10 Juli 2016

My Dearest Jilid 2 Chapter XXVI



LIMA PERSEN

Bagian Pertama 
DREDEDEDEDEDEDDDD!!!!!

Gempa yang sangat hebat mulai melanda negara Jepang tersebut. Bukan gempa yang disebabkan oleh bumi itu sendiri, tapi gempa karena gangguan benda luar angkasa yang melesat jatuh ke arah Anggela.

Ya, The Arival Of Meteor. Kemampuan dari Keina ini terlihat mendatangkan meteor yang jatuh menghantam daratan di bumi.

Keina menundukkan kepala sambil perlahan menurunkan tangan kanannya. Semua orang terdiam terkejut melihat meteor yang akan jatuh menghantam mereka.

“Ap-apa dia sudah gila?! Apa dia benar-benar berniat meratakan dataran ini?!” Sacca terlihat kesal menatap tajam Keina.

“Aku tidak menyalahkan pendapatmu. Tapi menurutku ini bukan masalah besar mengingat siapa yang kita lawan saat ini.” Smith melirik Anggela yang terlihat mengerikan.

“Ya, lihat dia Sacca. Lelaki itu tampak tenang, dia benar-benar tidak peduli dengan meteor yang dijatuhkan ibunya,”Alex menunjuk Anggela.

Anggela hanya terdiam melirik Meteor yang datang mendekati dirinya.

Semoga ini bisa menghambatnya …,” Keina bergumam dalam hati. Dia mulai mengangkat kepalanya dan melihat Anggela yang sudah menghilang dari hadapannya.

“Eh ….?” Wajah Keina terlihat sangat terkejut.

BOOMMMM!!!!!  BUARRRRRRR!!!!!

Meski jarak meteor Keina masih berpuluh mill dari daratan di bumi. Ledakan yang sangat dahsyat mulai terdengar sangat keras dari meteor yang didatangkan Keina. Semua orang hanya terdiam terkejut melihat ledakan meteor yang sangat dahsyat itu. Semua bergemetar ketakutan melihat Anggela yang menghancurkan meteor itu seketika.

Be-berapa kecepatannya sekarang?! Mach 100? Tidak, mungkinkah lebih dari itu?! Ini benar-benar gila!! Jarak meteor masih berpuluh-puluh mill dan dia bisa menghampirinya dalam sekejap mata?!”

Pecahan meteor Keina mulai menyebar ke sebagian penjuru negara Jepang, menghancurkan perkotaan, hutan, bahkan sampai lautan.

Puluhan ratusan ribuan bahkan jutaan orang tak bersalah juga menjadi korban.

Orang-orang tersebut menangis ketakutan, berdoa meminta pertolongan, berteriak kemurkaan atas apa yang terjadi pada mereka. Tidak hanya orang yang meninggal saja, tapi orang-orang yang terluka juga cukup banyak, orang yang terjebak dalam puing-puing bangunan meminta pertolong dengan luka yang mengkhawatirkan.

“Kita ganti rencana kita. Hentikan dia apapun yang terjadi, meski kita harus memusnahkannya. Dia benar-benar sudah menjadi iblis,” Alex terlihat murka melihat tindakan Anggela.

“Ya ….,” teriak semua orang di dekatnya, wajah mereka tidak jauh berbeda dengan Alex.

Anggela masih dalam tempatnya, di atas langit dengan suhu yang amat rendah. Tekanan udara dan suhu rendah di langit menjadi bukan gangguan lagi bagi dirinya.

Dia mulai mengangkat pelan tangan kirinya ke depan. Delapan Dhrone hitam disekitarnya mulai berputar pelan mengelilinginya. Mulai bercahaya keunguan seakan bersiap untuk mengeluarkan tembakan.

Pada akhirnya delapan dhrone tersebut terdiam di setiap sudut Anggela, mengarah kebawah, dan berniat menembakkan tembakan yang menghancurkan dibawahnya.

Anggela semakin tersenyum mengerikan. Bagaikan iblis yang berniat menghancurkan dunia. Dia mulai bergumam yang tidak dimengerti oleh semua orang.

Forcelerasta …!”

Ya, sebuah pelafalan sihir.

Dari setiap dhrone milik Anggela, terlihat sebuah lambang sihir berwarna merah darah muncul di depannya.

BOAMMMM!!!!

Tembakan lasser berwarna hitam keunguan melesat jatuh ke daratan di bumi. Saat lasser tersebut melewati lambang sihir didepannya. Kecepatan, kekuatan, bahkan bentuknya lebih besar dari sebelumnya.

Daratan tempat Keina dan yang lainnya pun menjadi salah satu sasaran dari serangan Anggela yang mematikan itu. Keina dan yang lainnya terdiam terkejut melihat tembakan lasser yang melesat cepat  ke arah mereka.

Dalam hitungan detik saja sampai lasser tersebut mencapai Keina dan yang lainnya. Semua orang benar-benar ketakutan saat itu, tapi.

Peroctativilians!” teriak Herliana merentangkan tangan kirinya ke depan. Wajahnya terlihat khawatir kesal menatap Anggela.

BANGGGGG!!!!!!!!!!

Lasser besar keunguan itu menabrak dinding penghalang tak terlihat milik Herliana. Lasser tersebut terus menerus menabrak dinding pertahanan Herliana seakan mencoba menembusnya.

DREDEDED!!!

Semua orang semakin terlihat ketakutan melihat sebagian langit yang berwarna ungu kehitaman. Ya sebagian cahaya matahari tertupi oleh tembakan Anggela. Gempa karena benturan ilmu sihir Anggela dan Herliana mulai terasa sangat keras.

“Se-semuanya kumohon berkumpul di dekatku! Jika seperti ini terus tembakan Anggela bisa menerobos pertahan sihirku!” teriak Herliana khawatir.

Semua orang lekas mendekati Herliana, beberapa orang mulai menangis ketakutan.

Jangkauan pertahanan sihir Herliana mulai mengecil. Tapi pertahanan itu juga semakin kuat karena menfokuskan tingkat ketahanannya.

Kembali ke tempat Anggela. Anggela mulai merentangkan tangan kirinya hingga sejajar bahunya. Dia tersenyum menatap rendah semua mahluk di bawahnya.

Dengan sangat cepat dhrone yang sedang menembakkan lasser mulai berputar. Putaran acak yang membelah setiap daratan yang dihinggapinya.

Setelah putaran acak yang cepat itu berhenti, terlihat lasser tersebut juga berhenti dan menghilang. Beberapa detik setelahnya, muncul ‘lah ledakan maha dahsyat di bawah Anggela, ledakan yang membinasakan mahluk dibawahnya.

BOARRRRRRRR!!! BOARRRRR!! BOARRRRRRR!!!

Dataran dan lautan dari salah satu negara terkuat dibumi itu di bumi hanguskan oleh kekejaman Anggela, dihancurkan oleh kemarahan Anggela.

Orang-orang yang sebelumnya selamat dari bencana meteor jatuh dipastikan telah meninggal. Deretan mayat manusia benar-benar terlihat saat itu.

Dari derentan mayat tersebut terlihat anak perempuan yang menangis keras, memeluk boneka tanpa kepala. Wajahnya terlihat ketakutan meminta pertolongan, kedua kakinya terlihat hancur. Tubuh dan kepalanya dipenuhi luka yang cukup serius.

“Ayah Ibu!!” teriak gadis tersebut, wajahnya terlihat kesakitan menangis keras meminta pertolongan. Lalu beberapa saat kemudian, muncul ‘lah lelaki berambut kuning yang berjalan menghampiri gadis tersebut. Dia mulai mengangkat gadis tersebut. Dia merupakan lelaki yang sering bersama Halsy, Pangeran El Crystal.

“Se-sekarang kamu baik-baik saja. Aku disini sekarang.”

Wajahnya terlihat sedih menyesal melihat deretan mayat disekitarnya. Dia semakin mengepalkan tangannya seakan frustasi melihat daerah sekitarnya di bumi hanguskan.

Siapa sebenarnya gadis kecil berjubah biru itu?! Aku belum pernah melihat Kineser segila itu. Dia bukan berasal masa depan atau di masa ini. Jika saja aku tidak dihalangi olehnya, bencana mengerikan ini pasti tidak akan terjadi …”

Sedangkan kembali ke tempat Herliana dan yang lainnya. Semua semakin bergemetar ketakutan, ketakutan amat besar dari kebiadaban Anggela. Asha terlihat duduk lemas melihat sekitarnya yang diratakan dengan tanah, angkatan pertahanan negara dan teknologi canggihnya benar-benar hancur menjadi bangkai.

Anggela, apakah ini benar dirimu?! Seberapa murkanya dirimu sampai membantai orang-orang tak bersalah?! Seberapa besar kasih sayang pada adikmu hingga memiliki balas dendam yang mengerikan seperti ini?!” Herliana bergumam ketakutan, tubuhnya benar-benar terlihat bergetar ketakutan.

“Semuanya –“ teriak Savila memberikan peringatan. Tapi perkataanya tidak selesai karena mendengar benturan keras yang melewatinya.

ZWIBTT BRARKKKKKK!!!!!

“Eh?” semua orang terdiam terkejut. Mereka mulai melirik khawatir ke belakang.

Disana terlihat Sacca yang sudah terpasung di atas puing-puing bangunan. Ratusan tiang besi dari puing-puing bangunan menancap di sekujur tubuhnya. Darah merah benar-benar keluar banyak dari sekujur tubuhnya.

Sacca terlihat masih membuka matanya, tapi pandangannya seakan kosong seolah dirinya sudah meninggalkan dunia ini. Dia tidak sempat berkedip karena serangan Anggela yang sangat cepat.

“Sac …., ca?” Savila menatap kosong mayat adiknya, dia berjalan pelan menghampiri tempat Anggela dan Sacca. Kakinya benar-benar bergemetar seakan tidak mempercayai apa yang dia lihat.

“….” Anggela tersenyum mengerikan, dia berniat melakukan hal yang sama pada Savila.

“Savila kuatkan dirimu!!” teriak Smith sangat kesal, dia berniat membuka gerbang dimensi untuk menghentikan Savila, tapi.

BRUAKKK!!! CRAATTT!!!

Kepala Smith dihancurkan bagaikan bola air yang pecah oleh cengkraman Anggela. Semua orang disana semakin terdiam ketakutan, beberapa orang terlihat sangat shock melihat pembantaian itu terus menerus terjadi pada mereka, khususnya Asha.

Darah merah mulai membanjiri daerah di sekitar Smith, khususnya Alex yang berada di sampingnya. Setelah itu dalam kurun waktu kurang satu detik, Anggela kembali melancarkan serangannya.

Dia memukul keras dada Alex dengan tangan kanannya, tangan kanan yang dipenuhi banyak tegangan listrik.

BUZZT BOAM!!! CRAATTT!!!

Dada Alex seketika hancur dan bolong karena pukulan Anggela tersebut, darah merah kembali membanjiri sekitarnya, membanjiri Gramior dan yang lainnya. Suasana benar-benar sangat mencekam bagi pihak Keina dan yang lainnya.

In-ini bukan pertarungan lagi namanya, ini pembantaian!!” kesal Keina, tubuhnya masih terlihat bergemetar.

“SMITH …! AYAH …. –“ teriak Savila menangis ketakutan.

DRAGGG!! JLEB JLEB JLEB!!

Belum selesai Savila menyelesaikan perkataanya, tubuhnya sudah terlentang menyentuh tanah. Dua buah tiang besi yang cukup besar menancap di masing-masing telapak tangannya.

Anggela terlihat melayang terbang di atas Savila dengan sayap besarnya. Dia tersenyum mengerikan menatap rendah Savila yang menangis frustasi kehilangan keluarganya.

Anggela tidak langsung membunuh Savila, dia berniat menyiksa Savila sangat keji sebelum kematian datang menghampiri Savila.

Electric Needless …,” senyum Anggela mengangkat tangan kirinya.

Ratusan jarum listrik kecil mulai bermunculan dari gerbang yang dibuat oleh dhronenya.  Jarum listrik yang berwarna hitam dan berbahaya benar-benar bersiap menyerang Savila. Tapi anehnya beberapa jarum listrik itu tidak mengarah ke arah bagian vital Savila.

Anggela benar-benar serius untuk menyiksa Savila.

Semua orang termasuk Keina hanya terdiam, tubuhnya terlihat bergemetar. Dia hanya memasang wajah frustasi kesal melihat penyiksaan itu akan dilakukan. Dia yang paling tau akan bahayanya jika mencoba melawan Anggela yang saat ini.

Jika aku ikut campur sedikit saja, sudah dipastikan kalau aku akan langsung mati …”

Herliana juga ikut terdiam khawatir sambil menatap tajam Anggela yang mengerikan. Sikapnya masih terlihat bersiaga akan serangan dadakan dari teman masa kecilnya itu.

Saat Anggela berniat melancarkan serangannya, tiba-tiba dia mendapatkan pukulan keras dari seseorang yang menendang kepalanya. Dia melayang jauh menjauhi Savila, wajahnya terlihat sangat terkejut.

Saat dia masih melayang di udara, dia kembali mendapatkan pukulan. Lima bahkan delapan pukulan di sekujur tubuhnya. Seseorang yang menyamai bahkan melebihi kecepatan Anggela telah membuat Anggela kerepotan.

BRUAAGGGHHHH!!!

Anggela membentur keras tembok bangunan. Herliana dan yang lainnya sangat terkejut melihat Anggela yang tiba-tiba membentur tembok bangunan yang sangat jauh tersebut.

Bagi penglihatan Herliana dan yang lainnya, serangan bertubi-tubi yang didapatkan Anggela tidak lebih berlansung dari kejapan mata. Mereka benar-benar tidak bisa melihat pertarungan mereka.

Kamu kembalikah? Mahluk tercepat di era ini …, Pangeran El Crystal Skyline,” senyum Keina melihat lelaki berambut kuning keemasan,  dia terlihat baru muncul di hadapan Savila.

El terlihat membebaskan Savila dari siksaan Anggela. Savila hanya terdiam terkejut melihat El yang sangat dia kagumi itu.

“Tu-tuan El, anda masih –“

“Ya, sekarang kamu baik-baik saja,” senyum El terlihat sedih, dia memeluk erat tubuh Savila yang terluka.

***

Bagian Kedua 
“Pangeran pertama ras Half-elf. El Crystal Skyline …?” Herliana berjalan pelan menghampiri El.

“Maaf aku terlambat, saat aku ingin mencapai tempat ini tiba-tiba –“

“Tak apa, pasti Halsy sendiri yang mengutusmu kesini, kan?” Herliana terlihat arogan.

“Ya.”

“Jadi sekarang apa rencananya?” tanya Herliana memejamkan mata.

“Gramior namamu, kan? Kamu pengguna dimensi, kan?” lirik El pada Gramior yang duduk dekat Lily. Tubuhnya masih terlihat bergemetar.

“Y-ya …”

“Bagus, kemarilah! Aku akan memberikan rencana yang sudah dibuat oleh Halsy.”

“Tapi apa tidak apa menyusun rencana dalam waktu seperti ini …?” Keina berjalan pelan menghampiri El dan Herliana.

“Ya aku juga setuju, bukankah sangat membahayakan jika kita menyusun rencana dalam kondisi seperti ini?” Gramior berjalan menghampirik El.

“Tak apa, lagipula rencananya sangat sederhana.”

“Begitu,” senyum Keina melihat El.

“Dan ma-maaf Keina. Aku benar-benar berhutang padamu. Terima kasih karena telah mengawasi adik perempuank –“

“Tunggu! Kenapa Tuan El bisa berterima kasih pada Keina?! Dialah yang membantai keluarga Skylin –“ Savila terlihat kesal menunjuk Keina.

“Tenanglah Savila, nanti aku akan jelaskan. Untuk sekarang kita harus hadapi Anggela dulu,” senyum El mengusap pelan kepala Savila.

Savila hanya tersipu malu menundukkan kepalanya.

“…..” Keina, Herliana, dan Gramior hanya terdiam, memasang wajah datar melihat sikap El dan Savila.

“Apa kalian ini memiliki semacam hubungan …?” tanya datar Gramior.

“Ahahaha, maaf tapi pertanyaan itu kurang tepat kamu ajukan saat ini. Lain kali aku akan menjawabnya dalam situasi yang tepat, ya kan Savila?” senyum El melirik Savila.

Savila hanya tersipu malu memalingkan wajah.

“Jadi bagaimana rencananya?” tanya malas Keina.

“Kita akan memindahkan Anggela ke Berlin. Karena itulah aku membutuhkan kemampuanmu Gramior.”

“El kamu bukan pengguna dimensi?” tanya Herliana terkejut.

“Bukan, dimensi yang sering kamu lihat itu milik Halsy.”

“Hmm jadi begitu,” senyum Herliana memejamkan mata.

“Kita akan melakukan pertarungan akhir di kota itu, kah?” tanya Keina serius.

“Ya, Serraph dan Haikal juga ada disana.”

“Halsy juga?” tanya Herliana membuka matanya.

“Ya.”

“Aku dan Keina akan menyerangnya secara bertubi-tubi. Ketika dia dalam keadaan lengah karena serangan kami berdua,  saat itulah tugasmu memindahkan Anggela,” lanjut El.

“Lalu bagaimana denganku Tuan El?!” tanya khawatir Savila, tangannya terlihat masih bergemetar ketakutan.

“…..” senyum El mengusap pelan kepala Savila, wajahnya terlihat sedih melihat Savila yang masih ketakutan.

“Kamu, Alysha, dan yang lainnya tetap disini. Jangan terlalu jauh dengan gramior.”

“Tapi –“ Savila terlihat khawatir menyesal.

“Izinkan aku ikut dalam pertarungan akhir itu!” Alysha terlihat kesal sambil terus duduk di bawah kepala Kakaknya, Heliasha. Tangannya pun masih terlhat bergemetar.

“Tenang saja, kalian semua pasti ikut.”

“Tunggu?! Maksudmu adikmu juga?! Dia sekarang sudah tidak sadarkan dir –“ Jeremy terlihat khawatir melirik Putri Evelyn yang bersandar pada dinding.

“Jeremy …, adikku bukan Kineser yang lemah. Dia akan segera bangun sebentar lagi.”

“…..”

“Evelyn hanya kehabisan tenaga saja. Tapi sayangnya soal Litias ….” Lanjutnya.

“Dia terluka parah, kita tidak bisa membawanya,” Herliana terlihat khawatir melirik Litias yang masih tak sadarkan diri.

“Asha juga, mentalnya benar-benar –“ Silica terlihat khawatir melirik Asha yang duduk ketakutan.

“Tidak! Ak-aku ikut!”

“Apa maksudmu?! Tubuhmu sampai bergemetar hebat seperti itu, jangan memaksakan diri Asha!”

“Dia benar, kamu hanya akan menghambat kami jika kamu ikut,” Lily bergumam melirik Asha.

“Tap-tapi Haikal ada disana, aku tidak bisa melarikan diri lagi …,” Asha terlihat berdiri memberanikan diri.

“Ya meski kamu tidak mau ikut …, aku tetap akan memaksamu dan kedua putrimu ikut.” El tersenyum.

“Ke-kenapa?” Asha terkejut.

“Karena itu permintaan putrimu sendiri.”

“Kak Halsy?” tanya Alysha terkejut.

“Ya.”

“Baiklah kita sudahi pembicaraan ini. Kalian semua, bersiaplah pada posisi kalian!!” lanjut El berteriak.

El dan Keina terlihat berlari menghampiri Anggela yang melayang terbang.

“Keina dengarkan aku, aku akan mengatasi kecepatannya –“

“Aku tau!! Mau seberapa cepat apapun Anggela, dia tidak akan pernah bisa mengimbangi kecepatanmu. Sejujurnya aku sangat tertolong dengan kehadiran Kineser tipe sepertimu.”

“Baguslah. Aku akan menyerangnya bertubi-tubi dengan pukulan cepatku. Saat pergerakannya melambat, saat itulah kamu serang dia menggunakan kemampuan besarmu. Buat dia menggunakan sayapnya untuk menahan seranganmu!”

“Kita batasi jarak pandangnya, kah?”

“Ya, lalu pada saat itulah kita akan memindahkan dia dari sini!”

“Baik aku mengerti!” Keina mulai melayang karena kemampuan gravitasinya. Dia melayang cepat keatas sambil merentangkan tangan kanannya. Terlihat sebuah es yang secara perlahan membentuk sesuatu di atas tangan kanannya.

“Kita hanya punya kesempatan sekali –“

“Aku tau bodoh! Cepat batasi pergerakanny –“

BAMM!! DUAKKKKK!!

Anggela melayang cepat ke arah Keina dengan kecepatan mengerikannya. Tapi dengan sangat cepat juga El menghalanginya, dia menendang keras Anggela hingga terlempar sangat jauh.

Ha-hampir saja ….” Keina terlihat terkejut, kemampuannya hampir batal karena serangan dadakan tersebut.

Saat Anggela masih terlontar karena serangan El. El mulai bergumam disekitar.

Lay Speed ….”

Rambutnya berwarna kuning keemasan mulai bercahaya, matanya juga bercahaya berwarna putih terang. Seluruh tubuhnya bercahaya yang cukup menyilaukan.

Ini dia … kecepatan tertingginya. 1 Light Year speed atau setara dengan 298,98 Mach …”Keina bergumam dalam hati, tubuhnya terlihat merinding mendengarkan gumaman El.

BUAK BUAK BUAK!!!

Anggela terlihat mencoba mempertahankan diri dari pukulan El yang bertubi-tubi. Beberapa serangan El terlihat ada yang bisa ia tangkis, tapi kebanyakan pukulannya tersebut menganainya dengan telak.

Wajah Anggela terlihat kesal, dia tidak bisa bergerak kemanapun karena El yang terus menghujani dia dengan pukulan.

Mau seberapa cepat apapun dirimu, kamu takan pernah bisa mengimbanginya, Anggela. Bahkan secara teori saja, kecepatan tertinggi dari halilintar di udara adalah mach 150.”

“Keina apa masih belum!!” teriak kesal El.

“Se-sedikit lagi!!” teriak Keina cukup terkejut,  tombak es berwarna biru muda terlihat diatasnya. Tombak maha besar yang hampir sebesar kapal pesiar.

“Bagus, Gramior bersiaplah!!” teriak El melirik Gramior.

“Ya!!”

~~

Beberapa jam setelahnya. Berlin, negara Jerman.

Terlihat Keisha dan Anggela yang melayang menatap rendah dibawahnya. Di bawah Anggela dan Keisha tersebut, terlihat Halsy, El dan yang lain. Wajah mereka terlihat sangat khawatir menatap tajam Anggela dan Keisha.

Kota Berlin tersebut berubah menjadi kota mati, hanya mereka saja yang berada di sana.  Beberapa puluh kilometer dari sana, diperbatasan kota Berlin. Terlihat pasukan militer dunia dengan peralatan lengkap.

Tank baja, pesawat tempur bahkan teknologi canggih dikeluarkan. Semuanya bersiaga akan kemungkinan terburuk. Seorang jendral berpangkat tinggi terlihat meneropong lokasi yang menjadi tempat pertempuran, wajahnya terlihat khawatir.

“Apa ini tidak apa Pak? Menyerahkan masalah in –“

“Menurutmu mahluk apa yang kita lawan ini?! Apa kamu tidak melihat pembantaian di negara Jepang?! Negara itu benar-benar menjadi hancur karena salah satu mahluk itu,” geram sang Jendral kesal.

“…..,” bawahan yang bertanya sebelumnya hanya terdiam menundukkan kepala.

“Kita tidak punya pilihan lain selain mengandalkan mereka. Kita –“

“Jangan terlalu berterima kasih. Kami juga tidak mau tempat kami hidup dihancurkan oleh mahluk itu …!” kesal seorang gadis berambut merah, wajahnya terlihat sangat mirip dengan Asha. Ya, dia adalah Shana Anatasha.

“Siapa kamu gadis muda?! Cepat mengungsi, ini bukan tontonan –“ bawahan Jendral tersebut terlihat kesal.

“…..” senyum Shana memejamkan mata.

“Jendral, pasukan pertahanan negara Amerika, Cina, dan Indonesia bersiap ikut serta membantu. Mereka sudah bersiap di perbatasan negara kita.” Simon terlihat berjalan menghampiri Jendral dan yang lainnya. Wajahnya terlihat khawatir menatap pertarungan Anggela.

“Simon Shilvana?!” tanya Jendral tersebut terkejut.

“Ya.”

“Ja-jadi, gadis ini juga??” lirik Jendral tersebut pada Shana yang melihat pertarungan.

“Tidak hanya dia. Lihat …., apa kamu melihat beberapa warga sipil di sekitar kita? Mereka semua Kineser. Mungkin kita sering menyebut mereka dengan Esper.”

“……” beberapa pasukan tentara Jendral terlihat sangat terkejut menatap Shana dan yang lainnya.

“Tenang, kami tidak mengharapkan imbalan apapun. Lagipula ini sudah kesepakatan dari empat guild terbesar. Euthopia, Lonelybird, Ignite, dan Blizzard sudah setuju untuk ikut serta dalam menghentikan dua iblis itu.” Gumam Shana melirik Jendral.

“…….” Semua terdiam kebingungan mendengarkan perkataan Shana.

“Shana ….,” seorang gadis berambut apple hair berjalan menghampiri Shana.

“AH Guild Master Euthopia, Shalsabilla Anatasha!” Shana terlihat terkejut, dia memberi hormat padanya.

“Sudahlah, jangan terlalu formal seperti itu. Lagipula percuma kamu menjelaskan tentang kita pada mereka, mereka masih belum mengetahui keseluruhan tentang struktur pemerintahan kita.”

“Ahahahaha maaf maaf,” senyum Shana dengan tertawaan pelan.

“Lagipula, apa kamu gak kangen sama Mamah? Kamu jarang pulang loh ke Indonesia,” Shalsa terlihat mengusap pelan kepala Shana. Dia benar-benar terlihat memanjakan putrinya tersebut.

Ma-mamah!? “ beberapa tentara termasuk jendral terlihat sangat tekejut mendengar pernyataan Shalsa.

“Ayolah Mah, aku sudah besar!” geram kesal Shana membuang tangan ibunya. Wajah yang sebelumnya menghormati Shalsa mulai berubah menjadi  wajah cemberut kepada ibunya.

“Shalsa, Guild Master dari serikat Ignite dan Lonelybird sudah sampai. Haruskah kita memulainya?” Arisa terlihat serius berjalan menghampiri Shalsa.

“Ya, kumpulkan para Guild Master. Kita akan membuat strategi kita.”

"......"

“Ah Jendral, kamu juga harus ikut dengan kami …,” lanjutnya tersenyum melihat Jendral.

“Shana, dimana Silica?” tanya Arisa melihat Shana.

“……” Shana berbalik dan melihat kembali tempat pertarungan Anggela.

“Kakakmu?!” Shalsa terlihat khawatir.

“Sama …,” keluh Shana memejamkan mata.

“Astaga, ceroboh seperti biasanya. Ya sudah, kamu ikut dengan kami sebagai perwakilan guild Blizzard. Anggota guildmu sudah datang, kan?” tanya Shalsa tersenyum melihat Shana.

“Sudah mah,” senyum Shana.

Mereka pun mulai merencanakan strategi untuk pertahanan dunia jika kemungkinan terburuk datang. Lalu diantara perbatasan dan pertarungan melawan Anggela. Ya, masih di dalam kota berlin tapi tidak terlalu dekat dengan pertarungan itu.

Terlihat dua orang gadis yang melihat pertarungan itu. Salah satu gadis terlihat tertawa sambil duduk diatas bangunan itu. Ya kedua orang itu sudah diperlihatkan sebelumnya. Gadis berjubah putih kebiruan yang tiba-tiba muncul di New York, Amerika.

“Ahahahahahaha, hei hei Putri. Bukankah ini sangat menegangkan, pertarungan yang berbahaya akan benar-benar berlangsung dihadapan kita!”

“….” Gadis lainnya yang berdiri hanya terdiam sambil terus memandang Anggela dan Keisha.

Wajah dan rambut kedua gadis tersebut tidak terlihat karena jubah berkupluk mereka yang besar.

“Hei Putri, jika Keisha sudah menjadi Necromancer. Kenapa dia tidak mau membangkitkan adiknya?! Padahal itu sangat mudah baginya, kan?” tanya gadis yang sedang duduk, dia tersenyum mengangkat kepala melihat gadis lainnya.

“Bukan dia tidak mau, tapi dia tidak bisa melakukannya. Seharusnya kamu juga sudah tahu akan hal itu, Rina.”

“Baik-baik, aku kan hanya bercanda. Jadi menurutmu siapa yang akan menang dalam pertarungan ini?”

“……” Sang Putri tak menjawab.

“Tidak tau, kah?” senyum kecil Rina.

“Kalau begitu aku ubah pertanyaannya. Berapa persen kemenangan Halsy dan yang lainnya untuk menghentikan Anggela dan Keisha?” lanjutnya bertanya.

“Jika mereka saja. Hanya 5% bahkan –“

“Ka-kamu serius?! Ma-maksudku Halsy sang Empress ada disana?! Kenapa hanya –“

“Biarkan aku menyelesaikan jawabanku, Rina ….” Geram gadis yang di panggil Putri.

“Ba-baik, maaf …,” Rina terlihat khawatir memalingkan wajah.

“Hanya 5% bahkan kurang dari itu.”

“Bahkan kurang?!” gadis bernama Rina itu terlihat berdiri melihat gadis yang dipanggil Putri.

“Kamu pikir siapa yang dilawan Halsy dan yang lainnya ini? Dia Iblis yang sekelas dengan Elenka. Perbandingan Elenka melawan Halsy saja sudah di bawah 30%.”

“Tap-tapi maksudku ini Halsy loh? Sang Empress!”

“Kamu terlalu melebih-lebihkannya Rina. Asal kamu tau, dia sangat lemah, benar-benar lemah.”

Ya dipandanganmu dia sangat lemah. Tapi sangat berbeda dengan pandanganku, dia benar-benar sangat kuat.” Rina terlihat khawatir bergumam dalam hati.

“Ya tapi lain halnya jika Putri Emily muncul kembali. Persentase kemenangannya pasti akan bertambah.”

“Lalu bagaimana jika kedua mahluk itu muncul?”

“Kenapa kamu masih menanyakannya?” datar Putri melirik Rina.

“Maaf maaf, tentu saja sudah jelas yah, ahahaha.”Rina tertawa manis.

“Haahh …,”Putri terlihat mengeluh.

“Lalu dimana Almeera? Perasaan dia tadi ada di dekat kita.”

“Dia sedang mencari harta.”

“Har-harta? Jangan katakan …,” Rina kembali terlihat khawatir.

“Ya, hartanya.”

“Tung-tunggu dulu!! Apa peserdiaan permen yang kita bawa dari dunia kita itu masih belum cukup baginya?!”

“Mungkin belum cukup untuknya.”

“Se-serius?”

“Ya,” Putri menganggukan kepalanya.

“………”

“He-hei Putri, apa kamu tidak memiliki cara untuk menghentikan kecanduannya –“

“Biarkan saja dia, Rina.”

Tapi dia itu adikmu ….!” Datar Rina dalam Hati.

Lalu beberapa meter dari kedua gadis tersebut. Terlihat seorang gadis yang berjalan pelan pelan sambil membawa permen sangat banyak. Umurnya sekitar tujuh tahun, jubah putih kebiruan yang dia pakai terlihat sangat besar untuk tubuh mungilnya.

“Kyaaaa!! Sudah kuduga manisan di dunia ini sangat enak!!” teriak gembira gadis tersebut sambil menjilati lolipop berwarna biru.

“Ahh apa aku harus tinggal di dunia ini agar bisa terus merasakan permen ini?” senyum gadis tersebut, dia seakan bangga seolah mendapatkan ide yang brilian, tapi.

Dia langsung terbayang kedua orang yang datang bersamanya, gadis yang dipanggil Putri dan Rina. Wajahnya terlihat mengeluh ketakutan. Untuk sesaat dia menghentikan langkahnya sambil melihat langit yang gelap karena Anggela dan Keisha.

“Huuuhhh mu-mungkin lebih baik aku urungkan niatku. Jika Kakak dan Rina mendengarnya, mereka bisa membunuhku …,” gadis bernama Almeera itu terlihat mengigil ketakutan.

Setelah itu, dia kembali berjalan sambil menjilati permennya. Langkanya terlihat kecil dan pelan bagaikan langkah seorang gadis yang masih berumur lima tahun.

“Tapi sungguh, kenapa hari ini banyak orang-orang mengesalkan?! Yang pertama Kakak super cepat itu, kecepatannya benar-benar mengerikan. Apa Kineser di dunia ini memang sekuat itu?” gerutu lucu Almeera menghentikan langkahnya.

“Aku tidak bisa mengejarnya jadi aku lepaskan deh. Tapi untungnya aku tidak melepaskan orang-orang ini.” Almeera mulai berbalik ke belakang, dia tersenyum bangga akan dirinya sendiri.

Di belakang Almeera, terlihat deretan mayat Giant, Ghoul, bahkan Minotaour. Para monster mengerikan tersebut benar-benar dihabisi oleh gadis kecil itu.

“Ah …, mungkin bukan orang juga kali yah?” keluh Almeera memejamkan mata.

“Ya tapi maaf yah, ini yang kalian dapatkan jika tiba-tiba menerjangku dan berniat mengambil permenku,” senyum gadis tersebut lalu berbalik. Dia kembali berjalan meninggalkan deretan mayat itu dengan langkah mungilnya.

***


My Dearest Jilid 2 Chapter XXVI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.