18 Agustus 2016

Date A Live Jilid 11 Bab 8 LN Bahasa Indonesia



IBLIS

Bagian 1
“Hnn….”
 Setelah sedikit mengerang, Shidou membuka matanya.
 Sepertinya Shidou berbaring menghadap ke arah kasur. Pipi kirinya terdorong ke arah bantal dan bantal itu menghalanginya untuk membuka matanya. Sepertinya tubuhnya diam seperti itu terlalu lama, karena dia tidak bisa merasakan tangan kirinya.
 “Fuaaa….”
 Shidou menguap sebelum membalikkan badannya di tempat tidur dan mengangkat tubuhnya setelah dia menghadap ke atas. 
Saat yang sama dia mengangkat tubuhnya, tangan kirinya yang tidak bisa dia rasakan, perlahan *Jiin**jiin* menjadi kesemutan. Shidou [Ouch ouch ouch…] mengerutkan keningnya sebelum melihat kamarnya.
 Tidak ada yang berbeda. Ini kamarnya yang biasa. Ini furniturnya yang biasa, dinding, lantai, dan langit-langitnya. Di keadaan yang jarang, Shidou menggantungkan jaket sekolahnya di kursi, mungkin karena kemarin dia terlalu lelah.
 Saat itu.
 “…………..Ah-re?”
 Sesuatu tidak ada, Shidou mengedipkan matanya.
 Ingatan bagaimana dia pergi tidur kemarin benar-benar hilang. Lebih lagi, bulan apa, hari apa dan minggu apa hari ini? Sebelum dia tidur, dia---
 “…………!”
 Informasi yang ada di kepalanya mulai menyambung satu sama lain. Di dalam pikiran Shidou, dia mengingat adegan sebelum dia pingsan.
 Kota yang terbakar. Beam yang berjatuhan. -----Shidou langsung melihat tubuhnya.
 Dari yang dia lihat-----tidak ada luka ataupun bagian tubuhnya yang hilang. Shidou benar-benar sehat walaupun dia mengenai kekuatan terkuat dari Angel. Ini mungkin berkat kemampuan penyembuhan Kotori, atau mungkin----saat cahayanya akan membakar Shidou, batas waktu Yud Bet sampai batasnya dan tubuhnya secara terpaksa kembali ke waktu asalnya.
 Yah, tidak peduli yang mana, ini tidak merubah fakta kalau dia selamat. Shidou menghela nafas panjang.
 Tapi tiba-tiba, pertanyaan berikutnya melayang di pikirannya. Shidou cepat-cepat bangun, menggeser gorden kamar dan sepenuhnya membuka jendela kamar.
 “Dimana…….”
 Dia melihat keluar selagi bergumam. Pemandangan yang dia lihat adalah area pemukiman Kota Tenguu yang biasa. Saat dia melihat ke kanan, dia bisa melihat mansion tinggi dimana para Roh tinggal.
 “---Kurumi! Kurumi!”
 Shidou meletakkan tangannya ke kepalanya, dan mengangkat suaranya untuk berkomunikasi di dalam kepalanya.
 Tapi, suara Kurumi tidak dapat didengar berapa lamapun dia mencoba.
 Meski demikian, itu masuk akal. [Tet] yang Kurumi bicarakan adalah peluru yang membuatnya terhubung dengan targetnya yang ada di masa yang berbeda. Yang artinya, pelurunya tidak akan menunjukkan targetnya saat targetnya berada di masa waktu yang sama dengan Kurumi yang menembakkan pelurunya.
 Ya. Shidou kembali.
 Dia kembali ke dunianya dari Kota Tenguu 5 tahun yang lalu.
 “Tidak-----“
 Shidou bergumam. ----lebih spesifik lagi ini berbeda.
 Pemandangan yang ditunjukkan pada Shidou adalah pemandangan yang biasa dia lihat.
 Bangunan, rumah, jalanannya seperti yang seharusnya. Pada dasarnya-----ini bukan pemandangan Kota Tenguu yang benar-benar dihancurkan oleh Origami yang Inverse.
 “……..uh!”
 Di saat yang bersamaan dia menyadarinya, Shidou keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan cara yang bisa membuatnya jatuh. Dia kemudian berlari ke ruang keluarga dan membuka pintunya dengan keras.
 Saat dia melakukannya, Kotori mungkin terkejut. Gadis kecil----Kotori, yang duduk di sofa ruang keluarga selagi melihat televisi, membuka matanya lebih lebar ke arah Shidou.
 “Ohh? Ada apa onii-chan? Kau benar-benar penuh energy sepagi ini.”
 Dia perempuan yang aktif dengan 2 pita putih mengikat rambut panjangnya. Sepertinya dia bangun lebih awal dari Shidou dan sudah mengganti bajunya menjadi seragam sekolahnya.
 Shidou berteriak saat dia mendengar suara santai adiknya.
 “Kotori……! Kau selamat?”
 “………….Heh?”
 Setelah Shidou berteriak selagi bernafas dengan liar, Kotori memiringkan kepalanya seolah dia tidak mengerti apa maksudnya.
 “…………..Onii-chan, apa kau setengah tidur?”
 Setelah dia mengatakannya, dia mengangkat bahunya.
 Lagipula, kelakuan Shidou tidak bisa dipungkiri. Di [Dunia lama], <Fraxinus> ditembak jatuh oleh Origami, dan dia tidak bisa memastikan keselamatan Kotori dan krunya karena mereka ada di dalamnya.
 “……….Kotori, tanggal dan bulan apa hari ini?”
 “Eh? Jelas hari ini tanggal 8 November.”
 Kotori mengatakannya dengan mata yang khawatir.
 Tapi, respon Kotori merupakan informasi terbaik untuk Shidou. Jika ingatan Shidou benar, itu tanggal-------hari selanjutnya setelah Inverse Origami menghancurkan kota.
 “------aah-------“
 Shidou berjalan ke arah Kotori dengan wajah hampir menangis sebelum [Hashii] memeluk Kotori dengan kedua tangannya. Mata Kotori menjadi hitam dan putih karena aksinya yang tiba-tiba.
 “Gyaa-----!?”
 “Kotori……Kotori……! Aku senang…….Aku sangat----“
 “Gyaaaaa! Gyaaaa!!”
 Kotori mengepakkan tangan dan kakinya. Shidou ditendang perutnya dan terjatuh.
 Tapi, rasa sakit ini benar-benar nostalgia. Rasa kepuasan dan kelegaan tidak dapat berhenti mengalir.
 “……….Ada apa? Kau jadi aneh, Onii-chan.”
 Kotori memeluk bahunya sendiri dengan pipinya yang memerah selagi mengatakannya. Yah, kepadanya yang sudah melihat dunia yang berbeda sejak 5 tahun yang lalu, kelakukan Shidou mungkin terlihat eksentrik.
 “………Hei Kotori. Apa kau percaya jika aku bilang aku sudah mengubah dunia kemarin?”
 “Heh?”
 Kotori melebarkan matanya dan mengerutkan alisnya setelah sesaat.
 “Apa yang kau katakan Onii-chan. Kembalinya khayalanmu?”
 Dia lalu metelakkan jarinya di sekitar dagunya selagi mengatakannya. Dia tidak percaya perkataan Shidou……. Lebih lagi, sepertinya dia tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
 Tapi------itu tak apa. Setelah Shidou tersenyum kecut, dia mengayunkan tangannya.
 “Hnn………Maaf, sepertinya aku agak sedikit bermimpi.----Aku akan membuat sarapan dalam sekejap jadi tunggu sebentar”
 “O-ohh----“
 Kotori mengangguk selagi wajahnya curiga. Setelah Shidou sedikit mengangkat bahunya, dia pergi ke toilet untuk membasuh mukanya.
 Dia harus melaporkan pada Kotori tentang dia merubah dunia suatu hari nanti. Itu karena, itu adalah peristiwa besar dimana, seperti artinya, dia menulis ulang dunia. Berpikir tentaang masa depan, tidak mungkin dia harus memberitahukan <Ratatoskr> tentang ini.
 Namun, bagaimana Shidou akan menjelaskan pengalamannya yang terdengar seperti mimpi? Shidou menggaruk pipinya selagi *uuuh* mengerang.

*** 
Setelah sarapan dengan Kotori dan meninggalkan rumah setelah dia memakai seragamnya, perempuan yang familiar sudah ada di depan gerbang.
 “Ooh, kau disini Shidou! Selamat pagi!”
 Dia adalah sebuah kecantikan dengan rambutnya yang bagai malam hari dan mata kristalnya tapi, dia mengayunkan tangannya dengan semangat ke arahnya.------Yatogami Tohka. Teman sekelas Shidou dan tetangganya.
 “Ou Tohka. Selamat pagi. Maaf, apa aku membuatmu menunggu?”
 “Tidak, aku baru saja keluar rumah. Benar-benar pas!”

Tohka mengatakannya dengan penuh senyuman di wajahnya. Shidou tertawa saat dia melihat muka polosnya itu.
 “Mu? Ada apa?”
 “Tidak…… lebih penting lagi, ini.” 
Setelah mengatakannya, Shidou menyerahkan bekal yang sedari tadi dia pegang. Membuat porsi untuknya dan Tohka dan membuat bento Kotori sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuknya. Dia ingin membeli untuk makan siang hari ini karena dia bangun telat tapi……..dia dengan cepat menyiapkan semuanya jadi seperti hari yang [Normal], yang sudah sesaat. 
“Ooooooh…….! Terima kasih, Shidou! Jika aku benar, ini ada katsu berukuran sekali gigit, kan?” 
Tapi, Shidou memiringkan kepalanya mendengar perkataan Tohka selanjutnya. 
“Eh?” 
“Nu……..? Apa aku salah? Aku pikir kau bilang begitu saat kita berpisah kemarin…..” 
Tohka meletakkan tangannya pada dagunya selagi mendekatkan kedua alisnya untuk mengingat kembali. 
Di dunia ini, Shidou menyelamatkan orang tua Origami 5 tahun yang lalu dan Origami tidak menjadi Roh Inverse. 
Karena itu, Kota Tenguu tidak hancur dan hasilnya, mereka melewati hari dengan biasa [Kemarin]. 
Tapi untuk Shidou, yang kembali 5 tahun beberapa jam sebelumnya, tidak mengingat apapun tentang dunia ini sampai [Kemarin]. 
Dinilai dari Tohka dan Kotori, sepertinya tidak ada perubahan besar di dunia ini tapi, pasti ada peristiwa kecil yang tidak diketahui Shidou seperti yang satu ini……… mungkin ide bagus untuk memastikannya dengan yang lain secepat mungkin. 
“Aah……..Maaf, Tohka. Aku kehabisan bahan. Jadi aku membuat menu lain.” 
“Muu, begitu. Tapi, kau tidak harus meminta maaf kau tahu? Semua makanan yang Shidou buat itu enak! Jadi, apa yang ada di dalam?” 
“Aah, daging cincang, telur dadar, kacang polong dan nasi 3 warna. Telurnya terasa manis.” 
“W-wow……..! Ini yang terbaik!” 
Pipi Tohka memerah dan mengatakannya dengan semangat. Sepertinya dia puas dengan menu ini juga. 
Dan, saat Tohka kegirangan selagi mengangkat kota makan siangnya, dia melihat dua bayangan berjalan dari arah mansion.
“Kakak, selamat pagi. Bagus sekali kau menjemputku, pembantuku.” 
“Hormat. Selamat pagi, Shidou, Tohka” 
Yamai Kaguya dan Yamai Yuzuru. Saudara kembar berwajah mirip. Mereka bedua terlihat sangat mirip dan tidak bisa dibedakan dengan sekali lihat tapi, setelah dilihat baik-baik, wajah mereka agar berbeda dan juga, perbedaan bentuk tubuh yang bisa dipikirkan sebagai jebakan tuhan, bisa dilihat. 
“…….um? Shidou, apa kau memikirkan sesuatu yang buruk?” 
Perempuan langsing dengan wajah yang angkuh----Kaguya setengah membuka matanya dengan postur seolah dia memeluk pundaknya. 
“Ti-tidak mungkin. Aku tidak memikirkan apapun.” 
“Benarkah………? Itu sebuah kebohongan bagiku kau tahu?” 
“Peringatan. Kau berpikir berlebihan, Kaguya” 
Dan, perempuan cantic dengan rambutnya yang diikat 3-----Yuzuru, meletakkan tangannya di bahu Kaguya sebelum mengatakannya. 
“Walau begitu, itu memang hanya sekejap tapi, aku melihat mata Shidou mengarah ke sekitar dada kita.” 
“Penjelasan. Itu normal untuk seorang pria.” 
“………….Oi” 
Itu tidak membantu. Keringat bercucuran ke arah pipi Shidou selagi dia membuka setengah matanya. 
“Begitu. Jadi dia bereaksi dengan tubuhku yang mempesona huh. Kaka, aku akan memaafkanmu. Tidak ada yang sekasar seperti menolak pesona Yamai.” 
“Persetujuan. Itu benar. Tidak peduli berapa kali Kaguya mengkhayalkan sesuatu yang tidak senonoh dengan Shidou setiap hari, tidak berarti semuanya akan berpikir seperti itu.” 
“A-Aku tidak berkhayal begitu.” 
Kaguya berteriak dengan wajah merah. Saat dia melakukannya, Yuzuru terlihat tertarik dengan respon Kaguya dan meletakkan tangannya pada mulutnya untuk [Sedikit senyum. Ufufu]. 
“Penyesalan. Benar begitu. Lalu, diary yang Kaguya tulis kemarin malam----“ 
“Tunggu……….! Kyaa! Kyaaaaaa!” 
Kaguya tiba-tiba menjadi berisik dan *Poka**Poka* memukul pundak Yuzuru. 
“Kabur. Kyaa” 
Setelah mengatakannya dengan suara yang datar, Yuzuru lari dari tempat itu. Kaguya kemudian langsung mengejarnya dan mereka mulai berlari di sekitar Shidou. 
“…………Haha” 
Shidou sedikit cengingisan saat dia melihat mereka. 
Mungkin mereka melihat reaksi Shidou, wajah Kaguya dan Yuzuru jadi kebingungan. 
“A-Apa ini Shidou. Mengapa kau terlihat seolah bijaksana……” 
“Persetujuan. Apa kau bertambah tua dalam satu malam?” 
Selagi Shidou berada di antara mereka, alis mereka bedua menjadi berdekatan selagi mengatakannya. Shidou mengayunkan kepalanya untuk menenangkannya. 
“Tidak, tidak sama sekali.-----Lebih penting lagi, kita akan telat jika terus seperti ini.” 
Setelah Shidou mengatakannya, Kaguya dan Yuzuru melihat satu sama lain sebelum menghela nafas selagi mengangkat bahunya. 
“Fuun…………kedengkiannya sudah berakhir. Dengan mempertimbangkan Shidou, aku akan melepaskanmu. Tapi tidak pada selanjutnya. Siapa yang mencoba mengungkapkan kegelapanku, akan disentuh oleh tangan dewa kematian.” 
“Mengejek. Kegelapanku (Tertawa). Apakah itu adalah objek yang ada di bawah kasur Kaguya?” 
“A……….kenapa kau bisa tahu ituuuuuuuuuuuuu.” 
“Lari. Aku akan pergi duluan.” 
Setelah Yuzuru mengatakannya, dia mengayunkan tangannya ke arah Shidou dan Kaguya sebelum berlari ke sekolah. 
“Tungguuuuu! Eh, serius, kenapa!? Kenapa kau bisa tahuuuuu!?” 
Kaguya mengejarnya selagi berteriak. Walau Reiryoku mereka disegel, mereka berdua langsung tidak terlihat lagi; seperti yang diharapkan dari Roh angin. 
“……….Ayo pergi juga.” 
“Nu? Umu, oke!” 
Setelah Shidou mengangkat bahunya dan mengatakannya, Tohka mengedipkan matanya sebelum mengangguk padanya. 
Dia kemudian berjalan di sampingnya dan mereka berjalan ke arah sekolah------mereka lalu sampai di sebuah SMA. 
Setelah Shidou melewati gerbang, dia mengganti sepatunya dengan sepatu khusus dalam ruangan dan sampai di depan kelompok 4 tahun kedua setelah dia melewati koridor dan menaiki tangga. 
“…………….” 
Tapi, tubuh Shidou terhenti saat dia meletakkan tangannya pada pintu kelas. 
Alasannya mudah. Dia ragu dengan bagaimana dia harus berbicara dengan perempuan yang duduk di sebelah kirinya-----Origami. 
Orang yang mendapatkan pengaruh paling besar dari kejadian 5 tahun yang lalu pastilah Origami. Tidak seperti ingatannya tentang peristiwa kecil dengan Tohka, mungkin ada perubahan yang lebih besar. 
“Shidou, kau tidak masuk?”
 “Aaaah……. Maaf maaf” 
Setelah dia dipanggil oleh Tohka, Shidou menuangkan kekuatan pada tangannya yang memegangi gagang pintu. 
Dan selagi merasakan perasaan aneh yang bercampur, dia membuka pintunya. 
Tapi------ 
“…………Apa” 
Shidou membuka pintunya, dan melihat ruang kelas sebelum tersenyum kecut selagi menghela nafasnya. 
Belum ada yang duduk di sebelah kiri Shidou. Sepertinya, dia masih belum datang. 
Entah kenapa terasa memalukan mencemaskan hal itu. Setelah Shidou menggaruk pipinya, dia duduk di tempat duduknya dan mengeluarkan buku catatan dari tasnya yang akan dipakai pada jam pertama. 
Tapi, Origami masih belum datang ke sekolah walau dia sudah menunggu untuk sesaat. 
“Muu………………” 
Wajah Tohka kemudian jadi kebingungan. 
“Hnn, ada apa, Tohka” 
“Nu…….entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang kurang……….entah kenapa terasa aneh.” 
“………Sesuatu hilang?” 
Leher Shidou terasa tercekik saat mendengar perkataan Tohka. Tapi, bel sekolah berbunyi lebih cepat sebelum Shidou sempat membalasnya. 
Pintu kelas langsung terbuka dan seorang perempuan mungil berkacamata memasuki ruangan selagi membawa buku kehadiran. Itu adalah wali kelas Shidou, Tama-chan; Bu guru Okamine Tamae. 
Pipi Shidou menjadi tenang saat dia melihatnya. 
Itu karena, Tama-chan yang dia temui saat di dunia 5 tahun yang lalu, memiliki penampilan yang sama seperti sekarang. 
“Itsuka-kun? Apa ada sesuatu di wajahku?” 
“………………..! Ah, tidak, maaf.” 
Dia membalasnya dengan panik saat Tama-chan bertanya dengan curiga. Tama-chan batuk sebelum dia mulai mengabsen. 
Nama keluarga Shidou adalah [Itsuka] jadi absennya akan cepat. Setelah Shidou cepat-cepat membalas, dia melihat ke kursi yang ada di kirinya. 
“Origami………..” 
Pada akhirnya, Origami tidak muncul walau pelajaran sudah dimulai. Apa dia absen hari ini. Atau mungkin, Origami telat karena sesuatu. 
Saat Shidou memikirkannya, Tama-chan melanjutkan mengabsennya. 
“Oke, Tonomachi-kun hadir……………lalu, Nakahara-san?” 
“------------Eh?” 
Shidou mengeluarkan suara lugu saat dia mendengar nama yang Tama-chan panggil. 
Tapi, itu normal. Karena absennya diurut berdasarkan huruf, aneh saat [Tobiichi Origami] bukanlah setelah [Tonomachi Hiroto]. Walau dia absen hari ini, namanya harusnya dipanggil.

Sepertinya suaranya lebih besar dari yang dia pikir. Tama-chan terkejut dan melihat ke arah Shidou. 
“Ah-re, apa Sensei membuat kesalahan” 
“E-err……………” 
Shidou berdiri dengan bunyi berdebum. 
Tapi, Shidou ragu untuk mengatakannya. 
Sebuah pikiran melintas di pikirannya untuk sesaat.--------Bahwa, di dunia sebelumnya, Origami [pindah ke sekolah lain]. 
Namun, dia tidak akan tahu apa-apa jika dia terus diam. Shidou membulatkan tekadnya dan menggetarkan tenggorokannya. 
“Sensei, bagaimana dengan……….Origami?” 
*Babump**Babump* jantungnya berdetak kencang. 
Origami [Pindah ke sekolah lain] karena dia direkrut DEM Industries di dunia sebelumnya. Seharusnya itu tidak berlaku lagi pada Origami karena dia tidak memiliki dendam pada Shidou. Walau dia mengetahuinya, kata-kata terburuk yang mungkin Tama-chan katakana melayang di dalam kepala Shidou.----------Itu, [Origami-san sudah pindah ke sekolah lain]…… 
Tapi------jawaban Tama-chan berbeda dari dugaan Shidou.  
“-------Origami……..san? Siapa itu?”  
Tama-chan mengatakannya dengan terkejut. 
“A---------“ 
Shidou membuka matanya dengan tatapan kosong selagi melihat sekitar. 
Karena dia tiba-tiba berdiri dan mengatakannya, Shidou saat ini menjadi perhatian di kelas tapi………semuanya menunjukkan respon aneh saat mendengar nama yang Shidou sebut.
 “…………Origami? Siapa itu? Nama seseorang?” 
“Apa Itsuka-kun ingin membuat 1000 bangau untuk Sensei sebagai hadiah?” 
“Tidak, itu artinya Sensei ada di rumah sakit. Lagipula, tidak mungkin bisa membuat 1000 bangau sendirian.” 
“Tidak, tapi itu Itsuka-kun jadi” 
“Ah---“ 
Semuanya mulai berbicara. 
Shidou melihat ke teman sekelasnya selagi nafasnya menjadi liar. 
Mereka tidak terlihat sedang bercanda. 
Semua tidak tahu. Perempuan bernama Tobiichi Origami. 
“…………..Aah-----Itu benar--------“ 
Shidou *suu* bernafas tenang. Kekuatan meninggalkan tubuhnya dan tangannya terjatuh. 
---sekarang dia memikirkannya, peristiwa ini tidak terpikirkan. Kemungkinannya cukup. Namun, entah dimana di dalam diri Shidou membuatnya menghindari ini. 
Jika Origami muda dan orang tuanya kabur dari kebakaran, normal untuk mereka mencari rumah lain untuk pindah. Mereka mungkin masih tinggal di kota Nankou atau mungkin pindah ke tempat lain seperti keluarga Itsuka. Jika itu yang terjadi, tidak ada jaminan bahwa dia akan masuk SMA Raizen seperti di dunia sebelumnya. 
5 tahun yang lalu, Shidou jelas mengubah sejarah. Dia berhasil menghapus tragedi yang terjadi, sebelum itu terjadi. 
Tapi semua sejarah tidak berubah sesuai dengan yang diinginkan Shidou. 
Semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terhubung dengan garis yang tak terlihat. 
Peristiwa yang Shidou capai menjadi awal dan tak dapat dielakkan hal yang lain akan terjadi di dunia ini. 
“……….maaf, Sensei. Ini sebuah kesalahpahaman. Tolong lanjutkan” 
Setelah Shidou mengatakannya, dia terjatuh ke atas kursinya. 
Tama-chan terlihat cemas untuk sesaat saat dia melihat Shidou seperti itu tapi, dia mulai melanjutkan mengabsennya. 
“………………..” 
Selagi mengantuk, Shidou mendengarkan Tama-chan dan diam-diam melihat kursi di sebelah kirinya. 
---Tidak ada masalah sama sekali. 
5 tahun yang lalu, dia menyelamatkan orang tua Origami yang seharusnya mati, dan Origami tidak menyimpan dendam pada Roh. 
Origami pasti hidup bahagia dia suatu tempat di dunia ini. Ini akhir yang indah yang bisa memberikan keberuntungan yang lebih banyak. 
Untuk Origami, dunia sebelumnya tidak alami untuknya. Dia seseorang yang seharusnya hidup di dunia yang lembut. Dia seharusnya menerima cinta lebih banyak dari orang tuanya dan tumbuh berkembang. 
Ya. Ini tak apa. 
Dunia---seharusnya seperti ini. 
“………Shidou?” 
Dan. Dia mendengar suara Tohka dari kursi sebelah kanannya. Nadanya terdengar ragu-ragu tapi juga terdengar mengkhawatirkan Shidou. 
“Hnn…..Ada apa, Tohka” 
“Err………..ada apa? Dimana yang sakit………..?” 
“Eh……….?” 
Setelah diberitahu seperti itu, Shidou menyadari sesuatu untuk pertama kalinya. 
---Air mata mengalir ke pipinya dan jatuh di atas meja. 
“Ah……….” 
Dia cepat-cepat menghapusnya dengan lengan seragamnya, sebelum membalas [Aku tak apa] kepada Tohka. 
Alis Tohka terlihat khawatir tapi, meski dia tampak gelisah, dia tidak mengatakan apa-apa lagi; dia mungkin merasa tidak perlu menanyakan apapun lagi setelah dia bilang tak apa. 


“Kenapa……………..” 
---aku menangis. 
Shidou bergumam pada dirinya sendiri. 
Mungkin dia meras senang mengetahui Origami hidup bahagia. Atau mungkin-----dia merasa kesepian dia tidak bisa lagi melihat Origami. Dia tidak begitu yakin. 
Tapi, ada satu. 
Ya…. Hanya satu. 
Shidou memikirkan satu hal. 
Origami, yang tidak bisa menjalani kehidupannya seperti gadis pada umumnya karena hatinya penuh dengan dendam. 
Origami, yang terus bertarung seolah itu biasa dan jauh dari air mata dan senyum. 
Dia----ingin melihat senyumnya walau itu hanya sekali.

Bagian 2
“…………………” 
Sore. Kotori yang rambutnya diikat pita hitam, duduk dengan posisi berbalik di sofa ruang tamu sembari melihat sesuatu. 
Lebih lanjut lagi, dia melihat punggung kakaknya------Shidou menyiapkan makan malam di dapur. Celemek biru yang dipakainya membuatnya terlihat luar biasa, sampai tidak menyenangkan. 
Meski demikian, ini bukan pemandangan yang jarang. Tapi, dia merasa Shidou sudah bertingkah aneh sejak pagi. 
Dia berlarian penuh semangat pagi hari tadi, dia mencoba memastikan tanggal, dia kemuudian memeluk Kotori dan setelah mengatakan sesuatu yang terdengar seolah dia belum bangun, dia tiba-tiba berubah drastis sekarang dan kembali dari sekolah dengan penuh depresi. Apa yang terjadi sampai membuatnya jatuh seperti ini. 
“………Fuun” 
Setelah Kotori mendengus, dia menggerakkan batang chupa chups di dalam mulutnya selagi menggerakkan tubuhnya kembali normal. 
Terasa menjijikkan. 
---dia tidak senang ada peristiwa yang menyebabkan hati Shidou terguncang seperti ini ditempat yang tidak diketahui Kotori. 
Setelah Kotori menyilangkan kakinya dengan tidak senang, Yoshino, yang melihat Shidou sama sepertinya, mengeluarkan suara kekhawatiran. 
“Apa yang terjadi………pada Shidou-san” 
Rambutnya lembut dan matanya biru. Itu adalah perempuan yang tingginya hampir sama dengan Kotori. Dia saat ini mengenakan setelan berwarna cerah. 
“Neee. Dia tidak terlihat bersemangat.” 
Setelah perkataan Yoshino, boneka kelinci yang dipakai di tangan kirinya---[Yoshinon] membuka mulutnya. 
Dan seolah menjawabnya, perempuan lain yang duduk di sebelah Yoshino----Natsumi membuat wajah kebosanan (Dia sebenarnya tidak sebosan itu) dengan meletakkan tangannya di bawah dagunya sembari mengeluarkan suaranya. 
“…………Kelesuan itu.------pasti perempuan.” 
“A-------!?” 
“Eh…………….?” 
Kotori dan Yoshino melebarkan matanya saat mereka mendengar perkataan Natsumi. 
“Tu-tunggu, apa maksudmu” 
“Perempuan?” 
Tapi, Natsumi tiba-tiba kehilangan kepercayaan dirinya saat Kotori dan Yoshino bertanya kenapa. 
“……….Ah, tidak, aku mungkin salah jadi, jangan khawatirkan itu…….” 
“Jangan seperti itu. Cepatlah katakan” 
Dia memegang kepala Natsumi dengan kedua tangannya dan mengarahkannya ke arahnya. Saat dia melakukannya, mata Natsumi melihat kejauhan dengan gelisah selagi dia mengangguk. 
“………..Jika anak SMA cemas, alasannya kebanyakan adalah perempuan.” 
“Jadi artinya, Shidou dicampakkan oleh seseorang……..?” 
“Aku tidak tahu sejauh itu tapi….. seseorang dengan usianya itu dasarnya akan sadar tentang bagaimana tindakannya, ke arah perempuan itu…… mungkin ada rumor aneh yang menyebar tentangnya, atau dia diperlakukan dengan dingin oleh perempuan disebelahnya; hal seperti ini akan membuat lelaki frustasi.” 
“A-Aku penasaran jika itu benar…….” 
Setelah wajah Yoshino menjadi lemah lembut dan mengatakannya, Natsumi mengangguk sebelum melanjutkannya. 
“Ya. Ada lagi; dia akan membalas [Eeeh……..] dengan nada yang serius saat kau mengatakan ayo bekerja sama! Atau, saat kau mengambil penghapus yang dijatuhkannya, dia akan [Ah…….aku tidak memerlukannya lagi, kau bisa memilikinya…] atau sesuatu seperti itu” 
“Na-Natsumi-san……?” 
“Tepat saat semangat klub memanas, dan kau mengambil kertas pendaftaran darinya, dia akan bilang [Ah, tapi latihan pagi kami benar-benar keras jadi kau tak apa kan? Tidak serius, kau tidak harus memaksakan diri kau tahu?] Atau saat bermain bola tangkap saat pelajaran olahraga dan perempuannya lari sembari berteriak [Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!] dengan nada yang serius saat aku akan melempar bolanya; Ahh sialan!” 
“Te-tenang” 
Untuk beberapa alasan, paruh terakhir berubah menjadi komplen kebencian Natsumi………entah bagaimana, dia Roh dengan pengetahuan tentang kehidupan sekolah yang besar. 
“…….Po-pokoknya. Sesuatu pasti terjadi di sekolah……..” 
Natsumi mengatakannya selagi nafasnya sedikit kasar. Kotori juga setuju dengan pendapatnya. Dia melihat ke Shidou, yang entah kenapa terlihat kesepian dengan bagian samping matanya selagi mengangguk. 
“Tapi yah, aku pikir tak apa membiarkannya sendirian karena tidak terlalu serius…..” 
“Tapi, sulit rasanya……..Shidou-san tidak ceria. Bisakah kita melakukan sesuatu…..?” 
Setelah Yoshino mengatakannya, Kotori menggaruk pipinya. 
“Yah, walaupun aku ingin melakukan sesuatu tapi, meminta padaku itu….” 
Setelah Kotori menghela nafasnya, wajah Natsumi menjadi pahit selagi mengatakannya. 
“……..Jika perempuan yang memberikan kesedihan pada lelaki SMA, hanya wanita yang bisa menyembuhkannya.” 
Kotori mengangkat pundaknya saat dia mendengar perkataan Natsumi. 
“Wanita……..ya, itu………Ah-re?” 
“………….uh” 
“Kyaaa! Natsumi-san kau mesum!” 
Yoshino dan [Yoshinon] mungkin menyadari maksudnya juga. Wajah Yoshino merah selagi [Yoshinon] menutup wajahnya dengan kedua tangannya. 
Setelah kedua alis Kotori mendekat, dia *Ton**Ton* memukul atas kepalanya dengan jari-jarinya selagi membuat batang permennya berdiri. 
“Tunggu sebentar. Kenapa aku harus melakukan sesuatu seperti ini untuk Shidou---“ 
“A-Aku…..akan melakukannya. Jika Shidou-san akan ceria dengan ini aku akan…..”
“Yoshino!?” 
Kotori membalasnya dengan suara melengking, saat dia mendengar perkataan Yoshno yang tak terduga. 
“Hnn…..Aku mengerti. Maka serahkan padaku. Satu tembakan dari Yoshino, dan Shidou akan ceria. Baiklah, ayo mulai……..” 
“Tu-tunggu sebentar!” 
Kotori mengulurkan tangannya untuk menyela perkataan Natsumi. 
“………….A-Apa?” 
Mungkin dia terkejut dengan suaranya, dia membeku. 
“Aku tidak bilang tidak akan melakukannya, aku tidak bilang tidak……!” 
“Be-begitu……..maka, Kotori juga” 
“………..Fuun, aku tidak punya pilihan huh. ---jadi, apa yang kau rencanakan?” 
Saat Kotori melipat tangannya dan bertanya, Natsumi mengangkat satu jarinya dan mengatakan usulannya. 
“……….karena imajinasi tadi, sepertinya aku bisa memakai sedikit Reiryoku” 
“Heh?” 
Kotori melebarkan matanya dan mengeluarkan suara kebingungannya. Namun, dia langsung menyadari arti perkataannya. 
Ya. Karena mental Natsumi sangat rendah dibanding Roh lainnya, kondisi mentalnya akan jatuh dengan mudah bahkan dengan sesuatu yang sederhana, dan itu akan menyebabkan kebanjiran Reiryoku-nya. 
Dan----kekuatan Natsumi adalah mengubah penampilan targetnya. 
“Tu-tunggu sebentar. Jangan bilang kau akan membuat kita menjadi anak kecil dan membuat [Kebun binatang hanya milikku] lagi. Itu tidak bagus. Jika Shidou memasuki mode keayahannya, itu akan menyebabkan beban lebih padanya.” 
Kotori memperingatkannya. Ya. Terakhir kali, para gadis berubah menjadi anak kecil karena Natsumi, dan mereka dibuat memakai telinga binataang dengan baju senam juga. 
Namun, Natsumi mengayunkan kepalanya. 
“Kali ini…….akan menjadi kebalikannya.” 
“Eh?” 
“Kebalikannya?” 
Kotori dan Yoshino melihat satu sama lain dengan keheranan. 
***

“………., itu hampir saja” 
Shidou, yang sedang menyiapkan makan malam, tiba-tiba mengangkat pundaknya. 
Karena dia sedang memotong kubis selagi berpikir, dia hampir memotong jarinya sendiri. 
“Ahhhh………ini tidak bagus. Aku harus berhati-hati” 
Dia menghela nafas dan mengayunkan kepalanya. Tak terduga, sepertinya Origami memenuhi pikirannya. 
Namun, dia tidak bisa seperti ini selamanya. Jika dia mulai memasak dengan tidak fokus, para gadis akan berakhir memakan sayuran bercampur dengan darah Shidou. 
“Baiklah…….” 
Dia menenangkan dirinya dengan mengambil nafas dalam-dalam dan memegang pisau dapurnya lagi. 
Saat itu. 
“----Shi-shidou. Aku akan membantumu.” 
Suara Kotori yang sedikit gemetar terdengar dari belakang. 
“Hnn? Aah, terima kasih. Kalau begitu, disana-----“ 
Shidou berbalik sembari mengatakannya dan----membeku. Tangannya gemetar karena kehilangan ketenangan dan menyebabkan pisaunya jatuh ke lantai. 
Namun, itu tidak dapat dihindari. Kotori dan Yoshino----Mereka berdua tidak dalam penampilan anak kecil mereka tapi tumbuh menjadi gadis yang seumuran dengan Shidou. 
Mereka berdua tumbuh lebih tinggi, dan ditutup dengan kecantikan untuk gadis yang meletakkan tangan mereka pada pintu kedewasaan. Tidak seperti Yoshino, yang dadanya tumbuh juga, dada Kotori tidak berubah sama sekali. 
Tapi, bukan itu saja. Itu adalah pakaian mereka. 
Dia tidak tahu alasannya tapi, mereka berdua mengenakan celemek dengan hiasan pada baju renang dan hiasan di kepala mereka, membuat mereka terlihat seperti maid musim panas di luar musim. Lebih lagi, sepertinya mereka malu karena, mereka mendekatkan bahu mereka dengan pipi merahnya dengan tidak nyaman. 
“A-Apa yang kalian berdua kenakan, kalian berdua? Lupakan itu, tubuhmu----“ 
Setelah Shidou mengatakannya dengan nada kebingungan, keduanya saling memandang sebelum memeluk lengan Shidou dengan gerakan canggung. 
“Ke-kenapa tidak” 
“Itu…..benar. Lebih penting lagi, tolong biarkan kami……membantu juga.” 
“Me-membantu……” 
Keringat bercucuran saat Shidou mendengarnya. Karena mereka menekan lengan Shidou, dia mungkin secara tidak sengaja merasakan dada mereka jika dia bergerak. Terutama, milik Yoshino berbahaya. Sepertinya masih ada ruangan untuknya, di bagian Kotori. 
“…..Shidou? Apa kau memikirkan sesuatu yang kasar?” 
“………..!” 
Kotori merasakan sesuatu dan menatapnya. Shidou cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Sekarang dia memikirkannya, Kaguya mengatakan hal yang sama pagi tadi. Untuk sesaat, dia hampir mengeluarkan pertanyaan tentang “Apakah perempuan dengan dada kecil memiliki pikiran yang tajam?” tapi, Shidou akan menjadi Ikedukuri1 untuk makan malam jika dia bertanya, jadi dia tidak menanyakannya. 
Situasinya seolah dia sedang bermimpi. Tapi………Shidou tahu siapa dalangnya. 
Itu jelas. Karena Shidou baru saja merasakan kekuatan ini beberapa hari yang lalu. 
“Natsumi! Ini perbuatanmu huh!?” 
Shidou melihat atas kepalanya selagi menyembul keluar dari bayangan sofa, saat dia berteriak. 
Setelah hening sesaat, Natsumi menyerah dan perlahan memperlihatkan wajahnya. Seperti yang diperkirakan dari Roh Natsumi, yang memiliki kekuatan berubah disana. 
Seperti Kotori dan Yoshino, Natsumi tumbuh menjadi gadis SMA. Tapi…….dia mengenakan baju maid yang biasa dan tidak seperti mereka, yang berpakaian merangsang. 
“------tunggu sebentar sialan!” 
Kotori berteriak saat dia melihat Natsumi. 
“Natsumi! Kenapa kau tidak memakai baju renangmu! Kita semua sudah setuju untuk memakainya bersama!” 
Natsumi berpaling dengan canggung mendengar perkataan Kotori.. 
“…Tidak, yah kau lihat…….pikir baik-baik, ini agak memalukan dan tidak keren dan entah kenapa idiot……” 
“Jadi kau membiarkan kami memakai sesuatu yang idiot!” 
“Ko-Kotori-chan…..tenang…..” 


Walaupun Yoshino menenangkannya, Kotori masih terlihat kesal. Dia menggulung lengan bajunya yang tak terlihat dan melompat ke arah Natsumi. 
“Sialan kau; Aku akan membuatmu sama seperti kita!” 
“U-uwahhh!” 
Natsumi berteriak sampai memekikkan telinga dan cepat-cepat lari dari bayangan sofa. Namun, Kotori juga tidak menyerah. Mereka berdua mulai berlarian di ruang keluarga. 
“Tunggu disana! Aku akan melepaskan pakaianmu…!” 
“Iyaaaaaaah! Aku. Akan. Di. Perkosa!” 
“Siapa juga yang akan melakukan itu!?” 
Kotori berteriak pada Natsumi, yang mengatakannya dengan mata yang berair. Debu disekitar mereka bertebaran karena mereka berlarian dengan penuh semangat. 
“O-oi, kalian berdua tenang!” 
“Itu, tidak baik…….untuk bertengkar……” 
Saat Shidou mencoba menghentikan mereka, dia mengambil celemeknya dan berjalan ke ruang keluarga. Yoshino yang kewalahan juga mengikuti dari belakang. 
Tapi, tidak berjalan dengan baik. Karena mereka berlarian di ruang keluarga dengan banyak rintangan, kaki Natsumi tersangkut di bawah karpet dan jatuh. Tentu saja, Kotori yang mengejarnya dari belakang harus langsung berhenti. Dia jatuh ke punggung Natsumi dengan seluruh kekuatannya. 
“Wa-wawa!” 
“Wha------!” 
“Kyaaa……………!” 
“Wai---------“ 
Suara merea bercampur bersama dan setelahnya; mereka membuat tabrakan yang besar dengan meja dan sofa. Dibandingkan dengan banyak debu saat Natsumi dan Kotori berlarian, debu yang sangat banyak bertebaran. 
“Ouch……kalian baik-baik saja-----!?” 
Shidou mengangkat tubuhnya selagi mengerang tapi----suaranya memekik. 
Itu karena, wajahnya terdorong ke rok Natsumi saat dia jatuh. Pantat Natsumi yang terpisahkan dengan satu kain yang tipis meluas dalam pandangannya, membuatnya menghembuskan nafas. 
“Gyaaa--------------!” 
“U-uwaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!?” 
Disaat mereka berteriak, Natsumi berdiri seolah dia ditendang sesuatu. Wajah Shidou terjepit untuk sesaat. 
“Hei, apa yang kau lakukan Shidou!” 
“K-Kau tak apa, Shidou-san…..” 
“Y-Ya-------“ 
Shidou, yang membalas suaranya, menghentikan perkataannya lagi. Sepertinya menyangkut sesuatu saat dia jatuh; celana renang Kotori menurun----dan Yoshino; tali branya putus, menyebabkan dadanya yang besar sedikit keluar dari celemeknya (Walau Yoshino berhasil menutupinya). 
Mereka menyadarinya sesaat kemudian. Mereka melihat tubuhnya masing-masing dan wajahnya menjadi merah. 
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!?” 
Mereka bedua berteriak disaat yang bersamaan dan menunduk untuk menutupi dada dan pantatnya. 
Saat itu, Natsumi terdorong saat dia berdiri dan sekali lagi jatuh ke wajah Shidou dengan pantatnya. 
“Ukyaaaaaaaaaa!!” 
“……………………!?” 
3 teriakan dan 1 teriakan bisu bercampur di ruang keluarga Itsuka. 

“Haa…………payah…………..” 
Setelah beberapa menit. Shidou mendinginkan hidungnya dengan handuk basah selagi menghela nafas panjang. 
Kotori, Yoshino, dan Natsumi sudah kembali normal. Dari apa yang Shidou bisa lihat, mereka merendahkan pundaknya. 
“Fuun……….aku minta maaf” 
“Maafkan aku………Shidou-san” 
“…………maaf” 
Mulai dari kanan; mereka mulai meminta maaf. Shidou kembali menghela nafasnya sebelum tersenyum kecut. 
“Tak apa. Jangan khawatir.------Salahku membuat kalian mengkhawatirkanmu. Kau ingin aku ceria, kan?” 
Setelah Shidou mengatakannya, mereka bertiga mengangguk selagi tetap meminta maaf. 
Melihat mereka seperti itu, Shidou menggaruk kepalanya. Sepertinya, dia sangat jatuh sampai para perempuan ini mengetahuinya. Walau dia diberitahu agar tidak menghancurkan mental Roh per hari, ini kebalikan dari apa yang harus dia lakukan. Setelah Shidou meletakkan handuknya di meja *pan**pan* menampar mukanya agar fokus. 
“---------Terima kasih, kalian. Aku fokus sekarang. Aku baik-baik saja.” 
Shidou melihat pipi mereka menjadi tenang sedikit saat dia mengatakannya. 
Kotori langsung membuka matanya sebelum melipat tangannya. 
“Fu-fuun….itu bagus. Aku tidak akan ikut campur dengan masalahmu tapi, para Roh akan terganggu jika kau terus begitu.” 
“Aah, maaf” 
Shidou merasa kelakuan Kotori yang ingin terlihat kuat agak lucu jadi dia tersenyum kecut sebelum mengangkat pundaknya. 
Tapi, sepertinya Kotori tidak suka dianggap remeh oleh Shidou. Dia membuat mulutnya berbentuk seperti  dan melanjutkan. 
“Akan jadi masalah jika kau terus kehilangan fokus seperti itu. Kita tidak tahu kapan Roh akan muncul. Tentu untuk Roh yang tak diketahui, masih ada Kurumi dan juga <Iblis>……” 
“Eh?” 
Shidou mengangkat alisnya secara refleks saat dia mendengar nama yang disebut Kotori. 
“He-hei tunggu sebentar, Kotori. <Iblis>……..? Siapa Roh itu?” 
Dia kembali melihat Kotori dan membalasnya. 
<Iblis>. Setidaknya, itu nama yang Shidou belum pernah dengar sebelumnya. 
Namun, alis Kotori mendekat dengan keraguan. 
“Apa yang kau katakan Shidou. Itu sang pemburu Roh <Iblis> kau tahu? Bersama dengan <Nightmare> Tokisaki Kurumi, dia adalah target yang harus kita perhatikan. Jangan bilang kau lupa.” 
“Bersama……dengan Kurumi?” 
Keringat bercucuran dari jidat Shidou. 
Dunia ini agak berbeda dengan dunia yang Shidou tahu. Dia terpaksa untuk mengetahuinya hari ini. Jika seperti itu, ada kemungkinan Roh yang Shidou tidak ketahui sudah muncul. 
Namun------sulit dipercaya Roh yang selalu berhati-hati terus bersama dengan Roh yang terburuk-Kurumi akan muncul. 
Kotori membengkokkan tangannya dengan keraguan yang mendalam saat dia melihat reaksi Shidou. 
“Kau……serius mengatakan itu? Ada apa denganmu hari ini? Seolah ingatanmu sampai kemarin benar-benar menghilang.” 
“….aah, maaf” 
Dia langsung merendahkan kepalanya saat perkataan Kotori mendekat. Kotori kemudian menghela nafasnya sebelum membuat batang Chupa Chup di mulutnya berdiri. 
“……..jadi, kau benar tidak ingat?” 
“Aah………bisakah kau jelaskan padaku jika memungkinkan. Er-----tentang <Iblis>.” 
Saat Shidou mengatakannya, Kotori sekali lagi menghela nafasnya sebelum mengangguk. 
“<Iblis>. Kami sudah memastikan wujudnya tapi, kita belum berhasi dalam kontak; dia Roh yang tak dikenal. Dan-----“ 
Kotori berhenti sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. 
“------Ini hanya spekulasiku tapi, dia mungkin tipe inverse.” 
“A……….!?” 
Shidou melebarkan matanya dengan refleks. 
“Tipe inverse…..? Apa maksudmu? Apa kau bilang Roh inverse muncul secara normal?” 
“Seperti yang aku bilang, aku tidak tahu detilnya.” 
Kotori mengatakannya dengan jengkel. Informasi ini pasti sudah diketahui oleh Shidou yang ada di dunia ini. 
Pertanyaan tentang------kenapa Roh Inverse yang muncul tidak berhenti bermunculan tapi, ada segunung hal yang tidak dia ketahui. Dia kembali tenang dan melanjutkan pertanyaannya. 
“………apa itu [Pemburu Roh] yang kau bilang tadi.” 
“Seperti yang kumaksud.------<Iblis> tidak muncul sendirian. Dia hanya akan muncul saat Roh lain muncul juga…….dan menyerang roh itu. Untuk Natsumi, akan berbahaya jika para gadis tidak disana untuk menyelamatkannya.” 
Setelah Kotori mengatakannya, dia melihat Natsumi. Mungkin dia mengingat kejadian tersebut, pundak Natsumi agak bergemetar. 
“Tu-tunggu. Menyerang Roh? Itu………” 
“Ya. Seperti AST dan DEM.-----awalnya, kami mengira bahwa dia adalah bagian dari suatu organisasi. Itu………hanya mungkin, mereka menjinakkan Roh untuk menyerang Roh lain. Tapi dari yang kita lihat, <Iblis> tidak terkait atau membantu DEM maupun AST. Sebenarnya, DEM dan AST juga menyerang <Iblis>.” 
“Lalu kenapa……….<Iblis> menyerang Roh…..?” 
“Siapa tahu. Mungkin ada beberapa alasan tapi kita tidak tahu sampai kita tanya padanya. Dia mungkin langsung menghilang ke suatu tempat jadi <Ratatoskr> belum kontak dengannya, walau hanya tuk sekali.” 
Kotori mengangkat bahunya berlebihan. Keringat bercucuran pada pipi Shidou selagi dia meletakkan tangannya pada dagunya. 
Roh yang memburu Roh lain, <Iblis>. Perasaan aneh muncul di dalam hati Shidou saat dia mendengarnya. 
“Hei………..bisakan aku melihat foto atau video <Iblis> itu……..?” 
“Kita mempunyainya tapi……….aku pikir tidak akan berguna melihatnya, oke?” 
“Eh? Apa maksudmu?” 
Saat Shidou bertanya, Kotori [Uun] menggaruk kepalanya selagi menggerakkan batang permennya naik turun. 
“Yah………..gambarnya berharga ribuan kata. Tunggu sebentar” 
Kotori meninggalkan ruang keluarga, setelah dia mengetakannya. Dia kemudian langsung membawa tab terminal berukuran B5 dari kamarnya. 
“Ini. Lihatlah” 
Kotori meletakkan tab di atas meja dan memainkan videonya. 
Kota yang benar-benar hancur muncul. Ada asap dan ledakan saling berdekatan dan dia bisa bilang bahwa itu adalah medan pertarungan. 
--di dalam sana. 
[Itu] disana. 
Itu adalah siluet manusia yang ditutupi dengan kegelapan. Begitu, tidak heran Kotori mengatakan [tidak berguna]. Tidak hanya sulit membedakan bentuk manusia, wajahnya tertutupi dengan kegelapan dan tidak dapat terlihat. Tapi, bagian dimana beberapa sayap melayang di sekitar manusia itu cukup untuk memberi nama <Iblis> pada siluet itu. 
Saat dia melihatnya. 
“………ah------“ 
Shidou mengeluarkan suara lembut. 
Bukan karena dia melihat penampilan aneh Roh itu. 
---itu karena dia mengetahui Roh itu. 
Memang benar bahwa dia tidak bisa melihat wajah dan ekspresinya. 
Tapi, Shidou tahu. Dia pernah melihat Roh ini sebelumnya. 
“Tidak……mungkin…….” 
*Kata**kata* giginya menggertak. Seluruh tubuhnya bergemetar untuk sesaat. 
Itu karena, itu----- 
“………..Ori-gami……….” 
Ya. Itu adalah Origami, yang berubah menjadi Roh dan Inverse.

Bagian 3 
Hari berikutnya. Setelah Shidou sampai sekolah dengan Tohka seperti kemarin, dia menguap, saat dia sampai di tempat duduknya. 
Tohka, yang duduk di sebelah kanannya, membuka matanya keheranan. 
“Mu, apa kau mengantuk, Shidou” 
“Aah……..Aku tidak cukup tidur kemarin” 
“Muu, itu tidak bagus. Kau tak apa?” 
“Haha……….Yah, sepertinya aku akan tidur sebentar sebelum makan malam nanti” 
Setelah Shidou tersenyum kecut, dia menyeka air mata yang keluar dari matanya dan sedikit menghela nafasnya sebelum melamun menatap kursi sebelah kirinya. Kursi yang digunakan oleh Origami, yang ada di dunia sebelumnya. 
“………………..” 
---Alasan kurang tidurnya sudah jelas. Alasannya terbagi ke dua jalan besar kemarin malam. 
Untuk yang pertama; dia pergi keluar. Shidou menyelinap keluar dari rumahnya sendirian setelah makan malam dan menuju suatu tempat. 
Ya. Itu adalah mansion dimana Origami tinggal di dunia sebelumnya, dan area pemukiman kota Tenguu Nankou yang terjadi kebakaran 5 tahun yang lalu. 
Ada satu alasan kenapa dia melakukannya. Dia pikir Origami mungkin ada disana. 
Namun, kenyataan tidaklah semanis itu. 
Tidak ada yang tinggal di ruangan mansion itu dan rumah yang dulu ditinggali keluarga Origami terdapat sebuah papan di depannya. Dia bertanya pada orang yang tinggal di rumah itu tentang keluarga Tobiichi tapi, mereka tidak tahu dimana mereka sekarang. 
“Origami……..” 
Shidou melihat ke arah kursi kosong selagi bergumam sendiri. 
Video yang Kotori tunjukkan kemarin. Roh yang tak dikenal- <Iblis> muncul disana, pasti adalah Tobiichi Origami. Lebih lagi, dia bukan Roh biasa----tapi tipe Inverse. 
*Creak* dia menggertakkan giginya. 
---dia tidak mengerti. 
Di dunia 5 tahun yang lalu, Shidou seharusnya berhasil mengubah sejarah. Origami seharusnya hidup sebagai perempuan biasa di dunia yang biasa pula. 
Tapi walau begitu……….Apa yang terjadi sampai membuat Origami berubah menjadi Roh. Dan kenapa dia menjadi Inverse. 
Terlebih lagi, menilai dari apa yang dikatakan Kotori, Origami menyerang Roh lain. Jika benar maka tidak ada bedanya dibanding saat dia masih di AST. 
Dan, <Iblis> akan menghilang juga saat Roh juga hilang. Terima kasih karena itu, kota tidak akan hancur terlalu parah. 
Kepalanya sakit karena banyak sekali hal yang tidak dia ketahui. Seperti apa yang terjadi 5 tahun yang lalu dan dunia ini. Shidou menggaruk kepalanya. 
“Sialan………kenapa……………….” 
Dia mengingat kembali hal yang dia lakukan kemarin selagi mengatakannya dengan kesal. 
Hal lain yang Shidou ambil. Adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang dunia ini. 
---Saat dia mengetahui tentang Origami di dunia ini, kegelisahan dan pertanyaan yang tak terhingga memenuhi pikirannya. 
Dia berpikir mungkin; peristiwa yang berbeda dari ingatan Shidou mungkin terjadi di dunia ini dan dia tidak mengetahuinya. Atau mungkin------peristiwa yang seharusnya terjadi tidak pernah terjadi sama sekali. 
Shidou kembali ke rumah dan berbicara pada para perempuan (Kotori terlihat merasa curiga), dan berhasil mengintip ke dalam database <Fraxinus> walau hanya sekilas. 
Kesimpulannya; dia mengetahui bahwa sejarah di dunia ini hampir cocok dengan ingatan Shidou. 
Kotori berubah menjadi Roh 5 tahun yang lalu, dan ditemukan <Ratatoskr>. 
Pada 10 April, Shidou bertemu dengan Tohka dan menyegelnya. 
Setelah itu, penyegelan Yoshino, pertarungan Kurumi dan Mana, penyegelan Yamai bersaudari, pertarungan dengan DEM dan penyegelan Miku dan Natsumi. Semuanya sesuai dengan yang Shidou tahu. 
Ya-------dengan indahnya meninggalkan, hubungannya dengan Tobiichi Origami. 
Saat dia memikirkannya, bel berbunyi menandakan waktu pelajaran dimulai dan pintu terbuka dengan wali kelas Tama-chan memasuki ruangan. Kami berdiri saat diperintah, menghormat sebelum kembali duduk. 
“Oke, selamat pagi semuanya. Mari kita bekerja keras juga hari ini” 
Tama-chan mengatakannya dengan senyum. Tapi, Shidou tidak terlalu mendengarkannya. Dia melihat ke jendela dengan kosong selagi bertopang dagu. 
“……………………..” 
---Seperti yang diduga, dia harus melihat Origami sekali lagi. Setelah berpikir sesorean, itulah jawaban yang diraih Shidou. 
Saat kemarin dia mengetahui bahwa semua orang tidak tahu Origami, dan saat dia mengetahui bahwa Shidou di dunia ini bahkan tidak pernah bertemu Origami sebelumnya, dia pikir bahwa dia tidak lagi terikat dengan Origami. Sebenarnya------dia merasa bahwa ini mungkin pilihan terbaik untuk Origami. Hanya saja tidak mungkin, dia ikut campur kehidupan Origami saat dia hidup bahagia adalah hal yang harus dilakukan. Shidou merasa cukup jika Origami hidup di suatu tempat dengan damai. 
Tapi, sekarang dia melihat video itu, dia tidak bisa mengatakannya lagi. 
Kerusakan akibat perang yang bersemayam di sekitar Origami belumlah berakhir. Misi Shidou belum selesai. Dunia menjijikkan ini masih membebaninya dengan takdir yang kejam. 
Namun, Shidou terlalu buta tentang dunia ini. 
Namun, walau dia membuat penyelesaian, ada beberapa dinding yang menghalanginya dengan tujuannya.
 Pertama, Origami di dunia ini tidak mengetahui tentang Shidou. Bahkan sebelum itu, dia tidak tahu dimana Origami. 
“………………seperti yang kukira, aku tidak bisa melakukan apapun sendirian” 
Setelah Shidou bergumam dengan suara yang tak dapat didengar, dia *Ton**Ton* mengetuk meja dengan jarinya. 
Seperti yang diduga, dia membutuhkan bantuan <Ratatoskr> perihal bagaimana dia harus bergerak. Setelah dia kembali ke rumah, dia harus menjelaskan situasinya pada Kotori dan mencari Origami. 
……….mempercayai sesuatu seperti mengubah sejarah dengan menyelinap melalui waktu memang meragukan tapi, mereka tidak akan menolaknya karena ini berkaitan dengan Roh-<Iblis>. 
“Oke………..” 
Selagi melihat keluar jendela, Shidou menguatkan tinjunya untuk menguatkan penyelesaiannya. 
Dan---saat itu. 
“Ah, oh iya. Hari ini, aku akan memperkenalkan teman baru untuk kalian semua. -----oke, masuklah.” 
Di saat bersamaan Tama-chan mengatakannya seolah dia kembali sadar, *Gara* pintu kelas terbuka dan seorang perempuan masuk. Itu adalah murid pindahan. 
Dia merasa jarang sekali murid pindahan datang di waktu seperti ini tapi, ini bukan waktunya untuk memikirkan itu. Shidou tidak mengalihkan pandangannya dan melihat ke arahnya. 
Tapi--- 
“…………..Heh?” 
Shidou membuka matanya dengan terkejut saat dia melihat seorang perempuan berjalan ke arah meja guru. 
Seorang perempuan dengan tubuh yang ramping dan wajah yang anggun seperti boneka. Warna yang menutupi punggungnya sedikit pucat dan itu membuatnya seperti seorang putri dari negeri lain. 
Saat perempuan ini hadir, dia menyadari teman sekelasnya menjadi gaduh. Yang lelaki memajukan badannya dengan [Ooooooh!?] selagi yang perempuan matanya menjadi berkilauan. 
Namun, Shidou satu-satunya yang keheranan dan menatap wajah perempuan itu. 
Alasannya mudah. Dia mengenali wajah perempuan itu. 
“Oke, tolong perkenalkan dirimu” 
Tama-chan memintanya pada murid pindahan itu. 
Perempuan itu mengangguk sebelum melihat ke depan dan berbicara dengan suara yang lembut. 

“----Namaku Tobiichi Origami. Semuanya, senang bertemu kalian” 

Dia kemudian membungkukkan tubuhnya. Semua yang di kelas menjadi gaduh. 
Sebagian murid mungkin mengingat Shidou mengucapkan nama [Origami] kemarin. Beberapa memiringkan kepalanya keheranan; mungkin mereka terlalu banyak membaca sesuatu yang vulgar, mereka melihat ke arah Shidou dengan senyum jahil. 
Tapi, Shidou tidak bisa bersantai untuk meresponnya. 
“A……………” 
Dia melebarkan matanya dan suara yang bergemetaran keluar dari mulutnya. 
Walaupun panjang rambutnya berbeda, dia pastinya Tobiichi Origami dalam ingatan Shidou. 
Saat Shidou tidak bisa mengeluarkan suaranya karena terkejut, Tama-chan melihat-lihat kelas. 
“Eeeeerr, untuk tempat duduk Tobiichi-san…….. Kursi di sebelah Itsuka-kun kosong. Bisakah kamu duduk di sana?” 
“Aku mengerti” 
Origami menyetujuinya dan perlahan berjalan ke arah Shidou. 
Tapi, Origami tiba-tiba berhenti setelah beberapa langkah. 
Alasannya mudah diketahui. Mata mereka saling bertemu sejah Shidou menatap Origami. 
“Ah----“ 
“Eh…………?” 
Di saat Shidou mengeluarkan suaranya, Origami melebarkan matanya terkejut. 
Matanya bertemu dengan lelaki yang menatapnya. Tidak mungkin dia tidak terkejut. 
Namun, itu aneh. Reaksi Origami sedikit terlihat berbeda dari alasannya. 
“----Tidak mungkin. Kau…….” 
Ya. Dia mengatakannya seolah dia mengenal wajah Shidou. 
Tapi, setelah Origami langsung mengayunkan kepalanya untuk mendapatkan kembali kesadarannya, dia kemudian berubah total dengan membungkukkan badannya sebelum duduk di tempat yang ditunjuk Tama-chan tadi. 
“---------“ 
Shidou melihat urutan aksi yang dilakukan Origami selagi merasa jantungnya berdetak semakin kencang. 
------Apa itu barusan? Origami mengenal Shidou? 
Itu tidak mungkin, pikir dengan logika. Namun, tadi---- 
“Oke! Mari mulai absennya!” 
Tama-chan mulai memanggil nama para murid dengan suara yang ceria tapi, tidak satupun masuk ke telinga Shidou. 
*** 

TL Note :

Ikedukuri : Makanan ikan khas Jepang

Date A Live Jilid 11 Bab 8 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.