22 Januari 2017

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXIV


KILAS BALIK IV : IMPIAN DAN PERMINTAAN
 (Writer : Lullaby R; Editor : Hikari)

Bagian Pertama 
Satu tahun telah berlalu sejak kejadian penculikan gadis bernama Sylvia. Kemampuan Halsy yang mencapai tingkat tertinggi sudah tersebar luas di kalangan kineser tingkat atas, termasuk kakaknya sendiri. 
Halsy mengaku kalau dirinya tipe Moleculakinesis, tapi itu tidak benar. Dia menyembunyikan kemampuan sebenarnya. 
Apa yang terjadi pada dunia jika tipe kinesis miliknya diketahui semua orang? Tentu, semua orang dan para Kineser akan sangat segan padanya, akan sangat ketakutan padanya. 
Sikap Salsa atahu Salbina menjadi berbanding terbalik pada Halsy Aeldra. Satu tahun sudah berlalu dan keduanya sudah berteman sangat baik, mereka sudah bersahabat amat akrab. 
Halsy juga sudah meminjam kemampuan Kinesis Herliana, yakni Astrakinesis. Dia membutuhkan kemampuan itu untuk melawan Elenka nanti. 
Saat ini dirinya terlihat memakan roti coklat kesukaannya di belakang sekolah. Salbina dan Hanafi juga terlihat mendampinginya. 
Mereka saling bercakap-cakap bahagia. 
“Salbina, seharusnya kamu tidak bersamaku. Harga dirimu bisa turun jika kamu bersama monster sepertiku,” senyum Halsy yang meledek sahabatnya. 
“Memangnya itu salah siapa sampai kamu dipanggil seperti itu, dasar ...,” senyum Salbina sambil meminum susu coklat Halsy. 
“Salbina, aku akan memaafkanmu karena kamu adalah sahabatku. Aku bisa mentolerir kelakuanmu yang meminum susu coklatku .... Tapi jika kamu memakan roti coklatku, meski kamu sahabatku pun –“ Halsy terlihat serius, wajahnya terlihat amat lucu. 
“Baik baik, penyuka coklat ....,” senyum Salbina yang enteng. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum melihat keduanya. 
“Dan juga Hanafi, kenapa kamu disini? Apa kamu seorang pedofil yang terus membututi kami?” tanya Salbina keheranan. 
“Aku masih berumur 10 tahun, kenapa kamu memanggilku seperti itu,” keluh Hanafi. 
“Lagipula sudah tugasku untuk selalu disampingmu, aku sudah berjanji pada Tuan El,” lanjutnya melihat Salbina 
“Baiklah, baiklah ....,” keluh Salbina tak senang. 
“.....” Halsy hanya tersenyum melihat keduanya. 
Sikap Salbina menjadi lebih baik dan terus semakin membaik setelah berteman dengan Halsy Aeldra. Begitu pula dengan Halsy Aeldra, kepahitan dan kesendirian hidupnya terasa menjadi lebih ringan ketika dirinya sudah berteman dengan Salbina. 
Keduanya saling melengkapi satu sama lain. 
“Hei kamu tahu Shina Shilvana? Sahabatku yang sering aku bicarakan ...,” tanya Halsy melihat Salbina dan Hanafi. 
“Aku tahu ...,” jawab Hanafi mulai duduk disamping Halsy. 
“Emm tahu,” Salbina meminum kembali susu coklat Halsy. 
“.......” Halsy hanya menatap datar Salbina, dirinya terlihat tak senang. 
“Apa ....!?” 
“......” Halsy masih memasang wajah yang sama. 
“Baiklah, nanti kubelikan yang baru!” Salbina cukup kesal. 
“.......” Halsy mulai tersenyum menutup matanya. 
“Jadi apa?” tanya Salbina penasaran. 
“Kalian tahu pasukan Rebellion?” tanya Halsy. 
“.....” 
“Pasukan anti pemerintah saat ini, pasukan pemberontakan yang paling ditakuti Kineser dan pemerintahan dunia,” lanjutnya menjawab pertanyaanya sendiri. 
“Ya kami tahu,” senyum sedih Hanafi memejamkan mata. 
“.......” Salbina memasang wajah yang sama. 
“Jadi itu benar yah? Jika pemerintahan membuat eksperimen manusia secara diam-diam. Dan pasukan Rebellion berniat menggulingkan pemerintahan untuk menghentikan eksperimen itu,” senyum sedih Halsy. 
“........” Untuk sesaat suasana terasa suram. 
“Banyak kegelapan tersembunyi di dunia ini, seharusnya kamu juga tahu akan hal itu, Halsy,” senyum Hanafi memejamkan mata. 
“Ya ....” 
“Jadi apa hubungannya Shina dengan pasukan –“ 
“Simon Shilvana adalah ketua pasukan pemberontak itu. Dia melakukan hal itu untuk melindungi putri dan generasi baru dari tangan para pemerintah,” senyum Halsy sedih
“Shilvana?!” tanya Hanafi dan Salbina terkejut. 
“Dia ayahnya Shina.” 
“Darimana kamu tahu hal itu?! Informasi mereka sangat sulit untuk didapatkan, bahkan oleh kami!” Salbina terlihat sangat terkejut. 
“Ketua pemeberontakan itu mendatangiku sendiri kemarin ....,” senyum Halsy. 
“Mendatangimu? Kenapa?” tanya Hanafi. 
“Dia bilang, ‘Mungkin aku akan mati dengan cepat demi mencapai tujuanku ini, jadi bisakah aku meminta bantuanmu untuk melindungi Shina dan Shana? Aku tahu kamu kuat, sangat kuat seperti mendiang ayahmu. Sungguh aku tak punya orang lain yang kupercayai, hanya kamulah yang sangat memperhatikan Shina saat ini, yang benar-benar menganggap putriku sebagai sahabat sebenarnya,’ begitu katanya.” 
“Intinya dia meminta bantuanmu untuk melindungi Shina dan ibunya?” tanya Hanafi. 
“Dan kamu menerimanya?” tanya Salbina mulai terlihat kesal. 
“Ya ....” 
“Aduh, gini yah, Halsy, sesekali kamu harus bisa menolak permintaan orang lain,” senyum Salbina kesal melihat sahabatnya. 
“Maka dari itu Salbina ..., aku ingin kamu menggantikanku melindunginya nanti setelah aku meninggalkan dunia ini ...” 
“........” Untuk sesaat Hanafi dan Salbina terdiam ketika mendengar permintaan itu. Mereka sudah mengetahui penderitaan Halsy. Tentang takdirnya yang menjadi wadah penerima kutukan, tentang dirinya yang akan mati sebelum umurnya lebih dari dua puluh tahun. 
“Hanafi, Salbina?” tanya kembali Halsy. 
“Y-ya ampun, kau malah mengabaikanku lagi ...,”keluh Salbina yang sangat sedih. 
“Aku mohon.” 
“Baiklah baiklah ....,” senyum sedih Salbina. 
“Halsy, kamu tidak harus membantu semua orang. Bulan lalu juga kamu memintaku untuk mengawasi sahabatmu Zaxia yang ilmu kinesisnya sudah kamu manipulasi, kenapa?” 
“Zaxia sudah kehilangan keluarga, dia sudah termakan amarah dan berniat menghancurkan pemerintahan yang sudah merenggut ibu dan adiknya. Terlebih lagi kemampuan kinesisnya berkembang amat cepat hingga aku harus memperlambat perkembangannya.“ 
“Aku tak menyangka jika orang-orang yang menculik Sylvia waktu itu adalah suruhan dari pemerintah. Dan juga Zaxia ternyata salah satu korban dari penelitian ilegal itu,” pikir Salbina terlihat paham. 
“Tunggu Halsy, jawabanmu tadi tidak menjawab pertanyaanku. Maksudku kenapa kamu selalu bertanggung jawab akan semua hal disekitarmu? Kamu sudah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghentikan Elenka. Selain itu kamu juga harus memenuhi tanggung jawab akan kebahagiaanmu sendiri,” senyum Hanafi khawatir. 
“Tidak ada manusia yang sempurna, aku juga masuk dalam kategori itu Hanafi.” 
“Tapi setidaknya kamu harus mendapatkan kebahagianmu sendiri, kamu juga membutuhkannya,” sedih Hanafi melihat Halsy. 
“Aku juga setuju dengannya,” sedih Salbina melihat Halsy. 
“Tapi aku sudah mendapatkan kebahagiaan ...., aku dicintai oleh kalian, keluargaku, dan yang lainnya,” senyum Halsy. 
“Kalau begitu impianmu?!” tanya Salbina. 
“Impianku sama seperti gadis yang lainnya ....,” Halsy hanya tersenyum memejamkan mata. 
“Eh apa?” tanya Salbina kebingungan. 
“.......” Hanafi hanya terdiam tekejut melihat Halsy, setelah itu dia mulai tersenyum melihat Halsy. Terpesona melihat wajah indahnya. 
“Semoga kamu dapat menemukannya ...,” senyum Hanafi menutup mata sesat 
“Ya ....,” senyum manis Halsy membalas Hanafi. 
“Eh menemukan? Menemukan apa?!” tanya kesal Salbina yang kebingungan. 
“........” Halsy dan Hanafi hanya tertawa pelan. 
“Oh iya Halsy, soal Alysha ...., apa kamu yakin tentang ini? Memberikan dirinya pada Guru Alfa?” tanya Hanafi khawatir. 
“Aku ingin Alysha menjadi kuat dan kelak dapat melindungi dirinya sendiri. Aku juga khawatir jika Alysha tetap berada di dekat kami dia akan menjadi target mudah oleh pemerintah,” senyum khawatir Halsy. 
“Lalu bagaimana dengan Kakakmu Heliasha?” 
“Tenang, kakakku sudah termasuk Kineser tingkat atas. Dia sangat kuat, selain aku dan Keisha, dia juga generasi baru yang bisa mengejar kemampuanmu, Salbina,” senyum Halsy. 
“Jika kamu sudah tidak keberatan, aku tak akan menanyakannya lagi,” khawatir Hanafi. 
“Tapi Hanafi, Salbina ..., ketika aku nanti tak ada, tetap awasi mereka. Anggap mereka seperti diriku sendiri.” 
“Tak perlu kau bilang juga kami sudah tahu,” senyum Salbina. 
“Jadi apa impianmu itu?! Aku masih tetap penasaran,” senyum kesal Salbina. 
“......” Halsy hanya tersenyum dengan pipi yang memerah. 
“Salbina, kamu masih belum menyadarinya ...?” keluh Hanafi terlihat kecewa. 
“.......” Salbina hanya mengembungkan pipinya. 
“Baiklah akan aku katakan ... Sebenarnya mimpiku sama seperti gadis yang lainnya,” senyum manis Halsy. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum bahagia melihat ekspresi Halsy. 
“Ja-jadi apa mimpimu!?” tanya Salbina dengan antusiasnya yang tinggi. 
“Aku hanya ingin mencapai puncak tertinggi kebahagiaan wanita, menikah. Lalu setelah itu untuk sesaat aku ingin merasakan bagaimana memiliki keluargaku sendiri, memiliki tiga anak dengan orang yang kucintai,” senyum pelan Halsy, wajahnya memerah sangat manis. Dirinya terlihat sangat menawan saat itu. 
“Tapi memiliki keluarga dan memiliki anak ....“ Salbina hanya terdiam sedih menatap Hanafi. 
“Aku tahu, tentu akan mustahil bagiku untuk bekeluarga dan memiliki anak. Umurku hanya –“ senyum sedih Halsy. 
“Menikah masih bisa Halsy! Menikahlah dengan orang yang kamu cintai saat umurmu belasan tahun,” senyum Hanafi. 
“Tapi bukankah itu terlalu aneh –“ 
“Untuk orang lain itu mungkin aneh, tapi bagiku jika untukmu adalah yang terbaik sebelum kamu pergi,” senyum Hanafi. 
“.....” Halsy hanya tersenyum melihat Hanafi. 
“Tapi sebelum itu kamu harus mencari orang yang kamu suka dulu,” Salbina terlihat berpikir. 
“Eeh? Kalian serius mau melakukan ini!?” khawatir Halsy bertanya. 
“Tentu saja, memangnya untuk apa kita membicarakan masalah ini daritadi?” tanya Salbina kebingungan.
“Aku pikir ini hanyalah sebuah pembicaraan untuk menghiburku.” 
“Haaah? Apa maksudmu? Sudah jelas aku serius untuk melakukan ini! Asal itu membuatmu bahagia, aku akan melakukan apapun,” senyum kesal Salbina. Dia menatap Halsy penuh keseriusan, serius ingin memberikan kebahagiaan untuk sahabatnya. 
“Tapi memangnya tak apa bagiku untuk mendapatkan kebahagiaan sebesar itu?” 
“Malah kamu sangat pantas mendapatkan kebahagiaan itu,” senyum kesal Salbina. 
“.......” Halsy kembali tersenyum sambil memakan potongan roti coklat terakhirnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. 
“Halsy apa kamu sudah punya orang yang kamu suka?” tanya Hanafi. 
“.......” Halsy hanya tertunduk dengan wajah memerah, dia menghentikan kunyahannya. 
“Benar juga, jika dia ingin menikah nanti, dia harus punya orang yang dia suka,” Salbina terlihat berpikir. 
“......” Halsy hanya terus terunduk dengan wajah memerah. 
“Jadi Halsy apa kamu sudah ....“ Salbina menghentikan perkataan, terdiam ketika melihat wajah sahabatnya yang sangat manis itu. Pipinya memerah, suhu tubuhnya terlihat naik, dia menundukkan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya dari kedua sahabatnya itu. 
“Ma-manisnya ..!” batin Salbina terkejut. 
“Sudah punya, kah?” senyum Hanafi melihat Halsy. 
“Eh? Eh .....? HEEE??!!!” Salbina sangat terkejut menatap Hanafi. 
“.........” Hanafi hanya terdiam menatap datar Salbina. 
“Kenapa denganmu?” lanjutnya keheranan. 
“Da-darimana kamu tahu hal itu?! Sejak kapan!! Kenapa aku tidak tahu –“ tanya kesal Salbina. 
“Tenanglah, aku juga baru saja mengetahuinya tadi,” sanggah Hanafi. 
“Lalu bagaimana kamu bisa mengetahuinya?!” 
“Dari ekspresinya sudah terlihat jelas, kan?” keluh Hanafi. 
“Siapa? Siapa dia?!” tanya Salbina kembali. 
“Mana kutahu, kenapa kamu tidak tanya saja orangnya.” 
“........” Salbina dan Hanafi mulai menatap Halsy. 
“Ap-apa aku harus mengatakanny –“ 
“Katakan! Siapa orang yang membuatmu seperti ini?!” senyum kesal Salbina memegang kedua pundak sahabatnya. 
“Salbina kau terlihat menakutkan,”senyum Hanafi keheranan. 
“Haah?!” Salbina lekas menolehkan kepala, memberikan tatapan kemarahan pada Hanafi. 
“Tidak, lupakan perkataanku sebelumnya,” khawatir Hanafi mengalihkan pandangan. 
“......” Halsy hanya tersenyum melihat tingkah Hanafi dan Salbina. 
“Nah sekarang, katakan ...., Halsy?! Siapa orangnya?!” senyum kesal Salbina dengan tekanan yang amat dalam. Dia semakin memegang erat pundak Halsy yang ketakutan.
“Ang-Anggela,” gumam pelan Halsy menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat lebih merah dari sebelumnya, tubuhnya bergemetar karena rasa malu yang hebat. 
“Eh ...?” Hanafi dan Salbina terkejut bukan main melihat sahabatnya itu. Keduanya seolah tak mempercayai apa yang baru diucapkan sahabatnya itu. 

***

 Bagian Kedua 
“Ang-Anggela?! Cowo arogan pindahan itu?” tanya Salbina yang masih terlihat tidak mempercayainya. 
“Ap-apa kamu serius menyukainya?” Hanafi tersenyum khawatir. 
“Ya ...,” Halsy hanya tersenyum malu memalingkan wajah. 
“Apa yang membuatmu menyukai lelaki arogan sepertinya?! Dia menolak untuk bersosialisasi dengan kita! Dia terlihat membosankan dan menyebalkan!” 
“Se-sebenarnya sebelum dia pindah ke sekolah kita ini, aku sudah bertemu dengannya. Dia menyelamatkanku saat aku melamun dan hampir terjatuh ke lubang perbaikan wilayah.” 
“Lalu setelah itu dia terlihat mengkhawatirkanmu, tersenyum padamu layaknya seorang pangeran begitu ...?” Salbina bertanya dengan nada meremehkan. 
“Aku pikir dia bukan orang yang seperti itu, Salbina,” pikir Hanafi memejamkan mata. 
“Tapi bagaimana jika dia memang bersikap seperti itu? Pada dasarnya Anggela cukup tampan, tak heran dia bisa membuat gadis lugu seperti Halsy tertarik,” lirik khawatir Salbina pada sahabatnya. 
“Eh aku gadis lugu ....?” tanya datar Halsy yang kecewa. 
“Ya kamu masih polos dalam hal itu,” senyum Salbina. 
“Lihat dirimu sendiri, kamu juga tidak ada bedanya dengannya ....,” senyum Hanafi mengeluh. 
“.......” Salbina hanya melirik sinis Hanafi. 
“Kamu bukan siswa di sekolah ini kan? Kenapa kamu masih tetap disini? Kumohon enyahlah,” kesal Salbina yang berharap Hanafi pergi. 
“Kenapa kamu mengulang pertanyaan itu lagi,” Hanafi hanya tersenyum memejamkan matanya. 
“......” 
“Jadi Halsy, apa yang dia lakukan setelah menyelamatkanmu? Apa dia memang tersenyum terlihat mengkhawatirkanmu dan membuatmu jatuh cin –“ 
“Tidak, dia memarahiku. Amat sangat memarahiku,” senyum manis Halsy. 
“Eh .......?” Salbina mundur selangkah, wajahnya terlihat prihatin melihat sahabatnya. 
“Dan kamu menyukainya setelah dia melakukan itu?” lanjut Salbina masih memasang wajah yang sama. 
“Emmm ...,” angguk Halsy yang manis. 
“Masochist? –“ tanya khawatir Salbina pada sahabatnya itu, tapi sahabatnya itu langsung memotong pertanyaanya dengan teriakan cukup keras. Wajahnya juga terlihat memerah. 
“Ap-apa maksudnya itu?!” 
“Habisnya kamu malah senang setelah dimarahi olehnya,” senyum Salbina yang enteng. 
“Anu yah ..., dia marah karena memperhatikan aku. Itu pertama kalinya seorang lelaki yang seumur denganku marah karena mengkhawatirkanku!” teriak Halsy yang lucu.
“Jadi apa yang dia katakan?” senyum Hanafi melihat Halsy. 
“ Dia bilang, ‘Apa yang kamu pikirkan gadis aneh?! Kamu bisa mati jika melamun di tengah jalan seperti itu!’ begitu,” senyum Halsy yang sombong, dia membusungkan dadanya dan mengangkat kepalanya. 
“Itu lebih mirip hinaan daripada rasa kekhawatiran ....,” batin Salbina dan Hanafi tersenyum kecil di depan sahabatnya. 
“Apa-apaan senyuman kalian berdua itu,” gerutu Halsy yang menggemaskan. 
“Tidak bukan apa-apa, hahaha ....,” Hanafi dan Salbina hanya tertawa melihat ekspresi sahabatnya. 
“Bukan hanya itu, dia terlihat seperti melihatku langsung tanpa memperdulikan rupaku dan keluargaku,” senyum Halsy. 
“Apa dia mengenali keluargamu?” tanya Salbina. 
“Ya dia tahu siapa aku, tapi dia tidak peduli.” 
“Jika memang dia orang yang kamu inginkan, kami tidak keberatan asal kamu bahagia. Benarkan Salbina?” 
“......” Salbina hanya memalingkan wajahnya terlihat tidak senang. 
“Hei bukan berarti dia akan berpisah dengan kita, dia pasti memiliki waktu untuk kita,”senyum Hanafi melihat Salbina yang tidak senang. 
“Ak-aku tak akan memisahkan diri dengan kalian! Kalian kedua sahabatku yang berharga!” 
“Baiklah baiklah aku mengerti. Aku juga akan membantumu,” senyum Salbina melihat sahabatnya. 
“Eh membantu apa?” tanya Halsy. 
“Haah kenapa kamu masih menanyakannya? Tentu saja untuk memulai impianmu itu, kita akan membuatmu dekat dengan orang yang kamu suka.” 
“EEEHHH!!?” 
“Kenapa kamu terkejut seperti itu!? Bukankah ini tujuan kita membicarakan masalah ini daritadi,” gerutu Salbina yang kesal. 
“Tap-tap-tap-tapi!” Halsy terlihat gugup, wajahnya sungguh memerah ketakutan. 
“Astaga kuatkan dirimu! Lelaki keras seperti Anggela takan pernah suka gadis pemalu seperti itu! Kamu harus agresif Halsy, dekati dia! Buktikan kalau kamu tertarik padanya!” kesal Salbina. Dia bertindak keras demi kebahagiaan sahabatnya. 
“Taapi ini terlalu cepat! –“ 
“Kamu yakin pada dirimu sendiri jika kamu bisa mengalahkan Elenka. Masa membuat Anggela menjadi kekasihmu tidak bisa,” senyum Salbina memotivasi sahabatnya. 
“......” Halsy hanya menatap khawatir Salbina. 
“......”Hanafi hanya tersenyum melihat keduanya. Dia terasa seperti memiliki dua adik perempuan. 
Ya meski sebenarnya dia juga sudah memiliki adik perempuan. 
“Halsy ....?!” tanya kembali Salbina untuk meyakinkan sahabatnya. 
“Ba-ba-baiklah-baiklah! Aku akan mulai mendekatinya sekarang!” kesal Halsy memejamkan mata. 
“......” Salbina tersenyum melihat sahabatnya. 
“Sekarang kembali ke masalah pemberontakan –“ Halsy terlihat serius dan dewasa kembali, tapi perkataanya terpotong oleh bel yang berdering cukup kelas. 
TING TONG! 
“Ah sudah masuk, kita lanjutkan nanti sepulang sekolah,” senyum Halsy mulai berdiri. 
“Kamu benar, kita harus mengikuti pelajaran terakhir kita.” 
“Halsy, Salbina ..., Bel tadi bukan bel masuk. Tapi bel pulang sekolah.” 
“Eh?” 
“Bel masuk sudah lama berbunyi beberapa saat yang lalu,” senyum Hanafi. 
“.....” Salbina dan Halsy hanya terdiam terkejut melihat Hanafi, setelah itu mereka saling bertatapan, tersenyum, dan akhirnya tertawa bahagia. 
“Hahahahahaha!!” 
“Kenapa kalian malah tertawa ....?” senyum heran Hanafi melihat keduanya. 
“Entahlah, kami juga tidak tahu,” Salbina seolah menahan tawanya sambil mengusap air mata kebahagiaan. 
“Pantas saja rotiku sudah habis daritadi,” Halsy juga tertawa seolah mengusap air mata kebahagiaan. 
“Itu yang kau pikirkan?” senyum Hanafi melihat Halsy. 
“Hahahaha .....,” Halsy dan Salbina hanya tertawa bahagia, hanya menikmati kebahagiaan dari waktu berharga itu yang akan mereka kenang dikemudian hari. 
“......” Hanafi tersenyum melihat keduanya, dalam hati kecilnya dia berharap kalau kebahagiaan yang dia lihat itu bisa berlangsung selamannya. 
Waktu berjalan sangat cepat ketika mereka bersama, langit yang cerah mulai meredup bagaikan lampu listrik yang kehabisan dayanya. Halsy dan Salbina hanya duduk di belakang sekolah yang sudah sepi itu, hanya tersenyum menatap langit. 
“Salbina .....,” senyum Halsy mulai menutup matanya. 
“Aku pikir lebih baik memang meminjam saja kemampuanmu,” lanjut Halsy. 
“Hah?! Kenapa kau tak ambil saja sepenuhnya!? Itu akan lebih memudahkanmu untuk melawan Elenka nanti,” Salbina cukup kesal menatap sahabatnya. 
“Benar, kamu juga melakukan hal yang sama pada Herliana, hanya meminjam kemampuannya. “ 
“Hei kehidupanmu dan Herliana panjang. Jangan dengan mudah melepas kemampuanmu seperti itu,” senyum manis Halsy terus menutup matanya. 
“........” Hanafi dan Salbina terdiam melihat Halsy, hati mereka sakit kembali ketika mengingat apa yang sudah dan akan terjadi pada sahabatnya itu. 
Halsy yang masih menutup matanya mulai berdiri, merenggangkan kedua tangannya keatas. Tersenyum bahagia melihat kedua sahabatnya. 
“Baiklah ...., saatnya menemui Shina.” 
“......” 
“Untuk apa?” 
“Kalian belum bertemu dengannya kan? Setidaknya kalian harus melihat rupa orang yang nanti kalian jaga di masa depan,” senyum Halsy. 
“......” 
Beberapa menit telah berlalu. 
Kini mereka terlihat berjalan memasuki taman tempat Halsy dan Shina sering bertemu, tempat keduanya sering bermain bersama. 
Tapi tak ada seorangpun yang terlihat disana, termasuk Shina. Entah karena sudah terlalu sore atahu memang Shina tidak datang hari ini. 
“jadi mana sepupumu itu?” tanya Salbina yang berjalan dibelakang Halsy. 
“Apa kalian sering bertemu disini,” tanya Hanafi mengamati sekitar. 
“Bukan, tapi disana ....,” tunjuk Halsy polos pada taman berpasir. 
“Bukankah itu masih area taman ini,” senyum Hanafi mengeluh. 
“Sepertinya hari ini dia tidak datang, Halsy,” senyum sedih Salbina. 
“.......” Halsy terlihat berpikir. 
“Kenapa?” 
“Apa aku pinjam kekuatan Shin –“ senyum manis Halsy. 
“Jangan!! Tidak bisa!!” teriak kesal Salbina amat ketakutan. 
“Aku juga sangat tidak setuju Halsy!!” kesal Hanafi menatap Halsy. 
“Aku tahu, aku hanya bercanda,” senyum sedih Halsy. 
“Meski kamu sedang bercanda, jangan katakan itu lagi! Kamu tidak boleh meminjam kemampuan Kinesis yang tidak kamu perlukan,” kesal Salbina. 
“Iya iya, aku tahu ....,” 
“Kamu harus menyayangi tubuhmu, Halsy ....,” khawatir Hanafi. 
Ada sebuah kondisi yang harus terpenuhi agar Halsy dapat mengambil kemampuan kinesis seseorang. Atahu mungkin bisa dibilang sebuah konsekuensi yang dia dapat setelah mengambil kemampuan kinesis orang lain. 
“Tapi Salbina, aku memiliki kemampuan Vitakinesis. Bagian organ dalamku dan sebelah mataku yang saat ini buta bisa aku sembuhkan dengan –“ 
“Jangan lupa kalau itu bukan kemampuanmu. Kemampuan itu bisa saja hilang tiba-tiba. Selain itu ....,” khawatir Salbina. 
“Kedua kemampuan yang kau dapatkan dari Elena terasa berbeda, kemampuan yang dipenuhi kutukan dan kemalangan,” khawatir Hanafi. 
“Kalian menyadarinya, kah?” senyum sedih Halsy. 
“Tapi tenang saja, aku yang sudah ditakdirkan mati tidak peduli dengan –“ 
“Kumohon jangan mengatakan hal itu lagi!!” teriak kesal Salbina memejamkan mata. 
“.......” 
“Ma-maaf Salbina –“ Halsy merasa bersalah, tapi. 
CRAK!! Duarkghh!! 
“....?!” Halsy dan yang lainnya cukup terkejut karena bunyi benturan itu, mereka berbalik melihat taman berpasir, berniat mengetahui apa yang sudah sebenarnya terjadi. 
Shina terlihat menatap Halsy penuh ketakutan. Dia terjatuh pada taman berpasir, kursi rodanya jatuh dan rusak tak bisa digerakkan. 
Sebelumnya Shina berniat menyapa khawatir sahabatnya itu, tapi karena mendengar pernyataan sahabatnya itu dia hanya terdiam terkejut, terus mundur hingga terjatuh pada taman berpasir yang datarannya lebih rendah. 
Tubuhnya bergemetar ketakutan, tatapan shock karena mengetahui nasib sahabatnya itu. 
“Mati? Kemalangan? Buta ....?” Herliana terlihat ketakutan menatap Halsy, kedua bola matanya berkaca-kaca. Hanya hitungan detik sampai tetesan air mata jatuh menabrak pasir. 
“Jadi dia putri dari pemimpin pemberontakan itu?” tanya Hanafi melihat Halsy. 
“Ya,” sedih Halsy melihat Shina yang ketakutan akan dirinya. 
“Hanafi ...,” serius Salbina menatap Shina. 
“Ya aku tahu ..., dia sudah tahu terlalu banyak,” Hanafi mengangkat tangan kanannya ke arah Shina. Mulai terlihat berkonsentrasi. 
Halsy mulai berjalan menghampiri sahabatnya, Shina. 
“Halsy, tak apa kan?” Hanafi  bertanya pelan pada sang sahabat. 
“Yaa ...,” jawab Halsy datar sambil terus melihat Shina. 
“Ap-apa itu benar? Apa yang mereka ceritakan itu ben –“ Shina sungguh terlihat ketakutan, kedua tangannya bergemetar melihat Halsy. 
CLINKKK!!! 
Cahaya kebiruan bagaikan flash kamera itu mulai menggapai Shina. Ingatannya tentang kejadian sebelumnya dan Halsy Aeldra telah dimusnahkan. Dirinya yang kebingungan mulai mengeluarkan air matanya. 
Meski ingatannya sudah hilang tentang Halsy, tapi rasa sakit hati sebelumnya masih terasa. Dia hanya menangis sambil bertanya pada Halsy yang menjulurkan tangan kanannya. 
“Kenapa aku disini ...?” 
“Kamu tadi terjatuh, sini biar aku membantumu,” senyum manis Halsy memejamkan mata. 
“Ak-aku tidak bisa berdiri, kedua kakiku mati rasa dan tak bisa kugerakkan. Aku sudah seperti ini sejak lahir –“ 
“Tidak, kamu sudah bisa berjalan, bisa berlari hingga kamu tersandung dan terjatuh seperti ini.” 
“Tapi –“ 
“Pegang saja tanganku,” senyum Halsy. 
Saat kedua tangan mereka bersentuhan, muncul cahaya hijau dari kedua tangan mereka. Cahaya itu menjalar pelan pada kedua kaki Shina. Perlahan tapi pasti, Shina bisa berdiri dengan kaki yang masih bergemetar. 
Dia juga dibuat terkejut oleh tubuhnya sendiri, tangannya bergemetar menutup mulutnya seakan masih tak mempercayainya. 
Dia menangis bahagia. 
“Ak-aku bisa berdiri?!” 
“Tentu saja, kenapa kamu berbicara aneh seperti itu,” senyum manis Halsy memejamkan matanya. 
“........” Shina hanya menatap penasaran Halsy. 
“Lain kali hati-hati yah,” lanjut Halsy berjalan meninggalkan sepupunya itu. 
“Si-siapa namamu?!” tanya Shina cukup kagum melihat Halsy. 
“......” Tak ada jawaban dari Halsy yang terus berjalan. 
“Hei siapa namamu?!” teriak Shina kembali bertanya. 
“Selamat tinggal, Shina,” senyum manis Halsy tanpa berbalik, dia mengungkapkan perpisahan untuk sepupunya. 
Dia melakukan hal itu agar Shina tidak terlibat dengan masalahnya yang besar. 
“Setidaknya kamu beritahu namamu padanya,” khawatir Salbina melihat Halsy yang sudah dekat dengannya. 
“Mustahil aku melakukkanya. Aku tidak bisa melakukan itu,” senyum Halsy. 
“....” 
“Nah Salbina, itulah gadis yang akan kamu lindungi.” 
“Aku ingin kamu mengawasinya. Di masa yang akan datang dia mungkin diburu pemerintah karena mewarisi darah dari pemimpin pemberontakan,” lanjutnya. 
“Baiklah aku mengerti,” senyum Salbina memejamkan mata. 

***

Bagian Ketiga
Hari terus berganti bersamaan dengan persiapan Halsy untuk menghentikan Elenka. Dia terus melakukan latihan memainkan pedang dan memanah secara rutin. Terus mempelajari agar bisa mengontrol kemampuan Herliana dan Salbina agar menjadi baik dan lebih baik. 
Dia sudah meminjam kemampuan Salbina. 
Dengan bantuan saran dari Hanafi dan Salbina, Halsy bisa lebih cepat untuk memahami kemampuannya. Sesekali mereka juga bercanda gurau saat istirahat latihan, saling mengusili satu sama lain hingga membuat persahabatan mereka semakin erat. 
Itulah yang mereka lakukan sepulang sekolah hingga larut malam. Kakaknya Heliasha juga sering memarahi Halsy yang sering pulang larut, tapi karena alasan ingin latihan menahan kemampuannya ..., Heliasha pun hanya tersenyum mengijinkan adiknya itu. 
Saat di sekolah, Salbina tidak henti-hentinya mendorong Halsy untuk mendekati Anggela. Di kantin, di kelas, bahkan saat pelajaran olahraga pun Salbina berusaha keras mendekatkan Halsy dengan Anggela. 
Semua murid di sekolah sudah dipastikan tahu akan perasaan Halsy pada Anggela, termasuk Anggela sendiri. Lama kelamaan Anggela merasa jengkel, dirinya merasa risih karena amat sering diikuti gadis berambut panjang itu. 
Dia pun berniat melakukan sesuatu agar gadis itu tak mengikutinya lagi. Sesuatu yang menjadi penyesalan besar baginya di masa depan. 
Ketika istirahat terakhir, Halsy dipanggil oleh Anggela ke belakang sekolah. Semua orang dikelasnya dibuat terkejut mendengar Anggela mengeluarkan suaranya pada teman sekelasnya. Lebih dari itu, mereka terkejut melihat Anggela yang meminta Halsy untuk ikut dengannya. 
“........!” Salbina hanya tersenyum lebar melihat hal itu, perasaan bahagia bukan main itu benar-benar ia perlihatkan pada Halsy yang memerah sedang mengikuti Anggela. 
“Halsy, selamat yah!” teriak bahagia Salbina. 
“Se-se-selamat ap-apanya?!”  Halsy sungguh gugup dengan wajah masih memerah. 
Kini dirinya sedang berduaan bersama Anggela di belakang sekolah, tubuh Halsy sungguh kaku seperti patung. 
Dia benar-benar gugup kebingungan, terus memasang senyuman aneh yang lucu sambil menundukkan kepalanya. 
“Halsy, kah?” senyum Anggela berbalik. 
“Y-YA!!” teriak Halsy amat gugup, wajahnya memerah ketakutan. 
“AAaaaaahhh!! Ak-aku mengacaukannya!” batinnya menyesal ketakutan. 
“Buh ...” Anggela menutup mulutnya. 
“B-buh? –“ 
“Bahahahaha,” Anggela tertawa melihat sikap Halsy yang menggemaskan. 
“......” Halsy memerah menundukkan kepala, wajahnya benar-benar memerah seperti tomat masak. 
Tidak mengherankan, ini pertama kalinya baginya. Jantungnya berdetak sangat cepat, dadanya sesak, gejala itu benar-benar pertama kali baginya. 
“Halsy, apa kamu sedang jatuh cinta pada seseorang di dalam kelas kita?” senyum Anggela bertanya. 
“......?!!!” Halsy hanya terkejut mendengar pertanyaan Anggela. Tangannya bergemetar hebat, kepalanya kosong dan tak bisa berpikir apapun. 
“An-anu it-itu .... Ahh –“ Halsy sungguh gugup memainkan jemarinya. 
“Atahu jangan-jangan kamu menyukaiku ....?” tanya Anggela kembali memejamkan mata. Dia benar-benar terlihat tenang tidak seperti Halsy. 
“......!!” Halsy kembali dikejutkan oleh pertanyaanya, kini kakinya terasa lemas karena rasa gugupnya, dirinya semakin tak tahu apa yang harus ia lakukan. 
“Ti-tidak ...!” teriak Halsy sangat gugup, dia benar-benar malu jika mengatakan jawaban iya pada orang yang disukainya itu. 
“Hmmm begitu,” datar Anggela mulai berjalan, dia terlihat berpura-pura kecewa berjalan melewati Halsy. 
Halsy mulai ketakutan, dia berpikir jika dirinya telah menyakiti Anggela dengan jawabannya. Maka dari itu, saat Anggela berjalan melewatinya, dia mulai memegang baju Anggela. Bergumam pelan dengan wajah yang benar-benar memerah. 
“Su-suka ....” 
“Hmmmmm? Aku tidak mendengarnya dengan jelas,” Anggela tersenyum seakan puas. 
“Ak-aku suka!” teriaknya. 
“Ak-aku mengatakannya!!” batin Halsy ketakutan. 
“.......” Untuk sesaat suasana terasa hening karena teriakan Halsy. 
“Begitu ...., jadi jika kamu suka padaku ..., apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Anggela berbalik dan menatap Halsy yang masih menundukkan kepalanya. 
“Eh, an-anu ....?” Halsy memalingkan wajahnya yang memerah, dia kebingungan. 
“Besok hari minggu, kan? Mau bermain denganku?” tanya Anggela tersenyum. 
“Eh y-ya, ma-mau!” 
“Begitu, tapi aku tak menyukai gadis  berambut panjang. Aku menyukai rambut pendek seperti Anggelina,” senyum Anggela menyentuh lehernya sendiri. 
“Anggelina?” tanya khawatir Halsy. 
“Adik kembarku.” 
“Ahhh ...,” Halsy menganggukkan kepala seakan paham. 
“Aku harap kamu memotong rambutmu itu yang panj –“ 
“Ra-rambutku hanya harus pendek segini, kan?” tanya Halsy penuh harapan. Dia menyentuh lehernya sendiri. 
“Ya jangan seperti itu juga, kamu lebih kreatif dong. Jangan meniru gaya rambut adikku,” senyum Anggela cukup kesal. 
“Ah-Ahh baiklah,” Halsy tersenyum menganggukan kepalanya. 
“Tunggulah dekat landasan F-car dekat sekolah kita, tunggu disana jam delapan pagi. Aku akan sangat kecewa jika kamu tidak datang,” khawatir Anggela memejamkan mata. 
“Ak-aku pasti datang!” 
“Begitu? Syukurlah,” senyum Anggela membuka matanya. 
Setelah itu Halsy hanya terus diam seakan masih belum mepercayai perbincangannya dengan Anggela tadi, dirinya sungguh bahagia. 
Hal itu berbeda dengan Anggela. Saat Anggela berbalik dari Halsy, wajahnya yang tersenyum seketika berubah menjadi wajah datar. Seolah-olah pembicaraannya tadi dengan Halsy, tidak berharga. 
“Semuanya sama, mereka mendekatiku hanya karena kemampuanku, mereka hanya ketakutan padaku,” datar Anggela dalam hatinya. 
Bel pulang sekolah berbunyi keras, di saat semuanya sudah meninggalkan sekolah, terlihat Salbina yang menghampiri cepat sahabatnya. 
Wajahnya sungguh terlihat bahagia. 
“Ba-bagaimana! Apa yang dia katakan?!” teriak Salbina bertanya. 
“Di-dia mengetahui perasaanku, jadi aku ungkapkan perasaanku padanya haha ...,” Halsy tertawa pelan yang lucu. 
“Kerja bagus! Lalu bagaimana?!” 
“Di-dia mengajakku main besok,” senyum Halsy, wajahnya kembali memerah. 
“Be-benarkah?! Lalu lalu?!” Salbina terlihat sangat antusias. 
“Jadi latihan kita hari ini libur yah? Aku mohon, aku perlu beberapa persiap –“ 
“Aku bantu kamu!!” teriak Salbina menarik sahabatnya keluar kelas, dia berlari menuju gerbang sekolah. 
Hanafi terlihat bersandar pada dinding gerbang sekolah seperti biasanya, dia menunggu Salbina pulang seperti biasanya. 
“Kenapa lama sekal –“ Hanafi kebingungan tapi dirinya langsung terdiam ketika Salbina melemparkan tas miliknya dan Halsy pada Hanafi. Tepat di wajahnya. 
“Bawa pulang tas itu! Aku mau membantu Halsy persiapan!” teriak Salbina melambaikan tangan kanannya. 
“Eehhh .....?” Hanafi mengeluh melihat Salbina dan Halsy yang berlari melewati dirinya. 
“Lagipula persiapan? Persiapan apa –“ senyum Hanafi pasrah tapi tiba-tiba datang panggilan dari Handphonenya. 
“Apa lagi Salbin –“ Hanafi mulai mengangkat handphonenya. 
“Latihan libur hari ini, jadi kamu langsung pulang saj – ah jangan deh, nanti kamu datang kesini saja. Kita bantu sahabat kita, jangan lupa bawa uang!” senyum Salbina 
“Hei, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjad –“ 
“Daah!” 
Trumpptt! 
Salbina menutup teleponnya. Untuk sesaat Hanafi hanya terdiam menatap handphonenya itu. 
“Astaga, mungkin aku harus mengajarkan sopan santun padanya,” Hanafi terlihat cukup kesal.

Salbina dan Halsy terlihat bercakap-cakap di taman. Salbina mulai mengajukan beberapa pertanyaan padanya yang berwajah khawatir. 
“Jadi kamu harus persiapan apa? Katakan padaku, biar aku membantumu!” 
“An-anu, Anggela tidak suka rambut panjang. Jadi aku berniat memotong rambutku ini,” senyum khawatir Halsy. 
“Eeehh, padahal rambutmu lebih cocok panjang,” keluh Salbina. 
“Tapi .....” 
“Ya sudah, jadi kita ke salon buat memotong rambutmu,” senyum Salbina. 
“Tapi dia juga tidak suka jika rambutku hanya pendek saja, dia pikir aku meniru gaya rambut Anggelina.” 
“Anggelina? Siapa dia?” Salbina berwajah tak senang. 
“Adik kembarnya.” 
“Apa dia Siscon?”
“Heei!” Halsy terlihat kesal memejamkan matanya. 
“Maaf maaf, aku hanya bercanda. Tapi gaya rambut yang berbeda yah ...,” 
“......” Keduanya terlihat berpikir. 
“Bagaimana jika Twintail? Itu cukup bagus denganmu.” 
“Diikat cukup tinggi atahu rendah?” senyum Halsy memegang rambutnya yang panjang. 
“Tengah-tengah aja,” Salbina terlihat mengamati rambut Halsy. 
“Begitu, ya sudah yang tengah-tengah aja.” 
“Atahu Apple Hair bagaimana?” 
“Ehh aku gak mau keningku keliatan ....,” gerutu Halsy. 
“Ah iya keningmu hampir seperti lapangan sepak bol –“ 
“Aku tidak selebar itu! Hanya sedikit!” teriak kesal Halsy. 
“Baik-baik ..... Ya sudah, kita berangkat sekarang,” senyum Salbina. 
“Tapi aku tidak membawa Golden Card-ku ....,” khawatir Halsy. 
“Ah aku lupa kalau kamu dari keluarga Anatasha. Pasti kamu amat sangat kaya hingga memiliki kartu itu ....,” Salbina cukup segan. 
“Itu hanya milik keluargaku, itu peninggalan kedua orang tuaku.” 
“Ya iya, aku tahu,” senyum Salbina melihat sahabatnya. 
Halsy mulai berdiri dan tersenyum melihat sahabatnya. 
“Tunggu disini yah, aku mau –“ Halsy berdiri berniat pulang dan mengambil kartu emasnya. 
“Tak perlu, aku sudah menyuruh Hanafi kesini sambil membawa uang,” 
“Eeh kamu menyuruh dia lagi?” 
“Emm ..., dia sudah seperti Kakakku,” senyum manis Salbina menganggukan kepala. 
“Bagiku dia terlihat seperti pengurusmu,” khawatir Halsy. 
“.....” Salbina hanya tersenyum membalas kekhawatiran sahabatnya.
Tak lama setelah perbincangan mereka, terlihat Hanafi yang menghampiri mereka. Wajahnya terlihat cukup kesal menatap Salbina. 
“Ah Kak Hanafi!” teriak Salbina manis. 
“Ka-Kak?!” Hanafi terkejut ketakutan, dia melirik Salbina yang aneh. 
“.......” 
“Ada apa dengannya?” tanya khawatir Hanafi, niatnya untuk memarahi Salbina ia urungkan. 
“En-entahlah,” senyum Halsy memiringkan kepalanya. 
“Jadi apa yang kita lakukan disin –“ tanya Hanafi kebingungan, tapi kembali lagi. 
“Yeah! Sekarang waktunya membuat lelaki arogan itu terkagum!” teriak Salbina mengangkat kedua tangannya ke atas. 
“Yeaa~ “ jawab Halsy dan Hanafi mengankat pelan tangan kanannya, mereka terlihat kebingungan akan tindakan gadis berambut ungu itu. 
“Apa yang kamu lakukan?” datar Hanafi bertanya. 
“Hee ...., aku sedang membuat semangat untuk sahabat kita!” gerutu Salbina. 
“Membantu apa? Aku belum mendengar apapun. Aku belum tahu alasanmu berlari dan merepotkanku seperti ini,” kesal Hanafi. 
“Maaf,” senyum manis Salbina. 
“Maaf katamu ....,” keluh Hanafi. 
“Ya sudah ..., jadi bisa kalian ceritakan kejadiaanya,” lanjut Hanafi tersenyum melihat Halsy dan Salbina. 
“Jadi begini ...,” senyum Salbina mulai menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi disekolahnya. 

***

Bagian Keempat 
Matahari sudah mulai meninggi, tapi suhu udara lebih rendah dari hari biasanya. Ya, ramalan cuaca mengatakan jika hari ini akan hujan. 
Kini di sebuah cafe dekat dengan ibu kota daerah Dealendra, terlihat Salbina dan Hanafi yang sedang meminum minuman hangat, mungkin lebih tepatnya susu coklat dan putih. 
Para pengunjung menaruh perhatian pada mereka, masing-masing dalam hati mereka mungkin mengajukan pertanyaan yang sama. 
“Kemana orang tua mereka?” 
Salbina mulai membuka percakapan setelah meminum susu coklat milik Hanafi. 
“Bagaimana menurutmu, apa sekarang Halsy sudah bersenang-senang bersama lelaki arogan itu?” 
“......” Hanafi hanya menatap datar Salbina. 
“Kenapa?” 
“Salbina, sebaiknya kau hentikan kebiasaanmu meminum susu coklat orang lain,” Hanafi mengeluh memberi nasehat. 
“Tapi aku lebih suka susu coklat daripada ini,” keluh Salbina melihat susu putihnya. 
“Lalu kenapa kau memesan itu ....?” 
“.....” Salbina memalingkan wajah.
“......” Hanafi menatap datar Salbina, menunggu jawaban dari gadis yang rambutnya diikat twintails. 
“Ya sudahlah, tapi kamu jangan seperti itu pada orang lain. Bisa-bisa mereka membencimu.” 
“Baaaiiiik!” Salbina dengan ejaan yang panjang dari huruf vokalnya. 
“Jadi kenapa kamu mengubah gaya rambut –“ 
“Hei aku yang bertanya duluan! Kenapa kamu masih belum menjawab pertanyaanku!?” 
“Baik baik!” kesal Hanafi memejamkan matanya. 
Hanafi mulai menompang dagunya dengan tangan kanannya, melirik pemandangan luar melewati kaca yang transparan dari dalam. 
“Mungkin saat ini dia sedang bersenang-senang,” senyum Hanafi bahagia. 
“Kau tahu, aku sungguh senang jika dia juga senang. Aku benar-benar mengagumi dirinya. Ketika dia menceritakan semua apa yang sudah dilakukannya, mencari informasi tentang musuhnya, dan berlatih rutin memenuhi tanggung jawab yang ia buat sendiri tanpa putus ditengah jalan .... Aku menyukai sifat kerja keras dan pantang menyerahnya itu.” 
“Aku tahu itu,” senyum Hanafi melihat Salbina. 
“Jika saja buku pembangkitan itu masih belum dihancurkan di zaman ini, kita bisa memanggil Elenka yang kekuatannya belum mencapai puncaknya, kita bisa menghentikannya saat ini juga.” 
“Tapi bukankah Halsy sudah memilih alternatifnya sendiri? Dia akan menggunakan kemampuan Astrakinesis milik Herliana untuk keluar dari jasadnya dan langsung berhadapan Elenka di masa saat Elenka masih hidup.” 
“Dia menggunakan kemampuan Hybird kinetic-ku untuk kembali ke masa lalu dengan arwahnya, kah?” senyum Salbina memejamkan mata. 
“Ah iya, Salbina sudah berapa orang yang mengetahui kemampuan Ourano-Chrocokinesis-mu?” 
“Sampai saat ini hanya orang-orang terdekatku, termasuk kalian. Seharusnya kamu juga tahu akan hal itu,” gerutu Salbina. 
“Aku hanya ingin memastikan ..., aku takut kamu memberitahu orang lain tentang kemampuanmu itu.” 
“Aku tahu sendiri bagaimana mengerikannya kemampuanku ini, kemampuan yang bisa merubah dunia dan ditakuti oleh siapapun.” 
Ces ces ces .... Wuuuusssshhh!!! 
Hujan mulai turun membanjiri daerah Delendra. Hujan yang cukup besar itu benar-benar datang sesuai dengan ramalan cuaca. 
“Ah hujan datang, “ lirik Salbina melihat keluar. 
“Ya hujan dat –“ 
“AAHH!!” teriak Salbina ketakutan, teriakannya itu sontak membuat pengunjung cafe lainnya terkejut melihat dirinya. 
“Ada apa?” khawatir Hanafi melihat sekitarnya. 
“Apa Halsy bawa payung!?” 
“Ku-kupikir tidak,” Hanafi mulai memasang wajah khawatir. 
“Ba-bagaimana ini?! Dia kan sudah memakai baju baru yang manis, bagaimana kalau –“ 
“Tenanglah Salbina, dia kan bersama Anggela. Meski dia arogan atahu memiliki sifat yang buruk, dia pasti tidak tega melihat Halsy kehujanan. Dia juga pasti membeli payung di market terdekat.” 
“Tapi –“ 
“Mereka pasti baik-baik saja.” 
“Selain itu, kenapa Halsy harus memakai pakaian manis segala? Dia memang sudah manis sejak awal, dan lebih dari itu mereka berdua masih anak-anak. Paling mereka hanya main ke game center,” senyum Hanafi. 
“Tapi dalam film-film orang yang berkencan itu nonton bioskop, makan bersama, dan –“ 
“Salbina mereka masih berumur delapan tahun ...., umur mereka sungguh berbeda dengan orang yang kamu liat dalam film-film,” keluh Hanafi. 
“Tapi aku ingin memperlihatkan pada lelaki itu kalau Halsy amat pantas berada disampingnya,” gerutu Salbina. 
“Jika Anggela mengajaknya bermain itu sudah dipastikan kalau dia itu tertarik. Kenapa kamu harus –“ 
“Ang-Anggela!!” Salbina terkejut menempelkan pipinya pada kaca transparan cafe itu, wajahnya terlihat bahagia melihat Anggela yang berada disebrang jalan. 
“He-hei Salbina,” Hanafi wajahnya memerah karena mendapatkan tatapan dari seluruh pengunjung cafe. 
Para pengunjung hanya tertawa pelan melihat tingkah Salbina yang menggemaskan. 
“Jika Anggela ada disana, pasti Halsy juga ada disan – .....,“ Salbina terdiam. Wajah kegembiraanya seketika berubah menjadi wajah terkejut ketakutan. 
“Siapa gadis itu?!” lanjutnya bertanya cukup ketakutan. 
“......” 
“Dia jalan bersama gadis lain! Dia mendua!” khawatirnya sambil memegang kerah Hanafi, lalu menggoyang-goyangkannya. 
“Sal – Salbina, tenanglah!” Hanafi cukup kesal melepaskan tangan Salbina dari kerahnya. 
“Tap-tapi!” Salbina terlihat kesal ketakutan. 
“Lagipula mendua? Mereka belum memulai hubungannya, jadi Anggela tidak bisa dikatakan mendua saat ini,” senyum Hanafi keheranan, dia melihat Anggela yang berada di luar cafe. 
“Apa kamu memihak orang itu?!” kesal Salbina menunjuk Anggela. 
“Tidak, tapi aku pikir disini Anggela yang salah. Bukankah dia sudah berjanji dengan Halsy? Lalu kenapa dia malah disana bersama gadis ....“ Hanafi terdiam, tak menyelesaikan perkataan. Wajahnya berubah terlihat khawatir ketakutan menatap gadis yang bersama Anggela. 
“Gehh ..., Ke-keisha,” entah kenapa keringat dingin langsung keluar dari tubuhnya, dia sungguh ketakutan. 
“Kamu mengenal gadis itu?!” 
“Di-dia kakaknya Anggela, apa kamu belum mendengar namanya? Keisha Putri. Selain Heliasha dan Zaxia, dia juga baru saja mencapai tingkat atas,” Hanafi memejamkan mata, memegang kepala dengan kedua tangannya yang bergemetar. 
“Baru saja? Berarti dia lebih lemah darimu? Kenapa kamu ketakuta –“ 
“Bukan kemampuannya yang kutakutkan,” Hanafi menempelkan pipinya di atas meja. Dia terlihat sangat khawatir. 
“Ah jadi gadis itu yang dibicarakan Ayah,” senyum Salbina terlihat paham. 
“......” 
“Ayo kesana –“ 
“Aku mohon Salbina, hanya untuk kali ini. Kau saja yang pergi kesana,” khawatir Hanafi mengalihkan pandangannya. 
“Kenapa? Apa kau tidak mau menyapa teman masa kecilmu itu?” senyum Salbina menggoda Hanafi. 
“Lebih baik bertemu dengan Elenka daripada dirinya,” keluh Hanafi memejamkan mata. 
“Baik-baik, aku tak akan mengganggu masalahmu dengan gadis itu,” keluh Salbina mulai berdiri, dia berniat menghampiri Anggela dan menanyakan keberadaan sahabatnya. 
Salbina berjalan menghampiri Keisha dan Anggela, payung sederhana baru saja ia beli untuk melewati air yang menghujani daerahnya. 
“Anggela ...!” teriak manis Salbina. 
Dia kembali berperan menjadi Salsa yang peduli dan baik hati. 
“Ah Salsa, tumben bisa bertemu denganmu disini,” jawab Anggela. 
“Teman Anggela?” senyum Keisha melihat Salbina. 
“Ya saya teman sekelasnya, nama saya Salsa,” senyum manis Salbina. 
“Begitu, nama saya Keisha. Kakak perempuannya Anggela,” senyum Keisha ramah. 
“Kenapa Hanafi harus ketakutan padanya? Dia amat baik dan ramah,” batin Salbina yang kebingungan. 
“Kalau begitu Kakak duluan yah mau ketemu Heliasha. Kamu ada keperluan sama dia kan?” senyum Keisha melihat adiknya. 
“Iya Kak,” senyum Anggela melihat kakaknya. 
“.......” 
Keisha berjalan memasuki bangunan disampingnya, payung yang sebelumnya ia bawa dia berikan pada adiknya.
“Jadi ada apa?” tanya Anggela penasaran. 
“Aku dengar katanya kamu mengajak Halsy pergi keluar hari ini, apa itu benar?” senyum Salbina bertanya. 
“Ahhh aku memang mengajaknya, tapi aku tidak datang ke pertemuan itu. Aku hanya ingin memberi dia pelajaran,” senyum Anggela. 
“.......?!” Salbina yang mendengar hal itu sontak terkejut, kedua tangannya bergemetar menahan amarah. 
“Pe-pelajaran!?” 
“Dia sungguh menjengkelkan, kan? Orang-orang dikelas kita juga tidak menyukainya, termasuk kamu sendiri bukan?” 
“Me-menjengkelkan bagaimana?” tanya khawatir Salbina, hatinya sungguh sakit. Bagai terkoyak-koyak. 
“Dia selalu mengikutiku seperti seorang penguntit.” 
“.......!!” Salbina hanya terdiam terkejut, kedua tangannya bergemetar.  
“Ja-jadi ka-kamu tidak datang ke pertemuan itu?!” 
“Aku memang menyuruhnya menunggu di tempat pertemuan itu, tapi aku tidak bilang jika aku akan datang. Apa ada yang salah dengan hal itu?” senyum Anggela enteng. 
“Eh?” 
“Ke-kenapa Halsy bisa menyukai lelaki bajingan sepertinya ....!?” Salbina hanya menatap terkejut Anggela. 
“Lagipula sudah empat jam berlalu, mungkin dia sudah pulang dan kecewa. Atahu mungkin menangis, haha ....,” Anggela tertawa arogan. 
“Entahlah, mana kutahu,” geram Salbina dengan tekanan yang dalam. Dia menundukkan kepalanya seolah berusaha keras menahan amarah. 
“Eh ....?” untuk sesaat Anggela terkejut mendengar Salbina dengan nada yang cukup dalam. 
“Sal-Salsa?” khawatir Anggela. 
“Tidak bukan apa-apa,” senyum manis Salbina mengangkat kepalanya kembali. 
“Jadi apa yang kamu mau dariku? Jangan bilang jika kamu hanya menayakan pertanyaan tak penting itu?” keluh Anggela. 
“Tidak, aku hanya kebetulan bertemu dan berniat menyapamu,” Salbina berjalan melewati Anggela. 
“Kamu aneh Salsa ....,” senyum Anggela keheranan. 
Disaat Anggela yang berwajah gembira itu, Salsa malah melontarkan pernyataan mengerikan dengan nada manisnya. Pernyataan yang membuat hati Anggela cukup sakit. 
“Tapi Anggela, kini aku yakin ....., kamu memang lelaki bajingan,” Salbina tak berbalik melihatnya, dia seolah sudah merasa jijik bertatap muka dengan Anggela. 
“Eh ....?” Angela terkejut, berbalik menatap punggung Salbina. 
Salbina lekas berlari sambil menundukkan kepalanya. Melemparkan payungnya hingga membuat dirinya terguyur hujan. 
Dia terus berlari amat kencang ke tempat sahabatnya berada. 
Jika dia masih memiliki kemampuan kinesisnya, sudah jelas dia akan berpindah dimensi menuju sahabatnya itu. Tapi dirinya saat ini hanyalah kineser tingkat satu. 
Yang bisa dia lakukan terus berlari dengan tangan bergemetar menghampiri tempat sahabatnya berada. 
Untuk sesaat juga dia mengeluarkan handphonenya, menelepon Hanafi dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. 
Hanafi yang masih berada di cafe hanya memasang wajah terkejut, mengepalkan kedua tangan kirinya sangat erat hingga bergemetar ketakutan. 
Dia menunjukkan kemarahan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. 
“Salbina kamu jemput Halsy. Aku akan menemui orang itu ....!” geram kesal Hanafi dalam telepon. 
“Em ....!” Salbina mengangguk sambil menghapus air matanya. 
Hatinya sungguh amat sakit mengetahui perasaan sahabatnya yang hanya dipermainkan. 
Sesampainya disana Salbina hanya melihat Halsy yang sedang berdiri di sisi bangunan sendirian. Sisi bangunan itu memiliki sebuah tempat berteduh kecil sehingga Halsy tidak kebasahan. Hanya sepatu manisnya saja yang kotor karena benturan hujan dengan tanah.  
Wajahnya terlihat sedih menundukkan kepala. Sesekali dia juga melihat jam manisnya, lalu memukul kedua pipinya dengan kedua tangannya ..., seolah sedang menghibur dirinya sendiri. 
Gadis berambut twintails itu hanya terus diam menunggu seseorang yang ia cintai, terus berharap kalau orang yang ia kagumi itu akan datang. 
Salbina mulai berjalan pelan menghampiri sahabatnya. Tangannya bergemetar, dia menangis melihat sahabatnya itu. 
Halsy yang melihat Salbina berjalan menghampirinya sontak terkejut, dia berlari cepat menghampiri Salbina yang masih terguyur hujan. 
Wajahnya terlihat cemas melihat Salbina. 
“Sa-Salbina?! Kenapa?! Apa yang sudah terjadi?!” tanya Halsy yang sangat khawatir terhadap sahabatnya. Kini dirinya juga basah karena guyuran hujan. 
“Ke-kenapa kamu masih disini ....? Hiks ... –“ Salbina menangis memegang erat pundak sahabatnya.
“......” Halsy terlihat paham akan maksud Salbina, dia mulai tersenyum memejamkan matanya. 
“Jadi begitu yah ...,” 
Air hujan melewati wajahnya yang manis, memberikan kamuflase pada wajah Halsy yang menangis kecil. 
Tapi sayangnya Salbina menyadari hal itu, menyadari sahabatnya yang menangis. 
Disaat dirinya sudah mengagumi Halsy, disaat dia ingin sekali melihat sahabatnya tersenyum bahagia. Dia malah melihat tangisan kesedihan dari Halsy. 
Hati Salbina sungguh sakit memeluk sahabatnya yang menangis menutup mata. Tubuh Salbina sungguh bergemetar melihat sahabatnya yang kembali mendapatkan penderitaan. 
Itu pertama kalinya Halsy mendapatkan patah hati dari orang yang ia sayangi. 
Sedangkan di tempat lainnya, di taman yang masih terguyur oleh hujan. Terlihat Anggela yang tertunduk di hadapan Hanafi. Wajah Anggela terlihat terkejut ketakutan dihadapannya. 
“Ku-kuat!! Dia amat sangat kuat!!” 
“Asal kamu tahu, Halsy seratus– tidak ...,  berjuta kali lebih kuat dariku. Dia tidak pernah takut pada kekuatanmu itu, Bajingan.” geram Hanafi memejamkan mata. 
“.....”
“La-lalu untuk apa dia mendekatiku –“ Anggela bertanya penasaran. 
“Seharusnya kamu sadar .... Karena dia benar-benar menyukaimu, Anggela,” senyum Hanafi membuka matanya. 
“Eh ....?!” Anggela terkejut dengan perasaan berdebar dalam dadanya mulai muncul. 

***

Bagian Kelima 
Sejak saat itu Halsy mulai menahan diri untuk mendekati Anggela. Dia sadar jika Anggela tidak pernah melihat dirinya. 
Setelah Halsy sepenuhnya memahami kemampuan Salbina dan Herliana. Dia mulai rutin berlatih sendiri, mulai mengasah kemampuan bertarungnya, dan menciptakan skill-skill yang dia perlukan nanti. 
Salbina mulai meninggalkan sekolahnya dengan alasan pindah. Tapi sebenarnya dia hanya ingin lebih fokus mencari informasi sebanyak mungkin tentang Elenka, Elena, dan pemberontakan. 
Salbina dan Hanafi mulai bergerak dibalik layar membantu Halsy untuk mencapai tujuannya. Tapi sesekali mereka juga mengunjungi Halsy yang amat mereka sayang itu, saling bercakap-cakap dan bercanda gurau bersama. 
Timbal balik atahu mungkin karma mulai didapatkan Anggela. Kecantikan Halsy berambut twintail pendek membuatnya tertarik, mengingatkan dia pada cinta pertamanya. 
Selain itu, karena perubahan rambut Halsy juga membuat dirinya merasakan perasaan bersalah karena pernah menyakiti gadis yang benar-benar menyukainya itu. 
Dia mulai jatuh cinta pada Halsy Aeldra. 
Bersamaan dengan perginya Salbina dan tertariknya Anggela pada Halsy, datanglah Herliana Aeldra ke sekolah mereka. Dia dipindahkan dengan alasan yang tak diketahui semua teman sekelasnya. 
Dia memperkenalkan dirinya tanpa nama keluarganya. Tanpa diketahui semua orang, dia hanya memperkenalkan dirinya hanya dengan nama Herliana. 
Herliana juga masih belum menyadari jika kemampuan kinesisnya telah dipinjam oleh sepupunya. Dia hanya menganggap kalau ilmu kinesisnya itu lenyap tanpa ia ketahui sendiri. 
Hizkil yang sebelumnya enggan berbaur dengan kelas, kini mulai berbaur dengan kelas. Mulai mendekati Herliana yang selalu bersama dengan Halsy Aeldra. Dia tertarik akan keanggunan gadis itu. 
Anggela juga yang sebelumnya mencampakkan Halsy, mulai perlahan mendekatinya kembali. Selain itu, karena kedua kakaknya yang berteman sangat akrab membuat dirinya semakin mudah mendekati Halsy. 
Hal itulah yang membuat mereka menjadi sahabat yang saling melengkapi, saling membantu sama lain di masa yang akan datang. 
Sejak saat itu, kehidupan Halsy semakin membaik, terus mendapatkan kebahagiaan, dan perhatian dari sekitarnya. 
Seperti pepatah mengatakan, “Semua akan indah pada waktunya.” 
Maka saat kebersamaan dengan Anggela dan yang lainnya itulah merupakan hal yang indah bagi Halsy Aeldra. 
Tapi dia juga sering bertemu dengan Salbina dan Hanafi secara rahasia, tidak melupakan kewajiban menghentikan Elenka yang ia buat sendiri itu. 
Alasan sebenarnya mereka bertemu secara sembunyi adalah karena Hanafi tak mau keberadaannya diketahui oleh adiknya, khususnya oleh Keisha. 
Hari, bulan, dan tahun terus berganti sangat cepat. Berbagai informasi seperti Zaxia, Charles, dan Gramior yang memasuki pemberontakan mulai didapatkan Salbina dan Hanafi.
Keisha dan Heliasha pernah diajak bergabung dalam kelompok itu, tapi keduanya menolak mentah-mentah tawaran itu. 
Hingga tiba saat ketika Salbina dan Hanafi memberitahukan bahwa kakak perempuan Halsy, yakni Heliasha terancam bahaya. 
Kelompok pemberontakan generasi baru berniat membunuhnya karena dianggap menjadi ancaman karena kekuatannya. 
Lalu kenapa tidak Halsy? Kekuatannya yang sudah mencapai tingkat tertinggi tentu sudah diketahui kineser tingkat atas dan ditakuti oleh banyak orang. 
Hanya satu jawaban yang dilontarkan Hanafi. 
“Diantara mereka sudah ada yang mengetahui tentang batas usiamu.” 
Hanya satu orang yang terpikirkan oleh Halsy. Wajahnya tersenyum sedih sambil melihat Hanafi yang melanjutkan jawabannya. 
“Orang itu sudah amat sangat mengenalmu, orang yang engkau ingin aku awasi ....” 
“Zaxia,” Halsy berwarna muram memejamkan mata. 
“Kenapa dia melakukan itu?” tanya Salbina khawatir. 
“Selain keluarganya, Zaxia juga amat sangat menaruh hormat padanya,” senyum Hanafi melihat Halsy yang khawatir. 
“Dia ingin menyelamatkanmu dari target para pemberontak kan ....., Halsy?” 
“Kenapa dia harus melakukan itu,” keluh Halsy memegang kepalanya. 
“Jadi bagaimana? Jika terus seperti ini, nyawa kakakmu bisa dalam bahaya.” 
“Aku akan menemuinya. Kamu ikut denganku, Hanafi.” 
“Jangan katakan?” 
“Ya kita hapus ingatannya tentangku.” 
“Ke-kenapa tidak menghapus ingatan seluruh anggota pemberontak saja ....?” khawatir Salbina. 
“Kamu juga sudah menyadari sendiri. Anggota pemberentokan itu tidak sedikit, lagipula kita tidak tahu siapa saja mereka.” 
“Maka dari itu aku akan menghapus ingatan Zaxia tentangku, itu yang terbaik untuk saat ini dan masa depan.” 
“Tapi bagaimana –“ khawatir Salbina tapi perkataanya terpotong oleh teriakan Anggela. 
“Halsy dimana kau?!” teriak Anggela khawatir. 
“Kekasihmu memanggilmu. Aku dengar kamu sudah bertunangan dengannya, “ senyum Hanafi menggoda sahabatnya. 
“Be-berisik!” senyum kesal Halsy, wajahnya memerah. 
“Kenapa harus dengannya ....,” sinis Salbina yang tak senang. 
“Aku keluar sebentar, ada keperluan!” teriak Halsy membalas teriakannya. 
“Ohhh ya sudah hati-hati!” senyum Anggela kembali berteriak. 
“.....” 
“Apa kau tak suka dengannya, Salbina ...,” senyum sedih Halsy. 
“Dalam pandanganku sendiri, aku sangat membencinya. Tapi aku bisa menerimanya jika dia membuatmu bahagia.” 
“.....” Halsy tersenyum melihat sahabatnya 
“Tidak terasa kamu sudah berumur empat belas tahun. Kamu sudah menginjak masa remaja,” senyum Hanafi pada Halsy. 
“Ehem ...., seorang gadis yang selalu bersamamu juga sedang masuk dalam masa itu,” gerutu Salbina. 
“Ya, bahkan dia sudah menyukai sepupunya sendir –“ lirik Hanafi melirik Salbina. 
“Aaaaah!!!” Salbina wajahnya memerah, dia menutup mulut Hanafi. 
Dirinya sungguh terlihat ketakutan. 
“Ray dari Skyline kah ....? Hahaha,”  Halsy tertawa manis melihat Salbina. 
“......” Salbina hanya berwajah merah menundukkan kepala. 
“Baiklah Hanafi ..., kita berangkat sekarang.” Halsy terlihat serius kembali. 
“Tu-tunggu Halsy, lalu bagaimana dengan kakakmu!? Meski kamu menghapus ingatan tentangmu pada Zaxia, itu tidak merubah fakta kalau kakakmu masih terancam.” 
“Aku akan mengurus itu nanti, tenang saja ...,” senyum Halsy mulai membuat gerbang dimensi dengan kemampuan Salbina yang ia pinjam. 
Mereka pun menghampiri Zaxia yang berada disebuah gedung kosong yang tidak terpakai. Zaxia terlihat tertidur lelap, wajahnya masih terlihat cantik. 
Karena Hanafi yang memiliki cukup informasi tentang pemberontakan, dia dapat dengan mudah menemukan Zaxia. 
Pada akhirnya Hanafi menghapus ingatan tentang Halsy padanya, seperti yang ia lakukan pada Shina. 
“Apa ini tak apa? Sudah dua sahabat melupakanmu ...,” 
“Tak apa, ini yang terakhir,” senyum Halsy. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum melihatnya. 
Hari kembali berganti, kini Halsy dan kekasihnya berniat pergi ke cafe dekat rumahnya. Ya hari itu merupakan perpisahan terakhir Halsy dengan seluruh temannya. 
Itulah terakhir kalinya dia merasakan perasaan hangat dan kebahagiaan. 
Saat penyerangan itu pun tiba. Halsy mengaku jika dirinya adalah kakaknya pada para pemberontak. Alhasil dia dibunuh dengan cara yang bukan apa-apa menurutnya, dia sudah mendapatkan penyiksaan yang lebih buruk dari itu. 
Berkat kemampuan Vitakinesisnya, Halsy bisa selamat dan memasuki koma. Tapi itulah yang dia rencanakan. 
Saat tubuhnya terbaring tak berdaya, dia menggunakan puncak dari kemampuan Astrakinesis. Keluar dari jasadnya dan kembali ke masa lalu untuk menghentikan Elenka sebelum berubah menjadi Guardian Of the Cursed Souls. 
Salbina dan Hanafi secara bergantian menjaga raganya itu. 
Satu bulan telah berlalu, kini Halsy kembali dari masa lalu. Dia yang berwajah muram tiba-tiba muncul dihadapan sahabatnya, Hanafi dan Salbina. Dia tiba-tiba muncul di sebuah taman yang amat sepi.  
“Ma-maaf, aku gagal .... Seorang gadis memakai jubah besar dengan garis biru menghalangiku. Dia tiba-tiba muncul saat pengeksekusian Elenka dan ibunya.” 
“Tapi kamu kuat ..., kan? Siapa sebenar –“ 
“Aku tidak tahu siapa dirinya, tapi dia benar-benar kuat. Lebih kuat dari Elenka dan Elena yang bekerja sama ....” 
“Se-sekuat itu?!” Salbina sungguh terkejut. 
“Jadi aku disini ingin meminta bantuanmu, bisakah kau berbicara padaku Salbina. Aku ingin kamu mengatakan sesuatu pada ayahmu agar membantuku.” 
“Eh ....?!” Salbina dan Hanafi terlihat kebingungan. 
“Tenang saja, ini hanya kartuku terakhir. Jika aku gagal menghentikan Elenka di berbagai era dan zaman. Aku akan kembali di waktu saat buku pembangkitan itu masih ada untuk terakhir kalinya.” 
“Be-begitu.” 
“Aku membutuhkan kekuatan ayahmu yang merupakan kinesis terkuat di eranya. Dia pasti akan sangat membantuku,” senyum sedih Halsy. 
“Aku tidak keberatan ..., tap-tapi apa kamu benar-benar tidak akan kembali ke ragamu? Kamu bisa menggunakan sebagaian kekuatanmu untuk –“ 
“Tidak bisa, Salbina ....,” senyum sedih Halsy. 
“Aku akan menggunakan kekuatan ini untuk pertarungan habis-habisan dengan Elenka ....,” lanjutnya. 
“Begitu ...,” sedih Salbina. 
Setelah itu Salbina mulai berbicara seakan sedang berbicara pada ayahnya, bercerita cukup panjang bahwa dia sangat mencintai ayahnya yang sudah meninggal itu, bercerita dan memohon kepada ayahnya untuk membantu Halsy di masa lalu nanti. 
Tapi ada satu perkataan yang terlihat berbeda, perkataan dengan bahasa yang tak pernah ada di dunia. Bahkan Halsy juga tak bisa menerjemahkan perkataan Salbina itu. Itu adalah bahasa kuno ras elf. 
Halsy bertanya kebingungan pada Salbina tentang arti bahasa itu, tapi Salbina hanya tersenyum kalau itu hanya sapaan dalam keluarganya. Dia tersenyum sedih meneteskan sedikit air matanya. 
Hanafi hanya terdiam terkejut menatap Salbina. Meski hanya sedikit, dia mengetahui maksud perkataan Salbina dalam bahasa kuno itu. 
“Kau benar-benar sangat menyayangi dirinya yah ...., Salbina,” batin Hanafi tersenyum sedih pada Halsy. 
“.....” 
“Terima kasih Salbina,” senyum Halsy. 
“Ah iya satu hal lagi ..., aku mempunyai permintaan terakhir untuk kalian.” 
“ Apa itu? Apapun akan kulakukan meski menghancurkan dunia ini sekalipun,” senyum manis Salbina. 
“Bodoh, aku takkan pernah senang jika kamu melakukan itu ...,” senyum manis Halsy yang hanya berupa arwah. 
Meski saat ini mereka sudah berbeda dunia, tapi persahabatan mereka masih tetap terasa. 
“Jadi Halsy ..., apa permintaanmu itu?” senyum Hanafi bertanya. 
“Kau pasti tahu sendiri, aku sudah melihat bagaimana kehidupan Elenka dan Elena. Sungguh, mereka berdua adalah gadis yang baik dan peduli akan sekitarnya, khususnya Elenka. Tapi karena dirinya keturunan Gehena, dia menjadi dikucilkan, dianggap lebih buruk dari sampah. 
Terus menerus mereka mendapatkan pengkhianatan dan ketidakadilan yang diberikan dunia. Hingga insiden mengerikan itupun terjadi, insiden yang membuat keduanya murka menuntut balas pada dunia ini.” 
“Ja-jadi?” khawatir Hanafi. 
“Puncak kemarahan mereka disebabkan oleh perselisihan kecil keluarga mereka sendiri dengan Frostlily, khususnya Aeldra. Perselisihkan kecil yang semakin membesar.” 
“Maka dari itu aku memiliki permintaan pada kalian. Ketika insiden seperti Elenka dan Elena terjadi, aku ingin kalian malakukan permintaanku ini. Dengarkan permintaanku ini baik-baik ....” 
“Ya ....!” jawab Salbina dan Hanafi khawatir, memasang telinga baik-baik. Berniat mendengarkan permintaan terakhir sahabat tercintanya.

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXIV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.