31 Desember 2016

Hyouka Jilid 3 Bab 2-1 LN Bahasa Indonesia


APAKAH TERJADI SESUATU PADA KLUB SASTRA KLASIK?

005 - ♠02
Mengatakan “aku sangat menikmati hal ini” mungkin terdengar mudah, tetapi faktanya itu tugas yang sulit. Dibanding dengan kemungkinan perbedaan dalam tingkat pemahaman, pebedaan tingkat ketertarikan jauh lebih penting. Saat melihat penampilan sulap, satu dari seratus orang mungkin tidak mengerti apa yang terjadi. Disisi lain, jika satu orang melihat trik sulap itu, maka tidak masalah bagaimana dia melihatnya, saat dia mungkin mencoba menikmati pertunjukkan sesuai isi hatinya, tak ada jalan lain selain menikmati apa adanya.
Pagi ini, aku berjalan ke sekolah lebih awal dari biasanya, Festival Budaya SMA Kamiyama dimulai hari ini. Melihat Fukube Satoshi dengan konstan mengulang kalimat “Ohh, aku harus menikmati ini”, aku terdorong untuk memberitahu perilakunya itu kepada yang lain, tapi Satoshi merespon dengan senyum yang mengejutkan dan menganggukkan kepalanya pelahan.
“Sebuah ide bagus, apa yang akan aku katakan, tapi kau terlalu naif, Houtarou,”
“Oh? Jadi?”
“Untuk orang sepertimu yang tidak unggul dalam hal apapun tapi menceramahiku seperti itu, kau terlalu naif,” dia mengatakan itu sambil mengangkat jarinya dan berlenggak lenggok ke kanan dan ke kiri seperti sedang akting.
“Tentu saja, aku tahu itu tidak berguna, mencoba menikmati diriku dalam hati, sampai ke sumsum tulangku. Aspek yang paling penting dari ajaran Epikur yaitu bisa memisahkan indera seseorang. Itu penting ketika kau menggunakan penyimpanan-energi dan bekerja keras pada sebuah tes.”
“Seperti neraka yang datang pada hari ini. Omong-omong apa ini tentang memisahkan indera seseorang? Apa yang akan kau lakukan dengan mengatakan menikmati diri sendiri?”
“Baiklah, aku akan menjelaskannya padamu. Pertama aku tidak berpikir mengatakan sesuatu seperti ”aku akan menikmatinya,” sebagai seorang yang normal dan menyenangkan. Kau tahu sesuatu yang bagus yang bisa membuatmu berhenti? Hanya dari sudut pandang Houtarou yang sopan.”
Kau tahu? Sikap Satoshi menyelesaikan kalimatnya. Pandanganku padanya berlalu, aku tidak bermaksud memecahkan suasananya, aku tidak mengatakan apapun. Pikiranku tidak ingin menjawab, dia memelankan suaranya dan memberitahuku sebuah rahasia dan berkata, “Aku tidak begitu menikmati diriku sendiri…….”
“…………”
Dia tersenyum lebar.
“Aku bisa melihat orang-orang memberikanku kegembiraan!”
Oh boy.
Menolak ekspresi dinginku, Satoshi melanjutkan kata-katanya dengan bagaimana dia “tetap gembira.” Aku tetap tenang dan sedikit tersenyum.
Fukube Satoshi. Aku telah berteman dengannya sejak SMP.
Dari penampilannya, Satoshi adalah orang dengan mata coklat dan sosok kurus yang bisa saja membuat kesalahan saat melihat gadis dari jauh. Dan dia mungkin terlihat seperti orang yang lemah, tapi dia mempunyai otot kaki yang kuat karena sering bersepeda.
Walaupun dia bohong dengan keadaan mentalnya. Kau mungkin bisa melihatnya dari percakapan sekarang; dia bisa menunda belajar dan kehidupan sosialnya. Walaupun sudah menjadi anggota klub kerajinan tangan dan osis, dia memutuskan untuk bergabung dengan klub sastra klasik karena terdengar “menarik.”
Dia tak pernah terlihat tanpa tas di lengannya, walaupun aku tak tahu apa isinya. Mungkin isinya barang yang ia butuhkan.
Dengan berjalan lurus ke depan, kami dapat melihat SMA Kamiyama. Dinding luar tidak berwarna pink selama Festival Budaya, dan dilihat dari jauh, ini tidak terlihat berbeda dengan sekolah regular lainnya. Akan tetapi, disekelilingnya terdapat hiasan dan tulisan karena semua kegiatan dipusatkan pada festival budaya. Karena persiapan untuk festival, kegiatan belajar tidak diadakan sejak kemarin.
Siswa yang menuju sekolah terlihat berbeda hari ini. Mayoritas menggunakan seragam mereka, tetapi banyak juga yang menggunakan pakaian santai. Dan tidak ada yang membawa tas sekolah, karena tidak ada kegiatan belajar. Sejak sekolah tidak sesuai dengan kegiatannya, aku mengharapkan hal yang berbeda dari biasanya untuk memulainya.
Walaupun siswa SMA Kamiyama diarahkan untuk masuk universitas, hal itu tidak membuat sekolah mengadakan kelas tambahan, karena sebagian siswa mempunyai rekam jejak yang bagus untuk masuk perguruan tinggi. Jika kamu bertanya kepada siswa SMA Kamiyama tentang keunggulan sekolahnya, maka satu dari sepuluh akan menjawab ujian masuk perguruan tinggi. Sembilan lainnya akan menjawab “sekolah dengan semangat kegiatan klub.” Di SMA ini banyak jenis klub, dan kegiatan yang beragam. Dari beberapa kegiatan itulah menjadi Festival Budaya, dimana saat ini sangat jarang, SMA dengan persiapan satu hari dan event selama tiga hari.
Satoshi tiba-tiba mendengar suara gembira.
“Dan itu….Kenapa, Houtarou, bukankah itu Mayaka?”
Dia menunjuk gadis didepannya. Gadis itu menggunakan pakaian santai dengan cardigan merah dan celana panjang berwarna putih, tapi aku tidak tahu apakah gadis itu adalah Ibara Mayaka. Walaupun aku mengenalnya sejak SD, aku jarang melihatnya menggunakan pakaian casual sejak SMP. Tapi jika Satoshi mengatakan gadis itu adalah Mayaka, maka dia adalah Mayaka.
Berkali-kali, Ibara mengakui perasaannya pada Satoshi, sampai sekarang. Satoshi bukan satu-satunya yang jatuh dalam kebencian, dia memilih untuk menghindar dari waktu ke waktu. Aku tidak mengerti mengapa dia tidak menjawabnya jika memang menginginkannya.
“Aku akan pergi kesana.”
Dia berputar dan mengatakan itu sebelum berlari meninggalkanku saat gadis itu berada didepan kami.

006 - ♣02
Aku berjalan ke depan, aku menduga pasti itu Mayaka. Walaupun mencari Houtarou pada sebuah kerumunan seperti mencari jarum dalam jerami, bagaimana bisa aku melewatkan Mayaka. Aku berlari dan menepuk bahunya.
“Hey, Mayaka. Pagi!”
Mengetahui hal itu, dia menatapku dan berkata “Hey! Sakit tahu!” padahal aku menepuknya dengan pelan. Walaupun Mayaka tidak terlihat mood hari ini, dia tetap bersikeras dan kembali menghadap ke depan.
“…Pagi.”
Dia menggerutu dan kembali berjalan. Ahh I see. Aku berseru dan dan tersenyum (aku bagus dalam hal ini; sudah lama menggunakan wajah serius), dan aku menjawab kegelisahan Mayaka.
“Pakaian itu cocok denganmu.”
“B-benarkah?”
“Jadi, cosplay apa yang kau gunak….”
Aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku, karena aku merasakan pukulan di perutku. Pukulan yang bagus. Karena pukulan itu, otot perutku menjadi lemas, efek yang langsung terasa.
Mayaka berbisik dengan tatapan mata yang mengerikan, “Jangan gunakan kalimat itu di depan orang banyak.”
Yah, aku tidak berpikir bahwa “kostum” menjadi hal yang tabu sekarang. Walaupun aku tahu perasaan Mayaka yang malu tentang itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Omong-omong, aku tahu dia merencanakan untuk menggunakan cosplay hari ini. Klub Manga meminta izin dari panitia untuk menggunakan pakaian casual. Karena ruang ganti yang tidak cukup, panitia memberikan izin.

Mayaka menggunakan celana putih panjang dan cardigan merah. Itu merupakan kostum pragmatis yang digunakan untuk menahan dinginnya musim gugur pada awal Oktober. Beberapa aksesoris terpasang di cardigannya, dan didalammnya dia menggunakan kaos putih berkerah, dan sabuk yang melingkari tubuhnya
Aku melihat kostumnya dari atas ke bawah. Hmm, aku tidak punya petunjuk. Aku kira aku akan bertanya padanya.
“Jadi, kostum apa ini?”
Seperti tikus yang tidak ingin diketahui kucing, aku berhati-hati menggunakan kata yang tepat agar Mayaka dapat menerima pertanyaanku. Dia menghadap depan dan berkata dengan lepas,
“Frol,”
“Frol? Frolberichi Frol [1]? Kau menggunakan kostumnya?”
“Yeah….. Aku juga membawa sarung tangannya.”
Aku tidak mengerti mengapa dia menggunakan kostum itu. Jadi, Mayaka hanya ingin menggunakan kostum itu. Saat dia belajar cosplay di klub, dia orang yang pemalu, jadi dia memilih karakter yang sulit untuk dikenali.
Ibara Mayaka. Sebagai seorang laki-laki, dia lebih pendek dariku, tapi sebagai seorang gadis , dia lebih pendek dari yang lainnya. Jika dia tidak menggunakan seragam, orang akan mengira dia seorang murid sekolah dasar. Dan saat ini, dia tidak menggunakan seragam. Tidak hanya postur tubuhnya yang kecil, dilihat dari wajahnya pun, dia memiliki wajah baby-faced.
Sulit untuk membayangkan Mayaka dari ekpresi masa kecilnya dengan wajah masa kecilnya. Sebagai contoh, saat dia kesal, dia menggigit bibirnya. Secara alami, tidak ada yang bisa menggantikan kebiasaan masa kecilinya. (Disamping itu, sejak bertahun-tahun bersama Houtarou, Houtarou yakin dia tidak dapat melihatnya karena penglihatannya yang buruk.)
Lebih baik aku berhenti melihat cosplay seseorang dengan sebuah karakter yang dia tidak merasakan cosplaynya, jadi aku memutar tasku dan berkata, “Yah, semoga beruntung dengan karakter yang kau perankan. Aku akan berkunjung ke Klub Manga nanti.”
Mayaka merasa sedikit malu dan dan mengangguk pelan.
“Kau berkontribusi dalam artikel untuk Klub Manga, kan?
“Ya.”
“Aku tahu itu… pasti sulit, dengan kondisi diantara dua klub antara Klub Manga dan Klub Sastra Klasik.”
“Yah itu sulit. Sejak tak ada yang mau berkontribusi.”
Aku berniat mengucapkan selamat untuk kerja kerasnya, tapi tiba-tiba tatapan matanya menjadi tajam. Oops, sepertinya arah pembicaraan ini tidak benar. Karena manuskrip untuk Klub Sastra Klasik datang terlambat, tak masalah bagaimana kelihatannya, aku tak bisa memberikan alasan apapun. Jadi aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
“Ah….. jadi, Mayaka, kau berada di Klub Manga sepanjang hari?’
Walaupun dia tak telihat senang karena mengubah pembicaraan, dia mengangguk.
“Apakah nanti mampir ke Klub Sastra Klasik?”
“Nah, itu tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan Klub Manga pada pagi hari. Dan sebaliknya, ini tidak mungkin untukku jika ingin mampir….. aku harus mengikutinya sampai selesai.”
Aku tersenyum dan menepuk Mayaka dari belakang.
“Hal itu jangan terlalu dipikirkan! Itu tidak dapat menolongmu untuk bangkit!”
Mayaka tersenyum dengan ambigu dan mengangguk pada perkataanku. Tidak, ini tak terlihat benar. Seperti senyum suram yang membuat Mayaka tak terlihat bagus.
Meskipun Mayaka mengatakan baik-baik saja, hal itu menyebabkan ekspresi Houtarou ragu-ragu saat aku menghindari Mayaka. Jadi, Houtarou tidak pernah memuji orang. Aku bisa memberitahu alasannya, tapi aku tidak yakin jika dia akan mengerti untuk kesekian kalinya. Berawal dari, sebuah masalah antara aku dan Mayaka sendiri, jadi itu tidak masalah apakah Houtarou mengerti atau tidak.
Tanpa sadar, kami tiba di gerbang sekolah. Aku melihat gerbang yang besar, dihiasi dengan bunga warna-warni. Ini hasil kerja keras panitia festival, membuat ucapan selamat datang kepada pengunjung Festival Budaya. Sebuah banner tergantung di salah satu jendela bangunan sekolah, yang tertulis “Festival Budaya SMA Kamiyama ke 42.”
Dan Festival ini telah dimulai.
Aku berharap jika membuat wajah seperti mencoba menikmati semua ini. Aku seperti orang yang tak sadarkan diri di lapangan sekolah, Mayaka tiba-tiba menyikutku.
“Fuku-chan… coba untuk tidak melakukan apapun selama Festival Budaya, Ok? Saat kau tak punya malu, hal itu cukup memalukan bagiku.”
Heh, berarti aku tidak dapat dipercaya, eh?
Tapi bukan berarti aku tidak melakukan apapun!

007 - ♠03
Di kantungku terdapat benda keras, dan kadang menyusahkanku.
Benda itu adalah pena, atau lebih tepatnya, sampah tidak berguna yang berbentuk pena. Tintanya sudah habis, dan aku tidak percaya kakakku untuk membawa ini. Tadi malam, aku tidak ingin melemparkannya ke lantai, aku membawanya ke kamarku, berniat meninggalkannya disana. Tapi sekarang aku membawanya bersama sapu tanganku. Saat pena ini tidak berguna, siapa sangka sekarang aku bisa memainkannya sepanjang waktu.
Aku memainkan pena dengan melemparkannya ke atas, membuat suara klik saat aku menaiki tangga.
Tujuanku adalah ruangan Klub Sastra Klasik di lantai empat.
Dilihat dari atas, SMA Kamiyama mempunyai letter-H. Di satu sisi itu adalah bangunan umum dengan kelas regular, sementara itu, sisi lainnya adalah bangunan khusus yang berisi kelas seni dan sains. Gedung itu terhubung dengan koridor. Saat dilihat dari atas, akan terlihat satu koridor dari gedung utama terbentang ke arah gedung olahraga.
Ruang Geologi, yang digunakan oleh Klub Sastra Klasik sebagai ruang klub, yang terletak di bangunan khusus. Dan terletak di ujung jalan koridor. Jika SMA Kamiyama adalah seluruh dunia, maka ini adalah batas luarnya. Bisa dibilang, ini adalah kutukan karena jauhnya ruangan klub dan juga berkah karena suasana yang tenang. Sebelum Festival Budaya dimulai, kami mempertimbangkan faktor lain, dimana lokasi disudut sekolah yang membuat kami ragu-ragu untuk mendapat pengunjung.
Di setiap lantai, kau dapat melihat poster, maskot, dan papan iklan di jendela, tapi hanya sampai lantai tiga. Di lantai empat, kau hanya bisa melihat dinding biasa. Kau tidak dapat melihat iklan apapun seperti di mall atau toko. Ditambah lagi, disini tidak terdapat banyak klub.
Tenang, kami menaruh beberapa poster di tempat strategis untuk mempromosikan Klub Sastra Klasik, tapi itu tidak cukup untuk memeriahkan tempat ini. Secara pribadi, secara pribadi, aku lebih suka suasana damai ini, tapi itu masalah bagi Klub Sastra Klasik, terutama untuk ketuanya, yang melihat ini sebagai suatu masalah.
Aku menggeser pintu ruang Geologi. Gadis yang duduk di tengah ruangan yang suram ini berdiri saat melihatku masuk.
“Selamat pagi, Oreki-san,” gadis itu berkata dan membungkuk, rambut panjangnya terurai saat dia melakukannya. Orang ini adalah Chitanda, ketua klub. Aku menduga dialah yang pertama datang ke sini.
Chitanda Eru adalah orang dengan dengan rambut panjang hitam dan warna mata yang sama. Sikap yang lembut, tinggi badan yang seimbang untuk seorang gadis. Ketenangannya berbicara membuatnya terlihat seperti gadis yang elegan dengan wibawa yang tinggi. Faktanya, dia adalah satu-satunya anak perempuan keturunan keluarga Chitanda, yang dikenal memiliki banyak bidang tanah pertanian.
Akan tetapi, jika kau bertanya padaku, wanita Jepang yang elegan sejatinya bukanlah Chitanda.
Diantara ciri-cirinya itu, hanya matanya yang memperlihatkan karakter aslinya. Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dan meledak-ledak, itula Chitanda Eru. Sejak aku masuk sekolah, aku dan Klub Sastra Klasik telah mengalami kejadian yang menyusahkan bersama rasa keingintahuannya. Motto hidupku selalu “Jika tidak ingin melakukannya, maka jangan lakukan. Jika ingin melakukannya, maka lakukan dengan cepat.” Tapi sejauh ini aku tidak menerapkannya, dan ini adalah kesalahan gadis itu.
Chitanda mengangkat wajahnya dan membuat senyum kecil. Walaupun dia menggunakan hati di lengannya, dia jarang mengungkapkan perasaanya dengan berlebihan. Menyikapinya dengan sederhana
“Hari ini telah tiba.”
“Seperti yang terlihat.”
“Ayo berikan yang terbaik”
“Yeah”
Aku mengangguk.
Melihat tumpukan objek yang berserakan antara aku dan Chitanda, aku merasa resah.
“….kau bilang berikan yang terbaik, tapi apakah kau punya ide bagaimana membereskan semua ini?”
Kami membicarakan tentang essay antologi Klub Sastra Klasik, “Hyouka.” Nama yang aneh untuk sebuah judul; dan alasan mempunyai nama yang aneh, ceritanya panjang. Setiap volume dilapisi vinyl berbahan adhesive dengan perekat di permukaannya, dan di covernya terdapat gambar ilustrasi anjing dan kelinci saling menggigit dengan warna coklat gelap. Desain cover berasal dari volume pertama “Hyouka,” yang dibuat dengan cat air, walaupun pada tahun ini Ibara memutuskan untuk menggambarnya dengan gaya yang imut. Secara objektif, itu tidak terlihat buruk.
Orang yang bekerja dibalik antologi ini adalah aku dan Chitanda, dan juga Satoshi yang berkontribusi, dia juga menulis sebagian manuskrip. Tentu saja, setelah manuskrip selesai, antologi itu tidak selesai sepenuhnya. Masih terdapat pekerjaan seperti jumlah halaman, memilih font yang cocok, dan tipe kertas yang akan digunakan, menyusun manuskrip, menempatkan nomor halaman, dan lain-lain, sebelum diserahkan ke percetakan. Semuanya terlibat termasuk Ibara, yang mengerjakan ilustrasi dengan baik.
Saat kami berfokus pada masalah desain antologi, kami selalu meminta konfirmasi pilihan Ibara. Melihat banyaknya masalah dan pekerjaan yang banyak, aku dan Chitanda kadang menawarkan bantuan untuknya.
Ibara selalu menolak tawaran itu, mengatakan bahwa dia sanggup mengerjakannya, jadi dia mengatasinya dan dia dapat dengan mudah menangani pekerjaanya. Sebaliknya, saat dia memiliki kesulitan untuk mengajari pemula. Mendengar dia mengatakan itu, Chitanda memutuskan untuk mengalah.
Jadi, antologi “Hyouka” telah selesai. Kami melakukannya dengan baik. Benar-benar sudah selesai.
Sejak melihat produk akhirnya, Ibara tak bisa berkata apa-apa.
Ketika dia membawanya kepada kami di dua hari sebelumnya, kami juga tak bisa berkata apa-apa.
….Gundukan benda antara aku dan Chitanda adalah antologi “Hyouka”. Daripada disebut “gundukan”, “tumpukan“  lebih lebih layak untuk diucapkan. “gunungan” juga terdengar menarik.
Sebelumnya, kami hanya merencanakan untuk mencetak tiga puluh eksemplar “Hyouka”. Masing-masing dari kami mendapat satu, satu untuk pengawas, dan satu lagi untuk pengarsipan, kami berharap dapat menjual dua puluh empat eksemplar.
Bagaimanapun, entah bagaimana ini harus terjual lebih dari yang diharapkan.
Setelah tujuh kali lipat.
Aku mempelajari antologi setipis ini, dua ratus eksemplar antologi cukup untuk disebut sebagai “gunungan.”
Menjual semua ini adalh tugas yang sulit. Sejak mendengar keresahanku, Chitanda kehilangan kata-kata dan tersenyum suram.
“….Umm, memberikan semua yang kita punya tidak menjamin apapun, aku yakin kita dapat meraih sesuatu!”
Masalahnya bukan berapa banyak yang kita berikan, tetapi…
Pintu dibelakang kami terbuka; itu adalah Satoshi. Mengangkat lengan kanannya, dia memberikan salam.
“Halo semua, aku lihat kalian memiliki masalah dengan stok yang banyak!”
Yah, begitulah.
Saak kami kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan keadan sulit ini, Chitanda tetap membungkuk hormat seperti yang dilakukannya padaku.
“Pa-Pagi, Fukube-san….. Bagaimana Mayaka-san?”
“Oh, dia tadi bilang akan mencoba untuk datang, tapi mungkin tak akan datang.”
“Begitu…,” dia menggerutu penuh penyesalan. Seperti yang diharapkan.
Saat aku dan Chitanda tidak memiliki klub selain klub Sastra Klasik, Satoshi dengan panitia festival dan Klub Kerajinan Tangan, Ibara dengan pustakawan dan klub Manga. Selama Festival Budaya, Satoshi akan sibuk berpatroli disekitar sekolah sebagai anggota panitia dan Ibara harus terap di Klub Manga untuk beberapa waktu.
“Jadi, bisa kita mulai?”
Satoshi dan aku mengangguk. Saling melihat satu sama lain, Chitanda berkata pelan.
“Kita tak punya cukup waktu sampai upacara pembukaan dimulai….. Jadi adakah yang punya ide bagaimana caranya untuk menjual semua ini?”

Antologi “Hyouka” dijual seharga 200 yen.
Harga ini ditetapkan setelah Ibara dan Chitanda menghitungnya. Awalnya kami ingin menjual 30 copy dengan satu copynya seharga 400 yen. Karena kami ingin menjual semuanya, hasil dari penjualan akan digunakan untuk anggaran klub dan menutup biaya percetakan.
Tapi sekarang kami mempunyai 200 copy “Hyouka”. Ini bukan masalah besar, dan banyaknya biaya percetakan berarti kami harus membebankan biaya ke tiap volume. Jika kami menjual 200 copy, kami bisa menurunkan harganya menjadi 120 yen per copy. Dan mencapai target.
Tapi untuk menjual semuanya, kami mempertimbangkan harganya, dan memutuskan untuk menjualnya seharga 200 yen per copy, dengan catatan harus menjual 120 copy untuk mencapai target. Chitanda yang memutuskan harganya, menjual terlebih dulu 120 copy terlihat optimis….. Lalu, aku tetap tenang, aku tidak berencana untuk protes setelah semuanya. 200 yen cukup murah untuk sebuah antologi di Festival Budaya.
Walaupun kami menjual semuanya, kami belum mendapat keuntungan dari hasil penjualan. Di Festival Budaya SMA Kamiyama, klub dilarang untuk mengambil keuntungan. Saat aku mendengar cerita itu, ada kalanya siswa yang lain mengambil 100 yen untuk mereka sendiri, jumlah yang banyak untuk kekayaan nasional, maaf, maksudku kekayaan sekolah.
SMA Kamiyama memiliki sekitar seribu siswa, jadi untuk mencapai target, kami harus menjual ke siswa sekitar 12%. Untuk menjual semuanya, kami butuh target 20 %. Ini tugas yang sulit. Jika dianalogikan dengan rating acara TV, setiap orang akan mengetahui bagaimana sulitnya mencapai rating program 20 %.
Untuk memulainya, pasar kami tak terbatas dengan siswa saja. Festival Budaya SMA Kamiyama terbuka untuk semua, jadi masyarakat seluruh kota bisa datang. Festival Budaya dibuka dari hari Kamis sampai hari Sabtu, kebanyakan pengunjung akan memilih datang pada hari Sabtu, hari ketiga. Tapi aku tak punya perkiraan berapa banyak yang akan menambah penjualan.
Selain itu …..
“Masalah terbesar Klub Sastra Klasik adalah nama yang tidak dikenal dan lokasi geografis yang buruk.”
“Ya, aku setuju ini adalah masalah terbesarnya.”
Aku setuju dengan opini mereka berdua.
Aku sudah melapor tentang lokasi ruang Geologi. Untuk nama Klub Sastra Klasik, itu buruk. Hampir semua siswa SMA Kamiyama tidak mengetahui keberadaan Klub Sastra Klasik. Faktanya, jika aku tidak bergabung tahun ini, klub akan dihapus. Tidak seperti Klub Upacara The, yang dikenal dengan pembukaan upacara the, atau Klub Acapella yang terkenal dengan kemampuannya, siapa yang mau membeli antologi dari klub yang namanya tak pernah terdengar?
Jadi lokasi dan pengenalan nama. Aku berbicara.
“Dengan kata lain, kami membutuhkan tempat strategis untuk menjualnya, dan juga mengiklankan nama klub.”
“Yah, jelas,” goda Satoshi, walaupun mengatakan kami akan menjual semuanya kami bisa mendapat keduanya. Tentu saja aku tahu itu, tapi karena kami bingung maka tidak bisa mencapai keduanya.
Sementara itu, Chitanda mengangguk takjub.
“Menemukan lokasi untuk penjualan… Dan semua ini tentang bagaimana membawa pembeli ke sini. Oreki-san, itu ide yang inovatif.”
“Eh, itu bukan ide yang inovatif…..”
“Tapi, bisakah kita mendapat izin untuk pindah lokasi?”
Siapa yang tahu? Itu divisi Satoshi, sebagai panitia. Tapi dia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak yakin. Jika bisa pindah ke tempat lain, Klub Sastra Klasik akan mendapat keistimewaan. Jadi lebih baik untuk bertanya kepada ketua panitia atau perwakilan siswa sendiri.”
“Siapa ketua panitianya?”
“Tanabe-senpai siswa tahun kedua. Panitia akan mengadakan rapat di Ruang Konferensi dari waktu ke waktu, jadi kau bisa mencoba disana.”
“Kenapa kau tak lakukan itu?”
Satoshi menggigit bibirnya dan mengangguk ragu.
“Yah, akan kulakukan… Tapi aku tidak yakin bisa bernegosiasi. Chitanda-san, lebih baik kau berbicara dengan mereka, dan aku akan membantumu.”
Aku paham, ini cara yang bagus untuk melakukannya. Bagi Chitanda hal ini tidak mudah. Mungkin saat ini dialah pemimpin wanita, seperti Satoshi, dia mungkin tidak yakin untuk membuat alasan yang tidak masuk akal. Dia masih mengharapkan bantuanku, aku terlalu buruk dalam hal ini.
Sekarang situasinya tidak menggembirakan. Satoshi terlihat gembira. Menurutmu, Fukube Satoshi, dia mungkin menikmati penderitaannya. Seolah memantul, dia bicara.
“Daripada itu, aku lebih memilih melakukan pengiklanan.”
“Iklan, huh? Jadi apa yang akan kau lakukan?”
“Itu, rahasia.”
Firasatku buruk tentang ini. Aku tidak bisa berpikir apapun tentang rencana rahasia Satoshi.
“Huh? Kau punya ide bagus?”
Ini menarik perhatian Chitanda, saat Satoshi mengembungkan dadanya.
“Disana banyak kompetisi dan pertandingan selama Festival Budaya, jadi aku pikir untuk bergabung dengan nama Klub Sastra Klasik. Jika mendapat hasil bagus, kita dapat menaikkan popularitas klub!”
“I-itu ide bagus!”
Bagaimana itu bisa disebut ide bagus? Aku menggerakkan alis mataku saat Chitanda dengan jelas dikelabui. Pada dasarnya Satoshi ingin mengikuti semua kompetisi dan pertandingan untuk dirinya sendiri. Satoshi ingin berpartisipasi, malah itu hanya mengisi nama dengan Klub Sastra Klasik.
Tetapi, itu bukan ide yang buruk, karena kami tak punya cara lain untuk mempromosikan klub. Ada kemungkinan suasana damai disini akan terganggu.
Aku melihat jam dan mengatakan “Jadi sudah diputuskan? Chitanda akan pergi dan meminta tempat baru, dan Satoshi akan mempromosikan klub.”
“Ya, ini akan lebih baik. Tapi apa yang akan kau lakukan, Oreki-san?”
Aku?
Sebenarnya, aku mempunyai rencana. Sebuah rencana untuk menjual “Hyouka,” sesuai dengan prinsip hidupku.
Aku mengatakannya dengan tenang, “aku akan…”
“Ya?”
“Akan tetap disini.”
Chitanda mengejapkan matanya sementara itu Satoshi menggerutu.
“…Su-sungguh, atau tak ada orang disini?”
“Ya, kau benar. Kita butuh orang yang berjaga disini.”
Sekarang bagaimana? Tak ada protes apapun.
“Baiklah, mari lakukan apa yang sudah ditentukan. Kita tak punya banyak waktu,” ucapku saat melihat jam dinding.
Sekarang tinggal 10 menit sebelum upacara pembukaan dimulai. Pada Festival Budaya dan Hari Olahraga, siswa tidak dibebaskan pada absen kehadiran, tapi mengingat siswa yang sibuk di klub masing-masing untuk pameran, kehadiran akan dilakukan setiap pagi. Dengan kata lain, kami akan dihitung tidak hadir apabila tidak mengikuti upacara pembukaan tepat waktu.
Dengan mengangguk, dan mengambil nafas dengan dalam, Chitanda berkata dengan satu kalimat, “Mari kita lakukan tugas yang sudah diberikan. Kita coba menjual sebanyak yang kita bisa. Target kita adalah menjual 200 eksemplar ‘Hyouka’! Mari berikan yang terbaik!”

…Yah, mari katakan itu dan berpikir apakah kami dapat menjual 200 eksemplar ‘Hyouka’.

008 - ♥02
Ribuan siswa berkumpul di Ruang Olahraga, yang dikelilingi oleh jendela dengan tirai gelapnya, dan hari ini hari yang cukup panas di bulan Oktober, gedung olahraga terasa sesak. Di dalam gedung olahraga terdapat cahaya yang mengarah ke panggung, tapi saat lampunya dimatikan, suasana menjadi gelap. Tapi hanya beberapa saat, berikutnya cahaya lampu menyinari seorang siswa laki-laki; itu adalah ketua OSIS. Dia terlihat tinggi dan berbicara dengan fasih sesuai dengan jabatannya.
Dia berjalan mendekati mic dan melihat sekeliling lalu mengambil nafas dalam. Kemudian dia mendeklarasikan dengan suara keras “Aku mengumumkan bahwa Festival Kanya ke 42 dibuka!”
Suara dari dalam terdengar hingga ke luar, ribuan siswa secara spontan berteriak riuh. Upacara pembukaan Festival Budaya SMA Kamiyama telah dimulai.
Berdasarkan “Panduan Festival Kanya” yang diterbitkan oleh OSIS, Klub Breakdance akan tampil dalam upacara pembukaan. Aku merasa malu karena tak pernah melihat penampilan mereka sebelumnya. Kadang sesuatu terjadi saat menari. Aku tidak tahu tepatnya apa yang membuatnya kacau. Aku berharap terjadi sesuatu terjadi di atas panggung?
Cahaya merah, kuning, biru, dan hijau menyinari panggung, penampilan yang membuat bingung ini akhirnya dimulai. Aku mencari darimana asal cahaya ini, dan melihat beberapa orang sedang sibuk memindahkan peralatan pencahayaan di atas panggung. Ini mungkin membutuhkan latihan untuk bisa memindahkan cahaya dengan pola tertentu. Jika aku dapat kesempatan, aku harus bertanya bagaimana menyusun semua pola ini.
Asap yang muncul dari belakang panggung membuat panggung mereda. Saat asap menyebar, dua orang dari tiap sisi terbang dari kiri ke kanan, dan di waktu yang sama musik dimainkan. Suara musik yang bergetar. Aku bertanya-tanya apakah itu menggambarkan sesuatu? selaras dengan musik, empat orang mulai menari.
Jadi ini yang dinamakan breakdance? Penarinya terlihat seperti kunci pada sebuah pintu, dan mereka memutar tangand dan kakinya seperti berenang gaya dada. Menari dengan variasi gerakan, mereka terlihat aktif. Apakah kasar jika menyebut mereka bukan manusia? Karena tarian mereka terlihat mengagumkan.
Oh! Mereka melompat
Oh! Mereka berputar
Oh! Mereka berdiri dengan tangan!
Sekarang waktunya mereka berkeliling dengan menggunakan tangan. Tetapi, apakah mereka baik-baik saja karena gesekan antara kepala dan lantai? Mereka pasti tak ingin rambutnya rusak karena gesekan itu kan? Aku merasa heran tentang itu.
Kemudian tarian mereka meningkatkan temponya, semakin cepat dan cepat; aku tak bisa memberitahu bagaimana mereka menggerakkan tangan dan kakinya. Ini menakjubkan. Suara musiknya juga meledak-ledak…. Umm, suara musik ini mulai menyakiti telingaku. Aku tak terbiasa dengan suara keras ini.
Sebelum berakhir, cahaya lampu menyebar di tengah panggung, empat penari berhenti dengan sempurna sesuai denng musiknya yang berhenti. Para penonton berteriak; Aku juga memberi apresiasi pada Klub Breakdance.
Lagu kedua mulai dimainkan, iramanya seperti music folk Afrika. Ini lebih santai dari music sebelumnya. Aku sungguh heran bagaimana mereka bisa menyesuaikan tarian dengan musiknya.
Sebaliknya, aku juga tertarik untuk melihat penampilan Klub Rakugo setelah ini…
Tidak, aku tidak boleh tergoda.
Beberapa siswa keluar dari gedung. Mereka mungkin ingin melihat tenda festival atau untuk persiapan klub. Tanpa mengganggu penampilan Klub Breakdance, aku juga keluar dari gedung.
Turun melalui koridor, dan berjalan dengan langkah normal, aku melihat beberapa siswa mendekorasi kelasnnya dengan kertas emas dan silver karena tidak mempunyai banyak waktu. Mereka itu klub apa ya? Mereka terlihat bingung, dan aku merasa harus membantu mereka. Tidak, tidak perlu! Klub Sastra Klasik lebih suram dengan situasi pemakaman.
Dilihat dari bentuknya, aku melewati Ruang Konferensi. Berdasarkan “Panduan Festival Kanya,” panitia berada disini.
Ruang Konferensi terletak di lantai 2 gedung utama. Karena gedung Olahraga terhubung dengan gedung utama, maka jaraknya tidak terlalu jauh. Sebelum kembali, aku berada di sini, Ruang Konferensi. Ruangan yang tidak berbeda dengan kelas biasa, dan tertulis “Ruang panitia” di pintu gesernya. Aku mengetuk pintunya.
“……..”
Huh?
“Ada orang di dalam?”
Tak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintunya, tapi terkunci.
Sekarang coba pikir, aku meninggalkan upacara pembukaan, jadi tidak aneh jika tak ada orang di sini. Sepertinya aku datang terlalu awal.
Bagaimanapun, aku sedikit khawatir karena tidak ingin membuang banyak waktu. Dalam situasi ini, aku menarik nafas. Menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya. Sekali lagi, Tarik nafas, buang.
Aku melihat sekitar, tidak terlihat seorang pun anggota panitia.
Di sebelah pintu terdapat poster promosi Festival Budaya. Aku sudah pernah melihat poster Festival Budaya sekolah lain, tapi baru kali ini aku melihat yang satu ini. Digambar dengan gaya manga seperti yang digambar Mayaka. Dalam poster itu tergambar dua siswa, laki-laki dan perempuan mempersiapkan Festival Budaya. Karakternya terlihat imut dan seragam yang terlihat sama persis, aku merasa takjub karenanya.
Jika ingin complain, judul yang seharusnya, “Festival Kanya ke 42.” Nama resmi yang benar seharusnya Festival Budaya SMA Kamiyama, “Festival Kanya” tidak terdengar bagus. Itulah mengapa, sulit untuk dijelaskan. Di sudut poster tertulis “osis.” Sejak poster dibuat oleh komite eksekutif, aku merasa saharusnya mereka tidak menggunakan nama “Festival Kanya.”
Aku melihat lagi sekitarku, tapi tak ada yang datang. Oh, ini tidak bagus. Apakah aku harus tetap menungu disini? Tapi kami tak punya cukup waktu.
Tidak, saat seperti ini, aku harus tetap tenang. Aku menarik nafas, tarik, keluarkan…..baik, sekali lagi….
“….ada yang bisa dibantu?”
“Wah!”
Saat aku menarik nafas dalam, aku terkejut mengeluarkan suara yang aneh, aku tak bisa menyembunyikan suara aneh itu. Aku mencoba melambaikan tanganku untuk menjelaskan agar dia tidak curiga.
Aku membungkukan badan kepada yang memanggilku dan berkata, “selamat pagi. Apakah kau ketua Tanabe dari panitia penyelenggara?”
Aku pernah melihat orang ini sebelumnya di mading Klub Koran “Koran Bulanan Kamiyama,” jadi dia adalah ketua panitia Tanabe. Menggunakan kacamata kecil pada wajah oval, bertubuh pendek dan potongan rambut yang rapih memberikan kesan orang yang serius. Tanabe-san sedikit terkejut dan menyapaku.
“Oh, pagi. Ya aku Tanabe…… ada yang bisa dibantu?”
“Ya,”
Aku mengangguk dan mengucapkan sesuatu yang telah aku latih sebelumnya.
“Tolong sediakan stan baru untuk Klub Sastra Klasik.”
“….Huh?”
Mata Tanabe-san membulat. Oh tidak, aku lupa tatakrama. Dengan sopan aku mengulang permintaanku.
“Aku minta maaf, aku lupa memperkenalkan diriku. Aku ketua Klub Sastra Klasik, Chitanda Eru dari Kelas 1-A. kami datang kesini karena mempunyai sebuah permintaan; bisakah kami memintamu untuk memberikan satn baru untuk Klub Sastra Klasik.”
Tanabe-san mengangkat alis matanya dan wajahnya terlihat sedikit bermasalah. Dengan tidak mudah, dia berkata.
“Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi tapi…”
Dia terlihat kesulitan untuk mengatakan sesuatu.
“Sekarang Festival Kanya akan segera dimulai, kau tiba-tiba datang dan meminta stan baru, tampaknya itu akan sulit.”
“…Jadi kau tidak bisa melakukannya?”
“Maaf”
Begitu. Ini mungkin menjadi masalah, tapi jika aku tidak membantu maka masalah ini tidak akan selesai. Aku minta maaf, Mayaka-san, Fukube-san, Oreki-san. Chitanda Eru tidak bisa menyelesaikan tugasnya.
Begitu, terima kasih atas informasinya. Aku hendak memberikan hormat dengan baik, tapi malah berakhir berbicara dengan suara pelan. Saat aku hendak pergi dan memikirkan hal yang lain, Tanabe-san memanggilku.
“Tidak, tunggu dulu. Itu hanya prosedur normal, jika kau memiliki masalah, dan kami akan mendengarkan permintaanmu, tapi aku tak berjanji bisa mengabulkan permintaanmu.”
Keadaan,
…Sekarang aku berpikir tentang itu, aku lupa menjelaskan situasinya. Oreki-san sudah memberitahuku untuk menghilangkan kebiasaanku melewatkan inti masalah tanpa menjelaskannya dengan baik. Aku tak pernah mengalami ini sebelumnya…. Tapi ini sudah terlihat benar. Aku harus harus lebih berhati-hati untuk selanjutnya.
Aku merasa tidak enak pada Tanabe-san. Aku berputar dan berdiri dibelakangnya.
Aku kemudian menjelaskan kejadiannya.
Dengan detail.
Kami mengira membuat pesanan 30 eksemplar, tapi berakhir dengan 200 eksemplar. Ini dimulai dengan, ini bukan kesalahan Mayaka-san, aku juga melihat lembaran pesanan, Mayaka-san juga memeriksa pesanannya untuk 30 eksemplar. Akan tetapi, dalam waktu yang sama, dia juga membuat permintaan lain untuk mencetak 200 eksemplar untuk antologinya sendiri. Aku tidak tahu entah kenapa dia membuat permintaan itu. Tetapi masalahnya, percetakan menggabung pesanan “Hyouka” dengan antologinya sendiri. Mayaka-san menyalahkan dirinya karena tidak memeriksa ulang, tapi tak ada yang bisa menduga kesalahan itu.
Aku memberitahu Tanabe-san semua prosesnya dengan baik. Aku tidak bisa menceritakannya dengan singkat, tapi Tanabe-san tetap berdiri dan mendengarkannya.
“Itu terdengar sulit”
Setelah itu, dia berkata dengan bijak, ”200 copy huh? Klub Manga tidak dapat menjual sebanyak itu. Sekarang aku mengerti mengapa meminta stan baru untuk menjual lebih banyak, aku ingin membantu …. Tapi Klub yang lain memiliki masalah yang sama, jadi tidak mungkin untuk kami memberikan dispensasi bagi Klub Sastra Klasik, kan?”
Memang, tidak hanya Klub Sastra Klasik yang mengalami situasi ini, aku tahu itu sebelumnya, tetapi…
“Jadi, ini tidak mungkin?”
Tanabe-san mengangguk pelan….”Aku minta maaf.”
Setelah memberikan salam dan meninggalkannya, Tanabe-san memberi beberapa saran.
“Tapi, jika kau mempercayakan klub lain untuk menjual antologi itu di stan mereka, itu tidak masalah.”
Be-begitu, aku tak tahu ada metode seperti itu! Bagaimana bisa aku melewatkan ide ini sebelumnya? Memang jika kami menjual antologi ini di semua stan, maka Klub Sastra Klasik tidak dihitung sebagai klub yang mendapat perlakuan khusus.
“Itu ide yang bagus.”
Tanpa sadar, bebanku menjadi berkurang.
“Terima kasih banyak. Aku akan memikirkan hal itu!”
Ucapku dan membungkuk dalam.
….sekarang coba pikir kembali, kembali ke Ruang Geologi. Fukube-san berjanji menemaniku ke ruang panitia dan membantuku membuat permintaan. Apa yang terjadi padanya?

009 - ♣03
Hahahahahaha.
Oh ya ampun. Ini terlalu lucu, aku tidak bisa menahan tawaku. Akal sehatku berpikir lelucon ini tidak terlalu lucu, tapi tetap saja aku tertawa keras. Kupikir aku akan terus seperti ini.
Aku tahu dua orang laki-laki di panggung, mereka dari Klub Rakugo. (Bicara tentang ini, namanya diambil dari nama resmi, dibanding dengan penelitian Rakugo, Klub Penelitian Rakugo SMA Kamiyama berfokus pada Manzai[2] dan stand-up comedy. Aku tak tahu jika ada klub yang mempelajari seni Rakugo.
“Wow, sudah lama aku tak melihat makan malam sushi di ruang tatami. Kami terkadang menghabiskan waktu disana, lebih baik segera pulang, atau akan terlambat.”
“Ok.”
“Omong-omong, aku tak berpikir memberimu kendaraan, tapi kapan kau mendapatkannya? Sejak aku mengendarai ini, kau tertawa melihatku sepanjang waktu.”
“Kau tahu, kau sangat besar johnny…
“Ya ya ya, aku sungguh khawatir padamu. Lebih baik kita segera kembali… Mengapa kau menyeringai?”
“Heh heh, dan kemudian?”
“Kau tahu, kau menangis dan tertawa saat mengatakan “Kakiku pincang, kau pikir aku akan menginjak rem? Ini akan berbahaya untukmu jika berkendara, kan?”
“Aku kira itu benar.”
“Oh, aku malah menginjak gas.”
“Kau orang yang berbahaya dalam berkendara!”
Hahahahahaha.

010 - ♦02
Aku meninggalkan Gedung Olahraga pada Upacara Pembukaan saat penampilan Klub Breakdance selesai. Sebelum keluar, aku melihat pada kegelapan dan sesaknya gedung olahraga, dan melihat hanya setengahnya yang masih disana.
Jujur, aku rasa lebih baik segera bergabung dengan yang lain di Klub Sastra Klasik. Aku merasa bersalah karena tidak memeriksanya ke percetakan, aku merasa bertanggung jawab akan hal itu. Disisi lain, aku menyadari bahwa diriku tidak ingin pergi ke Klub Manga.
Bukan berarti aku tidak suka Klub Manga. Walaupun Klub Manga berbeda dari yang kuharapkan saat masuk sekolah, aku tetap menyukai Klub Manga. Manga adalah sesuatu yang berasal dari lubuk hati yang dalam. Akan tetapi, hanya karena orang-orang dengan ketertarikan yang sama berkumpul bersama, bukan berarti disana tidak ada perselisihan.
Perasaan yang membebani sejak awal ini tidak begitu bagus. Aku merasa seperti gelas setengah kosong. Aku kira aku bisa menikmati Festival Budaya ini dengan menggunakan cardigan dan celana panjang di sekolah ini.
Klub Manga bertempat di Ruang Persiapan No.1 di lantai dua blok utama. Dibandingkan dengan Ruang Geologi Klub Sastra Klasik, disini lebih baik karena berdekatan dengan ruang kelas. Di koridornya terdapat tulisan “Klub Manga”. Tulisan itu dibuat oleh ketua Yuasa Naoko-senpai.
Pintu geser terbuka dan kami berharap itu adalah pengunjung stan.
“Selamat Pagi.”
Tidak seperti Chi-chan yang memberi salam dengan sopan, aku mengejanya dengan “Selamat PAgi.” Ini bukan sesuatu yang spesial atau apapun itu, tetapi aku tidak pernah melihat siapapun mengucapkannya seperti itu di manga dan novel.
“Oh, Ibara, kau datang.”
Salamku dibalas oleh Kouchi Ayako-senpai tingkat dua. Tidak hanya orang yang aktif dan berwawasan luas, tapi juga pekerjaannya yang rumit, membuatnya menjadi figur Klub Manga. Dia juga orang yang menyarankan Klub Manga untuk merekrut anggota cosplay. Sejak mengusulkan itu, dia juga menggunakan cosplay hari ini.
Kostum dengan gaya Cina yang mungkin dibuat sendiri. Tidak terlihat seperti Cheongsam[3] atau Mao suit[4], tapi lebih terlihat seperti Taoist Priest. Menggunakan celana panjang berwarna ungu yang terlihat halus dan jubah panjang dengan lengan warna kuning hingga bawah. Bagian lengan dipotong pada sisinya, mengikuti lengan yang muncul dari dalam. Jubah yang dikenakan mayoritas berwarna merah, walaupun warna di bagian dada terlihat berbeda. Sebuah jubah asli Cina yang asli sangat lembut, jadi ini hanya tiruan. Di atas kepalanya terdapat topi lebar, yang tergantung sebuah jimat, menutupi mata. Ikat pinggang kuning yang mengelilinginya, dibuat dari pita yang lebar. Dengan rambut pendek Kouchi-senpai, pandangan yang tajam dan menggambarkan dia orang yang tepat untuk karakter ini.
“Itu kostum Jiangshi[5]?”
“Secara resmi, ini disebut Hantu Cina.”
Kouchi-senpai memperhatikan kostum yang kugunakan dari atas hingga bawah, dan juga melihat kakiku mengginakan sepatu indoor sekolah, “Kau butuh lebih banyak karya dalam sepatu ini.”
Dan tiba-tiba percakapan ini bergeser ke arahku. Walaupun aku tidak bermaksud terlihat bagus dengan kostum ini, aku tidak mau dia memberitahukannya ke semua orang. Untuk sesaat, suasana menjadi tegang, …… Hanya aku yang menolak untuk menggunakan cosplay berakhir seperti ini.
“Oh, selamat pagi,” suara yang terdengar dari belakang kami; ketua Yuasa.
Dibandingkan denga kostum, ketua malah menggunakan seragam SMA Kamiyama. Hanya lima anggota yang menjaga stan klub, dan ketua tidak termasuk didalamnya. Walaupun aku satu-satunya yang tidak menggunakan kostum dengan baik, aku merasa ketua Yuasa bisa memakluminya karena dia bersifat terbuka. Dengan kata lain, dari waktu ke waktu dia orang yang mudah membaca orang, seperti melihat kucing duduk di sebuah beranda. Wajah lembut dengan dua mata besar dan kelopak mata. Dia melihat kostumku sambal berkata,”Berapa biaya yang dibutuhkan untuk itu?”
“Tidak, aku hanya membeli sabuk ini, itu saja.”
“Beritahu kami tanda terimanya jadi kamu dapat mengklaim biaya yang dikeluarkan.”
“Oh, tak apa, aku baik-baik saja.”
Ketua tertawa lembut, tapi aku tak bisa membawa diriku untuk menggunakan dana klub. Walau ini lebih banyak dari Klub Sastra Klasik, ini tidak berlebihan.
Masiha ada waktu sebelum pengunjung datang. Aku melihat sekeliling Ruang Persiapan, dimana meja yang membentuk huruf C. Klub Manga barang pameran “Zeamis[6],” manga review tentang antologi 100 manga dulu dan sekarang. Itulah mengapa disebut “Zeamis,” aku mengatakan itu karena tahun lalu itu disebut “Kanamis”[7]. Untuk itulah mengapa disebut “Kanamis” tahun lalu, entah kenapa itu terdengar aneh. Selain itu, anggota juga membawa masing-masing karyanya, dan dijual dengan gratis. Jika mereka menjualnya untuk uang, maka mereka menyiapkan stan doujinshi bersama-sama.
“Hey.”
“Pagi.”
Waktu berlalu, satu per satu anggota Klub Manga berdatangan.
Terlihat beberapa dari mereka yang menggunakan cosplay tidak ikut membantu. Karena kami memiliki anggota sekitar dua puluh lebih, jadi terpecah beberapa grup.
Yang pertama adalah laki-laki. Aku tidak tahu tentang klub lain, tapi sebenarnya laki-laki menjadi minoritas di Klub Manga. Atas hasil itu, mereka mengajak orang-orang agar tertarik kepada mereka. Ini tidak berbahaya.
Kelompok lainnya di sekitar Kouchi-senpai. Walau tidak terlalu banyak, mereka golongan yang normal. Anggota cosplay berkumpul di sekitar Kouchi-senpai, mendukung idenya, berdiskusi cara memberikan salam kepada pelanggan, dan terkadang, terdengar suara yang cukup berisik.
“Baiklah! Ayo lakukan ini!”
Sesuatu seperti itu.
Dan kemudian, kelompok yang ketiga, orang-orang yang tidak mengikuti Kouchi-senpai. Mungkin karena mereka tidak menyukai sesuatu yang ramai disekitar Kouchi-senpai, atau mereka merasa tindakannya tidak sama dengan perbuatannya. Dan untuk beberapa alasan, kelompok ini…
“Hey, Mayaka, kostum apa itu?”
“Mayaka, haruskah aku merubah ini?”
“… Man, kapan ini akan berakhir?”
Aku berada di tengah mereka.
Itulah mengapa, terlihat seperti aku yang berbicara melawan Kouchi-senpai.
Suasananya tegang, bisa dibilang meledak. Setiap orang disini mencintai manga. Saat ini, aku masih merasa tidak ingin datang ke Klub Manga. Paling tidak, hal yang bisa kulakukan untuk Klub Sastra Klasik, meminta Klub Manga menjual “Hyouka” atas nama Klub Sastra Klasik. Jika “Hyouka” dapat dijual di Klub Manga, kemudian Klub Manga akan mempertimbangkan pengenalan nama, kami mungkin menjual sekitar 20 eksemplar. Saat ini sedikit sulit karena suasana seperti ini, jadi aku berharap suasana disini berubah lebih baik, sesegera mungkin.
Aku penasaran apa yang Fuku-chan dan yang lainnya lakukan di ruang klub sekarang? Aku penasaran siapa yang berjaga di stan?
… Argh, jangan pikirkan siapa yang berjaga di stan!
Tak ada yang mau membeli dari klub yang terlupakan.
“Umm, apakah sudah buka?”
Suara panggilan terdengar. Dua siswa laki-laki berdiri di pintu masuk. Untuk membuat bisnis yang cerah, aku berdiri dan memberi salam dengan semangat, “Ya, selamat datang! Selamat karena menjadi pelanggan pertama kami!”

011 - ♠04
Seperti yang kuharapkan, tak ada yang datang ke Ruang Geologi.
Sangat tenang, damai, tentram. Yang terdengar dari sini hanya sisa keributan dari halaman gedung blok utama. Sungguh indah, hidup seorang penjaga stand.
….. Aku menutup mataku dan membukanya lagi, dan melihat “gunung” itu. Ini pasti ilusi. Untuk menjaga ketenangan hatiku, aku mencoba untuk menutup mataku lagi.
Tentu saja, aku tak bermaksud untuk membebaskan diri dari gunung ini. “Hyouka” yang ditulis olehku. Untuk beberapa alasan, tak seorangpun yang mengatur untuk menyusun semua petunjuk dengan memperhatikan insiden “Hyouka”, jadi aku memutuskan untuk ambil bagian dalam hal itu.
Karena tak ada yang tahu tentang Klub Sastra Klasik, isi dari “Hyouka” menjadi cukup rapih. Kau tidak perlu membukanya untuk mengetahui isinya. Aku dan Chitanda menulis tentang insiden “Hyouka”, Ibara menulis tentang manga, sementara Satoshi menulis tentang humor paradox klasik.
Itu semua sudah selesai, aku menyelesaikannya dengan cepat, tapi bukan berarti aku mempunyai keterikatan dari antologi yang kutulis. Jika memungkinkan, aku tidak ingin semua 200 eksemplar menjadi sampah saat Festival Budaya berakhir.
Jika aku menolak lampiranku, ketika melihat gunung antologi ini, aku pikir Chitanda dan Ibara akan menganggap ini sebagai sampah, aku tidak dapat menolong, tapi merasa menyedihkan.
Itulah mengapa aku berharap pada usaha Chitanda dan Satoshi. Jika mereka bisa memikirkan publikasi yang menakjubkan yang tidak dapat aku pikirkan, aku akan merasa iri pada mereka jika itu dapat menarik banyak pengunjung dan mengacaukan kedamaianku saat menjaga stan.
Aku memutuskan untuk tenggelam dalam waktu ini. Aku mereganggkan badanku, menutup mata dan dalam keadaan mengantuk aku membungkukkan badanku ke meja.
Suara musik dapat terdengar.
Suara yang megah dan harmonis.
Dibandingkan dengan music tekno dan tribal dari Klub Breakdance, aku lebih memilih musik acapella. Ini berarti musik yang dinyanyikan oleh Klub Acapella berasal dari lapangan tengah. Aku berdiri dan mendekati jendela. Mungkin jika mereka menyanyi seperti itu, harmoni yang dinyayikan cukup untuk menarik para siswa untuk melihat dari balik jendela gedung sekitar sekolah.
Lima orang berbaris dalam satu jajaran. Satu dari merekamelangkah ke depan dan melihat sekitar lapangan, membungkuk kepada yang melihat mereka dari balik jendela. Diikuti dengan suara tepuk tangan atas pertunjukan mereka dan lanjut bernyanyi.
Jadi ini hanya latihan, huh? Ketika aku mendengar music mereka, terasa menenangkan, cukup untuk “membuat singa tertidur”.
Hoaamm.
….Aku berharap nyayian yang menakjubkan dari mereka. Tubuhku sudah terhipnotis oleh musik yang lembut ini, suara yang seperti ninabobo…….
Masih diambang jendela, aku sulit untuk bangun, hanya karena aku sulit untuk bangun, lagunya telah berakhir. Suara tepuk tangan datang dari sekeliling gedung. Aku membuka mataku dan bertepuk tangan. Satu anggota dari Klub Acapella maju kedepan dan memberi hormat lagi sebelum bergabung dengan yang lainnya dibelakang dengan minuman dingin yang dibuka oleh anggota lain. Aku tidak dapat melihat dengan jelas dari sini, tapi terlihat mereka meminum dengan beberapa botol. Sudap pasti mereka beristirahat antara lagu yang dinyanyikan.
“……..?”
Hmm?
Beberapa kegaduhan terjadi antara anggota Klub Accapela. Mereka menunjuk kotak pendingin dan mengatakan sesuatu yang berulang-ulang. Mereka menggelengkan kepala dan melihat kotak pendingin dengan curiga. Apakah terjadi sesuatu?
Bagaimanapun juga, mereka terlihat tidak akan menyanyikan lagu kedua. Melihat hal itu tidak berguna. Jadi aku, menjauh dari jendela dan kembali ke kursi, menunggu pengunjung lagi.

Di tengah rasa kantuk ini, rahangku terasa sakit.
Seseorang muncul dari balik pintu. Whoa, sekarang pengunjung kami tiba. Dia menggunakan kaos sobek bersama dengan penitinya dan hiasan perak disekeliling jari dan kepalanya. Ini adalah punk. Untuk beberapa alasan matanya telihat ragu-ragu, aku penasaran untuk apa dia datang kesini.
Dengan terlihat curiga, anak punk ini bertanya, “Umm, jadi apa ini?”
“Ini?... Oh, kami menjual antologi.”
“Antologi?”
Mata orang ini melihat gunungan “Hyouka.” Sekarang dia melihat tumpukan antologi ini.
“Jumlah yang kau jual sungguh mengagumkan.”
“…. Ceritanya panjang, kami tidak berencana menjual sebanyak ini.”
“Aku ambil satu.”
Whoa, seorang pembeli! Sikapku harus lebih baik.
“Harganya 200 yen.”
Aku tidak bersikap sopan. Ini permintaan yang terlalu banyak.
Orang ini terlihat tidak peduli, dan mengambil dompetnya. Dia membungkukkan kepala seperti meminta maaf saat menerima antologi “Hyouka” dariku. Mungkin ia hanya membuang waktu disekitar sini? Saat aku memikirkan itu, sikap dia tiba-tiba berubah.
“Hey a-apa ini?”
Huh? Apa? Ada seekor kecoa di dalam “Hyouka?”
Malahan, dia melihat sebuah sampah yang terletak dibalik gunungan “Hyouka”, sebuah pena rusak. Seperti menemukan harta karun, dia mengambil pena itu dan melihatnya dengan penuh hormat.
“Ya, ini! Boleh aku memilikinya!”
Dia tiba-tiba gembira, walaupun aku melihatnya biasa saja.
Dengan melupakan tatakrama, aku bertanya kepadanya terus terang, “Apakah ada sesuatu yang spesial pada sebuah sampah itu?”
“Huh? Oh, aku minta maaf.”
Sikapnya kembali seperti biasa.
“Aku dari Klub Fashion, jadi kami mendesain busana, kau lihat? Dan aku lupa membawa beberapa aksesoris kantung baju untuk kostumku. Kalau aku menggunakan sapu tangan, itu terlihat terlalu normal. Tapi tak ada waktu lagi, jadi aku berkeliling sekitar sini berharap mendapatkan sesuatu. Jadi, disini, coba lihat pena ini di saku bajuku? Terlihat bagus bukan?”
Dia menyeringai sambal memainkan pena itu. Jadi, jika dia menyukainya, mungkin dia bisa menggunakan sampah itu.
“Kau boleh memilikinya.”
“Su-sungguh?”
Saat berkata begitu, dia mencari sesuatu dibalik kantungnya.
“Lalu, ini, sebagai balasannya.”
Dia mengambil sebuah lencana dari kantungnya. Dibanding sebuah lencana, itu terlihat seperti tag angka berbahan plastik dengan peniti dibelakangnya. Desain yang sederhana.
Saat aku memperhatikan lencana itu, dia menunjuk lencana itu dan mengatakan, “Itu adalah lencana VIP untuk melihat fashion show. Bawa itu dan datang ke Ruang Fashion jika kau tertarik. Jangan khawatir, kami akan mengatur kostumnya. Walaupun kami menyebutnya fashion show, kau tidak perlu melakukan apapun seperti berjalan di catwalk. Jadi, sampai nanti.”
Dia mengatakan itu sambal berjalan keluar. Jika kau tidak bingung, aku tidak berencana untuk mengulangnya. Kemudian, jika dia sedang buru-buru, maka kostumnya dianggap formal?
Aku menggenggam lencana itu, dan menaruhnya di meja. Mudahnya, jika aku mengambil ini dan pergi ke Ruang Fashion, mereka akan menjadikanku seorang model.
Tidak, aku tidak tertarik. Aku meletakkannya di tengah meja.
…toh, dia adalah pelanggan pertama kami yang berharga. Untuk memecahkan masalah ini, masing-masing anggota Klub Sastra Klasik membawa dua copy, ditambah satu copy untuk guru pengawas dan satu copy untuk jaga-jaga dengan total 10 eksemplar. Ini berarti kami mempunyai 189 copy lagi.
Dengan rasa puas, aku membuka mulutku dan menguap lagi dan mendengarkan Klub Acapella bernyanyi. Sekarang waktunya bernyanyi dengan lagu pop tempo cepat. Hmm, sekarang bukan waktunya tidur ya, huh?

012 - ♥03
Bukan masalah dengan enam lagu yang mereka nyanyikan, Klub Acapella sangat menakjubkan. Mereka sangat bagus, aku bertepuk tangan sangat keras hingga tanganku sakit.
Tidak ragu-ragu memilih tempat untuk bernyayi di tengah lapangan dengan suara merdunya yang menggema ke seluruh sekolah. Mungkin mereka berlatih di tempat lain sebelumnya, untuk menemukan tempat yang memiliki suara akustik paling bagus? Aku merasa sedikit ingin tahu tentang itu.
Setelah puas, aku berpindah dari jendela. Lalu aku menyadari sesuatu dan melihat jam tanganku.
….. Eh?
Oh tidak, aku terlambat? Hampir siang hari! Waktu berlalu sangat cepat? Aku harus berhenti terhadap hal-hal yang membuatku tertarik, atau tugasku tidak akan selesai.
Dengan ketetapan hati ini, aku menjauh dari jendela.
Melihat ke arah koridor, aku melihat tanda aneh di tirai dengan pesonanya, tanda untuk klub kerajinan tangan dimana Fukube-san berusaha untuk membuatnya, dan poster yang cukup menarik dengan sebuah gabungan foto oleh Klub Fotografi…….
Apakah ada kacamata yang hanya melihat kedepan tanpa gangguan apapun?


[1] Tokoh manga They Were Eleven
[2] Stand up Comedy Tradisional Jepang
[3] Gaun wanita Cina disebut juga qipao
[4] Jas tradisional untuk laki-laki
[5] Penyair Cina periode Qing akhir
[6] Actor, penulis naskah di Jepang
[7] Aktor, komposer musik zaman Muromachi

Hyouka Jilid 3 Bab 2-1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.