19 November 2016

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 34 LN Bahasa Indonesia


KONFERENSI PARA TETUA

Mereka terus maju ke dalam kabut pekat dipimpin Gil, si demi-human mirip macan.
Tujuan mereka adalah Faea Belgaen. Mereka berjalan selama satu jam dengan Hajime, Yue, suku Haulia dan Alfrerick dikelilingi demi-human lainnya. Kelihatannya, Zam si pembawa pesan memakai banyak gerakan instan.
Setelah berjalan sebentar, mereka tiba-tiba sampai di tempat di mana kabutnya menghilang. Meskipun tidak semua kabut hilang, itu membentuk jalan yang mirip dengan lorong di dalam kabut. Kalau kau melihat dari dekat, kristal sebesar tinju terkubur di sebelah jalan yang memberi cahaya biru. Itu sepertinya mempunyai kemampuan untuk mencegah kabut.
Alfrerick yang menyadari Hajime fokus pada krista biru itu mulai menjelaskan.
"Itu sesuatu yang disebut kristal Faeadrain. Meskipun kami tidak tahu alasannya, kabut dan monster tidak akan datang mendekatinya. Itu juga dipakai untuk mengelilingi Faea Belgaen dan itu mengelilingi desa. Yah, itu adalah "relatif" untuk monster."
"Aku mengerti. Yah, itu akan menjadi membuat depresi di dalam kabut sepanjang waktu. Setidaknya aku mau menghilangkannya dari tempat aku tinggal."
Sepertinya tidak akan ada kabut sedikit pun di dalam kota di dalam Lautan Pohon. Itu adalah sebuah berita bagus karena mereka harus menunggu selama sepuluh hari di dalam Lautan Pohon. Yue, yang merasa kabut itu membuat depresi, kelihatannya senang setelah mendengar percakapan dua orang itu.
Sementara itu, di depan mata mereka sebuah gerbang besar bisa dilihat. Itu dibuat dengan pohon-pohon tebal yang menjalin membuat sebuah lengkungan, sementara sepasang pintu kayu ditaruh merentang 10 meter. Dinding alamiah dari pohon berada pada tinggi 30 meter. Itu memancarkan keindahan yang cocok untuk "negara" demi-human.
Gil memberi sinyal pada demi-human yang kelihatan adalah penjaga gerbang lalu gerbang terbuka sedikit dengan suara berat. Dari atas pohon-pohon di sekitar, tatapan menusuk diarahkan pada Hajime dan yang lainnya. Sepertinya mereka tidak bisa menyembunyikan keresahan mereka dengan fakta bahwa manusia datang. Tanpa Alfrerick, mereka pasti akan dalam masalah dengan hanya bantuan Gil. Mungkin, Tetua datang sendirian setelah memprediksikan bahwa ini akan terjadi.
Setelah melewati gerbang, ada sebuah dunia yang berbeda. Ada banyak pohon besar dengan diameter puluhan meter, di dalam pohon adalah tempat tinggal dan dari tempat yang terbuka di batang pohon yang kelihatan seperti jendela dilimpahi dengan cahaya lampu. Lusinan orang dapat dilihat berjalan di koridor yang dibuat dari cabang pohon yang menjalin. Di tumbuhan rambat pohon, ada benda seperti elevator menggunakan kerekan juga ada saluran air besar dari kayu yang dipasang bergantung antar pohon. Pohon itu sendiri tingginya sekitar 20 lantai.
Hajime dan Yue terpesona dengan mulut terbuka, kagum dengan pemandangan kota yang indah, suara batuk "gohon" terdengar. Kelihatannya, mereka tidak menyadari bahwa mereka berhenti. Alfrerick mencoba mengembalikan kesadaran mereka.
"Fufu, sepertinya kalian menyukai kampung halaman kami, Faea Belgaen."
Alfrerick mengendurkan ekspresinya dalam sukacita. Demi-human di sekitar termasuk suku Haulia kelihatan entah bagaimana bangga dengan itu. Hajime yang melihat penampilan mereka, dengan jujur memuji kota itu.
"Aa, ini pertama kalinya aku melihat kota seindah semacam ini. Atmosfirnya bagus, benar-benar sebuah kota yang dengan luar biasa harmonis dengan alam."
"N……indah."
Mendengarkan pujian terus terang tanpa tipuan sedikit pun, seperti yang diduga, itu membuat demi-human sedikit kaget. Tapi, dengan kampung halaman mereka yang dipuji tentunya membuat mereka senang, mereka semua, mencoba mengalihkan wajah mereka dengan "hmpf" sementara telinga dan ekor hewan mereka bergerak dengan sangat bersemangat.
Penghuni Faea Belgaen melihat Hajime dan kelompoknya dengan rasa ingin tahu dan menghindar, ada berbagai macam tatapan dipenuhi dengan kebencian atau kebingungan, sementara mereka terus pergi ke tempat yang Alfrerick sudah siapkan.
* * *
"… …Aku mengerti, ujian untuk mendapat sihir zaman para dewa, juga tentang permainan dewa…"
Saat ini, Hajime dan Yue sedang bicara dengan Alfrerick. Topiknya tentang "Pembebas" dan sihir zaman para dewa yang Hajime dengar dari Oscar Orcus, juga tentang bagaimana dia berasal dari dunia lain dan sedang mencoba untuk melengkapi Tujuh Dungeon Besar supaya dia bisa mendapatkan sihir zaman para dewa yang bisa mengembalikan dia ke dunianya.
Mendengar tentang para dewa dunia ini, tidak ada perubahan pada ekspresi Alfrerick. Hajime yang berpikir ini aneh kemudian bertanya "Dunia ini tidak memperlakukan demi-human dengan baik, bahkan sekarang" adalah jawaban yang dia dengar. Sepertinya bahkan kalau para dewa tidak menjadi murka, perlakuan pada demi-human tidak akan berubah sama sekali. Tempat ini tidak berada dalam pengaruh gereja juga mereka tidak memiliki iman apa pun. Hanya ada apresias pada alam.
Setelah cerita Hajime selesai, Alfrerick mulai mengatakan tentang aturan-aturan posisi Tetua dari Faea Belgaen. Itu adalah sebuah tradisi lisan yang kalau seseorang yang mempunyai lambang dari Tujuh Dungeon Besar muncul maka jangan bermusuhan pada mereka, dan kalau orang itu disukai maka bawa mereka ke tujuan mereka.
Pencipta Dungeon Besar "Lautan Pohon Haltina" dipanggil Luluo Haltina, keberadaan yang menyebut dirinya sendiri sebagai "Pembebas" (dia tidak mengatakan pada mereka makhluk seperti apa "Pembebas") juga dia mengatakan pada mereka nama dari rekan-rekannya. Itu dikatakan tanpa henti pada satu suku yang tinggal sebelum negara ini dinamai Faea Belgaen. Mereka harus tidak boleh bermusuhan karena dinasehatkan bahwa mereka harus tahu bahwa mereka yang melewati ujian Dungeon Besar adalah seseorang yang mempunyai kemampuan luar biasa.
Juga, Alfrerick bisa bereaksi pada lambang cincin Orcus karena ada sebuah monumen batu di mana tujuh lambang diukir pada akar Pohon Besar di mana dia melhat lambang yang sama dengan yang itu.
"Itu artinya, aku sudah melewati kualifikasi…"
Dari penjelasan Alfrerick, alasan untuk mengundang manusia ke dalam benteng pertahanan demi-human bisa dimengerti. Tapi, tidak semua demi-human tahu soal cerita ini, jadi perlu untuk mengatakan mereka di masa yang akan datang.
Saat Hajime dan Alfrerick mencoba mengakhiri pembicaraan mereka, entah kenapa menjadi ribut di bawah tangga. Hajime dan yang lain saat ini berada di lantai atas, sementara Shia dan suku Haulia di bawah tangga. Kelihatannya, mereka sedang bertengkar melawan seseorang. Hajime dan Alfrerick saling melhat lalu berdiri pada saat yang sama.
Di bawah tangga, ada demi-human seperti beruang besar, demi-human seperti macan, demi-human seperti rubah, demi-human dengan sayap tumbuh di belakangnya, dan demi-human seperti dwarf berambut yang kelihatan tidak aman sedang memelototi suku Haulia. Di sudut ruangan, Kam sedang mati-matian menutupi Shia. Sepertinya mereka telah dipukul karena pipi Shia dan Kam bengkak.
Hajime dan Yue yang turun tangga mengirimkan tatapan tajam pada mereka semua. Demi-human seperti beruang mulai bicara dengan suara cemas.
"Alfrerick……dasar brengsek, apa maksudnya ini. Kenapa kau mengundang manusia itu? Suku Manusia Kelinci itu juga. Mempunyai anak terlarang datang ke sini……menurut jawabanmu, aku akan menurunkanmu dari kedudukanmu di konferensi Para Tetua."
Dia kelhatannya mati-matian menahan kemarahannya. Tinjunya yang dikepalkan gemetar. Seperti yang diduga, untuk demi-human, manusia adalah musuh terbesar mereka. Terlebih lagi, mengundang suku Haulia yang melakukan kejahatan melindungi anak terlarang. Tidak hanya demi-human, demi-humanlainnya menatap Alfrerick.
Tapi, Alfrerick hanya berpikir itu sebagai hembusan angin.
"Apa, aku hanya mengikuti tradisi. Kalian semua juga Tetua dari berbagai suku, bukankah kalian bisa mengerti keadaannya."
"Masa bodoh dengan tradisi! Bukankah itu hanyalah tipuan? Bahkan setelah Faea Belgaen didirikan, tidak sekalipun itu terjadi!"
"Karena itulah, ini yang pertama kalinya. Itu saja. Kalau kalian adalah para Tetua, maka ikuti tradisi. Itu adalah aturan. Kita adalah orang yang mempunyai kedudukan Tetua jadi kenapa kita mengabaikan aturan."
"Kalau begitu, apa kau berkata bahwa manusia muda itu pantas! Yang begitu kuat sampai kita seharusnya tidak bermusuhan dengannya!"
"Memang."
Alfrerick hanya menjawab dengan acuh. Demi-human mirip manusia tidak bisa percaya kata-kata Alfrerick, lalu menatap Hajime.
Di Faea Belgaen, mereka yang menjadi Tetua dari berbagai suku adalah mereka yang mempunyai kemampuan tinggi, dan sepertinya Konferensi Tetua adalah sistem dewan yang digunakan untuk memutuskan kebijakan negara ini di mana para Tetua melakukan penilaian dalam cara pengadilan. Saat ini, demi-human itu yang berkumpul di sini sepertinya adalah Tetua saat ini. Tapi, sepertinya ada perbedaan cara mereka melihat tradisi.
Meskipun Alfrerick adalah tipe yang menganggap penting tradisi, tetua lain mungkin sedikit berbeda. Alfrerick berasal dari suku Hutan, bahkan di antara demi-human mereka mempunyai umur yang lebih panjang. Menurut ingatan Hajime, umur rata-rata mereka sekitar 200 tahun. Kalau begitu, ada perbedaan usia yang sangat besar antara Alfrerick dan para Tetua di depannya, efeknya mungkin juga berbeda dalam penilaian mereka. Omong-omong, rata-rata umur demi-human adalah 100 tahun.
Karena itu, Tetua lain selain Alfrerick tidak bisa tahan mendapati manusia dan kriminal di tempat ini.
"……kalau begitu, sekarang, biarkan aku mengujimu!"
Menyelesaikan katanya, demi-human mirip manusia tiba-tiba menyerbu ke arah Hajime. Karena tiba-tiba, yang lain tidak bisa bereaksi. Alfrerick juga, yang tidak berpikir bahwa dia akan menyerang tiba-tiba, melebarkan matanya dengan terkejut.
Dan dalam sekejap dia berada dalam jangkauannya, pria yang tingginya dua setengah meter dengan lengan besar dari otot, mengayunkan lengannya ke arah Hajime.
Bahkan di antara demi-human, suku Manusia Beruang superior dalam fisik dan daya tahan. Lengan besar itu bisa mematahkan sebuah pohon besar menjadi dua, sifat destruktif ini adalah perbedaan jelas yang bisa membuatnya menjadi perwakilan sukunya. Selain suku Haulia dan Yue, yang lainnya melihat bahwa tidak ada yang tersisa dari Hajime selain onggokan daging.
Tapi, saat berikutnya, mereka membeku karena pemandangan yang mustahil.
ZUDONn!
Tinju itu diayunkan ke bawah dan menghasilkan sebuah suara benturan yang dengan mudah disambar dan dihentikan lengan kiri Hajime.
"…….tinju yang biasa-biasa saja. Tapi, ada niat membunuh. Jadi, kau sudah siap, kan?"
Sambil berkata begitu, Hajime memanipulasi lengan buatannya menggunakan sihir untuk meningkatkan cengkeramannya. Suara tulang retak demi-human mirip beruang bisa terdengar. Merasakan krisis meskipun dia masih terkejut, demi-human mirip beruang mati-matian mencoba untuk menjauhkan dirinya.
"Guuu! Lepaskan!"
Meskipun dia mati-matian mencoba menarik lengannya, Hajime yang besarnya kira-kira setengahnya dia tidak bergerak satu inci pun. Sebenarnya, pada saat itu, Hajime mentransmutasi lempeng logam di sepatunya menjadi paku yang menancap ke lantai untuk mengamankan posisinya, demi-human mirip beruang yang tidak tahu hanya bisa merasakan Hajime seperti pohon besar yang tidak bisa digerakkan.
Hajime dengan tenang menyalurkan sihirnya, lalu cengkeraman lengan buatannya meningkat saat itu juga.
BAKI!
"Gh!?"
Suara sesuatu yang patah datang dari lengan demi-human mirip beruang itu.. walau begitu tidak ada jeritan yang bisa didengar seperti yang diduga dari seorang Tetua. Tapi, Hajime tidak melewatkandia menjadi kaku dalam kesakitan dan keheranan.
Lengan kirinya yang bebas lalu menyerang dengan pukulan mirip karate, Hajime segera menubruk ke dada demi-human mirip beruang itu.
"Terbang."
DOPANn!
"Powerful arm"nya aktif dan tembakan senapan datang dari lengan buatan yang bergerak dengan tusukan. Dan, pada saat yang sama serangan dihasilkan dari bagian siku sementara sebuah peluru melompat keluar dan bergerak di udara. Tinju yang sejak awal kuat dengan akselerasi meningkatkan kekuatan penghancur.
Tinju yang menggunakan mekanisme untuk memberinya kekuatan luar biasa menusuk perut demi-human mirip beruang itu tanpa ampun, sementara pada saat yang sama itu menghasilkan gelombang kejut dan secara literal menghempaskannya dengan kekuatan penuh. Demi-human mirip manusia itu, tanpa kesempatan untuk menjerit, dengan tubuh yang menekuk menjadi bentuk < menghilang setelag menembus dinding. Setelah beberapa saat, jeritan bisa didengar dari halaman.
Apa yang Hajime pakai adalah sebuah senapan yang bisa ditembakkan dari sikunya. Tenaga dorongnya adalah hal yang mungkin dengan memakai lompatan dari cangkang tembakan yang dibuat, juga sambil menembakkan Schlag dia bisa memakainya untuk menembak musuh di belakang pada saat yang sama. Kali ini lompatannya digunakan. "Powerful arm"nya mendemonstrasikan kekuatan penuhnya.
Sementara semua orang terpaku dan kehilangan kata-kata, suara GASHUN! yang muncul dari alat itu bisa didengar kemudian Hajime melihat Tetua lainnya dengan niat membunuh.
"Nah? Apa kalian musuhku?"
Pada kata-kata itu, tidak ada satu pun bisa mengangguk.
Setelah Hajime menghempaskan demi-human mirip beruang itu, Alfrerick entah bagaimana berhasil untuk menengahi, jadi permainan menginjak-injak dari Hajime dihindarkan. Bagian dalam demi-human mirip beruang itu luka parah dengan hampir seluruh tulangnya patah, tapi sepertinya nyawanya selamat. Menggunakan obat pengobatan paling mahal (menghabiskan uang seperti keran). Tapi, hidupnya sebagai pejuang sudah berakhir…
Saat ini, para Tetua, Zell dan suku Manusia Macan, Mao dari suku Manusia Bersayap, Rua dan suku Manusia Rubah, Guze dari suku Manusia Tanah (biasa disebut Dwarf), dan Alfrerick suku Manusia Hutan duduk di seberang Hajime. Yue dan Kam duduk di sebelah Hajime, Shia duduk bersama suku Haulia lain yang berkumpul di belakangnya.
Ekspresi para Tetua, kecuali Alfrerick, kaku karena tegang. Demi-human mirip beruang (dipanggil Jin) yang mempunyai kemampuan tempur nomor 1 atau 2 tidak bisa hadir karena dia terluka sangat parah sampai tangan dan kakinya tidak bisa dipakai.
"Nah? Apa yang mau kalian lakukan pada kami? Aku hanya mau pergi ke bawah Pohon Besar, kalau kalian tidak menghalangi maka aku akan meninggalkan kalian begitu saja……Para demi-human <<…>> berpikir kalau mereka tidak menyatukan niat mereka maka saat waktunya tiba, mereka tidak akan terganggu kalau mereka tidak tahu yang mana yang bagus? Untuk informasi kalian. Di tengah-tengah pembantaian, pikirkan perbedaan antara musuh dan aliansi, aku bukan jenis orang yang baik kalian tahun." (TL : jujur, bingung nerjemahin ini, mungkin lebih jelas kalo liat Jepangnya.)
Mendengar kata-kata Hajime, para Tetua terpaku. Mereka sudah menyadari bahwa itu menandakan dia tidak akan ragu memulai perang melawan demi-human.
"Untuk rekan kami yang tidak berdaya, pertama dari semua ini……apakah mungkin untuk kami menjadi akrab?"
Guze bergumam dengan erangan bersama ekspresi pahit dan hancur.
"Huh? Apa katamu? Bukankah si beruang itu yang datang dengan niat membunuh? Aku hanya membalasnya. Hasilnya adalah dia menjadi lumpuh karena salahnya sendiri."
"K-kau! Jin! Jin hanya memikirkan negaranya!"
"Dan, apa karena itu tidak masalah membunuh seseorang yang dia temui pertama kali tanpa bicara dulu?"
"I-itu! Tapi!"
"Bukankah kau salah paham? Aku adalah korban sementara beruang itu adalah penyerangnya. Bukankah para Tetua seharusnya menghakimi kejahatan? Karena itu, bukankah para Tetua kalian adalah yang membuat kesalahan?"
Mungkin Guze akrab dengan Jin. Karena itu, meskipun dia mengerti di dalam kepalanya bahwa Hajime benar tapi tidak dia tidak bisa menerima itu. Tapi, memikirkan perasaannya bukanlah sesuatu yang Hajime akan lakukan.
"Guze, meskipun aku mengerit apa yang kau rasakan, tapi biarkan saja begitu. Argumennya benar."
Mendengar kata-kata teguran Alfrerick, Guze yang mencoba untuk berdiri, "DOSUNn" duduk dengan ekspresi menegerut. Dan saat ini, dia jatuh terdiam dengan cemberut.
"Anak laki-laki ini, tentunya, mempunyai salah satu lambang, kemampuannya juga membuat dia bisa menyelesaikan Dungeon Besar. Aku harus mengakui bahwa dia mempunyai kualifikasi seperti yang dikatakan tradisi."
Yang berkata itu adalah Tetua Rua dari suku Manusia Rubah. Setelah mata sipitnya melihat Hajime, dia melihat Tetua lain menanyakan apa yang mereka pikir.
Mengerima tatapannya, Mao dari suku Manusia Bersayap dan Zel dari suku Manusia Macan meskipun tidak diketahui apa yang mereka pikir, mereka memberikan ijin mereka. Di sisi lain, Alfrerick berkata pada Hajime.
"Nagumo Hajime. Kami dari dewan Tetua mengaku kau adalah orang yang berkualifikasi seperti dikatakan dalam tradisi. Karena itu, kesimpulan kami adalah tidak melawanmu……sebisa mungkin, aku akan mengatakan pada mereka untuk tidak mengganggumu……tapi……"
"Itu tidak absolut…huh?"
"Aah. Seperti yang kau tahu, demi-human tidak berpikir baik tentang manusia. Sejujurnya, itu bisa dibilang mereka membenci manusia. Ada kemungkinan seseorang mengabaikan peringatan dari konferesi para Tetua. Terutama, suku dari Jin yang lumpuh, kemarahan suku Manusia Beruang tidak bisa dengan mudah ditekan jadi ada kemungkinan tinggi soal itu. Dia populer lagipula……"
"Jadi?"
Ekspresi Hajime tidak berubah bahkan setelah mendengar kata-kata Alfrerick. Apa yang sudah terjadi terjadilah. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan, itu bisa dimengerti dari matanya. Alfrerick yang bisa mengerti itu, dia melihat balik dengan keinginan tekad seorang Tetua.
"Aku mau kau mengampuni mereka yang menyerangmu."
"……apa kau memintaku untuk santai pada mereka yang datang dengan niat membunuh?"
"Itu benar. Bukankah itu mungkin dengan kekuatanmu?"
"Kalau itu adalah seseorang dengan kemampuan selevel beruang itu, aku tidak bisa yakin. Tapi, aku tidak akan santai saat saling membunuh. Meskipun aku mengerti perasaanmu, aku tidak bisa menghubungkannya dengan keadaanmu. Kalau kau tidak mau saudaramu mati, maka hentikan mereka dengan serius."
Itu adalah sesuatu yang dia kembangkan di Jurang, indera menilai untuk membunuh kalau itu adalah musuh yang tertanam begitu dalam di pikiran Hajime. Bahkan dia tidak tahu apa yang akan terjadi kapan saling membunuh terjadi. Kalau ia santai-santai, bahkan tikus yang terpojok bisa melukai parah si kucing. Karena itu, Hajime tidak bisa menerima permintaan Alfrerick.
Tapi, Zel dari suku Manusia Macan mengintervensi.
"Kalau begitu, biar kami menolak untuk memandu kalian ke bawah Pohon Besar. Meskipun itu adalah tradisi, tidak perlu memandu seseorang yang kami tidak suka."
Mendengar kata-katanya, Hajime bingung. Dari awal, dia menyerahkannya pada suku Haulia untuk memandunya dan tidak ada niat untuk mencari pertolongan dari siapapun di Faea Belgaen. Bahkan mereka pasti tahu soal itu. Tapi, kata-kata Zel berikutnya menjelaskan niatnya.
"Aku tidak berpikir suku Haulia akan bisa memandumu. Mereka adalah kriminal. Mereka akan dihakimi oleh aturan Faea Belgaen. Meskipun kami tidak tahu apa yang terjadi, kau akan berpisah di sini. Kejahatan mereka adalam membesarkan anak yang mempunyai kekuatan yang sama dengan monster. Itu sama dengan menyingkapkan Faea Belgaen pada bahaya. Eksekusi mereka sudah diputuskan di Konferensi Tetua."
Shia gemetar dalam air mata mendengar kata-kata Zel, sementara Kam dan sukunya sudah sepenuhnya menyerah. Bahkan sekarang, tidak ada satu pun yang menyalahkan Shia, sedalam itulah rasa sayang mereka.
"Para Tetua yang terhormat! Entah bagaimana, tolong lepaskan sukuku pergi! Tolong!"
"Shia! Hentikan itu! Kami sudah siap. Itu bukan salahmu. Tidak satu pun mau tetap hidup sampai ke titik menjual anggota keluarganya. Itu sudah dibicarakan berkali-kali di suku Haulia. Tidak yang perlu kau kuatirkan."
"Tapi, ayah!"
Meskipun Shia mati-matian memohon sambil bersujud, tidak ada kata-kata pengampunan datang dari Zel.
"Itu sudah diputuskan. Semua suku Haulia akan dieksekusi. Meskipun kau tidak lolos dari Faea Belgaen, itu hanya akan berakhir dengan pembuangan karena membesarkan anak terlarang."
Shia yang menangis dihibur Kam dan yang lainnya. Keputusan telah diputusakan dalam Konferensi Tetua adalah kebenaran. Tetua yang lain tidak mengatakan apapun. Mungkin karena itu adalah anak terlarang, untuk terus menutupi faktor berbahaya seperti itu di Faea Belgaen membuat kejahatan mereka berat. Itu bisa dikatakan perasaan kuat mereka pada keluarga mereka memperburuk situasi. Itu adalah sebuah cerita yang ironis.
"Dan begitulah. Dengan begini, bukankah metodemu untuk pergi ke Pohon Besar telah hilang? Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan bergantung pada keberuntungan untuk mencapainya?"
Zel menyatakan secara tidak langsung bahwa mereka sebaiknya menerima tuntutan kalau mereka tidak mau itu. Dewan Tetua yang lain juga tidak memberikan penolakan lain. Tapi, Hajime yang bahkan tidak memperlihatkan kepahitan di ekspresinya, berkata balik padanya seakan itu bukan apa-apa.
"Kau, apa kau ini bodoh?"
"A-apa!"
Zel mengangkat matanya mendengar penolakan Hajime. Shia dan sukunya juga melihat Hajime dengan refleks. Yue yang mengerti apa yang Hajime pikirkan hanya terus berwajah biasa saja.
"Seperti yang kukatakan, aku tidak bisa menghubungkan dengan keadaanmu. Kalau kau mau mengambil mereka dariku, maka kau mencoba untuk menghalangi jalanku ternyata."
Hajime yang memelototi para Tetua, mengulurkan tangannya dan menaruhnya di atas kepala Shia yang menangis. Kaget karenanya, Shia melihat Hajime.
"Kalau kau mau, mengambil mereka dariku……aku harap kau siap."
"Hajime-san……"
Apa yang Hajime maksud dengan itu adalah dia tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba menghalanginya lebih lagi dari ini. Tapi, tetap, demi suku Haulia dia tidak akan ragu untuk berperang melawan Faea Belgaen, benteng demi-human, resolusi itu, menembus ke dalam hati Shia yang sudah tenggelam dalam putus asa.
"Kau serius, kan?"
Alfrerick melihat Hajime dengan tatapan tajam yang tidak akan mengijinkan kebohongan apapun.
"Tentu saja."
Tapi, Hajime tidak goncang sama sekali. Ketetapan hatinya tidak mau mundur bisa dilihat. Tidak ada rasa hormat pada dunia ini, mereka yang menghalangi tidak perlu dikompromi dan diampuni. Itu adalah keputusan yang dia buat di Jurang.
"Bahkan kalau aku berkata akan ada pemandu dari Faea Belgaen?"
Eksekusi suku Haulia sudah diputuskan di Konferensi Tetua. Terlebih lagi, itu akan mempengaruhi wibawa negara karena menjatuhkannya dengan menyerah pada ancaman. Juga di masa depan, kartu untuk memandu tidak bisa dipakai sebagai chip penawaran karena mereka mungkin menyerang Hajime dan kelompoknya karena keputusan Konferensi Tetua tidak bisa dijatuhkan. Karena itu, Alfrerick membuat usulan. Tapi, Hajime membuatnya jelas bahwa tidak ada lagi ruang untuk negoisasi.
"Jangan membuat aku mengatakannya lagi. Pemanduku adalah Haulia."
"Katakan padaku alasannya, untukmu menempel pada mereka. Kalau kau hanya mau pergi ke Pohon Besar maka siapapun bisa jadi pemandumu."
Pada kata-kata Alfrerick, Hajime mengungkapkan bahwa itu akan jadi merepotkan, sementara Shia mengintipinya. Sejak tadi, Shia terus menatap Hajime dan mata mereka bertemu untuk sejenak. Kemudian dia merasa jantungnya sedikit berdebar. Meskipun mata mereka bertemu hanya untuk sejenak, denyut Shia terus naik.
"Aku sudah berjanji pada mereka. Aku akan membantu mereka sebagai ganti panduan mereka."
"……janji. Kalau begitu bukankah kau pikir itu sudah dipenuhi? Bukankah kau melindungi mereka dari monster di ngarai dan Tentara kerajaan? Maka, hanya tinggal hadiah untuk memandumu. Tidak akan ada masalah kalau yang memberi hadiahnya beda."
"Ada satu masalah besar. Aku sudah berjanji untuk memastikan keamanan mereka sambil memanduku. Hanya karena ada yang lebih baik di jalan, aku tidak bisa membuang mereka dan mengganti mereka, itu akan menjadi……"
Hajime memotong kata-katanya lalu melihat Yue. Yue juga melihat Hajime kemudian tersenyum sedikit. Dikatakan oleh Hajime, Alfrerick hanya bisa mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.
"Tidak keren kan?"
Serangan diam-diam, serangan kejutan, serangan memperdaya, kepengecutan, kebohongan hina, tipuan. Saat membunuh satu sama lain, Hajime tidak berpikir itu buruk. Untuk selamat, itu dibutuhkan untuk melakukan itu.
Tapi, karena itu, selain saling membunuh satu sama lain dia mau melindungi kehormatannya. Kalau itu tidak bisa dilakukan, dia benar-benar tidak akan lebih daripada seorang sampah. Hajime juga seorang pria. Untuk gadis yang dia ketemu di Jurang dia ingin membuat garis itu, untuk tidak menunjukkan sikap tidak pantas lebih dari yang dibutuhkan.
Mungkin karena dia sadar apa yang Hajime pikirkan, Alfrerick hanya bisa mengeluarkan helaan napas dalam. Wajah Tetua lainnya melihat untuk bertanya apa yang seharusnya mereka lakukan. Untuk sejenak, kesunyian membungkus mereka, sebelum lama kemudian Alfrerick membuat usulan dengan wajah lelah.
"Kalau begitu, ayo membuatnya bahwa mereka adalah budakmu. Dalam aturan Faea Belgaen, mereka yang pergi keluar Lautan Pohon dan tidak kembali, mereka yang ditangkap dan dijadikan budak, dianggap sudah mati. Meskipun ada kesempatan bagus kita bisa menang di dalam kabut Lautan Pohon, ada orang yang bisa menggunakan sihir di luar jadi kami sulit sekali mempunyai kesempatan untuk menang. Karena itu, kami menganggap mereka mati jadi tidak ada satu pun yang datang mengejar mereka dan memperluas kerusakan. Mereka yang sudah dianggap mati tidak akan bisa dieksekusi!"
"Alfrerick! Itu!"
Itu adalah cara pikir yang benar-benar tidak masuk akal. Secara alamiah, ekspresi Tetua lainnya menjadi "gyo". Zel tidak sengaja bersandar kemudian menaikkan protesnya.
"Zel. Kau seharusnya mengerti. Apa yang anak laki-laki itu tunjukkan dan kekuatannya. Kalau kau mengeksekusi suku Haulia maka dia akan mejadi musuh kita. Kalau begitu, berapa banyak akan dikorbankan…… sebagai salah satu Tetua, kita harus menghindari bahaya semacam itu."
"Tapi, apa yang akan ditunjukkan (pada rakyat)! Kalau rumor bahwa kita menyerah pada kekuatan dan melepaskan anak monster tersebar, maka wibawa Konferensi Tetua pasti akan jatuh!"
"Tapi…"
Tetua lain juga bergabung dengan diskusi antara Zel dan Alfrerick, tempat itu menjadi penuh dengan keributan. Seperti yang diduga, mengabaikan dan melepaskan faktor resiko, lalu tiba-tiba tidak bisa menghukum mereka bukanlah hal yang mudah. Dengan perkembangan mana yang harus didulukan, wibawa Konferensi Tetua akan jatuh dan akan ada beragam spekulasi seperti menerima dengan motif tersembunyi.
Tapi, di dalam (diskusi) itu, Hajime membuat pernyataan tanpa membaca suasana.
"Aah~, meskipun buruk untuk dikatakan sekarang, bukankah terlalu terlambat bahwa kalian menyadari kalian tidak hanya mengabaikan Shia?"
Mendengar kata-kata Hajime, diskusi mereka berhenti, lalu para Tetua melirik Hajime bertanya apa yang dia maksud dengan itu.
Hajime pelan-pelan membalikkan lengan baju kanannya lalu dia melakukan manipulasi langsung sihir. Dengan melakukan itu, garis-garis merah muncul di kulit lengan kanannya. Sebagai tambahan, kilatan cahaya muncul dari tangan kanannya yang menggunakan "Lightning-clad".
Mata para Tetua membuka lebar. Karena sihir dilakukan tanpa rapalan dan lingkaran sihir membuat mereka kaget. Mereka hanya berpikir bahwa dia bisa mengalahkan Jin karena lengan buatannya adalah sebuah artefak.
"Aku juga sama dengan Shia yang bisa secara langsung memanipulasi sihir dan memakai sihir unik. Berikutnya Yue. Dia adalah yang kalian sebut monster. Tapi, bukankan traidsi kalian berkata "siapapun orang itu, jangan bermusuhan dengan mereka"? Menurut aturan kalian, kalian harus mengabaikan  monster ini. Sudah terlalu terlambat untuk Shia ternyata."
Meskipun para Tetua terpaku untuk sejenak, tidak lama kemudian mereka mulai berbisik satu sama lain. Karena sepertinya mereka telah sepakat, diwakili Alfrerick, dia mulai melaporkan hasil Konferensi Tetua dengan helaan napas besar.
"Haa~, anak terlarang suku Haulia, Shia Haulia, dianggap sebagai kerabat Nagumo Hajime yang juga anak terlarang. Karena itu, karena Nagumo Hajime melewati kualifikasi, kami tidak akan bermusuhan dengan mereka, tapi mereka dilarang untuk masuk Faea Belgaen dan desa sekelilingnya. Selain itu, kalau ada seseorang yang mencoba menganggu keluarga Nagumo Hajime maka semuanya akan menjadi tanggung jawab mereka sendiri……selesai. Ada yang lain?"
"Yah, terserah selama aku bisa mencapai Pohon Besar maka tidak masalah. Orang-orang ini pemanduku. Tidak ada masalah."
"……aku mengerti. Kalau begitu, cepat pergi. Meskipun menyakiti hati kami tidak bisa menyambut seseorang yang melewati kualifikasi seperti yang dikatakan tradisi kami akhirnya datang…"
"Jangan pikirkan itu. Tidak perlu mengatakan semuanya karena akan ada banyak pernyataan tidak masuk akal yang kudengar. Meskipun begitu, untuk memiliki penilaian rasional seperti itu, aku hanya bisa berterimakasih tentang itu."
Terhadap kata-kata Hajime, Alfrerick hanya bisa tersenyum kecut. Tetua lain ekspresinya pahit dan lelah. Daripada kepahitan dan dendam, Cepat pergi! adalah yang mereka pikirkan. Melihat itu, Hajime mengangkat bahunya lalu mendesak Yue, Shia, dan sukunya untuk berdiri.
Meskipun Yue tidak berekpresi dari awal hingga akhir, mendengarkan pembicaraan mereka dia tidak berkata apapun dan hanya berdiri mengikuti Hajime.
Tapi, Shia dan suku Haulia masih tidak percaya itu adalah kenyataan dan tidak ada tanda-tanda mereka berdiri dalam keadaan terpaku mereka. Meskipun mereka siap untuk mati sampai sesaat lalu, kemudian dengan anehnya pada akhirnya itu tiba-tiba berubah menjadi pembuangan. "Eh, tidak apa-apa kami pergi seperti ini?" adalah perasan yang berputar di kepala mereka.
"Oi, kapan kalian berhenti melamun? Kita harus cepat pergi."
Mendengar kata-kata Hajime, mereka akhirnya berdiri cepat-cepat, lalu Shia dan sukunya mengikuti Hajime yang dengan cepat pergi keluar. Alfrerick dan Tetua lainnya mengantar mereka sampai gerbang.
Shia bertanya pada Hajime sambil kebingungan.
"U-um, apa tidak apa-apa…untuk kami tetap hidup?"
"? Bukannya kau dengar pembicaraan tadi?"
"Y-yah, meskipun aku mendengarnya…..itu, entah bagaimana tidak kelihatan nyata bisa pergi keluar dari keadaan berbahaya seperti itu tiba-tiba……itu membuatku merasa itu adalah situasi yang tidak bisa dipercaya…"
Ekpresi kebingungannya juga dibagi dengan sekeliling suku Haulia. Itu karena bagi demi-human, keputusan Konferensi Tetua adalah absolut. Yue lalu berkata pada Shia yang kebingungan karena dia tidak bisa mengerti bagaimana memprosesnya.
"……tidak apa-apa untuk terang-terangan bergembira karenanya."
"Yue-san?"
"……Hajime menyelamatkanmu. Itu kebenaran. Tidak apa-apa untuk menerimanya dan bergembira."
"……"
Mendengar kata-kata Yue, Shia melirik Hajime yang dengan tenang berjalan di sebelahnya. Hajime lalu mengangkat bahu sambil menghadap ke depan.
"Yah, itu adalah janji."
"Uh……"
Bahu Shia bergetar. Sebagai ganti panduan ke dalam Lautan Pohon, Shia dan sukunya dilindungi. Itu adalah janji yang Shia mati-matian berikan pada Hajime. Awalnya, memakai "Foresight" dia melihat masa depan di mana Hajime melindungi keluarganya. Tapi, masa depan itu tidak absolut. Tergantungpada pilihan tindakan Shia, itu bisa berubah banyak. Karena itu, Shia "mati-matian" mencoba mendapatkan kerja sama Hajime. Pihak lain adalah manusia yang mendiskriminasi terhadap demi-human, dan Shia tidak punya keberuntungan apapun untuk ditawarkan. Bahan negoisasinya hanya dirinya sendiri sebagai "wanita" dan "kemampuan spesial". Meski begitu, saat itu dengan mudahnya dibuang, dia hampir menangis tanpa tahu apalagi yang harus dilakukan.
Meski begitu, dia entah bagaimana bisa mendapatkan janjinya, dan sambil berjalan dia merasa bahwa kalau itu adalah Hajime maka dia akan menepatinya, perasaan semacam itu. Itu mungkin karena meskipun dia adalah seorang demi-human, dia tidak merasakan tatapan diskriminasi apapun. Tapi, itu adalah sesuatu yang dia rasa "entah bagaimana", itu bukan sesuatu yang pasti. Karena itulah dia kalah pada kecemasannya, dia berkata pada "yang berjanji untuk melindungi" bahwa "meskipun musuh adalah manusia". Kenyataannya, saat dia melawan Tentara kerajaan itu tanpa ragu, itu membuatnya merasa sangat lega.
Tapi, kali ini bahkan Shia berpikir bahwa meskipun itu Hajime, itu tidak sama dengan Tentara kerajaan. Bisa dibilang itu sama dengan menyatakan perang di depan kerajaan. Dan janji itu dilindungi tanpa diingkari. Meskipun, itu untuk Hajime sendiri, seperti yang Yue bilang, Shia dan keluarganya yang berharga benar-benar dilindungi.
Sejak tadi, jantungnya terus berdebar keras. Wajahnya pasan, sebuah denyut misterius yang terus melompat naik dan turun seakan sesuatu tersangkut di tenggorokkannya. Apakah itu kebahagiaan karena keamanan keluarganya atau…
Shia mencoba mengikuti nasehat Yue untuk terang-terangan merasa senang dan membiarkan perasaannya saat ini lalu menyerahkan semuanya pada dorongan hatinya untuk yang terbaik. Dengan begitu, dia menempel pada Hajime dengan kekuatan penuh!
"Hajime-san~n! Terima kasih banyak~!"
"Uwaa!? Ada apa tiba-tiba!?"
"Mu…"
Aku sama sekali tidak akan berpisah bahkan kalau memarnya membuatku menangis! Itulah yang Shia katakan sambil menekan wajahnya ke bahu Hajime lalu mulai menggeseknya. Ekspresinya mulai mengendur dan pipinya berwarna merah muda.
Yue yang melihat itu mengerang dengan suasana hati yang buruk, saat dia berpikir akan melakukan sesuatu, dia hanya memegang tangan Hajime, tidak ada hal spesial yang dilakukan.
Melihat Shia meledak dalam kebahagiaan pada Hajime, suku Haulia akhirnya mengerti bahwa mereka lolos dengan nyawa mereka, mereka mulai berbagi kebahagiaan satu sama lain.
Para Tetua hanya bisa melihat mereka dengan ekpresi rumit. Juga, ada banyak yang mengalihkan tatapan benci dan tidak nyaman mereka.
Hajime yang mengerti apa yang terjadi, hanya bisa tersenyum kecut karena untuk sejenak dia berguling masuk hal yang merepotkan.

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 34 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

3 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.