22 Juli 2016

Only Sense Online Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia

PERPUSTAKAAN BAWAH TANAH DAN HOROR

Sejak saat itu, aku telah mendatangi perpustakaan beberapa kali. Aku meninggalkan penjualan Atelier pada Kyouko-san si NPC dan tanpa ada masalah  aku membaca buku dengan sikut berada di konter.
Aku pergi ke perpustakaan, membaca beragam buku, dan akhirnya dapat sebuah seri buku yang setebal kamus di luar sudut buku-buku crafting.
Panduan Sense untuk Pemula~Buku Tentang Senjata~dan yang lain, sebuah buku tentang armor, buku tentang kemampuan fisik, buku tentang operasional tambahan, buku tentang kehidupan sehari-hari, dan semacamnya.
Aku mengambil beragam buku di tanganku sementara memikirkan statusku dan gaya bermainku sendiri. Aku melihat daftar isi buku tentang senjata dan membuka pembahasan mengenai busur.
"Busur dan panah adalah satu kesatuan, kau perlu mempersiapkan keduanya untuk menggunakannya.. Bukannya itu sudah jelas."
Sedangkan untuk informasi berharga lainnya di situ, fitur pemulihan otomatis panahnya telah dijelaskan. Hanya itu.
Juga secara umum, saat Sense senjata melampaui 30 point, Sense turunan akan muncul.
Sebagai contoh, sebuah pedang menjadi one-handed sword atau two-handed sword, yang merupakan dua dari beberapa kemampuan turunan pedang. Akan tetapi, turunan ini tidak mengonsumsi Sword Sense menjadi Sense yang berbeda, malahan membiarkan untuk mempertahankan Sword Sense tersebut dan mendapatkan Sense One-Handed Sword yang baru. Seperti itulah cara kerjanya.
Dengan kata lain, kalau kau memiliki Sword Lv 30, itu akan memungkinkanmu untuk memakai One-Handed Sword Lv1. Dalam hal ini, kau dapat terus lanjut menggunakan sebuah Art yang telah dipelajari dengan Sense Sword.
Sense Sword dapat digunakan dan dikuasai. Karena ada sebuah kemungkinan untuk melakukan itu, turunan yang didapat dari Sense orisinil memiliki performa yang rendah. Ini sepertinya membuktikan apa yang Myu katakan dari pengalamannya di versi β, kemudian mengubah sebuah Sense menjadi yang bentuk turunan adalah ide yang bagus.
"Turunan berikutnya adalah, Long BowShort BowCompound Bow… ada banyak. Senjataku adalah long bow, jadi ayo ambil Sense Long Bow. Walau begitu buku versi officialnya mengakui di sini bahwa tingkat hit rate busur juga rendah."
Di dalam buku, tertulis bahwa semakin jauh musuh, maka semakin sulit untuk mengenainya. Para amatir direkomendasikan untuk menggunakan short bow atau rapid fire bow terlebih dulu untuk memulainya. Itulah yang tertulis di sini.
"Yah, aku tidak merasa ingin mengubah senjataku. Juga, apakah ada informasi berguna lainnya di sini?"
Meskipun aku membaca cepat daftar isinya, kebanyakan dari mereka memiliki kata 'pemula' di awalannya, semua informasi yang bermanfaat merupakan turunan dari Sense awal.
Bahkan saat aku membaca buku yang lain, semua Sense merupakan turunan dari kira-kira level 30.
Akan tetapi, di dalam buku mengenai sihir, terdapat informasi tambahan mengenai sihir elemental sampai level 30.
"Skill element earthku adalah … BombClay ShieldMud Pool. Ini adalah skill yang telah kupelajari sejauh ini. Yang lainnya ada EarthquakeRock Burst danExplosion ya."
Adalah hal yang bagus untuk mempelajari skill yang akan kudapatkan. Yang pertama akan kudapatkan adalah skill yang akan membuat bumi mengembang dan membengkak,Earthquake. Skill yang membuat 1 kg batu meledak dan menyebar ke sekitarnya seperti peluru shotgunRock Burst. Yang terakhir adalah versi lebih kuat dari Bomb,Explosion. Skill-skill ini dipelajari setiap lima level.
Setelah memahaminya sejauh ini, kurasa sihir elemen earth itu juga menarik. Akan tetapi, aku dapat mengerti alasan mengapa ini tidak terkenal dibanding elemen-elemen lainnya.
"Seperti yang kupikirkan, ada kemungkinan bahwa skill elemen earth akan menghambat gerakan rekan-rekannya."
Berorientasi solo, sebuah sihir yang sepertinya bermaksud untuk demikian. Aku tidak tahu sihir Sense tertingginya, tapi itu mungkin mempertahankan properti karakteristik seperti objek dan penghambat kuat di arena.
Jika seseorang menggunakan Earthquake atau Clay Shield di tempat yang sempit saat bertarung dalam party, mereka dapat secara tidak sengaja memisahkan barisan belakang dan depan, akan membuatnya sulit dikelompokkan. Akan tetapi, sebagai seorang solo player, aku menyukainya.
"Karena ini adalah tipe yang memiliki efek terhadap objek-objek natural dan medan lingkungan, kurasa bagus memperlambat musuh dan menahan mereka untuk mengulur waktu. Ini memiliki kecocokan yang bagus denganku."
Caraku bertarung yang menyerang secara mendadak, juga taktik hit & run. Memikirkan itu, sihir dengan atribut tanah yang dapat menghambat sekelilingnya adalah sesuatu yang sebaiknya dimiliki.
"Aku ingin coba menggunakan sihir baru."
Aku bergumam demikian, menutup buku keras-keras dan menghela nafas. Karena kemampuan membacaku masih tidak stabil, aku merasa sangat lelah secara mental.
"Apa kabar? Yun ada?"
"Oh, Taku ya. Selamat datang."
Karena aku menutup mataku, menaruh sebelah tangan di dahiku dan melihat ke langit-langit, aku tidak menyadari Taku yang masuk ke toko.
Setelah datang, Taku memanggilku secara khusus.
"Ada apa? Kau bilang padaku 'kalau ada waktu, mampirlah ke toko', kan."
"Ya, aku akan menaruh item baru untuk dijual di Atelier. Aku ingin kau memberikan pendapat soal itu."
"Ah, jadi begitu. Item seperti apa?"
"Ini adalah pill peningkat stat yang dibuat dari daging monster biasa. Harganya sudah ditetapkan, tapi aku ingin meningkatkan kegunaannya sebisa mungkin."
"Aku mengerti. Hei… apa ini? Ini dibuat dari material sampah Rock Crab. Bagaimana kau membuatnya?"
Dia menerima Boost Tablet yang terbuat dari Rock Crab, dan memeriksa statsnya. Yang menarik perhatiannya adalah nama 'Rock Crab', seperti yang kuduga, tapi sepertinya Taku tidak tahu bagaimana membuatnya. Buku benar-benar benda yang bermanfaat, ya.
"Bagaimana aku membutnya…eh. Yah, berkat buku?"
Hee, dia mengeluarkan suara terkesan, dan setelah memeriksa pill itu, dia menyimpannya di dalam inventorynya. Kemudian, dia melihat buku yang berada di atas konter.
"Apakah berasal dari buku itu?"
"Bukan, ini adalah ensiklopedia bergambar tentang Sense dasar, kurasa? Aku ingin tahu lebih dulu seperti apa Sense setelah aku menaikkan levelnya dan pilihan apa yang ada."
"Hee… aku tidak bisa membacanya sedikit pun."
Taku tidak memiliki Sense Linguistic jadi dia tidak dapat membacanya. Akan tetapi, hanya dengan melihat ilustrasinya, dia dapat mengetahui Sense apakah yang dijelaskan.
"Yang ini tentang perisai, 'kan. Apa yang tertulis di situ?"
"Dasar-dasar tentang Sense Shield. Art apa yang bisa digunakan dengannya, dan apakah skill turunannya."
Dengan demikian, ini hanyalah level dasar, skill dan art yang bisa dipelajari dengan memenuhi persyaratan tertentu tidak disebutkan di sini.
"Oh, semuanya ada enam Art Shield. Walau begitu, yang berguna sebenarnya hanya dua atau tiga dari semuanya itu."
"Benarkah?"
Ada banyak art Shield yang secara pasif menerima serangan, tapi semuanya terlihat sulit dan menarik. Akan tetapi, kenyataannya setengah dari mereka tidak berguna saat pertempuran sesungguhnya, itulah yang Taku katakan.
"Ya, kalau kau hanya berpikir untuk bertempur dalam party, lebih baik memiliki Art yang sederhana dan mudah untuk digunakan. Adda banyak Art dengan efek aneh yang memerlukan waktu lama untuk mengaktifkannya dan memperburuk irama pertempuran."
"Ada banyak sekali Art, jadi aku belum tahu banyaknya Skill dan Art yang tersedia…"
"Sebenarnya, itu semua tergantung selera masing-masing."
Dia berkata demikian, dan sekali lagi melihat isi buku. Sebenarnya, pertempuran solo dan party itu berbeda. Terutama Art yang digunakan dalam manajemen kebencian itu tidak berguna saat bermain solo. Juga dikombinasikan dengan kemampuan membidik Hawk Eyes, aku dapat menembaknya dengan akurasi yang cukup, meskipun aku masih punya masalah dengan kekuatan dan waktu aktivasiny. Akan tetapi, itu terbatas oleh jangkauan pandangku.
"Aku telah mempelajari sesuatu. Terima kasih. Maaf membuatmu memikirkan itu."
"Yah, ini semua adalah hal yang mudah jadi tidak masalah, tapi kau akan lebih mempelajarinya dengan melihatnya secara langsung. Bagaimana kalau kau melakukan perburuan ringan denganku?"
"Ah, tentu. Yah, kurasa tidak masalah sesekali melakukannya? Tapi aku ada pesanan kecil yang harus kulakukan sebelumnya."
"Baiklah. Dan pesanan itu adalah?"
"Aku harus mengembalikan buku ini."
"Aku ikut denganmu kalau begitu. Setelah itu, ayo pergi berburu keluar."
Kau tidak keberatan menunggu? Tanyaku. Tidak masalah, saat dia menjawab begitu, aku mengambil kesempatan.
Berburu dengan Taku masih terlalu awal untuk Ryui dan Zakuro yang masih muda, jadi tanpa mereka aku hanya membawa equipment yang telah kupersiapkan sebelumnya dan menuju ke perpustakaan.
Meskipun Taku berniat untuk masuk ke perpustakaan bersamaku, dia diminta biaya administrasi di pintu masuk. Karena dia tidak ingin membayarnya, aku mengatakan padanya untuk menunggu di lapangan di sebelah perpustakaan saat dia memutuskan untuk menunggu di luar.
Aku mengembalikan buku yang kupinjam sebelumnya, dan menuju ke sudut buku-buku crafting untuk mengambil buku baru. Kali ini aku mengambil buku pedoman SenseCraftmanship, dan saat aku kembali ke penerima tamu, aku melambaikan tangan ke Taku yang berada di luar jendela. Dan, mungkin karena dia menyadarinya, Taku mulai melakukan percakapan lewat friend chat.
"Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak, kau sedang melihat kemari jadi aku hanya melambaikan tangan. Apakah ada yang terjadi di tempatmu?"
"Aku tadinya tidak tahu soal lapangan di sebelah perpustakaan ini."
"Aku sudah memilih buku, jadi aku akan keluar sekarang."
"Baiklah. Aku akan menunggu di sini."
Aku berkata begitu, dan bergegas menuju bagian resepsi untuk meminjam buku, kemudian menuju ke tempat Taku berada.
Bagian dalam perpustakaan memiliki rak-rak buku yang terpasang secara simetris tepat dari pintu masuk. Rak-rak buku dinding dibuat rendah agar tidak menghalangi jendela, dan rak-rak buku di bagian dalam dibuat lebih tinggi. Saat seseorang masuk ke antara rak buku, mereka dapat merasakan dinding buku yang rapat menghampiri mereka dari kedua sisi, ini terasa lebih sempit daripada kelihatannya.
Di satu bagian perpustakaan terdapat sebuah pintu yang langsung menuju ke lapangan, jadi aku menggunakannya untuk pergi keluar.
"Maaf, aku membuatmu menunggu."
"Kau lumayan lama. Apa perpustakaannya seluas itu?"
"Oh, bagian saat kau memanggilku lewat friend chat adalah bagian terdalam di sana. Mungkin di sebelah situ?"
Aku berkata begitu pada Taku dan menujuk pada jendela di mana dia berbicara padaku lewat friend chat. Itu adalah jendela di bagian paling ujung bangunan. Menanggapinya, Taku memiringkan kepala dengan kebingungan.
"Yun, 'bagian terdalam' yang kau bilang tadi itu adalah jendela yang di sebelahnya."
Mustahil. Bagian buku-buku crafting adalah bagian yang terdalam. Harusnya tidak ada jendela lain di sebelahnya. Di bagian terdalam itu terdapat lemari di sepanjang dindingnya. Tidak ada tempat di baliknya.
"Mau bagaimana lagi. Ayo periksa."
"Periksa apa…"
"Sudah jelas, apa yang ada di balik jendela tersebut!"
Taku berkata demikian dan memanggilku. Kami mengintip lewat jendela. Ternyata, lewat jendela ketiga kami dapat melihat tempatku berada tadi. Dan saat aku melihat lewat jendela paling ujung, kami dapat melihat ruang yang seharusnya tidak ada di situ.
"Itu terhalang rak-rak buku dan aku tidak dapat melihatnya dengan baik."
"Tidak mungkin, ruangan tersembunyi? Kenapa hal semacam itu…"
Ternyata ada sebuah tempat seperti itu di dalam perpustakaan yang sudah biasa kudatangi.
"Hei, seperti apa pemasangan rak-rak buku di dalam perpustakaan?"
"Semuanya dipasang dalam beberapa kolom rak-rak tinggi."
Benar. Semuanya dipasang seperti itu sehingga mustahil untuk melihat yang ada di baliknya.
"Pantas saja. Mereka membuat sebuah ilusi jarak jauh dengan semua rak buku itu? Untuk membuat orang tidak menyadari luas sebenarnya dari bangunan ini."
"Kenapa mereka melakukan…"
Hal semacam itu. Aku ingin bertanya, tapi Taku mengangkat kedua tangannya
"Tidak tahu. Kita tidak bisa berbuat apa-apa soal itu, jadi ayo berburu!"
"Y-yeah, kau benar."
"Apa-apaan dengan jawabanmu yang tidak menarik itu. Kalau kau sekhawatir itu, aku akan menelitinya sedikit. Jangan khawatir. Aku akan memberitahukanmu nanti tentang hasilnya, jadi ayo berburu sekarang."
"Aku tidak khawatir. Aku mengerti."
Aku menepis tangan Taku yang sedang mengelus ringan kepalaku, dan seakan seperti melarikan diri, aku mulai menggerakkan kakiku lebih cepat.
Dan seperti itulah, kami pergi keluar untuk melakukan perburuan ringan. Aku sedikit kelelahan setelahnya karena harus menyamai langkah Taku yang 'sedikit terlalu cepat'.
Awalnya aku sedikit cemas dan tidak jelas karena ruangan misterius perpustakaan, tapi karena tidak ada kesempatan untuk merasa begitu selama perburuan kecepatan-tinggi dengan Taku, aku melupakan soal perpustakaan tidak lama kemudian.
Beberapa hari kemudian, Taku datang untuk menyampaikan hasil dari penemuannya.
·
Liburan musim panas telah berakhir, tapi bulan September masih menunjukkan tanda-tanda hawa musim panas yang masih tinggal. Aku mengipasi tubuhku yang kepanasan saat aku berjalan menuju ke sekolah, berharap untuk mendinginkan tubuh di dalam ruang kelas. Temanku yang buruk, Takumi, mendekatiku dengan segera di pintu masuk kelas.
"Shun, kau punya waktu luang malam ini?"
"Apa-apaan sih, tiba-tiba mendatangiku tanpa salam sapa. Yah, aku tidak ada rencana apapun."
"Jadi bisa meluangkan waktu untukku? Hasil dari pencarian sebelumnya sudah siap."
Aku menyahutinya dan duduk di kursiku, kemudian dia memukul mejaku dengan keras.
"H-hei, ya ampun."
Dia memberikan kesan bahwa dia bermain game semalam suntuk. Kurasa begitu. Karena libur musim panas sudah berakhir, kita harus memperbaiki sikap bermalas-malasan itu dan menyamakan ritme dengan kehidupan sekolah, 'kan. Dan sambil berpikir demikian, aku mulai mendengarkan pelajaran yang dimulai.
Lalu, setelah melihat Taku yang tertidur selama dua jam, aku menghela nafas kecil. Aku harus memfoto catatan untuknya, gumamku tenang. Pada saat 'tunjukkan padaku' muncul, aku menghela nafas lagi.
Kemudian, setelah sekolah selesai dan aku pulang, sebuah pesan dari Takumi datang dengan detail tempat pertemuan.
"Uhh… Aku akan menjemputmu di Atelier jam 10 malam., ya. Memutuskan seenaknya sendiri lagi."
Akan tetapi, balasanku singkat. Baik. Satu kata.
Aku memastikan waktu saat ini, lalu membuat makan malam, membersihkannya setelah itu, menghabiskan waktu untuk mandi dan persiapan untuk sekolah. Aku menyelesaikan semuanya pada waktu yang ditentukan.
Setelah aku menyiapkan makan malam dengan terburu-buru dan waktunya hampir tiba, Miu turun dari kamarnya di lantai dua.
"Yahooo! Ada ayam pedas manis untuk makan malam!"
"Makan malam hampir siap jadi bersiap dan duduklah. Aku akan segera selesai di sini."
Aku memotong ayamnya, dan untuk sentuhan akhir aku merendamnya dalam saus kecap pedas manis.
Sementara itu Miu memakan irisan kol yang disajikan, dan kemudian mulai makan ayam goreng yang dicelup dalam saus yang kusiapkan.
"Mari makan!"
"Belum semuanya disiapkan."
Sementara aku menyiapkan hiasannya, bayam dan sup miso, Miu memakan nasinya. Melihat cara makannya yang bersemangat, aku tersenyum miris.
"Onii-chan, tambah sausnya."
"Jatahku berkurang kalau begitu…"
Aku hanya membuat saus untuk dua orang. Karena tidak ada jalan lain, aku menuangkan sedikit sausku ke mangkuk yang dijulurkan itu.
"Makanan yang dicelupkan dalam saus pedas manis itu memang enak."
"Ya ampun, pastikan kau mencicipinya dengan benar."
"Apapun yang Onii-chan masak rasanya enak."
Saat Miu mengatakannya sambil tersenyum, suasana tidak nyaman sepenuhnya menghilang dan aku mengigit sesuap juga. Rasanya sedikit manis dan pedas, tidak ada banyak saus, tapi ayam yang dibumbui dengan lada dan garam ini rasanya cukup enak.
Setelah makan, kami minum teh bersama, bersantai.
"Haa, inilah kebahagiaan."
"Kau senang hanya dengan secangkir teh hijau. Kalau ada sedikit kue untuk menemani, rasanya akan lebih baik…"
"Tidak, kalau kau makan terlalu banyak, kau akan jadi gemuk."
"Jangan bilang pada para gadis mereka akan gemuk! Kalau begituuuuu, setelah ini aku akan datang ke Atelier, jadi siapkan beberapa cemilan! Kita akan melanjutkan pesta minum teh di situ!"
"Tidak, tidak bisa. Aku sudah ada rencana dengan Takumi."
"Mhh… Takumi-san, ya… mau bagaimana lagi."
Setelah berkata begitu, Miu dengan tenang mundur. Ohh? Aku merasa sedikit terkejut, tapi Miu segera berekspresi cerah.
"Kalau begitu aku pergi duluan."
"Ya, ya. Letakkan cangkirnya di bak cuci dulu."
Aku berkata demikan dan melihat punggung Miu yang sedang pergi ke kamar mandi. Ya ampun, kau sebaiknya bertingkah lebih tenang di rumah. Aku khawatir sebagai kakak laki-lakinya.
Setelah itu, aku mencuci piring-piring kotor dan pergi mandi. Aku kembali ke kamarku sekitar setengah sembilan. Aku menghabiskan waktu sebelum saat janji temu dengan Takumi dengan bersiap-siap untuk sekolah besok, dan berbaring di tempat tidur sebelum waktu yang dijanjikan.
Aku menaruh VR Gear yang ada di sebelah tempat tidur ke kepalaku dan menyalakannya. Kesadaranku yang santai memudar dan menyusut menjadi kegelapan karena induksi hipnotis.
Saat aku terbangun berikutnya, aku sedang berada di dalam bengkel kerja yang redup. Dari bengkel kerja Atelier yang kupasang sebagai titik log in-ku, aku keluar ke toko.
Karena Kyouko-san si NPC hanya bertindak sebagai pelayan toko selama siang hari, bukannya terbuka di malam hari, pintu Atelier terkunci rapat saat malam tiba dan tanda 'tutup' tergantung di pintunya.
Menunggu di pintu masuk adalah seorang pemuda yang tidak asing.
"Taku, maaf membuatmu menunggu."
"Ah, tidak masalah. Kau datang tepat waktu."
Aku sedikit cemas telah membuatnya menunggu, tapi sepertinya aku setidaknya tepat waktu. Taku juga, menyunggingkan senyuman cerah di wajahnya.
"Jadi, Hasil apa yang kau bicarakan?"
"Eh? Bukannya sudah kukatakan padamu?"
"Kau tidak melakukannya. Sesuatu tentang hasil penyelidikan, kau tidak mengatakan padaku alasan memanggilku secara sepihak. Ya ampun."
Aku melipat lenganku dengan takjub. Mencoba mengingatnya, Taku menggeliatkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Setelah beberapa saat, dia menyimpulkan 'mungkin belum mengatakan padamu', dan bertanya-tanya 'dari mana memulainya'. Dan sebagai permulaan, dia mulai bicara tentang hasil investigasinya.
"Yun, apa kau ingat saat aku pergi bersamamu ke perpustakaan? Ruang tidak biasa di situ."
"Ah, ya aku ingat."
"Ada ruangan tersembunyi di dalam bangunan perpustakaan yang terlihat dari jendela."
"Itu sangat klasik."
Di mansion dan bangunan tua terdapat ruangan tersembunyi. Itu jenis cerita yang ada dalam banyak game.
"Jadi itu adalah area yang tidak dapat dengan mudah dimasuki? Sense Discovery ku tidak memberikan reaksiku. Atau mungkin level Discovery ku tidak cukup tinggi untuk memberikan reaksi?"
Discovery adalah Sense tambahan yang memampukan untuk merasakan objek tersembunyi dan semacamnya, itulah maksudku. Di perpustakaan, tidak ada hal semacam itu. Ada kemungkinan sesuatu akan ditambahkan di update yang akan datang, tapi itu masih tidak diketahui.
"Sayang sekali. Tapi aku berhasil masuk ke dalamnya kemarin."
"Serius?"
"Yah, kau akan mengerti begitu kau datang."
Dengan begitu, kami menuju ke perpustakaan bersama-sama. Pada waktu seperti ini, pintu masuknya seharusnya tutup…ya 'kan?
"Hei, kenapa ini terbukan? Pintu ini."
"Tidak mungkin kita bisa memasukinya kalau tertutup, 'kan."
"Tidak, tapi bukannya tertutup di sore hari…"
"Oh, selain waktu tutup, kau bebas untuk masuk dan keluar. Tapi, kalau kau mencoba untuk mengeluarkan buku dari perpustakaan, kau akan dipaksa membayar denda. Sia-sia melawan."
"Apa-apaan itu? Menyeramkan."
"Yah, ini adalah sistem dasar. Tidak masalah kalau kau melarikan diri keluar tanpa melakukan apapun."
"Itu terdengar semakin menyeramkan…"
Karena aku punya Hawk Eyes, aku dapat melihat dalam gelap, tapi ada suasana tertentu di perpustakaan saat malam hari. Taku mengeluarkan sebuah lentera dari inventory dan menyalakannya.
Dan, menghadap rak buku di bagian terdalam, saat aku meneka dengan kuat rak buku kedua——
"Sebuah rak buku yang berputar, ini kediaman ninja atau apa? Terlebih lagi, selama siang hari, Sense Discovery tidak bereaksi, dan sekarang dapat dilihat dengan jelas."
"Untuk memasukinya dibatasi dari pukul 8 malam setelah jam tutup sampai pukul 4 pagi di pagi hari. Kalau entah bagaimana kau terjebak di dalamnya, kau akan secara paksa dipindahkan dan dikirim ke luar perpustakaan."
"Hmm. Kenapa begitu?"
"Saat aku mencoba berbagai cara yang membuatku menghabiskan waktu semalaman, aku dipindahkan."
Jadi karena itu dia terlihat begitu mengantuk. Hei, kalau Taku tidak dapat menyelesaikannya, aku penasaran apa yang ada di dalamnya. Aku merasa gemetar sedikit.
Dan saat aku melirik ke dalam lewat pintu masuk rak berputar itu, aku melihat tangga spiral yang menuju ke bawah tanah.
"…hei, apakah itu ruang bawah tanah?"
"Siapa yang tahu, ayo."
"Entah kenapa, aku punya firasat buruk."
Di tempat di mana cahaya bulan tidak mencapainya, satu-satunya sumber cahaya ruang bawah tanah itu adalah lentera. Taku dan aku berjalan menuruni tangga. Dan setelah kami masuk sampai ke tingkat tertentu dan meninggalkan tangga, suasananya berubah.
Udara terasa berdebu dan dingin.
"Entah kenapa, rasanya menyeramkan dan aku tidak menyukainya…"
"Benar. Aku juga berpikir begitu. Apa yang kuperiksa kemarin sampai ke pintu masuk ini."
Aku segera berbalik ke kanan dan mencoba berlari kembali ke arah aku datang, tapi bahuku ditangkap oleh Taku dan aku gagal.
"Tidak perlu merasa setakut itu, 'kan."
"Lepaskan aku! Aku punya firasat buruk soal ini!"
"Yah, kau penting untukku sayangnya."
Taku berkata demikian tanpa keraguan, tapi aku tidak ada niat untuk diseret ke tempat dengan suasana menyeramkan seperti ini. Tidak, terima kasih.
"Aku akan pulang. Uuu, ayo segera kembali ke Atelier."
"Menyerahlah, juga—"
Aku tidak mendengarkan apa yang Taku katakan untuk menghentikanku sampai akhir dan kembali ke tangga spiral. Dia sedang memegang lentera, tapi karena aku memiliki kemampuan penglihatan malam Hawk Eyes aku dapat kembali tanpa masalah. Akan tetapi, segalanya terlihat tidak jelas, kabur dan tak berwarna.
Saat aku menuju ke tangga, Taku mengikutiku dari belakang. Saat aku ke situ, di sana…
"Ehh, ah—"
Di depan tangga spiral terdapat sebuah dinding, jalan yang tadi kami jalani telah tertutup.
Taku menghampiriku dari belakang, mengatakan kelanjutan dari kalimat yang tidak kudengarkan sebelumnya.
"Juga— itu mustahil karena pintu masuknya dihalangi dinding."
Yang benar saja. Aku mencoba menyentuh dinding batu yang menutupi tangga, memukulnya. Benda itu tidak bergerak sedikit pun saat aku mendorongnya.
Saat aku mengambil beberapa langkah mundur dari dinding, Taku memanggilku.
"Sekarang, ayo kembali dan menelusuri ruang bawang tanah perpustakaan."
"Kenapa kau sepertinya bersenang-senang?"
Merasa suram karena suasana menyeramkan, aku menghela nafas, dan saat aku mencoba untuk menuruni tangga, sebuah cahaya muncul dari dinding di belakangku.
Saat aku melihat ke belakang, melintasi dinding ada sebuah party yang datang kemari.
"..ah, eh? M-Myu? Ke-kenapa——"
"Ahh…kita ketahuan! Semuanya sembunyi! Sembunyi!"
Kenapa kau ada di sini? Sebelum aku berkata begitu, Myu melepaskan sebuah bola cahaya dari jarinya, meyilaukanku. Sudah terlambat untuk sembunyi! Lagipula, tidak ada tempat untuk sembunyi di tangga spiral ini!
Saat aku mengangkat tangan untuk menghalangi cahaya, mata Taku beradaptasi terhadap hal itu dan dia menanyai Myu pertanyaan yang sama denganku.
"Eh? Myu dan yang lainnya. Kebetulan sekali. Tidak mungkin, apakah kalian membuntuti kami?"
Meskipun Taku berkata seakan sedang mencandai mereka, bahu beberapa anggota party Myu gemetar. Melihat reaksi mereka, saat mataku jadi terbiasa dengan cahaya, aku menatap Myu lekat-lekat. Meskipun aku tidak bertanya, dia mulai membuat alasan.
"Tidak, itu karena, kalau Taku-san dan Onee-chan pergi berduaan saja, sesuatu akan terjadi! Itulah yang intuisiku katakan."
"Maafkan aku, aku sudah mencoba menghentikan dia."
Lucato mengalihkan arah tatapan matanya dan meminta maaf. Yah, tidak ada cara lain kalau Myu sudah bersikap keras kepala, tapi sepertinya di tidak begitu menghentikannya. Pikirku.
"Yah, menjelajahlah semau kalian. Aku akan pulang."
"Kenapa! Setelah berusaha keras mengikuti, aku ingin pergi dengan Onee-chan!"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Malahan, aku akan log out dan melarikan diri sekarang!"
Aku benar-benar tidak ingin pergi, tapi Myu mencengkeram tanganku, tidak membiarkanku pergi. Melihat situasi ini, napas Rirei menjadi kasar mencurigakan yang membuatku ingin menukasnya.
"Kenapa Yun-san begitu menentangnya?"
Kenapa, itulah yang Lucato tanyakan pada Taku.
"Yun takut dengan hantu dan semacamnya."
"Haa?"
Lucato memiringkan kepalanya seakan dia tidak benar-benar mengerti itu, Hino dan Toutobi menyahuti dengan "jadi monster tipe undead seperti yang ada di rumah hantu muncul di sini" yang sangat akurat.
"Ayolah, itu tidak akan menakutkan dengan semua orang di sini! Tidak apa-apa, tidak apa-apa."
"Haa, ya ampun. Kenapa jadi begini?"
Aku menghela nafas. Aku ingin berteriak pada Taku yang melibatkanku dalam hal semacam itu, tapi aku merasa bersyukur karena Myu dan yang lainnya muncul dan ikut serta. Dengan hanya Taku dan aku, rasanya akan menakutkan, tapi kalau Myu di sini maka suasananya akan lebih cerah dan ada sesuatu untuk ditertawakn nanti.
·
Saat kami menuruni tangga, sebuah pengumuman quest mendadak disampaikan pada setiap orang.

Quest : Dapatkan Harta Ruang Bawah Tanah Perpustakaan

Kami berdiri depan pintu masuk ruang bawah tanah perpustakaan. Sepertinya ada syarat untuk quest tersembunyi ini. Myu dan yang lainnya sepertinya ingin melakukan petualangan untuk menjelajahinya, tapi aku tidak merasa  ingin melakukannya.
Saat kami semakin masuk dan semuanya menerima quest, aku menghela nafas.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk lolos? Juga, apa kau butuhkan dariku?"
"Daripada harta, itu adalah meloloskan diri untukmu, ya. Apakah kau bisa membaca ini dengan Linguistic? Kau seharusnya bisa."
Sambil berkata begitu, Taku menunjuk pada huruf-huruf yang terukir pada dinding batu di pintu masuk.
Myu dan yang lainnya melihatnya, tapi karena mereka tidak punya Sense yang berkaitan, mereka memiringkan kepala kebingungan.
"Umm… Kembalikan ke tempatnya dengan warna yang tepat katanya."
"Jadi seperti itu ternyata. Sederhananya, ini adalah petunjuk untuk menyelesaikannya. Berarti, temukan ketidakcocokkan di rak buku dan kembalikan ke rak buku yang tepat."
Oh, aku mengerti. Jadi kita harus mencari sebuah buku di rak yang salah dan kembalikan ke tempat buku itu seharusnya berada maksudnya. kemudian, Taku menunjuk pada beberapa tempat di rak dengan buku yang hilang.
"Hei, bagaimana kau tahu soal itu meskipun tidak dapat membaca?"
"Aku menyelidikinya dengan kekuatan semata kemarin. Sekalipun aku tidak dapat membaca, aku bisa mengetahuinya mungkin karena tipe quest yang memerlukanmu untuk menempatkan sesuatu, tapi pada akhirnya aku menemui jalan buntu."
Tidak, dapat memperkirakan sejauh itu adalah hal yang hebat. Aku ingin menukas seperti itu, tapi beberapa orang sepertinya mengerti dengan segera.
"Aku mengerti, jika buku yang tepat ditaruh di tempat yang benar raknya akan pindah dan membiarkan kita untuk maju?"
"Tepat. Lucato-chan sangat cepat mengerti."
"Terima kasih banyak."
"Grr, bahkan aku juga tahu kalau cuma itu."
Myu menggembungkan pipi ke arah Lucato yang menjawab Taku, meskipun, dia berbicara dengan senyum cerah di wajahnya. Maaf, aku tidak tahu.
"Kalau begitu, untuk maju lebih jauh, aku ingin Yun untuk membantu."
"… untuk meloloskan diri, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu."
Tempat ini memiliki banyak detail yang halus seperti jaring laba-laba di mana-mana da tumpukan debu. Untuk dapat meloloskan diri secepat mungkin dari ruang bawah tanah kelam ini, yang terbaik adalah membantu Taku. Aku tidak cocok dengan suasana mengerikan dari ruang bawah tanah perpustakaan ini.
Aku berpindah ke satu rak buku di pojok dan setelah memukan satu buku merah, aku menaruhnya di rak yang kehilangan buku merahnya.
Itu adalah tantangan yang bisa disebut tutorial dari ruang bawah tanah perpustakaan ini.
"Kalau kau bisa membedakan warna buku, kenapa kau kesulitan?"
"Aku tidak dapat menemukan buku yang hilang. Aku pasti melewatkannya."
Taku membalas pertanyanku. Jadi bahkan Taku kadang-kadang bisa gagal. Kupikir itu sangat tidak biasa dan menatap rak buku yang bergerak. Dari sini kami harus mulai mencari dengan serius.
"Jadi, dengan orang sebanyak ini, bagaimana caranya kita mengatur grup?"
Karena Myu dan kami berdua berada dalam party yang berbeda, kalau ini menjadi pertempuran kami akan mendapatkan penalti untuk serangan gabungan kalau kita tidak hati-hati.
Dan yang kami putuskan adalah aku, Taku, Lucato dan Hino, kami berempat. Sedangkan grup yang lainnya adalah Myu, Toutobi, Rirei, dan Kohaku.
Meskipun aku merasa bahwa ini berat sebelah dalam hal kekuatan tempur…
"Aku ingin tetap bersama dengan Yun-san. Juga, aku ingin orang tertentu untuk bersama kita. Ah kita tidak perlu laki-laki, jadi Taku-san bisa pergi menjauh ke mana saja."
"Rirei, ngomong egois apaan sih, dengan tampang serius begitu!"
"Aku tidak mau! Bagian Yun selalu ada hal-hal yang terjadi! Fufufu, aku akan beruntung melihat situasi yang mesum!"
Aku penasaran bayangan seperti yang Rirei miliki tentang aku. Tapi aku terlalu takut untuk bertanya.
Dan Kohaku menyeret Rirei sepanjang jalan ke bagian terdalam perpustakaan. Setelah itu Myu menyusul dan pada akhirnya aku mengucapkan selamat jalan pada Toutobi yang sebelumnya menundukkan kepalanya dalam-dalam padaku sebelum pergi.
Aku berbalik menghadap Lucato yang tersenyum miris dan Hino.
"Sekarang, ayo kita pergi juga."
"E-ehh? Mengabaikan itu? Apakah kalian benar-benar mengabaikan tindakan Rirei?"
"Untuk kami, itu sudah biasa."
Setelah Lucato dan Hino berbicara sambil tersenyum, aku sekali lagi menyadari bahwa itu normal untuk mereka.
"Nah sekarang, ayo per——hiiii!"
Melihat sesosok hantu putih muncul sedikit di belakang Lucato dan yang lainnya, aku membeku di tempat. Semuanya menyadarinya saat hantu itu mengeluarkan suara melengking.
"Haa, jadi hantu seperti ini pun juga muncul."
"Itu benar. Saat aku terperangkap kemarin, aku tertahan sampai batas waktunya dan melihat hantu-hantu ini berkali-kali."
Saat Taku berkata begitu dengan tenang, Lucato dan Hino menatap hantu tersebut dengan minat, dan tidak lama kemudian memindahkan tatapannya padaku.
Aku, yang membeku setelah melihat hantu itu, merasa santai setelah ketegangannya hilang dan tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Yun-san. Mau bagaimana lagi kalau kau tidak biasa dengan ini."
Dikatakan seperti itu oleh Lucato, wajahku terasa panas terbakar karena malu.
"Entah kenapa, rasanya aku kalah."
Aku juga dibilang imut oleh Hino yang membuatku merasa semakin malu. Juga tatapan Taku yang melihatnya dan bersenang-senang, cengirannya benar-benar mengesalkan.
Setelah itu, kami melanjutkan memeriksa rak buku dan mencari petunjuk yang kami perlu untuk menyelesaikan quest.
Tidak ada banyak buku yang bekerja sebagai kuncinya, tapi akhirnya kami menemukan sebuah buku hijau dan menempatkannya di tempat yang seharusnya.
"Sepertinya memang sulit untuk menemukan buku yang hilang di antara banyak buku di rak-rak ini."
"Yah, setidaknya rasanya nyaman tanpa ada musuh yang muncul."
"Itu benar, karena tidak ada musuh seperti hantu putih yang kami lihat di awal, aku jadi merasa tenang.
Dan, dari waktu ke waktu kami dapat mendengar suara langkah kaki di kejauhan dan suara angin yang seperti suara hantu. Tidak, itu sudah jelas bukan suara hantu! Di tengah-tengah suasana seperti itu, sebuah suara langkah kaki mendekati kami.
Terlebih lagi, itu tidak hanya beberapa saja. Langkah kakinya ada sekitar sepuluh atau dua puluh.
"A-apa?! Suara apa itu?"
"Yun-oneechan! Kami menemukan bukunya!"
Membawa serta suara basah yang mengejar mereka, seperti pakaian basah yang saling bergesekan adalah satu grup yang bergegas melintasi ruang bawah tanah perpustakaan. Myu sedang menghampiri dengan dua buku di tangannya. Tapi apa yang menggangguku adalah hantu ungu Shadoma yang sedang mengejar mereka. Monster-monster itu memiliki mata yang bersinar merah dan sebuah mulut hitam yang muncul seperti sebuah robekan. Shadoma itu semua mengejar Myu lewat lorong sempit dan saling bertindihan. Pemandangan mereka menembus satu sama lain membuat darah terkuras dari wajahku membuatku pucat.

"Myu! Di belakangmu, belakang!"
"Oooh?! Mereka masih mengejarku!"
"…bukan waktunya untuk bersikap santai."
Toutobi menebas Shadoma yang mendekati dari belakang satu demi satu, tidak membiarkan satu pun untuk mendekat saat dia terus melindungi Rirei dan Kohaku yang merupakan penyerang garis belakang.
"Myu! Awas kau nantiii!"
Kohaku mengarahkan amarahnya pada Myu, dan Rirei melarikan diri dengan ekspresi tidak termotivasi.
"Kalau begitu, ayo sapu habis mereka. —— Light Wave!"
Sebuah gelombang cahaya dilepaskan Myu dan mendorong melintasi lorong sempit itu. Para Shadoma di bagian depan yang mengejar mereka menghilang, terhempas.
Seakan itu hanyalah ilusi sesaat.
"Myu! Apa maksudnya ini?!"
Saat aku menuntut penjelasan dari Myu, dia menyodorkan buku-buku yang ada di tangannya dan menjelaskan.
"Tidak, um. Kami menemukan kedua buku ini dan saat kami dalam perjalanan kembali untuk bergabung denganmu, kami menemukan sebuah rak buku dengan warna yang sama. Dan saat aku menaruhnya, itu ternyata adalah sebuah tiruan."
Aku tidak berpikir bahwa kalau aku menaruh buku ungu di rak buku ungu, itu akan berubah menjadi warna kuning. Myu melaporkan dengan senyum miris.
"Ngomong-ngomong, saat kau menaruh buku di rak yang salah, sekumpulan besar monster akan muncul."
"Sudah terlambat untuk mengatakannya sekarang!"
Aku melemparkan sebuah buku tebal yang kuambil dari Myu ke arah wajah Taku, tapi di menangkapnya dengan mudah.
"Ya ampun…tapi, apakah ada cara untuk membedakan mana yang buku tiruan dan yang mana yang warnanya hanya tipuan."
"Yah, cobalah sampai itu berhasil, ya 'kan!"
"…Myu, kalau kau melakukan itu, habisi mereka sebelum kembali ke tempatku berada."
"Roger‼"
*Swshh*. Myu memberi hormat dengan imut, tapi yang kurasakan hanyalah kecemasan.
Khawatir, aku mengumpulkan buku semua orang dan membaginya berdasarkan warna kemudian memeriksa judulnya. Beberapa buku bohongan tercampur. Ada buku merah dan hitam yang memiliki judul yang sama. Beberapa jilid dapat dibedakan bahkan tanpa Sense yang diperlukan berdasarkan tulisannya, tapi mustahil untuk membedakan yang judulnya salah. Kalau bukan karena Linguistic, tiruan ini akan menyebabkan kehilangan waktu yang cukup banyak.
"Setiap kali kau memasukkan buku bohongan, hantu-hantunya keluar. Mengerikan."
Aku bergumam sendiri, dan memutuskan untuk memastikan aku tidak membuat kesalahan. Aku kembali melakukan pencarian.
Aku menemukan sebuah rak dengan sebuah celah di mana sebuah buku dapat masuk dengan pas, membaca nomor judul buku dengan Linguistic dan menaruh buku yang sepertinya benar. Saat aku mengisi celah di rak tersebut, rak itu perlahan menggeser ke kiri. Sampai rak buku itu pindah, aku cemas bahwa aku telah menaruh buku tiruan, tapi sepertinya itu adalah buku yang benar dan aku menghela nafas lega.
Juga, Myu serta grupnya kembali untuk mencari di tempat lain. Meskipun aku mendengar jeritan dan suara ledakan di kejauhan, aku tidak mempedulikannya.
"Ini adalah lokasi luas lainnya."
"Tujuannya adalah untuk menemukan buku-buku di tempat ini, merepotkan sekali."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berpencar dan mencari?"
Di depan rak buku yang telah bergeser ke samping, ada sebuah labirin dengan sejumlah besar rak buku yang terpasang di dalam. Lucato meletakkan sebelah tangan di pipinya dengan kebingungan.
"Kalau begitu Taku dan aku akan mencari di sebelah kanan, Lucato, Hino, kuserahkan yang sebelah kiri pada kalian."
"Yup. Serahkan pada kami."
Kami menyerahkan pencarian di tempat luas sebelah kiri pada mereka berdua, dan bersama dengan Taku, aku pergi menyelidiki rak-rak buku di sebelah kanan. Aku menaiki tangga yang bersandar begitu saja pada sebuah lorong, dan mencari-cari di setiap sudut.
Dan kami menemukan sebuah buku kelabu gelap tergeletak berantakan di bagian atas rak.
"Pasti itu. Taku, aku akan meraihnya, jadi bisakah kau menahan tangganya?"
"Baiklah."
Aku mengambil satu pijakan pada tangga yang bersandar di rak buku itu, dan setelah memanjatinya aku meraih ke samping ke arah buku itu. Aku hampir dapat mengambilnya saat rasanya buku itu tersangkut.
"Sepertinya ini tersangkut. Tunggu sebentar."
"Hati-hati."
"Aku tahu."
Aku diperingatkan oleh Taku, tapi meskipun aku mengerahkan kekuatan pada jari-jariku untuk menarik buku tersebut, benda itu tidak terlepas. Aku merasa kesal dan memegangnya dengan kedua tangan, mencoba untuk menariknya. Saat itulah——
"?! Apa…tempat apa ini?!"
Kegelapan membentang di depan mataku. Aku merasa seakan terapung untuk sesaat, dan segera kemudian tubuhku yang berada di puncak tangga, muncul di permukaan tanah. Tingginya seharusnya beberapa lusin sentimeter, tapi tidak dapat menanggpi kejadian mendadak ini, aku terjatuh berlutut.
"Letakkan, letakkan."
Entah kenapa, setelah mengalami peristiwa klasik ini, efek kejadian ini menjadi terbalik dan tidak lagi menyeramkan.
Aku teringat pengulangan kata 'letakkan' yang terkenal lalu membalikkan badan. Pemandangan yang ada membuatku terpaku. Apa yang kulihat adalah monster tipe buku, Ghost-of-Bookyang memiliki sebaris penuh taring-taring tajam.
Dalam ruang gelap pekat, hanya bagian kepala monster buku tersebut yang terus bicara "Letakkan, letakkan. Letakkan bukunya.". kupikir itu sangat tidak masuk akal. Tapi kalau hanya itu saja, maka akan bagus. Lusinan monster mulai menyerangku berbondong-bondong. Yang kulakukan adalah —— melarikan diri untuk saat ini.
"U-uwaAAaaAaaa——"
Itu sangatlah menakutkan. Berbeda dengan rasa takut pada hantu dan hal-hal spiritual, itu adalah rasa takut terhadap suatu hal yang lebih kacau melampaui pemahaman manusia yang membuatku melarikan diri.
"Enchant —— Speed."
Sepertinya aku dapat menggunakan speed enchant di tempat misterius ini. Akan tetapi, monster-monster yang kelihatannya masih jauh perlahan mendekatiku.
"Apa ini! Apa-apaan ini sebenarnya!"
Tidak merasa malu ataupun peduli dengan seperti apa aku terlihat, aku terus berlari melintasi kegelapan. Aku bertanya-tanya sudah berapa lamakah ini. Kurasa aku sudah melarikan diri cukup jauh. Satu-satunya hal yang menjawabku adalah jantungku yang berdegup kencang karena ketakutan dikejar-kejar. Suaranya beresonansi dengan menyakitkan di telingaku.
Dan saat aku berbalik untuk melihat ke belakang —— monster buku itu membuka mulutnya lebar-lebar dan ——
"——Yun!"
"——Haa?!"
Namaku dipanggil, dan aku tiba-tiba ditarik kembali ke kenyataan. Buku yang kutarik,  tergelincir.
Buku yang ditarik dengan momentum kuat itu terbuka lebar, halaman-halaman di dalamnya berwarna gelap pekat dan dari ruang gelap halaman itu, Ghost-of-Book yang telah mengejar-ngejarku melompat keluar.
Seakan pertunjukkan mimpi buruk yang kulihat sebelumnya sedang berlanjut di depan mataku.
"Yun! Cih, seekor monster juga."
Dengan momentum setelah menarik buku itu, postur tubuh dan keseimbanganku berantakan, dan aku mengapung di udara ke belakang. Ghost-of-Book yang melompat keluar itu menari di udara, dan Taku melempar pedangnya ke udara untuk merobohkannya.
Aku merasa tubuhku terjatuh dari tangga dalam gerak lambat, dan aku dapat melihat bahwa aku mencengkeram dengan benar buku itu dengan kedua tanganku. Baguslah, bukunya akhirnya lepas. Berpikir sesuatu yang tidak pada tempatnya itu, aku siap untuk guncangannya.
"——?‼"
Tentunya, ada sebuah benturan. Tapi sepertinya punggungku menabrak rak buku di belakang, dan sebuah suara tumpul dari sesuatu terdengar meredam guncangannya. Aku tidak merasakan sakit apapun di belakangku.
"Itu sakit… Yun, kau tidak apa-apa?"
"Y-yeah, kurasa aku tidak apa-apa?"
"Apa yang terjadi? Aku mencoba memanggilmu, tapi tidak ada balasan sama sekali."
"…Taku, berapa lama aku bertingkah aneh?"
"Sekitar sepuluh detik?"
Waktu yang kualami dan waktu yang sesungguhnya berbeda. Itu lebih seperti sebuah lamunan, tidak, memikirkan waktu yang dihabiskan dalam ruang mimpi buruk itu hanya sepuluh detik…
"Yun, apa kau benar-benar tidak apa-apa?"
"Ah, ya. Aku tadi ditarik ke dalam quest tersembunyi dan terkejut, hanya itu."
Mungkin, ruang gelap pekat itu waktunya memanjang seperti saat event perkemahan musim panas. Apa yang ditransfer ke area lain itu adalah kesadaranku, meninggalkan tubuh karakterku tetap berada di tempatnya. Dan saat hantu buku itu mendekati kesadaranku yang ditempatkan kembali dalam karakter, hantu itu kemudian muncul keluar.
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diriku. Saat kurasa jantungku melambat, aku mengambil buku yang tergelincir dengan satu tangan.
"Yun-san, Taku-san, kalian tidak apa-apa?"
Setelah mendengar kami terjatuh dan menyebabkan keributan, Lucato dan Hino bergegas dari antara rak buku menuju tempat kami. Melihat kami dalam keadaan kami saat ini, mereka dengan cepat mengalihkan mata mereka. Aku merasa wajahku jadi memerah.
"Y-Yun-san, juga Taku-san. Um, ba-bagaimana mengatakannya…"
Saat Lucato berkata dengan ragu-ragu, aku memeriksa keadaanku sendiri dan melihat bahwa pada saat aku jatuh, Taku telah memeluk tubuhku dari belakang dan aku sedang mengangkat kedua tanganku. Sebelah tangan Taku memeluk tubuhku di bagian dada, dan yang lainnya sedang menopang bokongku. Aku seorang laki-laki, tapi karena tubuhku mendapatkan modifikasi feminin, karakter OSOku memiliki bagian-bagian yang membulat dan menambahkan semacam kelembutan di situ. Dan di atas semuanya itu, aku memiliki perasaan malu. Dalam sekejap aku menjauhkan tangan Taku dan berdiri.
"Taku, meskipun aku merasa bersyukur karena kau menolongku, tapi bagian mana yang kau sentuh?"
"Maaf. Tapi karena keseimbanganmu hancur saat di udara, aku tidak dapat menangkapmu dengan baik."
Taku berdiri, mengkhawatirkan punggungnya yang terbentur, dan pergi untuk mengambil kembali long sword yang dia lemparkan untuk mengalahkan monster yang terbang tadi.
Aku membalikkan badan dari Taku, merasa wajahku terbakar hebat, dan mendekap buku yang tergelincir tadi.
"Ya ampun, menyentuhku di tempat yang aneh. Sial! Orang-orang melihatnya."
Gumamanku sepertinya tidak mencapai telinga Taku, tapi Lucato mendengarnya. Dia semakin bersemu merah karena cemas, dan bergumam "jadi tidak masalah kalau orang-orang tidak melihatnya". Tidak, itu juga salah. Hino bergantian antara melihatku dan Taku, kemudian aku merasa sepertinya mendengar suaranya yang sedang menelan ludah.
"Ayo, kita sudah selesai menyelidik di sini. Ayo lanjutkan."
Bersikap seakan tidak ada apa pun yang terjadi, Taku pergi lebih dulu. Sebenarnya, karena Taku dan aku sama-sama lelaki, tidak ada apa pun yang terjadi. Aahh! Aku memikirkan hal-hal yang aneh. Aku menggeleng-gelengkan kepala saat itu juga untuk mengenyahkan pikiran tersebut.
Setelah itu, pencarian di ruang bawah tanah perpustakaan itu dilanjutkan. Ada seekor monster buku yang melompat keluar dari dinding rak buku, sebuah kunci buku yang diperlukan untuk melanjutkan dipegang oleh kerangka yang terbaring dan tiba-tiba menyambar lengan kami. Ada banyak hal yang berkaitan dengan rumah hantu. Di depan kami ada Myu dan yang lainnya yang melanjutkan dengan acuh tak acuh. Taku juga, saat dia dicengkeram oleh kerangka, dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dan dengan tatapan dingin yang diarahkan pada objek tak hidup, dia membelah tengkoraknya.
Dan meskipun menemukan beberapa tiruan, kami akhirnya sampai di bagian terdalam yang terdapat dua buku.
"Jadi inilah bagian terdalamnya. Hei, ada tangga di belakangnya, bisakah aku kembali?"
"Sebelum itu, ada sebuah alas tumpuan di sini. Kira perlu untuk memeriksanya dulu."
Meskipun dia mengusulkan itu, aku adalah satu-satunya orang yang dapat memeriksanya. Aku menyusuri kalimat yang diukir di sepanjang pilar persegi panjang itu dengan sebuah jari.
"…Buku yang emas adalah harta karun ilmu pengetahuan. Buku yang perak adalah harta karun untuk mengetahui. Pilihlah salah satu dari kedua buku itu.Begitulah. Yah, ada dua buku yang tersisa.
Buku yang Taku pegang adalah buku emas dengan huruf merah tertulis di atasnya. Dan Myu sedang membawa sebuah buku biru perak dengan huruf berwarna biru. Kedua buku berukuran sama.
"Jadi, yang mana yang akan kita taruh?"
Sepertinya kami akan mendapatkan sebuah hadiah jika kami menaruh buku di atasnya. Meskipun party yang akan mendapatkan hadiah akan berbeda tergantung dari buku yang kami pilih, dan dia bertanya buku manakah yang akan diambil. Aku sendiri, diundang dalam pencarian tempat ini oleh Taku dan hanya ingin pergi secepat mungkin.
"Hmm. Aku tidak begitu peduli, aku akan menyerahkan hak ini pada Myu."
"Benarkah?! Onee-chan!"
"Yun, kau tidak merasa keberatan dengan itu?"
"Kita bisa datang saja ke sini lagi. Berikutnya, kita bisa memeriksa harta karun yang satunya."
Pada saat itu, bantu aku, kata Taku. Pergi saja sendiri, aku ingin berkata begitu.
"Myu-chan, yang mana yang kau pilih?"
"Hmm. Kalau begitu yang perak."
Tidak seorang pun yang keberatan, dan Myu menaruh buku itu di atas tumpuan. Dia mengambil satu langkah mundur, dan ——
"Ooh?! Alas tumpuannya bergerak."
Tumpuan dengan buku di atasnya itu merosot turun, dan sebagai gantinya sebuah alas tumpuan dengan benda lain di atasnya muncul. Itu terlihat seperti kristal berukuran bola sepak. Jelas ada tiga item yang terdaftar sebagai harta untuk mengetahui.
Kristal itu mungkin adalah item tambahan untuk meramal atau sihir. Pada saat itu, kami tidak tahu apa kegunaannya.
"Hmm. Hadiahnya tidak tertuju pada party mana pun?"
"Tidak, bahkan sekalipun kau menanyaiku, aku tidak tahu."
"Tapi kalau jumlahnya ada banyak, kita bisa membaginya."
"Tidak, karena aku tidak membutuhkannya, Yun dan party Myu bisa membaginya antar kalian berdua."
"Aku sama dengan Taku dan tidak membutuhkannya…"
"Tidak! Onee-chan harus mengambilnya! Ini karena Onee-chan berada di sini maka kami mendapatkannya! Kalau kau tidak mengambilnya, aku tidak membiarkanmu keluar dari ruang bawah tanah perpustakaan ini!"
"Kenapa malah jadi mengancam… haa, baiklah."
Karena Taku menolah hadiahnya, aku dan party Myu berdiskusi bagaimana membagi ketiga kristal tersebut. Karena aku tidak masalah dengan satu buah saja, hasilnya adalah party Myu akan membagi dua sisanya di antara mereka masing-masing——
Pada akhirnya, Myu mengambil satu, dan yang lain diberikan pada Toutobi.
"Grr, berkat Linguistic Onee-chan kami mendapatkan ini. Dia seharusnya meminta lebih banyak."
"Aku tidak masalah hanya mendapatkan satu. Juga, bukan berarti kita tidak bisa mendapatkannya lagi, jadi patuh sajalah dan ambil."
Tidak puas dengan pembagiannya, Myu mencoba untuk memberikan bagian hadiahnya padaku, tapi aku memberikan dia alasan yang bagus kenapa menolaknya, dan terus bersikap menghindar.
Myu berkata ini berkat Sense Linguisticku sehingga kami mendapatkannya, tapi ada hal-hal yang tidak bisa kulakukan sendiri. Karena itulah, kristal tersebut seharusnya menjadi hadiah Myu.
Dan dengan demikian, malam pencarian ruang bawah tanah perpustakaan berakhir.
Quest untuk mencari ruang bawah perpustakaan, adalah jenis yang terbatas untuk dilakukan satu player sekali sehari.
Terlebih lagi, setelah beberapa lama, informasi tentang quest di dalam kota mulai menyebar. Apakah itu petarung atau pengrajin, jumlah orang yang mengunjungi perpustakaan di malam hari meningkat. Mungkin ingin merasakan suasana rumah hantu…
Yah, karena aku lemah terhadap hantu dan semacamnya, aku tidak ada niat untuk terlibat dengan hal itu lagi.

Only Sense Online Jilid 3 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.