18 Juli 2016

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou Ka? Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


SERANGAN PUTRI PEDANG

Matahari telah berada tepat diatas.
Mengarah ke utara menuju Jalan utama dari fasilitas pencakar langit.
Kedai kopi dengan atap terbuka yang menghadap ke jalan dipenuhi oleh penduduk dibandingkan para Petualang. Dibawah cahaya terik matahari, para pelanggan tersebut saling berbicara dan tertawa.
Diantara payung-payung yang menghalangi cahaya matahari, Bell dan Lili duduk bersama di balik meja berwarna putih.
“Jadi, sudah tidak ada masalah lagi dari sisi <Familia Soma>?”
“Ya, Lili dianggap sudah mati.”
Ini adalah hari tepat setelah Bell membentuk tim bersama Lili.
Demi mengkonfirmasi situasi yang dihadapi Lili saat ini, Bell sementara menerima penjelasannya.
“Ngomong-ngomong, kalau aku dianggap sudah mati, aku tidak perlu berhubungan lagi dengan <Familia Soma>. Mereka juga tidak akan berinisiatif untuk menemukanku. Bagaimana mengatakannya ya, Aku sudah menjadi sesuatu yang tidak pernah ada.”
Jadi itu tidak akan memberikan kesulitan bagi Bell-sama, kata Lili dengan senyuman.
Membiarkan poninya tersingkir dibanding ketika dia menyamar, akhirnya terlihat dengan jelas. Sepasang mata bulat dan wajah yang menawan masuk ketatapannya. Bell memiliki sedikit bayangan diantara kedua alisnya.
“Baklah jika yang bermasalah hanya aku... ... tapi, tidakkah Lili peduli jika dianggap mati atau semacamnya”
“Aku berterima kasih atas niatmu, Bell-sama. Tapi akan lebih baik jika menentukan denganpasti. Lagipula, Lili tidak sudah tidak memiliki saudara lagi... ... Selama Bell-sama mengetahui keberadaan Lili, Lili sudah cukup puas.”
Bell tidak lanjut memperdebatkan ini dengan Lili, yang terlihat seperti mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam.
Rasanya aksi yang telah menjadi luka terbesarnya akhirnya telah berakhir di hatinya.
“Jika Lili mengatakan demikian, maka baiklah. Tapi, tidak boleh menunjukkan kepada orang dari <Familia Soma> kan? Kebenaran bahwa Lili masih hidup.”
“Meski aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi semua bukti yang bersangkutan dengan Lili sudah dihilangkan dalam dua hari ini. Dimana kita tidak perlu khawatir lagi... ... Dan, lagipula, Lili punya ini.”
Petari, Lili memukul kepalanya. Rambut aslinya yang berwarna chesnut bergerak kebawah, dan sepasang telinga kucing bergerak secara lembut ke kanan dan ke kiri. Dan matanya bercahaya keemasan.
[Cinder Ella]
Dibawah kemampuan sihir transformasi Lili, penampilannya berubah menjadi anak beastman. Meski penampilannya tetap sama, kau tidak akan bisa menyadari kalau dia dari ras Hobbit.
Dibawah kemampuan ini, tidak akan mungkin ada yang menghubungkannya dengan <Liliruca Arde>. Bell sendiri, juga dibuat terkejut meski mengetahui tentang keberadaan sihir ini.
“Baik, jika kau berkata demikian... ...”
“Ya, sudah tidak ada masalah lagi. Kalau pun masih ada masalah kecil sekalipun, Aku tidak akan membiarkan Bell-sama jadi khawatir.”
Sudah tidak perlu membahas itu lagi. Bell tersenyum kecut dan mulai tenang.
Dengan begini, Lili tidak akan berhubungan dengan perselisihan lagi. Meski dia jadi seperti ini, dia seharusnya masih dapat membantu.
Sejujurnya, setelah mendengar fakta bahwa Lili hampir mati, yang ia rasakan adalah amarah dan penyesalan. Itu adalah amarah terhadap orang yang menganggap orang lain tidak sebagai orang, dan penyesalan karena dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Meski begitu, <Familia Soma> tidak bisa disalahkan terhadap situasi Lili saat ini. Demi untuk diskusi, balas dendam sekarang hanya akan menimbulkan kekacauan besar dari seorang kriminal besar.
Lagipula, semenjak Lili baik-baik saja, ini tidaklah masalah. Bell mengeluarkan segala perasaan rumitnya ke dalam pikirannya dan menyimpulkannya seperti ini.
Celah diantara mereka telah tertutup.
Meski tidak sepenuhnya, tapi jarak antara mereka tentu sudah menjadi lebih dekat, di titik dimana mereka bisa saling berpegangan tangan.
Mulai sekarang, mereka akan memulai lagi dari awal. Bell tidak bisa menahan senyumannya.
“... ...Bell-sama”
“Nnn, apa?”
“Bell-sama, apa ini tidak apa-apa?”
“Eh?”
“Untuk memaafkan Lili begitu saja seperti ini?”
Meski begitu, kebalikan dari Bell, wajah Lili ditutupi kabut, dan menatap mata Bell, seakan memohon kepercayaan darinya.
“Tapi Lili berbohong kepada Bell-sama, oh? Bukan hanya memanfaatkan niat baik Bell-sama, tapi aku juga berkhianat di akhirnya?”
“... ...”
“Dan, Aku secara sembunyi mencuri uang dan tidak mengembalikannya. Jika kau memaafkan Lili begitu saja seperti ini, maka... ...”
Inilah alasan mengapa hubungannya dengan Lili belum sepenuhnya lurus.
Menyalahkan diri sendiri. Perasaan bersalah. Keinginan untuk menembus kesalahannya.
Lili saat ini tersiksa oleh kesalahan yang dia lakukan. Bell bahkan sampai lupa berapa kali dia meminta maaf padanya.
Lili telah kehilangan segala hartanya dari apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Uang dan barang yang ia simpan untuk ditukarkan dengan uang, dan bahkan permata Gnome pun dicuri darinya oleh kawanannya sendiri di <Familia Soma>. Sepertinya dia merasa bersalah karena tidak memiliki apa pun untuk mengganti rugiku. Dalam hatinya, masih ada lapisan merasa jijik terhadap dirinya sendiri.
Tidak masalah, meski aku telah mengatakan ini berkali-kali, Ekspresi Lili tetap sama. Lebih bisa dikatakan setelah beberapa lama, dia malah akan menjadi lebih depresi. Sepertinya dia mengharapkan hukuman yang berat.
Ini adalah hal yang tidak pernah diinginkan seorang pun... ...Pikir Bell seakan dia mengakui kekalahannya.
Pendeknya, ini sangatlah sulit.
Biasanya, tidaklah perlu untuk menyalahkan dirimu sendiri, seperti mereka yang memuji dan mengatakan hal-hal indah, ini mungkin terasa sedikit seperti kutbah
Terhadap segala yang telah terjadi, mereka tetap berdiri di bangku penonton.
Selagi aku melihat kearah Lili, yang menyembunyikan wajahnya, aku berpikir tentang cara bagaimana menghilangkan rasa bersalahnya. Selagi Bell memikirkan solusi terbaik terhadap masalah ini... ... Pada saat itu, bala bantuan akhirnya datang.
“Hey~ , Bell-kun!”
“Ah, Kami-sama!”
Aku berdiri begitu mendengar suara muda yang ditujukan padaku. Seperti yang kuduga, figur Hestia muncul di kedai kopi tersebut.
Tubuh kecil mungil yang setara dengan tubuh Lili berjalan melalui kerumunan dan berdiri dihadapan Bell dan Lili.
“Maaf, apa kalian menunggu lama?”
“Bukan itu yang jadi masalah, daripada itu, Akulah yang seharusnya minta maaf karena menggaggu pekerjaanmu... ...”
“Bagiku itu tidak masalah. Daripada itu... ... apakah ini dia?”
“Ah, Iya. Ini anak yang ku bicarakan waktu itu... ...”
“A... ...Aku adalah Liliruca Arde. Se... ...Senang bertemu denganmu.”
Terhadap tatapan yang dilemparkan kepadanya, Lili cepat-cepat berdiri didepan kursinya dan menunduk.
Hestia datang kesini dengan keinginannya sendiri.
Tujuannya sangatlah jelas. Yaitu, dia ingin memastikan dengan matanya sendiri Supporter yang punya hubungan dengan anggota <Familia> nya.
Jika dia tidak disukai oleh dewinya, Tim Lili dan Bell terpaksa harus dibubarkan. Lili, yang sudah sangat menguasai hal ini, menunjukkan ekspresi gugup kepada Hestia.
Meski begitu, pada saat ini, Bell nampaknya ingat akan sesuatu dan bergumam “ah”.
“Ini tidak baik. Aku tidak mempersiapkan kursi untuk Kami-sama... ...”
“... ...! Apa, jangan khawatirkan itu! Ada banyak pelanggan, seharusnya sudah tidak ada kursi sisa lagi kan? Baiklah, setelah Bell-kun duduk, biarkan aku duduk di pangkuanmu!”
“Ahaha, Kami-sama suka bercanda. Tunggu sebentar, aku akan meminta ini pada pelayan toko.”
Bell tersenyum dan pergi. Sebuah senyuman anak kecil yang polos dan tulus.
Tergantung di sisi, Hestia berhenti sejenak. Lalu, kuncir dua-nya menyusut ke bawah.
Terhadap atmosfir sedih di sekitar ini, Lili tidak dapat menghilangkan ekspresi kebingungannya.
“... ...Ti... Tidakkah ini yang terbaik. Sejak awal, aku sudah berencana melarang Bell, jadi tidak ada masalah lagi.”
“Ha, ha.”
Dengan pipi yang sedikit kaku yang berwarna merah padam, Hestia duduk di kursi Bell.
Lili menirunya dan duduk.
“Jadi, mari kita selesaikan ini dengan cepat. Anak itu sebentar lagi akan kembali. Tidak perlu lagi perkenalan kan? Kau pasti sudah mendengar tentangku dari Bell-kun?”
“I... Iya.”
Tepat ketika Lili menyadari inisiatif topic pembicaraannya telah dicuri dari awal, itu sudah terlambat.
Dibandingkan dengan Lili, yang merupakan seorang hobbit dan terlihat muda, Hestia tidak terlihat kalah dari sisi kepolosan dan kecantikannya. Ini sangat membimbangkan antara seorang gadis muda atau seorang anak muda.
Meski begitu, dalam kebalikan, dikarenakan ketidakseimbangan yang meletakkannya pada tubuh yang sangat sempurnanya.
Tidak hanya menawan, tapi juga memberikan perasaan yang menakjubkan. Seakan melihat tubuh yang bertentangan dengan kecantikan dan kepolosan yang ditunjukkannya.
Disiram cahaya mentari yang menembus payung peneduh, Rambut hitamnya yang berwarna hitam pekat terlihat sangat mempesona.
“Biarkan aku mendengar yang sebenarnya. Supporter-kun, apa kau akan terus merasa rendah?”
“____”
Terhadap pertanyaan blak-blakan yang langsung ke inti permasalahan ini, Lili tersentak.
Ekspresi dantatapan Hestia tetap sama. Hanya saja aura kedewiannya yang berkembang dengan pesat.
Llili sadar kalau dirinya sedang di cek. Dan segalanya dapat terlihat dengan jelas.
Tidak ada bukti yang lebih kuat dari namanya saat disebutkan. Mengingat akan segala hal yang telah dia lakukan terhadap Bell, ini hal yang wajar. Pertama, dia harus meyakinkan dirinya apakah bisa mempercayai Hobbit ini atau tidak.
Lalu, Lili harus mengatakan sejujurnya tanpa kebohongan sedikitpun.
“Aku tidak akan. Lili telah ditolong oleh Bell-sama. Aku sudah tidak ingin mengkhianati orang itu lagi.”
Tatapan mereka berpapasan. Kedua sisi tidak berniat untuk memalingkan pandangannya. Suara bising disekitar mereka perlahan menghilang.
Dihadapan dewi, kau tidak dapat berbohong.
Dia tidak yakin darimana dia mendengar ini, tapi itulah kenyataannya.Lili memahaminya dari tatapan sang Dewi, yang nampaknya dapat melihat segalanya, di hadapannya.
Jika dia mau, dia mungkin bisa saja melihat semua kebohongan dari orang Dunia Bawah.
“... ...Ya, aku mengerti. Untuk sementara aku percaya kata-katamu.”
Jangka waktu terpanjang bagi Lili akhirnya seleai.
Ketika dia menhana dirinya untuk tidak melepaskan semua napas yang tertahan didadanya, dia perlahan mengendurkan bahunya.
“Supporter-kun, aku sangat peduli akan Bell. Ke titik dimana meski aku harus meletakkan mataku di lautan, Aku tetap tidak akan merasakan sakit. Sebagai pengikut pertamaku, Aku tidak ingin kehilangan dia. Itulah kata hatiku.”
Hestia berhenti sejenak untuk menghela napas, lalu dia melanjutkan.
Lili baru sadar, maka dia segera membuat posisi untuk mendengarkan.
“Bertanya tentang mu kepada Bell-kun yang sepertinya paham situasi mu. Dan tentu saja, aku juga akan memperhitungkan kegiatan mencuri mu.”
“... ...”
“Tidak pernah terpikir olehku untuk ber-simpati kepadamu, lagipula, semuanya sudah selesai. Hanya saja aku tidak akan mengulanginya lagi... ...Jika”
Bagian selanjutnya adalah topik utamanya, dan sepertinya Hestia telah mengumpulkan keberaniannya untuk kalimat selanjutnya.
“Jika kau melakukan kesalahan yang sama lagi, dan membuat anak itu dalam bahaya... ... Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”
----Tubuh Lili menjadi kaku.
Dalam sekejap, dia lupa caranya bernapas.
Aku lupa. Perempuan yang sedang dihadapannya, adalah ssesuatu yang disebut <Dewa> yang melampaui manusia.
Terhadap mahkluk yang dapat membuat kota ini menjadi debu dalam sekejap, Lili benar-benar melupakan fakta ini karena dia sudah meminta terlalu banyak.
Mata biru kelam melihat tembus kedalam Lili dan hati Lili mulai bercampur aduk tidak karuan. Didorong oleh keinginan yang tidak tergoyahkan, Lili menatap balik dan membuka mulutnya.
“... ...Lili berjanji. Dia tidak akan melakukan hal serupa lagi. Entah itu untuk Bell-sama atau Hestia-sama... ...Dan yang terpenting, untuk Lili sendiri.”
Di jalan yang tidak mengerti apapun tentang situasi yang sedang terjadi, atmosfer kebahagiaan tetap mengalir.
Mereka saling tatap mata dalam diam, Hestia menutup matanya yang menandakan kalau sudah berakhir.
Dia, pa pa, mengedipkan matanya seakan mengatakan <Aku mengerti>. Disisi Lili, dia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi dan melepaskan ketegangannya. Seakan dia bisa rubuh kapan saja diatas meja.
Hestia, yang dari tadi diberi tau olehnya, meletakkan lengannya untuk menahan dadanya yang besar dalam keheningan. Dia mengerutkan keningnya secara tiba-tiba. Setelah mendemonstrasikan bahwa mereka sudah tidak apa-apa. Dia mengeluarkan erangan yang keras. Lili merasa atmosfir disekitarnya tidak enak dan mengerutkan tubuhnya.
“... ...Supporter-kun, aku akan mengatakannya secara langsung”
“B... Baik.”
“Aku tidak menyukaimu. Aku berharap kau tidak akan menyusahkan Bell-kun.”
“!”
Selagi Lili membuka matanya, dia melanjutkan berbicara.
“Itu adalah hal yang wajar. Semenjak aku mendengar detail tentang situasinya, kesanku terhadapmu bertambah buruk. Kau menggunakan kebaikan Bell untuk menipunya, dan sekarang dengan mudahnya kau ingin terlibat dengannya hanya dengan merubah dirimu sedikit. Apa keinginanmu yang sebenarnya, kau kucing pencuri.”
Karena <Cinder Ella>, telinga binatang, yang tadi tumbuh, mendadak mengkerut.
Meski argumennya dibenarkan secara halus, tapi terasa ada yang salah. Pikir Lili sambil berkeringat.
“Pada akhirnya, apa yang telah kau lakukan dari awal? Kau menunjukkan ekspresi muram dari awal. Coba lihat, tidakkan itu juga membuat yang disisi sini menjadi depresi.”
.Rasanya hampir seakan dia mengatakan lihat wajahmu sendiri, Aku bahkan jadi tidak nafsu makan.
Tatapan Hestia menjadi lebih tajam lagi, dan perkataannya belum selesai.
“Secara garis besar, kau harus memikirkan perasaan Bell-kun, kan?
“!”
“Bagaimana aku bisa tau? Fueh, Karena itu wajah yang persis denganku ketika aku berdiri didepan cermin. Ahhhhh, ini sangat menyebalkan, aku sama sekali tidak menginginkanmu berada dekat Bell-kun!”
Akhirnya, gejolak yang tidak terbendung muncul dibelakan Hestia.
Tamu-tamu disekitar mereka melebarkan matanya dan langsung memalikannya. Lili merasa kalau dia akan menangis.
“Kau telah ditolong oleh kebaikan Bell-kun, dan mengatakan kalau kau akan membuka lembaran baru. Tapi pada akhirnya, kau hanya akan menggunakan kebaikan anak itu dan melibatkannya dalam masalah lagi, kan?”
“!?”
“Anak itu tentu saja tidak akan memintamu untuk melakukan apapun, tapi kau sudah diselimuti oleh kesalahan. Bisa kukatakan, kau bertindak seperti bocah ingusan. Kau, orang yang menjijikkan.”
Perkataan Hestia menjadi semakin jahat.
Setelah menunggu tatapannya stabil lagi, dia melihat Hobbit kecil itu bahkan tidak mampu lagi untuk terisak.
“Jika itu masalahnya, akan kuturuti permintaanmu, aku akan menggantikan Bell-kun untuk membebaskanmu. Aku akan memberitahumu terlebih dahulu agar kau tidak punya hak untuk menolak. Sama seperti <God’s Judgment>, tidak apa-apa jika kau bangga.”
Fuahh, Hestia, yang menyerukan sengauan ini, bersandar ke kursi.
Selain mengangguk dengan patuh, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Lili yang ketakutan. Tidak itu tidak benar, kenapa tidak katakan mengingat ini di mulai olehnya, yang merupakan Dewi-nya Bell, dia tidak tau mood seperti apakah yang harus ditunjukkan.
Lili dengan cemas menunggu momen selanjutnya.
Disisi Hestia, dia menggertakkan giginya, Gugigi, sambil menunjukkan ekspresi kesakitan... ... Tak lama setelahnya, dia mendesah dan kalimat yang ikut menemani desahan itu terucapkan.
“Tolong jaga Bell-kun.”
“... ...Eh?”
Dia tidak menahan untuk tidak mengeluarkan suara “Busu” aneh. Hestia lanjut berbicara.
“Pertama, ini bukan untuk dirimu. Aku telah mendengar banyak hal dari anak itu dan aku menjadi semakin-dan semakin khawatir. Sebaliknya, aku yakin... ... bahwa dia akhirnya akan ditipu, perasaan seperti ini.”
“... ...”
“Jadi aku hanya bisa memintamu. Tolong perhatikan dan jangan biarkan hal-hal yang mencurigakan mendekati dia. Pendeknya, kau bertanggung jawab untuk mengikutinya.”
Kali ini, Lili sangat terkejut. Pikirannya berputar seakan dia ingin mengatakan sesuatu, namun mulutnya tidak mau terbuka.
Karena dia tidak diijinkan untuk membalas oleh mata yang berada didepannya.
“Pada akhirnya, Aku tidak berniat untuk menggunakan kata-kata arogan untuk menilaimu. Meski para Dewa ada disini sekarang, mereka tidak akan melakukan hal semacam itu. Lupakan saja kesalahanmu, entah itu kau memaafkannya atau tidak, itu masalahmu.”
Jangan minta Bell untuk membantumu dalam mencari hal seperti ini, ucap Hestia dengan nada dalam.
“Aku merasa berhutang banyak pada anak itu, jadi hingga Aku merasa puas, Aku akan terus membayar hutangku padanya. Ini adalah hal yang wajar. Ini adalah ketulusanku, namun masih ada batasnya. Jika kau berniat untuk membuka lembaran baru, maka buktikan dengan tindakanmu.”
Semua hal yang dia katakan akhirnya masuk kedalam kata-kata ini.
Mendengarkan niatan seorang Dewi yang pahit, Lili menundukkan kepalanya.
Dewi Hestia memberikan Lili kesempatan, bahkan bisa juga dibilang rasa iba.
Dia sangat murah hati. Dan pada saat bersamaan, dia juga seorang Dewi.
Apa yang baru saja dia katakan kemungkinan adalah perasaan sejujurnya yang tidak dapat ia sembunyikan. Pada dasarnya, dia tetap mengijinkan Lili tinggal dsekitar sisi Bell.
Bersimpati kepada semua orang, dan memintanya untuk melindungi Bell.
Seraya Lili berterima kasih akan kehangatan tersebut, dia memandang Hestia dan menunduk kepadanya.
Diantara mereka berdua, seakan air hangat yang berasal dari hutan mengalir keluar.
“Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama!”
“... ...Aku memperbolehkanmu masuk kedalam tim. Perlindungan terhadap anak itu bergantung padamu. Meski aku mengatakan demikian, jangan melakukan hal yang diluar kepantasan.”
“Ha?”
Terhadap peringatan Hestia yang suram dan memecah keheningan, Lili tercenggang.
Sebelum dia bisa menanyakan maksudnya, Bell datang membawa kursi. Terhadap Bell, yang terus meminta maaf dan tidak bisa membuat alasan, Hestia mengambil lengannya dan menariknya kesisinya.
—— Apa”
“Kami-sama... ...?”
“Dan sekali lagi... ... Senang bertemu denganmu, Supporter-kun. Kelihatannya Bell-kun-KU sudah merepotkanmu.”
Hestia menekankan di bagian <KU>. Sepertinya atmosfir disekitar telah berubah, seperti Harimau yang tengah menjada wilayahnya. Dia menggunakan matanya yang mengartikan jika kau berani menyerang, Aku akan memakanmu.
Terhadap Hestia, yang pipinya berkedut, Lili sangat terkejut.
Dia adalah seorang Dewa. Dia adalah sesuatu yang kekal, suatu makhluk mewah yang keberadaannya patut diakui.
Namun diatas itu semua, dia masihlah seorang anak-anak.
Tidak, mungkin lebih cocok jika dibilang —— Musuh.
Kepala Lili dialiri gelombang amarah terhadapnya, yang menarik lengan Bell ke sisinya, dan dengan khususnya membuat garis di depan Bell sebagai balasan.
Meski Lili punya perasaan yang setara dengan loyalitas terhadapnya, tapi ini adalah masalah lain.
Pashi! Dia menggunakan kedua tangannya untuk menarik lengan Bell yang satunya.
Kepada tatapan tajam Hestia yang dipenuhi dengan ambisi jahat, Lili langsung melemparkannya kembali.
“Tidak ada hal semacam itu. Aku yang selalu membuat Bell-sama, yang merawat Lili dengan baik, khawatir.”
“... ...”
Di satu sisi, adalah seorang gadis muda. Disisi yang lain, juga seorang gadis muda.
Dengan penampilan polos dan seperti anak-anak, mereka berdua memperlihatkan wajah wanita dewasa dan saling tatap.
Diantara mereka, yang daritadi tidak mampumenyentuh lantai selagi duduk di kursi, Bachibachi, Sebuah percikan kecil melayang.
(K....Kami-sama AHHHHHHHH!?)
Dikarenakan lengannya diapit oleh lembah kembar di situasi ini, Bell tidak tau lagi apa yang terjadi di hadapannya. Dia sangat panik.
Dalam pertempuran kecil diantara dua orang mungil, sang Dewi menang.
Ku, dia benar-benar seorang Dewi-sama... ...! Sepertinya payudaranya bukan hanya dekorasi... ...!”
“Apa kau punya hal yang ingin dikatakan, Supporter-kun... ...?”
Soal itu, Lili. Masalah untuk kedepannya... ...”
Setelah pertengkaran, Bell mulai bicara.
Keduanya duduk kembali ke kursi masing-masing ketika mereka sudah tenang. Kali ini, Mata keemasan Lili tampak kagum dan memandanya.
“Lili sekarang, markasnya... ...Apa kau sudah punya tempat untuk tinggal?”



“Ya. Meski hanya untuk satu dua hari, aku selalu berganti penginapan.”
Melihat ke Lili, yang tidak memperlihatkan senyum malu, Bell mengisyaratkan kepada Hestia.
Meski dia tetap mengeluarkan suara aneh tanda tidak suka, tapi dia tetap menganggukkan kepala.
“Lili, jika kau tidak keberatan... ... mau kah kau ke markas kita?”
“... ...Eh?”
“Kenapa tidak, kenapa tidak ikut <Familia Hestia> saja? Meski hanya ada Hestia-sama dan aku didalamnya.”
Lili sudah tidak dapat kembali ke <Familia Soma>, bahkan Bell mengetahui ini.
Jadi kenapa tidak terus terang saja, pikirnya. Dibanding membiarkannya hidup sendiri, kenapa tidak menerimanya. Kurang lebih, itulah keinginan Bell.
Hestia, yang sudah mengecek Lili, tidak menolak, dan yang tersisa hanyalah anggukkan dari Lili.
“... ... Hestia-sama, apakah ini oke? Bukankah Hestia-sama, terhadap Lili... ...”
“Fu, Fuah... ... jangan salah paham, oke? Meski itu orang yang kubenci, membiarkan anak kecil tanpa rumah itu ada hubungannya denganku. Sampai kau mendapatkan pekerjaan, Aku sementara akan merawatmu.
Terhadap Dewi yang wajahnya memerah, yang tidak jujur pada dirinya sendiri, Bell hanya dapat dapat tersenyum masam.
Setelah Lili mununjukkan senyuman hangat, dia perlahan menganggukkan kepalanya.
“Aku sangat berterima kasih, Bell-sama, Hestia-sama. Hanya dengan mendapatkan ini, Lili rasa sudah cukup.”
“Eh... ...K... Kenapa?”
“Lili merasa tidak enak mendapatkan kebaikan dari kalian berdua terus menerus... ... Lagipula, Lili masih anggota <Familia Soma>”
Menunjukkan senyuman kecil kepada Bell yang tercenggang, dia merengganggkan tangannya ke belakang.
Terhadap punggungnya yang kemungkinan masih terukir <Status>-nya, Hestia mengerutkan keningnya.
“Lili, yang masih merupakan <Familia Soma> tidak bisa pergi ke markasnya Bell-sama. Jika fakta bahwa Lili pernah memasuki markas Bell-sama ter-ekspos, maka itu akan membawa masalah bagi kalian berdua. Lili tidak akan bisa membiarkan hal seperti terjadi.”
“T... Terhadap hal seperti itu, Aku... ...”
Bell,yang menolak untuk menyerah, berusaha membujuknya, tapi sepertinya dia mengingat sesuatu dan menutup mulutnya.
Ini bukan masalah perorangan. Ada kemungkinan ini menyangkut satu Familia penuh.
Bell menutup matanya, lalu dia melihat kearah Hestia, yang sepertinya memikirkan sesuatu.
“Supporter-kun, kondisi untuk meninggalkan <Familia Soma>, bukan, apakah tidak diijinkan untuk meninggalkan Familia? Apakah Dewa-mu mengatakan sesuatu?”
“Meski Soma-sama tidak mengungkapkannya dengan jelas... ... tapi mungkin, akan dibutuhkan uang yang banyak.
“Uang, apakah itu... ...”
Selain jumlah anggota, uang juga merupakan kekurangan dari <Familia Hestia>.
Meski Bell telah membuat kemajuan yang luar biasa terhadap situasi di dungeon, dan mereka telah mendapat bayaran lebih dari minggu lalu, meski begitu, itu masih belum sempurna. Paling banyak, mereka hanya bisa dapat sekitar 100.000 Varisu.
Terlebih lagi,  meski satu diantara mereka berdua dapat membayar uang untuk meninggalkan Familia, Lili tidak akan mau menerimanya.
“Jadi, meninggalkan <Familia> adalah hal yang sangat merepotkan... ...? Dari orang yang kukenal, ada beberapa orang yang telah meninggalkan <Familia>... ...”
Semua tergantung Dewa/ Dewinya, jika ada Dewa yang menerima pengunduran diri, maka ada juga yang menolaknya.
Meninggalkan <Familia>, bukan hanya akan menyulitkan orang yang meninggalkannya, tapi juga akan membawa masalah untuk <Familia> lainnya yang juga ditinggalkan. Contoh kuatnya adalah bocornya informasi.
“Kenalanmu juga mungkin punya rahasia yang tidak boleh diberitahukan ke orang lain.”
Setelah Hestia melirik Lili setelah mengatakan ini, Bell juga paham apa yang tengah mereka bicarakan.
Sama seperti Lili, meninggalkan selagi mereka masih punya fraksi ----- Itu sama saja seperti melarikan diri. Mereka akan menjadi kucing liar, Adventurer yang tidak punya tempat tinggal.
Lupakan boss Mia, yang sudah dimaafkan oleh Dewanya, dari <Mistress of Abudance>, termasuk Seal, yang masa lalunya sangat tidak jelas, mungkin juga begitu.
Meski mereka tidak bertanya, kau tetap bisa melihatnya. Orang yang berada dalam situasi seperti itu hidupnya sulit.
“... ... Meski orang itu tidak ingin bergabung dengan <Familia> mereka tetap tidak dimaafkan?”
“Anak bangsawan tetap lah anak bangsawan, anak petani tetaplah anak petani. Se-simple itu, Bell-sama.”
Anak yang terlahir diantara anggota, anak tersebut punya kewajiban untuk ikut <Familia>.
Dari sudut pandang Dewa, ketika cristal ini tercipta, itu merupakan tanggung jawab mereka yang bersangkutan, meski anak itu tidak mau dan menolak, tidak akan ada yang berubah.
Berbicara tentang tidak bertanggung jawab,ini adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Dewa.
Ijin untuk keluar, sepenuhnya tergantung oleh Dewa-nya. Memiliki Dewa yang baik menentukan segalanya.
Jika keberuntunganmu buruk, beberapa Dewa akan meminta bayaran yang besar. Beberapa Dewa bahkan akan memberikan tugas yang sulit untukmu dan menonton perkembanganmu sambil tersenyum.
Bell menatap Lili, yang tersenyum, dengan ekspresi yang bercampuran.
“Jika aku tidak mendapatkan bantuan Soma, aku tidak akan bisa mengubah <Grace>... ... meng-update akan menjadi mustahil.”
“Jadi akan menjadi seperti ini... ...”
“Tapi kau tidak akan melanjutkan jika seperti ini, kan?Kau berencana untuk mencari kesempatan?”
“Ya. Meski sekarang mustahil, Aku berencana untuk bertemu Soma-sama ketika waktunya tepat. Entah dia akan menerimanya masih... ...”
Pembicaraan mendadak berhenti. Semuanya menunjukkan ekspresi penuh pikiran.
Cahaya hangat seakan bercahaya dengan gugup dan Bell menyakan kepada Lili.
“Jadi Lili, apa rencanamu untuk seterusnya? Apa kau berencana mencari penginapan sendirian... ...”
“Sebenarnya ada toko yang sering kudatangi... ...ah, bagi Lili sedikit masalah, tapi pendeknya, ada kakek Gnome yang murah hati. Akuberencana untuk tinggal disana sementara waktu. Ah, aku akan bekerja juga? Aku berencana untuk tidak menggunakan transformasiku demi agar dikenali kerjaku.”
Tidak ada trauma dalam respon cepat Lili. Bell, yang memahami kegigihannya, mulai tenang.
(Lain kali, Aku harus menjelaskan sedikit kepada Eina-san... ...)
Malu rasanya untuk dikatakan, jika Eina tidak membantu menyelesaikan masalah dengan <Familia Soma>, maka kemajuannya hanya sedikit.
Biasanya, guild tidak akan berurusan dengan masalah <Familia> kecuali memang penting.
Mereka adalah manajer Orario dan sama sekali bukan organisasi sosial untuk Adventurer dan Supporter.
Guild akan membantu Adventurer. Ini demi untuk meningkatkan efesiensi dari pulihnya ketertarikan terhadap Dungeon, dan mereka pada dasarnya tidak mengatur masalah pribadi Adventurer dan Supporters.
Apakan dia terlalu bergantung pada keakraban dan kebaikan Eina, Bell memikirkan ini sambil tangannya menekan dahinya.
“Hey hey, jangan paksakan dirimu, apakah ini oke? Jika itu kurang bagus, Aku bisa memperkenalkanmu ketempatku bekerja?”
“Tidak, tidak. Untuk kesalahan karena menggunakan Batu Sihir pembakaran dan menyebabkan ledakan besar tengah hari di toko, Lili menolak dengan sangat akan ini. Tolong biarkan Lili untuk menolak.”
“Bagaimana kau tau tentang ini!?”
“Meski Aku secara tidak sengaja mendengarkan kabar yang beredar, Karena disebabkan oleh Dewi Loli tukang onar, rumor tentang kecelakaan di Jalan Utama utara sudah sangat populer... ...”
“WAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!? Jangan bicara lebih lagi di depan Bell-kun AHHHHHHHH!”
“Muguuu!?”
Tapi bukankah ini tidak apa, Pikir Bell.
Jika demi perempuan berisik di depan matanya, dia akan tetap mau menundukkan kepala putihnya tidak peduli berapa kali pun.
Bell lanjut melihat kearah Lili, yang memperlihatkan senyum aslinya, dan Bell, juga, ikut tersenyum.
× × ×
Aku sedang berjalan di <Jalan Adventurer> di area Barat Laut Jalan Utama.
Setelah berpisah dengan Kami-sama, Aku bersiap untuk menuju ke markas guild. Aku berpikir untuk melaporkan situasi <Familia Soma> kepada Eina-san.
Sudah waktunya untuk toko-toko buka. Nampaknya hari ini, toko dari kedua sisi jalan terlihat sangat sibuk.
Jalan ini yang sering dilalui oleh Adventurer hampir dipenuhi oleh toko-toko. Jika kau memperhatikan lebih dalam, kau dapat melihat beberapa bangunan yang memiliki tampilan yang megah. Sebagai contoh, ada toko aksesoris yang mendekorasi pintu masuknya dengan elegan dan toko item yang dibangun dengan batu abu-abu yang kokoh. Bahkan barang dagangan yang dipajang di jendela, semuanya terlihat seperti memiliki kualitas tinggi.
Melihat sekitar, apa mereka baru saja menghentikan pekerjaan Adventurer? Sosok demi-humans, yang sering kali melepaskan perlengkapan berat mereka dan menggunakan yang lebih ringan, sedang berbelanja disekitar jalan itu.Kelihatannya banyak tim yang berkumpul disini dan bergerak bersamaan. Dan sepertinya mereka sedang mentertawakan topik yang menarik.
Ini tidak buruk. Aku sedikit cemburu kepada pemandangan rekanan itu, yang menjelajahi dungeon dan berbelanja bersama.
Tidak lama setelahnya, yang muncul di jalan adalah kuil raksasa, bukan, itu adalah Pantheon.
Aku berjalan menuju halaman dengan pilar putih yang menyambung ke markas guild.
Alasan lain mengapa Aku datang pada saat seperti ini karena ini tepat tengah hari ---- Ini adalah waktu dimana para Adventurer memulai penjelajahan Dungeon ---- Lobby dengan marmer putih sangatlah luas. Tidak ada orang lain yang kukenal yang harus kulewati dan Aku menemukan Eina-san dengan cepat.
“... ...?”
Sudah ada orang yang datang lebih dulu di depan jendela Eina-san.
Seorang Adventurer yang sedang memegangi sesuatu yang dililiti kain putih dan nampaknya sedang mendiskusikan sesuatu di depan konter.
Aku hanya melihat satu sisi berbicara dengan hati-hati dan Eina-san dengan ekspresi berpikir seius di sisi lainnya. Aku tidak terlalu memperhatikan orang tersebut dan melewatinya. Aku melihat sekilas ke rambut emas panjang dan lansung jalan melewatinya.
Tidak lama setelah aku dekat ke depan; Eina-san menyadariku. Mata berwarna hijau giok terbuka dengan syok.
Lalu, dengan mengikuti raksi itu.
Orang tadi, yang sekarang memunggungiku, berbalik secara perlahan.
(... ...Eh?)
Rambut emas panjangnya berayun, dan ditengah,terlihat sepasang mata keemasan.
Rahang dan leher yang ramping. Kulit putih lembut yang tidak cocok dengan rasnya. Dan itu sangatlah indah.
Dengan penampilan yang tidak kalah dari Dewi, Aku, yang baru saja datang, sedikit terkejut.
Aizu... ...Wallen... stein-san.
Kami bertiga diam seketika dan tubuh kami berhenti seketika.
“... ...”
“... ...”
“... ...”
Pandanganku dan Wallenstein-san saling berpotongan. Dan Eina-san bolak-balik melihat ke kedua arah.
Aku tidak dapat bernapas dengan normal. Kepalaku terasa kosong karena tatapan sepasang mata keemasan.
Keheningan yang lama terus berlanjut.
Aku, dengan wajah yang tidak bergerak, memutar badanku ke kanan perlahan dan memalingkan diri dari mereka.
Eh, seketika bisikan tak dikenal berbisik, Aku langsung berlari dengan seluruh tenaga menuju pintu keluar.
“B... Bell-kun!? Tunggu sebentar!”
Tidak mempedulikan suara Eina-san, Aku berlari dan berlari dan berlari.
Menendang keras ke lantai marmer, Aku mengayunkan tanganku dengan kencang dan menatap lurus ke pintu masuk markas.
----- Kenapa... Kenapa orang itu mencari Eina-san!?
----- Apa yang sedang terjadi!?
Leher dan wajahku, dan diikuti oleh telingaku menjadi berwarna kemerahan dalam pergerakan yang cepat ini, Aku terus mengikuti instingku untuk mempercepat lariku.
Tepat ketika kebingungan ini mencapai batasnya, Aku melewati halam an dan berusaha meninggalkan tempat ini.
Tapi disaat berikutnya, kecepatan bagai angin lewat dengan dekat.
Melewatiku, lalu dalam wujud yang menghalangiku, orang dengan rambut berwana emas mungcul dihadapanku.
“-------- Huh!?”
Mataku melebar hingga batasnya dan Aku tidak bisa mengerem dan bertabrakan dengannya.
“Bell-kun, Wallenstein!?”
Sambil mendengar langkah Eina-san mendekat, Aku menutup paksa mataku... ... Lalu aku menyadari kalau tidak sakit.
Ha, Aku membuka mataku, perut dan punggungku dibalut oleh tangan yang langsing, seakan Aku sedang didukung dengan pelukan.
Aku mengangkat kepalaku kebingungan, orang itu sedang menatapku.
“... ...Maaf, apa kau baik saja?”
“-----M... Maaf!?”
Wajahku berubah menjadi sangat merah, dan aku menjauh darinya dengan melompat kebelakang.
Bahkan serangan tiba-tiba itu melenyapkan momentumku dan rasa sakitku, tapi apa aku tadi baru saja dipeluk?
Hatiku seperti, patapata, dan berdegub tiada henti. Pada saat bersamaan, Aku merasa syok oleh perkembangan yang tidak terbayangkan ini.
“Apa yang kau lakukan! Tidakkah kau tau kalau kalau lari begitu saja sangat tidak sopan!?”
“M... Maaf, Eina-san... ...”
Meski secara refleks aku hanya bisa meminta maaf pada Eina-san, yang datang dan memarahiku didepanku, tapi arah mataku tetap tertuju pada tubuh Wallenstein-san.
Seketika tatapan kami saling bertemu, Aku langsung memalingkan dengan panik. Aku bertanya dengan tidak jelas.
“I... Itu... I... Ini... Situasi apa ini... ... !?”
“Ha... ...Wallenstein sepertinya mencari Bell-kun untuk sesuatu.”
“Eh!?”
Aku mengeluh sambil terlihat kebingungan, Eina-san hanya memberi tahu sedikit tentang permasalahannya.
Aku secara refleks berbalik arah dan Wallenstein-san membuka item yang dibalut kain.
Yang ternyata adalah sebuah pelindung tangan berwarna hijau giok.
Aku terperangah
“Dia mendapatkan ini di Dungeon dan dia bilang dia ingin memberikannya langsung kepadamu. Itukah mengapa Wallenstein datang untuk berbicara denganku?”
Selagi Eina-san berbicara, Aku Terperangah sekali lagi.
Pelindung tangan ini, itu adalah sesuatu yang kujatuhkan saat sedang diserang oleh monster di lantai 10. Saat itu, Aku mati-matian kearah Lili dan semakin sulit dan sulit untukmemulihkannya... ...
Lalu Aku menyadari. Saat itu, orang yang memberikanku bantuan pasti adalah orang ini.
“... ...Bell-kun, kalau begitu kalian berdua bisa membicarakannya sendiri.”
“Eh!?”
Terhadap kalimat yang terdengar oleh telingaku itu, Aku melihat kearah Eina-san.
Seraya bertingkah ceroboh Aku berbisik kepadanya dan berusaha memohon.
“K... Kumohon tunggu Eina-san!? Aku mohon padamu, Aku mohon kau tetap disini... ...! Aku akan mati... ...!?”
“Apa yang kau katakan, yau laki-laki, kan. Hal yang akan kau katakan sangatlah penting, jadi kau harus mengatakannya sendirian. Mengerti?”
Semoga beruntung, Bisik Eina-san seraya mendekatkan wajahnya.
Terhadap kepeduliannya yang mungkin ingin kami sendirian demi kebaikanku, Aku hanya dapat menangis. Aku hanya bisa melihat sesosok yang meninggalkanku seakan Aku hewan yang ditelantarkan.
“... ... Soal itu, ini”
“!”
Aku sedang diajak bicara, jadi aku berbalik dan dengan cepat mengambil pelindung tangan yang diberikannya.
Wallenstein-san, yang sedikit lebih pendek dibandingkan aku, terus menatap kearah sini.
Tubuhku menjadi patung merah dan seperti biasa, Aku tidak bisa berbicara.
“Maaf”
“Eh... ...?”
Itu adalah kesalahanku mengenai Minotaur yang kukalahkan. Aku telah membawa banyak masalah untukmu dan bahkan membuatmu terluka parah... ... Aku selalu ingin meminta maaf. Maaf.”
Melihatnya menunduk padaku, Aku menahan napas. Keadaannya seakan angkat bicaranya itu adalah sebuah kebohongan.
“T... Tidak! Itu adalah kesalahanku karena lari dengan ceroboh ke lantai bawah Dungeon.Wallenstein-san, Ini sama sekali bukan salahmu! Terlebih, kau seharusnya adalah penyelamatku, yang telah menolongku! Jika kita harus menentukan siapa yang seharusnya minta maaf, itu seharusnya aku, yag kabur tanpa berterima kasih... ...M... Maaf!”
Aku menganggukkan kepalaku dan merasa sedikit kebingungan. Singkatnya, aku harus mengucapkan semua kata-kata yang tidak kuucapkan.
“Itu, yang ingin kukatakan, jadi... ...”
Aku, yang wajahnya menjadi seakan terbakar, bersusah payah menyelesaikan kata-kata yang harus kusampaikan, dan akhirnya, akhirnya aku mampu mengatakannya.
“Terima kasih sudah menolongku berkali-kali... ... Aku sangat berterima kasih!”
Dengan kecepatan yang luar biasa, Aku menunduk.
Mataku yang gemetaran memantulkan pola batu di kakiku, dan keringat di dahiku mengalir melewati hidungku dan menetes ke tanah.
Suara kesibukan jalanan terasa sangat sangat jauh, dan hanya detak jantungku yang bergema kencang.
Aku terdiam seperti itu untuk 10 detik.
Aku mencoba yang terbaik dan kembali ke posisi tubuhku semula.
Wallenstein-san, yang menatap halusku, terlihat jelas menunjukkan senyuman.
“~~~~~~~~~~!”
Gahahaha,  sembari Aku berusaha lari dari suara aneh ini, seluruh wajahku menjadi merah seakan Aku akan menyemburkan api.
Seakan mencoba melarikan diri dari senyumannya dan menundukkan kepala, Aku menutupi mataku dengan poniku.
Dengan suhu yang berbeda dengan dadaku, punggungku juga terasa panas dan sangat tidak tertahankan.
“... ... .”
“... ...”
Percakapannya terhenti.
Entah itu aku atau Wallenstein-san, kami berdua tidak berbicara. Dan hanya waktu yang terus berjalan.
Pada saat ini, jangan bicarakan tentang Adventurer, apalagi anak kecil yang melalui tempat ini. Ditengah halaman yang luas di depan Markas Guild, kami terdiam. Selain beridiri disana, kami tidak bisa melakukan hal lain.
“... ...Penjelajahan Dungeon-mu, kau masih bekerja keras?”
“Y... Ya!?”
Suara yang datang itu membuatku mengangkat kepalaku.
Dengan ekspresi yang samar, Wallenstein-san melanjutkan bicara.
“Sepertinya kau sudah mencapai lantai 10... ... Luar biasa.”
“T... Tidak sama sekali, itu berkat bantuan dari banyak orang, atau mungkin, Aku masih belu cukup bagus!? Tujuanku masih jauh dari jangkauan... ...!”
Dikarenakan pujian orang yang kudambakan, Aku seketika menjadi panik lagi.
Aku, kurukuru, tanganku menjadi putih, fufu, menggerakkan tanganku.
“Teknik bertarungku juga, mungkin karena kepribadianku atau karena aku adalah seorang amatiran, Aku sering kali melakukan tindakan aneh dan hampir terbunuh oleh Monster. Meski kutahu Aku harus menjadi lebih kuat, tapi ini benar-benar mustahil dan sangat kacau, itu... ...!?”
Seperti rem yang rusak, kata-kata tidak masuk akal keluar dari mulutku. Apa yang kulakukan, apa aku berusaha merendah atau mencoba terlihat rendah hati.
“... ...”
Wallenstein-san hanya lanjut menatapku, yang telah kehilangan ketenagannya.
Sesaat setelahnya,  dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu yang serius dan menutup rahangnya.
Aku, yang pikirannya kusut, segera menyadari ekspresinya dan Aku sambil taku-taku bertanya dengan wajahku masih berwarna merah padam.
“I... Itu... ...Apa... Apa itu?”
Wallenstein-san, yang daritadi diam, melihat kearahku. Sudah lewat beberapa detik setelah dia melihatku dengan ragu-ragu.
Dia juga dengan malu-malu memilih kata-katanya.
“Jika begitu... ... Mau aku mengajarimu?”
“... ...Eh?”
“... ... Teknik bertarung. Tidak ada yang mengajarimu, kan?”
Dibutuhkan waktu yang sangat lama bagiku untuk memahami permintaan itu. Aku melebarkan mataku. Pikiranku sangat kebingungan.
“A... Apa, K... Kenapa kamu mau melakukan hal seperti itu... ...!?”
“... ... Karena kelihatannya kau inging jadi lebih kuat. Aku, juga, paham perasaan itu.”
Diikuti dengan permintaan maafnya, Wallenstein mengatakan hal ini.
Setelah dikejutkan olehnya, Akan aneh rasanya jika aku bisa menenangkan diriku.
Membiarkan orang ini mengajariku teknik bertarung? Memperbolehkan orang, Yang terus kukejar dan rindukan, untuk mengajariku?
Apakah aku benar-benar bisa melakukannya?
Apakah tidak ada kesalahan?
Aku, yang betul-betul masih kekanakan, akan berhubungan dengan orang ini.
Ngomong-ngomong, masalah mengenai <Familia harus-----
Kepalaku dipenuhi pertanyaan yang terus berputar. Meski begitu, Aku tau kalau mereka semua menyamar untuk menutupi kebenarannya.
Aku ingin berbicara dengan orang ini, Aku ingin mengenalnya, Aku ingin tertawa bersamanya dan Aku ingin berbagi waktu dengannya.
Rasa rindu ini, semangat besar yang seperti orang bodoh. Meski hanya untuk sementara, Aku tetap ingin bersamanya. Ini datang dari lubuk hatiku yang terdalam.
Kerinduan dalam hatiku nampaknya mulai menghilang.Terhadap jawaban yang sudah dipastikan, Aku hanya terus memikirkan, menelusuri dan membabi buta mengganggu diriku sendiri.
× × ×
“... ...”
Terhadap Bell, yang memikirkannya secara serius dengan majah membara, Aizu hanya bisa menatapnya dalam diam.
Aizu tidak berbohong tentang alasan yang dia katakan tadi. Dia merasakan getaran dari kata-kata yang Bell ucapkan, ini kebenarannya.
Meski begitu, tentu saja, ini tidak semuanya dipenuhi oleh maksud baik. Ada beberapa perhitungan dan rencana didalamnya.
Pertama kali dia merasakan kalau ada yang salah adalah ketika dia di Silverback.
Diikuti oleh Bell memasuki lantai 10.
Dari pengalaman Aizu, perkembangan Bell menunjukkan hasil <Growth> yang tidak wajar dengan jangka waktunya.
Semenjak berhadapan dengan Minotaur, dia tidak berpengalaman dan Adventurer pemula mengalami perkembangan luar biasa yng menarik perhatian Aizu.
(Aku ingin tau... ...)
Aku ingin mengetahui rahasia Bell akan <Growth> -nya. Aku ingin menyelidikinya.
Untuk dirinya.
Alasan mengapa ia berinisiatif dan memintanya untuk mengajar dia berkaitan erat dengan tujuan ini
“Meski Aku menerimanya, Aku akan merasa tidak enak... ...Bukan, itu perbuatan baik yang jarang... ...”
“... ...”
Pada saat bersamaan, mungkin, dia juga merasa bersalah.
Terhadap anak yang percaya kalau perimintaan ini murni untuk kebaikannya, hatinya mulai terasa sakit.
Aizu tanpa sepatah kata menurunkan pandagannya dari Bell, yang sedang memegang kepalanya dan bergumam sendiri.
Dan memegang gagang pedangnya yang berada di pinggang dengan erat.
Seakan dia ingin menebas kebingungannya sendiri.
“... ...K... Kalau... Wallen... stein-san... ...”
Dia menaikkan pandangannya.
Bocah berambut putih, dengan wajah padam seperti sedang demam dan mata yang berterus terang, membuatnya menurunkan pandangannya lagi.
“T... Tentang mengajari... M... Mohon bimbingannya!”
Aku harus menebusnya.
Aku harus merespon sesuai ekspetasinya. Sebagai permintaan maaf akan rasa bersalah dalam hatinya. Aizu berpikir seraya menatap mata berwarna merah tua itu.
“... ...Ya. Senang... bertemu denganmu.”

Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou Ka? Jilid 3 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.