23 Januari 2017

Samayou Shinki no Duelist Jilid 2 Bab 2 LN Bahasa Indonesia


LABIRIN KACAU-BALAU.
(Translater : Yunan; Editor : Gilang)


––Sudah berapa hari semenjak dia meninggalkan ruangannya?
Diam-diam Stefan Klose merenungkan pertanyaan ini.
Dia adalah anak buah dari “Shinki yang mendukung surga,” seorang anggota muda dari Sky’s Oath Legion.
Anak bungsu dari keluarga militer Klose yang diakui, dia mencapai kulaifikasi kelas pertama petualang pada usia lima belas tahun. Pada waktu itu, dia diberikan hadiah yang luar biasa sebagai pengakuan atas statusnya sebagai anak ajaib : sebuah senjata taring naga angkasa, satu dari dua belas yang ada.
Selama tragedi sebulan yang lalu, ketika Void Beast dari dalam labirin telah diteleport ke tingkat yang lebih tinggi, dia kehilangan semua anggota grupnya.
Meskipun dia menderita luka yang cukup parah setelah kejadian tersebut, meski demikian dia selamat. Karena para elit dari Oath Legion sudah lebih dari cukup untuk memulainya, kehilangan grupnya amatlah menyakitkan – sesuatu yang dia pertanggung jawabkan.
Bagaimanapun, bahkan saat dia dikecam, dia diberikan sedikit rasa simpati.
Labirin itu adalah dunia yang melampaui pemahaman manusia. Ketika hal tak terduga terjadi, mustahil untuk menjamin keselamatan bahkan petualang yang paling berpengalaman. Lagi pula, saksi telah membuktikan keberadaan dari Void Dragon. Stefan, meski berkemampuan tinggi, masihlah muda; menyalahkannya atas segalanya akan menjadi hal yang kejam.
Simpati dan kritik dari yang lainnya tidak sedikitpun Stefan butuhkan; ia hanya ditanyai oleh atasannya dan kemudian menempatkan dirinya sendiri di tahanan bawah rumah. Bahkan setelah pulih sepenuhnya, itu tidak merubahnya.
Sejujurnya, itu bukan seolah-olah ia merasa itu soal kepraktisan juga bukan bagian dari beberapa rencana yang lebih besar untuk masa depan. Ia hanya kehilangan semua motivasi untuk melanjutkannya.
Terus terang, dia hanya tidak peduli dengan segala cara.
Semua rekan-rekannya sudah pergi.
Target dimana ia mencari kekuatan dan kekuasaan begitu lama sepertinya menghilang. Orang yang membunuh Masternya sudah mati.
Sejauh yang dia perhatikan, tidak ada alasan untuk pernah menginjakkan di labirin lagi. Rasanya tidak berarti untuk mencari Reliquia untuk dipersembahkan kepada Shinki.
Lebih jauh lagi, dia bahkan tidak yakin bahwa ada keperluan baginya untuk meneruskannya sebagai anggota Oath Legion.
Jika ia mundur, ia akan ditegur oleh keluarganya atas tindakannya yang merusak reputasi keluarga, tapi sejak awal dia sama sekali tidak peduli dengan hal semacam itu.
– –Pemikiran-pemikiran itu telah dikonsumsi pikirannya selama beberapa hari. Situasinya tetap tidak berubah. Saat tiba-tiba....

“Hey Stefan, merasa sanggup untuk raid?”
Karsten bertanya pertanyaan yang sama setiap kali ia berkunjung.
Dia adalah seorang pria yang berada di puncak hidupnya dengan rambut potongan-pendeknya. Penampilannya tidak akan jauh berbeda dari petani yang menjual sayuran di pasar, tapi dia adalah pemimpin grup Sky Oath Legion.
Rumor mengatakan bahwa dia adalah orang yang bertanggung jawab untuk menujukkan bahwa para petualang direkrut semata-mata atas dasar jasa dan bukan pada siapa yang mereka kenal dan tidak pada siapa keluarga mereka. Kebijakan ini bertanggung jawab atas  pertumbuhan Sky’s Oath Legion ke dalam kekuatan yang dominan itu.
Kata-kata dan sikapnya mungkin membuat dia terlihat seperti orang yang agak sembrono, tapi dia sangat populer.
“...aku masih merenungkan tindakanku.”
Aku tahu, aku tahu. Masalahnya terjadi sesuatu di dalam labirin lagi, dan kita butuh seseorang untuk memantau situasi. Kau sepenuhnya sehat, kan?”
Grupku sudah tidak ada lagi.”
“Tidak masalah, aku punya dua anggota baru untuk kuperkenalkan kepadamu.”
Stefan menghela nafas.
“...Aku minta maaf, tapi aku harus menolak.” Dalam nada datar, ia melanjutkan, “Aku telah memikirkannya, apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Apa yang seharusnya aku lakukan selanjutnya? Aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan itu. ––Tersesat seperti diriku saat ini, aku ragu bisa membantu siapapun.”
“Hmm...”
Karsten komat-kamit dan menggelengkan kepalanya.
“Ini adalah diriku yang cukup hina, aku harus mengakuinya, tapi aku akan membiarkanmu mengetahuinya cepat atau lambat...”
 Stefan mengerutkan kening, ini sangat tidak seperti Kersten normalnya, membuka dirinya.
“Apa yang terjadi?”
“– –Untuk meringkas situasi, tata letak labirin tampaknya telah terdistorsi. Baik efek yang tepat maupun ruang lingkup fenomena yang dikenal. Sayangnya, ada petualang-petualang di dalam labirin pada saat ini yang keberadaannya tidak diketahui. Akan menjadi fantastis jika mereka hanya tersesat di dalamnya, tapi kemungkinan bahwa mereka sekarang terjebak tidak bisa dikesampingkan.”
Sayang baginya, kata-kata Karsten tidak mengubah pikiran Stefan pada akhirnya. Tiba-tiba, ia dipukul oleh sebuah pikiran...
Apakah itu yang Karsten sulit bicarakan...? Tidak mungkin kalau itu – –
“Ya. Kulihat kau mengerti.”
Melihat ekspresi Stefan, Karsten mengangguk mengonfirmasi.
Adik tiri dari ibumu – cleric kelas tiga, Franka – berada di antara mereka saat ini yang belum ditemukan.”

Stefan menuju pintu keluar kota, ke arah pintu masuk labirin yang Karsten telah katakan.
Setiap pintu masuk labirin saat ini diawasi oleh kesatria dari Gereja Lima yang Kudus, dan tertutup bagi siapapun selain untuk mereka yang berafiliasi dengan Oath Legion. Mereka telah menilai situasinya terlalu berbahaya untuk siapapun selain petualang yang paling berbakat.
 Para penjaga itu mengenali Stefan dengan cepat, dan ia melewati tanpa gangguan.
Ia melihat ke sekitar, mengamati sekelilingnya.
Tidak sedikit jumlah anggota Oath Legion yang berkumpul. Tiap-tiap elit dari setiap Shinki Oath Legion telah dipanggil untuk menginvestigasi situasinya, dan mereka masuk ke labirin saat dia mengawasinya.
Saat ia terus bergerak maju, teriakan dari “Hei, lihat di sana,” “Masih hidup, eh?”, dan komentar serupa lainnya terdengar.
Si “jenius” yang telah lenyap dari mata publik selama sebulan menjadi pusat perhatian. Dengan keras, mereka meneriakkan penghinaan dan komentar sarkastik yang Stefan tidak pedulikan saat berjalan ke titik pertemuan.
“Oh, hey, Kakak yang disana!”
Seseorang memanggilnya saat ia mencapai sudut sebelum pintu masuk, tempat yang ditetapkan.
Seorang gadis muda melambai penuh semangat padanya. Di sampingnya adalah gadis muda lain.
"Hei, hei, kau - kau Stefan Klose, kan?" Tanya gadis itu, dengan suara jelas yang indah.
Dia adalah seorang gadis muda mungil kira-kira lima belas atau enam belas tahun, dengan rambut terang, cokelat dan ekspresi yang bersemangat.
 "... Kalian adalah anggota baru grup saya?"
"Whoa, menakjubkan. Jadi kau dingin seperti yang aku dengar! "
Gadis itu tertawa kecil sementara Stefan mengerutkan kening.
“Kau bersikap kasar, Lea...” gadis yang berada disisinya berkata, dengan nada yang tenang.
Gadis itu tampak sekitar dua puluh tahun atau lebih, dan mengenakan jubah panjang, dengan rambut hitam panjang yang diikat dibelakang kepalanya. Dia cukup tinggi untuk ukuran perempuan, tapi begitu ramping sampai terlihat bisa saja hancur karena dua hembusan angin. Kecantikannya begitu halus.
“Oh, maaf, salahku. Hanya saja kau begitu mirip dengan rumornya yang aku tak bisa cegah melainkan mengatakannya dengan keras. ––Tapi yeah, untuk menjawab pertanyaanm, kami anggota baru dari Sky’s Oath Legion. Aku Lea, aku spesialis pendukung kelas tiga, gadis lemah di sampingku adalah Serafina, cleric kelas tiga. Senang bertemu denganmu, Senpai.”
“...Kami dalam bimbinganmu.”
“Namaku adalah Stefan Klose.”
Lea tertawa keras sekali lagi mendengar kata-katanya.
“Yeah, aku tahu itu! Kau orang yang terkenal, tahu? Orang termuda yang pernah mencapai kelas pertama dan seorang pengguna tombak.”
“...”
Harapan gadis itu terhadap dia jauh terlalu tinggi. Pemuda itu bagaimanapun juga, sangat mempertimbangkan untuk menyerah atas posisi petualang. Dia ingin mengatakannya sebisa mungkin, tapi menyadari betapa kekanak-kanakannya tindakan itu, dia berhenti.
“Ini hebat. Dengan kau di grup kita, tak ada yang perlu kita khawatirkan. Kita punya ini.”
Lea menggenggam tangan Stefan atas kemauannya sendiri, dan menjabatnya dengan penuh semangat.
Meskipun perkataan dan sikapnya begitu kurang ajar dan tidak sopan...sangat jelas bahwa dia tidak bermaksud jahat. Dia hanya tipe orang yang seperti itu.
Lagipula, dia adalah seseorang yang grupnya telah dimusnahkan di bawah pengawasannya. Dia tidak memiliki hak untuk menjadi pemilih saat berurusan dengan anggota grup. Gadis itu mengabaikan reaksinya dan terus berbicara.
“Aku senang menggambar, jadi Serafina dan aku memetakan langsung labirin. Hanya ini yang bisa kami lakukan dengan hanya kami berdua saja.”
Itulah mengapa mereka berdua mengambil ujian untuk masuk ke dalam Oath Legion, dan akhirnya bergabung.
Peta dan panduan untuk setiap lantai di labirin, dapat dikatakan bahwa sebagian besar merupakan hasil karya mereka berdua. Stefan pribadi mengandalkan material internal Legion, sehingga ia tidak pernah secara pribadi menggunakan apapun yang mereka buat, tapi ia tetap mendengarkan mereka.
“Oh, ngomong-ngomong, biar aku beritahukan berita buruknya terlebih dulu. Aku tidak ingin kau mengharapkan kami untuk bertarung. Aku lumayan baik dalam melarikan diri saja. Tapi Serafina bisa sungguh berguna.”
“Tapi...mantraku...tidak terorientasi dengan pertarungan...” Sefira berbisik lemah, dengan kepala menunduk.
“Lagi pula kita disini bukan untuk bertarung. Prioritas utama kita adalah untuk menginvestigasi ketidaknormalan.”
Lea menangguk mendengar kata-kata Stefan.
“Yeah, aku sudah mendengarnya. Secara tiba-tiba tata letak labirin berubah. Tujuannya untuk menyebarkan orang-orang sebanyak mungkin dan memetakan perubahan. Itulah mengapa kami disini.– –Oh, itu mengingatkanku. Situasinya sudah dijelaskan kepadaku; aku akan menanyaimu.”
Penjelasan Lea secara kasar dapat diringkas dengan cara berikut.
Sekarang ini, tangga dan jalan gerbang besar Magna Porta telah dibuat berantakan. Alasan dari anomali itu tidaklah jelas, tapi sesuatu telah melengkungkan ruang, dengan tepat menyusun kembali tata letak labirin.
Ketika fenomena itu muncul, para cleric telah melaporkan merasakan perasaan yang aneh. Apapun itu sudah tidak terbantahkan itu adalah hasil dari perbuatan sejumlah besar energi suci.
Perubahan dimulai di lantai kedua, meskipun tidak diketahui seberapa jauh kebawah efek itu menyebar.
Dari laporan pertama, terlihat habitat dari Void Beast juga telah berubah, meskipun hal ini belum dikonfirmasi.
Terlebih lagi, saat ini tidak diketahui apakah perubahan ini semata-mata bersifat sementara atau berlangsung selamanya. Hanya waktu yang dapat menjawab, terutama dapat atau tidaknya hal itu terjadi kembali.
Lea menyudahi penjelasannya tanpa interupsi. Stefan terkesan; penjelasannya terlalu bagus, dan itu tadi jelas dan mendetail.
“Hmm...sepertinya terlihat sangat merepotkan.”
Memetakan labirin sekali lagi akan sangat memakan waktu, dan jika, Dewi melarang, fenomena itu akan terulang dengan sendirinya mungkin saja mereka tidak akan pernah kembali ke permukaan. Setelah menyadari ini, lebih dari beberapa petualang menolak untuk masuk.
(Dan itu tepatnya mengapa kita harus melakukan ini.)
Kepada semua petualang yang terjebak di dalamnya yang mati-matian mencari jalan pulang.
“...Apa kalian tidak keberatan dengan ini? Misi kali ini dapat sangat membahayakan.”
“Tak ada sesuatu yang seperti raid yang tidak berbahaya. Tidak apa. Tepatnya  karena ini berbahaya maka kita perlu menginvestigasi situasinya lebih jauh, kan? Semua ini membuat semangat pembuat petaku membara, kau tahu?”
Serafina menggangguk setuju.
Sejauh yang Stefan perhatikan, mundur tidak pernah menjadi sebuah pilihan.
“...Baiklah, ayo masuk ke dalam labirin sekarang, kalian fokus menggambar peta kalian, aku akan mengurus Void Beast yang kita temui.– –Ayo berangkat.”


***

“J-Jadi karena i-itulah mengapa aku t-takut.”
Edgar gemetaran.
“Ini cuman lantai empat, kan? Void Beast di tingkat ini seharusnya sangat lemah; tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Tapi ulat yang barusan tadi itu besar,” Selim merespon dengan lemah.
“Apa yang akan terjadi jika sesuatu yang bahkan lebih kuat dari itu datang...?”
“Alfred-san akan mengurusnya untuk kita. Yuuki-sensei, sampai sekarang ini kau sangat tidak berguna, aha.. ha.”
Edgar mencoba menertawai hal itu, tapi gagal.
“...Aku ingin pulang...” kata-kata Selim hampir terisak-isak.
Setelah Void Beast itu sudah dibunuh, mereka terus maju sekali lagi. Sayangnya, mereka berdua telah menderita goncangan yang hebat.
Kaya, yang berjalan di belakang mereka berdua, juga ingin menangis. Meskipun alasannya berbeda.
(Apa yang kulakukan? Apa yang kulakukan? Ini sudah dimulai...)
Kegelisahan dan ketakutan telah mencengkeram hatinya.
Dia tidak tahu bagaimana dia akan mengakhirinya atau apa tujuan akhirnya, tapi dia tahu satu hal – perubahan labirin adalah ulah perbuatan Jahar. Rencananya untuk membunuh Tina dan Yuuki telah dimulai.
Aku tidak ingin membantu. Biarkan aku pergi. Sialnya, melarikan diri bukanlah pilihan, membuat Kaya tidak yakin apa yang sebaiknya ia harus lakukan.
Menyela pikirannya, sebuah suara terdengar di kepalanya.
[]– –Bagaimana keadaannya ditempatmu?[]
“Ah– –“ Kaya hampir menjerit. Dengan bingung, dia mendekap dengan kedua tangannya rapat-rapat mulutnya.
[]T-Tidak ada yang benar-benar berubah... aku masih bersama dengan Yuuki-sensei dan Tina-san.[]
[]Dimana kau sekarang?[]
[]Di lantai empat. Kami mencari tangga menuju lantai berikutnya.[]
[]Kau masih belum menemukannya, kan? Bagus. sepertinya kalian sepenuhnya terkunci di dalam.[]
Kaya merasa sepertinya Jahar tertawa.
[]A-Apa yang terjadi? Juga, apa yang kau rencanakan berikutnya?[]
[]Kami masih membuat persiapan. Aku akan memintamu untuk meneruskan apa yang sudah kau lakukan, Shinki-sama. Aku perlu kau untuk memberitahuku segera jika kalian berganti lantai.– –Oh, satu hal lagi. Aku yakin kau sudah mengetahui ini, Kaya-chan, tapi biarkan aku mengingatkanmu untuk tidak membiarkan identitas aslimu sampai diketahui. Jika mereka mencari tahu siapa kau sebenarnya, akhirmu akan menjadi salah satu yang tragis, predator akan berubah menjadi mangsa.[]
[]Oh...[]
Dengan itu, koneksi itu telah diputus.
Ketakutan di hatinya menjadi berlipat-lipat ganda.
Kaya dan Tina berada di pihak yang berlawanan, musuh yang berjuang sampai mati. Tidak peduli seberapa keras atau seberapa lama Kaya memikirkan masalah ini, itu tidak akan merubah apapun. Tina, dia tidak lebih dari sekadar musuh yang dibenci.
Selain itu, demi kemenangan, dia berencana untuk menyergap mereka. Jika  rahasianya terungkap, lupakan Tina dan Yuuki, bahkan Alfred dan Franka, serta Edgar dan Selim – semuanya akan muak dengan tindakannya.
Dan kemudian...kematian akan datang. Itu akan cocok jika memang takdir yang seperti itu hanya akan menunggu orang yang mengincar nyawa orang lain.
Shinki yang lemah – yang bahkan tidak mempunyai Oath Legion di bawah kekuasaannya, yang melompati bayangannya sendiri dan tidak pernah memutuskan sebuah aksi rencana – tidak memiliki harapan untuk menang. Jadi Jahar memberitahukannya. Hak untuk “memilih” adalah hak yang dimiliki hanya untuk mereka yang "kuat".
Untuk itu, Kaya masuk ke dalam aliansi bersama “Shinki Yang Menaburkan Bintang,” sekalipun tahu betapa tidak setaranya hubungan mereka. Kaya diperlukan untuk bekerja dengan tekun untuk meningkatkan hubungan mereka, untuk melayani rekan sesama Shinkinya sebaik yang dia bisa, dan dengan demikian akan dihargai atas upayanya. Ini adalah prioritas utamanya. Kaya tidak pandai dalam berurusan dengan Elfride, tapi dia dia dibutuhkan untuk melakukan yang terbaik disini.
Kata-kata Jahar ini sangat tepat. Hal tersebut dibutuhkan untuk meraih kemenangan.
Namun, Kaya khawatir. Keduanya hanyalah tentang membunuh atau terbunuh.
Terlepas dari moralitas tindakannya, Kaya tidak berani untuk menukarkan nyawanya untuk nyawa orang lain.
“Ada yang salah, Kaya?”
Sebuah suara terdengar di telinganya. Tina mendekatinya tanpa sepengetahuannya.
“Kau tidak terlihat terlalu baik, apa kau takut?”
“...”
Kaya tidak tahu bagaimana harus merespon, jadi dia mengangguk saja.
“Yeah, aku mengerti. Kau tidak perlu khawatir. Kami akan memastikan kalian pulang ke rumah dengan selamat. Meskipun pada kenyataannya, Master hanya seorang pedagang yang agak menyedihkan, tapi disini di dalam labirin, dia lebih dari sekadar dapat diandalkan.”
Melihat pria muda yang dibicarakan, ekspresi Tina terlihat bangga dan puas.
“Itu berlaku juga untuk kalian berdua, Edgar dan Selim! Tidak perlu terlihat begitu murung. Jika kalian tidak pernah memandang ke atas, maka kehidupan juga tidak akan pernah.”
Tina sendiri terlihat begitu kelelahan. Meskipun demikian, sepertinya perhatian utamanya adalah untuk menghibur semuanya, untuk membantu mereka merasa lebih baik.
Jauh di dalam hati Kaya, sebuah persaan bersalah yang tidak bisa dia abaikan muncul ke permukaan.
“– –Tolong tunggu sebentar.”
Alfred mengisyaratkan kepada mereka untuk berhenti.
Grup itu menjadi berhenti.
Ketika sesuatu yang tidak diharapkan muncul – seperti berpapasan dengan Void Beast – aksi yang terburu-buru dari satu orang menentukan hidup dan mati. Edgar dan Selim cukup memahami ini.
Beruntungnya, ini bukan Void Beast yang mereka temui.
Yuuki berjalan ke depan untuk melihat apa yang terjadi dan membuat sebuah pengumuman yang tidak menyenangkan.
“...Ini tidak bagus, ini tangga ke bawah.”
Semuanya paham betul alasan dari kemuraman yang terpampang di wajahnya.
Mereka sudah menelusuri di semua tempat, dan apa yang mereka bisa raih dari lantai empat, mereka sudah melihatnya. Pojokan ini yang tersisa dari semuanya.
Namun, ini, harapan terakhir mereka, nampaknya bukan tangga ke atas, tapi justru tangga ke bawah.
Terkunci” – Kaya mengingat perkataan Jahar tersebut.
“Heh. Sepertinya labirin tidak ingin melihat kita pergi. Kita juga belum mendengar orang lain menyerukan ada tangga ke atas.”
“M-masih terlalu cepat untuk memutuskan itu. Mungkin ada sebuah ruangan atau jalan atau sesuatu tersembunyi.”
“Bahkan jika memang ada, kita tidak tahu harus mulai mencari hal itu dari mana. Selain itu, kita telah mempertimbangkan hal itu dan sudah mengamati dengan teliti selama perjalanan kita.”
“Oh...”
Respon Yuuki membuat Franka kehilangan harapannya juga.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Yuuki? Haruskah kita pergi ke bawah dan melihat-lihat? Melihat situasinya, tingkat bahayanya mungkin kira-kira akan sama tidak peduli kemanapun kita pergi.”
Aturan yang mengikat Void Beast yang lebih kuat di lantai yang semakin rendah adalah masa lalu pada keadaan yang seperti sekarang ini. Apakah mereka tetap di lantai ini atau turun lebih jauh, bahaya yang mereka hadapi kurang lebih sama.
“Yeah, kau benar. Hanya saja aku punya firasat buruk jika kita turun lebih jauh.ini hampir seperti kita akan bermain tepat di tangan seseorang.”
Kaya tahu betul seberapa akurat penilaiannya, tapi tentu saja, dia tidak mengatakan apa-apa.
Yuuki berpikir sejenak sebelum memustuskannya.
“Baiklah, mari kita ambil tangga ini.”
“Apakah itu tidak apa-apa??”
“Tidak ada yang akan berubah jika kita terus berada disini. ––Apakah kau masih baik-baik saja untuk melanjutkan, Kaya?”
“Y-Ya, aku baik-baik saja.”
“Bagus, kita sebaiknya mencari jalan keluar selagi kita masih memiliki tenaga untuk disimpan.”
Yuuki tersenyum kecil, dan berbalik menghadap mereka mengambil posisi di bagian belakang, memberitahukan mereka untuk bersiap-siap bergerak.
Tina dan Edgar sedang mengobrol dengan cukup riang, suasana hati kedua anak itu telah menjadi lebih baik; usaha Tina untuk mengihibur mereka telah sukses, kelihatannya begitu.
Nah, itu baru Shinki yang sebernarnya...” Kaya berguman kepada dirinya sendiri.
Yang melindungi orang-orang, melepaskan mereka dari kejahatan – pelindung dunia ini.
Melihat Tina, Kaya dipenuhi dengan rasa kerinduan yang begitu dalam – campuran antara kesepian dan rasa iri.
Grup Tina menuruni tangga, tiba di lantai lima. Kaya melaporkan perubahan ini dan segera memutus koneksi tanpa menunggu jawaban.
Apa yang harus dia lakukan berikutnya? Atau lebih tepatnya, apa yang akan Jahar lakukan berikutnya?
Lantai lima terlihat sama dengan lantai sebelumnya. 
Lebih tepatnya, itu, juga, adalah percampuran antara lantai-lantai lainnya, sebuah campuran yang menyesatkan dari lantai-lantai labirin.
“Harus aku akui, aku merasa sedikit putus asa...”
Sementara dia berjalan pelan, Franka menghela napas.
“Siapa yang bisa mengatakan apa yang ada di depan sana? Kita sebaiknya melanjutkan apa yang telah kita lakukan dengan memetakan lantainya selagi kita menjelajahinya.”
Yuuki melakukan yang terbaik untuk mendorong semua orang.
Secara tak terduga, pandangan Kaya menjadi samar dan kepalanya menjerit kesakitan.
– –“Itu” telah datang lagi.

***

“– –“
Itu sedikit lebih baik saat ini.
Sebuah guncangan kembali muncul menggetarkan labirin sekali lagi, dia menggenggam Tina dan Kaya, yang terjatuh.
“...Maaf Franka, aku tidak punya tangan lainnya.”
“Oh, tidak, tidak apa-apa. Aku tak apa.” Franka tersandung beberapa langkah, tapi ia berhasil mengatasinya sendiri.
“Mm. Tina juga tidak apa-apa, Master.”
Jangan memaksakan dirimu.– –Bagaimana denganmu, Kaya?”
“Aku baik-baik saja.” Dia membalas.
Mungkin karena ini adalah yang kedua kalinya terjadi, gejala pada semua  jadi lebih ringan.
Yuuki menempatkan mereka berdua yang ia tangkap dalam pelukannya dengan lembut ke lantai.
“Uh, Yuuki-sensei... di belakang kita...” seru Edgar.
Semuanya berpaling melihat ke belakang mereka.
Tangga yang baru saja mereka turuni telah lenyap, digantikan dengan dinding batu kosong.
“...semuanya telah disusun ulang lagi.”
Yuuki mendecakkan lidahnya.
Dia bukannya tidak mempertimbangkan terjadinya kemungkinan seperti itu, tapi itu masih mengganggunya lebih dari dari yang dia bisa akui.
Jika itu terus terjadi, maka upaya untuk membuat topologi (ilmu tata ruang) baru akan terbukti sia-sia.
Bagaimanapun, fakta bahwa jika mereka tetap berada di tempat dimana mereka saat ini, tidak akan memperbaiki situasi mereka yang tidak berubah. Grup kecil mereka memutuskan untuk maju dan menjelajahi lantai lima.
Dibandingkan dengan lantai empat, upaya mereka kali ini ditandai dengan pasang surut.
Semua orang terbiasa dengan keanehan medan sekarang ini, dan setiap Void Beast segera disingkirkan. Sayangnya, sementara mereka terus melanjutkan, fenomena terus terulang lagi dan lagi, membuat Yuuki dan yang lainnya sangat kesal.
Tidak ada satupun dari perubahan itu yang drastis hampir sama dengan sebelumnya. Pada dasarnya hanya pemandangan yang berada langsung dalam jangkauan pandang mereka yang sepertinya telah terpengaruh.
Setiap perubahannya itu kecil, sepanjang garis yang menciptakan sudut di depan mereka yang sebelumnya tidak ada, atau  mengubah jalan mereka sebelumnya menjadi jalan buntu.
Meskipun mereka terus-menerus berkeliaran, dengan dasar mencari air, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi sedikit dan semakin sedikit bertemu petualang.
Sungguh, mereka tidak bertemu dengan orang lain dimanapun selama hampir dua jam.
“– –Sepertinya ada seseorang yang mencoba mengisolasi kita,” pikir Yuuki.
Jika ia menganggap bahwa ini telah menjadi tujuan dibalik perubahan yang dibuat pada labirin, maka semuanya mulai masuk akal.
Itu dapat dikatakan bahwa dia tidak memirkan ini sekarang; tidak, kemungkinan sudah muncul kepadanya segera setelah fenomena pertama menuampakkan dirinya. Sekarang, bagaimanapun,  ini nampak bahwa ini benar-benar jawabannya.
Setelah semuanya, penjelasan ini bekerja, membuatnya jadi jauh lebih masuk akal daripada “sebuah mekanisme di dalam labirin tiba-tiba aktif dengan sendirinya.” Jika seseorang berada di balik ini, maka dia hanya perlu menarik mereka dari balik tirai dan memberi mereka pukulan yang sesuai dan masalah akan terselesaikan. Yang tersisa ialah memutuskan bagaimana cara untuk membuat mereka mengungkapkan diri mereka– –.
Void Beast di arah jam 10!”
Teriakan Franka menyela jalannya pemikirannya. Sergapan Void Beast ini sudah berkali-kali terjadi.
Alfred dan Franka berlari ke depan untuk menemui si penyerang.
Anak-anak bergegas ke belakang, bersembunyi dibelakang Yuuki. Karena ini sudah berkali-kali muncul, Edgar dan teman-temannya beraksi dengan cepat dan gerakan mereka terlatih.
Keduanya dengan cepat menempatkan musuh mereka – serigala bernapaskan api – di ambang kematian.
Yuuki ingin menghindari pertempuran kecuali jika sangat diperlukan, karena setiap aksi akan beresiko mengungkapkan identitas asli keduanya baik dia dan Tina. Meski demikian, ia tidak akan membahayakan keselamatan Alfred dan Franka hanya untuk menjaga rahasia itu. Untungnya, kejadian yang seperti itu belum muncul dengan sendirinya.
Saat secara bertahap mereka semakin kelelahan, bagaimanapun, dia menetapkan bahwa begitu mereka menghabiskan tenaga mereka, dia harus beraksi. Melihat tindakan mereka, mereka belum sempat menyimpan tenaga, tapi ada batas yang pasti untuk stamina baik Alfred dan tas Mutiara Suci  Franka. Mereka tidak bisa terus seperti ini selamanya.
Dia harus mencari cara untuk merebut perhatian musuh-musuh mereka sebelum batas tersebut tercapai– –
“Master! Di sini!,”
Tina.
Yuuki mendecakkan lidahnya dan berbalik. Dia terlalu fokus dengan pertempuran yang ada di depannya, dan lupa untuk mengawasi bagian belakang juga.
Sebuah bayangan hitam telah muncul, musuh yang seperti awan siap untuk menyerang anak-anak. Ini adalah musuh yang sering dilihat di lantai empat dan lima – sekumpulan tawon tipe besar  yang hanya dapat ditemui di dalam dinding-dinding labirin.
“Mundur!”
Tina meraih Edgar dan menariknya ke depan. Seekor Void Beast pada tingkat ini tidak benar-benar dapat melukai Shinki, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Aaaaah– –“
Seekor tawon berbisa terbang di leher Selim yang berwajah pucat, yang berada di bagian belakang. Kaya, dengan tampilan keberanian yang sama sekali tidak terduga, menepuk itu pergi.
Sayangnya, tindakanya didampingi dengan jeritan yang melengking.
“Ah! Y-Yuuki-sensei! Selim– –!”
Bukan karena tawon pertama yang menyerangnya. Tawon kedua ini terbang dari titik butanya, dan  menyengat lengannya
“Tenang, Kaya.– –Tina, bantu Selim obati lukanya. Pastikan kau mencabut alat sengatnya!”
Tipe tawon ini meninggalkan alat sengantnya di dalam tubuh korban, di mana itu terus memompa racunnya ke tubuh mereka.
Yuuki memberi Tina instruksi sebelum menyerang dengan segera menuju awan tawon itu. Marah dalam hati karena kecerobohannya, dia mengambil belati di pinggangnya. Senjatanya berkelebat, dan tawon jatuh mati, tubuhnya terpecah menjadi dua bagian.
Dalam sekejap, dia membunuh semua kawanan lebah. Pekerjaan selesai, dia kembali.
“Bagaimana keadaannya? Apa yang lainnya tersengat?”
“Selim adalah satu-satunya, dan kami telah menghilangkan alat sengatnya.– –Dia sangat berani; dia bahkan tidak menangis.”
Tina menepuk kepala bocah disampingnya, matanya penuh dengan air mata.
Yuuki menghela napas.
“...Aku minta maaf. Aku terlalu ceroboh.”
Tata letak baru yang aneh dari labirin berarti itu wilayah Void Beast, yang tidak pernah sebelumnya tumpang tindih, sekarang bisa, dan dengan demikian serangan dapat datang dari segala arah. Dia terlalu fokus pada ancaman besar sebelumnya, dan sepenuhnya mengabaikan tugas untuk mengawasi mereka.
“Bagaimana kedaan kalian semua? Semuanya baik-baik saja?”
Void Beast tanaman berdaun, Franka bergegas kembali untukk mengecek yang lain.
“Lengan Selim disengat oleh tawon beracun. Aku minta maaf untuk memintamu mengerahkan dirimu setelah pertarungan panjang tadi, tapi bisakah kau menolongnya?”
“Tentu saja! Serahkan padaku.”
Franka menarik lengannya dan memeriksa lukanya.
“Alat sengatnya...sudah dihilangkan. Cidera ini ditimbulkan ketika alat senganya dicabut, bukan?”
“Yeah, karena alat sengatnya tertanam dalam lengannya, kami harus memotongnya dengan pisau...”
“Kerja bagus. Racun akan menyebar keseluruh tubuh sedangkan luka akibat pisau ini dapat disembuhkan dengan mudah. ––Okay, aku akan menyembuhkanmu dengan mantra. Tolong tenang, Selim-kun. Cidera yang seperti ini hanya butuh sedikit istirahat, dan kemudian itu akan menjadi seperti baru kembali, kau jangan khawatir.”
Franka mengambil sebuah mutiara suci dari tasnya kemudian berfokus, dalam sekejap, daging di tangannya menyambung dengan sendirinya dan membuatnya utuh kembali. Mantra serangan dan restorasi merupakan mantra yang sulit untuk dilakukan, tapi itu adalah spesialisnya.
Sementara Tina bernapas lega, Yuuki membungkuk untuk berbisik kepadanya.
“...Saat kau mencabut alat sengat dari lengannya, bagaimana tepatnya cara kau membuka kulitnya?”
“Aku menggunakan pisau yang kau berikan kepadaku saat kita masuk.”
“Bukan itu yang aku tanyakan. Yang kumaksud adalah, aku pikir kau Shinki, tidak bisa menyakiti siapapun?”
“Eh?”
Tina memiringkan kepalanya terkejut dan kebingungan.
“Aku terlalu fokus  pada apa yang aku harus perbuat untuk menolongnya jadi aku tidak menyadarinya, tapi kau benar, Master. Bagaimana aku melakukan itu?”
“...Kau dapat menyayat lengannya karena itu demi menolongnya. Jika kau tidak menyadari kalau kau sedang menyebabkan luka apapun, maka nampaknya itu mungkin bagimu untuk melakukannya.”
“Ketidakmampuan untuk menyakiti mahluk hidup yang lain” secara alami adalah blok mental. Jika dia tidak menyadari apa yang dia lakukan itu menyakiti orang lain, maka pembatasan ini pada tindakannya tidak akan aktif. Sekarang saat Tina berpikir tentang hal itu, ketika dia terbangun sebelumnya, dia menabrak rahang Yuuki,  menimbulkan rasa sakit kepadanya.
Meskipun luka Selim sudah disembuhkan, grup ini memutuskan yang terbaik ialah mereka harus beristirahat.
Jika ada racun tersisa di aliran darahnya, maka aktifitas fisik akan mempercepat penyebaran ke seluruh tubuhnya, menambah buruk kondisinya. Dengan tujuan untuk menghindari skenario terburuk, mereka menganggap perlu untuk mengamati situasinya untuk sementara waktu.
Yuuki menyerahkan Selim di bawah perawatan Franka saat ia berjaga.
––Alfred tiba-tiba berjalan ke samping Yuuki.
“...Bagaimana perasaanmu, Paman?”
“Merasa masih sedikit bersemangat.”
“Ini yang  paling buruk. Awalnya, aku pikir ini adalah pekerjaan yang sederhana, namun lihat bagaimana hal-hal telah berubah.”
Pikirkan saja hal semacam ini sebagai sebuah rekreasi kecil. Dalam skema yang lebih besar, kelancaran dan stabillitas adalah hal yang penting.”
“...Aku kira juga begitu.”  
Yuuki menghela napas.
“Kau selalu mengajari petualang-petualang baru, Paman. Bagaimana uangnya?”
“Aku tidak mengandalkan ini untuk menyediakan makanan di atas meja, jika itu yang kau tanyakan. Kesampingkan tugas sekolah pelatihan, aku mempunyai majikan yang jangka panjang. Jika kau mau merubah pikiranmu tentang menjadi petualang, aku akan lebih dari pada senang untuk memperkenalkannya padamu.”
“Lupakan itu.”
Selesai berbicara, Yuuki kembali melihat anak-anak.
“Anak-anak terlihat baik-baik saja. Aku membayangkan mereka akan cukup ketakutan setelah apa yang terjadi. Tapi nampaknya mereka baik-baik saja bersama Tina dan Franka.”
Selim tergeletak di tanah, beristirahat, bersama yang lain berkumpul di sekitarnya.
“Belum lama ini, ‘Shinki yang dimahkotai dengan Bulan’ dan duelistnya, Raja  Pedang Salju yang terhormat yang cukup dikenal. Cerita ini– –“
Franka nampaknya akan berbagi cerita tentang Duelist dengan anak-anak. Selim, juga, adalah pendengar yang tidak sabar. Dari kelihatannya, dia sepertinya akan baik-baik saja.
“Kau tidak terlihat sangat senang?”
“...”
Yuuki hanya menggerutu dalam menanggapinya.
“Biar kutebak, kau berpikir kalau cidera Selim adalah kesalahanmu? Ini bukan seperti aku tidak bisa mengerti perasaanmu. ‘Ada banyak yang bisa aku lakukan', 'ada banyak hal yang seharusnya aku lakukan,’ – kau tidak bisa menyalahkan dirimu seperti itu. Jika kau hanya menyesali tindakanmu, maka itu tak apa. Tapi pahamilah ini – masokisme dan menyesal tidak mengubah apapun.”
“Aku tahu.”
Ini bukan seperti dia yang mahakuasa. Bahkan, dia menganggap dirinya lemah dan tidak berdaya – seperti terbatasi. Tidak, mungkin kata “menganggap” adalah kata yang salah; lebih seperti “mengakui”.
Tapi tetap saja...tepat karena alasan itulah dia tidak ingin mengalaminya lagi.
Cerita Franka tanpa sadar mengalir ke telinganya.
“Sejak saat itu, ‘Shinki yang dimahkotai dengan Bulan’ dan Raja Pedang Salju menjadi musuh bebuyutan. Itu ketika si ‘Iblis Hitam’ menampakan dirinya. Mereka bertarung, dan Raja Pedang Salju dikalahkan.”
“Eh?! Dia kalah! Si Raja Pedang Salju!” Edgar berteriak.
“Ini bukanlah cerita yang telah dicatat dimana-mana, jadi tidak ada yang benar-benar tahu, sejujurnya.” Franka menjawab dengan senyum kecut. “Sejujurnya, ada banyak variasi yang beredar. Ada yang mengatakan kalau Raja Pedang Salju sudah bosan dengan dunia ini, dan dengan sengaja meninggalkan pertempuran. Yang lain mengatakan mulanya dia terluka di dalam labirin, dan kemudian menghilang untuk alasan tersebut. Satu hal yang kita pasti ketahui dari poin itu, Raja Pedang Saljju berhenti muncul dan Iblis Hitam melayani Shinki Bulan menggantikannya.”
“Jadi apa yang kemudian terjadi terhadap Raja Pedang Salju?” tanya Selim, dari tempatnya di atas tanah.
“Beberapa mengatakan dia sudah mati, dam yang lainnya bilang dia menghilang. Aku secara pribadi mengatakan yang terakhir. Sebaliknya itu hanya akan terlalu menyedihkan.”
“Tina setuju! Mas – er, si Raja Pedang Salju – pasti masih hidup!”
Yuuki tahu kalau dia sedang mengerutkan kening. Dia tidak menginginkan apapun selain mengejar dan memberi si Shinki berbibir longgar itu jitakan di kepalanya.
“Selanjutnya, demikian Iblis Hitam itu menjadi Duelist baru Shinki Bulan. Dia dan Raja Pedang Salju tidak dapat lebih berbeda lagi. Sementara pedang Raja Pedang Salju itu putih, pedangnya hitam. Tidak hanya menolak untuk mengulurkan tangan dalam membantu para petualang yang membutuhkan, jika mereka berada di jalannya menghlanginya, dia membunuh mereka tanpa keraguan sedikitpun. Dia menjadi yang paling ditakuti, kehadiran yang dibenci.”
“Jadi um, apakah Shinki Bulan-sama pada waktu itu tidak mempunyai apapun untuk dikatakan tentang hal itu?” Kaya bertanya.
“Yeah, kau akan berpikir dia akan sangat marah, bukan? Sayangnya, apapun  yang mungkin dikatakannya tidak pernah diteruskan. Semua yang kita tahu adalah suatu hari, dia tiba-tiba membubarkan Oath Legionnya dan menghentikan semua tindakan. Sejak saat itu, tidak ada petunjuk aktifitas apapun darinya. Moon's Oath Legion adalah satu-satunya yang terhenti saat ini. Pada waktu yang sama, nama dari Iblis Hitam secara bertahap memudar dari pandangan. Semua ini terjadi sekitar lima tahun yang lalu.”
“...”
Lima tahun. Apakah benar-benar sudah selama itu?   
“Dengan demikian, cerita Franka telah selsai. Yuuki, kita harus pergi.”
“...Mm”
Yuuki berdiri dan tersenyum ringan.
“– –Baiklah, kalian merasa lebih baik? Ayo berangkat.”
***
“Um, apa kau sungguh baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman?”
Kaya bertanya kepada Selim selagi mereka berjalan bersama.
“Ah, tidak, aku baik-baik saja. Aku minta maaf Kaya, sudah merepotkanmu.”
“Serius, Selim. Kau terlalu lemah.”
Meskipun perkataan Edgar saat ini tidak sepantasnyadarah sepenuhnya terkuras dari wajahnya ketika Selim disengat.
“Jika kau merasa tidak bisa melanjutkan, beritahu kami sebelumnya. Kita tidak bisa membiarkan kau menjadi beban bagi grup ini, jadi aku akan merawatmu.”
“Aku bilang aku baik-baik saja.”
Mendengar keduanya bolak-balik mengejek, Kaya menghela napas lega.
Melihat bagaimana damai dan tenangnya Selim itu, dia akhirnya tenang.
Di waktu yang sama, dia juga menyadari batasannya.
––Dia benar-benar tidak mampu untuk menyakiti yang lainnya.
Dia ingat cerita Franka tentang “Shinki Yang Dimahkotai Dengan Bulan.”
Kaya tidak tahu tentang pendahulunya. Meskipun keduanya memiliki gelar yang sama, mereka berdua adalah orang yang berbeda, dan demikian pula ingatan mereka.
Sehingga dia tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi amtara Shinki Bulan sebelumnya dan Duelistnya.
Meskipun kekurangan itu, dia tahu satu hal – Shinki Bulan yang terakhir menaruh keinginannya untuk mencegah menyakiti siapapun.
– –Haruskah dia mengikuti contoh tersebut?

***

“...Oh?” Jahar bergumam.
“Kaya-chan tidak mengangkat. Dia nampaknya menolakku.”
“Apakah mungkin kalau identitas aslinya telah terungkap dan dia dibunuh?” Elfriede merespon.
“Jika sesuatu seperti itu terjadi, aku akan mengetahuinya. Dia masih hidup. Dia masih juga bergerak; aku bisa tahu. Kurasa dia hanya mengabaikanku.”
“Itu hal yang tidak terduga.”
Shinki Bintang mengangguk tanpa ekspresi.
Memang, keputusan Kaya berada dalam perkiraannya, sehingga dia telah menyiapkan tindakan balasan.
“Baiklah kalau begitu, seperti yang kita diskusikan sebelumnya, aku akan mengambil kendali dari hal-hal ini. Dan, seperti persetujuan sebelumnya, ini berarti imbalanmu akan dikurangi.”
Jahar mengangkat bahu. Ini juga, demi kemenangan. Jadi terjadilah itu.
“...Jika kau akan bekerja sama, ada cara yang lebih baik.”
Elfride menatap ke bawah ke pintu masuk labirin dan berbisik.
“Ini semua karena sifat pengecutmu. Jika kau akan membenci seseorang, maka bencilah dirimu sendiri, Oh ‘Shinki Yang Dimahkotai Dengan Bulan’.”

***


Samayou Shinki no Duelist Jilid 2 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.