23 Desember 2016

Clockwork Planet Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia


LIBERATOR (07:15)

Sekarang–
Para penjahat yang meneror Jepang dengan kejam serta membuat dunia dilanda badai kekacauan.
Setelah pemuda itu mendeklarasikan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya serta belum pernah dilakukan ini–sang pemuda yang menyatakan akan menghapus Jepang dari peta dunia, sang pemuda itu sedang–
“Fwuaa~~…ahh~ aku ini~…haa, memang hidup demi menikmati kebahagiaan ini…”
Dia sedang beristirahat dengan santai, seakan-akan dia sedang berada di rumahnya sendiri yang nyaman.
Lebih spesifiknya, dia sedang tiduran dengan bantal pangkuan dari seorang gadis bergaun hitam–sebuah automata. Wajahnya terbenam dalam pangkuan sang automata sambil beemain-main dengan bosan.
Sang gadis automata yang memberi pangkuan pada Naoto–RyuZU berkata,
“Maafkan kata-kata hamba, Master Naoto, tapi karena anda terlahir dengan kepala murahan, hamba rasa pangkuan ini saja dapat membuat anta mengalami kenikmatan selama beribu-ribu tahun.
Tetapi Naoto, dengan wajah yang masih terbenam di pangkuan RyuZU, menyangkal dengan suara samar,
“Kasar sekali, RyuZU! Kasar banget! Memangnya ada bantal yang lebih baik daripada pangkuanmu!”
“–Tolong maafkan hamba. Hamba merasa malu telah disanggah dengan logika seperti itu oleh anda, Master Naoto–tapi di dunia ini memang tidak ada yang lebih hebat dari pangkuan hamba, atau bahkan sehelai rambut hamba. Seperti yang bisa anda rasakan, pangkuan hamba adalah harta karun termulia yang membuat Dewa sekalipun merasa iri…tidak salah lagi, tidur di pangkuan hamba adalah hak istimewa yang tidak bisa disamai dengan apapun. Maafkan kesalahan hamba.”
RyuZU menekuk lehernya, dia menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.
Seorang anak perempuan yang mengenakan armor merah putih–automata lainnya melihat hal itu, dia meletakkan jari telunjuknya di mulut, lalu bergumam,
“…Papa, saya mau, perintah….”
“Okkeee, oke oke! Sini sama papa~”
Naoto membalikkan badannya menjadi telentang, sambil berseri-seri, dia melebarkan lengannya, mengisyaratkan ‘ayo kesini!”
AnchoR melompat ke perut Naoto sambil berkata dengan senang,
“…ehehe…papa hangat…”
Naoto mengelus dahi AnchoR seraya berseru,
“–kaahh–! Saat ini tidak ada orang yang lebih bahagia dariku di dunia ini!”
“Master Naoto, anda telah menghancurkan kebahagiaan sederhana banyak rakyat jelata, dan hamba rasa sebagai balasannya–tidak, dengan pertimbangan absolut sekalipun, keadaan dunia saat ini pun bukanlah masalah selama anda memiliki dua karya seni termulia dan teragung yang bahkan membuat Surga pun merasa iri.”
–Benar.
Fiuh, saat ini, perasaan Naoto sedang berada di suatu tempat di atas langit ketujuh.”
Naoto tampak telah meninggalkan kekacauan yang terjadi di alam bawah, lalu dia bergumam sendiri dan berdoa,
“Ooh…kepada orang hebat yang telah melahirkanku, RyuZU dan AnchoR di dunia ini, aku mencintaimu–!!!”

Yah, mari kita abaikan kebodohan yang dipenuhi rasa manis itu, rasa manis yang dihasilkan oleh gula yang diberi karamel dan dioleskan dimana-mana.
–‘Pilar Surga’.
Seperti yang diisyaratkan namanya, benda itu adalah Menara Inti negara ini yang tampak seperti menjulang menembus awan, di titik ini, mereka sedang berada di lantai ke-20.
Saat ini, suasana tegang menyelimuti lantai tersebut, ketegangan ini setara dengan ketegangan dari medan perang sebelumnya.
“Profesor Conrad! Semuanya! Bagaimana fungsi indranya!”
Marie berseru pada 18 automata yang sedang menghadap konstruksi ‘Pilar Surga’ yang begitu rumit di lantai tersebut, automata-automata tersebut sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, tapi mereka lalu menoleh ke arah Marie dengan serempak seraya mengacungkan jempol.
Itu bukanlah reaksi sebuah AI.
–Mereka adalah 18 orang teknisi dari seluruh penjuru Tokyo, yang berada di dalam Pangkalan Resonansi, mereka mengendalikan automata perawatan ‘Pilar Surga’ yang telah dimodifikasi supaya bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Ke-18 orang tersebut adalah para Meister yang mengagumi Marie dan bersedia membantunya–mereka telah menunjukkan keahlian mereka saat insiden terorisme Akihabara yang asli.
Keahlian mereka merupakan yang terbaik diantara para Meister.
Mereka berada di dalam stasiun pemancar untuk mengendalikan automata-automata tersebut dan melakukan tugasnya dengan teliti–sementara para teknisi mesin jam mengunci indra mereka untuk bersatu di bawah komando Marie– mereka menampilkan ketelitian yang tidak akan bisa dimengerti oleh orang biasa.
Jika satu saja teknisi JSDF yang bertugas melakukan perawatan di ‘Pilar Surga’ tiap hari melihat pemandangan seperti itu–meskipun mereka adalah Meister yang bisa saja bergabung dengan ‘Meister Guild’–pastinya mereka akan menangis serta menyerahkan surat pengunduran diri seraya berkata ‘kalian saja yang merawat tempat ini mulai hari ini’.
Dan ada satu lagi–
“Oh disini juga berjalan lancar, Non…apa ini benar-benar kemampuan seorang Meister? Keren banget.”
Ujar Vermouth,
Selain itu–ada suara pria tua yang keluar dari pita suara yang sama,
“Profesor Marie, anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Mungkin sayalah yang paling merasa nyaman disini.”
Ketika mendengar kata-kata tersebut, Vermouth terus tertawa kecil menggunakan tubuh yang dikendalikan Conrad,
“Kayaknya sih begitu, pak tua. Tubuh ini paling membuatmu nyaman ‘dalam segala hal’, kan?”
Itu memang benar–tidak peduli seberapa enggannya Marie untuk mengakuinya, dia harus sepakat dengan Vermouth.
Unit Vermouth adalah satu-satunya unit kontrol jarak jauh dengan suku cadang yang khusus dipesan dari koleksi pribadi Conrad.
Khususnya, instalasi resonansinya–gerakan resonansi non kontak merupakan hal yang sangat amat sulit untuk ditiru, bahkan dalam 1000 tahun setelah manusia menemukan atom artifisial.
Diantara semuanya, jarak resonansi terjauhnya adalah sekitar 40 km.
Tetapi, yang menggunakan bahan berharga seperti itu tanpa batasan, sehingga menghasilkan ‘kemurnian 100%’–adalah ‘Gir Resonansi Jarak Jauh’.
Sejujurnya, suku cadang-suku cadang tersebut memiliki kualitas tertinggi, harga salah satunya saja setara dengan membangun sebuah gedung di lokasi strategis.
Ditambah lagi, jika itu dipakai secara pribadi, orang akan membutuhkan dua buah untuk penerima sinyal serta komunikasi–sehingga secara perhitungan dasar, harganya akan menjadi dua kali lipat.
Sejujurnya–‘resonansi jarak jauh’ tidak terlalu diperlukan.
Perangkat kabel telah dibuat di seluruh penjuru dunia, dan dengan banyaknya stasiun pemancar, orang dapat berkomunikasi dari satu ujung dunia ke ujung yang lain tanpa delay sedikitpun, biarpun komunikasinya jarak pendek.
Oleh karena itu, satu-satunya yang memerlukan ‘resonansi jarak jauh’ adalah beberapa perusahaan, ‘militer’ atau politisi kelas kakap–yang sering mengirim informasi rahasia dan memerlukan kerahasiaan.
–Tapi ada sebuah pengecualian.
Barangkali pengecualian itulah alasan kenapa Conrad memiliki hal seperti itu, lalu memasangnya dalam automata lacur ini. Marie menyadari hal itu, dan dia tidak bisa berkata apapun.
–‘Gir Resonansi Jarak Jauh’ memiliki 3 kelebihan.
Yang kesatu adalah ‘jarak’, yang kedua adalah ‘kerahasiaan’.
Dan yang ketiga adalah ‘kapasitas konten’.
Tentu saja, ada pengguna lain yang menggunakan komunikasi resonansi melalui titik-titik pemancar. Dengan terbatasnya gerakan terus menerus serta sumber daya, gerakan terus menerus yang bisa dilakukan pun terbatas pula–itulah gerakan resonansi.
–Tapi berbeda dengan ‘gir resonansi jarak jauh’.
Tentu saja, ‘gir resonansi jarak jauh’ dapat menerima informasi dengan jumlah jauh lebih banyak daripada perangkat biasa.
Contohnya–ya, ‘kendali jarak jauh resonansi’ dapat dilakukan.
Oleh karena itu, alasan kenapa Conrad memiliki perangkat yang berharga dan langka seperti itu, lalu memasangnya di dalam automata lacur.
…Marie hanya bisa menangkup kepalanya dan meringis.
“Tapi saat ini kita harus berterimakasih akan hal itu…benar, jangan terlalu dipikirkan, Marie.”
Ketika mendengar Marie bergumam dan membujuk dirinya sendiri, Vermouth berkata,
“Hei, Non, apa kau tahu? Alasan awal kenapa gir resonansi jarak jauh ini dipasang bukanlah karena ‘jarak’, tapi untuk ‘konten informasi’.
“…Terus?”
“Bagaimanapun, tenaga pendorong utama dunia ini sejak awal adalah ero–”
“Profesor Conrad, bungkam orang ini. Tolong ya, kuserahkan padamu.”
Marie langsung memotong percakapannya dan kembali ke tugasnya.
Kalau dipikir-pikir, rasanya memang aneh ketika mereka harus bertemu di dalam bar telanjang saat keadaan darurat–tidak, jangan pikirkan itu.
Marie berhenti berpikir, lalu memberitahu semuanya,
“Semuanya, perhatikan, saat ini kita lebih lambat 18 detik dari yang direncanakan! Tolong percepat ya!”
Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan hal itu.
Sejak mereka menyatakan deklarasi mereka dan memperoleh waktu selama 3 jam–setidaknya mereka punya waktu 2 jam dimana ‘militer’ tidak akan berani menyerbu masuk.
Tapi jika kenyataan kalau mereka membangun stasiun pemancar bocor, mereka akan dikendalikan.
Dan dalam situasi terburuk, lokasi ke-18 orang yang membantu itu akan ditelusuri dan identitasnya ketahuan.
Karena itu, sebelum itu terjadi, mereka harus menyelesaikan pekerjaan mereka secepat mungk–
“Nona Mar–bel.”
Marie mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang memanggil namanya.
Seorang wanita muda–Houko, sedang berdiri disana dengan wajah tegang.
Marie terus mengetuk panel kendali simulasi yang terhubung dengan sistem kendali sambil melirikkan matanya untuk mendorong Houko melanjutkan kata-katanya.
“Ada satu hal yang benar-benar harus saya tanyakan padamu.”
“–”
Marie bisa sedikit menebak apa yang ingin dia tanyakan.
Tanpa menjawab, Marie melirik ke arah Naoto yang sedang berleha-leha dengan 2 automata.
Houko mengikuti tatapan Marie dan berkata,
“–Darimana dia mendapat cetak biru ‘Pilar Surga’?”
“Benda seperti itu tidak ada…kan?”
“Memang tidak ada. Karena itulah saya bertanya. Jelas sekali kalian lebih memahami struktur ‘Pilar Surga’ daripada kami yang berwenang merawat tempat ini. Kamulah yang memimpin mereka , tapi dialah yang memberikan instruksi awalnya.”
“–”
“Pendapat logisnya adalah dia memperoleh cetak birunya entah darimana.”
“Kalau begitu kau salah. Kami tidak punya benda seperti itu, dan orang ini tidak tahu struktur ‘Pilar Surga’ sampai dia tiba disini.”
“Apa kamu mengira saya akan percaya itu?”
“Tidak…tapi itulah kenyataannya.”
Marie menjawab begitu, lalu Houko langsung mendesak masalah itu tanpa berhenti,
“Jadi–apa yang kamu isyaratkan adalah anak ini hanya mendengarkan selama 6 menit, lalu dia memahami seluruh struktur ‘Pilar Surga’, begitu?”

Houko merasa kalau itu mustahil.
–Seperti yang diisyaratkan namanya, ‘Pilar Surga’ adalah pilar yang menopang negara Jepang.
Ukurannya yang besar, kekompleksannya serta kerumitannya bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan Menara Inti maupun menara jam di sekitarnya.
Oleh karena itu, staf Istana yang berwenang untuk melakukan perawatan–bahkan istana sendiri tidak memiliki pemahaman penuh akan ‘Pilar Surga’. Apa yang mereka miliki hanyalah sekeping cetak biru yang mereka analisis selama ribuan tahun.
Cetak biru seperti itu pun merupakan informasi rahasia yang lebih dirahasiakan dari catatan negara. Bahkan Perdana Menteri pun tidak tahu dimana cetak biru itu disembunyikan, apalagi mencoba untuk menyalinnya.
Dan juga tidak ada seorangpun yang berani menyatukan kepingan-kepingan tersebut untuk memahami ‘Pilar Surga’.
Tapi dia melakukan hal itu begitu mudahnya hanya dengan mendengarkan selama 6 menit?
Houko tahu wajahnya menunjukkan paras yang berbeda.
Hawa dingin mulai terasa di punggungnya.
Dia memiliki firasat itu ketika dia tahu kemampuan menakutkan dari dua automata yang manis ini–tapi firasat yang dia rasakan saat ini mungkin jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
–Pemuda ini, dia berbahaya, melebihi warisan ‘Y’.
Gadis yang berambut pirang–Marie tampaknya menyadari apa yang berkecamuk di pikiran Houko, lalu dia berkata,
“Saya mengerti kekhawatiran anda, tapi maaf, saya tidak bisa menjelaskannya. Apakah anda setidaknya bisa pura-pura tidak menyadarinya?”
“Tidak bisa.”
Houko menyimpulkan begitu.
Awalnya, dia mengizinkan perbuatan mereka karena dia mengira kalau perbuatan mereka akan menguntungkan bagi negara ini–dengan kata lain, dia ingin ‘memanfaatkan mereka’.
Di satu sisi, mereka akan menjadi pelaku yang bertanggungjawab atas negara yang limbung ini.
Di sisi lain, dia ingin mencari tahu apa orang diinginkan oleh orang yang telah memicu ‘insiden teror  akihabara’ dari ‘Pilar Surga’.
Houko sendiri bukanlah orang amatir dalam hal teknologi mesin jam. Dia telah menempuh pendidikan formal di universitas luar negeri, dan meskipun kemampuannya tidak sebanding dengan seorang Meister, dia punya sertifikasi seorang Gazelle.
Dia memastikan langkah mereka, serta sumber teknologi dan informasi yang mereka miliki, memastikan kalau perbuatan mereka akan berkontribusi terhadap keamanan negara ini. Mereka menyusun tindakan balasan, mencegah kejadian ini terulang lagi–
Itulah pemikiran awal yang dimiliki Houko ketika dia mengikuti rencana mereka, tapi…
“–”
Houko menyipitkan matanya dengan tajam,
Jawabannya ya itu–apa bakat pemuda yang kelihatan normal dan biasa ini?
Bagaimana cara mengalahkan satu orang ini yang bisa memahami struktur ‘Pilar Surga’ hanya dengan mendengarkan saja?
Jika itu memang benar, pemuda di depannya ini–
“Dia ‘tidak boleh ada’–dia adalah ‘bencana’ besar yang mengancam keselamatan kita.”
Ketika mendengar kata-kata Houko, Marie menghela napas lalu berkata,
“Tenanglah–ini bukan hal yang bisa saya katakan sih. Saya memang berpikir kalau ada suatu hal mengenai pendengaran dan indra orang ini, tapi saya tidak mengerti teori di belakang itu semua.”
Dengan kata lain, tidak ada orang yang bisa meniru hal itu.
Jika dia mati, tidak akan ada lagi–
Ketika Houko mempertimbangkan fakta ini, Marie mengecilkan suaranya dan memberitahunya,
“Kuperingatkan saja. Mengingat sifat anda, anda mungkin berniat membunuh dia saat semuanya berakhir, tapi–”
Peringatan selanjutnya tidak diperlukan.
Tanpa diketahui sebelumnya, ada sebuah sabit hitam yang menempel di leher Houko. Tentu saja, sabit itu–milik sebuah automata bergaun hitam.
“Jika kamu berniat bunuh diri, tolong ambil ‘satu langkah kecil’ kesini. Saya bisa menjanjikan kematian tanpa rasa sakit di dunia ini.”
Mata topas yang dimiliki oleh automata sungguhan itu tampak tidak menunjukkan emosi apapun.
Anak berpakaian merah putih di samping pemuda itu menatap tanpa emosi ke arah Houko,
“…Kalau kamu berani melakukan apa-apa pada papa…saya tidak akan menahan diri, lho”
“Hm? Eh, a-ada apa ini?”
Tampaknya hanya si pemuda yang tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi, dia kelihatan bingung.
Houko menghela napasnya. Mati dalam situasi seperti ini adalah hal yang tolol.
“Maaf. Kamu boleh mundur.”
Setelah berkata begitu, Houko melangkah mundur, lalu sang automata bergaun hitam menarik kembali sabitnya tanpa mengeluarkan suara.
“…Apa anda mengerti sekarang?”
Marie berkata begitu. Houko menghela napasnya dan mengangguk.
“Ya. Sayangnya, saya sepertinya sudah kehabisan ide…saya akan mengesampingkan hal ini dan memikirkan tindakan pencegahannya nanti.”

–Kelihatannya untuk saat ini, Houko menyerah soal masalah ini.
Tepat ketika Marie merasa senang bahwa temannya masih menjaga nyawanya, Houko tiba-tiba mengeluarkan sebuah mesin kecil dari sakunya–mesin kecil itu tampak seperti sebuah kalung.
Ketika Marie merasa penasaran akan hal itu, Houko mengenakan benda itu di lehernya, kemudian dia pun tersenyum,
“Kalau begitu–sudah lama ya, Marie.”
Suara Houko terdengar jauh berbeda dari sebelumnya–mesin kecil tadi ternyata adalah alat pengubah suara.
Tampaknya Houko telah menyiapkan benda ini sebelumnya, untuk mencegah rekaman seorang sel teroris sedang bercakap-cakap dengan Tuan Putri.
Persiapan yang baik sekali–pikir Marie dengan wajah berseri-seri.
“Ya. Sudah lama, Houko.”
“Aku benar-benar senang bisa bertemu lagi denganmu. Kali terakhir kita bertemu itu, di pemakamanmu, kan?”
“Peti mati itu kosong, dan aku sedang ada di negara lain.”
“Aku sudah tahu kalau kau masih hidup. Tapi aku kira aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”
Mereka bisa saja bertemu jika mereka masih seperti dulu, Tuan Putri dari Jepang dan teman sekelasnya, Putri Keluarga Breguet.
Tetapi, Marie, yang sekarang dikenal sebagai Maribel Halter, tidak punya kesempatan dan alasan untuk bertemu Houko.
Karena Houko berbeda dari rekan-rekan teknisinya, Houko adalah seorang tokoh masyarakat.
Setelah menyadari kenyataan itu, Marie menghela napasnya, dia tampak sedih seraya berkata,
“–Ya, senang bertemu denganmu juga.”
Marie lalu menundukkan pandangannya.
“Kau masih memakai jam tangan itu?”
“Tentu saja. Ini kan karya teman baikku, hadiah yang penting. Benda ini selalu bersamaku sejak kita berpisah.”
Houko menyentuh pergelangan tangan kirinya lalu berkata,
“Aku merasa begitu malu saat kudengar kau tewas di Grid Kyoto. Hal itu terjadi di dalam negeriku…dan biarpun terlambat, tapi aku memang harus meminta maaf.”
“Kau tidak perlu begitu. Bagaimanapun juga itulah pilihanku.”
Suara ketikan cepat terdengar dari simulator yang berada di samping Marie.
Belt logam simulator tersebut memiliki sekian banyak lubang di dalamnya–lalu kartu pons[1] meluncur ke bawah konsol.
“Tapi aku melakukan ini bukan karena negara ini adalah negaramu. Tidak peduli negara manapun itu, aku akan tetap melakukan hal yang sama. Bagaimanapun juga aku ini seorang teknisi mesin jam.”
Setelah berkata begitu, Marie mengulurkan tangannya ke samping, jari-jarinya bergerak luwes di atas belt logam. Dia sedang mengetikkan perintah ke dalam kartu pons, seolah-olah dia sedang menulis seperti aliran air.
“…Ya, kau memang tipe orang yang selalu mencari keadilan.”
Houko berujar begitu, dia terdengar sedikit kesepian saat dia menyaksikan Marie bekerja tanpa berhenti sedikitpun.
Dan di momen tersebut–
“Cuma mau tanya, kenapa Marie berteman dengan Tuan Putri Jepang?”
Naoto, yang kepalanya masih bersandar di paha RyuZU, angkat bicara dan bertanya. Dia masih tetap acuh tak acuh seperti biasanya, hanya menyuarakan keraguan apapun yang ada di dalam pikirannya.
Marie menjentikkan lidahnya dengan tidak senang, lalu menggebrak panel kendali.
“Hei, Naoto, menyela saat orang lain bicara itu tidak sopan tahu.”
“Oh, jadi tadi itu tidak sopan–ngomong-ngomong, kenapa?”
“Singkatnya, aku ini teman sekelasnya Marie.”
Houko menjawab.
“Aku bertemu dengannya saat aku belajar di sebuah universitas Eropa. Tapi. Dia lulus dengan sempurna dalam satu bulan.”
“Sebulan!?”
Naoto membelalakkan matanya, sementara Marie mengangkat bahunya,
“Kalau tidak ada Houko yang bermain-main denganku, aku akan keluar dalam seminggu.”
“Oh! Kedengarannya aku jadi beban bagimu ,ya?”
“Memang begitu, kan? Kau selalu mengajakku kemana-mana.”
“Kedengarannya lucu, Marie. Kaulah yang paling banyak main-main, kan? Insiden waktu itu masih diperbincangkan orang-orang di universitas lho.”
Marie dan Houko terus bertengkar saat keduanya mengingat masa lalu.
Tapi Naoto hanya menatap bolak-balik ke arah keduanya dan berkata,
“Aku tidak begitu mengerti, tapi logisnya, seorang Tuan Putri yang belajar di luar negeri akan ditemani pengawal atau semacamnya, kan? Kenapa dia hanya berteman dengan Marie?”
“…Ya ampun, keluarga Breguets itu adalah salah satu dari 5 Prusahaan dunia. Mereka itu bangsawan Prancis, dan aku ini Tuan Putri disana, tahu?. Memangnya ada masalah kalau aku bergaul dengan Tuan Putri Jepang?”
Marie mengangkat alisnya seraya menjawab begitu.
Naoto kelihatannya tidak pernah berpikir begitu seraya berkata,
“Jadi, paman Halter memanggilmu ‘Milady’ itu…”
“…? Itu memang sungguhan. Apa ada masalah?”
“Kukira itu cuma sindiran.”
“Tidak mungkin. Tentu saja dia memujiku karena kepintaran, garis darah berharga serta keanggunanku.”
Dalam sekejap itu, Naoto memasang wajah serius,
“Maaf, aku tidak mengerti kata-katamu. Kau bercanda?”
“…Apa katamu? Jangan bergerak, akan kupaksa kau menjelaskannya nanti.”
Marie meraung seraya menyipitkan matanya yang melotot ke arah Naoto.
Melihat hal tersebut, Houko tertawa kecil,
“Kau sedikit berubah, Marie. Tidak, barangkali inilah dirimu yang sebenarnya…aku sedikit iri.”
“…Houko?”
Marie memiringkan kepalanya dengan bertanya-tanya.
Houko tidak menjawab, tapi malah bicara dengan nada tegang,
“Ngomong-ngomong, kurasa sudah waktunya kalian memberitahuku, kan? Apa yang sebenarnya akan kalian lakukan dengan ‘Pilar Surga’?”
“Erm–ya, harusnya aku memberitahumu sebelumnya.”
Marie, yang tadi tidak bisa berkata apapun, meneruskan kata-katanya,
“Houko, seberapa banyak yang kau tahu tentang senjata raksasa di Akihabara?”
“Tidak ada bukti konkrit, tapi dilihat dari situasinya, senjata itu jelas tipe elektromagnetik. Sejauh yang kulihat dari laporan cabang Intelijen, orang-orang itu berasal dari ‘militer’ Shiga lama, yang ingin melancarkan coup d’etat terhadap pemerintah.”
“–Kau memang hebat.”
Marie mengangguk, dia tampak terkesan.
“Jadi, ada apa dengan itu?”
“Ya, senjata elektromagnetik itu memagnetisasi Akihabara. Jika terus begini, biarpun senjata raksasa itu disingkirkan, aku tidak tahu apakah kita bisa memperbaikinya.”
Oleh karena itu…
“Kami berniat untuk mengikuti idenya si idiot ini–lemparkan senjata raksasa itu ke dalam panci dan rebus mereka. Pancinya adalah Akihabara, sedangkan panasnya–mungkin sekitar 2.000 derajat.”
Ketika mendengar kata-kata Marie, Houko membelalakkan matanya.
Dia memang pintar, pikir Marie.
Hanya beberapa kata saja sudah cukup untuk membuat Houko mengerti rencana mereka.
–Mereka akan memanaskan Grid Akihabara sampai daya magnetnya menghilang.
Rencana Naoto adalah untuk menumpas senjata raksasa tersebut serta menghapus daya magnet dari Grid Akihabara.
“–”
Marie tiba-tiba teringat kembali.
Saat itu, di Grid Akihabara, Naoto, yang kemungkinan tidak punya pengetahuan apapun tentang elektromagnetisme, mengucapkan kata pertama saat dia bicara tentang cara menangani orang-orang itu.
–“Aku akan melempar orang-orang itu ke dalam panci dan merebus mereka hidup-hidup’.
Saat itu, Naoto barangkali tidak sadar kalau pemanasan bisa menghapus daya magnet.
Sejak saat itu, orang ini telah–

Marie mengalihkan pandangannya ke arah Naoto.
Apa dia menyadarinya–atau memang sejak awal dia tidak peduli akan hal itu?
Naoto sedang berbaring disana, berleha-leha dengan santai–sementara RyuZU, yang sedang membelai rambutnya, tiba-tiba bicara,
“Master Naoto…Hamba benar-benar minta maaf.”
–Dia meminta maaf?
Si RyuZU itu meminta maaf dengan tulus begitu?
Marie tercengang, sampai-sampai jarinya hampir saja salah mengetik.
Naoto juga tercengang, matanya terbelalak seraya berkata,
“RyuZU?”
“Karena hamba tidak mampu menghapus daya magnet sendiri–tangan dan bahu anda menanggung takdir planet ini, Master Naoto…”
Tangan yang terasa seperti kumis kucing itu menyentuh tangan dan bahu Naoto tanpa menimbulkan suara.
Disanalah bagian tubuh Naoto yang melepuh ketika dia membawa RyuZU yang sangat panas.
Berkat mesin nano, lukanya tidak menjadi nanah. Tetapi, bagian itu tetap bengkak, dan orang akan merasa pilu saat melihatnya.
Marie juga merasa khawatir mengenai luka bakar tersebut.
Mungkin butuh seminggu lagi sebelum rasa sakit yang menyengat itu menghilang, tapi apakah sistem syaraf dan sentuhan peka yang paling penting bagi seorang teknisi bisa pulih itu…
Tanpa melihat proses penyembuhan lukanya, berkomentar berdasarkan aspek itu saja merupakan hal yang mustahil.
Malahan–Marie tidak mengomel meskipun Naoto bermalas-malasan dalam situasi seperti ini, karena Naoto telah melakukan banyak hal–dia harus membiarkan Naoto beristirahat.
“–”
Merasakan apa yang terasa seperti kemunduran selama beberapa hari belakangan, Marie menghela napasnya saat dia memikirkan hal itu.

Dia teringat kembali kali pertama dia bertemu Naoto.
Pemuda itu, hanyalah orang biasa–yang penuh dengan omongkosong.
Ketika senjata elektromagnetik itu membuat Marie hampir, sepenuhnya putus asa, pemuda itu tidak pernah diam di tempat, dia selalu melakukan hal yang paling pantas dilakukan.
–Ya, tindakan yang paling pantas dilakukan.
Dan dia tidak pernah kelihatan terganggu dengan harga yang harus dia bayar untuk tindakannya.
Meskipun kotanya telah dimagnetisasi, serta seluruh teknologi menjadi tidak bekerja; bagi Marie–orang yang paling dia percayai adalah Halter–tapi bagi Naoto, orang itu adalah RyuZU, yang jauh lebih penting daripada nyawanya sendiri, dan RyuZU itu rusak.
Dalam situasi berbahaya seperti itu, dia tetap berpegang dengan instingnya tentang ‘melakukan hal ini’, lalu membawa RyuZU yang begitu panas sampai-sampai panasnya itu bisa melelehkan lantai.
Tanpa istirahat sedikitpun, dia keluar dari Akihabara, meninggalkan Marie, yang merasa putus asa, berpikir kalau dia sudah kehabisan akal.
Dalam rasa sakit seperti itu, dimana dia merasa kalau bunuh diri itu tawaran yang menggiurkan, dia juga menyemangati AnchoR, lalu pergi ke jalanan, mencari petunjuk untuk mengubah situasinya–
Apa dia benar-benar–orang biasa? Orang amatir?
Sarkasme macam apa itu–Marie menggertakkan giginya.
–Seberapa jauh aku mengandalkan tekad dan kekuatan orang biasa, orang amatir itu? Lalu, apa yang sudah kulakukan? Tanpa Naoto yang menyeretku bersamanya, mungkin aku akan berkeluyuran di Akihabara, tidak bisa melakukan apa-apa.
Dan ditambah lagi–
“Aku baik-baik saja selama aku tahu kalau kau tidak apa-apa, RyuZU. Sekarang ini jadi tanda kejantananku, kan? Haha.”
–Naoto masih melepaskan headphonenya sampai saat ini.
Dia melakukannya supaya dia bisa merespons jika ada masalah darurat. Dahinya penuh keringat ketika dia balas tersenyum lembut kepada RyuZU.
–Apa dia orang biasa?
Kau pasti bercanda. Itu…itulah, apa yang selalu–selalu–aku tuju–
“Tapi karena kau bilang begitu, RyuZU, aku akan menahan diri dan memastikan kalau kau akan memujiku karena aku sudah bekerja keras, RyuZU! Singkatnya, aku ingin hadiah! Lebih tepatnya, aku–”
“Ya, Master Naoto, anda ingin hamba membantu anda melepaskan seluruh nafsu seksual abnormal yang anda miliki. Hamba mengerti.”
“Tunggu, bukan itu–bukan, bukan itu, oh, iya…bukan, sekarang bukan, erm…a-akan kubicarakan itu nanti…”
–Saat melihat Naoto mengucapkan kata-kata mesum seperti itu dengan riang, Marie dengan cepat menghentikan monolognya dalam hati.
Sementara Naoto, yang tidak bisa memahami hati kecil Marie, melanjutkan kata-katanya,
“Ahhh! ‘Bukan itu! Dengarkan, ini tentang kencanku dengan AnchoR–”
“Master Naoto, anda ternyata adalah masokis yang hebat sampai-sampai anda membicarakan topik seperti itu saat ini. Hamba mengerti. Karena anda ingin dipukul–di bagian mana tepatnya?”
“Biarkan aku selesai bicara, oke!? A-aku tidak pergi jalan-jalan dengan niat meninggalkan istriku, jadi aku membelikanmu sebuah hadiah~”
“Papa…membelikan saya ini ♪”
AnchoR memotong kata-kata Naoto seraya memasang senyuman bidadari,
Di saat yang sama, AnchoR membuka kepalan tangannya di depan RyuZu.
Di salah satu jari AnchoR ada sesuatu yang mengkilat–itu adalah sebuah cincin.
“–Master Naoto? Hamba sedikit bingung dengan permainan masokis yang ingin anda mainkan, apa alasan anda memperlakukan hamba dengan kejam seperti ini?”
“Tolong simpan dua sabit itu, kumohon! Lihat, itu jari tengah tangan kanan!”
Ketika mendengar jeritan Naoto, RyuZU menatap ke arah cincin AnchoR.
AnchoR menatap cincin tersebut dengan riang, sikapnya tampak seperti begitu menghargai cincin tersebut.
“…Cincin ini adalah benda yang saya beli atas keinginan saya sendiri…sebuah jimat kecil..papa…membuatnya untuk saya.”
“Kupikir benda ini juga bermakna menghindari kejahatan, semacam jimat. Cincin ini adalah benda yang kubeli untuk merayakan pergi keluar bersama AnchoR saat aku ingin membelikanmu sesuatu, RyuZU. Itulah yang dikatakan penjaga tokonya saat aku bertanya—tapi kupikir aku harus membuatnya sendiri—jadi…”
RyuZU tampak kebingungan saat dia memiringkan kepalanya.
Wajah Naoto berseri-seri seraya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, lalu membukanya di depan RyuZU.
Di dalam kotak tersebut adalah sebuah cincin perak.
“Karena ini hadiah…jangan tanya artinya, terus tunjukkan jari manismu, oke?”
“…”
“Ini juga tidak berarti apa-apa sampai aku memakaikannya di jarimu. Jadi tidak usah dipikirkan–oke?”
RyuZU tidak menjawab, dan ekspresinya tidak berubah.
Dia hanya mengangguk serta mengulurkan tangan kirinya.
Naoto tersenyum senang. Barangkali dia mendengar suatu perubahan kecil dalam tubuh RyuZU yang tidak bisa didengar telinga Marie.
“Terimakasih, RyuZU.”
Naoto memasukkan cincin tersebut ke jari manis tangan kiri RyuZU.
“Kalau pelayanan setingkat ini, hamba berniat untuk membayar kembali kekhawatiran berlebihan anda, Master Naoto…meskipun hamba enggan melakukannya.”
Berlawanan dengan kata-kata RyuZU sendiri, dia memeluk cincin yang dipakaikan ke jarinya tersebut.

Di samping itu, pikir Marie.
Sampai saat ini, semua yang dilakukan Naoto, dan setelahnya–barangkali ketika Marie menghabiskan waktunya untuk memperbaiki RyuZU, mengganti suku cadang Vermouth, serta menyiapkan peralatan untuk memasang Halter.
Di saat begitu pun, ketika dia tidak punya kerjaan–Naoto membuat sebuah cincin.
Marie menurunkan pandangannya, dan tanpa sadar, bibirnya mengutarakan sesuatu.
“–Orang biasa macam apa itu? Bagaimana mungkin ada orang biasa sepertimu–duh.”

Houko mendengar percakapan antara sang pemuda dengan sang automata.
Apa yang tadi terjadi adalah pengakuan cinta, hal yang telah dilakukan bermilyar-milyar kali di planet ini.
Houko tidak tahu apa artinya mencintai sebuah automata dengan sungguh-sungguh.
Apa yang dia tahu hanyalah bahwa si pemuda benar-benar serius, dan automata itu tahu cara membalas perasaan tersebut.
Hanya dua hal itu yang bisa dia mengerti.
…Tetapi, itu belum cukup. Dia harus tahu lebih banyak tentang pemuda ini.
Dan dengan didorong oleh pikiran tersebut, Houko pun angkat bicara,
“–Permisi, tapi boleh aku bicara denganmu?”
“Eh? Ah, oke…”
Si pemuda mengangkat wajahnya dengan terkejut. Dia memang tidak sopan, tapi kelihatan jelas kalau dia begitu tegang. Tampaknya dia tidak terbiasa diajak bicara oleh orang lain.
Houko tersenyum.
“Namaku Houko. Tuan Naoto Miura, kan? Boleh aku panggil Tuan Naoto?”
“–Ah, ya, silakan.”
“Terimakasih banyak. Maaf sebelumnya, tapi bisa jawab dua pertanyaanku?”
“E-eh, pertanyaannya tentang apa?”
“Tuan Naoto, automatamu yang berharga telah dirusak–dan sekarang kau mau membalas dendam pada senjata itu, kan?”
Ketika mendengar perkataan tersebut, sang pemuda–Naoto terhenyak.
“Eh, balas dendam?–…tidak, bukan begitu. Orang-orang itu sudah melakukan hal yang benar-benar keji pada AnchoR, dan bahkan melukai RyuZU, jadi aku ingin mereka membayarnya. Kurasa cuma itu sih?”
“Membayar…bukannya itu yang orang bilang balas dendam?”
Houko memastikan lagi, sementara Naoto memasang wajah bingung.
“Bukan, bisa dibilang cuma untuk mengakhiri masalah ini…tidak, bukan begitu, aku tidak menyukainya. Mengenai apa yang tidak kusukai, sulit buat dikatakan–Terserah deh, singkatnya sih–”
Naoto berhenti sejenak,
“Aku akan memaksa mereka membayar hutang mereka–hanya itu, Tuan Putri.”
Naoto menggunakan bahasa formal dengan hati-hati, lalu Houko sedikit memiringkan kepalanya.
“Membayar…ya?”
“Hmm…yah, aku tidak begitu tahu bagaimana menjelaskannya…”
Naoto menyentuh dahinya lalu berkata,
“Rasanya aneh kalau kita masuk ke dalam suatu rumah makan lalu makan tanpa membayar, kan? Kalau tidak bisa bayar, jangan pesan makanan! Kau juga berpikir hal yang sama, kan?”
“…Jadi maksudmu kalau kau membeli sesuatu, maka kau harus membayar, begitu?”
“Ya ya ya, benar. Semacam itu.”
Naoto memasang senyum tulus saat berkata begitu.
Houko mengangguk, lalu menjawab,
“Terimakasih atas jawabannya. Sekarang pertanyaan kedua–dengan bakatmu itu, kalau kau mau, memusnahkan Akihabara adalah hal yang mudah, kenapa tidak kau lakukan dari dulu?”
“Eh–?”
Saat mendengar kata-kata Houko, Naoto membelalakkan matanya.
“Karena tujuanmu adalah menyingkirkan senjata itu, akan lebih cepat jika kau menyingkirkan seluruh Akihabara secara diam-diam. Dengan begitu kau tidak perlu mengambil resiko seperti ini, dan akan lebih gampang, kan?”
“Eh–” Naoto merenung dengan wajah bingung.
“Tapi aku dengan kalau itu akan melibatkan seluruh Tokyo…ya, kan?”
“Ya. Sesuai kata-katamu, Tuan Naoto, setelah Akihabara lenyap, seluruh ibukota akan ambruk, hanya masalah waktu saja–tapi, memangnya kenapa?”
Kata-kata terus terang itu membuat Naoto tercengang.
Houko memasang wajah tegang dan melanjutkan kata-katanya,
“Sejauh yang kutahu, kau tampak seperti orang yang tidak peduli dengan moral, tapi kau memilih untuk tidak menggunakan metode paling efektif untuk tujuanmu–kenapa begitu?”
Tetapi, Naoto tampak benar-benar kebingungan ketika dia memiringkan kepalanya dan menjawab,

“…Eh, dari orang-orang yang punya hubungan dengan senjata itu, masalah ini ‘tidak ada hubungannya’ dengan yang lain, kan?”

“–”
Begitu ya, Houko mengerti sesuatu.
Dia bilang untuk membuat orang-orang itu membayar harganya.
Dengan kata lain, itu tidak termasuk dengan orang-orang yang tidak harus membayar.
Tapi itu juga berarti dia tidak akan ragu-ragu untuk membayar harganya.
Oleh karena itu, dia paham betul. Di titik ini, dia tidak punya alasan untuk membunuh siapapun.
Bukan karena dia menghargai nilai dari nyawa seorang manusia.
Dan bukan karena dia memikirkan pengaruhnya terhadap Jepang.
Dia hanya ingin membalas orang-orang yang telah melukai orang yang dia sayangi. Dia sudah siap mental untuk membayar penuh akan hal tersebut.
Hanya itu–saja.
Begitu ya, pikir Houko.
–Kalau aku ingin menjadi temannya, tidak ada orang yang lebih bisa dipercaya daripada dirinya.
–Tapi jika aku ingin menjadi musuhnya, aku harus siap mental untuk menanggung resiko tenggelam bersama dengan negara ini.
Houko tersenyum dan mengangguk.
“Aku mengerti sekarang. Kurasa kau memang orang yang tidak bisa dipercaya, Tuan Naoto.”
“Ehhh!? Kau memutuskan hal itu berdasarkan apa yang kukatakan!? Apa aku bicara hal yang aneh!?”
Ya, dia tidak bisa dipercaya.
Selama pemuda itu merasa kalau ‘harga’nya pantas, dia mungkin akan menenggelamkan Tokyo tanpa ragu.
Paling tidak, dia punya kemampuan dan tekad untuk melakukan hal seperti itu.
Membiarkan orang seperti itu bebas adalah hal yang sangat amat beresiko–tapi…
Dengan senyum di wajahnya, Houko berujar dengan tulus,
“Tapi–aku sangat mengerti kenapa Marie mempercayaimu.”
“–Hah!?”
“Tung, apa yang kau katakan, Houko!?”
Naoto ternganga, sedangkan teman dekat Houko–Marie, berteriak panik.
Houko mengabaikan teriakan Marie, lalu dengan penuh keyakinan, dia berkata,

“Kau adalah orang yang ‘adil’.”

Atau, pikir Houko,
–Mungkin saja pemuda ini sangat tamak dan egois.
Tapi di saat yang sama, sangat amat ‘adil’. Houko percaya hal itu.
Dia tidak setuju dengan ‘kecurangan’. Dan tidak membiarkan ketidakadilan.
Dia tidak akan pernah menginginkan sesuatu, tapi tidak membayar harganya.
Pemuda ini akan menuntut semua orang, termasuk dirinya, untuk membayar apapun yang dia inginkan.
Kemungkinan besar, ide ‘kecurangan’ itu sendiri, untuk memperoleh sesuatu tanpa membayarnya tidak pernah terlintas di pikirannya.
Jika ada sesuatu yang dia inginkan, apapun itu, bagaimanapun caranya, dia akan membayar harganya.
Sederhananya, apakah dia bisa ‘menerimanya’, atau tidak.
Dengan membandingkannya dengan keinginannya, jika dia bisa ‘menerimanya’, dia akan membayar harganya tanpa ragu.
Mungkin dia adalah orang seperti ini.
Baik itu nyawanya sendiri–atau nyawa orang lain.
Dan oleh karena itu–pikir Houko.
Aku tidak boleh berurusan dengan pemuda ini dan teman dekatku.
Terlepas dari alasan pribadi apapun, ‘Houko’ sebagai seorang tuan putri, pastinya akan memikirkan cara untuk mengendalikan mereka berdua.
Jika tidak–jika Houko ingin tunduk dengan ‘keadilan’nya.
Meskipun kekuatannya memang benar-benar memikat…

Tiba-tiba, sang automata–RyuZU berkata,
“…Kalau boleh jujur, saya benar-benar takjub. Saya tidak pernah bermimpi bahwa seseorang diantara umat manusia, selain Master Naoto, ternyata tidak begitu buta.”
Saat mendengar kata-kata lancang yang tidak terdengar seperti pujian dari arah manapun tersebut, Houko tertawa kecil,
“Oh terimakasih, aku tersanjung mahakarya ‘Y’ yang agung telah berkata begitu. Tampaknya aku ini memang sedikit berharga.”
RyuZU melanjutkan kata-katanya,
“Master Houko…kan? Boleh saya mengucapkan sesuatu?”
“Tentu saja, ada apa?”
“Tolong izinkan saya memberi nasihat–saya rasa anda harus memilih teman dengan bijak. Kalau boleh jujur, saya merasa kalau hanya sekelas Master Marie itu tidak cocok dengan anda.”
“K-kau ini–”
Sang teman dekat pun membuat keributan dan berkata begitu,
Tetapi, Houko hanya mengangkat tangannya untuk menghentikan Marie, lalu tersenyum kepada RyuZu,
“Kalau begitu, Nona RyuZU, aku juga akan memberi nasihat–aku tidak tahu alasannya, tapi menjadi keras kepala dan tidak mengakui kualitas hebat seseorang hanya karena kau tidak menyukainya, kau hanya akan merendahkan dirimu, dan martabat tuanmu juga, lho…?”
“–”
Kata-kata Houko menohok perputaran gir dalam tubuh RyuZU.
RyuZU membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tetap diam, menurunkan pandangannya, lalu mengangguk dengan mencolok.
“…Saya akan memikirkan nasihat ini.”
Melihat reaksi RyuZU, baik Naoto maupun Marie membelalakkan matanya.
Keduanya memiliki pikiran yang sama.
Dan itu adalah–‘RyuZU yang itu ternyata kalah bicara…!?’.
Yah, Naoto berkata.
“Marie…paman Halter terus memanggilmu Milady dimana-mana, tapi,”
“–Apa?”
“Yah, kurasa tuan putri sungguhan itu penuh dengan pesona pribadi, tahu…? Rasanya beliau ada di tingkatan yang jauh berbeda.”
“Hah?” Marie melanjutkan kata-katanya dengan senyum galak,
“–Apa maksudnya? Apa kau mau bicara lebih spesifik lagi, nak Naoto?”
“Kepala wajah dada tinggi sikap bangsawan–saya bisa terus menyebutkan contohnya jika anda mau.”
“Kalian iniiiiiiiiiiiiii!!!!!”
RyuZU merespons tanpa emosi, menyulut kemarahan Marie.
Sebagai gantinya, Houko menahan tawanya saat dia menyaksikan pemandangan ini.

“Pengisian kembali hampir mencapai 82% yang ditargetkan…!”
Suara kesal petugas komunikasi terdengar.
Gennai mengangguk dengan acuh tak acuh,
“…Tuan, apakah sudah waktunya anda memberitahu semuanya tentang apa yang ingin anda lakukan sebenarnya?”
Letnan yang berdiri di sampingnya bertanya dengan gelisah.
Gennai melirik ke arah sang letnan, tapi dia tidak menjawab, melainkan balas bertanya,
“…Apa yang kau pikirkan tentang dunia ini?”
“Ya…? A-apa pertanyaan anda?”
“Clockwork Planet–benda aktualnya berada tepat di depan matamu, benda itu berputar, tapi–setelah ribuan tahun pun, manusia masih belum bisa menganalisisnya, apalagi menirunya; benda itu dibuat dengan teknologi seperti itu…sebuah dunia buatan.”
Gennai menghela napasnya.
“Apa kau pikir hal ini bisa dianggap sebagai ‘sains’?”
Sang letnan memasang wajah bingung saat mendengar pertanyaan tersebut, lalu dia berkata,
“Memang benar kalau masih banyak misteri yang menyelimuti teknologi gir yang menjalankan operasi planet ini…tapi karena itu melibatkan kenyataan, dengan alasan itu, hal ini adalah ‘sains’, ‘teknologi’…?”
“Pemahaman seperti itu memang tepat, tapi terlalu cocok. Tidak ada orang yang memahami teori benda ini, ‘benda ini’ di luar pemahaman kita, tapi karena kita memilikinya, ayo kita gunakan–kurasa ini memang sains. Tapi apa kau tahu?”
“Tuan…?”
Gennai tersenyum sinis seraya berkata pada letnan yang sedang kebingungan itu.
“30.000 tahun telah berlalu sejak umat manusia memperoleh ‘api’. Tapi, bentuk sebenarnya api ditetapkan sebagai semacam plasma–sebuah bentuk listrik, sekitar kurang dari ratusan tahun sebelum planet ini dibangun kembali. Itu artinya umat manusia menggunakan api selama 28.928 tahun tanpa mengerti fenomena alam ini. Itu memang ilmiah, kan? Tapi apa kau sadar? Ada ‘perbedaan signifikan’ antara kedua api dengan Clockwork Planet, dan itu adalah–”
Gennai berhenti sejenak,
“–Clockwork Planet ini bukanlah ciptaan alam. Planet ini adalah ‘artifisial’.”
“Planet ini…”
“Ya, alam semesta ini diciptakan oleh suatu Dewa–atau suatu Dewa yang bernama ‘kebetulan’. Dengan mengungkapkan hukum-hukum Dewa, serta menggunakannya, itulah yang dinamakan teknologi, teori, induksi, logika! Sekarang, aku bertanya? ‘makhluk buatan’ ini…atas dasar ‘sains’ apa Planet ini dibuat?”
Di hadapkan dengan pertanyaan Gennai, yang terdengar seperti mengkoreksi, sang letnan tanpa sadar mundur ke belakang,
“T-tapi…kebenarannya adalah orang yang menciptakan planet ini adalah ‘Y’.”
“Memang itu benar. Dan karena itu, aku menyimpulkan kalau ‘Y’ bukanlah manusia.”
Gennai, yang mengucapkan kata-kata itu, jelas sudah gila–bukan,
Saat melihat mata sinting Gennai, sang letnan menelan ludahnya. Tetapi, Gennai tidak mengindahkannya dan berkata,
‘Makhluk itu–‘Y’ membuat cetak birunya berdasarkan dari ‘sebuah teori yang tidak ada’! Teknologi super? Teknologi tidak diketahui? Sebuah teknologi yang diciptakan si jenius itu, dan biarpun sudah seribu tahun berlalu, tidak ada orang yang bisa memahami teknologi itu? Hal ini bisa lebih dipercaya jika kita bilang kalau cetak biru itu dibuat berdasarkan teknologi peradaban prasejarah atau dibuat oleh alien…tapi aku tidak terlalu suka cerita fantasi seperti itu, dan aku tidak akan mempercayainya.”

–Hal itu bisa lebih dimengerti jika itu merupakan sebuah fenomena alam yang tidak diketahui awal mulanya.
Itulah sains yang dibangun dari dulu oleh umat manusia.
…Tapi menganalisis teori dari planet buatan di bawah kakinya ini?
Itu sih tidak masuk akal. Urutannya ‘terbalik’, kaki di kepala kepala di kaki. Kalau begitu, itu artinya ada sebuah cetak biru, ada seseorang yang mengetahui sebuah teori yang tidak diketahui siapapun!
–Hal seperti itu tentu saja bukanlah sains.
‘Y’ disebut-sebut sebagai orang yang telah menciptakan hal seperti itu, tapi sebenarnya darimana dia menurunkan teori tersebut?
Lalu Gennai menyadarinya.
Automata yang disebut AnchoR itu memiliki sebuah fungsi–‘Gir Kekal’.
Kekal? Mustahil! Teknologi? Jangan ngaco!
Itu adalah hukum yang tidak mungkin ada–teknologi yang melawan hukum alam semesta ini.

Beberapa saat berlalu. Semua orang di ruangan tersebut memusatkan perhatian mereka pada Gennai.
Skeptis, bingung, gelisah–pandangan mereka mungkin dipenuhi dengan rasa takut.
Di hadapan pandangan-pandangan tersebut, Gennai berseru, suaranya dipenuhi dengan kemarahan,
“Kita menghabiskan seribu tahun untuk memahami Clockwork Planet ini, tapi saat ini pun, kita tidak sepenuhnya mengerti. Ada begitu banyak fungsi yang bahkan belum dipecahkan oleh teori dan logika! –Sekarang, letnan, berikan pendapatmu.”
“Tuan…”
“–Dimana tepatnya ‘Y’ menciptakan teori dari perangkat ini yang masih belum dimengerti oleh umat manusia bahkan setelah seribu tahun berlalu?”
Tidak ada orang yang bisa menjawab.
Kesunyian ini membuat Gennai teringat kembali dengan pertanyaan sama yang dia ucapkan beberapa hari yang lalu.

…–
31 tahun yang lalu, pemerintah menugaskan penelitan untuk menggabungkan teknologi mesin jam dan elektromagnetik, kemudian Gennai mempelajari sesuatu.
Umat manusia di masa lalu, meskipun mereka tidak sempurna, mereka hampir menyingkap dunia ini, menyingkap sebagian tirai alam semesta ini.
Umat manusia di masa lalu mencoba mendefinisikan alam semesta menggunakan teori elektromagnetik yang mereka teliti.
–Tapi semua itu sia-sia saja.
Semuanya berubah ketika hari dimana seorang makhluk bernama ‘Y’ mengubah dunia menjadi Clockwork Planet.
Lalu untuk menghapus bukti itu, mereka membuang bagian dasarnya–menyingkirkan segalanya.
Semua teori pun tumbang dari asalnya.
Dan Gennai pun mengerti hal itu, lebih dari siapapun.
Bahwa yang terus menulis ulang dan menyusun ulang dunia ini adalah umat manusia.
Tapi meskipun mereka mampu mengubah dunia ini, umat manusia tidak akan berubah.
Hal yang ironis adalah–‘Y’ pun tidak mampu mengubah umat manusia.
Karena itu, di dalam Menara Inti Shiga yang ambruk itu, Gennai sangat meyakini sesuatu.
–‘Y’ bukanlah manusia.
Manusia tidak bisa berubah, dan tidak akan pernah berubah. Tapi hanya orang itu–yang menumbangkan seluruh premis, dan menjungkirbalikkan dunia dengan sombong. Itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh tangan manusia.
Kalau itu benar, Gennai bisa menerimanya. Manusia yang lemah tentu saja tidak berdaya untuk melawan Dewa, iblis atau monster yang melebihi kepintaran umat manusia dan mampu mengubah dunia.
Di kenyataan yang dia lihat ini, Gennai memimpin anak buahnya agar dia bisa hidup.
Biarpun melawan Dewa itu adalah dosa, dia tidak bisa membiarkan ‘umat manusia’ yang lemah dihancurkan hanya dengan sebuah rengekan.
Mereka mengendalikan Mie, melanjutkan penelitian mereka, dan akhirnya menuntaskan senjata elektromagnetik yang mampu menghancurkan dunia.
Lalu sekali lagi, Gennai merasa putus asa.
Karena dia mengerti.
Tidak peduli apakah itu dia, senjata ini, maupun rekan-rekannya yang menginginkan balas dendam, mereka hanyalah keberadaan yang sudah bisa diduga.
Biarpun mereka sudah menyadarinya, hasilnya telah berada di dalam tangan ‘Y’. Bodoh sekali…
–Sehingga, setelah akhirnya merasa jijik akan hal itu, Gennai mengasingkan diri.
Ya, pada akhirnya mereka hanyalah manusia biasa, yang tidak mampu melawan sesuatu yang melampaui mereka. Oleh karena itu–
Setelah merasa kecewa akan sejarah itu sendiri, dia putus asa akan dunia ini, dan merasa kalau mengakhiri hidupnya sekarang setelah dia melihat kenyataan bukanlah hal yang buruk.
Sampai dia melihat anak itu–bersama dengan automata ‘Y’.
“Akan kulakukan, jika kau mau mendengar ocehan dari seorang pria tua.”
Beberapa hari yang lalu, Gennai mengucapkan kata-kata seperti itu,
Di kediamannya di ruang bawah tanah Grid Mie, dimana dia memutuskan untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya, sebuah unit Initial-Y tiba-tiba muncul.
Berbeda dari Unit 4, automata itu bisa dia ajak bicara.
Gennai teringat kembali dengan ‘Hari Kiamat’ yang disebut-sebut dalam legenda kuno.
Konon katanya ketika dunia ini berakhir, Dewa akan muncul di hadapan uman manusia, lalu mendengarkan pertanyaan mereka–atau dalih mereka.
Sehingga, dia pun bisa mendengar jawaban Dewa–dengan harapan kecil seperti itu, Gennai mengucapkan kebingungannya.
Tentang Clockwork Planet yang masih belum sepenuhnya dimengerti, tentang ‘Y’, yang menciptakan dunia ini.
Misterinya adalah–darimana ‘Y’ berasal?
Apakah dia itu Dewa? Atau manusia?
Apakah kita hidup dalam sebuah khayalan–atau sebenarnya hidup di planet ini?
Tetapi…
“Saya ingin meminta kau mengembalikan waktu berharga yang saya habiskan denganmu. Apa cuma itu pertanyaan bodohmu?”
Sang automata menolak untuk menjawab kebingungan Gennai.”
“Saya memintamu untuk tidak meratapi kemalanganmu karena punya otak yang lebih rendah dari setitik debu–tidak, saya tidak mengasihanimu, tapi ‘menamai sesuatu yang tidak kau mengerti’ sebagai Dewa karena rasa malas adalah pikiran yang wajar bagi rakyat jelata sepertimu. Bagimu, ‘Y’ adalah ‘orang hebat’ yang pantas diagungkan sama seperti Dewa. Sebagai tambahan, mencampuradukkan kenyataan dan khayalan adalah bukti kalau kau tidak bisa memahami logika di balik suatu hal, saya sarankan untuk cepatlah cari pengobatan.”
Ketika Gennai melihat senyuman sang automata saat dia menjawab dengan penghinaan seperti itu–
“–Apa kau bercanda?”
Mata logam yang ada di wajah keriput Gennai pun melotot tajam, lalu dia membalas,
“Pertanyaan bodoh, kau bilang? 1.000 tahun sudah berlalu sejak ‘Y’ membangun ulang planet ini, dan sampai saat ini, umat manusia masih belum memecahkan teknologi ini…!”
“Sepertinya memang begitu. Saya rasa saya bisa melihat wajah ‘aku tidak percaya ini’ pria itu.”
“Dalam sekian tahun…berapa banyak ilmuwan, teknisi yang menghabiskan kehidupan mereka untuk memperoleh kebenaran. Aku mungkin tidak sesukses pendahuluku, tapi aku juga salah satu dari mereka. Manusia mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyingkap singgasana Dewa–dan gagal. Apa kau mau mengejek tindakanku ini?”
“–Tidak, saya salut dengan usahamu itu.”
Kata-kata sang automata membuat Gennai tidak bisa berkata apa-apa.
“Tapi seperti yang kau bilang–kau sudah gagal.”
“Ya, itu benar. Dulu aku mengira kalau aku telah mengambil langkah maju, tapi pada akhirnya, itu–”
Tetapi, sang automata memotong perkataannya dan memberitahunya dengan dingin,
“Kau sudah ‘tamat’ di momen itu–penghargaan atas kerja keras yang langka ini sekarang jadi sia-sia…”
Ketika melihat sang automata enggan memberikan jawaban, Gennai mendadak bangun dari kursinya,
“Jawab aku–apa yang ‘Y’ pikirkan ketika dia membangun ulang dunia ini!? Kenapa dia melemparkan hal seperti ini kepada kami–dunia yang mirip dengan sebelumnya tapi di luar pemikiran kami, tidak jelas dan tidak bisa dimengerti siapapun!”
“–Pak tua ini benar-benar berisik…”
Orang yang menjawab bukanlah sang automata.
Naoto, yang dari tadi tidak sadarkan diri dan berbaring di tempat tidur, sedang melotot ke arahnya,
“Master Naoto.”
Sang gadis automata memperingati si pemuda,
“Anda lebih baik istirahat sedikit lebih lama…hamba akan meminta si pak tua ini untuk menyiapkan elevatornya–”
“Lupakan saja, RyuZU.”
Si pemuda pelan-pelan bangun dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,
“…Aku mendengar percakapan kalian. Melanjutkannya hanya buang-buang waktu. Kita abaikan orang ini dan cari jalan kita kembali ke atas.”
Di momen itu, Gennai bicara dengan kasar.
“Itu tidak mungkin. Elevatornya tidak akan dialiri listrik tanpa perintahku.”
“Dialiri listrik? Apa itu…yah, berikan perintahnya. Kami tidak punya waktu.”
“Aku belum selesai–!”
Nada bicara Gennai semakin kasar, lalu si pemuda menatapnya dengan marah.
Kemudian, si pemuda bicara dengan tidak sabaran,
“Ya ampun, pak tua, aku ini sedang kesal karena apa yang terjadi pada AnchoR, dan sekarang aku sedang sibuk! Kalau kau tidak cepat-cepat mengaktifkan elevatornya, aku akan–”
“–Kau akan membunuhku?”
Gennai balas menantang.
Itu adalah perlawanan terakhir yang akan dikatakan sang pria tua kepada anak muda yang sombong tu, sebuah protes atas perlakuan sang anak muda yang menyebut pertanyaan yang membuatnya mempertaruhkan nyawa sebagai hal yang akan dilakukan oleh orang tua untuk menghabiskan waktu.
Tetapi, sang pemuda hanya ternganga keheranan.
“–Hah? Apa kau gila, pak tua? Apa elevatornya akan berfungsi jika aku membunuhmu? Kalau kau tidak mengaktifkan elevator itu, aku akan”
Sorot mata sang pemuda tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat dia bicara dengan meyakinkan,
“‘Memanjat dengan kekuatanku sendiri’. Itulah artinya sebuah elevator, kan? Kalau ada kabel yang menjulur sampai ke atas sana, aku bisa memanjat sampai ke permukaan.”
Si pemuda bisa menemukan lokasi pasti elevator tersebut–dan bahkan mengungkapkan strukturnya dengan akurat. Gennai pun terdiam.
Di saat yang sama, dia ingat kalau si pemuda adalah pemilik dari unit seri Initial-Y ini.
Warisan ‘Y’; mitos paling baru, automata milik Dewa sendiri.
Gennai tahu kalau unit Initial-Y memang ada, dia juga melihat aktivasi unit 04.
Tetapi, yang ada di depannya bukanlah unit lainnya, melainkan ‘unit pertama’–YD 01 ‘RyuZU’.
Tidak ada orang di masa lampau yang berhasil menembus identifikasi master unit itu, dan setelah dia mengingat hal itu, Gennai menyadari sesuatu,
“–Nak.”
‘Aku bertanya pada orang yang salah’–Gennai menghadap si pemuda lagi.
Dia berkata,
“Aku akan menanyakan satu hal. Tergantung jawabanmu, aku mungkin akan mengaktifkan elevatornya.”
Si pemuda membalikkan tubuhnya tanpa bersuara.
Gennai menatap mata kelabu muda sang pemuda, lalu bertanya,
“–Apa kau tidak punya keraguan tentang dunia ini, dunia keputusasaan yang tiada berakhir yang dimiliki umat manusia ini, dan apakah kau akan terus menantang dunia ini?”
Di planet yang tidak diketahui ini, dalam planet yang tidak masuk akal dan meragukan ini.
Apakah kau tidak punya keraguan apapun–itulah pertanyaannya.
Kemudian, Gennai dipaksa untuk menghadapi kenyataan yang tidak ingin dia ketahui ini.
Kenyataan itu adalah hal yang melampaui imajinasinya, tidak kenal ampun, tidak masuk akal, sederhana, dan tolol–sebuah jawaban.

Hatinya tidak mengenal harapan sedikitpun sehingga dia mengira kalau dia tidak punya harapan apapun, tapi dia merasa putus asa untuk ketiga kalinya.
Tidak salah lagi kalau si pemuda hanyalah seorang manusia biasa, atau setidaknya begitulah penampilannya, bicara dengan bahasia manusia, bertingkah seperti seorang manusia.
Kemudian, dia berani bertingkah tak peduli, seolah-olah ‘dia telah sepenuhnya memahami keputusasaan Gennai’, mengarahkan jawabannya bukan kepada orang lain, melainkan hanya untuk Gennai.
“–Kalau kau bilang kalau kau ini orang gagal lalu menggerutu tentang hal itu, itu adalah pilihanmu, tapi…”
Mata kelabu sang pemuda memandang rendah Gennai, lalu sang pemuda berkata,
“Kau terlalu sombong, pak tua. Memangnya kau pikir kau ini siapa, bertingkah seperti ‘perwakilan’ umat manusia?”
“–”
“Jangan samakan aku denganmu.”
–Berbeda darimu yang sudah menyerah, kami tidak putus asa.
Benar–sang pemuda menggambarkan ‘apa itu seorang manusia’.

Gennai terus terdiam, lalu dia pun duduk.
Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, sampai-sampai kursi itu bergoyang-goyang–lalu dia menghirup napas dalam-dalam serta mengangguk,
“…Baiklah. Aku akan menghubungi mereka dan mengaktifkan elevatornya.”
Gennai berkata begitu, lalu ekspresi sang pemuda langsung berubah.
“Oh? Wow pak~tua~! Kau benar-benar cepat mengerti! Oh iya, RyuZU, ayo pergi!”
“Tunggu dulu, Master Naoto. Anda akan pingsan karena kekurangan oksigen jika anda berlari.”
Sang pemuda beserta automatanya bergegas pergi dari rumah Gennai.
Dengan wajah suram, Gennai menyaksikan punggung si pemuda, lalu dia merenung sendiri,
Lucu sekali–orang itu, si pemuda itu jelas sekali, dengan terang-terangan serta dengan sikap menggurui, dia melihat ‘pusat ilusi’ yang menyelimuti manusia dengan matanya, lalu dengan berani berkata ‘kenapa kau tidak bisa melihat hal ini’.
–Begitu ya, dia mungkin punya bentuk manusia.
–Banyak orang yang bilang kalau Dewa menciptakan Manusia berdasarkan imej dia sendiri.
Tetapi, si jenius yang tampak seperti manusia itu–bukan, sesuatu yang abnormal, radikal, manusia super, Dewa atau iblis–dengan enteng berkata begitu.
Meskipun bukan manusia, dia dengan berani menggambarkan apa itu manusia tanpa keraguan sedikitpun.
Gennai tertawa kecil dengan menakutkan.
Target kebenciannya, yang hampir mencapai tingkatan maniak, telah muncul di hadapannya.
Dewa arogan dan tolol yang telah menipu umat manusia. Kalau begitu–
“–Kita akan bertemu lagi, nak. Bukan…”
‘Y’ (Monster)–yang berkedok seorang manusia.
–…

Sebuah bunyi nyaring terdengar.
Layar monitor di dinding berubah, tampak berkerlip.
Gennai menarik kesadarannya dari masa lalu, lalu bicara kepada petugas komunikasi.
“–Ada apa, laporkan.”
“Ah…b-baik. Pengisian kembali sudah mencapai 82%….”
“Kerja bagus.”
Gennai mengangguk, lalu dia berdiri.
Dia pelan-pelan melihat ke sekeliling ruang komando, menatap wajah anak buahnya yang mengabdi padanya.
Mereka adalah anak buah lamanya, yang telah bersamanya sejak penelitian di Grid Shiga; atau anak laki-laki rekannya yang dibesarkan di Mie.
Gennai, yang tidak memiliki sanak saudara maupun rumah, menganggap orang-orang tersebut sebagai ‘keluarga’nya
–Yah, terserah deh pikir Gennai.
Toh planet yang kita pijak ini memang tidak stabil sejak awal…
Semuanya…hanyalah ilusi biasa dan fana.

–jika kau memang Dewa sungguhan, kau boleh membunuhku.
Tapi jika ‘Y’ hanyalah orang biasa yang membohongi dan menggertak umat manusia.
Aku ingin kau tahu batas dari kami orang biasa–batas pasti dari umat manusia.
Aku ingin kau tahu dosa yang kau lakukan, karena kau mengingkari hal yang absolut, membangung kembali dunia, serta membuat umat manusia tidak berkembang selama seribu tahun.
Kemudian, kau akan melihat segalanya, dan mati dalam keputusasaan.
Dengan amarah dan kebencian itu, Gennai menyatakan,
“Kerja bagus, semuanya. Sekarang–aku akan ‘memberi perintah’.
Kemudian, arus listrik bertekanan tinggi yang bisa dengan mudah mengubah tubuh manusia menjadi abu mengamuk di dalam ruang komando.

Naoto tiba-tiba terbangun seperti sebuah pegas.
Matanya terbelalak sangat lebar, dan keringatnya mengucur deras.
“Master Naoto…?”
“Tunggu, Naoto, kau kenapa?”
Baik RyuZU maupun Marie menatap Naoto dengan bingung. Selain itu, AnchoR, yang sedang berbaring di perut Naoto, juga mendongak terkejut.
Tapi ini bukan saatnya untuk terganggu dengan hal itu.
Naoto mendengar sesuatu yang berbahaya.
Gendang telinga, insting, bukan seluruh indra tubuhnya menangkap alarm peringatan yang paling besar.
Itu bukan hanya masalah yang mengancam nyawa, tapi sesuatu yang lebih mengerikan dari itu. Hal itu adalah sesuatu yang belum pernah dia dengar sebelumnya–tidak, koreksi, dia pernah mendengarnya sebelumnya!
“Tunggu…kau pasti bercanda–!?”
Bagaimana bisa aku lupa? Amarah Naoto mendidih.
Aku jadi mendengar suara jelek, cabul dan mengesalkan ini lagi.
“Ada apa, Naoto? Setelah beberapa waktu, Bypassnya akan–”
“Marie!!!”
Naoto menjerit, giginya bergemeretuk.
“Suruh semuanya pergi ke Selatan sekarang! Ke tempat dimana ada awan! Cepat!”
Barangkali Marie melihat sesuatu dari wajah itu–
“–Semuanya! Tim Bagian Luar ke-20, bergerak ke arah jam 6! Mulai manipulasi cuaca!”
–Marie berseru sambil mengesampingkan kebingungan dan pertanyaan yang dia miliki, lalu dia mulai mengoperasikan panel kendali di tangannya.

Kemudian, Naoto merasakan bunyi operasi mekanis ‘Pilar Surga’ menginterferensi temperatur dan kelembaban eksternal.
Anginnya bergemuruh, tekanan udaranya berubah drastis, menciptakan uap panas dalam jumlah besar–tapi…

“Siaaaall! Kita tidak sempat! Semuanya lariiii!!!!”
Teriakan Naoto bergema ke seluruh lantai yang berukuran raksasa ini.
Lalu, 5 detik kemudian.

–Sinar penghancur datang, menghancurkan segala hal yang dilaluinya.



[1] Kartu yang dilubangi sesuai kode tertentu, untuk mengendalikan pengoperasian suatu mesin tertentu.

Clockwork Planet Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.