10 Juli 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XXVII



PERENCANAAN

Bagian Pertama 
Permukaan langit terlihat gelap, pertanda hujan deras disertai badai akan datang menghantam dataran kota Berlin. Langit yang hitam seakan membenarkan kemurkaan dua keturunan raja iblis itu, Keisha dan Anggela.

Semua orang yang terlibat di sana terlihat menatap tajam Anggela beserta Kakaknya dari bawah. Wajah mereka dihiasi kekhawatiran yang amat dalam.

“Asha, Alysha, Gramior, Fie, Jeremy dan Lily kalian bisa berlindung disekitar sini. Kalian tidak perlu ikut bertarung,” jelas Halsy sambil terus menatap tajam Anggela.

“Tunggu, Kak! Aku bisa bertarung, biarkan aku ikut –“

“Diamlah Alysha!!”

“…..” Alysha terdiam ketakutan menundukkan kepala. Tubuhnya mulai bergemetar.

“El …, apa Evelyn tak apa ikut bertarung dengan kita?” Halsy melirik khawatir Evelyn yang baru saja sadar.

Berbeda dengan yang lainnya yang menatap tajam Anggela dan Keisha. Evelyn terlihat menatap tajam Kakaknya sendiri, wajahnya terlihat menahan murka. Ingatan tentan insiden pembantaian keluarga Skyline terlihat telah kembali padanya.

“Kenapa …?! Kenapa Kakak melakukan itu?!” geram kesal Evelyn. Dia terlihat menangis kesal menatap Kakaknya tersebut.

“Putri Evelyn …?” Savila terlihat kebingungan.

“Aku tau kamu sangat membenci Kakak sekarang. Tapi tolong tahan amarahmu sebentar, kita harus fokus menghentikan Anggela dan Kakaknya.”

“……” Evelyn hanya menatap tajam sang Kakak.

“Jadi Halsy, apa kamu menyesali perbuatanm –“ senyum Herliana berjalan menghampiri sahabatnya.

“Herliana, ini ‘kah waktu yang tepat untuk mencemoohiku?!”

“….” Herliana hanya memalingkan wajahnya yang kesal.

“Jadi, bagaimana rencana kita?” lanjutnya bertanya.

Halsy melihat ke belakang, wajahnya terlihat khawatir karena melihat rasa saling ketidakpercayaan dalam kelompoknya.

Evelyn terlihat tidak mau akur dengan Kakaknya. Serraph dan Keina terlihat menatap tajam satu sama lain seakan enggan untuk bekerja sama. Dan beberapa orang seperti Alysha, Fie dan yang lainnya terlihat masih cukup canggung untuk bekerja sama dengan Savila yang membunuh sahabatnya.

“Kelompok kita terpecah belah, Halsy.” El terlihat khawatir melirik Evelyn dan yang lainnya.

“Kamu juga dalam kelompok yang terpecah belah itu,” senyum Herliana memejamkan mata.

Halsy mulai melayang terbang, bukan karena kemampuan gravitasi ataupun kemampuan floating air milik Fie. Dia hanya melayang seperti mahluk ghaib yang sering dikenal dengan sebutan hantu.

Setelah itu dia mulai berteriak tegas di sekitarnya.

“Dengarkan aku, semuanya!! Aku tau jika aku tak layak berbicara pada kalian, tapi dengarkan aku!! Hanya untuk saat ini, lupakan permasalahan kalian dengan orang-orang di sekitar kalian. Kita disini tidak untuk bermain! Nyawa kita benar-benar menjadi taruhannya!! Siapa saja yang tidak memiliki keyakinan untuk bekerja sama dengan orang-orang di samping atau sekitarnya, lebih baik kalian bilang padaku saat ini juga!!”

“……” Semua orang terdiam khawatir menatap Halsy. Setelah itu mereka mulai melirik khawatir orang-orang yang kurang akur dengan mereka.

“Benar yang dikatakan Halsy, ini bukan waktunya membahas masalah pribadi kalian! Nasib dunia ini benar-benar ditangan kita sekarang!” Heliasha terlihat sadarkan diri, dia berjalan menghampiri Halsy.

“….” Halsy hanya tersenyum melihat Kakaknya tersebut.

“Baiklah Serraph, untuk saat ini kita akan bekerja sama dulu,”jelas Keina memejamkan mata.

“Aku setuju.”

“Kak, setelah pertempuran ini …, Kakak harus menjelaskan perbuatan Kakak waktu itu,” Evelyn menatap tajam El.

“Ya.”

“…..” Alysha tersenyum melihat Fie dan yang lainnya, dia seolah memberi isyarat untuk melupakan sementara tentang insiden Anggelina. Setelah itu mereka berjalan menghampiri Savila.

“Mohon kerja samanya …,” senyum Alysha.

“Y-ya aku juga,” senyum Savila.

Untuk sesaat suasana tegang yang di timbulkan oleh perselisihan mulai membaik, mereka semua terlihat menatap Halsy yang mulai melayang turun ke bawah.

“Jadi bagaimana rencananya, Halsy?” tanya Herliana.

“Baiklah, aku akan menjelaskan rencana ini hanya sekali. Saat ini juga kita akan langsung membagi tiga tim untuk menghentikan Anggela dan Kakaknya. Attacker, Defender, dan Supporter.”

Supporter, merupakan barisan paling belakang. Kalian tidak perlu atau bahkan sangat tidak dianjurkan untuk ikut serta dalam pertempuran langsung. Kalian bisa memberikan serangan jarak jauh maupun buff pada bagian Attacker dan Defender,” jelas El sambil melihat sekitarnya.

“Evelyn, Herliana, Fie, Silica, dan Asha kalian termasuk dalam bagian ini,” lanjutnya.

“Kemudian tim Defender, tugas kalian melindungi tim Supporter dan jika memungkinkan membantu tim attacker. Tapi ingat, tugas utama kalian adalah melindungi tim supporter,” jelas Halsy memejamkan mata.

“Alysha, Savila,Gramior, Lily, dan Jeremy. Kalian masuk dalam tim ini, lindungi tim supporter dengan kemampuan penuh kalian!!” lanjut Halsy terlihat sangat serius.

“YA!!” teriak orang-orang yang dipanggil barusan. Alysha terlihat tersenyum puas melihat Kakak keduanya.

“Dan ini yang terpenting, tim Attacker. Tanpa kujelaskan kalian pasti sudah paham apa tugas dari tim ini. Kalian akan menyerang langsung Anggela dan Kakaknya, kalian akan terjun ke barisan paling depan untuk menghentikan Anggela dan Kakaknya.”

“……!!”  suasana tegang terasa kembali saat Halsy menjelaskan rencananya dengan keseriusan yang tinggi. Atmosfir di sekitarnya sungguh terasa berat.

“Tim ini dibagai dua, aku menyebutnya Alpha dan Beta. Tim Alpha, tolong targetkan Anggela. Sedangkan tim Beta hentikan Keisha.”

“Lalu siapa saja yang termasuk tim Alpha dan Beta itu?” senyum Herliana memejamkan mata.

“El, Serraph, Keina, Heliasha dan Haikal! Kalian masuk dalam tim Alpha, sedangkan tim Beta sisanya.”

“Tu-tunggu dulu!! Maksudmu kamu sendirian melawan Keisha?!” Asha terlihat sangat khawatir.

“Iya Kak, itu terlalu ceroboh!!” Alysha terlihat cukup ketakutan.

“Alysha, menurutmu siapa aku ini?” kesal Halsy sambil melayang terbang meninggalkan mereka. Dia memasuki pertempuran lebih awal melawan Keisha.

“Baiklah semuanya, kita mulai rencananya. Semoga Tuhan menyertai keselamatan kita,” senyum El pada sekitarnya.

“……!!” semuanya semakin terdiam khawatir, suasana tegang benar-benar terasa saat itu.

“Operasi penyelamatan ini kita mulai!! Lekas pergi ke posisi kalian!!!”lanjut El berteriak keras.

“YA!!” teriak semuanya yang membuat ketegangan semakin bertambah.

***

Bagian Kedua 
DREDEDDDD!!!!! DOR DOR DOR!! BOAM! BOAM!!

JLEGARR JLEGARR!!

Tembakan tank baja, tembakan senjata api terus dikeluarkan oleh pasukan pertahanan negara. Tank baja dan beberapa helikopter telihat berusaha keras mempertahankan wilayah perbatasan bagian selatan.

Puluhan bahkan ratusan mayat hidup yang dibangkitkan Keisha terus berdatangan seakan berniat menyebarkan kekacauan lebih luas.

Beberapa monster seperti Ghoul, Giant, bahkan Minotaour terlihat berjalan diantara mereka. Para monster itu, khususnya Giant dan Minotour berdiri tegap sulit dirobohkan.

“Hancurkan mereka!! Hentikan mereka!! Apapun yang terjadi jangan biarkan mereka menerobos perbatasan!” teriak sang komandan pasukan berwibawa. Wajahnya dipenuhi keseriusan untuk melindungi negaranya.

“SI-SIAPP KOMANDAN!!!” teriak para prajurit. Meski wajah mereka terlihat ketakutan, mereka tetap memberanikan diri untuk menghentikan para mayat hidup itu.

Giant tersebut mulai berlari kencang, wajahnya terlihat murka karena mendapatkan tembakan meriam tank baja secara telak. Tangan kanannya terlihat hancur karena tembakan itu.

“Tembak! Tembak monster itu!!” teriak komandan pasukan yang khawatir. Tapi dalam sekejap Giant itu melompat tinggi dan sudah berada di dekat pasukan pertahanan.

Giant tersebut mengankat tangan kirinya, dia berniat melayangkan pukulannya. Wajah para prajurit terlihat sangat ketakutan. Beberapa bahkan ada yang menangis karena tau akan ajalnya yang mendekat.

Tapi, akar maha besar langsung muncul dari tanah. Akar berwarna coklat tua itu lekas melilit Giant hingga semua pergerakannya terhenti. Tidak hanya itu, akar itu mulai menyebar ke sekitarnya lebih tepatnya ke arah para mayat hidup.

Akar itu mengikat para monster besar dan menusuk mayat hidup yang berjalan menghampiri pasukan.

Kōkina rūtsufasunā,” gumam Arisa yang berada di belakang pasukan. Dia terlihat menempelkan kedua tangannya pada tanah. Wajahnya terlihat khawatir kelelahan.

“Sekarang!! Hancurkan para monster itu!!” teriak seorang lelaki berambut hitam di belakang Arisa. Puluhan Kineser terlihat berlari memasuki pertempuran, membantu pasukan pertahanan untuk mempertahankan perbatasan.

Suasana terasa sangat tegang. Semua orang memasang wajah kekhawatiran yang amat dalam.

Ja-jadi seperti ini kemampuan putri alam itu …, Hahanaru Shizen, Arisa Yuuki. Sungguh kami tertolong dengan adanya Kineser cukup kuat sepertinya di sini,” lelaki tersebut bergumam khawatir melirik Arisa yang terlihat kelelahan. Setelah itu dia berjalan cepat dan berlari memasuki pertempuran.

“Idian, aku serahkan barisan depan padamu. Selain Alcot, kamulah Kineser yang cukup kuat di serikat Ignite yang bisa aku andalkan.”

“Aaah,” senyum lelaki bernama Idian itu, dia menganggukkan kepalanya secara perlahan sambil terus berlari memasuki pertempuran. Beberapa pedang berwarna kuning cukup tua mulai melayang disekitarnya, pedang yang terbentuk oleh butiran debu disekitarnya.

Pengguna Koniokinesis, Idian Dobrota. Lelaki yang mendapat julukan Poeira Principe …,” senyum Arisa bergumam dalam hati, dia melirik Idian yang berlari menjauhinya.

Lalu jauh dari tempat Arisa Yuuki, di perbatasan bagian utara. Terlihat tebasan api yang besar, tebasan yang membakar mayat hidup dalam sekejap.

Tapi setelah tebasan api itu menghilang, terlihat Minotour yang berlari cepat ke arahnya. Monster itu berniat menebas lelaki itu dengan kampak besarnya

“Alicia, cover!!” teriak lelaki berambut hitam itu, Kei Anatasha. Ya, dia adalah suami Shalsabilla dan Ayah kandung dari Asha beserta adiknya. Wajahnya terlihat khawatir melirik seorang gadis di belakangnya.

“Sudah kubilang jangan sok akrab denganku!” geram seorang gadis manis yang masih muda. Rambutnya pendek berwarna kuning cerah dengan kedua mata yang berwarna biru. Dia terlihat berdiri di atas Tank baja yang kuat.

Wajahnya terlihat cemberut sambil memiringkan tubuhnya. Dia mengangkat tangan kanannya ke arah minotour yang menyerang Kei.

Freezing snow!” teriak gadis bernama Alice itu.

Dalam sekejap suhu udara disekitar minotour itu langsung menurun. Butiran salju lekas muncul disekitarnya dan pada akhirnya menumpuk di seluruh tubuh minotour itu hingga kesulitan bergerak. Pergerakannya menjadi benar-benar lambat.

Saat itulah tembakan tank baja mulai diluncurkan ke arah tubuh minotour itu, dan untuk serangan akhirnya Kei menebas kepala minotour itu dengan pedang merahnya.

SYATTT!!!

BUARRR!! WUSSHHH!!

Saat pedang tersebut memotong leher monster itu. Tubuhnya langsung mengeluarkan uap yang cukup tebal.

“Apa kau bodoh!? Jangan menebas monster itu saat suhunya masih rendah!! Pedang apimu hanya memperburuk keadaan!” kesal Alicia berteriak.

“Terima kasih komandan!” senyum Kei melihat komandan yang memberikan bantuan padanya.

“Jangan mengabaikanku!!” geram kesal Alicia.

“Maaf maaf, ahahaha!” Kei terlihat tertawa melihat Alicia.

“……” Alicia mulai melompat turun dari tank baja, wajahnya terlihat kesal melihat Kei.

Snow Aura Immunity …,” jelasnya sambil memejamkan mata, dia terus berjalan mendekati Kei. Dalam sekejap angin musim panas yang menenangkan mulai menyebar di sekitarnya, memberikan perlindungan pada orang-orang yang dia inginkan.

“Kekebalan tubuh kah?” senyum Kei sambil melihat kedua tangannya yang menjadi lebih ringan. Tubuhnya terasa kembali prima karena kemampuan Alicia.

“Dengarkan aku, Kei Antasha. Tidak peduli kau lebih tua dariku atau kau merupakan anggota keluarga terkenal. Jangan pernah mengabaikanku lagi atau aku akan membunuhmu,” kesal Alicia melirik sinis Kei.

“Baik baik,” senyum khawatir Kei.

Alicia Krasota, dia mungkin satu-satunya Kineser yang lebih kuat dari vierKineser. Putri salju tak berserikat dari negara Bulgaria dengan tipe kinesis yang cukup langka –“ gumam Kei dalam hatinya tapi langsung terdiam karena teriakan kesal Alicia.

Snowfields Choppy …!”

Hamparan salju putih yang bersih seketika muncul di belakang Kei. Menyapu bersih para mayat hidup yang berniat menyerang Kei secara mendadak.

“Perhatikan sekitarmu! Astaga, seberapa cerobohnya dirimu meski pedang merah Raiva berada di tanganmu. Apa kamu berniat menghambatku!?”

Frigokinesis, memanipulasi atau bahkan membuat salju dimanapun dia mau,” lanjut Kei tersenyum melihat Alicia. Setelah itu dia mulai berbalik dan mengibaskan pedang merahnya ke arah para mayat hidup yang kesulitan bergerak.

SLASHHH!!!

BUARRRRR!!!!

Para mayat hidup itu langsung terbakar hingga menjadi abu. Uap yang cukup tebal kembali muncul karena perbedaan suhu yang amat tinggi.

“Hmmm …,” senyum khawatir Alicia melihat kemampuan Kei.

Jadi orang ini pemegang selanjutnya dari salah satu senjata pusaka dunia, Magic Sword Raiva,” gumam Alicia dalam hatinya.

“Nah Alicia, beberapa tahun ini aku cukup penasaran denganmu,” senyum Kei melirik Alicia.

“Apa …?” Alicia mengangkat tangan kanannya ke arah mayat hidup yang berada di samping kanannya. Badai salju yang cukup kuat langsung menerpa mayat hidup yang berniat menyerang pasukan pertahanan.

DREDEDEDEDD BOAM BOAM!!

Tembakan senjata api kembali diluncurkan ke arah mayat hidup yang kesulitan bergerak karena kemampuan Alicia.

Beberapa pasukan dan komandan pasukan wilayah tersebut terlihat kagum seakan ingin berterima kasih pada gadis bernama Alicia itu.

“Kenapa kamu tidak pernah mau masuk dalam serikat guild?”

“Aku tidak suka terikat, aku sangat tidak suka tunduk pada seseorang,” jawab singkat Alicia memejamkan mata.

“Begitu …., tapi sungguh dengan ikut sertanya dirimu. Kami benar-benar tertolong, Alicia.”

“….”  Alicia hanya kembali berjalan lebih jauh memasuki pertempuran. Dia benar-benar mengabaikan perkataan Kei.

Setidaknya jawab pernyataanku,” keluh Kei memejamkan mata. Dia berjalan mengikuti Alicia yang terlihat serius bertarung.

Perbatasan bagian barat. Disana terlihat Shalsabilla yang berusaha keras membuat benteng pelindung untuk pasukan pertahanan negara. Para mayat hidup dan monster itu terlihat langsung terpental ketika memasuki area pertahanan Shalsa.

Magentic World, sudah lama aku tidak melihat pertahananmu ini, Nyonya Shalsabilla,” senyum gadis yang sebelumnya pernah bertarung dengan Anggela, Diana.

“Diana Amelia, tolong kamu bantu para Kineser di depan. Aku akan tetap disini bertahan sambil berkomunikasi dengan tiga tim lainnya.”

“Baik,” senyum Diana. Dia mulai berlari memasuki pertempuran. Air yang cukup deras mulai muncul dan menyeret para musuh ke tempat yang cukup jauh.

Saat para musuh tersebut kesulitan bergerak, tembakan senjata api mulai diluncurkan kembali oleh pasukan pertahanan negara.

DREDEDEDDD BOAM BOAM!!

DUARR !!!

“Bagus, dengan ini kita bisa melakukannya! Kita bisa mempertahankan perbatasan,” sang komandan terlihat gembira melihat pertarungan yang sesuai dengan rencana.

“Tapi Shalsabilla …, apa tak apa membiarkan suamimu dan gadis bernama Alicia itu di perbatasan utara? Mereka hanya berdua,” tanya Sang Jendral yang sebelumnya mengikuti rapat. Dia melirik khawatir Shalsa.

“Aku tidak terlalu khawatir dengan mereka. Disana Kei sudah mempunyai senjatanya, selain itu juga ….,”

“Selain itu juga?”

“Disana ada Kineser yang sangat kuat melebihi kami semua, Alicia Sang Putri Salju Bulgaria,” senyum Shalsa memejamkan mata.

“……”

“Yang aku khawatirkan sekarang adalah pertahanan di perbatasan bagian timur. Meski Alcoty dan Ai sudah didampingi beberapa Kineser, meski para pasukan elit sudah di kerahkan di sana. Perasaanku masih saja cemas karena situasi mereka.”

“Sudah kuduga kamu juga mencemaskannya. Sejujurnya aku juga khawatir karena perbatasan timur sangat dekat dengan lokasi pertarungan itu.”

“Ya, kemungkinan besar para mayat hidup disana lebih banyak dari ini. Selain itu juga bukan hal yang mustahil jika para monster mengerikan yang belum kita lihat bisa bermunculan disana.”

“Y-ya …, Mudah-mudahan saja mereka bisa mengatasin –“

Triningnggggng~

Bunyi alarm darurat mulai terdengar, panggilan untuk pemimpin pasukan terlihat berbunyi sangat keras.

“Alarm?! Kenapa bisa!? Kita hanya boleh membunyikan peringatan itu ketika kondisi sudah sangat buruk atau misi telah selesai.” Jendral terlihat terkejut.

“Dari pasukan mana itu?!” tanya Shalsa terlihat sangat khawatir.

“Pasukan pertahanan timur,” jawab salah satu prajurit.

“…..?!” semua orang terdiam terkejut, khususnya Shalsa dan Sang Jendral.

“Bi-biarkan aku yang berbicara dengan mereka …,”  Shalsa terlihat berjalan menghampiri pusat panggilan itu. Pertahanan magnetnya terlihat masih aktif.

“Jelaskan kondisi kalia –“

“Ma-Master!!” teriak Ai sangat khawatir.

“Ai, ada apa?! Apa yang terjadi disana?!” 

“It-itu, semuanya, para monster it-itu –“ Ai terlihat sangat panik.

“Tenanglah, laporkan kondisimu! Ceritakan dari awal.”

“…….”

“Ai?!”

“…..”

“Ai! –“ Shalsabila terlihat sangat khawatir karena tak ada jawaban.

“Tenanglah Nyonya Shalsa.”

“Ah, Alcot? Hah hah ….,”lega Shalsa karena mendengar jawaban.

“Biarkan aku melaporkan situasi kami.”

“Ya.”

“Sesampainya kami di perbatasan timur, kami terkejut karena tidak ada satupun mayat hidup maupun monster yang terlihat.”

“Eh …? Be-benarkah itu?!”

“Ya, karena itulah kami masuk lebih dalam ke area perkotaan. Kami mendekati lokasi pertarungan Anggela untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya –“

“Tu-tunggu!! Itu benar-benar ceroboh!! Siapa yang mengijinkan kalian untuk  -“

“Maaf itu kesalahanku,” Alcot terlihat menyesal.

“Lalu bagaimana jadinya?! Berapa korban yang jatuh dalam pasukan kalia –“

“Tidak ada, kami semua selamat. Bahkan kami tidak mengalami pertempuran sedikipun.”

“….?!”

“Dengarkan kami Nyonya Shalsa. Sesampainya di area perkotaan, kami mengetahui alasan para mayat hidup dan monster itu tidak pernah sampai ke area perbatasan.”

“Kenapa?! Apa yang terjadi dengan merek –“

“Mereka dihancurkan, mereka dibantai oleh sekelompok atau bahkan seseorang.”

“Kami melihat ratusan bahkan ribuan mayat hidup, ghoul, giant, dan Minotour tergeletak di sepanjang jalan perkotaan.”

“Si-siapa yang bisa melakukan hal itu semua?!” Shalsa terlihat sangat terkejut.

“Entahlah, aku juga tidak tau. Tapi disekitar mayat hidup itu terlihat beberapa bungkus permen yang cukup banyak. Apa kamu tau hal itu?”

“Tidak, aku juga tidak tau.”

“Begitu, itu saja laporanku …. Jadi sekarang apa yang harus kami lakukan?”

“Tetaplah bersiaga disana, jangan kendurkan pertahanan kalian.”

“Baik, tapi bagaimana dengan pembantai itu –“

“Jangan pikirkan dia, jangan mencoba mencari jejaknya, dan ....”

“Dan ?”

“Jika kamu bertemu dengannya, tolong jangan membuat masalah.”

“Aku bukan orang bodoh Nyonya.”

Titt~ panggilan pun terputus.

“…..” Shalsabilla hanya bisa tersenyum lega karena mengetahui kondisi Ai dan Alcot. Tapi dari dalam hatinya, dia masih terlihat khawatir akan berita yang baru ia dapat dari Alciot. Tentang sosok lain yang mungkin sama mengerikannya dengan Anggela dan Kakaknya.

Tidak kusangka kamu akan benar-benar menjadi Iblis, Anggela. Aku turut prihatin padamu …,” sedih Shalsabilla melihat pusat pertarungan Anggela dan yang lainnya.

***


My Dearest Jilid 2 Chapter XXVII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.