30 Januari 2017

My Dearest Jilid 2 Chapter XL


HARI DAMAI DENGAN CERITA YANG BARU
[END]
(Writer : Lullaby R)

Bagian Pertama:  
Enam bulan telah berlalu sejak Anggela dan yang lainnya kembali ke masa depan. Di pagi hari yang cerah, di rumah sederhana kediaman keluarga Aeldra. Terlihat Asha yang sibuk memasak berniat menyiapkan sarapan untuk keluarganya. 
“Heliasha, Alysha! Cepat turun ke bawah!” teriaknya sambil terus memasak. 
“Aku lagi ganti baju Mah!” teriak Alysha yang baru saja selesai mandi. Wajahnya terlihat khawatir mendapat teriakan dari ibunya. 
“Kalau begitu sekalian bangunkan kakakmu. Dia paling susah kalau bangun pagi!” teriak Asha kembali. 
“Ya, Mah!” 
Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Aeldra berisik di pagi hari. Para tetangga disekitarnya hanya tersenyum dan sudah terbiasa dengan kebiasaan mereka. 
Beberapa menit kemudian, Heliasha terlihat berjalan memasuki dapur, rambutnya terlihat berantakan dengan wajah setengah mengantuk. 
“Hoaaammm!” 
“Heliasha! Umurmu sudah 22 tahun, sampai kapan kamu mau terlihat seperti itu?” Asha melirik putrinya yang duduk dan tertidur kembali di atas meja makan. 
“Eeeh, tapi papah juga seperti itu,” keluh Heliasha melihat Haikal yang juga menempelkan pipinya di atas meja. 
Duak!! 
“Haikal!” teriak kesal Asha memukul kepala suaminya. 
“Ayolah Asha, aku kemarin bergadang mengerjakan laporanku. Apa sepenting itu kah makan pagi bersama?” keluh Haikal mengelus pelan kepalanya, wajahnya terlihat mengantuk seperti putri pertamanya. 
“Iya mah, aku juga tidak kebagian kelas pagi hari ini,” keluh Heliasha. 
“Ya ampun, kalian berdua ini ...,” Asha hanya bergerutu kesal sambil menyiapkan hidangan di atas meja. 
“Biar aku bantu mah!” senyum Alysha yang sudah memakai pakaiannya, dia membantu ibunya untuk menghidangkan makanannya. 
Asha mulai meletakkan piring makan di atas meja. Meja makan itu memiliki lima kursi, dan Asha meletakkan piring makan itu tepat didepan masing-masing kursinya. 
“Ayo kita makan dulu,” senyum Asha. 
“Tapi aku tidak lapar –“ keluh Heliasha. 
“Sudah diamlah Heliasha, kamu tau sendiri kan bagaimana jika ibumu itu marah,” senyum khawatir Haikal. 
“Ba-baiklah ....” 
Mereka mulai sarapan pagi bersama. Meski terlihat malas, Heliasha mulai tersenyum bahagia menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh ibunya. 
Hanya ada satu hal yang membuat Heliasha terganggu, dia melirik bangku sebelahnya sambil bertanya keheranan. 
“Mah, kenapa Mamah meletakkan lima piring ...?” 
Ya, bangku di sebelah Heliasha kosong dan tak diduduki siapapun. Tapi ada satu piring kosong yang terlihat di depannya. 
“Iya, sejak dulu keluarga kita kan hanya empat orang ...,” senyum Haikal keheranan. 
“Eh, iy-iya yah! Aduh kenapa aku jadi aneh gini ...?” senyum Asha terlihat kebingungan, dia kembali mengambil piring yang berada di depan bangku kosong itu. 
“Tidak biasanya mamah bisa salah begitu, haha ...,” Alysha tertawa kecil melirik ibunya. 
“Maaf hahaha.” 
Suasana terasa amat damai ketika mereka saling bercakap-cakap. Suasana kebahagiaan dan sukacita benar-benar terasa dari keluarga sederhana itu. 
“Alysha, bagaimana pekerjaanmu di organisasi Adjoin?” senyum Asha bertanya. 
“Hehehehe!” Alysha terlihat sombong mengusap hidungnya. 
“Kenapa wajahmu menjadi menjengkelkan seperti itu?” senyum Haikal keheranan. 
“Alysha udah naik pangkat jadi wakil komandan!!” 
“Wah bagus, seperti yang diharapkan dari adikku. Jadi sekarang kamu berpasangan dengan Keisha?” 
“Ya Kak! Seperti yang kakak bilang jika Kak Keisha benar-benar kuat! Sudah kuduga kalau kineser terkuat saat ini memang dirinya!” senyum Alysha kagum. 
“Kan Kakak bilang apa. Dia benar-benar kuat,” senyum Heliasha melihat adiknya. 
“Keisha dan Anggela, Sang kembar Skyline Rin dan Ray, Silca Fuaim Orga, dan kamu anak papah, Heliasha,” senyum Haikal. 
“Kenapa pah?” tanya Heliasha kebingungan. 
“Tidak, papah hanya ingin menyebutkan Kineser tingkat akhir dari generasi baru,” senyum Haikal. 
“Tapi setelah Keisha mengundurkan diri, Alysha juga menjadi Kineser terkuat dari 7 kineser terkuat dunia,” senyum Asha memuji putri bungsunya. 
“Hehehe ....,” Alysha tertawa manis. 
“Ya memang harus seperti itu. Keisha harus mengundurkan diri karena dia sudah mencapai tingkat tertinggi,” senyum Heliasha. 
“Lalu bagaimana kabar universitasmu Heliasha? Apa kamu kesulitan mengajar para mahasiswa itu?” senyum Asha bertanya. 
“Waah aku lupa! Aku mengajar kelas Hizkil, Shina dan yang lainnya loh mah. Kelas mereka benar-benar terasa menyenangkan! Aku ingin segera memulai kelas lagi dengan mereka,” senyum Heliasha bersemangat. 
“Benarkah?!” tanya Asha yang gembira. 
“Iya iya!” 
“Waah irinya, aku udah lama gak ketemu sama Kak Anggela, Shina, dan yang lainnya ...,” keluh Alysha. 
“Kalau kamu ada waktu luang mampir aja,” senyum Heliasha. 
“Ya  Kak!” senyum Alysha bersamangat. 
Seperti itulah percakapan membahagiakan keluarga itu. Langit yang cerah seolah menambah suasana kedamaian keluarga itu. Kicauan beberapa burung seolah menjadi nyanyian merdu untuk mereka. 
Begitu pula dengan kediaman keluarga Anggela. Anggela terlihat memakai baju pantai sederhana, dia tersenyum bahagia sambil memakai topi baru yang berwarna kuning. Dia bercemin seolah memastikan kalau dirinya harus terlihat enak untuk dipandang. 
Sang ibu, Keina terlihat memandang putranya dari balik pintu. Wajahnya terlihat tak senang menatap putranya tersebut. 
Anggela yang sudah lama bercermin tentu menyadari kehadiran ibunya itu. 
“Ayolah Bu! Kembalikan dompetku,” kesal Anggela melirik ibunya. 
“Tak akan! Jika kuberikan, kau akan pergi dengannya kan?!” kesal Keina. Umurnya memang sudah dewasa, tapi sifat kekanak-kanakannya masih sering keluar. 
“Aku masih tak pecaya kalau sifat dingin ibu dimasa lalu hanya sifat bohongannya. Sungguh aku benar-benar shock mengetahui sifat sebenarnya yang seperti ini,” batin Anggela mengeluh memejamkan mata. 
“Ibu –“ 
“Tak akan!” Keina berlari menuruni tangga. 
“Kak Keisha! Lakukan sesuatu pada ibu kita!” teriak Anggela cukup kesal. 
“Aku tak ikutan!” senyum Keisha berteriak. Dia terlihat memasak sambil melirik Ayahnya yang sedang mengambil air mineral. 
“Ayah, hari ini ayah ada pertemuan dengan editor ayah kan?” lanjut Keisha bertanya manis melihat ayahnya. 
“Ah iya, kenapa?” 
“Otomatis ayah keluar rumah kan?” senyum manis Keisha memiringkan kepalanya. 
“.......” Serraph hanya memandang putrinya yang tersenyum manis padanya. Dia terlihat mengerti akan maksud dari pertanyaan putrinya itu. 
“Baiklah baiklah, mana daftar belanjaanya?” keluh Serraph memberikan tangan kanannya. 
“Yess! Aku sayang ayah!!” senyum Keisha memberikan daftar belanjaan makanan. 
“Sebagai gantinya, tolong buatkan ayah kopi,” senyum Serraph sambil menerima daftar belanjaanya. 
“Siap komandan!” jelas Keisha memberi hormat layaknya prajurit. 
“......” Serraph hanya tersenyum melihat putrinya, dia berjalan kembali ke ruang tengah. Tapi belum selesai dia melangkahkan langkah ketiganya, tiba-tiba datang istrinya yang berlari menghampirinya. 
“Serraph! Tolong aku –“ Keina terlihat bersembunyi dibalik punggung suaminya. 
“Ayah lakukan sesuatu! Ibu mengambil dompetku lagi!” kesal Anggela memasuki dapur. 
“Ah kamu berangkat hari ini?” senyum Keisha melihat adiknya. 
“Iya Kak, tapi yang lebih penting ...., kembalikan dompetku Bu!” 
“Tidak!” 
“Ayolah Keina, kembalikan dompetnya. Kamu ini sudah dewasa, hentikan sifatmu yang kekanak-kanakan ini,” keluh Serraph memejamkan mata. 
“Tapi dia akan pergi bersamanya lagi! Dia terlalu cepat mempunyai seorang kekasih! Umurnya masih 18 tahun loh!” 
“Justru umur segitu sudah wajar jika dia memiliki kekasih,” keluh Serraph. 
“Apa Ibu membenci kekasih Anggela?” senyum sedih Keisha. 
“......” Anggela hanya diam dengan wajah memerah. 
“Ibu tidak membencinya. Memang benar dia ramah, cantik, dan mempunyai tatak rama yang baik tapi –“ 
“Keisha, ibumu ini hanya terlalu protektif pada anaknya. Dia tidak ingin anaknya kelak menikah dengan wanita lain.” 
“Apa maksudnya itu, sayang?!” kesal Keina memejamkan mata. 
“Bu dompetku?” 
“Ini! Jangan pulang terlalu malam!” kesal Keina memberikan dompetnya. Setelah itu Keina kembali menatap tajam suaminya. 
“......” Anggela hanya mengedipkan matanya pada Serraph. Seolah mengatakan, ‘terima kasih Ayah!’ 
Sedangkan Serraph hanya tersenyum kecil melihat putranya yang berjalan meninggalkan rumah. Dia ditarik oleh istrinya ke lantai dua. 
Terdengar teriakan keras dari kamar sepasang suami istri itu, pertengakaran yang terasa sudah rutin terjadi di keluarga mereka. 
Tapi pertengkaran itu terasa tidak menegangkan, Serraph tidak membalas teriakan istrinya itu dan malah mencoba menenangkannya. Hanya hitungan menit mereka dapat akur kembali, seperti mengingatkan kita pada hubungan pasangan di masa lalu. 
“Begini lagi ....,” keluh Keisha memejamkan mata. Dia mulah terbiasa dengan kehadiran orang tuanya kembali. 
Setelah Keisha selesai memasak, dia mulai membuat kopi untuk ayahnya. Dia juga untuk sesaat tersenyum melihat foto seorang gadis yang mirip dengan dirinya dan ibunya, ya gadis itu Anggelina. 
“Seandainya kamu juga disini, kebahagiaan keluarga kita akan semakin sempurna ..., Anggelina ...,” senyum sedih Keisha.

***

Bagian Kedua:
Kembali pada Anggela yang baru saja keluar dari rumahnya. Wajahnya terlihat khawatir sambil berjalan cepat menghampiri seorang gadis yang berdiri di dekat pagar rumahnya. 
“Maaf karena sudah menunggu lama ..., Shina,” senyum Anggela melihat gadis itu. 
Shina Shilvana. Ya dia adalah gadis yang sedang berdiri didekat pagar itu. Wajahnya terlihat menawan dengan kedua mata yang berwarna coklat. Rambutnya hitam panjang bergelombang. 
Dirinya memakai pakaian one piece putih dengan topi pantai berwarna coklat terang. Dia tersenyum manis melihat Anggela. 
“Ta-tak apa, lagipula cuaca hari ini tidak terlalu panas kok.” 
“Maaf yah, ibuku melakukan hal yang tak perlu lagi,” keluh Anggela memejamkan mata, dia mulai berjalan kembali yang didampingi Shina. 
“Ke-kenapa dia selalu melakukan itu? Ap-apa ibumu tidak menyukaiku?” senyum sedih Shina. 
“Aah tidak, bu-bukan begitu ...,” Anggela merasa bersalah, lalu tangan kirinya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan kanan Shina. Alhasil wajahnya langsung memerah sambil mengalihkan pandangannya 
“......” Shina hanya menundukkan wajahnya yang memerah. Dia juga terlihat malu saat tangannya bersentuhan dengan tangan Anggela. 
“Ma-maaf ...,” grogi Anggela terus mengalihkan pandangan. 
“Ti-tidak, ak-ak-aku yang minta maaf,” Shina terlihat lebih grogi. Tangan kanannya yang bergemetar terlihat ia pegang dengan tangan kirinya. 
“.......” Keduanya hanya terdiam, tersenyum, dan pada akhirnya tertawa bahagia. 
“Hahahahaha ..., ki-kita seperti orang aneh saja,” senyum Anggela melirik Shina. 
“Kamu benar hahahaha,” Shina tertawa pelan memejamkan mata. 
“Bagaimana dengan Hizkil dan Herliana, dimana mereka sekarang?” tanya Anggela penasaran sambil sesekali melirik Shina. 
“Hizkil sudah sampai di pantai katanya, kalau Herliana ada urusan cukup penting jadi dia nanti menyusul, ” senyum Shina memiringkan kepalanya pada Anggela. 
“......” Anggela hanya terdiam melihat Shina yang terlihat sangat manis. 
“Anggela?” 
“Ah ma-maaf ...” 
“......” Shina hanya tersenyum melihat Anggela. 
“Astaga ...., ap-apanya yang do-double date jika kita berpencar-pencar seperti ini,” lanjut Anggela mengeluh sambil terus berjalan. Nada bicaranya terdengar masih gugup. 
Ya, beberapa hari yang lalu mereka sudah memulai hubungan mereka. 
Shina hanya tertawa manis melihat Anggela yang mengeluh tersebut. 
Mereka terus berjalan hingga melewati sebuah taman bermain. Untuk sesaat Shina menghentikan langkahnya melihat taman bermain tersebut, melihat taman pasir yang berada di taman bermain itu. 
“Kenapa?” tanya Anggela penasaran. 
“Ti-tidak, hanya saja aku selalu merasa kalau sesuatu yang amat penting  dalam hidupku sudah terjadi di taman pasir itu,” Shina terlihat khawatir. 
“Di tempat itu?” Anggela terlihat penasaran. 
“Bukan, tapi taman pasir di suatu tempat yang mirip seperti taman pasir itu. Saat itu aku terjatuh di taman itu, kakiku terasa amat kaku dan sulit digerakkan. Lalu ditengah keputusasaanku yang mencoba bangkit ..., datanglah uluran tangan seseorang yang memberikanku harapan, yang membuatku seperti sekarang,” senyum Shina memegang dadanya yang terasa sedikit sesak. 
“Benarkah? Mungkin uluran tangan itu berasal dari ibumu.” 
“Ya, itu pasti dari ibuku,” senyum Shina khawatir. 
Mereka berdua kembali berjalan menuju sebuah pemakaman. Sebelum ke tempat tujuan, mereka berniat mengunjungi makam seseorang. 
Makam adik tercinta Anggela, Anggelina Dwiputri.  
Di tempat peristirahatan terakhirnya terlihat banyak bunga, dan segala persembahan yang menghormati dirinya. 
Gadis itu benar-benar dicintai oleh banyak orang. 
“Seperti biasanya, dia memang banyak dicintai, “senyum Shina yang cukup sedih. 
“Ya ...,” Anggela hanya tersenyum sedih melihat makam adiknya. 
Beberapa menit lebih Anggela bercerita dihadapan adiknya. Bercerita tentang apa yang sudah terjadi setelah adiknya itu meninggal. Mereka juga menjelaskan bagaimana mereka bisa mulai berpacaran. 
Tidak hanya Anggela, Shina juga bercerita tentang teman-temannya. Dia bercerita tentang apa saja yang sudah mereka lakukan tanpa dirinya. Sesekali air mata kecil keluar dari kedua matanya yang menawan. 
Anggela hanya tersenyum sambil membersihkan air mata kekasihnya itu. Ya meski tangannya terlihat bergemetaran ketika mengusap pipi Shina yang dilewati air mata. 
Sedangkan Shina hanya tersenyum manis melihat kekasihnya itu. 
Anggela semakin gugup dan memalingkan wajahnya, begitu pula dengan Shina yang ikut merasa malu.

Setelah cukup lama bercerita, Anggela dan Shina mulai berdiri dan berjalan pergi meninggalkan makam Anggelina. Wajah mereka masih terlihat sedih ketika melangkahkan kakinya untuk pergi. 
“......” 
“Hei kita lewat jalan pintas saja. Landasan F-Car cukup dekat jika kita lurus ke sana,” senyum Shina menunjuk arah yang berlawanan dari arah mereka datang. Dia terlihat memperbaiki suasana agar menjadi lebih baik. 
“Baik baik, “senyum Anggela melihat kekasihnya. 
Mereka menyusuri jalan berdua, angin musim panas yang menyejukkan mulai menerpa mereka. Perasaan hangat dan romansa benar-benar terasa dari mereka. 
Sesekali mereka juga ingin memulai percakapan, tapi karena rasa malu dari mereka sendiri. Mereka hanya diam seribu bahasa saling melirik satu sama lain. Saling mencuri pandang dengan penuh rasa kagum. 
Cukup jauh mereka berjalan hingga langkah keduanya terhentikan oleh pemandangan seorang gadis yang sedang membersihkan makam. 
Makam yang dibersihkan gadis itu terlihat sangat kotor, banyak berserakan daun kering. Tanahnya yang terlihat kering menandakan kalau makam itu tak pernah dikunjungi siapapun. 
Wajah Anggela dan Shina terlihat amat sangat terkejut melihat hal itu. Bukan karena makam yang kotor dan tak layak dilihat itu, tapi karena gadis yang membersihkan makam itu. Mereka amat sangat terkejut melihat gadis itu. 
Gadis itu adalah ..., 
“He-Herliana?!” 
“Ah Anggela, Shina?!” tanya Herliana yang juga cukup terkejut. Dia terlihat berdiri dan menatap keduanya. 
“Apa yang kamu lakukan disini?! Apa membersihkan makam orang asing merupakan urusan yang cukup penting?” keluh Anggela. Wajahnya terlihat kecewa menatap teman masa kecilnya itu. 
“Hahahaha, habisnya aku kasihan melihat makam ini berserakan daun. Kasian tidak ada yang mengurus makam ini,” senyum Herliana amat sedih. 
“Kalau begitu biar kami ikut membantumu,” senyum Shina mulai membersihkan makam gadis itu. 
“Benar, biar lebih cepat dan kita bisa segera pergi ke pantai,” senyum Anggela melihat Shina. 
“Terima kasih,” senyum Herliana tulus memejamkan mata, hingga kedua tangannya bergemetar. 
Ketiganya mulai membersihkan makam yang tak terjamah itu. Hanya wajah Herliana saja yang terlihat sedih ketika membersihkan makam itu. 
Anggela mulai membersihkan kepala makam itu yang tertumpuk oleh daun kering, dan pada akhirnya dia tidak sengaja melihat siapa sebenarnya yang terbaring di dalam makam itu. 
Wajahnya terlihat penasaran sambil sesekali melihat Herliana yang berwajah muram. 
“Herliana kamu mengenal orang yang beristirahat di sini?” tanya Anggela curiga. 
“Memangnya kenapa?” Herliana membalikkan pertanyaan sambil terus membersihkan makam itu. 
“Siapa namanya?” tanya Shina penasaran. 
“Di sini tertulis ....., Halsy Ae –....., ah sisa nama belakangnya seperti sudah dicoret, aku tak bisa membacanya.” 
“Dicoret?! Eh kenapa dicoret?!” Shina terlihat cukup terkejut. 
“Entahlah, tapi apa kamu mengenalnya Herliana? Kamu terlihat sangat sedih ketika membersihkan makam orang ini,” tanya Anggela penasaran. 
“Tidak ..., aku baru pertama kali mendengar nama itu. Lagipula bukankah wajar jika kita berwajah sedih dihadapan orang yang sudah mendahului kita,” senyum Herliana memejamkan mata. 
“Aku kira kamu mengenalnya karena mau membersihkan makam orang asing ini,” gerutu Anggela mulai berdiri. 
“Tidak, aku tidak mengenalnya.” 
“Kenapa nama belakangnya dicoret,” Shina terlihat sedih melihat makam itu. 
“Nama belakang itu berkaitan dengan nama keluarga kan? Mungkin dia sudah tidak dianggap lagi dalam keluarganya karena melakukan perbuatan tak termaafkan,” senyum Anggela enteng. 
“......” Shina hanya menatap Anggela, wajahnya terlihat cemberut kesal. 
“Ma-maaf, aku hanya bercanda,” Anggela merasa bersalah dan memalingkan wajah. 
“Tapi, makam orang asing ini sungguh malang, ya? Tak ada yang mengurus makam ini hingga berserakan daun di sana-sini,” senyum Herliana mulai berdiri. 
“Hanya ada dua kemungkinan makamnya bisa berserakan daun. Karena dia sudah terlalu tua hingga orang-orang yang mengingatnya juga sudah meninggal. Atau memang orang ini mempunyai sifat amat buruk hingga ditelantarkan oleh orang-orang sekitarnya, termasuk keluarganya.” 
“Sifat amat buruk kah .....?” senyum Herliana memejamkan mata, dia mulai berdiri melihat makam yang bernama Halsy itu. 
Makam itu kini terlihat bersih dari dedaunan kering. Tapi tetap saja tanah makam itu terlihat kering dan memiliki lumut yang cukup banyak disekitar papan namanya. 
Tapi anehnya juga disekitar makam itu tumbuh bunga kecil yang amat indah, bunga kecil berwarna putih yang menenangkan hati siapa saja yang melihatnya. Sungguh terlihat aneh ketika bunga yang begitu indah itu tumbuh di tanah yang kering. 
“Kita tidak bisa berlama-lama disini. Ayo kita pergi,” senyum Anggela mengulurkan tangan kanan pada kekasihnya. 
“Em,” senyum manis Shina menggapai tangan Anggela. 
“.......” Herliana hanya terdiam sedih melihat Anggela dan Shina. 
“Kamu juga ikut Herliana, kekasihmu sudah lama menunggu di pantai,” senyum kesal Anggela melihat Herliana. 
“Baiklah baiklah,” gerutu Herliana mulai berdiri. 
“......” 
“Hei Anggela menurutmu seperti apa yah orang yang terbaring di dalam makam in –“ lanjut Herliana ingin bertanya tapi. 
WUSSSHHH!!! 
Angin bertiup kencang saat Herliana mengajukan pertanyaan tersebut. Alam seolah menolak keras dirinya untuk mengajukan pertanyaan itu. Dunia seakan melarangnya untuk membahas seseorang yang terbaring di makam itu. 
“.....” 
“Maaf  ......,” gumam sendiri Herliana menundukkan kepalanya. 
“Mulai sekarang, biar aku melanjutkan perjuanganmu ....,” batinnya melihat makam itu. 
“Eh kenapa? Tadi kamu bertanya apa Herliana?” tanya Shina penasaran. 
“Tidak, bukan apa-apa ....,”senyum manis Herliana. Aura kesedihannya secara perlahan mulai pudar. Dia terlihat sudah lega akan suatu hal, dia terlihat sudah merelakkan kepergian seseorang. 
“Aneh ...., ya sudah ayo kita pergi. Kasian Hizkil di pantai sendirian,” senyum Anggela mulai berjalan. 
“Ya!” senyum bahagia Shina dan Herliana mengikuti Anggela. Aura kebahagiaan benar-benar terasa dari mereka. 
Sambil terus berjalan, Shina mulai mengajukan pertanyaan pada Herliana. 
“Herliana, aku hanya ingin memastikan. Apa kamu benar-benar Kineser tingkat atas?” 
“Ya, aku Kineser tingkat enam dengan tipe Astrakinesis,” senyum Herliana. 
“ Eeeh jadi itu benar yah!” Shina terkejut kagum melihat Herliana. 
“Sungguh aku juga terkejut ketika tau kalau kamu juga Kineser. Kenapa kamu selalu merahasiakannya dari aku dan Hizkil sejak lama.” kesal Anggela 
“Maaf itu rahasia, hahaha ...,” Herliana tertawa bahagia.
 Shina dan Anggela hanya tersenyum melihat Herliana yang tertawa bahagia. 
“Oh iya Shina, apa kamu benar-benar terpilih dalam Fiesta?! “ tanya Herliana. 
“Ah iya, tapi masih cadangan,” senyum Shina bahagia. 
“Dari Decap 2, siapa saja yang terpilih selain kamu dan Hizkil?” 
“Selain mereka berdua, Sylvia juga terpilih,” senyum Anggela.

“Begitu, semoga kamu bisa membawa universitasmu untuk memenangkan turnamen tahunan itu,”senyum Herliana. 
“Ya, kami akan berjuang!” Shina terlihat bersemangat. 
Dibalik pepohonan yang tidak jauh dari makam bertuliskan Halsy. Terlihat Salbina yang bersandar pada batang pohon, dia melirik sinis Herliana yang berjalan pergi menjauhi makam Halsy. Hanafi juga terlihat disampingnya. 
“Kamu tak perlu melakukan hal itu Herliana, tindakanmu tadi hanya membuat gadis itu menjadi lebih sedih,” senyum Salbina memejamkan matanya. 
Angin kencang sebelumnya adalah perbuatan dirinya. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum sedih melihat Salbina.

***

Bagian Ketiga: 
Enam bulan yang lalu ..., saat Anggela dan yang lainnya baru saja sampai kembali ke masa depan. 
Di dekat lubang terkuburnya cincin Halsy Aeldra, terlihat Anggela yang masih tertunduk ketakutan dihadapan Salbina. Keringat dingin sungguh mengucur deras karena intimidasi dari Salbina yang marah. 
“Sudah cukup Salbina, bukankah kita hanya berniat berbicara padanya,” Hanafi tersenyum ringan, dia dapat dengan mudah terlepas dari belenggu intimidasi Salbina. 
“.......” Secara perlahan Salbina terlihat tenang, intimidasinya yang kuat mulai menghilang dan melepaskan Anggela. 
Anggela mulai berdiri, keringat dingin masih terlihat dari sekujur tubuhnya. Kedua tangannya terlihat masih bergemetar ketakutan, dia masih menatap khawatir Salbina yang memejamkan matanya menahan kesal. 
“Lama tidak bertemu Anggela,” senyum Hanafi melihat Anggela. 
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Anggela khawatir, sesekali dia juga melirik Salbina seakan waspada. 
“Kamu tidak mengingatku? Sungguh? “ Hanafi cukup sedih. 
“......” Anggela menggelengkan kepalanya. 
“Kalau begitu tak apa, itu tak terlalu penting sekarang ...,” senyum Hanafi yang terlihat ikhlas. 
“Ja-jadi apa yang kalian berdua inginkan dariku?” lirik Anggela pada Hanafi dan Salbina. 
“Mari kita mulai dari awal ..., jaman dahulu kala –“ senyum Hanafi dengan aksen orang tua, dia berniat mencairkan suasana tegang karena kemarahan Salbina, tapi. 
“Berhenti bercanda Hanafi, biar aku yang berbicara padanya,” kesal Salbina menyanggah. 
“Baik baik ...., Tuan Putri,” senyum Hanafi melirik Salbina. 
“......” Anggela semakin khawatir, dia melirik Salbina penuh waspada. 
“Tenanglah, aku tak akan melakukan apapun padamu.” 
“Lalu apa maumu, Salsa –, maksudku Salbina?!” 
“Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur.” 
“Pertanyaan?” 
“Baiklah, aku akan bertanya langsung pada intinya. Apa yang kamu ingin lakukan pada cincin Halsy?” 
Untuk sesaat Anggela terdiam, tangannya bergemetar bukan karena Salbina, tapi karena Halsy Aeldra. Dia sesekali melirik cincin Halsy yang terkubur didepannya. 
“Apapun jawabanmu, kami tak akan menyerangm –“ senyum Hanafi, tapi perkataanya terpotong oleh Anggela. 
“Tak ada,” dia tersenyum sedih memejamkan mata. 
“.....?” Hanafi dan Salbina terlihat kebingungan. 
“Mungkin sudah waktunya aku melepaskannya dan tidak terus mengejar dirinya. Aku sudah terlalu lama melihat masa lalu dan melupakan masa ini dan masa yang akan datang,” senyum Anggela terus memejamkan matanya. 
“......?” 
“Aku akan melupakan dia untuk selamanya ...., demi kebaikanku dan dirinya juga,” senyum sedih Anggela membuka matanya. 
“........?!” Hanafi dan Salbina sungguh terkejut. 
Kini perasaan murka bukan terlihat dari Salbina saja. Tapi Hanafi yang sebelumnya terlihat tenang juga terlihat sangat marah dan kecewa. 
“Melupakan dia selamanya ....!?” Salbina sungguh menatap tajam Anggela. 
“Ya ..., aku hanya ingin menyimpan cincin milikku di dekat cincin Halsy. Inilah perpisahan yang sesungguhnya,” senyum Anggela. 
“Kenapa baru sekarang ...!?” geram Salbina menundukkan kepala, dia benar-benar terlihat murka terhadap Anggela. Nada bicaranya terdengar amat dalam. 
“.....!” Anggela sontak terlihat ketakutan. 
Tapi rasa ketakutannya itu tidak berlangsung lama, Salbina secara perlahan mulai mengontrol amarahnya. Dia hanya menundukkan kepalanya sambil memasang wajah kesedihan yang amat dalam. 
“Anggela ..., kamu tidak ‘lah salah memberikan jawabanmu itu. Tapi jika aku dalam posisimu saat ini yang tak tau apa-apa, aku tak akan pernah memberikan jawaban itu. Sungguh aku benar-benar terkejut akan jawabanmu itu,” kecewa Hanafi. 
Dia mengepalkan erat kedua tangannya. Kini lelaki itu yang terlihat sangat marah. 
“Eh ....? Bukankah aku normal jika menjawab seperti ini? Terus menerus melihat masa lalu hanya akan membuatku tertinggal –“ 
“Lalu kenapa baru sekarang kamu mengatakan itu? Setelah semuanya selesai, setelah semuanya berakhir, setelah adikmu menjadi korban .... Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang!?” 
“......” Anggela hanya terdiam merasa bersalah. 
“Salbina ..., kita sudah mendengar jawabannya,” lirik Hanafi pada Salbina. Masih berwajah kesal yang membuat Angela khawatir. 
“Tun-tunggu dulu, Anggela mungkin hanya kebingungan. Di-dia mungkin masih ingin terus mengejar Hals –“ khawatir Salbina ketakutan. Sesekali juga dia melirik Anggela. 
“Tidak ..., aku serius, aku ingin melepasnya.” 
“Ta-tapi ini Halsy loh! Or-orang yang berharga bagimu, dia mungkin masih hidup, dia mungkin sedang menunggu bantuanmu –“ Salbina sungguh ketakutan. Matanya berkaca-kaca. 
“Halsy Aeldra sudah mati,” senyum sedih Anggela memejamkan mata. Dia terlihat sudah merelakkan kepergian dirinya. 
“Tapi –“ 
“Salbina ....,” sedih Hanafi menggelengkan kepalanya. 
“.......” Salbina hanya menundukkan kepala, tubuhnya bergemetar. Dia mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga darah menetes pada tanah tempat ia berpijak. 
Dirinya terlihat sangat frustasi.
Lalu setelah itu ia mulai tersenyum sedih sambil terus menatap tanah tempat ia berpijak. 
“Halsy ..., sepertinya memang benar jika impianmu takan pernah terwujud di dunia ini. Kebahagiaan yang kau dapatkan dari dunia ini takan pernah datang padamu. Kamu hanya akan terus menderita jika hidup di dunia yang fana ini,” senyum sedih Salbina memejamkan mata. Air mata kecil keluar, melewati pipinya. 
Bukan kemarahan lagi yang dikeluarkannya, tapi kesedihan yang amat dalam. 
“......?!” Anggela hanya menatap terkejut Salbina yang bergumam sendiri. 
“Apa maksudnya it –“ 
“Salbina, apa jawaban Anggela?” senyum sedih Hanafi menyanggah pertanyaan Anggela, dia melirik Salbina yang terlihat sangat kecewa. 
Dia mencoba meyakinkan Salbina. 
“Ya jawaban orang ini adalah ...., Negatif, “  senyum sedih Salbina menatap Anggela. 
“Kalau begitu kita akan melaksanakan permintaannya waktu itu,“ senyum Hanafi mulai menutup matanya. 
“Ya.” Salbina mengusap air mata, lekas memberikan tatapan keseriusan pada Angela. 
“Permintaan!?” Anggela bertanya sangat terkejut penasaran. 
“Selain Elenka dan Elena. Halsy juga takut akan terulangnya kembali insiden yang mirip seperti mereka berdua. Dia sendiri yang sudah melihat bagaimana tragisnya kedua saudara itu hidup di dunia. Jika saja kamu tidak mengikutinya ke masa lalu, kami tak perlu memenuhi permintaanya ini,” senyum Hanafi yang memandang Anggela dengan penuh kekecewaan. 
“Ap-apa permintaanya?” khawatir Anggela bertanya. 
“......” Hanafi tak menjawab dan malah terlihat berkonsentrasi mengeluarkan kemampuannya. 
“Anggela, dengarkan aku. Ini hanya saran dariku .... Aku tau kamu masih menaruh perasaan pada Shina Shilvana, dan jika benar memang seperti itu ..., tolong jangan berpikir wanita lain ketika kamu sudah memilihnya, karena dia bukanlah orang yang kamu pikirkan. 
Karena mereka berbeda. 
Jangan kamu mengulang kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan pada dia yang selalu menyayangimu dan memperhatikanmu, dia yang tetap tulus mencintaimu meski kamu sering melihat wanita lain yang tak pernah kau raih dari dirinya,” senyum Salbina yang seolah mengucapkan perpisahan. 
“Ancient Magic Skill: Reset Mentes Worlwide .....! “ Hanafi menyentuh tanah dengan kedua tangannya. Wajahnya yang berkonsentrasi milikinya dihiasi kesedihan yang amat dalam. 
Tanah disekitar Hanafi mulai bergemetar cukup hebat, cahaya kebiruan seolah berniat keluar dari retakan dalam tanah. 
Hal itu sontak membuat Anggela terkejut. 
“Ap-apa yang dia lakuka –“ 
“Itu sihir tingkat tinggi milik Putri Mira!! Sihir yang melibatkan seluruh dunia ....! Dia berniat menghapus keberadaan seseorang dari ingatan semua orang di dunia ini!” bisik iblis yang berada dalam diri Anggela, nadanya terdengar sangat terkejut. 
“Seseorang, –  Halsy?!” Anggela terkejut bukan main, tubuhnya bergemetar ketakutan. 
“Ya, kami berniat menghapus keberadaan orang yang kami kagumi itu dari dunia in –“ 
“TU-TUNGGU DULU!! Ak-aku memang berniat melupakannya! Tapi bukan ini yang kuinginkan! Bukan berarti –“ 
“Tidak bisa Anggela, kamu hanya akan mengulang kesalahanmu yang dulu. Kamu pasti akan melihat sosok Halsy pada Shina. Seperti yang kamu lakukan pada Halsy yang melihat sosok Anggelina dalam dirinya.” 
“Selain itu, bukan hanya itu alasannya. Ada satu alasan lain kenapa kami harus menghapus keberadaan Halsy dari dunia ini,” batin Salbina fustasi. 
“Tapi!! –“ Anggela mulai menangis ketakutan. Dia berniat menghentikan Hanafi dengan kemampuannya tapi – 
ZWINGKKKK!!!! 
Cahaya berwarna putih kebiruan bersinar sangat terang menyinari semua mahluk bumi. Sinar yang terasa seperti flash kamera itu sontak membuat semua orang terkejut kebingungan. 
Tapi sesungguhnya flash itu telah membuat semua orang melupakan seseorang yang pernah hidup di bumi bersama mereka, seseorang yang sudah menyelamatkan mereka dari salah satu ancaman yang sangat mengerikan. 
Seseorang yang takan pernah menggapai impian satu-satunya. 
Kini Anggela yang menangis hanya terdiam kebingungan, ingatan tentang Halsy Aeldra sudah dimusnahkan dari kepalanya. 
Dia hanya kebingungan sambil memegang cincin yang tidak ia kenalinya itu. 
“Apa ini? Kenapa aku menangis,” tanya Anggela kebingungan. Dia mengusap wajahnya yang dilewati air mata. 
“Entahlah,” jawab Salbina tersenyum. 
“Eh ...?” 
Perbincangan tentang Halsy Aeldra sebelumnya terasa seperti tak pernah ada. Hanya beberapa orang yang masih mengingat akan keberadaan gadis itu, salah satunya Hanafi, Salbina, dan Herliana. 
Mereka ‘lah bukti jika gadis bernama Halsy Aeldra pernah hidup di dunia ini. 
Herliana hanya duduk menatap kosong lantai cafe ibunya. Gelas untuk pelanggan yang ia bawa terlihat pecah di lantai. Beberapa orang berteriak khawatir padanya yang terlihat sangat shock itu. 
Hanya satu kata yang terpikirkan dalam benaknya. 
“Negatif ....!?” 
Dirinya sungguh terlihat shock dengan air mata yang mulai mengalir deras. 
Kembali ke tempat Anggela yang masih kebingungan. Dia hanya terus mengamati sekitarnya seolah mencari jawaban kenapa dirinya bisa berada di pemakaman itu. 
“Anggela kenapa kamu disini, sebaiknya kamu segera pulang. Keluargamu sudah menunggumu,” senyum Hanafi menutup matanya. 
“Keluargaku?” 
“Nantikan saja kejutan di rumahmu,” senyum Hanafi membuka matanya. 
“Lalu cincin ini?” tanya Anggela kebingungan melihat cincin yang ia pegang. 
“Itu cincin yang baru kamu ambil dari lubang itu,” senyum Salbina menunjuk lubang tempat cincin Halsy berada. 
Tangannya bergemetar ketika menunjuk lubang tempat cincin Halsy berada. 
“Sebaiknya kamu simpan kembali, itu peninggalan cincin sepasang kekasih yang tak terpisahkan,” jelas Salbina dan Hanafi bersamaan. 
“Ah ba-baiklah,” Anggela menganggukkan kepalanya, dia menyimpan cincin itu dengan wajah yang masih kebingungan. 
Pada akhirnya Anggela kembali pulang ke rumahnya. Perasaan hangat dan kebahagiaan sudah siap menyambut kepulangannya. Keluarga dan teman-temannya akan menyambut kepulangannya dengan penuh rasa sukacita. 
Sungguh berbeda dengan dirinya.  
“......” Untuk sesaat suasana terasa hening ketika Anggela sudah pergi. 
Hanafi dan Salbina hanya menundukkan kepalanya. Suasana disekitar mereka terasa amat sangat muram. 
“Ba-baiklah Hanafi, kita harus menguburkan jasadnya .... Ini benar-benar perpisahan yang sesungguhnya,” senyum Salbina membuat gerbang dimensi. Dia memasang wajah datar, akan tetapi air mata yang banyak benar-benar keluar dari kedua matanya yang indah. 
Dia mulai menghapus air mata, membalikkan tubuh dan berjalan. Terlihat ingin pergi ke suatu tempat. 
“Baiklah, aku akan mengurus makamnya, kamu ambil jasadnya,” senyum sedih Hanafi memakai sarung tangan. Dia berjalan menghampiri makam Halsy Aeldra, berniat menggali makamnya yang kosong itu. 
“Ya,” jawab singkat Salbina melewati gerbang dimensinya. 
Hanya aura kesuraman amat dalam yang keluar dari mereka berdua. Aura yang amat sangat mirip dengan aura pemakaman. 
Salbina berpindah tempat dengan memasuki gerbang dimensinya. Dia berpindah tempat pada bangunan tua yang dipenuhi oleh peralatan rumah sakit amat canggih. 
Dia mulai berjalan dengan wajah murung, mulai berjalan menghampiri seorang gadis yang terbaring di atas kasur berkain putih bersih. 
Mata gadis yang berwarna merah muda itu terlihat kosong menatap langit-langit ruangan. Rambutnya amat panjang berwarna merah muda. Dia memakai pakaian one piece putih, dirinya terlihat menawan dan indah. 
Beberapa bagian kebutuhan sekunder seksualitasnya terlihat berkembang yang membuat dia terlihat menarik dan menawan. 
Tak ada gerakan dari seluruh tubuhnya, hanya mulutnya saja yang bergerak pelan seolah berniat mengungkapkan sesuatu. 
Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya itu, hanya sebuah gerakan bibir yang menyedihkan. 
“Sungguh malangnya nasibmu, sahabat. Sekarang kamu hanya manusia biasa yang lumpuh dan tak bisa berbuat apapun. Hanya sebagian kepalamu saja yang bisa kamu gerakan saat ini.” 
“.....” Tak ada jawaban dari gadis itu yang hanya terdiam menyedihkan. Berbagai macam alat peralatan rumah sakit menempel pada dirinya yang diambang batas kehidupan. 
“Kamu pasti terkejut karena masih hidup, kan? Maaf, waktu itu sebenarnya aku memberi pesan pada ayahku di masa lalu untuk menemui putri Mira. Berniat meminta tolong padanya untuk menyelamatkanmu. 
Lalu rencana untuk menyelamatkanmu ini pun dimulai ...., tentunya dengan orang yang kamu cintai sebagai kuncinya. 
Pisau arwah yang ditancapakan Anggela padamu hanya berfungsi untuk melepaskan kekuatanmu agar tidak stabil, sehingga kamu bisa kembali ke tubuh aslimu. Kekuatanmu yang berasal dari Elenka akan dimurnikan dan membuatmu menjadi manusia biasa seperti dulu. 
Kami hanya ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai, mendapatkan impianmu untuk menikah dengannya. Ingin dia senantiasa merawatmu yang sudah terlihat menyedihkan seperti ini dengan cinta yang tulus tanpa belas kasihan.” 
“.....” Tetap tak ada jawaban dari gadis yang lumpuh itu. 
“Tapi sepertinya memang mustahil yah bagimu untuk meraih impianmu itu. Aku sudah mendengar jawaban dari dia.” senyum sedih Salbina memejamkan mata. 
“Kenapa kamu mengatakan hal itu padanya? Mengatakan kalau kamu tak keberatan jika dia hidup bersama dengan sahabat sekaligus sepupumu itu ....,” Salbina menundukkan kepalanya, memegang erat tangan kanan gadis itu yang dingin, bagaikan es yang tak mendapatkan kehangatan. 
“.....” 
“Kini aku disini berniat memenuhi permintaanmu, berniat merelakkan kepergiannmu yang menjadi kunci untuk membuka lembaran cerita baru yang lebih membahagiakan.” 
“Maka dari itu ....., – hiks ...,” Salbina menangis menundukkan kepalanya. Kedua tangannya yang memegang tangan gadis itu bergemetar hebat. Tidak hanya itu, tubuhnya juga terlihat bergemetar seakan ketakutan. 
“......” Gadis itu yang sebelumnya berekspresi datar, kini mulai tersenyum menatap kosong langi-langit bangunan. 
Mata gadis itu sudah tidak bisa melihat apapun karena kelumpuhannya. Tapi air mata kecil mulai keluar melewati pipinya yang lembut. 
Dia mengangguk pelan seolah membenarkan apa yang ingin dilakukan sahabatnya.

“Maafkan aku, sungguh maafkan aku....,” Salbina menangis dengan senyuman menatap gadis itu. Dia mulai melepaskan kedua tangannya dari tangan gadis itu. 
Mulai melepas segala peralatan canggih rumah sakit yang menempel pada tubuh gadis itu. Beberapa organ dalam gadis itu juga sudah banyak yang tak berfungsi, termasuk jantungnya yang berdetak amat sangat lambat. 
Secara perlahan Salbina mulai memegang kening gadis itu, mulai menutup pelan kedua mata gadis itu sambil mengucapkan kata perpisahan yang amat dalam. 
“Selamat tinggal wahai sahabatku, Halsy Aeldra ....,” 
Saat itulah gadis berambut panjang merah muda itu, gadis bernama lengkap Halsy Aeldra itu benar-benar pergi meninggalkan dunia. 
Dia mulai menutup jasad sahabatnya dengan kain putih yang sebelumnya digunakan untuk kasur tempat Halsy berbaring. 
Tangannya tidak pernah berhenti bergemetar ketika dia menyelimuti tubuh kaku sahabatnya dengan kain putih. 
Tiap langkah kakinya yang membawa jasadnya mulai mengingatkan dia akan kebersamaan dengan sahabatnya itu, mengingat suka duka yang ia lalui bersama sahabatnya itu. 
Mengingat setiap ekspresinya, sifatnya, dan kelemahannya. 
Senyumannya yang menawan ..., kemarahannya yang khas ..., sifat kebaikannya pada semua orang..., sifat akan kepeduliannya pada orang lain ..., sifat kekanak-kanakannya yang menggemaskan ..., dan kelemahannya akan tak memiliki tanggung jawab pada dirinya sendiri membuat dia bergemetar seakan sulit untuk memasuki gerbang yang ia buat sendiri itu. 
Gerbang yang menuju tempat peristirahatan terakhir sahabatnya. 
Tapi apa yang bisa dia lakukan, karena permintaanya dan alasan tertentu dia harus mengantarkan sahabatnya itu untuk pergi selamanya. Meski dengan perasaan sakit yang amat sangat dalam, dia tetap melakukan itu demi hari damai yang diinginkan sahabatnya datang. 
Saat itu juga dia memutuskan untuk terlihat tegar ketika sudah melewati gerbang dimensinya. Tak ingin memasang wajah menyedihkan di depan perpisahan terakhir sahabatnya. 
Proses pemakaman Halsy berlangsung seperti pada umumnya. Hanya dua pengunjung yang menghadiri perpisahan terakhirnya. Keduanya hanya menatap sedih makam Halsy yang baru saja selesai. 
Ces ces ces ...... 
Wusshh! 
Hujan mulai turun. 
Langit seolah menangisi kepergiannya. 
Bersamaan hujan turun, terlihat Herliana yang baru sampai sambil membawa payung hitam. Dirinya yang cukup jauh dari makam Halsy terlihat sudah menyadari kalau sahabat atau teman masa kecilnya itu sudah dikuburkan. 
Tappp! 
Payung yang ia pegang terjatuh, dirinya yang terlihat memasang wajah kosong itu mulai dibasahi hujan. 
“Ap-apa yang sebenarnya sudah terjadi ....!? In-ini pasti mimpi buruk, mustahil Anggela menolaknya ....,” tatapan Herliana sungguh kosong dan duduk tertunduk menatap tanah tempat ia berpijak. 
Air mata Hanafi dan Herliana bersatu dengan air hujan yang mengalir dari atas kepalanya. Keduanya terlihat sangat sedih menundukkan kepalanya. Bahkan Herliana samapai menundukkan kepala, berteriak amat sangat ketakutan. Bergemetar, memeluk tubuhnya sendiri. 
Berbeda dengan kakak beradik itu, Salbina malah terlihat datar melihat makam sahabatnya, dia terlihat setegar mungkin dihadapan orang yang paling ia kagumi itu. 

***

Bagian Keempat: 
Kembali ke waktu sebenarnya. Lebih tepatnya di dekat makam Halsy Aeldra. 
Salbina masih terlihat bersandar pada sebatang pohon, mulai menundukkan kepalanya dan tersenyum memejamkan matanya. 
“Hanafi ...., sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama .... Aku berniat menghancurkan dunia ini yang selalu membuat hatiku sakit.” 
“Kebetulan sekali, aku juga sempat memikirkan hal itu,” senyum Hanafi memejamkan mata. 
“Tapi jika kita melakukan itu, kita sama saja tidak menghargai pengorbanannya,” lanjutnya. 
“Ya aku tahu hal itu ....,” jawab pelan Salbina terus menundukkan kepalanya. 
“Salbina –“ khawatir Hanafi. 
“Sungguh ...., apa ini benar-benar keinginannya? Apa kehidupannya benar-benar bahagia? Setelah apa yang dia berikan pada dunia ini, dia hanya mendapatkan semua ini,” senyum Salbina enteng mengangkat kepalanya. 
“ ‘Jangan salah sangka Salbina! Aku bahagia, sangat bahagia karena sudah hidup didunia ini. Buktinya kalian masih mengingatku dan tetap menyayangiku, buktinya aku sudah merasakan bagaimana perasaan dicintai itu ....’ Mungkin itu yang dia katakan jika dia berada disini,” senyum Hanafi memejamkan mata. 
“Pastinya dia akan menjawab seperti itu. Sungguh permintaan terakhirnya itu menggelikan, apa artinya jika dia ingin keberadaannya di dunia ini ditiadakan, ingatan tentang dirinya dari orang-orang sekitarnya dihapus untuk selamanya.” 
“Dia terpaksa menyuruhku untuk melakukan itu. Dia hanya ingin memutus perpecahan antara keluarga Aeldra dan keluarga Deviluck.“ 
“Aku juga tau akan hal itu,” senyum kesal Salbina. 
“Jika ingatan tentang Halsy masih ada, maka kebencian Keisha dan Anggela akan tetap ada pada keluarga Halsy yang sudah merenggut adiknya. Maka kejadian seperti Elenka dan Elena akan terulang kembali.” 
“Aku bilang sudah tau akan hal itu!” geram sangat kesal Salbina. 
“.......” 
“Karena kamu menyebut nama Anggelina tadi, aku jadi ingat sekarang. Kata Putri Mira, ini sudah waktunya untuk menghentikan Elena dan Anggelina.  Jika bisa sadarkan Anggelina dulu sebelum membunuhnya.” 
“Jika kita tidak bisa menyadarkannya?” 
“Kenapa kamu masih menanyakannya? Tentu saja kita musnahkan dia ....” 
“.......” 
“Lalu apa kita beritahu Anggela dan yang lainnya tentang masalah ini –“ 
“Jangan beritahu dia. Biarkan dia menikmati kedamaian yang diberikan mantan kekasihnya. Tapi jika dia ingin ikut terlibat untuk menghentikan adiknya, kita tidak bisa menghalanginya.” 
“Jadi kita biarkan dia mengetahuinya sendiri?” senyum Hanafi. 
“......” Salbina hanya menganggukan kepala. 
“Dan juga segera kasih kabar adikmu ..., waktu untuk menghentikan keduanya sudah dekat. Kita akan memulai cerita baru dengan menutup cerita lama yang dibuat Halsy Aeldra,” senyum Salbina mengepalkan erat kedua tangannya. 
“.....” 
“Sudah lebih dari cukup baginya untuk merasakan penderitaan dari dunia ini. Biarkan dia beristirahat tenang untuk selamanya, biarkan dia untuk melepaskan bebannya dan pergi meninggalkan kita,” Salbina bergumam kesal sambil menundukkan kepalanya. Nadanya terdengar sangat berat. 
Tubuhnya kembali bergemetar. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum melihat Salbina yang masih mencoba terlihat tegar. 
“Salbina asal kamu tahu ....., kamu bukanlah Halsy Aeldra,” senyum Hanafi memejamkan mata. 
“Maksudmu ....?” Salbina dengan tekanan nada semakin dalam. 
“Jangan berpikir kamu bisa terus menahannya. Sejak hari itu, sejak pemakaman itu ..., kamu belum mengeluarkan ekspresi itu –“ 
“URUS SAJA URUSANMU SENDIRI!!” teriak kesal Salbina. Teriak kemurkaan yang amat dalam dari dia yang telah kehilangan seseorang sangat berharga baginya. Angin berhembus mengerikan, alam seolah ketakutan terhadapanya. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum menghampiri Salbina, mulai memberikan sapu tangannya sambil berkata. 
“Aku akan pergi .... Tak apa, ekspresi yang kamu keluarkan tadi dan nanti adalah wajar. Gadis yang saat itu pergi meninggalkamu merupakan gadis yang sangat kau banggakan, sangat kau hargai, dan bahkan sudah kau anggap seperti keluargamu sendiri. Kau bisa melepas emosi itu sekarang ....,” senyum Hanafi, setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan Salbina sendirian. 
“......” 
Salbina mulai berdiri, membuang sapu tangan yang sebelumnya diberikan Hanafi. 
“Aku tak butuh belas kasihanmu ....!”  
Dia berjalan menghampiri makam Halsy Aeldra dan duduk tepat disampingnya. Mulai mengambil sesuatu dari sakunya sambil terus menundukkan kepala. 
Dia mengeluarkan dua buah roti coklat, roti kesukaan sahabatnya. 
Salah satunya dia simpan tepat di kepala makam sahabatnya itu, sedangkan satu lagi terlihat ia buka dan dia makan sendiri. Terus ia makan sambil menundukkan kepalanya. 
Clak clak ... 
Air mata mulai jatuh dari kepalanya yang tertunduk. 
“Se-sekarang sisanya serahkan semuanya padaku, Halsy .... Aku akan memenuhi semua permintaanmu .... Hiks .... Ak-aku akan melindungi orang-orang yang kamu sebutkan dimasa lalu, orang-orang yang berharga bagimu. Aku akan membantu sahabatmu untuk menghentikan Elena ....., Hiks,” Salbina mengangkat kepalanya, tersenyum bahagia dengan air mata yang keluar deras dari wajahnya. 
“In-ini tak apa kan? Aku bisa menangis dengan senyuman ikhlas melepas kepergianmu ....., kan?” Salbina terus menangis dengan senyuman. 
Tapi pada akhirnya dia kembali menundukkan kepalanya, mengepalkan erat kedua tangannya sambil berteriak menangis amat dalam. 
Menangis sejadi-jadinya karena kehilangan orang berharga untuk kedua kalianya. 
“UAAHHHHAAAA ...!! UAHAAAA!!!!” 
“......?” Hanafi yang sudah cukup jauh dari Salbina seketika tersenyum dan menghentikan langkah. Dia mulai bergumam.
“Akhirnya dia mengeluarkan perasaannya.” 
Seorang gadis tiba-tiba keluar dari balik pohon di sekitar Hanafi, rambutnya amat panjang berwarna emas. Telinganya yang juga amat panjang terlihat menawan. 
Fisik gadis itu terlihat berumur sepuluh tahun. Dia tersenyum melihat Hanafi. 
“Itu lebih baik, akan berbahaya jika dia terus menahan emosinya itu. Pada dasarnya Salbina mewarisi sedikit kekuatan Hellblau. Meski dia bukan orang terpilih itu, tapi dia sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan bumi ini.” 
“Putri Mirachulum,” senyum Hanafi melihat gadis itu. 
“Kamu sudah bertambah tinggi yah, Hanafi ...,” senyum Mira, sang keturunan terakhir Ras Elf. 
“.......” Hanafi hanya tersenyum menganggukan kepala. 
“Hanafi ...,” senyum Mira mulai memandang langit yang cerah. 
“.....?” 
“Apa pendapatmu terhadap pelangi yang indah?” 
“Eh?” Hanafi hanya terdiam dan kebingungan. 
“Jawab saja ...,” senyum Mira melihatnya. 
“Pelangi adalah kejadian alam yang menawan, pemandangan yang mendamaikan hati, dan keindahan tak berujung yang menarik perhatian semua orang hingga membuat mereka mengagguminya.” 
“Begitu ....,” senyum Mira memejamkan mata. 
“Tentunya kamu tahu bagaimana pelangi yang indah itu tercipta, kan?” 
“.....,” angguk Hanafi. 
“Mereka tercipta dari butiran hujan yang mudah dilupakan orang lain, yang terkadang tak diharapkan kedatangannya,” lanjutnya. 
“......” Hanafi hanya terdiam terkejut, dirinya akhirnya terlihat paham akan arti perkataan keturunan terakhir ras Elf itu. 
Dia hanya menundukkan kepalanya, menutup matanya dengan kesedihan yang kembali datang. 
“Nah Halsy Aeldra, mungkinkah kamu meniru butiran hujan itu?” senyum Mira bertanya pada langit. 
“......”

***

Di tempat lainnya, di atas atap bangunan yang tidak jauh dari pantai tempat bermain Anggela dan yang lainnya. Terlihat ketiga orang gadis yang sebelumnya sudah diperlihatkan, tiga gadis misterius yang memakai jubah besar berwarna biru. 
“Anggela …..,” gumam sedih Almeera menatap Anggela. 
Almeera terlihat sudah melepaskan penutup kepalanya. Rambutnya panjang bergelombang berwarna putih seperti Keina dan Anggelina. Di ujung rambutnya terlihat berwarna biru yang bercampur dengan warna dominan rambutnya. 
Rambutnya benar-benar mirip seperti Anggela. 
Tidak hanya itu, wajah dan warna kulitnya benar-benar mirip seperti Keina. Tatapannya yang terlihat seperti Serraph menatap sedih Anggela yang sedang bermain bersama sahabat dan kekasihnya. 
“Putri Almeera ...,” sedih Rina yang juga sudah membuka penutup kepalanya. Rambut high ponytail berwarna coklat. Matanya berwarna hitam bagaikan Black Pearl. 
“Kak Rina, bukankah aku sudah bilang …, panggil aku Almeera saja,” senyum sedih Almeera yang terus melihat Anggela. 
“......” Rina hanya tersenyum melihat Almeera, mengangguk pelan menuruti kemauan gadis manis itu. 
“Jangan buat kakak mengulang perkataan kakak lagi, Almeera. Kamu bisa bertemu dengan siapapun, asal jangan dengan bajingan itu,” kesal Putri yang masih memakai penutup kepalanya, dia menatap tajam Anggela. 
“……” Almeera hanya menundukkan kepalanya sangat sedih. 
“Tu-tunggu Putri …! Setidaknya biarkan dia bertemu dengan keluarganya itu sekali. Berbeda denganmu, sejak lahir Almeera tidak pernah bertemu dengan Anggela –“ 
“Jangan buat aku mengatakannya lagi Rina!!” teriak kesal Putri. 
“……….” Almeera dan Rina hanya terdiam ketakutan. 
“Hanya dia …., hanya dirinya yang takan kumaafkan!!” kesal Putri, aura kemarahan mulai terasa disekitarnya. 
“Aku dengar jika dulu kamu sangat menyayangi dan menghormati Anggela ….,” khawatir Rina. 
“Itu dulu … Sekarang aku membencinya, amat sangat membencinya.” 
“Jika kamu membencinya kenapa kamu waktu itu menyelamatkannya?” tanya Rina sedikit kesal. 
“Apa maksudmu, Rina …..?” Putri sedikit melirik Rina. 
“Aku tidak bodoh. Saat di ruang perbatasan kamu membuat pertahanan untuk Anggela dan Halsy dari serangan terakhir Elenka. Kamu memberikan cukup waktu untuk –“ 
“Itu bukan aku …..,” pelan Putri kembali menghadap ke depan. 
“Aku bilang jika aku tidak bodoh Putri, aku dan Almeera menyadari jika kamulah yang menyelamatkan mereka.” 
“………” Putri hanya terus diam tak merespon pernyataan Rina. 
“Ancient Weapon: Aegis’s Shield ……, hanya kamu saat ini yang bisa menggunakan perisai itu, Putri Angelina ….,” 
“Sudah kubilang jangan memanggil namaku lagi ….!! “ teriak kesal Putri. 
Aura kemarahan yang dipancarkannya semakin kuat. 
“......” Rina hanya terdiam dengan tangan bergemetar. 
Dia sungguh ketakutan. 
“Ba-baiklah aku tak akan memanggilmu seperti itu lagi, Putri.” 
“.......” 
“Dunia ini sudah tidak karuan, sudah terlalu tua untuk berjalan. Aku terus menerus melihat ketidakbenaran yang terjadi pada dunia ini. Kemunafikan dan kepura-puraan, dominasi dan haus akan nafsu ..., selalu merangkul umat manusia ... ” 
“......” Rina dan Almeera hanya tersenyum sedih melihat gadis yang terlihat kecewa itu. 
“Sebaiknya kita segera menyelesaikan tugas kita ini,” senyum Putri menundukkan kepalanya. 
“Lalu bagaimana jika Anggela dan yang lainnya menghalangi tujuan kita itu?” tanya khawatir Rina. 
WUASSHH!!! 
“.......” 
Bersamaan pertanyaan Rina tersebut, angin laut berhembus kencang hingga membuat penutup kepala gadis yang dipanggil Putri terbuka. Rambutnya terlihat putih seperti Anggela, wajahnya tidak terlihat karena dia masih menundukkan kepalanya. 
Saat itulah dia menjawab pertanyaan gadis bernama Rina itu. Jawaban yang membuat adiknya hampir menangis ketakutan. Jawaban yang membuat tubuh adiknya itu bergemetar ketakutan. 
“Bukankah sudah jelas? Kita hancurkan mereka ....”

***

My Dearest Jilid 2 Chapter XL Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.