20 Oktober 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XXIX


KEKACAUAN DUNIA VI : TIM ALPHA VS ANGGELA
Bagian Pertama:
Beberapa saat sebelum Halsy dijatuhkan oleh Anggela.
Terlihat Anggela yang tersenyum menatap tajam sekitarnya. Kelompok Heliasha, Alysha, dan Evelyn masih memasang wajah keseriusan yang amat tinggi pada Anggela. Atas perintah Empress Halsy, mereka harus fokus untuk menghentikan Anggela.
Endowinds ….!” gumam pelan Fie ke arah El, Haikal, Serraph, dan Heliasha. Dia memberikan angin lembut yang memungkinkan mereka dapat kemampuan terbang seperti kemampuan Floating Air miliknya.
Aura Clarity: Defender, Accuracy, Acceleration!” Evelyn melompat seperti sebelumnya. Beberapa cahaya dengan berbagai warna indah mulai menyentuh orang-orang yang dikehendakinya, memberikan buff yang akan membantu pertarungan mereka.
Praesidium,” gumam Herliana berkonsentrasi keras. Suaranya yang menggema menandakan kalau dia sedang melafalkan sebuah mantra sihir pelindung.
Seketika disetiap orang yang ia kehendaki muncul perisai sihir tak terlihat. Perisai tersebut melindungi target dari berbagai macam serangan sihir.
Decrease in Resiliance: …..,” gumam pelan Silica mengangkat tangan kanannya ke arah Anggela. Telapak tangannya mulai bercahaya putih, embun es mulai muncul disekitarnya.

Critical Breaker, Defensive Breaker, Offensive Breaker ….,” gumam pelan Asha melanjutkan pernyataan Silica. Dia juga mengangkat tangan kirinya yang mulai bercahaya ke arah Anggela. Keduanya terlihat mengagumkan ketika menggunakan skill gabungan tersebut.
Cesssss ……..! CRANKS CRANKS CRANKS!!
Disekitar Anggela mulai bercahaya biru keputihan dan pecah layaknya seperti kaca yang indah. Kemampuan bertahan, membuat serangan mematikan, dan serangan kerusakan Anggela diturunkan oleh skill gabungan dari kedua petinggi Blizzard itu.
Debuff, kah?” senyum Herliana melirik Silica.
“Sayang sekali aku tidak bisa melakukan itu, kemampuanku hanya memberikan efek baik saja,” senyum Evelyn melirik Asha.
“……” Silica dan Asha hanya tersenyum. Wajah mereka mulai terlihat khawatir kelelahan. Bagi Kineser setingkat mereka, skill tersebut merupakan skill tingkat atas yang menguras tenaga.
Serraph mulai melayang cepat menghampiri Anggela, memulai serangan. Pedang kembar yang terbuat dari aliran listrik amat tinggi mulai muncul di masing-masing tangannya.
Setelah jaraknya dengan sang musuh sudah dekat, Serraph mulai menebaskan kedua pedangnya itu secara vertikal. Tapi dengan cepat Anggela menahan serangannya tersebut dengan sayap kanannya yang besar.
Setelah itu, dia mengibaskan sayapnya tersebut hingga membuat Serraph terhempas menuju salah satu tembok bangunan terdekat. Meski kekuatan Anggela sudah diturunkan, kekuatannya masih terlihat mengerikan. Serraph bergerak sangat cepat hampir menabrak tembok tersebut dengan keras, tapi.
Aerial Stay ….!” teriak Fie mengangkat kedua tangannya ke arah Serraph. Dia memberikan dorongan angin padanya hingga membuat dirinya melayang stabil kembali.
“Te-terima kasih,” senyum Serraph melirik Fie.
Di saat Serraph yang masih berterima kasih. Kali ini giliran Keina dan Heliasha yang melayang cepat menghampiri Anggela. Keduanya terlihat bekerja sama menyerang Anggela dari dua arah yang berbeda.
Bloody Code: Noble Sword Damascus …,” Heliasha mulai memunculkan pedang legenda dari dalam tubuhnya, dia berniat menebas Anggela secara horizontal.
Disisi lain Keina terlihat memunculkan dua tombak es berwarna putihkeunguan, tombak es yang sungguh terlihat berbeda dari tombak es pada umumnya, tombak es yang memiliki ketahanan yang sangat kuat. Dia memegang tombak tersebut dan berniat menusuk perut dan kepala Anggela.
Tapi kembali lagi, keduanya mendapatkan serangan yang amat cepat dari Anggela. Serangan dari kecepatan Angela yang mengerikan.
BUAAKKKK!!!
Tanpa Heliasha sadari, perutnya terkena tendangan keras dari Anggela yang menggunakan percepatan mengerikan. Begitu pula dengan Keina, wajahnya mendapatkan pukulan telak yang keras dari tangan kanan Anggela.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, keduanya melayang jatuh ke bawah sangat cepat dengan arah yang berbanding terbalik.
WUINGGGG!!!
Keduanya terus melesat jatuh kebawah dengan sangat cepat. Wajah mereka terlihat kesakitan karena mendapatkan serangan langsung dari Anggela.
Aerial Stay …!!” teriak kembali Fie memberikan dorongan pada orang yang ia kehendaki. Heliasha terlihat melayang stabil kembali. Dia mulai mengusap perutnya yang kesakitan.
Gra-Gravity Stay!” teriak kesal Keina, dia menggunakan kemampuan gravitasinya untuk menstabilkan dirinya sendiri.
Disaat keduanya terlihat sedang kesakitan tersebut. Anggela mulai mengangkat kedua tangannya ke arah Keina dan Heliasha. Tangan kiri ke Keina dan tangan kanan ke Heliasha.
Lightning Fury …,” senyum mengerikan Anggela.
 ZWIBT ZWIBT !!!!!
Listrik hitam bertegangan tinggi mulai muncul di masing-masing tangannya. Listrik yang dipenuhi kemurkaan tersebut melesat cepat ke arah Heliasha dan Keina yang sedang lengah. Wajah Keina dan Heliasha cukup terkejut, melihat serangan yang cepat itu bergerak ke arah mereka.
ZUNGG!!
Tiba-tiba muncul sebuah gerbang dimensi di depan Heliasha dan Keina. Gerbang dimensi tersebut menahan mereka dari serangan Anggela.
Jeremy?” senyum Keina melihat Jeremy yang membuat gerbang dimensi untuknya.
“Gramior thanks,” senyum bahagia Heliasha melihat Gramior yang juga melindunginya.
“Jika kamu punya banyak waktu untuk tersenyum padaku, cepat menyingkir dari sana!” teriak Jeremy dan Gramior bersamaan, wajahnya terlihat cukup khawatir melirik Anggela yang mulai mengangkat tangannya.
“Eh?!” Keina dan Heliasha cukup terkejut dan melirik kembali Anggela.
Gerbang berwarna biru kehitaman mulai muncul di masing-masing tangan Anggela, gerbang penguatan yang dibuat oleh ancient weapon miliknya, Atlantis Dhrone.
Dark Giga Stream …..,” gumam Anggela berniat menembakkan lasser hitam yang mengerikan. Lasser yang lebih mengerikan dari skill Giga Stream.
“Ga-gawat! Jika serangan Railgunnya saja sudah mengerikan, apalagi skill ini!” khawatir Gramior bukan main.
“Heliasha, Keina! Menyingkir dari sana!!” teriak Jeremy sangat khawatir.
WUSSHHH!!!
Dalam hitungan yang amat sangat cepat, hitungan waktu yang tidak bisa terlihat oleh mata manusia bahkan seorang Kineser. El terlihat sudah di atas Anggela sambil berniat menendangnya secara vertikal. Anggela terlihat sangat terkejut, berniat menahan serangannya tersebut dengan kedua sayapnya, tapi.
DUK…… WUZZZ!!! DUARRRRDDDD!!!!
Dia terlalu lambat untuk menahan serangan El, dia menabrak tanah dengan sangat keras. Asap hasil benturan yang amat keras mulai terlihat di sekitar Anggela yang dijatuhkan.
Semuanya hanya terdiam melihat Anggela yang sudah terjatuh di atas tanah. Kecepatan El Crystal benar-benar tak bisa dilihat oleh mereka.
Nice cover EL,”  senyum Keina kembali.
Disaat Anggela yang sedang terjatuh tersebut, mulai terdengar ledakan besar. Ledakan karena hasil benturan dari dua skill yang berbeda.
BUARRRDDD!! BOARRDDD!!
Semua orang terdiam melihat pertarungan sisi lainnya, semuanya terkejut melihat ledakan yang ditimbulkan oleh Halsy dan monster yang berada dibawahnya.
“Mo-monster apa itu?” tanya beberapa orang terkejut melihat monster yang menembakkan lasser berwarna merah terang.
Wyvern …” gumam Serraph dan Keina dalam hatinya.
Saat ledakan itu masih berlangsung, ternyata Keisha juga menembakkan lasser kuning keemasan ke arah Halsy dan monster itu. Heliasha yang melihat hal itu lekas berteriak sangat khawatir. Dia yang paling tau tentang kemampuan sahabatnya itu.
“EVELYN!!!”
Semua orang terkejut melihat Heliasha yang sangat panik ketakutan. Tidak hanya Heliasha saja yang tau betapa mengerikannya lasser kuning milik Keisha itu. Tapi Evelyn juga mulai menyadari tentang betapa mengerikannya lasser kuning itu jika menghantam daratan.
“Aku tau!!” teriak Evelyn memasang wajah yang sama, dia lekas melompat tinggi berniat mengeluarkan skillnya.
BOAAAAAMMMMMMMMMMMMM!!!
Ledakan maha besar langsung terjadi. Ledakan yang menyapu bersih sampai ke perbatasan dan kota lainnya mulai terjadi.  Sebagian dataran negara Jerman langsung tertutupi oleh ledakan besar itu.
Heliasha dan yang lainnya hanya terdiam tak bisa berkata apapun, tubuh mereka terlihat bergemetar tersapu bersih oleh ledakan itu.
Lalu beberapa menit kemudian, mulai terlihatlah dataran sekitar mereka yang benar-benar berbeda. Bangunan dan sisa peradaban disekitarnya musnah tak bersisa. Hanya sebuah dataran tandus yang terlihat. Kelompok Halsy tidak terluka dan terlihat bercahaya karena kemampuan Evelyn.
“Ap-apa-apaan ini?!” Haikal terkejut bukan main, dia terlihat mengamati sekitarnya secara seksama.
“……!!” Keina dan Serraph hanya terdiam terkejut melihat putri tertuanya.
Semua pandangan mulai tertuju pada pertarungan Keisha dan Halsy. Mereka terlihat khawatir menatap keduanya yang mulai mengeluarkan kemampuan penuhnya.
***

Bagian kedua:
Semua pandangan masih tertuju pada Halsy yang bersiap menembakkan anak panahnya. Suasana tegang sungguh terasa saat itu.
Disaat mereka sedang menatap pertarungan tersebut, terlihat Anggela yang mulai bangkit. Wajahnya dipenuhi kekesalan pada seseorang yang menjatuhkannya. Dia mulai jongkok mengambil ancang-ancang untuk terbang dengan sayap besarnya.
SYYUUUTT!!
Dalam hitungan persekian detik, kepalan tangan Anggela terlihat sudah berada di depan wajah El. Lelaki berambut kuning keemasan yang sedang lengah itu hanya bisa memasang wajah khawatir ketakutan.
“Si-sial –“
BUARKGGHGHGHHHHHHH!!!!!! WUINGGGG!! DUAAARRRDDDDD!!!
Dirinya terpental ke bawah dengan sangat cepat, tubuhnya membentur keras dataran tandus yang disebabkan Keisha.Tubuhnya tak bergerak lagi setelah dia membentur keras dataran itu.
“Ka-Kakak!” teriak Evelyn khawatir. Dia mulai berlari menghampiri kakaknya tersebut, berniat menyembuhkan kakaknya yang terlihat mengkhawatirkan.
SYUUUTTTT!!
Tapi kembali lagi, Anggela kali ini melayang cepat tepat di atas kepala Evelyn. Mulai mengangkat kaki kanannya berniat menendang kepala Evelyn secara vertikal.
“Eh ….?” Evelyn sungguh terkejut melihat Anggela yang berniat menyerangnya. Dia tersungkur jatuh kebelakang sambil memasang wajah yang sangat ketakutan. Tapi,
WUZZZZ!! ZWUBBB!!!
Ice trap!!” teriak Alysha sangat khawatir, dalam sekejap tubuh Anggela membeku karena ranjau es milik Alysha. Untuk persekian detik, Anggela tidak bisa bergerak karena aliran darahnya dihentikan.
Sungguh, aku benar-benar bersyukur memasang ranjau disana,” senyum khawatir Alysha, tubuhnya masih terlihat bergemetar ketakutan.
Saat kondisi Anggela yang tidak bisa bergerak tersebut. Haikal tiba-tiba muncul di samping kanan Anggela, dia menggunakan percepatan listriknya. Dia yang sudah memasuki cahaya kelima terlihat memasang wajah keseriusan tinggi untuk memukul wajah Anggela dengan tangan kanannya.
Begitupula dengan Serraph, dirinya tiba-tiba muncul disamping kiri Anggela. Dia yang diselimuti listrik hitam terlihat juga melayangkan pukulannya pada Anggela.
Keduanya muncul bersamaan dan berniat menghentikan lelaki berambut putih itu. Kecepatan, hembusan nafas, dan gerakan keduanya terlihat sama. Kombinasi serangan mereka terlihat baik dan tak ada kesalahan.
Tapi.
BBEEEEEBBBB!!!!!
Serangan kombinasi itu ditahan oleh kedua sayap Anggela yang besar, Anggela hanya tersenyum sambil mulai berputar.
BUAAAK!!! BUAAKKK!!!
Serraph dan Haikal dihempaskan oleh sayap Anggela ke sudut berbeda. Wajah keduanya terlihat kesakitan.
Saat Serraph dan Haikal masih melayang di udara, Anggela mulai menghilang. Dia kembali menggunakan percepatan listriknya untuk menyerang Serraph yang masih terlempar.
DUARGHHHH!!!
Tapi dalam sekejap tubuh Anggela langsung membentur tanah sangat keras hingga membentuk cekungan tak karuan. Gravitasinya diperberat oleh seorang gadis yang melayang lebih tinggi darinya.
“….!!” Keina terlihat mengangkat kedua tangannya ke arah Anggela. Wajahnya mulai terlihat khawatir kelelahan. Wajah ketenangan dan wajah yang menandakan kalau dia adalah terkuat seakan hilang ketika dia berusaha keras menghentikan Anggela.
“…!!” Anggela menatap tajam Keina, wajahnya terlihat sangat marah karena dia dihentikan oleh gadis berkulit seperti salju itu.
“Se-Sekarang!!” teriak kesal Keina memejamkan mata, dia terlihat sudah seperti di ambang batas kemampuannya.
“Ya!!” teriak Savila yang mengangkat kedua tangannya. Dirinya terlihat sudah berubah menjadi mode terkuatnya,  api biru yang amat indah terus berkobaran disekitar tubuhnya.
Wajah Savila terlihat khawatir kelelahan, tombak api suci yang berada diatasnya semakin berkobar hebat. Gerbang dimensi hasil gabungan Jeremy dan Gramior mulai muncul dihadapan Savila.
Secara perlahan gerbang dimensi yang lainnya juga muncul tepat diatas Anggela. Wajah Anggela mulai terkejut akan hal itu, dia mulai berusaha keras untuk berdiri dan melawan gravitasi berat yang dibuat oleh Keina.
“CEPATTT!!!” teriak Keina murka, dirinya terlihat bersusah payah menahan Anggela yang mulai bisa lepas dari gravitasi beratnya.
“Hah hah hah …!” Savila mulai menembakkan tombak api yang cukup besarnya, cukup lambat tidak seperti sebelumnya. Bukan hal yang aneh jika dia terlihat sangat kelelahan. Dia sudah mengeluarkan dua kali skill tingkat akhirnya dalam waktu yang cukup dekat.
Curationum!” khawatir Herliana mengangkat kedua tangannya pada Savila. Dia berniat memulihkan tenaga Savila secara perlahan.
“HYAAAA!!!!” teriak Anggela sangat keras, dia mulai mengibaskan sayap besarnya melawan gravitasi berat yang dibuat oleh Keina. Memberikan wajah keseriusan dan kemurkaan pada ibunnya.
“Si-sial ….! Ha ha ha,” khawatir Keina memejamkan mata, keringatnya mulai bercucuran deras, nafasnya mulai terengah-engah karena kelelahan.
Meski gravitasi berat masih dirasakan oleh Anggela, Anggela yang kesal terlihat berusaha keras melayang terbang menghampiri Keina. Wajah Keina mulai terlihat khawatir sambil menatap tajam putranya tersebut. Akan tetapi,
Thunderbolt Bazooka ….!” Seorang lelaki berteriak dibelakang Keina. Keina cukup terkejut dan mulai berbalik melihat lelaki tersebut.
Lelaki tersebut adalah Serraph, dia terlihat memukul sebuah batu besar yang ia bawa dengan kedua tangannya. Tangan kiri dan kanannya diselimuti oleh petir hitam yang bertegangan amat tinggi.
BOB ….. !BOAM!
Bukan tembakan lasser seperti sebelum-sebelumnya, tapi bola petir berwarna hitam yang muncul dan melesat cepat menghampiri Anggela. Bagaikan tembakan peluru listrik bertegangan tinggi yang cukup kuat untuk mendorong Anggela.
DEB! BURGAKKHH!!!
Anggela menahan serangan tersebut dengan kedua sayapnya, dirinya terdorong kembali menuju pusat gravitasi yang dibuat Keina.
“……!!”  Anggela terlihat semakin kesal, ingin bangkit kembali. Tapi tubuhnya terasa sangat sulit untuk digerakan. Urat disekitar tubuhnya mulai terlihat yang menandakan jika dia sedang berusaha keras untuk menggerakkan kembali tubuhnya.
Ya …, disamping kanan Keina yang melayang, terlihat Heliasha yang mengangkat kedua tangannya pada Anggela. Wajahnya hampir mirip dengan wajah Keina, wajah kekhawatiran dan kelelahan amat dalam. Dia terlihat berusaha keras menghentikan pergerakkan Anggela dengan mengendalikan otot dalam tubuhnya.
Sedangkan saat Keina, Heliasha, dan Serraph berusaha keras menghentikan pegerakkan Anggela. Haikal hanya terdiam khawatir sambil menggendong Evelyn, dia sungguh kebingungan melihat Anggela yang hanya tersenyum melihat sekitar.
“Kak Haikal, pe-perasaanku tidak enak …,” Evelyn memasang wajah khawatir melihat Anggela.
“Aku juga, aku sungguh kebingungan melihat dia yang terpojok malah bersikap tenang.”
“…….!” Evelyn terlihat menyipitkan mata berkonsentrasi melihat Anggela, dia terlihat mencari sesuatu yang ganjil tersebut.
Haikal mulai turun ke bawah dan menurunkan Evelyn. Tapi saat dia ingin terbang dan membantu yang lainnya, Evelyn memegang tangan kanan Haikal. Tangannya sungguh bergemetar seakan telah menyadari sesuatu.
“Di-dimana senjatanya ….? An-ancient weaponya?” tanya Evelyn terlihat ketakutan.
“Eh …..?” Haikal juga terkejut dan mulai berbalik mencari Atlantis Dhrone milik Anggela. Salah satu dhorne milik Anggela terlihat cukup jauh dari Savila dan yang lainnya, tapi dhrone tersebut seakan bersiap menembakkan sesuatu pada Savila yang masih mengeluarkan skill tingkat akhirnya.
“Gawat!! Semuanya lindungi Savila –“ teriak Haikal ketakutan, teriakannya terdengar sangat keras hingga membuat semua orang terkejut, tapi.
Ces… BOOMMM!!!
Tembakan meriam petir biru kehitaman melesat cepat ke arah Savila, dalam kurun waktu yang sangat cepat perut Savila tertembus oleh tembakan itu. Darah merah mengucur deras dari perutnya yang berlubang.
“Burkgh– uhuk uhuk!”
“Savila!!” teriak khawatir semuanya.
Savila hampir jatuh, pandangannya sangat buram dan mulai kosong. Tapi dia terlihat memaksakan tubuhnya agar menyelesaikan tugasnya.
“Aku tak peduli dengan tubuh ini!! Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku hah hah hah …., meski harus mengorbakan nyawaku ini, meski harus membuat tubuhku hancur!!” Savila sungguh terlihat memprihatinkan. Tubuhnya terlihat bergemetar seolah mengisyaratkan kalau dirinya sudah tidak kuat untuk bergerak lagi
Gawat, jika begini terus dia akan mati,” khawatir Herliana sambil terus memberikan sihir penyembuhnya pada Savila.
Lalu tiba-tiba terlihat empat Dhrone mulai muncul disekitar Savila. Semuanya mengarah pada Savila dan berniat menembakkan tembakan yang sama. Savila terus berkonsentrasi melemparkan tombak api yang terlihat lebih besar dari sebelumnya, dia sudah tak peduli dengan sekitarnya yang mengancam dirinya.
“Savila sudah cukup, menghindar sekarang juga!!” teriak Herliana ketakutan.
Beberapa orang ingin sekali membantu Savila, tapi tubuh mereka terlihat kelelahan bahkan untuk berdiri sekalipun. Alysha yang masih memiliki tenaga mulai membuat benteng es di sekitar Savila seolah berniat melindunginya. Begitu juga dengan Lily, dia juga membuat sebuah pelindung  pemantul di sekitar Savila dan yang lainnya.
Sial, pertahanan Lily dan benteng Alysha akan mudah tertembus oleh tembakan itu! Apa yang harus kulakukan!?” khawatir Heliasha melirik kelompok Savila.
“Heliasha!! Jangan lepas konsetrasimu!!” teriak Keina sangat kesal.
“Ba-bai –“ Heliasha cukup ketakutan, tapi …..
BUARGKHHHH!!!!
Dirinya langsung membentur tanah sangat keras. Hanya persekian detik Heliasha melonggarkan konsentrasinya, tapi Anggela sudah bisa lepas dan memukul wajah Heliasha sangat cepat hingga membentur tanah.
“He-Heliasha!!” teriak Haikal dan Asha ketakutan. Haikal mulai menghampiri putri tertuanya itu, wajahnya sungguh terlihat ketakutan.
“Kakak ….?” Alysha menangis menatap kosong Heliasha yang tak bergerak sedikitpun.
Sampai disini saja, kah?” sedih Serraph dan Keina dalam hati.
BUAKKKK BUAAAKK!!!
Keduanya terpental ke arah yang berbeda oleh serangan Anggela. Serraph dan Keina hanya terlentang kesakitan sambil menatap langit.
Haikal telihat murka menatap Anggela, dia berniat menyerangnya kembali tapi langsung terdiam ketika Heliasha memegang tangannya. Heliasha menggelengkan kepalanya seolah meminta ayahnya untuk tidak menyerang Anggela kembali.
Begitu juga dengan Alysha yang berniat menyerang Anggela kembali. Dirinya dihentikan oleh Lily, Gramior, dan Herliana.
Herliana hanya tertunduk menyesal karena tidak menginginkan korban bertambah. Savila sudah masuk dalam mode biasanya. Tombak api yang berada diatasnya telah menghilang. Pandangannya seakan kosong yang menandakan kalau dirinya sudah tidak sadarkan diri atau mungkin nyawanya telah menghilang.
Anggela hanya terbang perlahan melewati Savila, dia terus melayang ke atas menghampiri seseorang yang memegang senjata yang amat indah, Halsy.
“Sudah kuduga, sejak awal kamu tidak pernah serius melawan kami. Selama pertarungan tadi, kamu hanya mengamati Halsy …,” batin Herliana frustasi melihat Anggela.
Dalam kurun waktu yang amat cepat Anggela menghilang dan menggagalkan serangan Halsy. Dia menjatuhkan kekasihnya tersebut ke tanah dengan sangat keras.
DRUAAGGGG!!!
“Ang-Anggela ….!” sedih Halsy kesakitan.
Anggela yang mencengkram leher Halsy mulai mengangkatnya ke atas. Setelah itu dia melemparkan Halsy sangat jauh ke depan.
Meski tidak ada luka sedikitpun yang terlihat, Halsy terlihat kesakitan memegang lehernya. Dia sungguh terlihat tidak berdaya. Mengeluarkan batuk tak tertahankan.
“Ka-kau tidak apa-apa?” tanya Salshabilla khawatir. Dibelakangnya terlihat pasukan negara bersama aliansi Kineser dunia.
“Eh …..?” Halsy terkejut bukan main melihat Salshabilla bersama kelompoknya.
“Ke-kenapa kalian disini?” lanjutnya bertanya dengan tatapan kosong.
“Kenapa? Kami berniat membantum –“
“PERGI DARI SINI!! SEKARANG!!” teriak Halsy sangat kesal menimbulkan ketegangan Shalsa dan yang lainnya. Tubuh mereka bergemetar, menatap ketakutan dirinya.
“Tu-tunggu, apa maksudmu–“ kesal Risa, tapi perkataanya langsung terdiam ketika melihat Halsy yang mendapatkan pukulan keras pada bagian perutnya.
BUAKK !!! BUAARGKKKHHHH!!!
Berisiknya …..,” keluh Anggela memejamkan mata. Setelah itu dia mulai membuka mata melihat Salshabilla dan yang lainnya.
“…….” Anggela tersenyum melihat mereka. Sedangkan Salshabilla dan yang lainnya hanya terdiam bergemetar, tatapan mereka terkejut ketakutan melihat sosok Anggela secara langsung.
“Anggela …..?” khawatir Salsha melihat Anggela.
“Anggela itukah kamu?” Ai terlihat sangat sedih melihat sosok Anggela yang cukup mengerikan.
Anggela, kah? Apa ini nama pemilik tubuh ini ….?” senyum Anggela melihat kedua tangannya.
“……..!!” semua orang semakin terkejut melihat pernyataan Anggela.
SWUUUTT DUAAAAKKKK!!!!
WUINGGGG TAPP!!!
Anggela mendapat serangan yang amat cepat, wajahnya terpukul keras oleh seorang lelaki berambut kuning keemasan. Tapi Anggela berhasil mendarat dengan sempurna sambil memberikan senyuman kesal melihat seseorang yang memukulnya.
Kau lagi ….,”
Lelaki yang menyerang Anggela tadi adalah El Crystal. Dia terlihat kesakitan memegang kepalanya yang beradarah.
“Halsy, kau tidak apa-apa?” El membantu Halsy untuk duduk, wajahnya terlihat sedih dan khawatir.
“Aku tak apa, terima kasih,” senyum Halsy sambil memegang jari manis di tangannya kanannya. Dia bergemetar, terlihat ingin menangis menatap ketakutan Anggela.
“Seharusnya tujuan kalian adalah membunuh Sylvia dan ras Half-elf, melakukan balas dendam hanya pada mereka. Tapi sekarang kamu dan dia sudah berlebihan, aku sudah menduga ini tapi siapa kalian ini sebenarnya?” kesal El menatap tajam Anggela dan Keisha.
Keduanya mengabaikan perntanyaan El. Anggela hanya tersenyum melirik Keisha, sedangkan Keisha hanya melirik sinis Anggela dan yang lainnya. Dia mulai merentangkan kedua tangannya seakan berniat melakukan sesuatu.
Hei, itukah balasanmu setelah aku menyelamatkanmu?!” kesal Anggela berbalik, dia benar-benar menatap tajam Keisha yang menatap rendah dirinya.
Aku tidak tertarik untuk berterima kasih pada pengikut Asmodeus ….,” sinis Keisha melirik Anggela yang kesal.
Pengikut Belphegor, kah?  Kebetulan sekali bisa bertemu dengan pengikut putri tak berguna itu,” Anggela terlihat merentangkan sayap kelelawarnya. Wajahnya terlihat sangat serius seakan sudah siap untuk menghancurkan musuhnya.
Keisha menurunkan kedua tangannya, perlahan turun sambil menatap Anggela dengan penuh kemarahan. Aura kebencian yang dikeluarkan Keisha benar-benar terasa oleh semua orang.
“Kau sudah kelewatan mahluk rendah, berani sekali menghina Jendral yang aku puja! Tak peduli kau sebangsa denganku, kuhancurkan kau karena sudah berani menghina beliau.”
***

My Dearest Jilid 2 Chapter XXIX Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.