15 Agustus 2016

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka Jilid 3 Bab 2

PELATIHAN KELINCI BESAR

Langit diselimuti kegelapan.
Fajar belum datang dari langit timur, garis pembatas antara malam dan pagi masih sangatlah samar.
(Tembok penghalang kota, ini pertama kalinya aku kesini ....)
Setelah bangun pagi tidak seperti biasanya, Aku menuju tembok yang mengelilingi Labyrinth City (Orario).
Lokasinya saat ini berada di bagian luar arah Barat Daya. Dari atas tembok raksasa yang mengelilingi kota, seisi kota dapat terlihat hanya dengan satu lirikan dan perhatianku teralihkan oleh pemandangan itu.
Patheon, Coliseum, dan bahkan mungkin beberapa markas <Familia> terkenal. Gedung-gedung raksasa yang tingginya mencapai tembok memiliki karakteristiknya masing-masing. Terhadap bentuk indah yang dapat terlihat jelas dari jauh, Aku tidak bisa mengeluh sedikitpun.
Terutama <Babel> yang berdiri ditengah kota, tingginya yang bahkan melampaui dinding kota memberi kesan kuat. Tempat diantara area-area mempesona, rumah dengan bentuk seperti kacang juga sangatlah menarik dan tidak pernah membuat lelah untuk dipandang.
Kotanya, yang secara kasar dibagi menjadi 8 Area Jalan Utama, baru saja mengucapkan selamat tinggal kepada suara kesibukan. Saat ini, nyala Lampu Batu Sihir menghilang satu demi satu, Orario perlahan tertidur.
Pemikiran bahwa aku tinggal di kota hebat ini memberikan rasa yang tidak dapat kuutarakan dan rasa bahagia dan mulai menstimulasi punggung dan hatiku.
“Apa kau ... siap?”
“Ah, I ... Iya!”
Berputar kearah suara yang seperti gemerincing lonceng, Aku, sekali lagi, menghadap Wallenstein-san.
Alasan mengapa aku datang ke dinding kota adalah untuk menerima bimbingan tentang teknik bertarung darinya.
Semenjak <Familia> nya terlihat sedang merencanakan <Ekxpedisi> untuk nantinya, jadi waktu untuk bimbinganku kelihatannya tidak banyak. Inilah alasan kenapa kita memulai latihan sehari setelah kemarin dan pada waktu yang sama, waktu latihan berakhir ketika <Ekspedisi> dimulai.
“Maaf, memanggilmu jam segini ....
“T ... Tidak sama sekali, Bukan masalah!”
Wallenstein-san, yang merupakan bagian dari <Familia Loki>, tidak seharusnya melakukan hal semacam ini. Jika dia ketahuan mengajari anggota fraksi lain, akan menjadi masalah yang sangat besar.
Secara khusus pergi keatas tembok untuk latihan berguna untuk menghindari mata dan telinga orang lain.
Mempertimbangkan dari sisinya, batas waktu dan larangannya ditarik untuknya.
Ngomong-ngomong, alasan kami memilih waktu yang sangat dini dikarenakan dia mempertimbangkan situasiku yang harus mengumpulkan unag untuk hidup dan harus memasuki Dungeon.
“J ... Jadi, Wallenstein-san, apa ... apa yang kau ingin kulakukan ....
“...Aizu.”
“Ha?”
“Tidak apa ..., untuk memanggilku Aizu.”
Aku, yang menyadari dikritik tentang bagaimana menyebut namanya, hampir saja terjatuh ke tanah.
“Semua orang memanggilku demikian ... atau ... kau tidak mau?”
“T ... tunggu sebentar!? ... bukan, bukannya Aku tidak mau”
Tidak mungkin rasanya untuk menolak.
Mendengar suara yand sedikit depresi dari orang itu, Aku menutup mulut dan pikiranku.
Pipiku menjadi merah. Bisa dikatakan, Wallenstein-san ..., di depan Aizu-san, pipiku selalu menjadi merah, tidak sedetikpun tidak menjadi seperti itu ....
Dan sekali lagi, Aku menyadari betapa anehnya situasi sekarang ini.
“...A ... Aizu ... san. Jadi apa yang harus kulakukan selanjutnya?”
“..., Apa yang seharusnya kau lakukan ..., oke.”
“Eh.”
Terhadap suara Aizu-san yang tidak jelas, Aku tidak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan respon yang natural.
Dia menyandarkan dagu rampingnya dan berdiri disana, mengerutkan keningnya seakan sedang bersusah payah memikirkan sesuatu.
“Meski Aku telah memikirkan ... tentang itu dari kemarin.”
Dia perlahan mengalihakan arah tatapannya, seakan dia anak kecil yang sedang dihukum. Memberikan kesan padaku kalau Aizu-san semakin mengecil.
Kesan kesucian dan misteri yang dia tampilkan selama ini telah benar-benar menghilang tanpa jejak.
Ara, aneh sekali.
Aizu-san dihadapanku sedikit berbeda dari yang kudambakan.
“...Coba ... ayunkan di udara.”
“Ah ... O ... Oke.”
Aku mengeluarkan sedikit keringat sambil mendengarkan instruksi Aizu-san.
Mengeluarkan <Dagger>, selagi aku merasa sedikit malu karena diperhatikan olehnya dari dekat, Aku mengayun sekali, dua kali dan tiga kali.
Aizu-san meneliti gerakanku dengan serius.
“Kau ... hanya memakai Dagger?”
“Eh ...?”
“Pengguna Dagger yang Kutahu juga akan menggunakan tendangan dan Taijutsu.”
Benar, ketika Aku bertarung melawan Monster, Aku hanya bergantung kepada serangan dari senjataku setiap kalinya. Gerakan memukul dan menendang sangatlah jarang.
Ketika Aku melihat tubuhku sendiri, Aizu-san bilang, “Serahkan padaku”, dan mengambil Daggernya.
Sepertinya dia ingin mendemonstrasikan contoh gerakan Taijutsu.
“...Seperti ini.”
Tangan kanannya memegang dagger dengan arah terbalik dan lututnya terangkat sedikit vertikal.
Dia mengangkat lutunya secara lebih vertikal lagi ... dan memiringkan kepalanya.
Dia merendahkan kakinya dan sekali lagi mengangkatnya lurus keatas ... dan sekali lagi, dia memiringkan kepalanya.
“...?”
“...?
Dia mengulangi menaik-turunkan lutut kirinya. Setiap kali, Aizu-san akan memiringkan kepalanya.
Pada titik ini, bahkan Aku tidak bisa menyembunyikan keringatku. Aku tidak tau kenapa sisi yang menonton juga jadi terdiam, Aku hanya bisa terus memperhatikan gerakan Aizu-san selanjutnya.
Apakah mungkin ... Aizu-san ... berkepala kosong alami ....
“------Ah.”
Tepat ketika aku memikirkan hal seperti ini.
Seakan dia telah telah mendapatkan perasaan yang bagus, Aizu-san menggoyangkan tubuh bagian bawahnya.
“------Eh?”
Menggunakan kaki kanannya sebagai tumpuan gravitasi, dia mengeluarkan gesekan yang luar biasa, membuat lantainya berderit, dan memutarkan tubuhnya.
Tanpa mempedulikanku, yang mengeluarkan suara bodoh, kakinya melukiskan busur.
Rok pendeknya bergulung kedepan, menunjukkan celana ketat biru yang dia pakai dibaliknya.
Diikuti, paha putih salju yang menerobos masuk ke pandanganku------ Aku ... terbang jauh.
“Ah.”
Roundhouse kick ... berkecepatan tinggi.
Serangan dari Adventurer Kelas Satu yang memasuki penglihatanku, menangkapku, yang berdiri disebelahnya, dalam kecepatan yang mengerikan. Setelah secara kejam menghantamku, Aku terlempar sampai ke tembok belakang.
Entah itu beraksi atau bertahan, Aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan momentum tragis, Aku menghantam tembok batu dan akhirnya pingsan di tanah.
Apa ... serangan macam apa ini.
Kesadaranku menghilang.
Aku tidak bisa menggunakan tenagaku dan dengan susah payah mengangkat kepalaku. Aizu-san, yang tidak punya ekspresi pada wajahnya, hanya bisa berdiri disana dengan mata melebar.
...Aizu-san ... benar-benar berkepala kosong alami.
Sedetik sebelum kehilangan kesadaran, Aku akhirnya menyadari yang terjadi. Aku berusaha memutar kepalaku.
“Maaf ....”
Aizu-san meminta maaf dengan ekspresi sedih kepadaku, yang bangun tidak lama kemudian.
Meski Aku memaksakan tersenyum dan bersusah payah menyemangatinya, dadaku yang terkena serangan masih sakit, Aku tidak tau apa aku dapat menutupinya dengan benar.
Setelahnya, Aizu-san berniat mencoba beragam hal, tapi nampaknya tidak ada yang berhasil.
Melihat sosok itu, yang berpikir dengan susah-payah, Aku tidak tau entah Aku harus mengganggunya atau tidak.
Dibawah langit gelap, dimana cahaya pagi masih belum tampak, atmosfir kegelisahan mulai mengisi.
“...Seperti dugaanku, kita seharusnya bertarung saja.”
“Eh?”
Aizu-san, yang tadi diam untuk beberapa saat, mengangkat kepalanya dan mengatakan ini padaku.
Berdiri, dia meletakkan tangannya di gagang pedang.
Aku melebarkan mataku dan cepat-cepat berdiri, dia mengeluarkan pedangnya dan disandarkan ke sudut dinding, lalu dia menghadap kearah sini sambil memegang sarung pedangnya.
“Karena aku tidak ahli dalam mengajari orang seperti Riveria ... jadi ... ini adalah jalan terbaik.”
Mengikuti ini, atmosfir disekitar Aizu-san berubah.
Tangan kananya memegan sarung pedangnya yang jarak jangkauannya sama seperti pedang single-handed, dan dalam diam memasang kuda-kudanya.
Hanya dengan berdiri, kulitku dengan sensitif bereaksi.
Aku dengan cepat menarik keluar <Dagger> yang menggantung di pinggangku dan memasang kuda-kuda.
“Ya ... itu sudah cukup.”
“...!?”
“Seperti reaksimu barusan, Aku berharap kau akan merasakan berbagai hal mulai dari sekarang.”
Dari pertarungan bohongan ... yang akan dimulai sekarang ... belajarlah sendiri, katanya.
Tubrukan antara senjata, membaca gerakan lawan. Coba manfaatkan semua yang bisa kau  manfaatkan.
“...S ... Senjataku ... ada sisi tajamnya, apakah tidak apa ...?”
Tidak apa.”
Menghadap Aizu-san yang memotong kalimatku dengan satu kata, Aku mengerang.
Mengkhawatirkan lawan adalah kesalahan fatal, Aku memahami ini ketika dia memasuki postur bertarungnya.
Aku tertekan oleh sarung pedang yang simple dan tidak memiliki sisi tajam.
“...”
“...”
Udara yang kaku, biribiri, Berngaung dalam telingaku. Langit timur masih belum menampakkan tanda-tanda pagi.
Aizu-san tidak bergerak. Aku juga tidak bergerak.
Bukan, Akulah yang tidak bisa bergerak.
Ketika jaraknya memendek, Aku, yang sedang menunggu, akan terkoyak. Seketika Aku mengambil langkah, Aku bisa yakin bahwa serangan yang diluar jangkauan dan kecepatanku akan datang.
Aku tidak pernah berpikir akan ada saat dimana <Dagger> yang dalam genggamanku, yang basah karena keringat, akan menjadi sangat tidak bisa diandalkan.
“...Kau ... sangat enggan.”
“!?”
“Semenjak kau memasuki Dungeon sendirian, bersifat enggan adalah hal yang sangat penting. Tapi melebihi itu, kau masih takut akan hal lain.”
Kalimat yang tidak ingin aku dengar dari orang lain diucapkan oleh orang yang paling tidak kuinginkan untuk mengatakannya.
Dengan ekspresi yang tenang, Aizu-san maju kedepan tanpa suara.
“Meski Aku tidak mengetahui apa yang kau takuti ... mungkin, saat momen itu tiba, kau tidak akan punya pilihan lain selain kabur.”
Kalimat yang dia ucapkan dengan yakin menusuk hatiku.
Ka, Bagian pusat tubuhku menjadi panas. Entah rasa malu, atau amarah. Kebanyakan, adalah bekas keduanya.
Meskipun Aku tidak paham. Tapi ada rasa sakit dimana-mana. Sebuah tuduhan tanpa ruang untuk mengelak. Yang terlintas dalam otakku, dalam sekejap, adalah sebuah banteng yang menerjang dari belakang, bergemuruh.
Meskipun ini bukan saatnya memikirkan hal semacam ini, tapi perasaan panik merasuki hatiku.
Gigiku mulai bergetar. Meski begitu, Aku mengumpulkan keberanianku.
Menggenggam gagang <Dagger> ku dengan tenaga, Aku mengangkat mataku yang basah.
Mengalirkan tenaga keseluruh tubuhku, Terhadap Aizu-san, yang mulai mendekat langkah demi langkah ------ Aku mengambil inisiatif untuk menerjang kedepan.
“WAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!?”
“Tidak cukup.”
----- Aku terhempas.
Momen ketika seuara tajam angin memecah di telingaku, Aku terhempas ke samping dan menghantam keras lempengan batu.
Bagian perutku ... rasa sakit yang tidak wajar.
“Ah ... Ga!?”
“Kecerobohan tidak diperbolehkan. Itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh terjadi didalam Dungeon.”
Kata-kata Aizu-san yang biasa dia pakai untuk menjelaskan perilaku, gagal masuk kedalam otakku.
Aku tersingkir.
Dengan kecepatan yang tak terbayangkan, sarung pedangnya mengayun secara horizontal dan mengenai beberapa sisi daerah perut yang tidak terduga sembari memegang <Dagger>.
Mataku dapat menangkap gerakan memotong yang bergetar itu. Dan itu hanyalah sekilas.
Aku tahu. Aku tahu.
Meskipun Aku tahu ....
Orang ini ... tidakkah dia sangat cepat ...!?
“Apakah kau bisa beridiri?”
“...!”
Terhadap pertanyaan yang datang dari atasku, Aku meletakkan tanganku ke tanah dan perlahan berdiri.
Nafasku terengah. Sakit yang menyengat di bagian perutku membuatku membungkuk kebawah. Aku ingin menangis. Tapi aku tidak boleh mangis.
Aku menggunakan gigi depanku untuk menggigit bibirku dan sekali lagi, Aku menghadapi Aizu-san.
“Masih tidak terbiasa dengan rasa sakit ....”
“Uguu!?
“Tapi jika itu masalahnya, Tidak ada alasan lain untuk takut terhadap rasa sakit.”
Sebuah tusukan.
Sebuah tusukan dengan kecepatan yang mengerikan menerjang jantungku. Aku tidak dapat menahan serangannya dan terlempar jauh.
Bagian belakang kepalaku mengalami dentuman berat. Dan diatas segalanya, paru-paruku kehilangan fungsinya.
“Bisakah kau beridiri?” , kalimat lembut namun tidak berbelas kasihan ini. Aku membalas dengan suara yang hampir tersedak ketika berdiri.
“Semenjak kau memasuki Dungeon sendirian, kau sama sekali tidak boleh membiarkan sudut mati. Kau harus selalu mempertahankan jarak pandang yang luas.”
“Uh!”
“Sayangnya.”
“Fuah!?”
Tepat ketika Aku pikir Aku akhirnya menghindarinya, serangan kedua mengikuti.
Sekejap katika Aku berhenti bergerak, lututku kena. Kali ini Aku mendapatkan ciuman mematikan dengan lempengan batu lagi.
Sayangnya, Aku sedang menggunakan armor ringan. Dalam basis ini, ada banyak sekali kerusakan.
“Apakah kau bisa berdiri?” , ucapan datar ini. Aku berdiri selagi hidungku terus berdarah.
“Kali ini, Tidak apa jika kau dapat mengikutinya. Coba baca gerakan lawanmu.”
“Ye!?”
“Itu benar.”
“Bu!?”
Setelah serangan datang dari bawah keatas, diikuti lagi dengan serangan horizontal.
Dari awal hingga akhir, dimana-mana diisi oleh lubang dimana Aku bisa menerima serangan telak.
Aku meletakkan <Dagger> di jalurnya. Meski begitu, Sarung pedang itu masih mampu menghindari lokasi <Dagger> dan menyerangku. Aku terpukul dibagian samping dan berguling jauh.
“Bisakah kau berdiri?” , kalimat ajaib ini. Aku berdiri.
“Kau ... tidak terlihat bagus dalam pertahanan”
“~~~~~~~~~~~~~!?”
Serangan bertubi-tubi, Serangan bertubi-tubi, Serangan bertubi-tubi, Serangan bertubi-tubi,
Potongan bertubi-tubi berkelebat tanpa henti, Aku yang tidak bisa menghindarinya, bahkan tidak dapat menghindari satu serangan pun dan dihajar habis-habisan oleh sarung pedang itu.
Setelah suara dahsyat dari sebuah serangan, lepengan batu mengeluarkan suara.
Tidak sadarkan diri, Aku tidak dapat berdiri dan hanya mampu berlutut di tanah.
Sura napas yang terengah-engah menggema dari sekitar area yang gelap dan samar-samar.
“Adventurer kelas satu sering berkata: Ada banyak Adventurer yang terpedaya oleh <Status>”
“Eh ....”
“Semua orang terlalu bergantung kepada <Grace>. Kemampuan dan teknik adalah dua hal yang berbeda.”
Melihat kearah Aizu-san, yang mulai berbicara, Aku melebarkan mataku, yang sangat terdistorsi karena rasa sakit.
Dia sepertinya mengajarkan segala hal yang dia dapatkan kepadaku, Dan perlahan lanjut berbicara.
“Teknik dan kemampuan beradaptasi. Hal inilah yang masih tidak kau miliki.”
“...!”
“Meskipun kau kehilangan <Status>, dua hal ini akan tetap berada dalam dirimu. Diluar penghilangan itu ... Aku percaya tidak ada pilihan lain.”
Dia menutup matanya dan tidak berbicara lagi. Lalu dia melihat tepat kearah sini.
“Karena sepertinya kau tidak terlalu baik dalam pertahanan, ini akan jadi topik pertama latihan kita. Dalam masa latihan ini, cobalah lihat arah seranganku dan mencoba bertahan.”
“Jika kita melanjutkan latihan seperti ini, bahkan kau pun seharusnya bisa secara reflek membuat metode bertarungmu. Itulah yang kupercayai.”
“Terhadap gol yang kau bicarakan ... Kau juga akan semakin dekat.”
Aizu-san tanpa terputus mengatakan. Pada saat bersamaan dia mengatakan tuntutan ini, dia menatap langsung diriku, yang tercengang.
Mata berwarna emas berkilau dengan ketulusan, mengintip kedalam mataku.
Orang ini sedang menunggu, menungguku, yang merintih dan mengeluh, untuk berdiri lagi.
“Bisakah kau ... berdiri?”
“Uh ... Kumohon!”
Menerima pemikirannya dan tatapan tenangnya terhadap aku yang lemah.
Meski sedikit, tapi tidak akan sia-sia.
Aku bersusah-payah membuat kakiku yang tertekuk, bangkit dan akhirnya berdiri.
Sampai gunung di kejauhan disinari oleh cahaya mentari, Aku membabi-buta menerima serangan sarung pedangnya.
X X X
Batu bergerigi yang baru saja dipasang akhirnya menempati, atas bawah kanan kiri, semua arah sejauh mata memandang.
Langit-langit yang tinggi juga tidak membantu dan memberi perasaan terkunci. Batu besar yang terkikis dari tembok dari segala arah memberi perasaan mencekik. Sumber cahaya samar bukan satu-satunya yang membuat khawatir; atmosfir gelap juga merupakan salah satu alasannya.
Tanahnya tentu tidak memiliki jalan setapak, batu kasar membuatnya sulit untuk bergerak maju.
Gua, tambang, lorong.
Labirin yang terbentuk dari kombinasi jalan tanpa aturan akan membuat orang mengira itu lapisan batu berongga.
“Sudah lama sekali semenjak Aku tinggal sekali lagi di lantai ini ....
Dungeon Bawah Tanah Lantai 17.
Di area ini dimana level Adventurer berada di kisaran Lv.2, Beastman yang tegap dan gagah, Ottar, sedang menjelajah sendirian.
Di bagian atas tembok, batu seukuran kepalan menonjol keluar seakan itu adalah lentera yang memancarkan cahaya. Dan menyinari badannya yang tegap dan gagah.
Equipment yang mengelilingi tubuhnya sebenarnya adalah armor ringan.
Badan yang melampaui 2 meter dan dapat dengan mudah menggunakan armor super berat seluruh tubuh, hanya menggunakan armor ringan untuk melindungi bagian-bagian yang dapat mengancam nyawa jika monster menyerang.
Meski begitu, tiap bagian memiliki tingkat ketebalan dan ukuran yang luar biasa, seakan ada perisai besar ditempelkan ke tubuhnya. Seakan jika ditanya apakah itu termasuk armor ringan, mengangguk akan menjadi jawaban yang aneh.
Tas punggung yang kasar dan kokoh yang dibawanya di bahu kananya terlihat seperti tertahan dan mengembang.
(Sekarang setelah Aku memikirkan tentang itu, terakhir kali Aku memasuki dungeon, sangatlah buram.)
Setiap langkahnya membuat badannya berguncang. Meski tidak aneh untuk membuat satu dua suara, tapi tidak satupun suara langkah terbuat. Gerakan semacam ini dibaluti oleh sensasi kejahatan yang kuat.
Meski begitu, dari awal, dia telah mengeluarkan hawa keberadaan yang kuat yang tidak bisa diabaikan oleh sekitarnya.
Seakan mereka takut akan Ottar, tidak satupun bayangan monster muncul dihadapannya.
(...Kecemburuan, huh)
Sembari menyebarkan kewaspadaannya terhadap sekitar, Ottar mengingat kembali pembicaraanya dengan Freya.
Tidakkah kau akan cemburu, inilah yang ditanyakan oleh Dewinya.
Pada saat itu, Ottar tidak berbohong. Apapun yang terjadi, dia tidak akan mempertanyakan kasih sayang Freya dan akan tetap menunduk padanya selamanya.
Memiliki keinginan dan menggapai untuk itu akan tidak pernah bisa menggapainya. Seakan cinta mereka dipermainkan oleh hembusan angin, itu akhirnya akan melewati ujung jari dan tiba-tiba menghilang.
Pada dasarnya, angin tidak akan mencari partner.
Angin hanya akan berkeliaran di langit sendiri. Jika mereka menemukan seorang pengembara di jalanan, mereka akan tersenyum dan memeluk dengan erat dari belakang. Dan ketika sang pengembara berbalik, dia sudah pergi entah kemana.
Namun pada saat bersamaan, ya, anginnya setara.
Demi memberikan berkat kepada semua orang yang berada diatas tanah.
Terkadang kasar, terkadang halus. Sama seperti angin utara, sama seperti angin musim semi.
Angin akan menyentuh telinga dan berbisik tanpa suara terus menerus. Ia tidak akan pernah diganggu. Angin adalah abadi.
Selama Ottar berada diatas tanah, meskipun dia lari jauh, dia tidak akan pernah kehilangan keagungan angin.
(...Semenjak Aku memutuskan untuk datang kesini, benar, Aku sudah membuat jawabanku)
Meski begitu, jika langit yang angin sebut sebagai rumah telah tiba. Jika langit yang dinantikan oleh angin tiba.
Dia hanya mampu berdiri diatas tanah dan melihat, tidak mampu melakukan apapun.
Jika dia dia melihat pemandangan dari atas dan merasa rendah dan kasihan terhadap dirinya sendiri, maka mungkin, ada sedikit perasaan cemburu.
Maka cemburu dan curiga akan berhubungan.
(Biru pucat ....)
Seakan Ia sedang akan merelaksasikan otot wajahnya, senyuman masam terpampang diwajahnya. Jika seseorang melihatnya, mereka pasti akan terkejut.
Pada akhirnya, dalam sekejap dia tidak mampu menolak perintah Freya, Ottar sudah termasuk diantaranya. Sang Dewi telah melihat masuk kedalamnya.
Ku, tawa mencela diri sendiri bergema didalam gua.
“...Mmm.”
Langkah Ottar terhenti.
Dari helm yang mirip seperti penjaga dan ditutupi oleh besi hitam yang sangat sedikit, telinga babi yang menonjol keluar tiba-tiba beraksi.
Sebelum jari kaki yang dibalut oleh boots mengganti arahnya, dari dinding berbatu, Vooo, kepala banteng yang berwarna hitam dan merah muncul.
VOOOOOO ...!”
“Itu keluar.”
Mata merah darah menangkap Ottar, yang berdiri di depan.
<Minotaur>. Dengan tampilan luar seperti banteng, Moster berukuran besar dengan otot dan tulang yang luar biasa besar. Tingginya sedikit lebih tinggi dibanding Ottar. Berdasarkan dari tampilan fisiknya, ada banyak tempat yang serupa dengan Ottar.
Itulah alasan mengapa Ottar mau tetap berada di lantai yang tidak cocok dengan Lv-nya.
Ini demi menangkap Monster jahat yang berada di depan matanya.
VOOOOOOOOOOOO ...!
Sang Minotaur tampak bersemangat.
Kemungkinan dia menggunakan <The Dungeon’s Arsenal>, tangannya memegang senjata alami yang berbentuk kapak.
Kapak yang besarnya sama dengan ukuran tangannya berlumuran cairan berwarna merah. Apakah dia baru saja melawan Adventurer, mungkin dia berhasil memotong kepala mereka. Hanya dengan dilihat sekilas, tidak terdapat luka besar.
Ini jackpot, pikir Ottar seraya menyipitkan matanya yang suram.
Meletakkan tangannya pada pengikat, ton, tas punggung yang dibuat khusus jatuh dari bahunya ke tanah. Dari tas besar yang bisa dibilang bahan konstruksi gedung, suara tajam dari patahan bisa terdengar selain suara dari pergeseran bumi.
Momen ketika Minotaur menyadarinya, matanya seakan terbang keluar.
VOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!”
Menghentak pada lantai Dungeon, dia membuat badai kerikil. Lalu dia mengangkat kapak batunya tinggi keatas.
Meski dia mengeluarkan raungan menggetarkan, Ottar tetap bersifat tenang.
Tangannya yang memegan tas punggungnya diletakkan secara vertikal terhadap tanah, dan pada saat bersamaan, tangan kirinya menggantung tidak bergerak. Dia bahkan tidak membawa senjata dan menunggu untuk sang Minotaur untuk menyerang maju dalam garis lurus.
Lalu ketika Minotaur di depan matanya menggunakan kakinya untuk menghancurkan tanah, Ottar perlahan mengangkat tangan kiringa.
VOOOOOOOOOOOOOOOOO ... VOOOO!?”
“...Lumayan bagus. Sudah kuputuskan, kau.”
Itu ditangkap. Sebuah pertahanan sempurna.
Setelah kapak batu dengan banyak retakan diayun kebawah, retakannya terbuka. Dan menuju langsung ke tanah.
Serangan sekuat tenaga sang Minotaur ditahan Ottar dengan tangan kirinya dengan pelindung tangan.
Terlepas dari tingkat kekerasan pelindungnya, yang mengejutkan adalah <Durability>-nya yang tidak normal. Mempertahankan postur tegak, badan yang besar tersebut bisa di deskripsikan tidak bergeming. Meski tanpa kuda-kuda bertarung, beastman seperti babi itu menetralkan secara langsung serangan Minotaur itu.
Bagaikan seperti pohon besar dengan akar dibawah tanah, Ottar tidak bergerak. Dia bahkan menilai Minotaur tanpa keraguan.
Entah itu insting, matanya punya sedikit ketakutan didalamnya, Minotaur itu mulai mundur selangkah demi selangkah.
Terhadap makhluk yang merupakan Monster diatas dirinya, dia akhirnya paham.
“Berhenti.”
“VOO ...!?”
“Selanjutnya ... tidak apa jika kau mengamuk.”
Minotaur itu, yang di tembak oleh tatapan, benar-benar terhenti.
Tatapan Ottar jatuh kearah kapak batu yang merosot dari tangan lawannya dari berpikir sejenak untuk sementara waktu.
Tak lama kemudian, dia menggapai belakangnya. Tanpa mempedulikan reaksi terkejut dari Minotaur itu, dia mengeluarkan satu dari dua pedang yang tergantung di pinggangnya------ Ukuran pedang itu tidak lain adalah Pedang Raksasa------ dan dia lempar.
“...VOOO?”
“Dari aksimu barusan, sekarang seharusnya tidak ada masalah. Coba kau gunakan.”
Selagi menunjukkan perasaan tidak nyaman dan lucu terhadap orang seakan mereka melihatnya, Sang Minotaur melihat kearah Pedang Raksasa di depan matanya dan menundukkan kepalanya.
Tatapannya berganti-ganti antara Ottar dan pedang itu, dan dengan kaku menggapainya dengan tangannya.
Jari yang ditutupi oleh kuda-kuda menggenggam erat gagang pedang itu.
(Semenjak Aku menerima misi ini, Aku tidak akan berbelas kasih. Freya-sama)
Freya pernah berkata. Anak itu, Perstasi terbesar Bell akan didorong oleh Ottar.
Sama seperti bagaimana engkau mampu mengerti sesuatu dari dialog antara aku dan kau, ada satu hal yang disebut kebijakan. Dia pasti paham dasar ini maka dari itu dia menunjuk Ottar.
Untuk menaruh Minotaur didepan Bell.
Jalanan yang disiapkan bisa jadi sangat kejam dan berduri untuk anak itu.
(...persiapannya mungkin akan berlebihan.)
Hingga sekarang, Ottar telah bergulat dengan banyak Minotaur dan mengulang pemilihannya.
Itu sekedar untuk agar Bell mengelupaskan lapisan kulitnya. Itu demi perintah brilian yang diinginkan Freya.
Terhadap Adventurer Lv.1, seorang Minotaur, yang tergolong dalam Lv.2, bisa jadi terlalu keras. Hanya dari kemampuannya, terdapat jarak yang tidak terhitung, itu adalah bunuh diri jika mereka serius melawan itu. Tidak hanya itu, sekarang ia juga diberikan senjata.
Dia telah mencapai titik dimana dia bersifat dominan untuk menang. Ottar sedang mempersiapkan aksi penyiksaan terhadap Bell.
Dia mengakui bahwa ada perasaan bodoh di lubuk hatinya. Ottar sebenarnya sangat prihatin terhadap Bell.
Jika itu masalahnya, maka, daripada itu, dia ingin menyingkirkan Bell dari pandangan Freya?
Terhadap pertanyaan diri sendiri itu, tidak, Ottar bisa membuat pernyataan tegas.
Jika Bell mati, Freya pasti berencana untuk mengejar jiwanya. Dengan kata lain, dia bahkan tidak akan ragu untuk kembali ke Surga dan membujuk Bell ke dalam hatinya. Jika itu bukan masalahnya, maka dia tidak akan mengambil resiko kemungkinan bahaya akan kematian dan memberikan wewenang penuh kepada Ottar.
Hidup dan matinya Bell sudah tidak ada artinya. Entah itu hidup atau mati, yang menunggu diakhirnya adalah kutukan dari Dewi Cinta.
Ini bukan kecemburuan.
Ini adalah pembaptisan.
(Jika kau berharap untuk menerima cinta sand Dewi, maka tunjukkan padaku kau bisa melalui ini.)
Ottar mencari tanda kualifikasi. Sebuah bukti bahwa dia punya jiwa, yang akan membuat Freya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tidak apa jika kau menerima kebaikannya. Itu dapat diterima jika kau di cintainya secara berlebih.
Meski begitu, Tidak dapat diterima jika kau menodai bingkai agung Dewi.
Semenjak kau telah dipilih oleh Freya, ini telah menjadi tugasmu. Ottar tidak akan pernah membicarakan ini, tapi hanya memendamnya dalam hati.
VOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!?
“...ulangi. Ayun dengan lebih terampil untukku.”
Dengan mudahnya dia mementalkan Large Sword yang berayun.
Seakan Ottar ingin memberikan Minotaur misi untuk menggapai kesempurnaan di depan matanya, dia mengambil langkah berat dan pelatihan pun dimulai.
Percikan melayang dimana-mana tanpa tanda akan berhenti, dentingan logam bergema di gua yang luas berulang-ulang. Tidak peduli berapa menit telah berlalu, tidak peduli berapa jam telah berlalu.
Semua ini demi Freya.
Ottar telah menyelesaikan misinya.
X X X
“Bell-sama ...kenapa pada waktu seperti ini, sebelum kita memasuki Dungeon, kau sudah compang-camping duluan?”
“Ha ... haha ... ada sedikit masalah.”
Dia hanya bisa membalas enggan tawa hampa terhadap pertanyaan Lili.
Ini adalah hari kedua ... dia memulai untuk menerima latihan keras spesial dari Aizu-san.
Terhadapku, yang baru saja berhasil datang ke pertemuan untuk eksplorasi Dungeon, dipenuhi luka-luka, bahkan Lili tidak bisa apa-apa selain merasa bingun.
Tapi Aku tidak bisa mengakuinya, Aku tidak mau mengakuinya. Aku tidak ingin memperlihatkan diriku yang tidak tertahanka itu ....
Setelah itu tanpa basa-basi, tren tampil compang-camping tidaklah berhenti.
Meski Aku tahu bahwa hal baik seperti Aku akan cepat berkembang tidak akan pernah terjadi ..., meski begitu, rasa percaya diriku yang telah Aku kumpulkan sejauh ini telah terbagi-bagi dan menghilang dari penglihatan.
Meski Aku telah mengetahuinya, Aku tetap tidak berada di jalur.
Tempat dimana orang itu … dan tempat dimana Aku berdiri. Ada jarak yang tidak terbayang kan diantara kami.
 Aku membawa perasaan kekalahan ketika Aku melewati pintu Babel.
Ruang luas di pintu pertama. Lantainya memiliki susunan melingkar yang tersusun dari biru dan putih. Itu mengingatkan akan kaca bernoda yang di bentuk menyerupai bunga. Seperti biasa, itu sangatlah indah.
Banyak Adventurer yang masuk dan menikmati pintu masuk Babel. Meski kebanyakan Adventurer mempersiapkan untuk masuk, tapi sepertinya ada orang yang mengeksplorasi pada malam hari.
Ketika kita melewati mereka, ada tim yang berbahagia, dan dengan kontras, tim dengan ekspresi suram juga ada.
Seberapa banyak panen yang didapat dari Dungen sangatlah dramatis, itu membuat kita, yang sedang mengarah ke Dungeon, mengkakukan pipi kita.
Itu adalah satu hal yang tidak boleh kau tertawakan. Itu sama sekali bukan urusan kita.
“Maaf, Bell-sama. Meskipun kau sangat lelah, Aku tetap membuatmu membawa tas Lili.”
“Bukan masalah. Apalagi, Aku merasa alasan kenapa Aku merasa lelah adalah salahku ... dan mengingat ini tas kosong, jadi tidak masalah.”
Melangkah ke tangga yang menghubungkan ke bawah tanah. Lili terlihat merasa bersalah dan menciut. Aku tersenyum seraya memperbaiki posturku yang membawa tas kosong. Bisa dibilang, ini ringan, sangat ringan.
Saat ini, Lili dan Aku bertukar perlengkapan. Dengan kata lain, saat ini Aku membawa tas Lili, hal yang biasa disebut pakaian Supporter.
Di sisi lain, Lili melepaskan jubah yang biasa dia pakai dan menggunakan pakaian ringan, yang terbuat dari kulit dan berkesan kokoh. Terlebih lagi adalah dia memiliki pelindung tanganku di belakangnya sebagai sarung dari <Baselard>.
Jika kau bertanya mengapa kita harus bertukar posisi, itu demi menghindari anggota <Familia Soma> dari menyadari keberadaan Lili.
Meski pada lirikan pertama, Lili adalah bocah beastman, tapi jika kau perhatikan tubuh rampingnya yang membawa perlengkapan menggunung, orang dengan insting bagus pasti akan memperhatikan lebih lagi.
Normalnya, itu adalah langkah untuk Hobbit untuk membawa kopor besar, dan tidak perlu menyebut ras lain.
Dan sebagai pencegahan, kita menggunakan otak kita untuk menyembunyikan identitas asli Lili.
“Dan kita bisa dengan cepat berganti, jadi jangan khawatir.”
Pada akhirnya, ini hanya untuk tontonan. Ketika ada lebih sedikit mata dan telinga Adventurer lainnya disekitar mereka, mereka secara natural bertukar kembali. Lebih tepatnya, di area pada lantai 9, tepat sebelum memasuki lantai 10. Sebelum memulai dari lantai 10, Dungeon akan ditutupi oleh kabut. Ketika mereka telah lebih dekat, tidak ada alasan untuk memperhatikan ke mata-mata disekitar.
Ketika kami kembali, Aku juga akan membagi sebagian kopor dengan Lili, demi untuk mengurangi perasaan bersalah.
Karena kejadian yang terjadi tidak terlalu lama, menjadi sangat waspada seperti ini tidaklah terlalu berlebihan, atau setidaknya itulah yang kuyakini.
“Nnn~, Lili selalu merasa bersalah tentang bagaimana dia berhutang budi pada Bell-sama ....
Ucap Lili sembari mengecilkan nada suaranya. Ujung telinga beastman yang tumbuh diatas kepalanya langsung menggulung kebawah.
Dengan senyum masam, Aku sekalilagi melihat badan Lili.
Dari apa yang Aku lihat, Short Sword <Baselard> tiba-tiba menjadi lebih besar ketika berada dipunggung Lili dan Aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Rambut panjangnya berwarna coklat-abu. Mata bulatnya berwarna emas. Terlihat seperti dia sedang menyamarkan dirinya sebagai beastman serigala, yang sedang dalam tampilan manusia serigala.
Bertumpu kepada rambutnya halusnya, yang sepanjang pinggang, atmosfir disekitarnya mendadak berubah itu cukup mengejutkan. Itu memberi ilusi akan anak nakal berubah menjadi wanita bangsawan, yang hobi membaca buku, yang memiliki atmosfir kedewasaan.
Karakteristik fisik lainnya pun juga entah bagaimana berubah, pendeknya, dia menjadi berbeda dari kesan Lili biasanya.
“I … itu ... apakah sangat aneh?”
Apakah dia menyadari tatapanku, Lili sekali lagi mengeluarkan suara yang tidak nyaman dan mengangkat kepalanya.
Apakah itu perlengkapan Adventurer, atau karena perubahan menjadi beastman? Meski Aku tidak yakin mana yang benar pada akhirnya, Aku tetap menunjukkan senyuman dan menganggukkan kepalaku.
Tidak ada apa-apa, Kataku padanya.
“Ini berbeda dari atmosfir biasanya. Lagipula, kali ini terasa ... sedikit lebih menyegarkan? Aku yakin ini lumayan imut?”
“B ... Benarkah?”
Ya. Itu sangat cocok.”
Matanya yang gelisah berbinar bersamaan dengan ekspresinya.
Wajahnya memerah seakan dia terkena demam. Meskipun Lili dengan cepat bertukar kedepan, telinga beastmannya bergoyang dengan gembira, bahkan ekornya yang keluar dari roknya juga bergoyang ke kanan dan kiri.
Meski begitu, apakah itu diluar kesadaran, tapi bagaimana bisa bergerak, pemikiran ini seringkali muncul, namun ketika Aku melihat Lili, yang terkadang senang atau tidak semangat terhadap kata-kataku, Aku merasakan perasaan nyaman dan secara tidak sadar menutup mulutku.
Bagaimana mengatakannya, rasanya seperti memiliki adik yang lucu. Sebuah perasaan untuk melindungi.
Meski kita dipaksa untuk waspada akan mata dan telinga Adventurer lain ... tapi dari sudut pandang orang lain apakah kita saudara dengan hubungan yang baik?
“Kelinci dan Serigala ....”
Ookami dan Usagi ....”
“Jika sang kelinci adalah pengikut (Supporter) ... Ahhh, dia akan dimakan.”
“Cadangan makanan (Subtitute)  ... Menyedihkan.”
“Seram, seram. Dari tampilan luar <Status>, sulit untuk memprediksi ini, itulah sebabnya kau tidak boleh ceroboh didepan Adventurer.”
...aneh.
Kenapa Aku punya perasaan tidak enak.
Hiso Hiso, Adventurer disekitar saling membisikkan sesuatu.
Mereka menunjukkan mata halus yang tidak biasanya diperlihatkan, dan memberikan tatapan kasihan kepadaku. Itu juga sangat pekat.
Mendengar seorang pria Elf menggumamkan “Kasihan sekali”, Aku jadi penasaran.
Aku bingung dan senyuman diwajahku mulai pudar. Namun ketika Aku memperhatikan Lili, yang sedang dalam wujud Adventurer, Aku tiba-tiba mendapat pertanyaan.
Memperhatikan ekspresi senang pada wajah partnerku, Aku bertanya.
“Hey, Lili. Lili tidak bisa meningkatkan <Status> mulai dari sekarang, kan?”
“Kenapa kau bertanya?”
“...Kau tau, kau tidak bisa menjumpai <Familia Soma> lagi, yang artinya kau tidak bisa bertemu Dewa, kan?”
Untuk menyembunyikannya dari telinga publik, Aku membungkuk kesamping telinga Lili dan berbisik.
Lili tidak akan bisa bertemu Dewanya, Soma, untuk sementara. Dengan kata lain, memperbaharui <Status> yang terukir dipunggungnya adalah mustahil.
Tidak bisa memperbaharui <Status>, posisi ini mematikan bagi Adventurer. Dan seharusnya juga demikian untuk Supporter. Ketika Aku meningkatkan lantai yang kucapai, Monsternya tentu saja bertambah kuat, dan bahayanya tentunya meningkat ....
Tidakkah kau merasa gelisah, kalimat ini terkirimkan oleh tatapanku,  seraya bertanya pada Lili.
“Sejujurnya, pada titik ini, Lili telah memikirkannya untuk sementara waktu ... tapi, seharusnya tidak jadi masalah. Setidaknya untuk sekarang.”
“J ... jadi begitu?”
“Ya, selalu ada cara mengatasinya. Lagipula Lili juga bagus dalam berurusan dengan Monster ..., buktinya adalah, dalam hampir setengah tahun, Lili tidak pernah memperbaharui <Status> nya sekali pun.”
“S ... setengah tahun!?”
Terhadap perkataan Lili, Aku hapir terjatuh ke tanah.
Mau bagaimana lagi. Tidak memperbaharui <Status> tidaklah berbahaya, tapi pada dasarnya seperti menggantung dirimu.
Melihat diriku, yang tercengang, Lili menunjukkan senyum masam dan mulai menjelaskan.
“Di <Familia Soma>, jika kau ingin memperbaharui <Status>, kau harus mencapai target levelmu.”
“Eh ...Itu.”
“Ya, benar, semua karena Soma-sama.”
Dari apa yang Lili katakan, Soma–sama sama nampaknya juga rajin memperbaharui <Status> seharusnya.
Ini mungkin aneh, tapi bagi Soma-sama, memperbaharuis <Status> adalah hal yang perlu. Untuk kesenangannya membuat wine, mengumpulkan uang adalah perlu. Jika dia tidak membiarkan Lili dan lainnya menjadi kuat dan mendapatkan lebih banyak uang, maka, Soma-sama, akan dapat masalah.
Dan dengan jumlah anggota yang bergabung dengan <Familia>-nya terus bertambah, ini pasti membuatnya sakit kepala.
Seperti yang diduga dari kesenangannya yang dalam, hal seperti ini membuatnya seakan menyatakan “Dia hanya akan melihat <Status> jika telah mencapai target pendapatan.”
“Jadi dengan kata lain, Lili tidak mendapatkan cukup uang untuk mencapai kuota jadi tidak memperbaharui <Status>?”
“Ini sedikit tidak benar. Lagi pula, Lili tidak ingin menarik perhatian orang lain.”
“Menarik perhatian orang lain?”
“Fakta bahwa kau mencapai target pendapatan merupakan bukti kalau penghasilanmu besar. Lili, yang tidak bisa bertarung, akan menjadi mangsa empuk bagi yang lain.”
Ah, pada saat bersamaan aku menggumamkan ini, Aku paham apa yang berusaha Lili katakan.
Dengan kata lain Lili ....
“Kebanyakan adalah karena Lili telah mencapai target pendapatan, dia tidak mampu memberikan uangnya. Membawa sedikit uang adalah demi menghindari perhatian orang lain. Meski begitu, menjadi bumerang karena tidak bisa memperbaharui <Status>.”
Lagipula, datang ke perkumpulan grup adalah untuk menunjukkan hal itu.
Meski setelah dia mendapatkan <Magic>, dia seringkali menyusahkan Soma-sama, tapi semenjak itu, dia tidak pernah benar-benar memperbaharui <Status>-nya, ringkas Lili.
...karena dia selalu waspada akan tatapan rekan-rekannya jadi dia tidak bisa memperbaharui <Status> nya, itu merupakan kemunduran besar bagi sebuah <Familia>.
Aku sekali lagi menyadari bagaimana Lili dengan sendirinya dalam masalah ini.
Bergantung pada <Status> yang rendah, dia berjuang pagi dan malam di Dungeon, dan itu disebabkan oleh kondisinya yang terbilang kejam.
Melalui kebijaksanaan dan trik, Lili mampu hidup hingga hari ini. Meski tanpa memperbaharui <Status>, dia dengan percaya dirinya tetap mampu bertahan. Itu juga sesuatu yang didorong oleh lingkungan sekitar.
Kecuali kali ini, Aku mengerutkan keningku.
“Untuk memastikan,akankah kau merasa terhina?”
“Eh?”
“Terhadap Lili, yang telah menipu banyak orang. Lili adalah orang yang suka berbohong.”
Tepat seperti dugaan, konten pembicaraannya berubah.
Terhadap suara tenang Lili, Aku terdiam.
“Lili benci Adventurer. Selain Bell-sama, dia tetap tetap menyimpan dendam dan ... prasangka terhadap mereka.”
“...”
“Tidak peduli apa yang Bell-sama inginkan, Lili tidak akan pernah berencana untuk meminta maaf akan apa yang telah dia lakukan ... Dia juga tidak akan membalaskannya juga.”
Itu adalah kebohongan.
Terhadap kata-kata yang bergema didalam dadaku, Aku tidak dapat mengatakan kalimat ini.
Melihat ekspresi depresi dan keras kepala Lili, Aku kehilangan kesempatan untuk berbicara.
“Terhadap sebuah Lili, akankah Bell-sama merasa terhina?”
Kecepatannya tidak berubah, Lili sekali lagi menanyakan pertanyaan.
Suaranya terdengar berbeda dari biasanya... ...Hanya saja hal itu... ...Bisakah si orangnya sendiri tidak menyadarinya?
Telinga binatang yang saat ini sedang bergetar di rambutnya. Seakan sedang takut akan sesuatu.
Setelah beberapa detik berlalu, Aku tidak bisa menahan gejolak ingin tertawa.
Meski Aku merasa kasihan terhadap Lili, namun Aku tetap mengeluarkan tawa keras.
“... ...Membuatku ingin menghukum seseorang, yang tidak bisa jujur, bukankah tingkat kesulitannya terlalu tinggi.”
“Eh?”
Menghentikan kecepatannya, Lili seperti melompat saat dia berbalik kearah sini.
Aku tertawa dan mengucapkan semua isi pikiranku.
“Lupakan. Karena Aku suka Lili. Jadi Aku tidak bisa melakukan hal seperti menghukum, dan aku tidak akan merasa jijik akan itu.”
Ini adalah kebenaran.
Demi untuk mengusir rasa tidak enak Lili, Aku berbicara dengan perasaanku yang sebenarnya.
Itu hingga ke titik yang mengejutkan, Lili melebarkan matanya dan dengan cepat wajahnya memerah. Telinganya yang kebawah seketika berdiri dan bergeran keatas.
Aku tidak bisa pulih secepat itu. Ekornya dengan ganas berayun.
Dalam jangka waktu yang pendek, Lili terus menatapku, yang hatinya sedang campur aduk, dan dengan cepat membilas wajahnya, secara diam mendesah kencang.
“Apa maksudnya itu, mempertanyakan tentang masalah ini... ...tidakkah ini terlalu bodoh.”
Eh? Sebelum Aku bertanya balik, Lili telah bergerak kedepan.
Hanya dibelakang punggung rampingnya, Aku bisa merasa jauh lebih besar dari sebelumnya.
Apakah dia jadi senang, Aku melabuhkan mood sedikit kebingunganku dan mempercepat untuk mengejar Lili.
“Suara Bell-sama seperti bergema dalam hatiku bagai lonceng.”
Suara Lili lebih ringan daripada biasanya.
Sembari menanyakan Lili berkali-kali, dia tetap tidak mau bicara, Aku bisa merasakan sedikit ketidakpuasan. Aku hanya bisa menyerah memikirkan tentang hal ini.
X X X
“HIIYAAAAAAAAAAAAAAAA”
GIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII”
Mengeluarkan teriakkan yang memekakkan telinga. Monster iblis kecil <Imp> Menyrang maju kearah sini.
Sepanjang tubuhnya, berwarna hitam. Tumbuh dikepalanya adalah tanduk tajam yang sedikit bengkak. Itu adalah sesuatu yang tidak seimbang dengan tubuh kurusnya. Meski begitu, gerakannya lincah dan tajam yang bisa mengkhianati tampilan luarnya.
Dia bahkan memiliki cakar bengkok dan ekor kurus. Dengan semua itu bekerjasama, gerakannya terasa tidak normal.
“!”
Terhadap dua Imp yang akan menyerang dengan melompat, tanganku secara bersamaan memegang <Goddess’s Dagger> dan <Baselard> dan bersiap menyerang.
Terhadap Imp diseblah kanan, Aku mengambil langkah kesamping.
Mempertahankan wujud dimana hanya satu bayangan Imp yang bisa tersembunyi, Aku mengambil persiapan untuk mendapatkan hubungan dimana Aku harus bertahan dari satu musuh.
Sejujurnya ini adalah satu lawan satu. Imp yang maju menunjukkan banyak giginya ketika mengayun cakar pada tangan kirinya yang mengarah padaku.
“GIIIII!”
“INI–TERLALU—LAMBAN, AKU BAHKAN TIDAK PERLU MELIHAT!”
-----Ini bahkan tidak akan menandingi kaki orang itu.
Bertujuan untuk memotong kuku yang menyerupai anak panah, Aku mengayun <goddess’s Dagger> ditangan kananku.
Dalam sekejap, cahaya berwarna biru cerah bersinar dan pada saat bersamaan, kuku sang Imp terlempar, bersamaan dengan 5 jarinya ke udara.
“GEE,GIIII!?”
Setelha terkejut, Imp itu langsung mengeluarkan jeritan yang memekakkan telinga, Aku mengambil kesempatan itu dan dengan gerakan serangan sebelumnya, Aku memutar tubuhku.
Meniru gerakan si wanita berambut pirang yang muncul dalam pikiranku dan menjadikannya gerakanku.
Dengan kaki kanan sebagai tumpuannya, Aku mengerahkan tendangan memutar dengan seluruh tenaga ke Imp yang ada di depanku.
“HIGE!?”
“!?”
Imp ringan yang terkena tendangan tepat di dadanya langsung terlempar begitu saja.
Dan hanya dengan begitu, dia menabrak yang satunya dari belakang. Sang Imp yang baru saja menangkap temannya hanya bisa berdiri, Aku telah bergerak ke langkah berikutnya.
Dengan seluruh kekuatanku untuk menarik dan mengisi tenaga, Aku membuat tusukkan ... dengan <Baselard> ditangan kiriku.
“ “ GIII!?” “
Satu serangan menembus kedua Imp.
Teriakkan sekarat mereka saling tumpang tindih.
Kepada Short Sword berwarna perak yang menembus jantungnya, gerakan terjatuh menghubungi ke otot pahaku.
“Bell-sama, di belakang!”
------ Sudah kuduga!
Bahkan ketika Lili memberi peringatan, aku tetap tidak bisa bergerak. Aku sudah menangkap napas dari Monster yang menyerangku.
Pasti ada pandangan yang luas, dan tidak akan meninggalkan sudut mati.
Melepaskan tangan dari <Baselard>, Aku berputar dan pada saat bersamaan menggunakan <Dagger>.
Aku mengambil inisiatif untuk maju, dengan dua pisau di tanganku menari dalam jarak dekat dan mengeluarkan dua cahaya.
GIEE----!?”
“Fuahhh ... Bell-sama, hebat.”
Tubuh bagian bawah, bangkai dan kepalanya.
Melewati Imp yang terpotong menjadi tiga bagian, Aku mendarat ditanah.
Aku dengan cepat mengangkat kepalaku untuk memberikan sudut pandang yang luas. Bayangan yang berayun dalam kabut tidak menunjukkan tanda berkurang.
Meninggalkan pemulihan Baselard pada Lili, Aku menerjang ke monster yang tersisa.
Posisi saat ini adalah Lantai 10.
Tanahnya ditutupi oleh rumput, setiap jalan, setiap ruang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Juga, kabut putih susu muncul dari suatu tempat dan secara terus menerus menutupi penglihatan.
Ditengah <Room> dengan hanya satu jalan keluar, hari ini, kami juga terbenam dalam penyerangan Dungeon.
Dua hari kebelakang, Aku telah me-review hal yang diajarkan Aizu-san tentang melawan Monster.
Meski kubilang ini tentang hidup dan matiku besok, tetap tidak apa. Aku hanya akan dengan cermat menggunakan, menyerap dan mengasah hal yang dia ajarkan.
“HIIYAAAAAAAAAAA!!”
Apa yang kita hadapi sekarang adalah geromblan Imp. Itu adalah monster berukuran kecil yang lebih sering dijumpai daripada <Ogre> dilantai ini.
Melawan musuh yang menggunakan jumlahnya sebagai senjata dan terus-terusan menyerang, Aku tidak langsung menyerang.
Monster ini, Imp, sangatlah licik. Meski terlihat seperti goblin dalam sekilas, tapi Monster ini akan menggunakan otaknya. Dengan kata lain, mereka sangat pintar.
Mereka tidak akan bertarung sendirian dan akan bergantung pada pertarungan grup. Berdasarkan dari prespektif tim, itu hal yang bagus. Ini berbeda dari sekedar kumpulan Monster, mereka sangat dewasa. Bahkan hingga ke titik dimana para Adventurer kagum.
Juga, ada rumor yang mengatakan di lantai 10 yang berkabut ini, sekelompok Imp bisa lebih sulit dibandingkan Ogre.
GYIIIIII!”
“To!”
Aku juga setuju dengan pemandangan ini. Menggunakan pelindung tangan untuk bertahan dari serangan samping, bahkan jika Aku berencana untuk menyerang balik, para Imp dengan cepat akan mundur kembali kedalam kumpulan kabut. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menutup mulutku.
Dengan keuntungan dari berkelompok dari para Imp dan menggunakan kabut untuk memberikan serangan kejutan dari segala arah. Pada keadaan ini, itu adalah hal yang pintar untuk bisa mengepung musuh.
Di sisi ini, demi agar lawan tidak bisa punya celah dan dapat bergerak, suara bunyi klik yang mengagetkan terdegar dibalik kabut. Dan jumlahnya ada 8. Apakah mereka bertambah.
Meski dalam tim, tidak peduli berapa jumlah mereka, mereka tetap mampu menghadapinya. Meski begitu, untuk Adventurer yang bersendiri, situasi yang dijelaskan barusan bisa sangat berbahaya.
HYAHII!”
“HIHI ....”
“...”
Tepat ketika aku menghentikan pergerakanku, pengepungku  habis dalam sekejap.
Disebrang kabut tipis, beberapa bayangan terlihat menggetarkan bahunya.
Para Imp perlahan memperlebar lingkaran mereka. Suara dari area berumput yang dianjak-injak datang dari segala arah. Aku merasa suara mereka menjilat bibir mereka juga dapat terdengar.
Jika ini terjadi sebelumnya, mungkin aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.
Kemungkinan Aku akan menahan sedikit sakit dan mendobrak melalui sudut pengepungannya.
Namun,
“Jika Aku terlihat seperti tidak berarti, bahkan Lili akan merasa kecewa~~~!”
Saat ini, Aku tidak sendirian.
Dari jauh diluar lingkaran para Imp yang mengerubungiku.
Bersembunyi dibelakang punggung para Monster, sebuah panah ditembakkan.
“GIYAAA!?”
“------!?”
Anak panah yang dilepaskan Lili mengenai kepala dari satu Imp. Dikarenakan serangan tidak terduga ini, para Imp mulai panik dan saling berhamburan.
Bagaimana Aku mengatakannya, Para Monster bukanlah satu-satunya yang tau cara menggunakan kabut. Dengan membiarkan dirinya dalam sementara waktu bersembunyi didalah kabut. Lili telah berhasil membatalkan hubungan membahayakan para Imp.
Meski itu sangat licik, tapi itulah. Sisi kami, yang telah berpisah untuk menjadi umpan dan penyerang kejutan sebelumnya, adalah tim yang lebih baik.
Terhadap penyebutan kata <Party Play> yang menawan, hatiku melompat keatas.
(Aku juga!)
Mengambil kesempatan ini, Aku langsung memulai serangan balik.
Dengan menggunakan <Goddess’s Dagger>, Aku memotong Imp yang teralih perhatiannya oleh panah besi ditempat.
Kecepatanku tidak berhenti dan Aku tanpa henti menyerang ke para Monster yang panik.
“SHIYAAAAAA!”
“Lili!”
Tepat ketika Aku sedang akan melawan Imp yang terkena anak panah.
Dua monster memutuskan untuk meninggalkan yang lingkaran pengepungan yang hancur dan memutuskan untuk menyerang Lili.
Ketika Aku masih berteriak dalam ketakutan, Lili tidak gentar. Dia menyeringgai dan mengambil dua kantong dari dalam lengannya.
“Kerja Bagus.”
Kantong yang dilemparkan terbuka dan melepaskan banyak bubuk ke hadapan para Imp.
Waktu yang diberikan untuk mereka untuk takut akan bubuk ungu yang dengan cepat hilang, lalu para Imp mulai terbatuk dan terbatuk dengan keras.
Barang jarahan <Purple Moth’s Wings>.
Racun dari sisik yang dikumpulkan, kemudian dijadikan kantong beracun.
Tidak seperti sisik Purple Moth, ini dapat dengan cepat memberikan status <poisoned> pada monster lemah.
------Kerja bagus, Lili sudah sangat ahli dalam melawan Monster!
Selagi Lili dengan cepat mundur ke belakang, Aku kabur.
Pandanganku berpapasan dengan mata bulat, sisanya tergantung kau, dia mempercayakan tugas ini.
Aku mengangkat ujung bibirku.
“Mengerti!”
Menahan napasku dan melaju kearah bubuk beracun. Diikuti dengan pembantaian sesaat.
Kedua pisau bercahaya. Tanpa waktu untuk bisa bernapas, kedua Imp sudah mati.
Juga, ada ...!
“...! Bell-sama, sesuatu yang sedikit lebih kuat datang!”
“!”
Ruangan mulai berguncang. Aku dengan cepat menyadarinya juga.
<Ogre>, Monster berkepala babi yang telah kuwaspadai dari awal. Badan raksasanya yang hampir mencapai 3 meter tengah menggerakkan tangannya ke depan.
Juga, ada beberapa Imp di sekitar, bagaikan raja memerintah bawahannya.
Langit diduduki oleh <Bad Bat>. Monster tipe kelelawar yang seluruh tubuhnya diwarnai warna kegelapan. Disamping gigi tajamnya, dia juga dapat mengeluarkan gelombang suara sonik aneh yang mengganggu konsentrasi.
Imp yang tersisa mulai menggoyangkan ekor mereka dan kabur untuk bergabung dengan grupnya.
“Ini sedikit lebih ....”
“Ya. Ini langka untuk berbagai tipe monster untuk bergabung bersama. Apa yang harus kita lakuan, meski hanya Ogre, apakah kau butuh bantuan Lili untuk memancingnya keluar?”
Dia memberikan ajuannya seraya meletakkan tasnya di tanah dan mengisi ulang anak panah di crossbow-nya.
Aku mulai mentap penuh perhatian.
Dikarenakan kabut, sulit rasanya untuk menghitung jumlah monster selain si Ogre. Seakan ada Monster yang mengintai dibelakang dan bersembunyi daripada apa yang terlihat, akan menjadi sedikit lebih berbahaya bagi Lili untuk membuat tindakan sendiri.
Aku meletakkan semua senjata yang Aku siapkan kedalam sarung dan mulai, patapata, mengangkat tangan kananku.
“Bell-sama?”
“Ahaha, meski Aku merasa Aku terlalu bergantung pada ini ....”
Haruskah kita maju? Maksud dari senyumku, Lili terlihat seperti menyadarinya juga.
Dia dengan cepat keluar lewat samping dan memberikan jalan.
Pada saat bersamaan aungan para Monster yang datang dari jarak yang jauh, memasuki telingaku, Aku menggunakan tangan kananku seperti meriam dan menjulurkannya ke depan.
“<Fire Bolt>!”
Beberapa api listrik memecah menembus kabut. Dalam beberapa menit, telah menghancurkan semua Monster.
“Ah Lili. Apakah Aku terlalu bergantung kepada sihir?”
Selagi Aku mengambil roti isi, Aku bertanya Lili tentang ini.
Untuk kamu, yang baru saja menghabisi para Monster, mengambil isirahat, kita kembali ke titik awal Lantai 10. Yang juga merupakan area tangga menuju Lantai 9.
Hanya di area ini yang sedikit berbeda. Kabutnya tidak akan muncul. Karena jarak pandang yang bersih, jadi kemungkinan serangan kejutan sangatlah berkurang. Mengatakan kalau ini adalah satu-satunya area di Lantai 10 yang aman tidaklah salah.
Selagi Aku menikmati makan siang yang biasanya dipersiapkan oleh Seal-san, Aku menunggu untuk respon Lili.
Tanpa terduga, roti lapis rumahan yang ada di mulutku, seperti biasanya, memiliki rasa yang unik. Semakin kau kunyah, semakin rasa pahit menyegarkan keluar ke lidah.
Percobaan hari ini nampaknya percuma, rasanya seperti semakin dalam Aku pergi, kedalamannya pun semakin luas ... selagi memiliki perasaan kekasaran, Aku, mugumugu, menggerakkan pipiku. Sejujurnya, Aku ingin menangis, namun tidak ada air mata.
Terhadap makan siang yang bertambah dengan kejam, Aku merasa ketakutan.
“Nnn~ya, Lili tidak memikirkannya terlalu banyak ... lagipula sihir Bell-sama sangatlah sesuai ....”
Menggunakan kedua tangan untuk memegang roti, yang kecil namun tebal, Lili sepertinya tenggelam dalam pikirannya.
Mulut kecilnya memakan roti dengan gerakkan yang lucu. Tak lama setelah dia selesai makan, Lili mengelap mulutnya dengan sapu tangan dan mulai membicarakannya.
“Karena syarat untuk pengaktifannya sangat rendah, tidak bisa dipungkiri kalau itu sangat mudah digunakan. Dibandingkan bergantung padanya, rasanya lebih sesuai dengan tindakan Bell-sama. Ini perasaanku untuk itu.”
“Jika kau berkata begitu ....”
Rasanya seperti sudah satu harmoni.
<Fire Bolt> adalah <Speed Cast Magic>.
Tidak peduli Sihir macam apa, tidaklah mungkin untuk menghindari Mantra ... Dengan kata lain, ini tidak memerlukan pengisian kekuatan.
Hanya seperti mengendalikan bibirku, deskripsi ini sepertinya cocok. Meski begitu, bagiku menggunakan <Magic> sama seperti menggunakan panah dan busur. Itu bukanlah tindakkan yang membatasi gerakanku.
“Sembari memikirkan tentang ini, selagi sihir Bell-sama sangat efisien, arti sesungguhnya sihir jadi pudar.”
“Itu ... artiya?”
“Mengacu pada titik tentang keyakinan membunuh.”
Ketika Aku mendengar perkataan ini, apa yang muncul di pikiranku adalah halaman dari sebuah buku yang menceritakan tentang keefektifan seorang Pahlawan.
Posture sang elf hero sembari mengeluarkan badai salju dahsyat kearah para Monster.
“<Magic> adalah sesuatu yang bersifat kartu as. Bisa dibilang sebagai kartu andalan. Dengan menggunakan kekuatan dahsyat yang bahkan mengabaikan perbedaan dalam Lv., bahkan jika melawan musuh dengan Lv. Lebih tinggi, dia masih punya lebih dari 100% memukul mundur mereka. Meski penggunaan Sihir Bell-sama sangatlah mudah, tapi sebagai bayarannya, kemampuannya tidak sebesar itu juga.”
Benar, pada saat bersamaan, <Fire Bolt> ku bisa ditembakkan berkali-kali, dan jauh berbeda dengan arti kartu andalan.
Dan beban dari setiap serangan tidak sekuat apa yang di deskripsikan oleh Lili.
Aku menunjukkan ekspresi halus sembari mendengarkan perkataan Lili.
“Karena Sihir Mantra Panjang membutuhkan waktu yang banyak, efek yang diberikan juga sangat kuat, dan lebih seperti memicu perubahan dalam situasi. Dan tentu saja merupakan tindakan yang dapat membalikkan keadaan.
Yang artinya, gantinya ....
“Sihirku tidak punya kekuatan semacam itu ...?”
“Tidak, bukan itu. Kunci permasalahannya adalah memilih kualitas diatas kuatitas atau kuantitas diatas kualitas. Sihirt Bell-sama punya keceparan aktivasi yang tidak bisa dipungkiri ... setidaknya dari sudut pandang Lili, dibandingkan serangan besar yang membutuhkan banyak waktu, <Fire Bolt> Bell-sama yang dapat ditembakkan secara instan jauh lebih menakutkan.
“Lagipula, Aku tidak akan mungkin kabur.” , Lili bergurau ketika mengatakannya.
Secara garis besar, Sihirku masih merupakan ancaman besar bagi musuh.
Meski begitu, tapi hanya menguras sedikit usaha. Kalau dari kekuatan satu serangannya, masih kurang akan kekuatan ledakan yang instan.
Terhadap musuh yang benar-benar kuat ------Sebagai contoh, Monster dengan daya tahan yang kuat ------ masihlah sangat sulit untuk mendapatkan efek dari serangan Sihir biasa.
Tidak itu tidak benar, Mmmm, meski Sihir tidak mahakuasa. Jika kau sangat ingin membuat daftar kekurangannya, maka tidak akan berujung ....
Entah kelemahan mimpiku yang Aku miliki semenjak kecil tentang fenomena Sihir, ketika kelemahan Sihir yang Aku dapatkan ditunjukkan ...Bagaimana Aku mengatakannya, tapi ada sedikit rasa menyesal.
Aku tidak tau apakah perasaanku terekspresikan di wajahku, namun Lili melihat kearahku dan memberikan senyum masam.
“Bell-sama, Bell-sama? Lili yakin kalau Sihir Bell-sama merupakan langkah besar kedepan, kau tahu? Kecepatan aktivasi dan kecepatan proyektilnya tidak usah dipungkiri, tapi berfokus pada perkembangan ini saja sudah sangat bagus. Menyebutnya luar biasa tidaklah berlebihan.”
“...?”
“Mengaktifkan Sihir yang memakan waktu tidak punya nilai kepraktisan. Lagipula, Monster tidak akan menunggu dengan tenang sampai mantranya selesai. Jika kesempatan untuk menggunakannya berkurang, biasanya tidak akan tercermin di <Status>.”
Jika kau tidak cukup menggunakannya kemampuan dasar dari Efek Sihir <Magic> akan sulit untuk bertamabh.
Jika kau bisa menggunakannya tanpa henti, waktu dan upaya yang diperlukan bisa jauh berkurang.
“Selama <Magic> bertambah, skala dan kekuatan dari Magic juga akan bertambah. Bahkan sihir Lili, yang tidak ada hubungannya dengan pertarungan, telah berubah sedikitmemperbarui <Status>.”
<Cinder Ella> Lili, memiliki batasan ukuran dan fisik. Pada dasarnya, Lili hanya bisa berubah menjadi sesuatu yang ukuran tubuhnya sama dengan Hobbit atau anak kecil. Meski begitu, setelah peningkatan <Magic>, sepertinya dalam upaya mengimitasi, dia juga bisa merubah bajunya menjadi sesuatu.
Bajunya sekarang hanya untuk penampilan, tapi bedasarkan Efek Sihir, dia bisa merubah bajunya (Meski akan shihirnya akan hilang ketika dia terkena serangan.)
Aku menatap dengan seksama telapak tanganku.
Memang, ketebalan dan kekuatan dari listrik api telah meningkat dengan pesat.
“Dan kembali ke topik jika kau terlalu bergantung kepada Sihir. Jika itu untuk perkembangan Sihir, maka bukankah itu bisa dipahami. Meski begitu dilema datang ketika kau terlalu bergantung pada Sihir dan melupakan kemampuan bertarung pedang ...Lili merasa Bell-sama harus tetap seperti sekarang.”
Analisis Lili sungguh mengandung dorongan yang membuat orang jadi mengangguk.
Ini adalah saran dari seseorang, yang selalu memperhatikan Adventurer sepertiku dari jarak dekat.
Mendengar perkataan dari partnerku, memberikan perasaan seperti didorong dari belakang.
“Meski kebutuhan Sihir Bell-sama simpel, namun kekuatannya tidak terlalu luar biasa, tapi perkembangannya tidak bisa diremehkan. Tolong untuk lebih percaya diri lagi.”
Terhadap Lili, yang menunjukkan senyuman tipis, pipiku terangkat sedikit.
Jika Lili menjaminnya, maka tidak ada alasan untukku untuk tidak percaya akan kemungkinan dari Sihirku.
Aku merasa karena Lili lah Aku bisa tenang.
Selagi Aku merasa sedikit malu, Aku mengatakan “Terima Kasih” dan berdiri.
“Mari bekerja keras siang nanti juga?”
“Oke, tidak peduli dimana, Lili akan mendukung Bell-sama.”
Ke kejauhan, Lili dan Aku membuat senyum masam.
Setelah itu, kita lanjut menyerang Dungeon.

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka Jilid 3 Bab 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.