13 Oktober 2016

Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 4 LN Bahasa Indonesia


SI RAJA IBLIS, PERTAMA KALINYA MERASAKAN PENDERITAAN SAAT KEHILANGAN SESUATU

Dalam sebuah kegelapan yang tidak terlihat sedikit pun cahaya bintang, ada sebuah tanah luas yang berwarna merah biru.
Sebuah tanah yang terukir tanda salib, dan bersinar dengan sinar warna hijau.
Selanjutnya, pusat biru yang berhubungan dengan kehidupan daratan, adalah sebuah tempat yang kosong, bahkan tidak dapat merasakan udara yang mengalir.
Ada sebuah pohon raksasa yang berwarna sama dengan tanah itu.
Di sekitarnya tidak ada apapun, hanya ada sebuah pohon yang tumbuh di sana ribuan tahun lamanya, atau bahkan lebih.
Di sana tidak ada sesuatu yang bisa menutupi langit, juga tidak ada bunga yang menandakan musim semi, apalagi buah.
Hanya batang pohon itu yang bertumbuh.
Di tanah yang biru itu, ada 10 buah kuil yang mengelilingi pohon raksasa itu. Setiap tempat masuk kuil terukir ‘nama’nya masing masing.
Kuil yang pertama adalah ‘Keter’, yang selanjutnya adalah ‘Chachmah’, selanjutnya sesuai urutan adalah ‘Binah’ , ‘Chesed’, ‘Gevurah’, ‘Tiferet’, ‘Netzach’, ‘Hod’, ‘Yesod’, dan kuil yang terakhir ‘Malchut’.
Itu adalah nama ‘seseorang’. Tidak peduli apakah itu adalah pengguna nama itu ataupun pembaca nama itu, sekarang sudah tidak tahu ke mana lagi.
Bangunannya tidak seperti bangunan lain yang ada atap, bentuknya seperti bola yang jumlahnya ada 10, membuat orang merasa bahwa itu tercipta dari buah hasil pohon raksasa itu.
Di atas tanah biru yang tidak ada apapun, ini pertama kalinya muncul sesuatu yang bisa bergerak.
Sebuah bayangan orang keluar dari ‘Yesod’ yang berbentuk bola dan sepertinya sedang mengukir ‘Yesod’ dengan bahasa yang tidak dikenal.
“Baguslah, syukur cepat sekali ketemunya.”
Dari suara yang terdengar, sepertinya itu suara seorang laki-laki.
Di saat yang bersamaan, di dekat bayangan orang itu terlihat 4 buah cahaya, dan segera berbentuk bayangan orang.
“Di saat reaksi pusat benua hilang, awalnya kukira harus cari beberapa ratus tahun lagi, akhirnya sepertinya tidak akan hilang lagi. Reaksi mencari ‘potongan’ di dekat tempat yang tidak aman.”
4 buah cahaya itu menandakan bahwa sepertinya akan bergerak.
“Itu tempat yang paling dekat dengan tempat Sariel menghilang loh. Juga jangan jangan………..”
Pria yang tingi dan besar itu menatap pohon raksasa tua yang masih hidup namun layu.
“Wanita yang mencuri Yesod Sefira dan memecahkannya sepertinya juga di sana.”
Pria yang tinggi dan besar itu mengangkat tangannya ke atas langit, dan yang muncul selanjutnya adalah, sebuah lubang yang bisa melampaui ruang dan waktu.
“Ayo pergi, untuk membuat ‘Pohon Kehidupan’ kembali seperti semula lagi.”
Lalu, suara 5 orang itu menghilang didalam gerbang.
Setelah sinar gerbang menghilang, tanah yang berwarna biru akhirnya kembali tenang lagi.
5 bayangan orang yang ada didunia itu, di depan mata mereka terukir tanda salib di tanah kehidupan ini---Ente Isla. Biarpun tanah biru ini sama sama mengelilingi tanah kehidupan, tapi hanya tanah merah ini yang tidak akan mendekati sini.
* * *
Sebelum Maou dan Emi berjalan keluar dari Ferris Wheel di Tokyo Big Egg Town.
“Hoi, Bell! Apa kau disana ?”
“Hn……..a-ada apa, Lucifer?”
Suzuno merasa terkejut karena Urushihara yang tiba-tiba keluar dari lemari itu.
Baru selesai memasak mie Udon, Suzuno yang baru ingin menikmati makan siangnya itu, hampir tersedak oleh mie Udon-nya.
Urushihara menatap ke arah mie Udon yang terlihat banyak, Suzuno kemudian menyadari tatapannya itu.
“Tidak ada bagianmu.”
“Sementara aku tidak perlu mie Udoni. Tadi aku sudah memesan pizza……..tidak, sekarang bukan saatnya untuk omong ini!”
Kalau perkataan yang tadi sampai didengar oleh Ashiya, Ashiya bisa saja marah sampai seperti menjadi Iblis, lalu Suzuno bertanya :
“Apa kau merasakan yang tadi itu?”
“Yang tadi?”
Suzuno merasa bingung karena perkataan Urushihara yang tidak jelas.
“Kau tidak sadar? Apa kau punya cara untuk menghubungi Emilia? Biar aku saja yang menghubungi Maou, sebaiknya kau menyuruh mereka untuk pulang lebih cepat.”
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
Jarang-jarang bisa melihat Urushihara seserius ini, Suzuno kemudian memasang wajah serius.
“Sudahlah, cepat sedikit. Walau aku tidak tahu penyebabnya, tapi tadi di daerah Tokyo terbuka sebuah ‘gerbang’ yang sangat besar. Kurasa nanti akan terjadi sesuatu yang sangat merepotkan.”
Setelah selesai bicara, Uruhishara pun kembali mengaktifkan Skyphone. Karena sikap Urushihara yang terlihat tidak bercanda sedikit pun, Suzuno pun menelepon Emi.
Di saat seperti ini, ada 5 buah bayangan orang yang muncul di tengah taman Villa-Rosa Sasazuka.
* * *
“Hoi hoi hoi, aku tidak pernah tahu kita mempunyai tamu ya?”
Di saat Maou masih sempat untuk tertawa, dia juga dengan bersamaan tanpa lengah sedikitpun menyembunyikan Alas-Ramus dibelakangnya.
“Jadi siapa yang pertama sampai sini?”
“Maaf, Raja Iblis…….kami sampai diserang mendadak oleh musuh.”
“Huft, aku akui aku terlalu meremehkan kecepatan mereka.”
Suzuno dengan menyesal mengatakan, Urushihara malah terlihat tidak takut sama sekali, dan berbicara dengan nada santai seperti biasa.
“Yaah~~jangan menyalahkan mereka. Bagaimanapun mereka itu sudah berusaha menghubungimu.”
Di saat tiba di Villa-Rosa Sasazuka, yang menunggu Maou, Emi juga Alas-Ramus itu bukan Urushihara, juga bukan Suzuno.
“Apalagi aku tidak berencana untuk menggunakan cara kasar. Pada dasarnya, kalau bisa aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan berbicara.”
Benteng Raja Iblis dikelilingi oleh suasana yang aneh.
Dibilang aneh, maka itu karena terlalu banyak orang, suhu di sekitar meningkat dengan cepat.
Kalau ditotal, jumlahnya ada 10 orang dan mereka semua berada di dalam kamar yang berukuran 6 tatami ini. Tidak, lebih tepatnya, di dalam 10 orang ini, hanya Kamazuki Suzuno seorang yang ‘manusia’.
“Kau adalah Gabriel kan?”
“Benar, itu aku! Tapi kenapa kalian tahu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Orang yang terlihat santai tapi juga semangat ini, mempunyai tubuh yang besar, sepertinya itu adalah pemimpin para tamu yang tidak diundang ini.
Laki-laki itu mempunyai rambut berwarna biru yang panjangnya sampai bahunya, tatapan matanya juga tidak terasa gugup. Tapi tubuhnya setinggi Ashiya dan berotot, membuatnya terlihat seperti seorang petinju. Menggunakan jubah orang zaman dahulu, itu terlihat sangat tidak cocok dengannya.
Laki-laki selain ‘Gabriel’ yang dipanggil oleh Maou, di dalam benteng Raja Iblis masih ada 4 orang laki-laki. Salah satunya menggunakan pedang yang panjang sedang mengancam Suzuno, dan sisa 3 orang lagi sedang menyilangkan kedua tangannya, dan duduk disekitar Urushihara.
“Aku pernah mendengar di antara malaikat ada yang berbadan besar yang bahkan hanya dengan berbicara dengannya, maka kepala kita akan terasa sakit.”
“Jahat, siapa yang bicara hal seperti ini di tempat yang tidak ada aku? Siapa orang itu?”
“Juga, kau adalah malaikat pelindungnya ‘Yesod’.”
“Sudahlah, biarpun kau memujiku, aku juga tidak akan senang.”
“Jangan bercanda lagi, rasanya lelah. Jangan membuat pernyataan seperti ini lagi. Cepat, apa yang ingin kalian bicarakan.”
“Aku berharap kau bisa menyerahkan anak yang berada di belakangmu itu, dan kalau bisa, sekalian pedang suci milik Emilia. Juga, maaf ya, pizza yang dipesan Urushihara sudah kami habiskan.”
“Dalam keadaan sepert ini, masih saja bercanda!”
Kali ini Maou pun menjadi kesal dan berteriak, Urushihara terlihat takut sekali.
“Ah, karena kami yang habiskan, jadi kami akan bayar?”
“Yang kukhawatirkan bukan itu! Huft, walau ini juga membuatku khawatir, sih!”
Maou menambahkan agar tidak ingin membuat Ashiya marah.
“Ah, tunggu sebentar! Kalau kau tidak menyerahkan  anak itu, uang pizza tidak akan kubayar!”
“Di dunia ini mana ada orangtua yang akan menyerahkan anaknya pada penjahat hanya karena tagihan pizza!”
Maou berteriak.
“Juga telat sekali kalian datangnya. Kalian kira sudah berapa hari anak ini datang ke sini huh!”
“Huft, walau bagi kalian mungkin hanya hitungan hari, tapi bagi kami itu sudah ratusan tahun. Perbedaan beberapa hari itu kita lupakan saja. Di saat merasakan reaksi potongan ‘Yesod’, aku kira aku sedang bermimpi. Di saat potongan anak itu dibawa keluar dari benteng Raja Iblis di Ente Isla oleh seseorang , aku putus asa sekali~~hampir saja kukira perlu mencari beberapa ratus tahun lagi~~”
Laki-laki yang bernama Gabriel itu berkata sampai sini---
“Ah! Ta-tadi kau menyuruhku untuk tidak membuat pernyataan yang tidak perlu lagi, 'kan! Po-pokoknya! Kau ingin kembalikan anak kecil itu atau tidak?”
Walau sebelumnya sama sekali tidak tampak, tapi kalau dilihat dari sisi menginginkan pedang suci Emi, laki-laki ini memang diutus dari atas untuk mendapat informasi, dengan kata lain malaikat.
Lawan tidak menyebut dirinya Gabriel sama sekali. Kalau begitu sepertinya dia memang penjaga yang cocok untuk Alas-Ramus.
“………….”
Tapi Alas-Ramus malah melirik Gabriel dengan tatapan yang penuh waspada. Dilihat darimana pun tidak terlihat seperti hubungannya baik dengan laki-laki itu.
“Hoi, Alas-Ramus. Apa kau kenal paman itu? Sepertinya dia ingin membawamu pergi dari sini.”
“Tidak mauu! Aku paling benci dengannya!”
“Arghh-------------!”
Alas-Ramus dengan tidak ragu sama sekali, membuat Gabriel terpukul seketika.
“Jangan panggil aku paman dong. Nanti aku terluka.”
Inilah bagian pentingnya. Rasanya Suzuno, Urushihara juga laki-laki yang ada di sekitarnya terkejut.
“ ‘Malchut’, ‘Keter’, ‘Binah’ juga ‘Chachmah’, semuanya dibawa! Aku paling benci dengannya!”
“Ah, berhenti berkata begitu!”
Pernyataan yang dikatakan Alas-Ramus itu, semakin membuat Gabriel sakit kepala.
“………walaupun aku tidak mengerti, tapi kalau Alas-Ramus tidak suka dengan ini, maka biarpun kau adalah orangtua kandungnya, aku juga tidak akan menyerahkannya.”
“Heh………kalau begitu pedang suci………..”
“Aku menolak. Biarpun Tuhan sampai sujud di hadapanku, sebelum aku mencapai tujuanku, aku tidak akan pernah menyerahkan pedang suci.”
“……….huft~~merepotkan sekali~~ apa-apaan Raja Iblis dengan Pahlawan ini? Buat repot saja~~ walaupun aku tidak ingin menggunakan cara kasar, tapi di posisiku, segera setelah aku menemukan anak ini maka aku harus membawanya pulang~~”
“Siapa peduli.”
“Soal pedang suci. Kalau sampai Sariel juga sudah tidak bergerak lagi, hari ini memastikan letaknya saja, tapi anak ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tolonglah, kembalikan dia padaku.”
“Aku menolaknya.”
“Awalnya dia anak pihak kami, kau tahu?”
“Sekarang papanya adalah aku.”
“Bagaimanapun tidak?”
“Bagaimanapun tidak.”
“Kalau begitu, bisa saja kau dianggap bermusuhan dengan seluruh dunia langit?”
“Aku tidak akan membuat seorang anak menangis hanya karena nyawaku sedang terancam.”
“………merepotkan sekali. Aku sama sekali tidak ingin menggunakan cara kasar?”
Gabriel dengan sedikit kecewa mengatakan, lalu---
“! ! ! !”
Seperti mesin penembak, aura suci yang tiba-tiba keluar dari tubuhnya cukup membuat semuanya terhempas ke dinding.
Karena semua ini terjadi sekejap, Maou melemah sedikit.
“Aku sangat tidak suka menggunakan cara kasar, kapan pun kau boleh menyerah.”
Saat sudah sadar, Gabriel yang sikapnya sama sekali tidak berubah itu tiba-tiba berdiri di depan Maou.
“Uwoo!”
Maou melihat ke lubang yang dibuat oleh Gabriel di atas tatami.
“Biarpun kau sudah dapat kembali kekuatan Raja Iblismu, sepertinya aku masih menang? Anggap saja aku memohon, bisakah kembalikan anak itu padaku ?”
Gabriel hanya diam saja, namun tekanan yang keluar dari tatapannya itu cukup membuat orang patuh padanya.
“………..kau serius ya, sialan!”
Maou menelan ludahnya. Tidak peduli dulu pernah melawan musuh seperti apa pun, dia tidak pernah merasakan tekanan yang begitu kuat.
Ini bukan karena dirinya yang melemah.
Karena ini pertama kalinya Maou menghadapi malaikat penjaga Sefirot---musuh yang sama sekali berbeda dengan malaikat yang pernah dilawannya.
Maou hanya merasa terkejut, tapi tidak merasa takut.
“Tapi, aku tak mau. Aku adalah Raja Iblis yang paling suka mengganggu manusia ataupun malaikat. Setelah aku menaklukkan dunia ini. Aku akan membesarkan anak ini dengan baik dan menjadikannya sebagai penerusku.”
“Karena kau sudah kehilangan sihir, jadi aku akan menahan kekuatanku……..juga, aku menerima bila kau menyerah.”
Ini adalah tanda yang menandakan negosiasi tidak berhasil.
Syarat seperti apa pun, tanpa ragu, Maou tidak akan punya kesempatan.
Biarpun Gabriel hanya tak sengaja memukulnya sekali, itu saja cukup untuk membuat tulangnya patah semua seketika.
Tapi ada sebuah benda yang berhasil menangkis serangan malaikat besar yang penuh sinar suci itu.
“Maou-san!”
Itu hanyalah sebuah teriakan yang biasa saja. Bukan sihir, juga bukan pedang, hanyalah sebuah suara.
Tapi suara itu berhasil menghentikan serangan sang malaikat besar.
Semua orang yang ada dibenteng Raja Iblis segera melihat ke arah suara berada.
“……...Maou……….san.”
Dia adalah Chiho.
Penuh dengan keringat, Chiho yang kelelahan naik lewat tangga, dan sedang melihat ke sini.
“Chiho? Tidak! Cepat kabur!”
Melihat Chiho yang tiba-tiba datang ke sini, Emi segera memberikan peringatan, tapi Chiho mengggelengkan kepalanya dan berkata :
“……….setidaknya, aku harus meminta maaf kejadian hari ini……….”
“Kejadian hari ini?”
“Akhirnya……..malah jadi seperti ini………walau aku tahu aku tidak bisa membantu, tapi aku, tidak tahan……….”
Pada dasarnya Maou bahkan tidak tahu dia diikuti oleh Chiho, Ashiya juga Rika.
Walaupun Chiho kembali ke Sasazuka lebih dulu dari mereka, tapi karena dia tidak bisa menahan dirinya yang mengkhianati kepercayaan Maou, jadi pulang sebentar, tapi kemudian dia datang ke sini lagi karena tidak  tenang.
“……..kelihatannya, kau adalah manusia negeri ini. Tapi, masalah ini tidak ada hubungannya denganmu. Biarpun kau lapor polisi juga percuma saja, walaupun mungkin sulit dipercaya, tapi Maou Sadao juga aku………”
“Aku tahu!”
Chiho menyela perkataan Gabriel, dan berteriak dengan suara yang keras.
“Walaupun aku orang Jepang, tapi aku tahu. Tentang Maou-san……..Raja Iblis Satan, Pahlawan Emilia, juga soal Ente-Isla. Juga…….sepertinya kau adalah malaikat yang datang untuk menjemput Alas-Ramus-chan kan.”
Setelah Gabriel mendengarnya dia dengan terkejut menganggukan kepalanya.
“Ou, walaupun aku sangat terkejut orang yang beda dunia bisa sangat akrab dengan mereka, tapi aku tidak sangka kau tahu aku adalah malaikat? Apa aku memang terlihat begitu suci?”
Chiho merasa bingung terhadap Gabriel yang masih bisa santai dan tertawa di saat seperti ini---
“……….karena pada dasarnya, yang melakukan hal jahat ke Maou-san juga Yusa-san itu, semuanya karena malaikat.”
Tapi tetap dengan jujur menjawab.
Maou, Emi juga Suzuno tidak bisa berkata apapun, Gabriel juga bawahan yang di sampingnya juga mulai menjadi kesal, hanya Urushihara sendiri yang dengan senang tertawa.
“Walau aku tidak bisa mengatakan apapun soal Lucifer, tapi hal baik apa yang sudah dilakukan oleh Sariel?”
Karena jawaban Chiho yang terlalu jujur, Gabriel yang tahu bahwa ini bukan kehobongan mulai menjadi bingung.
“Bagaimana pun hal yang dilakukan dengan Sariel itu, tanpa ragu sangat berbeda dengan sosok ‘malaikat’ yang ada didunia ini.”
“Aku bilang ya, penampilan luar itu sangat penting, jadi tolong kalian jangan melakukan perbuatan yang bisa merendahkan derajat kita.”
“Penampilan luarmu sudah sangat parah, bagaimana kalau menyerah saja? Apalagi bawahanmu itu semua terlihat seperti preman kecil.”
Urushihara melirik ke semua orang yang menahannya dan Suzuno, bawahan Gabriel semua menjadi takut dengan Urushihara dan mundur 1 langkah.
Urushihara yang melihat situasi itu juga tersenyum, Gabriel malah menghela napas.
“Huft, pokoknya, maaf saja, sekarang kami sedang sibuk. Walaupun aku lebih ingin menyelesaikan masalah ini dengan berbicara, tpai kalau kau tidak ingin terluka karena masalah ini, sebaiknya cepat meninggalkan tempat ini.”
“Tidak buruk, kalimat yang terdengar seperti pemimpin dari preman pengecut, aku tidak begitu benci dengan perkataan seperti ini.”
Sekarang sudah tidak ada yang mau mendengar Urushihara lagi, karena----
“Kumohon, jangan membawa Alas-Ramus-chan.”
Chiho membungkukkan badannya pada Gabriel.
Chiho sudah tahu bahwa hari seperti ini akan datang suatu hari.
Biarpun begitu, walau mengerti ini merupakan keuntungan baginya, biarpun tidak tahu kebahagiaan seperti apa itu bagi Alas-Ramus sendiri, semua yang sudah dilaluinya sampai sekarang, tetap membuat Chiho bertindak.
“Alas-Ramus-chan, sangat sangat suka dengan Maou-san dan Yusa-san. Jadi, kumohon.”
Air mata yang berlinangan 1 tetes demi 1 tetes jatuh ke bagian kaki Chiho.
“Chi-chan…….”
“Chiho………”
“Hoi,hoi, jangan begitu! Angkat kepalamu!”
Yang membuat terkejut adalah, seorang manusia yang biasa saja, juga tindakan seorang sisiwi SMA yang tidak berdaya, membuat Gabriel menjadi ragu.
“Hoi, tolonglah! Kalau seperti ini, akulah yang menjadi orang jahatnya! Seperti dalam drama, sambil mengatakan ‘berisik, ini juga pekerjaan’, sambil  tidak memedulikan tangisan seorang gadis, seperti penagih utang yang memaksa pengutangnya untuk membayar.”
“Apa yang dia bicarakan?”
Maou yang tidak pernah menonton drama dengan bingung bertanya.
“Kumohon………..kumohon………”
“Aaaa~jangan menangis lagi! Tolonglah! Dibanding dengan ini, aku malah lebih memilih ditodong senjata oleh orang lain! Hoi, tunggu sebentar!”
Gabriel sudah sama sekali tidak peduli dengan Maou dan Emi, dan sedang sibuk mengurus Chiho.
“Kumohon………..kumohon………”
Tapi Chiho tetap tidak mau mengangkat kepalanya. Hanya terus memohon pada Gabriel.
“Aaaaaaaaa!”
Gabrial melambaikan tangan dan kakinya sedikit, lalu dengan marah berkata,
“Aku hanya tunggu sampai besok !”
“Gabriel-sama?”
“Apa yang Anda katakan?”
Pria yang mengelilingi Urushihara dan Suzuno, dengan tidak percaya melihat ke Gabriel.
Tapi Gabriel tidak peduli dengan mereka, dengan wajah kaku dan melihat ke Chiho yang sedang menatapnya dengan menangis.
“Huft~aku bilang dulu ya, di pihak kami juga ada masalahnya sendiri! Jadi besok pagi, kami pasti akan membawanya. Sebelum itu terserah kalian mau membuat album kenangan atau apapun itu. Terserah! Tapi jangan kira kalian bisa melarikan diri dariku!”
“Be-benar?”
Ekspresi Chiho sekejap menjadi ceria lagi.
“………uh!”
Gabriel yang tidak bisa menatap ekspresi itu mengalihkan pandangannya.
“Ha-hanya sampai besok! Aku tidak akan memberi kalian waktu yang lebih banyak lagi! Ju-juga, Raja Iblis! Kalau kau berani mengumpulkan sihir untuk melawan kami, aku tidak akan setengah-setengah !”
“Te-terima kasih!”
Gabriel awalnya berencana untuk memberi peringatan tapi akhirnya malah gagal karena Chiho yang memberi terima kasih yang sangat tulus.
“Ka-kami akan datang lagi!”
Aura suci yang awalnya penuh tekanan itu menghilang sekejap, di saat Gabriel berencana untuk pergi---
“………kalimat ini yang digunakan oleh preman kecil!”
Sambil mengolok dirinya, lalu sambil pura-pura menunjukkan sosok sedang marah, membawa bawahannya pergi dari kamar.
Seperti bebek yang membawa anaknya, bawahannya mengikuti Gabriel dari belakang dengan berbaris, sama sekali seperti preman yang membawa kawan kawannya.
“Hoi,hoi,hoi,hoi, kalian!”
Maou yang tidak bisa melakukan apa pun hanya bisa protes, dan dengan benci melihat ke bayangan orang-orang itu. Di saat Gabriel yang di depan sudah mau sampai ke tangga---
“Uwa!”
Terdengar sebuah suara yang sangat keras, seperti sebuah benda berat yang terjatuh.
“Gabriel-sama !”
“Gabriel-sama!”
Sepertinya Gabriel jatuh ditangga. Tidak hanya itu---
“Aaa!”
“Uwa!”
“Uwa!”
“Argh!”
Diiringi suara teriakan keempat laki-laki lain, dan terdengar lagi suara orang orang yang jatuh dari tangga.
“tolonglah!”
Walaupun bisa mendengar Gabriel juga bawahannya yang sedang berteriak dan bertengkar dibawah, namun suara suara itu juga dengan cepat menghilang. Seperti ingin menggantikan mereka------
“Aku pulang……..huft, panas sekali…….”
Ashiya yang sangat santai itu naik tangga sambil mengelap keringatnya. Dirinya yang tidak tahu apapun dengan hanya memastikan Maou dan Alas-Ramus sudah kembali ke rumah dengan baik-baik saja, sudah cukup untuk membuatnya tersenyum lebar.
“Tadi aku berpapasan dengan beberapa orang, apa penagih dari MHK datang lagi?”
“……….bagaimana mengatakannya ya? Kau santai sekali…….ngomong-ngomong, di saat yang penting seperti ini, kau pergi ke mana, bodoh.”
“Ah? Huh? Apa?”
Kali ini Ashiya akhirnya sadar biarpun di luar cuaca sedang panas, tapi benteng Raja Iblis dihuni oleh suasana yang dingin juga gelap.
“………..kalau begitu, hiraukan saja dulu Ashiya yang tidak mengerti situasi ini.”
Di saat kekacauan sudah selesai, Urushihara yang mematahkan suara yang serasa membeku ini mengatakan :
“Bagaimana selanjutnya?”
* * *
Matahari sudah terbenam, kegelapan menyelimuti benteng Raja Iblis.
“Oyuuuu~”
Di dalam benteng ruangan benteng Raja Iblis yang dinamai dengan namanya, berdiri dua sosok. Raja Iblis Satan yang bertujuan untuk menaklukkan Ente Isla dan menanamkan rasa takut pada setiap hati yang tinggal di sana, juga Pahlawan Emilia Justina yang bersumpah untuk menghentikan ambisi itu.mereka berdiam diri.
“dauuuu~”
Benteng Raja Iblis dipenuhi perasaan gugup dan niat membunuh, suasana di mana jatuhnya sebuah jarum dapat menyebabkan meledaknya sebuah peperangan.
“nyaaaaauuu….”
Sebuah hembusan angin kecil, setetes air hujan atau kerikil kecil yang ada di tepi jalan, semua itu cukup untuk mengacaukan suasana yang aneh ini.
“mama, mama!”
Di saat tekanan dan niat membunuh akan mencapai klimaksnya---
“wapuu!”
Sosok yang sedang berlarian di sekitar raja iblis dan pahlawan itu tersandung kakinya sendiri dan hampir membuat kepalanya terbentur ujung meja di tengah ruangan raja iblis.
“ ‘!’ “
Raja Iblis dan Pahlawan dengan bersamaan mengulurkan tangannya.
Mereka berhasil menolong, tapi karena secara bersamaan, tangan Raja Iblis juga tidak sengaja menyentuh tangan Pahlawan.
“Ja-jangan sentuh aku!”
“Sakit! Ku-kukumu……..”
Pahlawan dengan terkejut langsung menarik tangannya dari Raja Iblis, di tangan Raja Iblis tertinggal sebuah goresan berwarna merah. Lukanya belum keluar darah, hanya kulitnya sedikit menjadi merah saja.
“Apa yang kau lakukan tadi!”
“Kau juga, padahal sejak awal sampai akhir selalu mengandalkan orang, urus saja urusanmu sendiri!”
“I-itu kalimatku !”
“tidak boleh, jangan bertangkar, tidak boleh!”
Sebuah bayangan yang lebih kecil dari Raja Iblis juga Pahlawan, menyela ke dalam pertangkaran kedua orang itu.
“Ah, itu, Alas-Ramus, kami bukan sedang bertengkar.”
“I-iya, jadi jangan nangis ya?”
“……..benar?”
Seperti sedang memastikan kata-kata setengah hati dan mencurigakan orang dewasa yang aneh, Alas-Ramus menatap ke kedua orang itu dengan ekspresi yang sangat khawatir.
“Be-benar! Benar!”
“Beeeeenar”
“hehe.”
Gadis kecil itu percaya pada raja iblis dan pahlawan yang biasa berbohong itu, dengan tenang menunjukkan senyumannya, memeluk ‘mama’nya sendiri---Emi.
“mama, apa kau akan disini terus?”
“Eh, itu…….”
“…………!...............!”
Maou memberi sinyal tangan dari tempat yang tidak bisa dilihat oleh Alas Ramus. Emi membiarkannya dan bertanya.
“Kalau Alas-ramus? Apa kau berharap aku…….berharap mama selalu bersamamu?”
“hn, aku ingin selalu, selalu bersama mama.”
“ah…………”
Walaupun Emi merasa hatinya tercabik, tapi dia mencoba sekeras mungkin tidak memperlihatkan wajahnya dan bersembunyi di balik senyuman.
“papa juga!”
“Oh…….”
Maou kemudian sama sekali tidak bisa menolak perkataan gadis ini yang selanjutnya.
Suasana yang diam dan kaku sekali lagi menghampiri mereka.
Alas-Ramus tidak melihat situasi disekitar, dan mulai memanjat sampai ke punggung Emi.
Syukur karena ada Chiho, skenario terburuk di mana Alas Ramus diambil setelah Maou dan Emi terluka dan dikalahkan bisa dihindari.
Tapi, itu hanya mengulur masalah ini.
Karena tidak peduli seberapa tidak maunya Alas-Ramus, Maou dan Suzuno yang mengerti teologi tidak bisa tidak mengakui bahwa ‘Yesod’ adalah barang milik dunia atas.
Dan juga semua orang yang berkaitan tentang Alas-Ramus, tidak mempunyai cara untuk melawan Gabriel.
Kemampuan khusus Sariel di luar perhitungan, dan Emi dan Suzuno mempunyai kemampuan untuk bertarung..
Tapi pada kenyataannya, kedua orang ini tidak mempunyai alasan untuk bertarung dengan malaikat.
Setelah Gabriel pergi, Chiho yang tidak mengerti tentang ‘pohon kehidupan’ ini bertanya.
“Pohon Kehidupan itu adalah pohon yang ada di dunia atas yang menciptakan dunia, dan siapapun yang makan buah Pohon Kehidupan akan mendapatkan kehidupan abadi dan pengetahuan tidak terbatas. Manusia yang paling awal diciptakan Tuhan memakan buah itu dan dibuang dari surga.”
“Di bumi juga ada kisah seperti itu. Adam dan Hawa yang ada di Alkitab, kisah mereka mirip dengan itu…….”
Setelah Suzuno mendengar kata-kata Chiho, dia pun mengangguk-angguk kepala dan lanjut menjelaskan :
“Di pohon itu ada 10 buah yang disebut ‘Sefirot’, mereka sepertinya mewakili berbagai unsur yang ada di dunia dan kehidupan. Seperti planet, warna, logam, atau permata, misalnya…….. contohnya Sefirah  yang pertama itu adalah ‘Keter’ yang mewakili jiwa, pikiran dan imajinasi, angkanya adalah ‘1’, permatanya adalah berlian, warnanya putih, planetnya Pluto, malaikat pelindungnya adalah Metatron. Lalu Sefirah ke empat, ‘Chesed’ mewakili kebaikan Tuhan, angkanya adalah ‘4’, logamnya adalah timah, planetnya Jupiter, dan malaikat pelindungnya adalah Zadkiel dan seterusnya. Setiap 10 Sefirot masing-masing mempunyai unsur-unsur yang dibutuhkan dunia, dan alasan kenapa Alas-Ramus tertarik dengan barang-barang yang berwarna cerah, mungkin karena warna barang-barang itu sama dengan warna Sefirot. Ngomong-ngomong, Sefirot ke sembilan, ‘Yesod’ mewakili dunia tubuh astral pikiran dan diri kita sendiri. Angkanya adalah ‘9’, logamnya adalah perak, warnanya adalah ungu, planetnya Bumi, dan malaikat pelindungnya Gabriel.”
Penjelasan Suzuno membuat semua orang terdiam sejenak.
“……..kau… mengingat semua ini?”
Maou bertanya.
“Ini semua merupakan dasar teologi.”
“Aku tidak begitu mengerti. Bisakah kau meringkasnya?”
“Bukannya kau dulu malaikat tingkat tinggi?”
Suzuno menyindir Urushihara yang bertanya dengan malas.
“Sudah sudah………bagaimanapun dia Urushihara san.”
Walau Suzuno tidak bisa membiarkannya begitu saja karena perkataan Chiho, tapi entah kenapa dia menerimanya.
“Lalu kenapa anak ini sejak awal menjuluki dirinya ‘Alas-Ramus’, dan bukan ‘Yesod’?”
Emi bertanya.
“Mungkin karena anak ini adalah potongan, atau mungkin saja ada alasan lain yang mungkin, setidaknya bukan Gabriel yang memberinya nama itu. Karena sejak awal sampai akhir Gabriel tidak memanggilnya ‘Alas-Ramus’. Pokoknya, sebelum mempercayai legenda seperti ini, kalau Alas-Ramus memang adalah Sefirah pohon kehidupan, merupakan bagian dari……….potongan ‘Yesod’, semua yang dilakukan Gabriel masuk akal. Intinya dunia yang diwakili Sefira ‘Yesod’ sedang dalam bahaya. Dunia sedang dalam bahaya. Untuk mempertahankan keseimbangan dunia, maka Gabriel yang merupakan malaikat pelindung memerlukan Alas-Ramus.”
“Tidak…….kalau begitu, Alas-Ramus-chan tetap saja harus pulang……..”
Chiho dengan sedih berkata.
“Itu belum tentu.”
Chiho terkejut mendengar Suzuno menyangkal penjelasannya sendiri begitu saja.
“Pohon Kehidupan dan Sefirot dikatakan sebagai sumber yang membentuk dunia, dan malaikat penjaga mengawasi semuanya, tapi itu semua berdasarkan teks suci dan legenda. Tidak ada orang yang pernah melihatnya, juga tidak ada bukti yang bisa membuktikan itu.”
“Bukti……?.”
“Misalnya saja Sefirah ke 10 ‘Malchut’………”
Di saat Suzuno berkata begitu---
“ ‘malkoo’!”
Alas-Ramus bereaksi dengan kata itu.
“……….ngomong-ngomong, Alas-Ramus pernah bilang di bianglala ‘hubungannya dengan ‘malchut’ sangat baik’, jangan jangan ‘Malchut’ juga Sefirah yang lain juga mempunyai sisi manusia yang seperti Alas-Ramus?”
Suzuno berpikir keras sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya pada pertanyaan Maou.
“Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu……tapi, mungkin itu ada hubungannya dengan apa yang akan kukatakan.”
“Ou, maaf menyela pembicaraanmu, silahkan lanjut jelaskan.”:
Maou mendesak Suzuno, yang menganggukkan kepala kemudian lanjut menjelaskan.
“ ‘Malchut’ itu posisinya berada di bagian bawah pohon kehidupan, mewakili dunia material, angkanya’10’, permatanya adalah kristal, warnanya itu warna yang bervariasi seperti kuning muda dan coklat, planetnya adalah Planet Of Life—dengan kata lain itu mewakili Ente-Isla. Kalau dilihat dari legenda, anggap saja ‘Malchut’ ini musnah karena suatu alasan, maka kristal, warna kuning, juga kehadiran Ente-Isla akan berada dalam bahaya.”
Suzuno berhenti sejenak, dan melihat ke sekeliling.
“Tolong kalian berpikir secara logika. Apa kalian bisa membayangkan setiap kristal di semesta ini menghilang sekaligus karena sebuah buah dari sebatang pohon di dunia lain menghilang? Fenomena fisik apakah yang dapat menjelaskan sebuah buah yang dapat mengancam keberadaan samudra dan benua? Bahkan dalam cerita di teks suci yang diperdebatkan hingga hari ini, apakah 'manusia pertama' yang makan buah terlarang berhubungan dengan Sefirot atau tidak, dan tidak ada kesimpulan yang dicapai. Seperti yang raja iblis katakan tadi, setiap Sefirah mungkin memiliki inkarnasi seperti manusia. Dengan kata lain, kesimpulan bahwa Pohon Kehidupan membentuk dasar dari dunia hanyalah sebuah legenda, dan tidak ada yang membuktikannya. Ada banyak manusia yang sudah berkomunikasi dengan dunia atas, tapi tidak ada yang pernah pergi ke sana secara fisik. Karena itu, aku tidak percaya bahwa dunia akan berada dalam bahaya kalau Alas Ramus menghilang.”
“Kau terus terang juga ya tentang ini.”
“………tapi bagaimana pun juga, dunia atas juga malaikat itu semua nyata, dan sekarang lawan ingin mengambil kembali potongan ‘Yesod’, dan kita yang sekarang tidak punya cara apa pun untuk melawan mereka. Tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Semua orang yang ada di ruangan itu memandang pada Alas-Ramus yang ada di pangkuan Maou.
“……Wah, kita dalam keadaan terjepit.”
Maaou sambil membersihkan telinganya sambil menerima pandangan semua orang.
“Hoi, Alas-Ramus.”
“ada apa, papa?”
“Paman yang tadi sepertinya ingin membawamu pulang. Apa kau ingin pulang dengannya?”
“tak mau!”
Alas-Ramus dengan kuat menolak, jelas-jelas dia menolak.
“Begitu ya.”
Maou yang sedang duduk dengan kuat memukul lututnya sekali.
“Baik, diskusi selesai. Kalau besok mereka berani buat Alas-Ramus tidak senang, aku akan melawan balik sampai akhir.”
“Tu-tunggu sebentar!”
Emi tentu saja menolak.
“Apa kau benar-benar memahami situasi ini? Bell dan aku tidak bisa dengan terang-terangan bermusuhan dengan Gabriel, apalagi sihir Alsiel dan Lucifer juga belum pulih!”
“Aku tahu. Makanya aku bilang akan melakukannya.”
“Sendirian? Apa kau bodoh? Dengan hanya mengandalkan dirimu yang  sekarang, kau bisa apa?”
“Hoi, kau berisik sekaali. Biarpun aku maju sendirian dan babak belur, kau juga tidak rugi apapun kan?”
“………..uh, hn……..i-itu…….”
“Aku hanya bersikap egois dan tidak ingin mengembalikan Alas-Ramus kepada mereka. Karena Alas-Ramus juga tidak suka begitu. Bagi kalian manusia, biarpun aku kalah, yang terjadi hanya berhasil membasmi Raja Iblis dengan baik, dan membuat potongan ‘Yesod’ kembali ke dunia atas. Apa ada yang perlu diprotes lagi?”
“Tapi………….tapi!”
“Raja Iblis! Apa kau berpikir dengan begitu semua akan baik-baik saja?”
“Maou-san!”
Tidak hanya Emi yang tidak menerima ini, bahkan Suzuno dan Chiho juga tidak dapat menahan diri. Maou yang tiba-tiba diserang 3 gadis itu mulai panik.
“Hoi, hoi, Ashiya, Urushihara, cepat bantu aku.”
“………Ta-tapi, Maou-sama, kalau begitu itu terlalu……..”
“……….Aku ya…….huft, terserah Maou bagaimana, akhir-akhir ini aku merasa tinggal di dalam lemari tidak buruk juga. Aku bahkan tidak tahu harus berpikir apa.”
“Ke-kenapa bahkan kalian juga begitu?”
“Sudah sampai disini, apa kau belum mengerti?”
Suzuno dengan emosi berteriak pada Maou.
Alas-Ramus berguling ke bawah dari pangkuan Maou karena Suzuno yang begitu emosi.
“Suzu-nee-chan, tidak boleh, tidak boleh jahat sama papa!”
Melihat papa sedang kesulitan, gadis itu berusaha menghalangi Suzuno dengan tubuh kecilnya. Suzuno dengan tenang memindahkan Alas-Ramus ke samping, dan mulai kembali menarik kerah baju Maou.
“Ini tidak ada kaitannya apakah kau adalah Raja Iblis atau tidak! Intinya adalah, kami semuanya……..termasuk Lucifer, tidak bisa terima kalau Alas-Ramus harus dibawa ke tempat yang tidak dia suka! Daripada membiarkan Alas-Ramus pergi ke tempat yang tidak dia suka, malah lebih baik membiarkan dia tinggal di tempatmu!”
“…….Bagi seorang hakim gereja , aku tidak tahu apakah mengatakan ini baik atau tidak……..”
“Walaupun aku seorang hakim gereja, tapi aku juga seorang politikus! Barang yang sudah dicarinya selama beberapa ratus tahun dan tidak dapat, tiba-tiba sekarang baru menemukannya dan ingin meminta kembali, ini keterlaluan! Yang namanya pohon kehidupan itu, semuanya bohong!”
Perkataan Suzuno tidak masuk akal semua, ini bukan keputusan yang tepat bagi seorang hakim gereja.
“…….dengan kata lain……..”
“Apa!?”
“Apa yang kau mau?”
“……..Apa itu, Maou-sama?”
“Apaaaa…?”
Maou tersenyum memperlihatkan giginya, dengan ekspresi seperti dia sedang terpojok.
“Kalian semua sayang sama Alas-Ramus kan?”
“……….uh.”
Suzuno menarik napas dalam dalam.
“…….terima kasih.”
Harusnya, ini bukan kata-kata yang akan diucapkan oleh seorang Raja Iblis. Tapi di saat yang bersamaan ini juga adalah kata yang sudah pernah dia ucapkan berkali-kali.
“Tapi, melawan kekuatan suci itu hal biasa bagi seorang Raja Iblis. Tanggung jawab ini terlalu berat bagi kalian. Aku hanya bersikap egois, ingin merebut seorang anak yang berhubungan dengan Tuhan. Jadi, biarpun besok mulai berurusan dengan Gabriel, kalian tidak bantu juga tidak apa.”
Suzuno yang terdiam melepaskan tangannya yang menarik baju Maou.
“…….Huft, kalau bisa lancar-lancar saja sih, lebih baik, tapi rasanya akan heboh.”
“Hoi!”
“Tunggu sebentar!”
“Maou-san!”
“Maou-sama!”
“……….jadi akhirnya begitu ya.”
“Kalian berisik!”
Maou melambaikan tangannya dengan marah saat dia dikelilingi respon lemah :
“Ini juga bukan komik remaja! Musuh bukanlah orang yang bisa kukalahkan dengan emosi tinggi atau apapun itu. Sudah jelas aku siap-siap untuk kemungkinan yang terburuk dan melakukan manajemen resiko! Hoi, Emi!”
“Kau mau apa!”
“Hari ini kau tinggal di sini saja!”
Pada saat itu, semua orang di ruangan itu mencoba mengingat definisi dari manajemen resiko.
“……..apaaaaaaaa!?”


“Bagaimana ini jadi manajemen resikonya?”
Emi yang membiarkan Alas-Ramus yang duduk di pangkuannya itu melirik tajam ke Maou, Alas-Ramus malah dengan senang menggoyangkan kakinya naik turun karena bisa digendong oleh mama.
“Oh, kalau nanti memang akan lawan Gabriel, strategi hebatku adalah akan melibatkanmu sebagai balasan  karena selama ini melibatkanku dalam masalahmu.”
“………..apa kau serius?”
“70% serius. Sebelumnya aku juga pernah bilang, kadang-kadang membiarkan kau yang menyelesaikan masalah juga tidak akan disambar petir 'kan.”
“Aku bisa mendengar suara petir setelah mendengar usulmu untuk membereskan masalah raja iblis.”
“petir?”
Mungkin penasaran, Alas-Ramus sambil menepuk tangannya, kemudian suasana pun menjadi lebih tenang sedikit.
“Huft, walau hanya 70% serius, tapi sisanya 30% aku juga lagi serius memikirkannya. Aku tidak akan membuatmu menjadi rekanku, hanya kalau memang sampai perlu bertarung, tolong kau menjaga Alas-Ramus supaya tidak terluka.”
“Eh…….itu, kalau hanya itu……..tapi, sisanya 30% itu apa? Kalau tidak tahu itu, kalau begitu bisa saja kau tidak bisa menjaga apa yang ingin kau jaga. Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Apa benar hanya ingin membantu anak ini membuat kenangan?”
Menurut yang dikatakan Maou, dia tidak mempunyai rencana untuk kalah tanpa melawab, tapi dia tidak merasa bisa menang juga. Karena itu, dia sepertinya membuat rencana untuk membuat sebanyak mungkin kenangan menyenangkan untuk Alas Ramus supaya dapat tetap merasa senang saat dia akhirnya dibawa pergi.
Dan kesimpulannya itu adalah tidur bertiga dengan bersama-sama.
Biarpun Alas-Ramus sampai sekarang masih nurut-nurut saja, tapi kadang tetap saja akan merasa kesepian karena ingin mencari mamanya. Makanya, adalah hal logis untuk orang tua yang menyayangi anaknya untuk membiarkan si anak tidur dengan mamanya, sekalipun hanya untuk satu malam.
Chiho menyetujui ide itu, dan Suzuno juga mengijinkan. Ashiya yang keras kepala, akhirnya menyetujuinya dengan syarat dirinya berjaga-jaga di kamar Suzuno. Kalau Urushihara, di mana ada laptop, di sana dia bisa tidur.
Lalu karena setiap orang tidak punya kepastian soal keamanan, maka dengan syarat Chiho pulang ke rumah secepatnya, Emi akhirnya hanya bisa dengan terpaksa bermalam di benteng Raja Iblis.
Setelah Ashiya mengantar Chiho pulang, maka dia pun dengan ribut pindah ke kamar Suzuno bersama Urushihara. Awalnya yang merupakan musuh, rasanya aneh tiba-tiba sekamar.
Terhadap pertanyaan Emi, Maou dengan tidak khawatir apa pun dan menjawab :
“Aku hanya mempertaruhkan nyawa sebagai orang tua yang melindungi anakku. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan. Kalau memang terjadi sesuatu, aku tidak akan merepotkanmu.”
“……..dari mana percaya dirimu itu berasal?”
“Aku tidak punya dasar. Tapi yang aneh adalah, kalau untuk Alas-Ramus, rasanya seperti bisa melakukan apa pun saja.”
“Padahal seorang Raja Iblis, tapi malah bilang demi orang lain? Bukannya kau yang bilang bahwa emosi yang tinggi tidak berguna.”
“Mungkin karena itulah ini terjadi padaku. Ini adalah karma. Tapi, orang-orang yang dulu mati karena serangan pasukanku, pasti semuanya bertahan sampai akhir demi melindungi anaknya, kan. Kalau begitu diriku sebagai Raja Iblis, mana mungkin tidak mempertaruhkan nyawa untuk melindungi seorang anak.”
Maou menjawab dengan tenang, membuat Emi yang bertanya dengan nada menyindir jadi merasa malu.
“……..A-apaan……? Padahal Raja Iblis, kenapa kau bicara seperti kau mengerti semuanya?” Emi sepertinya karena merasa kata-katanya melukai lawannya, jadi hanya bisa mengalihkan pandangannya.
Kata-kata Maou mengingatkan dia dengan ingatan terpisah dari ayahnya.
Seperti yang Maou bilang, ini adalah karma. Ini adalah karmanya sebagai Raja Iblis yang sudah merebut banyak nyawa orang dan menyebabkan dirinya berpisah dengan papanya.
Tapi entah kenapa, Emi tidak bisa merasa senang.
Padahal Raja Iblis sedang merasakan karmanya itu dan merasa menderita seperti dirinya dulu. Biarpun begitu, kenapa dalam hatinya terasa sesak sekali?
“mama?”
Alas-Ramus dengan khawatir melihat ke Emi yang begitu.
Maou melihat ke 2 orang itu, dan mulai tersenyum sedikit.
“Sudah! Sudah saatnya tidur!”
“Huh, huhhhhhhh?”
Maou berkata dengan nada ringan saat melihat jam, menghilangkan perasaan emosi rumit Emi.
“Ba-bagaimanapun, sekarang masih awal kan? Masih jam setengah sebelas!”
“Biarpun kita 2 orang dewasa tidak apa dengan ini, tapi Alas-Ramus sudah harus tidur di jam seperti ini. Biarpun begadang tidak tidur, waktu jam Gabriel datang besok juga tidak akan berubah.”
“Ta-tapi……….tapi…….”
“mama, tidur bersama! Ayo tidur bersama!”
“Uhhhhhhhhh…….”
Dibenteng Raja Iblis tidak ada futon. Hanya ada beberapa handuk, jadi biarpun 3 orang tidur bersama, mereka hanya bisa tidur berdempetan seperti ikan sarden atau huruf kanji Jepang untuk kata sungai "", dan tidak bisa disebut dengan tidur di 1 kasur.
Tapi bagi Emi sendiri, kali ini tidak seperti waktu itu numpang bermalam, kali ini dia harus tidur bersama Maou yang tidur disamping Alas-Ramus, ini membuatnya terganggu.
Soal ini bagi Maou juga sama, setiap berpikir setelah Alas-Ramus tertidur bisa saja dirinya akan diserang seseorang dari belakang, jadi dia tidak bisa tidur membelakangi lawan.
Tapi Alas-Ramus yang bisa tidur bersama-sama dengan papa dan mama terlihat sangat senang, padahal sudah mau tertidur, dia malah dengan semangat menarik handuk dari dalam lemari, dan membuat sekitarnya menjadi kacau balau.
“Ah, hoi hoi hoi! Nanti jatuh lagi, lho.”
“Ke sini saja, Alas-Ramus. Papa yang tidak berguna yang ada di sana nanti bisa urus sendiri.”
Emi melihat ke Maou yang dengan rapi sedang menyiapkan tempat tidur---
“…………nanti jangan lupa hidupkan lampu kecil ya.”
Dan dengan hati hati mengingatkan.
“Tentu saja. Kalau gelap total, Alas-Ramus akan takut nanti.”
Walau Emi bukan mengingatkan Maou karena itu, tapi ternyata begitu, kamar yang gelap memang menakutkan bagi anak-anak.
“Ah, iya……Alas-Ramus tidak punya piyama kan?”
“Piyama? Ah……benar, kalau dipikirkan lagi, dia hanya punya baju itu.”
Maou mengeluarkan 3 handuk, melihat ke rok warna emas yang dipakai Alas-Ramus, lalu menepuknya beberapa kali.
“hoi…….kau membantunya mencuci bajunya kan? Apa kau memandikannya?”
Alas-Ramus yang sudah beberapa hari disini itu, di cuaca yang begitu panas hanya memilik 1 buah baju, Emi yang baru menyadari ini hanya bisa terkejut.
“Jangan meremehkanku, aku ada membawanya ke tempat pemandian, juga bantu dia mencuci bajunya. Karena musim panas, jadi cepat sekali keringnya, di waktu waktu seperti ini dia akan berlarian di dalam kamar hanya menggunakan popok loh.”
“……..sulit dipercaya.”
Maou tidak mempedulikan ekspresi Emi yang terkejut, dan melihat topi jerami yang tergantung di atas dinding.
“Jadi akhirnya hanya membelikannya sebuah topi. Unixlo yang di Sasazuka ada jual baju anak-anak tidak ya?”
“yunislo?”
“Sudah kubilang jangan semuanya unixlo. Anakmu perempuan loh, apa kau tidak merasa ingin membelikannya baju yang lebih imut?”
“Biarpun kau ngomong begitu, aku juga tidak tahu mau beli di mana.”
“Makanya kubilang laki-laki itu memanglah……..”
“Huft, ya sudahlah.”
Maou berdiri seolah tidak terjadi apapun, dan mengulurkan tangannya untuk menarik tali lampu.
“Untuk menyambut masa depan yang seperti itu, aku perlu lebih berusaha lagi.”
“…….Ah, um, hn.”
Emi menganggukan kepalanya karena perkataan Maou yang sama sekali tidak di duga ini, Alas-Ramus yang tidak mendengarkan semua percakapan itu---
“mama, mama, sini!”
Lalu dengan kuat terus menepuk-tepuk tataminya sendiri.
“I-iya.”
Emi sambil berjaga-jaga dari Maou, dan dengan tidak nyaman berbaring di atas tatami.
Melihat Emi yang sudah berbaring sepenuhnya, Maou mengomeli Alas-Ramus :
“Hoi, supaya mama tidak kabur, peluk dia erat erat ya.”
“hn, peluk.”
“Uwa…..”
Alas Ramus yang memeluk Emi dengan senyum di wajahnya, dan Emi memeluknya balik dengan sedikit enggan.
“Heh? Alas-Ramus…….yang di tanganmu itu apa?”
Emi yang memeluk Alas-Ramus, merasakan sesuatu yang keras juga tipis antara dirinya dengan Alas-Ramus.
“foto!”
Itu adalah foto yang dibeli saat di bianglala.
“Sepertinya kau sangat menyukai ini…….tapi saat tidur jangan pegang hal seperti ini ya, nanti terlipat loh. Taruh saja di samping bantal.”
“oh.”
Emi dengan pelan menaruh fotonya ke samping bantal, Alas-Ramus dengan sedikit kecewa melihatnya. Maou yang melihat, tersenyum kecil.
“Kumatikan lampunya ya.”
Setelah memberi peringatan, Maou pun mematikan lampunya, hanya tersisa sebuah lampu kecil.
“umph.”
Mata Emi yang belum terbiasa dengan ruangan yang sedikit gelap itu, karena mendengar suara Maou yang sangat dekat dari yang dipikirnya, terkejut setengah mati.
“Te-terlalu dekat!”
“Aku juga tidak ingin dekat dekat denganmu. Tapi Alas-Ramus menarik aku juga, jadi mau bagaimana lagi.”
Kalau diperhatikan dengan jelas, Alas-Ramus yang sepertinya sudah tertidur, entah sejak kapan sudah dengan erat-erat menarik baju Emi dan Maou.
“………kalau berani macam-macam, kubunuh nanti.”
“Bukannya sudah kubilang jangan katakan hal-hal yang bisa memberi pengaruh negatif pada anak anak?”
“Apanya, padahal kehadiranmu sudah seperti orang berpengaruh buruk.”
“Tapi Alas-Ramus tetap suka dengan papa yang begitu kan ?”
“hn……hihihi.”
“Itu mungkin maksudnya tidak setuju denganmu, kan?”
“Tidak, dia hanya sangat malu.”
“papa, papa, ceritakan aku sebuah cerita.”
Alas-Ramus yang suaranya terdengar seperti sudah mau tidur itu, dengan manja meminta papa untuk menceritakan cerita.
“Hn? Cerita? Kenapa tidak membiarkan mama saja yang cerita?”
“hn…….mama besok……..”
“uh………..”
Mendengar kata kata Alas-Ramus yang sangat polos, membuat hati Emi sesaat seperti tertusuk sesuatu.
Maou menunjukkan senyum yang terlihat bingung, dengan lemah menepuk perut Alas-Ramus sekali, seperti sedang mengenang sesuatu dan melihat ke langit-langit kamar.
“Hn, ah ya, kalau sambungkan dengan cerita kemarin bagaimana?”
“hn.”
“Baik, sudah kuceritakan sampai mana ya……..eh…….”
“sampai si petualang ketemu dengan malaikat.”
“Oh, benar. Masih ingat ya ternyata, hebat juga.”
“hihi.”
Emi yang dengan terkejut melihat ke Alas-Ramus yang sedang berbicara dengan Maou, karena Maou yang tiba-tiba menghadap padanya, dia menarik napas dalam-dalam.
“Di saat dia tidak  bisa tidur, atau menangis saat kesepian, karena tidak tahu harus bagaimana jadinya buat cerita. Awalnya hari itu tidak terpikir ternyata masalah popok.”
“……….aku tak tanya.”
Emi dengan tidak senang menjawab, tapi Maou tidak peduli dan mulai menceritakan ‘cerita’nya.
“Kalau begitu, eh, itu sudah sampai bagian si petualang miskin yang terluka ditolong oleh malaikat kan.”
Malaikat yang lemah lembut menolong petualang yang terluka karena iblis jahat.
Si Malaikat memberitahu banyak hal yang belum pernah didengar oleh si petualang.
Misalnya gunung yang sangat-sangat tinggi, lautan yang sangat-sangat luas, juga hutan yang sangat-sangat lebat. Cerita tentang raja-raja, tentang tuan-tuan putri, tentang toko juga uang, tentang sayuran juga ikan, tentang pasukan, tentang Tuhan, juga tentang adanya dunia lain……
Si petualang dengan semangat mendengar cerita cerita itu.
Suatu hari, si malaikat memberi si petualang sebuah jimat.
Si petualang sangat menghargai semua cerita juga jimat yang diberikan si malaikat padanya,  dan sekali lagi si petualang kembali ke petualangannya.
Dengan pengetahuan dan kekuatan jimat yang diberikan malaikat, si petualang akhirnya menjadi raja dan menghabiskan hari-harinya dengan bahagia.
“……….huft………”
“………selesai…………kalau begitu, selamat malam ya.”
Alas-Ramus tertidur tidak tahu di bagian cerita yang mana. Biarpun begitu, Maou tetap menceritakan ceritanya sampai akhir, lalu dengan cepat membalikkan badannya dari Emi.
Ada beberapa saat, dalam kamar ini hanya terdengar suara jangkrik musim panas yang ribut.
“……..hoi.”
“………ah?”
Alas-Ramus masih tertidur dengan tenang, Emi sambil mengelus rambut gadis itu bertanya pada Maou :
“Si petualang, apa yang dilakukannya setelah menjadi raja?”
Maou dengan pelan memutar kepalanya menghadap ke Emi, biarpun hanya ada sebuah lampu kecil, tetap terlihat dia sedang mengangkat alisnya dan terlihat ragu.
“Kau ya, itu hanya cerita yang dibuat untuk membuat anak-anak tertidur. Siapa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Biarlah dia menghabiskan hari harinya dengan bahagia, bahagia selamanya bukannya bagus?”
“Apa dia tidak pulang ke kampungnya, atau pergi mencari si malaikat itu?”
“……….sudah kubilang…….”
“Memangnya kenapa, lagian besok giliran aku untuk buat cerita, berikan aku ide!”
“…………”
Maou tidak tahu kenapa Emi berbicara hal tentang ‘besok’, dan segera menunjukkan ekspresi yang sebal, lalu sekali lagi membalikkan kepalanya menghindari Emi.
“Kalau membuat ceritanya terlalu rumit, anak-anak tidak akan mengerti. Buat saja seperti yang tadi sudah cukup.”
Maou tidak peduli, Emi dengan tidak puas mulai mengangkat alisnya.
“Ceritanya akan berubah.”
“Sudah, tidur sana. Kalau terus bicara dengan kau, kita akan mulai bertengkar, Alas-Ramus akan terbangun nanti.”
“Kenapa setelah si petualang menjadi raja, si petualang masih saja menginginkan negara yang lain? Bukannya dia sudah menjadi bahagia, dan sudah mendapatkan akhir yang dia inginkan?”
“…………..”
“………hoi.”
Itu benar-benar hanya sebuah jawaban yang lemah.
“Pasti setelah menjadi raja, maka si petualang pun menjadi serakah.”
“Huh?”
“…….kalau Alas-Ramus ingin tahu lanjutannya, buat sembarang saja untuk dia dengar.”
Setelah Maou mengatakannya dengan cepat, maka diapun dengan sengaja membuat suara mendengkur yang keras.
Karena Maou tidak mungkin langsung tertidur seperti Alas-Ramus, jadi pastinya sebagai tanda bahwa tidak peduli Emi tanya berapa kalipun, dirinya tidak akan menjawab lagi.
Seperti ingin membalas suara mendengkur Maou, Alas-Ramus pun melepaskan Emi, dan mengganti dengan memeluk Maou bagaikan bantal.
“…………”
Emi yang melihat itu, sekali lagi dia mengelus Alas-Ramus, membantunya menaruh handuk di lututnya, lalu dirinya membalikkan badan dari mereka berdua.
Menghadap ke dinding kamar 202.
“…….yang benar saja……..aku khawatir. Aku tidak bisa menyerahkan semuanya padanya,” Emi dengan tidak sadar mulai berbisik-bisik sendiri.
Suzuno dan Urushihara dengan terdiam duduk dikamar 201 Villa-Rosa Sasazuka.
Di dalam kamar selain ada tempat menghias diri yang terbuat dari kayu pohon sakura, juga terlihat meja makan berbentuk lingkaran yang terlihat sangat kuno juga lemari baju yang masih baru.
Walaupun terliaht seperti ingin memakai gaya Jepang, namun ada kulkas model terbaru hemat energi, juga mesin cuci yang terpajang di luar koridor adalah drum besar yang bahkan dapat melakukan pengering setrika udara anti bakteri. Mungkin karena masalah listrik, hanya microwave makanan yang mirip dengan yang ada di benteng Raja Iblis.
Kipasnya model Tyson terbaru dengan bentuk elipsoidal, dan kipas itu dengan misterius meniupkan udara dari satu sisinya tanpa ada bilah-bilah kipas satu pun. Urushihara dengan penasaran melihat ke kipas angin modern itu.
“…….tidak ada apa apa.”
Kemudian, Ashiya berjalan masuk ke dalam kamar.
“Kau sudah mengantar Chiho-dono pulang kan.”
“Tentu. Bahkan sebelum berpisah, dia sangat khawatir terhadap Maou-sama dan kita semua di rumah.”
“Tapi, kita tidak boleh menarik Chiho-dono ke dalam masalah ini.”
“Tentu saja. Kalau sampai Sasaki-san terjadi sesuatu, kami akan akan dalam bahaya. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku sudah memintannya untuk tidak mendekati benteng Raja Iblis untuk sementara.”
“………hn, keputusan yang  tepat.”
Walaupun maksud Suzuno bukan itu, tapi dia pun dengan santai membiarkan Ashiya masuk.
Suzuno sekali lagi bertanya ke Ashiya yang duduk bermalas-malasan di dalam kamar itu :
“Alsiel, tanya 1 hal lagi.”
“Kenapa. Aku tidak akan membayar biaya menginap loh.”
“Memangnya aku orang yang pelit? Aku bukan kau. Aku hanya ingin tanyakan soal pasukan Raja Iblis.”
Suzuno dengan sikap duduk yang memeluk lututnya itu bertanya :
“Kenapa kalian ingin menaklukkan dunia?”
Suzuno bertanya terhadap 2 orang pria yang terlihat seperti penduduk biasa yang bisa kita ketemu di mana pun di Jepang :
“Kupikir aku sudah mengerti semuanya, tapi aku bisa bilang aku tidak mengerti kenapa kalian ingin menaklukkan dunia.”
“………….kulkas itu mengagumkan, ya?”
“Apa?”
Jawaban Ashiya membuat orang bingung.
Kulkas itu baru dibeli beberapa hari yang lalu setelah disarankan oleh Emi, dengan fitur yang terbaru, Ashiya dengan serius menatap ke kulkas itu dan mengatakan :
“Di dalam kulkas itu tersimpan sayuran, daging juga susu yang baru dibeli kemarin kan. Kalau kau kekurangan sesuatu, kau hanya perlu pergi ke toko dan beli apapun dan masak makanan apapun yang kau mau untuk hari itu……mungkin alasan Maou-sama dan kami semua menyerang ke Ente-Isla pasti untuk mengejar hal seperti itu.”
“……….?”
“Kalau tidak mengerti juga tidak apa. Supaya suatu hari nanti bisa pulang ke Ente-Isla, kami hanya bisa dengan rajin bekerja tiap hari…….kau mengerti kan, Urushihara?”
“………kalau aku ingin kerja maka aku akan bekerja.”
“Kau ini.”
Mungkin sambil mempertimbangkan situasi di samping juga sekarang, Ashiya yang ingin bertengkar dengan Urushihara pun menahan diri.
Suzuno mendengar suara kedua orang itu, dan sekali lagi dengan perlahan menaruh kepala diatas lutut yang dia peluk itu.
* * *
“…….uh……….”
Emi terbangun karena sinar matahari pagi juga suhu panas yang tiba-tiba meningkat ini menyerangnya. Setelah membuka matanya perlahan, dia pun melihat ke langit langit kamar yang tidak begitu terbiasa…….
“……….uh! Ah………?”
Setelah memikirkan kembali dirinya yang dipaksa untuk menginap di benteng Raja Iblis, Emi yang hampir melompat----
“………hampir saja.”
Dia melihat Alas-Ramus yang sedang memeluk tangannya dan tidur lelap.
Kalau langsung melompat bangun tadi, pasti akan membangunkan Alas-Ramus.
Emi dengan lega menghelas napas, dan melihat ke Maou yang baring disamping Alas-Ramus.
Sikap tidur Maou terlihat sangat jelek.
Biarpun cuacanya sangat panas, sosok Maou yang tertidur dengan mulut terbuka lebar-lebar itu, membuat orang merasa sangat ajaib bila tidak ada gelembung yang keluar dari hidungnya.
Setelah Emi melihat ke arah jam, sekarang masih jam setengah enam. Sepertinya waktu matahari terbit lumayan awal juga.
Karena tertidur hanya menggunakan 1 buah handuk, membuat Emi merasa seluruh tubuhnya terasa sedikit sakit. Menggerakkan leher juga bahunya, Emi yang menguap berpikir setidaknya perlu membelikan Alas-Ramus futon.
Kalau dilihat dari kamar Suzuno yang ada di samping masih diam, sepertinya masih tidur. Emi khawatir apakah Chiho sudah pulang sampai ke rumahnya dengan baik-baik saja.
Sekali lagi mengelus rambut Alas-Ramus, Emi pun menarik tasnya dari samping, dan mengeluarkan 1 botol Holy Vitamin Beta, dan meminumnya dengan 1 tegukan.
Karena tidak tahu kapan Gabriel akan menampakkan dirinya, untuk mengantisipasi pertarungan yang mungkin terjadi, setidaknya perlu mengisi kekuatan dulu.
Tentu saja untuk melindungi Alas-Ramus, pasti bukan karena ditipu oleh kata-kata Raja Iblis.
“Ini untuk Alas-Ramus loh, ini untuk Alas-Ramus.”
Emi terus berbisik-bisik, lalu mulai menjadi sebal karena rasa vitamin yang masih tersisa didalam mulutnya.
“Pergi mencuci muka dulu saja.”
Sambil bergumam, Emi memindahkan pandangannya ke bak cuci piring di dapur, dan kemudian,
“Yo, pagi ~~”
Sampai saat itu, Emi sama sekali belum menyadari kalau ada kehadiran orang lain selain Maou dan Alas-Ramus.
“……………uh!”
Karena pria yang berada di sudut yang tidak tampak oleh Emi, sebelum Emi bereaksi dia pun dengan cepat menutup mulutnya.
“Jangan melawaaaaan, aku tidak akan melakukan apa pun.”
“Mgh, ngnggh!”
Emi ingin menggunakan kakinya menendang Maou supaya ia bangun, tapi sisa sedikit jarak lagi untuk membangunkannya.
“Tidak ada gunanyaaaa! Semuanya tertidur dengan lelaaaaap loh~~mereka sementaraaaaa ini tidak akan terbangun~~”
Emi melirik mulut yang ditutup oleh tamu tidak diundang ini, dan dengan tidak mengatakan apapun mulai fokus pada tangan kanannya.
“Ou, itu bahaya.”
Laki-laki itu segera memindahkan tangannya dari mulut Emi, dan memperlebar jarak.
Walaupun memperlebar jarak, tapi didalam kamar yang berukuran 6 tatami ini, jarak diantara kedua orang itu hanya 2 meter, itu berada di jangkauan serangan pedang suci Emi.
“Malaikat akhir-akhir ini tidak sopan sekali, ya? Kalau bukan menculik orang, maka menaruh alat pelacak di tas orang, bahkan dengan sembarangan masuk ke rumah orang……..”
Orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda kekudusan malaikat itu tertawa bangga.
“Hmph~~tapi, benteng Raja Iblis apa masih masuk akal? Bagaimanapun ini markas orang jahat~~”
“Kenapa pagi sekali datangnya? Atau kau berencana menunggu saat sudah berganti hari langsung membawa pergi anak itu?”
Emi dengan cepat langsung mengulurkan tangan kanannya ke leher Gabriel.
Sekejap, ‘Evolving Holy Sword, Better Half’ pun muncul ditangan kanan Emi, mata pedangnya sedang menuju ke bagian leher sang malaikat besar.
“Hoi, bukannya kemarin sudah kubilang kalau aku datang untuk negosiasi? Tapi sepertinya sekarang kau tidak mendengar apa pun yang kukatakan.”
“Kesampingkan soal Alas-Ramus, kau juga menginginkan pedang suciku kan? Untuk mencapai tujuanku dan melenyapkan penghalangnya, aku tidak punya alasan untuk menahan kekuatanku.”
“Yang benar saja, merepotkan sekali~~~kenapa anak perempuan akhir-akhir ini perkasa sekali. Pantas saja banyak sekali laki-laki ‘vegetatif’ (perhatikan : maksudnya itu laki-laki yang tidak tertarik sama jenis kelamin yang lain, dan hanya tertarik pada jenis kelamin yang sama dengannya). Perempuan akhir-akhir ini memang menakutkan.”
Tidak tahu apakah itu memang sifatnya sejak lahir, atau rasa percaya dirinya sebagai seorang malaikat besar, biarpun lehernya sedang ditodong oleh pedang suci, Gabriel terlihat tidak ragu sedikitpun.
“Ah, biarku jelaskan dulu, alasan kenapa Raja Iblis dan orang yang ada di samping itu belum bangun, bukan karena aku memberi mereka sihir ataupun aku membuat penghalang loh.”
“………..apa maksudnya?”
“Huft, mungkin karena kemarin tidak tidur banyak? Mereka sepertinya ingin berusaha keras untuk tetap bangun dan waspada, tapi mereka semua pulas sejam yang lalu. Yang benar saja, bahkan kau tidak bangun samaaaa sekali. Aku datang ke kamar ini, menggunakan microwave untuk memanaskan makanan yang kubeli di toko di pojok di supermarket, pergi ke toilet, bahkan sempat pergi ke depan taman untuk melakukan senam, tapi akhirnya semuanya tetap belum bangun, rasanya sepi sekali.”
“…………”
Emi ingat, kemarin Maou pernah bilang walaupun dirinya berkerja sampai tengah malam, tetap saja Alas Ramus memaksa dia bangun pagi-pagi sekali kemarin.
“Lalu, aku mencoba untuk menjadi pria yang paling baik di semesta, aku sangat tidak ingin menyerang kalian yang sedang tidur. Jadi aku meeeeenunggu salah satu dari kalian bangun, dan berharap setidaknya masih bisa diskusi dengan kalian ……., jadi, bisa tidak menyimpan pedangmu dulu?”
Gabriel dengan santai melihat ke Emi, mencoba untuk menggunakan jarinya untuk mendorong kembali pedang sucinya, tapi Emi tidak menyerah.
Bahkan makan bekal supermarket dan sempat senam di depan taman, mana bisa membiarkan malaikat yang seperti itu terus bertambah lagi.
“Aku tidak seperti Sariel yang punya cara untuk menahan aura suci, jadi bisakah kita berharap masalah bisa selesai dengan damai?.”
“…….berani juga kau bicara.”
“Heh?”
“Kau pasti sudah meminta orang-orangmu yang kemarin untuk mengepung apartemen ini kan? Apa mereka itu pasukan langit?”
Emi sembarang menebak, dan membuat Gabriel mulai terlihat panik.
“Aku sudah cukup puas dengan hanya membawa kembali apa yang kuinginkan, sama sekali tidak punya niat untuk saling melukai, aku juga tidak bisa lakukan apa-apa. Karena Raja Iblis yang kemarin terlihat ingin bertarung, untuk mencegah hal buruk terjadi, makanya aku meminta mereka awasi dari jauh. Ah, tapi aku mengambil banyak kapasitas 'Gerbang’ , jadi mereka tidak terlalu kuat. Bagaimanapun saat pulang nanti perlu membawa anak itu, jadi akan makan lebih banyak kapasitas. Begitulah, anggap saja aku memohon, tolong dipikirkan kembali.”
“………….”
“Uwaa--? Tadi pedangnya sedikit masuk ke dalam leher? Padahal kau ini seorang pahlawan, tetapi sangat pandai menggunakan pedang untuk mengancam orang! Menakutkan sekali!”
Emi dengan diam-diam mulai menekankan mata pedang yang ada di leher Gabriel itu. Walaupun tidak terluka, tapi dari ekspresi Gabriel tetap saja dia kelihatan sangat panik akan ini.
Di saat 2 orang itu sedang ribut—
“…….ribut sekali, apa yang diributkan sih………apaan, sekarang baru jam 5 lebih…….eh, apa?”
Biarpun orang yang tidak tidur cukup kemarin, tetap saja akan terbangun karena terjadi kekacauan di sampingnya.
Setelah Maou bangun ia pun sadar bahwa Emi sedang menggunakan pedang sucinya mengancam seorang laki-laki asing, di dalam kamar yang berukuran 6 tatami ini.
“uh……….papa?”
Selanjutnya Alas-Ramus pun ikut terbangun. Kejadian yang terlalu tiba-tiba ini membuat Maou tidak sempat untuk memberi reaksi.
“Gabriel…….kenapa kau di sini sepagi ini………?”
“Ah, Raja Iblis Satan, selamat pagi! Maaf, pagi-pagi sudah begini~~ yaaah ~~  aku juga punya banyak janji dan akan sangat sibuk~~”
Maou sementara menyembunyikan Alas-Ramus di belakangnya, tapi karena sihir yang disimpannya hampir habis, lalu malah dengan tidak sadar di dekati oleh lawan sampai seperti ini, hanya bisa dibilang sangat beruntung.
“Hoi,hoi,~~jangan main pedang di depan anak kecil. ini tidak baik untuknya, cepat simpan sana~~”
Gabriel kemudian berusaha untuk menenangkan Emi.
Bagaimana pun, Emi tidak akan ditipu oleh Gabriel. Tidak ada jaminan setelah menyimpan pedang suci dia tidak akan menyerang balik seketika.
Bahkan membiarkan pasukan langitnya untuk tidak bergerak dan datang sendirian, itu berarti dia sangat percaya diri. Malaikat yang bernama Gabriel ini, pasti bukan hanya seorang laki-laki yang penampilannya luarnya santai dan lemah.
“Aku juga bukannya ingin membuat masalah dengan dunia atas dan malaikat, kalian sendiri yang datang kemari untuk mencari masalah, makanya aku hanya bisa meladeni kalian.
“Uwo……..pernyataan ini sedikit menakutkan.”
Gabriel dengan kecewa mulai mengangkat alisnya, dengan tidak berdaya mengendurkan bahunya.
“Tidak ada cara lagi, baiklah kalau begitu……..ternggorokanku sedang ditodong oleh mata pedang ! Menakutkan sekali………huft, biar aku saja yang mundur 1 langkah dulu, situasi terburuk kira-kira, aku hanya bisa membawa salah 1 antara si anak itu atau pedang suci. Yang perlu dibicarakan juga sudah habis, kalian hanya punya 2 pilihan. Serahkan atau tidak.”
Gabriel yang dengan santai mengangkat kedua tangannya dan terus menggoyangkan, dengan sebal mengatakan.
“Pohon dunia merupakan pondasi dunia ini, juga ‘Yesod’ Sefirah yang kulindungi sejak dulu dicuri seseorang. Bahkan pencurinya dengan tidak takut pada hukuman langit memecahkan ‘Yesod’ Sefirah menjadi berpotong-potong dan menyebarkannya ke mana mana. Emilia, bahkan ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ mu, juga anak yang ada di belakang Raja Iblis itu berasal dari potongan ‘Yesod’. Juga, kalau membiarkan semuanya seperti ini di luar terlalu lama , akan buruk akibatnya.”
“Pedang suci……..lahir dari potongan ‘Yesod’ Sefirah?”
Gabriel mengangkat jari telunjuknya, seperti sedang membacakan isi berita :
“Benar. Kau lihat, di sana bukannya ada sebuah kristal berwarna ungu?”
Gabriel kemudian memindahkan jarinya juga pandangannya ke pegangan pedang yang ada pada pedang suci Emi.
Pada pegangan ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ memang ada sebuah hiasan sayap, dan ditengahnya memang terdapat sebuah hiasan permata warna ungu, Emi awalnya kira itu hanya desainnya saja.
“Juga ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ itu sangat berbahaya, bahkan dibandingkan dengan yang lainnya. Itu adalah prioritas utama kami untuk mendapatkannya lagi, tapi sampai kau menyerang Ente Isla, Satan, keberadaannya adalah sebuah misteri untuk waktu~~ yang lama. Walau aku sudah menghabiskan beberapa ratus tahun untuk mencari potongan-potongannya, tapi hanya pedang suci ini dan anak kecil itu yang lebih susah. Jadi ya, biarpun untuk menutupi kesalahanku, dengan berusaha mencari potongan yang hilang diam-diam, tapi tetap saja melakukannya sendirian sangat sulit, bahkan ketahuan oleh Sariel, dan dikira orang mau diam-diam mengkhianati Tuhan, hampir saja aku menjadi malaikat yang terjatuh, hahaha.”
Gabriel sambil berkata sambil tertawa, sama sekali tidak peduli dengan suasana tegang yang ada disekitarnya.
“Mananya yang berbahaya? Untuk mengalahkan Raja Iblis, diperlukan pedang suci, jadi seharusnya tidak berbahaya.”
“Bagiku berbahaya soalnya.”
Maou mencoba untuk bercanda, tapi malah tidak dipedulikan.
“Huft, itu karena kalian manusia sendiri……..dengan kata lain, itu karena gerejamu yang mendapatkan potongan ‘Yesod’ itu menjelaskan dengan sembarangan. Kalau aku memberitahumu mananya yang berbahaya, itu sama saja dengan menyia-nyiakan usahaku untuk mencarinya, jadi tidak bisa kukatakan.”
“Bagaimana mungkin………gereja sendiri yang………..”
“Pada dasarnya, bagaimana mungkin bisa kebetulan ada pedang yang begitu berefek pada Raja Iblis ataupun iblis? Kekuatan ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ bukannya bisa diatur lewat aura suci? Mananya yang berbeda dengan gadis ksatria yang menggunakan ’Materialization War Art, Iron Light’. Yang berbeda itu hanya bahannya saja, pedang suci sama sekali bukan senjata khusus untuk mengalahkan iblis.”
“Bagaimana mungkin………..karena, pedang suci memberitahu posisi Raja Iblis ketika di benteng Raja Iblis…….”
Dulu saat menyerang benteng Raja Iblis, pedang suci pernah menuntun Emi berserta rekannya ke tempat Raja Iblis berada lewat cahayanya. Makanya mereka bisa menaklukkan benteng Raja Iblis dalam waktu yang pendek.
“Sepertinya itu bukan memberitahu letak Raja Iblis, tapi posisi anak itu.”
Gabriel kemudian menjelaskan.
“Itu hanya karena potongan ‘Yesod’ akan saling bereaksi saja. Yaah, karena begitulah, karena inilah aku baru menemukan anak itu.”
Setelah potongannya saling bereaksi, si Pahlawan dan si Raja Iblis pun memulai pertarungan yang sengit. Si Pahlawan mengerahkan seluruh kekuatan pedang sucinya, dan bertarung sangat lama.
“Sepertinya karena reaksi pedang sucinya yang kuat, jadinya reaksi anak itu sebagai potongan tertutup. Selanjutnya karena Emilia membawa pedang suci ke sini, maka reaksinya pun menghilang sekali lagi. Ini benar benar merepotkan kami. Sama sekali tidak berpikir ternyata sembunyi di dalam taman Raja Iblis.”
Terakhir kali Maou melihat ke pohon yang di tumbuh dari kristal itu, hanya terlihat 2 batang saja, tidak hanya daunnya layu, bahkan buah juga bungannya belum tumbuh.
Tetap saja, tidak disangka kristal akan mempunyai perubahan yang seperti ini, jadi Maou sebenarnya sudah melupakan itu, membuat dia berpikir hebat sekali kristal itu bisa tumbuh dengan baik.
Gabriel tiba-tiba menggunakan tangannya memegang mata pedang pedang suci tersebut.
Emi yang terkejut ingin menarik pedangnya, namun pedang sucinya sama sekali tidak bergerak.
“Tidak berguna~~walaupun rasanya sedikit sakit seperti digores, tapi dengan hanya mengandalkan pedang suci yang sekarang, dan tidak ada apapun yang spesial, kalian tidak bisa mengalahkanku~~jadi~~”
Gabriel tetap mempertahankan sikapnya yang santai itu, dan melihat ke Maou.
“Kalian sudah paham situasinya kan? Anggap aku memohon pada kalian, terima permintaanku ini.”
Dengan kata lain, sepertinya ini merupakan peringatannya yang terakhir.
Gabriel membuat Emi sadar apa akibatnya bila bermusuhan dengannya. Lalu Maou yang tidak punya simpanan sihir itu, bahkan tidak memiliki kesempatan apapun. Tentu kalau hanya mengandalkan kekuatan Suzuno, akhirnya juga tidak akan berubah.
Kalau begitu, trik Maou hanya tinggal 1.
Maou menarik napas dalam-dalam, dan memutar badannya menghadap ke Gabriel.
Emi dan Gabriel merasa gugup karena takut Maou akan tiba-tiba menyerang babi buta ke mereka---
“…………..huh?”
“A-apa yang kau lakukan?”
Tapi Maou malah melakukan tindakan yang sama sekali tidak pernah Gabriel dan Emi pikirkan.
“Kumohon.”
Maou berlutut di depan mereka berdua.
Posisinya berada di puncak dunia iblis, Raja Iblis Satan yang sampai sekarang masih membawa tujuannya yaitu menguasai dunia ini, saat ini menundukkan kepalanya di hadapan sang malaikat besar.
“Tolong jangan bawa pergi Alas-Ramus.”
Maou menempelkan dahinya di atas tatami, dengan tulus memohon.
“papa…………?”
Karena Alas-Ramus tidak mengerti apa maksud tindakan Maou itu, dia melihat ke Maou dan Gabriel dengan cepat secara bergantian.
“Eh, aku adalah malaikat, dan kau adalah Raja Iblis. Ini berbeda dengan situasi anak perempuan yang kemarin loh.”
Gabriel dengan sedikit sebal menjawab, tapi Maou sudah menduga akan mendapat jawaban seperti ini.
“Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini tanpa balasan apapun. Ambil saja nyawaku ini. Pertukaran ini tidak buruk kan.”
“Huh?”
“Hoi, hoi? Apa yang kau katakan?”
Kali ini bahkan kedua orang itu terkejut.
“O-orang yang akan mengalahkanmu itu adalah aku! Kenapa kau bisa dengan begitu mudahnya menyerahkan nyawamu sendiri!”
“Berisik. Kau tinggal pamer kalau kau mengalahkanku karena dibawah perlindungan malaikat besar sudah cukup kan! Memangnya ini merugikanmu?”
“Tentu saja! Siapa yang ingin menerima bantuan dari orang seperti ini, huh! Kalau bukan aku yang mengalahkanmu sendiri maka semua itu tidak berarti!”
“Aku tidak peduli apapun alasanmu! Yang penting sekarang adalah Alas-Ramus!”
“Eh, itu, bisa tidak jangan menghiraukanku dan mulai bertengkar seperti pasangan suami istri?”
“ ‘siapanya yang pasangan suami istri!’ “ kata Maou dan Emi bersamaan
“Uwoo………kompak juga ya kalian……..”
Gabriel dengan terkesan mengatakan.
“papa dan mama jangan bertengkar!”
Jarang-jarang Gabriel sependapat dengan Alas-Ramus.
“Apa aku boleh bertanya 1 hal? Kenapa dirimu yang sebagai Raja Iblis, begitu peduli dengan anak kecil ini.”
“Karena setelah menjadi ‘Raja’, aku pun menjadi ‘seperti iblis itu’ dibutakan oleh ambisi, dan lupa untuk menghargai anak ini!”
Terhadap cakar yang melukainya, di hari saat dia melihat kematian di langit juga tanah yang berwarna merah.
“Bagiku yang selamat dari kematian itu dan terlahir kembali, anak ini merupakan harapan bagiku………lalu aku malah dengan tidak sadar melupakan dia, dan menjadi ‘Raja Iblis’.”
Maou Sadao yang sama sekali tidak pantas dijuluki sebagai Satan sejak awal itu, perlahan mulai memeluk Alas-Ramus.
“papa……….ini sedikit sakit.”
Alas-Ramus menghindar dalam pelukan Maou.
“Bukannya kalian sudah membiarkannya selama ratusan tahun dan tidak terjadi apapun yang aneh? Sebagai gantinya dengan nyawaku ini, tolong, jangan membawa anak ini ke tempat yang tidak dia suka.”
“………..bicaranya seperti setelah kami membawa dia pulang, kami akan melakukan hal yang kejam padanya saja, tapi aku sudah mengatakan ini berkali kali, anak itu sebagai potongan “yesod’, sejak awal memang milik dunia atas………”
“Aku tahu legenda ‘Raja Iblis Satan Kuno’!”
Di saat Maou mengatakan itu, Emi menyadari ekspresi Gabriel mulai menjadi kaku.
‘Raja Iblis Satan Kuno’, mungkin saja itu adalah Raja Iblis yang dibicarakan Maou semalam, tapi apa hubungan Raja Iblis itu dengan Gabriel.
“………..jadi, aku tidak akan membiarkannya pergi, aku tidak ingin dia pergi, kumohon, tolong membiarkan anak ini……….!”
 Maou terjatuh berlutut sebelum dia sempat mengatakannya.
"Maaf, tapi rencana berubah."
“Eh………ah……….”
Maou yang berlutut di bawah berjuang bertahan. Walau Emi yang sedang tidak terlalu mengerti, tapi dia seperti berjuang untuk bernapas.
“Huft, jujur saja aku juga tidak ingin melakukan ini, tapi ini namanya kau menggali kuburanmu sendiri. Jadi biar aku sebaik apapun, setelah mendengar hal ini aku juga terpaksa untuk menggunakan cara kasar.”
“Uwaaaaaaaaaa!”
“Ra-Raja Iblis!?”
Gabriel seperti ingin memastikan dan mendekatkan wajahnya ke Maou. Saat ini bahkan Emi juga bisa melihat leher Maou, seperti sedang dicekik oleh tangan yang tidak terlihat.
“Maou-sama! Maou-sama! Apa yang terjadi?”
“Mundur, Alsiel, aku akan memecahkan ini menggunakan paluku!”
Koridor yang ada di luar mulai ribut, dan terdengar suara Ashiya dan Suzuno yang panik.
“Ah~~sampai seperti ini, pantas saja mereka akan bangun~~tapi tidak berguna~~karena pelindung yang kubuat tidak akan hancur semudah itu~~”
Gabariel sama sekali tidak ragu. Yang terdengar dari luar hanya suara benda yang berat yang sedang memukul pintu besar. Tapi bahkan sedikit goresan pun tidak muncul di pintu apartemen yang berusia enam puluh tahun ini.
Dan bahkan pada saat seperti ini, suara Urushihara tidak kedengaran. Dia pastinya masih tidur.
“Pahlawan Emilia, maaf, tapi aku akan benar-benar menghabisi Raja Iblis Satan. Walaupun kau juga mungkin mempunyai masalahmu sendiri, tapi seperti yang Raja Iblis bilang tadi, aku akan membantumu mengarang ‘di bawah perlidungan malaikat besar atau apapun itu. Bisakah kita menyepakatinya seperti itu?”
Situasinya benar-benar tidak ada harapan.
Iblis tidak bisa melakukan apa pun karena tidak punya sihir, sedangkan pedang suci Emi juga sedang ditahan oleh lawan.
“Oke, Emilia, begini tidak apa kan?”
Gabriel melihat ke Maou, dan bertanya secara bersamaan ke Emi. Dari sikapnya berbicara bisa dipastikan dia sangat santai. Dari sikapnya berbicara, dunia manusia seperti mainan baginya.
“……….aku menolak.”
“Huh?”
“Malam ini giliranku untuk menceritakan cerita pada anak ini. Kalau dia dibawa pergi olehmu, berarti aku tidak bisa menepati janjiku kan?”
“Heh……….yang benar……….?”
Biarpun Gabriel sedikit kecewa dengan jawaban Emi, tapi nada bicaranya menandakan dia tidak peduli.
Ini membuat Emi semakin marah.
“Aku tidak peduli semulia apapun kehadiran kalian itu! Raja Iblis Satan harus dikalahkan olehku! Aku tidak akan membiarkan yang lainnya menyentuhnya!”
“Uuuh………aku tidak tahu tentang kalimat yang gunakan untuk mati itu………”
“Apalagi, orang yang mencoba memisahkan putri dari ayahnya secara paksa tidak mungkin orang yang baik! Heavenly Light Flame Strike!”
“Uwo? Uwoo, uwa, uwa, panas sekali! Panas sekali! Apa yang kau lakukan!”
Emi mulai menyalakan api di mata pedang pedang sucinya itu.
Tapi apinya yang bahkan bisa melukai malaikat yang terjatuh yaitu Lucifer, tidak membakar tangan Gabriel.
“Wa-walau terlihat seperti tidak apa-apa, tapi panas sekali! Yang benar saja, padahal aku tidak mau menggunakan cara kasar terhadap perempuan, tapi kenapa dirimu tidak bisa memahami situasi sekarang ini? Bukannya sudah kubilang sejak awal memang aku yang bertanggung jawab atas anak ini?”
“Tidak ada orang yang memintamu untuk menjaganya!”
“Wa-walau tidak ada orang yang memintaku, tapi ini memang pekerjaanku…….”
“……….”
“Argh………akh……..”
“yang tadi itu………itu siapa?”
Bahkan Gabriel yang sudah lelah menjawab itu menunjukkan ekspresi yang serius.
“kami hanya dengan senang bermain bersama-sama.”
Suaranya itu berasal dari bagian bawah kaki Emi, Gabriel, dan Maou.
“ ‘Malchut’ bilang. Kalian adalah pembohong.”
Orang itu mempunyai tangan dan kaki yang mungil, juga sepasang mata yang terlihat bulat namun tatapannya menunjukkan tekadnya yang kuat.
“kalian semua berbohong untuk menjadi  Tuhan!”
Alas-Ramus menggunakan tangan kecilnya itu menyentuh Maou yang sedang Menderita. Hanya dengan ini—
“Gah!! Cough!......gaaaaaah……”
“Huhhhhhhhhhhhh!?”
Sihir yang diberi Gabriel sepertinya dihancurkan, Maou yang sambil berkeringat dingin itu menarik napas kembali.
“aku, benci kalian semua!”
“Apaaa………”
Alas-Ramus berjalan mendekati Gabriel.
“tidak hanya memisahkan kami, tetapi juga mengurung kami, lalu—“
Saat ini, di kening gadis itu muncul tanda yang berbentuk bulan sabit, gaunnya yang berwarna kuning juga mengeluarkan sinar yang bagaikan sinar matahari.
“aku tidak akan memaafkan, orang yang jahat pada papa dan mama!”
“Uwaaa!”
“Kyaaa!”
Setelah dilemparkan oleh sinar berwarna emas, Gabriel kemudian menabrak dinding benteng Raja Iblis.
Tangan Gabriel yang awalnya menahan pedang suci itu pun terlepas, membuat Emi kembali bebas lagi.
“Alas……….”
“tunggu sebentar, papa!”
“Tu-tunggu!”
Alas-Ramus yang sekeliling tubuhnya dikelilingi sinar berwarna emas itu melewati Maou yang tidak bisa bangun itu, dan menabrak ke dada Gabriel seperti peluru yang baru ditembakkan.
“Gweeeeh!”
Gabriel mengeluarkan suara kesakitan seperti kodok yang ditimpa sesuatu yang berat, dan terhempas oleh Alas-Ramus yang menabraknya, dinding pun pecah terkena dia.
“A-Alas-Ramus! Heavenly Light Swift Step!!”
Emi membiarkan Maou, memfokuskan kekuatannya, kemudian mengejar mereka.
“Emilia!”
“Maou-sama!”
Mungkin karena pelindung Gabriel akhirnya lenyap, pintunya juga ikut hancur, Ashiya dan Suzuno pun masuk ke dalam.
Melihat Maou yang tidak bisa bergerak, juga lubang besar yang ada di dinding, ekspresi Ashiya dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa.
“Emilia sialannnnnnn! Beraninya kau melakukan ini!”
Cara berpikirnya Ashiya menilai berdasarkan situasi yang sekarang, tentu saja dia akan membuat kesimpulan seperti ini. Namun—
“Tidak……..Gabriel……… Alas-Ramus……”
“Apa? Apa dia sudah datang?”
“Alas-Ramus…sedang bertarung…cepat…kejar…….ughh!”
“Alas-Ramus………..”
“sedang bertarung?”
Ashiya dan Suzuno yang sama sekali tidak bisa mengikuti situasi ini, hanya bisa melihat ke Maou dan dinding secara bergantian.
“Suzuno, kumohon, bawa aku, ke atas………”
Melihat Maou dengan menderita memohon, Suzuno pun dengan cepat menanggapinya---
“Tunggu, manusia! Raja Iblis Satan!”
“Kami tidak akan membiarkan kalian pergi mengganggu Gabriel-sama!”
4 bawahan Gabriel yang mengikuti Gabriel kemarin, terbang menutupi lubang yang dibuat oleh Alas-Ramus.
Keempat orang yang merupakan pasukan langit itu sama-sama mempunyai sayap yang berwarna putih.
“Uh…….brengsek…….”
Biarpun ingin bertarung, di sisi Maou yang bisa bertarung juga hanya Suzuno. Biarpun dinilai Gabriel sangat lemah, tapi membiarkan Suzuno sendiri menangani lawan yang merupakan 4 pasukan langit ini, terlalu memaksa.
Lalu---
“Ou, beraninya kalian berbicara dengan sikap seperti itu.”
Keempat wajah malaikat itu tiba-tiba menjadi kaku setelah mendengar suara yang baru ini.
“Kalian hanya bawahan Gabriel, tapi masih ingin dengan sombong menyuruh kami mundur, ah?”
"U-Urushihara?
Urushihara yang baru bangun tidur itu dengan malas bersandar di lorong, melirik ke empat malaikat itu. Lalu---
“Minggir.”
Dan dengan egois mengatakan itu.
“…………”
Namun ke empat malaikat itu tetap tidak mau pergi.
“Maou, Bell, tenang saja. Aku tidak akan membiarkan mereka menggangu, jadi pergilah.”
“A-apa maksudnya ini?”
“Ashiya, apa kau sudah lupa tipe iblis seperti apakah aku?”
Urushihara dengan tidak senang mendecakkan lidahnya.
Lucifer merupakan salah salah jendral besar Raja Iblis. Tapi menurut teks suci dan legenda, sebelum dia menjadi malaikat yang terjatuh, dia dijuluki ‘Bintang Fajar’ yang berencana merebut posisi Tuhan dan merupakan malaikat yang derajatnya paling tinggi saat itu.
“Sebelum aku ‘terjatuh’, bagaimana pun aku juga merupakan seorang malaikat besar. Walaupun tidak bisa melakukan ini pada Gabriel, tapi prajurit rendahan dia tidak bisa melawanku.”
Biarpun lawannya merupakan malaikat yang terjatuh, tapi menurut aturan dunia atas, mereka tetap tidak boleh tidak taat dengan malaikat yang posisinya lebih tinggi daripada mereka sendiri.
Tapi, kebalikan dengan namanya, Bintang Fajar ini sering bangun siang hari dan tidur saat matahari terbit, dan siklus tidurnya sangat berantakan. Orang lain mungkin merasa kasihan karena prajurit malaikat yang pekerja keras ini yang tidak dapat tidak taat pada malaikat jatuh yang jarang bekerja karena aturan yang keras ini.
“Kau………kadang-kadang berguna ya……..”
“'Kadang-kadang itu tidak diperlukan, Maou. Jangan pedulikan ini dulu, kalian cepatlah pergi.”
“Oh, oh, Suzuno, aku mengandalkanmu!”
“Baik, berdiri di atas palu ini! Jangan terjatuh ya!”
Suzuno dan Maou terbang ke langit lewat jalan yang dibuka para malaikat itu.


“Alas-Ramus.”
Emi menatap langit di atas Sasazuka.
Alas-Ramus dengan tekad yang kuat seperti meteor menabrak ke Gabriel, dan malaikat itu pun jatuh dalam kesulitan.
“Ow, ow ow ow ow ow!”
“Gabriel! Cepat menjauh dari Alas-Ramus!”
“Ka-kalau bisa, aku juga ingin menjauh darinya, sakit---!”
Gabriel yang perhatiannya teralihkan karena Emi itu, bagian wajahnya terkena serangan Alas-Ramus yang menggunakan kepalanya.
Dilihat oleh semuanya, Gabriel seperti roket yang terbakar dan terbang ke tempat yang lebih tinggi.
“Alas-Ramus, apa kau tidak apa-apa?”
Emi sama sekali tidak peduli dengan Gabriel yang terbang pergi, dan memeluk Alas-Ramus ditengah udara.
“Tidak masuk akal sekali! Dilihat dari manapun, orang yang diserang itu adalah aku!”
Gabriel mengepakkan sayapnya yang besar itu untuk menghentikankan dirinya, dan mulai berteriak ditempat yang sedikit tinggi.
“Ah~~yang benar! Aku ini kurang pandai dalam bertarung!”
Gabriel kemudian menggerakkan tangan kanannya ke samping wajahnya dan mengepalkan tanganya. Lalu---
“Tadaa! Pedangku menjadi besar!”
Emi tidak tahu siapa yang sedang dia tiru, tapi berteriak balik pada Gabriel yang sekarang memegang benda berbahaya di tangannya
“Apa kau berencana menggunakan senjata pada anak kecil!?”
“Hei! Memangnya orang-orang di sirkus akan menjinakkan beruang dan singa yang buas hanya dengan tangan kosong? Hanya karena aku penjaganya, bukan berarti bisa terus bersikap santai seperti itu!”
“Ka-kau katakan sekali lagi! Beraninya kau bandingkan Alas-Ramus dengan beruang atau singa‼”
“Aku hanya menggunakan contoh yang lebih mudah dipahami saja! Untuk apa tiba-tiba marah seperti seorang ibu~~!?”
“mama, hati hati! Pedang itu sangat kuat !”
Seperti ingin melindungi mamanya, Alas-Ramus menghentikan Emi yang maju ke depan Gabriel.
“Hn, hebaaaat sekali. Sebaliknya, sekarang ini aku sangat takut, jadi saatnya bagiku untuk serius.”
Biarpun sikap berbicaranya tetap tidak berubah, tapi tidak perlu Alas-Ramus ingatkan pun, Emi juga tahu pedang panjang yang ada ditangan Gabriel itu bukanlah pedang sembarangan.
“Apa pedang Gabriel itu…..Durandal?”
“Benaaaar sekali! Walaupun tidak ada tambahan kemampuan yang lain, tapi ini sangat kuat, semuanya bisa ditebasnya Ini menebas apapun yang kau lemparkan, mungkin termasuk ‘Evolving Holy Sword-Better Half’mu juga bisa. Bagaimanapun aku penjaganya, mana bisa aku kalah hanya karena salah satu potongan kecilnya. Biarpun aslinya itu ‘Yesod’, tapi rasanya sulit bagiku untuk menebas seorang anak kecil, kalau bisa sih aku berharap kalian bisa menyerah.”
“……….apa kau kira bicara begitu, kami akan menyerah? Biasanya penjahat selalu kalah dalam situasi ini………”
Di saat seperti ini, angin lembut menghembus ke samping Emi, di saat yang bersamaan tangan kanannya merasakan serangan yang lemah.
“Tidaaak, kalau aku mencoba untuk menjadi pria baik, sekarang ini malah aku terlihat seperti penghancur.”
Dari belakang Emi terdengar suara Gabriel.
“‼”
Saat ini, kekuatan suci yang berada didalam tubuh Emi tiba-tiba berkurang banyak.
Bahkan pedang sucinya itu tiba-tiba panjangnya menjadi setengah. Tidak, itu ditebas sampai menjadi setengah.
Bagian tubuh pedang suci yang berada ditengah udara itu bagaikan kunang kunang yang sedang bersinar. Bagian yang terpotong cernih seperti cermin, sebelum sadar pedang sucinya ditebas, bahkan bergerak pun Emi tidak bisa.
“mama!”
Alas-Ramus sepertinya juga begitu, walau dia terbang ke samping Emi, tapi kalau Alas-Ramus yang hanya bisa menyerang menggunakan tubuhnya itu diserang Durandal……..
“Aku cukup membawa potongan ‘Yesod’ yang merupakan inti pedang perak langit. Soal pedang suci jadi seperti apa nanti, bukan urusanku.”
Seperti ingin bergaya. Gabriel menaruh Durandalnya di atas bahunya---
“Sakit! Bahuku teriris!”
Tapi setelah pedang yang bisa menebas apapun itu taruh di atas bahu, bahu dan baju Gabriel pun terpotong.
“Nah, Alas-Ramus.”
“…ada apa, mama.”
Tidak peduli dengan Gabriel yang masih bermain-main itu, Emi bertanya ke Alas-Ramus :
“……kau, suka ‘papa’? Apa kau ingin terus bersama dengannya selamanya?”
“hn!”
Alas-Ramus menjawab tanpa ragu.
“ah, tapi, aku juga suka mama, aku tidak ingin berpisah dengan mama.”
Lalu sosok gadis itu yang menambahkan kata-kata yang dia lupa, semakin membuat orang ingin sayang dengannya.
“Begitu ya.”
Emi tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku tidak bisa membiarkan anak yang tidak ingin pisah dengan papa yang dia paling suka.”
Emi kemudian mengeluarkan seluruh tenaganya, mulai mengisi kekuatan sucinya ke dalam pedang sucinya.
Bagian pedang yang patah itu tumbuh perlahan, kembali ke bentuk tahap pertamanya.
Walaupun awalnya tubuh pedang itu menjadi sedikit lebih tipis lagi dan terasa kurang bisa diandalkan, biarpun begitu---
“Aku akan melakukan apapun untuk membawa kebahagiaan pada mereka yang percaya untuk kulindungi!”
“Huft…….rasanya, masalah ini menjadi lebih merepotkan lagi.”
Emi akhirnya dengan menggunakan tekadnya dan kembali seperti semula lagi, tetapi Gabriel malah semakin menjadi kesal.
“………jangan salahkan aku. Ya ampun, seperti aku adalah orang jahat saja.”
Gabriel dengan sembarang menggunakan kuda kuda yang aneh. Tapi kalau terkena serangan pedangnya yang tajam, kuat juga cepat itu, sepertinya nyawapun akan hilang.
“Sudah kubilang, kalau kau menghalangiku, aku tidak punya pilihan selain menyerang balik dengan serius. Kalau kau sudah mempunyai persiapan, serang saja sini.”
“Dibandingkan dengan anak yang menangis, lawan seperti apakah itu tidak perlu ditakuti!”
“Walaupun penampilannya seperti anak-anak, tapi awalnya merupakan Sefirah ‘Yesod’……..huft, setiap aku membicarakan ini, semakin aku terlihat seperti penjahat saja.”
Emi sudah tidak peduli dengan Gabriel yang protes, dan mulai berpikir harus hadapi pertarungan yang pasrah ini seperti apa.
Biarpun berada dikondisi terbaiknya, pedangnya sudah ditebas dan patah. Jadi  dia tidak bisa langsung menyerang ke lawan, dan harus mengalahkannya dengan 1 serangan……..lalu, bagaimana untuk mengatasi kecepatan lawan itu……..
“Arghh!”
Di saat seperti ini, ada seseorang yang menuju ke belakangnya Gabriel dengan cepat.
“Ra-Raja Iblis!”
“papa!”
“Nngh!”
Maou yang datang ke pertempuran lewat palu raksasa yang dibawa Suzuno itu, mengunci gerakan Gabriel dari belakang dengan cara memeluknya.
Di saat Maou meloncat dari palu raksasa itu, Suzuno pun dengan menargetkan Gabriel dan menyerangnya dengan palunya.
“War Light Shockwave!!”
Bersamaan dengan suara Suzuno, terdengar suara tabrakan dari palu Suzuno itu, dan berhasil mengenai bagian belakang Gabriel yang masih berencana untuk menghindar itu.
“Whooooooooaa!?”
“Whaaaaaa!!”
Karena menggendong Maou, Gabriel terjatuh di udara dengan berputar-putar dan kecepatan yang sangat cepat.
“LE~~PAS~~KAN~~AKU~~!”
“MANA MUNGKINNNNN!”
Sangat sulit untuk memprediksi pertarungan seperti apa antara malaikat besar dan Raja Iblis, dan dengan begitu mereka berputar di udara sementara itu.
“Eeeemiiii! Sekarangggg! Tebas sekalian saja denganku~~!”
Di saat Maou sedang berputar, dia dengan suara keras berteriak, dan membuat Emi sadar kembali.
“Bo-bodoh! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu di depan Alas-Ramus!”
“Bodoh~~! Kalau tidak lakukan sekarang, nanti tak ada kesempatan lagi~~!”
“Humph!”
“Gyah!”
Gabriel tentu saja tidak akan biarkan berputar terus.
Kemudian Gabriel hanya menggunakan tenaga seperti untuk memukul nyamuk, dan melempar Maou ke udara.
“Uwaaaaa!”
Di saat sedang berputar, Maou dengan kecepatan yang begitu cepat terhempas, dan mulai terjatuh.
“Ra-Raja Iblis!”
Suzuno dengan panik mengejar, tapi pada jarak seperti ini dengan kecepatan dia, dia tidak akan bisa mengejarnya tepat waktu.
“mama.”
Alas-Ramus tiba-tiba memanggil Emi yang hanya dengan pasrah melihat semuanya.
“...ada apa, Alas-Ramus?”
“mama, apa kau akan selalu bersama dengan papa? Mama, apa juga suka dengan papa?”
Emi tidak mengerti apa yang dia tanyakan dan kenapa sekarang, di saat-saat seperti ini.
Padahal sudah sering sekali bertengkar dengan Maou di depannya. Juga dia tahu hubungan seperti apa antara Raja Iblis dan manusia.
Emi yang merasa lucu hanya bisa tersenyum.
Walaupun tidak boleh melukai anak kecil, tapi juga tidak boleh berbohong dengannya hanya karena ini.
“Aku…yah, aku akan selalu berada disamping papa.”
“benarkah!?”
Alas-Ramus menunjukkan senyum yang benar benar-bahagia dari dalam hati, Emi kemudian juga membalas dengan tersenyum :
“Hn, benar.”
Emi kemudian berkata-kata yang dimengerti secara literal.
“Sampai maut memisahkan kami.”
Selama Maou Sadao masih menjadi Raja Iblis Satan.
“yey!”
Alas-Ramus mengeluarkan suara sorakan bahagia yang seperti anak kecil---
“!?”
Di saat seperti ini, tiba-tiba timbul sebuah serangan yang hanya bisa dideskripsi ‘gempa bumi di udara’.
Suzuno mengejar Maou yang terjatuh, tapi karena kecepatan seseorang yang begitu cepat membuat dia terkejut, hampir saja tidak bisa kendalikan dirinya yang sedang terbang.
Setelah Suzuno dengan paksa memperbaiki posisinya, Maou sudah hampir menabrak tanah. Tapi,
“papa.”
Maou tiba-tiba berhenti di udara.
Tiba-tiba, dia diselimuti cahaya emas yang mengelilingi Alas Ramus
“Alas-Ramus…kau…”
“Nah, papa, mama bilang dia akan selalu berada disampingmu.”
“ah?”
Maou yang sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan Alas-Ramus itu, dengan begitu mempertahankan sikap tubuhnya yang konyol, dan mengapung di atas udara taman Villa Rosa Sasazuka.
“dengan begitu, papa tidak akan kesepian lagi.”
“Apa yang kau katakan………”
“aku akan selalu bersama dengan papa dan mama.”
“Huh?”
Kata-kata santai dan cahaya yang kuat menghilang di saat hampir bersamaan.
Sinar yang lembutnya bagaikan bulu sayap yang hangat itu, sekejap memenuhi pandangan Maou.
“jadi da-dah, tunggu sebentar ya.”
Di saat Maou yang terjatuh ke dalam, meteor yang berwarna emas sudah dengan cepat terbang menuju ke langit, Maou yang berada dibawah hanya bisa melihat ke meteor, sama sekali tidak bisa melakukan apapun.
Maou tidak peduli dengan Suzuno yang akhirnya mendarat, dan dengan suara keras berteriak :
“Alas-Ramuuuuuuuuus!!”
Seperti ingin membalas teriakan putus asa Maou itu, sebuah ledakan cahaya perak datang tinggi di langit, bercahaya seperti matahari kedua.


“Gabriel, maaf, sepertinya aku akan memilih pilihan ke tiga.”
Emilia yang menggunakan armor berwarna putih dan perak mengeluarkan sinar yang cernih seperti bulan. Di tangan kanannya yang memegang pedang suci ada sebuah pelindung tangan sederhana yang terlihat keluar sedikit tanpa menyentuh gagang pedang. Di tangan kiri yang kosong, pelindung tangan yang sangat besar dengan perisai yang terpasang. Pelindung kakinya juga mempunyai desain yang sama.
Itu adalah bentuk yang belum pernah ditampilkan, ‘evil-slaying garment’ yang dibentuk oleh sinar suci.
Selain pelindung yang berada di bagian tangan dan paha, di tempat yang lain tetap membentuk sosok seperti baju bersinar. Tapi pedang yang dipegang Emi itu yaitu ‘Evolving Holy Sword-Better Half’, kembali ke bentuknya  semula, termasuk ujungnya yang sudah ditebas Durandal, dan bersinar perak.
“Bagamana bisa terjadi……..oh ya, ternyata ‘Evolving of Silver Heaven’ yang diberi gereja padamu tidak hanya 1, aku lupa.”
Gabriel kemudian dengan serius mulai menyusun kuda-kudanya dengan Durandal.
“Walaupun dari penampilan luarnya tidak terlihat kalau potongan intinya berasal dari ‘evil-slaying garment’, tapi pantas saja anak itu akan tertarik dengan kau. Gawat sekali, aku sama sekali tidak terpikir akan evolusi lewat cara seperti itu………..sepertinya aku perlu mulai serius……..”

Bahkan saat ekspresi Gabriel menunjukkan kesungguhannya untuk bertarung, sikapnya yang santai tidak pernah berubah. Sesuatu melewatinya dengan cepat.
Dan sesaat kemudian---
“Nggaaaaah!!! Apa? Apa!? Apa ini!?”
Gabriel berteriak kesakitan karena bagian belakangnya yang diserang.
Itu adalah ‘kesakitan’ yang belum pernah malaikat ini alami. Ini bagi seorang malaikat besar, yang sama sekali tidak pernah disakiti orang lain, bagi Gabriel, ini adalah kesakitan yang luar biasa.
“I-i-ini………!”
Pada lengan kiri Gabriel, tampak sebuah goresan yang tipis.
Tapi bagi Gabriel ini adalah hal yang tidak mungkin. Karena dari tadi, di tidak merasakan apa-apa saat memegang mata pedang suci dengan tangan kosong.
“…darah malaikat, warnanya merah sama seperti kami ya.”
Emi, tidak, si Pahlawan Emilia mengibaskan darah yang berada diujung pedang ‘Evolving Holy Sword-Better Half’. Dan mulai membalikkan badannya menghadap ke Gabriel.
“Mundur Gabriel. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah dengan dunia atas. Aku hanya tidak ingin melihat anak itu menangis saja.”
Emilia melihat ke bawah saat bicara.
“Ma-mana bisa…….aku juga tidak boleh mundur. Apa kau kira aku berbohong soal aku sudah mencari potongan ‘Yesod’ selama ratusan tahun?”
“Ou, kalau begitu, apa kau berencana untuk lanjut bertarung denganku menggunakan pedang itu?”
“!!”
Kali ini akhirnya ekspresi Gabriel memucat.
Pedang malaikat besar yang tercatat di teks suci itu—Durandal, tertebas oleh ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ dan patah.
Tidak hanya itu, bagian pedang yang patah pun mulai retak, selanjutnya pedang Durandal mulai rusak dan menjadi debu.
“…….se-sepertinya hanya bisa mundur.”
Gabriel kemudian menyerah dengan gampang.
“Tapi, tidak peduli itu aku, atau Sariel, pasti tidak akan menyerah. Suatu hari nanti, kami pasti akan mengumpulkan kembali semua potongan ‘Yesod’. Sampai saat itu anggap saja kami titip ditempat kalian.”
“Kalau dilihat dari pihak yang kalah sebenarnya sudah lumayan. Tapi, aku hanya tidak mengerti 1 bagian. Seperti yang Raja Iblis katakan, padahal sudah ratusan tahun kalian membiarkan potongannya dan tidak terjadi apapun, kenapa sekarang kalian mencarinya mati-matian?”
Gabriel bengong sejenak karena pertanyaan Emilia itu.
“……….Yang benar? Kau benar-benar menanyaiku itu?”
“?”
Emilia mulai bingung karena pernyataan Gabriel itu.
“……….sebaiknya kau pikir lagi apa arti dari kehadiranmu itu, juga apa artinya bertarung denganku tadi. Kalau begitu, kau pasti akan mengerti.”
Gabriel kemudian meninggalkan kata-kata yang penuh teka teki, tidak menunggu Emilia balas. Dia pun sekali lagi mengangat tinggi tinggi tangan yang memegang pedang Durandal yang rusak.
“Semoga sampai saat itu pilihanmu, akan mengutamakan ketenangan dunia. Jadi---“
Sinar yang tampak ditangan Gabriel kemudian menjadi lebih silau lagi.
“…kita tidak mengulangi lagi tragedi 'Raja Iblis Besar Satan'.”
“A-apa?”
Langit dipenuhi dengan cahaya yang sangat terang, memaksa Maou dan Suzuno memalingkan muka sebentar.
Walaupun terlihat seperti ledakan yang berskala besar, namun setelah 2 orang itu tunggu sinarnya menghilang, dan mengangkat kepala lagi melihat ke atas, mereka pun menemukan ada sesuatu yang terjatuh.
Suzuno terbang dengan hanya loncat sekali, dan mencoba untuk mendekati benda itu.
“E-Emilia?”
Suzuno dengan segera menyadari bahwa benda yang terjatuh itu adalah manusia, juga itu adalah Emi.
Entah apakah karena Emi terluka, atau kehilangan kesadarannya karena ledakan tadi. Suzuno akhirnya berhasil mengejar Emi yang hampir, dan menggendong Emi yang terlihat kelelahan.
“Emilia! Apa kau tidak apa apa!?’
Walaupun Emi terlihat sangat lemah, tapi setelah Suzuno mencoba memulai percakapan dengannya, akhirnya dia membuka matanya.
“…………ah, Bell? ……….hn, aku tidak apa apa. Juga, Gabriel sudah pergi.”
“Apa!?”
Suzuno dengan terkejut melihat bekas ledakan yang berada diudara.
Setelah menyadari sinar yang sedikit menyilaukan menghilang, langit pun kembali normal. Selain tidak terlihat bayangan seseorang lagi, tentu saja Gabriel juga tidak terlihat lagi.
Tapi Suzuno belum lega setelah semua ini.
Tidak ada siapapun.
Yang berada di udara sekarang hanya tinggal Suzuno dan Emi.
“Hoi, Emi!”
Sebuah suara dari bawah memanggilnya, dan bahkan tanpa melihatnya, dia bisa tahu bahwa itu adalah suara penuh putus asa.
“Di mana Alas-Ramus?”
“……………”
“Apa yang terjadi dengan Alas-Ramus?”
“………….”
Suara Maou semakin keras tanpa dia sadari, saat dia melihat Emi dan Suzuno yang pelan-pelan turun.
Emi memalingkan wajah dengan ekspresi muram, membuat Maou merasakan firasat yang buruk.
“Jangan-jangan……….. Gabriel……….”
Emi tidak menjawab apapun.
Tapi sebaliknya---
“Uuuuh……….harus bagaimana sekarang………?”
Emi diam-diam mengeluh sendiri dengan suara yang tidak bisa didengar orang lain.
* * *
“Hoi, Chii chan.”
Setelah selesai bekerja, Kisaki memanggil Chiho.
“Ah, Kisaki sa? Terima kasih atas kerja kerasmu.”
“Hn, kau juga. Apa boleh mengganggu sebentar?”
“Tidak masalah, ada apa?”
Sekarang malam jam 9. Chiho yang dipanggil Kisaki itu, sepertinya tahu kenapa Kisaki memanggilnya.
“Anak yang sebelumnya itu, apa sudah kembali ke tempat saudaranya?”
Sama seperti yang diduga Chiho.
 “Apa jelas sekali?”
“Gimana ya bilangnya, rasanya dia terlihat seperti mayat tanpa jiwa.”
Yang dia maksud itu adalah Maou.
Kondisi Maou hari ini hanya bisa dideskripsikan tidak semangat. Tidak hanya terus melakukan kesalahan yang sama, suara juga terdengar sangat tidak semangat, dibandingkan dengan Maou yang biasanya, ini membuat Kisaki khawatir padanya.
“Hal seperti ini, hanya bisa menunggunya kembali normal lagi, rasanya merepotkan sekali…….maaf, kalau kondisi ini lanjut terus, tolong Chi-chan membantunya dalam bekerja ya.”
“Baik, aku mengerti.”
“Mungkin biasanya aku terlalu tegas pada dia. Aku tidak bisa terlalu lembut padanya juga tiba-tiba.”
“Tidak masalah, Kisaki san juga lakukan ini karena memikirkan Maou-san, Maou-san juga pasti tahu mengenai ini. Kalau begitu, aku pamit dulu.”
“Hn, hati hati.”
Chiho memberi salam pada Kisaki, dan berjalan keluar dari toko, setelah memastikan jam, dia pun berjalan ke stasiun Sasazuka.
Alas-Ramus menghilang.
Setelah melihat Gabriel yang menghilang dan Emi yang terjatuh, kondisi Maou menjadi sangat buruk.
Chiho juga hanya bisa mendengar tentang pertarungannya dari Suzuno.
Karena khawatir soal Gabriel, Chiho pagi-pagi datang ke Villa-Rosa Sasazuka, tapi yang menunggunya adalah---
“Alas-Ramus…….sudah tidak ada lagi.”
Pernyataan Suzuno yang sangat mengejutkan.
Suzuno, Ashiya juga Urushihara juga hanya bisa dengan pasrah duduk di tangga, dinding yang berada dilantai 2 juga berlubang besar.
Chiho sudah terbiasa dengan kejadian unik yang disebabkan makhluk dunia lain, jadi dia bisa tahu kalau ini adalah bekas bukti pertarungan.
Walaupun khawatir apakah tetangga akan melapor pada polisi karena kekacauan ini, tapi sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ini.
“A-Ashiya san, ini……..”
“Maou-sama……..tidak apa apa. Walaupun dia ada di Benteng Raja Iblis……..tapi dia bilang ingin sendirian dulu.”
“Alas-Ramus chan……….apa yang terjadi dengannya? Apa karena orang yang bernama Gabriel itu, melakukan sesuatu?”
Chiho dengan emosi mengatakan nama Gabriel.
“Kami tidak tahu. Emilia dan Maou juga terlihat sangat depresi.”
Urushihara menjawab pertanyaan Chiho.
“Kemungkinan yang paling mungkin sekarang itu, Alas-Ramus dibawa pergi oleh Gabriel.”
“Ba-bagaimana bisa!”
Chiho menjerit sedih.
“Kali ini karena diawasi oleh pasukan langit, jadi Raja Iblis sama sekali tidak punya cara untuk mengembalikan sihirnya. Menghadapi malaikat pelindung pohon kehidupan, aku tidak yakin Emilia punya cara untuk melawannya…….syukur saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada Emilia dan Raja Iblis……..tapi yang sangat disayangkan itu, kemungkinan Alas-Ramus dibawa pergi sangat tinggi.”
“Tapi, kita juga tidak punya cara lagi kan? Kalau Alas-Ramus adalah potongan Sefirah ‘Yesod’, kalau begitu dibawa pulang oleh Gabriel juga wajar saja kan. Pada dasarnya kita tidak punya kewajiban dan keharusan untuk melindungi anak itu…….”
“Urushihara-san!”
Chiho memotong Urushihara yang sedang berbicara, dan tidak membiarkannya mengatakannya lebih jauh.
“Kalau lanjut lagi, aku tidak akan memaafkanmu!”
“……….memangnya apa yang kulakukan?”
Walaupun dengan tidak senang menutup mulutnya, namun Urushihara tetap tidak mengatakan apapun lagi.
“………bagaimana dengan Yusa-san?”
“Emilia sudah pulang. Dia bilang hari ini masih perlu kerja……..walaupun aku juga bisa mengerti dari pakaian dan barang-barangnya yang menjadi hancur akibat pertarungan ini…….tapi dingin sekali orang itu……..”
Ashiya dengan pasrah menjawab.
“Sasaki-san, pergilah ke sekolah. Maou-sama………..”
Ashiya dengan ekspresi yang terlihat menyakitkan menatap ke lubang besar yang ada di lantai 2.
“….mungkin sekarang tidak ingin berbicara dengan siapapun………..”
Walaupun Chiho juga ikut melihat ke atas bersama Ashiya, namun dalam hatinya tiba-tiba timbul sebuah emosi yang sedih dan ingin menangis.
“Ma-maaf……..kalau begitu, aku pergi dulu.”
Seperti ingin menyembunyikan air matanya, Chiho dengan buru-buru memberi salam dan pergi dari apartemen itu.
“Alas-Ramus chan………”
Pada perjalanan pergi ke sekolah, Chiho dengan suara kecil memanggil nama gadis apel itu, dan sekali lagi meneteskan air mata.
Bahkan Chiho yang bersama dengannya dalam waktu yang pendek merasa begitu sedih, kalau begitu apalagi dengan Maou yang dianggapnya sebagai papanya itu.
Di saat seperti ini pun, dirinya tidak bisa menemani Maou di sampingnya.
Chiho menggigit bibirnya karena ketidakberdayaannya itu.
“……….ah, pesan.”
Chiho menyadari ponsel yang berada di dalam tas bergetar, jadi setelah mengelap air matanya dia pun mengeluarkan ponselnya.
“Yusa-san?”
Itu adalah pesan yang dikirim Emi. Isinya tertulis tidak peduli hari ini jam berapa datang pun tidak apa, dan bertanya apakah bisa bertemu dengan Chiho.
Chiho membalas Emi dengan memberitahunya bahwa setelah pulang sekolah dia masih perlu bekerja sampai malam, tapi Emi memberitahu bahwa jam berapa pun tidak apa, jadi berharap bisa bertemu Chiho. Kalau Emi sudah memberitahu seperti itu, Chiho pun tidak punya alasan untuk menolaknya.
Dan Chiho yang sudah selesai bekerja itu, menyadari bayangan Emi yang berada di stasiun Sasazuka.
“Yusa-san, maaf membuatmu menunggu lama!”
“Ah, Chiho, maaf, masih saja memanggil di saat kau lelah begitu.”
Walau Emi bicara begitu, tapi dari ekspresinya terlihat dia sangat lelah.
Dia pasti juga, dengan cara dia sendiri merasa sedih atas hilangnya Alas-Ramus.
“Aku tidak apa apa…….ada apa?”
“Eh, itu……..aku traktir kau boleh?  Kita bicara di Eccentric Sihol saja sambil minum kopi? Di sudut itu tempat duduknya masih kosong.”
“Huh? Ah, baik, tidak apa-apa……….”
Mereka berjalan ke Eccentric Sihol itu, Emi memesan kopi, dan Chiho memesan latte susu kedelai.
Emi memilih tempat yang tidak begitu menarik perhatian orang, setelah itu mereka pun duduk, lalu menghela napas.
“Soal tadi pagi, apa kau sudah mendengarnya dari mereka?”
Emi langsung menuju ke topik itu. Chiho dengan sedih menganggukan kepalanya.
“……..aku pergi ke apartemennya sebentar.”
“Begitu ya………”
“Itu………Alas-Ramus-chan, apa benar-benar dibawa pergi?”
“……..”
Emi mengangkat alisnya dengan ekspresinya yang terlihat sangat galau.
Chiho berpikir bahwa ekspresi itu menjawabnya.
“……..kalau saja, aku lebih kuat………”
“Bagaimana mungkin, ini juga bukan salah Yusa-san………..”
“……….kalau aku mempunyai kekuatan yang bisa bertarung dengan Gabriel seorang diri, maka masalah ini tidak akan menjadi seperti ini.”
“Bagaimana mungkin, tolong jangan menyalahkan dirimu lagi……..”
“Tidak, bagaimanapu, ini semua salahku yang tidak punya kemampuan.”
“mama, apa tidak apa-apa? Apa kau perutmu?”
“Yusa-san……….”
“Chi-neecha. Apa mama sakit? Apa dia terluka?”
“Tidak, bukan karena itu. Dia hanya merasa sedih…………..are?”
“hn?”
Seseorang sedang berdiri dekat kaki Emi dan Chiho.
“Huhhhhhhhhhhhhh?”
Chiho mencoba untuk berdiri di tempat; dan menabrakkan lututnya ke meja, hampir menumpahkan latte susu kedelainya.
“Sakit!”
Lalu akhirnya terjatuh karena kehilangan kseimbangan.
“Chi-neecha! Kau tidak apa apa?”
Orang itu menggunakan telapak tangannya yang kecil dan menepuk pipi Chiho.
“Alas-Ramus-chan!”
Chiho yang terkejut berteriak dengan suara yang keras.
"Huh? Tapi bagaimana!? Kenapa? Kenapa Alas Ramus-chan di sini!?"
Chiho mengangkat kepalanya dan melihat, hanya terlihat Emi yang wajahnya memerah dan sedang menepuk pipinya menggunakan tangannya.
“Kau tidak apa-apa! Syukurlah!”
“uwaa!”
Chiho dengan senang memeluk erat Alas-Ramus.
“ta-tapi, kenapa? Maou-san, Suzuno-san, ataupun Ashiya-san, semuanya kira Alas-Ramus-chan dibawa pergi!?”
Chiho sama sekali  tidak ingin menyebut nama Urushihara yang tidak menyenangkan itu.
“……….akup un tidak sangka kalau masalah ini akan jadi seperti ini.”
Emi dengan mempertahankan wajahnya ke samping dan berkata.
Di saat Alas-Ramus bersinar, Emi mulai merasakan sesuatu dari pedang sucinya.
“Alas-Ramus, memakan pedang suci.”
“…….huh?”
Alas-Ramus, makan, pedang suci.
Kata kata yang tidak masuk akal itu, membuat Chiho membuka matanya lebar lebar.
“Seperti menggulung pedang sucinya, dan memakannya seperti roti. Apa kau bisa bayangkan betapa terkejutnya aku saat itu?”
“…………”
Chiho tidak bisa menjawab apapun.
“Yaah, pokoknya sepertinya itu cara Alas-Ramus menggabungkankan dirinya dengan potongan ‘Yesod’. Aku juga Gabriel terkejut sekali.”
“aku sekarang, selalu bersama mama!”
“Lalu ya, pokoknya, walau antara potongan ‘Yesod’ sudah tergabung, tapi karena pedang suci sudah menjadi bagian dari tubuhku, jadi akhirnya jadilah seperti ini……..”
Emi menyembunyikan Alas Ramus dengan tubuhnya jadi orang-orang di kafe tidak dapat melihatnya, dan menaruh tangannya di kening Alas Ramus.
Dan---
“wabu!”
Alas-Ramus kehilangan bentuknya, dan menjadi awan cahaya.
Di saat Chiho merasa terkejut, ditangan Emi terlihat sebuah pedang pendek yang indah.
Sepertinya pedang pendek itu adalah pedang suci, tapi bentuk pedang itu beda sekali dengan bentuk pedang suci milik Emi dulu, dan luarnya juga terlihat sinar permata warna ungu itu menjadi lebih silau.
Di tangan kanan Emi juga terlihat pelindung tangan yang berwarna perak itu, lalu---
“mama, mengejutkan saja.”
Pedangnya berbicara.
“……ber-berbicara……tunggu, apaaa? Apaaa!? Jangan-jangan itu………”
“Ya begitulah.”
“chi-neecha, aku keren kan?”
“…..Alas-Ramus menjadi bagian dari pedang suci dan ‘evil-slaying garment’.”
Chiho terkejut sampai membuka mulutnya lebar lebar.
“Ka-kalau begitu kenapa, kenapa kau tidak memberitahu hal ini pada Maou-san mereka? Maou-san kehilangan semangatnya, lalu akibatnya kemarin dan hari ini tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik loh?”
“Hn, begitu ya? Luka yang dia derita berat juga ya.”
“Tentu saja! Karena dia begitu menyayangi Alas-Ramus chan……..”
“Heheh, maaf. Tapi, bagi dia, sampai seperti ini juga tidak apa-apa.”
Sekejap kemudian, pedang suci yang berada ditangan Emi menghilang, Alas-Ramus sekali lagi muncul di depan Chiho.
“Perlu membuat dia sadar, sesedih apa saat kehilangan sesuatu yang paling dia sayangi.”
Setelah sinar dari perubahan Alas Ramus itu menghilang, Emi dengan lemah lembut mengelus kepalanya.
“Gabriel juga dengan nangis pulang. Huft, karena bahkan dengan kemampuan ‘Wicked Eys Light of the Fallen’nya Sariel tidak bisa merebut pedang suci dari tubuhku, jadi dia juga tidak punya cara lain. Dan sinar ledakan yang dilihat Raja Iblis juga Bell adalah ledakan yang dibuat oleh Gabriel yang marah seperti anak kecil, dan melompat ke ‘gerbang’……..lalu, inilah bagian pentingnya.”
“………heh, be-begitu, ada apa?”
Chiho merasa kurang bisa mengikuti kejadian yang diluar dugaan ini, kemudian Emi lanjut mengatakan :
“Walau Alas-Ramus sudah tergabung dengan pedang suci, tapi seperti yang kau lihat ,dia tetap bisa bergerak dengan bebas.”
“Ya.”
“Lalu ya…….di saat sebelum aku tergabung dengan anak itu……..sepertinya dia salah paham dengan perkataan mengenai aku akan selalu bersama dengan ‘papa’ selamanya………..”
Setelah keheningan yang sejenak, Chiho dengan suara rendah mengatakan :
“Heh?”
“Hari ini saat bekerja, anak ini terus ribut dan bilang ‘aku ingin bertemu dengan papa’ atau ‘papa dimana’. Tapi kalau setiap kali selalu menitipkan anak ini di benteng Raja Iblis, kalau ketemu situasi yang bahaya maka aku tidak akan bisa menggunakan pedang suci.”
“Lalu kenapa?”
“Juga Rika hari ini terlihat sangat aneh, jadinya aku tidak bisa meminta bantuannya.”
“Suzuki-san?”
“Pagi, siang dan juga saat pulang, dia selalu memperhatikan ponselnya.”
Emi kemudian menghabiskan kopinya sekaligus, dan menunjukkan ekspresi yang terganggu akan hal ini.
“Pokoknya kalau terus seperti ini, tidak peduli sebagai pekerja ataupun pahlawan, aku tidak bisa bekerja dengan baik! Padahal harus membasmi Raja Iblis, tapi kalau begitu itu akan menjadi aku membunuh ‘papa’nya Alas-Ramus, pada dasarnya kalau menyimpannya dalam bentuk pedang suci, maka dia akan mulai ribut dalam pikiranku, dan menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari…….aku sudah tidak tahu apa yang harus kulakukan……….”
“penyakit macam apa ini……….”
Chiho mulai merasa sakit kepala karena curhatnya seorang pahlawan.
Biarpun memberitahu Chiho hal-hal seperti ini, dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Walaupun tidak tahu, tapi bagi Chiho sendiri, dia berharap bisa membantu Emi terhadap masalahnya.
“Aku tidak tahu apakah lakukan seperti ini akan menyelesaikan masalah.”
“Apa?”
Chiho kemudian dengan sangat pelan berkata pada Emi :
“Bagaimana dengan pindah ke kamar kosong apartemen Maou-san, setidaknya ini bisa memenuhi permintaan Alas-Ramus-chan.”
“Kalau begitu rasanya seperti aku kalah saja, hanya ini yang tidak mau aku lakukan!”
“Tolong jangan menjadi manja begitu!”
“Tapi……….”
“Pindah ke rumah papa!”
Alas-Ramus tidak peduli pada masalah ‘mama’, juga masalah dunia orang deawsa, dan selalu bersikap semaunya saja.
* * *
“Api unggun lagi?”
Emi dan Chiho dengan bersama datang ke Villa-Rosa Sasazuka saat matahari terbenam memandikan mereka dalam cahaya sore hari, Maou yang berada di bawah tangga apartemen itu, sedang membakar ogara, dan dengan melamun menatap ke asapnya.
“Kenapa kau tidak pelajari kebudayaan Jepang sedikit? Ini namanya api pengirim nyawa.”
“Api pengirim nyawa? Oke…….untuk apa kau bakar ini?”
“……“……Ini untuk mengirim roh nenek moyang kembali ke dunia lain setelah mereka datang ke dunia ini dengan api penyambutan. Umumnya, ini dilakukan pada akhir hari Obon, tapi sepertinya tidak ada yang bermasalah kalau aku melakukannya sedikit lebih awal atau sedikit terlambat.”
Saat ini Maou menghela napas dalam-dalam.
Emi melihat ke Maou yang tangannya memegang foto yang terlihat Maou, Alas-Ramus, juga Emi.
“Alas Ramus datang dengan api penyambutan, karena itulah. Tapi…pada akhirnya, itu juga sia-sia. Kami tidak pernah menggunakannya.”
Maou melihat ke tempat duduk anak-anak yang diikat pada Dullahan No.2, yang memantulkan cahaya putih dari matahari musim panas yang tenggelam.
Ditemani angin lembut, asap mulai menghilang dalam langit.
“Hari ini aku tidak punya tenaga untuk ngobrol denganmu. Pergi saja.”
“Aku tahu. Tapi, hari ini aku datang ke sini karena ingin bertanya 1 hal. Tolong jawab dengan serius.”
“………”
Maou dengan wajah yang tidak tahan dengan semua ini dan terdiam, lalu Emi pun lanjut berbicara :
“Setelah si petualang mendapatkan jimat dari malaikat dan menjadi Raja, apa yang terjadi dengannya?”
“……..”
Maou merendahkan kepalanya, dan terdengar suara mengeluh yang kecil.
“Aku mendengarnya sebagai referensi. Kalau ada setting seperti apapun itu, bisa beritahu aku?”
“Aku tahu, kau datang karena ingin menjahili aku kan?”
“Benar. Anggap saja aku datang untuk menertawai raja iblis yang sedih sekali.”
“Pahlawan dan malaikat, memang kejam ya.”
“Tapi tidak sekejam bila dibandingkan dengan kalian, para iblis.”
Chiho diam tidak mengatakan apapun, dan mengamati percakapan ini.
Awalnya kira Maou akan marah, tapi setelah terdiam sejenak, diapun dengan suara kecil mengatakan :
“………..setelah petualang itu menjadi raja dia pun lupa dengan jimat yang diberikan malaikat. Setelah terjadi beberapa hal, suatu hari si petualang menjadi miskin seperti dulu,dan jimat pun tiba-tiba muncul di depannya lagi. Walau si petualang akhirnya memutuskan kali ini harus menghargai jimatnya itu, namun mungkin karena dia melakukan terlalu banyak hal jahat saat menjadi Raja, akhirnya jimat tetap direbut orang lain. Mungkin”
“Hn, begitu. Tapi kalau begitu, si petualang akhirnya sadar betapa pentingnya jimat itu baginya kan.”
“………memangnya kenapa?”
Maou dengan tatapan yang marah dan galak menatap ke Emi.
Tapi Emi entah kenapa menerima sosok Maou yang tadi itu, dan dengan wajah sedikit memerah memalingkan wajahnya dari pandangan Maou.
“……..huh?”
Maou merasakan sesuatu yang salah saat menyadari sikap Emi yang aneh.
“Kalau begitu, kali ini si petualang pasti akan menghargai jimatnya kan. Menurutmu?”
“Aku juga berpikir begitu.”
Chiho akhirnya mengatakan sesuatu.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?”
Emi yang jelas jelas menyembunyikan sesuatu dan sikap Chiho yang aneh membuat Maou penasaran.
“Huft, walau aku tidak tahu lagi apa harta si petualang, tapi kalau sudah seperti ini, itu pasti barang yang sangat penting kan?”
Emi kemudian dengan cepat menunjukkan tangan kanannya bersinar itu.
“Sekarang kau sudah sedikit mengerti perasaan seperti apa ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat penting kan? Kalau sudah mengerti, kali ini harus jaga baik-baik ya.”
Kemudian di depan Maou yang terkejut tiba-tiba muncul sebuah keajaiban yang kecil.
“papa!”
Maou benar-benar terkejut dengan gadis kecil yang muncul turun dari api pengirim jiwa, dan membeku dengan mata terbuka lebar-lebar seperti dia adalah seekor burung merpati yang baru saja ditembak ketapel.
“Alas…Ramus…? Apa…hei, apa yang……..”
Maou berdiri dengan seluruh tubuhnya gemetar, dan  foto yang berada di tangannya dengan tidak sadar terjatuh.
Harusnya Alas-Ramus sekarang menghilang---
“papa, jangan! Jangan jatuhkan, tanah itu kotooor!”
Dia pun dengan cepat mengambil foto yang hampir terjatuh ke lantai dan memeluknya.
“H-hei, apa benar ini kau? Apa ini benar-benar Alas-Ramus?”
Maou berlutut di tanah dan menepuk Alas Ramus di kepala, wajah, dan bahu sambil dia terus memeluk foto.
“papa jangaaan, ghelhii.”
Sepertinya kosakata ‘geli’ masih agak sulit baginya.
Alas-Ramus kemudian tertawa seperti anak anjing, dan menggunakan satu tangannya memegang erat tangan Maou.
“……..pokoknya begitulah.”
Bahkan kata-kata Emi tidak masuk ke telinga Maou.
“Be-begitu ya,dia tidak dibawa pergi………”
“Awalnya aku ingin membuat kau menderita lebih lama lagi. Tapi Alas-Ramus terus ribut bilang ingin bertemu dengan papa, juga aku tidak ingin melakukan hal yang sama denganmu, dan membuat diriku terlihat seperti iblis, jadinya kubawa saja dia kemari. Berterima kasihlah padaku………..hei,”
Emi kemudian dengan cepat mengatakan hal-hal yang terdengar seperti alasan, tapi kemudian dia panik setelah melihat sesuatu yang tidak dia sangka.
“A-apa… kau menangis?”
“Ah? Hn? Huh?”
Biarpun dibilang begitu, Maou menggunakan tangannya memegang wajahnya itu. Maou kemudian meneteskan air mata yang dia kira tidak akan terjatuh lagi sejak hari dia hampir kehilangan nyawanya.
“Ke-kenapa kau menangis, bukannya kau raja iblis!? Apa kau bodoh!? Hentikan!”
Emi benar-benar cemas dengan reaksi Maou, dan tidak tahu harus bereaksi apa, jadi dia malah mengejeknya.
“papa, apa sakit? Sakitkah?”
Alas-Ramus yang juga sadar air mata Maou itu, menatap ke Maou dengan wajahnya yang hampir menangis.
“Ya, ini itulah, hn, bagaimana bilangnya, tidak disangka, itu………..”
Maou pun menggunakan caranya sendiri untuk mencari alasan, ingin menyembunyikan air matanya.
“Maou-san merasa senang karena akhirnya Alas-Ramus kembali.”
Tapi senyuman Chiho, sudah cukup untuk menjelaskan perasaan Maou sekarang.
“Saat orang merasa bahagia, wajar saja akan menangis kan?”
Maou melihat Chiho dengan tatapan kosong.
“Sekarang kau mengerti satu hal lagi tentang dunia, kan?”
“Chii-neecha, papa tidak apa-apa kan? Perutnya tidak apa-apa?”
Chiho kemudian mengelus Alas-Ramus yang bertanya kepadanya sambil nangis.
“Tenang saja. Papa hanya merasa terlalu senang karena bisa bertemu dengan Alas-Ramus.”
“A-aku tidak menangis!”
Lalu saat ini, Maou dengan sedikit marah berdiri, dan berteriak.
“Si-siapa yang nangis! A-aku sudah tahu dari awal! A-aku adalah papa dari anak ini! Juga soal Gabriel dan pasukan langit kabur, aku juga sudah tahu sejak awal!”
Dia mencoba untuk bersikap kuat, tapi itu bahkan tidak dapat menipu anak SD---
“wapuu!”
Maou dengan kasar menggendong Alas-Ramus.
“Ha-hari ini bahkan aku sudah menyiapkan bagian Alas-Ramus! Hoi! Ashiya, Suzuno! Makan! Saatnya makan!”
Setelah selesai mengatakannya, Maou langsung lari menuju ke tangga, dan tidak peduli dengan api pengirim nyawanya itu.
“……….bisa keras kepala sampai seperti itu, sudah hebat. Tapi soal makan, apakah makan di kamar itu?”
“Kudengar untuk sementara, mereka pergi ke rumah Suzuno untuk makan. Tapi mereka akan kembali ke kamar mereka untuk tidur. Dia mengatakan sesuatu seperti, 'Ini musim panas, jadi lebih dingin di situ'.”
“Memang mirip dengan kata-kata yang akan diucapkannya sih.”
Emi tertawa pahit, dan mengangkat kepalanya melihat ke lantai 2 Villa-Rosa Sasazuka.
Emi terpaksa harus mengakui, setelah melihat reaksi yang rasanya familiar dari ‘Maou’, disuatu tempat yang berada didalam hatinya merasa lega.
Juga teka teki mengenai ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ semakin banyak, juga tidak tahu apa hubungannya dengan ‘Raja Iblis Besar Satan’ yang dibicarakan Maou dan Gabriel.
Kemudian di atas mulai terdengar suara ribut yang diakibatkan oleh Ashiya dan yang lain.
“Tapi……..terjadi masalah yang begitu besar, tidak ada orang melaporkan pada polisi ya.”
“Benar juga……tapi, kudengar orang-orang melihatnya dengan penasaran setiap saat, tapi bangunannya sejak awal sudah tua… Kalau mereka memanggil polisi, hanya akan ada banyak masalah, tapi kurasa mereka akan baik-baik saja.”
"Kau mungkin benar. Akulah yang harus mengurus Alas Ramus karena masa depan yang bisa diperkirakan, jadi kurasa itu bukan masalahku."
“mamaaaa!Chi-neecha! Makan! Makan !”
“Hoi, Alas-Ramus! Kalau seperti itu bahaya! Nanti terjatuh seperti mama !”

Alas-Ramus kemudian berlari ke depan tangga lantai 2 untuk memanggil Emi dan Chiho. Maou yang ikut di belakangnya pun menangkapnya dari belakang.
“Hei, naiklah untuk makan. Makanannya dibuat oleh Suzuno, jadi kami tidak berbuat sesuatu yang aneh dengan makanannya.”
“………bagaimana?”
“Kalau sudah dipaksa untuk menjadi mamanya, tentu saja aku juga harus memperhatikan pola makannya.”
Setelah Emi selesai mengatakannya, diapun dengan sangat berhati-hati berjalan naik tangga.
Emi merasa Chiho sedang ikut di belakangnya dengan senyum simpul. Sepertinya sudah sadar kalau Emi sedang keras kepala.
Sampai saat ini, Emi tetap tidak mengerti apa maskud perkataan Gabriel sebelum dia pergi. Tapi untuk membuat semua orang yang ada di dunia ini menikmati makan malam seperti ini, dirinya yang sebagai pahlawan tidak boleh salah memilih jalan.
Setidaknya Emi yang sekarang berpikir begitu.
* * *
“Anak itu tergabung dengan pedang suci Emilia!?”
“Benar, itu benar sekaliiii! Masalah ini menjadi lebih parah lagi!”
“Parah sekali. Ngomong-ngomong, aku merasa sudah saatnya aku pergi mendekati dewiku. Bagaimana menurutmu?”
“Ah, diriku yang berharap bisa mendapat saran dari kau memang seperti orang bodoh!”
“Jangan begitu marah. Tapi bahkan ‘Wicked Eye of the Fallen’ku pun tidak mempan, jadi aku pikir aku tidak bisa membantumu.”
“Kau benar-benar tidak berguna!”
“Tapi, tidak kusangka Alas-Ramus sebagai ‘Yesod’ akan tergabung dengan ‘Evolving Holy Sword-Better Half’, bukannya situasi semakin buruk?”
“Makanya sudah kubilang aku sangat pusing!? Karena itulah aku merasa kuatir sekarang! Kalau tidak untuk apa aku mencarimu untuk membahasnya! Aku bilang ya, kau juga sadar sedikitlah! Sekarang bukan saatnya tergila gila pada manusia wanita dulu! Uuuh! Aku seharusnya tidak bersikap lunak pada gadis itu!”
“Soal perempuan kau tidak jauh berbeda denganku. Aku tiba-tiba bisa merasakan suatu hubungan aneh denganmu.”
“Sial, rasanya aku ingin sekali meninju orang ini!”
“Jangan begitu. Bagaimana, apa kau tidak merasa dia sangat cantik? Ini adalah fotonya saat dia memainkan sebuah iklan, loh. Di lelangan Wahoo saja bisa sampai 5 ribu yen.”
“Kutinju!”
“Arghh!”
“Bukannya sudah kuingatkan untuk sedikit sadar diri‼”
“Kenapa kau tidak bisa melihat betapa berharganya ini ……….. Huft……..tapi, Emilia itu menggabungkan ‘Alas-ramus’ dan ‘Evolving Holy Sword-Better Half’ dalam keadaan yang tidak sadar kan?”
“Ya, benar! Kalau begitu memang kenapa?”
Sudah malam, di lantai 2 Kentucky Fried Chicken yang sudah tutup yang berada depan stasiun Hatagaya, malaikat besar Sariel sedang makan kentang goreng dan sayap ayam yang sudah dingin, dan berkata pada Gabriel yang panik :
“Kalau begitu kalau bisa menekan ‘sayap’ yang lain, bukannya bisa menghindari kemungkinan paling buruk?”
“…….benar juga. Tapi yang lain itu di mana …….?”
“Hmph! Orang sepertimu yang tidak mengerti hal tentang ini pasti tidak tahu. Apa kau tidak merasa perlu lebih banyak belajar tentang percintaan antara laki-laki dan perempuan?”
“………….”
“Jangan mengepalkan tanganmu dalam diam begitu! Harusnya kau bisa tahu setelah berpikir dengan tenang!”
“Siapa? Maaf, aku sama sekali tidak tahu! Dan kau bertingkah seperti kau tahu semuanya, tapi apakah cintamu pernah membalasmu, walau sekali?”
“Hehehe, itu semua adalah latihan yang kulakukan untuk menakluk hati dewiku…….ah!”
Gabriel tiba-tiba memberi tamparan pada Sariel.
“Kau juga bantulah aku yang selalu membantumu dalam menyelesaikan masalah!”
“Ma-maaf! Maaf! Aku besok masih perlu bekerja, tolong jangan pukul wajahku!”
“Kerja? Apa kau serius…? Tolong sadar siapa kau sebenarnya. Walau tugas merebut kembali pedang suci adalah untuk menebus kesalahanku, dan tanggung jawab tetap ada padaku, tapi kalau kau ketahuan hanya tergila-gila pada wanita dan tidak menyelesaikan misimu, akan ada masalah. Apa kau ingin jadi seperti orang yang kita kenal?”
Gabriel dengan kesal bertanya, Sariel malah menjawab dengan sebelah wajahnya yang sudah bengkak itu :
“Kalau tidak punya keberanian untuk melawan Tuhan ataupun seluruh dunia ini, bagaimana aku bisa menaklukkan cintaku!”
“Aku tidak tahu seberapa seriusnya kau…dan? Siapa orang ini aku akan mengerti kalau aku belajar lebih banyak tentang cinta antara pria dan wanita!?”
“Coba kau pikir, orang yang awalnya membawa pergi Sefirah ‘Yesod’ itu siapa? Kalau kau memikirkan itu, jawabannya pasti langsung muncul di otakmu.”
Sariel sambil menunjukkan senyuman yang terlihat sombong, sambil memegang bagian wajahnya yang bengkak itu.
“Orang itu meberi salah satu sayap pada anak perempuannya. Kalau begitu, bukankah kau bisa tahu kepada siapa dia memberikannya?”
Sariel sambil makan sayap ayam yang tersisa, sambil berkata :
“Nord Justina. Ayahnya Emilia.”


Hataraku Maou-sama! Jilid 3 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.