22 Juli 2016

Boku wa Tomodachi ga Sukunai Jilid 10 Bab 4 LN Bahasa Indonesia

DI BALIK LAYAR

Seusai sekolah pada hari Senin yang sejak dini hari mengikuti kunjungan santainya Klub Tetangga  dan OSIS.
Sebelum aku menuju ke ruang Klub Tetangga, aku menuju ke ruang OSIS untuk mengecek Yozora, yang seharusnya sedang mengajari Hinata-san, dan berpapasan dengan Jinguuji Karin.
“Ohh, Hasegawa-kun.”
“Yo, Kau mau ke ruang OSIS juga?”
Tapi Karin menggelengkan kepala nya,
“Aku mau menghadiri ruang klub hari ini.”
“Ruang Klub...... maksudmu Klub Pengurus Game?”
“Ya. Kalau aku tidak memberi mereka cintaku dari waktu ke waktu, para kekasihku akan merasa kesepian.”
“Ci-Cinta?! Kekasih...... Tunggu, Para kekasih?!”
Melihatku yang sedang kebingungan, Karin mengangkat sedikit ujung bibirnya.
“Itu benar, Klub Pengurus Game yang terdiri dari empat anggota yang merupakan para kekasihku. Kalau aku mengistilahkan buruknya, kau bisa mengatakan mereka adalah---- harem.”
“Hah? Ha-Harem, ......Tunggu, apa kau bersungguh-sungguh?”
“Tentu saja.”
Sambil aku meragukan watak aslinya, aku menatap wajah Karin, tapi aku tak melihat ada tanda bahwa dia sedang bercanda.
“Sebuah harem...... aku tak pernah berpikir kalau sesuatu yang seperti film Timur Tengah atau komedi-romantis itu nyata......”                                                                
“Fufu, kurasa begitu.”
Karin tersenyum dengan nakal; ada isyarat kebanggaan dalam suaranya.
“Tunggu, apakah kau membuat Yozora berubah pikiran seperti itu?”
“Cintaku tak mengenal batas.”
Kata-kata yang diucapkan olehnya sendiri, dia terdengar keren.
“.......Sebenarnya aku sangat ingin menambahkan Yozora-oneesama menjadi haremku, tapi.... kuputuskan menyerah untuk itu.”
“Menyerah?!”
Aku tercengang oleh ucapan nya yang tiba-tiba, tapi Karin tetap biasa saja.
“Aku datang untuk memberitahu nya bahwa ada orang lain yang jauh lebih pantas untuk Onee-sama.”
“.............”
Aku tak berani bertanya siapa yang dimaksud Karin.
“Kau masih terlalu mudah untuk menarik diri, kan? Dan kau terlalu sulit untuk mengejarnya.....”
“Kalau kau datang untuk menyukai seseorang, lakukanlah segera. Kalau kau mengerti bahwa itu sia-sia, lebih baik biarkan saja mereka pergi dan mulai untuk mengatur sasaran selanjutnya. Itu menurutku.”
“Jalan hidup yangberani.”
Aku berkata dengan acuh tak acuh, tapi aku langsung menyesal tanpa sadar.
Ekspresi Karin terlihat menunjukkan sedikit senyum yang masam.
“Aku benar-benar berharap aku dapat melahirkan seoranglelaki.”
“..........”
Itu kata-kata yangcukup berat.
“Selama ini, kurasa ‘itu’ sudah cukup hanya berada disisi nya, tapi satulalu yang lain, tiap dan setiap gadis yang kulihat telah dirampas oleh para lelaki. Selain itu, aku pun sudah mendekati orang yang ku suka untuk urusan cinta. Hal yang seperti ‘Kau adalah temanku, jadi aku sudah seperti membuka hatiku.......’ jadi aku datang untuk membencinya dan akhirnya aku memutuskan untuk bertindak dengan segera.
.....Dia benar-benar mengomel sekarang, tapi Karin masihlah Karin, dan setelah menderita melalui berbagai macam rintangan, dia berakhir seperti dia yang sekarang.
“Bukankah menjadikan seorang harem agak berlebihan......?
“Itu menyenangkan, kan? Semua orang bahagia.”
“Tunggu, bukankah kau seorang Kristian sejati? Apa itu suatu hal yang baik-baik saja dengan agama?”
“Pukul aku. Setidaknya itu bukan larangan yang tegas.”
“Kau sudah jadi penentang.......”
“Ketika aku pertama masuk ke dalam Akademi ini aku menerima baptis ku untuk menjadi seorang Kristian yanglangsungberusaha dan merebut perhatian seseorang yang kusuka. Sekarang kenyataan bahwa aku di tolak, aku tak peduli tentang ajaran Kristian atau apapun itu.”
Karin menyatakan sesuatu dengan tenangnya bahwa penganut yang setia dilarang untuk marah kalau mereka mendengar nya.
“Aku hanya percaya pada apa yang ada dalam diriku. Bahkan Tuhan pun tidak bisa menghentikan ku dari itu.”
“......Kau ini teguh, yah......”
Aku berkeluh dengan sedikit takjub. Walaupun ini bisa dibilang sejenis chuunibyou, tidak seperti chuunibyou yang Kobato miliki, begitu menentang dengan keras justru semakin menjadi.
“Yah, nama Kristian yang kupakai adalah Gabriella, jadi aku tak bermaksud untuk mengubah nya. Dan aku suka gabungannya. Keren sekali.”
“Aku punya firasat bahwa ada banyak dari seorang Kristian yang menggabungkannya secara berlebihan tak peduli sebanyak apapun, tapi mungkin gabungan dari huruf kesepuluh ini sangat banyak.”
“Tentu saja keren. Tasbih yang kau dapatkan dari pendeta yang mem-baptis mu tidak keren. Jadi aku meletakkan nya didalam tas. Apa yang kupakai sekarang ini semuanya adalah aksesoris yang sudah kukumpulkan dari waktu senggangku. Lihatlah yang satu ini.”
Dia dengan bangganya menunjukkan sebuah gelang dipergelangan tangan nya ke dekatku, yang mana ada salib kecil yang melekat diatasnya.
Ketika aku melihatnya lebih dekat, itu benar-benar tulang kecil miliknya yang terukir ditengah salib yang kau akan ketahui hanya saat ada pemeriksaan tertutup.
“....... Kau selalu membuat apapun dengan sangat baik, ya.......?”
Ketika aku memujinya sekarang, Karin menanggapi nya dengan malu seperti “Aku tahu, kok?”
“Mereka baik sekali kami bahkan diizinkan untuk memakai semua aksesoris perak yang ada ke sekolah selama kau berkata ‘Ini karena aku adalah seorang Kristian’, ya kan? Bahkan kupikir aku benar-benar tak punya alasan apapun.”
Aku mulai berpikir kalau dia tak disangka berhubungan baik dengan Yozora yang dengan gaya sinisnya dalam berbicara.
“......... Baiklah kalau begitu, aku akan pergi untuk melakukan beberapa hal cabul didalam ruang klub, ya kan? Rasul yang jatuh kedalam kegelapan yang terdalam, yaitu: Junguuji Gabriella Karin......”
“B-Benar juga...... Sampai jumpa lagi.”
Perpisahannya yang memalukan, aku melihat Karin melepaskan sebuah ekspresi yang samar.
Segera setelah aku berpisah dari Karin, aku berpapasan dengan Takayama Kate.
“Yo, Onii-can.”
“Hei.”
Sambil menggaruk bokongnya dengan tangan kanannya, dia mengangkat sedikit tangan kirinya dan menyapaku. Aku pun menyapa nya balik.
“Pas sekali”, katanya.
“Untuk apa?”
“Untuk mengatakan yang sebenarnya, aku akanmemintatolong pada Kobato-chan. Akankah dia datang hari ini?”
“Dia mungkin sudah tiba sekarang. Ada apa?”
Kupikir Kobato dan Kate adalah kebalikan dari Maria dan aku tak tahu benar urusan apa yang ada diantara mereka.
“Apa kau tahu bahwa kami punya Misa Natal di kapel pada 24 Desember?
“Ya, aku melihatnya di poster.”
Sebuah Misa Natal yang akan diadakan di aula kapel Akademi St. Chronia pada 24 Desember.
Di hari yang sama, acara Natal OSIS  yang akan diadakan di gedung olahraga hanya untuk siswa, tapi semua orang bebas untuk ambil bagian dalam misa.
“Kami akan ikut dalam sebuah drama, kau tahu. Aku ingin mengajak Kobato-chan untuk berpartisipasi.”
“Hmm, drama? ..... Kenapa Kobato?
Terdengarkebanggaanyang aneh, Kate melanjutkan,
“Itu sudahpasti karena Maria kami akan bermain peranutama dalam drama, kau tahu?”
“Maria?! peran utama?!”
“Ketika ku katakan padanya bahwa kami akan ikut sebuah drama untuk misa, entah untuk alasan apa dia bilang kalau dia sendiri yang ingin bermain peran utama, kau tahu ...... Aku penasaran kalau itu juga karena onii-chan dan lainnya.”
Kate berkata, kelihatannyasenang dari hatinya yang terdalam.
“Dan juga, kalau Maria bermainperan utama, kupikir kalau pasangannya sudah jelas Kobato-chan. Karenanya, itu seperti, momen besar Maria dan semuanya, jadi aku ingin menyiapkan peran yang cocok untuknya juga, kan? Dia tidak imut seperti Maria, tapi, yah, Kobato-chan menarik dengan cara nya sendiri dan kupikir dia orang yang lebihpantas untuk membuat Maria terlihat bagus.
Sekarang dia berubah sepenuhnya kedalam mode seorang kakak dan mengatakan sesuatu yang agak kasar tentang Kobato, tapi aku setuju kalau Kobato akan membuat perpaduan yangpaling baik dengan Maria.
Bahkan dalam film bebas ‘Putri Kobato’ atau ‘Legenda dari Kasiwasky Suenna yang Terkenal’ dia mampu memikat para penonton dengan peran nya yang sangat bagus.
Ditambah,
“....... Aku juga suka melihat Kobato dan Maria berperan bersama.”
“Sudah kuduga?!” Kate gembira melihatku yang setuju.
“Oh ya, dramaseperti apa yang akan dimainkan?”
“Drama nya ‘Karunia dari Tiga Raja Timur’. Seperti pada Natal umumnya.”
“Aah, yang satu itu......”
Aku tak menganggapaku sudah pernah membacanya dengan baik, tapi itu sebuah cerita yang populer, bahkan juga aku hanya tahu intinya.
Itu tentang sepasang suami istri yang intim dan bagaimana mereka pergi membeli hadiah untuksatu sama lain.
“Aku ingin Maria yang menjadi suami, yaitu Jim dan Kobato yang menjadiistri, yaitu Della.”
“......Mereka berdua berperan sebagai sepasang suami istri yang intim.....?”
Kate tersenyum masam seolah aku membuat wajah yang rumit.
“Itu karena, kau tahu, mereka begitu intim ketika mereka sedang bertengkar begitu.......”
Aku penasaran apakah ada sepasang suami istri  intim yang menikah selalu bertengkar dan berteriak kepada satu sama lain seperti yang mereka lakukan, tapi hubungan mereka sebenarnya tak ada sangkut-pautnya selama mereka bisa memerankanperannya.
“Haruskah kukatakan pada Kobato nanti? Atau kau yang akan menanyakan nya?”
“Aku saja,” jawab Kate.
Akhirnya kami menuju ke ruang Klub Tetangga bersama-sama.
Dalam perjalanan,
“Membicarakan yang mana, Onii-chan, kau tadi mengobrol dengan Jinguuji-san, kan?”
Sambil kami berjalan, Kate tiba-tiba menanyakan itu.
“Hmm? Ya. Kau kenal dia?”
“Aah...... Ya...... Yah, sedikit.....”
“........?”
Rasanyaseperti keluar dari topik begitu dia bertele-tele seperti itu, mengingat ini adalah Kate
“........Apa kau sudah menjadi gadis Kristian seperti Karin untuk menarik perhatian nya......?
“Ka-Kau itu menusuk, Onii-chan.......”
Kate menatap tajam kepadaku, wajahnya penuhtakjub dan heran. Kelihatan nya aku benar.
Mengingat Karin sendiri yang berkata kalau dia menerima Baptis nya segera setelah masuk ke akademi, dan hanya seorang Kristian di kepengurusan yang berumur sama seperti nya jadi aku tahu itu adalah Kate, tak terlalu banyak menggunakan otak untuk memecahkannya.
Tersenyum dengan lembut, Kate menjelaskan:
“Ini pertama kalinya bagiku dapat pengakuan dari seorang gadis,  jadi aku sangat takut waktu itu, kau tahu. Terlihat bahwa Jinguuji-san sekarang sanggup lebih banyak memberikan orang lain ruang mereka, tapi saat itu dia sangat ambisius dan tidak sedikitpun memikirkan keadaanku. Tiba-tiba dia datang dan berkata dia masuk agama Kristen untuk lebih mengenal ku. Sebenarnya, itu menjijikan. Aku juga tak suka perlakuan gadis yang merindukanku layaknya seorang penguntit dan aku penasaran apakah itu ujian toleransiku dari seorang kakak perempuan. Tapi aku tidak punya keputusan maupun waktu untuk menerima perasaannya.....”
Kate pun menghela napas, memandang langit.
“Haa~....... Aku masih muda saat ini, kau tahu?”
“Tunggu dulu, kau masih muda sekarang!”
Aku menyelanya sebelum aku mengetahuinya, dia seperti menunjukkaan ekspresi yang tak ramah.
“Aku, ya....... Aku masih muda dan sampai ‘sekarang’. Untuk saat ini aku masih buruk dalam urusan cinta, kau tahu?”
“Cinta, ya...... Kelihatannya sulit.”
Aku menggerutu dengan jelas.
Kalau kita membicarakan tentang seseorang aku seperti, ada ‘banyak kepribadian’.
Aku tahu perasaan orang yang kurang berkencan dengan seseorang.
Disaat yang sama, sekarang aku dapat sesuatu yang lebih penting daripada cinta. Kalau cinta akan menghancurkan hal yang lebih bernilai dari apa yang kumiliki, maka aku lebih baik menahan diri untuk tidak mencintai siapapun, tak peduli seberapa berharganya.
Kalau aku memikirkannyadengan tenang, ditambahan keputusan yang terlihat keren ini, ada banyak ketidakkerenan, juga keraguan yang menyedihkan. Sesuatu yang seperti, “aku tak yakin andaikata aku bertindak ketika kau pergi, itu menakutkan”, atau seperti, “Bagaimana kalau aku mulai membenci orang lain dengan benar karena sebagai gantinya kami mulai memisahkan diri bersamaan?” atau bahkan, “Ini sangat mungkin kalau aku akan jadi salah satu orang yang akan dibenci,” dan “Kalaupada akhirnya itu terjadi, apa yang mesti kulakukan nanti?”. Pikiran negatif selalu saja muncul lagi.
Sanggup untuk menerima beban yang sebenarnya dengan tanpa takut mengacaukannya, seperti yang Karin lakukan, benar-benar luar biasa dalam kamus ku.
Bahkan meskipun cinta itu memiliki kesan yang lebih membahagiakan dan menyenangkan, yang lebih serius dari yang kau pikirkan, justru hal yang lebih menakutkan akan terjadi.
Dalam masyarakat saat ini, tak ada yang istimewa untuk orang yang telah mengingkari bahwa cinta adalah sesuatu yang sangat bagus, tapi itu tak bisa dengan pasti dijadikan kebenaran yang mutlak.
“Kukira dulu aku hanya akan jatuhcinta dengan diriku sendiri, ya?”
Kate berkata dengan senyum yang pahit.
“Tak seharusnya kan itu berjalan mulus dalam sekali kau mencari orang lain yang berarti bagimu?”
Dengan ceroboh, aku mengatakan sesuatu yang mungkin saja terdengar seperti sesuatu yang pantas untuk dikatakan.
“Orang lain yang berarti, ya.....” Kate melemparkan pandangan sekilas kearahku.
“......Lalu, bagaimana denganmu, Onii-chan?”
“Tentangku apa?”

“Lalu bagaimana kalau jatuh cinta padaku?”

Dia melemparkan kata-kata itu padaku secara blak-blakan.
Ketika aku menilai raut wajahnya Kate dengan seksama, aku mengerti nadanya itu menjelaskan dibalik pipinya yang memerah.
Aku tak bisa beralasan lagi.
Kalau Kate menanyakanku dengan serius, maka aku mesti memikirkan nya dengan serius, juga.
“Ehm-----“
“Itu lelucon, lelucon!”
Tak menunggu jawaban dariku, Kate kembali menamparku berulang-kali
“Ap------?!”
“Serius deh, ya ampun! Kalau kau tak mau lebih baik abaikan saja itu, aku jadi tidak bisa tetap disini lebih lama, ya kan! Ayolah jangan membuat wajah yang serius seperti itu saat aku mencoba untuk membuat lelucon disini, Onii-chan!”
“Le-Lelucon......?”
“Aku ini adikmu, kan? Aku sudah menikah dengan Tuhan. Hahaha.”
“Ja-Jadi begitu.”
“Begitulah. Sekarang, ayo akhiri pembicaraan santai kita disini, aku harus cepat dan pergi mencari Kobato-chan!”
Kate secara tiba-tiba mempercepat langkahnya dan pergi mendahului.
Bahkan aku tak punya pendapat saat telinganya berubah merah.

Takayama Kate telah melalui banyak hal.
Jinguuji Karin telah melalui banyak hal.
Mikadzuki Yozora telah melalui banyak hal, dan juga Hidaka Hinata.
Semua telah memlui banyak hal------- tak ada satupun yang tak memilikinya.
Aku masih tak sadar sepenuhnya kalau aku tidak bisa membiarkan penjagaanku lengah, apakah aku menginginkannya atau tidak, dihadapankan pada kenyataan yang keras agar aku mencoba berhenti untuk berpura-pura aku tak peduli, melihat, atau mendengar mereka yang berada di sekitarku.
Itu hanya kewajaran umum yang tak hanya tempat protagonis itu dengan sendirinya berada ditengah-tengahdan menerima mereka semuasertasegala sesuatunya berpusat disekitarnya. Kepala ku memahami itu, namun, aku benar-benar tak menyadarinya.


Dekat ke kapel kami berpapasan dengan Kobato, yang menuju ke ruang klub.
Ketika kami menanyakannya tentang drama misa Natal nya Kate, tanpa diduga Kobato menyetujuinya dengan sepenuh hati.
“Kukuku...... si bodoh itu bawahan nya Tuhan........ Bodoh sekali barsaing dalam sebuah drama dengan diriku yang terkenal ini........ Seharusnya akumemberinyaperasaan dari kebodohan yang dimilikkinya.”
.......Yah, tak mungkinitu tak diduga.
Bermaindiperan utama bersama dengan Maria------ Ide yang Kobatoharus siap terima tak mustahil untuk diprediksi lagi.
Aku memisahkan diridari Kate dan Kobato, berjalan, dan sekali lagi menuju ke ruang OSIS.
Diperjalanan, aku bertemu lagi dengan kenalanku yang lain.
Dengan lambaian tangan nya yang sekilas, aku menyapa dari dalam kerumunan siswa yang tak dikenal (semuanya para gadis) ke Ootomo Akane-san. Dia berjalan kearah ku sambil dihujani lemparan suara yang tinggi seperti, “KYAAA, dia menyapa Senpai.”
Berjalan dihadapan nya dengan sebuah ekspresi yang masam tak ada apa-apa nya dibandingkan Mikadzuki Yozora.
“Yo, Hasegawa-kun.”
“Hey.”
Setelah aku mengembalikkan sapaannya Akane-san, aku melihat kearah Yozora.
“Yozora, kau tak sedang mengawasi belajarnya Hinata-san lagi?”
“Untuk sekarang dia sudah diberikan pelajaran dasarnyakelas 2 SMA. Aku akan menghentikannya kalau dia tak menyelesaikannya ketika aku kembali lagi dalam 30 menit. Untuk setiap jawaban yang salah, akan ku kelupasi satu persatu jari kuku nya.
Yozora menjawab dengan ekspresi yang serius dan tatapan yang tajam.
“....... Bukankah itu terlihat seperti aku...... perlu menanyakan suasana hati mu, kan?”
Yozora mengangguk pelan.
“Ya.... pemikiran bahwa akan berada di kelas yang sama dengan kakakku tahun depan..... tak adil.....”
“Bu-Bukankah terlalu cepat untuk menyerah?! Masih ada harapan! Kalau kau cukup keras percaya, impianmu pun akan terwujud! Aku tahu kau bisa melakukan nya!”
Aku mencoba untuk memberikan Yozora yang ‘dalam mode menyerah’ sepenuhnya dengan berbagai dorongan kosong.
“......Hmph..... Memikirkan aku yang bertanggung jawab untuk ini...... Yang paling bisa kulakukan adalah menghibur diriku dikamar mandiorang lain.....”
Yozora mengomel dengan sabar jadi itulah yang bisa kudengar darinya.
“Kau masih saja berbicara seperti itu......”
“.........///”[1]
Dia mungkin saja ingin menganggapnya sebagai lelucon yang menentang, tapi momen itu gagal wajahnya malah memerah. Cukup, itu sangat memalukan, jadi aku ingin kau hentikan itu.
“O-Oh ya, apa yang sedang kalian berdua lakukan bersama?”
Aku berdalih Akane-san menolongku untuk mengubah topik.
“Karena ‘kesibukan’ Hina, jadi aku meminta Mikadzuki-san untuk menolongku dengan beberapa pekerjaan.”
“Benarkah.....?”
Aku menatap kearah Yozora yang terkejut.
“Hmph..... Aku sangat tak suka bersih-bersihkarena si kepala gorilla itu. Tapi otakberlumpur nya itu tak bisa dipakai dua kali untuk yang hal lain selain belajar saat ini, jadi aku tak punya banyak pilihan, oke?”
Yozora memaki kakaknya dengan wajah seperti dia sangat kesal dari dalam pikirannya yang terdalam, tapi tak membantu dengan tanpa menghiraukan berbagai pekerjaan sebenarnya menunjukkan kalau dia hanya tak jujur atau tsundere?
Hanya saja Kobato dan Maria, dalam kenyataannya, dia adalah orang yang sangat peduli.......
“Kalau menurutmu tak masalah, aku akanmeminjamkan tanganku juga.”
Yozora menggelengkan kepalanya.
“Tidak, untuk saat ini baik-baik saja.”
“Tak perlu merasa bersalah untuk meminta bantuanku, kau tahu?”
“.......Kau mau membersihkan ruang klub tenis yang busuk itu? Mengejutkan sekali orang bejat sepertimu..... Benar-benar sepertiku, ya ///.....”
Sudah kukatakan kalau kau harus benar-benar menghentikan lelucon masokis itu karena wajahmu memerah setiap waktu!
“Su-sudah pasti, tak seharusnya aku membantu dengan hal itu, kan.”
“Yah, sepertinya Aoi dan Kusunoki-san juga akan datang, jadi kami akan menyelesaikannya dalam waktu singkat,” kata Akane-san.
“Yukimura juga?”
“Ya. Kelihatannya dia akan datang dan membantu OSIS untuk sementara waktu,” Yozora menambahkan.
“Begitu ya.......”
Yukimura ternyataadalah temannya Aoi.
Baguskan memberi bantuan padateman-teman.
......Dan lagi, kenapaaku punya perasaan yang mengganggu ini.
“Baiklah kalau begitu, ayo, Mikadzuki-san?”
“Ya...... Sampai nanti, Kodaka.”
“I-Iya.”
Kukatakan pada mereka bahwa mereka bisa memanggilku kapan saja kalau mereka membutuhkanku, dan berpisah dengan Yozora dan Akane-san.
Baiklah, aku bisa mengecek bagaimana Yozora pergi, sepertinya aku akan menuju ke ruang klub sekarang......


*BRAKK!*
“AKU PASTI AKAN MENCIPTAKAN SEBUAH OBAT YANG DAPAT MEMBUAT PAYUDARA BERKEMBANG!”
“Eh?!”
Akhirnya aku sampai di depan kursi kapel ke-4, pintu ruang klub dilempar terbuka dengan kejamnya dan sangat mengganggu ditambah teriakkan Rika pun meledak keluar.
“Ri-Rika.....? Apa yang sedang kau lakukan?”
“.......Ah. Kodaka?”
Rika mencebil bibirnya dan melihat kearah ku dengan mata yang terlihat jelas.
Dengan melihat kedekatnya aku mengetahui matanya yang sedikit berlinang.
Rika menghapus air matanya dengan segera dan menatap kearah ku untuk beberapa alasan.
“.......Kodaka, aku ingin kau memberiku sebuah jawaban yang jujur.”
“Ba-Baiklah?”
“Apakah kau sangat menyukai dada?”
“.......Tergantung pada tingkatannya.”
Aku penasaran kenapa dia harus menanyakan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, tapi Rika menunjukkan ekspresi yang sangat serius, jadi aku menjawab nya dengan serius juga.
“Kalau begitu, lalu apa kau menyukai ukurannya Sena-senpai?”
“Begitulah.”
“................Ukuran siapa yang lebih kau suka, punya Sena-senpai atau punyaku?”
“........................punya Sena.”
Ini hanya tentang dada dan hanya tentang opiniku yang sangat individu, jadi tak ada jawaban lain yang memungkinkan.
Bagaimanapun juga, itu kelihatannya bukan jawaban yang sangat diinginkan oleh Rika.
“Sialan----!! Kalau begitu, aku akan menyelewengkan seluruh gen umat manusia, membuat semua orang didunia ini memiliki payudara besar yang bergoyang dan menghancurkan penilaian benda aneh yang disebut dengan buah dada itu.”
“Hah?! Tung----- Oi, Rika?!”
Rika menyatakan ambisinyayang menyimpang bukan main seperti seorang ilmuwan yang sangat marah dan melarikan diri kearah yang salah.
Lagipula kenapa dia begitu serius menanggapi hal itu, bisa jadi pernyataan nya itu merupakan hal yang sama artinya dengan “Kalau aku membunuh seluruh wanita yang memiliki dada yang lebih besar daripada aku, dadaku akan menjadi satu-satunya yang paling besar, kan......” itulah rekaan Yozora beberapa saat yang lalu.
Masalahnya bukan tentang halyang mutlak tapibagaimanapun juga untuk menerima suatu perbandingan----- Intinya bukanlah untuk kemenangannya sendiri, tapi untuk membuat yang lainnya kalah..... Sebuah pemikiran yang dinyatakan dari permusuhan.
“Apa-apaan tuh.......?”
Masih bingung sepenuhnya, aku memasuki ruang klub.
Didalam aku menemukan Sena, yang sedang sendirian. Dia membuat ekspresi yang kaku dan berdiri.
“Apakah sesuatu terjadi dengan Rika?” aku bertanya.
“........ Dia meminta maaf.”
Sena berkata sambil menghela nafas.
“Minta maaf? Rika melakukannya?”
Sena mengangguk,
“........ Dia minta maaf padaku yang sudah membuatmu merebut dadanya.”
Dengan tanpa sengaja aku menyembur keluar dari keadaan yang mengejutkan.
Jadi Rika mengatakannya tentang apa yang sudah terjadi sebelumnya........
Tentu saja, aku sadar betul akan keadaan sulit yang kuperoleh sendiri sampai----- aku meminta Sena untuk menahan perasaannya selama aku tidak pergi dengan siapapun yang ada di Klub Tetangga.  Lalu aku pergi dan masuk kedalam pemandian air panas dengan gadis lain dari Klub Tetangga dan memanjakan dadanya, jadi itu tak akan jadi suatu pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk dikatakan kalau aku mengkhianati Sena.
Dan itulah kenapa aku sendiri meminta maaf pada Sena.
........Tapi Rika memukulku dengan tinjuan........ Tak ada yang bisa kulakukan saat itu.
Aku melangkah menuju Sena dan membungkuk sangat rendah. Aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“Ini tepat seperti yang kau dengar dari Rika. Pada saat perjalanan malam, aku masuk kedalam pemandian umum dengan Rika dan menyentuh dadanya. Aku minta maaf.”
“......... Benarkah kalau kau bertemu didalam pemandian umum hanyalah kebetulan?”
Dia bertanya dengan suara yang datar. Dengan kepalaku yang masih diturunkan, aku tak bisa melihat ekspresinya, tapi aku bisa membayangkan betapa marahnya dia saat ini.
“Ya.”
“........Kenapa? Kenapa kau dengan sengaja pergi ke pemandian umum? Aku tak bisa melihat kau yang tidak memiliki maksud tersembunyi.”
Aku mengangkat kepalaku dan memulai penjelasanku pada Sena, yang sedang mengerutkan dahinya padaku dengan mata yang penuh rasa hina.
“A-Aku sungguh tak punya maksud tersembunyi! Bahkan kalau ada wanita didalam sana, kupikir hanya wanita tualah yang terbaik!”
“Eh.......... Kau tak mungkin bisa punya sesuatu untuk wanita dewasa? Jadi kau sebenarnya berkhaya------“
“SEMISAL!”
Aku dengan cepat mengelak dari kesalahpahaman yang kejam itu.
“Aku masuk ke pemandian campur karena ....... yah ....... Kalau aku masuk kedalam pemandian laki-laki lagi, ayahmu baru akan datang juga dan mungkin mengundang dirinya sendiri untuk mencucinya kembali seperti yang dia lakukan setiapsaat dan itu benar-benar membuatku panik! Aku jadi benar-benat tak bisa bersantai lagi!”
“Ah........”
Sena melemaskan wajah nya.
“........Apa yang sedang dilakukan, Papa......?”
Kelihatannya aku sudah membuatnya yakin, aku sudah merasakan kalau menjatuhkan kedudukan Pegasus-san dari sudut pandang anak perempuannya, tapi selama itu benar, itu bukan masalah.
“....... Kau hanya masuk kedalam pemandian bersama Rika, kan?”
“......I-Iya.”
Bagian ‘hanya’ membuatku merasa tak nyaman, tapi aku mengangguk.
“Ka-........ Kau tak melakukan hal kotor apapun, kan?”
“Te-Tentu saja tidak!”
“Haaa........” Sena menghela nafas.
“Kalau begitu, maka aku akan memaafkan mu....... Sebenarnya, aku tak begitu marah sih.”
Dia mengatakan nya dalam nada yang enteng.
“Eh.......? Kau tak marah.......? Sebenarnya?”
Terganggu oleh keterkejutan ku, Sena mulai untuk menjelasan alasannya seperti yang dialkukan seorang guru kepada anak-anak nya.
“Dengar, Kodaka, apa kau sentuh bukanlah dada.”
“........Apa?”
Aku mengangkat alisku.
“Berbagai macam daging kelas rendah sedikit gemuk, kan? Itulah apa yang kau sentuh.”
“Sekarang kau hanya sedang mengatakan sesuatu yang terlalu sulit dipercaya......”
“Tidak terlalu marah, kau bisa saja mengatakan bahwa aku cukup kasihan terhadap fakta yang telah kau alami tak ada apa-apanya selain selera murahan. Oh ya, akulah daging gundu kualitas atas yang sebenarnya.”
Sena menekuk kedepan dengan memperlihatkan dada miliknya yang berisi.
“.........I-Itu benar-benar sesuatu yang hanya ingin kau katakan.......”
Aku meneguk gugup dan mengamatinya dengan sungguh-sungguh.
Payudara nya------ Dada nya hanya bisadiuraikan dengan tepat sebagai sesuatu yang melimpah.
“Sudah kuduga?” Sena tersenyum bangga, tapi ekspresinya langsung suram.
“........ Tapi ketika kukatakan pada Rika, dia hanya ketus....”
“........ Jadi itulah kenapa.......”
Kupikir kalau aku sudah mengangkat kebenciannya Rika tentang penampilan miliknya, kurang lebih, selama kemalangan dipemandian umum itu.
Sejujurnya aku juga penasaran kenapa dia sangat terganggu soal dadanya (atau setidaknya untuk) saat ini.
Kalau Sena hanya bersikap marah layaknya siapapun itu dan menyalahgunakan perkataan Rika dan aku, bukankah itu akan menjadi sebuah masalah.
Bagaimanapun juga, jauh dari kemarahan, bahkan seolah-olah dia tak peduli: “Dadamu bahkan tak pantas disebut sebagai buah dada, jadi tak masalah kalau mereka menyentuhnya.”-----
Membuat orang yang datang untu minta maaf kecewa....... Itu adalah sebuah kemampuan sosial yang terlalu negatif.
“Bahkan meskipun aku memakai caraku untuk memaafkan nya dengan hatiku yang murah hati ini...... Aku tak dapat melakukannya.”
Sena berkata, memiringkan kepalanya karena kebingungan.
Oh, aku tahu kau tak dapat melakukannya........
Sena melepaskanaku yang keheranan dalam lirikan mata sebelum akhirnya beralih ke game konsolnya ruang klub seperti yang selalu dia lakukan.
Selama waktu berjalan, aku mengirimi Rika sebuah pesan yang mengatakan: [Daging gundu kelas atas memang benar-benar lezat, tapi aku juga suka sensasi memakan daging tak berlemak, kau tahu?].
Beberapa saat kemudian, dia menjawab: [Kalau itulah hanya untuk menghiburku, aku akanmemukulmu sampai mati, kau tahu? #]
........ Menghibur orang memang susah.
Aku melemparkan lirikan mata pada Sena yang sedang memainkan game nya sebelum akhirnya aku duduk, membuka buku pelajaran dan mulai belajar.
“Kau sudah mau belajar?”
Sena berkata, mengambil tatapan sekilas kearah ku.
“Yap.”
“Ngomong-ngomong, Yozora mengajari ketua OSIS, ya?”
“Ya.”
“Rubah betina mematikan itu apa benar bisa bertindak layaknya seorang tutor?”
“Sepertinya begitu. Dia sebenarnya sangat peduli, kan? Dia juga membantu pekerjaan OSIS nya Hinata, dan itu keliahatannya untuk menyenangkan Akane-san.”
“Hmph........”
Sena terlihat tertawa sinis untuk beberapa alasan.
“Astaga........ Belajar layaknya hidup mereka yang bergantung pada hal itu, seperti penjahat pada umumnya, ya!”
Sena berkata spontan dengan nada yang agak kesal.
“.......... Ngomong-ngomong, apa kau sudah menentukan kemana kau akan melanjutkan setelah kau kelulusan nanti?”
Aku jadi ingin tahu jalan apa yang Sena – seorang gadis yang hanya bisa melakukan segala sesuatu tanpa berusaha keras meraihnya – yang akan dipilih.
“Hmm........ Aku berencana  untuk ke univeritas untuk saat ini.”
“Pendidikan lagi, ya.........? Sekolah apa pilihan pertama mu?”
“Aku masih belum tahu, tapi sesuatu yang tak umum kelihatannya bagus.”
Membicarakan universitas disekitar sini, bahkan yang terbaik diantara mereka hanya diperingkat rata-rata nasional.
Aku yakin kalau untuk Sena, tak peduli universitas mana yang dia masuki, itu hanya membuang waktu, tapi aku tak mengatakannya. Pegasus-san, Stellar-san, atau bahkan mungkin Aoi, sudah pasti mengataknnya untuk segera memutuskan.
“........Kalau kau juga memutuskan sesuatu yang akan kau lakukan segera, itu sangat bagus, kan?”
Ketika aku menyuarakan pikiranku yang sebenarnya, Sena mencebil bibirnya.
“Apa-apaan sikap sombongmu yang aneh itu? Banyak bicara, apa kausudah menentukan yang akan kaulakukan nanti?”
“...... Yah, kurang lebih.”
“Eh? Akan jadi apa? Katakan, katakan!”
Tangan Sena menghentikan konsol dan bersandar kehadapan ku dengan wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu.
“......... Jurusan Pendidikan. Tujuanku saat ini adalah masuk ke Fakultas Pendidikan di Universitas Tohya.”
“Fakultas Pendidikan.......? Kodaka, kau mau jadi seorang guru?”
“......Yap”
Aku mengalihkan pandanganku dari Sena dan dengan sedikit mengangguk. Rasanya seperti malu dengan anehnya untuk beberapa alasan........
Ini pertama kalinya bagiku untukmembicarakan mimpiku dengan seseorang selain keluargaku.
“Hah....... Seorang guru, kau bilang? SMA? SMP?
“SD.”
“.............”
Sena melihatku dengan mata yang penuh celaan.
“Kodaka, jangan bilang kalau kau ternyata seorang lolicon [penyuka anak kecil]?”
“........Dengar ya, kau. Kau ini sudah bersikap tidak sopan pada semua guru-guru SD diluar sana.”
“........Ma-Maaf.”
Itu bukanlah lelucon, jadi saat aku merasa keberatan pada Sena dengan nada yang serius, dia minta maaf dengan segera.
“Jadi, kenapa seorang guru SD?”
“......... Karena aku di-bullysaat aku masih SD....... dan, kau tahu.......”
Detilnya memalukan, jadi kujawab dengan samar.
Pada hari itu aku bertemu dengan Sora----- Penggerak beberapa teman sekelas ku yang bermaksud untuk mencuri tasku di taman saat guru, yang tidak mengetahui bahwa aku adalah seorang halfie [blasteran], menceramahiku secara tidak adil dengan mengatakan ‘Mengubah warna rambutmu pada umurmu yang sekarang ini. Apa kau ini anak nakal?’.
----- Kalau saja disana ada orang dewasa yang dapat menolongku kembali saat itu.
Ingatanku waktu itu selalu saja kuingat kembali, dan kejadian itu belum sepenuhnya hilang.
Dimanapun itu terus saja berlanjut, sudah tak terhitung, kejadian yang tak masuk akalyang kualami mengubah mimpiku menjadi ‘Aku ingin menjadi orang dewasa yang dapat menyelamatkan masa laluku’ sebelum aku mengingatnya.
Dan sebagai langkah yang pastiku untuk mewujudkan mimpi itu, aku memutuskan untuk menjadi seorang guru.
Kupikir sejak saat itu, sebagai hasilnya, aku senang kalau aku bisa bertemu dengan seorang teman seperti Sora.
Sakit hati mungkin membuatku jadi tumbuh dewasa dan menjadi lebih kuat serta lebih baik.
Dan juga, aku tak ingin menjadikan pengalamanku sesuatu yang tak masuk akal. Kalau saja aku bisa merasa lebih mudah tanpa tersakiti di tempat pertama, lalu aku tak begitu sakit hati, dan kalau ada orang yang penah mengalaminya kemudian menolongku dengan segera, aku mau menjadi asistennya.
“....... Kau ternyata sudah memikirkan hal ini diluar perkiraan, ya?”
Sena berkata, wajahnya meluapkan kekaguman.
“Itu hal biasa,” aku menjawabnya, dengan keren.
Aku tak bisa menjadi orang yang rendah hati; disana tak terhitung orang-orang yang sudah memberikan semua pencapaian terhadap mimpi mereka. Ayahku bahkan meneliti bagaimana cara untuk mencapai tujuan terbaik nya dari waktu yang dia pilih saat dia masih SMA dan dengan hati-hati memperoleh informasi. Kemudian membandingkan hal itu, aku sudah jadi sangat lamban.
“Biasa, hah......”
Setelah dia menggerutu hal yang serius untuk beberapa alasan, Sena mengembalikan sandarannya dariku dan kembali melanjutkan melanjutkan game nya.
Dan aku kembali belajar.
Tapi, selang beberapa lama, Sena bicara lagi.
“Hey, kenapa Kobato-chan masih belum datang kesini?”
“........ Sepertinya Kobato akan berpartisipasi dalam sebuah drama misa Natal, jadi kupikir dia tak akan bisa datang sementara waktu karena latihan.”
“EEEH----?!”
Sena membiarkan konsolnya terjatuh kebawah.
“Kau bercanda kan..... Aku tak bisa melihat Kobato-chan..... Ah, tapi..... sebuah drama.....?! Apakah Kobato-chan akan memainkan peran utama lagi?!”
“Ya. Dramanya ‘Hadiah dari Tiga Raja Timur’. Dia melakukannya dengan Maria.
“Misa Natal pada 24 Desember....... Itu menyedihkan kalau aku tak bisa melihat Kobato-chan sampai waktunya tiba, tapi aku sangat ingin berada didepanmenonton drama yang Kobato-chan mainkan sebagai pemeran utama....... Aku jadi tak sabar......!”
“Kau mau kubawa pergi menontonnya, kah?”
“Tentu saja!”
Kobato mungkin tak suka ikut serta seperti saat dalam festival budaya di SMP, tapi bagaimanapun juga itu sia-sia untuk mencoba dan berhenti, jadi aku tak melakukannya. Dan tentu saja aku akan pergi dan menontonnya juga.
 “Aah, tapi......”
Tiba-tiba, Sena menghela nafas yang berat.
“Hm?”
“........Kobato-chan dan Maria berlatih drama, dan Yozora sedang mengajari, kan? Rika sedang marah dan pergi....... Apa yang Yukimura lakukan?”
“Diluar Yukimurasedang membantu OSIS, juga.”
“Jadi nanti, hanya kau dan aku yang bebas, kan?”
“......... Aku punya waktu bebas, lihat? Aku sedang belajar-----“
Lalu nada dering yang kumatikan.
Muncul nama dilayar yang dibaca ‘Ootome Akane’.
“....... Maaf, sebentar.”
Aku berkata dan menjawab telepon.
[Yo, Hasegawa-kun. Kau tadi bilang kalau kami bisa menghubungi mu kapanpun kami membutuhkan bantuan, kan?]
“Oh, iya.”
[Maaf lupakan soal itu, tapi bisakah kau membantu kami sekarang? Kami mendapatkan beberapa pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.]
 “Aku mengerti. Aku akan kesana.”
[Terima kasih. Kau dapat poin tambahan untuk jawaban yang cepat, kau tahu?” Tempatnya adalah-----]
Akane-san mengatakannya padaku kemana aku harus pergi, dan mengakhiri teleponnya.
“Aku harus pergi sebentar.”
“Ah, baiklah......” kata Sena.
Aku dengan anehnya senang saat aku yang disuruh tanpa mengelak dan tak peduli pada Sena yang tak begitu senang.


Sekitar waktu matahari sudah tepat diatas, aku selesai membantu Akane-san dan kembali ke ruang klub.
Didalam, Sena sedang asik memainkan game cewek nya sendirian.
“Kau terlambat.”
Sena yang berkata, sekali lagi hanya mengirimkan tatapan sekilas kearah ku.
“Ya, Mereka membawa setumpuk dekorasi pohon Natal, tapi disana ada banyak di gudang. Mengosongkannya dulu dan mengemassemuanya seperti semula. Benar-benar seperti dalam game menyusunpuzzle.”
“Hmph.....”
Terlihat tak begitu tertarik, Sena melanjutkan game nya.
Tapi, tangannya yang sedang memegang konsol secara tiba-tiba membeku.
“Oi, Kodaka.”
“Hm?”
Masih menatap ke layar, Sena menggerutu sendiri.
“....... Mungkinkah kalau aku itu...... tidak populer?”
AKIBAT KAUYANG TERLALU LAMA!
Aku menahan diriku dari meneriakkan jawaban yang terlalu bersemangat, tapi melakukannya jadi memerlukan tekad dengan jumlah yang luar biasa.
“........Ke-Kenapa kau berpikir begitu?”
“........Karena....... Tak seorangpun yang mengakui ide yang kuusulkan di festival budaya, aku tak bisa menemukan seorangpun untuk jadi pasangan dalam perlombaan bakiak selama festival olahraga dan tak bisa ikut berpartisipasi....... Bahkan meskipun aku yang berada diperingkat terbaik, tak seorangpun yang memintaku untuk mengajari mereka, tak seorangpun yang memintaku untuk memainkan peran utama dalam sebuah drama seperti Kobato-chan, tak seorangpun yang pernah memanggilku dan memintaku untuk membantu seperti yang mereka lakukan denganmu tadi......”
Mengingat ini adalah Sena, dia mengatakannya dengan aneh, bimbang dan ekspresi yang murung.
“........ Kau ingin orang-orang menyukaimu?”
“Hah? Tentu saja aku mau.”
“A-Aku tahu.”
Ohh, jadi itulah maksudnya, ya?
Biasanya dia bersikap sangat angkuh, dan bahkan kupikir dia tak peduli tentang apa yang orang lain pikirkan, tapi menanggapi hal itu, dia menginginkan teman-teman dan  ternyata menjadi anggota Klub Tetangga...
Sebagai perbandingannya, Maria dan aku sudahmengajak, Yukimura, Rika dan Kobato untuk mengikuti petunjukku dan bergabung, jadi hanya satu diantara para anggota Klub Tetangga yang sebenarnya berharap untuk memiliki teman-teman di kehidupan Sena.
“......Apa yang haru kulakukan untuk menjadi itu, aku ingin tahu...... Populer......”
“Bukankah kau dikelilingi oleh banyak anak lelaki di kelas? Tak ada yang salah kalau kau disebut populer, dengan cara itu......”
“Bukan seperti itu. Maksudku bukan mereka yang mengikutiku secara membabi buta, Maksudku adalah...... orang yang sederajat...... orang-orang yang hanya bisa kuandalkan.
“....... Meskipun, kupikir itu cukup mudah bagimu.”
“Eh?”
Saat aku menyuarakan opiniku yang sebenarnya, Sena membuat wajah yang kebingungan.
“Apa kau bisa hentikan sikap sok pentingmu itu?”
“Haa? Kapan aku bersikap sok penting?”
KAU MASIH BELUM MENYADARINYA?! Aku mengabaikan bantahan tersebut dengan kekuatan penuh.
“Dan hentikan amarah yang seperti itu dengan cara yang benar, bahkan kalau kau jengkel, tahanlah. Juga, berhenti memandang rendah orang lain. Kalau kau bisa tetap berbaur dengan orang-orang disekitarmu, lalu, kalau itu kau, kau mungkin akan jadi populer dalam waktu singkat.”
Mengetahui kalau semua itu adalah hal yang menyusahkan tentang Sena, aku mengatakannya dengan terus terang.
“Kenapa harus aku, yang jenius ini, membawa diriku untuk berada di level yang sama dengan para orang bodoh itu?”
Seperti yang kuduga, Sena sagatlah keras kepala.
Sepertinya itu semua mustahil.......?
Ketika aku menunjukkan helaan nafas dan mengalihkan pandanganku, aku menangkap pandangan sekilas kearah layar game | layar dengan game yang memasuki penglihatanku.
Kelihatannya itu adalah sistem game yang seperti[Heart-Throb Memory Days][2]dan memperlihatkan berbagai angka yang muncul dalam status.
“Pikirkan hal itu sebagai sebuah game”

Aku berkata spontan. Itulah ide yang tiba-tiba kulontarkan.
“.......Sebuah game?”
Sena terlihat kebingungan, jadi aku memberinya penjelasan.
“Sama seperti [TokiMemo] kesayanganmu, kau dapat mengubah statusmu itu untuk bisa pergi dengan gadis yang kau ajak dan memilih kalimat yang cocok atau memberinya hadiah untuk menaikkan tingkat kasih sayang mereka, kan? Sebagai contohnya, saat kau ingin mengatakan suatu kalimat dan memberi hadiah yang ingin kau berikan itu berbeda dari apa yang ingin kau lakukan, belum tentu rute mereka sesuai denganmu. Malahan kau jadi memilih hanya satu karakter yang sejalan, ya kan?
“........Ya.”
“Kau tak perlu menurunkan level milikmu, pikirkan sebagai kemampuan untuk menguasailayaknya ‘jadilah ramah’ atau ‘sabar’ atau ‘jangan marah’. Kau bisa melakukannya dalam game, jadi kau juga pasti bisa melakukannya dalam kehidupan nyata, kan? Kau itu sebenarnya genius.”
Saat kupikir hal yang dikatakan olehku, itu hanyalah omong kosong belaka.
Game dan kehidupan nyata benar-benar suatu hal yang berbeda.
Entah bagaimana, supaya nampak membuat kesan seperti itu pada Sena.
“Sekarang aku mengerti....... Jadi aku mesti memikirkkan nya seperti dalam game dimana sasarannya adalah untuk menyesuaikan rute dari keadaan seseorang, kan? Kau sudah menyarankan sesuatu yang sangat menarik. Tentu saja, kalau itu sebuah game, tak ada hal yang tak bisa kuselesaikan.”
Sena pun tertawa puas------

Catatan penerjemah dan referensi
[1]Emosi wajah memerah bagi sebagian orang.
[2][Heart-Throb Memory Days], atau"Tokimei Memory Days", kependekannya jadi [TokiMemo]. Game Kencan pertama yang Sena mainkan sejak di volume LN pertama dan anime seri pertama.

Boku wa Tomodachi ga Sukunai Jilid 10 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.