18 Juli 2016

Rokka no Yuusha Jilid 1 Bab 2 LN Bahasa Indonesia




 


1
Adlet dan Fremy menuju wilayah Ratapan Iblis. Enam jam telah berlalusemenjak mereka berdua pertama kali bertemu di desa dan matahari sudah naik tinggi ke langit. Mereka berjalan tanpa kata di sepanjang jalan gunung yang hanya memiliki gulma yang jarang tumbuh antara batu dan kerikil. Setelah memeriksa lokasi mereka di peta serta mengeluarkan kemampuan terbaik mereka, mereka pikir akhirnya akan melihat wilayah itu setelah melintasi dua gunung lagi.
“Ini agak panas, ya?” Adlet bertanya pada Fremy yang berjalan di depannya.
Namun, dia tidak menerima jawaban.
“Apakah kau tahu tentang daerah ini Fremy? Apakah memang hangat di daerah ini?”
Sesuai perkiraan, dia tidak menjawab.
“Aku tidak pernah mendengar mengenai Saint Bubuk Mesiu. Apa saja hal yang dapat kau lakukan?”
“....”
“Jika kau Saint Bubuk Mesiu apakah itu berarti kau tidak memerlukan bom? Aku akan merasa senang jika kau memberikan beberapa padaku.”
“....”
“Aku tidak tahu ada senjata yang bisa membunuh Kyouma. Siapa yang membuatnya?”
Lagi dan lagi Adlet memberikan Fremy kesempatan untuk berbicara, berharap itu akan meningkatkan hubungan mereka walaupun itu hanya sediit. Tapi setiap kali dia hanya menanggapinya dengan diam seperti batu, dan itu mulai menganggunya. Kesan pertama yang sekilas kalau dia tampak kesepian telah lenyap. Hingga saat ini dia melihat seorang gadis yang tidak tahu malu-egois dan tidak bisa dimengerti.
“Jawablah sesuatu. Apa yang kau pikirkan tentangku?”
“Tak tahu malu dan serampangan. Kau adalah seorang pria bodoh yang sulit diatur.”
“Jadi kau hanya akan menjawab kalau ...” tanggapannya membawa keluar suasana canggung dan sejak saat itu dia juga memutuskan untuk berjalan dalam diam.
Dia berpikir bagaimana Nashetania yang kemungkinan menumpang. Itu pemikiran yang bagus untuk ke wilayah Ratapan Iblis, tetapi jika dia mungkin mencarinya kemudian pertemuan mereka akan tertunda. Dan setelah semuanya dia khawatir tentang meninggalkannya sendirian.
“Jika kau khawatir pada Nashetania kenapa tidak kembali?” tanya Fremy, seakan dia bisa membaca pikirannya.
“... Tidak, aku tidak mengkhawatirkannya. Setidaknya tidak sebanyak aku mengkhawatirkanmu.”
Fremy mendengus. “Aku tidak berpikir Nashetania akan dipilih. Jika kau dan dia adalah apa yang disebut pahlawan, maka Enam Bunga yang sekarang tidak akan saling percaya satu sama lain.”
“Itu tidak benar. Tentu, Nashetania merupakan seseorang yang naif dan kurang berpengalaman, tapi dia adalah seoorang pejuang yang tangguh.”
“Dia sombong, dan tidak memiliki keterampilan dan pengalaman yang cukup.”
“Sebagai orang terkuat di dunia, semua orang tidak memiliki keterampilan dibandingkan denganku.”
“Omong kosong.”
Fremy dan Adlet jatuh kembali ke dalam keheningan. Mereka telah menyebrangi gunung yang lain, yang berarti bahwa setelah yang berikutnya mereka dapat melihat tujuan mereka.
Tapi saat mereka mendekati puncak gunung kedua, tiba-tiba Fremy berkata, “Aku punya permintaan.” Ungkapan yang tiba-tiba membuat Adlet terkejut. “Satu saja tak apa?”
“... Apa itu?”
“Pada titik tertentu kau dan aku akan saling membunuh satu sama lain. Aku tidak peduli dengan apa yang kaupikirkan, tapi itu benar-benar akan terjadi.”
“Itu tidak akan terjadi,” Adlet menegaskan, tapi Fremy menggeleng.
“Tolong. Ketika saatnya tiba, santailah. Bahkan jika kau memilih untuk membunuhku dengan pedangmu, jangan segan untuk membunuhku.”
“Permintaan apa itu? Permintaan yang ingin kudengar darimu adalah jika kau dapat bertarung bersamaku.”
“Kau pikir kau akan mendengar itu sebagai permintaan dariku?”
“....”
“Aku tidak akan mati. Tidak sampai tangan ini membunuh Raja Iblis.”
Setelah itu Fremy berhenti berbicara lagi. Bahkan Adlet tidak bisa memaksa dirinya untuk berbicara lebih jauh.
Aku tidak akan mati. Kata-kata itu mengandung tekad yang kuat. Namun, di bawah kata-kata itu Adlet juga bisa merasakan kesedihan dia nampaknya tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikannya.
Pikiran Adlet kembali ke Nashetania. Ketika dia dengan suasana hatinya yang cerah dan ceria. Tapi ketika dia bersama dengan Fremy hatinya mulai sakit, seperti ada seseorang yang menekan dadanya.
“... Itulah wilayah Ratapan Iblis.”
Keduanya akhirnya berhasil mencapai puncak gunung. Dan mereka bisa melihat pemandangan yang luas membentang di depan mata mereka.
Hutan dari kaki gunung diteruskan ke laut. Dan jalan sempit yang berliku menembus pusat hutan itu. Di kejauhan adalah laut gelap dan memproyeksikan semenanjung Balca, juga dikenal sebagai wilayah Ratapan Iblis. Itu adalah tempat di mana Raja Iblis dan Kyouma tertidur.
Adlet menunjuk ke dasar semenanjung.
“Titik pertemuan kami adalah di mana benua dan semenanjung terhubung.”
“Kau dan yang lainnya, maksudmu.”
Dia tidak bisa benar-benar melihat seluruh semenanjung dari puncak. Sebagian besar tanah itu terhalang oleh bukit-bukit terjal dan jurang dihiasi dengan hutan dan vegetasi di sekitarnya. Anehnya, seuruh semenanjung berwarna merah gelap.
“Itu warna yang mengagumkan. Aku ingin tahu apakah itu racun Raja Iblis.”
Tubuh Raja Iblis mengeluarkan racun unik yang memenuhi seluruh wilayah Ratapan Iblis. Semua makhluk hidup lainnya tidak terpengaruh oleh racunnya, tetapi jika menyentuh manusia mereka akan mati dalam kurun waktu sehari. Hanya ada satu cara untuk mempertahankan diri yaitu terpilih oleh dewi nasib sebagai salah satu dari Enam Pahlawan Bunga dan menerima berkah perlindungan.
Selama racun ada, tidak ada seorangpun kecuali Enam Bunga yang mempi mendekat. Meskipun tanpa itu, itu tidak lagi deiperlukan jika hanya enam orang yang menyerang.
“Jadi, sekarang apa?” tanya Fremy. “Aku tidak ingin menemui Bunga lainnya.”
Adlet menunjuk ke kaki gunung dan berkata, “Aku penasaran dengan apa yang terjadi pada benteng yang di sana.”
Ada sebuah benteng kecil tepat di mana dia menunjuk. Setengah bagiannya telah dihancurkan, tampaknya itu dikarenakan api. Keduanya kemudian menuruni gunung dan tiba di depan benteng. Meskipun di luar nampak rusak, tampaknya masih ada orang di dalam.
Mewaspadai sekitar, Fremy menarik kerudung dan menutupi tanda di tangan kirinya. Adlet menemukan seorang prajurit yang duduk di salah satu ketapel benteng.
“Jika Bunga yang lain berada di dalam, aku akan lari.”
“... Mengerti.”
Adlet mengangguk dan berbicara pada prajurit yang terlihat. “Permisi! Apa di dalam ada Pahlawan Enam Bunga?”
“Tidak, mereka datang dua hari lalu tapi mereka sudah berangkat. Siapa kau?”
Dia bertukar pandang dengan Fremy; untuk saat ini nampaknya itu tidak terlihat seperti sebuah masalah untuk masuk ke dalam.
“Aku Adlet Mayer, salah satu dari Pahlawan Enam Bunga. Ini ... jangan mengkhawatirkan tentangnya.”
Menjulurkan kepalanya ke samping, prajurit itu turun dari titik yang terlihat dan membuka gerbang. Keduanya kemudian masuk ke dalam bentang dan Adlet menunjukkan tanda untuk membuktikan identitasnya.
“Aku senang kau datang, Pahlawan Enam Bunga. Aku memiliki sesuatu yang harus kuberitahu. Maukah kau masuk?”
“Ada apa?”
“Ini sangat penting. Ini mempengaruhi pertempuranmu ke depannya.”
Adlet menoleh ke arah Fremy. Dia juga terlihat ingin bertanya tentang informasi mengenai prajurit.
“Tolong ikuti saya. Ah, maafkan aku karena tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Rowen seorang Private First Class dalam tentara Gwinvale. Aku komandan benteng ini.”
“Komandan? Kamu?” tanya Adlet tenpa berpikir. Melihat sikap orang itu, Adlet mengerti dia cukup kuat, namun pangkatnya rendah dan peralatannya sederhana.
“Semuanya telah mati. Komandan saya bahkan dari kalangan sipil. Semua yang tersisa hanyalah aku dan petugas junior. Tapi ada sesuatu yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.”
Rowen mulai berjalan dan Fremy serta Adlet mengikutinya lebih jauh ke dalam benteng. Di dalam bau kematian (busuk?) menyebar di udara dengan banyak manusia dan beberapa Kyouma berserakan. Kerusakan dalam benteng itu jauh lebih besar jauh lebih besar dibandingkan kerusakan luar.
“Di sini.”
Di tengah lantai terdapat sebuah pintu besi yang berat, dan setelah membukanya memperlihatkan ruang bawah tanah. Entah bagaimana terlihatnnya kalau seluruh benteng dibuat untuk melindungi tempat itu.
Dengan Rowen yang memimpin jalan, keduanya berjalan di bawah tanah di mana ada lima tentara yang berdiri di sebuah ruangan kecil. Altar dengan bentuk yang belum pernah dilihat oleh Adlet berdiri di tengah ruangan.
“Apakah itu sesuatu yang kau lindungi seperti yang kau bilang tadi,” tanya Adlet sambil menunjuk ke altar. Tapi Private First Class Rowen menggeleng.
“Ini hanyalah replika dari sesuatu yang harus kami lindungi. Silakan lihat peda yang ada di sini.”
Sebuah peta yang menggambarkan daerah sekitar wilayah Ratapan Iblis itu menutupi meja di depan altar.
“Gwinvale telah mempersiapkan segala sesuatu untuk kebangkitan Raja Iblis dan dari upaya tersebut kami telah menemukan metode untuk membantu Enam Bunga. Itulah yang kita lindungi.”
Tentara itu menempatkan jarinya pada salah satu sisi benua dalam peta.
“Saat ini Kyouma sedang menginvasi benua dalam jumlah banyak untuk menyerang Keenam Bunga. Kupikir kau telah bertemu dengan mereka sebelumnya. Jika Kyouma sadar kalau kalian telah memasuki wilayah Ratapan Iblis, maka mereka akan berubah arah dan kembali. Tujuan mereka adalah untuk mengilangkan semua Pahlawan Enam Bunga. Mereka tidak memikirkan apapun lagi.”
“Aku mengerti.”
“Jadi, Raja Gwinvale secara rahasia mengembangkan metode untuk menutup pintu masuk semenjanjung setelah Keenam Bunga memasuki wilayah Ratapan Iblis.”
Setelah mengatakannya, tentara itu menunjuk ke perbatasan antara wiayah Ratapan Iblis dan benua.
“Raja meminjam kekuatan dari Saint kabut, ilusi, dan garam untuk membuat penghalang yang kuat untuk mencegah Kyouma datang dan pergi melalui hutan. Ini dinamakan Penghalang Kabut Ilusi.”
Sebuah lingkaran besar digambar pada peta sekitar pintu masuk wilayah Ratapan Iblis. Mungkin itu untuk menandakan cakupan penghalang.
Kyouma tidak bisa menyeberangi lautan. Dan jika mereka mencoba untuk berlayar dengan sebuah perahu, pantai wilayah tersebut tertutupi oleh bebatuan, yang berarti tidak ada tempat untuk perahu bisa merapat. Ada pula Kyouma yang dapat terbang, tetapi hanya ada beberapa. Jika bisa memasang penghalang di sekitar area lingkaran itu akan membuat kebanyakan Kyouma tetap berada di dalam wilayah Ratapan Iblis.
“Itu rencana yang luar biasa. Jadi, jenis penghalan g apa yang sedang kita bicarakan?”
“Kau tidak dapat masuk, kau tidak bisa pula kabur. Itu adalah satu-satunya hal yang dapat dilakukan. Ketika itu aktif, segala seuatu yang ada di dalam penghalang akan tertutup kabut. Jika seseorang mencoba untuk kabur, mereka akan merasakan kebingungan tentang lokasi mereka dan tidak lama kemudian akan kembali. Sebaliknya, jika seseorang mencoba untuk memasuki kabut dari sisi lain mereka akan merasakan hal yang sama dan kembali ke tempat semula.”
“Aku tidak mengetahui kalau hal seperti itu dapat dibuat.” Adlet menatap Fremy sesaat. Sejauh yang dia tahu dari ekspresinya dia juga tidak mengetahui tentang penghalang ini.
“Penghalang masih belum dapat diaktifkan. Setelah kami mengkonfirmasi kalau Keenam Pahlawan telah memasuki wilayah maka kita akan mengaktifkannya.”
“Bagaimana kau akan mengaktifkannya?”
“Pada titik ini.” Rowen menunjuk titik pada peta, jaraknya sedikit jauh dari benteng.
“Ada sebuah kuil di mana kita akan mengaktifkannya. Kuil ini dikelilingi oleh dinding penghalang yang dibuat oleh Saint Garam untuk menghalangi Kyouma. Kau tidak perlu khawatir tentang Kyouma yang menerobos masuk.”
Saat mendengarkannya, Adlet tidak dapat membantu tapi dia merasa kagum dengan orang-orang yang telah merencanakannya. Itu sungguh luar biasa.
Melanjutkan, Rowen menunjuk daerah di dekat pintu masuk wilayah Ratapan Iblis.
“Salah satu dari Enam Pahlawan, Moura-sama, sang Saint Gunung sedang menunggu di sini. Ketika dia mengunjungi benteng dua hari yang lalu kita memberitahunya tentang penghalang dan mendiskusikan rencana kita.”
Salah satu dari Enam Pahlawan sedang menunggu. Kata-kata itu menyebabkan Fremy sedikit diremehkan.
“Lalu?”
“Setelah keenamnya berkumpul Moura akan meluncurkan beberapa sinyal seperti yang telah direncanakan. Ketika kami telah mengkonfirmasi sinyal, kami akan segera ke kuil dan mengaktifkan penghalang. Jika kita diserang oleh Kyouma sebelum semua pahlawan berkumpul, maka kita akan membuat sinyal asap dari sini ketika itu terlihat seperti kita akan dihancurkan.”
“Kenapa?”
“Ketika kami meluncurkan sinyal, kami meminta salah satu Pahlawan segera ke kuil dan mengaktifkan penghalangnya sendiri. Setelah berdiskusi dengan Moura kesimpulan itu dapat tercapai.”
“....”
Adlet terdiam. Sejauh yang dia dengar, orang yang mengaktifkan penghalang tidak bisa memasuki wilayah Ratapan Iblis dari luar. Dengan kata lain, salah satu dari Enam Pahlawan harus menarik diri dari medan pertempuran. Meskipun begitu, penghalang masih memiliki manfaat dibandingkan dengan gugurnya salah satu Bunga dalam proses pertarungan.
“Di kuil ada altar sama persis seperti yang satu ini. Silakan kemari.”
Rowen mengisyaratkan Adlet lebih mendekat agar dia berdiri di depan replika. Itu adalah sebuah atlar yang sederhana dengan pedang suci berada di tengahnya. Di sebelah kiri adalah lempengan batu dengan tulisan suci yang ditulis di sisi kanan.
“Mudah untuk mengaktifkan penghalangnya. Hanya dengan mendorong pedang sampai itu berdiri di alas dan meletakkan tanganmu pada batu tulis. Kemudian ucapkan, ‘Kabut selimutilah’.”
“Mengerti. Aku akan mengingatnya, tapi mengaktifkan penghalang adalah tugasmu serta tentaramu.”
“Mengerti. Kami akan melakukan tugasnya bahkan jika kami mati.”
Adlet mengulurkan tangannya ke Private Class Rowen dan dengan senyuman prajurit itu menerima jabat tangannya. Keduanya tegas mencengkram tangan masing-masing.


2
Adlet dan Fremy meninggalkan benteng dan terusberjalan menuju wilayah Ratapan Iblis. Sekitar tiga jam jarak tempuh sampai mereka berada di titik di mana Moura sang Saint Gunung menunggu.
“Kita dalam masalah,” kata Adlet. Fremy tidak mengeluarkan suara semenjak dia mendengar tentang penghalang.
“Rowen berkata Moura menunggu di pintu masuk wilayah itu. Dan kemungkinan Nashetania juga telah bertemu dengannya di lokasi tersebut. Jadi sepertinya akan sulit jikalau kau akan memasuki wilayah tersebut tanpa mereka sadari.”
“Jangan berbicara padaku. Aku sedang berpikir”
Adlet mengangkat bahu.
“Nah, kenapa kita tidak temui saja mereka untuk saat ini? Setelah itu kita berpikir tentang hal apa yang harus dilakukan.”
“Jika itu sebuah lelucon, itu tidak lucu. Jika aku bertemu dengan Bunga yang lain maka kita akan saling membunuh.”
Adlet, yang memandang kalau hal itu tidak mungkin terjadi. Hanya ada enam rekan dan tidak peduli dengan masa lalu, untuk saat ini bukankah mereka seharusnya menghapus masa lalu dan bergabung? Adlet tidak mempedulikan jenis penjahat yang mungkin mereka temui. Untuk mengalahkan Raja Iblis dia berencana menjadikannya rekan.
“Tentu saja aku tidak berencana dibunuh tanpa perlawanan.”
“Jangan khawatir. jika kita berakhir dengan pertempuran satu lawan satu, aku akan melindungimu.”
Dia mengatakannya sebagai lelucon. Setelajnya, dia berpikir dia menolaknya dan mengatakan padanya untuk tidak bercanda. Namun, ekspresi Fremy sedikit berubah.
“... Adlet ... kau ...”
Dia merasa kalau itu adalah pertama kalinya dia memanggil namanya.
“Kau orang yang baik.”
Dia berkata sesuatu yang membuatnya malu dan wajahnya berubah menjadi sedikit merah. Dai bertanya-tanya apakah sikap Fremy melunak, dan detik berikutnya tatapan Fremy menjadi dingin seperti sudah turun tulang punggungnya.
“Jangan berbuat baik padaku. Ini akan membuatku semakin ingin membunuhmu.”
Dia akan bertanya tentang maksudnya, tapi sebelum dia melakukannya dia merasakan sesuatu dengan hawa pembunuh di belakang mereka dan mendorongnya.
Pisau putih bermunculan di tanah tepat di mana Fremy berdiri. Adlet berbalik dan melihat Nashetania di hutan.
“Adlet-san, menjauh dari orang itu!”
Fremy berdiri dan tanpa peringatan apapun dia menembakkan pistolnya. Tapi pisau lain bermunculan dari tanah dan menangkis peluru. Kemudian kesatria hitam raksasa berlapis baja keluar dari hutan dan menyerang Fremy. Namun Adlet berdiri di jalur kesatria tersebut dan menangkis tombak dengan pedangnya.
“Tunggu, berhenti! Jangan menyerang!” teriak Adlet. Namun Nashetania dan kesatria hitam tidak mendengarkan.
“Sudah kukatakan untuk menjauh. Bisakah kau mendengarku?”
“Apa yang kau lakukan?” teriak Nashetania saat dia menggabungkan serangan.
Fremy mengarahkan pistolnya ke Nashetania saat dia mengelak dari pisau Nashetania yang bermunculan di tanah. Sementara itu, Adlet menghentikan percobaan sang kesatria untuk menyerang Fremy dari belakang.
“Kenapa begitu terkejut? Aku sudah mengatakan kalau kami bertemu kami akan membunuh satu sama lain,” ejek Fremy.
Adlet mengerti akan hal itu, tapi dia juga berpikir kalau dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk berbicara dengan mereka.
“Kau menghalangi jalan, Adlet.”
Kesatria raksasa mengayunkan gagang tombaknya pada Adlet. Mengapa dia tahu namaku? pikir Adlet, tapi dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu. Dia menangkis pukulan kesatria dengan pedang dan kedua senjata mereka tersingkir sebagai dampak. Tapi sementara mereka terlempar ke belakang, Adlet melemparkan pasir yang dia pegang ke mata kesatria.
Terserah dia melihat ini sebagai sebuah kesempatan, pada saat itu Fremy mengarahkan pistolnya pada kesatria raksasa. Tapi Adlet melontarkan kerikil padanya dengan pedangnya, mengenainya di bagian leher.
Mereka berempat beramai-ramai pindah— Nashetania dan kesatria menyerang Fremy dan Fremy tidak henti-hentinya melakukan serangan balik. Adlet merasa putus asa untuk menghentikan serangan mereka semua.
Semakin tidak sabaran, Nashetania berteriak, “Adlet-san, kenapa kau mengganggu?”
Adlet berteriak kembali bahkan lebih keras, “Semuanya berhenti! Dia bukan musuh. Dia adalah salah satu dari Enam Bunga!”
“Hah? Apa yang kau bicarakan?”
Fremy dan Nashetania berhenti. Lalu kesatria bergeser hingga posisinya berada di depan Nashetania, seolah-olah berusaha untuk melindunginya. Adlet mendorong dirinya berada di tengah-tengah mereka bertiga.
“Lihatlah tangan kirinya. Dia adalah Pahlawan Enam Bunga, dia bukanlah musuh.”
Nashetania dan kesatria raksasa melihat ke arah Fremy, dan terkejut ketika melihat tanda yang ada di tangannya. Namun keduanya tidak berupaya untuk menurunkan senjata mereka.
“A ... Apa ini, Goldof?” Nashetania bertanya pada kesatria raksasa ... Goldof.
“Aku tidak mengerti. Aku diberitahu kalau Fremy adalah musuh,” Goldof menanggapi sambil ujung tombaknya mengunjuk Fremy.
“Hei, raksasa yang ada di sana. Apa kau menempatkan ide tersebut di dalam kepalanya. Kau pikir apa yang telah kau lakukan?” tanya Adlet.
Goldof tidak menjawab, dia hanya memelototi Adlet.
“... Kau Adlet, orang yang pergi untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan putri sendirian?”
“Dan untuk beberapa waktu kau adalah orang yang mudah marah. Jawab pertanyaanku sialan.”
Adlet dan Goldof memelototi satu sama lain, tapi kemudian Nashetania menenangkan sang kesatria dari belakang. Dan untuk mancairkan situasi, Adlet berbicara dengan nada yang pelan dan tenang.
“Pertama, aku ingin bertanya padamu, Nashetania. Kenapa kau menyerang Fremy? Dia teman kami.”
“Kau salah Adlet-san. Menjauhlah dari gadis itu.”
“Tolong. Jawab pertanyaanku. Aku masih belum mengerti kenapa.”
“... Adlet-san, mungkin kau akan sulit untuk mempercayainya, tapi gadis itu adalah buronan pembunuh Enam Bunga.”
Adlet menatap wajah Fremy. Dia tidak bergeming; dia hanya berdiri siap untuk menggunakan pistolnya, memelototi Nashetania.
“Pembunuh Enam Bunga? Apa yang kau katakan?”
“Ini adalah informasi yang didapat dipertanggungjawabkan yang Goldof temukan.” Goldof mengangguk untuk menanggapi perkataan Nashetania.
“... Fremy.”
Adlet menatap wajah Fremy. Ini mungkin bohong pikirnya. Tapi Fremy menjawab kalau itu sangat benar.
“Mereka benar.”
“... A ... Apa yang kau katakan?”
“Sebelumnya aku telah memberitahumu. Jika kukatakan kenapa orang lain ingin membunuhku maka kau dan aku akan berakhir dengan saling membunuh.” Bagian depan senapan Fremy bergeser dari awalnya mengarah pada Nashetania, kini mengarah pada Adlet.
“Ini bohong, kan?”
“Ini kebenarannya. Aku telah membunuh Matola Wichita, Foudelka Holly, Asley Alan, dan prajurit lain yang memiliki kekuatan untuk dipilih sebagai Pahlawan Enam Bunga. Bahkan Goldof yang berada di sana dan Nashetania terdaftar sebagai kandidat untuk dieliminasi. Tapi kalian tidak dalam prioritas.”
Adlet ingat waktu itudia berbicara dengan Nashetania.
“Leura juga ... kau juga membunuh Saint Matahari?”
Fremy tampak sedikit bingung.
“Saint Matahari? Leura? ... Aku tidak tahu apapun tentang itu. Meskipun dia juga merupakan kandidat untuk di eliminasi juga.”
“Itu tidak relevan, Adlet-san. Dia berbahaya. Tolong kemari,” kata Nashetania, tapi Adlet tidak berpaling dari Fremy.
“Kenapa? Kenapa kau membunuh calon Enam Bunga?”
“Apa tidak ada satupun jawaban?dalam rangka kebangkitan Raja Iblis. Jika kau membunuh semua prajurit yang kuat kemudian semua yang dipilih merupakan ikan kecil,” dia menjawab.
Adlet tidak mengerti bagaimana untuk menanggapinya, kemudian dengan amarah Goldof berkata, “Jadi kau mengerti sekarang? Gadis itu ... Fremy adalah musuh.”
Nashetania dan Goldof memisahkan diri ke kiri dan kanan. Mereka kemudian mendekat untuk menangkap Fremy yang berada di antara mereka. Namun Adlet tidak bisa bergerakpembunuh Enam Bunga juga salah satu Pahlawan yang memiliki tanda Enam Bunga. Jika keduanya asli, dia bertanya-tanya yang mana yang harus dia percayai.
Lalu perkataan Fremy muncul di kepalanya.
“... Tidak!” terak Adlet, datang ke pertahanan Fremy.
“Adlet-san, kenapa?”
Adlet memang khawatir tentang bagaimana cara terbaik untuk menghentikan mereka, tapi Fremy pernah mengatakan kalau dia tidak akan mati sampai dia membunuh Raja Iblis. Dan dia percaya kalau perkataan itu bukanlah sebuah kebohongan.
“Dengar Nashetania, Goldof. Dengarkan baik-baik. Pahlawan Enam Bunga tidak dipilih hanya berdasarkan kekuatan kita. Kemauan untuk mengalahkan Raja Iblis serta yang lainnya juga dinilai. Tidak peduli seberapa kuat seseorang, orang-orang yang mencoba menjadi sekutu Raja Iblis tidak akan dipilih menjadi salah satu dari Enam.”
“Tapi dia ...”
“Fremy ... kau tidak berpikiran untuk membangkitkan Raja Iblis, kan?”
Fremy mengangguk.
“Dan kau memiliki beberapa alasan untuk bisa bertarung melawan Raja Iblis.”
“... Benar.”
Adlet melihat ke arah Nashetania dan merentangkan tangannya lebar-lebar.
“Apakah kau mengerti Nashetania? Dia mungkin Pembunuh Enam Bunga. Namun keadaan telah berubah.”
“Apa kau benar-benar mempercayainya?”
“Aku percaya padanya. Dan aku mengerti hal ini: keinginannya untuk membunuh Raja Iblis adalah sungguhan. Jika sebelumnya dia adalah musuh , sekarang dia adalah rekan.”
“... Tapi ...”
“Jika kau ingin bertarung maka aku akan berada di pihak Fremy.”
Nashetania memikirkan situasi sesaat. Seperti yang dia pikirkan, Goldof bertanya “Jika aku boleh bertanya, Putri apakah Adlet merupakan orang yang dapat diandalkan?”
“Kau adalah orang yang menyerangku beberapa saat yang lalu. Apakah itu merupakan sebuah ide besar?”
“Aku di sini untuk melindungi tuan Putri. Siapapun yang membawa tuan Putri dalam bahaya adalah musuh.”
“Aku mengerti. Tapi untuk saat ini apa bisa kau meminta Nashetania untuk menyingkirkan pisaunya?”
“Adlet, jangan menunjuk tuan Putri.” kata Goldof secara terbuka untuk menyatakan kemarahannya.
“Bagaimanapun jika kalian berdua bertarung  akan membantu segalanya? Aku mengerti Adlet-san. Karena kau bersikeras , kupikir itu tidak bisa membantu apapun. Untuk saat ini, Goldof kita ikuti permintaan Adlet,” perintah Nashetania kemudian menyarungkan pisaunya.
Enggan, Goldof juga menurunkan penjagaannya. Adlet menarik napas lega.
“Tapi ... hati-hati,” lanjut Nashetania “Kau sangat mudah untuk dibodohi.”
“Tak apa. Aku adalah orang terkuat di dunia. Aku tidak mudah untuk dibodohi.”
“Aku merasa tidak enak tentang hal ini,” Nashetania menanggapi.
Adlet memandang ke arah Fremy. “Untuk saat ini, kekhawatiranmu kalau kau akan dibunuh telah menghilang, jadi turunkan senjatamu juga.”
“Hanya untuk saat ini,” kata Fremy, menurunkan senjatanya dan menyimpannya kembali di pinggang.
“Fremy-san, aku akan mengatakan ini sekarang: meskipun aku tidak mempercayaimu, tapi aku mempercayai Adlet-san.”
“Kau gadis naif untuk mempercayainya seperti ini.”
Meskipun Nashetania dan Fremy telah menurunkan senjata mereka, suasana masih tidak stabil diantara mereka. Pada saat yang sama, Goldof menatap Adlet dengan tatapan tidak mengenakan.
Situasi yang berubah membuat Adlet merasa tidak yakin ket titik dimana dia bertanya-tanya jika Pahlawan Enam Bunga akan mampu melawan Raja Iblis.


3
Saat ini mereka berempat memutuskan untuk menemui Moura yang telah menunggu. Dan karena Fremy telah setuju untuk pergi bersama dengan mereka, Adlet mengembalikan tas yang telah dia ambil darinya. Mereka berjalan sepanjang jalan hutan; Nashetania dan Goldof berjalan bersama, Adlet sedikit terpisah dari mereka, dan Fremy berada lebih jauh sengaja membuat jarak yang jauh antara dirinya dan orang lain. Rasanya posisi mereka menandakan adanya kesenjangan hati satu dengan yang lainnya.
“Hei Fremy.”
“Apa?”
“Karena aku telah membantumu memecahkan masalah, jangan kamu berpikir jika kamu setidaknya bisa mengucapkan beberapa ucapan terima kasih?”
“Tidak ada alasan untuk berterima kasih.”
Adlet mengangkat bahu mendengar kata-kata Fremy yang dingin. Kemudian Nashetania merendahkan suara sehingga dia tidak dapat mendengar, “... Adlet-san.”
“Apa?” tanya balik Adlet, tetapi dia hanya menjawab dengan tatapan dingin. “Aku meminta maaf karena meninggalkanmu, itu tidak dapat membantu. Namun kupikir ini akan menjadi lebih buruk jika membiarkan Fremy kabur.”
Dia hanya menatap dingin padanya bahkan lebih dingin dari yang sebelumnya. Adlet mengangkat bahu lagi.
“Itu hanya setengah hari. Rasanya seperti kau dan aku telah membunuh Kyouma dengan cukup baik.”
“Kenapa kau berbicara seperti itu?” Nashetania meletakan tangannya ke mulutnya. Ada senyuman nakal di wajahnya, tapi yang berbeda darinya sekarang adalah tatapan sebelum dia melawannya. Mereka dipenuhi niat jahat.
“Terserah alasanmu membelanya, apakah itu situasi di mana kau mengatakan, ‘Aku mengerti’? nah, Fremy-san tentu sangat cantik. Aku cemburu.”
“... Oy!”
“Ya, Ya aku tahu. Kemungkinan semua pria di dunia menyukai gadis yang membuat mereka ingin melindunginya, huh?”
“Nashetania, tentang itu ...”
“Ya ya. Cepat pergi ke suatu tempat. Hmph.” Setelah mengeluarkan kata-kata sarkastik itu dia menjauh dari Adlet.
“... Apa kau benar-benar seorang putri?”
“Aku berbicara terlalu banyak, tapi ya itu aku.” Nashetania menatapnya.
Ada apa dengannya?
Suasana canggung menyelimuti mereka. Fremy benar-benar sengaja mengabaikan mereka semua, dan Goldof memelototi Adlet seakan tidak senang karena dia berbicara dengan Nashetania. Jadi Adlet bertanya-tanya apakah akan terus seperti ini sepanjang jalan sampai mereka tiba di tempat di mana Moura sedang menunggu, yang hanya akan menyebabkan dia semakin tertekan.
Tapi kenapa Goldof menatapku? Adlet mendekat ke sisinya dan mencoba untuk berbicara dengannya. “Dengan semua keributan sebelumnya bahkan kita tidak benar dalam memperkenalkan diri, tapi kuharap mulai sekarang kita akan bekerja sama dengan baik. Aku adalah orang terkuat di dunia, Adlet Mayer.”
“Ah.” Nada Goldof dipenuhi dengan rasa dengki.
“Pembunuh Enam Bunga, Fremy. Kau sedang memburunya, kan?”
“Benar.”
“Aku mengerti kau tidak puas dengan keadaannya, tapi memasang ekspresi seperti itu sekarang. Setidaknya pahami situasi kita sekarang.”
“Apa yang kau katakan? Aku hanya mengikuti perintah Putri.”
Aneh. Itu tidak seperti dia marah terhadap Fremy. Dan jika bukan, kenapa orang ini membenciku?
“Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk pada saat turnamen? Apakah akhirnya aku melukai seniormu? Apakah kau berpikir aku harus meminta maaf untuk itu?”
“Tidak juga. Kau sama sekali tidak perlu meminta maaf untuk itu.”
Tidak ada satupun dari mereka yang menunjukan respon. Jadi apa penyebabnya? Saat dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan, Goldof memutuskan untuk berbisik dengannya agar Nashetania tidak mendengar.
“... Adlet. Bagaimana caramu menang melawan Tuan Putri?”
Semua kata-kata itu terdengar jelas oleh Adlet. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke Nashetania dan Goldof secara berulang untuk membandingkan wajah mereka.
“Kenapa? Apa kau khawatir kalau aku berteman dengannya?”
“Kha ... Khawatir? Tentu saja tidak ...”
“Santai saja. Ini bukan tentang apa yang kau pikirkan. Jika kau mengkhawatirkan hal-hal kecil, dia akan mengejekmu.”
“... Uh, apa yang kau katakan? Jangan bodoh.”
Dia adalah orang yang sangat sederhana. Rasanya nyata kalau dia  berteman dengan Nashetania adalah satu-satunya hal yang paling tidak dia sukai. Meskipun tidak bisa mengatakan apapun tentang penampilannya, dia berusia kurang lebih 16 tahun. Di dalam kepalanya mungkin dia masih berpikiran seperti anak-anak.
“Lakukan yang terbaik untuk melindungi sang Putri. Sepanjang jalan dia mengatakan banyak hal, tapi sepertinya dia benar-benar bergantung padamu. Kau satu-satunya yang bisa melindunginya,” kata Adlet.
“Tentu saja, hanya aku yang bisa melakukannya.”
Meskipun Adlet telah mengatakan kata-kata yang menyanjung, ekspresi yang ditunjukan Goldof belum sepenuhnya puas. Dan dalam artian kalau dia berbeda dengan Nashetania dan Fremy.
“... Tapi musuh tidak datang,” Goldof bergumam.
Itu sepenuhnya benar, pikir Adlet.
Berpikir kalau ini terlalu damai. Mengapa mereka masih berbicara ini itu meskipun begitu dekat dengan wilayah Ratapan Iblis dimana Kyouma berada? Dan nyatanya terlihat secara bertahap menjadi semakin dan semakin buruk.
Pada saat itu, Fremy yang berjalan dalam keheningan mengatakan, “Ada sesuatu yang aneh.”
Mereka bertiga berbalik ke arah Fremy dan melihat langit yang ada di belakangnya.
“Kyouma terbang telah mengepung langit di belakang kita.”
Adlet mengambil teleskop dari saku dan mengarahkannya ke arah yang ditunjukkan Fremy. Ada beberapa makhluk sejenis burung berputar-putar mengelilingi sekitar.
“Hanya ada beberapa dari mereka jadi tidak perlu khawatir,” kata Nashetania.
“Jika aku tidak salah, di sana adalah ...” Adlet mengukur jarak antara mereka dengan Kyouma dengan mata dan membandingkannya dengan peta sekitar. “Ini buruk. Di sana adalah kuil di mana Penghalang Kabut Ilusi berada.”
Keempatnya menjadi tegang. Private First Class Rowen telah mengatakan kalau sekali berada di dalam penghalang, Kyouma tidak bisa berada di dekat Pahlawan. Meskipun begitu, situasi membuat mereka peduli. Adlet melihat ke arah Fremy. “Bisakah kau menembak mereka dari sini?”
“Itu akan sulit. Aku harus sedikit lebih dekat untuk bisa menembak.”
“... Mereka menjatuhkan sesuatu,” gumam Goldof.
Para Kyouma nampaknya meludahkan sesuatu dari mulut mereka. Dan sesaat kemudian sebuah gemuruh di sertai dengan asap membumbung ke langit.
“Adlet-san. Apa itu?” tanya Nashetania.
“Bom ... Kyouma menjatuhkan bom di kuil.”
“Bom? Jangan bodoh.”
Adlet hanya terkejut sama sepertinya. Dia tahu ada jenis Kyouma yang memiliki kecerdasan, tetapi dia tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan kalau salah satu dari mereka memiliki kemampuan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bom.
Nashetania memandang Fremy kemudian berkata, “Kau adalah Saint Bubuk Mesiu. Mungkinkah ini perbuatanmu?”
“Aku tidak tahu apapun tentang ini.”
“Bagaimanapun, ayo kita pergi.”
Keempatnya berlari kembali ke jalan pada saat mereka datang. Kuil tersebut dapat ditempuh sekitar lima belas menit jika mereka berlari dengan kecepatan penuh. Tetapi setelah berjalan sekitar lima menit mereka melihat barisan Kyouma yang menghalangi jalan mereka. Ketika mereka melintasi daerah ini, mereka tidak melihat Kyouma sebelumnya, jelas para Kyouma merencanakan untuk menghambat mereka di hutan.
“Ayo kita terobos seperti biasa! Goldof!”
Menanggapi suaranya, Goldof berjongkok, membuat tubuhnya serendah mungkin. Lalu seperti peluru raksasa, dia menabrakan diri ke salah satu Kyouma. Menambahkan gerakan memutar pada tombaknya, dia meletakkan seluruh tenaganya pada senjata dan melemparkannya ke arah kepala Kyouma yang menyerupai beruang tetapi memiliki kepala serangga. Berat Kyouma mungkin sepuluh kali lipat dari Goldof, namun mereka masih terlempar mundur sejauh sepuluh meter akibat pukulannya.
Goldof mencoba untuk lari menuju celah dari barisan Kyouma yang telah dia buat, tapi Kyouma berbentuk harimau berteriak ke samping, “Me-Mereka datang. Tangkap mereka!” meskipun kata-kata tersebut sulit keluar, itu pasti ucapan manusia.
Kyouma yang berbaris menukik secara bersamaan ke arah Goldof, yang memulai penyerangan itu.
Kau sungguh tidak sabaran. Pikir Adlet sementara Kyouma berbentuk harimau menunjuk orang lain untuk mengelilinginya dari semua sisi. Kyouma ini benar-benar berbeda dari yang biasa mereka hadapi. Jika mereka mengerti perkataan manusia, maka mereka memiliki kecerdasan untuk mengatur taktik untuk menjebak mereka. Mereka harus tertahan untuk waktu yang lama.
Jalan yang dibuat Goldof dihancurkan oleh Kyouma yang menyerang mereka dari semua sisi dan Nashetania, sekaligus melindungi punggungnya, melepaskan serangan akhir pada Kyouma yang merobohkannya. Adlet dan Fremy juga juga diserang dari segala arah, menyebabkan Adlet harus melemparkan kotak besi di punggungnya dan melawan.
Pertarungan menjadi pertempuran sengit, mencegah salah satu Pahlawan keluar dari lingkaran Kyouma dan melarikan diri ke kuil.
“Adlet-san. Cepatlah ke kuil. Kita akan menangani ini,” kata Nashetania saat dia menangkis serangan Kyouma berbentuk serigala.
“Ah, benar juga. Kupikir mengeluarkan kita dari situasi sulit adalah peranku. Hei Fremy, Goldof, lihatlah lebih dekat. Aku adalah orang terkuat di dunia.”
“Cukup untuk sekarang. Cepatlah!”
Dia tidak sepenuhnya bercanda, sebenarnay dia benar-benar memikirkan jalan keluar dari keadaan ini saat dia berbicara.
“Nashetania, Goldof, Fremy! Seranglah ke arah kuil dengan semua kemampuan yang kalian punya.”
Nashetania dan Goldof mengangguk. Dan meskipun Fremy tidak menunjukkan adanya perubahan dalam ekspresinya, sepertinya dia akan mengikuti perintahnya.
Goldof menusukkan tombaknya dan menghabisi seekor Kyouma. Kemudian Nashetania memerintahkan pedangnya untuk menusuk Kyouma yang ada di belakangnya. Dan Fremy menembak jatuh Kyouma yang berada di depan Adlet.
“Sempurna.”
Adlet berlari, salah satu pisau Nashetania meniup panah beracun Kyouma yang datang menyerangnya. Panah tersebut melumpuhkan Kyouma, Adlet pun lolos dari lingkaran dan berlari ke arah kuil.
“Kami mengandalkanmu.”
“Serahkan padaku!”
Semenjak Nashetania dan yang lainnya menahan pengejarnya di teluk, Adlet tidak perlu memberikan perintah lebih jauh. Bukan hanya tidak ada Kyouma yang mengejarnya, tetapi itu tidak nampak seperti mereka merencanakan sebuah penyergapan dengan baik.
Setelah berlari dengan kekuatan penuh selama sepuluh menit, suara pertempuranpun mereda. Tak lama hutan pun membuka dan memperlihatkan sebuah kuil.
“Di sana.”
Adlet berhenti dan memeriksa kuil. Sepertinya Kyouma yang membom kuil telah pergi. Namun, aroma mesiu masih cukup kuat.
Kuil itu mendadak mengecil, seukuran rumah umum. Tapi dinding batu di sekitar mengejutkan untuk dibangun.
Seluruh bangunan dikelilingi oleh sekitar 20 pilar putih. Itu mungkin pertahanan yang dibuat Saint Garam untuk mengusir Kyouma. Di luar parameter itu terdapat banyak jejak kaki dari berbagai jenis Kyouma, tetapi di dalam wilayah yang dibatasi oleh pilar tak ada satupun jejak kaki. Itu tidak terlihat sepertio Kyouma bisa menerobos pilar-pilar Garam.
Ada bagian pilar yang terkelupas akibat pengeboman dan ada tanda hangus di kuil, tetapi itu tidak nampak salah satu bom mengakibatkan kerusakan parah.
Di sini mungkin tidak ada korban, pikirnya ketika dia menemukan seorang wanita, jatuh di samping salah satu pilar garam.
“Hei, kenapa?”
Adlet bergegas. Wanita itu mengenakan pakaian seperti imam Shinto dan di punggungnya terdapat luka bakar.
“Bertahanlah, aku akan membantumu.” kata Adlet mendudukannya di lengannya. “Jangan khawatir, lukamu tidak dalam!” dia berkata sambil mencari salah satu kantong yang berisi obat.
“Ce-Cepatlah,” kata wanita itu sambil emnunjuk ke arah kuil.
“Sekarang sudah tidak apa-apa! Jangan bergerak.”
“Cepatlah ... cepat, kau tidak akan bisa melakukannya ... kumohon semua ...”
Adlet merapatkan giginya. Tanpa adanya obat hanya sedikit yang bisa dia lakukan untuknya. Aku harap aku membawa kotak besi. Isinya adalah perban dan kain kasa untuk luka bakar.
“Aku baik-baik saja ... meskipun sesuatu terlihat begitu kabur ... aku seorang Saint.”
“Jangan mati.”
Adlet perlahan menunduk, melewati pilar-pilar garam dan berdiri di depan kuil.
Pintu kuil tertutup dengan kuat. Adlet memasukkan pedangnya ke lubang kunci dan mencoba membuka paksa pintu itu, tetapi itu tidak bergeming.
“Sial, tidak ada yang mengatakan kalau itu terkunci. Kau yang di sana,” Adlet berteriak pada wanita itu. “Kunci!”
Wanita itu menggeleng. Adlet kemudian mengambil bahan peledak yang mampu direkatkan di dalam kantongnya, dipasang di lubang kunci dan menyulutnya.
Dengan ledakan pintu pun terbuka. Dan tepat setelahnya, dua tentara muncul dari dalam. Dari kepala sampai kaki memakai zirah dengan pedang, keduanya menyerang Adlet.
“Apa ini?”
Kedua tentara datang menghampirinya dengan posisi garis lurus, tapi mereka tidak bergerak cepat. Dia tidak perlu pergi jauh untuk menggunakan salah satu senjata rahasianya; dia hanya memukul kepala mereka dengan gagang pedangnya. Helm mereka jatuh, Adlet melihat kalau mereka tidak memiliki kepala.
“Apa ini?”
Dia mencoba meminta wanita berpakaian imim Shinto untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi pada saat itu dia tertawa melengking.
“Akyakyakyakya,” wanita itu tertawa saat tubuhnya mengerut dan membungkuk ke arahnya. Sebuah tanduk mencuat muncul dari dahinya dan wajahnya berubah menjadi monyet yang mengerikan.
Adlet mengetahui siapa dia. Dia adalah seekor Kyouma yang mampu berubah bentuk. Masternya telah mengatakan padanya kalau ada beberapa Kyouma yang bisa berubah menjadi manusia atau hewan, mereka memang ada.
“Kau!”
Kyouma yang berubah bentuk segera lari. Dia mulai mengejarnya namun tiba-tiba terhenti. Mengamati keadaan kuil adalah prioritas utama. Tetapi ketika dia menuju ke kuil, rasa takut tiba-tiba menghinggapinya.
“Apa yang ...?”
Seolah-olah seluruh tubuhnya dijatuhkan ke dalam air es, sekaligus udaranya menjadi lebih dingin.
Lalu perlahan muncul kabut dari tanah. Pertama naik dari kaki ke dada, kemudian ke kepala dan dalam sekejap pandangannya tertutup sepenuhnya.
Adlet mengingat kata-kata Private First Class Rowen: setelah penghalang diaktifkan seluruh hutan akan diselimuti kabut.
Seluruh tubuh Adlet mulai gemetar. Itu cukup parah sehingga pikirannya merasakan adanya bahaya, seperti itulah yang tubuhnya rasakan.
Setelah penghalang diaktifkan tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam lagi.
Adlet memasuki kuil kecil dan menatap altar yang berada di tengah ruangan.
Dan di dalam mereka tidak akan bisa kabur. Ini akan berefek sama pada manusia dan Kyouma.
Rown mengatakan kalau jika seseorang yang meletakkan tangan mereka pada lempengan batu yang mengandung kekuatan dewa dan menancapkan pedang pada alas maka itu akan mengaktifkan penghalang.
Dan Adlet langsung melihat pedang yang sudah ditancapkan pada alas itu.
“... Aku tidak bergerak,” gumam Adlet. “Siapa itu? Apa kau yang mengaktifkan penghalang?”
Adlet segera keluar dari kuil dan berlari di daerah sekitar sambil berteriak. Kemudian dia meniup seruling untuk menarik Kyouma kemudian melihat daerah sekitar dengan teleskop.
“Adlet-san!”
Beberapa saat kemudian, Nashetania muncul, wajahnya berubah kemerahan dan ekspresinya membatu saat dia berlari menuju Adlet. Goldof dan Fremy segera datang setelahnya.
“Apa yang terjadi? Pengapa kau mengaktifkan penghalangnya?!” dia berteriak. Ini adalah pertama klinya mendengar dia marah. Tercengang, Adlet menjawab, “... Tidak, itu bukan aku. Seseorang mengaktifkan penghalang dan sesaat kemudian menghilang.”
“Bohong.”
“Aku tidak berbohong. Dalam sekejap, mereka benar-benar menghilang dalam sekejap.”
Bibir Nashetania gemetar dan Goldof menatapnya dengan mata terbelalak. Bahkan Fremy sudah kehilangan kata-kata.
“Hal ini tidak mungkin terjadi, apa mereka sudah terjebak?”
“Dalam kasus ini, semuanya berada di dalam.” kata Adlet dan keempatnya bergegas memasuki kuil.


4
Nashetania benar-benar bingung terhadap pedang yang menancap di alas. Kemudian dia mencoba menempatkan tangannya di pedang, dan setelah itu memeriksa ulang pisau dan alas.
“Penghalang sudah diaktifkan. Aku tidak percaya itu. Siapa yang melakukan ini?” kata Nashetania, mamaksa kata-kata itu keluar dari bibirnya.
“Maaf, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi,” kata Adlet menggelengkan kepalanya.
“Bagaimanapun kita harus menonaktifkan penghalangnya,” kata Goldof. “Permisi.” Dia kemudian mendekati altar dan menarik pedangnya. Namun mereka tidak melihat perubahan apapun pada kabut yang menyelubungi sekitar mereka.
“Apa itu berfungsi? Tuan Putri, apakah kau tahu cara untuk menonaktifkan penghalangnya?”
“Aku tidak tahu. Tapi ada cara yang—”
“Beritahu aku caranya,” sela Adlet.
“Apa kau tahu sesuatu?”
“Enam Bunga yang sebelumnya telah menciptakan penghalang yang sama. Mereka harus membatalkan penghalang seperti ini.”
Adlet mengiriskan pisau ke tangannya, memotong kulitnya, dan meneteskan darahnya ke pedang serta alasnya.
“Penghalang menghilanglah,” teriak Adlet, namun tidak ada yang terjadi.
Berikutnya Nashetania mengambil pedang. “Penghalang menghilanglah! Penghalang hilanglah! Hentikan! Hentikan kabutnya! Aku adalah pemilik penghalang.”
Satu demi satu dia mengatakan kata-kata yang berpotensi, tetapi pada akhirnya penghalang tidak memudar. Pada akhirnya, karena bosan menunggu, dia mulai memukul alas dan lempengan dengan gagang rapiernya. Pedang suci itu retak dan lempengan menjadi hancur.
“Tenanglah Nashetania. Tidak ada gunanya terburu-buru,” kata Fremy dari belakang dengan suara dingin. “Rowen dari benteng seharusnya berada di dekat sini. Dia seharusnya bergerak karena ledakan.”
“... Benar. Maafkan aku.” Nashetania nampak malu, kemudian dia memberi perintah, “Goldof, jaga kuil. Kau juga Fremy.”
Kemudian dia dan Adlet meninggalkan kuil itu dan mulai mencari Rowen.

#

Mereka mencari sekitar 30 menit, tetapi pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Jadi mereka kembali ke kuil. Baik Rowen atau tentaranya tidak pernah datang ke sini, atau mungkin mereka sudah tewas.
“Apa yang seharusnya kita lakukan? Dengan hal yang seperti ini, Saint Moura mengatakan kalau kita akan terisolasi.”
“Yang lebih penting, kita tidak bisa keluar dari tempat ini.”
Keempatnya kemudian saling menatap satu sama lain dan membahas cara-cara untuk keluar dari masalah ini, mereka tidak memiliki ide.
“Ada apa semua keributan ini?” kata seseorang dari depan kuil.
Kelompok itu menoleh dan melihat seorang gadis berdiri di depan pintu kuil yang rusak. Dia memiliki penampilan yang aneh. Dia terlihat seperti berusia 13 atau 14 tahun, mengenakkan gaun berenda kotak-kotak, dan memakai topi seperti badut. Selain itu, dia memegang sebuah foxtail berwarna hijau dan sebuah tas serta kantunga ir yang menggantung secara diagonal di tubuhnya. Rasanya dia seperti tersesat di tengah-tengah acara piknik.
“Um, raksasa yang di sana,” katanya sambil melihat ke arah Goldof.
“Kau menemukan Pembunuh Enam Bunga, ya? Dan di sana pasti Putri Piena-sama.” Kali ini dia melihat ke arah Nashetania. Dia berbicara tanpa mengkhawatirkan apapun, seolah-olah dia sama sekali tidak mengetahui jenis situasi apa yang dia masuki. “Kalian berdua dipilih sebagai salah satu dari Enam Bunga?”
“Siapa kau?” tanya Adlet.
Gadis itu tersenyum dan berkata, “Senang bertemu denganmu, orang dengan sabuk yang aneh. Aku adalah Saint Rawa, Chamo Rosso. Dan Chamo terpilih sebagai salah satu dari Enam Bunga.” Dia kemudian mengangkat roknya, memperlihatkan kepada mereka tanda Enam Bunga yang berada di pahanya.
“Seorang anak seperti ini?” gumam Adlet.
Chamo Rosso, Saint Rawa. Tidak ada orang yang bertahan hidup setelah bertarung melawannya. Dia bahkan mendengar kekuatannya jauh melebihi Nashetania. Dan tidak hanya itu dia adalah prajurit terkuat di usianya yang sekarang, tidak termasuk Saint Bunga Tunggal, dia juga dikenal sebagai prajurit terkuat dalam sejarah. Namun, meskipun Adlet tidak benar-benar mengetahui jenis kekuatan yang dia gunakan, dia tidak pernah berpikir kemungkinan kalau dia adalah seorang anak-anak.
“Siapa kau?” tanya Chamo kepadanya.
“Aku? Aku Adlet Mayer, orang terkuat di dunia. Seperti kamu, aku juga terpilih sebagai salah satu dari Enam Bunga.”
“Terkuat di dunia? Bukankah itu Chamo?” gadis itu menjawab.
“Itu terlihat populer untuk dikatakan, tapi kamu tidak. Orang terkuat di dunia yang sebenarnya adalah aku.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Chamo memiringkan lehernya ke samping.
Dengan tidak serius, Adlet mengatakan, “Aku harus meminta maaf. Pada akhirnya aku mengambil julukan terkuat di dunia darimu. Yah ... menjadi orang kedua terkuat di dunia cukup luar biasa, sehingga kau harus puas dengan itu.”
“Hoey,” Chamo mengeluarkan suara yang aneh dan menyilangkan tangannya untuk berpikir. Kemudian setelah beberapa saat, dia bertepuk tangan dan berkata, “Ah, aku tahu. Orang ini bodoh.”
“Dia agak aneh, tapi dia handal. Percayalah.” Kata Nashetania, memotong percakapan mereka saat dia berdiri menyamping.
Saat itulah Adlet melihat Fremy yang berada di belakangnya. Sampai beberapa saat yang lalu wajahnya kosong, tapi sekarang dia pucat dan bibirnya sedikit gemetar.
Chamo melihat padanya dan berkata, “Lama tidak bertemu, Fremy. Mengapa kau ada di sini?”
Adlet hendak menanyakan apakah mereka saling mengenal satu sama lain, tapi Fremy menciut ketakutan.
“Yah Fremy kita akan berbicara tentang hal itu nanti. Sekarang, apa yang terjadi di sini?”
Chamo memutar-mutar foxtail di tangannya, senyum yang menakutkan muncul di wajahnya.

#

Nashetania dan Adlet secara bergantian menceritakan pada Chamo urutan kejadian yang menyebabkan mereka ke kuil. Chamo tidak singgah di benteng di mana Private First Class Rowen berada, tapi nampaknya dia tahu sedikit mengenai Penghalang Kabut Ilusi. Namun dia juga mengatakan tidak cukup mengetahui sampai dia bisa memikirkan cara yang bisa menonaktifkan penghalang.
Sementara mereka berbicara terkadang Adlet melihat ke arah Fremy. Dia terdiam di sudut kuil. Dia bahkan tidak mencoba dan menyentuh Chamo ataupun relasinya.
“Hmm. Aku mengerti. Kita memiliki sedikit masalah.”
Apanya yang sedikit? Pikir Adlet.\
“Yah, tidak apa-apa. Tapi, untuk saat ini, akankah kita membunuh Fremy?” Chamo mengatakan hal itu seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Dan dengan refleks, Fremy mengeluarkan pistolnya.
“Tunggu!” Adlet segera memposisikan dirinya diantara mereka berdua.
Chamo melihatnya dengan tatapan bingung. “Kenapa kau ikut campur?”
“Aku harus bertanya padamu sebenarnya apa yang kau pikirkan. Kami hanya menjelaskan kalau Fremy adalah teman kami.”
“Kau mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia dalah Pembunuh Enam Bunga. Dia juga mengaktifkan penghalang.”
Chamo menyentuh rumput berbentuk foxtail pada mulutnya, tetapi sesaat kemudian Nashetania memegang pergelangan tangan Chamo.
“Tunggu Chamo-san. Ketika penghalang diaktifkan Fremy sedang bersama dengan kami. Dia tidak bisa mengaktifkannya.”
“Ah benar juga. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan itu, jadi kubiarkan pergi.”
“Tidak.”
Chamo memelototi Nashetania dengan mata penuh amarah. “Kenapa kau memerintah Chamo? Apakah kamu orang hebat? Seorang putri atau sesuatu?”
“Ya itu benar.”
“... Kalau dipikir-pikir itu benar. Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Dengan senyuman pahit, dia mengangkat bahu.
“Chamo, apa terjadi sesuatu denganmu dan Fremy?” tetapi orang bernama Chamo tidak menjawab, tapi Goldofg yang secara diam-diam mengamati.
“Chamo bertarung melawan Fremy sebelumnya.”
“Apa maksudmu?”
Menyambungkan dari kata-kata Goldof, Chamo mulai berbicara. “Itu sekitar setengah tahun lalu. Fremy mengarahkan pistolnya pada Chamo. Peliharaan Chamo segera melindungi Chamo, tetapi itu adalah keadaan yang berbahaya. Kemudian Chamo dan Fremy bertarung, tapi pada akhirnya Fremy melarikan diri. Ini adalah pertama kalinya bagi Chamo untuk tidak membunuh seseorang yang ingin membunuh Chamo. Jadi Chamo sangat marah.” Niat membunuh terlihat keluar dari tubuhnya.
“Sepanjang waktu Chamo berpikiran kalau Chamo harus membunuh Fremy. Jadi tak apa untuk membunuhnya.”
Adlet menggeleng dan Nashetania tidak melepaskan pergelangan tangan Chamo. Suasana menjadi panas di dalam kuil.
“Chamo-san. Tolong tunggu sebentar. Pertama kita harus berurusan dengan cara menonaktifkan penghalang.” kata Nashetania.
“Kau, putri dan raksasa entah bagaimana caranya menangani penghalangnya. Sementara itu, Chamo akan melakukan urusan lebih jauh dengan Fremy.”
“Nashetania benar, Chamo. Kita berlima berada di sini yang artinya Moura yang pergi sebelum kita sedang sendirian. Demi dia, menonaktifkan penghalang adalah prioritas utama.”
Adlet dan Nashetania terus membujuk Chamo untuk menahan dirinya, tapi kemudian suara datang dari pintu masuk kuil. “Tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Semua orang melihat ke arah sumber suara dan melihat seorang wanita tinggi berdiri di pintu masuk. Dia terlihat seperti berada di usia pertengahan dua puluh. Matanya yang hidup dan sikapnya yang serius. Rambut hitam panjang dan dia mengenakan pakaian imam Shinto berwarna biru. Ditambah di lengannya terdapat dua potong baju besi yang nampak seperti mereka memegang dua fungsi baik sebagai senjata maupun perisai.
Hanya dengan berdiri di sana Adlet mengetahui kalau dia adalah seorang prajurit yang luar biasa.
“Sudah lama, Putri Nashetania, Chamo. Dan kukira orang yang berada di sana adalah Goldof-dono. Bagaimana kabarmu?” wanita itu berjalan ke pusat kuil. “Aku Saint Gunung, Moura Chester. Aku bertugas sebagai kepala dari semua kuil di dunia. Aku mengandalkan kalian semua.”
Bahkan setelah Moura muncul, Nashetanbia tidak melepaskan pergelangan Chamo. Namun, Moura kemudian mendekat, melangkah diantara mereka dan memaksa mereka terpisah.
“sepertinya ada beberapa pertengkaran di sini. Chamo, ini bukanlah waktu untuk menjadi egois.”
“... Moura-obachan, Chamo tidak melakukan sesuatu yang salah.”
“Apa itu benar? Aku akan mendengar alasanmu nanti. Untuk sekarang, tenanglah.”
Dengan intervensi Moura Chamo mundur dengan rasa malas. Hal itu membuat Adlet lega jika orang yang nampaknya dapat diandalkan telah muncul. Dan dengan kedatangannya semua Enam Pahlawan Bunga telah berkumpul.
“Sekarang kita pindah ke masalah utamanya? Mengapa penghalangnya diaktifkan?”
“Aku takut kalau kita jatuh ke dalam perangkap musuh.” jawab Nashetania.
“Kemungkinan begitu. Kyouma sungguh mengagumkan memanfaatkan senjata kita untuk melawan kita.”
“Hah? Itu bukanlah masalah besar. Jika kita tahu bagaimana cara untuk menonaktifkan penghalang maka tidak akan ada masalah,” kata Adlet.
“Ya, itu benar ... Anak muda?” lalu seolah-olah dia melihat sesuatu, dia melihat wajah satu per satu dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. “Kebetulan akan terlihat kalau penyusup sudah masuk ke dalam barisan kita. Siapa ini?”
Semua orang kecuali Moura nampak bingung.
“Tunggu sebentar. Apa maksudmu?”
“Aku tidak bermaksud apapun, bukankah kita kelebihan satu orang?”
Apa yang dia katakan? Kata Adlet seketika muncul suara yang lain dari pintu masuk kuil.
“Meong? Sepertinya bterlihat seperti sebuah kerumunan. Apakah semua anggota sudah berkumpul?”
Seorang pria yang aneh masuk ke dalam kuil. Dia memiliki rambut yang berantakan dan berpenampilan serampangan, sehingga sulit bagi Adlet untuk menentukan usianya. Dia mengenakan kemeja yang terbuat dari serat rami yang kasar, celana dan sepatu kulit yang lembut. Jika seseorang mengambil pisau melengkung yang tergantung di pinggangnya, dia akan terlihat seperti orang biasa. Dan seolah-olah itu merupakan sebuah lelucon, ekor kucing melekat pada bagian belakang celananya.
Pria itu melihat sekeliling kuil dengan senyum lucu.
“Meong, ada banyak wanita cantik di dalam kelompok Enam Bunga. Tiba-tiba aku merasa sangat termotivasi.”
“... Siapa kau?” tanay Nashetania.
Tapi bukan orang yang dituju yang menjawab, Moura mengatakan, “Aku akan memperkenalkannya. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Namanya Hans Humpty. Dia salah satu dari Enam Bunga.”
Apa yang dia bicarakan? Bukankah semua Pahlawan sudah berada di sini?
“Sepertinya salah seorang membawa orang yang tidak terpilih sebagai salah satu dari Enam Bunga.  Dimana salah seorang dari kalian bukanlah salah satu dari enam bunga?”
Adlet tidak dapat berpikir. Yang dia tahu kalau mereka berada dalam situasi yang aneh dan tidak masuk akal. Nashetania dan Goldof masih berdiri, benar-benar terkejut. Ekspresi Fremy bahkan Chamo yang terlihat tenang nampak bingung, tidak dapat memahami situasi saat ini.
“... Semua orang tunjukkan tanda kalian,” kata Adlet dan memperlihatkan pincak di tangan kanannya.
Kemudian Fremy menunjukkan tanda yang ada di punggung tangan kanannya kepada semua orang. Berikutnya Nashetania menurunkan baju besi dan terlihat tanda di dekat kerah bajunya. Mengikutinya, Chamo mengangkat roknya dan menjulurkan pahanya dengan tanda di atasnya.
“A ... Apa yang kau lakukan?” Moura kebingungan.
“Goldof, bagaimana denganmu? Aku belum melihat tandamu,” kata Adlet. Sebagai tanggapan, Goldof melepas baju besi dari bahu kanannya dan membalikkan lengannya ke atas. Tanda Enam Bunga berada di balik bahunya.
Melihat kelima tanda, ekspresi Moura dan Hans membeku karena tiba-tiba menyadari apa yang sebenarnya mereka lihat.
“Moura-san, Hans-san, tolong tunjukkan pada kami tanda kalian juga.”
“Meong, meong, ada apa ini?” hans melepas kemejanya dan pada bagian atas tubuhnya yang telanjang, dia menunjukkan pada mereka tanda pada payudara kanannya, tepatnya di sekitar hatinya berada.
“... Moura-san, tandamu.”
“Mustahil. Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pandangan semua orang beralih pada Moura, dia membuka kancing-kancing pakaian Shintonya, berbalik dan menurunkan sedikit pakaiannya. Di pusat punggungnya, antara tulang bahunya terlihat jelas tanda Enam Bunga.
“Ada tujuh?” gumam Nashetania terkejut.
Bingung, Moura berteriak, “Perhatian baik-baik. Ini tidak mungkin terjadi untuk menjadi tujuh dari Pahlawan Enam Bunga.”
Ketujuhnya kemudian memeriksa tanda masing-masing. Mereka memeriksa perbedaan ukuran dan perbedaan dalam samar merah cahaya lampu. Tapi semua tanda mereka sama tanpa ada perbedaan sedikitpun.
Kesemuanya kehilangan kata-kata, benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“... Apakah ada kemungkinan tujuh orang yang terpilih sebagai Pahlawan?” gumam Adlet.
“... Anak muda. Di masa lalu, Saint Bunga Tunggal membagi kekuatannya menjadi enam bagian dan meninggalkannya untuk generasi berikutnya,” jawab Moura. “Setiap prajurit mewarisi satu potongan, yang berarti hanya akan ada Enam Pahlawan.”
“Jadi dengan kata lain, apa yang sedang terjadi?”
“Hanya ada Enam Pahlawan. Kurang atau lebih itu tidak mungkin.”
“Tapi di sini ada tujuh orang,” kata Fremy.
“Benar ada tujuh orang. Tapi apa artinya?” tidak ada yang menjawab pertanyaan Moura.
“Meoahahaha,” Setelah beberapa saat, tawa memenuhi seluruh kuil. Yang tertawa adalah seseorang yang aneh, Hans, orang terakhir yang memasuki kuil.
“Apanya yang lucu?”
“Meong. Ini bukan sesuatu yang harus kau pikirkan dengan keras. Pada dasarnya, seseorang yang berada di sini adalah penipu,” kata Hans dengan cepat.
“Jadi, pembicaraan kita selanjutnya adalah mengapa seorang penipu berada di sini,” kata Moura.
“Salah satu dari kami adalah musuh, Meong?”
Adlet terdiam. Itu belum tentu seperti itu.
“Mungkin Dewi Nasib berpikir kalau enam tidak akan cukup sehingga dia menambahkannya lagi. Apakah itu mungkin?” kata Nashetania, walaupun perkataannya terdengar kurang percaya diri.
“Tapi kalau itu yang sebenarnya terjadi, bukankah kita diberi pemeberitahuan? Namun bahkan jika memang seperti itu, kita tidak akan tahu apakah Dewi Nasib akan berbicara atau tidak, meong.”
Adlet menyadari apa yang dikatakan Hans adalah penjelasan yang paling logis.
“Salah satu dari kami adalah seorang penipu. Dan mereka tidak mencoba untuk menunjukkan diri. Jika mereka bukanlah musuh, lalu siapakah mereka? Jika ada alasan lain, aku ingin seseorang memberitahuku, meong.”
Ketika Hans berbicara dia melihat wajah yang lainnya. Keringat dingin bahkan keluar dari kepalanya sendiri. Dia dan yang lainnya saling memandang satu sama lain. Tapi sama seperti Adlet dan Hans, semua wajah mereka menunjukkan kebingungan dan ketakutan.
Salah satu dari kita adalah musuh, namun dari ekspresi mereka tidak ada satupun yang memiliki petunjuk apapun itu.

#

Aku merasa ingin tertawa terbahak-bahak, salah satu pengintai diantara tujuh berpikir diam-diam. [Mereka] berusaha dengan segala usaha [mereka] untuk terlihat bingung karena [mereka] sedang bertatapan langsung dengan Pahlawan Enam Bunga.
Itu semua menjadi rencana [mereka] dan semuanya telah sempurna sesuai dengan prediksi [mereka]. Dengan tanda palsu [mereka], [mereka] akan menyelinap diantara Enam Bunga. Kemudian [mereka] membawa Enam Bunga ke penghalang dan menyegel mereka dalam hutan. Seakan sesuai dengan skenario [mereka], seluruh rencana [mereka] telah sukses.
Keadaan telah berkembang terlalu sederhana dan untuk Keenamnya, ketakutan menyebar diantara mereka.
Jadi keluar dari sini, penipu direncanakan untuk terus menyembunyikan identitas [mereka] dan melanjutkan untuk membunuh Enam Bunga satu per satu. Ini mungkin akan menjadi tugas yang sangat mudah. Dan tujuan pertama [mereka] adalah Adlet Mayer. Dia adalah orang pertama yang akan [mereka] bunuh.

Rokka no Yuusha Jilid 1 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.