20 Oktober 2016

Clockwork Planet Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


EXPLORER (07:20)

Saat ini, di permukaan ‘Clockwork Planet’ ini, manusia hidup di atas gir-gir raksasa.
Dan diantara hal-hal tersebut, kota-kota besar saat era lampau–sebelum Bumi dimekanisasi dan dipasangi gir-gir, seperti ibukota negara-negara berkembang, atau pusat kegiatan ekonomi, didesain secara khusus agar memiliki perbedaan yang kentara dari kota-kota biasa.
Multi Grid Tokyo adalah salah satu dari kota-kota unik tersebut.
Kota ini adalah pusatnya Jepang, terbentuk oleh banyak grid-grid kota yang saling tumpang tindih satu sama lain. Kota ini disanjung sebagai kota dengan populasi terbesar di negara ini, juga dalam hal pemerintahan, wewenang, komunikasi, pendidikan serta budaya–seluruh hal itu dipandang sebagai puncak tertinggi di seluruh penjuru negara ini, bisa juga dibilang sebagai kota yang kompleks, sebuah esensi hasil kompresi dari Jepang itu sendiri.
Dan, diantara hal-hal tersebut, pusat dari ‘pemerintahan’ itu sendiri berada di atas Grid Kasumigaseki.
Grid ini adalah kota pemerintahan yang banyak berisi gedung-gedung kementrian, dipelopori oleh Gedung dewan.
Sebuah kota biasa yang damai, dimana semua PNS bekerja dengan tenang.
Tapi pada hari ini, kota ini tampaknya sedang dalam keadaan perang dari tengah malam sampai pagi ini.
Staf Agensi Polisi Nasional dan Biro Pertahanan sedang mondar-mandir kesana kemari, mereka terlihat sangat bertekad, sedangkan Komunikasi Resonansi dipenuhi oleh erangan dan sumpah serapah dari opsir-opsir intelijen dan inspeksi yang tergabung pada biro masing-masing.
Di momen ini, dalam suatu ruangan Senat yang terletak di Kasumigaseki di dalam markas besar partai penguasa, dewan antiterorisme sedang rapat.

“–Jadi? Apa yang terjadi?”
Perdana Menteri saat ini pelan-pelan bertanya.
Dia mengabaikan keributan yang telah terjadi sejak tengah malam, lalu masuk ke ruang rapat dengan leha-leha saat pagi menyingsing; di momen ini, dia sampai di kursi utama dengan santai, lalu memasang wajah ragu.
“Kudengar ada insiden terorisme saat tengah malam. Apa sudah dibereskan?”
“–Pak Perdana Menteri, saya berani bilang kalau situasi sekarang lebih gawat.”
Ketika mendengar respons Kepala Sekretaris Kabinet, Perdana Menteri cemberut dan gelisah.
“Apa ada warga sipil yang terluka? Kalian benar-benar membuatku khawatir. Kabinetnya baru saja didirikan, kalau rating persetujuannya kembali jadi…”
“Bukan itu saja. Saat ini, Grid Akihabara sedang dalam keadaan berhenti total.”
Sang Perdana Menteri kelihatan heran, lalu dia bertanya,
“Apa?”
“Dan saat ini, suatu senjata raksasa dari angkatan militer tidak dikenal sedang menguasai Akihabara.”
Mulut Perdana Menteri ternganga lebar sambil bergumam,
“Sebuah senjata raksasa, tidak dikenal…?”
“Senjata itu bisa dibilang berukuran raksasa–mobile armor darat dengan tingkat DreadnoughtSuper. Sebelum fajar, senjata itu menghadapi Skuad Angkatan Udara ke-7 di Grid Yokosuka, dan menghabisi mereka semua…”
Setelah mendengar laporan ini untuk pertama kalinya, sang Perdana Menteri kelihatan sedikit cemas ketika wajahnya menunjukkan tanda-tanda gelisah.
“Tunggu, kau benar-benar membuatku khawatir. Pesawat-pesawat jet tempur itu lumayan mahal, kan? Padahal baru tahun lalu kita memotong dana pertahanan? Sekarang media pasti akan menyerang keputusan kita saat itu.”
“Seperti yang saya bilang, ada hal yang lebih gawat, Pak Perdana Menteri.”
“Pak Perdana Menteri, tolong dengarkan penjelasannya.”
Kepala Sekretaris partai penguasa menyela dari samping, lalu menunjuk ke arah seorang pria.
Pria muda itu mungkin berumur sekitar 30 tahun lebih sedikit. Perawakannya tinggi tapi terlihat lemah, membuatnya kelihatan sedikit tidak bisa diandalkan. Rambutnya diikat dengan kasual, dia mengenakan jaket kasual dan celana denim. Penampilan yang cukup mencolok diantara para pejabat yang mengenakan setelan jas.
“…Siapa kau?”
Perdana Menteri bertanya dengan curiga. Si pria tersenyum tanpa tegang sedikitpun seraya menjawab,
“Ini adalah pertemuan pertama kita. Nama saya Yuu Karasawa, seorang Meister sipil–saya ditempatkan disini sebagai konsultan untuk Biro Teknologi.”
“Meister…?”
Perdana Menteri kelihatan ragu, lalu Karasawa menunjukkan ‘Chrono Compass’–bukti seorang Meister.
Setelah pemeriksaaan identitas yang sederhana selesai, dia melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum,
“Sejujurnya, situasi saat ini adalah keadaan yang paling buruk. Grid Akihabara sekarang sedang diduduki oleh angkatan bersenjata itu–dan jika senjata raksasa ini menyerbu ke Grid lain, kerusakannya akan terus melebar.”
“Lalu apa lagi yang membuat kalian ragu? Harusnya kalian pergi kesana tundukkan teroris-teroris itu? Inilah alasan kenapa ‘militer’ itu ada, kan?”
Karasawa terus tersenyum meskipun Perdana Menteri kelihatan tidak senang, lalu dia menjawab dengan tenang.
“Tidak segampang itu. Saat aktivitas terorisnya terjadi di tengah malam, angkatan pertahanan ibukota menemukan sebuah senjata raksasa, lalu mereka masuk ke bawah tanah untuk menghadapinya langsung, tapi–mereka semua dibantai.”
“Hah”
“Lalu Skuad Angkatan Udara ke-7 yang ditemabk jatuh menggunakan peesawat CzFG-11 terbaru. Ditambah lagi pilot-pilotnya adalah pilot yang sangat handal, dan mereka adalah angkatan udara terkuat yang dimiliki ‘militer’.”
Dan juga,
“Yang lebih penting, setelah diamati kalau skuad ke-7 ditumpas, ada percobaan menyerang langsung senjata tersebut dengan menggunakan Meriam Pertahanan Ibukota…meriamnya memang mengenai target, tapi kerusakan pada armor target tidak terlalu efektif.”
Perdana Menteri terhenyak keheranan, lalu dia menoleh ke arah Menteri Pertahanan,
“…Bujet Pertahanan tahunan kau habiskan buat apa? Kau tidak bisa memberangus satu sel teroris saja?”
Wajah Menteri Pertahanan memerah, lalu dia menjawab dengan suara kecil,
“Jika boleh saya berpendapat, angkatan bersenjata yang kita miliki hanyalah persenjataan biasa yang berfungsi untuk pertempuran kota. Kita tidak punya kekuatan serang dahsyat yang dibutuhkan untuk menangani skenario seperti ini.”
“Melindungi kota adalah tugas orang-orangmu, kan? Kau membuat pemberangusan satu sel teroris saja jadi terdengar berlebihan begitu, itulah masalahnya.”
“…Tanggungjawab kami disini adalah untuk bertahan dari invasi militer negara asing. Kami benar-benar tidak menduga kalau ada senjata penghancur raksasa yang akan muncul di tanah kami sendiri.”
“Aku tidak tahu apapun tentang masalah militer.”
Sang Perdana Menteri, yang secara resmi adalah Panglima Tertinggi, melanjutkan kata-katanya,
“Apa kau tidak bisa secepatnya hancurkan senjata itu dengan peluru kendali atau semacamnya?”
Karasawa menyela dengan bersahabat,
“–Musuh memiliki kekuatan anti udara yang mampu menghadapi persenjataan mutakhir, lho? Selain itu, armornya cukup kuat untuk menahan tembakan langsung dari Meriam Pertahanan Ibukota. Apa anda mau menembakkan peluru kendali LAMS ke dalam negaramu sendiri?”
“…LAMS?”
“Bom mekanis yang didesain untuk melenyapkan jejak apapun…dalam istilah kuno, bisa dibilang bom nuklir.”
“Ah, ahh…kalau memang begitu, harusnya kau bilang begitu dari awal. Orang spesialis memang suka akronim ya–tidak, tidak. Orang-orang akan memberontak. Apa yang akan ‘militer’ lakukan?”
Perdana menteri langsung menggelengkan kepalanya, lalu Karasawa memberitahunya, suaranya jelas terdengar kuat di titik ini.
“Kesimpulannya, situasi sekarang adalah kita tidak mungkin mengalahkan angkatan militer itu dengan kekerasan saja.”
“Aku akan kesulitan kalau kau bilang begitu. Itu cuma ketidakcakapan ‘militer’ saja, kan? tanggungjawabnya–”
“Tidak masalah siapa yang harus bertanggungjawab disini.”
Kepala Sekretaris Kabinet menyela dengan dingin.
Dia dikatakan sebagai seorang politisi dengan daya tahan seperti baja. Di momen ini, dia pun tidak bisa menyembunyikan wajah dan suaranya saat kesuraman mulai muncul di wajahnya.
“Anda paham? Saat ini, Grid Akihabara mengalami kerusakan fungsional karena senjata teroris. Malahan, sudah tidak ada bedanya lagi dari hancur. Jika kita biarkan saja, hanya masalah waktu saja sebelum Grid lainnya ikut rusak. Kita tidak punya pilihan selain menangani hal itu dengan segera.”
“Aku sudah bilang kalau ‘militer’–”
“Situasi saat ini telah sampai di titik dimana kekuatan tempur ‘militer’ tidak bisa menyelesaikan hal ini. Karena itulah kita harus memikirkan tindakan penanggulangan, dan keputusan anda mutlak diperlukan, Pak Perdana Menteri.”
“Keputusanku?”
“Kita harus buru-buru menghapus Grid Akihabara. Saya meminta izin anda.”
Kata-kata Kepala Sekretaris Kabinet menyebabkan Perdana Menteri terhenyak.
“Apa yang kau katakan di saat seperti ini? Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu?”
“Tidak ada cara lain.”
Di titik ini, senyum Karasawa lenyap untuk pertama kalinya. Dia mengangkat tangannya dan berdiri, lalu menyela mereka,
“Ah, permisi. Sebagai konsultan, menghapus Grid Akihabara bukanlah hal yang ingin saya rekomendasikan…”
Kepala Sekretaris Kabinet menolehkan kepalanya, lalu menatap tajam ke arah Karasawa.
“–Alasannya?”
“Akihabara bukan hanya satu kota saja. Secara struktural, Akihabara adalah bagian penting dari fungsional Multi Grid Tokyo. Menghapus Grid Akihabara pasti akan berpengaruh terhadap Grid-Grid lainnya.”
“Tapi penghapusan kan memang seperti itu?”
Kepala Sekretaris Kabinet mengingatkan dengan ketus.
“Dan juga, bisa dibilang Akihabara sudah hancur karena senjata itu, berdasarkan perkataan mereka, hal itu akan mempengaruhi Grid-Grid lain sekarang, iya kan?”
“Tentu saja itu benar. Kegagalan fungsional Akihabara di titik ini telah membebani Grid lainnya sekarang.”
“Berapa lama kita bisa membiarkannya?”
“Kondisinya masih baik kalau hari ini atau besok, tapi setengah tahun lagi sih sudah berbeda.”
“Seberapa banyak perbaikan yang bisa dilakukan di Akihabara selama setengah tahun?”
“Kita harus mengamati tingkat kerusakannya. Mungkin akan sulit diketahui di titik ini, tapi dengan bantuan penuh dari ‘Guild’, saya bisa bilang kalau tidak mustahil jika–”
“Tidak ada hal yang perlu dibicarakan disini.”
Kepala Sekretaris Kabinet memotong kata-kata Karasawa.
“Aku tahu kau mau membanggakan kemampuan sarang lamamu, tapi aku tidak bisa membiarkan anda mempercayai pengamatan tidak jelas seperti itu dan mengabaikan kenyataan yang anda hadapi–Perdana Menteri!”
Sang Sekretaris mengabaikan keberatan Karasawa sambil memaksa Perdana Menteri mengambil keputusan.
Pemandangan ganas itu menyebabkan Perdana Menteri merasa sangat terintimidasi. Dahi Perdana Menteri sampai mengucurkan keringat, tapi dia terguncang dan menyuarakan penentangannya.
“Tapi…bagaimana dengan masyarakat? Bukannya hal seperti ini terjadi beberapa hari lalu? Jika kita melaksanakan penghapusan paksa di situasi seperti ini, reaksi sosialnya…akan buruk, kan?”
“Sudah lebih dari 8 bulan sejak insiden ini terjadi di tengah malam. Dari awal, Akihabara adalah Grid yang ditinggali sedikit orang, dan mereka semua sudah dievakuasi.”
“Sebentar, Sekretaris! Keputusan itu terlalu terburu-buru!”
Seorang senator wanita, Menteri Urusan Luar Negeri, tiba-tiba berseru.
“Masih ada kemungkinan Akihabara bisa dipulihkan, kan? Dan kita masih belum tahu pasti siapa yang sedang kita hadapi dan apa tujuan mereka.. Bukannya kita harus bernegosiasi dengan komplotan kriminalnya dulu?”
“Apa sekarang waktunya berpikir dengan santai begitu? Aku berpendapat kalau kita harus mengambil tindakan tegas. Mungkin masalah akan timbul di masa depan, tapi bukannya prioritas kita adalah menangani situasi saat ini?”
“Menghapus Akihabara bukan hanya masalah bagi negara kita saja! Reaksi negara lain juga akan–”
“Jika kita bisa cepat menangani situasi saat ini, kita bisa memberikan penjelasan tentang tindakan kita apapun yang terjadi nanti.”
“Apa yang anda bicarakan!? Pilihan seperti itulah yang menyebabkan administrasi pemerintah sebelumnya runtuh, kan? Jika kita bertindak kejam disini, pasti negara lain akan mengecam kita!”
“Sudah tugasmu untuk menangani hal itu, kan?”
“Saya tidak bisa menyetujui pemikiran seperti itu! Pertama, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan da–”
Kepala Sekretaris Kabinet dan Menteri Luar Negerti saling bersahut-sahutan.
Sedangkan Perdana Menteri, yang terhimpit diantara keduanya, kelihatan mencolok.
Wajah gelisah itu praktis mengatakan ‘bagaimana dengan pemilu nanti?’

(Apa aku salah datang kemari…?)
Sedangkan Karasawa, yang sedang bersandar di kursinya, hanya bisa bergumam dalam hati.
Dia, yang dianggap sebagai orang luar, hanya bisa menonton percekcokan mereka sambil menghela napas kesal.
–Hal yang tidak pantas bagi mereka.
Pria yang berwenang benar-benar tidak kompeten, tidak bisa berpendapat, dan tidak bisa mengambil keputusan apapun.
Pria yang bisa memahami situasinya dengan akurat bisa dibilang lebih proaktif, tapi idenya terlalu radikal.
Dan wanita yang memahami situasinya adalah seorang idealis, dan sepertinya dia tidak mungkin melakukan tindakan konkrit apapun.
–Tidak ada yang berubah sejak seribu tahun yang lalu.
Tidak, barangkali sejak 2000 tahun lalu memang sudah seperti ini. Inilah ‘politik’.
Tempat lamanya, ‘Meister Guild’–sebuah organisasi non-profit yang bekerja melampaui batas negara, tidak sepenuhnya lepas dari hal ini.
Barangkali permainan kekuatan seperti ini adalah bagian dari tabiat manusia…
Karasawa mengamati mereka dengan tenang, lalu menyipitkan matanya.
(Aku penasaran apa Profesor Marie…dan Profesor Conrad baik-baik saja…)
Dia telah memahami situasi dari ‘Insiden Teroris Akihabara’ yang terjadi malam tadi dengan akurat.
Atau lebih tepatnya, dia adalah salah satu komplotan yang terlibat untuk membersihkan kekacauan tersebut.
Pekerjaannya sebelumnya adalah anggota cabang Komunikasi dari Divisi Pertama ‘Meister Guild’, tim kedua–tim yang dipimpin oleh Marie.
Dan dia setuju untuk langsung membantu karena Marie meminta bantuannya…
(…Tapi situasi ini sudah melenceng dari apa yang kami bicarakan.)
Dia tidak pernah menunjukkan emosi apapun, hanya bergumam dalam hati.
Mengesampingkan senjata raksasa itu, kehancuran Grid Akihabara tidak ada dalam rencana mereka.
Dengan kata lain, rencana mereka telah gagal.
Sedangkan tentang bagaimana cara mereka menangani hal ini, mereka akan menghubunginya sebentar lagi–
Karasawa menyaksikan pertengkaran ini terus berlanjut, lalu menghela napasnya untuk kesekian kalinya hari ini.
“Aku penasaran apa aku akan dapat bayaran lembur…”

Matahari menggantung tinggi di langit.
Cahaya mentari yang menyilaukan terasa hangat, bersinar terik merata ke seluruh kota.
Tapi meskipun hari sudah siang, ada beberapa tempat yang tidak bisa dijangkau cahaya mentari.
Di jalanan bawah tanah yang berantakan dan berdebu di sudut Grid Ueno–meskipun tampaknya area ini cukup ramai saat malam hari, saat ini tidak ada orang disana, suasana yang sunyi, dengan toko-toko tertutup shutter dengan rapat.
Tapi di waktu dan tempat seperti ini pun, ada sebuah toko yang masih buka.
Gir neon yang sederhana berputar dengan malas, menunjukkan dekorasi toko yang kotor tersebut.
Tidak ada pintu masuk di toko ini. Orang bisa mendengar semacam musik ringan dari dalam, tapi toko ini didesain supaya tidak ada orang yang bisa mengintip ke dalam dari luar toko.
Tiga sosok manusia berdiri di depan toko ini.
Salah satu dari mereka adalah seorang pemuda yang sangat amat lemah–Naoto, lalu dia menggumamkan nama toko tersebut dengan lirih.
“Strip the Ueno…?”
Marie langsung menurunkan pandangannya.
Poster lama yang ditempel di dinding memasuki penglihatannya.
“Sebuah replika 150%! Segalanya, sebuah putaran penuh dimana segalanya bisa dilihat–!”
Dan bersama dengan tulisan yang menggoda tersebut, ada sebuah gadis automata seumuran Marie, yang sedang berpose begitu menggoda atau bisa dibilang berpose merangsang yang melampaui apa yang didefinisikan sebagai rasa malu oleh akal sehat Marie, serta mengotori kesadaran moral umumtentang hal-hal yang berhubungan dengan seks.
“–!”
Marie langsung memalingkan wajahnya.
Sepertinya ada sesuatu…tidak, orang bisa bilang kalau semuanya itu kotor, mesum dan jorok. Bisa dibilang kalau dia merasa sangat terhina oleh hal tersebut. Marie tidak mau memikirkan apapun mengenai ‘replikasi’ 150% pada automata tersebut.
AnchoR sedang menggendong RyuZU di punggungnya, lalu bertanya ingin tahu,
“Papa? Toko apa ini…?”
“Ah, yah, umurmu selalu belum cukup buat toko ini, jadi kamu tidak perlu bertanya~…”
Naoto hanya menjawab begitu, lalu dia berbisik pada Marie di sampingnya,
“Yah…hei, apa ini benar alamatnya?”
“…Kayaknya, sih…ya, benar ini alamatnya.”
“Tapi Marie.”
“Jangan bilang.”
“Biarpun kau tidak mau, aku akan mengatakannya. Bagaimanapun juga, toko ini terasa seperti R18, kan!?”
“Entahlah!? Sejauh yang kutahu, alamatnya mengarah kesini!”
Marie berteriak, wajahnya memerah.
Dua orang tersebut saling berseru saat mereka berdiri di luar toko ini, yang jelas terlihat seperti toko fetish gelap.
Dengan kata lain, sebuah klub telanjang.
Toko ini bukanlah toko dimana wanita telanjang menari-nari. Automata ‘mainan’ akan mengenakan pakaian yang sangat amat mesum, menari erotis untuk penonton, dan menyediakan servis-servis mesum–toko ini adalah sebuah klub yang mirip dengan sebuah reaksi kimia, dimana penyimpangan dalam masyarakat modern bereaksi kimia dengan kelompok penggemar seni dengan selera yang elok.
Tentu saja, Marie tidak akan melirik tempat seperti ini, apalagi mengunjunginya–
Tapi berapa kalipun mereka memastikannya, disinilah tempat yang dituju mereka atas instruksi Conrad, tempat berkumpul dalam hal darurat.
Dan di momen ini, seseorang keluar dari toko tersebut, barangkali dia mendengar keributan diluar.
Orang itu adalah seorang pria tua yang lemah lembut dan mengenakan setelan yang elok.
“Profesor Marie–syukurlah. Apa anda baik-baik saja?”
Marie membeku sepenuhnya.
Tentu saja, orang yang berdiri di sana adalah Conrad. Monocle unik yang memantulkan cahaya berwarna dari gir neon–dan benda itu sama sekali tidak cocok dengannya.
“Profesor Marie, apa yang terjadi!? Apa yang sebenarnya–”
Itulah yang ingin kutanyakan, pikir Marie.
Tidak, ada terlalu banyak hal untuk dibahas dan diberitahukan, Marie merasa lega setelah bertemu dengan pria tua ini. Tetapi–karena tempatnya seperti ini, dia benar-benar tidak bisa merasa senang sama sekali.
Merasa sangat letih, Marie bertanya,
“Erm…Profesor Conrad, disini…ada bahan material…, kan?”
“Tentu saja. Sekarang, mari kita masuk.”
Darimana ‘tentu saja’ itu berasal…?
Marie tidak mengerti, tapi mereka tidak bisa membahas apapun disana, dan dengan ajakan tersebut, dia masuk ke dalam toko.
…Namun, dia benar-benar harus mengerahkan keberaniannya hanya demi untuk melangkah melewati ambang pintu.
Dia mendengar instruksi hati-hati Naoto buat AnchoR dari belakang.
“AnchoR, tempat ini tidak baik bagi kesehatan mentalmu, jadi kamu harus menunduk terus.”
“…? Saya mengerti…”

“–Hm, Begitu ya…lebih serius dari dugaanku.”
Conrad berujar dengan tegas sambil berjalan di depan, tapi sejujurnya, Marie tidak bisa mendengarkan perkataan apapun.
–Ruangan ini dipenuhi dengan ahan’ufun yang pastinya membuat seluruh suasana tegang menjadi lenyap.
Sederhananya, toko ini sama seperti apa yang Marie duga, dan juga diluar dugaannya.
Cahaya merah memenuhi toko ini, dan lampunya sedikit redup. Area dimana automata akan menari di panggung tidak ditutupi. BGM yang dimainkan di dalam terdengar intens dan eksotis.
Isu selanjutnya adalah sofa kulit yang diletakkan di sepanjang lorong.
Kemungkinan besar sofa itu adalah kursi untuk para penonton. Karena tirai yang menutupinya, orang sulit mengintip ke dalam.
–Tapi kenapa ada sebuah ‘kaki’ yang menjulur keluar di atas tirai itu? Postur tubuhnya seperti apa!? Suara deritan apa yang keluar dari sofa itu? Apa artinya ‘aku klimaks’? Keajaiban macam apa sampai-sampai celana dalam wanita itu tiba-tiba terbang di atas kepala mereka!?
–Dekaden. Buruk sekali. Tidak bermoral!!
Wajah Marie merah padam saat matanya tetap memandang ke depan.
Tapi sesaat kemudian, dia melihat sebuah automata dengan tubuh aduhai sedang memamerkan asetnya yang luar biasa, lalu melancarkan kedipan yang erotis.
Marie memandang ke kejauhan tanpa berkata-kata.
Automata kakak perempuan tersebut berpose menggoda ke arah Conrad, lalu mendekati Naoto yang bertingkah aneh, begitu tegangnya sampai-sampai tubuhnya membeku seluruhnya.
“Woah!?”
Naoto memekik, karena pantatnya dielus.
AnchoR, yang menunduk ke bawah dengan patuh sambil berdiri di samping Naoto, bertanya karena bingung,
“…? Papa, ada apa?”
“Ah, ahwawa…anak kecil jangan lihat!”
“Kau, juga, jangan melihat! Malahan, dari awal aku sendiri juga tidak terbiasa dengan hal seperti ini!”
Marie mau tidak mau menyela.
Ketika mendengar reaksi Marie, Vermouth, yang sedang diapit ketiak Marie, mengejek,
“Hahaha, rileks, Non. Apa ini kali pertama kau datang ke toko seperti ini? Kudengar kau ganti pekerjaan jadi teroris? Sekarang kau tidak perlu khawatir soal hukum-hukum yang membosankan.”
“Bukan itu masalahnya!”
–Aku benar-benar tidak mungkin bilang kata ‘mesum’ di depan Profesor Conrad’.
Setelah melewati ruangan yang tidak sehat tadi, kelompok tersebut masuk ke dalam ruang di belakang. Mereka lalu berjalan menuruni tangga menuju basement, dan di ujung basement tersebut, ada sebuah ruangan yang luas.
“Kita sudah sampai. Tapi disini tampak berantakan sih.”
Mereka sampai di ruangan yang kelihatan jauh lebih layak daripada ruangan diatas.
Tidak ada benda mesum yang bisa mereka lihat atau sentuh. Lampunya menyala putih, dan tidak ada musik gaduh yang terdengar. Dalam ruangan ini ada kasur sederhana, sofa, meja dan peralatan sehari-hari sederhana.
Jauh di dalamnya ada pintu yang tebal. Kelihatannya di balik pintu tersebut ada sebuah bengkel.
Setelah menenangkan dirinya, Marie menghirup napas dalam-dalam.
Lalu, dia menanyakan hal yang sangat ingin dia tanyakan.
“Aku ingin memastikan situasinya…Profesor Conrad. Tapi sebelumnya, boleh aku bertanya sesuatu? Kenapa tempat ini?”
Conrad kelihatan bingung mendengar pertanyaan ini.
“Tempat ini bagus, kan? Seperti yang anda suka, kan?”
“Kau pikir aku suka tempat seperti ini?”
Marie membantah dengan dingin, lalu Vermouth tertawa kecil dan berkata,
“Benar kan? Toko ini cukup bagus. Tolong izinkan aku berkunjung bersama dengan tubuh bagian bawahku lain kali.”
“Aku akan berikan kupon nanti. Diskon satu hari penuh juga bisa.”
Conrad berujar dengan bersahabat, lalu Vermouth kembali tertawa kecil,
“Kau benar-benar pengertian, berbeda dari kesan penampilanmu, pak tua. Sekarang, aku akan benar- benar berterimakasih jika kau memberiku rokok.”
“Maaf. Aku berhenti merokok dari beberapa tahun yang lalu.”
“Sayang sekali. Tembakau adalah tugasnya laki-laki, pak tua.”
“Dengan umurku yang segini, aku sudah senang dengan segelasScotch[1].”
“…Profesor Conrad!”
Marie melotot ke arah pria tua tersebut dengan wajah sengit.
Conrad mengangkat tangannya tanda menyerah, lalu memberitahunya dengan lembut,
“Toko ini milik kenalan saya.”
“Profesor Conrad!?”
“Ya, bos tempat ini adalah kenalan lama saya, dan kadang dia mentraktir saya minum. Sebagai bayarannya, saya disuruh merawat gadis-gadis ini, tahu? Singkatnya sih begitu.”
“Mustahil. Tangan seorang Meister digunakan untuk hal seperti ini…!?”
Marie membelalakkan matanya karena terkejut.
Conrad merasa geli melihat gadis ini yang dia anggap seperti cucunya sendiri, lalu dia mengangkat bahunya,
“Tampaknya mereka lumayan populer karena keahlian menari mereka telah meningkat. Tentu saja, bos mengizinkan saya menggunakan tempat ini sebagai tempat bernaung dengan senang hati.”
Selain itu, tambah Conrad dengan misterius,
“Saya tidak bisa mengatakannya keras-keras, tapi tempat ini juga tempat pelelangan ilegal untuk automata.”
“–Hah?”
“Dengan kata lain, tempat ini adalah pasar gelap untuk automata primer dengan suku cadang ilegal tambahan yang ditujukan untuk para pria. Tempat ini melibatkan banyak organisasi, dan mereka akan menutup mata tentang hal ini, jadi tempat ini cocok untuk menyembunyikan sebuah bengkel.”
“Wow, pemerintah memang korup ya…”
Naoto bergumam dengan tidak senang.
Marie merasa kepalanya seperti ditimpuk dengan benda berat saat dia menangkup kepalanya, lalu dia meghela napas,
–Benar, alasannya memang masuk akal.
Sudah bisa diduga kalau orang Inggris seperti Profesor Conrad, yang punya sebuah bengkel di Grid Akihabara, akan memiliki banyak relasi di negara asing yang jauh seperti Jepang.
Bengkelnya sih kalah dari bengkel sungguhan, tapi perlengkapan sederhananya tersedia. Meskipun mereka tidak mengharapkan perlengkapan militer, tentu saja ada banyak suku cadang ilegal yang lebih superior.
Tapi sejujurnya…
(Biarpun itu memang benar…aku tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja!?)
Sampai saat ini, Marie membayangkan Conrad sebagai pria tulen , seorang senior yang pantas dihormati. Sebagai seorang teknisi, dia mempelajari banyak hal dari Profesoror Conrad ini–
Tapi karakter lamanya yang jarang dia tunjukkan adalah orang mesum…!
Setelah menyadari kenyataan ini, Marie merasa sangat putus asa, praktis kakinya mulai roboh.
“Yah…mengesampingkan hal itu.”
Dia menggelengkan kepalanya, lalu menguatkan dirinya. Ada masalah yang lebih penting saat ini.
Marie mengangkat sebuah kepala yang dia apit di ketiaknya–kepalanya Halter lalu berkata,
“Pokoknya, tolong bantu mempertahankan hidupnya, oke? Masih ada daya magnetnya sih…tapi kalau otak di dalamnya baik-baik saja, dia mungkin bisa diselamatkan saatcasing luarnya diganti.
Tentu saja, premisnya adalah selama Halter masih hidup, tapi Marie tidak mengatakannya.
–Seperti yang Vermouth katakan, dia masih hidup adalah sebuah keajaiban, karena kepalanya panas akibat daya magnet. Life support milik Halter bisa saja rusak sebelum diaktifkan–Marie tidak mau berpikir begitu, tapi otak Halter mungkin saja sudah mati. Marie tidak bisa menjamin sama sekali–apakah Halter masih hidup atau tidak.
Conrad mengangguk paham dan berkata,
“Hm…Saya rasa kita butuh transplantasi otak. Diantara dokter ilegal yang saya kenal, saya tahu satu yang ahli dalam hal seperti ini. Saya akan segera mengatur urusannya.”
“Tolong ya. Selain itu…”
Marie merasa ragu, lalu berkata,
“–Profesor, apa kau bisa mendapat suku cadang untuk tubuh Halter? Dalam 2-3 jam…tidak, dalam 1-2 jam.”
“…Saya rasa itu tidak mungkin untuk sekarang.”
“–”
“Pertama-tama, mendapatkan ‘prostetik militer’ itu sangat amat sulit di situasi ini, dan juga berbahaya. Sejujurnya, tadi ada detektif berpakaian normal yang baru saja mampir, dan melewati kalian semua. Tempat ini bukanlah pasar militer, dan berhubungan dengan para politisi.”
“…”
“Kemungkinan besar para penjual pasar gelap di Tokyo sedang diselidiki. Saat ini, mendapatkan suku cadang militer di Jepang adalah hal yang mustahil. Tepat ketika kita mendapatkan suku cadang tersebut, kita akan langsung diintai.”
“Begitu, kah…?”
Kalau begitu, apa yang bisa mereka lakukan?
Marie tahu betul kalau harapannya memang tipis, tapi hatinya masih tertohok ketika Conrad menunjukkan faktanya.
Saat melihat Marie berwajah muram seperti itu, Conrad menghiburnya dengan lembut,
“…Pertama-tama, kita harus cepat-cepat meletakkan otaknya dalam alat penyokong kehidupan. Kita akan pikirkan prostetiknya nanti.”
“Oke. Kuserahkan padamu.”
Conrad menerima kepala Halter, lalu segera meninggalkan ruangan tersebut.
Marie lalu menepuk-nepuk wajahnya.
Tidak ada waktu untuk dibuang-buang. Dia membalikkan badannya, lalu bicara pada Naoto, yang ada di salah satu sudut ruangan tersebut.
“Naoto, bawa RyuZU ke dalam bengkel. Dan juga…gunakan suku cadang apapun yang cocok digunakan sebagai kipas lalu dinginkan tubuhnya.”
Naoto mengangguk, dan bertanya dengan terkejut,
“Ahh…tapi bukannya pake air atau es akan lebih cepat dingin?”
“Duh…apa sih yang kau pelajari di sekolah? Kalau kau mendinginkan benda panas terlalu cepat, benda itu akan retak atau penyok–diagnosisku adalah kau harus melakukan hal ini demi RyuZU, jadi percayalah padaku.”
Marie berkata begitu, tapi dia bertanya-tanya,
–Aku baru saja bilang hal yang tidak masuk akal, tapi–
AnchoR merasakan tatapan Marie, lalu mengangkat kepalanya dengan gugup,
“? Mama?”
“Jangan panggil begitu.”
Marie mengingatkan dengan singkat, lalu mengalihkan matanya.
Instalasi anti daya magnet Halter adalah yang terkuat di dunia ini. Instalasi tersebut didesain supaya dalam waktu sebentar, Halter dapat tetap berfungsi di dalam medan elektromagnetik artifisial yng diciptakan oleh filter elektromagnetis ‘Planet Governor’.
Namun, EMP dari senjata itu menembus filter tersebut dengan mudah.
Dengan mempertimbangkan fakta bahwa kedua automata ini dapat dengan mudah menolak medan elektromagnetik sekuat itu, dan bahkan melenyapkan daya magnet mereka sendiri–hanya ada satu kesimpulan.
–‘Y’ sudah mempertimbangkan ide ‘serangan elektromagnetik’ dari awal.
Benda yang kelihatan imut ini, yang sedang memiringkan kepalanya dengan ragu sambil mengatakan hal-hal tidak masuk akal, adalah bukti yang nyata. Kalau begitu, RyuZU mungkin bisa diperbaiki setelah tubuhnya mendingin–danMarie yakin akan hal itu.
“–”
…Tolol sekali.
Prostetiknya Halter–realisasi dari kecakapan penuh keluarga Breguet dalam bidang teknologi, tidak bisa bertahan melawan magnet, tapi sebuah barang antik yang dibuat 1.000 tahun lalu bisa terus berfungsi seperti tidak ada apa-apa?
–Lalu apa yang sudah kami lakukan sampai saat ini?
Marie merasakan kesia-siaan dari seluruh teknologi yang dia pelajari sampai saat ini, rasa dipermalukan, dan seberapa tidak bernilai dirinya ini ketika emosi-emosi tersebut menyerang kalbunya.
Namun, dia tidak bisa menampakkan emosi-emosi tersebut, karena dia tidak pantas bertingkah begitu.
Dia menahan emosi-emosi mengesalkan itu dalam dirinya, lalu menghela napas, dan masuk ke dalam bengkel.

“…Heh?”
Setelah melirik sekilas ke dalam bengkel tersebut, di luar dugaannya, di dalam bengkel tersebut ternyata ada perlengkapan yang tidak buruk.
Ada beberapa model yang sedikit kuno, tapi ada mesin kerja yang bisa digunakan untuk memotong dan membuat suku cadang, lalu ada gantungan untuk menggantung automata, dan meja kerja buat digunakan teknisi profesional.
Untuk bengkel pribadi, bengkel ini bisa dibilang fasilitas terbaik yang mungkin.
“Seperti yang kuharapkan, Profesor Conrad…”
Barangkali Marie harus melupakan kenyataan kalau tempat ini digunakan untuk memperbaiki automata penari di atas sana.
Naoto mengikuti Marie dari belakang, dan bertanya memastikan,
“Oi Marie. Apa gantungan ini dipakai buat menggantung RyuZU?”
“Yatentu saja.”
“Baiklah–kalau begitu, AnchoR, saya serahkan padamu.”
Oke, AnchoR berkicau riang seraya mengangkat kakaknya ke gantungan yang paling dekat dengan meja kerja, lalu menggantung tubuhnya disana.
Setelah RyuZU diletakkan di tempat yang terang, terlihat jelas kalau tubuhnya mengalami kerusakan parah.
Kerusakan terbesar yang dia alami ada di bagian perutnya. Pakaiannya, dan bahkan kulit artifisialnya meleleh dan memudar, menampakkan bagian dalamnya. Kabel yang sangat bagus yang tampaknya adalah urat saraf telah putus, teronggok seperti buntelan. Suku cadangnya kelihatan telah mengalami kerusakan yang cukup serius, dan kerangka tulang belakangnya bisa terlihat tanpa membedah perut RyuZU.
Kebengkokan kerangkanya jauh lebih parah dari yang Marie perkirakan. Jika dia membiarkan RyuZU memperoleh kembali mobilitasnya tanpa membetulkan hal tersebut, kemungkinan besar RyuZU tidak akan bisa bergerak.
Jika permukaannya tampak begitu rusak parah, sejauh mana kerusakan di bagian dalamnya?
Naoto juga menyaksikan RyuZU dengan gelisah.
Kerusakan RyuZU tampaknya membuatnya merasa lebih kesakitan daripada luka bakarnya sendiri, tapi selain itu–ada sesuatu–
“…Papa, apa kakak…bisa diselamatkan?”
AnchoR bertanya dengan hati-hati.
Naoto langsung mengubah ekspresinya, lalu tersenyum ke arah AnchoR.
“Tentu saja! Kita melakukan hal ini karena RyuZU membutuhkannya. Tentu saja dia akan selamat. Kamu tidak perlu khawatir, AnchoR.”
Sambil berkata begitu, Naoto mengelus kepala anak yang menjatuhkan bahunya dengan sedih.
–Meskipun tangan yang dia gunakan adalah tangan yang menderita luka bakar.
Marie sedikit menghela napasnya, lalu kembali ke ruangan sebelumnya, membuka kotak P3K yang terletak tepat disamping pintu, mengambil sesuatu dari dalamnya, dan kembali ke bengkel.
“Hei, kau harus mengobati luka bakarmu.”
Marie mengambil suntikan dari kotak, sambil bicara pada Naoto,
“Ini adalah nanobot yang digunakan untuk pengobatan medis. Kalau kau tidak mau mati karena nanah dari luka bakar itu, buka bajumu dan duduk disana.”
“…Ah, makasih.”
Setelah berterimakasih singkat, Naoto menurut dengan patuh.
Dia meringis saat dia menanggalkan bajunya yang terbakar dengan pelan-pelan, lalu duduk di tempat yang ditunjuk Marie.
Marie melepas membrane di ujung suntikan tersebut–yang setebal kaleng jus, lalu mengingatkan dengan dingin,
“Akan kukatakan dulu, kupikir kau tidak akan bisa diobati sepenuhnya. Akan ada bekas lukanya–kalau kau tidak mendapat kulit artifisial atau cangkok kulit.”
“Tidak masalah. Kemungkinan paling bagusnya adalah aku bisa bergerak.”
Marie menghela napasnya.
Dia mengarahkan suntikan tersebut ke luka bakar di punggung Naoto yang parah seperti dugannya, lalu mulai menyuntikkannya.
Suntikan tanpa jarum tersebut mulai menyuntikkan banyak nanomesin yang digunakan untuk pengobatan medis bersama dengan cairan di dalam suntikan tersebut. Nanomesin-nanomesin tersebut memiliki efek untuk mengatasi infeksi, meningkatkan regenerasi dan pengganti fungsi tubuh.
Sejujurnya, di titik ini, Marie hanya menjajaki saja.
Nanomesin medis tersebut sangatlah manjur, tapi setelah disuntikkan, orangnya akan mengalami rasa sakit yang tajam.
Dan Marie tidak memperingatkan Naoto akan hal ini.
Saraf-saraf tubuh mulai dari otot sampai kulit akan dipengaruhi oleh nanomesin tersebut, dan sebagai hasilnya, Naoto akan merasakan sakit yang hebat. Bahkan seorang pria dewasa akan menjerit kesakitan akibat sensasi yang tidak bisa ditahan ini, tapi Naoto tidak pernah mengerang sedikitpun saat dia disuntik.
Marie tidak mengira kalau Naoto tidak merasakan sakit.
Buktinya adalah wajah Naoto mengernyit, dan dia mengepalkan tangannya dengan kuat sambil gemetar.
Namun, Naoto tidak pernah mengerang sampai saat terakhir, dan dia hanya mengembuskan napasnya dengan kuat.
“Tunggu. Akan kucarikan pakaian yang pantas.”
“Ah, maaf ya. makasih.”
Karena merasa semacam terpukul, Marie keluar dari ruangan tersebut.

Itu semua karena Marie bilang kalau mereka harus melakukan hal ini sampai-sampai Naoto menyeret RyuZU yang amat panas serta membawanya kemana-mana.
Ekspresi yang ditunjukkan Naoto, apa yang dia katakan, serta tingkah lakunya terlintas berulang-ulang dalam pikiran Marie.
…Kemungkinan besar.Pikir Marie.
Tidak, bukan itu. Tentunya, kalau orang itu, si idiot besar itu–
–Kalau dia merasa kalau suatu hal ‘perlu’ dilakukan, dia akan memotong anggota tubuhnya sendiri tanpa ragu.
Marie merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Ekspresi itu, wajah itu, semua hal itu terekam dalam pikirannya, semakin meneguhkan apa yang dia percaya.
Hal ini berbeda dari kesadaran akan hal tersebut–hal ini terasa seperti ‘begitulah kenyataannya’, dan hal ini entah kenapa–

Setelah akhirnya menemukan baju ganti, Marie kembali ke dalam bengkel dimana Naoto dan yang lainnya berada.
Dia menyerahkan kaos bergambar logo teater, barangkali baju kampanye sesuatu, pada Naoto.
Naoto mulai mengenakan kaos tersebut saat suatu hal terlintas dalam pikirannya, lalu dia pun bicara,
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan paman disana?”
Naoto sedang menatap ke arah kepala hidup yang dilemparkan begitu saja ke meja kerja.
Vermouth, yang menjadi pusat perhatian kali ini, bicara dengan tidak senang.
“Kalian ini punya hati nurani tidak sih? Kalau kalian lupa, aku bisa membantumu ingat. Gak aneh kalau aku bisa mati kapan saja saat ini. Cepat carikan aku life support.”
“…Duh, kenapa orang ini begitu…”
Yah, bodoh amat, Marie menggelengkan kepalanya.
Dia mengabaikan bagian belakang kaos Naoto yang bergambar sebuah automata yang sedang membuka pahanya lebar-lebar dengan erotis, dan berkata,
“Pokoknya, aku tidak bisa membiarkanmu istirahat sekarang. Aku masih punya hal yang perlu kutanyakan.
“Kasihani aku dong…t-tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, lacur!? Kenapa firasatku bilang kalau kau mau bertingkah tidak baik lagi!?”
“Kami akan mencarikanmu tubuh automata pantas yang cocok dengan tubuhmu, dan kami akan memberimu life support, jadi santai saja.”
“Dasar pelacur, apa otakmu itu benar-benar mati!? Kau sudah berpikir untuk menempelkan kepalaku pada suatu boneka buat blowjob!? Kau pikir martabat seorang pria itu apa!?”
Hal seperti itu tidak ada.”
Marie bicara dengan dingin, lalu menggantung sebuah automata di gantungan, praktis meletakkan automata tersebut di meja kerja.
Kemudian, Marie dengan ceroboh–atau setidaknya seperti itulah yang dilihat Naoto–melepas kepala automata tersebut, dan memasang kepala Vermouth ke leher automata tersebut dengan suara klik.
“Sial, apa kau serius, dasar tuan putri lacur gila…!?”
Vermouth merasakan keringat dingin ketika dia menatap orang yang mengaku dirinya sebagai jenius ini.
Kata-katanya bukan karena dia benci akan tubuh feminine tersebut. Dia harus mengakui kalau bocah naïf ini memiliki kemampuan yang cukup untuk dianggap sebagai seorang jenius.
–Seorangcyborg memiliki fungsi tubuh yang benar-benar berbeda dari sebuah automata.
Yang satu adalah replika dari ‘konstruksi’ tubuh manusia, sedangkan yang lainnya mengenai ‘fungsi’ tubuh manusia.
Dalam istilah sederhana, sebuah automata tidak memiliki ‘otak’. Tergantung dari fungsinya, ada beberapa automata yang masih bisa berfungsi tanpa kepala.
Tapi di sisi lain, seorang cyborg memiliki ‘otak’. Oleh karena itu, seluruh organ prostetiknya harus meniru sebagian besar dari tubuh asli seseorang. Kalau tidak, ‘otak’ tersebut akan melakukan penolakan. Dengan kata lain, bocah ini hanya menukar kepalanya dengan kepala sebuah automata, tapi ‘otak’nya tidak mengira kalau ada sesuatu yang salah.
Dan yang lebih mengagetkan, Vermouth tidak tahu kapan life supportnya dipasang.

Karena terkesan, Vermouth bergumam,
“–Begitu ya, jadi kau bukanlah hantu, tapi iblis sekarang? Maaf sudah banyak mengoceh tentangmu sebelumnya, Nona. Kalau kau iblis, merasa terangsang itu tentu saja–warrgh!?”
Sensasi tajam dari sarafnya menyebabkan Vermouth merasa sangat sakit, dan dia berteriak kesakitan.
Marie menyelesaikan tugasnya tanpa sepengetahuan Vermouth, lalu dia berkicau,
“Sekarang, mari kita membahas situasi saat ini.”

Pertemuan komite anti teroris berlangsung sangat kacau.
Setelah menyadari kegawatan dan seberapa bahayanya situasi saat ini, diskusinya berjalan berputar-putar.
Pokoknya, kita harus mulai penghapusan. Tidak, negosiasi dengan para kriminal itu. Bagaimana kalau kita mengerahkan militer Grid terdekat dan melancarkan serangan? Kita harus memikirkan evakuasi dulu. Kita harus berkoordinasi dengan negara lain.”
Ada bermacam-macam pendapat dan keberatan, dan mereka tidak bisa mengambil keputusan begitu saja.
Kesimpulannya, tidak ada perkembangan sama sekali dalam perdebatan ini.
Kepala Sekretaris yang mendukung penghapusan mengangkat tangannya, dan berkata,
“Untungnya, dengan mempertimbangkan sudut letaknya, kita tidak perlu khawatir ‘Pilar Surga’ dapat terkena serangan, kan–?”
“Apa anda masih tidur?”
Menterti Pertahanan menyela,
“Mereka memiliki ‘meriam utama’ yang tembakannya menembus Grid Akihabara, Grid sebuah kota, dan meriam tersebut pasti bisa menembus apapun! Benda itu berani muncul di ‘lapisan terendah’ Akihabara karena seluruh area ibukota masuk ke dalam jarak tembak benda ini dari bawah, lho!? Apa anda tidak paham sedikitpun tentang hal ini!?”
Senator lainnya berseru dengan kesal,
“Omong-omong,senjata itu sebenarnya apa sih? Kekuatan ‘meriam utama’ tadi, senjata itu datang dari bawah tanah, dan sebagainya, bukannya kemampuan senjata itu terlalu tidak masuk akal atau semacamnya…?”
Sambil berkata begitu, dia berdiri, dan melihat sekilas ke arah orang-orang yang hadir.
Kemudian, dia ingat kalau ada seorang konsultan sipil yang duduk di sudut ruangan.
Si konsultan yang sedang ditanya–Karasawa, kelihatan bingung seraya memiringkan kepalanya.
“Apa anda bertanya pada saya?”
“Siapa lagi?”
“Syukurlah. Saya kira kalian lupa tentang saya.”
Karasawa terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya, lalu dia berdiri,
“Eh–mengenai senjata musuh, saya bisa menjawab, tapi ini hanya teori saya sendiri.”
“Jangan bertele-tele! Memangnya kau ini konsultan macam apa sih?”
“Mohon maaf sebelumnya, tapi saya hanyalah seorang teknisi yang dipekerjakan sebagai konsultan–saya tidak begitu ahli dalam teknologi elektromagnetik yang melanggarkan regulasi internasional.”
Dewan Senat langsung terdiam, sedangkan Senator yang menanyai Karasawa kelihatan sangat tercengang.
Senator lainnya terlihat pucat saat dia bertanya,
“Kau bilang, teknologi elektromagnetik?”
“Ya. Saya membaca habis setiap kata dalam laporan, tapi saya tidak dapat menemukan penjelasan selain itu.”
Karasawa melanjutkan perkataannya dengan suara jelas dan memenuhi ruangan,
“Pertama, saya tidak bisa memikirkan apapun tentang ‘meriam utama’ yang tembakannya menembus Grid Akihabara. Namun, setelah tembakan tersebut, ada EMP. Armoryang menahan tembakan Meriam Petahanan Ibukota adalah armor elektromagnetik ataupun sesuatu yang mirip, dan apa yang menembak jatuh pesawat terbang itu barangkali meriam akselerasi elektromagnetik.”
Tampang ketakutan tampak di wajah para Senator saat mereka mengerang.
Sang Senator bertanya, dengan masih penuh harap,
“Berapa peluang kalau senjata itu semacam teknologi baru?”
“Itu tidak mungkin. Bagaimanapun cara konstruksi mesin jam digunakan, mesin jam tidak bisa meniru fenomena seperti ini–tapi senjata itu melakukannya dua kali.”
Dan itu adalah,
“Grid Akihabara termagnetisasi sepenuhnya–dan yang paling penting, tembakan Meriam Resonansi Angkatan Pertahanan Ibukota tidak berpengaruh sama sekali. Kedua poin ini sama-sama tidak bisa dijelaskan dengan teori dan penjelasan dari apa yang sedang diteliti oleh 5 Perusahaan Besar.
Ada juga kemungkinan kalau armor yang menahan tembakan Meriam Pertahanan Ibukota dibuat dari alloy yang kompleks. Sebuah meriam supersonik bisa jadi penjelasan yang masuk akal mengenai penembakan jatuh jet-jet tempur tersebut.
Namun, secara teori, meniadakan kerusakan dari Meriam Resonansi itu mustahil. Untuk menciptakan sebuah fenomena anti resonansi, masalahnya bukan mengenai bahan-bahannya–orang hanya bisa menarik kesimpulan kalau ada sesuatu di permukaan senjata tersebut yang dapat menyebabkan senjata tersebut tidak mengalami vibrasi.
Selain itu, mengingat fakta kalau Grid Akihabara termagnetisasi–hal yang wajar jika orang menyimpulkan kalau mesin tersebut mengandung elektromagnet.
“–Tapi kau ini amatir! Bagaimana bisa kau menyimpulkan begitu!?”
Sang Senator yang mengajukan pertanyaan awal berkata begitu setelah dia pulih,
Karasawa tertawa kecil,
“Yah, kalau aku ini ahli dalam hal elektromagnetisme, sudah jelas kan kalau akulah pelakunya–dan hal ini melawan klausa teknologi dalam SSI, lho?Penelitian tentang elektromagnetisme itu dilarang, tapi masalah yang lebih gawat adalah kenapa Jepang memiliki sesuatu yang memanfaatkan teknologi elektromagnetik?”
Sang Senator yang berhasil menenangkan dirinya kembali terlihat lebih pucat daripada kertas.
–Hal seperti itu tentu saja tidak akan muncul begitu tiba-tiba. Senjata ini mungkin saja telah diteliti Jepang di masa lalu. Orang-orang yang mengetahui hal tersebut harusnya hadir di tempat ini.
Itulah yang diisyaratkan oleh Karasawa.
Bom besar yang diledakkan oleh orang sipil ini membuat semua Senator kebingungan, dan mereka menjadi gelisah.
“B-bukti apa yang kau punya?”
“Ya! Kalau kau tidak punya bukti, jangan menuduh sembarangan dong!”
“Yah, maafkan perkataan saya tadi.”
Dengan tatapan setajam jarum dari orang-orang di sekelilingnya, Karasawa berkata dengan tenang,
“Tapi ancamannya nyata berada tepat di bawah kita. Saya hanya menarasikan pemikiran saya dalam hal ini sebagai seorang konsultan.”
Kemudian, ruangan Dewan yang gaduh tersebut langsung sunyi.
Namun, mereka mulai saling menyelidiki satu sama lain, dan suasana kecurigaan tersebut menyebabkan para anggota semakin kebingungan.

(Kalau aku menghubungi SSI saat ini, negara ini akan berada dalam jalan buntu…)
Karasawa duduk sambil memikirkan gagasan berbahaya seperti itu.
Kalau negara-negara lainnya mengetahuifakta ini, mereka setidaknya akan sepakat secara serempak untuk meletakkan sanksi apapun yang bisa mereka pikirkan kepada Jepang.
(Yah, masalahnya adalah senjata itu diarahkan kepada pemerintah negara ini sendiri…lalu bagaimana?)
Apakah hal ini akan menjadi dalih untuk situasi sekarang?
Peristiwa ini melibatkan regulasi internasional yang ditetapkan oleh SSI dan organisasi lainnya yang relevan.
Namun, inilah situasi yang dimengerti Karasawa–

Pertama, adanya penggunaan teknologi elektromagnetik.
Kedua, sebuah senjata yang dibuat dengan teknologi tersebut dapat menyebabkan kerusakan besar pada sebuah Grid kota.
Ketiga, mengingat sumber daya alam yang terbatas, penipisan massal sumber daya alam yang tidak bermanfaat untuk operasi planet ini.
Keempat, meriam cepat yang dapat menembak sejauh 50 km.
Kelima,Semua hal diatas–dilakukan tanpa persetujuan khusus maupun izin keamanan dariSSI.

5 masalah ini saja merupakan pelanggaran terhadap SSI, dan juga tidak mengindahkan setidaknya dua klausa dari klausul dari Dewan Keamanan Internasional (DKIn), Dewan Elektromagnetik Internasional (DEI) dan Organisasi Komoditas Dunia (OKD).
(…Tetapi, dalam hal ini, semua orang terperangkap dalam jebakan semut).
Benar–semua negara memiliki benda seperti ini, tanpa terkecuali.
Tidak ada negara yang mematuhi peraturan seperti itu, bahkan negara dunia ketiga yang tidak bernilai untuk disebutkan. Paling tidak, itulah yang dipercayai oleh masing-masing negara–dan oleh karena itu, pengawasan apapun tidak diperlukan.
Sehingga, setelah pelanggaran mereka terkuak, apa yang akan dihadapi oleh negara tersebut adalah hukuman.
Namun, masalahnya adalah–senjata tersebut tidak berada di bawah kendali pemerintah.
(Kalau boleh jujur, kalau senjata ini menyerbu negara lain, situasinya akan lebih mudah).
Karasawa merenung tentang kekacauan yang akan terjadi.
Dalam kasus tersebut, tiap-tiap negara akan membereskan masalah ini dengan ‘penghakiman militer’. Tidak peduli seberapa terlarangnya senjata yang kuat tersebut, senjata itu tidak akan bisa berjalan selamanya. Tentunya, kenyataannya adalah senjata ini akan kalah dalam pertempuran atrisi.
Tidak peduli seberapa ampuh senjata itu, tetap saja senjata tersebut hanyalah ‘kekuatan tempur’ tunggal saja. Itu saja tidak cukup untuk merusak keseimbangan kekuatan dunia ini, dan secara taktis, unit tunggal yang kuat itu sulit untuk dimanfaatkan.
Namun, senjata ini tidak melakukan apapun, selain mengarahkan meriamnya ke arah negaranya sendiri…kenapa?

Karasawa menatap ke arah Dewan yang sedang bergumam–para politisi hina yang tadinya cuma saling menyelidiki menjadi saling tikam, lalu dia tiba-tiba sadar.
–Begitu ya. Jadi itulah yang mereka incar? Dasar brengsek.

“…Jadi, dengan kata lain, senjata itu bisa diam disana, begitu saja? Pemerintah dan Militer hanya–karena itulah kau bilang kalau mereka tidak akan melakukan apapun?”
Marie bergumam dengan suara bergetar.
Setelah mempertimbangkan semuaini, senjata itu–bukan, musuh yang barangkali ada di dalamnya, tidak akan bergerak.
Vermouth menganggukkan matanya untuk mengindikasikan persetujuannya, lalu dia berkata,
“Tapi kalau tebakan ini tepat, kita punya masalah…kan bocah?”
“Ya, karena orang-orang itu tidak akan membiarkan situasinya berakhir seperti ini.”
“Apa maksudnya?”
Marie tidak memahami makna percakapan mereka dan dia cemberut.
Naoto menghela napas dan menggelengkan kepalanya, lalu menjawab,
“Yah, kau bisa bilang kalau senjata itu tidak bergerak…tapi di saat yang sama, ‘senjata itu tidak bisa bergerak’.”
“…”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang teknologi elektromagnetik…tapi teknologi itu tidak bisa bergerak tanpa sumber daya, kan?”
“Yah…kurasa disana ada baterai atau generator atau semacamnya.”
Kelihatannya kata-kata Marie mempertegas keraguan Naoto, kemudian dia mengangguk,
“Senjata itu mungkin ditenagai oleh gir.”
“Hah?”
Marie membuka mulutnya dengan terkejut.
Senjata ini mengandung teknologi dan persenjataan yang menghancurkan semua fungsi gir, tapi senjata itu sendiri dibangun dengan teknologi gir…? Bukannya itu malah penghancuran diri sendiri?
Ketika Marie menampakkan keraguan di wajahnya, Vermouth berujar,
“Kukira mereka menggabungkan penggunaan gir insulator dan konduktor. Apa yang mereka gunakan bukanlah penggunaan teknologi lama belaka–pendapatku sih mereka menggunakan teknologi hibrida yang menggabungkan mesin jam dan elektromagnetisme.
Marie mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan Vermouth,
“Aku paham teorinya…tapi apa itu mungkin?”
“Itu sudah mungkin. Karena itulah senjata besar itu mengeluarkan daya elektromagnetis dan bergerak.”
Vermouth melanjutkan perkataannya.
“Senjata Taktis Elektromagnetis Hibrida ‘Yatsukahagi’–kupikir itulah nama resminya. Lucu, kan? Orang yang memberikan nama tersebut bukanlah orang-orang itu, tapi pemerintah.”
“Apa yang sedang terjadi?”
“Timku menemukan beberapa ‘rancangan’ formal dalam cetak biru senjata itu–apa kau pikir orang-orang itu akan mencatatnya?”
Sebelum Marie menjawab, Vermouth berujar dengan sinis,
“–‘Sebuah Kesepakatan Penelitian pada tanggal 25 Maret Tahun Mesin Jam 985, mengenai penelitian senjata taktis elektromagnetik hibrida’–Perdana Menteri, Kepala Menteri Kabinet dan Menteri Pertahanan menandatangani kesepakatan tersebut. Lucu, kan!?”
Tidak ada yang bisa tertawa.
Wajah Marie tampak membeku sepenuhnya, lalu Vermouth berkata padanya,
“…Yah, dengan kata lain, sumber daya benda besar itu barangkali tidak begitu berbeda dari benda lainnya. Sumber dayanya adalah generator pegas yang menggunakan gaya gravitasi lalu mengubahnya menjadi energi, meskipun aku tidak tahu jumlah totalnya di dalam sana…”
“–1033.”
Tegas Naoto.
“Suaranya terdengar aneh, tapi tidak salah lagi kalau suara yang kudengar adalah suara pegas. Selain itu, orang-orang itu kelihatannya sedang ‘mengisi ulang’.”
Mata Marie dan Vermouth memicing.
Naoto tidak pernah menyadari hal tersebut seraya mengerutkan dahinya dan melanjutkan perkataannya,
“Kukira cahaya inisialnya, dan hal terlarang itu…apa ya, pulsa listrik? Pokoknya, hal itu menguras seluruh daya senjata tersebut. Aku tidak tahu kenapa, tapi senjata itu terus mengisi energinya kembali sampai hampir 10%, dan di saat yang sama, pengisian ulang energinya berjalan stabil. Sampai senjata ini memperoleh mobilitas penuhnya kembali–dari yang kudengar saat di Akihabara, waktunya masih 71 jam, 32 menit dan 12 detik. 5 jam sudah berlalu sampai sekarang…jadi sekitar 66 setengah jam. Sampai saat itu, senjata itu tidak bisa bergerak.”
Ketika Vermouth mendengar ucapan Naoto, dia membelalakkan matanya.
“Hei bocah, apa kau tahu cetak birunya–tidak, benar begitu pun tetap tidak bisa menjelaskan hal ini. Siapa sebenarnya kau ini?”
Marie mengabaikan pertanyaan jelas ini, dan meminta penjelasan,
“–Jadi kau bilang kalau senjata itu hanya bisa diam disana selama 66 jam dan 30 menit ini? Tidak bisa bergerak? Kau yakin?”
Marie menanyai Naoto, lalu Naoto menggelengkan kepalanya,
“Aku tidak paham sama sekali tentang elektromagnetisme. Kalau mereka memutuskan untuk tidak mengalokasikan energi ke banyak persenjataan dan hanya fokus ke pengisian ulang, barangkali senjata itu akan bergerak sebelum batas waktu tadi. Sebagai tambahan, aku tidak tahu 10% daya itu digunakan untuk apa, jadi mungkin senjata itu akan pulih lebih cepat jika dayanya berhenti dihabiskan–tapi bukan itu masalahnya.”
“Apa maksudmu…apa masih ada hal lain?”
Marie mengerutkan dahinya dengan terkejut, lalu Vermouth berujar,
“Sekarang sudah skakmat, dan mereka ingin ‘mulai mengisi energi kembali’. Apa kau masih tidak paham, dasar Tuan Putri naif?”
“–!”
Marie mengangkat alisnya seraya membalikkan badannya, Vermouth  tersenyum mengejek lalu memberitahunya,

“Ini bukan lagi aksi terorisme–ini adalah ‘coup d’etat’. Mereka sedang menunggu pemerintah terpecah dan hancur sendiri, lalu–mereka akan memikirkan sesuatu.”

Marie langsung mengerti.
Marie tidak bisa berkata-kata, dia tetap terdiam dengan mata zamrudnya terbelalak karena terkejut.
Dengan menghubungkan semua petunjuk tersebut, hanya ada satu kesimpulan.
Kesimpulannya adalah–sebuah rantai leher.
Tentu saja, itulah alasan kenapa Vermouth bilang kalau situasi ini adalah ‘skakmat’.
Aksi terorisme? Peristiwa ini bukanlah hal yang segampang itu. Seperti yang diisyaratkan oleh istilah ‘Skakmat’, musuh memiliki kartu as yang dapat menumbangkan negara ini. Pertunjukan kecil yang dilakukan Marie dan yang lainnya jauh lebih kerdil bila dibandingkan.
Orang-orang akan merasa penasaran seberapa banyak waktu, seberapa dalam obsesi, seberapa besar kebencian tak terbatas yang dimiliki angkatan Mie–bukan, angkatan Shiga yang lama, sampai-sampai mereka bisa memikirkan strategi ini, dan dengan mempertimbangkan hal itu–
Tidak di luar dugaan bahwa Marie dan yang lainnya akan hancur ketika musuh hanya bergerak saja.
–Sekarang setelah kita mengetahui hal ini, pikirkan apa yang bisa kau lakukan, Marie.
Musuh sedang berada di pusat Multigrid Tokyo, serta sedang menghunuskan pisau ke arah lehernya.
Grid Akihabara termagnetisasi, dan jalan keluar yang begitu keras mereka upayakan tidak bisa digunakan.
Dan tepat seperti yang telah mereka rencanakan, Kabinet Jepang terperangkap dalam situasi canggung.
Sedangkan mengenai apa yang harus mereka lakukan nanti, Naoto dan yang lainnya tidak mengerti.
Namun, sudah pasti kalau pemerintah sedang menelusuri jalan menuju kehancuran dirinya sendiri. Yang membuat masalahnya lebih buruk, selama berita senjata itu mencapai telinga negara lain, situasinya akan menjadi yang paling buruk dimana SSI akan ikut campur untuk membahas intervensi militer karena alasan keamanan.
Dan jika mereka memutuskan untuk menembakkan Tongkat Dewa, ‘Tall Wand’–meriam satelit anti Bumi, Tokyo itu sendiri akan lenyap dari planet ini.
Tidak, bahkan kalaupun mereka tidak melakukan apa-apa, hanya masalah waktu saja.

Marie memikirkan skenario terbaik dan terburuk yang dapat terjadi.
Skenario terbaiknya adalah–rencana mereka sukses, dan mereka merebut kekuasaan negara ini.
Bagi mereka, yang begitu ahli dalam elektromagnetisme, barangkali Akihabara dapat didemagnetisasi dan kembali seperti sebelumnya. Tapi, harga yang harus dibayar adalah seluruh dunia akan memandang negara ini sebagai negara berbahaya, serta perang akan terjadi tidak lama setelahnya.
Skenario terburuknya–adalah intervensi militer dari negara lain di Tokyo.
Kemungkinan besar mereka akan menangani situasi ini secepat mungkin. Namun, kemungkinan mereka akan menghancurkan Tokyo, yang dapat mempengaruhi daerah di sekitar Asia Timur, dan juga berpengaruh dalam skala golbal.

Tapi, kukira teori ini cukup tidak masuk akal–Marie menghina dirinya sendiri.
…Kalau situasinya akan berakhir seperti ini, apa yang bisa kita lakukan sekarang?
Tapi yang lebih penting, mereka kehilangan dua kekuatan tempur dalam diri RyuZU dan Halter, sedangkan AnchoR berada dalam keadaan tidak biasa dimana dia tidak bisa bertarung.
Tidak, meskipun seluruh anggota berkumpul, apa yang bisa mereka lakukan?
Pemerintah sedang berada di ambang kehancuran, serta senjata raksasa yang sudah menjadi ancaman dalam skala global. Tentunya senjata ini akan dianggap sebagai ancaman oleh kekuatan-kekuatan mayor di dunia, kan?
Dalam situasi seperti ini, apa yang bisa beberapa orang yang mengaku sebagai teroris–lakukan?
Hanya ada satu jawaban…tidak ada, sama sekali.

Tepat ketika Marie mencapai kesimpulan ini.
Naoto tiba-tiba berdiri dengan wajah yang begitu suram seraya bicara,
“Hei, Anchor, ayo pergi keluar.”
“…Keluar?”
Anak perempuan automata itu memiringkan kepalanya dengan bingung.
“Ya, AnchoR, kamu tidak bisa melakukan apapun selama 1000 tahun karena limiter sialan itu, kan? Ayo kita melihat-lihat barang-barang apapun.”
“…Wah–”
AnchoR tersenyum lebar seraya menggenggam uluran tangan Naoto.
Marie menyipitkan matanya, dia tidak bisa merangkai kata-kata saat menyaksikan keduanya.
“Apa hati dan syarafmu terbuat dari super alloy atau semacamnya? Apa kau masih punya waktu untuk pergi belanja saat kau ini teroris buron?”
Marie bicara dengan sinis, tapi ketika matanya bertemu dengan mata Naoto, Marie merasa tercekik.
Itu bukanlah kiasan, karena hatinya memang terasa seperti digenggam.
Mata Naoto tetap kelihatan tidak kenal takut, dia telah mencampakkan Marie yang telah memutuskan kalau ‘tidak ada lagi yang bisa dilakukan’.
“Sudah jelas.”
Dan dengan kehendak yang dapat menyalakan kembali api harapan dalam diri Marie, yang telah menyerah, Naoto bicara dengan tegas,

“Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan”–oleh karena itu,

AnchoR menarik-narik lengan baju Naoto.
AnchoR terlihat gelisah seperti anak manja, sambil berkata,
“…Saya mau, perintah.”
“Benar benar, apa saja boleh~! Apa ya~?”
Naoto mengangguk sambil tersenyum bingung tanpa ragu,
AnchoR terus berseri-seri seraya menunjuk ke arah toserba yang hanya berjarak dua toko.
“…Boleh saya, melihat-lihat…toko itu?”
“Toko apa saja boleh! Aku akan membelikanmu seluruh barang di toko itu apapun barangnya, selama kamu mau!”
“Hei, Naoto.”
Marie kelihatan begitu letih untuk menghela napasnya, dan ketika melihat hal itu, Marie bertanya dengan wajah lunglai.
“Maukah kau beritahu aku apa yang sedang kau lakukan saat ini?”
“Melakukan apa yang harus kulakukan sekarang!”
Mata kelabu Naoto berkilau saat dia berujar,
“AnchoR punya banyak hal yang ingin dia lakukan, tapi tidak bisa dia lakukan, jadi SEKARANG aku akan mengabulkannya dengan tanganku sendiri–! Memangnya ada apa lagi selain itu?”
Marie tidak menjawab.
Yang Marie tunjukkan hanyalah senyum kering dan kosong sambil mendongak ke langit dimana matahari bersinar terik.
“…Cuacanya cerah. Ngomong-ngomong, aku ingat kalau ada toko es krim. Bagaimana kalau kita mampir kesana dulu sebelum Tokyo tenggelam…”
Marie bergumam pada dirinya sendiri dengan menyedihkan, jelas sekali kalau Marie merasa seolah-olah dia telah melihat segalanya.
Mereka sedang berada di jalan pertokoan Grid Ueno–Grid di atas Grid Akihabara yang mereka tinggal kabur.
Papan merk tempat dingdong itu bertuliskan kata-kata lama ‘Ameya Alley’.
Orang akan merasa kalau apa yang terjadi kemarin malam hanyalah mimpi buruk belaka, karena tempat ini begitu ramai.
Hari ini hari biasa, tapi ada orang-orang yang lewat di jalan ini.
Jalanan ini diisi dengan toko-toko yang memamerkan barang-barang yang memenuhi stan-stan mereka, kemudian ditambah dengan panggilan-panggilan dari kios-kios yang berjejer satu sama lain–orang akan merasakan rasa melankolis yang aneh saat melihat pemandangan seperti itu…tapi sikap mereka seperti ini bisa diduga.
–Karena ada penyensoran informasi
Mereka tidak tahu apa-apa tentang senjata raksasa yang muncul tadi pagi.
Kolaborator yang menyusup ke dalam pemerintah memang menghubungi mereka, tapi meskipun tanpa laporannya, sudah jelas kalau pemerintah akan menggunakan metode ini.
Pada suatu hari, tiba-tiba sebuah senjata elektromagnetik yang melanggar Traktat Internasional muncul. Tujuannya adalahcoup d’etat, dan senjata itu saat ini sedang menguasai Akihabara, Tokyo sedang di ambang kehancuran–dan lain-lain,
Tidak mungkin hal seperti itu bisa diberitakan eksplisit begitu.
Pemerintah–atau lebih tepatnya, semua orang yang merasa pesimis akan situasi ini, barangkali akan memanfaatkan seluruh kekuasaan mereka untuk mengendalikan laporan ini.
–Tindakan yang tidak di luar dugaan.
Situasinya sangat gawat, dan apabila pemerintah melakukan hal-hal yang menyusahkan hanya akan mendatangkan hasil yang mengerikan.
Itulah yang dipikirkan Naoto dan yang dibicarakan Vermouth, bahwa senjata tersebut hanya ada disana supaya pemerintah tahu kalau ‘senjata itu ada disana’, itu saja sudah cukup untuk mengirimkan bom fatal pada pemerintah.
Lupakan apakah orang sipil sudah tahu–apa yang lebih  buruk adalah negara-negara asing yang berafiliasi dengan SSI mengetahui kejadian ini.
Benar-benar ironis, pikir Marie.
Satu-satunya berkah dalam rangkaian peristiwa malang bagi pemerintah adalah–EMP yang dilancarkan oleh senjata itu meniadakan seluruh alat yang bisa membuktikan keberadaan senjata tersebut.
Terlebih lagi, berkat aksi terorisme dini dari Marie dan Naoto di tengah malam, penduduk Akihabara telah dievakuasi. Bukan hal mustahil untuk mengalihkan perhatian orang-orang.
Ketika mereka mengangkat kepala mereka, mereka bisa melihat TV kabel sedang menayangkan laporan ‘Insiden Terorisme Akihabara’ yang terjadi kemarin malam.

“Dikarenakan adanya pengumuman aksi teroris untuk membekukan Akihabara sebelumnya, saat ini Grid Akihabara sedang disegel. Pemerintah meminta penduduk untuk tetap berada di daerah aman serta menghindari area berbahaya. Selain itu, identitas kelompok teroris yang membuka aksi kriminal ini telah dipastikan, dan pemerintah sedang mencari petunjuk untuk mencari dimana mereka berada. Mengenai masalah ini, Kepala Sekretaris Kabinet Ohatake–”

–Dan seterusnya. Tentu saja, tempat dimana Marie berada tidak dibeberkan.
Di titik ini pun, tampaknya pemerintah tidak berniat untuk mengakui keberadaan benda itu.
Seperti gerombolan orang bodoh saja,ejek Marie.
Jika senjata itu selesai mengisi kembali dan mulai bertindak, beritanya tentu saja akan tersebar. Sensor informasi saja tidak akan cukup, apalagi ketika studio penyiaran serakah manapun yang ingin menggali berita terbang dengan helikopter, semuanya akan berakhir.
Namun, jika apa yang dibicarakan Naoto dan Vermouth memang benar, tampaknya musuh memang menginginkan situasinya berubah menjadi seperti ini. Semakin pemerintah mencoba menyembunyikan berita sebuah senjata penghancur raksasa, ketika beritanya bocor, publik dan negara-negara lain akan merasa sangat marah pada pemerintah–dan efek yang disebabkan oleh hal tersebut akan melampaui efek dari senjata tersebut.
Sedangkan mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah nanti, mereka akan melindungi diri mereka sendiri–
“Hmph.”
Marie mendengus, dan melalui kacamata hitamnya, dia mendongak ke langit.
Dia menyaksikan helikopter yang terbang di atas, lalu melengkungkan bibirnya.
Marie berani bilang kalau orang-orang yang duduk di dalam helikopter itu adalah pejabat-pejabat negara yang sedang siap-siap kabur.
“Mereka melarikan diri sebagai korban disini…kurasa hanya masalah waktu sampai negara tetangga tahu hal ini.”
–Dengan kata lain, kehidupan sehari-hari yang damai dan indah ini akan berakhir dalam beberapa jam.”
Tentu saja, apa yang akan terjadi nanti adalah…
“…Pa–mama, saya mau perintah.”
“Okie~dokie! Pa…bukan, mama akan menyetujui apapun saat ini~”
Marie menjatuhkan bahunya dengan lunglai.
…Yang benar saja, apa yang sedang kulakukan sih?
AnchoR memanggil mama, tapi bukan untuk Marie, bukan, Marie tidak menyetujui panggilan ini, jadi itu artinya,
AnchoR sedang memanggil Naoto yang bertampang bodoh itu, yang sedang kelihatan begitu tegang di depan sang Automata.
Atau dengan kata lain–Naoto yang mengenakan ‘baju perempuan’.

Mereka akan pergi jalan-jalan, jadi Naoto perlu penyamaran.
Membicarakan itu sendiri bukanlah apa-apa, tapi prosesnya itu sendiri yang merupakan mimpi buruk.
Conrad meninggalkan Halter tempat dokter tak berlisensi kenalannya, lalu kembali sambil mengenalkan orang teater yang bertanggungjawab dalam hal make-up.Orang teater itu benar-benar mesum.
Wanita mencolok ini, yang benar-benar pantas dengan istilah ‘wanita malam’, langsung memekik ketika dia masuk ke dalam ruangan dan melihat Naoto dan Marie,
“Kyaa~! Hebat sekali! Profesor Conrad, yakin eke boleh dandanin anak-anak ini jadi imut banget!? Tahu kan, kalo eke bakal ga tanggung-tanggung!?”
“Iya, silakan saja.”
“Ufufu~♪Sudah lama eke gak dandanin manusia! Waktunya gerakkin tangan eke♥”
–Dan dalam sekejap, apa yang tejadi adalah mimpi buruk yang sulit digambarkan.
Malahan, awalnya Naoto kelihatan sedikit gelisah, tapi…
Naoto menyaksikan pakaiannya dilepas, dimake-up, diberi wig, pakaian gadis, lalu berdiri di depan cermin.
“Uh…hah? Wow, kurasa, aku——–ini memang imut ya♥”
–Dia terinfeksi oleh kemesuman wanita tersebut.
Marie dilanda rasa putus asa, sedangkan disampingnya, mata AnchoR begitu menyilaukan.
“…Pa, pa, imut sekali…”
Dan dengan pujian seperti itu, dalam sekejap Naoto terbangun.
“Begitu ya–Begitu ya! Papa memang imut kan~! Kalau AnchoR saja bilang begitu, artinya Dewa juga bilang kalau aku ini imut?”
Naoto memekik sambil memeluk AnchoR, lalu berputar-putar sambil berjingkrak-jingkrak dan keluar dari teater.
Tentu saja dia adalah orang mesum yang hebat, yang pantas untuk membuat orang lain itu. Dalam situasi ini, Marie berharap dirinya berubah menjadi kupu-kupu yang bisa melupakan segalanya dan terbang tanpa beban apapun di dunia ini.
“Sekarang♪giliran yey–”
“Makasih, tapi tidak, makasih–!!”
Marie berseru, menolak taring beracun orang mesum tersebut dengan sekuat tenaga.
Jika dia mempercayakan semuanya pada wanita ini, orang pasti akan bertanya-tanya bagaimana penampilannya nanti.
Marie mengubah gaya rambutnya dengan cepat, menyambar kacamata dan pakaian yang cocok, dan akhirnya melarikan diri dari tempat ini dengan begitu sulit, sampai-sampai bisa dibilang sebuah keajaiban dia bisa lolos dari sana…

Marie menggelengkan kepalanya untuk membuang ingatan yang tidak menyenangkan tersebut, lalu dia bergumam,
“Bom ini akan meledak, dan hal ini akan menjadi krisis Asia Tim–bukan, krisis internasional. Apa sih yang sedang dia lakukan, dasar…”
Orang akan penasaran apakah Naoto mendengar omelan Marie, ketika Naoto menegurnya,
“Kita tidak punya pilihan lho. Tidak ada orang yang jadi gila karena hal yang tidak mereka tahu. Aku sudah berpikir begini dulu saat di Kyoto, jadi kurasa normal itu kayak begitu, kan?”
“Yang kubicarakan itu kau–dasar super mesum!”
Ketika Naoto yang sedang crossdress ini menyatakan dengan berani kalau dia mengerti, Marie mencaci Naoto dengan tidak sabaran,
“Kau tahu kan apa yang sedang terjadi sekarang, kan? Jangan tenang begitu, teganglah sedikit! Dan juga…!”
Setelah sadar kalau tatapan orang banyak semakin berkumpul ke arah keributan mereka, Marie buru-buru mengecilkan suaranya.
Tapi kemarahannya tidak bisa ditahan, dengan wajah suram, Marie melotot ke arah Naoto,
“Pikirkan sedikit. Atau kau ini memang punya fetish crossdress!? Kau ini hampir tidak bisa diharapkan lagi!”
Lakukan apa yang harus kulakukan. Naoto menyatakan begitu.
Anak ini pernah menyatakan kalau dia siap mengorbankan dirinya sendiri jika diperlukan.
Ahh, di titik ini, Marie mungkin akan mengakuinya. Ketegasan, kurangnya keraguan, aktivitas dan kebulatan tekadnya adalah sifat yang masih tidak dia punya. Untuk sekejap, Marie merasa tergerak.
Tetapi, aktivitas dan pertimbangan si mesum ini juga begitu bodoh, sampai-sampai mengambil resiko identitasnya terbongkar, demi melakukan hal seperti ini.
Berkencan dengan santai bersama automata anak perempuan?
–Jika saja tidak banyak orang disana, Marie benar-benar ingin menjatuhkannya dan memukulinya sampai babak belur.
“Pap–mama…saya…mau itu. Boleh?”
“Wow, automata yang manis banget! Kamu punya selera bagus, AnchoR~♪kalau kamu mau sesuatu, akan kubelikan!”
Tapi si mesum itu sama sekali mengabaikan hasrat Marie untuk menghajarnya sampai babak belur sambil terus melanjukan kencannya dengan automata. Sejujurnya, di titik ini sekalipun, Marie ingin menyeretnya ke suatu gang lalu memukulinya sampai mati.
Tiba-tiba saja, Marie mendapat suatu ide, lalu dengan sengaja berkata,
“Erm…Naoto~. Selagi kamu begitu baiknya, aku ingat kalau RyuZUlah yang mendapatkan semua uang itu, kan?”
Ketika mendengar kata-kata tersebut, Naoto memiringkan kepalanya dengan pandangan kosong.
“Terus?”
“Kau bilang kalau RyuZU itu pacarmu, kan? Memangnya pantas kalau kau menggunakan uang yang didapatkan pacarmu untuk pacarmu yang lain?”
Mata Marie dipenuhi dengan keinginan untuk schadenfreude[2].
Namun, Naoto menatap Marie seperti sedang melihat orang idiot.
“Bodoh. RyuZU itu istriku, dan AnchoR anakku. Memangnya salah kalau orang tua menghabiskan uang untuk anaknya?”
“…Aku mengerti. Yah, berbuatlah sesukamu.”
“Yah, tanpa kau bilang begitu pun aku akan melakukannya.
Marie bertanya-tanya–Ya ampun, apa sih yang sedang kulakukan?
Pertama, situasi sialan ini–Marie benar-benar merasa tidak nyaman saat dia tidak bisa melakukan apapun.
Lebih jauh lagi, dia tidak bisa memaksa dirinya untuk menikmati kencan bersama orang mesum seperti ini dalam suasana bersahabat ini.
Ditambah lagi, orang mesum yang tidak bisa disuruh tobat ini–
“Yo, mama! Kamu akan kami tinggal lho!”
Orang mesum yang sedang crossdress itu berteriak sambil melambaikan tangannya–bagaimanapun juga, Marie merasa benar-benar jijik melihat seluruh penampilannya.
Marie menjawab dengan enggan, dan tiba-tiba menyadari arah sampingnya.
Kaca toko butik disana memantulkan penyamarannya.
Rambut pirang mudanya diikat ekor kuda, dan penampilannya adalah seorang gadis asing mungil yang berpakaian kamisol tembus cahaya.
Mata zamrud uniknya ditutupi oleh kacamata hitam, sehingga tidak bisa dilihat siapapun.
Sedangkan si mesum yang berjalan di depannya ini–orang yang tadi bicara begitu, adalah seorang gadis cantik yang bisa salah dikira sebagai seorang model sampul majalah gadis remaja.
‘Gadis’ itu mengenakan rok satu potong berwarna biru, mantel musim panas, dan haori[3] sedangkan kakinya ditutupi oleh sepatu bot yang lembut. ‘Gadis’ itu memiliki wajah seperti bayi, tapi kelihatan manis, dan karena dia adalah seorang NEET[4], kulitnya berwarna ‘pucat’. Dengan wig dan tudung bertelinga kucing, mustahil orang lain menyangka kalau ‘gadis’ itu bukanlah seorang gadis…tapi.
Gadis tidak berdosa ini sedang berpegangan tangan dengan seorang anak perempuan yang lebih tidak berdosa dari gadis sebelumnya, anak perempuan itu barangkali sebuah automata, saat mereka berjalan bersama dengan riang.
…Tidak akan ada yang mengira kalau mereka adalah teroris.
Keduanya terus berjalan maju begitu saja, membaur dengan keramaian, membuat perhatian orang lalu lalang terpusat pada mereka. Tatapan orang-orang itu tampak seperti tatapan yang orang berikan pada sesuatu yang menawan.
–Argh, aku ingin membunuh mereka sekarang.♥
Gadis asing dengan rambut pirang berkilau dan pakaian trendi ini mengejar kedua orang tersebut dengan kesal, tanpa menyadari kalau dirinya juga sedikit menjadi pusat perhatian.

TV di jalanan sedang menayangkan buntut dari Insiden Teroris Akihabara.

“Anak ini adalah Naoto Miura, dia menyamar sebagai seorang siswa di Grid Kyoto, orang ini dicurigai telah membeli suku cadang militer ilegal serta bertransaksi Automata hasil modifikasi ilegal. Para ahli telah menyatakan kalau dia terlibat dengan Organisasi Teroris Internasional ‘Adventurer’. Tersangka bersekolah di SMA Tadasu no Mori, namun informasi tempat tinggalnya mungkin saja telah dipalsukan, polisi dan militer mengharapkan informasi relevan dari penduduk manapaun–“

Apa yang ditayangkan di layar kaca adalah foto Naoto sebelum dia crossdress.
Barangkali foto itu diambil dari helikopter, karena wajah Halter pun terpampang disana.
Dan tepat di seberang layar kaca tersebut, di meja terbuka suatu restoran rantai hamburger terkenal, kriminal remaja tertentu–Naoto sedang tersenyum lebar.
“Ehh–aku dalam masalah, dalam masalah. Ngomong-ngomong, bukannya apa yang mereka katakan itu sedikit mirip seperti deskripsi seorang protagonist manga?”
Dia menyeruput milkshake vanillanya, sambil tertawa dengan bahu gemetar.
Marie duduk di depan Naoto, dengan mulut penuh pai apel sambil menjawab dengan sinis.
“Tidak akan ada yang percaya kalau orang yang merencanakan aksi terorisme berskala besar seperti itu ‘hanyalah anak SMA biasa’. Setidaknya mereka harus sedikit berbohong untuk membuatnya terdengar lebih masuk akal, tahu?”
“Tapi kan, itu terlalu berlebihan. Ngomong-ngomong, ‘Adventurer’ itu apa?”
“Kalau tidak salah, ‘Adventurer’ adalah sel teroris yang menonjol di Eropa. Pemimpinnya adalah orang idiot yang memanggil dirinya sendiri dengan nama Cagliostro…tapi sebenarnya, mereka hanyalah kelompok kecil yang terpusat pada penipuan internasional.”
“Oh.” Naoto menjawab dengan tidak tertarik, lalu melengkungkan bibirnya.
“Dan juga, harusnya yang muncul di TV itu kau kan? Kalau kupikir-pikir–‘Memalsukan identitas, mengikuti sekolah, menjadi teknisi gelap yang terlibat dalam aktivitas teroris, ada seseorang dengan latar karakter seperti itu disini.”
“Jangan menunjukku dengan sedotan begitu, dasar mesum!”
Marie mencibir dengan tidak senang sambil meminum milkshake coklatnya.

“Pria disampingnya adalah Vainney Halter, umur tidak diketahui. Dia adalah seorang cyborg bayaran, dan punya sejarah terlibat dalam banyak pertempuran internasional, dia dikenal sebagai teroris profesional–“

Laporannya terus berlanjut, dan Marie membelalakkan matanya.
“Eh? Yang itu sungguhan sih.”
“Eh? Paman Halter juga seperti itu? Yah, kurasa itu memang benar karena dia kan bodyguardnya orang yang mudah meledak seperti Marie.”
“Memangnya siapa orang yang mudah meledak–tapi tampaknya dia memang terkenal, kayaknya? Si kepala itu sepertinya tahu.”

“–Selain itu, keberadaan dua siswa perempuan yang kenal dengan tersangka Naoto masih tidak diketahui, dan status mereka saat ini masih belum ditentukan.”
Apa yang muncul selanjutnya di layar kaca adalah seorang gadis pirang dan gadis berambut perak–fotonya Marie danRyuZU. Dilihat dari foto mereka yang sedang mengenakan seragam, gambar mereka barangkali diperoleh dari buku tahunan siswa mereka.
Dan ketika mendengar kalau status mereka ‘masih belum ditentukan’, Naoto memasang wajah cerah.
“…Dalangnya adalah korban, sedangkan paman Halter dan aku sekarang adalah kriminal internasional…dunia ini benar-benar tidak masuk akal. Yah, bodo amat.”
“Karena rutinitas harian kita berbeda?”
“Aku tidak mengerti.”
Naoto cemberut, lalu bertanya, kelihatannya sesuatu terlintas di pikirannya.
“Ngomong-ngomong, apa tidak apa-apa? Orang yang harusnya sudah mati malah ada di foto sana, lho?”
“Tidak apa-apa. ‘Marie’ yang sudah mati pasti tidak akan dicurigai.”
“…Kenapa?”
Apa karena wewenang keluarga Breguet? –Naoto ingin bertanya begitu, tapi Marie menyatakan,
“Aku bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan, tapi itu salah, keluarga Breguet telah membuangku, jadi aku tidak bisa menggunakan wewenang sebesar itu sekarang, tahu?”
Marie menyipitkan matanya, lalu melanjutkan kata-katanya,
“Aku hanya–menggunakan penyamaran kakakku–jadi menangkapku itu pasti ‘mustahil’–kecuali kakakku sendiri.”
–Kalau begitu, pikir Marie.
Karena penyamaranku terbongkar sekarang, aku lebih memilih ditangkap oleh polisi atau ‘militer’ sih.

Marie melempar cangkir kertas yang kosong dan bungkusnya ke tempat sampah, lalu menghela napas.
Dia kembali pada Naoto dan AnchoR yang sedang menunggunya, sebuah pertanyaan yang masih tertinggal di sudut pikirannya muncul kembali.
–Sekarang, hasil apa yang akan muncul kali ini..?
Hebatnya—bukan, meskipun rasanya benar-benar memuakkan, karena mereka telah mengambil inisiatif, tidak ada orang sipil yang menjadi korban jiwa.
Tanpa pengumuman potensi aktivitas teroris tersebut, orang akan penasaran seberapa banyak insiden yang akan terjadi ketika ‘meriam utama’ awal dan EMP menyebabkan mesin-mesin mengalami malfungsi, berapa ribu orang yang akan mati.
Dalam hal ini, apa yang mereka lakukan tidak sepenuhnya sia-sia.
Hanya satu hal itu yang bisa dia simpulkan dengan bangga–tetapi…
Pada akhirnya, dia menyebabkan merusak daripada membantu, dia membantu pemerintah menyembunyikan berita ini, dan bahkan mempercepat rencana ‘militer’ Shiga.
Kenyataan seperti itu sungguh–
“Mama…saya mau perintah.”
“–Oh, eh? apa?”
Apa yang sedang dipikirkan Marie terpotong, lalu dia mengangkat kepalanya.
Entah kenapa, AnchoR bergerak-gerak gelisah seraya mendongak ke arah Marie.
“Mama…‘Mama menangis’…beri perintah agar saya membantu Mama.”
–Menangis? Aku?
Marie tanpa sadar menyentuh mata dan pipinya…tapi dia tidak sedang menangis.
–Barangkali, biarpun mereka dibuat oleh tangan ‘Y’, automata tetaplah sebuah automata, kan? Mungkin mereka tidak bisa sepenuhnya memahami emosi manusia.
Tanpa sadar, hal ini membuat Marie merasa lega…lega?
Sebelum Marie dapat memadamkanketidakyakinannya.
“…Mama, Mama menangis…mama meminta bantuan dari orang lain…karena itu, saya mau perintah.”
“–”
Kali ini, Marie merasa kaget.
Lalu, sesuatu yang tak dikenal, yang mirip seperti rasa jijik, tidak bisa keluar, karena perasaan ini tidak bisa dilampiaskan.
AnchoR memang automata seperti itu–kenyataan ini tetap tidak dapat disangkal.
Marie bisa memahami perasaan seperti memanjakan sebuah automata, dan dia memang berpikir kalau automata ini manis.
Tapi masalah ini sepenuhnya berbeda. Mentalitasnya sebagai seorang teknisi mesin jam–tidak bisa memandang AnchoR sebagai sebuah mesin sederhana saja.
Automata bukanlah manusia, sama seperti bagaimana Marie bukanlah sebuah automata.
Dalam hal ini, apakah aneh kalau Marie berharap sebuah automata bertingkah seperti sebuah automata–tidak, itu adalah hal yang wajar.
Oleh karena itu, rasa jijik yang tercipta karena perasaan terpendam dalam dirinya ini masih belum tampak.
“…Apa AnchoR bisa membantu?”
Tidak. Rasanya aneh. Mustahil.
Marie tidak pernah mellihat automata dengan reaksi seperti itu.
Memandang automata suram di depannya ini sebagai sebuah mesin itu terasa aneh.
“…Erm…kalau begitu, AnchoR–apa kamu bisa ‘menghancurkan’itu?”
–Aku tidak boleh berpikir macam-macam.
Marie mendengar suara rem di suatu tempat di dalam hatinya saat dia mengajukan perintah yang diminta sang automata.
AnchoR kembali memastikan,
“…Apa itu bisa membantumu, Mama.”
“Y-Ya, setelah benda itu hancur, situasinya akan berubah.”
Benar–karena AnchoR bersedia membantu, inilah pilihan terbaik.
Situasinya akan membaik jika mereka menghancurkan senjata raksasa tersebut. Paling tidak, orang-orang itu tidak akan berhasil meraih apa yang mereka inginkan.
Kemudian–renung Marie. Kitalah yang mengumumkan aksi terorisme sebelumnya.
Jika mereka menyelesaikan kejadian ini sebagai serangan teroris biasa dan lalu dipadamkan oleh pemerintah–dengan skenario ini, situasinya akan sedikit lebih bisa ditolerir.
Tapi karena pemikiran ini, AnchoR–tersenyum tanpa dosa yang membuat Marie tidak bisa berkata-kata.
“Kalau begitu, papa akan menolongmu, mama…jadi jangan menangis, mama, oke?”
–Apa yang dia katakan?
Marie mendengar perkataan itu yang tidak bisa dia mengerti, dan Marie mau tidak mau mencari-cari Naoto–
“…Wha–hei, Nao–a-apa yang terjadi padamu?”
Marie menahan diri dari meneriakkan nama itu seraya berlari cepat.
Tepat di depannya adalah Naoto yang kelihatan pucat, terkapar di tanah, dan terengah-engah dengan marah.
“…Ah–Marie. Tidak usah pedulikan, kalau bisa, carilah obat sakit kepala…atau obat bius yang tidak akan membuatku pingsan?”
Naoto berkeringat melimpah ketika Marie berlari ke arahnya.
Di momen ini, Marie–akhirnya sadar.

“Tung…gu sebentar…kemana headphonemu?”
“–Apa yang kau bicarakan, Marie? Tentu saja benda itu rusak di Akihabara.”
Yah, tentu saja. Naoto memang membuang benda itu di depan Marie, tapi bukan itu yang Marie tanyakan–
“Kalau kau punya waktu untuk menghabiskan uang buat sebuah automata, beli suatu hal untuk dirimu sendiri! Ya ampun, apa kau ini benar-benar idiot!?”
–Faktanya, Marie tidak tahu dunia apa yang Naoto dengar, bagaimana dunia ini tampak di hadapannya.
Tapi orang biasa seperti Marie pun bisa mendengar suara-suara abnormal dari Grid di bawah mereka–Akihabara, dengan telinganya sendiri.
Mustahil Naoto tidak bisa mendengarnya.
Tidak, barangkali serupa seperti di Kyoto atau Akihabara. Saat itu, Naoto mengenakan headphone kedap udara ketika mereka bercakap-cakap, jadi dengan tidak mengenakan headphonenya–apakah dunia ini tidak begitu bising? Lebih lanjut lagi, dalam situasi ini…
Namun, wajah Naoto tetap berkerus seraya melengkungkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak butuh sekarang…kalau aku beli sekarang, aku tidak yakin kalau aku tidak akan mengenakannya?”
“Tenangkan dirimu! Ini bukan waktunya bicara bodoh! Apa kau tahu seberapa sakit dirimu saat ini? Kau kelihatan seperti akan mati kapan saja!”
“Ah–jangan bilang begitu, Marie. Kau membuatku tergoda, dan itu–benar-benar tidak bisa kutahan.”
–Menggoda?
Marie merasa ragu akan ucapan Naoto, kemudian, dia mendapat jawaban dari mata Naoto.
Mata kelabu itu, yang sedang menggigil kesakitan, adalah jawaban paling kuat.
–Jika Naoto tidak memaksakan diri, dia akan berpikir untuk menusukkan obeng ke dalam kepalanya agar bisa lepas dari keadaan ini–itulah yang dikatakan oleh kedua mata tersebut.
“Tolong…aku akan beli headphonenya secepat mungkin tanpa perlu kau suruh, setelah aku mendapatkan ‘apa yang kuperlukan’, tentunya. Pokoknya, carikan obat penangkal rasa sakit, oke?”
Marie merasa terintimidasi oleh perkataan tersebut, dan tanpa sadar mengangguk, tapi–
“A-aku tahu…tapi–apa yang ‘kau cari’?”
Toko obat–kalau tidak salah, ada satu di sekitar sini.
Marie bertanya-tanya sambil melihat ke sekeliling, sedangkan Naoto terlihat lemah dan lunglai–
Tapi matanya berlawanan dengan mata Marie–yang digambarkan oleh AnchoR sebagai ‘hampir menangis’–dipenuhi dengan keinginan yang kuat
Balasan Naoto membuat Marie membelalakkan matanya.

“Apa lagi…mencari ‘peluang menang’! aku ingin mengalahkan orang-orang yang melakukan hal seperti itu pada RyuZU–”

“…Papa, Papa memerintah saya untuk mengusapmu?”
“Oh~ bagus bagus! Papa akan baik-baik saja selama kau mengusap-usap papa, AnchoR!”
Naoto mengabaikan protes Marie, kemudian melahap obat penangkal rasa sakit yang dibawanya–satu kotak penuh, lalu bermain-main dengan AnchoR dengan riang gembira.
Marie merasa sedikit khawatir sebelumnya.
Wajah Naoto terus menggeliat-geliat, hanya berhenti setiap kali dia berinteraksi dengan AnchoR. Tadinya Marie mengira kalau itu karena luka bakar yang Naoto derita, tapi dia telah melupakan sesuatu, ketika dia ingat sesuatu itu, dia langsung mengerti.
Barangkali Naoto merasa sangat kesakitan, sampai-sampai dia tidak terganggu dengan luka bakar yang dia derita.
“…”
Marie menurunkan pandangannya. Dia mendapati dirinya begitu menggelikan.
Dengan kata lain, Naoto–dari tadi telah melakukan apa yang dia katakan.
Apa yang dia lakukan hanyalah ‘melakukan apa yang bisa dia lakukan’.
Berbeda dari Marie, yang hanya bisa membayangkan dan tidak bisa mengambil keputusan…

Naoto terus mengelus-elus kepala AnchoR, lalu mengangkat kepalanya seraya bicara pada Marie,
“…Marie, untuk memastikan saja, Grid Akihabara itu salah satu bagian yang membentuk Multi Grid Tokyo, jadi kita tidak bisa menghancurkannya sekaligus, kan?”
“Benar. Dilihat dari sistemnya, itu tidak mustahil, tapi efeknya akan terasa ke seluruh ibukota.”
Menara jam mengendalikan fungsi-fungsi kota di grid ini–sedangkan Menara Inti mengendalikan menara-menara jam tersebut.
Dan tempat dimana Menara Inti ini terletak, adalah Menara Inti Horologis negara ini.
Yang lebih dikenal sebagai ‘Pilar Surga’.
Berbeda dari menara inti yang menghujam dalam ke bawah tanah, ‘Pilar Surga’ adalah pilar raksasa yang menjulang tinggi ke langit, seperti yang disiratkan namanya.
“Sebagai contoh, anggaplah Tokyo seperti sebuah jam.”
Jika ‘Pilar Surga’, yang diletakkan di pusatnya, diasumsikan sebagai inti pendulum, Grid-Grid kota di sekelilingnya bisa dipandang sebagai penyeimbang, roda penyeimbang, waterpas, regulator, dan segala macam alat pengatur gerakan jam lainnya.
Grid-grid kota ini mengisap daya ‘Equator Spring’ yang datang dari bawah tanah, lalu mendistribusikannya ke seluruh grid di Jepang–dengan kata lain, itu adalah ‘Pergerakan Utama’ terpadu.
“Jika Grid Akihabara ambruk, lingkar ibukota dapat ambruk sepenuhnya–itu akan melibatkan seluruh Jepang, dan dalam skenario terburuknya, dapat menghancurkan seluruh Asia Timur. Sebesar itulah pengaruhnya Multi Grid Tokyo.”
Kalau begitu–Naoto tertawa kecil.
“Tapi di sisi lain, biarpun Akihabara benar-benar berhenti, ‘grid-grid tetangga’ masih bisa mempengaruhi Akihabara, kan? –Ah–papa sudah baikan berkat kamu, AnchoR!”
“…Benarkah? Papa masih kelihatan sakit, papa…”
“Rasa sakit ini sih bukan apa-apa kalau demi istri dan anakku–sekarang, kembali ke situasi kita, oke?”
Lalu Naoto menyeringai seperti orang tak terkalahkan, lalu dia mendeklarasikan,

“Kita hanya perlu memanaskan Grid Akihabara atau bakar semuanya, bersama dengan senjata itu.”

“–…”
Marie terdiam, dia tak bisa berkata apapun.
Bypass yang mereka gunakan untuk pengumuman terorisme palsu mereka telah termagnetisasi, sehingga tidak bisa digunakan.
Malahan, keadaannya tidak sesederhana yang Naoto katakan. Sementara Akihabara termagnetisasi dan tidak bisa berfungsi, tidak ada cara untuk mengendalikan fungsi kota grid Akihabara–tapi–
“Meskipun salah satu gridnya berhenti berfungsi, grid-grid tetangga akan membantu dan mempertahankan fungsinya–kan? Kalau grid-grid tersebut dapat mempertahankannya–mereka juga akan memutus fungsi mempertahankan satu grid tersebut, kan?”
–Dengan kata lain, pemuda ini berencana untuk memenuhi apa yang dia nyatakan dulu.
–Apa yang dia pikirkan hanyalah untuk melemparkan sekelompok orang itu ke dalam api.
Setelah menyadari hal itu, Marie bertanya, dia kelihatan setengah linglung,
“…Jadi kau menemukan sesuatu?”
“Belum. Aku menemukan beberapa bypass, tapi kelihatannya Grid Ueno sendiri tidak bisa memberikan pengaruh banyak. Kelihatannya seperti yang kau bilang Marie, kalau Multi Grid adalah sebuah benang dengan banyak fungsi kendali yang saling berhubungan, saling membantu satu sama lain..tapi–”
Naoto menyatakan dengan tegas,
“Selama aku mendapat…sesuatu yang pasti–!”
Naoto tersenyum sinting dan bengis, karena rasa sakit dan amarah, lalu dia berkata,
“Aku tidak akan memakai headphone itu, sampai aku memukuli para bajingan itu sampai ingus mereka keluar.”
Kemudian, tingkah Naoto berubah.
Dia tersenyum santai, kontras dengan senyumnya yang sebelumnya, lalu dia membiarkan AnchoR digendong di punggungnya, dan berdiri.
“Dan mencari apa yang AnchoR inginkan itu penting! Kita harus mengganti 1.000 tahun ketidakaktifannya, jadi bagaimana bisa aku membiarkan AnchoR menunggu! Ayo, AnchoR, mau pergi kemana nanti! Melihat-lihat baju? Tapi bajumu sekarang juga imut! Papa senang!”
Tapi AnchoR, yang sedang bersandar di punggung Naoto, berbisik ke telinga Naoto,
“Tapi…papa, mama bertanya apakah saya bisa menghancurkan itu…”
Ketika mendengar hal itu, Naoto langsung memandang Marie dengan tidak menyenangkan,
“Marie! Kau bilang begitu!?”
“Y-ya…akan lebih mudah kalau kita menghancurkan–”
Menghancurkan senjata itu jauh lebih cepat daripada memanaskan grid-grid sekelilingnya–
Tepat ketika Marie hampir melanjutkan kata-katanya, Naoto menyela,
“Aku keberatan! Aku keberatan sekali! Kau perlakukan AnchoR sebagai apa, dasar gadis ranjau!?”
–Apa lagi? Marie bertanya-tanya.
Spiritnya sebagai seorang teknisi bersikeras kalau AnchoR adalah sebuah automata, sebuah perwujudan kekerasan yang tidak masuk akal dan irasional, sebuah ‘senjata’ yang harusnya digunakan pada momen seperti ini–
Tapi sebelum Marie bisa berkata begitu, Naoto melanjutkan kata-katanya,
“…Eh, dengan asumsi kalau AnchoR dalam keadaan sempurna, sampah di bawah sana itu bahkan bukanlah bentuk seni kelas B yang bisa dipotong-potong dan diserahkan pada kolektor sampah–kayaknya. AnchoR memang kuat–tapi–”
“…Erm…maaf…”
“Kamu tidak perlu minta maaf, AnchoR! Kamu tidak perlu mendengarkan kata-kata bodoh apapun dari gadis ranjau ini.”
“I–”
Marie menyangkal tanpa pikir panjang, lalu Naoto menyipitkan matanya ke arah Marie.
“Aku sudah bilang kalau AnchoR perlu mengisi kembali, kan? Sebagai contoh, jika AnchoR yang sekarang beralih ke laju output ketika dia melawan RyuZU, outputnya adalah 12, tahu? Beberapa detik saja akan–ah, tapi kita sedang membicarakan perspektifnya AnchoR, tahu? Pokoknya, outputnya akan menjadi 1 dalam beberapa detik–mode aktivasinya saat ini. Bagi AnchoR sekalipun, apa kau pikir dia dapat menghancurkan sampah raksasa itu dalam waktu sekejap itu?”
“…In…”
“AnchoR perlu memulihkan diri sampai dia bisa beroperasi dengan output maksimal selama beberapa saat, memperoleh daya kinetis dari ‘Gir Kekal’ lalu menyimpannya, jadi…”
Naoto berhenti, lalu mengorek telinganya.
“–Sekitar 160 jam, dan pada waktu itu, musuh akan memperoleh dayanya kembali…sebaiknya lupakan keinginan egoism untuk mengandalkan AnchoR–lalu! Yang lebih penting!”
Naoto memasang wajah merendahkan sambil berkata,
“Kau membiarkan anak kecil menangani segalanya, lalu merayakan endingnya–bukannya itu terlalu idealistis? Kau ini punya kehormatan tidak, sih? Jujur, aku merasa malu melihat perbuatanmu.”
“–!”
Gak–Marie merasa darahnya mendidih, dan tubuhnya gemetar,
Terhina, malu; kedua kata ini tidak cukup untuk menggambarkan perasaan yang membakar kepalanya.
Tetapi, AnchoR menerangkan dengan ragu,
“…Tapi papa…‘metode lainnya’–”
“Nggak, itu tidak ada bedanya. Aku menolak, sepenuhnya, pokoknya tidak, aku tidak mengizinkannya!!”
“…Uu, erm…”
Dengan Naoto yang menyatakan keberatannya sekuat itu, AnchoR hanya bisa terdiam.
–Apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu?
Marie kembali merasakan jarak diantara dirinya dengan kedua orang itu, hal ini membuatnya merasa kesal. Logika ini yang tidak dia ketahui, jawaban tepat yang diputuskan tanpa sepengetahuannya–karena faktor-faktor ini, Marie merasakan ketidaksukaan yang tidak bisa digambarkan.
“…Maaf.”
Dari belakang kepala Naoto, AnchoR menundukkan kepalanya pada Marie.
Marie merasa kaget dalam hati saat mendengar kata-kata tersebut,  and Naoto berujar blak-blakan,
“Woah, Marie…kau berhasil mengecawakan anak yang sudah merasa kecewa selama 1000 tahun. Kulihat akhirnya kau mencapai status seorang sadis sekarang, kan?”
“A-aku tidak–aku tidak bermaksud begitu–”
“…Maaf, mama.”
“Sudah kubilang jangan panggil aku begitu–ahh, aku tidak sedang membicarakan hal itu! Oke! Aku mengerti! Aku yang salah, maaf! Sekarang jangan pasang wajah begitu–!”
–Marie tidak lagi tahu apa yang sedang dia katakan.
Marie menyesal, tapi dia tidak bisa memikirkan ide apapun.
Dan tentu saja, seberapa naïf dan egois pemikirannya untuk menyerahkan segalanya pada seorang anak kecil untuk membereskan masalahnya.
Selama saat ini, meskipun keringatnya mengucur begitu deras–Naoto sedang mengumpulkan seluruh informasi yang bisa dia dengar dengan telinganya, mencoba sebisanya untuk memecah kebuntuan ini.
Jika dipikir-pikir dengan seksama–sejak EMP kemarin, pemuda ini tidak pernah berhenti sedikitpun.
Jadi, Marie Bell Breguet,
Apa yang kau rencanakan?
“—”
Marie menggertakkan giginya, hampir-hampir menggigitnya.
Dia selalu saja begini, sudah menjadi kebiasaannya. Dia benar-benar–benci dirinya sendiri.
Berapa kali, jam, hari, tahun yang harus kuhabiskan untuk bimbang sebelum aku belajar…!
“–Naoto.”
“Ya ya, napa?”
“Maaf, aku akan pulang duluan. Apa aku bisa menyerahkan orang ini padamu, AnchoR?”
“…Kalau mama memerintahkan–”
“Ini bukan perintah. Ini ‘permintaan’. Orang ini–aku akan menyerahkan Naoto padamu. Jika polisi atau ‘militer’ menemukanmu, kecoh mereka sekuat tenaga dan kembali ke tempat kita berkumpul.”
Marie tidak menyadarinya.
Di momen ini, di waktu singkat ini, untuk pertama kalinya–dia bicara pada AnchoR dengan menganggapnya sebagai seorang ‘sekutu’, bukan sebagai sebuah ‘automata’–hanya AnchoR yang menyadari hal itu.
“…Baik, sebuah permintaan? Permintaan ini lebih absolut daripada sebuah perintah.
Senyum AnchoR mengembang, dan Marie balas mengangguk.
Naoto tidak bertanya kemana Marie pergi.
Dan Marie tidak memberitahu Naoto tentang apa yang ingin dia tanyakan.
Kepala Halter dan Vermouth berhenti berfungsi akibat EMP, dan di titik ini, keduanya akhirnya hidup dan berfungsi.
Itu saja.
Apa yang bisa Marie lakukan hanyalah melangkah maju tanpa keraguan, untuk melakukan ‘apa yang bisa dia lakukan’–‘apa yang harus dia lakukan’.

Marie membalikkan tubuhnya sampai punggungnya tidak kelihatan lagi, dan hanya saat itu AnchoR berkata,
“Mama tidak menangis lagi…kamu hebat, papa.”
“…Gadis itu benar-benar hebat, AnchoR.”
Naoto tersenyum samar dan bicara penuh rahasia.
“Dia itu jenius.”
“…Jenius?”
“Yep, artinya orang yang~benar-benar~ hebat.”
“…Lebih hebat, dari orang hebat?”
Ketika melihat AnchoR memeluk boneka dan membelalakkan matanya, Naoto melangkah pergi, dia kelihatan puas.
“Benar! Jangan beritahu kalau aku bilang begitu ya!”
Langkah kaki Naoto semakin cepat, dan sesaat kemudian, dia berlari kecil.
“Dia sering memikirkan hal-hal konyol–tapi dia akan memamerkan kejeniusannya saat diperlukan. Dia berbeda dari orang sepertiku.”
Naoto merasa kalau orang-orang jenius punya masalah mereka sendiri.
Tapi bagaimanapun juga, melihat orang hebat sepertinya merasa begitu frustasi akan sesuatu yang tidak penting, jika dikatakan dengan sopan, tetap saja itu membangkitkan amarah.
Bagaimanapun, mereka yang begitu pintar dengan bodoh itu memang benar-benar mirip orang idiot, kan?
“Yah, kelihatannya dia sudah pulih kembali, jadi ayo kita lakukan apa yang bisa kita lakukan! Oke, kita akan pergi ke tempat yang sedikit lebih jauh. Lari, yuk!”
“..Oke.”
AnchoR, yang digendong di punggung Naoto, mulai berpikir,
–Papa sudah hebat, dan dia bilang kalau mama lebih hebat daripada orang hebat.
Dengan kedua orang ini, dan kakak disini, tidak akan ada yang mati, semua orang akan selamat, dan akan tersenyum.
Harapan seperti itu yang tidak diperbolehkan untuk dia miliki selama ribuan tahun ini menyebabkan AnchoR tersenyum,
–……
“…Papa, saya mau perintah.”
“Uh, erm…pikirkan sejenak, ah…iya, ada toko o-olahraga, kecil di sebelah sana…”
Sambil berkata begitu–
“A-apa kamu keberatan…membeli air, dan kaleng oksigen kecil?”
Naoto, tanpa sedikitpun martabat sebagai seorang ayah–
Ambruk ke lantai karena tubuh lemahnya, dan hanya bisa menyaksikan AnchoR yang berlari pergi…

“–Maaf, Perdana Menteri…tapi apa yang baru saja anda katakan?”
Menteri Pertahanan mewakili semua orang disana saat dia bertanya dengan suara bergetar.
Pertemuan Dewan yang sia-sia dan tidak efektif ini masih berlanjut dari malam kemarin sampai saat ini.
Dan setelah mengadakan serta membubarkan rapat ini berulang-ulang kali, dalam rapat kelima–pernyataan dari Perdana Menteri–yang merupakan perwakilan dari partai penguasa, menyebabkan setiap anggota yang hadir dilanda rasa terkejut dan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
Namun, di hadapan reaksi seperti itu, Perdana Menteri kelihatan tidak senang seraya menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Seperti yang sudah kubilang. Aku sudah menghubungi nomor hotline SSI untuk menjelaskan situasi kita, kemudian–”
Dia menarik napas dalam-dalam, dan menyatakan dengan tegas,

“Aku membuat permintaan darurat untuk menggunakan ‘Tall Wand’ pada Grid Akihabara.”

Tidak ada keributan yang terdengar di dalam ruang dewan ini.
Semua yang hadir tidak bisa berkata apa-apa, ketika kesunyian menyelimuti tempat tersebut.
Dan tepat di belakang Perdana Menteri yang mengangkat wajahnya dengan bangga, Kepala Sekretaris Kabinet kelihatan seperti sedang menelan pil pahit ketika dia menjelaskan kepada semuanya dengan singkat.
“Penyensoran informasi akan mencapai batasnya, dan hanya masalah waktu sampai semua negara tahu hal ini. Saat mereka tahu, mereka akan segera mengusulkan agar kita menggunakan ‘Tall Wand’, tapi terlepas dari negara mana yang mengusulkannya, hal ini akan membawa perselisihan dari negara-negara Asia Timur, dan ada kemungkinan hal ini akan memicu perang.”
…Mereka tahu itu.
Atau paling tidak, semua orang selain Perdana Menteri–semua orang yang lain barangkali sudah menyadari kenyataan pahit ini, terlepas dari prinsip dan filosofi yang mereka anut.
Tujuan komite ini adalah untuk memikirkan apa yang harus dilakukan, dan di saat yang sama, alasan kenapa mereka memiliki pendapat yang berbeda sehingga perdebatan mereka tidak berujung, kan–?
Ketika semua orang tetap bungkam, “Tetapi”, Kepala Sekretaris Kabinet melanjutkan,
“Jika negara kita melaporkan skandal ini dan meminta bantuan, situasinya akan berbeda. Kita telah mengungkapkan seluruh tujuan kita dengan jelas, menghancurkan seluruh grid Akihabara bersama senjata tersebut. Saat ini, ‘militer’ yang ditempatkan di negara-negara tetangga dan ‘Meister Guild’ sedang buru-buru datang kesini secepat mungkin. Untuk meminimalisir kerusakan karena penghancuran Grid Akihabara, dan juga untuk menghindari perang dengan negara-negara tetangga, inilah keputusan terbaik–keputusan Perdana Menteri”

Kepala Sekretaris Kabinet mengakhiri penjelasannya.
Nada bicara yang menyiratkan teror di akhir penjelasannya itu tampaknya mengindikasikan pemikiran asli Kepala Sekretaris Kabinet dalam masalah ini.
Setelah mendengar penjelasan Kepala Sekretaris Kabinet itu, semua orang yang hadir disana memikirkan hal yang sama.
Seluruh orang yang hadir menyepakati hal yang sama barangkali adalah keajaiban sesaat.
Dan apa yang mereka pikirkan adalah–‘kau ini bicara apa’.
Kalau itu adalah lelucon, maka leluconnya benar-benar buruk–tapi kalau bukan lelucon, pernyataan itu malah lebih buruk.
Menteri Pertahanan adalah orang pertama yang pulih dari kekacauan ini, lalu dia berseru seperti tembakan beruntun,
“–Perdana Menteri! Apa anda masih waras? Saya punya banyak keberatan atas keputusan anda, tapi–menyebut tindakan sewenang-wenang anda sebagai tindakan yang melampaui wewenang itu adalah hal yang jinak!”
Tapi sang Perdana Menteri–
“–Situasi saat ini begitu gawat.”
Berkomentar santai di depan cacian seperti itu.
Kemudian, dia melanjutkan kata-katanya dengan percaya diri kepada kerumunan yang masih terbungkam,

“Sebagai Perdana Menteri, Saya nyatakan negara ini dalam keadaan darurat! Semuanya, negara sedang berada dalam krisis kehancuran. Kita tidak punya waktu untuk menunggu ‘Yatsukahagi’ mulai bergerak kembali!”

(Dia mengambil tindakan ini sekarang…! Dasar bajingan sialan…!)
Ketika ruangan ini dipenuhi dengan raungan dan dengungan, Karasawa diam di sudut ruangan sambil menggigil karena rasa dingin di punggungnya.
–Kita punya bajingan yang super bodoh disini.
Karasawa tidak mengacu pada Perdana Menteri; orang itu hanyalah orang tolol yang tidak pantas dibicarakan.
Karasawa yakin kalau ada satu bajingan super bodoh yang memanipulasi si dungu itu dari balik layar.
Kalau si dungu itu didandani seperti orang pintar sih tidak masalah, tapi si bajingan itu menghipnotis si dungu agar si dungu mengira kalau dirinya itu pintar.
Sederhananya sih begitu,

–Meskipun dia akan menyaksikan situasinya berkembang, pada akhirnya kau mungkin akan tersudutkan. Kalau itu terjadi, kau harus menyatakan ‘aku adalah Perdana Menteri yang jujur’ pada masyarakat dan negara-negara lain, ketika krisisnya berakhir, kau tinggal menyalahkan penguasa era sebelumnya yang berkuasa dalam jangka waktu yang lama sehingga kau bisa lepas dari pertanggungjawaban–

Si bajingan itu barangkali menyusun kebohongan seperti itu untuk menipu si dungu.
Kalau boleh jujur, apa mereka benar-benar berpikir kalau ‘Tall Wand’ adalah sesuatu yang bisa bisa begitu mudah digunakan? Kalau ‘Tall Wand’ bisa dikerahkan seperti jasa pengiriman pizza yang mengatakan ‘baik, kami akan mengirimkannya dalam 30 menit’?

–Benda itu adalah senjata penghancur massal, senjata anti-bumi terkuat berdasarkan teori-teori era lama.
‘Tall Wand’ berbentuk seperti tongkat logam yang dijatuhkan dari balkon pengamatan orbit satelit, dan memiliki desain yang sederhana.
Tidak ada catatan penggunaan aktualnya–tapi dikatakan bahwa daya penghancurnya dapat menghancurkan sebuah kota.
Penggunaannya memerlukan voting SSI, dan ¾ anggotanya harus menyetujuinya.
Tetapi, saat ini ada 7 negara anggota–dan hal ini akan sulit dilaksanakan.
Orang akan merasa ragu apakah si dungu itu tahu senjata jenis apa ‘Tall Wand’ itu, dan tahu kalau rasanya mustahil untuk memiliki diplomasi ajaib agar mereka mendapat izin menembak dalam waktu sesingkat itu.
Kalau begitu–ya benar,
(Ini sudah direncanakan sejak lama…!)
“–Benar! Saat ini keadaannya darurat…! Perdana Menteri, negara ini akan hancur jika kewenangan atas negara ini diserahkan pada orang tolol dan tidak kompeten sepertimu!”
Urat-urat Menteri Pertahanan menegang saat dia berteriak.
Dan Perdana Menteri, yang merasa begitu terhina oleh kata-kata tersebut, balas berseru marah,
“Tahu diri dong, nak Tokita! Kau pikir aku–”
“Diam! Aku tidak ingin membicarakan situasinya dengan pengkhianat. Sebagai Menteri Pertahanan, aku mencopot seluruh wewenangmu selama krisis domestik ini!”
Menteri Pertahanan berteriak dengan marah membara, lalu menyatakan,
“Mulai sekarang, kami ‘militer’ akan merngambil kendali untuk sementara! Di saat yang sama, kami akan menuntut anda atas perbuatan anda memicu konflik internal serta bersekongkol dengan pihak luar!”
“A-Apa yang kau katakan–!”
Perdana Menteri–sekarang mantan Perdana Menteri, berseru kaget.
Sebagai gantinya, Menteri Pertahanan meletakkan setumpuk tebal kertas seraya berteriak,
‘Kau! Kau tahu kalau senjata itu ada, tapi kau tetap tidak bicara! Kau ingin menggunakan senjata itu untuk mengkonsolidasi basis politikmu, dan buktinya ada disini! Kau tahu kalau rencananya gagal, lalu langsung menghubungi negara lain untuk mengelak dari tanggungjawab anda, niatan anda ini menyebabkan kerugian besar bagi negara kita! Perbuatanmu ini adalah tindakan pengkhianatan!”
“O-Omong kosong macam apa yang kau bualkan! Apa yang kau siratkan?”
“Lihatlah! Aku sudah punya bukti–tunjukkan padanya!”
Tepat ketika Menteri Pertahanan berteriak begitu, layar besar di dinding mulai menayangkan sebuah gambar.

–Apa yang muncul disana adalah sebuah ruangan gelap.
Dan di tengah-tengah ruangan itu, seorang pria tua yang mengenakan seragam militer lama sedang duduk disana.
Si pria tua, yang ekspresi wajahnya tidak kelihatan, bicara dengan tenang,
“Maaf, Tuan Perdana Menteri–tapi bisa saya bilang kalau anda meremehkan kami, menggunakan kami sebagai tumbal anda. Karena anda telah merendahkan kami sebagai revolusionis, kami akan menggunakan darah anda sebagai bayarannya. Kami akan memukul mundur pemerintahan anda dengan kebencian dan kedengkian.”

Tayangan singkat itu berakhir, dan ruang rapat tersebut dipenuhi dengan suara-suara kebencian dan dendam.
Ditengah-tengah suara-suara tersebut, Menteri Pertahanan bicara dengan riang,
“–Mantan Perdana Menteri, inilah yang ditemukan oleh satpam di dalam terminalmu, ‘Sebuah Pengumuman Tindakan Kriminal’. Kau masih berpikir kalau kau adalah Perdana Menteri yang jujur bahkan setelah kau menyembunyikan hal seperti ini? Konyol sekali!”
“Tidak–video itu tidak ada hubungannya denganku! Aku tidak tahu!”
“Diam! Kalau kau mau berdebat, kami akan membiarkan kau menjelaskannya di ruang investigasi–bawa dia pergi!”
Dua opsir militer muncul di belakang Menteri Pertahanan, lalu mengapit mantan Perdana Menteri, memeganginya dan membawanya keluar dari rapat ini.
Tapi untuk sementara ini, seorang pejabat menghalangi jalan mereka.
“Permisi, Menteri Pertahanan! Saya ingin menanyakan sesuatu dulu! Saya ingin bertanya tentang kenyataan kalau ‘militer’ telah menerima perintah untuk siap bertempur dari 2 pekan yang lalu! Tampaknya, ada titik buta dalam penugasan pertahanan ibukota, dan saya rasa penyebab perintah itu adalah insiden teroris Akihabara, lho? Bukan, apa ada orang lain yang memiliki ketrampilan dan pengetahuan untuk mengeluarkan perintah seperti itu?”
“A-apa yang sedang kau isyaratkan?”
“Saya melihat kalau ini hanyalah apa yang anda rencanakan untuk merebut kekuasaan!”
“Omong kosong apa yang kau bicarakan! Meskipun kau mau mempermalukanku, apa yang kau katakan sudah terlalu berlebihan!!”
“Kalau begitu, tolong jawab pertanyaan saya–!”
…Rapat ini menjadi kacau balau, tidak bisa lagi diselamatkan.
Sebelum siapapun menyadarinya, bahkan Perdana Menteri sekalipun, yang akan dibawa keluar, berada diantara mereka, dan seluruh anggota sidang sedang ribut. Tidak peduli bagaimanapun mereka bersikeras, apa yang mereka bicarakan hanyalah pengulangan dari pandangan mereka sendiri.

(Tidak salah lagi. Pasti ada seseorang yang menjadi dalang di balik situasi ini…!)
Karasawa mengerang di tempat yang sedikit jauh dari ruang rapat yang penuh keributan itu.
Seluruh insiden ini berlangsung terlalu sempurna.
Coup d’etatnya, tindakan sewenang-wenang Perdana Menteri, pengungkapan dan keributan yang ditimbulkan, semua itu berjalan terlalu sempurna.
Ini bukan hanya pertanyaan tentang kejatuhan Kabinet Pemerintahan lagi. Faksi-faksi di negara ini akan terpecah belah, tidak terkecuali ‘militer’, dan hanya masalah waktu sampai konflik internal menyeruak ke permukaan.
(Apa itu korespondensi ‘militer’ Shiga lama yang disebutkan Profesor Marie …? Tidak–)
Diantara seluruh rentetan insiden ini, barangkali hanya insiden teroris Akihabara saja yang tidak termasuk dalam rencana si dalang.
Karasawa juga mendengar keajaiban meragukan dan tidak pernah terjadi sebelumnya ini dari Marie.
Tapi di titik ini, keajaiban itu pun digunakan ‘sebagai salah satu skenario’.
(Monster ini mampu memanfaatkan ‘sihir’ yang digunakan Profesor Marie dan yang lain–)
Apa itu benar-benar ‘militer’ Shiga lama?
…Ada yang tidak beres.
Karasawa melirik ke arah rapat kacau itu untuk beberapa saat–lalu, dengan enggan dia memastikan sesuatu.
–Kelihatannya cuma aku yang bisa berpikir normal saat ini.
Apa itu karena mereka kehilangan ketenangan akibat situasi yang gawat ini? Ataukah inilah diri mereka yang sebenarnya sebagai perwakilan yang dipilih oleh rakyat.
Sebagai seorang warga negara, Karasawa berharap kalau pilihan pertama adalah alasannya, lalu dia memutuskan,
Tampaknya dia perlu melakukan investigasinya sendiri…meskipun itu benar-benar penuh resiko.
(Kayaknya aku tidak punya pilihan sebagai penasihat–tidak, jelas ini bukan bagian dari tugasku.)
Karasawa menggelengkan kepalanya lalu meringis.
Di saat yang sama, mata tajamnya menyadari seseorang.
Ada seorang pria mencurigakan yang jauh dari kerumunan seperti Karasawa, pria itu mau menyelinap keluar dari rapat.
(Baiklah, sudah waktunya kau menunjukkan jati dirimu…!)
Karasawa melengkungkan bibirnya menjadi senyum kecil, lalu dengan napas tertahan, dia membuntuti pria itu…

Meskipun matahari terbenam, Tokyo tetap terbangun.
Jalanan bawah tanah ini masih ramai, dan dipenuhi dengan suara penuh semangat manusia dan lampu-lampu gir neon.
Naoto dan AnchoR keluar dari keramaian dan kembali ke markas.
Vermouth, yang masih tergantung di gantungan, menyapa mereka dengan riang,
“Yo bocah–eh, ada yang aneh? Apa-apaan penampilan manismu itu? Gimana rasanya di bawah rokmu sekarang? Tunjukkan padaku. Aku khawatir kau mungkin dikerlingin oleh beberapa pria tua yang berniat jahat.”
“Orang sepertimu, paman?”
“Aku tidak mau, tapi sekarang aku ini seorang kakak perempuan–bagaimana, bocah?”
Vermouth terkekeh dan memiringkan kepalanya ragu.
Sejak Naoto memasuki ruangan ini, dia terus menatap meja kerja dalam bengkel ini.
Di sebelah sana, Naoto melihat punggung Marie, yang sedang memperbaiki RyuZU, yang rusak berat.
“…Sudah berapa lama Marie mulai bekerja?”
7 jam berlalu sejak Naoto dan AnchoR berpisah dari Marie.
Dan selama itu, Naoto dan AnchoR menjelajahi Grid Ueno, dan juga Grid Sakuradamon–tapi mustahil rasanya kalau RyuZU telah menjadi dingin ketika Marie kembali.
“Ya.” Vermouth mengangguk, lalu menjawab dengan senyum kecut.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan–4 jam. Dia terus seperti itu selama 4 jam.”
“–…”
“Tentu saja, dia tidak bermalas-malasan sebelumnya. Dia memotong-motongi suku cadang untuk bersiap-siap dulu, lalu menunggu sampai tubuhnya dingin–begitulah.”
Ketika Naoto dan Vermouth bercakap-cakap, Marie tidak pernah menolehkan kepalanya.
Kemungkinan–bukan, pastinya, dia tidak sadar kalau Naoto dan AnchoR sudah kembali.
“Tidak masuk akal, kan? Apa itu kemampuan manusia yang terbuat dari daging dan darah?”
–Tidak masuk akal, benar, itu memang tidak masuk akal.
Itulah yang pernah Naoto dengar–pemandangan penuh teka-teki yang dia lihat di dalam Menara Inti.
Apa yang bisa dianggap sebagai seni ajaib, puncak dari segala seni di dunia.

–Udaranya tampak marah.
Hukum dunia tampak seperti dibengkokkan, terpusat pada gadis mungil pirang itu.
Sekrup, silinder, kabel, pegas, gir–seluruh suku cadang mesin jam–
Sedang menari dengan kecepatan dewa seolah-olah gaya gravitasi tidak berlaku lagi, kembali ke tangan Marie dengan ketepatan seperti waktu yang diputar kembali.
Bahan-bahan yang telah disesuaikan, syaraf-syaraf yang terasah, dan unit-unit yang diselaraskan.
Semua itu–begitu indah. Naoto bisa saja tidak sengaja menangis karena betapa indahnya hal itu.
Napas, aliran darah, dan bahkan friksi tulang dan otot gadis itu membentuk simfoni dewa yang serentak.
Apa ini benar-benar manusia hidup–Naoto merasa ragu.
Inilah kotak musik manusia yang mampu menciptakan musik dengan ketrampilan tertinggi, kan?–
Ketika Naoto dihadapkan dengan pekerjaan dari dunia lain yang membuatnya penasaran, AnchoR tiba-tiba bertanya,
“Papa–apa ini…yang disebut ‘jenius’?”
“–Ah, ya, itu benar…sial.”
Naoto mengangguk seraya menjawab pertanyaan AnchoR, dia menggertakkan giginya dengan menyesal.
Saat itu dia hanya merasa tergerak, melihat pemandangan itu sebagai pemandangan yang sangat indah sampai-sampai dia merasa iri.
Teknik-tekniknya, yang dapat digambarkan sebagai liar–adalah ‘bakat’ yang praktis dapat mengubah dunia.
Tetapi, Naoto tidak hanya terpesona; dia merasa iri dan mendambakan.
Hal ini tidak akan jadi masalah jika apa yang Marie perbaiki adalah Automata lain maupun Menara Inti. Tapi…
Orang itu, orang yang memperbaiki RyuZU, kenapa, bukan aku–

Melodinya tiba-tiba berubah.
“–fwah! Aku kehabisan gula! Coklat, coklat–ah, ketemu…fiuh…uu…? Oh, Naoto. Kau sudah pulang?”
Marie berpikir untuk bernapas normal, berguling di lantai, lalu berbaring.
Dia mengambil sebatang cokelat, lalu mulai mengunyahnya seraya mengangkat kepalanya ketika dia merasakan kehadiran Naoto.
Sedangkan Naoto, yang kelihatannya tidak sedang dalam kondisi terbaik, mengangguk ringan.
“Ya…aku pulang–”
“…Mama, saya pulang.”
“Yup, selamat datang kembali–apa kau menemukan ‘apa yang kau temukan’?”
?”
Marie bertanya, setelah menyadari kalau sebagian rambut hitam Naoto ditutupi headphone.
Naoto mengangguk, lalu dengan wajah sedikit ragu, dia bertanya,
“Ya…ngomong-ngomong, boleh aku tanya dulu, Marie?”
“Apa? Ah, aku bisa mendengarmu saat aku bekerja, lho?”
“Oke. Tolong ya.”
Marie mengangguk, lalu kembali ke meja kerjanya. Marie tidak sefokus sebelumnya–tapi dia masih melakukan perbaikan dengan kecepatan manusia super, lalu bertanya,
“Jadi, pertanyaamu?”
“…Marie, bagaimana caramu memperbaiki RyuZU? Suku cadang yang bisa digunakan RyuZU tidak bisa dibeli di pasaran, kan?”
Marie tidak berhenti sedikitpun saat menjawab pertanyaan Naoto,
“Aku bisa menangani segalanya selain ‘Gir Imajiner’ yang tidak logis itu. Tahu kan, RyuZU disimpan dalam pengawasan keluarga lamaku–keluarga Breguet. Aku pernah ingin membuatnya bergerak, jadi aku merombak dan menyusunnya ulang berulang-ulang kali–bahkan tanpa cetak biru sekalipun, aku ingat posisi-posisi gir nanonya.”
Naoto tetap bungkam, lalu Marie mengalihkan pandangannya ke lantai di sekelilingnya.
Jika orang mengikuti tatapannya, mereka akan menemukan mayat-mayat automata, yang telah dipotong-potong, tergeletak dimana-mana.
“Untungnya jumlahnya sangat banyak–automata-automata kualitas tinggi yang digunakan untuk hal-hal kotor… berapa yang sudah kurusak ya?”
Jawab Marie, lalu Vermouth membalas,
“27 buah.”
“Ah, iya. Aku merusak 27 unit untuk mendapatkan suku cadang mereka, paling tidak, aku mendapat semua suku cadang yang diperlukan.”
“Nona, berhati-hatilah sedikit. Pria tua bernama Conrad itu menangis tersedu-sedu, dan memasang wajah seperti dunia akan berakhir, lho?”
“Aku tidak peduli apa yang makhluk jahat itu pikirkan.”
Marie bergumam dengan wajah serius, lalu dia menoleh ke arah Naoto, tampaknya suatu hal melintas di pikirannya.
Dia mengarahkan ujung obengnya pada Naoto dan berkata,
“Blak-blakan saja–aku tidak punya telinga hebatmu itu. Apa yang bisa kulakukan hanyalah perbaikan darurat menggunakan alat-alat perlengkapan disini. Kaulah yang harus melakukan penyelarasan akhir.”
Biarpun kata-kata Marie terdengar seperti sebuah sindiran, Naoto mengangguk lembut, lalu mengalihkan pandangannya ke samping.
Marie merasa sedikit ragu atas respons tersebut, lalu dia melanjutkan pekerjaannya..
“Ah, bagaimana dengan paman Halter?”
“–Aku tidak bisa mendapakan organ prostetiknya, jadi dia harus menunggu.”
Itu bohong.Gumam Marie.
Tidak, itu bukan karena dia tidak bisa mendapatkan organ prostetik, tapi Marie memang telah mencoba menghubungkan kepala Halter kepada instalasi suara.
–Tetapi, tidak ada respons.
Marie tidak yakin akan status Halter. Malah, biarpun dilakukan dengan prosedur yang tepat, transplantasi kepala mengandung resiko yang besar, apalagi, dalam situasi itu, tidak aneh jika ada kerusakan intern–
Marie menggelengkan kepalanya lalu mengganti topik pembicaraan.
“Bagaimana denganmu? Apa kau bisa membantu sekarang? Aku ingin 3 pergerakan resonansi yang teregulasi sendiri.
“–Maaf, aku tidak tahu cara melakukannya.”
“Kalau begitu sirkuitnya saja tidak masalah. Tolong aku–”
“Aku juga tidak bisa melakukannya. Aku tidak paham apa yang sedang kau lakukan sekarang, Marie.”
Setelah berkata begitu, Naoto berjalan ke sudut ruangan lalu duduk disana.
Melihat hal itu, Marie mengamuk pada Naoto dengan tidak sabaran.
“Ya ampun…paling tidak harusnya kau sudah mempelajari cara membentuk sirkuit di SMP, kan? Kenapa kau tidak paham hal itu? Apa kau tidak merasa sayang atas semua biaya sekolah yang kau sia-siakan itu?”
Ketika mendengar Marie bicara begitu, Naoto menaikkan nada bicaranya dengan tidak senang,
“Hei, Marie, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan sama sekali! Jangan meremehkan seorang kutu mesin ya! Aku membaca buku teksnya sampai bukunya sobek-sobek, dan aku tidak tahu berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli buku tuntunan–yang jumlahnya sangat banyak sampai-sampai tidak bisa kuingat!!”
“Masalahnya adalah KAU, TIDAK, INGAT–! Berhenti bicara dengan nada bangga begitu!”
Marie langsung berseru singkat, lalu dia menjentikkan lidahnya.
“Ya ampun! Kau punya telinga hebat seperti itu, jadi kenapa kau tidak tahu…”
Kalau aku punya indra supernatural seperti itu–Marie bertanya-tanya mengenai hal ini berkali-kali.
Kalau itu dirinya, dia akan memanfaatkan bakat itu sepenuhnya tanpa menyia-nyiakan satu detik pun.
Tapi ketika Marie melancarkan pelototan iri tersebut, Naoto membantah,
“Persis sekali, kenapa begitu? Aku juga merasa aneh. Tidak peduli seberapa banyak buku teks maupun buku tuntunan yang kubeli dan kubaca–aku tidak bisa memahami buku-buku tersebut!”
“Akan kutampar kau bila kau menyombongkan hal itu segitu bangganya! Ahh, aku benar-benar menyayangkan sumber daya kertas yang berharga itu…”
Marie menghela napasnya, dia merasakan migren, barangkali karena darahnya naik.
Marie melahap sepotong coklat, kemudian–tiba-tiba saja dia memiliki keraguan.
…Kenapa tidak?
Marie tidak menyalahkan Naoto. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sederhana.
Mengesampingkan orang lain, mustahil kalau orang ini tidak berusaha keras dalam hal ini–
Si idiot ini adalah fanatik mesin–begitu fanatiknya sampai-sampai dia jatuh cinta pada seorang gadis robot, serta melamarnya.
Dapat dimengerti kalau topik bahasannya adalah topik biasa. Orang ini tidak tertarik sepenuhnya pada apapun yang tidak membuatnya tertarik.
Tapi permesinan–subyek dari ketrampilan teknis, barangkali Naoto memang menghadiri kelas dengan serius.
Apa dia menyerah karena dia tidak paham?
–Bagaimana mungkin? Aku tidak bisa membayangkan orang ini ‘menyerah’. Dia bilang kata-kata ‘aku tidak tahu’ itu saja sudah aneh.
Marie merasa yakin kalau dia mengenali watak pemuda itu dengan baik.
Kalau memang begitu, biarpun dia punya semangat dan kesabaran serta bakat seperti itu, kenapa dia masih tidak paham–?
Kemampuan belajarnya tidak buruk dalam hal apapun. Anggota tubuhnya pun tidak kikuk.
Sejujurnya, meskipun dia memahami betul konstruksi internal RyuZU, apakah dia mampu memperbaiki RyuZU dengan itu saja–?
Sambil memendam keraguan itu, Marie bergumam,
“–Kau pernah memperbaiki RyuZU, kan? Bagaimana caramu melakukannya saat itu?”
“Mencari.”
Naoto membalas singkat, sedangkan Marie mengulang-ulang jawaban itu dengan kosong.
“…Kau mencari cara memperbaikinya sendiri?”
“Aku tidak mengerti teori dan buku teks, jadi aku mencoba segalanya dari A ke Z, sampai suaranya terdengar enak.
–Tidak masuk akal.
Apa orang ini tahu seberapa rumitnya automata bernama RyuZU ini?
–Dia mungkin tahu. Mengingat bakat yang dia miliki, dia lebih paham hal itu daripada diriku.
–Aku tidak bisa memikirkan apapun. Harusnya orang ini punya kesalahpahaman yang sangat besar…tidak.
Dalam sekejap, Marie merasakan firasat yang tidak bisa digambarkan, firasat yang mirip seperti hawa dingin, naik ke kepalanya.
–Mungkin saja itu dirimu, yang mengira kalau kau tahu, yang punya sesuatu yang benar-benar–
“–…”
Marie berhenti berpikir. Dia merasa kalau dia tidak bisa berpikir lebih jauh lagi.
“…Aku memang tidak memahami si idiot ini ya.”
Marie memuntahkan kata-kata itu untuk memutus  apa yang dia pikirkan, lalu mengganti topik pembicaraan.
“Apa kau sudah selesai bertanya? Bagaimana dengan benda ‘yang ingin kau temukan’ itu?”
Ahh, Naoto menggelengkan kepalanya, lalu berkata,
“Marie, benda yang sangat besar itu–disebut ‘Pilar Surga’, kan? Benda itu bukan milik militer, kan?”
“…? Yep. Benda itu diurus oleh Agensi Rumah Tangga Kekaisaran.”
“Agensi Rumah Tangga Kekaisaran? Artinya…oh, begitu ya.”
Naoto tampak memahami sesuatu ketika dia mengangguk-angguk.
–Dan ketika mendengar kata-kata itu, Vermouth tampaknya menyadari sesuatu karena dia tersenyum bodoh dan menambahkan,
“Negara ini, Jepang, punya tradisi kuno yang terukir dalam, jauh sebelum planet ini dimodifikasi menjadi Clockwork Planet. Tidak ada yang bisa melakukan apapun terhadap mereka. Bocah, sebagai orang Jepang, kurasa kau sudah mengerti, kan? Dunia yang tidak bisa diganggu oleh politik maupun budaya–pusat dari Grid Kota, Menara Inti, adalah tempat yang paling cocok untuk tempat bersemayamnya ‘pondasi negara’.”
Naoto menyipitkan matanya lalu bergumam,
“Benda itu tidak kedengaran seperti apa yang kau gambarkan.”
“Tentu saja! Itu hanyalah apa yang tampak di permukaan saja!”
Vermouth tergelak, lalu Marie bertanya dengan skeptis,
“…Apa maksudnya?”
Marie kembali merasakan logika yang hanya tidak bisa dia mengerti–kemudian, tiba-tiba saja Marie terengah,
“–Naoto, apa yang sedang kau pikirkan?”
Suaranya sedikit bergetar saat dia bertanya begitu.
Namun, pemuda yang ditanya itu masih tetap acuh tak acuh, apa yang dipikirkannya mudah ditebak.
Mata kelabunya memancarkan cahaya perlawanan terhadap musuh yang tak terhitung jumlahnya, sedangkan bibirnya membentuk senyum ejekan seorang anak kecil yang sedang merencanakan sebuah keusilan.
Kemudian, kata-katanya, yang berhadapan dengan kecurigaan Marie tentang apakah dia salah dengar, tawa Vermouth, serta kebingungan AnchoR–
Naoto mengungkapkan apa ‘yang ingin dia temukan’.

“Marie, singkat saja. Kita akan menduduki ‘Pilar Surga–dengan kata lain ‘Istana Negara’.”

“–Begitulah. Bagaimana pendapatmu?”
Naoto menghabiskan setengah hari untuk memikirkan ‘sesuatu yang ingin dia temukan’–peluang untuk menang.
Naoto menggambarkan metodenya yang bahkan tidak bisa disebut ‘rencana’ sambil bertanya begitu.
“Ha–hahahaha! Heibocah–nak Naoto! Tebakanku benar! Kau memang benar-beenar menarik! Kau sudah menjadi bajingan yang hebat–tidak, tunggu, kupikir kau memang bajingan yang hebat!”
“Papa…kamu hebat–!”
Vermouth tertawa sambil berguling-guling di lantai, sedangkan mata AnchoR berkilauan.
Hanya Marie yang terengah-engah, dia tampak terkejut.
“–Kau… gila. Apa kau tahu apa yang baru saja kau katakan, semua itu?”
“Aku tahu, tahu betul malah–Marie, pikirkan dulu.”
Naoto mengangkat jarinya.
“Siapa yang duluan mengumumkan tindakan terorisnya, mereka atau kita?”
–Kita. Kita menyatakan kalau kita akan membekukan Akihabara.
“Jadi siapa yang akan dianggap sebagai dalang di balik semua ini? Mereka, atau kita?”
–Kita. Itulah yang dilaporkan berita.
Marie merasakan keringat dingin, lalu dia terhenyak.
“Orang-orang itu melabeli kita seperti itu, jadi ayo kita persembahkan pernampilan yang mereka inginkan! Si biadab Naoto Miura yang dicurigai berhubungan dengan suatu kelompok teroris internasional, serta kawan-kawannya yang penuh suka cita–”
Naoto memasang senyuman mengejek yang tidak cocok dengan baby facenya, lalu berkata,

“‘Kita yang melakukan semuanya’–kalau kita melakukannya sekarang, apa yang akan terjadi?”

Sebuah‘kedengkian’ yang singkat, sederhana dan kentara.
Siapa saja bisa menyalahkan–lalu ‘dalang kejahatan’ yang cocok untuk disalahkan akan komplit.

“Orang-orang itu ingin terus berakting, jadi ayo kita ikut menari bersama mereka, kita buat hal ini menjadi begitu mencolok sampai-sampai senjata raksasa itu tidak sebanding dengan apa yang kita perbuat! Coup d’etat? Konspirasi? Itu semua tidak ada, dan tidak ada orang yang harus bertanggungjawab. Seluruh insiden ini hanyalah perbuatan teroris jahat yang kebetulan lewat untuk menciptakan kekacauan❤
Hanya satu gerakan–sama seperti orang-orang itu yang menskak mat pemerintah dengan satu gerakan, orang-orang itu pun akan ‘diskak mat’.
Ketika melihat tawa kecil Naoto, Marie menelan ludahnya.
–Secara teori, itu bisa dilakukan.
Tetapi, dengan metode itu,makna perbuatan itu, orang ini…
“Kita bisa membuang orang-orang itu ke dalam periuk begitu saja. Periuknya adalah Akihabara, dan batu apinya adalah ‘Pilar Surga’.
Naoto mengatakan hal itu berdasarkan pemahamannya akan situasi saat ini.
Dari matanya, Marie bisa melihat dengan jelas pikiran Naoto yang rasional–dan juga kegilaan, lalu Marie akhirnya mengerti.

–Naoto Miura tidak akan pernah merasa marah dengan mudah.
Dia bisa saja dicemooh maupun dipermalukan, tapi itu semua tidak dia pedulikan.
Tetapi–hanya ada satu ranjau raksasa yang tidak akan pernah dimaafkan Naoto Miura.
Orang-orang itu telah menginjak ranjau tersebut sebanyak dua kali.
Yang pertama adalah mengekang AnchoR dengan topeng, dan yang kedua adalah merusak RyuZU dengan medan elektromagnetik.
Naoto terbangun di akihabara, dan alasan ketenangannya yang ekstrim itu dapat dipahami dengan jelas.
Orang ini sedang mengamuk sejak saat itu.
Dia murka, dengan sikap tenang, acuh tak acuh serta dinginnya yang tidak terbatas.
Sama seperti luka bakarnya.Pikir Marie.
Selama Naoto merasa kalau dia ‘perlu melakukan sesuatu’, dia ‘akan melakukannya’.
Orang bisa jadi jahat untuk meraih tujuannya; hanya bilang itu saja sih bukanlah apa-apa, tapi berapa banyak orang yang siap mental untuk membayar ‘harga’ penuhnya.
–Naoto Miura itu menakutkan.
Marie memutuskan untuk mengakui perasaan ini, lalu mempertegas satu hal.
–Naoto Miura itu kuat.
Marie merasa kalau itu adalah pemikiran yang tidak berarti, tapi mau tidak mau dia berpikir.
–Kalau aku menjadi musuhnya, apa aku bisa menang?
Selama aku menggunakan seluruh pengetahuan, ketrampilan, koneksiku…pokoknya, segala yang kupunya.
Spesifikasi Marie Bell Breguet itu jauh melampaui Naoto Miura.
Harusnya sih begitu. Tapi tidak peduli apa yang terjadi–Marie tidak melihat peluang dia bisa menang…

“Yah, Non. Ini cuma permohonan serius. Aku tidak akan minta kemewahan seperti suku cadang militer, tapi paling tidak, berikan aku tubuh normal yang bisa bergerak, oke?”
Marie tetap bungkam, lalu dia menolehkan kepalanya ketika mendengar suara serius pria itu.
Tepat di depannya adalah–AnchoR dengan mata yang menyilaukan, serta Vermouth, yang tampak telah membulatkan pikirannya.
Masternya AnchoR adalah Naoto, jadi barangkali sudah tidak perlu ditanyakan lagi kalau AnchoR akan menuruti keinginan Naoto–tapi–
“Apa kalian benar-benar ingin mengikuti apa yang Naoto katakan? Tidak peduli apakah kita berhasil atau gagal, mulai sekarang kita akan masuk ke dalam Neraka,lho!?”
Ya, biarpun situasinya berkembang seperti yang direncanakan Naoto, mereka akan menjadi ‘jahat’–suatu kelompok kriminal yang tidak pernah ada sebelumnya.
Pria ini barangkali tidak punya motif maupun alasan untuk ikut membantu dalam hal seperti ini. Dia adalah seorang agen yang disewa dan dibayar oleh suatu perusahaan, tidak punya rasa keadilan, tidak punya keyakinan, dan hanya bergerak untuk uang, orang mengerikan yang serupa dengan seorang kriminal. Dia tidak terpercaya, dan tidak boleh dipercaya. Harusnya pria ini adalah orang seperti itu.
Tetapi, Vermouth tidak pernah mengalihkan pandangannya, lalu menjawab dengan wajah serius kepada Marie,
“Aku sudah bilang kalau inimenarik–apa seorang pria perlu alasan lain selain alasan itu.”
“–”
“Kau tidak paham? Yah, bodoh amat, tapi aku memang serius. Setelah kupikir-pikir, ini…mungkin kali kedua aku benar-benar ingin melakukan sesuatu.
Perhatian Marie tiba-tiba menyala, lalu dia bertanya pada Vermouth,
“…Cuma untuk referensi, apa kali pertamamu?”
“Untuk suatu mimpi yang bodoh.”
Vermouth langsung menjawab sambil memasang senyum lebar yang tidak mengenakkan.
“Tapi aku gagal sih. Lalu, aku terbuang di kehidupan keduaku seperti orang mati, terus berkat si bocah disana–”
“Ah…maaf–”
“–Aku terselamatkan. Aku ingat tepat sebelum aku modar–kalau aku masih hidup.”
Vermouth tidak menyalahkan AnchoR yang merasa bersalah, lalu dia menoleh ke arah Naoto.
“Dan aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi saat aku terbangun di kehidupan ketigaku, aku bertemu bocah ini. Aku ini orang gila yang akan menghajar siapa saja yang tidak kusukai sampai babak belur, lho? Aku ‘terpikat’ oleh orang ini. Seberapa jauh dia akan melangkah, apa yang akan dia capai–aku hanya ingin melihat pemandangan bagus di kursi yang khusus.”
Marie menghela napasnya.
Dia kelihatan seperti tidak bisa memahami kedua orang itu saat dia menatap keduanya.
AnchoR mendongak ke arah Marie, dan memberitahunya,
“…Mama, apa kamu takut? AnchoR…akan melindungimu…”
“Apa yang kau takutkan, Non? Cepatlah ke belakang panggung dan pakai celana dalam kemenanganmu disana. Sekarang saatnya kau menggoyangkan bokongmu dan mulai ‘menyerang balik’, lho?”
“Apa yang kau katakan sih, pa–tidak, mbak? Itu tidak penting; poin utamanya adalah ini bukanlah serangan balasan.”
Ketika mendengar ejekan Vermouth, Naoto mengoreksinya, dia kelihatan kebingungan.
“Orang-orang itu menyerang pemerintah, bukan kita. Marie–”
“…Apa?”
Ketika Marie terus merasa bimbang, Naoto memasang senyuman riang, tidak berdosa dan kekanak-kanakan seraya berkata,
“Kau tahu kan, saat kau masih kecil…ketika kau melihat orang-orang itu membangun bukit pasir di pantai–kau pernah berpikir kalau akan menyenangkan jika kau menendang bukit itu lalu kabur, kan?

–Marie tiba-tiba teringat.
Dulu ketika dia membuang identitasnya sebagai seorang Breguet dan seorang Meister.
Setelah menghentikan penghapusan paksa Kyoto, dan menyatakan dirinya sebagai seorang teroris.
“Aku tidak akan mendapatkan hadiah dan terimakasih apapun,”
Saat itu, di atap sekolah, apa yang kukatakan?
“Tapi itu pastinya sesuatu yang–“

Marie menghela napasnya lalu tersenyum kecut.
Dia merapikan rambut di kepalanya sambil bergumam,
“Kalian ini–benar-benar gerombolang yang putus asa.”
“Tapi ini menarik, kan?”
Naoto tertawa kecil.
Marie merasa kalau tekadnya hanyut bersama dengan senyuman tersebut, dia tahu kalau dia sedang digoda, tapi entah kenapa, dia tidak merasa tidak senang akan hal itu–lalu dia mengangguk.

Dia mengerti.
–Aku juga idiot.

Dengan demikian, tepat di momen ini, di saat ini, dan sesudahnya.
Keusilan kekanak-kanakan dari tindakan kriminal yang belum pernah terjadi sebelumnya dimulai.



[1] Merk bir
[2] Merasa senang di atas penderitaan orang lain
[3] Mantel khas Jepang, bentuknya seperti mantel putih yang dipakai oleh Kapten Gotei 13 di Bleach
[4] Not in Education, Employment, and Traning, dengan kata lain pengangguran akut

Clockwork Planet Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

  1. min, mw ngasih saran,
    kalo udah beda scene dikasih tanda pemisah
    (contoh scene Naoto dkk sama fraksi Pemerintahan), khususnya yg belum ada sangkut pautnya,jadi gak bingung bacanya~

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.