02 Juli 2016

Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab Andai: Natsuki Rem Bagian 1 Bahasa Indonesia



SUBARU DAN RIGEL

Dibawah hamparan langit biru, Subaru memicingkan mata melawan sorotan cahaya matahari.
Terdengar lah tangisan yang memekakkan telinga.
Suara yang berasal dari bayi perempuan, ia menangis dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki oleh tubuh kecilnya.
Melihat ungkapan ketidak nyamanan anak itu yang berusaha disampaikan dengan sepenuh jiwa, Subaru bertanya-tanya, mengapa anak itu bisa memiliki energy yang luar biasa besar?
Selagi melamunkan hal tersebut, ia sedikit terganggu dengan dirinya yang sudah mulai berpikir layaknya orang dewasa.
“Akhir-akhir ini rasanya aku bertambah tua, rasanya sangat meresahkan saat aku menyadari hal itu. Bukankah saat ini aku masih menjadi seorang PEMUDA YANG SUPER SEHAT?”
“PEMUDA YANG SUPER SEHAT kepalamu. Coba perhatikan dirimu dengan lebih objektif.”
Selagi mengepalkan tangan dengan penuh semangat yang dramatis, Subaru dihujani oleh celaan. Terbiasa menerima pelecehan verbal, ia sedikit membuang nafas dan menoleh kearah samping. Seorang anak kecil berdiri di sebelahnya, matanya sejajar dengan Subaru yang sedang duduk.
Mengabaikan tatapan kosong Subaru, ia melanjutkan,
“Ngomong-ngomong, lakukan lah sesuatu untuk menenangkan Spica! Tangisannya mulai membuatku kesal.”
“Tidak. Aku sudah tidak sanggup melakukan apapun. Setelah mendengar ucapan kasarmu, HATIKU YANG POLOS hancur berkeping-keping. Mungkin aku akan berubah menjadi seorang anak kecil saja lalu menangis disebelah Spica. Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini!”
“Siapa yang bisa memaafkan orang dewasa dengan tingkah seperti itu pada siang bolong?!”
Anak itu membentak Subaru yang merengek seperti anak-anak. Sementara itu, bayi yang berada dalam gendongannya mulai mengambil nafas panjang. Selagi kedua laki-laki itu menatapnya dengan pasrah, tangisan si bayi kembali meledak.
“UUUUUUUUWWAAAAAAAAAAAAHH!!!”
"Woah! Dia menangis! Spica menangis lagi! Oi Rigel, lakukan sesuatu, sialan! Kau kan kakaknya!"
"Jika kamu menyalahkanku karena aku kakaknya, harusnya kamu yang melakukan sesuatu!"
Di antara kepadatan kota, pada salah satu jalan utamanya, dua orang laki-laki saling melempar tanggung jawab untuk menenangkan seorang bayi.
Orang-orang yang berlalu lalang sesekali menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, melihat keduanya sedang melakukan stand up comedy, lalu mengabaikan mereka dengan wajah yang seolah berkata 'Oh, lagi-lagi mereka. Sudah biasa.'
Akhirnya, pemandangan bayi yang terus menangis sampai lelah, dan dua laki-laki yang membuatnya menangis lebih keras, terus berlanjut.
"Bayi ini menangis dengan sepenuh jiwa raganya dan tak ada satu pun yang berniat membantu... Sialan! Dunia ini kejam dan tidak berperasaan! Yang namanya kemanusiaan sudah hilang sama sekali!"
"Kita tidak punya waktu banyak untuk mendengarmu mengeluh terhadap kondisi dunia! Jika kita tidak bisa menenangkan Spica sampai dia kembali, menurutmu apa yang akan dia katakan-"
"Siapa yang akan datang, dan apa yang kalian lakukan?"
"Tentu saja itu adalah..."
"Rigel." Subaru memanggil diantara keributan yang sedang mereka lakukan. Mengangguk bersama dengan kompak, Rigel yang pertama kali membalik badannya. Ia memandang kosong, mulutnya terbuka. Subaru ikut memandang kearah yang sama.
"Hei, sudah selesai berbelanja?"
"Ya, semua berjalan lancar... Sepertinya kalian mengalami masa-masa sulit."
"Ah nggak. Spica sangat bersemangat hari ini. Saat dia bisa berjalan lalu berlari, aku rasa dia akan menjadi tipe gadis yang mengejar laki-laki dengan ritme yang gila. Masa depannya yang menakutkan seperti itu, membuatku gugup sekaligus bersemangat!"
Selagi Subaru mengoceh santai, Spica, yang berada dipelukannya, perlahan membuka mata dan menyadari keberadaan perempuan yang berdiri di dekatnya. Dengan tubuh lemahnya, ia membuka tangan kecilnya berusaha menjangkau wanbita itu. Mengerti keinginan Spica, Subaru merasa sedikit kesepian.
"Yah, menahannya sampai membuatnya menangis hanya akan membawa kita ke titik awal. Ini, ambil dia."
"Aku memang akan mengambilnya."
Meski cara bicaranya agak kasar, Subaru menyerahkan si bayi dengan lembut dan penuh perhatian. Ia memperlakukannya seperti sedang menyerahkan sesuatu yang bernilai, seperti harta karun, membuat sebuah senyuman kecil terbentuk pada wajah wanita di depannya.
Wanita itu mendekapnya di pelukannya lalu menimangnya dengan hati-hati.
"Mereka ayah dan kakak yang tidak berguna kan sayang? Spica harus cepat tumbuh besar untuk bisa ikut memarahi mereka berdua."
"Hei, jangan mendoktrinnya sementara dia belum bisa memahami kata-kata. Oke?"
Subaru tiba-tiba membayangkan dirinya sedang dimarahi oleh dua orang wanita, yang sedang berkacak pinggang, setelah dia mengatakan atau melakukan hal yang bodoh.
"Sepertinya tidak buruk. Nyatanya, hal itu adalah masa depan indah yang aku dambakan."
"Aku tidak suka. Dimarahi oleh adikku sendiri akan menjatuhkan harga diriku."
"Hah! Orang yang melakukan hal bodoh bersamaku, mereka sudah tidak memiliki harga diri untuk dihancurkan. Benar, benar, aku bisa melihatnya... kamu akan menyayangi adikmu dan malah terlalu memanjakannya, sampai akhirnya dia akan memarahimu tanpa belas kasihan. Itu adalah masa depanmu!"
"Jangan memaksakan masa depanmu kepadaku hanya karena kamu senang dimarahi! Aku tidak mungkin mau menjadi seperti itu!"
Subaru mengibaskan jarinya menanggapi balasan Rigel. Bukan berarti dia terganggu dengan raungan anaknya.
Tapi wanita berambut biru lah yang merasa terganggu mendengar ocehan mereka berdua. Dengan suara tenang yang tajam, ia memanggil nama anak laki-laki itu.
"Rigel. Caramu berkata-kata didepan umum. Bisa membuat ibumu menangis."
"Ya, tapi..."
"Ibumu juga tidak suka kata-kata "Ya, tapi..." yang kamu ucapkan. Lagipula, yang kamu katakan itu tidak baik."
Wanita itu memarahi Rigel tanpa ampun. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya kepada Spica, yang akhirnya tenang, dan tersenyum.
"Ibumu tidak pernah memarahi ayah. Lagipula ayahmu akan selalu menjadi nomor satu dan orang yang paling disukai oleh ibumu."
Pipinya memerah. Ia telah mengucapkan hal yang membuatnya lebih malu daripada menangis di depan umum.
Melihat ibunya yang dengan bangga membuat pernyataan seperti itu, Rigel melempar handuk putih.
Subaru tertawa gugup bersama wanita yang menjaga keluarganya, dengan bahagia mengelus kepala orang yang disayanginya.
Bagaikan bagian dari langit biru yang jernih, rambut indah Rem bersinar dengan pesonanya yang tertiup oleh semilir angin.


Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bab Andai: Natsuki Rem Bagian 1 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

5 komentar:

  1. Keren...
    ini menceritakan tentang Subaru sama Rem yang hidup bersama

    BalasHapus
  2. setelah nonton episode 15 ama yang episode terakhir re;zero.. baca nih side story bawak perasaan amat

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.