21 November 2016

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 - Part 1 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2
BAB II
(PART 1)


Peserta dalam Holy Grail War mampu melihat mimpi. Mungkin itu karena koneksi mental yang mendalam antara master dan servantnya.
Mereka mampu melihat masa lalu masing-masing dalam bentuk mimpi. Itu adalah fenomena yang secara luas diketahui dan telah telah terjadi sejak tiga perang pertama Holy Grail dan perang-perang kecil setelahnya.
-Jadi Shishigou Kairi tidak terkejut sama sekali ketika dia menemukan dirinya berada di Britania, jauh di masa lalu.
"... Yah, hal semacam ini sering terjadi juga, ku kira."
Ini mungkin masa lalu servant-nya, Mordred. Ketika dia menyadari hal itu, Modred sudah berada di sampingnya. Pedang yang Modred pegang adalah senjata yang diainginkani di perang Holy Grail ini
Clarent: Radiant Sword of the King(Clarent: Pedang Cahaya Sang Raja).
Sebenarnya, senjata ini bukan milik ModredPedang itu berfungsi sebagai simbol sebuah tahta, yang telah diperoleh Raja Arthur dan di simpan di gudang senjatanya.
Mordred telah mencurinya dan menghasut pemberontakan besar-besaran untuk merebut tahta 'raja'  untuk dirinya sendiri, dan sekarang dia sedang  menggenggam eratpedang ini di depan Raja Arthur saat dia menantangnya untuk berduel satu lawan satu.
"... Dengan kata lain, disini adalah Camlann, ya?"
Ya, tempat ini adalah bukit Camlann. Lokasi pertempuran yang menentukan akhir antara tentara pemberontak yang dipimpin oleh Mordred dan tentara reguler yang dipimpin oleh Raja Arthur. Dalam perang sedih dan suram ini, akhirnya tirai pun menutup kisah legenda Kesatria Raja Arthur.
Tembakan panah menembus armor prajurit ber-armor ringan dan prajurit ber-armor kulit . Mordred, dengan seluruh tubuhnya dibalut baju besi, maju ke depan dan menolak dari semua serangan.
Raja Arthur, yang sudah di perkuat dengan charisma yang luar biasa, akhirnya berhasil menyatukan Britania. Namun terlepas dari itu, mengapa begitu banyak tentara menyetujui pemberontakan Mordred ini?
Ketika penyatuan yang hampir saja didapatkelelahan dengan perang telah menyebar dan tumbuh merajalela di negeri-itu salah satu alasannya.
Skandal antara Ratu Guinevere dan Lancelot, the Knight of the Lake (Lancelot, sang Kesatria Danau) yang, meskipun dipuji sebagai yang sempurna, telah jatuh ke dalam cinta terlarang, menyebabkan otoritas sang raja melemah di mata rakyatnya— itu juga salah satu alasannya.
Banyak ksatria telah dicengkeram oleh rasa takut yang aneh dan bahkan penghinaan untuk raja mereka, yang terlalu bersih dan jujur ​​dan tidak pernah bertindak sesuai dengan perasaan pribadi juga salah satu alasannya.
Tapi, ada alasan yang lain juga.
Melihat Modred yang berada di medan perang, Shishigou dapat mengerti dengan baik. Cara bertarung Modred sangat serampangan. Teknik berpedang yang megah dan gagah milik kesatria lainya bagaikan sebuah ranting yang rapuh dihadapan gaya berpedang modred.
Gayanya berpedangnya berfokus ke mematuhi semua insting dan memaksimalkan kebiasaan bertarung dengan efisiensi yang besar.
Moral prajurit yang mengikuti Modred dari belakang sangat tinggi. Seperti sebuah  ritme yang memaksa insting seseorang. Langkah kaki mereka menghentak keras seperti drum besar yang mereka injak-injak selama mereka semua maju ke depan.
Hal itu seperti sebuah bencana yang disebabkan oleh naga.
Modred adalah kesatria terkenal. Dia sangat bekerja keras untuk menjadi seorang raja dan kenyataannya hal itulah yang terjadi. Namun, jika ia melanjutkan ke medan perang sebagai [ksatria], ratusan ribu tentara mungkin tidak akan mengikutinya.
(TN: mungkin maksudnya seperti ini: Terkenal dan kuat saja tidak bisa membangkitkan moral para prajurit pemberontak. Tapi modred adalah orang yang paling berambisius dan yang paling bekerja keras untuk menjadi raja, jadi para tentara pemberontak sangat kagum akan kerja keras dan usahanya dalam menjatuhkan Raja Arthur)
Kekuatanya sudah terbukti kebenaranya dan entah bagaimana tampaknya berisi kegilaan. Tapi kegilaan itulah yang menjadikan Modred sangat mengagumkan dan sifat yang sangat paling cocok saat di medan perang.
Karena kekuatan Modred setara dengan monster, dengan mudahnya memporak-porandakan musuh seperti angin ribut, dan prajuritnya mengikuti Modred dari belakang seakan sedang diaduk oleh kegilaan.
—Mereka ingin melihat seberapa jauh kesatria gila ini bisa maju
Sebuah  kepercayaan yang masuk dalam nama “kegilaan”. Jika dipikir lebih dalam , hanya itulah motif satu-satunya bagi para prajurit pemberontakan. Tapi, meski mereka mempunyai moral yang tinggi, mereka terbatas pada jumlah. Satu terbunuh, dua terbunuh, ratusan, ribuan dari mereka terbunuh sepanjang medan pertempuran.
(TN: moral di sini bisa di artikan sebagai semangat juang atau mentalitas para prajurit)
Modred tidak memperdulikan mereka. Prajurit — tidak, manusia adalah mahluk yang bertambah dengan sendirinya setelah kemenangan didapat. Itulah yang dilihatnya dari mereka para prajurit.
(TN: maksudnya mungkin berapapun prajurit yang gugur, selama memenangkan peperangan kita bisa mengambil sisa prajurit musuh ataupun rakyat kerajaan yang di taklukan)
Dia memprioritaskan seranganya pada pasukan musuh yang memiliki formasi paling padat. Saat dia menghempaskan mereka seperti  serpihan kayu, dia mencari lagi formasi prajurit musuh yang paling padat dan menghempaskannya lagi. Musuh yang tercerai berai, musuh yang melawan balik musuh yang melarikan diri—dia tebas mereka semua dan menumpuknya menjadi gunungan mayat.
Yang sudah di perkirakan, Mordred tidak meperdulikan para prajurit dengan armor yang paling ringan. Morded hanya memegang ketertarikannya pada — tidak lain adalah ayahnya sendiri, Raja Arthur.
“Dimana Raja Arthur?!!, Dimana Raja dari para kesatria?!!”
Dia berteriak keras dan membelah melalui para prajurit, dua, tiga kali lipat di sekeklilingnya. Dengan menantang kumpulan terpadat tentara dia mempunyai kesempatan yang tinggi untuk menemukan Raja Arthur berada. Namun, takdir menolaknya, mereka berdua tidak pernah bertemu satu-sama lainnya di medan pertempuran, tidak perduli kemanapun dia pergi.
Namun, sekali, ketika tidak ada halangan yang menghambatnya, takdir akhirnya mengabulkan permintaannya. Kedua tentara milik Raja Arthur dan tentara milik Modred hampir semuanya tewas, hanya menyisahkan mayat-mayat berserakan di sana-sini. Saat modred sedang beristirahat menggunakan pedangnya sebagai sanggahannya, Raja Arthur akhirnya muncul di hadapannya.
Expresi Raja Arthur benar-benar sangat tenang, tidak ada belas kasihan, ataupun dendam  untuk Modred. Muka tanpa ekspresi itulah yang membuat Modred merasa jengkel.
Pokoknya, mereka berdua berdiri berhadapan memandangi satu-sama lain. Sudah tidak ada lagi kehidupan di sekitar  untuk menghalangi  jalan mereka.
Modred melebarkan tangannya lebar-lebar  dan berteriak dengan mantabnya. Dia berteriak dengan segala kemarahan, kegembiraan dan segala emosi yang tidak bisa dia tahan.
“Bagaimana?! Bagaimana Oh Raja Arthur?! Negerimu sudah berakhir disini! Terlepas siapa yang akan memenangkan—semuanya telah hancur!”
Seseorang yang menerima semua kata-kata itu adalah seorang Raja yang terlihat sangat muda dengan mata yang sangat mirip dengan Modred.
Tanpa memperdulikan perkataan yang menggebu dari Modred atau dengan merespon kata-katanya sendiri, Sang Raja hanya mengangkat pedangnya seperti sebuah mesin.
Hal itu merupakan tindakan yang paling tidak bisa di terima oleh Modred. Melolong, Modred mengayunkan pedangnya.
Raja Arthur menahannya, menimbulkan percikan api yang berhamburan sebagaimana dua pedang suci saling bertabrakan.  Mereka berdua kelelahan tetapi keduanya berjuang keras seakan sedang menolak sebuah kekalahan. Tetapi pertarungan mereka tidak akan merubah apapun. Seperti yang dikatakan oleh Modred, siapapun yang menang, tidak akan mengubah nasib negeri ini yang sedang mengalami kehancuran.
“Kau sebenarnya sudah mengetahui hal ini akan terjadi! Kau sebenarnya tahu ini akan berakhir seperti ini! Jika saja kau menyerahkan tahtamu kepadaku, hal ini tidak akan pernah terjadi….!”
Meski begitu, pedang Modred tidak berhenti mengayun.
Modred terlahir sebagai anak yang tidak sah, mengagumi ayahnya, di tolak oleh ayahnya, dan akhirnya membencinya—dan sekarang mereka sedang berusaha membunuh satu-sama lainnya di medan perang seperti ini.
Aku membencimu, Aku membencimu, Aku membencimu, Oh, raja yang sempurna. Aku membecimu, seorang yang tidak mengakui keberadaanku. Meski begitu Aku merasa bahagia berada dalam bayang-bayanganmu. Kau bahkan tidak pernah memalingkan wajahmu padaku.
Itu sebabnya hal ini adalah hukuman alam mu, Raja Arthur!. Aku menghancurkan semuanya, semua yang kau miliki!
“Apakah kau membenciku!? Apakah kau sebegitunya membenciku?! Apakah kau membenciku hanya karena aku adalah anak dari Morgan?! Jawab aku………Jawab aku Arthur!!!”
Pada teriakan itu, Raja Arthur akhirnya meresponnya selagi mereka saling menyilangkan pedang mereka. Dengan dinginnya, benar-benar wajah tanpa emosi sang Raja mengucapkan sesuatu.
“Aku tidak pernah membencimu. Alasan kenapa aku tidak menyerahkan tahta kerajaan kepadamu, karena —“
Kamu tidak memiliki kapasitas untuk menjadi  seorang raja.
Itu adalah jawaban penuh dengan [Indifference]. Raja Arthur hanya memahami kemampuan Modred dan tanpa menunjukkan sedikitpun emosi, dia memberitahu Modred bahwa dia tidak mempunyai kapasitas yang di butuhkan untuk menjadi seorang raja.
Segera setelahnya, Modred mengayunkan pedangnya dengan penuh dengan kemarahan, dan kemudian tombak suci Raja Arthur Rhongomyniad menembus dadanya.Tidak peduli betapa kerasnya armor yang di miliki Modred, hal itu bukan masalah untuk tombak suci.
—Namun tetapi
Bahkan setelah terluka parah , dan hingga saat dia sekarat,  Modred mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa, dan akhirnya serangan terakhirnya mengenai Raja Arthur. Helm Modred terbelah menjadi dua bagian ,  mengungkap wajah seorang gadis muda, yang Shishigou kenal.
Darah menetes dari bibirnya, Modred mengulurkan tangannya ke Raja Arthur  yang berdiri tepat di depan matanya.
“—A, Yah.”
Modred terjatuh tanpa menyentuh ayahnya. Memperhatikan dengan seksama, Raja Arthur mengerti bahwa dia telah memenangkan pertarungan itu, dan tanpa sepatah katapun, dia berbalik memunggungi Mordred, dan berjalan pergi.
….Setelah ini, Raja Arthur dibawa pergi oleh kesatrianya yang masih selamat , Bedrieve, dan Raja Arthur memintanya mengembalikan kembali pedangnya ke danau. Telah dikatakan bahwa ketika sedang sekarat, dia menyembuhkan lukanya di tanah para peri, Avalon.
Itulah bagaimana cerita Raja Arthur berakhir.
Tanpa memerhatikan Raja Arthur berjalan pergi, Shishigou memandangi Modred yang terkapar. Dia menghela nafas dan bergumam pada dirinya sendiri.
“….Sialan, mimpi yang buruk sekali.”
Hal itu terlihat nyata. Mimpi ini seperti terlihat hidup, bahkan dia bisa mencium bau darah dari medan perang. Modred hanya terkapar dengan tatapan mata kosong, sedangkan ekspresinya benar-benar tidak bernyawa
Benar, modred saat ini telah menjadi mayat. Dia mungkin akhirnya di lucuti dari semua yang telah dia miliki ketika sedang membusuk bersamaan dengan dimakan serangga.
Raja Arthur di kenang sebagai legenda, dan Modred di kenang sebagai kesatria yang menodai legenda itu.
Karena semua prajurit yang mengikuti Modred telah di bantai, tidak ada lagi seorang yang mengingat dirinya. Hal itu memang lumrah terjadi. Tempat ini adalah medan perang, mereka yang kalah akan menjadi mayat yang membusuk telah selesai urusannya dengan dunia.
Gairahnya, keinginannya yang tajam tidak tercatat dimanapun, dan menghilang begitu saja. Benar-benar. Segera saat akhirnya, dia tewas dengan ketidak jelasan, bahkan orang tuanya pun meninggalkan dirinya tanpa melihat kearahnya.
“—Ah,sial. Aku memanggil servant yang merepotkan.”
Ada batasan bahkan untuk kecocokan, pikir Shishigou. Pada akhirnya servant hanyalah pendatang dari masa lalu. hubungan dengan satu-sama lain memang diperlukan, tetapi jika terikat terlalu dalam, itu lain lagi ceritanya. Sekali mereka mendapatkan Holy Grails, hubungan mereka akan berakhir.
Itu sebabnya kebenaran ini sangat menjengkelkan. Seorang anak yang berharap untuk cinta ayahnya adalah lelucon terburuk untuk Shishigou.
Sembari menunggu terbangun dari mimpinya, dia duduk di sebelah mayat Modred. Dan dia hanya memandang tanpa arah dan tujuan kepada para mayat yang negerinya telah hancur.
Tidak peduli era atau bangsa, adegan saat-saat terakhir suatu negara selalu sama-
Pagi pun datang, dan kata-kata pertama yang di ucapkan oleh mulut Shishigou di tujukan kepada Saber merah dan di isi dengan sedikit humor.
“Ya ampun, jangan menunjukan mimpi yang aneh”
“…. Aku tidak mengerti, tapi, apakah itu salahku?”
Bahkan Saber merah pun terbelalak dengan komplain yang tidak beralasan dari Shishigou.
Tempat dimana mereka terbangun bukan lagi di kuburan Trifas. Itu sebuah kamar di hotel kecil daerah Shighisoara. Hanya untuk berjaga-jaga, mereka tidak menyewa kamar oleh mereka sendiri, tapi dengan menggunakan sihir sugesti, dan membuat orang lain untuk membayar dan menyewa kamar.
Setelah menerima pesan dari Asosiasi penyihir, Shishigou telah memutuskan untuk mundur sementara dari Trifas, di mana mereka sebelumnya bersembunyi, untuk pergi ke Sighisoara. Terkenal dengan bangunan bersejarah dan arsitektur, saat ini di Sighisoara tampaknya dikuasai oleh rasa takut karena seorang pembunuh berantai yang tiba-tiba muncul.
"… Jadi. Mengapa kita disini?"
"Karena seseorang dari  Asosiasi penyihir yang sedang siaga di sini sebagai cadangan telah dibantai."
Pasangan yang agak tidak seimbang itu minum kopi di teras kafe terbuka di bawah langit musim gugur yang cerah. Saber merah memalingkan wajah ketidaksenanganya, dan Shishigou diam-diam membaca koran lokal kota.
"Penyihir telah dibantai ... ya."
Tidak ada celah di Trifas untuk Asosiasi penyihir masuk ke kota, tetapi kota terdekat Sighisoara adalah hal yang berbeda. Banyak penyihir telah ditempatkan di sini sebagai personil cadangan. Sementara kekuatan mereka dalam pertempuran lebih rendah daripada penyihir yang dipekerjakan sebagai para Master fraksi merah, ada banyak hal lain yang bisa mereka lakukan seperti pengawasan dan memasang familiar.
Mereka mengamati dengan teliti pertempuran antara Saber hitam dan Lancer merah di luar Trifas, dan juga telah memberikan beberapa informasi yang berharga untuk Shishigou.
Namun, dia tampaknya tiba-tiba telah kehilangan semua komunikasi dengan mereka. Asosiasi penyihir telah memerintahkan mereka untuk memberikan laporan berkala. Itu wajar saja untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang aneh telah terjadi.
"Ada kemungkinan bahwa servant yang terlibat. Jadi, kita dipanggil untuk pergi dan memeriksanya, karena kita bertindak secara bebas dan mandiri. "
"Soul Eater (pelahap jiwa), yah ... Tapi kenapa mereka melakukan hal itu di sini bukannya Trifas?"
Agar Servant tetap berada di dunia ini, sejumlah besar mana diperlukan. Menyediakan mana adalah peran para Master, tetapi penyihir tingkat kedua ketiga atau orang biasa yang menjadi Master tidak dapat melakukan bahkan itu. Akibatnya, mereka harus menyerang orang yang tidak bersalah dan mensuplai mana kepada Servant mereka dengan jiwa manusia.
Hal itu normal terjadi, tapi tergantung pada sifat dari Heroic Spirit, ada Servant yang akan keberatan dengan metode tersebut. Juga, bahkan untuk seorang penyihir, menggunakan metode ini adalah penghinaan yang setara dengan menyatakan mereka terpojok atau adalah penyihir kelas dua.  Tidak banyak penyihir yang rela memilih untuk melakukannya.
"Itu juga salah satu hal yang akan kita selidiki. Mungkin mereka tidak ingin menimbulkan keributan di Trifas, atau- "
Shishigou melebarkan korannya dan hanya menunjuk pada peta sederhana yang di gambar di dalam koran. Pada awalnya, pembunuhan itu dimulai pada Bucharest dan kemudian secara bertahap menuju ke utara. Melihat hal itu, Saber mengangguk mengerti.
"Mungkin mereka melahap jiwa sambil berjalan menuju Trifas."
"Benar. Semua Servant fraksi Merah telah dikumpulkan sesuai dengan kata Shirou, dan ia mengatakan bahwa mereka tidak melahap jiwa apapun. Jika kita percaya kata-katanya, maka, seharusnya satu-satunya pelaku yang kehadirannya belum dikonfirmasi di antara Fraksi Hitam, adalah  Servant-Assassin. "
Dia merasa itu agak berbahaya untuk percaya pada kata-kata Kotomine Shirou, tapi dia tidak akan berbohong tentang sesuatu seperti ini. Dan, dari Servant fraksi HitamSaber yang membusuk dan yang ada di dalam Fortress of Millenia, Lancer, Rider, Archer dan Berserker, sudah berjuang melawan beberapa Servan fraksi Merah setidaknya sekali. Berdasarkan kualitas golem yang mereka lawan, Caster,  diduga menjadi pengguna  golem, juga mungkin berada di antara mereka.
Hanya kehadiran Assassin yang belum dikonfirmasi. Tentu saja, dengan Skill kelas Assassin, [Presence Concealment], kemungkinan bahwa Servant itu siaga di Benteng Millenia tidak dapat dibuang, tapi ...
Dalam hal apapun, mereka harus memperoleh konfirmasi. Jika pembunuh berantai adalah seorang Servantdia akan melawan Saber. Bahkan jika itu tidak terjadi, pembunuh berantai adalah musuh, karena telah membunuh penyihir yang telah dikirim oleh Asosiasi. Mereka harus mencoba untuk menyingkirkan kekhawatiran di masa depan sebanyak mungkin.
"Tidak masalah jika itu seorang Servant ... Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
"Kita akan menunggu sampai malam. Sementara itu, aku berniat untuk pergi melihat mayat para penyihir yang sudah mati di kamar mayat. "
“Hmm, kalau aku?”
"Tentu saja aku akan sangat berterima kasih jika kamu menemaniku. Tapi sekarang masih siang hari, jadi aku tidak akan memaksamuSebenarnya sangat disayangkan, tapi jika aku merasa dalam situasi berbahaya, aku akan segera memanggilmu dengan Command Spell. "
Namun, Shishigou berpikir dia tidak perlu menggunakan Command Spell. Semua insiden hanya terjadi di malam hari. Mungkin pembunuh berantai masih mematuhi aturan minimum perang, yaitu tidak bertindak saat siang hari, atau mungkin ada alasan lain mengapa pelakunya harus membunuh di malam hari. Either way, kemungkinan diserang pada siang hari yang sangat kecil, sehingga dia bisa mengabaikan bahaya. Jadi intinya dia menganggap ini sebagai jam bebas.
"Siapa yang mau pergi ke suatu tempat yang menyeramkan seperti kamar mayat? Sekarang, apa yang harus saya lakukan ...? "
Saber nampaknya lebih memilih untuk berjalan-jalan di sekitar kota. Untungnya Sighisoara adalah salah satu tempat untuk para wisatawan di Rumania, dengan bangunan bersejarahnya yang berumur hingga ratusan tahun yang dijaga hingga saat ini. Tidak ada alasan untuk kelelahan di sini—ah, tunggu sebentar.
Setelah Shishigou berpisah dengan Saber, dia sekarang sedang perjalanan menuju ke kamar mayat, dia menyadari hal penting. Modred adalah seorang Servant, seseorang yang hidup dan tinggal di masa lalu.
“Sekarang aku baru kepikirann hal ini, tidak mungkin dia melihat sesuatu yang ada saat ini di masanya”
Meskipun orang-orang mengatakan bangunan-bangunan yang ada terlihat seperti bangunan dari “abad pertengahan”, Modred tinggal di masa yang hampir sama.
Shishigou sudah memperkirakannya, pada awalnya Saber berjalan mengelilingi jalanan dan berharap untuk melihat sesuatu yang baru dan hal yang aneh, tapi, secara bertahap dia menyadarinya dan menggerutu sendiri, “Huh, tidak ada bedanya dengan dimasa dulu aku tinggal?”, dan kemudian dia menjadi tidak bersemangat dan membuang waktu sambil  merajuk.
“Sangat membosankan…..”
Shishigou dan Saber bertemu kembali saat matahari mulai tenggelam. Dengan ekspresi yang sangat kecewa, Saber dengan lahapnya memakan sejumlah besar manisan yang di panggang, yang nampaknya telah dia beli di toko pinggir jalan dengan setengah putus asa.
“….Aku pikir juga begitu”
“Setelah ini, aku tidak akan tenang kecuali aku melawan seorang Servant! Jadi, bagaimana penyelidikan mu?”
“Bergembiralah, Saber. Aku punya kabar baik untukmu. Aku memeriksa mayatnya, tapi mereka berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan”
Shishigou mengatakannya dengan gembira, dan saber menyipitkan matanya penasaran.
“Jadi, maksudnya?”
"Beberapa dari mereka diserang dengan senjata tajam dan benda tumpul ... atau dengan pukulan dan tendangan. Ada bukti bahwa beberapa korban menggunakan senjatasihir. Dan hampir semua jantungnya di ambil dari badan mereka. "
“Jantung”
"Tempat di mana inti spiritual Servant terletak, dan organ internal yang dikatakan sumber kehidupan bagi manusia. Jantung mereka mungkin telah dimakan dalam ritual untuk mendapatkan mana. "
Saber berpikir sejenak, dan kemudian bergumam sendiri.
"... Apakah jantungya dimakan mentah?"
“jangan mengatakan hal yang menjijikkan. Itu terdengar lebih menakutkan, jika mereka memasaknya terlebih dahulu”
Memakan mentah jantung untuk menggunakannya sebagai ritual, tapi untuk memasak dan kemudian memakannya berarti itu memang sebuah hobi. Dari dua pilihan, orang yang melakukan hal yang terakhir lebih menakutkan.
"Terserahaku berharap bahwa itu adalah seorang Servant yang sedang kita kejar. Aku tidak akan mengampunimu  jika kau salah. "
"Saya akan menghadapi Masternya. Orang itu juga benar-benar melanggar aturan penyihir untuk menyembunyikan kerahasiaan sihir mereka ... "
Artikel di koran memberitakan, "Jack the Ripper terlahir kembali di Rumania", dan seluruh negeri itu dicekam ketakutan. Tidak peduli seberapa keras Shishigou memikirkannya, ia hanya tak bisa berpikir bahwa penyihir yang meninggalkan situasi seperti ini sudah benar-benar gila.
Meskipun malam baru saja tiba di Sighisoara, baik para wisatawan dan penduduk lokal sudah berlindung di rumah mereka yang aman.
"Apakah kau menemukan tempat yang cocok ketika sedang berkeliaran di sekitar?"
Shishigou mengangguk. Orang-orang yang telah menjadi korban pada awalnya adalah preman dan gangster, dan dia menduga bahwa pembunuh berantai itu telah masukke dalam bangunan di mana mereka berkumpul dan membantai mereka. Namun, setelah itu- segera setelah Asosiasi penyihir dikirim ke Sighi┼čoara sebagai bantuan, tampaknya  tujuan pembunuh telah dipersempit hanya untuk mereka saja.
Dengan kata lain, ada kemungkinan besar bahwa si pembunuh akan mengincar Shishigou Kairi, karena ia sekarang Penyihir satu-satunya di Sighi┼čoara.
"Saber, hanya untuk berjaga-jaga, berubahlah menjadi mode full armor. Musuh adalah Servant AssassinKau mungkin tidak akan memiliki waktu untuk mengubah pakaianmu, jika kamu menerima serangan secara mendadak. "
Saber mengangguk setuju pada kata-katanya dan memakaian seluruh tubuhnya dengan baju baja nya. Untungnya, karena pemberitaan tentang insiden itu, merekalah satu-satunya orang yang berjalan di jalanan pada malam hari. Mungkin beberapa polisi sedang berpatroli, tapi mereka bisa di tipu mereka dengan bantuan sihir.
“Baiklah. Kita berangkat”
Dengan begitu, Servant dan Master itu berjalan dengan berani di jalanan, bermaksud menggunakan diri mereka sebagai umpan.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 2 - Part 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.