21 November 2016

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 - Part 3 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2
BAB II
(PART 3)

Tidak ada kota seunik Sighisoara di Rumania ataupun di seluruh benua Eropa. Yang di maksud hal ini adalah pada karakter “tidak ada perubahan”.  Sighisoara adalah sebuah kota kecil dengan populasi tiga puluh ribu penduduk, saat wisatawan mengunjungi kota mereka akan merasa seperti kembali ke abad pertengahan dengan berjalan kaki mengelilingi distrik kawasan bersejarah di dalam kota, yang juga di beri label sebagai situs warisan dunia.
Jika kau berjalan melalui bukit jalanan yang keras, terbuat dari paving batukau akan menemukan rumah-rumah pribadi yang terlihat sama persis seperti pada abad keenam belas sepanjang jalan dan bahkan lapangnya mana persidangan para penyihir yang pernah diadakan sebelumnya.
Rumah dimana Vlad III lahir juga termasuk tempat pariwisata (sekarang menjadi restoran), menara jam sebagai land mark kota, gereja yang berada di puncak gunung, terletak di distrik kota lama. Pokoknya, kota ini adalah tempat yang paling cocok sebagai tempat pariwisata untuk para wisatawan mengalami sensasi “Eropa pada masa lalu”.
Dan sekarang, Sighisoara telah di cekam rasa takut, karena insiden pembunuhan berantai. Hal ini adalah situasi yang sangat mengerikan, dimana para wisatawan telah di bunuh satu-persatu dan semua mayat yang ada jantungnya telah di ambil.
Tidak ada bukti yang tertinggal di tubuh para mayat, dan tidak ada hal yang berhubungan pada korban sama sekali. Tapi, hanya segelintir orang yang tahu kebenarannya. Semua korban adalah penyihir—dengan kata lain, suatu “Kejanggalan”yang luar biasa  telah terjadi di Sighisoara.
Shishigou dan Saber Merah telah berjalan selama sejam melewati jalanan, diterangi oleh cahaya redup lampu-lampu Sodium-vapor di sepanjang pinggiran jalan. Baju zirah Saber  berdenting sangat ribut, tetapi  untungnya tidak ada seorangpun di sekitar yang menanyai mereka. Seorang gelandangan pemabuk yang membawa sebotol anggur pada satu tangan memperhatikan Shishigou dan Saber dengan expresi mulut yang menganga. Bahkan tidak sampai menggunakan sihir, Shishigou melambaikan tangan kepadanya, dan gelandangan itu menganggukan kepalanya, dan mulai minum lagi.
Meskipun mereka bertemu polisi beberapa kali, mereka langsung menghindar dengan menggunakan sihir sugesti. Bahkan para polisi itu mungkin tidak menginginkan bertugas di saat pembunuh berantai berkeliaran di dalam kota. Bahkan Shishigou dengan gampangnya mengusir mereka tanpa memaksanya secara berlebihan.
Yang terpenting adalah, Saber  terlihat lebih serius sekarang. Beberapa saat lalu, dia mengeluh dan berkata: “sangat membosankan”, “sangat malas” dan, “mereka sudah ada di sini?” berulang-ulang, tiba-tiba dia sekarang menjadi diam.
Apa yang salah, Saber
Maaf…, biarkan aku konsentrasi. Aku mendapat firasat buruk disini.”
Wajah Shishigou terlihat tegang dengan kata-kata Saber barusan. Jika Saber mengambil sikap yang begitu waspada, jadi memang benar ada kehadiran seorang Servant di sekitar sini.
Pada saat yang bersamaan, mereka melambatkan langkahnya dan menjadi waspada. Mereka memeriksa sekitar — lampu jalanan yang redup membuat pandangan mereka tidak begitu jelas. Angin yang dingin yang lewat seperti menjilat leher Shishigou.
“….Seberkas kabut terbentuk.”
Seperti apa yang dikatakan Saber sebelumnya, sebelum mereka menyadarinya seberkas kabut terbentuk di sekitar mereka. Hal ini akan mengganggu pengelihatan mereka lagi dan lagi ——— tidak, sebentar.
Kabut….?”
Meskipun beberapa saat yang lalu langit masih begitu cerah, mungkinkah seberkas kabut bisa terbentuk secara tiba-tiba dan mengganggu pengelihatan mereka?....Mustahil.
Shishigou dan Saber berhenti melangkah pada saat yang hampir bersamaan. Saber sudah menarik keluar pedangnya., dan Shishigou sudah menarik Shotgun favoritnya dari dalam Holster.
“Kabut ini sebenarnya….”
Sesaat Shishigou mencoba memberi tahu sesuatu , didalam hidungnya terasa sangat menyakitkan seperti sebuah percikan, secara reflek dia terbatuk-batuk dan menutupi mulutnya.
Master?”
Ini racun, jangan di hirup”
Shishigou menunduk sambil menutupi mulut dan hidungnya. Meski saat hanya bernafas sedikit menyebabkan hidungnya seperti meledak dalam kesakitan, dan pandangannya seperti berkunang-kunang.
“Bertahanlah Master!
Shishogou segera bertindak cepat dan memakai caketnya sebagai penutup mulut dan hidungnya. Jaketnya terbuat dari kulit binatang magis yang bisa secara cepat membatalkan sebuah sihir. Ketika dia bernafas melalui jaketnya, rasa sakit perlahan-lahan menghilang. Sepertinya kabut ini memang terbuat darMana.
“…..Sial, untuk saat ini kita keluar dari kabut ini.”
“Benar, jika kamu masih bisa berlari, itu sudah cukup, ikuti aku!”
Saber memegang pedangnya di tangan kanannya dan memegang erat tangan Shishigou di tangan kirinya sambil mulai berlari. Untungnya, mungkin karena [Magic Resistance] miliknya sangat tinggi tingkatannya, Saber terlihat hampir tidak menerima dampak serangan sama sekali dari serangan kabut dan pandangannya tidak kabur sama sekali. Ketajaman [Instinc] miliknya membuat kabut itu tidak ada apa-apanya.
Tentu Saber dan Shishigou sangat yakin. Kabut ini bukan kabut yang biasa, secara alami sesuatu akan keluar setelahnya. Ketika masalah akan terjadi….bahkan disaat kabur keluar dari kabut, Saber sudah memperkirakan timing yang tepat saat hal itu akan terjadi.
Mungkin karena Saber bisa secara tepat memilih rute pelarian, kabut perlahan-lahan menghilang.
—Orang selalu ingin merasa lega. Ketika mereka jatuh ke situasi yang berbahaya, tidak perduli berapa banyak mereka bersikap tenang menghadapi situasi, pikiran mereka seharusnya merasa lega saat mereka keluar dari masalah.
—Beberapa waktu saat mereka lolos dari taring kematian yang menunggu mereka, tidak perduli orang macam apa mereka, ketika ada kesempatan mereka berhenti sejenak untuk menghirup nafas.
—Pembunuh berantai tidak pernah memberi kesempatan untuk bersantai. Mereka memegang belati mereka yang telah ternoda dengan darah manusia yang tidak terhitung jumlahnya, dan mengendap-endap dengan tenang di belakang mereka.
“Untunglah, kita sudah keluar…!”
Saber dan Shishigou berhasil keluar dari kabut berbahaya itu. Saat itu juga, yang ada di pikiran Shishigou adalah menghirup udara segar. Setelah lolos dari ketakutan dari kematian , pikiranya bersantai sejenak. Dari belakang, seorang Assassin mencoba memotong tenggorokanya —
Tetapi Saber, yang berada di depan Shishigou, mengayunkan pedang yang di pegang di tangan kanannya dan berbalik dengan cepatnya, dan membuat Shishigou berguling di tanah ketika dia sedikit menjegal kaki Shishigou.
Ada sebuah kilatan cahaya.
Sebuah lengkingan suara terdengar di paving batu. Tebasan milik Saber mengenai belati milik Assassin yang di genggamnya.
“— Maaf saja, orang itu adalah Masterku. Yang akan melawanmu adalah aku.”
Ketika Shishigou berguling, disana terlihat seseorang yang berdiri di belakangnya. Dia tidak bisa menyadarinya sama sekali.
Dia terdiam dan terkejut dengan satu hal lagi.
Seseorang yang berdiri di belakang Shishigou adalah seorang wanita muda. Dia terlihat dua sampai tiga tahun lebih muda dari Servantnya, Saber Merah. Dia memiliki rambut perak yang pendek dan berantakan, dan mempunyai mata biru yang dingin, yang mana sedikit terbuka karena terkejut. Dia memiliki beberapa belati yang menggantung melingkari pinggangnya, tapi dia tidak memiliki sesuatu seperti rok  yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Bersamaan dengan pakaian dari kulit di tubuh bagian atasnya, dia mempunyai aura sensual seperti pelacur, mengingat penampilanya yang masih sangat muda.  (TN: jangan ngeres dia masi pake T-back kok, cuman di tutupin sama selembar kain compang campi aja yang membungkus badan kecilnya :v)
“Kau menebas kami, kejamnya.”
Sambil menggerutu, dia melihat lurus kearah wajah Saber.
“— Apa maksudmu dengan Kejam? Mahluk rendahan yang memakan jiwa saat menjadi seorang Servant tidak punya hak untuk mengatakan hal itu!.”
Tidak sedikitpun menyembunyikan rasa jijiknya, saber menghunuskan pedang kearah Assassin sebagai permulaan. Assassin, terlihat tidak takut dengan pedang, dia memiringkan kepalanya dan menjawab dengan ekspresi wajah yang tidak berdosa.
“Tidak ada yang salah, kan….?”
Sekejap setelahnya, Saber menolak lemparan belati yang di arahkan ke wajahnya dengan sarung tangan miliknya. Assassin telah melempar belati dengan gerakan yang alami ketika sedang berbicara tanpa melihat sarung belati yang menggantung di pinggangnya.
Alasan kenapa Saber bisa merespon serangan mendadak adalah karena insting dan kemampuan miliknya. Tapi kesempatan terlihat saat Saber menolak lemparan belati dengan sarung tangan miliknya, dan Assassinpun melompat ke belakangnya. Kabut yang berada di udara pun masih sangat tebal dan menyembunyikan keberadaan Assassin dari pandangan.
“Tunggulah disini, Master!
Setelah mengatakan hal itu, Saber sekali lagi melompat kedalam kabut sekali lagi. Menghirup udara di dalam kabut membuat tubuh Saber terasa sangat berat, tapi Sabermenduganya itu tidak akan mengganggunya dalam tingkatan saat ini.
Dia menegangkan kupingnya dari suara kecil, dan mengayunkan pedangnya menurut instingnya. Suara yang sama terdengar lagi—dia memukul pisau kecil yang dilempar kearahnya.
“Wow. Hebat juga kau.”
Saber mendecakkan lidahnya ke arah suara gadis itu. Suara itu bisa terdengar dari segala penjuru dan dia tidak bisa menentukan asal suara sama sekali.
“Singkirkan ocehanmu. Apa yang terbaik adalah kata “bersih” seperti Assassin yang bahkan bukan seorang Heroic Spirit? Tidak, kau bahkan seorang yang tidak bersih. Kau hanyalah seorang pembunuh, hanya seorang pembantai”
(TN: mungkin “bersih” di sini artinya dia tidak menuruti aturan kesatria saat sedang berduel. Assassin menggunakan cara-cara kotor untuk bertarung” seperti racun/serangan mendadak)
“Ah, bagaimana kau tahu?
“APA—?”
Pikiran Saber membeku sejenak dan syok setelahnya.
“Nama kami adalah Jack the Ripper. Hey, hey, hey, hey apakah kamu tidak mau memberikan namamu pada kami juga?”
Sebuah suara berbisik pada telinga SaberSaber secepatnya mengayunkan pedangnya kearah suara itu, tapi, dia tidak merasakan perlawanan sama sekali di pedangnya, dia hanya mengayun-ayunkan  pedangnya kearah kabut saja. Tapi untuk saat ini, mempelajari nama musuhnya saat ini adalah hal yang sangat penting.
—Saat itu adalah sebuah insiden dari seratus dua puluh tahun yang lalu. Orang-orang dari London, Inggris Raya sangat ketakutan dalam terror. Orang yang menjadi targetnya adalah para pelacur dari ujung selatan. Jumlah orang yang di bunuhnya adalah lima orang. Meskipun begitu, dia adalah pembunuh berantai pertama di dunia, yang meninggalkan banyak legenda dan miteri sebelum akhirnya dia menghilang.
Berdasarkan tanda tangan yang tertuliskan di Koran, orang-orang memanggilnya Jack the  Ripper.
Hal itu terjadi seratus duapuluh tahun yang lalu. Dari sudut pandang berbagai misteri dengan konsep yang lebih jauh dari jaman kuno, Servant ini yang paling rapuh dalam hal ini di perang Holy Graili.
Raja Arthur pergi ke segala pertempuran dan berhasil mendapat gelar-gelar yang menakjubkan. Modred sendiri sudah menuliskan namanya dalam sejarah, dia di sebut sebagai Knight of Treachery (Kesatria Penghianat). Secara umum Servant lainya juga sama. Meskipun era, dan masyarakatnya berbeda, mereka seharusnya sudah merasakan pertempuran dalam banyak legenda dan meninggalkan namanya dalam ingatan orang-orang.
Tapi — Saber menyesuaikan pegangan pedangnya dan fokus di dalam pikiranya.
Kenapa seorang pembunuh berantai telah berada di tingkatan dimana dia di panggil dalam perang suci kali ini?
…. Kemungkinan satu-satunya yang dapat menjelaskan hal ini adalah karir pembunuhanya telah diselimuti banyak misteri dan telah banyak menterror banyak orang. Orang-orang mungkin akan menyoraki saat mereka melihat pertarungan para pahlawan bertarung. Mereka mungkin di penuhi dengan keberanian dan persaingan dengan satu-sama lainya saat mereka mengangkat tinju mereka. Tapi, gadis ini sangat berbeda.
Dia mengukir namanya di dunia dengan sewenang-wenang lewat pembantaian. Jika ada orang yang percaya pada gadis itu, itu berarti dia juga seorang pembunuh sama seperti dia.
Tentu, gadis itu cocok sebagai Assassin class. Tanpa adanya suara atau tanda kehadiran dari dirinya, dia dengan mudahnya membunuh targetnya. Saat ini tidak ada yang bisa menjadi spesialis pembunuh selain dan sebagus dirinya.
Untuk Saber, kabut ini sama sekali tidak mengganggunya. Meeskipun begitu, karena kemampuan Assassin [Presence Concealmnet], dia tidak dapat mendeteksi keberadaan Assassin sama sekali. Saat suara Assassin berdengung di telingannya , dia pasti berada di sekitar, tetapi—
“Ah, seperti yang kami perkirakan!, kau seorang perempuan, benar kan?”
Saber menggertakkan giginya ketika mendengar kata itu.
“Kalau begitu—“
“Baiklah, kalau begitu—“
Ayo lakukan!.”
—itu terdengar seperti jika dia sedang membicarankan sesuatu dengan seseorang. Sebuah situasi yang lama dimana Saber sudah lama tidak merasakanya kembali melewati dadanya.
Hal ini sangat menakutkan. Seorang Assassin bersembunyi di dalam kegelapan. Dia belum pernah menyerang secara langsung, selalu menggunakan serangan kejutan, selalu mengambil inisiatif. Jika saja Saber salah memperkirakan serangan selanjutnya, secara langsung akan mengantarkanya pada kematian.
jadi—apa yang harus Saber lakukan?
“… Hah, jangan meremehkanku bocah sialan!”
Saat langsung menjawab. Saber menyimpan helm nya ke zirahnya seperti sedang merobek kulitnya saat rasa takut menempel pada dirinya, secara bersamaan dia memperlihatkan kebanggaan pada wajahnya, dia mengangkat pedang yang digenggamnya dan seraya berteriak.
“….. Crimson Lightning” (petir merah)
“__________”
Jika ada kegelapan disini, jadi dia hanya perlu untuk meniupnya pergi dengan menggunakan cahayanya. Dia menuangkan semua mananya kedalam pedangnya, membuat percikan petir merah di sekelilinya.
Secara harfiah, kabut yang menyelimuti mereka lenyap—dan Assassin memperhatikan Saber dengan ekspresi mulut yang menganga.
“Ini sudah berakhir, Assassin!. Kalau mau menjerit sekaranglah kesempatanmu. Sekali aku memenggal kepalamu, kamu tidak akan bisa menjerit lagi selamanya.”
 “Tidak akan kami biarkan. Perut kami masih kosong.”
Berbicara seperti anak-anak, dia memegang belati di setiap tangannya.
“Kau seharusnya menyerah dan melarikan diri.” Kata Saber dengan tersenyum tanpa adanya rasa takut bersamaan dengan dia mengaktifkan skill [Mana Burst].
Sejak saat kabut mulai menghilang, tubuhnya sudah tidak terasa berat lagi. Jadi sudah tidak ada lagi yang menghalangi jalan untuk Saber, Servant terkuat dari seluruh Class. Untuk menjatuhkan pembunuh yang sudah tidak bisa lagi bersembunyi di balik kegelapan.
Menyaksikan pertarungan mereka dari kejauhan, Shishigou mempunyai kepercayaan yang kuat pada saat itu. Namun hanya hanya ada satu faktor yang membuat dia merasa gelisah, setelah keluar dari kabut, dia mengeluarkan peralatan dari dalam sakunya.
Itu adalah sepotong pergelangan tangan monyet yang di awetkan dengan lilin. Di situasi dimana dia tidak bisa bergerak dari tempatnya, dia menggunakan pergelangan tangan monyet itu untuk membuat sebuah Kekkai yang membuat orang-orang menjauhi tempat itu. Ini bukan sihir yang gampang juga. Pergelangan tangan monyet itu bergerak merangkak sendiri seperti seekor tikus, dan berjalan membentuk sebuah ruang tertutup dan memotong ruang dari apapun yang akan memasuki area yang telah di buat.
Dia belum mencobanya sama sekali, tapi meskipun dia sedang berada di persimpangan jalan di kota New York saat malam, atau sedang di jalanan Shibuya di Tokyo, dia sangat yakin mengusir semua orang-orang dari dalam area. Sayangnya disini ada mata selain dari milik orang, seperti kamera yang berada di distrik pusat kota, maka sihir itu pada awalnya akan sia-sia.
—tapi sumber dari kegelisahanya adalah…
….. fakta mereka berada di dalam situasi darurat yang tidak menguntungkan , karena seseorang berhasil masuk dimana selain dirinya dan dua orang Servat yang sedang bertarung sudah berhasil di singkirkan.
Tangannya terasa sakit sama seperti sedang di tusuk jarum, itulah bagaimana Shishigou merasakan kalau ada seseorang yang berhasil menembus Kekkai miliknya.
Saber!”
Kata-katanya meledak di dalam udara saat situasi sedang kritis terus terungkap. Saber Merah dan Assassin Hitam sedang bertarung satu-sama lain.
Saber mengayunkan pedangnya  dari bawah ke atas dan bermaksud memotong Assassin menjadi dua bagian dalam satu tebasan dengan kekuatan yang meledak-ledak. Di sisi yang lain, Assassin menantangnya untuk bertarung berhadapan lagi dengan gerakan yang sangat lembut tetapi sangat mematikan. Targetnya adalah leher Saber yang merupakan titik vital milknya. JIka serangan milik Saber adalah serangan manusia super yang melebihi para manusia, maka serangan Assassin sudah meninggalkan sisi kemanusiaan, jadi dia sebenarnya sudah menjadi monster yang tidak berperikemanusiaan.
Aku akan menang.
Sesaat dia melompat kedepan, Saber sudah sangat yakin. Dia yakin bahwa seranganya akan mengenai dan membuat luka yang amat fatal ke Assassin. Waktunya, tenaganya, kecepatanya, kekuatanya; semuanya sangat sempurnya.
Tapi.
Disaat yang bersamaan, pikiran Saber merasa terganggu dengan teriakan Shishigou. Pasti ada alasan mengapa dia berteriak beberapa saat lalu. Jika tidak, dia tidak akan memanggil namanya. Ketika dia sedang memikirkanya, dia merinding saat menyadarinya.
Dia tidak tahu dimana. Tapi, dia sudah pasti sedang di bidik seseorang.
Lemparan atau tembakan dari jarak jauh. Musuhnya mungkin adalah seorang Lancer atau Archer. Tidak perduli keadanya, saat ini Saber mungkin akan terbunuh..!
Tubuhnya bergerak sebelum pikiran menanggapinya. Dia hanya menghentikan pergerakan majunya, dan memaksa tubuhnya berputar. Hal ini yang hanya bisa dia lakukan untuk sekarang. Memiringkan tubuhnya, lalu dia melihat kearah menara jam yang menjadi penanda kota ini.
Dia melirik dengan perasaan terkejut. Dua sosok berdiri di puncak menara. Diterangi cahaya redup bulan, seseorang yang dia lihat membidikan sebuah busur dan panah ke arahnya sudah pasti adalah seorang Servant!.
Sesaat kemudian, sebuah gelombang kejut dan teriakan dahsyat mengenai seluruh tubuh Saber.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 - Part 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.