31 Desember 2016

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 5 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2
BAB II
(PART 5)

Saber membutuhkan waktu lima detik untuk mengembalikan pijakanya setelah tembakan panah milik Archer. Tapi sesaat setelah waktu lima detik itu habis, Assassin telah mundur dari pertarungan.
Dia mendecitkan lidahnya—dia gagal untuk membunuh Assassin dan kemarahanya terhadap Archer yang telah mengganggunya membuat wajah saber marah.
Master. Assassin telah melarikan diri, dan Archer berada di sini. Siapa yang harus aku lawan? Aku pribadi merekomendasikan Archer yang berada di menara jam.”
Saber melontarkan pertanyaan sambil menghunuskan pedangnya kearah menara jam, dan Shishigou hanya menggaruk kepalanya sambil mendesah. Jawabanya sudah pasti jelas untuk dirinya. Tambahnya, sudah pasti sulit untuk mengejar Assassin yang sudah kabur. Bagaimanapun juga, ,ereka tidak akan bisa melihatnya sama sekali karena kemampuan [Presence Concealment].
“….Kau terlihat sangat tertarik melawan Archer sendirian. Jadi, itulah pilihan yang tepat. Aku akan mengurus Masternya.”
“Maaf untuk hal ini, Master. Kalau begitu aku akan menghancurkan Archer
Saber tersenyum senang. Dia juda dapat melihat Archer sudah menempatkan anak panahnya selanjutnya. Kecepatan maksimal miliknya tidak akan sempat mencapai tempat Archer tepat waktu. Tapi—
Saber mempunyai kemampuan [Mana Burst] . dengan melepas helm Noble Phantasm miliknya, dia bisa memercikan mana ke seluruh tubuhnya dan dapat menimbulkan ledakan yang bisa mempercepat gerakanya dengan sekejap setelah melepaskan semuanya menjadi seperti ledakan sebuah jet.
“Baikla… Saber, pergi kalahkan dia.”
“SIAP!!!”
Dengan sekejap setelah dia berteriak kesepakatan dari Shishigou, dia menghilang secepat cahaya. Dia telah mengambil satu langkah yang kuat maju ke depan. Dia mirip dengan meriam berbentuk manusia. Dia terbang menuju tempat dimana pemanah sedang berada.
Archer tidak bergerak. Saber melirik ke arah Master dari Archer saat dia sedang menuju kearah Shishigou, sambil dia menghindari Saber. Namun, sebuah anak panah meluncur kea rah Saber untuk mencegahnya menyentuh Master perempuan itu.
Saat Saber memotong anak panah itu dengan pedangnya, dia tersenyum
—tidak usah khawatir, Archer. Yang akan ku hancurkan adalah kau.
Master dari Archer akan menghadapi Master dari Saber, Shishigou Kairi. Shishigou tidak akan dikalahkan oleh Fiore. Modred sedikit terkejut ketika dia menyadarinya. Dia belum pernah percaya pada mereka yang mengaku sebagai penyihir sampai saat ini. Dia mengira semua penyihir adalah seorang yang suka mengurung diri dengan watak yang sinting. Tidak, sebenarnya, penyihir yang telah dia temui sampai saat ini  rata-rata seperti itu.
Tapi ada tipe penyihir yang dapat berpartisipasi dengan baik dengan dirinya. Jenis yang bodoh dan sebrono. 90% memikirkan tentang menyerang, dan 10 memikirkan pertahanan.
Berbicara tentang katalis yang memanggilnya adalah potongan dari meja bundar. Dengan kata lain, tidak aneh lagi jika salah satu dari kesatria meja bundar (knights of round table) — seperti Lancelot, yang meremehkan ayahnya, atau Gawain, murid terhormat yang berisikyang di panggil sebagai gantinya.
Dan ternyata, yang di panggil adalah dirinya. Dia berpikir, dia merenung, pada akhirnya, dia terlalu banyak memikirkanya. Untuk mendapatkan Holy Grail untuk dirinya sendiri.
Pada saat itu, Saber berhenti memikirkan apa yang tidak di dia butuhhkan dalam pertarungan. Dia menuju ke arah menara jam setinggi enam puluh meter. Dia hanya memerlukandua puluh langkah untuk mencapainya. Alih-alih naik dengan kedua tangan dan kakinya, dia berlari lurus di atas dinding luar dengan sudut 90 derajat hanya dengan  dua kakinya
Archer sudah berada tepat di depanya.dia tidak hanya bisa melihat wujudnya, tetapi juga bisa melihat ekspresinya. Archer adalah seorang pria dengan sifat yang halus di balut dengan baju terbuat dari kulit. Memang, gaya penampilanya memang mencerminkan seorang pemanah. Dan jika sudah sedekat ini sudah tidak ada yang bisa di lakukan Archer lagi.
Seorang pemanah sangat di untungkan jika dihubungkan dengan membidik dari jarak jauh. Bahkan jika di bandingkan dengan senjata api masa kini, karena bisa menembakan anak panah dengan senyap. Tentu saja, untuk dapat mengenai target dengan anak panah, dia harus melalui latihan yang sangat berat dan juga memerlukan keahlian. Tapi, mustahil bagi Heroic SpiritArcher yang tidak memiliki skill tersebut. Jadi, Archer hampir tidak terkalahkan selama dia bisa menjaga jaraknya dari musuh.
Tapi, jika ada seorang Servant yang sangat cepat mendekati dirinya dari jarak jauh ke jarak dekat, situasinya akan berbalik.
Seorang pemanah juga secara alami mempunyai beberapa titik kelemahan. Pertama, sangat mustahil utuk menembakan panah secara beruntun. Kedua, lokasinya akan mudah di temukan melalui jalur  anak panahnya. Ketiga, seorang pemanah sangat rentan terhadap pertarungan jarak dekat.
Sangat biasa bagi Saber untuk merasa yakin kemenanganya. Ketika musuh sudah sangat dekat, tidak ada seorang pemanah yang bisa—dan seharusnya begitu.
Terpikat oleh kesembronoan serangan dari Saber. Dengan tenang Archer mengisi busurnya dengan anak panah selanjutnya.
Anak panah yang sudah di tarik di tembakan kearah wajah Saber  yang datang dari arah bawah, tapi dia berhasil menolaknya dengan pedang yang di genggam kedua tanganya.
“Aku mendapatkanmu, Archer…!”
Sudah tidak ada waktu lagi untuk mempersiapkan anak panah berikutnya. Sama dengan Assassin barusan, Saber sangat yakin untuk membunuhnya dengak sekali serangan.
Tapi Archer adalah Heroic Spirit yang mempunyai pengalaman yang panjang sebagai seorang pejuang. Pada saat yang tepat, dia melakukan sesuatu yang di luar dugaan, bahkan bisa melampaui insting dari Saber. Tanpa ragu-ragu—dia melempar dirinya sendiri dari pijakan kecil ke udara.
Saat Saber tertegun karena syok, Archer sudah menarik sebuah anak panah dan menembakanya kearah Saber yang bahkan jatuh ke tanah di bawahnya. Targetnya sudah tentu bagian area dada, yang seharusnya bagian yang paling tipis lapisan logamnya. Tentu saja, anak panah yang d tembakan oleh Archer — Chiron sang Sagitarius—akan membunuh apapun yang berada di jalurnya.
Anak panah yang berbalut cahaya bintang-bintang, memaksa menembus zirah Saber. Sensasi dingin terasa di pundaknya, dan sekejap rasa sakit menjalar ke seluruh bagian tubuhnya sedikit demi sedikit. Tapi, berkat baju  zirahnya yang tebal, anak panah yang di arahkan kearah dadanya terpental dan mengenai bahunya sebagai gantinya.
Hal itu sangat tidak menghibur Saber sama sekali, setelah di yakin akan kemenanganya.
“Kau!, Brengsek!!!........”
Saber bisa mengatasi rasa sakit yang luar biasa itu, menyebar dari bahu ke seluruh tubuhnya, hanya dengan kemarahanya. Tanpa ragu-ragu, dia menjadi peluru, yang melesat lurus menuju Archer yang sedang jatuh menggunakan [Mana Burst] —!
Dia seperti bintang jatuh, pikir Archer. Dia tidak anggun sama-sekali, tapi dia sangat kuat, dan kasar, dan lagi, dia mempunyai cahaya yang mempesona.
Memang benar, Saber adalah Heroic Spirit yang sangat luar biasa. Dia mempunyai tekad yang kuat untuk melancarkan serangan balasan secepatnyasetelah dia menerima serangan, dengan mengabaikan rasa sakit dan dampak serangan sebelumnya.
Dalam waktu beberapa detik—Saber mungkin akan menebas dirinya (Archer) dengan pedang miliknya saat dia akan mendarat ke tanah. Sekarang, apa yang harus dia lakukan untuk mencegah hal itu terjadi?
Dia tidak bisa menggunakan panahnya. Tidak perduli seberapa cepat anak panahnya berada, dia berada dalam di situasi yang tidak menguntungkan melawan pedang yang akan mengakhirinya hanya dengan mengayunkan nya saja. Dia tidak mempunyai pedang, atau tombak, dia juga tidak bisa memakai busurnya, dia juga tidak mempunyai tunggangan, dia juga tidak bisa berubah menjadi gila dan mengamuk, dan dia juga tidak bisa menghentikan jalan peristiwa ini dengan sihir.
—kalu begitu. Dia tidak punya pilihan lain untuk bertarung dengan menggunakan senjata terakhirnya yang tersisa.
Dia merentangkan kedua tanganya. Saber yangsedang berteriak menyadari apa yang akan dia lakukan. Tapi, Saber tidak punya banyak waktu untuk memikirkanya.
Dengan pedangnya yang di hunuskan bermaksud untuk menyerang, di kombinasikan dengan ledakan kecepatan akselerasinya karena efek [Mana Burst] dan dengan kondisi normalnya termasuk pelepasan Noble Phantasm miliknya, tidak ada serangan kemenangan yang lebih sempurna dari pada ini.
Namun, melawan serangan yang akan mengakibatkan luka yang mematikan jika mengenai dirinya, Archer melakukan sesuatu yang mengerikan—atau lebih tepatnya, sesuatu yang ‘gila’ sama seperti yang Saber lakukan.
Dia merentangkan kedua tanganya, dan sebelum serangan Saber sempat mengayunkan pedangnya, dia mengaitkan kedua tanganya ke badan Saber. Dengan cepat pergelangan tanganya tertangkap ke dalam genggaman, dia merasakan alaram peringatan. Dengan terpaksa dia menghentikan tebasanya tepat ketika akan mengenai tulang dadanya.  Archer tidak menepis momentum serangan dari Saber, dan dengan cerdiknya menyalurkan berat tubuhnya, dan—
Teknik lemparan…..!?
Dengan cepat Saber menyadari apa yang sedang dia lakukan, dia sedang terbalik dan melayang di udara. Hal ini sama dengan lemparan satu tangan di olahraga Judo, tapi cara di menghentikan pergerakan sendi  pergelangan lengan Saber tanpa kasihan.
Archer…. Chiron adalah orang yang paling bijak di antara para Centaur dan menerima berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu pengobatan, dan music dari dewa Apollo dan teknik berburu dari dewi Artemis. Dan juga, para kesatria muda dan yang belum berpengalaman berkumpul di sekitarnya dan mempelajari berbagai macam teknik bela diri dalam asuhanya.
Pedang, tombak,dan juga busur—selain itu, Archertentu saja juga mendapatkan teknik bela diri tangan kosong. Tekniknya fokus ke beladiri tangan kosong yang memadukan tinju dan gulat.
Gaya bertarungnya adalah Pankration teknik beladiri tertua di dunia yang pernah di ceritakan di cerita Yunani kuno.
“Gah….!”
Terkena oleh serangan senjata yang paling mematikan, yang di sebut “daratan”, mata Saber melotot saat dia merasakan dampak yang nampaknya membuat nyalinya bergetar. Seluruh tubuhnya membeku beberapa saat sama seperti tubuhnya sedang di ikat oleh rantai. Saat itu adalah saat yang paling berbahaya unntuknya—namun, fakta bahwa Saber telah jatuh tersungkur, Archer tidak segera menghabisi Saber, sebaliknya dia juga jatuh berlutut kesakitan. Luka yang di sebabkan oleh pedang Saber sedikit mengenai pundaknya, bahkan itu bukan luka yang tidak mematikan, tetap saja bisa mendekati kematian.
Normalnya, sudah tidak ada tenaga yang tersisa untuk memegan pedang dengan kedua tanganya, Archer menduga serangan barusan tidak akan cukup kuat  merobek baju zirahnya yang terbuat dari kulit. Tapi dia terlalu meremehkan serangan Saber. Meskipun telah menerima serangan dari Saber dalam kondisi terbaiknya, luka di dadanya cukup dalam.
Nampaknya, pundak kananya akan sulit bergerak sampai dia mendapat sihir pengobatan. Dengan kata lain, dia tidak bisa menggunakan busurnya untuk sementara. Archer tersenyum kecut.  Dia berniat untuk memojokan Saber, tapi dia berakhir seperti itu sebagai gantinya. Kesempatan yang menentukan telah berbalik dan membuat dia menerima situasi yang sangat fatal.
Dia telah menentukan pilihan tanpa ragu. Dia tidak dapat memikirkan jalan lain untuk memberikan serangan terakhir kepada Saber dalam situasi seperti ini, tidak perduli dia bergerak atau melawan. Jika dia berpikir lebih dari tiga detik, itu akan memberikan cukup waktu untuk Saber bangkit lagi, mundur adalah kemungkinan yang paling tepat untuk rencana ini.
Archer memutuskan untuk melaporkan situasinya ke Fiore yang sedang bertarung sengit sendirian dan merekomendasikanya untuk mundur.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 Part 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.