15 Februari 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 9 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 2
(PART 9)
(Translater : Setiawan Danu; Editor Gilang)

Sieg sangat terkejut betapa ringannya gadis yang sedang dia gendong pada punggungnya, dan dia juga terkejut dengan keadaan pakaian yang dipakainya sekarang. Setelah mengeluarkan baju zirahnya, dia sekarang berpakaian sebagai penduduk biasa. Seperti yang sudah diperkirakan, akan sangat mencurigakan baginya untuk berkeliling kota memakai zirah.
“.. Ah, hal ini sangat memalukan.”
“Jangan khawatir, hal ini tidak bisa dihindari lagi, mengingat keadaanmu seperti itu.”
Sieg berbicara sambil menapakan kakinya ke tanah. Jika yang Jeanne maksud tentang [dipanggil dengan merasuki seorang manusia] sangat tepat, dan hal ini sangat dapat di mengerti seakan dia akan pingsan.
“Dengan kata lain, kamu mempunyai kemampuan fisik dari seorang Servant, tapi sejak kamu terhubung dengan tubuh manusia melalui alam bawah sadar, kamu juga harus memikul hidup sebagai manusia.”
“Itulah yang terjadi. Terlebih lagi, aku telah menggunakan sejumlah besar kalori ketika aku berubah sebagai Servant.
“Itu sangat tidak praktis….”
Mekipun dia menutupi tubuh manusianya dengan cangkang, apa yang dia lakukan tidak berbeda dengan terlalu banyak menggunakanya dan menganiyaya tubuh itu. Dia masih bisa menahannya dalam situasi yang tidak memungkinkan seperti ini dengan melapisi bagian yang berbeda seperti saraf dan jaringan otot, tapi dia tidak dapat menghindari konsumsi kalori yang kuat yang menyertai metode tersebut.
Tentu saja dia tidak akan mati hanya karena hal itu. Dia tidak akan, tapi—
“Aku tidak pernah mengira perut kosong seperti ini akan terasa sakit juga. Umm, aku pikir aku akan baik-baik saja dengan mengunyah akar pohon saja jika sudah saatnya makan, tapi apa yang seharusnya aku lakukan?”
Nadanya terdengar begitu serius. Sieg menjawabnya sambil mempercepat langkah kakinya.
“…. Tolong tahan beberapa saat lagi.”
Aku tidak yakin dengan akar pohon adalah ide yang bagus, pikir Sieg, tapi Ruler hanya merspon dengan”Ya,,,”. Kalau begini terus, dia akan benar-benar mengunyah akar pohon kurang dari tigapuluh menit jika dia tidak dapat memakan apapun.
Fajar sudah mulai terlihat, dan mereka mencari penduduk desa yang bangun pagi kemana-mana. Sieg berlarian dari gunung untuk mendekati kebun terdekat dan menanyai seorang orang tua apakah ada toko yang menjual makanan di desa ini.
“Apakah temanmu pingsan?”
Dia terlihat sedang beristirahat dari pekerjaan paginya, orang tua itu bertanya dengan nada yang Khawatir sembari mengelap keringat dengan handuknya.
“Tidak, sepertinya dia hanya tidak bisa berjalan selangkah pun karena perutnya yang kosong.”
“Itu tidak baik…. Aku berniat akan sarapan pagi sekarang, maukah kamu menemaniku?”
Sieg berpikir akan menggunakan sihir sugesti jika dia terdesak, tapi sejak perbincangan mereka tidak di sangka akan berjalan sangat lancar, dan dia tidak bisa menemukan waktu yang tepat untuk melakuan hal itu. Orang tua itu langsung kembali ke rumahnya, dan Sieg juga mengikuti di belakangnya.
“Uuu, baunya enak sekali.”
Setelah pingsan sebelumnya, Jeanne terbangun. Sieg membantunya duduk ke sebuah kursi di dalam sebuah ruang makan. Orang tua itu langsung menaruh piring dan sendok di depanya, itu adalah bubur berwarna coklat kemerahaan.
“Ini….”
“Ini adalah Kasha asli yang terbuat dari gandum. Yah, silahkan dicoba.”
Terlihat sangat lahap, Ruler menyendoki bubur itu dengan sendoknya dan segera memasukan kedalam mulutnya. Dengan sekejap Ruler kembali segar, dan dia menghabisakn bubur itu dengan sekejap mata, dan meminta tambah dengan mata yang berkaca-kaca.
Sieg tidak tega, dan mengambil bubur gandum itu untuk dirinya, dan segera di habiskan lagi dengan sekejap oleh Jeanne.
“Ternyata makanmu banyak juga?”
“I-Iya! Bukan, err, ini adalah……. Maafkan aku.”
Dengan keadaan perutnya yang sudah tenang, nampaknya Jeanne memakai kalorinya lagi untuk berfikir. Pipinya memerah, dan dia menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
“Tidak, tidak, silahkan lanjutkan lagi makanmu. Kamu juga anak muda.”
Dia memberikan piring lagi ke Sieg dan Jeanne. Saat Sieg sedang kebingungan, Jeanne memilih untuk menerima niat baik orang tua itu.
Orang tua itu mengaku namanya adalah Serge. Dia bercerita bagaimana dia dilahirgan di desa ini, membesarkan puteranya, menyaksikan puteranya berangkat ketika pergi (TN:pergi ke kota/udah menikah kali yah), dan dia membajak sawahnya dan membuatnya panen sepanjang hidupnya. Itu adalah kehidupan yang biasa-biasa saja dan tidak menonjol.
“sudah lama aku tidak melihat anak muda di desa ini lagi.”
Ketika orang tua itu menyuguhi mereka kopi setelah sarapan, mereka berdua dengan senang hati menerima minuman yang sudah dibuat manis dengan memasukkan gula dan susu.
“apakah anda tidak menanyakan apa yang sedang kami lakukan di luar sana?”
Menjawab pertanyaan Ruler, Serge menggelengkan kepalanya dengan lembut.
“…Jadi. Ketika kalian berdua anak muda berkeliaran dari sebuah kota di tengah-tengah tempat yang tidak jelas seperti ini, dan hanya menggunakan sepotong baju yang menempel, tidaklah sulit untuk menebak apa yang sedang terjadi.”
Tubuh Sieg menegang karena syok.
“Yah, aku pikir itu tidak bisa di pungkiri karena kalian masih muda . tapi, seharusnya kalian lebih mempersiapkanya lagi sebelum kalian kabur, Oke?”
Nampaknya Serge sudah mengetahui semuanya, pikir Sieg. Dia  melirik ke samping, ke arah Ruler, tapi dia melihat kearah Sieg dengan ekspresi yang memalukan.
“Aku mengerti, lain kali kita akan memastikannya lain kali.”
“Huh?”
Ruler sangat terkejut dengan jawaban Sieg, yang mana membuar Serge penasaran.
“Jadi, apa yang akan kalian lakukan saat ini?”
“Tentu saja kita akan kembali…. Disana ada orang-orang yang menunggu kami.”
Serge terlihat terkejut dengan jawaban Sieg. Sesaat kemudian, dia mengangguk-angguk beberapa kali seakan sudah mengerti dan menyeruput kopi enak miliknya.
“…begitu yah. Baiklah, itu sangat bagus. Memang sangat pentin untuk mendapat restu dari semua orang.”
“?”
Tidak mengerti tentang apa yang dia bicarakan, Sieg melirik sebelahnya, dan karena beberapa alasan mata Ruler terlihat malu-malu. Dia tidak mengerti kenapa, lalu Sieg memutuskan saat ini hanya fokus ke kopinya.
…. Pada akhirnya, karena Sieg juga kelelahan, mereka berdua memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi di rumah Serge hingga siang hari. Serge dengan senang hati meminjamkan kamar puteranya yang sudah lama tidak di gunakan sejak dia telah meninggalkan desa.
“bahkan jika kita sudah di beri izin, aku kira ini akan baik-baik saja..”
“Be-betul. Tapi aku merasa tidak enak menolak niat baiknya…”
Itu adalah percakapan yang sepele, tapi Sieg melihat ke arah Ruler penasaran. Sieg adalah seorang Homonculus, dan pengalaman komunikasinya sbenarnya nol kecuali jika dengan Rider.
Meskipun begitu, bahkan jika, dia cukup mengerti jarak yang sopan antara orang-orang ketika mereka berbicara satu-sama lainya. Ruler sadar itu dan menjauh dari Sieg. Jarak di antara mereka sekitar tiga meter. Lebih tepatnya, dia bersembunyi di balik pintu kamar dan tidak akan keluar dari sana.
“kenapa kamu menjauh?”
“Ah,engg. Kelihatanya Laeticia di dalam diriku sangat buruk ketika bersama dengan laki-laki, jadi aku tidak bisa berinteraksi secara normal denganmu kecuali aku menjaga jarak ini—“
Ruler berbicara sambil meminta maaf…. Tapi dia masih bersembunyi di balik pintu.
“Bukan, tapi kamu tidak terlihat waspada saat pertama kali kita bertemu.”
“…. Saat itu masih malam. Dan aku berharap bisa melihat orang seperti apa dirimu karena aku belum mengenalmu. Sekarang situasinya sudah tenang, dan Laeticia di dalam diriku sangat kuat ingin keluar.”
“Tubuh yang di rasuki berpengaruh terhadapmu yang merasuki?”
“Benar…. Sebenarnya ini juga pengalaman pertamaku. Secara sadar aku adalah Ruler, Jeanne d’Arc. Namun, di saat yang bersamaan, kesadaran Laeticia masih ada. Pada dasarnya dia berfungsi sebagai pengetahuanku yang berhubungan di luar perang  Holy Grail.”
“apakah ada ketidak nyamanan?”
“Seperti yang aku katakana sebelumnya, kecuali keperluan untuk makan dantidur….. Ah.”
Ruler mengambil buku dari tas yang dia bawa. Itu terlihat seperti buku matematika.
“Akan sangat aenang aku tidak mengerti matematika sama sekali.”
Dia mengeluh sambil tersenyum kecut.
“…. Apakah mahir mengenai matematika sangat di butuhkan di perang Holy Grail?”
Menjawab pertanyaan yang tidak biasa dari Sieg, Ruler mengaitkan jari kedua tanganya bersamaan dan menjawab dengan ekspresi agak cemberut.
“tidak, memang benar matematika tidak ada kaitanya dengan perang, tapi…. Aku tidak bisa mendapatkan jawaban pertanyaan dari dalam kepalaku tidak perduli apa yang aku lakukan, dan aku nampaknya tidak bisa merasa tenang sama sekali…”
Memang, seorang tidak akan bisa tetap tenang mengenai itu. Jika Sieg bisa sedikit lebih berguna, mungkin dia akan sangat membantu.
“…. Pinjamkan aku buku itu sebentar, aku mungkin dapat menyelesaikanya.”
“Eh, Benarkah!?”
Ketika Sieg mengangguk mengerti, ekspresinya terlihat berbinar-binar.
“Jadi,err. Aku seharusnya mengizinkanmu mendekat.”
Setelah membersihkan tenggorokanya, Ruler mendekati Sieg dengan langkah yang canggung. Mereka duduk pada kursi berhadapan satu-sama lain dengan meja makan di tengah mereka.
“Si-Silahkan.”
Sambil membungkukkan kepalanya, Ruler membawa buku tulis dan pensil. Sieg menerimanya dan membuka buku pada halaman yang di tentuka. Dia membaca dengan tenang untuk sesaat, dan mengisi jawabanya pada kotak hitam yang berada di dalam buku.
“Aku pikir itu adalah jawaban yang tepat.”
“…. Itu sangat mengesankan.”
Setelah membaca jawabanya, Ruler membungkukkan badanya dalam-dalam. Soal itu gampang sekali, pikir Sieg. Dia hanya sudah memiliki pengetahuan itu sejak dia dilahirkan.
“….”
“….”
Kesunyian tiba-tiba melanda di antara mereka berdua. Sieg menatap ke arah Ruler dengan matanya yang merah. Dia merasa tidak nyaman karena ditatap dan dia melihat-lihat sekeliling ruangan dengan gugup.
Di ruangan yang di pinjamkan oleh Serge terdapat perabot, seperti kasur, meja kecil untuk berdua, dan dua kursi. Disana tidak ada apapun kecuali lemari yang berada di pojokan ruangan. Nampaknya, puteranya yang menempati ruangan ini sudah membawa barang-barang pribadinya saat dia meninggalkan desa ini. Tapi ruangan itu masih sering di bersihkan.
“… dia mungkin sangat berharga.”
“Siapa?”
Sieg bertanya ke gumaman Ruler tadi.
“Ah, yang kumaksud adalah putera Serge.”
“…?”
Ketika Sieg memiringkan kepalanya penasaran, Ruler menyadari alasanya dan matanya mulai melirik ke bawah dan terlihat sedih. Memang benar dia di berkati dengan pengetahuan. Dia sangat logis dan pintar. Namun, pada saat yang bersamaan, ada beberapa hal yang dia tidak mengerti juga. Daripada acuh-tak acuh, mungkin lebih baik menyebutnya murni dan tanpa dosa.
Mungkin bukan karena dia Homonculus. Menjadi penyuplai Mana, dia mungkin kekurangan banyak hal.
“Kamu mengerti? Ruangan ini kemungkinan tidak lagi di gunakan sejak puteranya meninggalkan rumah ini. Dan itu bisa di asumsikan Serge-san hidup seorang diri dan menjaga ruangan ini tetap bersih.”
“Hmm, masuk akal.”
“Jadi, normalnya, ruangan ini akan menjadi ruangan yang bagus meski tidak bersih. Tidak, lebih tepatnya, tidak masalah jika ruangan ini ditutupi oleh debu. Namun, ruangan ini sama sekali bebas dari debu. Seorang yang membersihkanya hanya ada satu—“
“Serge-dono.”
Itu merupakan jawaban yang logis. Dia hidup sendiri dan tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa seorang pembantu.
“Kemungkinan juga dia adalah orang yang suka kebersihan, tapi lantai pertama sedikit berantakan dan tidak beraturan. Meskipun begitu, tidak berada di titik dimana disebut tidak sehat.”
Tentu saja, seperti yang di katakana Ruler, barang-barang yang seharusnya dirapikan seperti pakaianya dan peralatan pertanian, masih berserakan, dan nampaknya dia tidak memperdulikanya sama sekali.
“Jadi, bisa kita simpulkan, menjaga ruangan ini tetap bersih lebih penting daripada merapikan lantai pertama dimana dia memulai harinya. Dengan kata lain dia bertindak berdasarkan kasih sayang”
Sieg memikirkanya dengan keras sesaat, dan memudian menolaknya dengan menggelengkan kepalanya.
“….bukan, itu cuma sebuah kemungkinan. Ada juga kemungkinan bahwa puteranya sangat kejam dan memperbudak ayahnya, Serge-dono, memaksanya mengerjakan pekerjaan kasar seperti membersihkan ruanganya setiap hari bahkan hingga dia meninggalkan rumah ini—“
 “Tidak mungkin”
“Memang benar, kemungkinanya sangat kecil, tapi…”
 “Aku bilang hal itu tidak mungkin.”
Sieg tidak bisa tahan dengan perasaan yang belum yakin, tapi dia patuh dan mengangguk. Dia sangat tidak peka, dan bahkan Jeanne adalah seorang Heroic Spirit,sebelumnya dia adalah manusia yang memiliki pengetahuan masa ini. Logika miliknya kemungkinan ada benarnya.
“….Hmph. Yah, kamu baru lahir, Sieg-kun. Jadi mau bagaimana lagi. Tapi, belajar tentang seluk beluk hubungan manusia …. Tentang perasaan juga sangat penting. Jika ada sesuatu yang belum kamu pahami, aku akan mengajarimu dengan seluruh kemampuan terbaik ku.”
Dengan bangga, Ruler membusungkan dadanya. Kupikir cara berbicara seperti ini mirip ‘bertindak sebagai  senior’, Sieg mengingatnya. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya lebih dari itu.
“Hey, tunggu sebentar.”
“Ya, apa itu, Sieg-kun?”
“Ah, bukanya aku—tidak menyukainya, aku pikir, tapi…”
Aku tidak berfikir aku tidak menyukainya, tapi sesuatu nampaknya ada yang salah di sini….Sieg  ingin  mengatakanya , tapi sejak “sesuatu” sangat tidak jelas baginya untuk diungkapkan, dia tidak bisa menentangnya sama sekali.
“Jadi, aku akan memamnggilmu Sieg-kun mulai sekarang. Tolong panggil aku Ruler atau Jeanne sesukamu.”
“Aku mengerti, aku sudah mengerti. Lalu, Ruler, aku mempunyai sebuah pertanyaan, tapi…. Apakah boleh aku menanyakanya padamu?”
“Boleh, silahkan.”
“pada mulanya, apa itu ‘Ruler’? kamu mengatakanya itu adalah sebuah Class yang bertugas untuk mengelola perang Holy Grail, tapi…”
Sieg telah dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang perang Holy Grail. Tapi, disamping telah mengetahui Class terpenting yang bernama [Ruler] ada, segala sesuatu mengenainya masih belum jelas baginya.
Dia memilih paling tidak menanyakan apa tujuan Ruler dan apa yang dia prioritaskan.
“….Benar, itu pertanyaan yang sulit dimengerti. Pada dasarnya, sangat mustahil untuk seeorang Ruler dipanggil kedalam perang Holy Grail normal. Ada dua kasus besar dimana seorang Ruler seperti diriku dipanggil. Kasus pertama adalah, jika seorang Ruler di panggil yang sedang terjadi dalam keadaan yang aneh dan tidak biasa, dan belum di ketahui berapa jumlah akibat yang terjadi setelahnya. Dengan kata lain, ini mengacu pada kasus ketika pilar utama dari ritual, Holy Grail menganggap bahwa Servant [Ruler] yang tidak di kendalikan seorangpun, diperlukan di dalam ritual ini. Seperti sekarang saja, dengan perang besar Holy Grail dimana tujuh Servant melawan tujuh Servant lainya—perang Holy Grail  dengan jumlah yang paling besar di dalam sejarah. Dan kasus lainya dimana ada kemungkinan distorsi-distorsi akan bermunculan di dunia ini karena akibat dari perang Holy Grail kali ini.”
“Distorsi… di dunia?”
“Benar, perang yang berlangsung kali ini, orang-orang yang menjadi Master yang mengontrol para Heroic Spirit sebagai Servant mereka dan saling berkompetisi untuk Holy Grail, tapi sebagian besar orang-orang yang menjadi Master adalah para penyihir yang mengutamakan menyembunyikan keberadaan sihir dan perang itu sendiri. Jadi jarang sekali ada situasi bencana masuk ke dunia ini, dan meski jika itu terjadi—mereka akan menanganinya sebagai bencana ringan dalam berbagai keadaan.”
“Bencana…kah.”
“benar,  itu merupakan sesuatu hal yang tidak boleh terjadi. Namun, mau bagaimana lagi, begitulah kenyataanya. Banyak sekali Holy Grail yang di tempa berbeda dari yang aslinya. Namun, ‘fungsi’ mereka adalah hal yang berbeda lagi. Ada beberapa yang berfungsi sebagai alat pengabul permintaan yang tidak terbatas. Hal itu adalah sesuatu yang tidak boleh tersebar luas melalui informasi public.”
“Aku pikir itu benar juga… Orang-orang yang permintaanya dapat di kabulkan oleh Holy Grail tidak terbatas kepada orang-orang yang suci.”
Ruler  mengangguk dengan sebuah ekspresi yang sedih.
“Tentu saja, aku tidak keberatan jika dia bukan orang suci dan permintaan yang ingin dikabulkan adalah nafsu pribadi, aku akan menghormati segala permintaan mereka. Namun, tidak jarang juga orang yang menginginkan kehancuran dunia itu sendiri. Mereka mungkin seorang penyihir atau lain yang sejenisnya… Ruler di panggil ketika kehancuran secara teori dapat terjadi karena terjadinya perang Holy Grail  dan diberi wewenang untuk melindungi kerangka kerja perang Holy Grail.”
“…..Secara teori, kapan hal itu akan terjadi? Dan lagi, apakah ada kemungkinan kalau ada seorang yang merencanakan untuk menghancurkan dunia ini bersamaan dengan perang Holy Grail juga?”
Jika  itu benar, ini masalah serius. setelah semuanya, kali ini bukan pertarungan satu-sama lain antara para ketujuh Servant, melainkan perang antara dua kelompok dengan tujuh Servanttiap  kelompoknya.
“Aku juga penasaran tentang hal itu. Memang benar beberapa kemampuanku sebagai Ruler tidak berfungsi dengan benar. Apakah karena sebuah fenomena  keanehan perang Holy Grail,atau suatu hal lainya, aku masih belum mengerrti… dan juga, meski seseorang telah merencanakan sesuatu, itu mungkin antara fraksi hitam ataupun fraksi merah.. atau mungkin sebuah organisasi yang lain. Masih belum ada keputusan perang besar-besaran antar Servant dari  kedua fraksi tersebut. Selanjutnya, Holy Grail yang mereka cari selama ini adalah Greater Graildari [Fuyuki] yang  asli dan  berperan  sebagai dasar dari semua jenis perang Holy Grail. itu adalah benda suci, sebuah pusaka yang di buat oleh tiga penyihir. Jadi aku belum bisa mengakatakan sebab mengapa aku di panggil sekarang.”
Namun, dibandingkan dengan fraksi hitam yang  hanya mencoba memaksa Ruler berada di pihak mereka, Fraksi merah berusaha membunuhnya dengan menggunakan LancerServantyang membanggakan dirinyalah yang terkuat di fraksinya. Menurut situasinya, fraksi merah lah yang  paling mencurigakan.
“…. Ini adalah situasi yang serius. Aku berterimakasih padamu karena telah membantuku.”
“Fufu, tidak masalah. Kamu adalah seorang yang terlibat dalam perang ini sesaat kamu di lahirkan. Aku ingin menghormati semangat dan keputusanmu. Dan juga—“
Disitu, kata-kata Ruler terpotong canggung. Ketika Sieg memiringkan kepalanya penasaran, Ruler menggelengkan kepalanya secara perlahan.
“Maafkan aku. Kupikir lebih baik kamu tidak memikirkan kata-kataku tadi. Karena beberapa alasan, ummm, kata-kata barusan maksudnya, seperti itu, dan ini dan juga begitu….”
“aku tidak mengerti apa yang kamu ingin sampaikan.”
“Umm, hanya karena aku belum punya bukti yang kuat, jadi… lupakan saja yang tadi.”
Sieg setuju dengan permintaanya tadi. Pada akhirnnya, dialah satu-satunya orang selain Raider  yang bisa dia andalkan sekarang.
“tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai seorang yang suci sepertimu. Aku tidak keberatan, kamu bisa membicarakanya denganku  kapanpun ketika kamu sudah mempunyai cukup bukti positif yang kamu butuhkan.”
Setelah Sieg menyatakan hal itu dengan datar, Ruler merona dan mengangguk.
“Aku tidak tahu malah sebaiknya aku malu atau senang mendengar kamu mengatakan hal itu. Tapi aku akan melakukan yang kubisa.”
Suaranya terdengar sangat kecil, tapi pasti di kata-kata itu mengendung sebuah keputusan. Sebuah keputusan sekeras berlian yang tidak bisa di goyahkan oleh apapun.
“Sekarang, sejak kita sudah tenang, ada satu masalah yang ingin aku jelaskan.”
“Ah, kebetulan sekali. Aku juga memikirkan hal yang sama/”
Seig dan Ruler keduanya sangat canggung ketika melihat kearah kasur. Itu adalah kasur tunggal, dan sangat sempit. Sieg telah lama berjalan tanpa menutup matanya sama sekali sejak dia lolos dari malam kematianya, dan tubuh Leticia juga sudah hampir sampai batasnya.
Namun, kasurnya hanya muat untuk satu orang tidur di atasnya. Jika keduanya tidur bersebelahan, mereka akan berdempetan satu-sama lainya seperti pasangan yang bergairah. Tentu saja, bagi Serge mereka terlihat seperti pasangan.
“Aku akan tidur di lantai, jadi kamu sebaiknya—“
“Aku juga tidak keberatan tidur di lantai.”
“Ta-tapi. Menurut apa yang kamu katakana, Sieg-kun, kamu belum tidur sama sekali semalaman, kan?”
“Memang benar. Terima kasih untuk hari ini, aku tidak merasakan lelah.”
“Bohong. Kamu terlihat sangat kelelahan. Aku adalah seorang Heroic Spirit, jadi tidak ada masalah bagiku.”
“Tidak, tapi barusan kamu bilang tubuh itu butuh tidur dan makan. Kamu seharusnya tidur di atas kasur demi gadis yang kamu rasuki itu juga.”
“Geh, itu tidak adil untuk membawa Leticia sebagai alasan— setidaknya bagaimana jika kita tidur bersama.”
“Kasurnya sangat sempit. Kita akan menempel satu-sama lain. Leticia benci laki-laki bukan?”
“Tidak, tidak masalah. Dia mungkin belum berpengalaman dengan laki-laki, tapi dia adalah gadis yang merasa sangat bersalah karena tidak mempunyai hati. Dia tidak keberatan untuk tidur bersama.”
“….. bukanya kamu merasa malu?”
Menjawab kata-kata itu, Ruler terdiam dan menyipitkan matanya saat dia terlihat merona.
“…. Aku baik-baik saja.”
Saat dia mengatakan dia baik-baik saja, pasti tidak ada masalah. Sieg akhirnya setuju, dan keduanya entah bagaimana akhirnya bisa merebahkan tubuhnya bersama di kasur yang sempit. Kasurnya sangat sempit. Namun karena kelelahan, mereka seperti batangan kayu, dan seketika mereka merasa sangat mengantuk.
Wajah Ruler berada tepat di depan wajah Sieg. Nampaknya dia juga mencapai batasnya, dan matanya mulai menutup hanya dengan berbaring saja. Sieg juga kelelahan, dia telah menahan untuk tidak menutup matanya beberapa saat yang lalu… namun, ketakutan yang bersarang di dalam dadanya menghentikan tidurnya saat beristirahat.
Apakah ini semua kenyataan ini sebuah mmimpi, dimana semuanya akan kembali seperti semula saat dia tertidur—dan akankah dia terbangun didalam drum penyuplai mana? Disini dia telah di berkati dengan banyak kasih sayang dan keberuntungan. Mungkin dunia tidak sebaik itu, dan sebaliknya—
“Selamat tidur Sieg-kun.
Pikiran bodohnya telah tersapu bersih dengan bisikan dan senyuman kasih sayang seperti  seorang ibu di depanya. Benar, hal ini kelihatanya adalah kenyataan. Jika semuanya adalah sebuah mimpi, berarti gadis itu adalah produk dari imajinasinya. Tapi, itu tidak mungkin—dia bisa membayangkan senyuman seperti itu.
“Selamat tidur”
Segerah setelah dia mengatakan hal itu dan menutup matanya, kesadaran Sieg mulai menghilang. Bahkan tanpa sempat melihat mimpi, dia tidur sambil merasa sedang terjatuh. Meskipun beegitu, dia tidak merasakan ketakutan sama sekali.
…. Ketika mereka mendapatkan kesadaranya kembali, mereka sadar bahwa mereka berguling jatuh dari kasur ke lantai. Kelelahan mereka sudah berkurang, tapi sendi-sendi mereka terasa sakit, karena tertidur di atas lantai yang keras.
“…Ku kira memang mustahil.”
“Benar.”
Mereka tersenyum satu-sama lain dan segera berdiri. Setelah itu, mereka memberitahu serge  bahwa mereka akan berangkat sekarang, tapi dia mengatakan “Tunggu sebentar” dan membawa segunung peralatan dari dapur.
“Ini, ini, pakai ini.”
Dia memberikan tumpukan daging yang telah di awetkan dan juga roti. Dia bahkan memberikan termos berisi kopi, dan Sieg menerimanya dengan bingung.
“Ummm, aku sangat berterimakasih anda telah memberi kami begitu banyak sekali, sayangnya kami tidak mempunyai apapun untuk membalasnya.”
“Aku tidak membutuhkan apapun…tapi, baiklah. Pastikan kamu melindungi gadis muda di sana itu.”
“Eh?”
Sieg memiringkan kepalanya dengan ekspresi bertanya-tanya, dan orang tua itu memukul bahunya sambil tersenyum.
“Kamu mempunyai kemampuan untuk melakukanya.”
“Ba-baikla Sieg-kun mari kita berangkat sekarang!”
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
“Apa itu?”
“Apakah kamu menyayangi puteramu?”
Sieg berkedip ketika mendengar pertanyaan bodoh itu, tapi kemudian wajah kecokelatan dan keriputnya segera tersenyum puas dan dia menjawab pertanyaan itu.
“Tentu saja! Dia adalah kebanggaan dan kebahagiaanku. Dia sedang bekerja keras sekarang di negara lain di suatu tempat.”
Bahkan Sieg dapat memeahami senyuman itu dari hati yang paling dalam milik Serge, mendoakan keselamatan puteranya yang telah meninggalkan sarangnya dan bergembira dengan kesuksesanya.
Ruler menarik kerah lengan bajunya dan berkata “Bukankah aku telah memberitahumu?” dengan senyuman. Sieg mengangguk, dan berteriak “Terima kasih!” ke serge.
“semoga beruntung kalian berdua!”
Setelah melambaikan tangan mereka sembari menjawab kata-kata perpisahan itu, mereka berdua kembali ke gunung sekali lagi. Berjalan bersama dengan Ruler yang telah mendapatkan kembali energinya, Sieg memiringkan kepalanya bertanya-tanya lagi.
“Apa yang dia maksud dengan “melindungimu”?”
“Sieg-kun, dia hanya salah paham. Seharusnya kamu tidak terlalu memikirkanya dalam-dalam.”
“….Baiklah, kurasa kamu benar, tapi..”
Ketika Sieg mengatakan hal itu, Ruler terlihat aneh dan memalingkan wajahnya dari Sieg sambil merajuk, dan itu membuatnya bertambah bingung.
Pokoknya, Ruler dan rombonganya sekali lagi kembali lagi ke gunung dan menuju benteng Millenia. Mereka mungkin akan tiba di benteng pada malam hari.
“… bagaimana seharusnya aku membujuk Homonculi lainya?”
Ketika Sieg bertanya dan memutar otaknya untuk mencari jawaban, dengan lembut Ruler menegurnya.
“Itu bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan sendirian. Namun, bukankah kamu mendengar teriakan “minta tolong” kan?”
“Lalu bagaimana caranya meyakinkan mereka? —Jangan khawatir, mereka pasti akan mendengarkanmu jika kamu berbicara kepada mereka.”
Kata-kata gadis itu mempunyai makna dorongan tersembunyi. Hanya mendengarnya “Jangan khawatir” saja, dia mereasa jalan menuju kesuksesan sudah pasti terjamin.
“…. Terima kasih.  Aku akan berjuang.”
“Iya, aku harap doa mu mencapai mereka.”
“namun berbeda dengan harapan laki-laki itu, mereka berdua akan berakhir menyaksikan sesuatu yang tidak terduga ketika berada dipertenghan perjalanan mereka menuju benteng.
Dan ‘sesuatu’ yang menjadi alasan mengapa di panggilnya Jeanne d’Arc sebagai Ruler.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 9 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.