31 Desember 2016

Only Sense Online Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


RAWA-RAWA DAN DARKMAN

Atelier adalah sebuah toko kecil yang berada di bagian selatan Kota Pertama. Tempat itu berurusan dengan potion dan item penyembuh serta item makanan seperti roti lapis.
Dan, di bagian belakang toko ada sebuah lahan kecil. Berbagai jenis herba ditanam di sini.
"Kyouko-san, bagaimana panenan hari ini?"
"Karena herbanya sekarang tersedia, perkembangannya berhenti. Sebagai gantinya, material dari Making Box, tanaman beracun, material untuk Highpot dan MP Potion berkembang sama rata."
"Aku mengerti, terima kasih. Kita memiliki sejumlah besar herba sekarang jadi tidak ada masalah. Untuk sementara ini, aku ingin meningkatkan jumlah material yang muncul dari Making Box sebelum kembali ke penanaman yang biasa."
Kyouko-san si NPC menyunggingkan seulas senyum menawan dan kembali bekerja. Aku melihat dari belakang saat dia sedang bekerja, lalu berpindah ke bagian bengkel kerja Atelier.
Akhir-akhir ini, aku sudah menggunakan Sense Linguistic untuk mengumpulkan resep crafting dan mencatat sejumlah resep.
Sambil melihat resep item dan material yang dibutuhkan, aku bergumam.
"Seperti yang kupikirkan, ada batasan jumlah material yang bisa kudapat dalam situasi sekarang ini. Menunggu player lain untuk membawakannya adalah hal lain, tapi kalau memungkinkan, aku ingin menemukannya sendiri."
Karena aku berjalan-jalan mengelilingi ladang untuk mengumpulkan material saat aku mulai bermain OSO, perasaan itu terasa kuat dalam diriku.
"Juga, di tempat yang ingin kudatangi sekarang, ada banyak monster menarik. Aku ingin pergi ke kota yang terletak sedikit lebih jauh."
Aku mencoba mengatur tujuanku, itu akan menjadi mengumpulkan material, menemukan monster baru dan mencapai kota yang baru. Tiga tujuan. Kalau aku mempelajari areanya, aku akan tahu musuh mana yang harus kuwaspadai dan akan secara garis besar tahu bagaimana kemungkinan prospekku. Dengan kata lain, ada untungnya melakukan kunjungan sekilas sebelum pergi seorang diri.
Dan untuk itu, aku akan memperluas metode yang sebelumnya kugunakan.
"Yun-oneechan, kami di sini!"
"Ya ampun, kenapa kau tidak memanggilku dengan biasa saja?"
Menyunggingkan senyum miris yang tipis, aku berhenti mengatur material dan kembali ke bagian toko Atelier. Di sana, menunggu Myu yang memanggilku sebelumnya bersama party-nya.
"Maaf tentang ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mengandalkan kalian lagi."
"Tolong jangan dipikirkan. Kami mendapatkan hadiah yang pantas pada akhirnya."
Lucato menjawabku sambil tersenyum.
Untuk pergi ke Kota Kedua, aku harus membentuk party dengan Myu dan yang lainnya, lalu melewati boss di sisi timur, Blade Lizard. Saat itu, kami terlibat masalah dan aku berakhir dengan menghadapi si boss, tapi pada dasarnya, aku  telah mengalahkan si boss dengan secara sementara dibantu oleh party Myu.
"Apakah macam-macan Highpot dan MP Potion yang sama dengan kalian dapat terakhir kali itu benar-benar tidak masalah?"
"Ya. Karena party kami sangat sering bertempur, kami selalu kekurangan itu."
Karena Lucato mengatakan itu seakan itu adalah masalah kecil, aku tersenyum getir. Sebagai pembayaran di muka dan untuk menyediakan item yang diperlukan dalam pertempuran, aku menyerahkan item penyembuh untuknya dimulai dengan High Potion.
"…karena nama Yun-san menjadi terkenal akhir-akhir ini, bukankah ada metode lain untuk melewatinya selain bergantung pada kami?"
Orang yang berbicara padaku saat aku sedang melakukan pertukaran bisnis dengan Lucato adalah Toutobi, yang mengambil peran sebagai pengintai dalam party. Melihat dia cukup cemas, aku memiringkan kepala kebingungan.
"Metode yang berbeda?"
"Yah, Yun-san cukup dekat dengan Magi-san, Cloude-san, dan yang lainnya, 'kan? Bukankah mungkin bagimu untuk mendapatkan pengawalan yang lebih baik berkata koneksi itu daripada yang kami bisa sediakan?"
"Ahh, itu."
Hino menyediakan penjelasan tambahan karena Toutobi adalah orang jarang berbicara.
Memang benar, adalah hal yang mungkin untuk membentuk satu pasukan dari berbagai party dan sejumlah pengrajin yang bisa diantarkan pada waktu yang bersamaan.
Sambil menghindari penalti serangan gabungan, mereka dapat membagi diri menjadi party-party untuk mengatasi lawan-lawan enteng dan party yang khusus untuk melawan boss, party yang mengkhususkan diri dalam penyembuhan berada dalam party yang terpisah dan sebagainya. Ada banyak keuntungan dalam bantuan semacam itu dan seseorang bisa diantarkan dengan aman.
Akan tetapi, ada kerugiannya juga.
"Hmm. Entah bagaimana, hal-hal semacam itu tidak cocok untukku sama sekali."
"…tidak cocok denganmu?"
Toutobi yang mengerutkan alisnya dengan gelisah memperlihatkan ekspresi tertegun. Untuk beberapa alasan, ekspresinya itu terlihat imut dan lucu, membuatku diam-diam tertawa.
"Benar. Mempersiapkan pengawalan semacam itu memerlukan persiapan, perencanaan sungguh-sungguh dan waktunya terbatas, 'kan? Juga, sejumlah besar uang diperlukan untuk hadiahnya. Yah, pengeluaran itu bisa dibagi dengan para pengrajin yang berpatisipasi, sih."
"…begitu ya."
"Dan ada satu lagi, alasanku yang terpenting."
Saat kubilang "yang terpenting", semua orang menunjukkan ketertarikan dengan detailnya. Tapi itu bukanlah alasan yang serius. Itu masalah sederhana berkaitan hobiku.
"Dibuat sibuk banyak orang tidaklah terlalu menyenangkan, 'kan? Aku tidak masalah bersantai-santai menikmati waktuku."
"Fufufu, cara berpikir itu benar-benar dirimu, Yun-san. Aku sangat suka yang seperti itu."
"Bener banget. Seperti yang kupikirin selama ini, bersaudara dengan Myu, nggak heran kalau kamu sedikit bodoh juga."
Menanggapi reaksi Rirei dan Kohaku, aku merasa ingin memprotes 'di mana memangnya kalian melihatku sebagai orang bodoh'. Akan tetapi, jika kami terus bicara di sini, kami tidak akan pergi keluar untuk berpetualang.
"Ya, ya. Nah kalau begitu, sekarang waktunya kita bergerak, Yun-san. Tidak masalah 'kan kalau tujuan kita rawa-rawa?"
Lucato menemukan waktunya sendiri dan berbicara padaku. Itu tepat waktunya di mana kami hampir melupakan tujuan semula. Menyadarinya, aku mengatakan pada semua orang.
"Tujuannya adalah bagian selatan Kota Pertama, daerah rawa-rawa. Yah, karena itu sangat dekat dengan Atelier, kita bisa pergi ke situ dengan santai."
Menerima tujuan tersebut, kami membentuk sebuah party untuk berpetualang. Terakhir kali, Rirei tetap tinggal di luar party dan bertindak sebagai pengawalku, tapi kali ini sebagai mata party ini – Toutobi berencana untuk keluar.
Aku melirik dataran yang membentang di luar Kota Pertama saat pergi. Tempat itu dipenuhi dnegan monster herbivora tidak agresif. Segera, kami telah sampai di pintu masuk ke rawa-rawa.
"Nah sekarang, aku akan berkonstrasi untuk mencari musuh. Tolong berhati-hati, Yun-san."
"Baiklah."
"Baiklah kalau begitu, Tobi-chan. Selamat berjuang."
Myu melambaikan tangannya ke arah Toutobi yang pergi lebih dulu sendirian untuk memastikan keamanan kami, melihatnya pergi. Aku diminta Toutobi untuk berhati-hati dengan sekelilingku juga, tapi…
"…untuk beberapa alasan, aku merasakan sesuatu seperti banyak tatapan ke arah kita."
Tidak jelas darimana asalnya, tapi aku yakin bisa merasakannya. Karena itu adalah tatapan yang sangat anorganik yang menyerangku. Itu tidak terasa mereka akan secara mendadak menyerang, tapi aku tidak dapat melihat monster musuh dengan jelas.
"Monster-monster di sini sangat kasar dalam banyak artian."
"Tiga, dari arah jam satu."
Toutobi kembali dan pada saat yang sama dia menyampaikan info secara singkat sebelum kembali ke sini. Saat kami terus maju dengan bergantung pada perkataan itu, benar saja, dari arah yang dikatakan secara spesifik oleh Toutobi, Discoveryku dapat merasakan sesuatu.
Segera setelah itu, sesuatu muncul keluar dari tanah. Lucato mengayunkan pedangnya ke bawah yang terikat di pinggangnya. Juga, Rirei menciptakan sebuah pilar api di rawa-rawa yang sedikit digenangi air.
Airnya menguap dalam sekejap, kekuatan serangannya yang membuat tanah mengering membuatku terpana, tapi dari jejak-jejak terbakar terdapat partikel-partikel cahaya yang menyebar sebagai bukti monster-monster telah dimusnahkan.
"A-apa?!"
"Ah, mereka bereaksi terhadap kedatangan kita, ya 'kan? Yun-san, apa kau bisa bereaksi?"
"Ti-tida. Aku tidak bisa. Memangnya ada sesuatu di sana? Berapa banyak?"
"Yun-oneechan, apakah level Sense-mu rendah? Atau mungkin kau tidak menaikkannya?'
Dituding seperti itu oleh Myu, aku membuka menu status Sense untuk memastikan.
Beberapa Sense dapat berkembang atau diturunkan asalnya.
"Aku mengambil dua Sense yang baru."
Pertama, karena Sense Bow mencapai 30, sebuah turunan Sense tipe Bow bisa diambil. Karena Black Maiden's Longbow adalah senjataku, seperti yang disebutkan namanya, itu bisa diklasifikasikan sebagai longbow, karena itulah menghabiskan dua SP untuk mendapatkan Sense Longbow.
Dan, pada level 30 Sense Discovery dapat dikembangkan menjadi Sense yang lebih tinggi, yaitu See-Through. Dalam hal ini, meskipun Sense asalnya menghilang, masih mungkin untuk memperoleh efek pasif yang lebih kuat. Itu menghabiskan jumlah SP yang sama dengan saat mengambil Sense Longbow.

Possessed SP21
Bow Lv31】【Longbow Lv1】【Hawk Eyes Lv42 Speed Increase Lv23 See-Through Lv1 Magic Talent Lv42】【Magic Power Lv45 Enchant Arts Lv18Dosing Lv24 Earth Element Talent Lv14
Unequipped:
Alchemy Lv30 Synthesis Lv30 Engraving Lv1 Swimming Lv13 Crafting Knowledge Lv32 Taming Lv6 Linguistics Lv15】【Cooking Lv21

Aku menata lagi Sense-Sense tersebut, lalu mengatakan pada Myu dan yang lainnya seperti apa kelihatannya.
"Dua Sense di level 1, ya. Kalau begitu, stats-nya seharusnya jauh lebih rendah. Bagaimana ini…"
Myu melakukan evaluasi, tapi karena Discovery berkembang menjadi See-Through, aku dapat menemukan monster dan tempat menambang tersembunyi yang tidak dapat kutemukan sebelumnya, jadi aku sangat puas. Pekerjaan lapangan terasa menyenangkan karena aku dapat membuat penemuan semacam itu.
"Hei, Yun-oneechan, apa kau mendengarkan? Ayolah…"
"Tidak apa-apa, Myu. Yun-san pasti sedang memikirkan banyak hal sekarang."
Karena Myu terlihat heboh dengan sebelah tangan di pinggangnya, Hino menenangkannya.
Sekali lagi si pengintai, Toutobi kembali dan menyampaikan informasi baru.
"Di depan situ ada sesosok Treant. Apa yang akan kita lakukan?"
"Treant, ya. Karena Yun-oneechan di sini, ayo lewati saja kali ini."
"Ya, kau benar."
Setelah mendengar laporan Toutobi, Myu mempertimbangkan apa yang harus dilakukan dan Lucato setuju dengannya. Akan tetapi, di sisi lain juga ada pendapat berbeda.
"Tunggu bentar! Treant itu monster yang rempong untuk ditemuin! Mungkin aja cuma kebetulan, tapi lebih bagus kalau dilawan waktu ditemuin! Udah jelas!"
"Fufufu, material yang dijatuhkannya sangat berguna untuk kami para mage. Kalau memungkinkan, aku ingin mendapatkannya."
Myu dan Lucato memilih menghindar sementara Kohaku dan Rirei lebih suka untuk mengalahkannya.
"Umm…bagaimana ini, Tobi-chan."
"…Bagaimana, ya."
Hino dan Toutobi yang tidak dapat membuat keputusan memperlihatkan ekspresi kebingungan. Tapi sebelum itu…
"Umm…monster seperti apa Treant itu?"
Sebelumnya, aku tidak dapat memastikan bagaimana mengenali seperti apa wujud monster yang baru dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. Aku ingin beberapa informasi objektif untuk mengetahui apakah aku sebaiknya mengalahkannya atau malah menghindarinya.
"Onee-chan, Treant adalah monster yang dikatakan sebagai lawan dengan tipe 'monster kuat'."
Dalam game ini, ada monster-monster yang lebih kuat daripada beberapa boss monster lemah. Mereka menyebabkan status buruk yang sangat tidak menyenangkan, menggunakan serangan khusus, atau kumpulan lawan-lawan mudah yang kuat. Mereka biasanya disebut 'monster kuat' atau 'lawan mudah yang kuat'.
"Dan juga, Treant ini — stats-nya murni Wise (TL: jenis stats yang berkaitan sihir). Dia lebih kuat daripada boss monster rawa ini. Dia menggunakan serangan yang mengincar titik-titik vital, sering membunuh orang dengan satu serangan. Itu adalah sebuah contoh monster dari rawa-rawa ini."
"…juga, Treant meniru penampilan sebatang pohon. Karena mereka menunggu para player untuk datang ke jangkauan serangan mereka, Sense deteksi dengan level yang sangat tinggi diperlukan."
Toutobi menambahkan penjelasan Myu. Semua menatapku, keputusan tentang masalah Treant telah dialihkan padaku, target pengawalan.
Meskipun aku berpikir bahwa tidak perlu mengambil resiko, di sisi lain aku tertarik dengan Treant. Sebagai jalan tengah untuk kedua sisi——
"——Sekalipun aku tidak melawannya, aku bisa melihatnya saja," usulku.
'Kami tidak memikirkan itu sama sekali!' Mereka menyunggingkan senyum miris,
"Dan kemudian, Yun-san yang pergi untuk melihatnya akan ditahan di udara oleh sulur-sulur tanaman Treant. Penampilan tak senonoh itu——"Woi! Berhenti dan diam aja, deh! Ngomong lebih jauh lagi dan itu bakalan jadi bahaya!"——"
Kohaku mendekati Rirei dari samping dan menahan mulutnya untuk membungkamnya. Dia benar-benar terlatih dalam hal itu. Meskipun aku merasa demikian, aku benar-benar takut mendengar seperti apa penampilanku dalam pikiran Rirei.
"…ayo biarkan Rirei dan Kohaku sekarang. Kalau itu Yun-san, kurasa kau akan bisa menyaksikannya dari sini."
"Tobi-chan, kejam! Kenapa kamu malah ngebarengin aku sama Rirei!"
Diperlakukan sebagai satu set dengan Rirei karena tingkah konyol mereka, Kohaku menaikkan protes, tapi diabaikan semua orang.
Mereka sangat terbiasa dengan itu, pikirku sambil menatap apa yang sedang Toutobi tunjuk.
Berkat penglihatan jarak jauh Hawk Eyes, aku menemukan sebatang pohon. Sebatang pohon tua dengan akar-akarnya di rawa-rawa. Selain dari itu, tidak ada hal yang aneh dengan penampilannya. Sense See-Through yang kudapatkan beberapa saat lalu mengirimkan respon samar yang mengesankan itu adalah seekor monster, tapi itu sangat dekat dengan sebuah titik pengumpulan.
"Itu benar-benar terlihat seperti sebatang pohon."
"…itu adalah efek peniru Treant. Penampilan sebenarnya terlihat saat pertarungan."
Mendengar penjelasan itu, aku merasa puas. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan mendekatinya karena penasaran.
"Maaf. Kali ini, ayo ambil rute di mana kita tidak akan perlu melawan Treant, ya."
"Fufufu, mau bagaimana lagi kali ini. Tapi, aku puas melihat seorang gadis cantik seperti Yun-san memperlihatkan ekspresi penyesalan."
"Udahan ah, Rirei! Yah, mau gimana lagi ya, kali ini."
Kedua orang itu memaklumi dan kami meneruskan lebih jauh, menghindari Treant.
·
"Jadi ini adalah monster-monster area ini."
Saat ini, dari monster-monster yang kulihat di rawa-rawa di bagian selatan, dengan mengecualikan Treant yang kulihat sepintas, adalah monster Moor FrogMould Slime kekentalan rendah,  seekor monster tipe lendir, dan seekor monster yang disebut "bola-bola api" atau "jiwa" — Will-o'-Wisp.
Sosok-sosok monster yang tidak bisa kulihat sebelumnya dengan Sense Discovery meskipun mendapatkan reaksi dari makhluk itu yang sedang bersembunyi di bawah dedaunan dan tanaman mirip teratai, di dalam lumpur rawa-rawa dan menyerang player saat mendekat.
Setelah Treant, sepertinya Moor Frog juga menyerang secara mendadak, tapi karena mereka muncul secara berkelompok, begitu kau menyerang salah satunya, monster-monster yang berhubungan di sekeliling akan juga menyerangmu.
Tidak seperti Treant, jumlah mereka banyak tapi mereka juga sangat licik. Akan tetapi, monster lain selain itu seperti Mud Slime dan Will-o'-Wisp bukanlah ancaman besar. Malahan, mereka bisa diabaikan.
"Kalau aku menghindari Treant dan Moor Frog, aku bisa lumayan bebas bergerak sendirian, ya 'kan?"
"Benar. Ini, ayo mulai pertempuran kali ini untuk mengetahui kekuatan Moor Frog."
"Sebelumnya, kita menyapu habis mereka dengan satu serangan, jadi ayo biarkan beberapa untuk Yun-san kali ini."
Rirei yang menguapkan satu kumpulan besar Moor Frog yang berkumpul ke arah kami dengan sebuah pilar api, dia adalah seorang mage khusus serangan api yang hebat.
"Fufufu, Yun-san, ada apa? Terus menatapku seperti itu. Tidak mungkin, apakah kau sedang mengundangku?"
"Yang benar saja."
Aku menatapi Rirei. Seandainya saja dia tidak bertingkah seperti ini. Aku menghela nafas dan menoleh untuk melihat sekumpulan Moor Frog terdekat.
Karena jangkauan busurku lebih besar daripada jangkauan serangan lawan, aku bisa dengan aman melakukan serangan pertama. Setelah itu, aku membiarkan semua monster selain yang kuserang pada Myu dan lainnya.
"Ayo lakukan."
Setelah aku menyelesaikan persiapanku, semua orang membalas dengan mengangguk. Aku memegang busur dan menarik talinya. Aku menetapkan sasaranku pada kodok yang sedang bersembunyi di balik dedaunan teratai dan merupakan target yang mudah, kemudian menembakkan sebatang anak panah.
Anak panah yang dilepaskan dari busurnya melambung cukup tinggi sebelum membentuk parabola dan menancap di titik yang kubidik. Anak panah itu menembus daun teratai dan riak-riak air menyebar di permukaan air yang menggenangi rawa-rawa.
"——Fire Shot."
"——Quick Blast."
Pada saat bersamaan ketika gelombang kodok-kodok di depan melompat-lompat, Rirei dan Kohaku menggunakan sihir tingkat pemula untuk mengurangi jumlah mereka.
Setelah penundaan singkat, Myu juga menaklukkan seekor kodok yang mendarat di tanah dengan pancaran cahaya dari mantera Sol Ray.
"Pastikan untuk bertarung dan meninggalkan beberapa untuk Yun-san."
"Aku tahu!"
Pada saat yang sama Lucato memanggil, Myu dan Hino mendekati kodok-kodok itu.
Menahan momentum gerakan mereka, Hino menghunjamkan tombaknya ke samping, menusuk kodok tersebut dan mengangkatnya. Setelah mengangkatnya, dia menyadari makhluk itu masih memiliki HP tersisa dan mengayunkan tombaknya, membanting kodok tersebut ke pohon dan mengalahkannya.
Gerakan Myu lebih terinci. Dia mendekati Moor Frog tanpa membiarkan mereka mengincar dirinya dan menghabisi mereka dalam sekejap.
"Hanya seperti itu, kumpulan makhluk itu berkurang setengah…tidak, tiga kodok, ya."
Tepat di depan mataku, kodok-kodok itu dtaklukkan satu demi satu.
Bahkan meskipun lidah panjang si kodok menyerangnya dari titik-titik buta, Myu menghindarinya dengan merendahkan tubuhnya dan sama sekali tidak menyerang balik, menunjukkan bagaimana caranya bertarung dengan aman.
Pada akhirnya, apa yang tersisa adalah seekor Moor Frog yang tersisa untukku berlatih.
Myu dan Hino telah berpindah mendekatiku untuk bersiap membantu kapanpun dengan senjata mereka yang terhunus.
Tanpa terusik dengan Moor Frog yang tersisa, aku mempersiapkan busurnya.
Tatapanku kembali pada mata besar yang aneh dan dingin makhluk amfibi itu, menyebabkan diriku merasakan sebuah tekanan. Akan tetapi, aku tidak bisa mundur sekarang.
"Tidak apa-apa! Dia itu lemah selama kau menghadapinya dengan tenang!"
Mendengar kata-kata penyemangat dari Myu, aku menarik napas dalam-dalam.
Dan, yang bergerak duluan, adalah si Moor Frog. Dia meregangkan kaki-kakinya untuk membuat lompatan bertenaga, lebih tinggi dari tinggiku. Tubuhnya mendekat ke arahku.
"——Rapid Fire Bow- Second Form!"
Aku menggunakan Sense Art tipe busur, menembakkan sebatang anak panah pada kodok itu yang tidak punya jalan untuk melarikan diri di tengah udara. Karena kodoknya tidak mati meskipun abdomennya yang lembut ditembus dua batang anak panah, aku segera berpindah, menjauhi tempatnya  mendarat.
Aku berpindah untuk berada di belakang kodok itu kalau bisa. Setelah mengamati pertarungan Myu dan yang lainnya, aku mengetahui kalau aku bergerak ke belakangnya segera setelah dia melompat, makhluk itu tidak bisa segera menggunakan serangan lidah panjangnya.
Mereka tidak punya pilihan selain berbalik. Dengan memanfaatkan kesempatan itu, aku menembakkan sebatang anak panah.
Setelah diserang dengan dua panah di bagian perut  dan panah ketiga di punggungnya, Moor Frog itu menciptakan sebuah peluru air kecil.
Karena kodok tersebut memiliki sangat sedikit HP yang tersisa, aku memutuskan untuk menghabisinya sebelum dia menyerang. Tapi—
"—-Sial."
Begitu aku gagal saat menembakkan anak panah yang terakhir, aku menerima peluru air yang tersasar itu.
Setelah makhluk itu selesai berbalik, Moor Frog itu melompat tinggi untuk menyerangku dengan tubuhnya.
Kali ini, aku menembakkan sebatang anak panah pada saat yang tepat supaya tidak luput lagi dan menghabisi HP Moor Forg yang tersisa yang kemudian berubah menjadi partikel-partikel cahaya di tengah-tengah udara dan menghilang.
"Onee-chan, kau tidak apa-apa? —— Heal"
"Kau berlebihan. Serangannya tidak sekuat itu."
Cemas, Myu menempel padaku dan mulai menyentuhku untuk memastikan keselamatanku, tapi serangan Moor Frog  tidak begitu berbahaya. Aku mengerti bahwa itu benar-benar menakutkan, menjadi pusat dari serangan seluruh kumpulan. Aku merasa bersyukur pada yang lainnya yang telah mengurangi jumlah mereka terlebih dulu.
"Bagaimana rasanya sekarang setelah kau mencoba menghadapinya?"
"Lucato. Yah, aku bisa menang selama itu 1 lawan 1. Lebih dari itu dan aku akan lari. Sama sekali mustahil."
"Bukankah itu pemanasan yang bagus? Nah sekarang, ayo pergi menghadapi boss. Tidak apa-apa. Tidak akan ada masalah selama kita menghadapinya dengan biasa."
Mengikuti perkataan Lucato, kami pergi untuk menghadapi boss rawa-rawa ini.
Selain beberapa pertarungan untuk latihanku, kami mengambil jalan memutar untuk menghindari monster-monster, menuju ke arah boss berada.
Hanya menghadapi sedikit monster, kami tiba di depan boss monster, Darkman.
Daaaaark
"…itu boss monster yang sangat unik."
Untuk menggambarkan boss itu, penampilan Darkman, bisa dibilang itu adalah sebuah bayangan yang memiliki massa atau kepadatan.
Kadang-kadang massanya yang tak beraturan itu membentuk penampilan mirip manusia sebelum akhirnya berubah kembali menjadi bayangan dengan massa lagi, yang terjadi berulang kali. Aku tidak tahu di mana dia mendapatkan suara vokalnya, tapi massa itu berbicara Daark dengan suara yang sangat sulit dimengerti dan tidak perlu diragukan adalah Darkman.
"Dia datang! Kali ini Tobi-san tidak berpartisipasi dalam penyerangan dan akan terus di luar sampai tujuan dicapai! Prioritas utama adalah keselamatan Yun-san!"
"Luka-chan, kita hanya perlu mengalahkannya, 'kan!"
"Myu-san, kau tidak pernah berubah, ya."
Lucato tersenyum simpul menanggapi perkataan Myu dan menarik keluar pedang yang dia hunuskan ke belakang. Lebih besar daripada one-handed sword, dan kekecilan untuk two-handed sword — dia menyiagakan pedang yang diklasifikasikan sebagai Bastard Sword itu tepat di depannya.
Daripada menggunakan senjata berat seperti sledgehammer, Hino menggunakan tombak panjang. Rireri dan Kohaku memegang tongkat mereka sambil menatap lurus ke arah boss.
"Bossnya bergerak."
Seakan menunggu persiapan kami selesai, Darkman itu mulai bergerak. Dia menciptakan sesosok bayangan tak beraturan seperti seorang pria dewasa dan lengannya mulai meleleh.
"Ayo kita mulai duluan —— Wind Cutter!"
Pertama-tama, Kohaku menembakkan sebuah bilah angin ke arah Darkman yang meleleh. Daratan membuncah dan kumpulan tanah lembap bertebaran, meledak ke semua arah. Darkman meregang di tempat dan melompat ke atas sebatang pohon terdekat, lalu membangun ulang tubuh bayangannya dan melihat ke bawah ke arah kami.
"Nggak bagus. Pembukaannya gagal."
"Mau bagaimana lagi. Nah sekarang, apa yang akan kita lakukan dengan yang ada di depan kita?"
"Di depan?"
Mendengar kata-kata Rirei yang menghibur Kohaku, aku kebingunga. Arah pandanganku yang terfokus pada Darkman yang melompat, kini kembali ke tempat yang Kohaku bidik dan melihat lengan-lengan bayangan yang terputus dari tubuh Darkman. Monster-monster yang dikalahkan dan bagian-bagian yang terpotong biasanya berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang, tapi massa dari bayangan itu mulai berubah bentuk.
"…sesuatu menggeliat di situ."
"Darkman memperbanyak dirinya dengan bagian-bagian tubuhnya sendiri."
Saat Lucato dengan tenang menjelaskan, Darkman yang melompat ke atas pohon sekali lagi memutuskan satu bagian dari tubuhnya, menciptakan yang baru.
*plop*, *plop*, bagian-bagian yang terjatuh membuat bentuk humanoid yang berukuran sama dengan tubuh utamanya.
"Pecahan-pecahan dirinya memiliki stats yang sama dengan tubuh utama, kecuali HP-nya. Juga, setiap dari mereka memiliki senjata yang berbeda."
Segera setelah Lucato berbicara dan Hino menyediakan informasi tambahan, pecahan yang ketiga menjulurkan lengan bayangannya, dan setelah membuat sebatang tombak panjang, dia menghujamkannya ke arah kami. Hino menangkisnya dengan tombaknya sendiri dan menusuk abdomoen anakannya itu.
"Lemah…"
"Sekalipun mereka lemah satu lawan satu, mereka itu sangat merepotkan karena ada banyak. Ha!"
Lucato mengayunkan bastard swordnya ke samping, menebas tiga anakan pada saat bersamaan. Akan tetapi, Darkman di belakang menciptakan anakan baru satu demi satu yang segera mengepung kami.

Pedang, palu, perisai, belati, busur pendek, gada, kapak besar. Anakan tersebut yang telah membuat beragam senjata, ditebas dengan bastard sword Lucato. Hino juga memanfaatkan jangkauan panjang senjatanya, mengayunkannya dengan kuat untuk menghempaskan seluruh grup bayangan di sekitarnya.
"Fufufu, kita tidak boleh kalah dari mereka, 'kan?"
"Bener banget, ayo kita samain tindakan kita dan selesaikan dengan sempurna!"
"Ayo. —— Flame Circle!"
"——Little Tornado!"
Penyatuan lingkaran api telah menelan anakan monster itu dan kekuatannya diberikan momentum oleh tornado yang diciptakan Kohaku, menguapkan sejumlah anakan di area makhluk-makhluk itu dibangkitkan.
"Aku mengerti! ——Sol Ray!"
Tidak dapat mengikuti kecepatan pertarungan yang dimulai, aku hanya berdiri dilindungi di tengah-tengah.
Myu telah melepaskan pancaran-pancaran cahaya melewati celah yang dibuat setelah pusaran api itu menyerang, mencoba untuk mengenai tubuh utama. Namun, menggunakan kecepatannya yang tinggi, tubuh utama itu berhasil menghindar untuk bersembunyi  di balik anakannya yang terlihat sama dan berpencar ke segala arah.
"Sayang sekali! Ayo, Yun-oneechan juga bantu!"
"?! Enchant ——Defence!"
Tujuan kali ini adalah untuk memastikan aku tidak mati sebelum kota berikutnya.
Karena itulah kali ini memprioritaskan enchant pertahanan pada diriku sendiri sebelum memasang busur dan menembak anakannya.
"Yang mana yang sebaiknya kuincar?!"
"Tolong prioritaskan pada yang melakukan serangan jarak jauh!"
"Baik!"
Mengikuti instruksi Lucato, aku membidik anakan antara penyerang jarak dekat pada anakan di belakang yang menembakkan anak panah dan belati.
Meskipun mereka tidak kalah hanya dengan satu serangan seperti yang terjadi saat Lucato dan Hino menyerangnya, tapi setelah terkena empat anak panah anakan tersebut meleleh dan menghilang. Aku menggunakan item pemulih MP pada Rirei dan Kohaku yang kehabisan dan sekali lagi memasangkan enchant, kalau tidak pertempuran dua arah tidak selesai-selesai. Sejak awal, alasannya adalah karena tubuh utama Darkman bersembunyi di balik anakannya dan kami terhambat dalam situasi di mana kami tidak menenmukanya.
"Hei, bagaimana kalian menumbangkannya sebelumnya?"
"Waktu itu——Luka-chan dan Hino-chan menahan anakannya, Rirei dan Kohaku mengalahkan yang jauh, dan kami tidak menemukan bossnya sampai Tobi-chan aku melakukan serangan menjepit."
Sambil menjelaskan itu, dia menebas satu anakan dengan one-handed sword dan mengarahkan tangannya yang bebas ke arah yang berlawanan, menembakkan sekumpulan pancaran cahaya untuk menusuk dua anakan sekaligus.
"Jadi kita kekurangan kekuatang serangan karena aku di sini, ya?"
"Bisa jadi begitu, tapi…Tobi-chan, apa kau bisa melihatnya?"
Meskipun Toutobi telah menarik dirinya dari medan pertarungan, dia kelihatannya telah mengamati dari atas pohon terdekat dan berbalik saat Myu memanggilnya.
"…dari arah jam sebelas ada tanda-tanda penciptaan anakan! Darkman ada di situ!"
"Kohaku! Rirei!"
"Fufufu, aku tahu. —— Flame Circle!"
"—— Little Tornado!"
Gabungan skill kedua orang itu meledak dan gelombang hawa panas yang kuat datang dari arah yang Toutobi tunjukkan. Sebagai hasilnya, anakan-anakan tersebut bergerak untuk menciptakan sebuah dinding pelindung, tapi Lucato dan Hino tidak akan membiarkan mereka meloloskan diri.
"Aku tidak akan melepaskanmu. ——Multistage Thrust!"
"——Shock Impact!"
Kedua orang itu mengamankan jalur ke boss, dan Myu menerjang masuk. Aku memasangkan enchant dengan melihat punggungnya.
"Enchant —— Attack, Speed!"
"Terima kasih! Nah, jangan lari kali ini!"
Di depan badai api yang mereda, terdapat Darkman sendirian saja. Seakan melarikan diri dari Myu, bayangan itu merendahkan tubuhnya menyelinap ke dalam tubuhnya.
"Aku tidak  akan membiarkanmu pergi!"
Walaupun pedang Myu mendekat dengan kecepatan luar biasa, Darkman tidak kalah dalam hal kecepatan. Dia mengubah bentuk lengannya menjadi sebatang tombak dan melindungi dirinya sendiri dari serangan itu dengan menangkisnya.
Di sisi lain, bagian dari tubuhnya meleleh untuk membuat anakan baru yang telah mengarah pada kami.
"Berdirilah tegap! Kita harus bertahan di sini!"
Seperti yang Lucato perintahkan, aku sekali lagi memasangkan Enchant pertahanan dan kami menghadapi anakan yang mendatangi kami. Menusuk dengan tombak, menebas dengan pedang, memanggang mereka dengan sihir dan memahatnya. Anak panahku juga menembus dan menancap di dahi lawan.
Sedangkan untuk Myu, kecepatan tingginya telah ditingkatkan dengan enchant peningkat stat kecepatan dan secara bertahap melampaui Darkman. Melakukan serangan sedikit demi seidkit, HPnya berkurang sampai sekitar 30%.
"Sudah selesai! —— Fifth Breaker!"
Myu mengayunkan pedangnya yang memancarkan cahaya art dan baru saja akan melepaskan serangan mematikan. Akan tetapi——
"…sudah waktunya. Dia melarikan diri."
Suara Toutobi yang berada jauh dari medan pertempuran sehingga kami dapat menghindari penalti serangan gabungan terdengar di telingaku. Baik tubuh Darkman maupun anakannya telah rubuh, meleleh di depan kami dan menghilang, dihisap ke dalam tanah.
Serangan Myu yang pertama menebas udara kosong dan art-nya dengan segera dibatalkan.
"Tidak mungkin, dia melarikan diri?!"
Begitu dia berpikir dia akan menebasnya, Myu mendapatkan kejutan karena tidak bisa mengalahkannya.
"Hei, apa itu?"
"Pertarungan dengan Darkman memiliki batasan waktu. Sebenanrnya, bertahan sampai batas waktu yang ditentukan dianggap selesai, tapi kita tidak akan mendapatkan item drop apapun."
Sambil menyaksikan Toutobi yang menghibur Myu yang merasa kecewa, Lucato menjelaskan detail dari pertarungan.
Tentu saja, tinggal sedikit lagi dan kami akan berhasil mengalahkannya. Membiarkannya lepas pada titik itu terasa sangat membuat frustrasi.
"Sekali lagi! Ayo kita lakukan sekali lagi!"
"Tidak bisa. Kita harus memandu Yun-san ke kota berikutnya."
Lucato menyeret Myu yang terobsesi dengan pertarungan boss itu untuk menjauh. Ini juga hal yang sudah biasa bagi mereka. Aku menuju ke tempat di mana boss seharusnya berada.
Setelah berjalan sebentar, aku melihat akhir dari rawa-rawa di selatan.
"Ini adalah Kota Keempat——juga dikenal sebagai Maze Town.
Apa yang membentang di hadapanku, adalah sebuah dinding luar kota yang memiliki kesan sangat Asia Tenggara.
·
Tergambar di gerbang kota adalah sebuah pola yang sangat memiliki karakteristik. Kota dilimpahi dengan kelembapan dan pola-pola oriental yang tergambar di bangunan-bangunan, sesuai dengan yang digambar di gerbang.
Setelah memasuki jalan utama, aku dapat dengan segera melihat objek yang berfungsi sebagai portal transisi. Aku menyentuhnya dan mendaftarkannya sebagai titik transisi.
"Di sekitar kota, ada empat pintu masuk ke dungeon. Kota ini disebut sebagai Maze Town karena ini memiliki dungeon di dalamnya."
Sambil mendengarkan penjelasan Lucato, aku diantar ke lokasi-lokasi penting di kota.
Tepat di sebelah portal yang ada di pusat kota, terdapat sebuah bangunan mirip menara yang kuduga adalah sebuah dungeon.
Ada dungeon tipe gua di dekat Kota Pertama dan di pinggiran Kota Ketiga ada sebuah dungeon tipe tambang. Tapi dungeon dari Maze Town adalah tipe yang sama sekali berbeda.
Sementara dungeon-dungeon yang lain mempertahankan bentuknya menyesuaikan dengan area, dungeon Maze Town ruangan-ruangannya meluas.
Pintu-pintu masuknya adalah empat bangunan besar, tapi isinya berbeda satu sama lain.
Yang pertama adalah dungeon normal dengan dinding batu yang bersifat intensif saat menyerang dan menyebabkan bad status.
Yang kedua adalah dungeon gua bawah tanah yang kelam dengan pijakan yang buruk yang memiliki banyak monster petarung dan beratribut air.
Yang ketiga adalah dungeon tipe horor dengan ruangan yang gelap, daerah yang rumit dan didominasi oleh monster undead.
Yang terakhir, adalah dungeon yang belum diluncurkan adalah dungeon yang akan direalisasikan bersama update.
"Dungeon di pusat kota adalah tempat berburu utama. Ada area-area yang tersebar di segala penjuru kota, tapi di luar terdapat luar biasa banyak lawan kuat dengan level tinggi. Bahkan player yang berorientasi pada perkembangan minimal-maksimal tidak berani melangkahkan kaki keluar."
"Hee, dungeon di area tak terjamah dan liar, ya. Kedengarannya benar-benar kota yang menyenangkan."
Aku merasa ingin untuk mengintip keluar, mengumpulkan item di sekitar pintu masuk dan melarikan diri jika diperlukan.
"Onee-chan, barusan kau berpikir untuk menyambar beberapa material tanpa bertarung, ya 'kan?"
"…tidak bisa ya?"
"Tidak hanya kau tidak bisa melakukannya, tapi ada pemain lain sebelum dirimu yang memikirkan hal yang sama dan hanya sedikit yang sukses. Bukankah lebih bagus kalau kau menyerah dan meningkatkan level Sense-mu sendiri?"
Yah, kurasa begitu. Menghindari monster yang kuat tanpat mengalahkan mereka dan mendapatkan item akan jadi sulit.
Bahkan kalaupun aku mendapatkan beberapa material, itu paling banyak satu atau dua material sebelum akhirnya sekarat dan kembali ke kota dengan penalti kematian. Itu tidak sebanding.
"Mau bagaimana lagi, aku menyerah."
"Yun-san, kau ternyata sangat bersemangat untuk melakukannya, ya. Penantang yang tak terduga."
Ahahaha, Lucato dan yang lainnya tertawa sambil sedikit meringis. Myu terlihat syok dan berkata, "Onee-chan benar-benar tidak biasa ya kadang-kadang," dan menghela nafas.
"Yah, ayo biarkan saja itu. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kalau seperti ini, kita akan membubarkan party, rasanya payah sekali."
Hino bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Aku telah mencapai tujuanku setelah mendaftar di portal Maze Town, jadi aku tidak punya masalah dengan pembubaran.
"Ayo balas dendam pada Darkman! Kali ini kita akan mengalahkannya!"
"Ayo kalahkan Treant yang kita tinggalkan! Tingkatkan staff dengan material item drop dari Treant!"
Myu dan Rirei angkat suara memberi pendapat. Terlebih lagi, Toutobi yang berada di luar party kali ini, memberikanku lirikan penuh harapan.
"Karena kita mencapai tujuan Yun-san, bagaimana kalau kita berburu saat kembali. Yun-san, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"
"Apa tidak masalah?"
"Sama seperti waktu itu, kami akan mengantarmu di masa yang akan datang juga. Kalau begitu, kami mungkin akan membentuk tim bersamamu untuk latihan."
"Kalau begitu, maka ada sesuatu yang ingin kuminta. Karena aku masih belum terlalu banyak menaikkan Sense bertarungku, bisakah kita melakukan leveling juga?"
"Yayy! Kalau begitu, kita akan membuat Onee-chan masuk dan mencoba semua pola serangan untuk menghadapi Darkman sebanyak lima kali lagi."
Terkejut dengan yang Myu tiba-tiba katakan, aku membeku."
Tidak mungkin, apakah kita akan melawan boss itu lagi dan mengulanginya berkali-kali?!
"Ayo pergi kalau begitu! Ayo pergi sekarang juga!"
"Fufufu, kau benar. Treant akan melarikan diri. Akan bagus kalau makhluk itu tetap di tempat seperti sebelumnya."
Sebagai tambahan menghadapi Darkman, kami akan mengejar Treant juga?! Aku terhanyut terbawa arus tepat ke arah rawa-rawa.
Untuk melawan boss, Darkman, yang berubah menjadi tidak aktif sebelumnya, anggota party Myu bergantian dan kami menghadapinya dalam lima kali pertarungan berturut-turut. Kami telah memahami aliran pertempuran kurang atau lebihnya, tapi dari lima kali mencoba, dua dari tiga kali kami dapat mengalahkannya di ambang batas waktu.
Setelah mengalahkannya tiga kali, semua item yang jatuh untukku adalah material untuk Magical Organism's Catalyst Metal.
Itu adalah sebuah item yang berubah menjadi batangan logam secara acak saat diproses dengan cara membuat batangan logam yang normal. Akan tetapi, untuk bisa membuat batangan logam yang biasa, diperlukan 5 buah item yang sama, jadi satu saja tidaklah cukup.
"Yah, kurasa aku akan menyimpannya untuk saat ini?"
Setelah kami kelelahan dengan lima kali pertempuran dengan boss, aku tersapu oleh momentum saat kami pergi untuk mengalahkan Treant. Tapi entah bagus atau buruk, Treant-nya sudah berpindah dan kami tidak dapat menemukannya, yang menandakan berakhirnya petualangan kami.
"Khhh! Saat kita menemukannya lagi, kita pasti akan mengalahkannya!:
Meskipun aku menenangkan Myu yang frustrasi, sebenarnya, sementara kami mencari-cari Treant, aku mengambil beberapa herba dari titik pengumpulan, jadi kurasa itu tidak terlalu buruk.
Memahami lingkungan rawa-rawa, aku tidak lagi merasa cemas.
Pada akhirnya, aku menyerahkan pada Myu dan yang lainnya potion dan item konsumsi sebagai hadiahnya. Berdasarkan apa yang kurasakan, melihat saat mereka mengantarku dan menemaniku dalam leveling, menurutku sepertinya jumlah yang kuberikan itu sedikit dan ingin memberi mereka hadiah tambahan. Akan tetapi, aku tidak punya cukup item saat ini dan memutuskan untuk kembali ke Atelier dengan semuanya terlebih dulu.

Only Sense Online Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.