21 Maret 2017

Date A Live Jilid 12 Bab 4 LN Bahasa Indonesia


WAKTU PESTA
(Translater : Ilham)

Bagian 1
“A…………..”
Di dalam fasilitas misterius yang berada di hutan yang cukup jauh dari kota Tenguu. Ellen membuka lebar matanya di tanah tinggi yang bisa memberikannya pemandangan yang bagus untuk mengamati pembacaan Reiha yang aneh.
Namun itu normal saja. Itu karena, tim garis depan yang berisi 20 <Bandersnatch> yang menyerang fasilitas itu, semua hancur oleh tembakan cahaya yang keluar dari fasilitas itu.
“…….tim <Bandersnatch> sudah musnah…….!”
“Pe-pembacaan Reihanya sangatlah besar…..!”
Suara seorang operator datang dari peralatan komunikasi di CR-Unitnya. Kedua alis Ellen mendekat karean benci-----namun, *Fuuun* dia mendengus untuk menyadarkan kembali kesadarannya.
“………Begitu. Ini bukanlah fasilitas biasa”
Dia mengatakannya selagi melipat tangannya dan senjatanya berdenting.
Saat ini, Ellen saat ini tidak sedang mengenakan mantel yang dia pakai sore tadi, dan sedang mengenakan CR-Unit platinum <Pendragon> yang dinamakan seperti nama seorang raja.
Itu adalah pakaian dan senjata terkuat untuk Wizard manusia terkuat-Ellen. Tidak ada musuh yang Ellen bisa tangani saat dia mengenakan armor ini. Apalagi, Itsuka Shidou yang bahkan bukan Wizard; dia berhasil membuatnya bertekuk lutut tanpa menggerakkan jarinya sama sekali.
“………………..”
Di saat dia memikirkannya, dia mengingat kesalahan yang dia lakukan sore tadi. Ellen menekan sikunya dengan kesal sebelum memerintah tim <Bandersnatch>.
“Gelombang kedua, bersiap. Aku berikutnya akan menyerang mendadak, berhati-hati dengan serangan udara”
“Ya!”
Balasan operator bergema untuk merespon perkataan Ellen; kemudian tim <Bandersnatch> yang bersenjata yang berdiri di sebelahnya mulai terbang ke langit berurutan.
Tapi---saat itu.
“…………!?”
Baru saja melihat sinar cahaya yang muncul di pandagannya, 3 kepala <Bandersnatch> langsung melayang setelah mereka berangkat.
“Ini-----“
Setelah bergumam, dia setengah sadar meletakkan tangannya di pegangan pedang laser berenergi tinggi <Caledfwlch> yang ada di belakangnya. Dia kemudian mengeluarkannya dan di saat dia mengeluarkan pedang cahaya ajaib, dia mengayunkannya ke arah bayangan yang muncul.
Dalam sekejap, cahaya ajaib yang kuat menggesek sekitarnya.
“----Mana”
“Seperti yang diharapkan dari Ellen. Kau tidak akan bsa dikalahkan semudah itu huh”
Setelah Ellen menyebut namanya, perempuan yang tiba-tiba muncul disana, *nii* menggerakkan ujung bibirnya dan terbang di belakang.
Dia adalah perempuan muda dengan gaya rambut diikat. Tapi, CR-Unit hitam biru yang dia kenakan menunjukkan sejarah luar biasa yang dia pegang.
Takamiya Mana. Adik kandung Itsuka Shidou dan mantan Wizard nomor 2 di DEM.
“Aku tidak pernah membayangkan kau akan muncul”
“Tidak mungkin aku akan diam saat aku diberitahu bahwa Onii-sama sedang dalam masalah besar. Maaf tapi, ini tidak akan berjalan sesuai rencanamu sekarang aku ada disini, Ellen”
Mana mengatakannya dengan profokatif. Ellen menggerakkan alisnya dengan tidak nyaman.
“…….saudaramu, benar-benar tahu caa membuatku tidak bahagia.--------ini tidak bisa membantu jika aku mengatakan ini sekarang tapi, aku tahu aku harus membunuhnya saat itu. Serius, hobi Ike memang sulit untuk ditelan”
Setelah Ellen mengatakannya, Mana dengan curiga mendekatkan kedua alisnya.
“………saat itu? Apa yang kau bicarakan?”
“Yah, siapa tahu”
“Fuun……..ya sudah. Omong-omong, aku tidak akan membiarkanmu lewat”
Setelah mengatakannya, Mana menunjukkan pedang yang dia gunakan di tangan kanannya ke arah Ellen.
Ellen sedikit mendengus sebelum menunjukkan <Caledfwlch> ke arah Mana dengan penuh balas dendam.
Bagian 2
Ini terjadi setelah Yoshino berhasil membuat Shidou jatuh padanya. Setelah serangan <Bandersnatch> dan Ougi Shidou – Roaring Flash Blast Waveeeeeeeee!, para Roh saat ini sedang mengadakan pertemuan mendadak di sudut fasilitas kolam renang indoor yang bisa hancur kapapun.
“----Baiklah, ada beberapa gangguan tapi, penaklukan Yoshino sudah selesai. 4 orang tersisa!”
Di saat Kotori mengatakannya, para Roh yang lain [Oooh] bersemangat.
“Umu, semua hal tidak berjalan sesuai rencana”
“Tapi, masalahnya dimulai disini. Jika kita lihat dengan sudut pandang yang lain, kita masih setengah yang tersisa. Selain itu, Ellen Mathers masih disini di atas langit. Aku sudah ada kelompok untuk menanganinya jadi kita tidak bisa mengharapkan bantuan apapun lagi”
“Uuun, itu juga masalah tapi, bahkan sebelum itu----“
Dan, Miku meletakkan satu jarinya di dagunya selagi melihat sekitar.
“Yah kau tahu, ini tadinya surga negeri selatan, ini seperti medan perang sekarang………….bagaimana kita membuat darling berdebar di lokasi seperti ini”
Apa yang dia katakan benar. Fasilitas spesial <Ratatoskr> yang disiapkan melalui banyak masalah, dihancurkan oleh serangan DEM. Ini bahkan bukan waktunya untuk membuat Shidou jatuh cinta pada mereka karena mereka berada pada situasi dimana dinding-dinding mungkin saja berhancuran suatu saat.
Tapi, Kotori menggelengkan kepalanya agar mereka tidak khawatir.
“Tenang. Aku sudah menyiapkan sesuatu mengenai hal itu.------Aku baru saja menyiapkan rencana kedua jadi, persiapannya harusnya sudah siap”
“Kedua……? Apa itu?”
Tohka bertanya dengan ragu. Tidak, Tohka bukan satu-satunya. Roh yang lain juga terlihat tidak mengerti sama sekali.
“Perhatikan”
Setelah Kotori meletakkan jari tangan kanannya ke dalam mulutnya, doa *piiiiiiiiiiii* bersiul.
Sebagai responnya, dinding bangunan *Gogogo*…….mulai bergetar.
Semuanya, walau serangan dari atas dimulai lagi tapi, mereka langsung menyadari ini berbeda dari yang sebelumnya. Mereka melihat ke sekitar tanpa henti dan semuanya berekspresi terkejut. Itu biasa saja. Itu karena, dinding yang menunjukkan langit biru berubah bentuk, akar logam yang mengenai pohon-pohon palem yang memberikan suasana selatan sedikit berubah, air kolam mengguyur dalam jumlah yang besar, dan seluruh permukaan tanah menyusut seperti elevator.
“Oo…………oooooooohh!?”
Saat tanahnya merendah beberapa meter, langit-langitnya tertutupi dengan penutup besar seperti tempat pengungsian; pantai yang berpasir terbelah dan karpet merah muncul.
Bukan hanya itu. Dengan suara mesin yang keras, cahaya yang terpasang, meja muncul dari tanah, dan perhiasan yang megah terbentuk satu demi satu. Berikutnya, muncul pakaian ekstra dengan tuxedo dan gaun malam; beberapa instrumen yang dimainkan, beberapa meja yang dilayani, dan beberapa mulai berkembang di tempat dengan topik sosial yang tinggi.
Tanpa menunggu satu menit pun, mereka berhasil mengubah tempat ini menjadi ruang pesta yang megah.
“A-Apa ini!?”
“Hoiuuuu……….! Ini cukup mewah. Dan perasaan mecha ini…………ini cukup menyenangkan!”
“Setuju. Berubah menjadi romansa”
“……….Uwa, luar biasa. Ini juga dilakukan tanpa kemampuanku………..”
Masing-masing Roh menggambarkan keterkejutan mereka masing-masing.
Tapi, ini masih belum cukup. Pakaian renang para gadis tidak cocok dengan tempat mewah ini.
“-----tim busana!”
“Siap melayani anda!”
Setelah Kotori berteriak, beberapa staff perempuan berlari ke arah para Roh.
“A-Apa yang kau lakukan!?”
“Kemari, jika kau tidak keberatan”
Para staff perempuan membimbing para Roh ke sisi lain dari gorden yang dipasang di ujung ruangan.
Dan beberapa menit kemudian.
Para Roh dengan gaun yang indah muncul di ruangan pesta, di saat gorden dibuka.
“Ooh, ini!”
“Ini……….Luar biasa”
“Kyaaa! Semuanya terlihat luar biasa!”
Miku memutarkan pinggulnya selagi melihat penampilan semua orang.
Kotori menjulurkan tangannya dan berteriak keras.
“Saksikanlah, rangkaian kedua untuk menaklukan Shidou, gaya elegan! Baik semuanya; ayo kita buat Shidou jatuh cinta pada kita dengan menunjukkannya perilaku elegan kita!”
Semuanya menaikkan tinju mereka [Oooooh!]. Itu tidak termasuk dalam kategori wanita feminim tapi, yang penting sekarang ada menyelamatkan Shidou, bukan perangai yang rinci.
Kotori meletakkan tangannya ke pinggulnya dan mengsingsingkan dadanya.
“Baiklah.----kalau begitu, aku akan menunjukkan contohnya sekarang”
Saat Kotori melambaikan roknya, semuanya mengangguk.
Origami memberikan jempolnya pada Kotori.
“Semoga beruntung”
“Ya, terima kasih”
Setelah Kotori berjalan selagi sepatu hak tingginya membuat suara yang berbentur dengan tanah, dia kemudian berdiri di depan Shidou.
“Oh, kau akhirnya tampil juga huh, nona Komandan”
Shidou mengatakannya selagi tersenyum. Kebetulan, Shidou merubah pakaian renangnya tadi menjadi tuxedo yang bergaya.
Kotori melipat tangannya dan *Fuun* mendengus.
“Ya. Aku pikir aku akan membuat Shidou menjadi salting dengan ruang pesta yang tidak biasa”
“Oh baik baik”
Shidou mengangkat bahunya sembari bersenda gurau.
“Jadi, apa yang akan Kotori lakukan?”
Dia kemudian mengatakannya dengan menggelikan. Kotori melepaskan lipatan tangannya sebelum mengangkat tangan kanannya ke atas kepalanya *pachin!* dan menjetik degan baik dengan jarinya.
Untuk menyamainya, para musisi yang memainkan instrumen mereka di dalam ruangan pesta, mengubah musiknya menjadi sesuatu yang anggun.
Para anggota organisasi, yang berbicara dengan senang di sekitar, dengan natural membentuk pasangan sebelum mulai berdansa dengan nada. Shidou terkejut membuka lebar matanya saat dia melihat sesuatu yang seperti adegan sebuah film yang tiba-tiba terbentuk.
“Oooh, sekarang itu luar biasa. Ini benar-benar terlihat seperti pesta”
Matanya bersinar dengan polosnya saat dia mengatakannya. Kotori menghela nafas lelah selagi melihat Shidou.
“Shidou”
“Hn, apa?”
“------Jangan bilang kau ingin membuat perempuan yang mengatakannya dalam situasi ini?”
Setelah mengatakannya dengan setengah matanya terbuka, Shidou langsung sedikit tersenyum seolah dia mengetahui apa yang dimaksud Kotori.
“Aah……benar”
Dia kemudian meminta maaf pada Kotori selagi menjulurkan tangannya.
“Hei cantik. Maukan kau berdansa?”
“Anak baik”
Setelah Kotori menjawabnya dengan bibir santainya, dia membengkokkan pinggulnya dan menggenggam tangan Shidou.
Mereka kemudian melihat satu sama lain sebelum berjalan ke arah area dansa dimana semuanya berdansa disana.
Tapi, tepat saat mereka berdua sampai di tengah ruangan, Shidou berbicara padanya.
“Kalau begitu Kotori. Aku punya satu masalah walau kita sudah disini”
“Apa”
“Onii-chan tidak punya kemampuan berdansa”
“…………….”
Yah, itu normal saja. Walaupun perkataan dan tindakan Shidou cukup playboy karena demam dan Reiryokunya, tidak mungkin dia bisa menampilakn sesuatu yang tidak dia ketahui.
“Tidak apa. Aku sudah mengiranya. --------pertama, perlahan genggam tangan kananku dengan tangan kirimu”
“Seperti ini?”
“Ya. Setelah melakukannya, lingkarkan tangan kanan kita di sekitar pinggulku”
“Aku mengerti”
Setelah Shidou mengangguk, dia memanjangkan tangan kanannya pada pinggul Kotori. Namun, *poke**poke**poke*…………jarinya berjalan pada punggung Kotori saat dia melakukannya.
“Kyaa!?”
“Ahaha, teriakan yang bagus, Kotori”
“………kau”
Kotori menatap Shidou dengan pipinya memerah. Shidou tertawa riang.
“Maaf maaf, jangan menatapku seperti itu”
“…………Seriusan. Aku akan memimpin jadi, bergeraklah berdasarkan nadanya”
“Aaah, aku mengerti”
Shidou sedikit mengangguk dan menampilkan gerakan selagi merasakan gerakan Kotori dengan musik.
“Ya, lakukan dengan ritme. Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga”
“Oi oi, jangan terlalu maksa. Aku mengerti betapa inginnya kau selalu dekat denganku”
“Si-siapa yang! Lupakan, ayo, ambil langkahnya!”
Kotori berteriak dengan wajahnya yang memerah……….yah, memang benar bahwa dia harus mendekatkan tubuhnya pada tubuh Shidou karena itu cara untuk membuat Shidou berdebar tapi-------entah kenapa memalukan jika dia mengatakannya seperti itu.
Namun, menjadi gugup merupakan kesalahan baginya. Kotori bertingkah tenang dan mendorong tubuhnya lebih dekat dengannya. Dan selagi merasakan nafas satu sama lain, mereka berdansa di sekitar ruangan pesta dengan nada elegan.
Walaupun pada awalnya canggung, langkah Shidou mulai berani; mungkin karena dia mulai terbiasa.
“Ya ya, kau belajar cepat ya”
“Haha, sepertinya guruku memang bagus?”

“Ya, kau benar. Tidak ada alasan lain”
“Kau tidak benar-benar merendah huh”
Selagi bercanda seperti itu, Shidou menatap mata Kotori.
“Tapi, aku sedikit terkejut. Kapan kau mempelajari ini semua?”
“Ini adalah etika wanita. Laki-laki membuat hasil yang mencengangkan setelah 3 hari………..orang bilang begitu tapi, bukankah kau pikir itu berlaku untuk wanita juga?”
Setelah mengatakannya, Kotori melihat ke atas seolah memprofokasi Shidou.
“Bahkan aku tidak akan menjadi anak kecil selamanya.-------terus membuang waktu dan aku akan meninggalkanmu dalam debu kau tahu, Onii-chan
“-----------“
Shidou menelan ludah dengan mata terbuka lebar setelah mendengar perkataan Kotori.
Dan setelah sesaat, dia menedegus seolah dia tidak menahan tawanya lagi.
“Hahaha……..aku menyerah. Aku tidak pernah mengira Kotori akan membuatku berdebar dengan cara seperti ini”
“Itu kata-kata yang menarik keberanian……….tunggu, Shidou, apa kau bilang?”
Kotori tidak sengaja berhenti berdansa dan bertanya lagi. Saat ini, Shidou mengatakan sesuatu yang tidak dapat dia lewatkan.
Di saat yang sama, kegembiraan bergema dari Incam sesaat kemudian.
Bukan berarti dia tidak mendengarnya tapi, setelah Shidou tersenyum santai, dia mengulang apa yang dia katakan tanpa mencoba melepaskannya.
“Aah………….kau mengenaiku. Seperti yang diharapkan dari Kotori, aku kalah”
“…………….!”
Kotorilah yang tersipu malu setelah mendengar perkataan Shidou selagi dia melihat tepat ke matanya tanpa terlihat malu sama sekali. Kotori berpaling sedikit dan membusungkan dadanya.
“Fu-fuun…………ini normal. Membuat Shidou jatuh cinta padaku sama saja seperti membalikkan telapak tangan bayi”
“Aah, aku tidak pernah membayangkan Kotori akan membuat pendekatan yang dewasa. Aku kalah. Saat Kotori memintaku berdansa, aku pikir kau akan membuatku berdebar dengan menunjukkan gambar belakang celana dalammu setelah rokmu sepenuhnya terlipat saat kau jatuh berlebihan di tengah dansa”
“Itu terlalu bodoh kau tahu!? Lagipula, aku tidak lagi memakai celana dalam dengan gambar di belakangnya!?”
“Aku tahu. Cuman bercanda, bercanda”
Kotori mengatakannya selagi tertawa. Kotori [………Seriusan] menghela nafas.
“……….Lagipula, kau berdebar, maksudnya aku berhasil kan?”
“Ya, tentu saja.-----Aku menanti sampai tengah malam, Cinderellaku”
Setelah mengatakannya, Shidou mencium punggung tangan Kotori. Kotori terkejut karena tindakan yang tiba-tiba itu.
“A………A………..!?”
“Hn? Bukankah wajahmu memerah. Hei Kotori-san dewasa, aku pikir kau tidak akan kebingungan dengan sesuatu seperti ini?”
“--------I-Ini terlalu jelas! Ini hanya salam, salam!”
Setelah Kotori pamer untuk menunjukkan kerasnya, Shidou menggerakkan bibirnya dengan lucu.
“Kau benar. Sekarang aku memikirkannya, kita sudah ciuman 2 kali jika kita menghitung 5 tahun yang lalu dan Juni tahun ini. Kau tidak akan panik dari sesuatu sekecil ini setelah semua itu kan?”
“Te-tentu saja. Kita…….sudah melakukannya 2 kali”
Bahkan selagi mengatakannya, Kotori merasa wajahnya menjadi panas. 2 kali. Ya. Kotori dan Shidou sudah berciuman 2 kali sebelumnya. Tentu saja, Kotori mengingatnya dengan jelas tapi sekarang dia sadar akan kebenaran itu lagi, jantungnya mulai berdebar tidak berdasarkan keinginannya sendiri.
Setelah Shidou tersenyum seolah dia melihat menembus detak jantung Kotori, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Kotori dan membisikkan sesuatu padanya.
“Kotori tidak akan menjadi anak-anak selamanya jadi………..ayo buat ciuman dewasa untuk ketiga kalinya”
“Heh?”
Suara Kotori terjatuh saat dia mendengar perkataan yang dia katakan selagi nafasnya menggetarkan telinganya.
“Ci-ciuman……dewasa……….?”
Giginya berhenti bergetar setelah begitu terkejut. -----Ciuman. Sebuah ciuman dewasa. Tidak, dia tahu kata-kata itu akhirnya. Dia tahu tentang apa itu. Tapi, ciuman yang dia lakukan 5 tahun yang lalu dan tentu saja setengah tahun yang lalu, pada akhirnya hanyalah bibir mereka bersentuhan jadi di suatu tempat di hati Kotori, dia tidak keberatan jika dia harus mencium Shidou pada tengah malam berbeda dari biasanya. -------Tapi, eh, dia bercanda, apa-apaan itu. Dewasa, tidak mungkin. Tidak, aku tidak melawannya tapi aku hanya belum siap secara mental, bagaimana mengatakannya-------
“-------Hamu”
Tepat saat kepala Kotori kepanasan, bibir Shidou tiba-tiba melahap telinga Kotori.
“Uhyaaaaa!?”
Dia meloncat karena tindakannya yang tiba-tiba. Shidou *ahaha* tertawa mungkin karena dia melihatnya melakukannya.
“Sepertinya, ini masih terlalu awal untuk Kotori huh?”
“Gu-guu……….”
Kotori menatap Shidou dengan marah tapi entah bagaimana dengan sikap lega.
Bagian 3
“Kotori-san! Kau berhasil!”
Setelah Miku menyambutnya dengan penuh semangat, Kotori, yang masih belum sembuh dari pipinya yang memerah, membalas dan sedikit mengangkat tangannya.
“…..Ya, entah bagaimana”
“Umu, kau hebat Kotori!”
“Itu adalah…..dansa yang indah”
“Hnn……Terima kasih”
Kotori sedikit mengangguk kepada semua Roh yang membicarakannya. Tapi,
“Tidak adil jika hanya Kotori yang mendapatkan ciuman dewasa”
Saat Origami mengatakannya dengan nada datar, wajah Kotori memanas seolah dia mengingat pertukaran yang dia lakukan dengan Shidou barusan.
“Se-seperti yang kubilang! Shidou mengatakan apa yang dia inginkan……..!”
“Baik baik, tenang. Lebih penting lagi, boleh aku berikutnya?”
Miku meletakkan tangannya pada bahu Kotori untuk menenangkannya (Tidak sengaja, dia sedang bernafas dengan liar di lehernya dan menepuk pantat Kotori) dan mengatakannya sebelum, Kotori [Hii] tersentak selagi matanya menyembul keluar.
“…….Y-ya, tentu saja. Aku tidak keberatan”
“Terima kasih banyak. Maka dari itu, ada sesuatu yang ingin kucoba jadi boleh aku memesan ini?”
Setelah Miku meletakkan tangannya di sebelah mulutnya seolah sedang mengobrol dengan rahasia, Kotori mendekatkan telinganya selagi dengan anehnya berhati-hati. Selagi berbicara dengan suara lembut, dia menjelaskannya padanya.
“……….dan itulah intinya”
“Begitu, aku mengerti. Aku akan menyiapkannya jadi berikanlah sinyal jika sudah waktunya”
“Baik! Terima kasih banyak”
Setelah Miku mengatakannya dengan semangat dia *fuu* meniup ke telinga Kotori.
“Ahyaaaaa!?”
“Ufufu, kalau begitu semuanya, aku akan pergi sekarang”
“Ke-kenapa kau………..!”
Kotori berteriak keras selagi menekan telinganya. Miku meletakkan tangannya di mulutnya dengan anggun dan membungkuk, dia kemudian berkedip kembali sebelum berjalan ke arah Shidou.
“---- Heeiii, terima kasih sudah memilihku, darling. Ini Mikumu”
Saat Miku mendekati Shidou, dia melambaikan roknya dengan berputar sebelum berpose selagi memantulkan payudaranya. Yah, bukan berarti dia dipilih secara khusus tapi, ini hanya untuk hawanya.
“Oh, berikutnya Miku huh. Haha, itu cocok denganmu”
“Terima kasih banyak. Ufufu, darling kau terlihat luar biasa. Tapi, bukankah kau berpikir kau akan terlihat bagus dengan gaun malam seperit milikku? Apa kau masih bisa menggunakan kekuatan Natsumi-san? Bagaimana dengan bersaing denganku setelah berubah menjadi Shiori-san!”
“Aah, sepertinya aku masih bisa melakukannya. Tapi, haruskah aku berubah? Jika Shiori mengenakannya, aku pikir Miku akan mimisan seperti air mancur kan?”
Shidou mengatakannya dengan sikap memaksa. Miku memutar tubuhnya secara refleks.
“Bodo amat. Ya! Bahkan jika aku sekarat karena kehabisan darah, aku tidak akan menyesali apapun jika hal terakhir yang aku lihat adalah Shiori-san dengan gaun malam! Dengan banyak ekspos punggungnya!”
Setelah Miku berpidato dengan semangat selagi matanya berkilauan, Shidou mengelus kepala Miku untuk menenangkannya.
“Haha, itu suatu kehormatan. Tapi, aku pasti akan dibunuh oleh teman-temanmu jika kita kehilangan idol luar biasa karena sesuatu seperti itu. Tidak-----sebelum itu, jika Miku benar-benar mati karean sesuatu seperti itu, aku mungkin tidak punya pilihan lain selain mengikutimu selagi menangis”
“Darling……….! Kau berpikir terlalu jauh untukku……….!”
Miku menutupi mulutnya selagi matanya menjadi basah setelah mendengar perkataan Shidou.
“…………ini terjadi setiap saat tapi, apa yang kau lakukan Miku?”
Tepat saat Miku sedang beremosi dalam, dia dapat mendengar suara dari incam di telinga kanannya. Miku berpaling dari Shidou sebelum membalas dengan suara lembut.
“Apa yang harus kulakukan Kotori-san? Untukku, dikubur bersama dengan darling benar-benar tak masalah untukku tapi, aku ingin darling menjalani hidupnya sepenuhnya. Tapi, aku tidak tahu jika kapasitas darahku bisa menangani dampak dari Shiori-san………”
“Seperti yang kukatakan, apa yang kau bicarakan!? Aku bilang kau kehabisan waktu”
Kotori memekik keras. Miku menggaruk pipinya.
“Hah, oh iya. Maaf Kotori-san. Hanya saja, aku entah bagaimana menjadi bersemangat setelah berbicara dengan darling versi manis”
“Serius………….tahanlah dirimu. Apa kau benar tak apa?”
“Ya, serahkan padaku. Baiklah, waktunya aku melakukannya”
Setelah Miku mengatakannya dengan suara lembut, dia tersenyum selagi melihat Shidou.
“Jadi begitulah, darling. Kita akhirnya punya waktu bersama tapi karena kita buru-buru, aku akan membuatmu jatuh padaku sekarang”
“Heee? Kau cukup pede juga ya. Apa yang akan kau lakukan?”
Shidou mengatakannya dengan menghibur. Setelah Miku membuka mulutnya selagi berputar, dia mengeluarkan suara keras.
“---Baiklah semuanya, aku mengandalkan kalian semua”
Merespon perintah Miku, para musisi dengan instrumen, perempua dengan seragam yang glamor yang semuanya berdiri di ujung ruangan semuanya muncul di panggung dan mic silver bersinar di tengah panggung.
Setelah Miku mengkonfirmasi semuanya, dia naik ke atas panggung selagi heelsnya membuat suara benturan, sebelum berdiri di depan mic.
Langsung saja, cahaya di ruangan meredup dan sebuah cahaya dipasang untuk Miku. Untuk menyamainya, para pengunjung di ruangan semua *Waa* menjadi hidup, dan menepuk tangan mereka.
Miku menunggu sampai tepukan tangan berakhir sebelum melihat ke belakang dan memberikan sinyal pada musisi di sana.
Para musisi kemudian sedikit mengangguk dan mulai memainkan jazz.
Miku menggerakkan tubuhnya berdasarkan ritme musik dan dengan mic berdiri di tangannya-----dia mulai menyanyi dengan suara yang manis.
“----------------“
Itu adalah nada dengan ciri khasnya. Itu adalah lagu berbahasa Inggris. Lagu ini benar-benar berbeda dari lagu yang Miku nyanyikan sebagai idol.
Namun, perasaan yang tertuang jelas berbeda.-----ini lagu yang sangat sangat manis dan indah.
Ya. Saat Miku memberitahu Shidou kalau dia akan membuatnya jatuh padanya, hanya satu cara untuk melakukannya.
Setelah Miku mengambil micnya, dia melangkah di panggung dengan gaya berjalan yang menawan; dia kemudian berjalan ke arah perempuan yang menari berdasarkan nadanya dan selagi mengelus dagu perempuan itu, dia melihat ke arah Shidou dengan profokatif.
Dan untuk menyamainya, sebuah cahaya jatuh pada Shidou. Shidou membuka lebar matanya dengan terkejut.
“Fufuu”
Setelah Miku tersenyum penuh karisma, dia turun dari panggung dengan nada dari band dan berjalan ke arah Shidou. Cahaya sorot jatuh ke arah Miku dan punggung para penari bergerak berdasarkan dirinya.
Dan saat Miku mendekati Shidou, dia menggenggam tangannya dan mengajaknya berkeliling. Shidou terlihat sedikit terkejut tapi, dia menyerahkan tubuhnya pada tangan Miku.
Tempat yang mereka tuju, adalah sofa besar yang entah disiapkan oleh siapa. Seolah sudut itu merupakan satu-satunya dengan udara bar.
Setelah Miku membuat Shidou duduk disana, dia dengan lembutnya duduk di pahanya dan selagi menampilkan gendongan putri, dia melanjutkan menyanyikan lagunya.
“---------------,----------“ Nafas manisnya tercampur ke dalam nada selagi dia mengelus pipi Shidou, dan mencolek hidungnya dengan jarinya. Shidou *haha* tersenyum kecut.
Ditambah, perempuan penari latar yang indah muncul di belakang dan disamping Shidou yang ragu. Jika ini dilihat dari samping, terlihat seperti pangeran yang boros entah dari mana, memanjakan diri dalam kemewahannya.
Namun, satu-satunya yang tidak terpengaruh dengan ini jelas adalah Miku. Selagi menyanyi di paha Shidou tercinta, dia dikelilingi oleh para perempuan cantik. Situasi sangatlah sebuah mimpi untuknya maka tidak mengejutkan jika dia langsung terbangun di kasur dalam sekejap.
“---------------“
Miku menyanyi dengan nada yang lebih seksi dari sebelumnya-----
Selagi menunjuk Shidou, [Bam] dia membuat gestur seolah dia menembak menembus hatinya.
“Darling------Aku mencintaimu”
Setelah mengatakannya, dia berkedip padanya.
“………………..!”
Di saat Shidou membuka lebar matanya---------keramaian bergema di telinga kanan Miku.
“Ufufu, sepertinya kau berdebar huh, Darling”
“Aah……………sepertinya begitu. Cukup mengesalkan bahwa aku terjatuh dalam pendekatan awal”
Shidou mengatakannya sembari tersenyum kecut. Miku tersenyum selagi menyentuh bibir Shidou dengan halusnya.
“Itu tidak benar. -----apa kau lupa? Aku onee-san lebih tua 1 tahun dari darling kau tahu? Aku pikir tak apa untuk dibully sekali”
Setelah Miku mengatakannya, Shidou mengangkat tangannya untuk memberitahu bahwa dia sudah kalah selagi tersenyum kecil.
Bagian 4
“……………..Haa”
Di tempat yang sedikit lebih jauh dari Shidou dan Miku, para Roh yang melihat kejadian tersebut semuanya menenangkan detak jantungnya masing-masing.
“Itu…….luar biasa”
“U-umu…………..”
“……..oh iya, Miku itu penyanyi. Aku pikir dia adalah monster yang akan menculik perempuan yang masih terus bangun larut malam”
“Natsumi-san…………….”
Yoshino tersenyum kecut setelah mendengar perkataan Natsumi. Kotori berbatuk untuk mengubah topik.
“Yah, dengan begini hasilnya 6 orang sudah berhasil. Tingal 2 lagi. Berikutnya-----“
“-------------Aku”
Origami mengangkat tangan kanannya sebelum Kotori dapat menyelesaikan kalimatnya. Wajah Kotori kemudian entah bagaimana menjadi khawatir tuk beberapa alasan.
“Origami huh………..un, aku tidak bisa menolak tapi, tolong hati-hati oke? [Berdebar] yang Shidou maksud adalah mengarah ke tindakan, perkataan dan gestur yang imut seorang perempuan jadi, sangat berbeda dari tiba-tiba telanjang dan menyerangnya oke?”
“Aku tahu”
“Juga, pada akhirnya ciumannya masih harus akan diselesaikan sebelum tengah malam oke? Akan jadi masalah jika Shidou lari jadi jangan coba-coba untuk menciumnya secara paksa oke?”
“Baik”
“Hanya karena ciuman bukanlah pilihan, jangan melakukan hal yang lebih tinggi dari ciuman oke?”
“……………………”
“Kenapa diam!?”
“Lelucon ringan”
“…..uuuunnnn”
Origami membalik ujung gaunnya dan berjalan ke arah Shidou setelah mengabaikan perkataan Kotori yang masih kesal.
Di tengah perjalanan, dia melewati Miku, yang terlihat enggan meninggalkan Shidou.
“Oh?”
Setelah Miku melihat Origami, “Semoga beruntung” dia mendoakan Origami dengan mengedip dan melambaikan tangan padanya.
“…………..”
Saat mereka saling melewati, *Pan* dia memukul tangan Miku seolah menerima batonnya. Mungkin Miku senang karena itu; dia [Kyaaaa!] memutar tubuhnya di tempat.
Setelah Origami berjalan ke depan selagi mendengar suaranya di belakangnya, dia mendekati Shidou yang sedang duduk dengan santai di sofa.
“-----Shidou”
“Aah, Origami. Heee, ini pertama kalinya aku melihatmu seperti itu”
Saat Origami berbicara padanya, Shidou dengan tuxedonya membalas sembari tersenyum. Ini sedikit luar biasa. Shidou memberikan imej netral yang kuat tapi, dia terlihat sedikit lebih dewasa dibanding biasanya karena seragam formalnya. Itu memberikan perasaan elegan dan lembut. Terlihat seperti serigala yang mempesona yang menipu gadis polos.
Origami setengah sadar menjelajahi tangan kanannya pada kakinya. Sebuah kamera digital kecil di dalam pengangan kaki di kaki kanannya. Tentu saja, itu sudah nyala. Dengan kemampuan Origami, dia dapat membuat data simpanan untuk Shidou dalam sekejap.
Namun.
“………..uh?”
Origami mengerutkan alisnya. Tangan kanannya yang menuju kakinya tiba-tiba terhenti.
Langsung saja, dia pikir ini adalah ulah Kotori yang mengikutinya, atau seorang anggota <Ratatoskr> tapi-----dia salah. Tangan yang memegang pergelangan tangan kanannya tidak lain adalah tangan kiri Origami sendiri.
Ya. Seolah sedang mencoba menghentikan tindakan Origami.
“Ini………….”
Wajahnya menjadi ragu melihat perkembangan yang aneh ini. Tapi, dia langsung mengerti alasannya. Pikiran yang tidak menyetujui tindakan Origami muncul di dalam dirinya dan sedang mengganggu Origami.
Bagaimana mengatakannya; terasa seperti sepasang malaikat dan iblis sedang berdebat di dalam kepalanya.
Biasanya itu tidak terlihat tapi, imej seorang malaikat kecil dengan wajah Origami mengepakkan sayapnya muncul di depan Origami, juga di dalam pikirannya.
(Penampilan Shidou dengan tuxedo itu berharga. Aku harus mengambil fotonya apapun yang terjadi)
Seolah meresponnya; seorang iblis dengan wajah Origami (Rambutnya panjang untuk beberapa alasan) muncul.
(Ti-tidak, jangan. Kerja keras semuanya akan hilang jika dia merasa jijik di sini!)
(Tak apa. Shidou itu baik. Dia tidak akan merasa jijik dari sesuatu sekecil ini)
(Itu mungkin benar tapi, bukan itu maksudku………)
Bukan berarti dia tidak merasa bahwa peran antara malaikat dan iblis tertukar untuk beberapa alasan tapi, entah bagaimana, kedua Origami itu menyebabkan perang yang sengit di dalam kepalanya.
Mungkin Shidou menyadari keadaan Origami; dia memiringkan kepalanya kebingungan.
“Origami? Apa yang kau lakukan?”
“…….Tidak ada”
Dia kehilangan kesempatan. Setelah Origami merilekskan tangannya, dia sedikit menghela nafas.
Tangan kanannya sekali lagi mendekati kameranya saat tangan kirinya rileks. Terhenti lagi. Seperti yang diduga, jika lawanannya adalah dirinya sendiri, mustahil untuk mencari kesempatan.
“Origami……….?”
“Tak apa. Tidak ada masalah”
Setelah membalas Shidou yang menanyainya lagi, Origami bergerak ke samping Shidou.
“Boleh aku duduk?”
“Aah, tentu saja”
Setelah mengatakannya, Shidou mendorongnya ke sampingnya. Origami duduk dengan cara sangat kewanitaan. Dan sembari melihat Shidou, dia menunjukkan gestur yang sedang memegang gelas.
“Karena kita disini, ingin minum?”
“Ahh, ide bagus”
Shidou mengangguk mendengar saran Origami dan mengangkat tangannya. Anggota <Ratatoskr> yang menyamar sebagai pelayan cepat-cepat berjalan dan membungkuk hormat.
“Maaf menunggu”
“Aku ingin bersulang tapi, apa ada yang bisa kita minum disini? ----Origami, ingin meminta sesuatu?”
“Dom Perignon”
Setelah Origami mengatakannya tanpa mengubah ekspresinya, suara Kotori bergema dari Incam di telinga kirinya.
“………..hei tunggu, itu wine!.............serius, ubah jadi chanmery”
Chanmey adalah minum berkarbonisasi tanpa alkohol yang mirip seperti champagne. Perkataannya mungkin sampai pada Incam pelayan juga. Setelah Kotori membuat pesanan dengan sikap kelelahan, [Dimengerti] pelayan itu mengatakannya sebelum pergi.
Langsung saja, pelayan itu kembali dengan chanberry dan gelas wine di atas nampan perak.
“Ini dia”
Pelayan itu mengatakannya setelah menuangkan chanberry ke gelas yang terbaris di meja. Cairan tertuang ke dalam gelas dengan percikan yang mengeluarkan kilauan misterius karena kilauannya tertuang karena chandelier.
“Baiklah, Origami”
Shidou mengulurkan tangannya ke gelas.
“Tunggu Shidou, apa itu?”
Tapi, Origami menunjuk ke depan untuk mengganggunya.
“Hn? Di mana?”
“Itu. Sedikit ke atas”
Selagi mengatakannya, Origami memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung. Dia kemudian mengeluarkan obat bubuk kecil yang dia selinapkan sebelum mencoba menuangkan isinya ke dalam gelas Shidou dengan kecepatan sekejap mata.
Namun, saat itu, malaikat dan iblis muncul di dalam kepala Origami seperti tadi. Tangan kirinya menjepit ujung pak obatnya untuk menghentikan tangan kanannya.
(Ayo. Ini kesempatan bagus. Ciuman dewasa mungkin terjadi jika dia meminumnya)
(Tenang! Kotori-chan baru saja memberitahumu janga menciumnya kan!?)
(Tentu saja, aku ingat. Aku tidak berencana untuk berpaling dari rencana itu)
(Kalau begitu----)
(Harusnya aman jika Shidou yang menginginkannya)
(Obat macam apa iniiiiiiiiiiiiiii!?)
Bersamaan dengan teriakan sang iblis, penolakan tangan kirinya semakin kuat. Pack tebal yang membungkus obatnya robek menyebabkan paksaan kuat dari kedua belah pihak, menyebabkan bubuk putihnya bertebaran ke sekitar.
“Kuh------------“
“Jadi, ada apa, Origami? Aku tidak melihat apapun?”
“……..salahku”
Setelah Origami mengatakannya selagi menggertakkan giginya, wajah Shidou kebingungan dan melihat ke arah Origami.
“Kejadian langka kadang terjadi………….yah terserah. Mari kita bersulang”
“………………”
Setelah Origami mengangguk, dia mengambil gelas bersama dengan Shidou.
“Bersulang”
“Bersulang”
Mereka membuat gelasnya berciuman satu sama lain, dan itu menghasilkan bunyi dering yang indah.
Saat Origami meletakkan ujung gelasnya pada bibirnya, dia meminum seteguk chanmery. Perasaan udara karbonisasi yang nyaman merangsang tenggorokannya.
Bersulang dengan Shidou, dan meminumnya. Tindakannya sendiri dapat membuat minuman anak kecil menjadi sangat manis dengan cepat.
Namun, dia tidak bisa menyangkal fakta bahwa rencananya berantakan. Aslinya, Shidou akan berubah menjadi serigala bulan purnama tanpa menunggu beberapa menit setelah meminum ini dan akan bernafsu pada tubuh Origami tapi……akuoo tiudaak buuuiiisaa meunoluooongnyuaa jikuaaa guagal. Beyikutnyaa…….
“……………..”
Sebuah perasaan aneh menyerang Origami menyebabkan pandangannya bergoyang, dan membuatnya bersandar pada Shidou.
“Hn, ada apa Origami”
“…..sepertinya……..aku……….mabuuooookk….”
“Oi oi, karena chanmery?”
Shidou tersenyum kecut. Memang benar bahwa Origami meminum minuman tidak beralkohol. Kecuali sesuatu yang aneh tercampur ke dalamnya-----
“…………………..”
Saat itu, Origami mengingat sesuatu. Dia mengingat mengayunkan obat rahasia ke sekitar, tepat sebelum bersulang. Mungkin saat itu, jumlah kecil dari obat itu tercampur ke dalam gelas Origami.
---Ini buruk. Ini sangat buruk. Walau aku harus membuat Shidou jatuh padaku; jika aku begini maka………….
“……….Itsuka-kuuuunn………….”
Dalam kesadarannya yang samar, Origami mendengaar suara yang keluar dari mulutnya sendiri.
“Hn? Ada apa, Origami, tiba-tiba”
“Pertama-tama……..Ini juga salah Itsuka-kun karena menjadi diri sendiri………kenapa kau begitu keren? Ini hanya……….tidak memberikanku pilihan tapi ingin mengambil fotomu……”
“Origami? Apa yang kau katakan……..?”
Shidou mengatakannya dengan nada ragu tapi, Origami tidak bisa menahannya lagi. Dia lanjut menembakkan kata-katanya seperti bendungan rusak.
“…………..kapanpun aku memikirkan Itsuka-kun, terasa lembut di dalamku……….tapi ini terasa menyakitkan di saat yang sama-----apa namanya………”
Origami melanjutkan selagi meringkuk Shidou.
“Itsuka-kun………aku cinta……….aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat mencintaimu……….sampai aku tidak bisa menahannya lagi”
“….Origami---“
Shidou memanggil nama Origami dengan suara lembut.
---Dia pikir dia mendengar kemeriahan di telinga kanannya di saat yang sama tapi, Origami saat ini tidak tahu maksudnya sama sekali.

Bagian 5
Transport milik DEM Indsutries yang berangkat dari pulau Neryl, sedang mempertahankan ketinggian selagi terbang dengan stabil.
Walau mereka jatuh ke dalam situasi darurat setelah diserang oleh sebuah roh saat berangkat dari pulau, tidak ada masalah lagi setelah itu. Jika ini berlanjut, mereka mungkin akan sampai tempat tujuan tepat waktu.
Saat pilot Knox sedang memikirkannya, ada balasan tiba-tiba dari alat komunikasi.
“-------di sini ruang pengendali. DF0806, tolong membalas”
“Ya, di sini DF0806”
“Tolong ubah rute penerbangan. Tolong berputar dari E139”
“Ubah rute penerbangan?”
Sembari mengatakannya, Knox dan co-pilotnya Burton saling melihat satu sama lain.
“Apa sesuatu terjadi?”
“Terjadi pertarungan antara kepala eksekutif Mathers dan seorang musuh yang diduga adalah wizard dari <Ratatoskr> dari rute tersebut. Ini pencegahan yang paling aman tapi, kita tidak bisa membiarkan kesalahan terjadi?”
Wajah Knox menjadi ragu setelah mendengar kontak dari ruang kendali.
“Pertarungan? Di tempat seperti ini?”
“Ya. Aku akan mengulanginya lagi”
Knox menanyakan alasan kenapa pertarungan terjadi di tempat itu tapi, ruang kendali tidak membalasnya dan memaksanya. Orang di kontak tersebut bukanlah orang yang fleksibel.
“Dimengerti. DF0806 akan mengubah rute penerbangan; menuju tempat tujuan dengan puturan di poin E139”
Setelah Knox menjawab, ruang kendali [Over dan keluar] mengatakannya sebelum memutus komunikasi.
“…………dan, kau mendengarnya. Kita akan merubah jalur”
“Dimengerti………….tapi walau begitu, kita harus berhati-hati. Walau ini pertarungan antar Roh, tidak mungkin terjadi di tempat setinggi ini. Seperti yang diduga, muatan kita itu spesial huh”
Burton mengangkat bahunya sembari mengatakannya.
Bukan berarti Knox tidak bisa mengerti maksudnya tapi dia mengayunkan kepalanya.
“Itu mungkin alasan terbesarnya…….tapi bukan hanya itu. Kau dengar dia. Yang bertarung adalah Mathers. Pertarungan tembak-tembakan antara wizard biasa itu satu hal, tapi jika Onee-chan itu yang keluar ceritanya akan sepenuhnya berbeda. Kita mungkin akan tertusuk oleh tombak dari bawah jika jita terus terbang”
“Ti-tidak mungkin…………”
---dan. Saat Burton mengatakannya sembari keringat bercucuran.
Angka yang gila muncul di meteran kokpit, dan alarm bebunyi.
Berikutnya, seolah sesuatu melacak mereka, transporternya berguncang sangat keras.
“! Apa………ini”
“Ti-tidak mungkin, apa ini tembakan meleset dari kepala eksekutif Mathers……….!?”
“Bodoh, tidak mungkin sampai sejauh ini! Sebelum itu………ini bukan wizard. Ini Reiha!”
“A……….!?”
Wajah Burton menjadi pucat setelah mendengar perkataan Knox.
Itu biasa saja. Transporter ini baru saja diserang oleh Roh beberapa saat yang lalu.
“Apa ini artinya <Nightmare> mengejar………!?”
“Tidak………..ini berbeda dari sebelumnya. Dan ini………..!?”
Knox tersentak sebelum berbalik ke belakang.
Tentu saja, hanya ada satu tempat Knox bersandar, yaitu dinding kokpit.
Tapi, apa yang ada di belakang itu adalah muatan; di dalam sana, [Material A] dengan beberapa lapisan yang menyegel tempat itu.
Saat itu, Burton menyadari sesuatu. Getaran tadi bukan serangan dari luar, dan itu sesuatu yang berasal dari dalam muatan.
“Mustahil------!? I-Ini lelucon!? [Material A] seharusnya benar-benar hibernasi……..!”
“Harusnya begitu. Tapi ini…………”
Setelah mengatakannya, Knox menyadari angka yang aneh yang ada di meteran.
Ada 2 Reiha disana.
1, ada di transporter. Yang satu lagi----------adalah tempat dimana mereka diminta untuk berputar oleh ruang kendali. Dan mereka berdua mengeluarkan Reiha seolah mereka menggaung.
Bagian 6
“…….Baiklah!”
Kotori, yang sedang melihat Shidou dan Origami dari kejauhan, berpose senang setelah melihat hasilnya.
“Aku sempat khawatir tadi tapi, sepertinya ini yang disebut kesalahan yang menguntungkan. Tidak seperti pendekatannya yang biasanya ekstrim; dengan menunjukkan rasa kasih sayang padanya secara langsung, celah yang bagus sepertinya muncul”
Selagi memberikan penjelasan, Kotori melipat tangannya dan mengangguk. Secara tidak sengaja, Origami langsung kembali sadar dan terus mendekati Shidou seolah tidak ada yang terjadi jadi, Kotori menyuruh anggota organisasi untuk membuatnya pergi.
“Itu berarti sudah 7. Tapi kita tidak bisa lengah. Kita harus melakukannya secepat mungkin----“
Dan, Kotori menghentikan perkataannya.
---Dia mungkin menyadarinya. Bahwa, Tohka yang bersama Kotori melihat Shidou, entah kenapa wajahnya menjadi rumit.
“Tohka? Ada apa?”
“……………….!”
Tohka menghentakkan bahunya saat Kotori memanggil namanya.
“Mu……Tidak, bagaimana mengatakannya ya……..saat aku mendengar Origami mengatakan bahwa dia mencintai Shidou, bagian sini terasa sangat sakit………..”
Selagi mengatakannya, dia menekan dadanya.
“Aku tahu menyelamatkan Shidou itu prioritas utama. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan sesuatu seperti ini. Tapi………..”
Tohka mengacaukan rambutnya karena dia merasa bersalah.
“Aku mengerti………tapi tidak mengerti. Kenapa aku merasa seperti ini? Walau aku harus buru-buru dan menyelamatkan Shidou sekarang, pemikiran yang menghambat ini tidak bisa pergi dari kepalaku”
“Tohka………….”
Setelah Kotori menghembuskan nafas, dia menepuk kepala Tohka.
“…………….Maaf. Tolong tahan untuk sekarang. Tapi, perasaan itu bukanlah pemikiran yang menghambat. Itu sangat-------berharga dan bernilai”
“Benarkah?”
“Ya. Dan sepertinya, kita akan mempunya perasaan seperti itu cepat atau lambat. Itu kenapa------aku ingin menyelamatkan Shidou”
“Muu………aku masih bingung”
Dia merasa dia mengerti dan tidak mengerti di saat yang sama. Tapi, Tohka mengangguk.
Dia dengan anehnya merasa puas dengan itu setelah mendengar bahwa perasaan untuk menginginkan untuk menyelamatkan Shidou berkaitan dengan [Itu].
Mungkin dia merasa lega setelah melihat Tohka; Kotori [Baiklah] menepuk punggung Tohka.
“Baiklah, kau yang terakhir, Tohka. Kau sudah siap?”
“……..umu! Serahkan padaku!”
Setelah Tohka menjawab dengan semangat, dia mulai berjogging ke arah sofa yang ditempati Shidou.
Tapi, karena dia mengenakan gaun dan sepatu yang tidak biasa dia kenakan, kakinya terjerat dan menyebabkannya jatuh.
“Uguh!”
“Tohka!? Kau tak apa!?”
“Mu…….Tidak masalah!”
Setelah Tohka menjawab selagi melambaikan tangannya, dia berdiri selagi menggaruk wajahnya yang terpukul dengan bunyi gedebuk sebelum mulai berjalan dengan langkah yang lebih tenang.
Namun, Tohka tidak langsung menuju Shidou dan sedikit memutar.
Itu adalah meja panjang yang berbaris di dinding aula. Disana ada makanan sebesar gunung bahkan hanya dengan melihatnya sudah membuat bahagia.
“Ooo………ini luar biasa!”
Dan rupanya, semua makanan boleh dimakan sebanyak yang dia mau. Setelah mata Tohka berkilauan, dia menyiapkan 2 piring terbesar dan mulai mengambil makanan yang terlihat enak dengan tidak segan.
Suara Kotori bergema lewat Incam saat itu.
“Hei Tohka, apa yang kau lakukan? Boleh saja makan tapi, Shidou lebih penting………..”
“Umu, aku tahu. Tak apa”
Setelah Tohka membalas, dia mengambil 2 piring sebesar gunung dan berjalan ke arah Shidou.
Dia kemudian membangun 2 gunung di meja di depan sofa.
“Oo Tohka-----tunggu, ini luar biasa”
Shidou membuka lebar matanya setelah menyaksikannya. Tohka [Umu!] menggembungkan dadanya.
“Shidou, kau belum makan sejak pagi kan? Kupikir kau lapar. Jadi------“
Tepat sampai di situ, perut Tohka *Gyuu*…………menggerutu.
“Mu…………….”
Pipinya memerah secara tidak sengaja, setelah mendengar perutnya menggerutu di saat yang pas.
Mungkin karena dia mendengarnya; wajah Shidou terkejut sebelum-------mulai tertawa terbahak-bahak.
“Fu…….haha, ahaahahaha”
“Mu-muu……kau salah. Memang benar aku lapar tapi, bukan itu saja…..”
“Fu, fufufu………tidak, aku mengerti. Terima kasih, Tohka”
Shidou mengatakannya sembari menyeka air mata yang keluar dari matanya. Dia kemudian *pon* menunjuk ke kursi yang ada di sebelahnya.
“Aku juga lapar sepertimu. Makanannya juga sudah siap”
“………umu!”
Setelah Tohka mengangguk, dia duduk di sebelah Shidou.
“Baiklah, ayo makan”
“Umu, ayo--------Ah, tunggu dulu Shidou!”
“Hn? Kenapa Tohka?”
Shidou memiringkan kepalanya setelah mendengar Tohka yang tiba-tiba berteriak.
Setelah Tohka mengambil garpunya, dia mengambil daging panggang dan memberikannya pada Shidou.
“Baiklah Shidou, [Ahhn]”
“Oi oi, itu tanda penuh untuk servis. ------yah, sepertinya aku terima saja”
Setelah mengatakannya, Shidou membuka lebar mulutnya dan mengunyah daging panggang yang diberikan Tohka.
“Bagaimana! Enak!?”
“Hn…………ya, enak. Makanannya sendiri sudah enak dan dengan Tohka menyuapkannya padaku membuat rasa enaknya menjadi 100 kali lipat”
“Mu, Be-benarkah? Ini sedikit memalukan”
Selagi tersipu malu, Tohka mengambil makanannya sekali lagi. Tapi saat itu, Shidou menghentikan Tohka.
“Tunggu dulu. Giliranku searang. Ini, Ahhn”
Setelah Shidou mengatakannya, dia memberikan daging panggangnya seperti yang Tohka lakukan tadi.
“Ooooh! Aku akan menerimanya. Ahhn………”
Setelah Tohka mengatakannya, dia menutup matanya menunggu garpu Shidou, dan membuka lebar mulutnya.
---tapi.
“Mu………?”
Alis Tohka mendekat karena curiga. Mulut tidak mendekati mulut Tohka bahkan setelah beberapa detik-----dan langsung saja, dia dapat mendengar *klang* sesuatu jatuh ke meja.
Berikutnya, suara panik Kotori dapat terdengar dari Incam di telinga kanannya.
“Tohka! Buka matamu!”
“Mu………….?”
Dia membuka matanya setelah diberitahu.
Tohka tersentak di saat yang sama.
Shidou yang berada di sana beberapa detik yang lalu, tidak lagi di sana.
Tapi, Tohka langsung menyadarinya. Shidou tidak menghilang dan merunduk selagi menekan dadanya.
“Shi-Shidou! Kau tak apa! Apa yang terjadi!?”
“Gu------aaa-aAaaAAAAaaAAAAhhhhh!”
Itu terjadi saat Tohka memanggil Shidou dengan panik. Tepat setelah dia pikir Shidou berteriak kesakitan, tubuhnya mulai bersinar----dan menyebabkan gelombang yang kuat.
“Kuh…………!?”
Dia dengan mudahnya terhempas karena dia tidak bisa mempersiapkan dirinya karena peristiwa yang tiba-tiba terjadi. Tohka berguling ke belakang beberapa menit yang lalu sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak meja.
“Tohka! Kau tak apa!?”
“Mu……………aah, Kotori. Aku tak apa. Lebih penting lagi, bagaimana dengan Shidou!”
Dia mengangkat wajahnya selagi mengelus kepalanya yang kesakitan.
Dia kemudian memastikan Shidou yang sedang melayang selagi terlapisi oleh Reiryoku padat. Seragamnya berubah dari tuxedo kembali menjadi seragam SMA. Sepertinya, itu karena kemampuan berubahnya lepas.
“Shidou!”
Walau dia berteriak-------tidak ada balasan sama sekali. Bukan seperti dia sedang tertidur tapi, dia tidak beremosi, dan tatapan kosongnya menatap ke atas langit.
“Kotori, apa yang terjadi pada Shidou!”
“Aku tidak tahu……………! Seharusnya masih ada waktu sampai batas waktunya!”
Setelah Kotori dan Tohka membalas satu sama sekali dengan teriakan, sebuah perubahan terjadi pada Shidou yang melayang di depan mereka.
Massa Reiryoku berkeliaran di sekitar Shidou tambah terang sebelum, cahaya itu menutupi seluruh fasilitas.
“Shidou------“
Lebih cepat dari Tohka yang dapat menyelesaikan kalimatnya.
---Beam yang dilepaskan oleh Shidou, menembus langit-langit aula pesta.

Date A Live Jilid 12 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.