31 Desember 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVI


KILAS BALIK I: 
GADIS YANG PALING DITAKUTI

Bagian Pertama
Bagian utara di daerah Frosy. 
Tap tap tap! 
Seorang gadis kecil terlihat berlari cukup cepat sambil membawa sebuah kertas yang ia pegang erat dengan kedua tangannya. Rambut panjangnya yang berwarna seperti bunga sakura terlihat melayang-layang karena larinya yang cukup kencang. 
Ransel sederhana berwarna merah juga terlihat ia pakai, wajahnya yang gembira membuat dirinya terlihat semakin manis. 
Tak lama setelah itu, dia sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah cukup sederhana yang sudah ia kenal sejak lahir. Sambil mengambil nafas yang kelelahan dia tersenyum lebar memandang rumah tersebut. 
Dag dig dug! 
Perasaan berdebar dalam dadanya sungguh membuat dia sangat bersemangat. Tak sabar, ingin segera memberikan kertas hasil evaluasi akhir yang ia peroleh pada seseorang yang ia kagumi. 
Dia mulai berjingkat membuka gagang pintu yang cukup tinggi baginya. 
Krekk!! 
“Aku pulang!” teriaknya sangat manis, berjalan melewati pnitu. Lekas membuka sepatunya dan berjalan cepat memasuki rumah sederhana. 
Tap tap! 
“Mamah, Papah?” tanya kembali gadis tersebut sambil melihat setiap isi ruangan rumahnya.  
“Mamah?!” dia bertanya kembali sambil menghentikan pencariannya. Wajahnya terlihat gembira melihat seseorang yang sedang mencuci piring. 
“Ah Halsy? Kamu sudah pulang?” senyum gadis tersebut, Asha. Dirinya yang masih terlihat sangat cantik, mulai tersenyum melihat putrinya. 
Ya, gadis yang disorot sejak awal cerita adalah Halsy Aeldra yang masih berumur empat tahun. Rambutnya terlihat amat panjang hingga menutupi punggung dan ranselnya. 
“Mamah mamah, aku dapat nilai akhil bagus!” senyumnya terlihat bersemangat. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan kalau dia ingin mendapatkan pujian dari orang yang ia kagumi. Dia juga terlihat mengangkat-ngangkat kedua tangannya yang memegang kertas laporan miliknya. 
“Benarkah? Ya sudah, kamu simpan kertasnya di atas meja makan,” senyum Asha melirik putrinya tersebut. Tertawa kecil karena tingkah menggemaskannya. 
“Em …..,” angguknya sangat manis. 
Halsy mulai menyimpan tasnya di lantai. Dia mulai menaiki sebuah kursi, menyimpan kertas tersebut di atas meja makan. Wajahnya terlihat tak sabar ingin mendapatkan pujian dari orang yang ia kagumi, yakni ibunya sendiri. 
Setelah itu dia turun dan lekas membuka tasnya kembali, membuka buku pelajarannya kembali. Belajar kembali seolah tak mau pengetahuannya menghilang, tak mau membuat ibunya kecewa. Dia sungguh bekerja keras untuk mempelajari apa yang bisa ia lakukan. 
Beberapa menit kemudian terlihat lelaki berambut coklat mulai memasuki dapur, wajahnya terlihat sangat gembira menghampiri Asha yang sedang mengeringkan piring yang basah. Lelaki itu Haikal Aeldra, ayah kandung dari Halsy. 
“Asha, kamu lihat bolpoinku yang berwarna merah!?” 
“Ah di meja tengah, tadi aku memakainya untuk menulis catatan belanja,” lirik Asha pada suaminya itu. 
“Kenapa harus menulis di atas kertas? Sekarang teknologi sudah canggih kan,” senyum Haikal keheranan. 
“Hee aku cuman gak mau diperbudak sama teknologi. Sekali-kali kan pakai manual juga boleh?” senyum Asha sambil terus mengelap piring. 
“Baik baik, aku menyerah jika berdebat denganmu.” 
“Jadi kenapa kamu buru-buru mencari bolpoinmu?” Asha mengajukan pertanyaan, kembali memberikan perhatian pada pekerjaanya. 
“Jangan kaget yah Asha, kita dapat kabar gembira ….., Heliasha katanya sudah mencapai tingkat 3. Dia baru saja menyelesaikan ujiannya!” senyum Haikal yang gembira. 
“Ehh serius?! Di-dia satu tingkat di bawahku sekarang?! Lagipula kapan dia mengikuti ujiannya?! Kenapa aku bisa tidak tau!?” Asha terkejut panik, berbalik menatap Haikal ketakutan. Tapi meski begitu ada raut sedikit kebahagiaan di wajahnya. 
“Justru itu, aku juga mendadak mendapat telepon dari pihak yang menguji kemampuannya. Sekarang kita harus datang ke sana untuk menjemputnya, katanya dia ingin dijemput sama kita.” 
“Ehh …, dia manja seperti biasanya, yah?” senyum Asha melihat Haikal. 
Kertas ini tidak kepakai kan!? Aku minjam sebentar, aku ingin menuliskan alamat tempat Heliasha berada,” Haikal terlihat berjalan cepat sambil mengambil kertas yang berada di atas meja makan. Dia sungguh terlihat terburu-buru tanpa tau apa sebenarnya isi kertas tersebut. Tanpa tau, seberapa berharganya kertas tersebut bagi pemiliknya. 
Bukankah kamu juga sama saja,” senyum Asha dalam hati. 
Begitu juga dengan Asha. Karena mendapat kambar gembira tentang putri tertuanya, dia benar-benar melupakan percapakan sederhana dengan putri keduanya. Dia hanya tersenyum bahagia melihat Haikal yang membawa kertas tersebut. 
“Asha kamu harus siap-siap!” teriak Haikal melirik Asha. 
“Yaa …,” jawab nada panjang Asha yang mulai merapikan piring. 
Halsy yang melihat hal itu lekas menutup dan membereskan buku pelajarannya. Dia berjalan mengikuti ayahnya yang berjalan cepat menuju ruang tengah. Wajahnya terlihat cukup khawatir. 
Setelah mengambil pulpen dan mengankat telepon kembali, Haikal lekas membalikkan kertas tersebut dan menuliskan alamat yang disebutkan penelepon. Ketika dia masih sibuk berkomunikasi dengan penelepon tersebut, terlihat Halsy yang menarik pelan celana ayahnya. Wajahnya terlihat khawatir sambil berkata. 
“Pa-papah keltas …!” 
“Eh kertas? Kamu cari kertas yang lain aja yah sayang. Papah sedang sibuk sekarang,” senyum Haikal melihat putrinya tersebut. 
“Halsy mau yang itu, itu punya Hals –“ 
“Halsy jangan egois gitu, mamah gak pernah ngajarin kamu seperti itu,” senyum Asha melihat putrinya tersebut. 
Halsy hanya terdiam menganggukan kepalanya, kedua tangannya terlihat bergemetar pelan. 
“Lagipula dimana tas kamu? Di dalam tas masih banyak kertas kan?” lanjutnya sambil berjalan memasuki kamarnya, dia terlihat ingin bersiap-siap untuk pergi. 
“….” Halsy menganggukan kepalanya, tersenyum memejamkan mata melihat ibunya. Senyuman yang menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak ingin membuat ibunya kecewa apalagi menangis. 
Dia berjalan pelan memasuki dapur, mengambil ranselnya yang tergeletak di atas lantai. Setelah itu dia membuka ranselnya kembali dan mempelajari pelajaran formal yang dia dapatkan dari tempat kursusnya. 
Halsy tergolong sangat pintar di tempat les-nya, bukan karena kejeniusannya …, tapi karena ketekunan dan kerja kerasnya. Dia sangat ingin membuat orang tuanya melihat dirinya, sangat ingin membuat orang tuanya bangga akan dirinya. Tak ingin mereka kecewa terhadapnya. 
Selang beberapa menit, terlihat Asha dan Haikal yang sudah berpakaian rapi. Mereka tersenyum melihat Halsy yang sedang belajar. 
“Halsy, papah sama mamah keluar dulu. Kamu tolong jaga Alysha di kamar yah?” 
“Iya pah,” senyum Halsy yang berdiri melihat ayahnya. 
“Kalau ada orang asing, jangan dibuka pintunya yah?” senyum Asha. 
“Iy-iya mah,” senyum Halsy memiringkan kepalanya. Kedua tangannya yang bergemetar terlihat dia sembunyikan dari orang tuanya. Dia tidak ingin menghancurkan suka cita kedua orang tuannya hanya karena nilai dirinya yang tak berarti apa-apa. 
Setelah orang tuanya pergi, Halsy lekas memasukan kembali buku pelajaran ke dalam ransel. Dia mulai memakai ranselnya tersebut. 
Plakkk!! 
Dia memukul kedua pipinya tersebut dengan kedua tangan. Mencoba menghibur dirinya sendiri. Dia hanya bisa berpikir positif jika kedua orang tuanya nanti akan sadar jika kertas laporan yang mereka bawa adalah bukti dari kerja kerasnya.  
***
 Bagian Kedua 
Halsy mulai berjalan cepat memasuki kamar kakak tertuanya, Heliasha. 
Sesampainya memasuki ruangan tersebut, terlihat balita berambut coklat seperti ayahnya yang sedang membaca buku, ya gadis kecil tersebut adalah Alysha Aeldra. Meski tubuhnya masih balita, perilakunya sudah terlihat seperti anak yang berusia lima tahun. Kejeniusannya benar-benar sudah terlihat. 
“Kakak!” teriak amat gembira Alysha, dia merangkak amat cepat menghampiri Kakak perempuannya itu. 
“Alysha kamu udah makan?” senyum Halsy sambil menurunkan tasnya. 
“Wudah, sama es klim!” teriak Alysha mengangkat tangan kanannya yang mungil. 
Buashhh!! 
Uap yang cukup dingin seketika muncul di atas tangan kanan Alysha. Uap dingin tersebut langsung membuat Alysha bersin karena kedinginan. 
“Achimmm …!” 
“….” Halsy hanya tersenyum melihat adiknya, mulai mengelus pelan kepala adiknya sambil bergumam dalam hati. 
Kamu juga yah …..” 
“Kak Heliasha, main yuk ….!” ajak Alysha dengan mata yang berbinar-binar. 
“Ehh Kakak bukan Kak Heliasha,” senyum Halsy cukup sedih. 
“Kak Halsy!” Alysha mengangkat kedua tangan ke atas, terlihat menggemaskan. Membuat Halsy tersenyum, mengajukan pertanyaan. 
“Iya iya, Alysha mau main apa?” 
“Lobot!” 
“Eh main lobot kan buat anak laki-laki?” Halsy cukup terkejut. 
Keduanya masih belum bisa berbicara dengan benar karena lidah mereka yang masih pendek. Mereka berdua benar-benar terlihat lucu. 
“Eh main! Main!” 
“Iya iya, kita main lobot,” senyum Halsy yang mengikuti kemauan adiknya. Berdiri, mengambil mainan untuk Alysha. Bermain bersamanya, mengasuh adik tercintanya. 
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, beberapa jam telah berlalu hingga langit berubah menjadi gelap. Halsy terlihat duduk membaca buku pelajarannya, Alysha terlihat sudah tidur dipangkuannya. 
Asha terlihat sudah pulang dan mulai membuka pintu kamar Heliasha, berjalan menghampiri kedua putrinya itu. 
“Mamah?!” senyum Halsy menurunkan bukunya. 
“Halsy, kamu sudah makan?” senyum Asha sambil mengangkat putri bungsu yang tertidur pulas. 
“….” Halsy menggelengkan kepala, masih memasang senyuman melihat ibunya. 
“Kita ke ruang makan yah. Ada banyak makanan loh.” 
“Em …” Halsy menganggukkan kepalanya, berjalan cepat mengikuti ibunya yang menggendong Alysha. 
Sesampainya di ruang makan, Halsy sungguh terkejut karena melihat banyak makanan yang tertata di meja makan. Wajahnya sungguh terlihat terkejut bahagia. Hatinya amat sangat berbunga-bunga. 
“Halsy Halsy! Sini,” senyum seorang gadis yang lebih tua darinya. Rambutnya berwarna putih cukup pendek sejajar dengan bahu. Wajahnya benar-benar mirip dengan Halsy. Ya, dia adalah Heliasha Aeldra, kakak perempuannya. 
“Kakak,” senyum Halsy berjalan cepat menghampiri Kakaknya yang sedang duduk di atas bangku. 
“Lihat Halsy,” Heliasha mengambil pisau dan dan melukai lengannya sendiri hingga berdarah. Untuk sesaat Halsy terlihat ketakutan melihat tindakan Kakaknya itu. 
“Heliasha! Sudah mamah bilang jangan melukai dirimu sendiri,” kesal Asha melihat putri tertuanya, raut wajahnya juga terlihat khawatir. 
“Lihat,” senyum Heliasha mengendalikan darah tersebut, dia membentuk lambang hati dengan darahnya. 
“……” Halsy hanya terkagum-kagum melihat kemampuan Kakaknya. 
“Hebat kan,” senyum Heliasha terlihat bangga, membusungkan dada. Dia terlihat berdiri di atas bangku meja makan. 
“Hebat kak,” senyum sedih Halsy. 
“Heliasha cepat sembunyikan darahmu dan tutup lukamu. Kemampuanmu itu bukan main-main, jangan digunakan sembarangan,” tegas Haikal pada putrinya. 
“Baiklah papah,” Heliasha memasang wajah cemberut. 
Halsy mulai menaiki kursi yang berada di sebelah Kakaknya. Tersenyum memberikan tangan kanannya pada ayahnya. 
“Keltas aku papah,” senyumnya melihat Haikal. 
“Eh kertas yang mana?” senyum Haikal keheranan. 
“Keltas meja makan!” 
“Oh itu, kertas yang buat alamat itu?” Haikal sambil meraba setiap saku pakaiannya. 
“Em ….,” senyum Halsy menganggukkan kepalanya. 
“Ad-aduh maaf sayang, kertas itu kayaknya ilang tadi pas waktu dijalan. Emang kertas apa itu?” senyum sedih Haikal. 
“….” Halsy hanya terdiam melihat wajah sedih ayahnya. 
“Halsy?” khawatir Asha melihat putrinya. 
“Bu-bukan apa-apa mah,” senyum Halsy menundukkan kepala. 
“Halsy, kamu gak apa-apa?” tanya Heliasha khawatir. 
“Gak apa-apa kak,” senyum Halsy memejamkan mata. Kedua tangannya kembali bergemetar, kedua matanya terasa panas, ingin sekali menjatuhkan bebannya. Tapi dia tahan, sekuat mungkin. Tak ingin menghancurkan suasana suka cita keluarganya. 
Setelah itu, pesta untuk ucapan selamat Heliasha pun dimulai. Alysha yang sebelumnya tertidur pulas mulai bangun dan bercengkrama dengan keluarganya. Pemandangan yang benar-benar terlihat aneh ketika balita yang masih berumur 2 tahun sudah bisa berkomunikasi dengan keluarganya. 
Seisi ruangan tersebut tersenyum bahagia, Asha dan Haikal sungguh terlihat bangga pada putri pertamanya. Terkadang mereka juga membicarakan Alysha yang kadang-kadang mengeluarkan kemampuannya. Selama pesta tersebut, keduanya hanya membicarakan kejeniusan Heliasha dan Alysha. 
Halsy hanya bisa tersenyum sambil terus memakan makanan kesukaannya, terus tersenyum sambil menahan rasa sakit dalam hatinya. Dia sungguh berbeda dengan kedua saudarinya yang diberkati kejeniusan sejak lahir. Dia hanya bisa bekerja keras untuk mempelajari apa yang bisa ia lakukan, selalu menekuni setiap pelajaran yang diberikan padanya. 
Hal itu hampir sering terjadi padanya. Tapi belum pernah sekalipun, belum pernah terlintas dalam pikirannya untuk membenci kedua saudarinya, kedua orang tuanya. Dia benar-benar menyayangi keluarganya. 
Malam semakin larut, ketiga bersaudara Aeldra sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Masih ditempat yang sama, di ruang makan terlihat Asha dan Haikal yang merundingkan sesuatu. Wajahnya sungguh terlihat serius. 
“Asha …, Heliasha sudah menjadi Kineser tingkat tiga, kamu tau apa artinya kan?” senyum khawatir Haikal. 
“Ya, dia sudah cukup kuat untuk menghabisi seorang manusia. Selain itu tentang Alysha, dia juga di umur yang masih amat belia sudah mencapai tingkat 1. Aku cukup senang tapi masih tetap khawatir pada mereka berdua.” 
“Kita harus mengawasi kedua anak kita itu lebih cermat, kita harus terus memperhatikan mereka.” 
“Ya, kita harus membimbing mereka agar mereka berdua tidak menyalahgunakan kemampuannya,” senyum Asha. 
“Aku setuju, tapi jika kita melakukan itu bagaimana dengan perasaan Halsy? Bukankah jika perlakuan kita berbeda pada mereka bisa membuatnya terluka?” tanya khawatir Haikal. 
“Halsy hanya manusia biasa, selain itu pola pikirnya cukup dewasa dibanding kedua saudaranya. Dia pasti akan mengerti akan tindakan kita.” 
“Begitu. Tapi sungguh, aku benar-benar terkejut melihat kemampuan Heliasha yang berkembang cepat,” senyum Haikal bahagia. 
“Jangankan kamu, aku juga terkejut melihat perkembangannya.” 
“Selain itu Alysha, dia benar-benar manis ketika memulai pembicaraan dengan kita. Perkataanya yang masih belepotan sungguh membuatnya sangat lucu!” 
“Aku tau itu! Dia benar-benar terlihat sangat lucu ketika melakukan hal itu!” 
“Dia sepertinya akan mengikuti jejak Kakak pertamanya. Perkembangan Alysha pasti akan cepat seperti kakaknya.” 
Ketika mereka berdua masih berbicara, terlihat Halsy yang masih bersembunyi dibalik pintu keluar. Dia mendengar pembicaraan kedua orang tuanya sejak awal. Niatnya yang hanya ingin pergi ke toilet membuat hatinya menjadi lebih sakit. 
Tapi kembali lagi, dia hanya tersenyum sambil berjalan menundukkan kepala. Hanya saja air mata yang kecil perlahan menetes dari matanya. Bukan air mata kemarahan pada orang tua yang kurang melihat dirinya, yang tidak melihat usahanya. 
Tapi air mata kesedihan karena dia merasa sudah mengecewakan orang tuanya, karena dia berbeda dengan kedua saudarinya yang menarik banyak perhatian dunia.
Ditengah kesedihan dan sakit hatinya, Halsy mulai beristirahat dan memasuki alam mimpinya. 
***
 Bagian Ketiga 
Hari telah berganti, matahari yang terang mulai menunjukkan sinarnya. Halsy yang manis mulai terbangun karena teriknya matahari. 
Dirinya hanya menatap atap rumahnya, masih memikirkan percakapan orang tuanya tadi malam. 
Plakk!!! 
Dirinya kembali memukul kedua pipinya, memberikan semangat pada dirinya sendiri, mendukung dirinya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan percakapan tersebut. Dia tersenyum mencoba berpikir positif akan tindakan orang tuanya nanti. 
Dia turun dari tempat tidur, merapikan tempat tidur itu sendiri seperti biasanya. Setelah itu dia berjalan meninggalkan kamar dan memasuki ruang keluarganya. 
Ketika dia sampai disana, terlihat tidak ada satupun orang yang menyambut kedatangannya. Untuk sesaat Halsy hanya terdiam karena suasana dingin yang menyelimuti dirinya. 
Dia mulai berjalan melewati ruang keluarga, berjalan memasuki dapur berharap dapat menemukan seseorang. Tapi kembali lagi, dirinya hanya terdiam melihat suasana dapur yang tidak beda jauh dengan ruangan sebelumnya. 
Dia berpikir jika orang tuanya hanya pergi keluar sebentar, pergi karena urusan yang amat sangat penting. Itu terbukti dari tidak ada satupun makanan yang tertata di atas meja makan. Karena biasanya, jika orang tuanya pegi keluar cukup lama. Mereka akan menyiapkan makanan untuk Halsy. 
Halsy hanya duduk di atas kursi meja makan sambil bersenadu indah. Kakinya terlihat ia goyang-goyang ke depan dan ke belakang yang membuat dia terlihat semakin menggemaskan. 
Lebih dari tiga puluh menit telah berlalu, tak ada tanda-tanda kedatangan orang tuanya. Dia turun dari kursi dan berjalan cepat menghampiri kamar kakak dan adiknya. Berniat menanyakan akan keberadaan kedua orang tuanya. 
Tapi kembali lagi, suasana kamar kakaknya tersebut tidak beda jauh dengan ruang dapur atau ruang keluarga. Hanya rasa dingin yang menyambut dirinya, dia hanya terdiam sedikit bergemetar. Suasana terasa hening ketika Halsy hanya terdiam menundukkan kepala. 
Gruggk! 
Suara perut yang menandakkan kalau dia butuh makan mulai menghancurkan keheningan itu. Dia tersenyum melihat perutnya sambil berjalan kembali ke dapur. 
Dia mulai mendorong kursi meja makan hingga mendekati kulkas. Setelah itu mulai membuka kulkas dan mencari sesuatu yang bisa ia makan. 
Wajahnya terlihat kebingungan karena dia tidak tau mana yang baik bagi dirinya atau yang buruk baginya. Dia terlihat berpikir mencari makanan yang sering ia lihat sehari-hari. Wajahnya yang terlihat berpikir membuat dia juga terlihat lucu. 
Pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil roti tawar yang berada di dalam kulkas. Hanya makanan itu yang dapat ia kenali, hanya makanan itu yang diketahui gadis berumur empat tahun seperti dirinya.
Dia menutup kulkas dan mengembalikan kursi makan ke tempat semula. Dia mulai memakan roti tersebut. 
Krekkkss! 
“Aww …,”Halsy terlihat kesakitan ketika memakan roti itu. 
Ya, roti tersebut cukup keras bagi gigi kecilnya. Bukan hal aneh jika roti itu keras, roti tersebut sudah cukup lama didinginkan di dalam kulkas hingga mengeras. 
Halsy hanya memandang sedih roti tersebut, gigi susunya hanya akan kesakitan karena memakan makanan cukup keras itu. Kini dia hanya duduk terlihat berpikir sambil melihat roti itu 
Tapi tiba-tiba, wajahnya langsung tersenyum seakan mendapatkan ide. Dia menyimpan rotinya di atas meja makan. Kembali mendorong kursi meja makan, kali ini ia dorong mendekati rak perlatan makan. 
Dia mengambil gelas dan mulai mengisi dengan air yang berada di dispenser. Dispenser itu tidak jauh dari rak perlatan makan, membuat Halsy tidak perlu turun dan memindahkan kursi. 
Dia kembali bersenadung gembira karena kali ini bisa memenuhi perut kosongnya. Roti keras yang menyebalkan baginya bisa ia kalahkan dengan segelas air. 
Kini dia terlihat berhadapan dengan roti kerasnya di lantai, segelas air mineral terlihat berada disampingnya. Dia mulai bergumam lucu sambil menunjuk roti tersebut. 
“Hahaha, sekalang aku bisa memakanmu loti jahat! Dengan bantuan sahabatku, ail suci yang kudapat dari dispensel. Aku dapat menghanculkan peltahananmu, aku bisa memakanmu! Hohoho,” tingkahnya sungguh menggemaskan, khayalan anak berumur empat tahunnya benar-benar ia perlihatkan. 
Tapi itu hanyalah sikap disengajanya. Dia memiliki pola pikir dewasa dan sadar akan tingkahnya yang memalukan. Tapi dia tidak punya pilihan, inilah cara satu-satunya agar dia bisa melupakan kesedihannya. 
“Lasakan pendelitaan daliku, hohoho,” senyum gembira Halsy. Dia terlihat menyelup-nyelupkan roti kerasnya ke dalam gelas yang berisi air. 
Aaa janan, sudutku …, sudutku yang pelkasa mulai melemah,” gumam Halsy dengan suara yang berbeda. Dia mengisikan suara pada roti yang ia celup. 
“Hahaha telus buat peltahannya lemah, pasukan ail suci,” senyum Halsy sambil terus mencelup-celupkan rotinya. 
Siap komandan Halsy!” Halsy dengan suara yang lebih berat, kali ini dia memberikan suara pada air dalam gelasnya. 
Lalu beberapa detik kemudian ketika rotinya sudah mulai sedikit lembek, Halsy mulai kembali mengisikan suara pada airnya. 
Lapol komandan Halsy, kami telah membuat peltahanan loti jahat melemah. Kini dia sudah bisa komandan hanculkan.” 
“Kelja bagus pasukan ail suci, aku akan melanjutkan peljuangan kalian,” senyum Halsy mulai memakan sudut roti yang sudah lembek. Wajahnya terlihat bahagia ketika dia memakan roti tersebut. 
Awwhh twidak, sudwutku yang belhalga,” Halsy kembali bergumam sambil memakan rotinya, dia memberikan suara pada roti yang sedang ia makan. 
“….” 
“Baiklah, sekalang penyiksaan kedua,” senyum Halsy berniat kembali mencelupkan sudut roti yang lainnya. Tapi, 
Ting tong …..! 
Bel rumahnya berdering keras hingga menghentikan tindakannya. Halsy menyimpan rotinya di atas gelas sambil melihat pintu keluar. 
“Kamu kali ini selamat, loti nakal,” senyum Halsy melirik rotinya yang sudah ia gigit. 
Dia menghampiri pintu keluar, mulai berbicara tepat dihadapan pintu keluar. 
“Knock knock! Siapa disana?” 
“Eh, Halsy? Jika kamu berkata knock knock, harusnya tante yang bertanya ‘siapa di sana’,” senyum seseorang dari balik pintu keluar. 
“Hooo, begitu yah cala keljanya?” senyum Halsy seakan paham. 
“Eh? Apa ini pertama kalinya kamu melakukan permainan ini?” senyum keheranan orang yang menjadi lawan bicara Halsy. 
“Em …., ini peltama kalinya buat Halsy.” 
“Baiklah kalau begitu. Papah sama Mamah kamu ada?” 
“Kata mamah, Halsy gak boleh jawab peltanyaan olang jahat.” 
“Eeeh? Ini tante Hana, tante bukan orang jahat,” senyum keheranan Hana. 
“Ohhh kakaknya papah?” 
“Iya tante kakaknya papah, Herliana juga ikut kok kesini,” senyum Hana. 
“Hoo begitu, tunggu sebental,” senyum Halsy berjalan cepat memasuki dapur. 
Dia terlihat khawatir sambil membereskan roti dan gelas berisi airnya. Jika tantenya meihat hal itu, bukan hal yang aneh jika dia akan marah. Bukan marah padanya, tapi pada kedua orang tuanya. Halsy tidak menginginkan hal itu, dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih karena dirinya. 
***
 Bagian Keempat:
 Setelah itu, dia kembali berjalan ke depan pintu keluar. Dia tersenyum dan berkata.

“Baiklah, sudah tante. Tante bisa masuk, pintunya enggak Halsy kunci,” 
“An-anu Halsy? Apa yang kamu lakukan? Lagipula jika tadi tidak dikunci, kenapa kamu tidak bilang dari tadi,” Hana terlihat membuka pintu, dia tersenyum keheranan melihat Halsy yang melihat dirinya. 
“……..” Halsy hanya terus diam sambil melihat Hana. 
“Mamah, orang itu aneh,” senyum gadis yang seumuran dengan Halsy. Dia terlihat berjalan keluar dari balik rok ibunya. Rambutnya sangat panjang seperti Halsy, hanya saja rambutnya itu berwarna kuning lemon yang cerah. 
“Herliana, itu tidak sopan. Dia itu sepupumu tau,” senyum Hana menahan kesal. 
“….” Herliana hanya terdiam melihat Halsy, Halsy juga terdiam menatap Herliana. Itulah pertemuan pertama antara Halsy dan Herliana. Keduanya mulai tersenyum satu sama lain tanpa mengetahui takdir menyedihkan yang akan datang pada mereka. 
“Soalnya, ada lemah loti di pipinya. Dia sepelti anak kecil,” senyum Herliana menunjuk pipi Halsy. 
“Remah roti?” Hana melihat pipi Halsy. 
“……” Halsy cukup terkejut dan lekas mengelap pipinya, wajahnya terlihat khawatir. 
“Tapi Herliana, kamu juga masih anak kecil,” senyum Hana melihat putrinya. 
“……..” Herliana hanya memasang wajah kesal yang lucu. 
“Tapi Halsy, kenapa ada remah roti dipipimu? Apa kamu habis makan roti?” tanya Hana. 
“Em, iya … Halsy abis makan loti,” senyum Halsy.

“Kamu sudah makan?” 
“Sudah,” senyum kembali Halsy memiringkan kepalanya. 
“Papah sama Mamah kamu kemana?” 
“Lagi kelual.” 
“Heliasha sama Alysha?” 
“Sama mamah dan papah.” 
“Eeeehhh, terus kamu ditinggalin gitu?!” Hana mulai terlihat kesal. 
“Eng-enggak, Halsy bilang ke mamah kalau Halsy ingin dilumah!” Halsy terlihat khawatir ketakutan. 
“Aaah tante kira mereka ngelupain kamu.” 
“Eng-enggak mungkin lah tante –“ 
KREEK!! 
“Halsy!” teriak Asha amat sangat khawatir sambil menggendong Alysha. Tapi dia langsung terdiam melihat Halsy yang bersama dengan Hana.
“Ah Kak Hana ….,” senyum Asha terlihat lega. 
“Mamah ….!” senyum Halsy amat bahagia, dia berlari dan memeluk kaki ibunya. 
“Kak Halsy!” Alysha terlihat bahagia melihat kakanya. 
“Ya ampun Halsy, maafin Mamah yah! Niatnya cuman mau keluar bentar, tapi malah kelewat waktu gini!” Asha terlihat amat sangat sedih dan menurunkan Alysha, dia mulai memeluk putri keduanya itu. 
“Tak apa Mah, lagipula udah ada Tante Hana kok dari tadi, jadi –“ Halsy tersenyum melihat Hana, tapi wajahnya langsung terdiam ketakutan melihat Hana yang terlihat kesal. 
“Darimana kamu sampai melupakan putrimu ini?” 
“Ma-maaf, tapi tadi ada telepon mendadak. Katanya Heliasha mau direkrut menjadi anggota Adjoin, meski masih dalam tahap percobaan. Jadi kami buru-buru ke sana … Aku hanya berniat ikut mengantarnya sebentar dan lekas kembali, aku berniat menyerahkan pada Haikal tapi –“ 
“Asha, aku tau jika Halsy hanya manusia biasa, dia bukan gadis jenius seperti Kakanya yang membuat bangga kalian. Tapi bukan berarti kamu harus mengabaikannya! Dia tetap seorang gadis yang membutuhkan perhatian orang tuanya!” 
“….” Asha hanya memasang wajah menyesal. 
“Eng-enggak tante ….. Hiks!! Halsy kan udah bilang jika Halsy sendili yang ingin dilumah,” Halsy menangis melihat Hana, dia sungguh terlihat sedih melihat orang yang ia kagumi terlihat memasang wajah menyesal. 
“Lihat, dia melakukan hal itu lagi. Dia amat menyayangimu Asha, setidaknya berikan dia perhatian juga,” senyum sedih Hana melihat Halsy, wajahnya terlihat menyesal karena membuat gadis semanis Halsy menangis. 
“Ya ….,” Asha hanya menangis memeluk putrinya. 
“......” 
Setelah itu, Asha lekas memasak untuk Halsy. Wajahnya masih terlihat sedih merasa bersalah karena sudah menelantarkan putrinya. Sedangkan Halsy terlihat sangat bahagia sambil membaca buku di dekat ibunya yang memasak. Sungguh, dia terlihat amat sangat bahagia saat dekat dengan Asha. 
Waktu berlalu sangat cepat hingga matahari mencapai titik tertingginya. Asha mulai kembali seperti semula dan mengobrol dengan Hana di ruang tengah, obrolan yang dilakukan oleh para ibu pada umumnya. Sedangkan Halsy terlihat bermain bersama Alysha dan Herliana. 
“Halsy apa kamu benal-benal gak punya ilmu kinesis?” 
“Um, Halsy gak punya,” senyum Halsy menganggukan kepala. 
“Kalau Alysha?” 
“Alysha punyaa!! Alysha punyaa!!” Alysha tersenyum merangkak menghampiri Herliana. 
“Alysha punya, tapi dia belum bisa ngendaliin,” senyum Halsy melihat adiknya. 
“Woah kelen!” 
“Kamu juga punya kan Heliana? Kamu juga telmasuk tujuh anak ajaib,” senyum sedih Halsy. 
“Ya! Heliana bisa belkomunikasi sama alwah!” 
“Alwah?” tanya Alysha kebingungan. 
“Iya alwah, atau bisa dibilang juga hantu –“ Heliana tapi perkataanya terpotong oleh Halsy yang menutup mulutnya. 
“Bukan apa-apa, Alysha! Jangan dipikilin!” khawatir Halsy melihat adiknya. 
“Ha-hantu ….?” Alysha terlihat ingin menangis, wajahnya mulai membiru pucat. 
“Bu-bukan Alysha! Heliana bukan bilang Hantu tapi Bantu!!” 
“Em ….,” Alysha terlihat menganggukan kepalanya, wajahnya masih terlihat pucat ketakutan. 
“Huuuhh …..,” Halsy terlihat bernafas lega. 
“Jadi Heliana, kemampuan kinesismu itu Astlakinesis (Astrakinesis) ya?” 
“Em, Heliana kinesel tingkat tiga dengan tipe Astlakinesis,” 
“....” Halsy hanya tersenyum kagum melihat Herliana. 
“Alysha udah tingkat satu yah? Hebat, padahal kamu masih kecil banget ….,” Herliana terlihat kagum melihat Alysha. 
“Hehe,” Alysha tertawa manis, wajahnya terlihat sangat menggemaskan. 
“Halsy hanya tersenyum melihat adiknya.” 
“Jadi kamu udah pelnah ikut les, Halsy?” 
“Em ikut, sekalang les Halsy udah beles. Kemalin hali telakhilnya.” 
“Wah aku ili, aku juga pengen ikut …. Tapi kata mamah, gak usah katanya,” senyum sedih Herliana. 
“Kamu emang gak usah kok Heliana, kamu salah satu anak jenius yang membuat bangga Tante Hana. Belbeda kayak Halsy, Halsy halus beljuang supaya bisa membuat bangga mamah sama papah,” senyum Halsy. 
“……” Herliana hanya memasang wajah sedih melihat Halsy. 
“Alysha suka Kak Halsy! Suka!” sedih Alsyha merangkak cepat menghampiri Halsy. Memeluknya sangat erat. 
“Kakak juga suka Alsyha kok,” senyum Halsy mengusap pelan kepala Alysha. 
“……”Herliana semakin memasang wajah sedih melihat Halsy dan Alysha. Wajah sedih yang seolah merindukan seseorang. 
“Heliana apa kamu melindukan seseolang?” sedih Halsy bertanya. 
“Em, Heliana jadi inget sama Kak Hanafi. Lambutnya hitam sama kayak mamah, tangannya yang besal suka ngelus pelan kepala Heliana.” 
“Telus dimana Kak Hanafi? Enggak main kesini?” tanya Alysha. 
“Kak Hanafi hilang 1 tahun yang lalu, “ sedih Herliana yang ingin menangis. 
“….” Halsy dan Alysha hanya terdiam sedih. Keduanya menutup mulutnya takut melukai kembali perasaan Herliana. 
Di saat suasana yang hening itu, terlihat Hana yang berjalan menghampiri mereka. Dia tersenyum melihat Herliana. 
“Liana, kita pulang, ya? Langit udah sore tuh.” 
“Em,” angguk Herliana berdiri dan berjalan menghampiri Hana. 
“Daah Halsy, Alysha,” senyum Herliana. 
“Daah!” senyum Alysha dan Halsy. 
***
 Bagian Kelima 
Setelah Hana pulang, terlihat Asha yang menghampiri kedua putrinya. Dia mulai mengangkat Alysha sambil tersenyum sedih melihat Halsy. 
“Mamah …..?” Halsy hanya terdiam kebingungan. 
“Maafin mamah, ya?” 
“Eh kenapa mamah minta maaf lagi? Halsy yang salah kalena bangun kesiangan,” sedih Halsy yang ingin menangis. 
“Ya udah, berarti kita impas yah?” khawatir Asha yang melihat putrinya ingin menangis. 
“Emm ….,” Halsy menganggukan kepalanya. 
Langit berubah menjadi hitam, malam telah tiba. Kini Halsy bersama keluarganya sedang makan malam bersama. Mereka terlihat bahagia, ya meski ada debat sedikit antara Haikal dan Asha tentang masalah Halsy yang tertinggal di rumah. 
“Halsy, maafin papah juga yah?” khawatir Haikal. 
“Enggak! Udah bilang, kalau Halsy yang salah!” kesal Halsy. 
“……..” Haikal hanya melihat istrinya yang juga melihat dirinya. Kedua memasang wajah sedih seakan merasa bersalah. 
“………” Suasana hening pun datang. 
Braak!! 
Heliasha terlihat menggebrak meja seolah memecah keheningan. Dirinya memasang wajah cemberut sambil bergumam lucu. 
“Papah, Heliasha gak mau masuk Adjoin!” 
“Iya iya, kan udah dibatalin,” senyum Haikal melirik putrinya. 
“Aku juga gak setuju Haikal. Heliasha masih anak-anak. Dia masih berumur 8 tahun!” kesal Asha. 
“Alysha jwuga,” Alysha sambil memakan  bubur lembutnya, wajahnya terlihat belepotan karena buburnya. 
“Astaga, kan udah papah bilang dibatalin,” senyum Haikal melirik Alysha. 
“Terus kalian tadi ngapain aja bisa sampai pulang larut kayak gini?” 
“Dengarkan Asha, tadi Heliasha membantu anggota Adjoin untuk menangkap seorang perampok yang menggunakan ilmu kinesis. Dia semakin diinginkan oleh para anggota Adjoin!” 
“Tapi papah, Heliasha gak mau masuk itu!” kesal Heliasha. 
“....” Haikal hanya memasang wajah sedikit kesal. 
“Iya, kan udah papah bilang daritadi. Kamu gak jadi masuk organisasi itu,” lanjutnya. 
“Kenapa?!” Alysha terlihat cemberut. 
“Eh bukannya Alysha juga tadi menentangnya?” Haikal dan Asha terlihat keheranan melihat putri bungsunya. 
“Bukanna kalau Kak Heliasha masuk itu, kemampuanya akan belkembang dan lebih baik lagi?” 
“….” Asha dan Haikal hanya terdiam terkejut mendengarn isi pemikiran cerdas Alysha. 
“Ka-kamu tidak salah sayang, tapi Kak Heliasha itu masih kecil,” senyum Asha. 
“Tapi bagi Alysha, Kak Heliasha itu udah besal!” Alysha sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Haikal dan Asha hanya tersenyum melihat putrinya. 
Di saat keluarga itu sedang bersosilisasi, seperti biasanya Halsy hanya terus diam sambil menundukkan kepala. Dirinya tidak terlalu mengerti tentang ilmu kinesis, dia hanya gadis biasa yang sedang memakan makanan malamnya. 
Asha yang tidak sengaja melihat hal itu mulai mengingat kejadian yang mungkin membuat putri keduanya terluka. Wajahnya terlihat sedih sambil memejamkan mata. 
“Kita melakukannya lagi?” 
“…….?” Semua pandangan langsung tertuju pada Asha yang sedih, tidak terkecuali bagi Halsy. 
“Maaf ya Halsy,” senyum sedih Asha. 
“Kenapa mamah minta maaf?” sedih Halsy kebingungan. 
“Karena jarang sekali memperhatikanmu ketika seperti n –“ Asha tapi langsung terdiam ketika melihat senyuman putri keduanya. 
“Mamah jangan merasa belsalah seperti itu. Halsy enggak teluka, Halsy enggak sedih. Ya, memang pada awalnya sedih, tapi sekalang gak papa …. Udah biasa kok,” senyumnya. 
Tidak hanya Asha, kini Haikal juga merasa bersalah melihat putrinya yang berambut panjang itu. Dia mulai tersenyum sambil bertanya. 
“Halsy bagaimana lesmu?“ 
“Pa-papah les Halsy udah selesai,” khawatir Halsy, menolak kontak mata dengan ayahnya. 
“Eh!?” Haikal terkejut. 
“Astaga, ayah macam apa yang tidak tau akan hal ini,” Asha terlihat mengeluh kesal. 
“Be-berisik!” kesal Haikal. 
“Ja-jadi dimana laporan evaluasinya. Biar papah lihat,” lanjut Haikal tersenyum melihat Halsy. 
Halsy hanya terdiam khawatir. Jika dia mengatakan hal yang sebenarnya, itu hanya akan membuat kedua orang tuanya semakin sedih, semakin bersalah. Dia takut akan hal itu, takut akan orang tuanya yang sedih karena dirinya. Sambil memasang senyum khawatir yang dibuat-buat, Halsy mulai menjawab sambil mengalihkan pandangannya.
“Hal-Halsy enggak sengaja mengilangkannya ….” 
“Eh kenapa bisa begitu!?” Haikal dengan nada sedikit lebih tinggi. 
BUUUkkk!! 
Asha terlihat memukul kepala Haikal, wajahnya terlihat kesal karena suaminya itu telah membuat putri keduanya terdiam cukup ketakutan. 
“Untuk apa kamu melakukan it –“ kesal Haikal. 
“Diam!!” kesal Asha melirik Haikal. 
“……..” 
“Halsy kamu jangan ketakutan seperti itu. Kami tidak marah, lagipula ini salah kami yang saat itu tidak datang pada perpisahan di tempat lesmu. Kamu hanya gadis yang masih berumur empat tahun, kami bisa mentolerirnya.” 
“Tapi kan Asha –“ 
“Apa pentingnya hasil evaluasi itu! Yang penting Halsy selamat, kan?!” kesal Asha pada Haikal.
Perasaan Halsy yang mendengar hal itu langsung terasa bimbang. Dia sangat senang karena ibunya yang mengkhawatirkan dirinya, tapi dia juga merasa sangat sedih karena hasil kerja kerasnya hanya dianggap tak berharga oleh ibunya. 
Kedua tangannya hanya bergemetar kembali, dia sungguh merasa sedih dan tak bisa menjadi apa yang diharapkan kedua orang tuanya. Dia sungguh ingin bisa seperti kedua saudaranya itu, tapi apa daya ….., dia memang tetap hanya gadis biasa. 
Malam semakin larut, hampir sebagaian keluarga Halsy sudah tertidur pulas. Seperti biasanya, dirinya terlihat berjalan pelan menuju kamar mandi. Ya, dia memiliki kebiasaan unik seperti ibunya. Pergi ke toilet cukup sering. 
Ketika dia kembali dari toilet, dia tak sengaja mendengar pembicaraan Haikal dan Asha di dalam dapur. 
“Astaga ..., ya Tuhan!” kesal Asha pada dirinya sendiri. Dirinya terlihat menatap kertas belanjaan yang berada di atas meja makan. 
“Kenapa? Apa bahan-bahan naik lagi?” khawatir Haikal yang sedang membaca Koran. 
“Haikal ..., kita benar-benar orang tua yang menyedihkan ya?” sedih Asha menangis. 
“Kenapa Asha? Kenapa kamu menangis seperti itu?” khawatir Haikal mendekati Asha. 
“Kamu tau, sebenarnya Halsy sudah berbohong soal kertas evaluasinya,” Asha terlihat yakin sambil mengusap air matanya. 
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” 
“Dia mungkin tak ingin membuat kita sedih dan merasa bersalah karena kejadian itu,” senyum sedih Asha sambil menyentuh kertas belanjaan. 
“Aku tidak mengerti, Asha. Bisa kamu ceritakan langsung pada intinya?” 
“Kamu ingat ketika kemarin? Hari dimana Heliasha mencapai tingkat tiga?” 
“Bagaimana aku bisa lupa? Itu hari membahagiakan untuk keluarga kita –“ 
“Apa kamu yakin hal itu?!” 
“Eh?” 
“Aku sekarang mengingatnya, sebelum kamu yang meminjam kertas. Halsy datang menghampiriku dengan penuh kebahagian. Dia terlihat amat sangat senang sambil mengangkat kertas evaluasi dengan kedua tangannya.” 
“Tung-tunggu?! Bukankah dia yang bilang sendir –“ 
“Sudah kubilang itu adalah kebohongannya!!” teriak kesal Asha. 
“……..” 
“Aku menyuruh Halsy untuk menaruh kertasnya d iatas meja, lalu kamu tau sendiri apa yang terjadi kan?” 
“…….!!” Haikal hanya memasang wajah sangat terkejut melihat istrinya yang tersenyum sedih. 
“Astaga …., pantas saja Halsy saat itu ingin sekali kertasnya. Itu adalah kertas hasil kerja kerasnya. Dan kita menggunakan hasil kerja kerasnya itu hanya untuk menulis alamat kakaknya.” 
“Lebih buruk dari itu, hari dimana dia ingin mendapatkan pujian atas hasil kerja kerasnya, dia hanya disuruh berdiam diri di dalam rumah. Hanya tersenyum hangat menyambut kita pulang seolah tak terjadi apapun. Hanya terdiam ketika kita hanya membicarakan Heliasha dan Alysha tanpa memikirkan kerja kerasnya yang berbulan-bulan.” 
“Amat sangat mustahil bagi dirinya jika tidak terluka. Ya Tuhan aku sekarang sadar betapa menyedihkannya kita ini,” sedih Haikal memejamkan mata. 
Tap tap …….! 
Haikal dan Asha lekas berjalan cepat menghampiri kamar putri keduanya. Wajahnya terlihat amat sedih berniat melihat putrinya yang pernah mereka abaikan. 
Tapi sesampainya di sana, Halsy terlihat tertidur membalikkan badan. Dirinya terlihat berpura-pura tidur membalikkan badan dari kedua orang tua yang melihat dirinya. Tubuhnya bergemetar, Asha dan Haikal sudah tau jika Halsy saat itu tidak tertidur. 
Dia menangis …. 
Asha dan Haikal menyangka kalau Halsy menangis karena perlakuan mereka, tapi itu salah. Alasan Halsy menangis adalah ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya untuk membuat orang tuanya tersenyum bangga pada dirinya. 
Dia berpikir jika dia hanya membuat orang tuanya sedih dan sedih, jika dia hanya membuat ibunya yang ia sayang menangis karena dirinya. 
Asha dan Haikal mengurungkan niat untuk mendekati Halsy. Halsy cukup tidak senang jika ada yang melihatnya menangis seperti itu. 
“Kita akan meminta maaf padanya besok,” sedih Haikal sambil berjalan menuju kamarnya. 
“Ya ….,” sedih Asha mengikuti suaminya. 
“Oh iya Asha, kamu tau tentang tujuh anak ajaib di era kita?” 
“Kenapa kita membahas masalah itu disaat seperti in –“ kesal Asha. 
“Jawab saja, ini amat sangat penting,” senyum Haikal khawatir. 
“Baik baik, aku jawab! Tidak ada satupun yang tidak mengenal mereka. Keisha, Zaxia, Anggela, Anggelina, Herliana, Charles, dan putri kita Heliasha. Mereka adalah tujuh anak ajaib yang menarik perhatian dunia. Mereka mencapai tingkatan kinesis di atas dua dalam umur kurang dari 10 tahun.” 
“Ya, tapi sesungguhnya ada beberapa anak-anak yang lebih mengerikan dari mereka. Tapi dunia masih belum mengetahuinya karena kemampuan mereka yang ditakuti.” 
“Ya aku juga tau akan hal itu. Sang kembar Skyline Rin dan Raydiusianya yang seperti anak kembar Serraph. Mereka sudah mencapai tingkat empat,” jawab khawatir Asha. 
“Selain itu Hanafi, putra pertama Kak Hana yang hilang. Satu tahun lalu sebelum dia hilang, dia sudah mencapai tingkat lima. Entah saat ini dia itu sudah tingkat berapa. Dia benar-benar anak yang harus diwaspadai,” jelas Haikal. 
“Dan satu lagi yang paling ditakuti oleh dunia ……, putri dari pangeran ras Half-elf, El Crystal,” khawatir Asha. 
Salbina Sasa Anybreaker Skyline …..,” Haikal melanjutkan perkataan istrinya, wajahnya terlihat amat khawatir. Kedua tangannya bergemetar, ketakutan. 
“Gadis itu sudah mencapai tingkat enam –“ 
“Itu yang ingin kubahas denganmu Asha,” senyum khawatir Haikal, memotong perkataan istrinya.. 
“Eh?” 
“Dia setingkat denganku dan Serraph sekarang. Tingkat Lord ……” 
“Tu-tunggu dulu!! Dia masih berumur empat tahun! Dia seumuran dengan putri kedua kita?! Apa dia benar-benar –“ 
“Ya aku mendapatkan berita ini dari Serraph langsung. Kita harus waspada terhadapnya, meski dia hanya gadis bermur empat tahun ….., dia sudah cukup kuat menghancurkan benua raksasa seperti Frosy dan Dealendra.” 
“………” Asha hanya terdiam khawatir ketakutan. 
“ ‘Astaga ….., beberapa bulan yang lalu dia mencapai tingkat master, dan saat ini juga dia sudah mencapai tingkat Lord. Jujur, aku tak bisa melihat potensi anak itu.’ Itu yang dikatakan Keina yang saat itu bersama Serraph.” 
“Apa Kineser terkuat seperti Keina dan El juga seperti itu saat mereka masih kecil?!” Asha bertanya sangat khawatir. 
“Aku juga menanyakan pertanyaan hal yang sama padanya. Dan coba apa jawabannya?” senyum Haikal. 
’ Jangan bodoh! Aku mencapai tingkat Lord ketika umurku 10 tahun. Sedangkan El 8 tahun. Kami benar-benar berbeda dengan anak itu.’ Itu yang dia katakan .....,” khawatir Haikal memejamkan mata. 
“………” Asha hanya terdiam bergemetar, wajahnya terlihat khawatir ketakutan. 
“Jangan katakan pada siapapun tentang masalah ini. Hanya keluarga Skyline, Deviluck, Liviandra, dan keluarga kita saja yang tau tentang kemampuan gadis itu.” 
“Y-ya …..,” Asha bergemetar khawatir. 
Lalu di daerah pantai wilayah Frosy. Terlihat seorang gadis yang berjalan manis di pasir yang putih lembut itu. Ya itu adalah Salsa atau Salbina yang masih berumur empat tahun. Wajahnya terlihat kesal. Rambutnya panjang sampai punggung. 
“Ya ampun, aku benal-benal tak mengelti maksud pelkataan Ayah. Kenapa aku halus mengholmati gadis belnama Halsy itu?! Apa dia sekuat itu sampai aku ini halus mengholmatinya?!” 
“Kenapa kamu tidak memastikannya sendiri saja Salbina?” tanya lelaki berambut hitam yang sedang duduk dia tas pasir, tatapannya terlihat melihat ke arah laut. 
“Itu ide bagus, Hanafi!  Mali kita lihat, sebelapa kuat gadis belnama Halsy itu sampai Ayah bisa menyuluhku untuk tunduk dan membantu dilinya. Mana mau aku yang telkuat ini tunduk pada gadis yang tidak jelas sepelti gadis belnama Halsy itu.” 
“……..” Hanafi hanya tersenyum memejamkan mata.  
***

My Dearest Jilid 2 Chapter XXXVI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.