18 Juli 2016

Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Bab 1 Bahasa Indonesia



PAGI HARI YANG TENANG

“Hei, kemari! Kalau kamu tidak bergegas, mereka pasti menangkap kita.”
“Aku tahu, aku bilang bahwa aku sudah tahu, tunggu …!”
Saling menarik tangan, mereka berlari menelusuri gang dengan langkah yang berat.
Sebuah gang terpencil. Meskipun hari sudah petang, sinar matahari masih kesulitan untuk mencapai tempat ini, lorong-lorong yang gelap membentuk labirin rumit seolah-olah menolak keberadaan mereka berdua.
Sangat tidak menguntungkan bagi Subaru yang asing dengan daerah ini. Andai saja jika ada salah satu dari mereka yang memimpin mengetahui jalan, itulah yang dia harapkan.
“Kita malah menuju tempat yang gelap, apa kamu tahu arah tujuanmu?”
“Jelas nggak!”
Setelah saling mengumpat satu sama lain, Subaru mengalah lalu menghela nafas sambil meletakan tangan di dahinya.
Tanggapan yang tidak mengejutkan, lagipula orang yang menarik lengan Subaru terlihat bersikap sangat angkuh, membuat siapapun yang melihatnya berpikir bahwa gang kecil ini bukanlah tempat seharusnya orang itu berada.
Gaun merah berkibar terlihat dibuat menggunakan bahan yang mahal. Kalung bersinar yang merefleksikan tiap cahaya. Kulit yang terbuka terlihat sangat putih juga halus, mustahil jika dia tidak besar dalam lingkungan yang sangat berbeda.
Lebih dari pada itu, warna oranye pucat pada rambutnya. Para bangsawan berkata bahwa keberadaannya adalah lelucon dan sudah seharusnya ia berada ditempat kumuh ini.
Melihat penampilannya sekali lagi, Subaru semakin yakin bahwa dia telah membawa seorang pembuat masalah.
Mendengar beberapa langkah mengikuti mereka dari belakang, ini bukanlah saatnya bagi dia untuk berhenti dan mengambil nafas.
Bagaimana hal ini bisa terjadi… pertanyaan tersebut terus muncul dibenak Subaru. Kehabisan nafas, ia berusaha memenuhi paru-parunya yang mulai terasa sakit dengan udara.
Semua masalah yang dialami Subaru ini bermula sejak dua hari yang lalu.
***
--Bagi Natsuki Subaru, pagi merupakan saat yang tepat untuk tidur, setidaknya dia tidak melakukan kegiatan yang menghabiskan energi.
Bahkan cukup melelahkan meski hanya melakukan sebuah pemanasan, bagi setiap DNA yang tersusun di sel tubuh Natsuki Subaru, hal tersebut terasa seperti neraka. Untuk Subaru yang saat ini bermandikan cahaya matahari pagi dan melakukan senam ditempat ramai, tidak akan bisa dibayangkan oleh dirinya pada beberapa bulan lalu.
Meski sebenarnya, terpanggil ke dunia lain juga bukanlah hal yang bisa dibayangkan.
Ini adalah sebuah perubahan yang besar sampai-sampai siapapun yang menyaksikannya akan berpikir ini adalah ilusi akibat kepala mereka terbentur sesuatu. Nyatanya, ia memiliki ingatan tertentu yang mempengaruhinya, tidak heran jika cara berpikirnya sedikit berubah. Bagaimanapun, situasi ini tidak membuat dirinya mengeluh sama sekali.
“Ai, dan untuk yang terakhir kalinya angkat tanganmu ke atas, selesai! Victory!!”
“Victory--!!”
Suara bersorak semangat mengikuti arahan Subaru, mengangkat tangan mereka ke arah langit, senam pemanasan selesai. Mendengar suara penuh semangat dari orang-orang, Subaru mengelap keringat yang jatuh dari dahinya. Di depannya, seolah-olah sedang mengepungnya, penduduk desa seakan membuat pagar di wilayah sekitar Roswaal Mansion. Sepertinya, setengah dari populasi penduduk desa telah berkumpul.
Aktifitas senam pemanasan yang dia lakukan dengan spontan ternyata dapat menarik hati para penduduk dunia ini. Di desa ini dirinya telah melakukan sebuah tindakan yang cukup bagus, yang dapat membuat si plin-plan Subaru tidak bisa mundur lagi bahkan walau dirinya ingin berhenti.
“Subaru-, kita telah selesai berolah raga!”
“Berikan kami stempelnya, berikan tanda stempelnya!”
“Kentang manis, kentang manis!”
“Ahhh! Hentikan, hentikan mengerumuniku di pagi hari, dan tenangkan dirimu! Kalian benar-benar terlalu aktif, pasti enak rasanya menjadi muda! Tidak perlu terburu-buru, stempelnya tidak akan kabur kok. Berbaris, ayo baris.”
Setelah berkomunikasi dengan anak-anak yang terlalu sok akrab, Subaru menunjukan senyum yang terlihat miris, anak-anak mengikuti arahannya dan membentuk barisan di depannya. Melihatnya, Subaru mengangguk puas dan membalikan pandangannya.
“Baiklah, Emilia-tan, waktu dan tempat aku persilahkan.”
“Ya- ini dia.”
Emilia berdiri di belakangnya, menggenggam kantung kecil sebelum memberikannya, tersenyum antara senang atau ragu. Membuka kantung yang baru diterimanya, di dalamnya terdapat ubi mentah yang dipotong-potong dengan ukuran panjang. Melihat munculnya ubi, anak-anak bersorak ria, seolah merespon reaksi gembira mereka, Subaru mengambil sebuah ubi.
“Baiklah, aku akan menandainya sekarang, keluarkan kertasmu.”
Mengeluarkan wadah berisikan tinta dari tas yang sama, Subaru mencelupkan ujung ubinya, menekan ubi bertinta ke kertas yang diberikan kepada anak-anak. Emilia mengawasi wajah anak-anak yang menggambarkan bertapa bahagianya kondisi hati mereka saat ini.
“Mengiris bagian dari ubi yang rata untuk mengukir stempel ubi. Subaru, kamu selalu saja memiliki ide yang aneh.”
“Jika kamu memotong bagian yang ditintai maka kamu dapat menggunakannya sebagai cadangan, dan gambar ini memiliki kegunaan yang tidak akan terpikir olehmu. Ngomong-ngomong, aku menamakan masterpiece ini degan sebutan Puck-Senin.(TL Note: Puck-Senin, Puck di hari Senin)
Yang terlihat pada kertas adalah gambar kucing yang berantakan, mengeluarkan aura yang tenang. Bentuknya cukup menggambarkan karakteristik objek aslinya, siapapun yang melihatnya akan langsung tahu siapa modelnya. Yah, judulnya sendiri sebenarnya sudah jelas memberikan petunjuk.
“Aku terkejut, ini mirip sekali dengan Puck. Subaru, kamu sangat berbakat dalam karya seni.”
“Aku memiliki banyak waktu untuk disia-siakan seperti belajar menggambar seperti ini. Aku hanya mengetahui dasarnya saja, karena pada akhirnya aku menyerah di tengah jalan.”
Jika kamu adalah otaku sejati dan mencoba berjalan di dunia gambar walau hanya sekali. Di sana lah kamu harus menentukan gaya menggambarmu, atau membuat name untuk dirimu sendiri lalu bergantung pada keberuntungan, untuk Subaru hal itu tidak mungkin bisa dia lakukan.
“Hanya ini yang aku bisa, menggambar kucing pada sebuah ubi di dunia yang bahkan tidak memiliki stampel ubi; Yang hanya bagus untuk menghibur anak-anak.”
“Itu cara yang bagus untuk menggambarnya… dan bukankah gambar Puck di sini agak tidak bersemangat?”
“Sudah kubilang, namanya juga Puck-Senin, aku ingin menggambarkan sebuah perasaan negatif yang tersembunyi saat kamu mengetahui harus kerja selama seminggu kedepan. Kupingnya yang agak menutup turun ini punya maksud itu.”
Mendengar pendapat Emilia, Subaru mencoba menjelaskan sisi senimannya. Selagi diganggu oleh anak-anak yang meminta kertas putihnya untuk distempel, sementara antrian peserta senam pagi yang menunggu untuk distempel sudah mulai menumpuk. Rasanya seperti sedang menciptakan demonstrasi stempel yang diberikan saat menghitung hari di liburan musim panas, pikir Subaru riang. Setiap hari sebelum tidur, Subaru mengukir stempel baru, ada anak-anak yang penasaran stempel seperti apa yang akan didapatkannya esok hari. Bisa menghibur anak-anak, Subaru memperagakan betapa gesit jarinya dengan cara yang aneh.
Subaru menikmati waktunya mengobrol bersama anak-anak yang mengerumuninya, menjanjikan senam pagi berikutnya pada esok hari dan mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan. Subaru juga mengobrol bersama peserta orang dewasa sebelum menemani Emilia kembali ke mansion.
Begitulah kegiatan sehari-hari Subaru, pergi di pagi hari menghabiskan waktu di desa. Sebenarnya ini dia lakukan karena tubuhnya yang belum terlalu pulih sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan di mansion, yang lebih menyedihkan, ia sendiri telah menyita waktu istirahat Emilia, dan hal ini cukup membuat Subaru terganggu.
“Ahhh, aku lelah. Emilia-tan, aku merasa bersalah menyita waktumu setiap pagi seperti ini.”
“Tidak apa-apa, kondisimu juga belum pulih, dan Ram sama Rem dapat menyelesaikan pekerjaan di mansion. Dan aku sendiri merasa hal ini tidaklah buruk…”
“Maksudmu tidak buruk… apakah itu mengenai menghabiskan waktu berdua denganku?”
“Salah-. Maksudku adalah bagaimana aku bisa dekat dengan penduduk desa yang sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan denganku. Kamu pasti tahu maksudnya… aku pikir selama ini aku selalu memasang pembatas di sekitar diriku.”
Dia mementahkan pertanyaan Subaru yang sekarang sedang mengambil nafas panjang-panjang melalui hidungnya; Emilia kemudian tertawa malu. Dari tudungnya, wajah putih Emilia dihiasi oleh bibir merah manisnya, Subaru merasakan tekanan darah memenuhi wajahnya sendiri saat terpesona dengan gadis tersebut.
Pakaian yang dikenakan Emilia sangat mirip dengan saat pertama kali mereka bertemu di ibu kota. Rok mini yang tipis, jubah putih dengan sulaman menyerupai siluet elang, rambut peraknya yang cantik mengintip dari balik tudungnya. Subaru berdiri di sisinya dengan penampilan yang berlawanan, mengenakan jersey abu-abu yang terlihat kotor dan murahan. Setelah datang ke dunia ini pakaiannya semakin tidak karuan, karena kemampuan menjahit Rem lah semua kerusakannya berhasil diperbaiki. Bagian yang masih cukup terlihat jelek, adalah sisi yang berusaha diperbaiki Subaru seorang diri.
Dibandingkan dengan pakaianku, penampilanku, dan berbagai hal mengenai Emilia, aku menyadarinya dan hanya bisa menghela nafas. Aku berusaha menggapainya. Meski sejak awal kita bukan berada di kelas yang sama.
“Bagaimanapun…”
Emilia memecahkan keheningan, selagi Subaru masih berada dalam pikirannya sendiri.
Dia membungkuk di depan Subaru, melihatnya dari posisi yang lebih tinggi sambil menyilangkan tangan.
“Kamu sekarang akrab dengan penduduk desa ya, bukankah saat ini posisimu sebagai orang populer di sini sudah menyaingi Ram dan Rem?”
“Dalam beberapa hal akulah pahlawan yang menyelamatkan anak-anak! Pahlawan yang pergi menyelamatkan siapapun yang sedang kesulitan, jadi apakah hal itu yang mereka bicarakan?”
Meskipun ia melakukan itu dengan nada bercanda, sebenarnya Subaru sendiri sudah melakukan banyak hal sehingga hal tersebut tidak terdengar sebagai lelucon.
Menanggapi lelucon Subaru, Emilia terdiam dengan jari berada di bibirnya, mendekatkan kepalanya ke Subaru.
“Mungkin penyebabnya adalah hal yang berbeda daripada sebuah kepahlawanan.”
“Ah, benar juga. Aku rasa mereka juga tak akan mungkin membicarakannya… namun jika bukan kejadian di hutan, apa lagi?”
Mendapatkan pujian dari aksi penyelamatannya bukanlah hal yang dibutuhkan atau diharapkan Subaru. Meski, diluar dari harapannya, kata-kata Emilia menuju ke arah situ. Tersenyum dengan bibir merah mudanya sambil tertawa kecil.
“Memang benar, terlihat sedikit seperti pahlawan adalah kesan yang dimiliki anak-anak desa kepadamu, tapi lebih dari pada itu rumor yang berkembang mengenai kamu adalah dirimu lebih terlihat seperti Shikisha (llmuwan).”
Shikisha (Direktur musik)? Aku tidak bisa memimpin sebuah orkestra. Seleraku  dalam musik benar-benar kosong.”
Aku sempat bangga menjadi legenda hidup sewaktu SD pada pelajaran musik, mendapatkan satu kesempatan memainkan taiko drum besar. Seseorang dengan selera musik nihil bertanggung jawab atas taiko drum besar itu sesuatu banget. Sebab kenapa mereka mendadak melakukan pergantian pemain masih menjadi suatu misteri buatku.
Kemudian Emilia memalingkan wajahnya kesamping, “bukan itu.”
Shikisha (Ilmuwan) adalah seorang yang sangat pintar. Seorang bijak yang bodoh, merupakan julukan yang diberikan oleh tetua desa.”
“Itu tidak terdengar seperti sebuah pujian… seperti seseorang yang belajar tapi tetap saja bego. Lagian, apa penemuan yang sudah kutemukan sampai bisa mendapatkan gelar seperti itu…”

Sambil menunjuk dengan jarinya, Emilia menyebutkan satu buah kata, “Mayonnaise”
TL Note: Subaru membuat Mayonaise di Volume 2
Sejak kejadian beberapa hari lalu, tingkat perkembangan penemuan baru itu berkembang pesat. Karena  dirasa akan sayang sekali untuk disia-siakan (terutama oleh Emilia) untuk memilikinya seorang diri, mereka menyebarkan teknik produksi ke desa terdekat. Baru saja beberapa hari tapi sudah sangat digemari.
Pencinta mayonnaise, membawa mayonnaise ke dunia lain benar-benar sebuah langkah yang harus dihargai. Semoga mayonnaise tetap disukai selamanya.
Bagaimanapun,
“Sangat menyenangkan banyak yang menyadari betapa hebatnya sebuah mayonnaise, tapi kematianku yang heroik, sampai kalah tenar dari sebuah mayonnaise…”
Sepertinya daripada menjadi seorang pahlawan, aku menjadi seorang pembawa ajaran mayonnaise, akhirnya inilah yang membuatku berharga di mata masyarakat.
Bersamaan dengan perasaannya yang menggebu, bahu Subaru menjadi lemas.
Melihat reaksinya, Emilia panik kemudian memijati bahunya.
“Ah, umm.. kamu tahu kan… aku yakin anak-anak akan berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan mereka? Tapi yang benar-benar membawa mereka dari hutan adalah Rem, dan sudah menjadi rumor bahwa yang menghabisi para demon-beast adalah Roswaal…”
Sangat menyakitkan menerima perlakuan belas kasihan seperti itu, tapi dia tidak bisa membantah yang dikatakan Emilia. Mengingat hal tersebut, Subaru kembali terguncang.
Saat pergi menyelamatkan anak-anak, hal yang berhasil didapatkan Subaru adalah gigitan di sekujur tubuhnya dan luka yang parah. Dan dengan mengalahkan demon-beast, selain mengembalikan kesadaran Rem, ia menyerahkan semuanya kepada Roswaal, kehabisan energi lalu tersungkur lemas. Ia sendiri cukup terkejut dengan hal tersebut.
“Jadi aku benar-benar tidak melakukan apapun?!”
Jadi aku hanya melakukan hal percuma selama ini. Subaru merasa bahwa semua kerja kerasnya menolak dirinya sendiri, perlahan ia merasa seakan tenggelam.

Melihat Subaru, Emilia merasa semakin sulit untuk bisa menyemangatinya, berakhir dengan kata-kata seperti, “um,” dan “sebenarnya begini,” “bukannya seperti itu…”
“Uhh, berhenti bersikap seperti itu, terlalu merisaukan hal kecil.”
“T-tapi, Emilia-tan…”
“Orang-orang yang mengerti akan kerja kerasmu sudah memahaminya kok. Roswaal, Ram, dan terutama Rem.”
Emilia mengatakannya dengan nada bercanda sambil menusuk wajah Subaru dengan jarinya. Merasakan sentuhan, Subaru mengalihkan pandangan menyedihkan kearahnya, Emilia sedikit mengomel sambil berjalan di depannya. Membalikkan badan, melepas tudungnya dengan semangat, rambut perak panjangnya berkilau tertimpa cahaya matahari yang seolah mengalir melalui lehernya. Melihat sosok yang mempesona, Subaru berhenti berjalan. Berdiri di depan Subaru, ia meletakan tangan di pinggangnya, seperti kakak yang sedang memarahi adiknya.
“Aku sendiri juga mengetahuinya, tahu!”
“Eeeeh?”
“Bahwa kamu sudah berusaha keras, adalah hal yang benar-benar aku mengerti. Makanya jangan patah semangat seperti ini. Oke?”
Emilia memiringkan kepalanya, “Jawabanmu?” tanyanya. Mendengar kata-kata itu Subaru kembali dari lamunannya dengan semangat, menganggukkan kepalanya dengan cepat. Melihat reaksinya, Emilia tersenyum.
“Uwah, kali ini apa lagi? Kamu bertingkah seperti mainan rusak. Kamu selalu seperti ini.”
“Tidak, ini bukan hal yang sengaja aku lakukan… dan lagian, Emilia-tan yang melakukan hal ini tanpa bersusah payah mencoba sebanyak 100x sungguh tak adil! Sekuat apapun aku mencoba bertahan, aku lagi-lagi kembali jatuh cinta.”
“Ya, ya. Dan berhenti bercanda seperti itu, aku rasa itu adalah, kebiasaan yang buruk.”

Kita sedang berbicara dari hati ke hati, tapi Emilia yang tersenyum tidak mau mendengarkan.
Selagi ia menangkap rambut yang seolah akan terbang karena angin dan mengembalikannya ke punggungnya, Subaru berpikir mungkin posisi Emilia terlalu tinggi baginya.
Meskipun berjalan bersama seperti ini adalah hal yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya, setiap kali, setiap saat, ia merasa bahwa ini adalah sebuah pengalaman baru.
Emilia juga tidak selalu sama. Jika dia melewatkan hari ini, peluang bertemu Emilia yang sekarang tidak akan pernah datang lagi. Menikmati waktunya yang berharga dan menatap masa depan, sangat tidak disangka dia bisa menghabiskan kesehariannya seperti ini.
“Bekerja keras, memperdalam hubungan dengan kekasihku---- benar-benar gaya hidup yang luar biasa. Tidak akan ada yang mencelaku sebagai Hikkikomori!”
“Meski wajar sebagai laki-laki kamu pasti berlagak kuat, kamu tetap harus menjaga tubuhmu. Tidak bagus terus memaksakan diri. Menurut lah dan biarkan Rem juga Ram… mungkin akan lebih banyak Rem, mengurus dirimu.”
Menanggapi pose Subaru yang aneh dan eksentrik, Emilia sepertinya salah paham dan memberikan nasihat yang apa adanya.
Sepertinya dia melihat Subaru sebagai pemuda yang suka bekerja keras. Orang yang akan rela melakukan kerja rodi sampai mati. Tentu saja, kenyataannya Subaru bukanlah pekerja keras, kepribadian aslinya adalah orang yang lebih suka makan dan tidur tanpa harus bekerja.
Tentu saja dia juga tidak bisa jujur begitu saja untuk memperbaiki kesalahpahaman seperti itu.
Sementara mereka terus berbincang-bincang, puncak Roswaal mansion mulai terlihat dari kejauhan. Seperti inilah kehidupan mereka, menghabiskan beberapa menit berbincang bersama dipagi hari. Waktu damai yang akan segera berakhir.
“Kita baru saja berbincang-bincang dan tiba-tiba waktu… hei, mengapa tiba-tiba irama jalanmu melambat?”
“Ini akibat rasa engganku untuk berpisah, menggunakan taktik jalan siput. Apakah kamu tidak mau menikmati udara pagi yang segar? Bersama siapa? Tentu saja aku.”
“Jika kita berjalan terlalu lambat orang-orang yang menunggu bisa marah tahu… Bukankah kubilang agar kamu tidak terlalu memaksakan diri, janji itu penting. Aku juga memiliki perjanjian dengan spirit yang harus kujaga.”
“Aku lemah terhadap janji seperti itu… Puck akan segera bangun, dan aku akan kehilangan kesempatan untuk bisa berbincang-bincang mesra dengan Emilia.”
Perjanjian dari pengguna spirit, ia lemah menghadapi argumen tersebut. Ia menyembunyikan pikiran terdalamnya dengan ekspresi wajah yang santai sementara menahan rasa risau di dalam hatinya,
“Aku tahu… ayo kita kembali… sialan, seharusnya aku bisa melakukan lebih baik dari ini… !”
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu jengkel, tapi jika memang aku punya banyak waktu luang, aku pasti akan menyediakan waktu untuk mendengarkanmu. Jadi berhenti lah mengeluh, huh.”
Emilia yang bersikap lebih akrab kepada Subaru memberikan senyum tertekan sambil meletakan jari di bibirnya. Subaru memperhatikannya yang bergumam dalam nafasnya, “apa itu?”
“Ada kereta kuda… berhenti di depan mansion.”
“Hmm?”
Terusik oleh gumaman, ia mengalihkan pandangan ke arah Emilia menatap, memicingkan mata untuk memastikan hal yang dilihatnya.
Di depan gerbang Roswaal mansion ada sebuah kereta kuda yang mendekat. Sekilas Subaru dapat mengetahui bahwa yang dilihatnya berbeda dengan kereta kuda yang selama ini pernah dia ketahui.
Lagipula, hewan yang menarik kereta tersebut bukan lah kuda tapi kadal seukuran kuda. Meski benda itu tidak bisa disebut sebagai kereta kuda, dia tidak memiliki pilihan lain selain menyebutnya sebagai kereta kuda.
“Aku ingat, yang seperti itu sering kulihat lewat di ibu kota.”
Pada hari pertama ia datang, ia mengingat telah melihat hewan yang sama berlarian di tengah jalan besar yang menyebabkan kepulan debu, akan sangat sulit melupakan hal ini. Fakta dari penarik kuda bukan lah kata yang asing, dia yakin bahwa kuda yang sebenarnya pasti ada di dunia ini, dan dilihat-lihat bertapa banyakya kadal yang menarik ketera kuda.
Aku rasa hewan ini adalah hal yang lumrah di dunia ini.
“Kalau tidak salah, mereka disebut dengan nama kereta naga kan?”
“…? Ya. Karena yang menarik keretanya adalah naga elemen tanah, menyebutnya sebagai kereta naga adalah hal yang wajar kan? Eh, itu bohong, apakah pengetahuan umumku kurang ya? Apakah memang ada sebutan khususnya di sini?”
Berhubung pengetahuannya minim, Subaru bertanya kepada Emilia, yang seharusnya memiliki pengetahuan lebih luas dan kini mencurigainya. Untuk menanggapi seorang gadis yang membaca setiap makna dari kata-katanya, Subaru menghempaskan tangannya menampik rasa curiga,
“Aku hanya memiliki pegetahuan yang sedikit. Emilia-tan benar, jadi, percaya diri lah.”
“Benarkah? Kamu tidak sedang meledek kan? Jangan menciptakan rumor aneh tentang diriku ya. Jika kamu berbohong aku akan menghajarmu loh.”
“Menghajar, bukan kata-kata yang sering didengar di jaman sekarang…”
Mereka menghampiri kereta sembari berbicara. Melihat kadalnya dari dekat cukup mengejutkan berhubung ukurannya sangat besar. Di depan kereta ada tempat yang disediakan untuk seorang kusir, seseorang yang duduk di situ melihat mereka berdua mendekat lalu mulai turun untuk memijakan kakinya di atas tanah.
“Selamat datang. Maafkan aku telah memarkir kendaraan kami di depan gerbangmu.”

Dengan sikap seorang pria sejati ia menyambut kita dengan menundukan kepalanya. Jika orang yang membawa keretanya saja sudah menunjukkan sikap seperti ini, penumpangnya pasti adalah seseorang yang layak mendapatkan rasa hormat darinya. Mengintip dari celah yang ada di jendela, bahkan sebuah bayangan dari seseorang tidak terlihat sama sekali. Dengan kata lain,
“Perwakilan kami sudah berada di dalam mansion sedang bertemu dengan tuan rumah.”
“Sangat sopan dan rendah hati sekali. Bagaimana ya, sangat memalukan bagiku memperlihatkan penampilan yang seperti ini. Bagaimanapun aku tidak terbiasa degan hal-hal seperti ini, jadi kuharap kamu dapat memakluminya.”
Subaru berusaha menanggapinya dengan sikap sesopan mungkin, mencoba menutupi dirinya dengan bahasa yang levelnya masih terlalu jauh dari mereka. Berdiri di sebelah Emilia sambil memperlihatkan ekspresi yang seolah berkata, “kamu bisa berbicara dengan baik” kan? Subaru merasakan ada perbedaan kasta antara dirinya dengan dia.
Memecahkan keheningan Subaru, Emilia berjalan mendekati sang kusir.
“Perwakilan… mungkinkah?”
Menerima pertanyaan tersebut si kusir mengangguk mengisyaratkan dirinya memahami maksud pertanyaan tesebut,
“Seperti yang Emilia-sama duga, ini berhubungan dengan pemilihan kandidat raja berikutnya.”
Mendengar kata ‘pemilihan kandidat raja’ membuat Subaru terkejut. Mendengarnya saat ini, merupakan hal yang tak terjangkau baginya.
Wajah Emilia menjadi kaku, dan Subaru mengerutkan dahi atas penyataan tersebut. Melihat reaksi mereka, sang kusir tua yang terhormat mengangkat kepalanya dan melanjutkan.
“Aku yakin kamu akan mendengar tentang hal ini secara resmi dari perwakilan kami. Silahkan mendengar lebih lanjut di mansion.”
“Apakah artinya ini adalah panggilan?”
“Untuk informasi lebih lanjut bisa didapatkan lagsung dari perwakilan kami.”
Meihat kusir yang sudah memperjelas posisi dirinya, Emilia menundukan kepala, menanggapnya dengan ucapan, “baiklah.” Dengan tegang.
“―Ayo.”
Memberikan perintah, ia berjalan tanpa membalikkan wajah ke Subaru. Menuju pintu masuk Roswaal Mansion.
Dengan canggung Subaru mengejarnya dari belakang. Menoleh sekali lagi untuk melihat sang kusir yang masih menundukan kepalanya, melihat kepergian mereka dalam diam.


Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Bab 1 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.