskan diri mereka.
Meskipun meneruskan serangan gilanya, kereta kuda milik Rider Merah akhirnya berhenti. Melihat hal itu, para homunculi mengayunkan tombak yang dipegangnya dan melompat kearahnya secara bersamaan.
“Dasar tidak sabaran—“
Memindahkan tangannya dari tali kekang, Rider Merah mengambil sebilah pedang dari sarungnya, yang berada di pinggangnya dengan satu tangan, dan mengayunkan pedang pemotong tombak kesatrianya sambil melompat dari atas bagian pengendara.
Perkelahian kecil itu hanya belangsung sekejap. Saat itu, Rider mengambil seluruh nyawa setiap Homonculi yang menyerangnya. Darah menyembur keluar dan jatuh ke tanah seperti hujan.
Kesempatan terbuka.
Ada seorang Servant yang melihat sebuah kesempatan. Tubuh Rider bereaksi terhadap niatan membunuh yang sedang diarahkan kepadanya. Namun, darah para Homonculimenghalangi  pandangannya. Melewati celah para mayat, sebuah panah ditembakkan kearah leher Rider.
“…Kuh.!”
Meski reaksinya terhenti sebentar , Rider Merah, pengamatan cepat dan kelincahannya memperbolehkanya menjatuhkan panah itu dengan pedangnya. Namun, dia tidak dapat menjatuhkanya dengan sempurna, dan bahkan ketika arah lesatanya sudah dialihkan, panah itu masih bisa menggores lehernya.
Darah merah menetes dari lehernya. Dia terkejut karena dia telah terluka dan membuatnya merasa kegirangan daripada merasakan penghinaan.
Benar, ada seorang servant diantara para Servant Hitam yang dapat melukainya—Archer!
Berdiri di belakang kemudi, Rider dengan lantang berteriak dengan postur megah dan mengesankan.
“Di mana Archer Hitam!? Aku dattang untung melanjutkan pertarungan kita yang tertunda! Mari kita saling membunuh satu-sama lain dengan sepenuh hati malam ini!”
Sebagai ganti dari jawaban, panah lain telah ditembakkan ke arahnya. Namun itu adalah hal yang mudah untuk menjatuhkan panah itu selama pandanganya tidak dihalangi.
“Di mana kau, Archer hitam!?”
“—Aku sangat dekat dari apa yang kau pikirkan.”
Dengan cepat Rider menoleh,  Archer, yang selama ini bersembunyi di belakang golem, menembakkan lagi panah lainnya sambil menyembunyikan dirinya, kecuali busur dan panahnya dari pandangan. Karena mengandung sedikit Mana di dalamnya, panah ini sangat cepat daripada yang sudah dia tembakkan sebelumnya—!
“Guh…!?”
Panah itu diarahkan ke arah wajahnya—lebih tepatnya , ke arah mata kanannya. Rider mengangkat pedangnya dan menggunakan bilahnya untuk menjatuhkan panah itu. Karena hal itu, pandanganya terhalangi sesaat. Mengambil kesempatan itu, Archer berlari dan bersembunyi di belakang Golem yang berbeda, dan kemudian menembakkan panah selanjutnya.
“Brengsek kau…!”
Archer tidak pernah menampakkan dirinya, dan terus menembakkan panah terus menerus ke arah Rider sambil berlari dan menyembunyikan dirinya di belakang para Golem.
Archer berniat memancingnya.
Sedikit-demi sedikit, para Golem bergerak menjauhi wilayah tengah medan pertempuran. Aku mengertiRider berpikir dan mengerti. Jika Rider merah dan kereta kudanya masih berada di medan pertempuran, itu akan menjadi pertempuran yang menyulitkan bagi fraksi Hitam.
Normalnya, dia bisa saja mengabaikan Rider. Keadaan di dalam hutan adalah tempat yang tepat bagi seorang pemanah. Dia dapat bersembunyi dimana saja dan menembakkan panah. Dan sebaliknya, bertarung di dalam hutan sangat berakibat fatal bagi Rider. Karena, dia tidak bisa menggunakan kereta kudanya di dalam hutan.
….namun hal itu terbatas bagi Servant kelas Rider yang normal. Setidaknya, melakukan hal itu adalah sebah kesalahan jika berhadapan dengan Rider Merah.
Meamang benar, Rider diperkuat dengan kekuatan yang luar biasa jika dia menaiki kereta kudanya. Sangat sulit untuk menghentikan laju kereta kudanya, yang berkendara secepat petir. Satu dari tiga tungganganya adalah kuda terbaik dan terkenal, namun dua yang lainya adalah kuda dewa yang diberikan oleh dewa lautan Poseidon.
Oleh karena itu, jika tujuannya adalah untuk mengalahkan musuh yang berada di medan pertempuran dan menang, jawaban yang tepat untuk provokasi dari Archer adalah mengabaikanya, menebas Golem yang mengnempel di keretanya, dan melanjutkan memporak-porandakan musuh.
Namun pada rencana yang logis pasti terdapat kecacatan. Apakah itu benar untuk siapapun memanggil dirinya sendiri sebagai seorang kesatria, dengan memilih keputusan untuk melarikan diri dari sini?
Tidak, sudah pasti tidak. Demi kehormatan ayahnya yang seorang pahlawan besar, dan ibunya yang seorang dewi, dan teman abadinya yang berbagi suka dan duka dalam hidupnya, dia tidak bisa melarikan diri.
Sambil berteriak  “Tunggu!”. Rider meninggalkan medan pertempuran mengikuti Archer. Dia mengembalikan kereta kudanya ke dalam bentuk rohnya dan menuju ke dalam hutan dengan kedua kakinya. Dia tahu bahwa Archer Hitam sedang menertawakan dirinya. Karena, Rider sendiri membiarkan dirinya terpancing ke dalam wilayah yang menguntungkan musuhnya, dan membuang keuntungannya sendiri.
….benar, sampai sekarang pun, Rider belum mengetahui siapa sebenarnya Archer. Hal ini, dia pikir dia tidak tahu siapa identitas ArcherMungkin dia harus lebih sedikit perhatian dan memikirkan bahkan untuk kemungkinan terburuk.
Namun itu sia-sia. Tidak ada perbedaan dia tergoyahkan sebelum atau sesudah Hal itu terjadi.
Rider tidak gagal untuk mendengarkan sebuah tali busur yang ditarik untuk mempersiapkan tembakan selanjutnya, dan memeriksa seluruh sekitarnya dan berkonsentrasi. Dia memang dapat merasakan keberadaan seorang Servant, tapi tidak bisa mengetahui keberadaanya dengan pasti. Yang dia tahu hanya bahwa dirinya berada dalam jangkauan tembakan milik Archer.
Rider bersumpah pada dirinya sendiri bahwa tidak akan mengalami penderitaan yang sama seperti terakhir kalinya. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba dia menginjak cabang yang mati. Dengan cepat suara ranting yang patah  bergema di seluruh penjuru hutan yang senyap—sebuah anak panah di tembakkan.
Aku sudah memprediksi sesuatu seperti itu.
Dia memukul panah dengan ujung gagang tombaknya. Rider sudah dapat membaca lewat lintasan arah panah milik Archer. Hal ini hasil dari ketenangan yang diulang dalam pertarungan sebelumnya di dalam kepalanya, dan memikirkanya bagaimana dia bisa mengimbangi gerakan Archer.
“Jangan kira kau dapat mengenaiku kedua atau ketiga kalinya, pemanah! Kali ini, aku yang akan…. Mendekatimu!”
Hanya butuh waktu yang singkat baginya. Dia melompat dan maju lurus dengan menendang cabang-cabang pohon terdekat. Kekuatan fisiknya sangat tidak normal, namun itu hal yang wajar bagi seorang Servant. Tapi, bahkan dia adalah seorang Servant, kecepatannya sangat menonjol.
Dengan kecepatan setara dengan gerakan super cepat dan tidak khawatir akan halangan yang akan menghalangi dirinya, Rider beradu cepat menuju dimana panah itu di telah tembakkan.
Tiba-tiba terdengar suara-samar-samar. Nampaknya musuh telah berpindah tempat juga. Archer bersembunyi di antara pepohonan, mencegah Rider menemukan keberadaannya bahkan untuk penampakan samar-samarnya. Jika Archer Merah berada pada posisinya, dia dapat mencium bau dari musuh untuk mecari jejaknya, namun penciuman Rider tidak begitu akurat seperti kepunyaannya.
Panah-panah ditembakkan ke arahnya secara beruntun…. Lintasannya mudah sekali di baca, dan  terlihat hanya diarahkan ke sembarang tempat. Rider tertawa mengejek dan menjatuhkan panah-panah itu dengan tombaknya. Hal itu sangat mudah baginya untuk menahan dan menghindari lesatan panah yang ditembakkan. Rider merasa telah memojokkan musuhnya.
Pada tembakan selanjutnya. Segera setelah panah ditembakkan, Rider akan memojokkannya…
Tembak, Tembak, Tembak, cepat tembak!
Permintaan Rider terkabul. Dia meraih panah selanjutnya segera setelah ditembakkan, dengan tawa, membawanya mendekati Archer.
“Aku mendapatkanmu!”
Archer Hitam seharusnya terkejut. Tidak, dia tidak terkejut sama-sekali. Archer sudah benar-benar terpojok, dan kemungkinan serangannya telah dihentikan, dan akhirnya membawa dirinya sendiri di dekati pada jarak yang sangat fatal bagi seorang pemanah.
Namun, pria itu sangat tenang dan membuat Rider merasa khawatir. Dia bahkan tersenyum ke arah Rider yang berjarak sangat dekat dengannya.
—Tunggu sebentar.
—aku telah mengenal orang ini sebelumnya.
Tidak, aku juga pernah berbicara denganya, belajar darinya, dan berbagi tempat tidur dan makanan denganya….
“K————kau”
“Benar, itulah titik kelemahanmu.”
Archer Hitam mengatakanya dengan suara yang pelan dan menendang orang yang berada di depanya tepat di Solar Plexus (TN: area sekitar dada). Tubuh Rider melayang mundur melewati udara. Mendarat di tanah, Archer mempersiapkan panahnya di busurnya dengan gerakan yang halus—dan menembakkanya.
“….Kuh!!”
Rider mengerti bahwa panah itu di arahkan ke titik vitalnya. Dan dengan cepat dia memaksakan seluruh saraf yang ada di seluruh tubuhnya. Dia memutar tubuhnya dan membengkokkan sendinya hingga sampai batasnya, mencoba untuk setidaknya mengubah arah lintasan panah itu.
—dia berhasil.
Alih-alih titik vitalnya, panah itu menembus sisinya. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuh Rider, namun dia mengabaikan rasa sakit itu. Orang yang berdiri di depanya lebih berbahaya lagi.
Semua misteri yang menyelubungi Archer Hitam sudah jelas. Sangat normal keahliannya bisa setara dengan Archer merah—Atalanta. Karena, dia dulunya seorang guru bagi para pahlawan termasuk Rider sendiri.
Rider mencabut panah yang menancap di sisinya dan membuangnya sambil dia berdiri. Archer tidak bergerak sedikitpun sambil dia memegang busurnya, menunggu Rider berbicara.
“—kenapa anda1 disini.”
“Pertanyaan yang bodoh. Aku telah dipanggil sebagai Archer hitam dalam perang suci kali ini. Dan kau dipanggil sebagai Rider Merah. Masing-masing dari kita terikat harapan dan penyesalan. Itulah alasanya kita berada di sini. Kau dan aku.”
“….”
Mata Rider melihat ke bawah dan masih terdiam. Archer mendesah dan  memarahinya.
“Kau benar-benar sangat lembut. Bagian itukah yang belum hilang dari kehidupanmu yang sebelumnya? Kau selalu mengeluarkan seluruh kekuatanmu pada orang yang kau anggap musuh, tapi kau selalu lembut terhadap orang yang sudah kau kenal sebagai ‘orang baik’ saat dia berhenti menjadi sekutumu. Itu menjadi hal yang dikagumi sebagai pahlawan. Tapi ini perang Holy Grail— tidak ada ruang untuk perasaan mengasihani semacam itu. Bahkan seseorang yang disebut sebagai pahlawan sepertimu mengerti hal itu kan?”
Kau mengerti, iya  kan, Achilles?
Archer membicarakan nama Asli dari Rider. Pemuda itu dikenal sebagai Achilles mengangguk sekali dengan sikap hormat, seperti seorang murid yang menerima sebuah pelajaran.

TN: 1 saya menggunakan kata ”anda” atau kata-kata sopan lainya karena sebagai rasa hormat Achilles ke Chiron gurunya.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 12 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.