16 Januari 2017

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVIII


KILAS BALIK III : SAHABAT
Bagian Pertama: 
Malam yang begitu membahagiakan bagi Halsy tidak berlangsung lama. Tepat setelah ibunya keluar, muncul sesosok mahluk mengerikan dari bawah kasurnya. 
Bayangan hitam dengan mata berwarna ungu menyala mulai melayang cepat mendekati Halsy. Halsy saat itu terkejut sempat ingin berteriak. Tapi karena mahluk itu yang menyerang tiba-tiba, dirinya tidak sempat untuk meminta pertolongan. 
Alhasil bayangan itu berhasil menyerangnya, memancarkan cahaya lebih terang dan mengerikan. Memindahkan Halsy ke ruang perbatasan. 
Kini gadis berumur empat tahun itu berjalan ketakutan dihamparan tanah tandus yang sepi. Langit terlihat gelap berwarna ungu. Tengkorak dan tumpukan tulang belulang terlihat diatas tanah yang tandus itu. 
Gadis berumur empat tahun itu sedang ketakutan sendirian. 
“Ad-ada olang disini ...?” 
“.......” Tak ada jawaban, hanya kehampaan yang menjawabnya. 
“Hallo ... –“ tanya Halsy kembali, tapi langsung terdiam amat terkejut. Perkataanya terhentikan oleh ucapan seorang wanita yang tiba-tiba berada didepannya. 
Menggelikan ...,” senyum mengerikan wanita itu. Dekat, wajahnya benar-benar dekat dengan wajah Halsy. 
“Kyaa!!” Halsy tersungkur jatuh ketakutan, dia duduk terlihat menundukkan kepalanya. 
Huuuh, aku tak menyangka kalau gadis menyedihkan sepertimu merupakan Reinkarnasi Light Princess,” senyum wanita tersebut mengangkat kepalanya, matanya terlihat bersinar berwarna ungu kegelapan. Rambutnya berwarna perak bercahaya. Tepat di dahinya juga terlihat lambang bulan sabit seperti gadis yang dipanggil Ene
Wanita yang berusia 20 tahunan itu terlihat masih melayang dihadapan Halsy Aeldra. Terus meperhatikan Halsy Aeldra secara seksama. 
“Si-siapa?” Halsy sungguh ketakutan mulai melihat mahluk mengerikan dihadapannya. Dia benar-benar ketakutan setengah mati melihat gadis berambut perak itu. 
Sihir 0, kemampuan kinesis mendekati 0, kemampuan fisik amat sangat rendah. Ahh …, hanya kemauan kerja keras yang tersisa dalam dirimu. Kepercayaan dirimu tak berarti apa-apa bagiku atau Kak Elenka. Kamu reinkarnasi Light Princes paling menyedihkan yang pernah aku temui.” 
“Aku Light Princess?” tanya Halsy kebingungan, kedua tanganya terlihat masih bergemetar ketakutan. 
Aku memanggil orang yang menerima kutukan Kak Elenka, otomatis orang yang menerima kutukan itu memiliki kemungkinan besar kalau dirinya adalah reinkarnasi Light Princess,” 
“Ka-kamu Elena?” tanya Halsy yang terlihat masih ketakutan. 
“......” Gadis yang dipanggil Elena itu hanya tersenyum melihatnya. 
Dia akhirnya tersadar jika Elena telah salah paham tentang dirinya. Elena tidak mengetahui kalau dirinya hanyalah sebuah wadah untuk menerima kutukan. 
Kamu mengenalku diusiamu yang masih belum lima tahun. Sudah kuduga kamu orangnya,” senyum Elena bersemangat.
“Ak-aku akan menghentikan kalian beldua! Aku, kelualgaku, dan Salbina akan menghentikan kalian beldua!”Halsy memberanikan diri menunjuk Elena, tangannya bergemetar. Dirinya sungguh terlihat ketakutan. 
Hahaha, kamu bahkan melibatkan keluargamu? Kamu memang Light Princes yang paling menyedihkan.   
Dan juga Salbina? Siapa dia? Biar kupertegas gadis muda, hanya keluarga Aeldra yang bisa menghentikan kami. Kamu mungkin tidak mengetahuinya, tapi jika ada orang luar yang terlibat .... Tanpa repot-repot dia akan menemui ajalnya sendiri.” 
“Eh?” 
Hah jangan katakan kamu belum tau kekuatan kami sebesar apa?” 
“………” Halsy hanya terdiam ketakutan. 
Langsung keintinya. Jadi jika kamu melibatkan keluargamu dan gadis bernama Salbina itu, kamu juga berarti menumbalkan mereka untuk kepentingan pribadimu. Selesaikan urusanmu sendiri, bocah! Ya meski tidak mungkin gadis cacat sepertimu bisa menghentikan kami,” senyum mengerikan Elena melihat Halsy yang ketakutan. 
“……..” Halsy hanya terdiam terkejut, tubuhnya semakin bergemetar khawatir. Dia mulai mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada keluarganya dan Salbina. 
Dia mulai berpikir keras, pada siapa dia bisa meminta bantuan lagi? Tidak, dia yang sudah pasti menjadi tumbal harus melakukannya sendiri. Dia pikir kalau ini takdirnya, dia harus membantu reinkarnasi Light Princess. Dengan begitu korban yang dihasilkan oleh Elenka dan Elena bisa sesedikit mungkin, yakni hanya dirinya.  
Sejak saat itu dia mulai memutuskan akan tujuan hidupnya, melindungi semua orang di masanya dan yang akan datang, menghentikan salah satu keturunan raja iblis keempat. 
Tapi hanya ada satu masalah besar yang membuat Halsy khawatir, masalah yang menjadi tembok besar baginya. 
Bagaimana caranya menghentikan keturunan raja iblis dengan kekuatannya saat ini? Dia hanya gadis biasa yang sudah mendapatkan kutukan. 
Sungguh, jika kamu selemah ini. Pertarungan kita nanti akan sangat membosankan. Bagaimana jika aku mengembangkan paksa kekuatan kinesimu?” senyum Elena. 
“Eh, Halsy memiliki kemampuan kinesis? Tapi Halsy hanya gadis biasa.” 
HAAH!? Mustahil kau itu gadis biasa!! JIka kau gadis biasa, bagaimana mungkin kau bisa mengendalikan emosimu saat berhadapan denganku?! Darimana pola pikir dewasamu itu datang?!” senyum kesal Elena merendahkan. 
“.......” 
Gadis biasa yang berumur empat tahun tentu akan menangis menyebalkan saat dalam kondisi seperti ini. Mereka hanya menangis sambil memanggil kedua orang tua mereka!”  lanjutnya. 
“Tap-tapi Halsy tidak bisa mengendalikan Kinesis apapun. Bahkan pala peneliti juga mengatakan kalau –“ 
Bodoh, tentu saja mereka tidak mengetahuinya.” Keluh Elena memegang kepalanya. 
“.......?” 
Persentase otakmu sudah mencapai 18%. Kalian biasa menyebutnya, tingkatan kedua. Tapi bagi tipe kinesis sepertimu, tingkatan kedua tak berpengaruh apa-apa. Kamu hanya gadis tak berguna yang memiliki pola pikir berbeda dari yang lainnya. ” 
“Eh?! La-lalu kinesis Halsy –“ 
Berisiknya!!” 
.......” 
“Dengar yah, aku akan memberikan pemicu pada otakmu dengan kemampuanku. Dengan begitu otakmu bisa melesat jauh hingga mencapai tingkat tertinggi. Pada saat itulah kamu bisa mengendalikan kemampuanmu,” jelasnya  
“Kamu membeli kekuatamu pada Halsy?!“ 
Tidak, bukan aku yang memberinya ..... Tapi kamulah yang merampasnya,” senyum kesal Elena. 
“Eh?!” 
Kinetickinesis, memanipulasi ilmu kinesis disekitarnya. Ilmu kinesis yang paling dibenci oleh semua pengguna kinesis. Itulah tipe kinesismu.” 
Ki-kinetickinesis ....!?” Halsy terkejut bukan main melihat Elena. 
Jika tanpa pemicu, kamu hanya terus seperti ini. Tak ada perkembangan, dan tentunya akan membosankan untuk aku bunuh nanti. Maka dari itu, aku akan memberikan penawaran yang cukup adil,” senyum mengerikan Elena. 
“Penawalan yang membuatku mendapatkan kekuatan?” Halsy dengan tangan bergemetar, wajahnya terlihat dipenuhi harapan. 
Ya, tapi aku hanya mau melakukan hal itu dengan satu syarat. Hanya satu syarat,” senyum Elena semakin mengerikan. 
“Baiklah, Halsy akan mengikuti syalat –“ 
JLEBBBBBBBB CRATTTTT!!!! 
Tombak es berwarna kehitaman lekas menancap perut mungilnya, darah merah langsung mengucur deras dari tubuh mungilnya itu. 
“Eh ......?!” Halsy hanya terkejut bukan main, tatapannya terlihat amat kosong melihat perut yang tertembus tombak es. 
“IAAA!!!” teriaknya menangis kesakitan. Tubuhnya bergemetar sungguh ketakutan karena rasa sakit yang dia terima. 
Hanya untuk sementara, biarkan kamu menjadi bonekaku. Aku sungguh ingin melihat keturunan Aeldra yang tersiksa olehku,” senyum mengerikan Elena yang baru saja menembakkan tombaknya. 
“Hiks ...!”Halsy yang menangis berniat memegang perutnya yang tertembus tombak, tapi. 
WUISSSHH!! SYATTTT!! CRATTT!!!! 
Tangannya yang berniat menyentuh perutnya terpotong rapih oleh sayatan angin yang amat tajam. Wajahnya terlihat kesakitan, menangis, dan berteriak meminta pertolongan. 
“UAAHAA!!” 
Halsy yang masih belia sudah mendapatkan serangan mematikan. Tapi dia hanya bisa pasrah demi mendapatkan kekuatan, kekuatan yang nantinya dapat melindungi keluarga dan orang-orang yang berharga baginya. 
Halsy yang sudah mengeluarkan banyak darah mulai terjatuh dan terlentang dengan tatapan kosong. Bagaikan seorang gadis kecil yang sudah siap  meninggalkan dunia, tapi. 
Tempore Revertetur,” senyum mengerikan Elena. 
Tubuh Halsy kembali menyatu, luka sebelumnya terlihat pulih lagi, dirinya selamat dari kematian. Tapi rasa sakit dari luka sebelumnya masih tetap terasa. Luka yang masih membuat gadis kecil itu menangis kesakitan. 
Aku baru mulai. Tenang saja ..., aku akan menyiksamu tanpa harus membunuhmu.” 
“……….” Halsy hanya bisa menangis ketakutan, sungguh amat ketakutan. Tubuhnya bergemetar, hatinya sungguh sakit karena ketidakberdayaannya. 
Dia hanya bisa menerima kemauan iblis itu. Demi tujuannya, demi melindungi orang-orang yang ia sayangi di masa depan. 
JLEB JLEB CRAT CRAT CRAT!!!! 
Lebih dari 48 jam Elena melakukan penyiksaan padanya. Memotong kaki dan tangannya, mengeluarkan ususnya, menguliti kulitnya, membakar dirinya, membekukan dirinya, memberikan halilintar padanya, menenggalamkannya dan penyiksaan lainnya. 
Benar-benar penyiksaan yang lebih buruk dari pembunuhan manapun, benar-benar pemandangan yang amat sangat mengerikan ketika gadis kecil tak berdaya diberikan penyiksaan yang mengerikan. 
Tapi anehnya, dengan penyiksaan yang mengerikan itu Elena tidak membiarkan Halsy untuk pergi meninggalkan dunia. Kemampuannya benar-benar mengerikan. 
Itulah masa depan bagi umat manusia nanti jika Elena tak dihentikan. Penyiksaan dan perbudakan tak berujung dari dirinya, dari iblis yang menaruh dendam mendalam pada umat manusia. 
Kini Halsy yang berumur empat tahun itu terlihat tertusuk di bagian punggungnya. Dia melayang di udara dengan paku besar yang menembus melewati punggungnya. 
Tatapannya terlihat kosong seakan sudah tak merasakan sakit kembali, mentalnya terlihat sudah hancur karena penyiksaan dari keturunan Raja Iblis keempat itu. 
Lalu paku yang terbuat dari besi itu mulai terurai dan menghilang. Halsy mulai melesat jatuh kebawah dan membentur dataran amat keras. 
DUARKKGGH!!! 
Tubuhnya yang mungil tak bergerak lagi setelah dia membentur daratan. Tatapannya masih terlihat kosong mengkhawatirkan. 
Tempore Revertetur,” Elena kembali menggunakan kemampuannya. Lebih dari lima puluh kali dia menggunakan kemampuan itu. Memutar balikkan waktu sebelum Halsy benar-benar meninggalkan dunia. 
Yah, mungkin sudah cukup. Aku sudah bosan menyiksamu yang terlihat menyedihkan. Dirimu saat ini benar-benar tak layak untuk kubunuh. Sampah sepertimu terlalu tak berharga untuk kubunuh,” Elena mulai mengangkat kedua tangan di depan dadanya. Dia terlihat berkonsentrasi mengeluarkan cahaya keabu-abuan.  
Setelah itu, dia melemparkan pelan cahaya itu ke arah Halsy yang terlentang menyedihkan. Saat cahaya itu sampai padanya. Getaran amat hebat langsung terasa disekitarnya. Dalam sekejap Elena amat terkejut melihat Halsy, tubuhnya merinding seakan gembira. 
Bukan getaran itu yang membuat Elena terkejut, tapi. 
“KYYYAAAAAA – A…………AA –……………..!!“ Halsy berteriak kesakitan, suaranya yang menggema seketika langsung menghilang. 
Suaranya seketika langsung putus karena rasa sakit yang amat mengerikan. 
Hoooo jadi itu benar yah, rasa sakit saat menembus batasan otak secara paksa lebih sakit dari kematian itu sendiri ….,” senyum Elena terlihat bahagia. 
Ini menjadi bentuk penyiksaan baru untuk hari pembalasan nanti,” senyum Elena terkejut melihat Halsy yang menyedihkan. 
Halsy hanya terlihat menggerakkan bibirnya, matanya yang terlihat putih kosong seolah mengatakan jika dirinya sedang merasakan kesakitan yang mendalam. Gerakan bibirnya juga seolah mengatakan jika dia sedang berteriak meminta pertolongan. 
Sungguh, pemandangan saat itu benar-benar terlihat amat mengerikan. 
Lebih dari tiga puluh menit dia merasakan kesakitan mengerikan itu. Mentalnya benar-benar terlihat hancur. Kini dirinya hanya terlentang tak berdaya dengan air mata kesakitan di wajah.
Seluruh tubuhnya yang bergemetar membuat dia benar-benar terlihat menyedihkan. 
Elena mulai mengangkat tangan kirinya ke arah Halsy yang memprihatinkan, cahaya berwarna hijau tua terlihat melayang pelan ke arah tenggorokannya. Dia menyembuhkan suara Halsy yang putus karena rasa sakit yang mengerikan. 
Ini hanya bonus. Aku tidak membenci sifatmu yang pantang menyerah itu –“ senyum Elena, tapi wajahnya cukup terkejut akan tindakannya. 
Ah sial, aku malah memberikan kemampuan penyembuhan padanya. Tapi tak apa, dirinya tetap akan kesulitan melawanku dan Kak Elenka sekaligus,” senyum Elena yang pada akhirnya menghilang. 
Setelah Elena pergi, Halsy dikembalikan ke kamarnya. Dirinya terbaring dengan tatapan kosong menatap langit-langit rumah. 
Mentalnya hancur karena kejadian itu. 
Semenjak saat itu, Halsy tidak pernah bangun kembali karena penyiksaan mengerikan Elena. Lebih dari dua tahun dia seperti itu, bahkan saat kepergian Asha dan Haikal, dirinya terlihat masih seperti itu. 
***

Bagian Kedua: 
Sudah dua bulan berlalu sejak Halsy bangun dari tidurnya yang amat panjang, dan sudah dua bulan berlalu juga sejak kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya. 
Sungguh, dirinya sangat terguncang ketika mengetahui kabar buruk yang dialami ayah dan ibunya. 
Ayah dan ibunya meninggal saat mereka pergi ke daerah Dealendra karena suatu urusan. F-car yang mereka tumpangi terjadi kegagalan mesin dan pada akhirnya meledak di udara. 
Ketika dirinya bangkit dari masa kritis. Heliasha dan Alysha terlihat amat terkejut melihat dirinya yang terbangun, mereka menangis bahagia melihat anggota keluarganya yang bangun kembali. 
Di saat kedua orang tuanya mulai memperhatikan dirinya, Halsy malah mendapatkan kejadian buruk hingga membuat mentalnya hancur dan memasuki masa kritis. 
Lalu di saat dia cukup pulih untuk bangkit dan menghadap dunia, dirinya malah mendapatkan kabar lebih buruk. Kedua orang tuannya, ibunya yang ia kagumi malah pergi meninggalkannya. 
Terus menerus dirinya mendapatkan penyiksaan, baik secara fisik maupun mental. Terus menerus dirinya mendapatkan ketidakadilan yang diberikan dunia. 
Tapi disaat itu, saat dia menerima kabar mengerikan itu, dia hanya tersenyum melihat kedua saudaranya yang menangis dihadapanya. 
Begitu .....” 
Hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya yang lembut. 
Hanya respon itu yang diberikan gadis berambut amat panjang itu 
Hatinya hancur dan itu bukan hal yang aneh. Sejak saat itu dia mulai bertindak keras pada dirinya sendiri, mulai menganggap wajar akan kejadian menyedihkan yang menimpa dirinya di masa kini atau di masa yang akan datang. 
Wajar, semuanya wajar bagi dirinya yang hanya sebuah wadah
Tak ada seorangpun yang menyebutnya seperti itu, atau mungkin mereka tidak pernah tau akan kebenarannya. 
Kepribadian Halsy mulai terpecah belah. Untuk waktu tertentu dia kadang bersikap dewasa dan dapat diandalkan, seperti saat dia masih berumur empat tahun. Tapi untuk waktu tertentu juga dia bisa bersikap kekanak-kanakan karena pada dasarnya dia memang masih anak-anak. 
Tapi bukan berarti karena kejadian sebelumnya itu sudah merubah sifatnya. Dirinya masih memiliki sifat kasih sayang dan peduli pada orang-orang sekitarnya. 
Dia malah menjadi lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Kebahagiaan dirinya dia anggap sebagai sebuah kesalahan dan ketidakbenaran. Dia berpikir kalau dirinya tak berhak untuk dicintai dan mendapatkan perhatian. 
Dan satu hal yang amat penting ketika Halsy sudah siuman dari masa kritisnya. Dirinya sudah menjadi Kineser terkuat diantara anak yang umurnya kurang dari sepuluh tahun. Halsy sudah melebihi Salbina yang pernah memandang rendah dirinya. 
Dan lebih buruk dari itu, kini dia memiliki dua tipe Kinesis yang ia rampas dari Elena. Vitakinesis, penyembuhan dan Molleculakinesis, memanipulasi atom. 
Keduanya merupakan tipe kinesis yang amat ditakuti oleh dunia. 
Tapi bukan itu saja, kemampuan kinesis Halsy yang paling mengerikan dari itu semua adalah ..., dia bisa memanipulasi semua kinesis diseluruh dunia, dengan kata lain Kineser manapun akan tunduk dihadapannya. Dirinya benar-benar musuh mengerikan bagi seorang Kineser. 
Tak ada seorangpun yang mengetahui kekuatannya yang mengerikan itu. Dia menyimpan kekuatannya itu hanya untuk menghentikan Elena atau Kakaknya. 
Ingin dilihat? Diperhatikan? Dikagumi? Dibanggakan? Atau mendapat penghargaan? 
Semua kata-kata itu sudah musnah dari benaknya. Dirinya yang sudah memikul tanggung jawab besar untuk membantu sepupunya, sudah tak memerlukan kata-kata itu, keinginan itu, dan harapan itu. 
Sekarang, dipagi yang cerah ini Halsy terlihat bersiap berangkat menuju sekolahnya, untuk pertama kalinya dia memasuki sekolah dasar. Dia tau benar jika pembelajaran sekolah tidak berpengaruh apa-apa baginya, tapi dirinya harus melakukan itu untuk menyembunyikan kekuatannya. 
“Hal-Halsy, kau yakin ingin pergi sendiri ke sekolah?” tanya khawatir Heliasha yang berdiri dekat pintu. 
Dua tahun berlalu, kini Heliasha terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab untuk mengurus adik-adiknya. 
Heliasha, Aysha, dan Halsy hanya tinggal bertiga, mereka pindah ke Dealendra dengan didampingi oleh tiga pelayan pribadi. Tak mengherankan, keluarga Aeldra ..., mungkin lebih tepatnya keluarga Anatasha dari ibunya amat sangat kaya. 
“Iya Kak,” senyum Halsy berjalan meninggalkan rumahnya. 
Dirinya terlihat berjalan pelan meninggalkan rumah. Wajahnya terlihat semakin cantik dengan rambut merah muda yang masih panjang. Wajahnya benar-benar mirip seperti ibunya yang sudah meninggal. 
Belum sampai setengah perjalanan menuju sekolah, perhatian Halsy langsung teralihkan oleh seorang gadis yang bersembunyi dibalik tembok. Gadis itu terlihat mencurigakan sambil sesekali memperhatikan sebuah sekolah dasar di daerah sana. 
Halsy yang penasaran mulai menghampiri gadis itu, wajahnya terlihat khawatir sambil bertanya. 
“An-anu Kak?” 
“Hee ehh!? Ap-apa?!” gadis itu sontak terkejut bukan main melihat Halsy. Umurnya sekitar 8 tahun, dia dua tahun lebih tua dari Halsy. 
Rambutnya bergelombang berwarna emas, matanya berwarna coklat caramel. Dirinya sungguh terlihat amat sangat cantik dengan pakaian one piece berwarna hitam. 
“An-anu Kakak sedang apa?” tanya Halsy penasaran. 
“Aku bukan penguntit, aku hanya ingin melihat adikku ...,” khawatir gadis itu. Dirinya sungguh terlihat ketakutan. 
Halsy hanya melirik gadis itu dari kaki sampai ke kepala. Melihat setiap inci tubuhnya yang terlihat berbeda dengan orang-orang sekitarnya. 
“Kak Zaxia? Zaxia Andini?” tanya Halsy yang menebak-nebak. 
“Ba-bagaimana kau tau namaku!?” wajah gadis bernama Zaxia itu terlihat memerah, dirinya sungguh terlihat lucu ketika dia malu. 
Ya, sungguh sulit dipercaya jika Zaxia yang terlihat manis ini akan menjadi Zaxia berhati dingin di masa depan. 
“Sepertinya rumor itu benar, kecantikanmu benar-benar membuat semua orang jatuh hati,” senyum Halsy. 
“Ka-kamu siapa? Kenapa kamu bisa dengan mudah mengenalik –“ 
“Halsy Aeldra, itu namaku.” 
“Jadi Halsy, apa yang kamu butuhkan dariku?” 
“Tidak, aku hanya penasaran kenapa kamu memantau sekolah itu?” 
“Apa kamu bersekolah disana?!” tanya Zaxia tersenyum bahagia. 
“......” Halsy hanya menunjuk seragamnya yang berbeda dari tempat sekolah yang dipantau Zaxia. 
“Begitu yah. Tenang saja, aku sudah bilang kan kalau aku bukan orang jahat,” senyum sedih Zaxia. 
“Lalu?” Halsy kebingungan memiringkan kepala. 
“Aku hanya ingin melihat adikku, Sylvia. Ini hari pertamanya dia masuk, aku khawatir terjadi sesuatu padanya,” senyum Zaxia sambil melihat kembali gerbang sekolah. 
“Kenapa harus sembunyi seperti itu? Dan lagipula kenapa dia baru masuk sekarang?” 
“Ada insiden kecil hingga membuatnya dirawat,” senyum sedih Zaxia yang seakan mengingat sesuatu. 
“Ah iya, aku dengar kamu juga kabur dari ibu dan adikmu. Kenapa? Apa kamu memiliki masalah?” 
“Ap-apa kamu mengenal julukanku?” 
Vibration Disaster,” 
“Ya, kehadiranku hanya membahayakan mereka  ... Perkembangan kinesisku sangat cepat dan tidak normal. Saat aku berpikir akan getaran dan retakan kecil secara tak sengaja. Tanpa terduga gempa datang, bahkan waktu itu juga sampai melukai adikku,” senyum sedih Zaxia. 
“Perkembangan kinesismu tidak normal?” 
“Iya, saat ini aku sudah mencapai tingkat LimaKa-kamu pasti takut padaku,” senyum sedih Zaxia. 
“Tidak, aku tidak takut. Lagipula saat ini kamu tak berniat menyerangku.” 
“Be-benarkah?!” 
“Ya ...., jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah meninggalkan keluargamu? Kamu masih berumur delapan tahun, kan?” senyum Halsy bertanya. 
“Aku hanya bersembunyi dan mengamati mereka. Aku akan berperan sebagai bayangan untuk Ibu dan Sylvia,” senyum Zaxia. 
Jika aku kembali pada mereka, aku hanya akan membahayakan mereka. Selain karena kemampuanku yang jadi ancaman, sekelompok orang yang ingin menelitiku juga menjadi ancaman berbahaya untuk Ibu dan Sylvia,” senyum khawatir Zaxia dalam batinnya. 
“Begitu .... Maaf aku tidak bisa terus berbicara denganmu. Tapi sebentar lagi bel sekolahku berbunyi, jadi aku duluan yah,” senyum Halsy memejamkan mata, dia berjalan melanjutkan perjalanannya meninggalkan Zaxia. 
“Aku menyukaimu Halsy Aeldra, aku sungguh berharap kita bertemu lagi,” senyum Zaxia amat senang melihat Halsy, dia melambaikan tangannya. 
“Ya ....,” senyum Halsy yang juga melambaikan tangannya. 
Beberapa menit kemudian terlewat, akhirnya gadis berambut panjang itu sampai disekolah. Kini dia berdiri di depan kelas dan mulai memperkenalkan diri. 
“Halsy Aeldra,” senyum Halsy melihat seluruh isi kelas. 
“Aeldra?! Dia kineser jenius itu bukan?!” 
“Bukan bukan, itu Kakaknya Heliasha!” 
“Tapi tetap saja dia keluarga Aeldra, kan? Dia pasti amat sangat kaya.” 
“Lebih dari itu, wajahnya juga terlihat cantik,” gumam beberapa siswa yang cukup berisik. Halsy masih mendengar jelas bisikan calon teman sekelasnya itu. 
“Diam semua!” teriak kesal guru yang berada disamping Halsy. 
“.........”
“Baiklah ..., Halsy kamu duduk di –“ 
“Disampingku saja Bu! Bangkunya kosong, kok!” teriak seorang gadis paling belakang. 
“Ibu juga mau menunjuk bangku itu kok, Salsa ...,” 
Halsy yang melihat gadis itu hanya terdiam terkejut, tubuhnya bergemetar sambil berkata. 
Putri Salbina ...,” 
“Eh kenapa Halsy?” tanya guru tersebut kebingungan. 
“Ti-tidak, bukan apa-apa,” jawabnya khawatir menghampiri Salbina yang menyamar. 
Halsy perlahan duduk sambil melirik khawatir Salbina. 
“Jangan pikir kau bisa lari dariku!” bisik Salbina. 
“......” Halsy hanya terdiam khawatir melirik Salbina. 
Sungguh hal yang aneh bagi Salbina untuk mengikuti kegiatan belajar. Dirinya yang sudah mencapai tingkat Lord tentu sangat tidak cocok dengan kurikulum pelajaran formal. 
Ya, tentu saja dia memiliki tujuan untuk memasuki sekolah itu, memiliki satu tujuan sampai menutupi kemampuan dan identitasnya. 
Hanya satu, yakni. 
“Aku masih ingin membuatmu menangis menyedihkan. Aku harap kamu tidak lupa perjanjian kita, kan?” senyum kesal Salbina. 
“Ya ....” 
Hanya ingin membuat Halsy menangis, hanya ingin melihat gadis yang dikagumi oleh ayahnya menangis menyedihkan dihadapannya. Hanya ingin melampiaskan rasa irinya pada Halsy Aeldra. 
Waktu berlalu begitu cepat hingga memasuki jam istirahat, kedatangan Halsy membuat suasana kelas menjadi ricuh, khususnya kaum laki-laki. 
Tidak mengherankan, dia gadis yang terlihat manis ..., lebih dari itu dia gadis yang berasal dari keluarga kaya. Hampir semua orang dikelasnya hanya memandang dirinya seperti itu, tanpa memperdulikan sifatnya, tanpa tau apa yang sudah terjadi padanya. 
Para siswi sungguh iri dengan kehadirannya. Dihari pertama bersekolah, dia sudah dijauhi oleh siswi lainnya. Lebih buruk dari itu, Salbina yang memiliki tujuan aneh yakni membuat Halsy menangis malah memberikan provokasi pada teman-temannya untuk memusuhi Halsy. 
Hanya satu diantara mereka yang tak tertarik dengan Halsy, lelaki berambut merah itu terlihat kesal melirik Halsy yang terdiam dikerubungi laki-laki lainnya. 
“Astaga, hanya dia cantik dan kaya. Bukan berarti sifatnya baik kan? Kenapa orang-orang bodoh itu mudah terpengaruh oleh gadis itu.” 
“Kamu juga merasakannya juga kan, Hizkil! Gadis itu pasti memiliki sifat yang mengerikan!” kesal teman sekelasnya yang berada disamping. 
“Tidak-tidak, aku tidak berpikir seperti itu,” datar Hizkil keheranan. 
“Haah?! Jadi sebenarnya kamu ini memihak siapa?!” kesal gadis itu. 
“Memihak siapa? Aku tak memihak siapapun,” keluh Hizkil memejamkan mata. 
“Lupakan pengamat itu, dia memang aneh,” jelas seorang gadis lainnya yang berjalan menghampiri mereka. 
“........” 
Di hari pertama bersekolah, dia sudah mendapatkan perlakukan tak adil dari teman-teman perempuannya. 
Bukan hanya itu, setelah berhari-hari juga teman-teman lelaki yang sebelumnya mendekati Halsy mulai menjauhinya. Alasannya sangatlah sederhana, Halsy tak pernah menjawab pertanyaan para lelaki itu yang aneh. 
Perlakuan diskriminasi mulai didapat olehnya. Bangku yang terasingkan, kehadirannya yang tak pernah dianggap, penindasan dan hinaan sudah sering didapat gadis berambut panjang itu. 
Tapi Halsy malah tetap tersenyum dan sudah menganggap wajar semua perlakuan itu. Salbina yang menjadi provokator hanya terkejut kesal melihat ekspresi Halsy saat itu. Untuk sekali lagi dia gagal membuat Halsy Aeldra menangis. 
Sungguh dia benar-benar kesal karena melihat ekspresi Halsy yang terlihat baik-baik saja. Dia pun mulai merencanakan sesuatu untuk membuat dirinya menangis. Rencana besar yang berujung pada penyesalan terberat dalam hidupnya. 
***

Bagian Ketiga: 
Sudah cukup lama Halsy bersekolah di daerah Dealendra, perlakuan teman sekelasnya yang tak adil masih dia dapatkan, kecuali dari lelaki bernama Hizkil. Lelaki itu hanya menganggap Halsy seperti yang lainnya, dan jika ada keperluan dia juga akan berbicara pada Halsy. 
Umurnya yang lebih tua satu tahun membuat dia disegani oleh teman-teman sekelasnya. Dia terlihat tidak berminat untuk berkontribusi pada kelasnya, dia memilih untuk menjadi pengamat. 
Hanya tinggal beberapa menit bel masuk berbunyi, Halsy terlihat duduk menyendiri dibelakang sekolah. Dia memakan roti coklat kesukaanya, susu coklat segar terlihat mendampingi dirinya yang sendirian. 
“Masih kurang, aku harus mencari informasi tentang mereka berdua lebih banyak,” khawatir Halsy.
Hanya satu pikiran dan kekhawatiran dalam benaknya. Ya, ancaman dari Elena dan Elenka. 
Dia sendiri yang paling tau bagaimana penyiksaan salah satu mahluk itu yang akan didapatkan umat manusia di masa depan. 
Di saat dia berpikir akan rencananya nanti untuk menghentikan Elena dan Elenka. Terlihat lelaki berumur sepuluh tahun yang datang padanya, rambut dan matanya yang hitam membuat dia dikenali dengan mudah oleh Halsy. 
“Ada apa, Hanafi?” tanya khawatir Halsy melirik lelaki itu. 
“......” Hanafi hanya tersenyum sedih dan duduk disamping Halsy. 
“......?” Halsy hanya melirik Hanafi. 
“Hei Halsy Aeldra, apa kamu membenci Salbina?” 
“Tidak, kenapa?” 
“Benarkah? Tapi dia sudah membuatmu dikucilkan seperti in–“ 
“Aku tidak punya waktu untuk mempedulikan hal itu, tenang saja.” 
“Begitu, tapi aku hanya ingin meminta sesuatu darimu,” senyum sedih Hanafi melirik Halsy. 
“Ma-maaf tidak bisa,” sedih Halsy menyembunyikan roti coklatnya. 
“Eh?” 
“Kenapa kamu tidak beli saja di kantin? Lagipula roti ini sudah kumakan, dan lagipula aku amat menyukai rasa ini ..., jadi maaf tak bisa, tak akan kubagi.” 
“Ak-aku tidak menginginkan rotimu, haha ..,” Hanafi hanya tertawa keheranan melihat sifat Halsy yang berubah drastis. 
“Ah begitu, syukurlah ....,” senyum Halsy kembali memakan rotinya. 
“Aku hanya ingin meminta kamu untuk tak membenci Salbina. Saat ini mungkin dia terlihat arogan dan jahat. Tapi pada dasarnya dia gadis yang baik, dia hanya membutuhkan kasih sayang lagi,” 
“Lagi? Memangnya kemana orang tuanya dan teman-temannya?” 
“Mereka meninggal. Ayahnya meninggal beberapa bulan sebelum kita pertama kali bertemu, ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya,” senyum sedih Hanafi. 
“.......” Halsy hanya terdiam dan berhenti memakan rotinya. 
“Selain itu, karena kemampuanya yang menakutkan. Dia amat sangat ditakuti oleh orang-orang yang mengetahui kemampuannya. Bahkan teman-teman sebelumnya juga menyebut dia Monster ketika mengetahui kemampuannya.” 
Begitu ...,” batin Halsy yang sedih. 
“Apa karena itu dia menyembunyikan identitasnya? Apa karena itu dia bersikap arogan?” tanya Halsy. 
“Ya. Hal yang paling ditakuti Salbina saat ini adalah dikhianati kembali oleh teman-temannya, dia paling takut akan hal itu.” 
“Hmmm ....,” senyum Halsy menganggukan kepala seakan paham. 
“Tenang saja, tidak ada satupun niatku untuk membencinya. Lagipula dia sudah berjanji ingin meminjamkan kekuatannya, jadi aku harus baik-baik padanya,” lanjutnya tersenyum manis sambil kembali memakan rotinya. 
“Terima kasih ...,” Hanafi tersenyum bahagia melihat Halsy, dia melihat Halsy yang lebih pendek darinya. 
Arah pandangan Hanafi itu sejajar dengan roti yang sedang dimakan Halsy, Alhasil. 
“Sudah kuduga kamu mengincarnya! Sampai aku mati, aku tak akan menyerahkannya!” 
“Ak-aku tak menginginkannya ....,” senyum heran Hanafi memiringkan kepala, dia sungguh kebingungan dengan sifat Halsy yang berubah drastis kembali. 
Beberapa jam telah berlalu, bel pulang mulai bergema cukup keras di setiap lorong sekolah. Halsy Aeldra lekas berdiri dan berjalan pulang menuju rumahnya. Berjalan cepat seolah sedang terburu-buru. 
Selain mencari informasi tentang Elena dan kakaknya. Halsy juga sering melakukan latihan untuk memahami kemampuan, mengontrol kemampuan, dan melatih kemampuan bertarungnya sendirian. 
Sudah cukup jauh Halsy meninggalkan sekolahnya, kini dia terlihat terdiam berdiri melihat tempat yang ia lewati.  Langkahnya terhentikan saat berniat melewati taman bermain, untuk sesaat Halsy teringat akan janji dengan sahabat atau sepupunya dulu. 
Sudah dua tahun aku mengingkari janji dengan Shina ....,” senyum sedih Halsy dalam batinnya. 
“Lebih buruk dari itu aku malah pindah ke Dealendra dan meninggalkan dia –“ lanjutnya memejamkan mata, tapi perkataannya terpotong oleh teriakan seorang gadis. 
“Halsy?! Halsy Aeldra!?” tanya seorang gadis yang duduk diatas kursi roda canggih, mungkin bukan kursi roda juga karena kursi roda itu tak memiliki roda. 
Kursi roda itu terlihat melayang dengan gravitasi buatan yang cukup rendah. 
“Shina .....?” Halsy amat terkejut, dia berjalan pelan menghampiri gadis itu yang berada di dekat taman pasir. 
“Sudah dua tahun yah!” teriak gembira Shina, wajahnya sungguh terlihat gembira ketika melihat gadis berambut merah muda panjang itu. 
“Em .....,” senyum sedih Halsy menganggukan kepala, dia masih merasa bersalah karena mengingkari janjinya. 
“Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?” tanya Shina manis, nadanya tedengar gelisah. 
“Ma-maaf, dua tahun yang lalu aku tidak bisa menemuimu lagi.“ 
“Apa yang kamu katakan? Kamu saat itu tak sadarkan diri, selain itu aku juga pindah ke daerah ini dua tahun yang lalu. Meski kamu tidak sadarkan diri, aku juga akan mengingkari janji itu,” senyum sedih Shina. 
“.......” Halsy tersenyum bahagia. 
Meski pertemuan mereka tidak sering, kedua gadis itu benar-benar terlihat sangat akrab dan saling menghargai. 
Kedua rambutnya yang panjang membuat mereka terlihat sangat cocok. Perbedaan yang kontras yakni warna hitam dan merah muda seolah melengkapi mereka satu sama lain. 
“Hei Halsy, kamu sekarang masuk sekolah dasar kan?” tanya Shina kagum melihat pakaian Halsy. 
“Em iya,” jawab Halsy tersenyum manis. 
“Enaknya ....! Aku juga mau ke sekolah,” gerutu lucu Shina. 
“Kalau begitu sekolah bareng Halsy aja.” 
“.....” Shina hanya melihat sedih kakinya. 
“Aku hanya akan jadi bahan tertawaan orang-orang, “ senyum sedih Shina. 
“Tidak akan! Jika ada yang menertawakanmu, aku akan memarahi orang itu!” 
“Kamu baik Halsy, seperti yang dibilang ibuku. Kamu sangat mirip dengan ibumu ..... Ma-maaf, aku juga sudah mendengar tentang kedua orang tuamu. Aku juga sungguh menyayangkan atas apa yang terjadi pada mereka,” senyum sedih Shina. 
“Terima kasih ....,” senyum Halsy bahagia. 
“Tapi kamu lebih baik karena kedua orang tuamu menyayangimu. Ayahku amat sangat buruk. Dia meninggalkanku dan ibu, aku tak akan memaafkannya, aku tak akan memaafkan lelaki sepertinya.” 
“Apa kamu membenci laki-laki, Shina?” tanya Halsy penasaran. 
“Sangat membencinya. Lelaki itu semua sama! Hanya mementingkan diri mereka sendiri,” gerutu Shina yang lucu, dia mengembungkan pipinya. 
“......” Halsy hanya tertawa kecil melihat ekspresi Shina. 
“Kenapa kamu malah tertawa!” gerutu Shina melihat Halsy. 
“Tidak, aku hanya berpikir kalau kamu tetaplah kamu yang biasanya.” 
“Hah maksudnya?” 
“Saat pertama kali kita berbicara tadi, kamu terlihat lebih dewasa ..., pola pikirmu benar-benar berubah dari dua tahun yang lalu.” 
“Hehehe, meski aku tak bisa menggunakan kakiku ... Aku ini seorang kineser!” senyum Shina terlihat bangga. 
“Hoooo ...,” Halsy hanya tersenyum melihat Shina. 
“Sudah jelas kalau pikiranku lebih dewasa. Pengelolaan otakku sudah mencapai 12%,” Shina memberikan ibu jarinya pada Halsy. 
“Tingkat satu yah, tapi itu juga hampir mendekati yang terendah,” senyum Halsy meledek. 
“Be-berisik! Lihat!” Shina mengangkat tangan kirinya ke arah taman berpasir disampingnya. Wajahnya terlihat berkonsentrasi keras. 
Wusssshhh!! 
Untuk sesaat terlihat putaran angin kecil berhembus di tanah berpasir itu. Pasir disekitarnya mulai terangkat dan berterbangan ke berbagai arah. 
“Hmmmm,” Shina terlihat bangga membusungkan dada. 
“Itu mungkin hanya kebetulan. Mungkin saja itu bukan karena kamu yang mengangkat tanganmu, itu murni kejadian alam,” senyum Halsy yang menggoda sahabatnya. 
“Eh itu benar karena kemampuanku! Aku tipe Aerokinesis! “ gerutu kesal Shina. 
“Benarkah?” senyum Halsy. 
“.......” Shina hanya memandang datar sahabatnya, wajahnya terlihat tidak senang. 
“Baiklah baiklah, aku percaya hahahaha, “ Halsy tertawa bahagia. 
“Sejak awal kamu sudah mempercayainya kan?” senyum kesal Shina. 
“Em sejak awal.” 
“Jadi kamu hanya menggodaku?” kesal Shina. 
“Benar ....,” senyum Halsy meledek, setelah itu berlari menghindari Shina yang mulai melayang mendekatinya, tentunya karena kursi rodanya. 
“Awas yah kamu!” kesal Shina sambil terus mengejar Halsy yang berlari. 
“Tidak kena, tidak kena ..., hahahaha!” Halsy tertawa bahagia sambil terus menghindari Shina. 
Pada akhirnya mereka bermain bersama, bermain riang hingga tidak mempedulikan waktu. Keduanya sungguh terlihat sangat bahagia saat itu dan melupakan kesakitan hati mereka masing-masing. 
Langit berubah warna kembali menjadi jingga. Shina yang melihat itu langsung terdiam menatap langit. 
“Kenapa?” tanya Halsy. 
“Sudah sore,” jawab Shina sambil terus menatap langit. 
“Kamu benar,” Halsy ikut menatap langit. 
“Mungkin untuk hari ini sampai disini saja, lain waktu kita main lagi, yah?” senyum Shina bersemangat. 
“Siip!” Halsy memberikan ibu jarinya. 
Halsy lekas berbalik dan berjalan pulang ..., tapi untuk sesaat dia kembali berbalik dan melihat Shina yang melambaikan tangan padanya. 
Bukan wajah Shina yang dilihatnya, tapi dia melihat kakinya. Perasaan sakit dalam hatinya mulai muncul, dia sungguh ingin melakukan sesuatu untuk sahabatnya. 
Maka dari itu, Halsy mulai mengganti menu latihannya. 
Sebelumnya, Halsy hanya fokus melatih kemampuannya yang memanipulasi atom. Tapi karena kepeduliannya yang tinggi pada sahabatnya, dia mulai mempelajari Vitakinesis, belajar untuk menggunakan kemampuan penyembuhan yang belum pernah ia lakukan. 
***

Bagian Keempat: 
Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan kembali antara Halsy dan Shina, untuk waktu tertentu Shina dan Halsy terkadang sering bertemu dan bermain. 
Kini disekolah Halsy, setelah bel istirahat berbunyi terlihat Halsy yang beristirahat dibelakang sekolah seperti biasanya, dia memakan roti coklat kesukaannya dengan segelas susu disampingnya. 
“Rencanaku sudah sempurna sekarang. Aku juga sudah sepenuhnya mengerti dengan kemampuanku ini,” senyum khawatir Halsy pada dirinya sendiri. 
“Sekarang tinggal mengambil kedua tipe kinesis itu agar rencanaku berjalan sempurna. Semoga mereka berdua tidak marah,” senyum Halsy memejamkan mata, dirinya terlihat merasa bersalah. 
Di saat dia sedang memakan rotinya itu, terdengar ledakan cukup keras dari arah bangunan kelasnya. Wajahnya terkejut bukan main, tubuhnya sontak bergemetar terkejut hingga roti coklatnya terjatuh ke lantai. 
DUAARRR!!! 
Tapp! 
“........” Pandangannya langsung teralihkan melihat roti coklat kesukaanya jatuh, menatap tajam roti yang sangat berharga baginya itu. 
“Tu-tunggu dulu, aku masih belum memakan setengahnya!!” Halsy hanya mengangkat kedua tangannya ke arah roti terjatuh itu. Tangannya sungguh bergemetar seakan masih tak mempercayai jika makanan kesukaanya telah ternoda. 
“Kurang ajar, memang ada apa sih?!” teriak Halsy marah dan berdiri, dia mulai melangkahkan kaki dengan cepat berniat pergi ke kelas. 
Clapp! Cerrr!! 
Kaleng susu yang berada di sampingnya tidak sengaja tumpah karena langkah kakinya. Wajahnya terlihat cukup shock melihat kejadian singkat itu terjadi. 
“Bahkan susu coklatku juga ....,” sedih Halsy menatap susu kalengnya. 
“Kurang ajar kamu ledakan! Akan kubalas karena telah membuat roti dan susuku seperti ini!” lanjutnya berteriak kesal. 
Pada akhirnya dia berlari kencang menuju kelasnya sambil memasang wajah tak senang, bukan karena kericuhan ledakan sekolahnya ...., tapi karena makanan dan minuman kesukaannya yang dijatuhkan oleh ledakan itu. 
Sesampainya disana, dirinya hanya terdiam terkejut melihat seluruh murid kelasnya yang berkumpul ditengah ruangan.              
Mereka yang duduk tertunduk memegang kepala terlihat ketakutan karena ditodong senjata api dan listrik. 
Sekelompok orang berpakaian hitam sudah menyandra teman-temannya, termasuk Salbina yang memasang wajah kesal. 
Orang yang diduga menjadi pemimpin kelompok itu terlihat menyandra seorang gadis yang seumuran dengan Halsy. Rambut gadis itu bergelombang panjang berwarna hitam, matanya berwarna coklat. 
DUAR! 
“Kau juga kesini anak kecil!” teriak salah satu orang dari kelompok itu, dia menunjuk Halsy yang baru sampai di ruang kelasnya. Dia juga melepaskan tembakan ke atas seolah-seolah menjadi peringatan untuk semuanya. 
Halsy mulai berjalan menghampiri para pengacau itu, dirinya terlihat tenang dan tak ada sedikitpun ketakutan yang dikeluarkannya. 
“Lepaskan mereka! Bangunan ini sudah dikepung oleh polisi dan Adjoin!” teriak seorang lelaki berwibawa dari luar bangunan sekolah. 
“Lepaskan Sylvia! Kenapa kalian menyandra putriku!” teriak wanita paruh baya menangis. Gadis yang disandra pemimpin perampok itu adalah putrinya. 
“Uaahaaa!!” beberapa teman sekelas Halsy menangis ketakutan karena tembakan dan ketegangan yang tiba-tiba datang. Itu tidak aneh, mereka hanya anak-anak yang berumur kurang dari 10 tahun. Mereka hanya ketakutan. 
“Diam!” teriak kesal salah satu pengacau menendang salah satu gadis yang menangis hingga pingsan.
DUAAK! 
Salbina yang berusaha keras menahan emosinya daritadi seketika memuncak dan akhirnya keluar. Dia mulai berdiri dan berteriak murka pada kelompok tersebut. 
“Kurang ajar! Berani sekali kau membuat pingsan seorang gadis!” 
“Haaah!! Memangnya kenapa jika aku melakukannya?!” 
“Bajingan!” Salbina terlihat amat murka, dia berniat mengeluarkan kemampuannya, tapi.
ZWINGGGG!!!!

Disetiap leher para pengacau itu muncul sebuah pisau yang terlihat amat tajam, pisau yang sudah siap menyayat leher mereka kapan saja. 
“.......!!!?” Semua orang terkejut bukan main melihat hal itu. 
“Siapa?” tanya perampok itu mengangkat kedua tangannya, senjata api dan listriknya terlihat mereka jatuhkan ke lantai. Wajah mereka sungguh terlihat ketakutan. 
“Berbalik dan menempel ‘lah pada tembok, maka aku tak akan menyakiti kalian,” datar Halsy sambil memunguti senjata para perampok. Pisau buatannya juga masih terlihat melayang di sekitar para perampok. 
“......!!” Semua orang terkejut bukan main melihat Halsy yang mengeluarkan kemampuannya, tidak terkecuali bagi Salbina. 
“Kenapa kamu mendahuluiku?! Apa kamu ingin berlagak keren karena menyelamatkan –“ teriak kesal Salbina yang merasa direndahkan, tapi dirinya langsung terdiam ketakutan mendengar Halsy yang berteriak lebih keras padanya. 
“DIAM!” 
“......” Semua orang terdiam semakin ketakutan melihat Halsy Aeldra, beberapa siswa ada yang mundur menangis ketika Halsy mengambil senjata di dekat para siswa. 
Lalu terdengarlah kata yang paling tidak ingin di dengar oleh Salbina, kata yang pernah menyakiti hatinya hingga dia bersikap arogan. 
Monster .....,” 
“Eh .....?” Salbina terkejut bukan main melihat teman-temannya yang berkata seperti itu. Kata yang tabu baginya itu bukan ditunjukan pada dirinya, tapi pada Halsy Aeldra yang tersenyum memunguti senjata para pengacau. 
“......” Salbina hanya terdiam terkejut menatap Halsy Aeldra. Hatinya terasa sakit, setelah perlakuan mengerikannya, Halsy malah menyelamatkannya dari traumanya yang hampir terulang. Jika Salbina tadi mengeluarkan kemampuannya, sudah jelas kalau kata tabu itu akan ditunjukan padanya. 
Tujuan Salbina sebelumnya adalah membuat Halsy menangis, tapi yang terjadi malah Salbina yang menangis pelan dihadapan Halsy Aeldra. Dia merasa sangat bersalah sambil mengusap air matanya. Niatnya untuk membuat Halsy Aeldra menangis sudah ia urungkan, dia hanya ingin meminta maaf dan sangat berharap menjadi teman dari gadis yang menyelamatkannya itu. 
“Pak polisi sekarang sudah aman!” teriak Halsy yang sudah mengumpulkan senjatanya. 
Satuan polisi dan Adjoin terlihat memasuki bangunan itu. Wajah mereka terkejut melihat para perampok yang berbalik dan menempel pada tembok. 
“Siapa yang melakukannya .....?” tanya seorang gadis muda berambut hitam, umurnya terlihat sekitar 10 tahun seperti Heliasha. 
“Tenanglah Keisha, jangan gegabah seperti itu. Ingat apa yang dikatakan ketua,” senyum lelaki tampan berumur 15 tahun. Lelaki itu memakai kacamata. 
“Tapi Kak Gram, ini sungguh aneh ..., kenapa para pengacau yang sulit kita lumpuhkan bisa dikalahkan dengan mudah seperti ini?” tanya Keisha yang masih berumur 10 tahun itu. 
“Aku juga berpikir seperti itu, hanya satu orang di dalam ruangan ini yang berwajah tenang,” lirik Gram pada Halsy yang melihatnya. 
“......” 
“Kamu yang tadi berteriak, kan?” 
“Ya itu aku.” 
“Kamu juga yang melumpuhkan mereka?” tanya Keisha melihat Halsy. 
“Ya itu aku juga,” jawab Halsy memejamkan mata. 
“Namamu?” tanya kembali Kesiha tersenyum. 
“Halsy Aeldra.” 
“Aeldra? Oooohhh adiknya Heliasha itu?!” senyum Keisha senang. 
“Gadis ini adik sang Bloodtaker?” tanya Gram cukup terkejut. 
“Ya dia adik Heliasha,” senyum Keisha. 
“Tapi kalau tidak salah kamu hanya manusia biasa kan?” lanjutnya bertanya penasaran. 
Mungkin ini sedikit lebih cepat dari yang kurencanakan, tapi ini sudah waktunya memulai rencana, rencana untuk menghentikan Elenka,” batin Halsy tersenyum sedih. 
“Kak Keisha? Tingkat berapa kamu sekarang?” tanya Halsy. 
“Tingkat empat, satu tingkat dibawah kakakmu,” senyum manis Keisha. 
“Kalau kamu, Kak Gram?” lirik Halsy pada Gramior. 
“Tingkat lima, memangnya kenapa?” 
“.....” Halsy hanya melambaikan tangannya pada Gram seolah memberikan isyarat untuk mendekatkan kepalanya. 
Aku akan menjawab pertanyaan gadis disebelahmu. Kamu sudah tingkat atas jadi aku akan membiarkanmu mengetahuinya,” bisik Halsy. 
“......!!” wajah Gram terlihat sangat khawatir. 
Ja-jangan katakan ...?!”  bisik Gram ketakutan. 
Ya, aku sudah mencapai tingkat tertinggi ....., Divinity.” 

***
 [Writer : Lullaby R]


My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVIII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.