24 Desember 2016

Boku wa Tomodachi ga Sukunai Jilid 10 Bab 8 LN Bahasa Indonesia


JADILAH TEMANKU

Untuk beberapa hari kedepan, aku secara resmi mendapat hukuman.
Salah seorang guru berkata padaku bahwa kemungkinan aku hanya akan disuruh menulis  surat permintaan maaf selama satu minggu masa skorsing-ku pasca libur Natal nanti, dan aku dilarang untuk ikut serta dalam kemah-latih ski. Dengan kata lain, aku juga dilarang untuk pergi kesekolah selama liburan.
Tak lama setelah aku dibanting oleh Matsuyama, segerombolan anak lelaki langsung menimpa dan menahanku. Tapi, sebelum aku benar-benar dikeroyok oleh mereka, Hinata datang dan perkelahian pun berakhir. Kemudian setelah lukaku diobati diruang UKS, guru yang sedang bertugas mengomeliku diruangannya.
Memang, akulah yang duluan melayangkan pukulan dan banyak saksi mata yang telah memberikan kesaksian bahwa aku berteriak dan mengajak mereka untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Tentu saja, disini akulah yang disalahkan.
Untungnya tak ada murid yang terluka dalam perkelahian tersebut. Tapi, akulah yang justru terluka parah. Sudah pasti, itulah yang akan terjadi jika satu lawan banyak.
Ketika ditanya kenapa aku melakukannya, aku hanya berkata, “karena aku sakit hati.” Karena aku hanya tak ingin melibatkan Yozora dan Sena.
Dan juga, kudengar bahwa Hinata menenangkan situasi bersama-sama yang lainnya dan pesta Natal pun dimulai kembali. Itu adalah acara yang kami persiapkan dengan susah payah, jadi aku akan lebih senang jika itu semua tidak berakhir sia-sia.


Usai menerima omelan dan sebuah surat peringatan, aku meninggalkan ruang guru dan menuju ruang Klub Tetangga.
Guru mengingatkanku agar langsung pulang, tapi kuharap dia tidak tahu kalau aku mampir dulu untuk menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan.
Misa telah berakhir dan semua orang berada dipesta Natal. Aku berkeliling dari tempat yang gelap agar tak seorangpun ada yang melihatku. Samar-samar aku mendengar nyanyian dan musik yang merdu dari dalam gedung olahraga.
Aku memasuki kapel melalui pintu belakang dan menuju ruang tunggu 4.
Ada cahaya dari dalam ruangan.
Saat aku mengintip, ternyata ada Mikadzuki Yozora dan Kashiwazaki Sena didalam.
“............Oh iya, Yozora. Ini untukmu.”
Kata Sena, sambil menyerahkan bungkusan keci yang berpita kepada Yozora
Kado itu sama seperti yang cewek-cewek itu lempar kelantai saat pesta berlangsung dan itulah alasan mengapa Sena jadi sangat marah.
Jadi itu bukan untuk Kobato, tapi untuk Yozora.............. sulit dipercaya.
Yozora pun terkejut.
“Aku tak punya alasan untuk menerima apapun darimu. Apa kau mau jadi Santa Claus, gitu?”
“Bukan!”
Sena agak malu-malu.
“............Ini bukan kado Natal, ini kado ultah. Hari ini ulang tahunmu, ‘kan?”
“.............!”
Mata Yozora terbelalak. Aku pun terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa.
“Kenapa kau bisa tahu hari ulang tahunku?”
“Aku ini anak kepala yayasan. Kalau aku cuma ingin tahu soal tanggal lahir sih, itu mudah saja.”
“..........Begitu, ya.” ujar Yozora dengan suara yang agak canggung. Dia pun agak memerah karena malu.
“...........K-Kurasa tidak masalah kalau ini kado ulang tahun.”
“Kenapa kau malah berlagak sombong, gitu........”
Yozora menerima kado dari Sena.
“......Semoga isinya masih bagus. Tapi karena tadi jatuh, maaf kalau rusak.”
“......Baiklah, kubuka ya.”
Yozora dengan perlahan membuka kadonya.”
Didalamnya ada sebuah jepit rambut berbentuk bulan sabit.
“........G-Gimana?”
“.........Yah, tidak buruk juga,” ujar Yozora sambil merenggut.
Dengan wajah yang masih memerah ia kemudian berbisik:
“.........Makasih.”
“Ehehe,” sambil terkekeh Sena tersipu malu. “Karena sudah dibuka, gimana kalau kupakaikan padamu?”
“..........Karena sudah dibuka, jadi kubiarkan kau melakukannya.”
“Lagi-lagi, kenapa kau malah berlagak sombong gitu, sih?”
Sambil berkeluh, Sena mengambil jepitannya dari Yozora dan memakaikannya dirambut Yozora.
Bahkan dari kejauhan pun aku bisa melihat, kalau jepit rambut itu memang cocok sekali dengan Yozora.
“Hm, cocok juga denganmu. Seperti yang sudah kuduga.”
Sena tersenyum puas dan Yozora pun tersipu malu, “B-Benarkah?”
“.........Sebenarnya, aku selalu iri dengan mereka yang lahir pada hari Natal.”
“Kau ini aneh. Kalau hari Natal dan ulang tahunmu bersamaan, berarti kau  merayakan dan mendapat kadonya hanya sekali saja dalam setahun; leluconmu garing, deh.”
“Bukankah itu terdengar hebat....... Maksudku...... bukannya malah keren kalau hari ulang tahunmu bersamaan dengan hari besar? Rasanya kau seperti diistimewakan.”
“Hmph........” Yozora berdengus, kemudian ia mengalihkan pandangannya.
“Ada saatnya ketika aku memikirkan hal yang sama. Lahir dihari yang sama dengan Kristus, aku yakin pasti aku akan memperoleh takdir penting yang menyedihkan, kira-kira seperti itulah. Yah meskipun, sebenarnya Natal itu bukan hari kelahiran Kristus.”
“Ah, aku juga tahu kok. Itu hanyalah ‘Hari Peringatan’ atas kelahiran Kristus, dan bukan hari kelahiran-Nya. Ada banyak teori yang sengaja digunakan untuk kepentingan utusan agar menjadi hari libur nasional seperti di agama lain, tapi yang jelas itu sama sekali bukan hari kelahiran-Nya.”
“..........Benar sekali.”
Yozora mengangguk dengan nampak agak kecewa.
“Aku juga menganggap kalau Natal adalah hari dimana Kritus dilahirkan, tapi itu terjadi tak sampai aku berada di kelas 1 SD dan mengetahui kebenarannya. Dan itulah yang membuatku sadar bahwa aku ini bukan manusia istimewa yang dipilih untuk menjadi orang hebat..........”
“Ahaha— Buodooh, bodoohh.”
Padahal pembawaan Yozora begitu serius, namun Sena masih saja tertawa nista.
“Kuh—....... Sudah kuduga, harusnya aku tidak menjelaskannya dengan serius.......! Yozora berkeluh seolah merajuk.
Kemudian, Sena tiba-tiba memandang Yozora dengan wajah serius.
“Jangan khawatir, kau itu spesial......... Jadi, akan kubuat kau begitu spesial.”
“Apa?”
Yozora tampak kebingungan.
“........Hei, Yozora.”
“........Sekarang apa?”
Sena menarik nafas dalam-dalam, kemudian— kegugupannya seolah seperti orang yang ingin menyampaikan pernyataan untuk sekali dalam seumur hidup— ia pun bertanya:
“Maukah kau menjadi temanku?”
Yozora seolah tidak mendengarkan.
“Eh, apa kau bilang?”
Aku hampir saja tersentak karena terkejut. Namun, aku menepuk pundakku agar tidak menimbulkan kegaduhan.
“T-Tunggu! Kau jangan seperti Kodaka, dong!” Sena protes, wajahnya berubah merah.
“Omongan gaje macam apa lagi itu, Daging?”
Yozora tersenyum lembut, raut wajahnya jauh dari aura antagonisnya.
“Lagipula.......... bukankah kita ini memang teman?”
Seperti kebalikan dari Rika dan aku, saat kami berada diatap usai bertengkar. Pada kenyataannya, hal yang seperti itu sebenarnya sama saja. Ini mengingatkanku kembali, ketika Yozora yang dulu tidak memandang kearah kami......?
Bahkan jika dia memang sengaja menjiplak atau meniru atau hanya mengikuti dengan membabi buta, tidak masalah. Kurasa.
Karena begitulah Mikadzuki Yozora.
Menirukan pahlawan keadilan, menirukan gadis penyihir, menirukan anak lelaki, menirukan Kashiwazaki Sena, menirukan Hiadaka Hinata, menirukan Hasegawa Kodaka, menirukan Shiguma Rika——
Mikadzuki Yozora mengikuti jejak saat menjadi orang kece. Dia terus berjuang semirip mungkin dengan tokoh yang diidolakannya, dan setelah melihatnya yang begitu aneh, tidak keren dan penuh kemalangan. Itulah yang membuatnya justru lebih kece dari siapapun.
Yozora dan Sena saling berbalas senyum tanpa beban.
Mereka mulai saling ejek tentang saat-saat dimana mereka bertemu dan berselisih. Dua orang ini, jika dari sudut pandang orang luar bisa dibilang ‘olokan adalah bentuk kasih sayang’ mereka, kemudian secara tidak sengaja mereka malah saling cocok dan akhirnya menjadi teman. Tak ada yang membuatku sebahagia ini. Hatiku tersentuh oleh pemandangan yang bak keajaiban Natal ini.
“.................”
Aku menutup pintu dengan perlahan agar mereka tidak menyadari keberadaanku.
Rasanya aneh saat dihujani pemandangan yang mengharukan ini.
Percuma.......... Mungkin tahun depan saja........ saat hukumanku sudah berakhir.
Sambil membawa surat pengunduran diri klubku, aku berjalan keluar meninggalkan ruang klub.

Catatan penerjemah dan referensi
Ulang tahun Yozora bertepatan dengan Malam Natal/24 Desember. Dan alur disini sengaja disamakan dengan harinya Kristus, yang tentu saja dirayakan pada tanggal 25 Desember oleh kebanyakan umat Kristen. Kelihatannya agak aneh, namun mereka terlihat merayakan Malam lebih meriah darimanapun, dengan cara mereka yang istimewa. Jadi, kurasa itu masih membuat tanggal kelahirannya terasa istimewa.

Boku wa Tomodachi ga Sukunai Jilid 10 Bab 8 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

  1. lanjut ke vol 11 ? atau emang ada chapter selanjutnya min ? maaf kudet

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.