09 Januari 2017

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVII

KILAS BALIK II : TAKDIR DIRINYA DAN DUNIA

Bagian Pertama: 
Malam semakin larut, Halsy yang sebelumnya menangis mulai beristirahat memejamkan mata. Dia memasuki alam mimpi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Mimpi besar yang akan merubah hidupnya kelak. 
Halsy yang sedang bermimpi terlihat berjalan di sebuah padang rumput yang amat luas. Dia terdiam kagum melihat pemandangan sekitar yang menenangkan hati. 
“Waaahhh!!” teriaknya terkagum-kagum ketika melihat pohon sakura yang amat besar.
Pohon sakura yang amat indah dan tak pernah layu itu berdiri kokoh di tengah padang rumput tempat Halsy berpijak. 
Secara perlahan Halsy menghampiri pohon itu, wajahnya terlihat kagum dan gembira memandang pohon tersebut. 
Kemarilah gadis manis ......” Untuk sesaat terdengar suara lembut seorang gadis dari atas pohon itu. 
“.......!” Wajah Halsy seketika terkejut karena mendengar panggilan seseorang. Wajahnya mulai terlihat khawatir melihat sekelilingnya. 
“Si-siapa?” 
Selamat datang, gadis muda ....,” senyum seorang gadis yang melayang turun dari pohon sakura besar itu. 
Umurnya sekitar enam tahun. Rambutnya panjang berwarna putih, matanya berwarna biru sapphire yang indah. Tepat dikeningnya, terlihat sebuah lambang bulan sabit yang berwarna kuning keemasan. 
“Si-siapa?” Halsy terlihat ketakutan. 
Jangan takut padaku ....., wahai engkau gadis yang menjadi keturunan Erlic,” senyum manis gadis itu. 
“…..?” Halsy hanya terdiam kebingungan. 
Hanya kamulah dari keturunannya yang bisa aku panggil ke dalam dunia ini,” senyum sedih gadis itu. 
“Aku? Ketulunan?” 
Kamu dari keluarga Aeldra, kan?” 
“Emm ...,” angguk manis Halsy. 
.......” Gadis itu hanya tersenyum melihat dirinya. 
Sebelum memperingatkan sesuatu, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” lanjutnya. 
....” Halsy menganggukan kepalanya. 
“Siapa namamu?” tanya gadis itu. 
“Halsy Aeldla.” 
Halsy anak keberapa?” 
“Kedua.” 
………” Gadis tersebut hanya tersenyum sedih melihatnya, dia terlihat sudah menduga jawaban Halsy. 
Dengarkan aku Halsy, kehancuran dunia karena terror keturunan Gehena sudah semakin dekat. Jadi bisakah kamu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dunia ini?” lanjutnya masih memasang ekspresi yang sama. 
“Menyelamatkan dunia?” 
“Ya dunia akan benar-benar kacau di masa yang akan datang. Dua iblis setengah dewa akan memporak-porandakan dunia kalian. Keduanya akan menuntut balas atas perlakuan dunia yang tak adil kepada mereka.” 
“Tapi Halsy hanya gadis biasa, tidak punya kekuatan apapun. “ 
…….!!” gadis itu sontak terkejut bukan main. Tubuhnya bergemetar, menatap Halsy selebar-lebarnya. 
Kamu anak kedua tapi tak memiliki kemampuan apapun?! Mustahil Halsy, kamu yang terpilih menjadi reinkarnasi Putri Emily pasti mempunyai –“ gadis tersebut langsung terdiam denga tangan semakin bergemetar. Wajahnya tampak ketakutan melihat Halsy. Dia terlihat telah menyadari sesuatu yang amat penting. 
“Kak Emily?” Halsy bertanya kebingungan. 
Ka-kamu tidak tau siapa dia?” tanya gadis itu yang mulai menutup mulut dengan kedua tangan. 
“Eemm,” Halsy hanya menggelengkan kepalanya keheranan. 
Nama belakangmu berasal dari ayah atau ibumu!?” gadis itu bertanya khawatir memejamkan mata. Tubuhnya, hatinya, kedua bola matanya tak pernah berhenti gemetar. 
“Ayah,” senyum Halsy. 
Dia anak keberapa!?” 
“Um ...., sama sepelti Halsy. Papah juga anak kedua. Dia adik tante Hana,” senyum Halsy yang terlihat berpikir. 
Ayahmu anak kedua dan dia selamat dari kutukan itu?!” gadis tersebut terkejut bukan main melihat Halsy. Dia mulai memegang kepalanya. Terlihat masih tak mempercayai dengan apa yang sudah ia dengar sebelumnya. 
“Kakak tidak apa-apa?” tanya khawatir Halsy. 
….,” gadis tersebut hanya menatap sedih Halsy yang khawatir padanya. 
“Kakak?” tanya Halsy. 
Gadis itu hanya mengabaikan kekhawatiran Halsy, mulai memeluk erat tubuh Halsy yang sedikit lebih pendek darinya. Sungguh memeluk erat dirinya seolah sedang memberikan simpati yang amat besar. Menjatuhkan butiran air mata yang menyedihkan. Hatinya sungguh terasa hancur. 
“Kakak?” tanya kembali Halsy yang kebingungan. 
Su-sungguh malangnya nasibmu Halsy Aeldra. Aku sungguh tak percaya akan datangnya hari ini,” gadis tersebut menangis lebih dalam, semakin memeluk Halsy sangat erat. Benar-benar menaruh keprihatinan penuh untuknya. 
“....” Halsy hanya terdiam kebingungan. Wajahnya juga mulai terlihat sedih karena mengetahui gadis itu yang menangis tersedu-sedu. 
Se-sebelum itu, biar aku memperkenalkan diriku. Kamu bisa memanggilku Ene, Enelove C. Frostlily,” gadis itu mulai melepaskan pelukan, mengusap air matanya yang tak pernah berhenit. 
“Aku setengah dewi yang hidup di jaman terdahulu. Aku tidak mempunyai banyak waktu, jadi biarkan aku langsung membahas masalah utamanya.” 
“......” Halsy menganggukkan kepala, berniat mendengarkan penjelasan. 
Sejak jaman dahulu, keluarga kalian sudah mendapatkan kutukan dari keturunan raja iblis keempat. Anak kedua dari anak pertama keluarga kalian dipastikan mati saat umurnya belum melewati 20 tahun. 
Orang-orang dari keluarga kalian sering salah menganggap jika hanya anak kedua saja yang akan mati. Tapi itu tidak benar, hanya anak kedua dari anak pertama saja yang mendapatkan kutukan itu.” 
“ Hal-Halsy anak papah. Jadi Halsy tidak akan mendapatkan kutukan itu, kan?” senyum Halsy bertanya, nada suaranya terdengar gugup, wajahnya mulai terlihat khawatir. 
“.......” Gadis itu hanya terdiam memejamkan mata, kesedihan amat dalam benar-benar terlukis dari wajahnya. Kembali menangis dengan senyuman penuh kesedihan. 
“Kakak ...?” Halsy yang manis terlihat semakin khawatir. 
Ti-tidak sayang, sungguh aku kecewa mengatakan ini padamu. Tapi kamulah yang mendapatkan kutukan itu. Seharusnya anak kedua tante Hana lah yang mendapatkan kutukan itu. Tapi karena Ayahmu bisa selamat dari kutukan itu, kini kutukan itu mengejarmu. 
Lebih buruk dari itu, kamu tak akan pernah mendapatkan kemampuan apapun. Anak kedua tante Hana lah yang tetap mendapatkan kekuatan itu, dialah yang menjadi reinkarnasi Light Princess dan nantinya menghentikan Elenka atau Elena. Kamu bisa datang ke sini juga menjadi bukti kuat kalau kamulah gadis yang mewarisi kutukan itu.” 
“ El-Elenka atau Elena?” tanya Halsy, kedua tangannya mulai bergemetar. Matanya memerah, hatinya terasa hancur. Bukan hal yang aneh jika dia terguncang. Tapi dia berusaha keras menahan ketakutannya dan mendengar penjelasan gadis bernama Ene itu. 
Ya, Elenka atau Elena. Tujuan Elena adalah yang paling berbahaya, dia berniat membuat kalian menderita, ingin membuat umat kalian tersiksa karena membunuh Kakak dan Ibunya. Dia ingin menghancurkan umat kalian secara perlahan dan mematikan.” 
“Sedangkan kakaknya Elenka berniat menghancurkan dunia, dia berambisi untuk mengakhiri dunia yang sudah tak karuan baginya. Dia juga yang memberikan kutukan pada keluarga kalian.”                                                     
......” Halsy hanya terus diam dengan tangan bergemetar, dia sungguh ingin menangis tapi dia terlihat bersikeras untuk menanahannya. Dia terus menggigit bibir bawahnya, kesulitan untuk menahan beban di air mata. Tak ingin, sungguh tak ingin apa yang dikatakan gadis di hadapannya adalah kenyataan. 
“Di masa yang akan datang, jika Elenka tak dihentikan ...., planet yang dihuni manusia ini akan dihancurkan olehnya. 
Tapi jika Elena yang tak dihentikan, perbudakan manusia oleh bangsa iblis akan terjadi. Dunia sungguh benar-benar berakhir untuk umat kalian.” 
“ Begitu,” senyum sedih Halsy, tubuhnya sungguh bergemetar. Dia menjatuhkan air mata, tak kuasa menahan ketakutan dan kesedihannya. Meski dia memiliki pola pikir yang dewasa, Halsy tetaplah seorang gadis kecil. 
“Su-sungguh aku benar-benar bingung apakah harus gembira atau sedih. Saat ini merupakan kesempatan emas untuk memutuskan kutukan itu. Reinkarnasi Light Princess tidak memiliki halangan sebuah kutukan untuk melawan Elenka atau Elena …. 
Ta-tapi di sisi lain …., gadis tak berdaya sepertimu harus mengalami kepahitan ini, harus mengorbankan diri untuk menyelamatkan dunia dan keluargamu,” Ene menangis memegang kedua pipi Halsy yang lembut. Mengusap air matanya yang terus mengalir, sulit dihentikan. 
Ap-apa dengan kematianku nanti bisa membuat kelualga Aeldla dan dunia telbebas dali Elenka dan Elena?” senyum sedih Halsy, kedua tangannya bergemetar hebat. Matanya memerah, berkaca-kaca menatap Ene. Air mata terus mengalir menabrak tanah, melewati pipi mungilnya. 
Tidak Halsy, hanya Elenka saja. Light Princess tidak cukup kuat untuk melawan keduanya,” sedih Ene yang memejamkan mata. Dirinya terlihat tidak kuat melihat gadis kecil dihadapanya yang terluka, terluka karena harus menanggung penderitaan yang amat berat. 
“Ka-kalau begitu, kita meminta bantuan olang lain saja untuk mengalahkan keduanya ...?” Halsy mengusap air matanya. 
Ha-hanya keluarga yang bersangkutan yang bisa mengalahkan mereka berdua, yakni keluarga Aeldra.” 
“Tapi papah Halsy kuat! Mamah juga, Kak Heliasha juga, Alysha juga akan menjadi kuat! Apa aku bisa meminta tolong pada meleka!?” 
Jika memang mereka kuat seperti yang kamu bicarakan, aku berharap padamu untuk membujuk mereka,” senyum sedih Ene. 
“ Em ….,” Halsy menganggukan kepalanya dan terlihat tegar. 
“Tapi biar aku mengatakan ini ..... Elena sang Dark Princess tidak sekuat Elenka. Elenka amat sangat kuat. Bahkan Light Princess saja hanya memiliki kemungkinan 50% saat melawan dirinya. Dia iblis yang sekelas dengan iblis kelas A.” 
Ya, aku akan memberi tahu keluargaku untuk menghentikan Elena,” senyum manis Halsy memejamkan mata. Meski dia terlihat tegar, tetesan kecil air mata kembali mengalir. Dia tak bisa membohongi hatinya yang hancur. 
 Sungguh aku berharap padamu, Halsy Aeldra. Dunia di masa yang datang akan kacau jika kedua mahluk itu terus menghantui dunia ini,” senyum sangat sedih Ene menundukkan kepala, wajahnya terlihat frustasi karena harus memberitahukan kenyataan pahit itu pada Halsy yang belia. 
Tapi dirinya yang terjebak di dunia itu tidak punya pilihan lain selain mengatakan kebenaran itu pada Halsy. 
“Em ….,” Halsy menganggukkan kepala, memberikan senyuman lebar hingga terlihat giginya. Meski dihiasi air mata yang berlimpah. 
Gadis berumur empat tahun yang masih polos, gadis tak berdaya dan tak memiliki kemampuan apapun telah mendengarkan peringatan yang membuat orang dewasa pun menggigil ketakutan. 
Ketika dia membuka matanya, air mata sudah terlihat di kedua pipinya yang lembut. Kesakitan dalam hatinya sungguh dalam ketika dia mendengar takdirnya yang sudah ditentukan. 
Dirinya yang lahir ke dunia dengan senyuman riang hanya menjadi wadah untuk menerima kutukan. Tapi apa yang bisa perbuat? Apa yang bisa ia lakukan? 
Hanya bisa ikhlas menerima takdir tersebut, hanya bisa menjalani takdir tersebut demi keluarga dan dunia di masa yang akan datang. 

***

Bagian Kedua: 
Masih di hari yang sama, lebih tepatnya di siang hari dengan matahari mencapai titik tertingginya. Seluruh keluarga Aeldra terlihat berkumpul di ruang tengah, berkumpul dan bersosialisasi. 
Alysha terlihat membaca buku cerita yang baru saja dibelikan ayahnya, dia terlihat bahagia sambil duduk dipangkuan ibunya. 
Kakaknya Heliasha terlihat menonton SmarTv yang besar dengan amat sangat dekat, dan sedangkan Halsy terlihat membaca buku tentang sejarah kehidupan umat manusia. 
“Heliasha, jangan terlalu dekat nonton TV-nya!” kesal Asha sambil mengusap pelan kepala Alysha. 
“Eeeehhhh....!!” Heliasha terlihat cemberut kesal. 
“Heliasha,” senyum Haikal melihat putrinya, dirinya terlihat sedang menulis sebuah laporan untuk pekerjaanya. 
“Aku tau aku tau,” Heliasha terlihat cemberut tak senang. Dia berjalan menghampiri sofa tempat Halsy sedang membaca buku. 
“Halsy, kamu sedang apa?” tanya Heliasha penasaran pada adiknya. 
“.......” Tak ada jawaban dari Halsy, kedua tangannya masih terlihat sedikit bergemetar karena sudah mengetahui takdir dunia di masa depan. Dia mengumpulkan informasi untuk mengetahui tentang dua mahluk yang mengancam dunia ini. 
Huuuhh .... 
“Halsy ....” Heliasha meniup pelan telinga adiknya. 
“Hii,” Halsy merinding dan melihat kakanya. 
“Apa kak?” tanya Halsy mengusap pelan telinganya. 
“Kamu lagi ngapain?” senyum Heliasha melihat adiknya. 
“Baca buku.” 
“Iya, Alysha juga sama sedang baca buku ... Jadi kamu baca buku apa?” tanya datar Heliasha. 
“Baca sejalah kak, “ senyum Halsy. 
Asha dan Haikal mulai saling menatap satu sama lain, wajah mereka terlihat khawatir sambil sesekali melirik putri keduanya. 
“.......” Angguk mereka saling menatap kembali. Keduanya seolah memberi isyarat satu sama lain untuk meminta maaf pada putrinya tersebut. 
“Hal –“ 
“Papah, Mamah! Laja Iblis itu apa?” tanya Alysha khawatir. Dia melihat ayah dan ibunya dengan tatapan manis. 
“Eh ......,” Asha dan Haikal terdiam sambil melihat Halsy. 
“......” Halsy hanya melihat kedua orang tuanya dengan tatapan penasaran, dia memiringkan kepalanya keheranan. 
“.......” Suasana terasa hening untuk sesaat. 
“Papah mamah!!” cemberut Alysha berteriak. 
“Raja iblis itu mahluk yang jahat sayang,” senyum Asha melihat putri bungsunya. 
“Iya, dia mahluk yang akan memakanmu hidup-hidup,” Haikal terlihat menakut-nakuti putrinya. 
“Hee ....,” Alysha terlihat ingin menangis. 
“Haikal!” kesal Asha berteriak. 
“Dia juga akan memakan semua buku Alysha loh, woah!!” Heliasha menghampiri Alysha, mengangkat kedua tangannya untuk menakuti adik kecilnya itu. 
“Ma-mamaah!” Alysha memegang baju Asha, memeluk erat ibunya karena ketakutan. Matanya mulai memerah dan terllihat ingin menangis. 
“Heliasha, bahkan kamu juga ....,” Asha mengeluh karena kelakuan anak dan suaminya. 
Disaat seperti itu, Halsy yang melihat keluarganya mulai berpikir bahwa mungkin inilah waktu yang tepat untuk meminta tolong pada mereka. Dengan kedua tangan yang bergemetar Halsy mulai bertanya. 
“Pa-papah mamah ...” 
“Eh kenapa Halsy?” tanya Haikal. 
“Papah kuat kan?” 
“Ya tentu saja! Papah sangat kuat,” senyum Haikal. 
“Mamah dan Kak Heliasha juga sudah kuat kan?” senyum sedih Halsy. 
“Kenapa kamu bertanya seperti itu Halsy?” Asha terlihat kebingungan. 
“Alysha juga akan jadi kuat kan?” senyum Halsy memejamkan mata. Dia mulai menyimpan bukunya dengan kedua tangannya yang bergemetar. 
“Kenapa Halsy, apa ada yang menganggumu?! Siapa orangnya? Katakan pada Kakak!” Heliasha terlihat kesal. 
“Bu-bukan. Begini, bi-bisakah kalian membantu Halsy?” 
“Membantu apa?” 
“Halsy kemalin diingatkan oleh seseolang. Katanya calon laja iblis kelima beselta adiknya akan mengancam bumi –“ 
“Ehhhh, Laja Iblis benelan datang?Uahaa .... Uaahhaa, Hiks ...,” Alysha menangis memeluk ibunya. 
“Tidak sayang, Kak Halsy hanya bercerita. Itu tidak nyata –“ Asha terlihat menghibur kembali Alysha. 
“Ak-aku enggak bohong mah, itu kenyataan!” Halsy terlihat cemas, dan itu bukan hal yang aneh. Gadis berumur empat tahun itu sedang ketakutan sendirian karena mengetahui takdir dunia yang mengerikan. 
“Halsy ..., mungkin itu cuman mimpimu. Kamu hanya bermimpi buruk dan masih merasa terbawa oleh mimpi it –“ senyum Asha. 
“Tapi mah, Halsy yakin itu akan terjadi! Halsy memang bermimpi, tapi itu akan jadi kenyataan! Ketulunan Laja Iblis yang belnama Elenka –“ teriak Halsy amat khawatir. Tubuhnya bergemetar ketakutan sambil berniat meminta tolong pada keluarganya, tapi. 
“HALSY!!” teriak Haikal kesal memotong perkataan putrinya. 
Kedua tangan Haikal saat itu bergemetar hebat, wajahnya terlihat sangat terkejut mendengar penjelasan putrinya tersebut. Dia amat sangat ketakuta, tetesan keringat dingin terlihat di sekitar wajahnya. 
“.........” Semua orang terdiam terkejut melihat Haikal yang marah. 
“Uahaaa!!” Alysha menangis keras memeluk ibunya. Heliasha pun terlihat bergemetar ingin menangis melihat ayahnya. Asha hanya menatap keheranan suaminya, tatapan tajam yang bertuliskan kekecewaan. 
Tapi orang yang paling terluka karena teriakan Haikal adalah putri keduanya. Dia hanya menutup matanya ketakutan, menundukkan kepala. Kedua tangannya tak pernah berhenti bergemetar. 
Hatinya sakit, sungguh terasa amat sakit. 
Tapi hanya satu hal yang membuat seisi ruangan itu terkejut, Halsy yang paling terluka saat itu tidak menangis. 
Dia mengangkat wajah, mulai membuka matanya dengan kedua tangan yang masih bergemetar, memberikan senyuman penuh arti melihat keluarganya. Senyuman yang menyembunyikan kepahitan akan dirinya yang mengetahui tentang takdir dia dan dunianya. 
“Maaf ...” 
Dia lekas berlari meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan mereka yang tak mempercayai perkataanya. 
Seisi ruangan sontak terkejut atas tindakan gadis berambut panjang itu. Asha yang sebelumnya melihat Halsy lekas melihat kembali Haikal dengan amarah. 
“HAIKAL!” 
“......”Haikal hanya menundukkan kepala. Tangannya bergemetar ketakutan. 
Bukan karena Asha, tapi karena nama gadis yang disebutkan tadi oleh putrinya tadi. Tindakan Haikal tadi tidak salah dan tidak juga benar. Dia hanya berniat melindungi Asha, Alysha dan Heliasha. 
Dia hanya berniat melindungi keluarganya untuk tidak terlibat dengan iblis yang menghantui keluarga Aeldra secara turun temurun. 
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan! –“ 
“Aku mohon diamlah Asha ...,” Haikal terlihat frustasi memegang kepalanya. Dirinya sungguh terguncang karena mengetahui kutukan itu sudah menjalar pada putri keduanya. 
“.......” Asha hanya terkejut khawatir melihat Haikal yang seperti itu. 
Halsy yang sedang berjalan cepat menjauhi keluarganya tiba-tiba tertahan oleh seorang gadis. Gadis tersebut tiba-tiba muncul dihadapannya dengan seorang lelaki seumur Heliasha. Dia tersenyum menghadang Halsy di dekat jembatan yang sepi. 
Gadis itu Salbina yang datang bersama Hanafi. Dia tersenyum sombong melihat Halsy Aeldra. 
“Si-siapa!?” Halsy terlihat ketakutan. 
“Hanafi apa gadis ini benal-benal olangnya?” tanya Salbina melihat Halsy yang ketakutan. 
“Ya, dia adalah Halsy Aeldra.” 
“Hmmm .....,” Salbina memejamkan matanya, empat gerbang dimensi tepat di atas kepalanya mulai terbuka. Dari tiap gerbang tersebut muncul pedang yang terlihat indah dan berharga. Ujung pedang yang tajam itu mulai keluar dan mengarah ke arah Halsy. 

***

Bagian Ketiga 
“Tunggu Salbina,” Hanafi mulai berjalan menghampiri Halsy yang ketakutan. 
“Kenapa ...? Aku tidak belniat membunuhnya kok. Aku hanya ingin menguji kekuatannya ...,” keluh Salbina membuka mata. Empat gerbang dimensi yang sebelumnya terbuka mulai menutup kembali bersama keempat pedangnya yang indah. 
Hanafi yang sebelumnya berjalan pelan menghampiri Halsy tiba-tiba menghilang. 
BUAAAK!!! WUINGG!! BRAKK!! 
Halsy yang berumur empat tahun itu seketika terdorong dan melayang terbang kebelakang. Dia mendapatkan tendangan keras di perutnya. 
“Uhuk Uhuk!!” Halsy terlihat kesakitan memegang perutnya. Tubuhnya bergemetar ketakutan menatap tanah. 
“Lihat .....,” senyum Hanafi yang baru menendang perut Halsy. 
“Lemah, benal-benal lemah ....,” keluh Salbina menatap Halsy. 
“Jika kamu menggunakan kekuatanmu tadi ...., dia pasti mati, Salbina,” senyum Hanafi melihat Halsy yang ketakutan. 
“Baik tadi salah Salbina. Jadi menulutmu dia kinesis tingkat belapa? Tipe sihil apa yang menonjol dali dilinya hingga membuatnya telihat lemah –“ 
“Dia bukan seorang Kineser, dia juga bukan pengguna sihir. Dia hanya manusia biasa,” senyum sedih Hanafi melihat Halsy yang masih memegang perutnya. 
“HAAAH!!? Lalu maksud ayah menyuruhku untuk mengikuti gadis ini apa dong?!! “ teriak kesal Salbina yang lucu. 
“Tapi Salbina, untuk gadis normal seumurnya pasti akan menangis setelah mendapatkan tendangan keras seperti itu. Tapi gadis ini ..., dia tidak seperti itu. Dia hanya terus terdiam menatap kita,” senyum Hanafi melihat Halsy yang mulai menatap mereka. 
“Itu bukan alasan untuk menilai kekuatannya, Hanafi. Dia hanya gadis lemah yang telalu takut untuk menangis,” senyum sombong Salbina.
Halsy mulai berwajah khawatir, berniat mengajukan pertanyaan. “Si-siap –“ Tapi perkataanya tak selesai. 
SYAAAAT!!! 
“Aaaw!” teriak Halsy kesakitan. Pisau kecil tiba-tiba keluar dari gerbang dimensi yang muncul dibelakangnya. Pisau itu menggores tangan kanan Halsy. 
“Lihat, sekalang dia pasti menangis ..... “ Salbina tapi langsung terdiam terkejut melihat Halsy yang hanya memegang tangan kananya. Dia hanya memasang wajah khawatir ketakutan melihat Salbina. 
“Hmmmm,” Hanafi hanya tersenyum melihat Halsy. 
“Hooo, bialkan Salbina selius untuk membuatmu menangis, Halsy Aeldla ...,” kesal Salbina menatap tajam Halsy yang khawatir ketakutan. 
Empat gerbang dimensi di samping kiri dan kanan Salbina mulai terbuka. Pedang seperti sebelumnya mulai keluar dan mengarah pada gadis berambut merah muda itu. 
“Hentikan Salbina, penyiksaan seperti itu tak akan membuatnya menangis.” 
“......!!” Salbina memasang cemberut melihat Hanafi. 
“Salbina ....,” senyum Hanafi memejamkan mata. 
“Baiklah baiklah! Salbina belhenti,” gerutu kesal Salbina. 
“Tapi sungguh, aku juga masih belum mempercayainya. Apa benar gadis biasa seperti dirinya akan melawan Elenka? Ini pasti sebuah kesalahan,” senyum Hanafi melirik Halsy. 
“Elenka?!” Halsy terkejut dan mulai berdiri. Dia berjalan cepat menghampiri Hanafi dan Salbina dengan wajah penuh harapan 
“Kamu mengenalnya, gadis lemah?” senyum kesal Salbina. 
“Ka-kalian sangat kuat, kan?!” 
“Kenapa kamu masih menanyakannya? Tentu saja aku sangat kuat, Salbina ini yang telkuat tau!” 
“Kalau begitu, Halsy pinjam kekuatan kalian untuk menghentikan Elenka! Halsy mohon!” Halsy memohon bersujud dihadapan Hanafi dan Salbina. 
“Haaah?! Ap-apa kamu tidak punya halga dili?!” 
“Tak apa, ini lebih baik dalipada dunia dihanculkan,” sedih Halsy yang terus bersujud. 
“.......” Salbina hanya terdiam khawatir. Dia memang kuat, tapi dia juga sadar akan keterbatasannya. Dirinya masih belum cukup kuat untuk menghentikan Elenka, entah sekarang atau beberapa tahun kedepan. 
“Ba-baiklah! Bial Salbina yang agung ini me-meminjamkan kekuatanya, kamu halus bersukul Halsy Aeldla.” 
“Te-terima kasih!” 
“Hei memangnya tak apa? Kamu tidak mungkin menang. Lagipula, hanya keluarga Aeldra sendiri yang bisa  –“ bisik khawatir Hanafi. 
“Tak apa! Salbina kuat! Salbina akan buktikan pada ayah kalau Salbina lebih kuat dari gadis lemah ini!!” teriak kesal Salbina menunjuk Halsy yang masih bersujud. 
“Telima kasih Salbin –“ 
“Panggil aku Putli Salbina, mahluk lemah!” teriak kesal Salbina pada Halsy. 
“Ma-maaf, Putli Salbina,” khawatir Halsy yang ketakutan, menangis penuh frustasi. 
“Tapi kamu halus menjadi anak buahku! Kamu halus menuruti semua perintahku. Aku masih penasalan dan ingin melihat kamu menangis menyedihkan. Pasti benal-benal cocok untuk gadis lemah sepeltimu,” senyum Salbina. 
“Em ....,” jawab Halsy menganggukan kepala. Dia mengepalkan kedua tanganya erat, dia sungguh terlihat menyedihkan. Tapi dia tak punya pilihan lain. Dia rela merendahkan dirinya demi masa depan dunia dan keluarganya. 
Salbina berbalik dan berjalan meninggalkan Halsy Aeldra. Wajahnya terlihat kecewa. 
Gadis ini yang halus Salbina ikuti dan holmati, ayah? Jangan belcanda, sampai kapanpun Salbina tidak sudi mengikuti gadis menyedihkan sepeltinya.” 
Sebuah gerbang dimensi terbuka, Salbina dan Hanafi memasuki gerbang itu dan menghilang meninggalkan Halsy yang masih bersujud. 
Kedua tangan Halsy masih bergemetar, wajahnya terlihat frustasi karena tindakannya yang memalukan. 
Setelah itu dia mulai berdiri dan berjalan dengan kepala yang tertunduk. Bajunya kotor karena kejadian sebelumnya, tangan kanannya masih terlihat berdarah. Halsy hanya menutupi luka itu dengan telapak tangan kirinya. 
Tak terasa dia berjalan, dia sudah sampai di sebuah taman bermain yang cukup ramai. Dia hanya tersenyum melihat beberapa anak yang seumur atau lebih tua darinya bermain dengan riang. 
Pandangan Halsy tiba-tiba langsung tertuju pada seorang anak perempuan yang bersedih, dia merenung dekat taman bermain pasir. Hanya satu hal yang membedakan anak gadis itu dengan anak yang lainnya.  Dia duduk di atas kursi roda, dia memakai kursi roda. 
Untuk sesaat Halsy terlihat membersihkan pakaiannya dan mulai menghampiri gadis yang bersedih itu. Dia tersenyum menyapa gadis itu. 
“Hei ....” 
Gadis itu mulai mengangkat kepalanya dan menatap Halsy. Rambut hitam panjang yang bergelombang terlihat benar-benar cocok dengan wajahnya. Matanya yang berwarna coklat caramel menatap Halsy cukup sedih. Terlihat juga butiran air mata di masing-masing kedua matanya. 
“Siapa?” tanya gadis itu mengusap matanya. 
“Menulutmu aku ini siapa?” senyum Halsy memiringkan kepala. Dia berusaha menghibur gadis itu. 
“Aneh,” senyum gadis itu melihat Halsy. 
“Kenapa kamu menangis em ....?” 
Shina. Kamu bisa panggil aku Shina,” senyum gadis itu. Ya, dia adalah Shina Shilvana yang juga masih berumur empat tahun. Itu adalah pertemuan pertama mereka. 
“Baik Shina, kamu bisa panggil aku Halsy.” 
“Halsy, em baiklah ..., Halsy,” senyum Shina. 
“Shina kenapa kamu menangis?” lanjut Halsy bertanya. 
“Hanya Shina tak bisa beljalan, tak ada satu olang pun yang mengajak Shina belmain ....” 
“Kalau begitu, main sama Halsy aja gimana?” 
“Eh emangnya gak apa-apa? Shina ini gak bisa jalan loh. Sejak lahil kedua kaki Shina udah lumpuh,” senyum sedih Shina. 
“Gak apa-apa kok.” 
“Gak bakal nyusahin Halsy?” 
“Enggak!” senyum Halsy. 
“.......” Shina mulai tersenyum kagum melihat Halsy. Hatinya benar-benar senang karena akhirnya ada yang menerima dirinya yang lumpuh. 
Mereka berdua bermain bersama, tanpa mengenal perbedaan, tanpa memperdulikan keadaan fisik mereka. Shina cukup dijauhi karena dirinya yang tak bisa menggunakan kakinya, sedangkan Halsy juga sama saja. Dia langsung dijauhi seisi taman itu karena pakaianya yang kotor dan berantakan. 

***

Bagian Keempat: 
Waktu berlalu amat sangat cepat hingga langit berubah menjadi orange. Halsy dan Shina yang sedang asik bermain dihentikan oleh seorang waita paruh baya berambut pendek dan putih. Dia memakai pakaian cukup tebal, wajahnya terlihat pucat seakan sedang tidak sehat. 
“Shina? Uhuk ...,” senyum wanita itu menjemput Shina. 
“Ibu!” senyum Shina menghampiri sang ibu. Wajahnya terlihat sangat terkejut. 
“Udah Shina bilang, ibu jangan kelual. Ibu lagi sakit!” 
“Tapi kamu lama pulangnya, jadi ibu kesepian di rumah,” senyum wanita itu. 
“.......” Halsy hanya tersenyum menundukkan kepala saat ibu Shina melihat dirinya. Dia memberi hormat. 
“Halsy, baju kamu kenapa berantakan?” tanya khawatir wanita itu. 
“......!!” Halsy sontak terkejut. Dia bahkan belum sempat memperkenalkan dirinya, tapi ibu Shina sudah mengenali dirinya. 
“Ibu mengenal Halsy?” tanya Shina terkejut gembira. 
“Eh mengenal gimana maksudnya? Bagaimana mungkin Ibu tak mengenal keponakan ibu sendiri.” 
“Eeeeh keponakan?” tanya Shina terkejut. 
“Mamah kamu dimana Halsy?” senyum gadis itu. 
“An-anu ....,” Halsy terlihat gugup. 
“Kamu pasti canggung berbicara dengan bibi. Itu bukan hal yang aneh, ini pertama kalinya kita bertemu. Nama bibi ..., Shana Anatasha, bibi itu adiknya mamah kamu ..., uhuk!”  senyum Shana yang diakhiri batuknya. 
“Senang belkenalan, Bibi,” senyum Halsy memberi hormat kembali. 
“Eh jadi Shina sama Halsy itu saudala?” tanya Shina terkejut senang. 
“Iya, kalian itu saudara. Wajar kalian tidak mengetahuinya.” 
“Maaf yah Shina, ibu jarang membawamu keluar karena kondisi ibu yang melemah,” lanjutnya tersenyum sedih. 
“Tak apa Bu,” senyum Shina. 
“Aku juga minta maaf padamu Halsy, karena jarang mengunjungi keluarga kalian. Eh, atau mungkin belum pernah yah?” Shana terlihat berpikir. 
“Tak apa Bibi,” senyum Halsy. 
“Lain kali kunjungi kami yah. Rumah kami didekat sini kok,” senyum Shana sambil berjalan meninggalkan Halsy. Dia terlihat mendorong kursi roda putrinya. 
“Eh tunggu, kamu pulang sama siapa?” tanya khawatir Shana. 
“Ada Kak Heliasha, dia sebentar lagi kesini,” senyum Halsy. 
“Begitu, ya sudah. Kamu dan Kakakmu jangan pulang terlalu larut yah, nanti Kak Asha bisa khawatir lagi.” 
“Ya ...” 
“Nanti kita main di sini lagi yah, Halsy?” senyum Shina membalikkan kepalanya melihat halsy. 
“Em!” Halsy menganggukan kepala. 
“Janji yah! Awas kalau enggak datang!” 
“......” Halsy hanya tersenyum melihat Shina. 
Langit yang sebelumnya berwarna orange berubah kembali menjadi hitam. Hawa dingin mulai memeluk tubuh Halsy yang kini berjalan pulang. 
Dia hanya berwajah sedih sambil memeluk tubuhnya sendiri. Kepahitan jalan hidupnya dimasa depan sempat ia lupakan ketikan bermain dengan teman atau mungkin sepupunya, Shina. 
Kini rasa sakit hati itu kembali datang, menyelimuti jiwa mungilnya. Dia mengingatnya, akan siapa dia sebenarnya, apa perannya untuk dunia yang hanya sebagai alat untuk menciptakan kedamaian. 
Kreek .... 
“Ak-aku pulang ...,” pelan Halsy. Dia berjalan pelan memasuki rumahnya. Wajahnya terlihat khawatir ketakutan. 
“Hahahaahaha!” langsung terdengar tertawaan dari ruang makan. Keluarganya tertawa dan tak mendengarkan ucapan pulang Halsy. Halsy hanya tersenyum sedih dan berjalan cepat memasuki kamarnya. 
Dia mengganti pakaianya, menutupi lukanya agar keluarganya tidak khawatir. 
Ketika Halsy yang masih di dalam kamar, terlihat Asha yang masih memasang wajah sedih. Bukan hanya dirinya, tapi seluruh keluarganya. 
“Berhenti tertawa untuk mengobati rasa bersalahmu, Haikal! Apa yang terjadi sampai kamu membentak putrimu sendiri,”kesal Asha. 
“Asha, hanya untuk masalah ini. Kumohon jangan ikut campur, aku mohon,” senyum sedih Haikal memejamkan mata. 
“Kenapa! Apa yang terjadi dengan putri –“ 
“Asha!” 
“........” Semuanya terdiam menundukkan kepala. Alysha terlihat sudah tertidur manis, pipinya menempel diatas meja makan. Heliasha terlihat cukup ketakutan melirik ayah dan ibunya. 
“Aku tau Halsy sudah pulang, aku ingin ke kamarnya. Aku ingin membicarakan masalah amat serius dengannya, kalian jangan keluar dari ruangan ini,” serius Haikal, wajahnya juga terlihat khawatir ketika meninggalkan ruang makan. 
Kreeekk! 
Halsy yang masih berusaha menutup lukanya dikejutkan oleh Haikal yang memasuki kamarnya. Wajah Halsy sontak terkejut melihat Ayahnya yang juga terkejut melihat kondisinya. 
“Halsy!” teriak khawatir Haikal menghampiri putrinya itu. Wajahnya sungguh terlihat ketakutan melihat putrinya terluka. 
“Pa-papah ...” 
“Darimana kamu dapat luka itu?!” 
“Hanya teljatuh Pah,” senyum Halsy. 
“Jangan bohong! Siapa orangnya –“ 
“Teljatuh pah!” teriak kesal Halsy. 
“.......” Haikal hanya terdiam sedih melihat putrinya. 
“Sini biar papah bantu, “ senyum sedih Haikal mengobati lukanya. Kedua tanganya bergemetar ketika dia menyentuh tangan Halsy yang lembut. 
Halsy yang menyadari itu mulai tersenyum melihat ayahnya. Dia sadar jika ayahnya sudah tau tentang dirinya yang menerima kutukan Aeldra. 
“Pah, sepeltinya papah salah paham,” 
“Eh, apa maksud –“ 
“Orang yang mendapatkan kutukan itu hanya anak kedua dari anak pertama. Jadi Halsy baik-baik saja, tenanglah,” senyum Halsy memejamkan mata, dia mengepalkan erat kedua tangannya. 
“Lalu kenapa kamu bisa tau tentang ib-iblis it –“ 
“Itu bukan hal yang penting pah, Halsy baik-baik saja. Lagipula Halsy minta maaf atas kejadian tadi pagi. Halsy saat itu celoboh dan hampil menakuti kelualga kita. Papah hanya tak ingin mamah, Heliasha, dan Alysha ikut telibat, kan?” 
“Ya ...,” senyum Haikal terlihat lega karena putrinya tak mendapatkan kutukan itu. Tapi itu hanya kebohongan Halsy kembali agar tak membuat khawatir ayahnya. 
“Tapi Heliana, aku sungguh kasihan padanya. Dia sudah mendapatkan kutukan itu,” Halsy berpura-pura sedih. 
“Anak kedua Kak Hana, kah?” sedih Haikal. 
“Dia masih belum tau tentang kutukan ini. Jangan kasih tau dia Pah, itu hanya akan membuat dilinya teltekan. Kita hanya halus membelikan pelhatian lebih padanya.” 
“Ya, mulai dari sekarang kamu harus baik sama dia ya?” 
“Ya Pah ....,” senyum manis Halsy. 
Beberapa menit telah berlalu, Haikal sudah pergi meninggalkan Halsy di kamarnya. 
Kini Halsy sudah terbaring di atas kasur, menatap sedih langit-langit rumah dan hampir menangis. Tapi dengan sangat cepat dia menghapus air matanya, terlihat meyakinkan dirinya bahwa dia harus tegar dan kuat untuk menerima kenyataan yang datang padanya. 
Kreekk 
Suara pintu kamar Halsy terbuka kembali. Kali ini Asha yang berjalan masuk menghampiri Halsy. 
“Kamu masih bangun sayang?” senyum Asha. 
“.......,” angguk Halsy tersenyum melihat orang yang ia kagumi. 
“Kamu tadi kemana aja? Mamah sampai nyariin kamu ke rumah Tante Hana,” senyum sedih Asha. Dia mulai duduk diatas kasur Halsy, mengelus lembut rambut putrinya itu. 
“Main sama Shina. Tadi Halsy ketemu sama Bibi Shana juga,” senyum Halsy 
“Shana, dia ada di daerah ini!?” Asha sungguh terkejut melihat putrinya. 
“Iya, memangnya kenapa?” 
“Aduh anak itu. Kenapa dia tidak bilang kalau tinggal disekitar sini,” Asha terlihat kesal memejamkan mata. 
“........,” Halsy hanya tersenyum melihat ibunya yang bergerutu kesal. 
“Hei sayang,” senyum sedih Asha melihat putrinya kembali. 
“Ya mah?” 
“Kamu jangan terlalu berusaha keras untuk membuat kami bangga. Sejak awal kami sudah bangga karena memilikimu, kamu adalah salah satu harta kami yang berharga,” Asha menangis kecil mengelus pelan pipi putrinya yang lembut. 
“.......!” Halsy hanya menatap ibunya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya terasa amat sakit, bukan karena kesedihan ...., tapi karena kebahagian amat besar dari perkataan ibunya. 
“Kalau ada masalah, ada yang mengusikmu, ada yang membuatmu terluka. Katakan pada Mamah yah. Meski seluruh dunia memojokkanmu, meski dunia tak menginginkanmu ...., Mamah akan ada dipihakmu, sayang.” Asha memegang kedua pipi Halsy dengan kedua tangannya, mencium kening putri yang ia sayang. 
Perasaan Ibu dan anak mereka terasa amat kuat. Hubungan antara Halsy dan Asha benar-benar erat. 
Meski Asha tidak tau apa yang sebenarnya dialami oleh Halsy, tapi dia tetap merasakan perasaan sakit amat besar dalam dadanya, dia sadar jika putrinya itu sedang mengalami kepahitan yang amat besar. 
Halsy yang mendengar perkataan ibunya hanya menangis, dia semakin tak bisa mengatakan kebenarannya, dia semakin tak ingin membuat orang yang ia sayang dan kagumi itu terlibat dalam masalahnya yang amat besar dan mengerikan. 
Dia benar-benar menyayangi ibunya. 
“Halsy kamu tau bunga Edelweiss?” tanya Asha melihat putrinya. 
“....... Hiks ..!” Halsy menggelengkan kepalanya, dia mengusap air matanya. 
“Bunga abadi yang indah. Kelopaknya seputih salju, bagian tengahnya berwarna kuning keemasan yang menenangkan hati kita.” 
“Bu-bunga abadi?” 
“Ya bunga abadi, bunga itu mirip seperti perasaan kasih sayang dari mamah untukmu. Sampai kapanpun mamah akan menyayangimu,” senyum Asha memejamkan mata. 
“........!” Halsy tersenyum bahagia meski air matanya kembali keluar. 
Setelah itu Asha berjalan pergi meninggalkan putrinya itu untuk beristirahat. Kini Halsy hanya tersenyum melihat langit-langit dan berniat beristirahat. Dia berpikir ini merupakan malam terbaik yang pernah ia dapatkan. Kedua orang tuanya secara langsung menghampiri dirinya dan memperhatikannya. 
Tapi itu salah, malam itu bukanlah malam terbaik baginya. Dia tak menyadari sosok lain yang saat ini menghantui dirinya. Sosok yang menunggu dirinya hingga sendirian di ruang kamar gelap itu. Sosok yang membuat dirinya tidak dapat menemui kedua orang tuanya kembali. 

***
(Written by : Lullaby R)

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

  1. Sampai kapan flashback berakhir :v
    gk sabar nungguny :)

    BalasHapus
  2. gak kuat bacanya semoga halsy tenang di alam sana ��������

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.