15 Februari 2017

Owari no Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia

SESEORANG YANG MENYEMBUNYIKAN IBLIS
(Translater : Fuu; Editor : Hujan (Guest))

“Melaporkan langsung dari lokasi kejadian. Pemadam kebakaran telah mengerahkan segalanya, tetapi kelihatannya usaha mereka sia-sia. Sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda kobaran api mereda”.
Siaran berita terdengar sangat berisik. Sepertinya, telah terjadi suatu kebakaran di sebuah apartemen dan api terlihat menyebar terus menerus
Pantauan helikopter dari lokasi kejadian muncul di layar. Siaran kemudian beralih ke “Berita Pukul 6 Petang” yang disiarkan dari studio oleh pembawa berita yang terdiam sambil tertunduk.
Berita pukul enam sudah dimulai, ya?
Dengan kata lain, sudah mulai masuk waktu malam.
Namun ....
“Oke~ Jenderal~!
Suara Shinya bergema di ruang tamu mansion Guren.
Di hadapan Shinya terletak tiruan papan permaianan mini Shogi yang dibeli dari mini market tidak jauh dari sana. Mito yang duduk bersimpuh menjadi lawan main Shinya berkata,
“Anuuu ... tunggu ... tunggu sebentar. Mohon tahan dulu!”
Mito melipat lengannya sambil mempertimbangkan  permainan dengan jengkel.
Goshi yang duduk di sofa sambil meminum kola, mulai menghitung waktu Mito berpikir.

“Baiklah, aku akan mulai menghitung mundur. Mito, kau hanya punya beberapa detik tersisa untuk langkah selanjutnya”
“Aku tahu itu! Jangan berisik!”
“Baik, kau punya ...”
“Diam!”
Mereka terlihat menikmati permainan. Guren, yang duduk di meja makan sebagai usaha sedikit menjaga jarak, berbicara.
“Kalian tahu, kalian pulang--”
“Aku bilang jangan berisik!!”
Mito berteriak.
Kenyataannya, tidak ada dari mereka yang tahu bagaimana aturan bermain Shogi. Meskipun Guren menolak memberi Shogi di saat tidak ada seorangpun yang pernah memainkannya sebelumnya, Goshi bersikeras meminta. Goshi bahkan sampai mengadakan pertandingan, sambil memeriksa aturan permainan di internet. Mungkin itu karena mereka dibesarkan tanpa pernah mencoba permainan Shogi, atau karena mungkin kurangnya kesempatan untuk mencobanya.
Ronde 1, Goshi melawan Guren. Guren menderita kekalahan spektakuler.
Ronde 2, Shinya melawan Mito. Mito tidak diuntungkan.
Shinya bersenandung dengan nada gembira.
“Hmmm ... Hmmm ...  aku rasa sudah saatnya kamu menyerah—“
“Tunggu, mohon tunggu sebentar, Shinya-sama”
“Baik, aku bisa menunggu selama kamu mau. Berapa lama lagi?”
Mendengar itu, Goshi membalas menjawab.
“40 detik”
“Mmmmmmmmm”
Mito bergumam, sangat fokus, pupilnya membesar. Aura kegentingan mengelilinginya. Guren tahu bagaimana perasaan Mito saat itu.
Shogi sebenarnya adalah permainan yang menarik. Untuk memperoleh keuntungan dalam permainan, strategi membaca lawan sebelum bergerak sangat diperlukan. Bagi pemula seperti mereka, yang bahkan tidak tahu aturan permainannya, satu-satunya pilihan untuk terus berjalan adalah membuat langkah tanpa persiapan.
Guren benar-benar menguras otaknya selama pertandingan melawan Goshi. Dia mencari cara untuk kalah bisa pertandingan dengan cepat, tanpa disadari oleh Goshi. Cara itu berjalan baik. Goshi sangat berlebihan menikmati kemenangannya.
Mito bahkan menghibur Guren mati-matian.
Tetapi, Shinya mungkin menyadari perbuatan Guren.
Akhir dari pertandingan ini sangat cepat— Guren bermaksud mengakhir permaian membosankan ini dengan cepat, untuk membubarkan semua orang. Tetapi pertandingan Shinya dan Mito luar biasa lama.
Shinya melirik ke belakang ke arah Guren dan tertawa dengan gembira.
“....”
Tentu saja, ekspresinya menampakan bahwa ia benar-benar menyadari akal-akalan kotor Guren.
“Orang yang menyebalkan ....”
Guren bergumam kecil dan Shinya sekali lagi tersenyum senang.
“Walau tidak kedengaran jelas, aku tahu apa yang mau kau ucapkan, loh.”
Goshi berkata.
“20 detik lagi~”
Mito berkata.
“Matikan TV-nya! Itu menggangguku dan aku tidak bisa fokus!”
Goshi menoleh ke arah televisi dan berujar,
“Harus diakui, kebakaran ini terlihat sangat parah!”
Pemandangan kobaran api terbentang di layar kaca. Penyiar berita yang melaporkan langsung nampaknya berbicara sesuatu. Kerumunan orang menonton di sekeliling gedung, menyaksikan batu-bata merah meledak dari arah gedung yang terbakar.
Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari kerumunan.
Dia terlihat berusia sekitar 25-26 tahun.
“YUU! YUICHIRO!”
Mungkin dia orang tua yang anaknya tertinggal kobaran di bangunan itu. Pemadam kebakaran segera berlari untuk menghentikannya mendekati gedung.
“Bu! Tolong tenang! Serahkan ini pada kami”
“Biarkan aku pergi! Yuu! Yuu masih terjebak disana!”
“Oii! Singkirkan kameranya! Tunjukan sedikit kebijaksanaan!”
Kamera berfokus pada wajah sang ibu. Dia harusnya adalah seorang ibu yang cantik dengan rambut hitam. Tapi sosoknya kini, benar-benar berantakan, keputusasaan dan penderitaan semu tegambar di wajahnya..
Goshi berhenti menghitung mundur, Mito juga menatap layar. Tidak, lebih tepatnya, perhatian semua orang di ruangan terfokus pada layar.
Seorang pemadam kebakaran berteriak.
“Seseorang kemari dan bantu aku! Dia sangat kuat .... Bu, tolong tenanglah!”
“YUU! YUICHIRO”
Dia terlihat sedang memegang sesuatu. Sementara kamera tetap bergerak meliput. Walau tidak jelas terekam, dari bayangan yang samar, dia terihat menggenggam sesuatu.
“Bu, tolong tenanglah!”
Tiba-tiba, si wanita memukul si pemadam.
“Oww ... Apa yang kau lakukan!”
Si pemadam kebakaran menggenggam lengannya. Di telapak tangannya terlihat sesuatu yang berkilau. Si pemadam tidak menyadari. Semua orang tidak menyadarinya.
Sang ibu berteriak dalam penderitaan.
“Jangan pernah padamkan api itu! Dia adalah iblis! Bocah itu adalah iblis! Dia harus dibunuh! Di sini! Sekarang!
“Dia ini kenapa?!”
Wanita itu mengangkat tangan kanannya sambil menggenggam botol plastik. Sebagian cairan mengalir keluar dan membasahi pakaiannya.
“Bensin! Dia membawa bensin!”
Pemadam kebakaran panik.
Dia mencoba menyalakan pemantik, tapi api tidak menyala. Salah satu pemadam kebakaran berlari maju dan menghantam wajah wanita itu hingga terjatuh.
Beberapa orang juga datang dan membantu meringkusnya ke tanah.
Sang ibu berteriak.
“Iblis! Dia harus dibunuh! Dia harus mati!”
Kemudian, pria memakai jaket mendekati kamera. Meskipun Guren hanya melihat sekilas, Guren tahu siapa dia.
Saitou
Anggota dari Gereja Hyakuya.
Bajingan yang bekerja sama dengan Mahiru melancarkan serangan pada SMA Pertama Shibuya. Dengan kata lain, kebakaran ini dikendalikan oleh mereka. Kejadian ini mungkin saja disengaja. Tapi, jika kebakaran ini adalah dibawah rencana Gereja Hyakuya, seharusnya tidak tersiar di berita. Bahkan seharusnya tidak ada catatan akannya.
Tiba-tiba, gambar kamera menjadi hitam dan segera dialihkan ke studio. Pembawa acara dengan panik, spontan berbicara.
Sehubungan kejadian mengejutkan barusan, maka siaran—ujarnya.
Lokasi kebakaran menjadi kacau.
Berita tetap dilanjutkan berdasarkan informasi yang didapat seadanya.
Sangat tidak mungkin kalau berita yang berkaitan dengan kebakaran itu dilaporkan lagi. Atau sebagian besar berita yang dibuat-buat akan ditayangkan.
Mito bicara.
“Barusan, apa yang terjadi?”
Mito dan Goshi tudak tahu siapa itu Saitou. Mereka barangkali tidak tahu bahwa kebakaran berhubungan dengan apa yang dilakukan Gereja Hyakuya.
Shinya pasti menyadari. Tidak, ‘Mikado no Oni’ pasti menyadarinya juga.
Seperti apa yang telah terjadi di Kebun Binatang Ueno, ‘Mikado no Oni’ akan sepenuhnya menyelidiki semua yang terlibat dengan Gereja Hyakuya. Kemungkinan besar, Kureta akan segera memanggil mereka berkumpul.
Goshi berkata.
“Dasar perusak suasana. Aduh, aku lupa hitungan mundurnya. Mito apa kau masih berpikir?”
Mito menggelengkan kepalanya.
“Lalu aku umumkan Shinya-sama sebagai pemenang~  Sebelum pertandingan berikutnya, Guren.”
“Apa?”
“Aku lapar”
“Ya, pulang sana.”
Sayuri dan Shigure belum kembali. Mungkin persiapan malam ini memakan waktu. Tetapi peristiwa kebakaran ini bisa membuat pertemuan malam ini dengan Gereja Hyakuya dibatalkan.
Akan tetapi, jika mempertimbangkan dari persfektif lain, perhatian ”Mikado no Oni” akan teralihkan pada bencana itu dan memberi kemudahan untuk pertemuan dengan Gereja Hyakuya.
Jadi, manakah yang benar?
Shinya berdiri dari duduknya.
“Baiklah, ini waktunya kami pulang. Aku juga punya suatu urusan.”
Akhirnya sang tuan besar Hiiragi bertitah. Mungkin saja urusannya adalah menyelidiki kasus ini. Urusannya terlalu tiba-tiba. Padahal malam ini ada pertemuan dengan Gereja Hyakuya. Tidak mungkin baginya melangkah maju tanpa mengetahui sesuatu.
Begitu Shinya berdiri, Mito dan Goshi langsung mengikutinya.
Mito berdiri.
“Saya harap Anda bersedia melawan saya lain kali. Selanjutnya, saya tidak akan memperlihatkan kondisi memalukan saya.”
Ujarnya panjang lebar. Mungkin itu soal shogi. Shinya hanya tertawa riang dan berkata.
“Baiklah~ Lagian ternyata seru, kok. Mari bermain lain waktu.”
Semua orang berdiri. Shinya meninggalkan handphonenya di lantai. Guren menyadarinya, namun tidak memperingatkan Shinya.
Di depan pintu, Mito berkata.
“Semuanya, kita berada dalam satu tim. Aku ingin ngoborol dengan Yukimi-san & Hanayori-san, tapi .…”
Goshi menyeru.
“Aku sangat ingin mencoba makanan buatan Sayuri-chan …. Tetapi tak apalah, lain kali saja.”
“Kalian masih mau main lagi?”
“Kau tidak menerimaku?  Lalu apa kau akan datang ke rumahku?”
Guren hanya diam dan melambai pada mereka. Shinya membuka pintu dan mengucap selamat tinggal pada Guren.
“Baiklah, kami pulang~”
Ketiganya lalu pergi.
Guren menutup pintu dan kembali ke ruang tamu, mengambil handphone Shinya. Ketika menyalakan handphone, ternyata handphone nya tidak menggunakan kata sandi. Dilayar terlihat SMS yang belum dikirim bertuliskan,
“Ya ampun, lihat-lihat ponsel orang lain tanpa izin, dasar Guren mesum (wkwk)”
Enggak usah sok ketawadeh.”
Guren bergumam kesal. Dia lalu menjelajahi aplikasi lain, mencari beberapa jejak informasi, namun tidak ada yang tersimpan di dalam ponsel. Benar-benar ponsel kosong.
Guren berjalan kembali ke pintu depan.
Di saat yang sama, seseorang mengetuk pintunya. Guren membuka pintu, hanya untuk mendapati Shinya tertawa geli.
Shinya berkata.
“Aku meninggalkan ponselku~”
Guren melirik ke ponsel di tangan kanannya selagi Shinya lanjut bicara.
“Kamu sudah melihatnya?”
“Sesuatu yang mesum?”
“AHAHAHA”
“Kau meninggalkannya dengan sengaja, kan?”
“Yup. Kamjuga sengaja kalah main shogi, kan?”
Apa maksudmu?”
Aduhpura-pura lagidehAyo bertarung lain kali. Kita buktikan siapa lebih baik dalam strategi dan rencana.”
“Aku tidak tetarik”
“Jangan kabur~”
Lagipulabuat siapa sampai kita harus membuktikan kekuatan kita di hal semacam itu?”
“Hmm …Kalau di antara kitauntuk Mahiru?”
Aku jadi semakin tidak tertarik.”
Yang benar?”
Shinya tersenyum.
Yah, terserahsih .…”
Shinya menatap ke arah televisi di belakang Guren. Beritanya masih terus berlanjut. Tatapan Shinya dengan cekatan bisa menyadari Saitou yang sekilas muncul di televisi.
Mungkin dia sengaja meninggalkan ponselnya, lalu kembali untuk berdiskusi tentang tayangan itu. Juga tentang apakah akan berangkat ke pertemuan dengan Gereja Hyakuya atau tidak.
Lalu, bagaimana menurutmu, Guren-kun? Yang kebetulan menjadi sangat cerdik.”
Guren membalas.
“Jangan pergi, terlalu berbahaya.”
“Hmm. Mungkin.
Kita selidiki sumber kebakaran itu. Pertama-tama kita perlu benar-benar memahami situasi yang terjadi.
“Hmm …. Hei, Guren”
“Apa?”
“Kamu akan dibenci kalau membuat taktik perang penuh kebohongan ke rekan timmu, loh~ Kamu berencana bertemu dengan Gereja Hyakuya sendirian, kan?
Guren segera mengangguk.
“Karena kau bukan rekanku.”
“Ahaha. Jadi kamu mau pergi bertemu Gereja Hyakuya, kan?”
Tidak ada pilihan lain yang tersisa.
Tidak ada cukup informasi. Dengan informasi yang didapat sejauh ini, jelas tidak akan mengalami kemajuan. Memang masih ada pilihan untuk maju dengan melakukan penyelidikan secara cermat dan teliti. Tetapi tidak ada waktu yang tersisa.
Perang antara “Mikado no Oni” & Gereja Hyakuya berkembang dengan kecepatan yang sulit dipercaya.
Ada kemungkinan besar akan terjadi teror yang bisa membuat dunia ini hancur pada bulan Desember nanti.
Jika Guren takut akan risiko yang ada dan berhenti berindak, maka semua akan berakhir tanpa dia bisa berbuat apapun.
Atau mungkin Guren akan roboh, sebelum dia dapat berpartisipasi cukup lama dalam malapetaka besar itu.
Jika begini keadaannya, tindakan cepatlah yang harus diambil.
Saat ini, Gereja Hyakuya berkata ingin berbagi informasi. Informasi seputar “Kiju” juga “Empat penunggang kuda” si monster yang mengamuk di kebun binatang Ueno dan merupakan hasil dimodifikasi genetik DNA Chimera.
Alasan tindakan itu karena Mahiru mengkhianati mereka.
Mahiru mencuri Chimera itu dan menghilang.
Bagi Gereja Hyakuya, Chimera adalah bahan penelitian penting. Mereka ingin mendapatkannya kembali. Itulah mengapa mereka ingin bertukar informasi dengan informasi seputar Mahiru yang dimiliki oleh Guren.
Dengan kata lain, saat ini Gereja Hyakuya tidak sadar bahwa Guren mempunyai sebagian potongan monster itu.
Kalau begitu, maka Guren perlu mengetahui monster apa itu sebenarnya, saat ini juga.
Itu karena, Chimera adalah monster yang tidak tertarik pada manusia dan sangat jarang muncul di wilayah ramai. Para vampir bahkan tertarik padanya. Gereja Hyakuya, Mahiru, dan para vampir, semuanya menginginkan Chimera.
Guren berpikir, mungkin melanjutkan penelitian itu akan menghasilkan kekuatan yang besar? Tetapi–
Guren melihat Shinya.
Saat ini, potongan dari tubuh monster itu dibagi menjadi dua dengan Shinya.
Satu bagian telah dikirim ke Aichi untuk penelitian, tetapi belum ada hasil konkrit.
Apa yang Shinya rencanakan dengan satu bagian lagi, Guren tidak tahu.
Guren pun bertanya.
“Bagaimana penelitian--”
Shinya menggelengkan kepalanya dan menyela.
"Kamu saja yang melakukan. Aku tidak punya lab penelitian atau semacamnnya. Jadi mustahil aku melakukannya."
Entah apa yang dikatakan Shinya itu benar atau tidak.
Shinya bicara dengan nada sedikit kecewa.
“Kamu tahu, dalam kondisi di mana  rekan kita sedikit dan musuh kita sangat kuat, aku benci loh, orang yang sembunyi-sembunyi. ”
Guren menjawab.
“Penelitiannya tidak berkembang. Mungkin itu juga karena yang melakukan penelitian hanyalah sedikit dan hanya orang-orang yang terpercaya. Itu sebuah upaya untuk mencegah kebocoran informasi. Tetapi, sampa sekarang kami masih belum tahu makhluk apa itu. Karena itu ...,”
“... malam ini, kita perlu bertemu dengan Gereja Hyakuya?”
Guren hendak mengangguk, namun pada saat itu ....
“Shinya-sama, apa anda sudah menemukan ponsel Anda?”

Tiba-tiba, suara Mito terdengar dari belakang.
Mito dan Goshi ada di luar.
Shinya berbalik dan berkata.
“Sudah ketemu! Entah kenapa ponselku masuk ke bawah shofa—“
Goshi tersenyum dan berkata.
“Baguslah kalau Anda menemukannya.”
Guren memberikan ponsel pada Shinya.
“Cepat pergi.”
“Baiklah~ kali ini kami benar-benar permisi pu--”
Sebelum Shinya selesai, Guren menutup pintu dan kembali ke ruang tamu.
Pukul 06.17 petang.
Siaran berita masih berlanjut. Tapi, kemanapun Guren memindahkan channel, tidak ada lagi berita yang menayangkan kebakaran. Kelihatannya upaya penutupan informasi telah dimulai.
Guren tiba-tiba ingat dengan wanita yang menyiram dirinya dengan gasoline di tengah kekacauan tadi.
Sang ibu berteriak bahwa dia harus membunuh sang iblis.
“Iblis”
Guren bergumam.
Iblis apa yang dia maksud?
Tentu saja, ada kemungkinan sang wanita mengamuk dan berkata omong kosong.
Desember.
Malapetaka di hari natal.
Virus.
Malaikat- malaikat Peniup Sangkakala.
Empat penunggang kuda
“Banyak sekali istiah-istilah keagamaan, ya.”
Apakah itu adalah sebuah petunjuk akan sesuatu yang benar-benar tertulis di Injil, ataukah hanya sebuah codename untuk aksi teror dan virus?
Jeda komersial muncul di layar. Seorang artis perempuan menikmati rasa terbaru dari ayam goreng.
Guren melihat sekilas, lantas mengalihkan tatapannya dari televisi ke papan permainan shogi yang tergeletak di lantai depan televisi.
Dia sedikit merasa shogi adalah permainan yang menyenangkan. Karena semua musuh yang harus dilawannya, berada dalam garis pandangnya.
Dia hanya perlu mempertimbangkan bagaimana untuk membereskan mereka yang Ada di hadapannya. Ditambah lagi, kemampuan musuh seimbang dengannya.
Tetapi dunia yang nyata sangat berbeda.
Banyak dari musuh lebih kuat darinya, ditambah dengan kuasa mereka yang besar. Perlawan yang dilakukannya selalu sangat rumit dan berbelit.
Itulah mengapa, siapa yang menjadi rekan-rekannya, siapa yang menjadi musuh-musuhnya, kapan dia harus berkhianat, kapan dia harus bekerja sama—
Satu kesalahan akan membuahkan kekalahan mutlak.
Tidak ada waktu menunggu.
“....”
Guren melirik papan shogi murah itu, memidahkan bidak pion milik Mito dan meletakannya di depan bidak raja milik Shinya.
Tentu saja, langkah itu akan membawa Mito pada kekalahan. Shinya dapat mengambil raja Mito di langkah berikutnya.
Pertandingan berakhir.
Akan tetapi, kenyatan itu berbeda. Meskipun sang raja mati, para pasukannya masihlah hidup.
Guren memindahkan bidak pion ke depan.
Dia lalu memakan bidak raja Shinya.
“….”
Mengalahkan “Raja” Gereja Hyakuya.
Mengalahkan “Raja” “Mikado no Oni”
Sebenarnya, tidak masalah baginya jika dia mati. Dia memiliki ambisi dengan persiapan mati. Namun apa yang akan terjadi setelah itu?
Apakah rekan-rekannya akan selamat?
Bagaimana dengan ambisi yang dia bawa sampai mati itu?
Apa sebenarnya harapan yang ingin dicapainya, hingga rela mengorbankan nyawa miliknya dan rekan-rekannya?
“..”
Guren mengambil botol cola kosong di lantai.
Lalu, terdengar pintu masuk terbuka. Kelihatannya Shigure dan Sayuri telah kembali.
“Kami pulang~ ♪”
Itu suara Sayuri. Dia masuk ke ruang tamu, tangan penuh dengan kantong supermarket. Melihat Guren mengambil sampah botol cola, Sayuri segera berlari menghampiri.
“Ah! Mohon Anda tidak melakukannya, Guren-sama. Biar kami saja yang melakukannya.”
Ia bicara sambil mengambil botol dari Guren.
Shigure berjalan masuk dan melihat Guren.
“Kami pulang.”
Ia menurunkan pandangannya dan mulai membersihkan bungkus keripik kentang yang berserakan di sekeliling meja kopi.
Guren melihat mereka merapikan rumah.
“….’
Guren heran apa yang menjadi alasan bagi keduanya yang bisa tanpa ragu maju ke depan meskipun harus disiksa saat diinterogasi, atau bahkan hendak dibunuh.
Tentu saja, tidak ada cara untuk berhenti sekarang. Semuanya telah di mulai. Penelitian rahasia yang disembunyakan dari keluarga Hiiragi telah dimulai.
Lagipula, jika di bulan Desember dunia akan hancur, Guren tidak bisa hanya duduk tenang menyaksikan kehancuran yang ada.
Tapi meskipun begitu, ia melanjutkan pemikirannya.
“….’
Tentang apa yang ingin dia lindungi.
Tenntang apa yang berharga baginya.
Shigure melihat Guren, dan berkata.
“Itu ada di dalam loker yang biasa kita gunakan.”
Guren mengangguk. Kertas mantera dan seragam tempur untuk bertarung berada di dalam loker.
Selain itu, ada banyak mantera yang berhubungan dengan kutukan terlarang. Juga banyak perlatan terkutuk yang tidak dikenali keluarga Hiiragi. Semua itu adalah benda asli buatan Guren.
Ada kemungkinan penyelidikan Hiiragi bahkan sampai ke mansionnya. Maka dari itu dia tidak boleh begitu saja menyimpan benda-benda itu di mansionnnya.
Shigure melanjutkan.
“Kami ….”
“Jangan ikut. Aku pergi sendiri hari ini.”
“Tetapi ....”
“Kau hanya akan menghalangiku.”
“Eh .....”
Shigure menutup mulutnya dengan penuh rasa penyesalan.
Guren melihat Shigure dan berkata.
“Dan jika aku tidak pulang saat fajar… kalian berdua pulanglah ke Aichi.”
Keduanya melihat Guren. Mereka mengerti ada kemungkinan besar Guren akan mati. Mereka sudah tahu ketika menyiapkan peralatan untuknya.
Bagi Keluarga Ichinose, tidak akan membawa malapetaka jika Guren terbunuh. Guren masih belum menjadi kepala keluarga. Jadi, dialah yang harus mengorbankan nyawanya.
Sayuri melihat Guren dengan senyuman yang dipaksakan.
“Hari ini kita makan kari ayam.”
“Oh. Aku sangat menantikannya.”
“Tapi kami membuatnya dengan bumbu instan.”
“Dari bumbu apapun tidak masalah. Masakan buatan kalian selalu enak.”
Saat ia menyelesikan kata-katanya, ia heran mengapa Sayuri tersipu dan tersenyum. Tetapi Guren tidak ambil pusing.
Dia lantas memberi perintah kepada Shigure.
“Shigure, aku akan ganti pakaian dengan pakaian sipil. Tolong siapkan.”
Shigure mengangguk.
“Baik Tuan.”
Shigure menghilang dia arah korider masuk.
Sayuri memasuki dapur dan memakai apron.
Guren melirik pada sosok Sayuri, sebelum kembali melihat jamnya.
06:30 petang.
Tujuh setengah jam lagi sampai pertemuan dengan Gereja Hyakuya.
“Kurasa aku akan tidur sebentar.”
Guren bergumam saat melirik sekilas pada Sayuri yang menuangkan usaha terbaiknya memasak.
Kemudian,
“Aku akan istirahat sebentar setelah makan kare.”
Dia mengkoreksi.
1:30 pagi.
Daerah Nerima, di Tokyo.


Titik pertemuan dengan Gereja Hyakuya adalah di Taman Hikarigaoka. Sebuah taman yang cukup besar,  di dekat stasiun bawah tanah Hikarigaoka, yang termasuk jalur Toei Oedo.
Jika Guren datang dari stasiun, dia mungkin tertangkap CCTV. Karena itu Guren memutuskan mengendarai sepeda motor, dan masuk melalui sisi barat taman, yang dikelilingi oleh pohon lebat dan dan disebut dengan lapangan Ikoi no Mori. Tempat itu gelap dan jarang dilihat orang.
Guren memarkir sepeda motonya di jalan kecil, mematikan mesin, memasang standar motor. Dia lantas melepas helmnya, mengalihkan padangan ke arah taman. Tamannya gelap. Sinar bulan bahkan tidak sampai, karena pohon yang mengelilingi taman itu menghalangi sinarnya.
Dia letakkan helm di pegangan motor. Dia lantas memindahkan tas ransel yang digendongnya ke depan dada dan mencari sesuatu di dalamnya.
Diambilnya kacamata untuk melihat dalam kegelapan. Alat itu penting untuk melihat taman yang gelap. Dia lalu memasukkan beberapa kertas mantera ke dalam kantong dan lengan bajunya. Lantas dia kembalikan tas ranselnya ke punggung.  Dia perpendek talinya, agar kencang ikatannya.
Setelah Guren turun dari motor, motor lain dengan cc tinggi tiba.
Sepeda motor itu lantas berhenti sejaja dengan Guren.
Motor milik Shinya.
Shinya pun mematikan mesin, menyimpan hem, dan tersenyum.
“Sudah kuduga, Guren akan masuk melalui jalan ini~ Tapi, siapapun yang mempelajari petanya tentu akan memilih rute ini.”
Memangjika melihat peta, maka hanya rute ini yang memungkinkan kesuksesan menerobos ke taman.
Tempat dikelilingi pepohonan lebat akan lebih mempersulit penjagaan.
Titik pertemuan adalah lapangan tenis yang berlokasi di timur taman. Lalu jika mereka menuju ke sana dengan memastikan kondisi di sisi barat ini, maka mereka akan bisa memastikan rute untuk melarikan diri.
Guren membalas.
“Orang-orang gereja Hyakuya juga mungkin mengira kita akan masuk lewat sini, kan?”
“Bisa saja. Ngomong-ngomong, Guren. Apa kamu punya surat izin mengemudi?”
“Tidak.”
“Tidak punya, ya. Lalu sepeda motor itu?”
“Curian.”
“Wah, parah! Jangan naik motor curian, dong!”
Guren tertawa, dan membalas.
“Namanya juga anak muda?”
Guren memasang kacamata infra merah malam. Pandangan Guren berubah dari gelap menjadi hijau, dan pemandangan di taman mulai terlihat.
Shinya turun dari motor dengan wajah terkejut.
“Aku, sih, tidak mau jadi anak muda yang pakai kacamata infra merah dan menerobos taman. Lalu, bagaimana? Ketemu pasangan sedang mesum-mesuman enggak?”
“Ada, dong. Ini kan musim panas.”
“Di mana? Di mana?”
Guren mengabaikannya dan mulai berjalan memasuki taman.
“Eh, tunggu. Aku juga ikut.’’
Guren mendengar Shinya memasang kacamata infra merah, tetapi tidak menoleh ke belakang. Dia hanya terus berjalan sambil memastikan tidak ada jebakan di depan.
Pergerakan Shinya di belakangnya sangat sempurna. Tidak terdengar langkah kaki. Senyap, hati-hati dan cepat. Tentu saja, ia telah melalui latihan yang sangat keras.
Shinya berbisik dari belakang.
“Masih ada waktu tersisa sebelum pertemuan kita. Apa kita akan sembunyi?”
Guren menggeleng.
“Tidak perlu. Aku ingin memastikan situasi dari jauh.”
“Setuju. Terlalu banyak ruang kosong di sekitar lapangan tenis. Bukan tempat baik untuk sembunyi~”
Itulah sebabnya lapangan tenis dipilih sebagai tempat pertemuan.
“Jadi, dari mana kita akan memastikan situasinya?”
Guren  melihat jamnya tangannya. Ini pukul 01.38 pagi. 22 menit tersisa sampai pertemuan.
Guren menghentikan langkahnya.
Saat ini mereka berada di Ikoi no Mori. Seharusnya setelah melewati lapangan rumput di depan, mereka akan tiba di titik pertemuan. Namun, begitu mereka keluar lapangan, maka tidak akan ada tempat persembunyian lagi.
Kalau begitu,
“Dari atas pohon ini.”
“Kita akan memata-matai seperti pasangan mesum?”
“Ah ...”
“Jangan bersuara macam itu!”
“Macam apa?”
“Ya, enggak apa, sih~”
Guren memulai persiapannya. Dia mengambil beberapa kertas mantra dari tasnya dan menempelkannya di batang pohon yang ia panjat. Itu semacam perangkap untuk berjaga-jaga. Guren lantas memanjat pohon dan menemukan dahan yang kuat menahan tubuhnya.
Suara agak bising terdengar dari pohon sebelah. Guren berpaling pada sumber suara dan melihat Shinya melambai padanya, sebelum menunjuk ke timur yang menjadi arah dari lapangan tenis.
“….”
Guren mengangguk dan menoleh ke depan. Taman yang dilihatnya melalui kacamata infra merah terlihat terang..
Bintang-bintang yang terhampar di langit malam berkelip dan menyinari pepohonan di sekitar.
Guren meningkatkan ketajaman dari kacamata dan memfokuskannya ke titik pertemuan.
Di depan area rerumputan ada daerah liku-liku. Setelahnya lagi ada jalan kecil  dan sedikit tempat bermain.
Lalu jauh di depannya ada bidang yang bertembok. Itulah lapangan tenis yang menjadi tempat pertemuan.
Ada 8 pria mengenakan setelan jas di sana. Jelas-jelas mereka di sana bukanlah pasangan yang mau berbuat mesum. Mereka semua adalah pria. Pria yang terlatih. Pakaian mereka mirip dengan apa yang digunakan gereja Hyakuya saat mereka melancarkan serangan di SMA Satu Shibuya. Jika mereka semua memiliki kekuatan yang sama dengan kemampuan Saitou, kekalahan akan segera terjadi.
Dengan kata lain, ini adalah pertukaran yang tidak adil.
“….”
Guren melirik lagi jam tangannya.
Pukul 01.45 pagi.
15 menit lagi.
Lalu, Guren berpikir haruskah ia pergi ke pertemuan atau tidak?”
Guren mengalihkan pandangan dari jam di tangan ke pria dari Gereja Hyakuya.
Seketika, Guren menyadari sesuatu yang aneh terjadi dengan mereka. Mereka meneriakkan sesuatu sementara mereka dengan terburu-buru menyusun formasi bertempur.
Guren sempat berpikir jangan-jangan mereka ketahuan. Sekejap tubuh Guren diselimuti rasa gemetar. Namun, sepertinya bukan begitu kondisinya.
Sesuatu muncul dari kegelapan dan menyerang orang-orang itu.
Mereka dengan putus asa mencoba melindungi diri mereka, mengeluarkan rantai besi dari tubuh mereka. Ternyata memang mereka semua telah mengalami modifikasi tubuh seperti Saitou. Rantai itu menyerang sesuatu yang muncul dari balik kegelapan, namun—
Sesuatu itu dengan mudah menghindari rantai-rantai itu, dan lantas mencengkeram leher pria berjas itu. Lantas dipenggalnya salah satu leher pria berjas itu. Lalu sesuatu melakukan hal yang sama pada dua lainnya.
Lalu, sesuatu itu menggenggam rambut pria lain yang mencoba kabur. Lantas menggigit lehernya. Sisanya dari mereka gemetar dalam ketakutan, dan kehilangan kekuatan untuk bertarung.
Sepertinya sesuatu itu menghisap darah mereka.
“Ya ampun, ketemu Vampir lagi?”
Guren berguman pelan.
Vampir yang sedang mengamuk di lapangan tenis benar-benar berbeda dari vampir bangsawan yang muncul di kebun binatang Ueno. Bisa disimpulkan dari pakaiannya, dia bukan bangsawan vampir. Tetapi jelas itu bukan gerakan yang bisa dilakukan manusia. Jika benar itu vampir, maka Gereja Hyakuya tidak punya kesempatan menang.
Perbedaan kekuatan antara manusia dan vampir terlalu jauh.
Ditambah lagi jika harus bertarung dengan vampir di kegelapan—
“….”
Lalu, pertarungan pun berakhir.
Benar-benar kejadian yang hanya sesaat.
Vampir membunuh seorang pasukan Gereja Hyakuya.
Guren menyaksikan keseluruhan dari kejadian. Lalu dia berpikir keras.
Barusan, apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa anggota Gereja Hyakuya dibunuh?
Para vampir seharusnya tidak tertarik pada manusia. Mereka hanya memandang manusia sebagai hewan ternak. Mereka juga seharusnya tidak tertarik dengan pertempuran antar sesama manusia.
Tapi mengapa akhir-akhir ini, para vampir sangat sering muncul?
Apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini?
Vampir itu mungkin tidak menyadari mereka. Jarak mereka terlalu jauh. Tetapi, jika mereka langsung datang ke titik pertemuan tanpa mengamati dari jauh, mungkin saat ini mereka telah jadi mayat. Guren memikirkan itu dan merasakan rasa dingin di tengkuknya—
“…..”
Namun, saat itulah vampir itu menoleh ke arah mereka.

Vampir perempuan.
Perempuuan cantik berambut panjang.
Dia menatap langsung ke arah mereka.
Tapi, tidak, itu mustahil. Jaraknya sangat jauh. Mustahil dia menyadarinya.
Tapi perempuan itu memberi senyum puas. Taring menghiasi giginya. Masih ada sedikit darah yang tertinggal di giginya. Lalu vampir itu bersiap-siap berlari.
“Oi, Guren!!”
Suara Shinya terdengar dari pohon sebelah.
“Aku tahu!”
Guren turun dari pohon. Untuk memperluas pandangannya, Guren pun membuang kacamatanya.
Dia lantas lari sekuat tenaga.
Dia keluar dari lapangan dan kembali ke dalam rimbunan pepohonan.
Guren lantas mengambil kunci dari sakunya.
Guren berlari ke sepeda motornya, dengan cepat memasukkan menyalakan mesin, dan menghalau standar.
Baru saja terdengar suara mesin hidup, vampir melompat turun di hadapan mereka.
Guren memacu kecepatan, seketika berlari kencang. Sepeda motor 1100cc itu dia buat berdiri bertumpu pada roda belakang dengan roda depan mengangkat vertical. Dia bermaksud menabrak vampir itu.
Akan tetapi, vampir itu terlihat baik-baik saja. Dia bahkan menggenggam ban depan motor Guren dan tertawa.
“Gawat.”
Kuku tajam vampir menusuk ban, menyebabkan ban meledak disertai suara  ledakan yang menggema.
Guren segeram elompat dari sepeda motor, seraya menarik katana dari pinggangnya. Dia lantas menyerang. Si vampir dengan mudah menghindari seranganya. Sama sekali tidak mengenai si vampir. Si vampir bersiap melemparkan sepeda motor ke arah Guren.
Dia tidak akan bisa menghindarinya.
Aku akan mati ....
“Guren, pegang tanganku!”
Shinya berteriak. Guren mengulurkan tangannya ke arah panggilan Shinya. Shinya segera menarik tangan Guren. Shinya yang menaiki motor kemudian menariknya dengan sangat cepat. Guren menhentakkan kaknya berkali-kali ke tanah, sebelum berhasil menaiki bagian belakang motor Shinya. Wajahnya menghadap ke belakang, memunggungi punggung Shinya.
Sepeda motor yang dilempar si vampir meluncur dan menghantam taksi yang tengah melaju. Taksi itu lantas rusak seketika.
Keadaan ini sungguh gawat.
Vampir itu masih berusaha mengejar mereka. Guren mengambil kertas mantera dari tas ranselnya, dan melemparkannya.
Kertas mantra meledak beruntutan begitu menyentuh tanah. Satu lagi meledak dekat dengan kaki vampir. Kaki vampir itu kemudian terbakar. Namun kaki itu beregenerasi dengan cepat. kelihatannya kertas mantra tidak berpengaruh pada vampir. Meskipun bajunya terbakar, namun vampir itu sama sekali tidak berusaha memadamkannya. Dia tetap berlari mengejar dengan kakinya yang terbakar.
Melihat itu, Guren bicara pada Shinya, yang mengendarai sepeda motor di belakang punggungnya.
“Shinya.”
“Hm?”
“Mungkin kita akan terkejar.”
“Kamu pasti bercanda! Ini hampir 70 kilo per jam!”
“Dia datang!”
Di saat bersamaan, vampir itu berlari melompat berusaha untuk segara mencapai posisi mereka. Gerakannya tidaklah secepat saat itu bertarung di atas tanah. Sementara itu, Guren dan Shinya tetap berusaha meloloskan diri dari si vampir. Kemungkinan besar, kecepatan mereka saat ini mencapai 100 km per jam.
Shinya memacu lagi sepeda motornya.
Tetapi, sepertinya vampir itu akan tetap bisa meraih mereka.

Tetapi jika mereka bisa lolos dari serangan pertama vampir itu, maka ada kemungkinan untuk meloloskan diri. Begitu vampir itu mendarat, maka dia perlu menghentakkan kakinya, untuk kembali melompat. Pada saat itu, pasti kecepatan vampir itu akan menurun.
Kecepatan sepeda motor masih terus meningkat.
Satu serangan saja.
Jika Guren bisa menghidari satu serangan vampir itu.
“….”
Guren memegang katana di tangan kanan dan berpegang pada bahu Shinya dengan tangan kirinya.
Guren mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan keras.
Tangan vampir itu berusaha meraih mereka.
Guren berusaha menebas tangan vampir itu.
Vampir berusaha menangkap katananya. Namun Guren tidak membiarkannya begitu saja. Guren harus menebas tangan vampir itu. Tanpa kehilangan kekuatan pada katananya, Guren berusaha memotong langsung tangan vampir itu.
Jika gagal, mereka akan mati.
Jika katananya tergenggam si vampir, mereka akan mati.
Karena itu ...
“... putuslah!”
Guren berteriak sambil menebas katana ke arah vampir itu. Jari jemari vampir itu tidak sempat menyentuh katana Guren.
Lengan vampir itu sudah terlebih dulu terpotong menjadi dua.
“Baiklah! Serangannya berhasil! Ayo, kabur Shinya!”
“Ini kita juga sedang kabur, tahu!”
Vampir itu melirik pada lengannya yang terpotong dengan wajah bosan. Vampir itu nampak tidak peduli dengan kondisinya sekarang.
Tetapi, sepertinya dia memutuskan berhenti mengejar.
Dia berdiri di atas tanah, menatap Guren.
Sepeda motor berpacu dengan kecepatan yang sangat tinggi, menjauh dari tempat itu. Kecepatannya mungkin lebih dari 150km per jam. Tetapi jika mereka menurunkan kecepatan sekarang, ada kemungkinan vampir itu akan mengejar mereka kembali.
Si vampir sepertinya sudah menyerah. Mereka memang perlu melaju cepat untuk lolos dari padangan vampir itu. Tetapi, dengan kecepatan seperti ini mereka tidak akan bisa berbelok. Dan tentu saja, jika mereka sampai terjatuh dari kecepatan seperti ini maka mereka akan mati.
Guren berpegang pada bahu Shinya dan membalik posisi duduknya. Sekilas lampu lalu lintas yang mereka lewati berwarna merah, tetapi sepeda motor sudah tidak bisa melambat lagi.
Di sebelah kanan mereka melaju truk besar.
Di depan mereka beberapa taksi tengah berhenti.

Shinya berencana untuk menyelinap di antara mobil-mobil itu.
Dia berteriak.
“Pegangan yang erat, Guren!”
“Sial, hari ini benar-benar hari sial.”
Guren lantas membelitkan lengannya kirinya di sekeliling badan Shinya.
Kaca spion membentur truk dan terpental hancur. Pecahan puingnya terbang ke arah wajah Guren. Guren bereaksi cepat dengan melindungi matanya menggunakan pegangan pedangnya, namun dia tetap mendapat sayatan di dahinya. Rasanya seperti kulitnya terbuka karena sayatan.
Namun, pertarungan itu pun berakhir saat itu juga.
“…”
Vampir tidak mengejar mereka lagi.
Mungkin karena sudah tengah malam, maka jalanan cukup kosong, membiarkan mereka dapat berpacu dengan kecepan ini. Kelihatannya, vampir itu benar-benar menyerah.
Jadi saat ini masalahnya adalah.
“Oi, Shinya. Pelankan motornya sekarang. Kalau kita akan tertangkap oleh polisi lalu lintas, akan repot.”
Guren berkata.
Mendengarnya, Shinya bertanya.
“Vampirnya?”
“Kelihatannya seperti ia menyerah.”
“Oh! Serius? Hore!”
“Cepat pelankan motornya.”
Mendengarnya, Shinya tertawa geli.
“Tapi untuk seseorang yang berkendara tanpa helm dan memegang katana di tangannya ... kamu akan tetap ditangkap, loh. Terus ditanya, kau ini preman zaman kapan?
Mendengar itu, Guren melihat katana yang digenggamnya dan tertawa.
“Baiklah, kau benar. Tapi kita baru saja terhindar dari maut. Aku tidak akan mengampunimu jika aku mati karena kemampuan berkendaramu yang buruk.”
“Tenang saja”
“Tapi kau tidak punya SIM, kan?”
“Di saat kondisi begini, apa perlunya memikirkan SIM? Tetapi, jika kita melaju pelan sekarang, kita akan sangat menarik perhatian, kan? Dengan kamu yang tidak memakai helm dan memelukku erat. Ditambah lagi, kita berdua laki-laki. Seperti apa kita terlihat nanti?”
“Diam lah dan kurangi kecepatan.”
“Baiklah. Baiklah.”
Shinya perlahan mengurangi kecepatan dan masuk ke gang kecil yang gelap sebelum memarkirkan motor.
“Jadi kita benar-benar lolos?”
Guren mengangguk.
“Mungkin.”
“Jangan hanya jawab ‘mungkin’, dong.”
“Kalau begitu, kembalilah sana dan pastikan.”
“Ogah, deh. Lagian Guren ....”
“Ng?”
“Kamu terluka.”
Shinya berkata sambil mengamati luka di dahi Guren.
“Apa ini disebabkan oleh vampir.”
Guren turun dari motor dan menjawab.
“Tidak. Ini berkat buruknya kemampuan mengemudimu. Kaca spion tiba-tiba menyerangku.”
“Ahaha. Pas menabrak truk itu, ya? Ya dihindari, dong.”
Guren mengabaikan kata-katanya dan menyentuh lukanya. Ada banyak darah yang keluar.
Seharusnya, darah ini adalah darah yang terkutuk. Karena saat darah ini disuntikan ke Mitsuki, menyebabkan Mitsuku hilang kendali dan berubah menjadi monster.
Guren tidak tahu berapa banyak darah yang perlu disuntikan supaya kutukannya aktif. Tapi apapun itu, kontak langsung dengan darah ini berbahaya.
Guren menyarungkan katananya dan mengambil beberapa lembar perban dari tas ranselnya.
Pada saat itu Shinya berkata.
“Sini biar kuban--”
“Tidak usah, aku bisa sendiri.”
“Tapi kamu tidak mungkin bisa melihat luka di dahimu, kan?”
Guren mengabaikannya dan menempelkan perban pada lukanya.
“Asal asalan sekali. Kalau kamu tidak mengurusnya dengan baik, kamu akan punya bekas luka di sana.”
“Oh, benarkah? Terima kasih perhatiannya.”
“Kalau ada bekas luka di situ, tidak ada yang mau menikah denganmu, loh~”
“Ah— Aku tahu. Aku tahu. Berisik sekali, diamlah.”
“Ahaha.”
Setelah tertawa, Shinya menarik napas panjang seakan untuk meregangkan seluruh urat badannya yang tegang.
“Tapi, itu tadi memang sangat berbahaya. Apa yang terjadi? Mengapa vampir tiba-tiba muncul?”
“Mana kutahu.”
“Ngomong-ngomong, orang-orang Gereja Hyakuya, semua terbunuh, nih.”
Guren memastian waktu lewat jam tangannya.
Ini sudah jam 2. Seharusnya ini waktu yang diatur untuk pertemuan dengan Gereja Hyakuya.
Akan tetapi, mereka tidak bisa kembali lagi ke taman Hikarigaoka yang semula merupakan tempat pertemuan dengan Gereja Hyakuya. Semua orang yang dikirim oleh gereja Hyakuya telah dibunuh oleh vampir yang mungkin masih berkeliaran di sekitar sana.
Dalam keadaan seperti itu, sebuah keajaiban mereka bisa selamat.
Itu pasti karena keberuntungan.
Jika mereka tidak sedang sangat beruntung, maka mustahil bagi mereka untuk bisa lolos dan bertahan tetap hidup.
Memang seperti itu. Manusia tidak akan dapat berkutik melawan vampir. Jika saja vampir memiliki niat untuk menghancurkan umat manusia, maka itu adalah hal yang mudah. Namun, bangsa vampir tidak peduli hal itu.
Bukan, lebih tepatnya, vampir tidak menganggap manusia lawan pantas bagi mereka.
Bagi para vampir, manusia adalah kumpulan hewan ternak yang berisik. Mau jumlah mereka semakin banyak atau berkurang, itu sama sekali tidak berarti apapun.
Itu sebabnya para vampir jarang mencampuri urusan manusia. Bahkan sangat langka untuk  bisa melihat sosok mereka.
“....”
Tetapi vampir sering muncul akhir-akhir ini. Kelihatannya mereka tidak nyaman dengan penelitian terlarang gereja Hyakuya.
Ferid, vampir bangsawan yang beradu pedang dengan Mahiru, menunjuk pada potongan monster dan mengatakan hal serupa.
“Ini ... mengerikan sekaliyaManusia sampai bisa membuat seperti ini. Kalau kalian sampai menyentuh kutukan terlarang semacam ini, dunia akan segera kiamatloh.”
Kurukan terlarang yang dapat mengakhiri dunia.
Dengan kata lain, rahasia kutukan terlarang benar-benar tersembunyi dipotongan Chimera itu.
Dan itu juga yang dibenci oleh vampir.
Mereka benci jika manusia tidak bisa mengendalikan hasratnya dan menyebabkan dunia ini berakhir.
Mungkin Shinya berpikir hal yang sama, hingga dia bertanya,
“Jika mereka benar-benar menjadi target para vampir, tidak peduli seberapa hebat Gereja Hyakuya, mereka akan tetap hancur, kan?
Itu mungkin saja.
Tetapi,
“Apa kau pikir Gereja Hyakuya akan terang-terangan menantang para vampir? Mereka harusnya tahu bahwa vampir tidak terkalahkan.”
Jika para vampir benar-benar memperingatkan gereja Hyakuya untuk menghentikan kutukan terlarang, mereka tidak punya pilihan selain berhenti.
Shinya menjawab.
“Lalu, apa yang terjadi sekarang? Mengapa vampir muncul?”
Guren tidak mengetahuinya. Bukan. Lebih tepatnya, apa yang mereka ketahui saat ini masihlah sangat sedikit.
Hasrat dari setiap organisasi yang ada saling tumpang tindih saat ini, membuat kebenaran yang ada sulit didapat.
 Tetapi.
“....”
Shinya melihat kearah Guren, dan tahu apa yang Guren pikirkan.  Siapakah yang mengendalikan benang dibalik semua ini? Siapakah yang membuat Gereja Hyakuya dan Mikado no Oni menjadi kacau balau? Mereka berdua sudah mengetahuinya.
“….”
Kemungkinan besar, Mahirulah pusat dari semua hal ini.
Hiiragi Mahiru diam diam merencanakan ini semua.
Tentu saja, mereka tidak tahu apakah Mahiru juga dalang dibalik peristiwa hari ini.
“Sepertinya jika kita bertindak ceroboh, maka semuanya akan benar-benar berakhir tanpa kita ketahui kebenarannya.”
Shinya mengatakan itu dengan ekspresi kelelahan.
Guren bisa memahaminya. Itu karena Mahiru sudahlah melangkah jauh dan jauh ke depan. Mengejar Mahiru yang sudah sangat jauh itu benar-benar melelahkan.
Guren melepas perban lukanya. Pendarahannya berhenti.  Bagulah lukanya dekat dengan ujung tumbuhnya rambut. Dia akan mudah menutupinya dengan rambut.
Guren memasukkan perban berdarahnya ke tas ransel dan mulai berjalan.
Shinya bertanya.
“Loh? Kamu mau ke mana?”
Guren menjawab.
“Pulang”
“Jalan kaki?”
“Apa ada jalan lain? Lanjut berkendara tanpa helm?”
“Uh—“
Mendengarnya Shinya turun dari motor dan meninggalkan kendaraanya. Sepertinya itu juga curian.
“Tapi bukankah tempat ini masih daerah Nerima? Shibuya masih 20km lagi dari sini kukira”
Memang kenapa?”
Bagaimana kalua kita mencuri sepeda? Yah, tapi lebih baik jika aku dan Guren pulang dengan rute berbeda.
“Tentu saja.”
“Jadi kita berpisah di sini”
Ya.
Guren menjawab tanpa berbalik.
Shinya balas berkata.
Kalau begitusampai jumpa besok di sekolah.
“Ya.”
Selamat malam~”
Shinya mengakhiri ucapannyaTiba-tiba, Guren menghentikan langkahnya dan berbalik. Melihat Shinya melambaikan tangan padanya, ia berkata.
“Shinya.”
Ya?
“….”
“Apasih?”
Guren menatap pada Shinya dan melanjutkan.
Hari ini aku selamat berkat kau. Jika bukan karena kau, aku pasti sudah mati.”
Mendengarnya, Shinya sedikit terkejut.
“Hei, hei, apa itu? Kamu mengucapkan rasa terima--”
Namun Guren segera menyela.
“Bukan rasa terima kasih. Tanpaku, kau akan mati juga.”
“Ya, itu benarsih.”
Padahal bagi Shinya dia tidak perlu menyelamatkam Guren. Pada saat vampir itu menyerang Guren, mengulurkan tangan untuk menyelamatkan Guren adalah hal yang beresiko. Seharusnya, untuk selamat Shinya hanya perlu meninggalkan Guren saja.
Tetapi Shinya tidak melakukannya.
Jadi, dengan maksud baik,
“Aku sedikit mempercayaimu sedikit sekarang.”
Mendengar ini, Shinya tertawa pahit.
“Sedikit, ya?”
“Ya. Sedikit.”
“Baiklah, terima kasih banyak. Hanya itu?”
“Ya”
“Ya, sudah. Sampai jumpa besok.”
“Ya. Sampai jumpa”
Dengan ini, Guren berangkat menuju Shibuya.

Hampir memakan waktu 3 jam untuk sampai rumah.
Shigure dan Sayuri masih terjaga.
Saat Guren memasuki mansionnya,
“”Guren-sama!””
Mereka berlari ke arah Guren dengan air mata di mata mereka.
Guren melihat sosok mereka.
“Mengapa kalian memakai piyama? Kan sudah kubilang, jika aku tidak kembali saat fajar kalian berdua pergilah ke Aichi--”
Sebelum Guren selesai bicara, Shigure memotong.
“Tidak, kami percaya bahwa Guren-sama akan kembali hidup-hidup.
“Kalian ini .... Sikap kalian itu termasuk bentuk pembangkang--”
Kali ini, Sayuri yang menyela. Ia menatap Guren sementara air matanya pecah.
“Uwaaa. Guren-sama, mengapa Anda berdarah!?”
Sayuri ingin memeluknya sambil menangis, tetapi Guren segera menghentikan lengan Sayuri.
“Jangan mendekat. Darahku sudah terkontaminasi.”
“Saya tidak peduli!”
“Aduh, tolong pedulilah. Shigure, tolong siapkan bak mandi air hangatnya. Aku harus menyingkirkan darah ini.
Shigure tidak bergerak seperti biasanya. Air mata meluap-luap dari matanya.
“Uhuhuhuhu .... Kami minta maaf .... Kami terlalu lemah.”
Sayuri yang melihat Shigure semakin menangis.
“….. Kami berdua sangat khawatir. Jika Anda tidak kembali, apa yang harus kami lakukan? Ini karena kami terlalu lemah, maka kami tidak bisa membantu Guren-sama……’
Guren berdiri di depan pintu dan menjawab dengan nada kelelahan.
“Aduh. Apa, sih yang kalian bicarakan?”
Shigure bicara.
“Setidaknya, kami harap kami bisa berada di samping Guren-sama ketika Anda sedang mempertaruhkan nyawa Anda. Kami tidak suka jika hanya menunggu di rumah saja. Meskipun kekuatan kami kurang dan kami tidak berguna bagi Anda, setidaknya .... Setidaknya kami bisa menjadi perisai bagi An ....”
Ujar Shigure panjanga lebar. Suaranya mulai bergetar di tengah-tengah dan terhenti. Shigure sangat jarang menangis.
Sepertinya mereka benar-benar khawatir kepada Guren.
Mereka kemudian semakin menangis sambil memeluk Guren.


“Kalian berdua bodoh. Sudah kubilang jangan mendekat.”
Namun mereka berdua tetap saja memeluk Guren. Kemungkinan besar, darah Guren yang tersentuh mereka sudah mengering.
Tidak ada yang terjadi. Dengan jumlah segini, tidak terjadi apapun. Mungkin jika hanya kontak fisik, tidak akan menyebabkan seseorang tertular oleh iblis? Atau mungkin ini persoalan jumlah darah yang tersentuh? Atau harus ada kondisi tertentu sebelum seseorang terinfeksi?
Tetapi, tetap saja.
“Kalian berdua, aku akan menceramahi kalian nanti. Jika kubilang jangan mendekat, maka jangan mendekat. Selain itu, segeralah kembali ke Aichi untuk melakukan penelitian.”
Sayuri menatap pada Guren dan berkata.
“Ah! Apakah Guren-sama akan ikut bersama kami?”
“Tidak. Aku  akan tinggal di sini.”
Shigure berkata.
“Kalau begitu, kami juga akan tinggal bersama Gu--”
“Jangan bercanda kalian! Dengarlah perintahku.”
“Tidak mau!”
“Saya juga tidak mau!”
“Aku  marah, loh.”
“Uwaaaah—“
Mereka terlihat akan menangis lagi.
Guren menatap keduanya dan berpikir.
“....”
Melihatnya, Guren sangat bersyukur dia tidak membawa mereka bersamanya.
Karena mereka pasti akan terbunuh.
Tidak salah lagi, mereka pasti akan terbunuh.
Mengetahui kenyataan itu, Guren pun berpikir.
Berpikir tentang kematian teman-teman.
Berpikir tentang betapa lemahnya dirinya.
Berpikir tentang Mahiru yang bisa membuang teman-temannya.
Shinya pernah berkata, mengenai hal ini sebelumnya.
“Kamu tidak akan bisa menjadi seperti Mahiru. Tetapi aku tidak berpikir itu suatu kelemahan. Dengan kata lain, jika kamu membuat pilihan yang sama dengan Mahiru, maka kurasa kita tidak perlu repot-repot menyelamatkannya.”
Apa benar begitu?
Bukankah itu hanya alasan orang lemah?
Sayuri dan Shigure berkata, mereka bersedia mengorbankan hidupnya untuk Guren.
Apa itu dianggap kekuatan atau kelemahan?
Mengorbankan nyawa, bukan untuk tujuan mereka. Bukan pula untuk hasrat mereka. Namun demi orang lain. Apa itu dianggap kekuatan atau kelemahan?
“Oi! Kapan kalian akan melepaskanku? Aku kelelahan. Aku mau mandi dan tidur.”
Shigure dan Sayuri saling menatap. Lalu entah mengapa, mereka tersipu malu. Sayuri berkata.
“A ... Anu. Saya akan menggosok punggung An--”
“Diamlah”
Guren menyela.


Sudah lewat jam 4 pagi ketika Guren selesai mandi
Dan yang lebih menyebalkan, beberapa jam kemudian dia masih harus ke sekolah. Ditambah lagi, Kureto memanggilnya saat jam istirahat siang. Jadi, sebisa mungkin dia harus beristirahat.
Ya, ampun. Mengesalkan sekali.”
Guren bergumam selagi ia merobohkan badannya ke kasur. Tetapi dia tidak kunjung bisa tertidur.

Owari no Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.