12 Juli 2016

Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab Andai: Natsuki Rem Bagian 3 Bahasa Indonesia



 
BAYANGAN MASA LALU

“Subaru-kun.”
Mendengar namanya disebut, Subaru membuka matanya.
Menengok kearah orang yang memanggilnya, ia melihat Rem yang sedang menatapnya. Ia melihat pantulan bayangan dirinya pada mata biru dalam keheningan diantara mereka, hanya bibir mereka yang menyatu.
“….Namaku. Sudah cukup lama juga, biasanya kamu menyebut ‘sayang’ atau ‘ayahmu’.”
Melihat kearah Rem, Subaru memasang wajah lega, menciumi bibir Rem sekali lagi.
Sikap Rem mengingatkan dirinya pada beberapa tahun lalu, saat mereka memutuskan untuk melarikan diri. Saat gadis itu berpikir perasaannya tidak akan sampai. Subaru sendiri sebenarnya memperhatikan Rem lebih dari yang dia kira.
Menutup matanya, Subaru merasakan angin berhembus melalui mereka.
Belanja bersama pada hari ini sebenarnya adalah ide Rem.
Subaru sendiri sudah menduga maksud dari Rem mengajaknya pergi bersama.
“Sudah delapan tahun sejak saat itu.”
“Jadi kamu masih mengingatnya…”
“Tentu saja, untukku… tidak, untuk kita bukankah itu adalah titik balik kehidupan yang besar? Tidak mungkin aku lupa. Tidak mungkin kulupakan.”
Hari dimana dia telah kalah melawan takdir. Hari dimana dia membuang segalanya, dimana dia melarikan diri. Saat dimana dia memutuskan untuk menyerah, tapi dia tidak bisa melepaskan seseorang. Keputusannya saat itu, dan gadis itu menyukainya. Sebab hal itulah yang membuat Subaru bisa hidup seperti saat ini.
“Subaru-kun, apakah kamu…”
Cara memanggilnya yang sudah tidak asing, yang berhenti ditengah-tengah percakapan. Dalam membuktikan  hubungan suami istri yang mereka miliki kepada orang-orang disekitar mereka… dan juga mencoba untuk mengungkit sesuatu yang terjadi pada masa lalu dimana mereka melarikan diri.
Sampai saat ini, Subaru tidak pernah menanyakan alasannya, begitu juga Rem yang tidak pernah memberitahukannya.
Memikirkan banyaknya hal yang mereka tinggalkan, akhirnya dia memanggilnya sekarang. Dengan wajah yang terlihat resah dan perasaan yang campur aduk, ia bertanya kepada Subaru,
“Apakah kamu pernah menyesainya?”
“Menyesali?”
“Ya. Melarikan diri. Menyerah. Membuang semuanya. Mengenai keputusan yang dipilih.”
 “Jika maksudmu adalah mengenai aku memilih dirimu, aku akan marah nih. Aku akan pulang membawa Rigel dan Spica. Oh, lupakan mengenai Rigel. Dia ditinggal di sini saja.”
Dari kejauhan, Subar melihat Rigel yang berwajah masam. Tapi Subaru memasag wajah yang seolah berkata, “kami sedang membicarakan hal peting.” Lalu ia kembali mengalihkan pandangan kepada Rem untuk melanjutkan.
“Tahu tidak, mungkin memang sudah terlambat dibahas sekarang, tapi aku sudah memberitahumu berkali-kali, sepuluh kali, ratusan kali, jadi aku tidak tahu apakah akan berarti jika kubahas lagi.”
“Ya?”
“Aku mencintaimu dibanding apapun di dunia ini. Kamulah satu-satunya untukku, dan akulah satu-satunya bagimu. Dan kamu bukanlah wanita yang bisa didapatkan oleh pria sepertiku dengan cara menyerah dan menyesali semuanya.”
Subaru mendekati Rem dan menyentil pelan dahinya. Rem yang terkejut memegangi dahi sementara Subaru mendekatkan wajah ke arahnya.
“Seperti janjiku pada hari itu, semua yang kumiliki hanyalah dirimu. Aku akan melayanimu. Mengabdikan diri untukmu. Aku hanya hidup untukmu. Dan sekarang. Kurasa aku juga hidup untuk anak-anak kita.”
Semetara bibir Subaru mendekat, Rem menutup matanya menerima sebuah ciuman.
Berciuman, wajah Subaru sangat dekat sehingga bisa merasakan irama nafas Rem yang bertambah cepat. Dan degan senyum mecurigakan yang tidak pernah berubah walau waktu berlalu, ia berkata,
“Apakah ini sudah cukup meyakinkanmu?”
“…Rem minta maaf. Rem selalu resah. Karena Rem selalu makin jatuh cinta pada Subaru-kun. Setiap saat rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini, Subaru-kun selalu membuat Rem bahagia. Rem sangat bahagia, sangat mencintai Subaru-kun, itulah sebabnya Rem gelisah.”
Air mata mengalir dan tubuhnya gemetar saat menyatakan bertapa bahagia dirinya. Menggelengkan kepala, ia menyandarkan tubuh kepadanya, berbagi kehangatan.
“Meski aku dapat menyentuh dirimu saat ini, aku selalu takut kehilangan dirimu.”
“Jangan khawatir. Aku tak akan pernah melepaskan dirimu, aku juga tidak akan kemana-mana. Selama aku memiliki cintamu, kita tidak akan terpisahkan.”
“Rem tidak akan pernah berhenti mencintai Subaru-kun.”
“Bagus, kita akan selal bersama. Aku mencintaimu Rem.”
Sementara Rem masih dipenuhi berbagai pikiran dan emosi, Subaru menciumnya sekali lagi. Ia menekan lebih dalam mulutnya sampai membuat wanita polos itu terkejut. Lidah yang saing mengulum membuat air liur mereka bercampur aduk.
Mereka berhenti lalu menarik bibir masing-masing. Rem bernafas pelan melihat Subaru yang mengarahkan telunjuknya keatas untuk melanjutkan,
“Juga, jangan membicarakan hal ini seolah-olah seperti sebuah kesalahan. Artinya Rigel dan Spica dilahirkan bukan karena cinta tapi simpati. Spica adalah wujud dari cinta yang sudah terpupuk selama bertahun-tahun, dan Rigel adalah bentuk dari hasrat kita sewaktu muda.”
“…Memang rasanya sulit sewaktu Rigel dilahirkan.”
Di depan Subaru yang memarahinya sambil bertolak pinggang, terukir senyum pada wajah Rem.
Mengenang masa lalu, Rem menggerakan jari sambil membahasnya.
“Setelah pindah ke Kararagi dan menemukan rumah serta pekerjaan, seharusnya kita mengurus beberapa hal lalu membangun rumah.”
“Tapi hei, kita terlalu muda untuk bersabar dan-“
“Meski Subaru-kun seharusnya kelelahan saat pulang ke rumah setelah bekerja, kamu selalu bersemangat saat kita hendak tidur.”
“Tapi, kamu tahu kan, kita masih sangat muda dan memiliki stamina yang besar dan-“
“Ketika sudah mendapatkan pekerjaan tetap. Rem hamil pada saat yang sama. Pada saat itu, wajah Rem membiru pucat.”
“Sangat menyakitkan mengakui kesalahan yang kita perbuat disaat muda…”
Mendengar pengakuan Rem yang blak-blakan, Subaru hanya bisa memandang ke tempat yang jauh sambil bergumam. Pada jarak yang tidak terlalu dekat, Rigel, yang saat ini dianggap sebagai sebuah kesalahan menunjukan wajah yang suram, tapi dia berhasil membaca situasi dan mencoba tenang untuk tidak mengatakan apapun. Anak yang baik, pikir Subaru.
Subaru mengangguk mengakui anaknya yang semakin dewasa. Di sebelahnya, Rem juga melihat wajah suram anaknya, dengan nafas yang pelan melanjutkan,
“Tapi saat Rem mengandung Rigel, Rem bahagia, sangat bahagia.”
“Tentu saja aku juga bahagia. Ketika aku mengetahuinya untuk pertama kali, hidungku kembang kembis membuat diriku kesal. Memastikan itu bukanlah mimpi, aku memintamu untuk memukulku. Dan akhirnya percikan darah muncrat dimana-mana.”
Mungkin karena Rem terlalu emosional saat itu, dia memukul Subaru dengan tenaga besar, membuatnya menghantam tembok sampa gedung bergetar. Jika saja dia tidak menahan diri, tidak  lucu jika Subaru mati saat itu.
Terlepas dari kenangan itu, Subaru dapat mengingat dengan jelas saat Rem memberitahu mengenai kehamilannya. Perasaan yang dialaminya saat itu sedikit terasa dalam hatinya.
Bagaimanapun, Rem menggelengkan kepala mendengar jawaban Subaru. Dia tidak mengerti maksud dibalik semua itu, jadi Subaru hanya memiringkan kepalanya.
“Alasan Rem bahagia berbeda dengan alasan mengapa Subaru-kun bahagia. Alasan Rem bahagia adalah karena sekarang… sekarang Rem tidak perlu merasa takut kehilangan Subaru-kun.”
“…”
“Bagi Rem, Rigel adalah ikatan antara kita. Memang terdengar aneh tapi, ketika kita pertama kali memiliki bayi, pada saat itu juga jalinan diantara kita selalu ada… itulah sebabnya Rem bahagia.”
Mungkin Rem selalu berkutat dengan keresahan seperti ini.
Setelah membuang semua yang disayanginya, kedua orang itu melarikan diri ke tanah baru. Tanpa siapapun dan hanya bergantung satu sama lain. Rem selalu ketakutan bahwa ia bisa saja kehilangan Subaru suatu saat.
Kepercayaan dirinya yang lemah merupakan pasangan yang cocok dengan Subaru. Untuk Rem, yang terlalu keras dalam menilai dirinya, hidupnya bersama Subaru sangat menyenangkan juga mencemaskan. Kelahiran baru sebuah kehidupan diantara mereka lah yang berhasil mengatasi perasaan tersebut.
“Apa kamu kesulitan mempercayai?”
“Tidak. Rem percaya pada Subaru-kun lebih dari siapapun di dunia ini.”
“Bukan itu. Aku tidak bertanya apakah kamu mempercayaiku atau tidak… Aku bertanya apakah kamu sendiri mengalami masalah dalam mempercayai diri sendiri?”
Mendengar ucapan Subaru, Rem menarik nafas kecil lalu menganguk. Bagi Rem, keberadaan Subru sangatlah bermakna. Dan kini dia memandang rendah dirinya sendiri, ia khawatir bahwa dirinya hanyalah bayangan kecil bagi Subaru.
Tapi sebenarnya, Subaru merasakan hal serupa. Ia merasa bahwa bila dibandingkan dengan dirinya, Rem sangatlah menakjubkan bagi lelaki sepertinya.
Sangat aneh sampai aku tidak bisa menahan tawa, pikir Subaru dengan wajah lega sedikit menyengir. Rem yang melihatnya mencubit pipinya.
“Lupakan. Rem memang bodoh. Tidak heran kamu menertawainya…”
“Tidak, bukan mengenai itu. Aku rasa kita ini tidak jauh berbeda. Lalu aku mulai berpikir bahwa istriku adalah wanita tercanti di dunia ini.”
Tidak memiliki persiapan terhadap serangan Subaru, Rem terkejut kaku sesaat, lalu wajahnya mulai memerah padam.
Melihat reaksinya yang seperti ini makin membuatku jatuh cinta, pikir Subaru. Daripada siapapun di dunia, aku mencintai Rem. Aku mencintainya. Aku bisa saja berteriak membuat pengakuan sampai paru-paruku kosong.
Nyatanya dia sering melakukannya. Bahkan semua tetangga tahu bahwa mereka adalah pasangan yang sangat bersemangat.
“Rigel. Spica.”
“Hm?”
Rem terlihat memanggil kedua anaknya. Tapi ia menggelengkan kepala untuk berkata ‘tidak’. Ia melihat ke arah Subaru dan berkata,
“Nama mereka berdua diambil dari nama bintang kan? Dari dunia dimana Subaru-kun berasal.”
“Ya. Ayahku memang sedikit maniak, manusia menyedihkan yang baru saja bisa membacanya, namun aku rasa idenya menamakan diriku berdasarkan nama bintang adalah sesuatu yang bagus. Aku benar-benar menyukainya, namaku ‘Subaru’ juga merupakan nama bintang di sana.”
Ketika masih bersekolah dasar, ada tugas dimana tiap murid harus mengenal asal dari nama sendiri, dan saat itulah Subaru berhasil mengetahui makna dari namanya. Saat dirinya tahu bahwa namanya diambil dari nama bintang yang berkelap-kelip di langit, ia tidak bisa menahan rasa senangnya.
Sejak saat itu, meski dia tidak selalu tertarik pada suatu hal berlama-lama, ia selalu menatap rasi bintang di langit pada waktu luang. Ia mengetahui nama-nama rasi bintang di luar kepala, dan jika suatu saat dia diberikan kesempatan untuk memberikan nama pada seseorang, sudah jelas darimana dia akan memberikannya.
“Aku selalu menggunakan nama bintang. Cotohnya mulai dari setiap akun di internet, aku selalu menggunakan nama-nama bintang. Menurutku, bukankah nama-nama tersebut sangat bersinar?”
“Rem tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Subaru-kun, tapi menggunakan nama bintang-bintang terdengar sangat menakjubkan. Jika yang ketiga lahir, kita akan memberikan nama berdasarkan itu.”
“Bukankah terlalu dini membicarakan yang ketiga? Maksudku adalah, bukankah Spica sendiri masih bayi?”
“Diluar memberi makan, kita bisa mengandalkan Rigel untuk semuanya. Apa kamu mengerti maksud Rem pernah bilang agar menunggu sampai Rigel bertambah besar sampai kita memiliki anak berikutnya?”
“Kamu merasa tidak? sepertinya aku selalu menjadi orang yang sangat suka membulinya. Tapi bukankah kata-katamu mengenainya cukup terdengar kejam?”
Merenungkan celaan yang biasa diterima oleh anaknya, Subaru bangun dan bersiap-siap untuk sesuatu. Rem melihat kearahnya, ia mengulat, lalu kemudian berbicara kembali.
“Sepertinya sudah saatnya kita pulang dan meletakkan belanjaan kita. Apalagi, disini terlalu banyak yang melihat jadi aku tidak bisa merayu dengan sepenuh hati.”
“Ya. Saat ini Rem ingin bermesraan dengan sepenuh hati dan jiwa.”
“Aku penasaran apakah libidoku bisa menyaingi stamina dari seorag oni…”
Berbicara sendiri dengan malu-malu, Subaru merentangkan tangannya kearah Rem, duduk di bangku taman. Perlahan Rem mengambil tangannya, tapi Subaru malah menariknya. Gadis itu mengeluarkan suara “Wa!” kemudian Subaru menangkapnya dengan halus di pelukannya. Ia memeluknya bersama Spica menikmati kehangatan yang terasa.
“Baiklah, kita kembali kerumah.”
“Iya sayang.”
Memegangi belanjaan, ia menggandeng tangan Rem menggunakan tangan lainnya. Berjalan setengah langkah di belakang Subaru, Rem merapatkan diri kearahnya.
“Hey, anakku membeku salamanya di taman bermain musim dingin. Melihat permainan membeku dan membebaskan yang kamu mainkan sangat membosankan. Kami hendak pulang. Menginap saja lah di rumah temanmu.”
“Jadi kamu mengusirku begitu saja?! Lagian orang tua macam apa yang datang ke taman hanya ntuk berciuman?!”
“Hah! Kau cemburu, kan? Maaf ya Rem yang ini adalah milikku seorang.”
“MENYEBALKAN!!”
Subaru tertawa bangga mendongakkan kepalanya, Rigel mengomel dengan wajah seramnya. Tapi melihat ayahnya semakin menikmati situasi, Rigel hanya bisa menggelengkan kepala sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Tenang, tenangkan diri. Jangan terjebak dalam irama ayahmu. Tenang… oke, aku suah tenang. Jadi, apa yang sebenarnya kamu bicarakan bersama ibu?”
“Oh? Kita membicarakan bagaimana namamu itu berasal dar nama bintang atau hal lainnya. Tahu tidak, sebenarnya aku hendak menamakanmu Vega.”
 “Nama itu terdengar kuat! Kenapa tidak menamakanku itu saja!”
“Terdengar kuat kan? Sangat berbahaya jika kamu tumbuh menjadi terlalu kuat, lalu kamu tidak bisa mengontrolnya dalam masa pemberontakan, jadi aku tidak menamakanmu dengan nama itu. Meski kamu memang lebih dariku dalam hal kekuatan, ayah yang satu ini tidak mau kalah dari anaknya.”
“Kamu memikirkan hal tersebut terhadap bayi yang baru lahir beberapa hari?!”
Rigel terpukul mendengar alasan yang diberikan Subaru. Kemudian,
“Hey! Rigel bergerak! Kamu melanggar peraturan bermain!”
“Ah!”
Meski mengabaikan dirinya saat ia terkena hukuman agar mematung, semua anak menunjuk bersama kearahnya saat ia bergerak. Rigel diam terkejut. Subaru menepuk punggungnya dan berkata,
“Mereka yang melanggar peraturan harus dihukum. Kamu harus dikelitiki oleh yang lain sampai kamu sendiri tidak bisa menangis lagi. Selamat berjuang”
“Apa yang kamu katakan dengan wajah serius sepert itu… Hei, kalian mau ngapain! Oi! Tunggu, jangan… jangan dengarkan apa yang dikatakan orang ini! Tunggu! UWAAA!!”
Gerombolan anak-anak menghampiri Rigel dan mengejarnya. Rigel hendak melarikan diri. Tapi akhirnya ia terpojok. Setelah itu mereka memegangi tangannya, menekannya ke arah tanah. Tanpa bisa melawan, puluhan  jari mulai mengelitikinya.
“Masih terlalu dini nak. Kamu memang anak yang baik. Tapi ayahmu tidak.”
“Rigel, ibu dan ayahmu ada urusan penting yang harus diselesaikan, jadi menginap di rumah temanmu malam mini. Juga, jangan mengeluarkan tandukmu. Jangan sampai pakaianmu kotor.”
“Aku akan mengingat ini dasar orag tua tidak berperasaan!”
Sementara jari-jari mengelitiki dirinya, tawa Rigel yang keras dapat terdengar bahkan di kejauhan. Melihat kondisi kakaknya itu, Spica tertawa riang gembira.
Hmmm, sepertinya selera si adik tidak buruk, pikir Subaru. Posisinya di keluarga kami akan jauh lebih menarik nanti.
Terhadap anak-anak yang sangat mereka sayangi, mereka telah menunjukan cara mengekspresikan rasa cinta dengan cara yang tidak biasa. Subaru menarik tangan Rem. Menuju tempat dimana keluarga tercinta mereka istirahat, dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan, yang mereka sebut rumah.
“Subaru-kun.”
“Hm?”
Merasakan remasan di tangannya, Subaru berhenti dan berbalik menghadap Rem.
Pada saat itu, angin bertiup kencang kearah mereka. Subaru menutup matanya begitu saja, menerima angin yang bergerak menuju ke arahnya sampai tenang kembali.
Rambut biru Rem terbawa angin, bersinar kebiruan menyatu dengan langit dan cahaya matahari. Beberapa saat lalu, Rem mulai menumbuhkan rambutnya.
Untuk siapa ia memanjangkannya, adalah karena ide Subaru. Dan ketika Subaru membayangkan wanita berambut panjang, tentu saja saat ini yang muncul adalah wanita yang paling disayanginya itu.
Dengan rambut yang mengalir tenang di belakangnya, anak yang dicintai dalam pelukannya, Rem mengejar Subaru disertai senyum manis. Diatas segalanya, senyuman Rem memberikan  kebahagiaan dan cinta pada hatinya.
“Saat ini, Rem adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.”



Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab Andai: Natsuki Rem Bagian 3 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

13 komentar:

  1. omg.. gua harap studios white fox rela keluarin dikit uangnya buat adaptsikan nih side story, gak rela gua rem terus yang tersiksa di akhir.. harus ada good ending buat dia.. Natsu Rem forever

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkw itu eps Natsuki Rem ataran OAD/OVAnya jadi sabar aja nunggu ^-^

      #TeamRem

      Hapus
    2. bisa aja klo studionya mau sedikit brpihk pada fans

      Hapus
    3. gue sebenarnya agak tertarik sama rem tetapi gue lebih milih emilia.
      tapi gue setuju kalo ini jadi OVA kayaknya tambah seru.

      #TeamEmillia

      Hapus
  2. http://www.blogbankris.my.id/

    BalasHapus
  3. keren....min, bolleh nanya. ini arc apa? -hm..arc melawan paus putih di mana bisa saya dapatkan ya?

    BalasHapus
  4. uwaahh terharu gue bacanya, benar benar bahagia si subaru, iri gue jadinya haha :D

    BalasHapus
  5. Huwaaa... MANTEB BANGETTT.. Semoga ini dijadiin OVA nya.. Ammiiinnn

    BalasHapus
  6. Min, ini emang gak ada ilustrasi-nya atau sengaja gak dikasih?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.