30 Januari 2017

Hyouka Jilid 3 Bab 2-2 LN Bahasa Indonesia


UJIAN KUIS
(Translator : Faris; Editor : Hikari)


Ujian kuis diadakan oleh Klub Kuis…. Ini seperti turnamen kuis terbesar di Kota Kamiyama!
Ini karena aku belum pernah mendengar turnamen kuis yang diadakan di kota ini.
Bagiku, ujian kuis ini akan diadakan pada hari pertama. Tak ada yang lebih besar dari ini, tak ada database yang lebih lengkap daripada ini!
Tetapi aku tetap terkejut oleh ini, Karena aku tidak pernah mengharapkan banyak orang untuk ikut; disana terlihat sekitar 200 orang. Beberapa terlihat peserta dari luar, mayoritas siswa SMA Kamiyama. Jadi, itu hampir 20 % siswa! Aku cemburu, jika saja Klub Kerajinan tangan dan Klub Sastra Klasik bisa mengumpulkan 100 orang seperti itu, kami bisa menjual antologi itu tanpa waktu yang lama.
Di salah satu sudut lapangan sekolah sebelum podium, aku bisa mendengar semua suara yang berisik ini.
“…Bagaimana kalau kita melihat Brass Band?...”
“…Bagaimana dengan Klub Film? Kau tidak perlu menjadi penggemar film untuk melihat pertunjukkannya, tetapi….”
“…Sungguh?hahaha, berarti itu sekarang… .
“…Tapi bukankah itu terdengar aneh….?”
Dimulai dengan saat aku membayangkan orang yang berpartisipasi, tidak hanya itu, aku melihat ini sejak kemarin malam, membayangkan 200 orang datang. Seperti kampanya publik.
Sekarang pukul 12.30 lewat, saatnya klub siaran sekolah on air. Klub Siaran radio. Dengan backsound musik pop santai, siaran dimulai dengan topik terhangat selama Festival Kamiyama kepada para pendengar. Sekitar 15 menit siaran berlangsung dengan wawancara oleh ketua Klub Kuis, yang terdengar:
“Tahun ini merupakan turnamen ke 7. Seperti biasa, kami menawarkan hadiah yang menarik, tetapi saat ini kami sedang menyiapkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapapun. Dan juga, anggota Klub Kuis tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi, jadi kami yakin ini adalah kesempatan emas untuk semuanya. Ini terbuka untuk semua orang….. sederhananya, kami akan memulai dengan pertanyaan benar dan salah, lalu peserta berlari memilih lingkaran benar atau salah sesuai dengan jawaban mereka. Itu akan menjadi latihan yang bagus, kan?”
Dia paham cara untuk mengendalikan acara. Dengan beriklan di siaran radio, aku rasa mereka bisa mendapat kesuksesan, tapi aku salah. Tidak menghitung penonton, disana sudah ada 200 partisipan. (Ini hanya angka perkiraan, aku tidak tahu berapa banyaknya orang disana. Pastinya akan ada ratusan orang.)
Dan aku harus menyebutkan Klub Kuis juga beriklan di mading Klub Surat Kabar. Selama Festival Budaya, Klub Surat Kabar menerbitkan edisi khusus setiap dua jam. Dan pada hari pertama jam 12 siang edisi tentang aktivitas Klub Kuis hari ini terdengar menarik. Dengan menempelkan edisi khusus di papan pengumuman sekitar sekolah, mereka akan sangat hati-hati terhadap aktivitasnya.
Sepertinya Klub Sastra Klasik akan membutuhkan bantuan Klub Siaran dan Klub Surat Kabar jika itu memang objektif. Aku harus memberitahu Chitanda-san ini nanti.
Omong-omong, aku terlalu khawatir setelah ujiannya. Sekarang aku harus fokus pada ujian Kuis, ini sangat penting bagiku untuk meraih peringkat tinggi, mengingat aku tidak mengikuti acara favoritku dalam kapasitas personal, tetapi atas nama Klub Sastra Klasik. Tanpa melukai yang lainnya, tetapi hanya satu yang bisa menjadi juaranya. Jadi ini bukan tugas yang mudah.
Ketua Klub Kuis berjalan ke podium. Dia bukan orang yang kukenal. Jika ada siswa SMA Kamiyama yang aku tahu, maka dia orang yang spesial atau eksentrik. Mic dalam genggaman tangannya. Suara noise yang muncul saat dia mengetuk mic dan mulai berbicara.
“Selamat datang pada ujian kuis. Terus terang, kami terkejut dengan banyaknya peserta hari ini. Tahun ini adalah ujian kuis yang ke 7, dan yang terbesar sejauh ini….” Blah, blah, blah, diikuti dengan, “Sekarang mari kita mulai turnamennya. Pertama kita harus menjawab pertanyaan benar dan salah. Di sebelah kiri adalah jawaban benar dengan sebuah lingkaran, sedangkan di sebelah kanan adalah jawaban salah dengan tanda silang. Satu dari anggota kami akan membacakan pertanyaannya, dan kalian harus memilih jawaban benar atau salah, dan jawaban yang benar akan terus melanjutkan kuis. Permulaan kuis akan dilanjutkan hingga tersisa 5 kontestan. Kalian hanya mempunyai waktu 15 detik untuk menjawab pertanyaan. Sekarang ujian kuis ke 7 dimulai!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, seorang gadis anggota Klub Kuis naik ke podium dan menerima mic yang diberikan oleh ketua yang turun dari podium. Ini sedikit mengurangi rasa sakitku, kata-kata ketua Klub tidak terdengar cerdas.
Gadis itu memegang mic sambil melihat kartu petunjuk di tangannya dan mengatakan dengan jelas, “Pertanyaan pertama! Jika ‘berlian’ dalam Bahasa Jepang disebut ‘kongouseki’ (batu berlian), maka ‘emerald’ disebut ‘ryokuchuugyoku’ (batu permata hijau). Benar atau salah?”
Hmm, sekarang bagaimana aku menjawab ini?
Tentu saja itu benar. (Karena tidak seperti berilium, komposisi kimia dalam emerald tidak mengandung biru laut, atau itu akan disebut ‘ryokuchuuseki’ (pilar batu hijau)! )

***

Sekarang aku memikirkan tentang itu, tempat ini sepi seperti gurun.
Alasan aku berada disini karena aku tahu festival doujinshi sesungguhnya. Ini bukan festival doujinshi, tetapi festival budaya sekolah. Di sini bukan tempat untuk orang-orang yang tertarik dengan manga dan anime berkumpul. Ini mengingatkanku saat tahun lalu datang kesini dengan Fuku-chan saat masih SMP… dan aku tidak ingat berapa banyak orang yang datang. Saat aku mencari harta karun itu, aku diperingatkan oleh orang di sekitarku.
Tapi itu benar bahwa saat ini banyak anggota klub disini yang banyak mengganggur. Jadi suasana kebebasan mereka terasa sedikit tegang … hasilnya, aku harus meminta mereka untuk menjual antologi kami.
Saat sekumpulan pelanggan pergi, ruangan kembali sepi, dan kami bisa mendengar sebuah speaker keras dari jauh. Ruangan ini terletak pada Blok umum dengan lapangan tengah yang berbatasan dengan Blok Khusus, seharusnya itu sulit untuk didengar dari sini.
“Mayaka, ada apa?” gadis yang duduk di sebelahku bertanya.
“Tidak ada apa-apa, hanya penasaran dengan apa yang terjadi di halaman tengah.”
“Oh, itu pasti Klub Kuis.”
Aku baru ingat siaran radio membicarakan tentang itu. Sebuah turnamen kuis, huh? Jika itu keadaan sebenarnya, maka Fuku-chan pasti mengikuti turnamen itu. Mendengarkan dengan seksama, aku bisa mendengar pertanyaan yang diberikan melalui speaker.
“…. Pertanyaan berikutnya! Kata “darui” berasal dari Bahasa inggris “dull.” Benar atau salah?”
Eh?
Aku tak punya waktu untuk memikirkan itu. Berhenti menanyakan pertanyaan bodoh! Tetapi jika tentang benar atau salah, maka pasti digunakan untuk menyaring banyak kontestan. Jadi aku sedikit tertekan karena aku takt ahu jawabannya, aku menduga aku tidak akan menjawabnya.
Gadis disebelahku juga mendengarkan.
Dia tersenyum dan bertanya padaku, “Jadi, apa pendapatmu?”
“Hmm,”
Aku tahu “saboru” berasal dari “sabotage,” jadi “darui” pasti sama, bagiku itu tidak terasa aneh.
Jadi aku berkata dengan pelan, “Benar, kurasa?”

***

Setelah 15 menit berlalu, suara kontestan bergemuruh memilih antara lingkaran “benar” atau “salah”. Di antara pilihan itu, lima memilih “benar” dan empat memilih “salah”. Karena ini babak penyisihan, kemungkinan ini adalah putaran terakhir.
“Jawabannya adalah.....”
Pembawa acara menahan suaranya membuat suasana tegang.
“.............”
Kau melakukan ini berlebihan.
“.......SALAH! ini akhir babak penyisihan!”
YA! (sebenarnya, aku tidak begitu mengetahui etimologi dari kata darui, tapi aku tahu jika kata itu bisa ditulis dalam  tulisan kanji 怠い maka itu tidak terdengar asing.) Pembawa acara yang yang membuat suasana tegang itu menjawab, sekarang dia memainkan tangannya sambil menari dan menunjuk kearah peserta.
“Selamat kepada empat peserta yang memilih jawaban ‘Salah’ telah melewati babak penyisihan! Harap menuju podium untuk melajutkan ke babak final.”
Aha, sekarang kesempatanku untuk menunjukkan kepada semuanya. Untuk itulah aku disini. Saat berjalan ke podium, seseorang menepuk bahuku dari belakang.
“Yo, Fukube, kau melakukannya dengan baik, huh?
Orang yang berkata itu adalah.....
..... Tunggu sebentar, aku berusaha mengingat namanya. Aku tahu orang ini, jujur. Untuk sesaat aku berusaha untuk menjawab.
“Tentu saja.”
“Kau tidak mengingatku?”
“Haha, aku terlalu fokus pada kuisnya.”
Siapa dia? Aku tahu dia teman kelasku.
Dia bukan dari anggota Osis atau Klub Kerajinan Tangan, mungkin satu-satunya peluang adalah dari kelasku. Orang yang kupikir berada dari luar kelasku Juumonji-san.
Tidak, tunggu, aku ingat. Aku yakin itu. Aku hanya tidak bisa mengingat namanya.
“Jadi, bagaimana dengan Klub Go, Tani-kun?”
Tani Koreyuki, anggota Klub Go, dia orang unik yang juga kesulitan saat menyebut nama. Kami adakalanya mengobrol sedikit di kelas, aku tidak terlalu akrab dengannya, jadi dia bisa dihitung satu dari “kenalanku.” Sekarang aku melihat wajahnya lagi, dia mempunyai rahang yang tegas dan hidung yang melingkar. Tetapi, dia tidak meninggalkan kesan padaku dibalik itu, ini berarti sikapnya sekarang diluar kebiasaan.
Aku lebih tertarik pada orang yang mengejutkanku. Chitanda-san menarik perhatianku, dan Houtarou mengejutkanku sejak kami masuk SMA. Untuk orang yang tidak mengejutkan,jika mereka tidak mempunyai hal menarik pada aktivitas klub, aku sedikit kesulitan untuk mengingat nama mereka.
Sebelum berada disini, Tani-kun lolos pada babak penyisihan. Dan melewati pertanyaan yang tidak mudah. Aku lihat sekarang, Tani-kun, kesanku padamu sebagai orang yang normal mungkin salah. Dia bisa berada disini karena memiliki pengetahuan yang luas atau keberuntungan.
Tani-kun menunjukkan kegembiraanya.
“Go Klub? Aku punya sesuatu yang menarik untukmu, kau mau dengar?”
Sesuatu yang menarik, huh? Jika itu sesuatu yang bisa mengubah kesanku pada Tani-kun, ini pasti sesuatu yang tidak pernah diberitahu olehnya sebelumnya, karena aku tak tertarik mendengarnya.
“Harap melangkah ke podium!”
Pembawa acara mengulang kalimatnya. Oh ya, kesempatanku untuk membuat ketertarikan. Aku menggoyangkan telapak tanganku mengikuti gestur Tani-kun menuju ke podium.
Di atas podium terdapat tiga orang laki-laki dan satu perempuan. Aku melihat mereka sekilas; dibalik Tani-kun, aku tidak tahu satupun dari mereka. Mereka adalah “Kaisar Wanita” Irisu Fuyumi-senpai, Ketua Osis Tanabe Jirou-senpai, atau “Ahli Pustaka” Juumonji Kaho-san, lalu aku mungkin akan mengangkat tanganku saat pengunduran diri. Saat aku yakin dengan pengetahuanku lebih baik dari mereka, aku merasa tidak bisa mengalahkan mereka. Aku tidak berpikir bahwa databaseku akan menerima fakta ini.
Pembawa acara mewawancara dan menanyakan nama kepada tiga kontestan yang suah siap, termasuk Tani-kun. Dan sekarang adalah giliranku. Pembawa acara memegang micnya dan tersenyum.
“Ok, finalis keempat kita! Bolehkah kami mengetahui kelas dan namamu?”
Aku menenangkan diriku didepan 200 peserta dan ribuan pendengar melalui speaker,
“Aku Fukube Satoshi dari Klub Sastra Klasik.”
“Huh?”
“Klub Sastra Klasik, literatur klasik.”
Pembawa acara itu terlihat kebingungan untuk sesaat. Dia tidak terlihat seperti orang yang tahu bagaimana mengatasi kejadian tak terduga saat acara berlangsung.
Kemudian dia mengangguk dalam dan berkata, “Aku mengerti! Aku tidak pernah tahu ada klub seperti itu. Kita semua memiliki klub yang aneh, ya kan?”
Sejauh ini cukup baik. Aku mendapatkan perhatian tanpa mengacaukan diriku dan mengatakannya secara alami. Tanpa permintaan itu, aku bisa berkata dengan bagus dan mengatakan apapun yang kuinginkan.
“Walaupun kami menyebutnya Klub Sastra Klasik, kami tidak seperti cover literatur klasik Tsurezuregusa[1]. Jujur, aku pun tak tahu apa tepatnya yang harus dilakukan, jadi ini klub yang aneh. Setelah semuanya, ini adalah klub yang kembali dari gelombang penghapusan jika tidak ada anggota yang bergabung. Kau bisa menyebut kami adalah klub penerbit antologi. Jadi kami menerbitkan satu, kau lihat. Dan ini antologi yang luar biasa, karena kami terlibat didalamnya...”

***

“...Kami berusaha melakukannya..”
Yeah, kami yakin itu.
Dari segi kuantitas.

***

Dalam penilaian apapun, kami berhasil menyelesaikan misteri yang berkaitan dengan Festival Kanya.”
“Oh, sungguh? Dan apa itu?”
Ketertarikannya membuat dia tidak terlihat berbohong. Ini yang kuharapkan, akan mudah menghubungkan mereka jika aku beritahu kepada mereka “ada pengetahuan yang bahkan Klub Kuis tidak mengetahuinya.” (Tidak, aku tak berniat untuk bersenang-senang di Klub Kuis ini. Sejak aku sendiri sebagai kandidat dan juga sebagai anggotanya, tapi aku mengakhirinya dengan menggunakan mereka sebagai contoh.) Dengan nyaman, aku mengeraskan suaraku.
“Dan itu tidak lain adalah tentang asal muasal nama Festival Kanya. Aku akan mengatakannya disini, dan itu bukan singkatan dari Festival Budaya SMA Kamiyama.’ Klub Sastra Klasik sudah mempunyai jawabannya.”
“Sungguh? Apa itu?”
“Itu...”
Aku menggoda sedikit.
“Tentu saja, itu rahasia. Akan tetapi, akan menjadi masalah jika tak ada yang membeli antologi kami. Hanya 200 yen, itu tawaran yang bagus, kalian bisa mengetahui rahasia Festival Budaya SMA Kamiyama 33 tahun yang lalu! Semuanya tertulis dalam antologi ‘Hyouka’! Sekarang dijual di Ruang Geologi lantai empat blok khusus dengan sambutan hangat!”
Aku melotot pada keramaian sambil meninju udara dengan tangan kanan.
Aku penasaran apakah aku berlebihan? Untuk sesaat sebuah kegelisahan menghantuiku....
Tepuk tangan penonton bergemuruh. Seperti yang kurasakan saat upacara pembukaan, setiap orang merasakan atmosfir keajaiban. Taruhanku bekerja, ini berhasil!
Selama aku berdiri, aku merasa seperti ingin menangis.
Tak masalah jika aku kalah pada turnamen kuis ini.

***

“Sekarang dijual di Ruang Geologi lantai empat blok khusus dengan sambutan hangat!”
Ehh? Kami mempunyai sambutan hangat?
A-aku tidak tahu itu.
Ini luar biasa. Aku punya harapan untuk ke depannya.

Suara kesenangan itu terdengar dari lapangan belakang. Terima kasih Fukube-san, keramaian itu terlihat terharu dengan kata-katanya. Kurasa dia akan melangkah lebih jauh, pada sebelumnya, turnamen kuis dimulai saat aku mendengar suara keras mengumumkan permulaan. Aku berdoa untuk keberhasilanmu, Fukube-san.
Aku harus melakukan yang terbaik.
Berpikir tentang itu, lebih terlihat efektif mempercayakan seseorang untuk menjual antologi untuk kepentingan kami. Akan tetapi, , jika hanya menaruh cetakan “Hyouka” pada stand orang lain tidak akan menambah daya tarik. Jadi sangat penting untuk mencari tempat baru untuk menjual antologi itu, bukankah juga penting untuk meningkatkan daya tarik “Hyouka” ?
Aku pergi seperti akan pergi makan siang. Sebagai contoh, misalkan keluargaku berdagang, normalnya kami harus memutuskan di mana tempat yang cocok untuk menjual beras. Jika kami ingin memperluas pasar, jika kualitasnya di bawah standar pemerintah maka tak ada yang mau membeli beras keluargaku.
Ini karena beras bukan produk yang sensasional, seperti antologi kami sekarang, bukan bahan pokok yang diperlukan. Jadi situasi yang dihadapi Klub Sastra Klasik mirip dengan kondisi itu.
Beras biasanya dijual dalam skala besar, pastinya dengan “kualitas bagus.” Maksud “kualitas” disini adalah “rasanya”, “keamanannya”, “ terjangkau.”
Tetapi, “Hyouka” adalah produk jadi. Walaupun kami menjamin kualitasnya, kami tak bisa meningkatkanya lebih dari ini. Variabel yang bisa kami manipulasi hanya “harga yang terjangkau ,“ tetapi kami memilih untuk memasang harga terlalu tinggi sebelum mencapai titik balik modal.
Untuk menyesuaikan kualitas “Hyouka,” aku memutuskan untuk mempertimbangkannya dari perhatian publik.
Dan juga, mataku tertuju pada edisi khusus majalah dinding, harian SMA Kamiyama. Setelah membaca detailnya, mereka menerbitkan satu edisi khusus setiap dua jam. Jika “Hyouka” bisa mendapat perhatian disana, lalu setiap orang akan mengetahuinya. Kebetulan, aku kenal dengan ketu Klub Mading. Sejak aku memiliki koneksi dapat membawamu kemana saja.
Omong-omong waktu makan siang telah selesai, aku sibuk mencari ketua Klub Mading...
“Hey, Chitanda-san, ingin melihat itu?”
“Ehh? Maaf, aku sedang sibuk.”
“Baiklah semuanya, penampilan kedua Klub Sulap akan dimulai lima menit lagi!”
...Oh ya, aku menuju Klub Mading. Aku mendengar seseorang sedang mengobrol dibelakangku.
“Kamu sudah nonton film yang dibuat oleh kelas 2-F belum?”
“Yeah, sudah. Film yang bagus, bukan?”
Ugh.
Semua dekorasi dan kegiatan ini sangat menarik. Saat ini aku iri pada kemampuan Oreki-san yang tidak tertarik pada apapun.
Sebelumnya, aku datang ke Ruang Biologi dilantai tiga Blok Khusus, dimana Klub Mading berada. Saat ini, anggotanya berdekatan dengan Ruang persiapan daripada Ruang kelas, disana banyak pensil, gunting, lem dan kamera instan berserakan. Terlihat seperti meja normal yang akan digunakan untuk bereksperimen dengan empat orang, yang tidak terlihat sibuk. Salah satu dari mereka, Toogaito Masashi-san, orang yang kukenal menjawab salamku dan berdiri.
Aku menyapa lebih dulu, saat aku melihat Toogaito-san. Ayahnya terkenal dengan pemikirannya, itulah caraku mengenalnya. Sejak bulan Juli ini kami baru berbicara untuk pertama kalinya.
Dengan sebuah senyum, Toogaito-san memberi salam.
“Hal\o”.
Aku membungkukkan kepala. Berhati-hati agar tidak membuat kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan pada Tanabe-san, aku memilih kata dengan hati-hati.
“Selamat sore, Toogaito-san. Bisakah Klub Mading menulis cerita tentang Klub Sastra Klasik?”
Akan tetapi, mata Toogaito-san melebar setelah aku mengucap kalimat itu. Aku penasaran apakah yang aku katakan salah? Dengan kebingungan aku mengingat kembali apa yang kukatakan, aku tidak menemukan sesuatu yang tidak sopan.
Oh tidak.. apakah aku lupa menjelaskan situasinya terlebih dahulu?
Toogaito-san melihat sekilas anggota klub yang lain sebelum kembali padaku dan berkata dengan suara pelan, “...Ini semua dengan tiba-tiba? Ini tidak mungkin.”
“Oh maaf. Apakah aku harus membuat janji terlebih dahulu?”
“Tidak, bukan itu maksudku,”
Toogaito-san menggaruk kepalanya sambil berkata, “Aku bukan anggota Klub Mading sakarang.”
“Eh?”
“Saat ini aku masuk tahun ketiga, jadi sudah saatnya pensiun dari klub.”
Oh.
Apakah aku tidak memberitahumu sebelumnya? Ini akan terlihat lebih natural. Lebih nyata.
Aku minta maaf.”
“Tidak, kau tak perlu minta maaf..”
Untuk sesaat, aku merasa putus asa, dan sedikit tertekan. Tapi kemudian sebuah ide datang dikepalaku. Jika Toogaito-san pensiun, mungkin ini bisa bekerja.
“Lalu, bisakah kau mengenalkanku pada salah satu juniourmu, jadi aku bisa membuat permintaan padanya?”
Walau begitu, Toogaito-san terlihat lebih suram dari sebelumnya.
“Yah, aku bisa mengenalkanmu, tetapi kupikir itu tidak membuat perbedaan.”
“Tidak ada perbedaan?”
“Edisi Khusus kami terbit setiap dua jam, jadi kami harus mempersiapkan semuanya sebelum itu. Jadi meminta untuk menulis sesuatu tentang Klub Sastra Klasik saat ini terlalu rumit, kau lihat.”
Aku mengerti. Intinya, aku tidak dapat mempromosikan Klub Sastra Klasik di edisi spesial setiap dua jam, karena aku tidak memperhatikan bahwa mereka harus menyiapkan semua draft pada waktu sebelumnya.
Jadi, aku berkata dengan pasrah, “Jadi, tidak mungkin ya?”
Diriku terdengar tertekan.
“Yah, bukan berarti tidak mungkin juga. Kami masih mempunyai dua hari untuk publikasi beritanya, itu bisa selesai. Tetapi, “Toogaito-san berkata dengan ekspresi tertekan, “Kami tidak ingin menulis cerita hanya karena mereka memintanya. Disini ada lebih dari 50 klub yang mengikuti Festival Kanya; kami tidak bisa mengenalkan semunya, jadi kami memberikan prioritas untuk klub yang memiliki aktivitas yang unik, kemudian kami menulis sesuatu tentang mereka.”
Itu adalah aturan berdasarkan kondisi untuk menulis sebuah cerita.
“Lalu, aktivitas seperti apa yang ditulis?”
“Kegiatan klub yang mereka lakukan dengan serius, jadi jika kami mendapat permintaan penulisan cerita yang sesuai dengan kriteria kami, kami akan mempublikasikannya.”
Tetapi kami tidak punya iklan apapun.
Beberapa saat yang lalu, Fukube-san menjelaskan tentang bagaimana asal muasal nama “Festival Kanya.” Lalu Toogaito-san mengatakan hanya aktivitas klub yang serius. Jika hanya berdasarkan nama, mungkin tidak cukup untuk mengisi kontennya walaupun “Hyouka” bisa disebut atraktif...
Maafkan aku, Oreki-san, Fukube-san, aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Mayaka-san sekarang. Sekali lagi, aku tidak bisa membantu mereka.
“... Oh begitu. Maaf telah mengganggu waktumu..”
Walaupun aku mencoba untuk tersenyum, Toogaito-san menjawab “Datanglah kembali jika kau menemukan sesuatu yang menarik, aku akan membantu sebisaku.”
Aku membungkuk memberi hormat, tapi sekarang aku tidak yakin jika aku mempunyai kekuatan untuk terus maju.
Kami tidak membuat perubahan, dan aku merasa kehilangan semangat dan kekuatan. Tapi tidak bagus jika kami putus asa, jadi aku mencoba berkalan dengan normal. Walaupun aku penasaran jika rasa putus asa ini tetap terungkap oleh wajahku. Bejalan melewati koridor yang sudah di dekorasi, tidak tahu kemana akan pergi, aku mendengar seseorang memanggilku.
“Ada apa, Eru? Kau telihat tertekan.”
Aku melihat tenda kecil di depan tangga. Lebih tepatnya, ini terlihat seperti tenda tradisional Indian. Suaranya datang dari dalan tenda. Isi dalam tenda bisa terlihat dari luar.
Kau terlihat terbebani dan kecewa. Apa terjadi sesuatu?”
Dalam tenda terdapat meja kelas dan orang yang kukenal duduk didepannya.
Aku tersenyum padanya dan berkata, “Yah, sesuatu telah terjadi...”
“Hmm?”
Dia memiringkan kepalanya dan tersenyum sambil mengelus dan melihat bola kristal dimejanya
“Lalu, kau mau mengetahui keberuntunganmu?”
Orang ini adalah Juumonji Kuho. Di kota Kamiyama yang luas ini ada kuil tua yang disebut Kuil Arekusu, dan Kaho-san adalah anak perempuan dari ketua kuil. Saat keluarga Chitanda pada musim semi dan musim gugur mengadakan upacara festival tidak diadakan di Kuil Arekusu, kadang aku bertemu dengannya, dan kami berkenalan satu sama lain. Dia orang yang menarik, dengan rambut seperti sutra dan kacamata kecil. Aku menyukai keunikan Kaho-san yang kadang terlihat dewasa dan sopan.
Kaho-san senang mengunjungi perpustakaan sejak masih kecil, dan dia juga mempunyai wawasan yang luas yang aku tidak tahu. Jadi aku sedikit terkejut ketika aku mempelajari klub yang akan dia ikuti. Sejak Kaho-san tidak begitu bagus ketika berkumpul dengan yang lain.
“Mengetahui keberuntunganku? Itu berarti...”
“Ya, ini adalah Asosiasi Keberuntungan.”
“Di mana anggota yang lain?”
Mendengar hal itu, Kaho-san tersenyum dengan sinis.
“Oh, hanya aku.”
“Eh, itu tidak mungkin. Tetapi bukankah ini cukup populer?”
“Itu mungkin Asosiasi daya tarik. Mereka lebih populer.”
Mengatakan hal itu, seharusnya aku melihatnya di papan pengumuman.
“Lalu, bagaimana selanjutnya?”
Kaho-san memulai dengan benda yang ada di meja.
“Jika bola kristal bukan kesukaanmu, kau bisa memilih stik bambu atau kartu ramalan? Walaupun itu hanya imitasi. Disana juga ada bubuk kopi dan tentu saja, kartu tarot...”
Ketika dia mencari benda di paper bag dibawah kakinya, tiba-tiba dia berhenti.
“Oh, hari ini tidak bisa dengan kartu tarot.”
“Eh? Kenapa tidak?”
Mendengar Kaho-san mengalami masalah membuatku penasaran. Berawal sejak saat itu Klub Sastra Klasik sedang berdiskusi tentang kartu tarot sebelum libur musim panas, jadi kupikir mungkin aku bisa mengetahui keberuntunganku melalui kartu tarot.
Kaho-san melihat ekspresiku dan mengerti sesuatu.
“...Tentu saja, kau selalu menyukai hal seperti ini. Ini, lihatlah.”
Dia mengambil kartu ucapan selamat dari tas kertas. Dan menunjukkannya padaku, aku dapat melihatnya dengan jelas semua yang tertulis di sana, ditulis dengan ukuran font yang besar, dan tertulis:
Text Box: Asosiasi Keberuntungan telah kehilangan roda keberuntungannya.
Juumonji




“Apa ini..?”
“Hal secepat ini pasti dilakukan oleh satu orang. Aku hanya keluar sebentar dan ketika kembali, seseorang telah mengambil ‘roda keberuntungan’ dari kartu tarotku dan meninggalkan ini.”
Jadi ini adalah pencurian? Tetapi ada tanda pada bagian akhir kartu...
“Itu tertulis ‘Juumonji’.”
“Sungguh, aku penasaran mengapa ini ditujukan kepadaku?”
Keluarga Juumonji mempunyai dua anak, tapi sekarang, hanya Kaho-san yang berada di SMA ini, dan aku belum pernah mendengar orang lain yang di panggil Juumonji di kota ini. Jadi hanya Kaho-san yang memiliki nama Juumonji di SMA Kamiyama. Mungkin orang ini menggunakan nama Kaho-san untuk mencuri sesuatu.
Ini semua sangat aneh. Aku memutuskan untuk bertanya sesuatu padanya.
“Kamu menemukan kartunya?”
Kaho-san sedikit tersenyum.
“Aku tidak akan berkata kita tidak bisa menggunakan kartu tarot hari ini jika aku menemukannya.”
Oh ya, tentu saja.
“Ini sungguh menyebalkan.”
“Yah, walaupun itu murah, tetap saja itu sebuah alat untuk memberi tahu keberuntungan. Aku sungguh tidak ingin mendapat masalah jika manggunakan yang lain sebagai akhirnya.”
Saat mengatakan itu, Kaho-san malah menemukan memo kecil dari kantungnya.
“Tapi jangan khawatir tentang itu, aku penasaran tentang pencurinya, dia juga meninggalkan ini.”
Kertas memo dari buku catatan, yang tertulis, “Akan kukembalikan setelah Festival Budaya.”... Yang dilakukan pencuri ini sungguh aneh. Aku menemukan pencuri aneh. Melihat ekspresiku, Kaho-san tersenyum.
“Kamu sedikit tersenyum.”
“Sungguh?”
“Apa kamu penasaran tentang ini?”
Aku memiringkan kepalaku
“...Ya, sedikit.”
“Sedikit, huh? Akan kutunjukkan satu hal lagi.”
Dari tas kertas, dia mengambil sesuatu yang tidak asing, “Panduan Festival Kanya,” pamflet resmi untuk Festival Budaya SMA Kamiyama.
Melihat itu ditaruh di sebelah bola kristal, aku bertanya, “Apa yang istimewa dengan ini?”
Kaho-san membuka pamflet itu.
“Isinya sama dengan yang lainnya. Saat aku menemukannya, ada kartu yang terletak di halaman terakhir komentar klub.”
Komentar klub yang ikut festival ditempatkan di akhir halaman. Berdasarkan urutan nama, menunjukkan komentar dari masing-masing klub tertulis di pamflet.
Setelah melihatnya, tidak ada sesuatu yang aneh atau khusus yang tertulis disana.
“... aku penasaran apa maksud dari semua ini?”
Kaho-san tersenyum dan mengangkat bahunya.
“Aku penasaran. Saat Festival Budaya, seseorang datang dengan ide aneh, jadi ini bukan sesuatu yang biasa. Bagiku, aku tidak peduli selama ‘Roda Keberuntungan’ itu dikembalikan.”

***

Setiap kontestan bersaing menekan tombol jawab, yang unggul tujuh poin memenangkan kontes.
Walaupun aku mengatakan tak masalah walaupun aku tidak menang kuis, di sini adalah tempat di mana aku bisa menggunakan databaseku dengan optimal. Jadi sayang jika dilewatkan begitu saja.
Ketua Klub Kuis pernah menjelaskan sesuatu di siaran radio bahwa ”pertanyaan ujian bukan hanya orang yang bisa menjawab kuisnya,” dan sekarang aku mengerti mengapa dia mengatakan itu. Pertanyaan kuis biasanya menanyakan tentang bisnis, olahraga, permasalahan sosial dan hal yang sedang populer, mereka juga memasukkan topik lokal seperti pertanyaan yang berhubungan dengan sekolah. Aku tentu saja mengetahui topik lokal, walaupun pertanyaan akademik hanya sedikit... Oke, aku tahu apa yang kau pikirkan. Untuk pertanyaan tentang rumus matematika, jadi aku kekurangan harapan dan tidak bisa memindahkan jariku untuk menekan tombol. Apa yang bumi lakukan kepada cuacanya jika tes matematika berlangsung setiap tahun?
Empat kontestan, tiga mempunyai enam poin termasuk aku, Tani-kun dan gadis itu. (Saat Tani-kun tidak bisa menjawab pertanyaan aneh, dia bisa menjawab lebih cepat untuk pertanyaan yang satu ini). Orang terakhir mempunyai poin lima. Ini pertarungan yang mengagumkan; setiap peserta sanggup menjawabnya. Bagi Klub Kuis tidak diragukan lagi kalau ini turnamen yang sukses.
Sekarang waktunya untuk mengakhiri ini. Aku akan mengambil poin terakhir!
“.. Sekarang untuk pertanyaan selanjutnya. Sebutkan nama ketu...”
Pertanyaan lokal, ya? Konsentrasi..
“Ketua OSIS...”
Aku bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi belum bisa menekan tombolnya. Mungkin saja dia menanyakan kami warna favorit ketua atau semacamnya.
“... Dan sebutkan namanya dengan lengkap.”
Sekarang! Dengan cepat, cahaya tombol bersinar.
“Ya, Shimizu-san?”
Apa? Bukan aku?
Shimizu-san, gadis di sebelahku, menjawab dengan suara pelan, “Kugayama Muneyoshi.”
“.....”
Hei, pembaca pertanyaan, kau tak perlu terengah-engah, dia benar.
Setelah sedikit jeda, dia mengangkat tangan gadis itu dan mengukuhkan, “Benar! Dan pemenang Ujian Kuis ke 7 adalah Shimizu Noriko-san dari kelas 3-E!”
Haha. Baiklah, terlalu buruk.
Hanya juara yang menerima hadiahnya. Dan Shimizu Noriko-san (yang banyak menjawab pertanyaan aneh. Dia orang yang menarik, aku harus mencoba mengingat namanya) menerima bungkusan, aku tidak tahu apa itu. Baiklah, aku rasa tak terlalu buruk walau kalah, dan aku tidak tertarik dengan hadiahnya.
Saat penyerahan tropi selesai, ketua Klub Kuis memberikan sambutan dan menutup Turnamen Ujian Kuis. Kemudian keramaian mulai bubar ke setiap sudut sekolah. Aku yakin itu menyenangkan, tidak hanya meningkatkan daya tarik Klub Sastra Klasik, aku juga merasa senang. Sekarang, aku bingung kemana harus pergi. Saat aku bersiap-siap untuk kembali dengan sebuah senyuman, seseorang memanggilku.
“Hey, Fukube.”
Dia adalah Tani-kun. Tersenyum, aku mengangkat tanganku dan memberi salam padanya.
“Hey, buruk jika kita tidak menang.”
“Sungguh. Aku mengira itu seri.”
Seri, huh? Ini tidak seperti aku bersaing dengan Tani-kun.... Oh baiklah, terserah.
“Kupikir bergitu,” aku menjawabnya.
“Jadi apa kau butuh sesuatu?”
“Aku akan mengatakan sesuatu yang menarik untuk memberitahumu sebelum kita diganggu.”
Pikirkan itu, dia mengatakan sesuatu seperti itu, tapi aku pasti lupa. Aku sungguh tidak bermaksud mendengar apa yang dia ingin katakan, lalu ini berarti sesuatu dimana Tani-kun ingin aku mendengarnya. Ini bukan kesepakatan, jadi kuputuskan untuk mendengarnya.
“Kelihatannya, telah terjadi sesuatu dengan Klub Go?”
Tani-kun mengangguk.
“Yeah, beberapa batu Go kami telah dicuri.”
“Oh?”
Aku tidak berpikir “Hanya itu?”
“Batunya tidak hilang tetapi dicuri, katamu? Tetapi apa yang membuatmu berkata begitu?”
“Pencurinya meninggalkan catatan di kotaknya,”
Tani-kun tersenyum saat mengatakan itu,” catatanya tertulis ‘Klub Go menghilangkan batu Go,’ semuanya sungguh penasaran, kami tidak tahu apakah semua batunya diambil atau tidak. Biasanya kami tidak menggunakan semua batu di kotaknya, jadi tidak ada yang tahu jika seseorang mengambil satu, dua atau sepuluh batu.”
“Kenapa seseorang ingin mencuri batunya?”
“Mungkin dia ingin bermain Gomoku?[2] ” Tani-kun mengatakannya dengan aneh.
Saat aku tidak menemukan humor yang lebih baik, aku memutuskan untuk tertawa bersaamanya, jika itu adalah cerita ”menarik”, maka dia tidak harus pergi memberitahuku.
Aku berkata dengan senyum sambil berterus terang, ”Mungkin itu kejahilan seseorang dari anggota Klub Go?”
Mungkin tidak senang karena aku tidak tertarik dengan ceritanya, Tani-kun terlihat sedikit tertekan.
“Yeah, mungkin saja.”
“Baiklah, sekarang sudah selesai.”
“Tidak, tunggu.”
Dia memanggilku sebelum aku pergi.
Tani-kun berkata dengan senyum aneh, “Fukube, maukah kau mengikuti kompetisi yang lain?”
“... Yeah.”
Saat aku mengangguk, Tani-kun mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan jarinya kepadaku.
“Berikutnya aku tidak akan kalah darimu. Tidak akan sejak kita imbang kali ini. Baiklah selesaikan ini!”
... aku kehilangan kata-kata.
Bersama dalam diam, aku hanya memberinya senyum sebagai jawaban.
Tani-kun terlihat puas saat mengatakan “Bagus. Apakah besok kau akan ikut?”
Tanpa basa-basi, aku memjawabnya dengan biasa, ”... Turnamen yang diadakan oleh Klub Memasak, ya?”
“Oke, kita selesaikan ini besok! Aku menantikannya!”
Tani-kun terlihat senang.

Duh, sungguh sulit berurusan dengan dia.
Skor persaingan, huh? Tak pernah terpikirkan olehku. Aku akan kesulitan melihat bagaimana Tani-kun merasa puas.
Itu benar bahwa aku terkadang menikmati diriku dalam semua hal. Sungguh, aku sangat senang kalau Houtarou menatapku dengan dingin.
Tetapi hal yang paling penting bagiku adalah pengalaman. Aku melihat kesenangan sebagai dasar memberi-dan-mengambil hubungan antara penyedia dengan penerima hiburan. Itulah mengapa aku tak pernah menjadi fanatik dalam ketertarikanku, seperti Sherlock Holmes atau herbology, sebagai teman baikku(Whoa, ini memalukan bagiku untuk mengatakannya, tapi nama depannya kupikir itu cukup) Houtarou atau Mayaka.
Aku agak naif saat ada sesuatu seperti itu, menemukan hal yang menarik atau menikmatinya. Menggunakan rak buku misalnya, biasanya rak buku terdapat buku atau novel untuk membunuh waktu, tapi sebagai perbandingan, rak bukuku tidak ditujukan pada orang lain. (Walaupun itu Mayaka, dia mungkin ingin melihatnya... Tetapi tidak seperti dia mengatakannya dengan keras). Dengan cara yang sama, hubunganku dengan penyedia hiburan sederhana dengan harapan tinggi dan menjalankannya dengan mudah sambil menikmatinya.
Jadi berdasarkan pseudo-Epikurnism ku, ini adalah “penyelesaian skor”...
Yah, tidak elegan.
Tetapi semua hal sepele ini, aku tidak bermaksud memberikan semuanya. Sederhananya, Tani-kun akan ikut kontes dimana aku mengikuti kontes diluar persetujuannya.

Aku berkeliling ke dan dari...  dan sekarang berada di tengah lapangan.
Omong-omong, senang sendiri dan mengkhawatirkan salah satu teman itu masalah yang berbeda.
Aku penasaran apa yang dilakukan Houtarou sekarang?
Dan aku penasaran apakah Mayaka baik-baik saja?




[1] Kumpulan essai yang ditulis oleh biksu Jepang Yoshida Kenko antara 1330 dan 1332
[2] Permainan seperti catur dengan menggunakan batu

Hyouka Jilid 3 Bab 2-2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.