15 Juni 2016

Rokka no Yuusha Jilid 1 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



Bagian 1
Tiga bulan sebelumnya, Adlet Mayer berada di Piena, negara makmur yang terletak di tengah-tengah benua. Piena merupakan negara terbesar di benua itu, dan ketika kau melihat ukuran, populasi, kekuatan militer, kekayaan, dan segala sesuatu yang lain, tidak ada negara lain yang mengunggulinya. Kerajaan mempunyai pengaruh yang besar di seluruh benua, dan suatu hal yang wajar jika mereka tidak memerintah wilayah mereka saja, tetapi seluruh benua.
Pada saat itu, di ibukota kerajaan Piena sedang menyelenggarakan sebuah turnamen pertempuran  di depan para dewa, sebuah acara yang digelar setahun sekali.
Sebagai negara terbesar di dunia, secara alami cakupan turnamen yang mereka selenggarakan juga merupakan yang terbesar di dunia. Para peserta yang mengikuti pun beragam: dari kesatria Piena dan pasukan elit infantri untuk perwakilan negara-negara di sekitarnya sampai tentara bayaran terkenal. Saints juga datang, mengaku telah diberikan kekuatan oleh dewa. Prajurit lepas dan orang-orang yang sering membual tentang kekuatan di jalan-jaln kota juga ikut berpartisipasi.
Ketika pendaftaran dibuka, jumlah peserta turnamen yang mendaftar melebihi 1.500 orang.
Namun, tidak tercantum nama Adlet Mayer di dalam daftar peserta turnamen tersebut.
#
“Ini semifinal! Dari bagian barat, dari bangsa yang makmur, Piena; kepala pengawal raja, Batwal Reinhook.”
Seorang kesatria yang sudah tua dengan rambut abu-abu muncul dari sisi barat dasar candi, diiringi tepuk tangan yang menggema diseluruh arena.
“Dan dari bagian timur, dari bangsa hijau tua, Toman; wakil dari beruang coklat, seorang tentara bayaran, Kuato Guinn.”
Seorang prajurit yang nampak kuat menyerupai raksasa keluar dari sisi timur. Sorak-sorai untuknya sebanding dengan keriuhan untuk kesatria tua barat.
Setelah sebulan, akhirnya turnamen ini hampir berakhir. Hanya ada tiga peserta yang tersisa, dan hanya tersisa dua pertandingan. Penonton yang menyaksikan pertandingan ini melebihi 10.000 orang sehingga memenuhi arena.
Arena pertandingan sendiri terletak di pusat candi, tepatnya berada di samping kediaman kerajaan. Sebenarnya, arena itu berhadapan langsung dengan kuil dewi nasib. Di pintu masuk sebelah selatan arena bediri patung dewi dengan memegang sebuah bunga, mengaasi kedua prajurit.
“Kedua nama prajurit ini dikenal di seluruh negeri. Namun, ini bukanlah sebuah akhir. Pertandingan ini dilangsungkan untuk penguasa besar Piena, tapi untuk memastikan kelestarian perdamaian dalam dunia kita, pertandingan juga diadakan di hadapan dewi nasib. Ini adalah pertarungan suci, saya harap kalian dapat bertarung secara adil.”
Perdana Menteri Piena menghadapi prajurit dan menjelaskan aturan, tetapi dua prajurit itu tidak mendengarkan. dengan intens, mereka hanya saling memelototi satu sama lain. Secara bertahap, para penonton merasakan ketegangan dari dua prajurit itu.
“Seperti yang kau tahu, pemenang pertandingan ini akan menghadapi pemenang dari pertandingan sebelumnya, Her Majesty Putri Nashetania. Orang yang curang, dengan kata lain pengecut, tidak memenuhi syarat yang sesuai untuk menghadapi putri. Namun kedua pejuang ini yang lebih terkenal dari sebelumnya ...”
Perdana Menteri Piena secara terus menerus menginstruksikan aturan. Namun selama pidatonya, tidak banyak orang yang melihat sebuah peristiwa aneh yang terjadi dari sisi arena. Dari sisi selatan gerbang, seorang laki-laki berjalan mendekat. bahkan penjaga arena tidak mencoba untuk menahannya. Para penjaga kehormatan menunggu di belakang perdana menteri mengalihkan pandangan mereka, namun mereka juga tidak mencoba utuk bergerak. Para penonton juga nampaknya tidak memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Sikapnya begitu alami dan sepertinya merupakan sebuah kesalahan untuk menghentikannya.
Anak itu memiliki rambut merah panjang dan mengenakan pakaian biasa. Dia tidak menggunakan pelindung ataupun helm, tapi dia memang memiliki pedang kayu di punggungnya. Dia juga memiliki empat sabuk yang menggantung di pinggulnya, masing-masing sabuk itu terdapat beberapa kantong kecil.
Anak itu berjalan melewati dua prajurit, kemudian, sambil tersenyum dia berkata “Maafkan saya, kalian berdua.”
Mendengar suara penyusup yang tiba-tiba memotongnya, perdana menteri berteriak marah “Siapa pun kau, kau sangat tidak sopan!”
“Namaku Adlet Mayer. Orang terkuat di dunia.”
Dua semi-finalis menatap Adlet Mayer dengan mata yang nampak seperti mereka ingin menikamnya sampai mati ... kemudian mereka berdua berbalik untuk menghadapinya. Tapi Adlet tidak memikirkan apapun tentang mereka.
“Saya ingin memberitahumu tentang perubahan peraturan di pertandingan ini. Aku, Adlet, pria terkuat di dunia akan melawan kalian berdua.”
“Keparat! Apa kau sudah gila?”
Adlet tenang menanggapi perdana menteri yang sedang marah. Tapi pada saat itu, para penonton akhirnya menyadari situasi yang tidak biasa kemudian gempar.
“Hei kalian semua! Cepat singkirkan si bodoh ini.” tentara bayaran yang berada di tengah arena berteriak kepada penjaga kehormatan yang menunggu di belakang perdana menteri.
Panjaga itu akhirnya ingat dengan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Namun, penjaga kehormatan langsung mengacungkan senjata mereka, Adlet menyeringai.
“Pertandingan telah dimulai!”
Kemudian Adlet menggerakan tangannya lebih cepat dari yang bisa diikuti oleh mata. Kemudian sesuatu keluar dari ujung jari dan memukul kepala dari empat penjaga kehormatan menyebabkan mereka memegangi kepala mereka karena sakit.
“Sama seperti yang kupikir.”
Dihadapannya, tidak ada lagi penjaga. Sebaliknya, dia hanya melihat kesatria tua dan tentara bayaran yang bediri di kedua sisinya.
Para penjaga telah tumbang oleh senjata yang telah Adlet lemparkan sebelumnya. Senjata-senjatanya dilapisi oleh racun saraf perangsang nyeri. Meskipun Adlet hanya melapisi sedikit racun, namun efeknya masih tetap terasa selama sekitar 30 menit.
Setelah menyadari kalau penyusup itu bukanlah orang yang bodoh, para penjaga kehormatan dan kesatria meraih pedang mereka pada waktu yang bersamaan. Kemudian tanpa ragu penjaga melancarkan serangan pertamanya pada Adlet.
Jika anak itu mencoba melawan menggunakan pedang kayu, dia pasti akan tewas seketika. Tapi Adlet mengindari serangan para penjaga. Dalam sekejap, kesatria tua memegangi dia dari belakang. Namun, dia bergerak lebih cepat dari yang bisa diikuti mata, Adlet meraih salah satu kantong kecil dipinggangnya. Dari kantongnya dia mengeluarkan botol kecil kemudian melemparkannya ke belakang.
Kesatria tua menahan botol tersebut dengan pedangnya. Isinya hanya air, namun itu menciptakan sebuah peluang. Kesatria tua dan penjaga dan memposisikan diri dalam formasi untuk menjepit Adlet dari depan dan belakangnya. Jika itu pertarungan biasa, itu sudah menjadi sebuah kekelahan. Namun untuk Adlet, itu merupakan sebuah kesempatan yang dibutuhkannya untuk mengamankan kemenangannya.
“Siapa dia?”
“Dia penyusup!” para kesatria dan tentara bayaran berteriak kaget pada saat yang sama.
Tentu saja mereka tidak akan kalah dengan penyusup biasa. Tapi gerakan Adlet ini cepat. dan luar biasa.
Di dalam asap, Adlet mengambil alat berikutnya dari salah satu kantongnya. Mereka berdua kehilangan fokus dan menjadi bingung dalam asap, Adlet menyelesaikan persiapannya untuk mengalahkan mereka.
Pertama Adlet melompat ke arah kesatria tua. Anak itu bergerak, dia mengeluarkan pedang kayu dari punggungnya, berniat untuk menyerang kesatria tua.
“Lemah!”
Saat kesatria membelokkan serangannya, Adlet melepaskan pedang. Kemudian dia meraih kedua lengan kesatria tua itu dan menariknya. Kemudian dia merapatkan giginya.
Mungkin sejenak kesatria tua itu melihat batu yang telah Adlet masukkan ke dalam mulutnya. Kemudian percikan disertai dengan semprotan alkohol berkadar tinggi dimuntahkan dari mulut Adlet lalu terbakar.
“Gaa,” kesatria tua itu berteriak karena wajahnya terbakar.
Pada saat yang sama, sementara masih memegang lengan kesatria tua, Adlet membalikkan posisinya kemudian melemparkan kesatria tua itu seperti jurus dalam Judo. Kesatria mendarat dengan punggungnya dan berhenti bergerak.
Asap dari peluru tabir asap itu menghilang secara perlahan. Dan di dalam asap tentara bayaran itu berjongkok. Dia meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
“Maafkan aku. Jarum racun itu mungkin menyakitkan. Kau mungkin berharap aku telah mengalahkanmu dengan senjata rahasia yang berbeda.”
Adlet meninggikan alis kemudian tertawa.
Dimana Adlet sebelumnya, menyebarkan pin-pin berduri. Karena mereka di cat abu-abu yang sama dengan warna pijakan arena, sulit untuk membedakannya tanpa menyipitkan mata. Dan seperti serangan sebelumnya, jarum pada pin berduri juga dilapisi oleh racun saraf perangsang nteri yang sama.
Kemungkinan besar dia terkena serangan itu adalah ketika tentara bayaran berlari melalui asap untuk menyerangnya dari belakang dan sialnya dia menginjak pin berduri tersebut. Jika saja tentara bayaran itu mengenakan sepatu baja atau sepatu kulit yang kokoh, maka dia bisa dengan mudah menahan serangan racun itu. namun, Adlet telah memperhitungkan kemungkinan kemenangannya dari kesatria tua dan sepatu tentara bayaran ketika dia mendekatinya. Dan sejak berpindah dengan cepat adalah salah satu faktor penting dalam kemenangannya, tentara bayaran yang mengenakan sepatu yang terbuat dari kain yang ringan dan mudah untuk bergerak di area sekitar.
“Kalian melihatnya, aku yang menang!” teriak Adlet, tapi penonton hanya menatapnya kosong dan diam. Mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengan. Mereka tidak percaya jikalau dua prajurit yang berlomba-lomba untuk memenangi turnamen ini dikalahkan oleh penyusup tanpa nama di bawah sepuluh detik.
“A ... Apa yang telah kau lakukan?! Cepat kesana! Kepung! Kepung dan tangkap dia!” perdana menteri panik kemudian berteriak pada para prajurit di sekitar daerah itu. Tanpa perlu dikatakan lagi, para tentara melepaskan sebuah kain yang menutupi ujung tombak kemudian berlari ke tengah arena.
Tentara sudah siap untuk menyerang Adlet, namun anak itu berteriak ke arah patung dewi nasib yang seolah melihat pertarungan tadi.
“Nama saya Adlet Mayer! Orang terkuat di dunia! Dapatkah kau mendengarku, dewi nasib! Aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa memilihku sebagai salah satu dari Enam Pahlawan Bunga.”
Para prajurit bergegas menuju Adlet dan seperti yang mereka lakukan sehingga penonton akhirnya menyadari dengan apa yang terjadi.
“Pangawal! Hunuskan tombakmu! Tangkap anak itu!” tapi penonton tidak hanya berteriak; ada beberapa yang bahkan segera menuju ke tengah arena.
Sementara itu, kesatria tua dan tentara bayaran yang telah dikalahkan berdiri kembali dan menghadap Adlet.
Setelah itu medan pertempuran yang suci, tempat di mana orang menampilkan kekuatan mereka sebelum dewi nasib memilih Enam Pahlawan Bunga menjadi sebuah tempat perkelahian besar yang tidak terkendali.
Sejak saat itu, nama Adlet Mayer mulai dikenal di seluruh dunia. Dia dikenal sebegai Adlet sang penipu serta pengganggu, Adlet sang prajurit yang bermain licik, dan calon terburuk untuk menjadi Enam Pahlawan Bunga dalam sejarah.

Bagian 2
Seribu tahun yang lalu, makhluk yang jahat muncul di benua itu. Manusia tidak mengetahui banyak tentang keberadaan mereka. Dari mana asalnya? Mengapa dia lahir? Apa yang dia pikirkan? Apa yang ingin dilakukan olehnya? Atau apakah itu memiliki sebuah ingatan tentang tempat asalnya? Manusia bahkan tidak mengetahui apakah makhluk tersebut masih hidup atau tidak. yang mereka tahu hanyalah makhluk itu tiba-tiba saja muncul tanpa peringatan apapun.
Hanya beberapa orang saja yang selamat setelah pertemuannya dengan makhluk itu. menurut kesaksian mereka makhluk itu mempunyai tinggi kira-kira sepuluh meter—bertubuh aneh. Dan mereka juga mengatakan kalau tubuhnya tidaklah sesuatu yang utuh, seperti hidup, bergerak seperti lumpur. Racun dimuntahkan dari tubuhnya, dan asam dari tentakelnya dapat membuat siapapun yang menyentuhnya meleleh—seperti memula serangan terhadap umat manusia. Namun makhluk itu tidak ingin memakan manusia, dan tidak ingin menyiksa mereka; tujuannya hanya satu, untuk membunuh manusia. Dan bagian-bagian dari tubuhnya yang terputus, bagain-bagian tersebut hidup kembali sebagai pengikutnya dan menewaskan lebih banyak orang.
Makhluk tersebut tidak memiliki nama, setelah semua itu diperlukan sebuah nama untuk menyebutnya. Namun tidak ada yang mirip dengan itu di tempat manapun di dunia.
Jadi makhluk jahat itu hanya disebut Raja Iblis.
Pada saat itu, benua dipimpin oleh kerajaan abadi besar, Rohane. Tetapi meskipun menyiapkan tentara mereka untuk pertempuran, bahkan mereka tidak bisa mengalahkan Raja Iblis.
Bangsa tersebut kemudian hancur, keluarga kerajaan mati, dan kota-kota serta desa-desa menghilang dalam api. Orang-orang yang putus asa dan menerima kalau mereka sudah ditakdirkan untuk dimusnahkan. Tapi kemudian, datang dari suatu tempat seorang Saint yang pertama.
Saint tersebut menghadapi Raja Iblis dengan sebuah bunga sebagai senjatanya. Meskipun dia adalah seorang perempuan, namun dia adalah satu-satunya orang dari seluruh dunia yang bisa melawan Raja Iblis. Itu adalah sebuah pertempuran yang panjang, tapi pada akhirnya Saint menggiring Raja Iblis ke sudut terluar yang terrletak di bagian barat benua kemudian mengalahkannya.
Tapi ketika Saint kembali, dia mengatakan kalau Raja Iblis belum mati dan suatu hari dia akan bangun dari tidurnya dan mungkin akan mengubah dunia menjadi neraka. Saint tersebut kemudian meramalkan jika Raja Iblis terbangun, maka akan muncul enam pahlawan yang telah mewarisi kekuatannya. Mereka harus mengirim Raja Iblis kembali ke dalam tidurnya dengan taruhan apapun.
Pada tubuh enam prajurit yang terpilih akan muncul sebuah tanda dalam bentuk bunga dengan enam kelopak. Dan karena fakta itulah orang-orang memanggilnya Enam Pahlawan Bunga.
Dalam sejarah, Raja Iblis terbangun dari tidurnya sebanyak dua kali. Tetapi untuk kedua kalinya, seperti yang sudah diramalkan, enam prajurit muncul kemduian menyegelnya.
Ada satu syarat untuk terpilih sebagai salah satu dari Enam Pahlawan Bunga. Mereka diharuskan untuk menampilkan kekuatan mereka di kuil dikhususkan untuk dewi nasib, yang dibangun untuk menghormati Saint yang sedang memegang sebuah bunga. Terdapat tiga puluh tepat seperti itu yang tersebar di seluruh benua dan jumlah orang yang datang untuk menunjukkan kekuatan mereka melebihi sepuluh ribu orang.
Ketika raja iblis terbangun, yang terkuat di antara mereka akan menerima tanda Enam Bunga. Untuk seorang prajurit, itu adalah kehormatan terbesar dan setiap prajurit bermimpi untuk terpilih  menjadi salah satu dari Enam Pahlawan Bunga. Tak terkecuali Adlet.
Pada saat kebangkitan raja iblis sudah dekat, tanda-tanda yang telah terlihat selama bertahun-tahun. Saat kebangkitan itu akan terjadi dalam satu tahun ke depan, tapi bisa saja kebangkitan itu terjadi besok.
#
“... Apakah kau sudah merenungkan tindakanmu? Apakah kau sekarang sudah berpikir kalau kau sudah melakukan sesuatu yang salah?”
Sudah tiga hari semenjak semifinal dilangsungkan dan Adlet berada di penjara yang dikhususkan untuk penjahat dengan kejahatan yang berat. Di depan sel berdiri perdana menteri yang melihat Adlet dengan ekspresi masam, seolah-olah dia menelan serangga.
Adlet terluka serius. Kepalanya, bahu, dan kedua kakinya dibalut perban sementara lengan kanannya digantung menggunakan gendongan. Itu yang diharapkan meskipun tidak ada cara menyerangnya dengan banyak orang dan datang serta pulang tanpa cedera.
Adlet duduk di tempat tidur yang dingin dan pertama kali berhadapan dengan biara gereja. “Aku harus mengatakan ini sebelumnya, tapi aku ingin mengikuti turnamen secara resmi. Namun, apakah itu karena aturan atau sesuatu, aku tidak diizinkan untuk masuk tidak peduli apa yang kulakukan,” Adlet mengeluh.
Turnamen suci memiliki aturan dan senjata yang digunakan pun dibatasi. Bahkan strategi serangan tipuan atau serangan kejutan dilarang. Tapi Adlet tidak bisa melakukan apapun tentang itu.
“Seperti yang kautahu, aku adalah orang terkuat di dunia, tetapi peraturan adalah satu-satunya hal yang menimbulkan masalah bagiku. Jadi karena itu, aku menyadari kalau itu tidak bisa membantu dan aku membiarkan diriku untuk mengabaikan mereka.”
“Apa tujuanmu?”
“Tujuanku adalah untuk dipilih sebagai salah satu dari Enam Pahlawan Bunga.”
“Apa kau mengatakan Enam Pahlawan Bunga? Kau? Apakah kau mengira orang sepertimu layak mendapatkan kehormatan menjadi salah satu dari enam orang yang terpilih?”
“Aku akan dipilih. Ini sudah diputuskan. Setelah semuanya, aku akan menjadi orang terkuat di dunia.”
Adlet tertawa kemudian perdana menteri menggedor sel. (Orang tua yang tidak bisa menjaga emosinya.)
“... Kalau begitu, kau sama sekali belum belajar dari tindakanmu.”
“Aku belajar. Benar-benar. penjaga kehormatan dan penjaga arena ... Aku berpikir mereka mendapatkan luka akbat perbuatanku.”
“Bagaiman perasaanmu tentang semua gangguan yang disebabkan olehmu di arena suci?”
“Aku tidak peduli tentang itu,” kata Adlet yang menyebabkan perdana menteri menarik pedangnya.
Kemudian dia mencoba untuk membuka kunci sel Adlet, para penjaga yang berada di belakangnya yang bertugas untuk menjaganya berusaha keras untuk menghentikannya.
“Dengar, aku menolak untuk mengambil ini lagi. Aku pasti akan menggantungmu. Kau dapat mengandalkan itu!”
Para prajurit berhasil menghentikan perdana menteri kemudian mereka meninggalkan daerah di depan sel penjara. Adlet kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mengankat bahu meskipun itu sulit.
Dia mengingat pertarungannya tiga hari yang lalu dengan kesatria tua dan tertara bayaran tersebut. Keduanya sangat kuat. Jika salah satu strateginya sampai salah perhitungan maka Adlet mungkin akan dikalahkan.
Namun, dia mampu memenangkannya. Bahkan jika mengikuti pertarungan dari awal, dia masih bisa menang. Itu sudah cukup untuk membuktikan kalau dia adalah orang terkuat di dunia.
“... Namun, ada satu hal yang kusesali,” gumam Adlet sambil berguling di tempat tidur. Itu putri Nashetania.
Nashetania Louie Piena Augustra. Putri pertama dari bangsa yang makmur, Piena. Walaupun darahnya telah menunjukkan kalau dia adalah pewaris takhta tertinggi, namun dia juga adalah seorang prajurit terkuat Piena. Sebagai seorang Saint yang menerima kekuatan dari dewa pedang, dia mendengar kalau dia bisa membuat pedang dari udara yang tipis.
Nashetania telah memenangkan turnamen sebelumnya dan itu telah memutuskan kalau pemenang dari pertandingan yang Adlet ganggu akan melawannya di final.
Adlet ingin mencoba melawannya. Dan jika dia tidak bisa, maka setidaknya dia ingin melihat wajahnya. Ketika dia mengalahkan kesatria tua dan tentara bayaran itu, dia bertanya-tanya apakah ada kemungkinan kalau dia akan muncul, tapi pada akhirnya dia tidak muncul.
(Yah, aku tidak peduli sama sekali,) pikirnya kemudian menghela napas.
“Ah, aku menemukanmu,” kata seseorang yang berdiri di depan pintu sel. Suara dan orang itu benar-benar berasal darik luar penjara yang suram.
“... Kamu siapa?”
Dia adalah seorang gadis berambut pirang yang indah. Seolah-olah hanya dengan melihatnya saja membuatnya tenang, dia menunjukkan senyum yang indah. Dia mengenakan pakaian pelayan berwarna hitam, tapi itu sama sekali tidaklah cocok untuknya. Pakaian pembantu jelas lebih cokok untuk gadis dengan tipe berbeda.
“Kau Adlet benar? Maaf, tapi bisakah kau kemari?” Gadis itu memberi isyarat betulang kali menggunakan tangannya.
Bingung, Adlet duduk kemudian berjalan menuju pagar sel. Saat dia mendekati gadis itu, bau apel yang menis menyentuh hidungnya. Itu seperti sesuatu yang belum pernah dia cium sebelumnya, dia pikir aroma itu mempesona.
“Silakan menjabat tanganku.” Tiba-tiba tangan gadis itu meleati jeruji.
“Huh?”
“Aku menyesal dengan gangguan yang tiba-tiba, tapi aku melihat pertarunganmu tiga hari yang lalu. Aku begitu kagum dengan kekuatanmu dan sekarang aku sudah menjadi penggemarmu.”
“... Huh? ... Huh?” Aroma gadis itu melarutkan jalan pikirannya, bahwa kata yang memiliki makna adalah satu-satunya hal yang bisa dia respon.
“Mari berjabat tangan. Jabat tangan.”
Adlet melakukan seperti apa yang diperintahkan dan dengan ringan meraih uluran tangan gadis itu.
Sebagai imbalan karena telah menggenggam tenagan seorang gadis dia berkata, “Adlet-san, ,kau sangat gugup. Apakah ini pertama kalinya bagimu untuk berjabat tangan dengan seorang gadis?”
Kemudian gais itu menutup mulutnya dan tertawa menggoda. Sebagai balasan, dengan segera adlet melepaskan tangannya.
“Ap, Apa yang kaukatakan. Aku tenang kok. Aku sudah berkali-kali memegang tangan.”
Dia terkikik. “Tapi wajahmu sangat merah.”
Saat dia tertawa, Adlet merasa mencium bau apel yang semakin kuat dan kuat. Kemudian dia memalingkan wajah kemerahannya dan menutup pipinya.
“Apakah kau takut dengan gadis-gadis, meskipun kau begitu kuat?”
“Katakanlah apa yang akan kaukatakan, tapi Adlet Mayer adalah orang terkuat di dunia. Dunia terkuat tidaklah mengerikan.”
“... Aku senang karena datang ke sini. Setelah semua ini, kau benar-benar menarik,” kata gagis itu sambil tersenyum. “Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, Adlet. Jadi maukah kau menceritakan tantang dirimu?”
Adlet mengangguk. Gadis beraroma apel menunjukkan senyum nakal. Tiba-tiba Adlet berpikir, (Kalau dipikir-pikir, aku belum mengetahui namanya,)
Tahun ini, Adlet Mayer akan berusia delapan belas tahun. Kampung halamannya berada di sebuah negara kecil yang terletak di daerah yang terpencil di bagian barat benua. Mereka menyebutnya Woro, negara danau putih. Karena keadaan tertantu, dia meninggalkan kampung halamannya di usianya yang masih sepuluh tahun. dia tidak memiliki seorang kekasih ataupun teman. Dan sejak dia masih berusia sangat muda, dia sudah tidak memiliki keluarga di seluruh dunia.
Untuk waktu yang lama dia berada di daerah terpencil di pegunungan bersama tuannya, hari-hari hanya dihabiskan untuk latihan, siang dan malam semua itu hanya untuk mengalahkan Raja Iblis. Dia mengasah kemampuan berpedangnya, melatih tubuhnya, dan belajar bagaimana membuat serta menggunakan setiap senjata rahasianya.
Gaya bertarung yang unik di mana dia menggabungkan kemampuan berpedang dengan berbagai senjata rahasia yang dia temukan di pembuangan.
Dia bukan milik siapapun dan dia tidak mengikuti perintah dari siapapun. Dia hanya terus berlatih sebagai seorang prajurit dengan satu tujuan mengalahkan Raja Iblis. Itulah sejarah Adlet. Orang-orang yang hidup menggunakan pedang biasanya adalah seorang kesatria ataupun tentara bayaran. Jadi jika mereka pergi ke sebuah pertempuran, mereka akan mendapatkan sejumlah uang dan ketenaran. Namun, Adlet tidak tertarik dengan hal itu. tujuannya berjuang selama ini adalah untuk mengalahkan Raja Iblis; itu saja. Hanya ada beberapa prajurit yang terkekang sepertinya di seluruh benua.
Setelah menyelesaikan pelatihan yang panjang, dia menuruni gunung dan mencoba untuk memasuki pertempuran dalam turnamen Piena dalam rangka untuk memberitahu kalau dia adalah orang terkuat di dunia. Itu semua yang dia katakan pada gadis itu.
Gadis beraroma apel sangat antusias mendengarkan cerita Adlet. Tapi dia tidak mengetahui hal apa yang sebenarnya membuatnya sangat menarik.
“... Jadi itu sebabnya aku pergi ke dalam turnamen, untuk menunjukkan pada dewi takdir kalau aku adalah orang yang terkuat di dunia. Maafkan aku. aku menyadari kalau sebagian besar ceritaku adalah cerita yang membosankan.”
Adlet menyimpulkan ceritanya kemudian gadis beraroma apel menanggapinya dengan tepuk tangan. Pada awlanya dia merasa canggung, namun secara bertahap dia mulai terbiasa. Pada akhirnya mengetahui seorang gadis cantik mendengarkan ceritanya, membuatnya sangat senang.
“Menarik. Aku senang datang kesini bertemu denganmu. Entah bagaimana aku merasa seperti mendengar ungkapan ‘terkuat di dunia’ untyk terakhir kali seumur hidupku.”
“Itu benar.” ‘Terkuat di dunia’ adalah kata-kata favorit Adlet. Setiap kali dia berbicara tentang dirinya, dia benar-benar menambahkannya dalam percakapan.
“Itu adalah fakta yang kuat kalau aku adalah orang terkuat di dunia, jadi aku berani untuk mengatakan itu kapanpun aku bisa.”
“,,, Tapi apakah akan baik-baik saja menyebut diri sendiri yang terkuat? Apakah kau sudah bertarung dengan putri Nashetania?” gadis itu mengucapkan kata-kata dengan nada provokasi, tapi Adlet tidak memperdulikan tantangannya.
“Dia kuat. Tapi aku lebih kuat.”
“Masih banyak orang yang kuat di dunia ini.”
“Tentu saja, tapi aku tidak memeprcayai ada seseorang yang lebih kuat dariku.”
“... Adlet, apa dasarmu untuk memeprcayainya?”
“Aku tahu kalau aku orang terkuat di dunia. Itu saja.”
“Itu saja?”
“Aku tahu. Dewi nasib tahu. Adapun sisanya, Raja Iblis dan orang-orang di dunia, aku hanya harus menunjukkan kepada mereka.”
“Benarkah? Kepercayaan diri yang sungguh hebat.”
“ini bukanlah percaya diri. Itu adalah fakta yang jelas.”
Gadis itu tersenyum, tapi pada saat yang sama dia terlihat kesusahan untuk menjawab. Nah, kebingungan mungkin tidak dapat membantu, pikir Adlet. Ini adalah gadis pertama yang bertemu orang terkuat di dunia.
“Ngomong-ngomong, bolehkah jika aku bertanya satu pertanyaan lagi?”
“Tentu, apa itu?”
“Dalam waktu dekat aku ingin keluar dari penjara ini. apakah kau mempunyai cara yang baik?”
“Kau ingin meninggalkan tempat ini? Untuk apa?”
Gadis ini punya nyali, pikir Adlet, mengharapkan respon yang sedikit berbeda.
Adlet mengatakan kepada gadis bagaimana Perdana Menteri Piena berteriak hukuman mati. Adlet berada di penjara tidak dapat membantu, tetapi eksekusi adalah masalahnya. Gadis itu kemudian menyentuh dagunya sementara dia berpikir.
“Kupikir itu baik. Tuan Perdana Menteri marah, tapi aku tidak berpikir untuk mengeksekusi. Apa yang kaulakukan bukan alasan seseorang untuk mati(mungkin maksudnya dihukum mati).”
“Apakah itu benar? Kalau begitu tidak masalah.”
Adlet lega karena dalam kondisi saat ini akan menjadi sedikit sulit untuk keluar dari penjara.
“Apa yang terjadi pada turnamen setelahnya? Apakah diberhentikan?”
“Tidak. Tindakanmu ... tidak masuk hitungan. Kemarin mereka mengadakan pertandingan lagi dan tentara bayaran Kuato akhirnya memenangkan semfinal dengan selisih yang sangat sempit. Kemudian Nasgetania mengalahkannya di final.”
Apakah dia hanya mengatasi sang putri tanpa gelar, atau itu hanya imajinasiku?
“Itu tidak terduga. Apakah tentara bayaran benar-benar menang? Kupikir orang tua itu sedikit meremehkannya.”
“Tampaknya ketika kau melemparkan Tuan Batwal, kau mencederai bahunya.”
“Mungkin kesalahannya terletak padaku.”
Setelah itu Adlet dan gadis itu hanya beramah-tamah, percakapan yang membosankan, chit chat(mungkin maksudnya mengobrol secara terus menerus?). Mereka berbicara tentang bagaimana orang-orang terlalu takut untuk berdiri ketika melihat keluarga raja Piena dan masalah mengenai barang yang mahal. Gadis itu jujur sehingga mudah berbicara dengannya. Dan percakapan itu sendirilah yang menarik.
“Ah.” Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi serius, seolah-olah dia baru mengingat sesuatu. “Aku lupa kalau ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu untuk itu aku datang ke sini. dan ini bukan saatnya untuk percakapan panjang lebar.”
“Apa ttu? Nampaknya kau marah.”
Gadis itu menahan napas, dan kemudian berbisik menanyakan, “Pernahkan kau mendengar tentang pembunuh Enam Bunga?”
“Apa itu?”
“Ada seorang kesatria dari negara buah kuning bernama Matola Wichita. Pernahkan kau mendengar tentangnya?”
“Ah, aku tahu nama itu.”
Di dunia ada banyak gosip tentang siapa yang akan terpilih sebagai salah satu pahlawan. Namun, di antara gosip itu kalau ada nama yang dia dengar berulang-ulang. Itu adalah nama seorang anak ajaib yang dikatakan adalah seorang pemanah terhebat di dunia.
“Pernahkah kau mendengar tentang Foudelka dari negara pasir emas? Atau Saint es Asley?”
Adlet mengangguk. Mereka berdua prajurit terkenal.
“Apa yang terjadi?”
“... Mereka dibunuh. Pelakunya tidak diketahui.”
“Mungkinkah Kyouma?”
“Mungkin.”
Makhluk hidup yang melayani Raja Iblis dipanggil Kyouma dan mereka sedang mempersiapkan kebangkitan Raja Iblis, secara diam-diam merencanakan untuk menyergap dan membunuh Enam Pahlawan. Mereka bersembunyi di seluruh benua, melakukan berbagai skema. Ditambah mereka akan membunuh siapapun di sekitarnya yang tempaknya akan terpilih menjadi salah satu dari Enam Bunga.
“... Hal-hal seperti Kyouma bukanlah makluk yang mudah dikalahkan. Bagaimana di dunia ini kau mengalahkannya?”
“Aku tidak tahu.”
“Itu masalah.”
“Tuan Adlet, kupikir mungkin lebih baik jika kau tinggal di sini. tidak peduli di mana kau pergi bahaya tidak akan berubah, tapi setidaknya di penjara bawah tanah penjagaannya jauh lebih banyak.”
“Benar. Baiklah, aku akan tetap tinggal sampai cederaku sembuh.”
Seoalah-olah dia selesai menceritakan apa yang dia perlukan, gadis itu gugup mengalihkan pandangannya jauh.
“Maafkan aku. Aku harus pergi, tapi aku merasa seperti aku akan membuatmu marah dengan meninggalkanmu. Nah, kau sudah marah, tetapi kau akan semakin marah.”
“Aku tidak peduli. Pergi.”
Dengan cepat dia mengangguk ke atas dan ke bawah, tapi ketika dia mulai meninggalkan, Adlet menahannya.
“Jika kau bertemu sang putri beritahukan ini dariku. Dia pasti akan terpilih sebagai salah satu dari Enam Bunga juga. Jadi, katakan padanya kalau aku melihat ke depan ke hari di mana kita bisa berjuang bersama-sama.”
“... Ya?” gadis itu membuka mulutnya tanpa sadar. Kemudian untuk beberapa alasan dia mulai tertawa.
“Ada apa?”
“Tidak ada, maaf. Aku akan memberitahukannya untukmu. Jika aku bertemu dengannya ...”
Gadis itu mulai berjalan pergi, kemudian menoleh dan menjulurkan lidahnya.
“Tuan Adlet. Kau cukup bodoh.”
Dia berpikir tentang menanyakan kembali apa yang dia maksudkan, tapi dia sudah pergi. Jadi untuk sementara Adlet merenungkan apa yang dikatakannya, tapi dia menyadari kalau dia tidak bisa mencari tahu, dia memutuskan untuk melupakannya.
Adlet berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit, memikirkan apa yang disebut pembunuh Enam Bunga.
“... Pembunuh Enam Bunga ya? Mungkin aku harus melawan mereka setelah aku terpilih.”
Sampai saat itu Adlet telah melihat sesuatu yang terang, ekspresi optimis. Tapi sekarang, matanya dipenuhi dengan kemarahan dalam diam.

Bagian 3
Persis seperti yang gadis itu katakan, dia diberi hukuman penjara tidak tetap sebagai hukumannya.
Nah, jika mereka semua berpikir maka dia tidak akan keberatan. Sebaliknya dia akan tetap sendirian di selnya dan menunggu lukanya sembuh.
Beberapa hari kemudian Adlet menemukan pedang besar yang tersembunyi di tempat tidurnya. Mungkin itu untuk perlindungan jika diperlukan, tetapi dia tidak tahu apakah gadis itu diam-diam memiliki pedan dan ditempatkan di sel atau jika beberapa “fans”-nya yang lain telah melakukannya.
Sebulan berlalu, kemudian dua. Selama waktu itu Adlet terus melatih tubuhnya di sel sehingga tubuhnya tidak akan berubah bentuk. Namun, pembunuh Enam Bunga atau apapun, tidak pernah datang.
Pada saat bulan ketiga berlalu, luka-lukanya sembuh. Jadi segera setelah itu, Adlet mulai berpikir tentang melarikan diri.
Tapi pada suatu malam, dadanya tiba-tiba berdebar membangunkannya. Seluruh tubuhnya panas, dan hatinya menggelegak dalam penderitaan yang tidak terlukiskan. Kemudian sekitar sepuluh detik, sebuah tanda samar-samar bercahaya muncul di tangan kanannya.
Raja Iblis telah terbangun. Dan Adlet telah terpilih sebagai salah satu dari Pahlawan Enam Bunga.
“Apa yang ...” gumam Adlet sambil melihat tanda tersebut.
“Itu terjadi begitu cepat dan tiba-tiba.”
Dia membayangkan seluruh tubuhnya akan diselimuti cahaya atau dewi nasib akan menunjukkan dirinya dan memerintahkannya untuk mengalahkan Raja Iblis.
Dia tidak bisa membantu tapi merasa sedikit kecewa saat dia menatap tanda tersebut. Namun, tak lama dia menyadari ini bukan waktunya untuk perasaan seperti itu.
“Hei! Seseorang datang!” teriak Adlet kepada para penjaga sambil menggedor bar sel. Jika mereka mengetahui kalau dia telah terpilih sebagai salah satu dari enam maka secara alamiah mereka mungkin tidak akan mampu untuk menjaganya di dalam sel lebih lama lagi. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa tentang penjaga yang tidak datang.
“Apakah tidak ada seseorang di sini? aku telah terpilih sebagai salah satu dari Enam Bunga.”
Bagian dalam penjara itu tidak seperti biasa, sangat hening. Dia bahkan tidak bisa merasakan kehadiran salah satu penjaga. Namun, saat dia berpikir kalau tidak ada pilihan lain selain melarikan diri, tiba-tiba dia mendengar keributan besar yang datang dari lantai di bawahnya.
“Kenapa kau datang ke tempat semacam ini? Apa keperluan yang kau miliki di sini?”
“Batwal. Cepat dan jangan mengganggu.”
Dia mengingat baik suara tersebutl. Salah satunya adalah gadis beraroma apel. Dan bukankah orang yang mengikutinya itu adalah kesatria tua yang beratrung denganku di arena? Mereka bukan satu-satunya suara yang didengarnya. Di belakang mereka, dia juga bisa mendengar suara bising dari beberapa langkah.
“Tuan Adlet. Apakah kau dipilih?”
Gadis itu bergegas ke sel Adlet. Dia tidak mengenakan pakaian pelayan yang dia pakai beberapa bulan lalu, tapi armor putih yang mewah. Dan sebuah pedang tipis(Rapier) tergantung di pinggangnya. Dia juga mengenakan helm dengan telinga berbentuk kelinci. Dia mendengar di suatu tempat sebelum ini kalau membuat helm dengan motif binatang adalah tradisi keluarga kerajaan Piena.
Dan saat dia melihatnya, Adlet menyadari identitas aslinya. Dia juga mengerti betapa bodohnya dirinya. Adlet tersenyum pahit, seolah-olah wahyu kedua adalah sesuatu yang sering dia lihat.
Kemudian gadis di depan selnya mengatakan, “Lama tidak bertemu. Izinkan aku untuk memperkenalkan diri secara resmi. Namaku Nashetania Louie Piena Augustra. Aku putri pertama Piena dan seorang Saint Pedang.”
Gadis beraroma apel ... Nashetania menurunkan baju besi di bagian dadanya dan memperlihatkan tanda Enam Bunga di dekat tulang selangkanya.
“Dan sekarang aku dipilih sebagai Pahlawan Enam Bunga. Aku berharap untuk bekerjasama dengamu.”
“Adlet Mayer, orang terkuat di dunia, aku merasakan hal yang sama.” Adlet menunjukkan padanya sebuah tanda yang ada di tangan kanannya.
“Tuan Putri! Apa yang kau lakukan! Kau tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan seseorang sepertinya.”
Adlet menunjukkan tanda tersebut pada kesatria tua juga. Matanya melebar saat dia melihatnya, dan kemudian dia terdiam.
“Ayo cepat dan pergi. Waktu kita terbatas.”
Nashetania membuka sel penjara dan Adlet melangkah keluar. Kemudian mereka berdua berlari tanpa mendengarkan permohonan kesatria tua pada mereka untuk berhenti.
“Ayo kita gunakan kuda,” Adlet disarankan.
“Cara ini!”
Dua dari mereka melompat keluar jendela dan mendarat di halaman berumput. Ada, seseorang yang terlihat seperti pelayan pribadi Nashetania melepaskan dua kuda dengan tangan yakin.
“Berhati-hatilah,” kata pelayan.
“Baik,” jawab Nashetania. “Ayo.”
Nashetania dan Adlet menaiki kuda mereka dan bergegas pergi. Kesatria tua dan para prajurit berteriak di belakang mereka. Mungkin mereka berteriak-teriak untuk sebuah upacar keberangkatan Nashetania, atau mungkin mereka berteriak untuk memancing penonton untuk melihat sang putri, atau mungkin mereka hanya berteriak tentang beberapa hal yang tidak penting lainnya.
Melihat tampang Nashetania saat dia naik di sampingnya, Adlet tersenyum. Gadis ini nampaknya telah berhasil mengatur semuanya. Dan seolah-olah dia sedang berpikiran sama, dia melihat kepadanya dan tersenyum.
#
Seribu tahun yang lalu, seorang wanita yang disebut Saint Bunga Tunggal mengalahkan Raja Iblis dan menyegelnya. Dia disegel di dalam tanah terjauh di ujung barat yang disebut semenanjung Balca. Pada waktu itu adalah bagian dari negara pulau besi Gwinvarell.
Semenanjung adalah mulut benua berbentuk botol. Diputuskan Pahlawan Enam Bunga akan berkumpul di lokasi tersebut. Setiap prajurit pasti diberitahu kalau ketika mereka menampilkan kemampuan mereka di berbagai tempat suci sebelum dewi nasib. Dan dari mana pun Enam Pahlawan berasal, jika mereka menunggu di lokasi maka mereka semua akhirnya akan bertemu.
Tapi bahkan setelah Raja Iblis terbangun, itu akan memakan waktu yang cukup lama sebelum kekuatannya kembali. Ini adalah waktu ketika Enam Pahlawan harus menemukan cara untuki tiba di bagian terjauh dari semenanjung Balca dan menyegel kembali Raja Iblis sebelum kekuatannya kembali.
Tetapi ada lebih dari 10.000 Kyouma berkumpul, menunggu Enam Pahlawan di semenanjung itu. karena hanya enam yang bisa memasuki lokasi yang ditunjuk, itu mungkin akan menjadi pertarungan yang panjang dan menyakitkan. Dalam dua pertempuran terakhir, lebih dari setengah pahlawan mengorbankan nyawanya dalam konflik tersebut.
Namun, mereka yang terpilih menjadi Enam Pahlawan tidak takut mati.
Suara-suara Kyouma yang menangis mengisi wilayah semenanjung Balca yang luas. Dan sebagai hasilnya tanah itu tidak sering disebut nama aslinya. Sebaliknya, itu sering disebut sebagai wilayah Ratapan Iblis.
#
Setelah meninggalkan kerajaan Piena, hal pertama yang Adlet dan Nashetania lakukan adalah berhenti di rumah Adlet yang tersembunyi. Di sini dia telah menyiapkan banyak perlengkapan dan peralatan untuk perjalanannya. Jadi, dia mengisi berbagai macam senjata rahasia ke dalam kantong kecil di pinggangnya. Lalu dia mengikat kotak logam besar di punggungnya yang di dalmnya terdapat banyak bom, racun, dan senjata-senjata kcil yang tersembunyi. Senjata-senjata rahasia yang penting untuk mengalahkan Raja Iblis dan tanpa mereka Adlet tidak bisa menyebut dirinya sebagai orang terkuat di dunia.
Kotak besi itu kuat dan berat ke titik di mana rata-rata pria akan kehabisan napas hanya dengan membawanya di punggung mereka. Namun, itu tidak terasa sangat berat bagi Adlet.
Setelah mendapatkan pasokan, mereka berdua naik di atas kuda-kuda mereka selama satu hari, meninggalkan Piena dan memasuki Fandawen, nagara buah kuning.
“Mereka tidak mengikuti kami lagi.”
“... Mereka mungkin sudah menyerah.”
Adlet dan Nashetania melihat ke belakang saat mereka berbicara. Mereka membahas dan mencari kelompok dari istana kerajaan Piena yang mengejar Nashetania.
“Tidakkah kau terlihat seidikit dingin? Mereka mungkin pengikutmu sendiri kan?”
“Benar, tapi pada tingkatan tertentu mereka mengganggu,”
Tidak ada keinginan untuk Adlet menggunakan panggilan kehormatan dengan Nashetania. Niatan mereka adalah menjani seluruhnya sebagai seorang taman. Nashetania juga nampaknya setuju dengan kemungkinan itu.
Merasa kashian karena kuda mereka kelelahan, sedikit demi sedikit mengurangi langkah mereka dan meningkuti jalan kota. Ada kebun luas di seluruh lahan di sekitar mereka. Persis sesuai namanya, Fandawen adalah sebuah negara di mana orang dapat memetik buah yang lezat.
“Cantik. Ini adalah pertama kalinya aku melihat kebun.”
“Apa itu benar?”
Nashetania nampaknya menikmati dirinya sendiri sementara dia melihat ke sekitarnya. Meskipun itu pemandangan yang cukup biasa bagi Adlet, baginya mungkin itu merupakan sesuatu yang baru. Kemudian pada saat itu kereta yang penuh dengan lemon yang ditarik dengan kuda berjalan ke arah mereka.
“Permisi, apakah tidak apa-apa jika aku mengambil satu?”
Apa yang dia lakukan?
Tanpa menunggu jawaban dari sang pengemudi, Nashetania meraih salah satu lemon. Dia kemudian memeras serta menghisap keluar jus yang lezat.
“Lezat, terima kasih telah mentraktir.”
Dia kemudian menyeka mulutnya dan melemparkan sisa-sisa mekanan kepada sang pengemudi. Adlet sudah menyadari itu sebelumnya, tapi tindakan tersebut hanya menegaskan kembali betapa anehnya sang putri itu.
“Mempertimbangkan semua hal, negeri yang damai,” kata Nashetania sambil menjilat jus dari tangannya. “Aku berpikir kebangkitan Raja Iblis aan menjadi sebuah perstiwa yang jauh lebih besar.”
“Hanya bagaimana caranya negeri itu(mungkin maksudnya mengelola?). Dunia juga damai ketika terakhir kali Raja Iblis terbangun dan waktu sebelum itu. bahkan, satu-satunya gangguan yang terjadi berada di dekat wilayah Ratapan Iblis,” kata Adlet. “Tapi itu akan berhenti menjadi damai jika kita gagal.”
“Benar. Ayo lakukan yang terbaik.”
Dari jauh kereta kuda yang lain datang, kali ini diisi dengan wortel. Dengan cepat Nashetania melompat dari kuda dan meraih salah satu dari wortel tanpa meminta izin.
Dia berpikir tidak ada caranya dia memakannya mentah, tetapi kemudian dia melakukan sesuatu yang menyangkal teori. Pedang putih tipis yang terbentuk diu udara dan mengupas kulit wortel dengan bersih dalam sekejap.
“Apakah itu kekuatan dewa pedang?”
“Benar sekali. Bukankah itu luar biasa huh? Tapi itu karena aku adalah Saint. Nashetania membususngkan dadanya saat dia menggigit wortel.
“Aku bahkan bisa melakukan hal-hal seperti ini.” Saat dia berkata demikian dia mengangkat jari telunjuknya.
Pedang bermunculan dari tanah. Itu lebih dari lima meter, tipis dan sangat tajam. Ini bisa menembus manusia serta Kyouma tanpa kesulitan.
“Tapi ini ...”
Dia menunjuk jari telunjuk Adlet. Pedang dengan panjang sekitar 30 centimeter terwujud id sekitar jarinya. Kemudian satu per satu pedang menyerang wajah Adlet.
“Apa yang kau lakukan, bodoh!”
“Tidak bisakah kau menghindari serangan seperti ini?”
Terkekeh, Nashetania terus menembakkan pedang ppendek ke Adlet. Meskipun dia menghindari serangan sederhana, di dalam dia terkejut oleh kekuatannya. Itu adalah kekuatan Saint of Blades.
Saint adalah istilah untuk prajurt yang memiliki kekuatan supernatural. Kurang dari delapan puluh bahkan tersebar di seluruh dunia dan mereka semua, tanpa kecuali, adalah perempuan.
Saint dikatakan menjadi sama seperti para dewa yang mengatur nasib semua ciptaan. Dan karena para dewa tinggal di dalam tubuh mereka, para saint bisa meminjam kekuasaan mereka dan menggunakan kemampuan manusia pada umumnya. Adapun Nashetania, dari berbagai macam dewa, dia memiliki dewa pedang di dalam dirinya.
Hanya satu orang yang memegang dewa tertentu. Dan pada saat ini tidak ada orang lain selain Nashetania yang meminjam kekuatan dewa pedang. Jika dia meninggal maka dia akan melepaskan kekuatan dewa dan orang lain akan terpilih sebagai Saint Pedang. Selain Nashetania sebagai Saint Pedang, ada juga Saint Api, es, pengunungan, dan berbagai Saint lainnya yang memiliki kekuatan yang berbeda. Mungkin beberapa dari mereka terpilih menjadi salah satu dari Enam Bunga.
Di masa lalu, Saint Bunga Tunggal yang telah mengalahkan Raja Iblis telah memiliki newi nasib di dalam tubuhnya.
“Hentikan!” Adlet meraih salah satu pisau terbang Nashetania dan melemparkannya kembali padanya. Ini mengenai helm kemudian jatuh ke tanah.
“Maaf, aku terbawa suasana.”
“Ya, kau melakukannya tanpa ragu.”
“Apa kau marah?”
“Aku benar-benar marah.”
Roh Nashetania jatuh dan dengan ekspresi suram dia mengunyah wortel mentah dengan sedih.
Aku mungkin tidak seharusnya marah, Adlet menyesal.
“... Maaf,” kata Nashetania dengan suara tertekan yang benar-benar berbeda dari cara dia berbicara sebelumnya. “Aku gadis yang sedikit aneh. Ayahku dan bahkan pelayan selalu marah padaku.”
“Tidak, itu bukan masalah besar.”
“Orang-orang sepertiku mungkin menyebabkan masalah yang sama di mana pun mereka pergi.”
Ada sesuatu yang tidak bisa cukup kupahami tentang gadis ini. dia muncul di penjara menggunakan pakaian pelayan dan menyekrup(?!) sekitar dengannya di pinggir jalan. Dan meskipun dia sedikit marah tentang yang terakhir, itu aneh kalau dia merasa begitu terpukul  karena itu.
Ini masalah. Bagaimana dia mengira bisa terhubung dengannya? Adlet meraih kendali atas kudanya dan menggantung kepalanya karena malu. Kedua kuda mereka kemudian maju tanpa ada satu kata yang terucap di antara mereka.
Tunggu, mengapa orang terkuat di dunia mennggantungkan sesuatu yang sangat sepele, pikirnya. Tapi saat dia hendak berbicara dengannya, dia melihat menatap ke arahnya dari sudut matanya.
“Mungkin kau pikir aku benar-benar sedih.”
“Hei!”
Nashetania menaruh tangannya ke mulutnya, senyum mengejek terlukis di wajahnya. Dia sudah lupa gadis ini senang bermain trik.
“Ahahaha, kau orang menyenangkan.”
“Sial. Kau telah membuatku begitu khawatir.”
“Yakinlah. Aku tidak dapat sedih begitu mudahnya.”
Adlet melihat jalanan, memukul bagian belakang kudanya dengan cambuk dan berlari pergi, meninggalkan Nashetania di belakang.
“Jangan marah. Aku hanya main-main.”
“Sungguh.”
“Tapi tolong untuk tidak mendapatkan kesan yang salah. Aku bisanya lembut. Hanya saja hari ini aku menunjukkan betapa bahagianya diriku.”
“Mulai sekarang kita sedang dalam perjalanan untuk melawan Raja Iblis. Apakah kau mengerti?”
“Aku mengerti. Hanya saja kali ini benar-benar. Maafkan aku.” Sambil tersenyum, Nashetania menunduk. “Ini adalah kali pertamaku. Dan meskipun aku mengerti akan ada pertempuran setelah ini, aku tidak bisa mengendalikan diri.”
“Pertama kali untuk apa?”
“Menjadi seseorang sepertimu.”
Ekspresi Nashetania berubah dari senyum nakal seorang gadis dengan senyum berjenis senyuman seolah seseorang yang merasa sayang terhadap orang lain. Dia adalah seorang gadis yang banyak tersenyum.
Dengan cepat, Adlet mulai merasa canggung.
“Kau orang pertama yang saya dapat berbicara secara sejajar, orang pertama yang dapat membuatku berbicara jujur tentang apa yang kupikirkan tentang dan bagaimana perasaanku.”
Melampaui canggung, Adlet mulai merasa malu. Dia kemudian memutuskan untuk melihat keluar seentar dari sisi matanya. Dan meskipun dua berpikir kalau mungkin dia anya menggodanya untuk bersenang-senang, itu tidak nampak bahwa yang terjadi hanya dengan melihatnya.
“Ah, kereta kuda. Mari kita makan wortel yang lain.”
Apakag dia mengerahu apa yang dia pikirkan atau tidak, Nashetania mulai mengunyah wortel mentah yang lainnya. Adlet hanya mengangkat bahu dan mengawasi

Bagian 4
Untuk istirahat hari ini, Nashetania terus melakukan apa yang dia suka. Dan segera hari gelap dan malam datang. Mereka berdua mengistirahatkan kuda mereka di sisi jalan dan siap untuk tidur di luar. Tumbuh di sebuah istana, Adlet bertanya-tanya apakah Nashetania akan betah untuk berkemah, tapi dia bilang dia telah melakukannya beberapa kali sebelumnya, jadi itu tidaklah masalah.
Setelah Adlet menyiapkan kantong tidur, dia mengamati lingkungannya untuk setiap titik-titik buta atau tempat di mana seseorang dapat diam-diam mengintai. Dia harus selalu mempersiapkan diri untuk serangan apapun.
“Apa ada yang salah?” Nashetania bertanya padanya, meskipun dengan mata tertutupitu terihat seperti dia sedang tertidur. Dia pasti tidak ada yang dipikirkan sama sekali.
“Nah, sebelum kau tidur ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa yang akan terjadi dengan pembunuh Enam Bunga?”
“Kalau dipikir-pikir, Aku belum mengatakannya padamu.” Wajah Nashetania murung. Itu tidak nampak seperti akan memberikan informasi yang sangat baik. “Aku belum memberitahukan ini sebelumnya, tapi setengah tahun yang lalu Goldof melanjutkan perjalanan untuk mengejar si pembunuh.”
“Goldof ... itu adalah kesatria dari kerajaanmu.”
Dia mengetahui namanya. Goldof Aurora, kepala kesatria tanduk hitam. Dia dikatakan sebagai anak ajaib oleh tentara kerajaan Piena. Dan dia dianggap sebagai kesatria terkuat Piena, setara dengan Nashetania.
“Sayangnya, aku tidak mendengar kabar baik. Sebulan setengah yang lalu merupakan kontak terakhir kami; hanya beberapa kata tanpa petunjuk mengenai situasi mereka saat ini.”
“Mungkin mereka dibunuh dan menjadi korban.”
“Itu tidak mungkin terjadi!” Nashetania mengangkat suaranya. “Goldof kuat. Aku tidak pernah mengalahkannya.”
“Bagaimana dengan kompetisi tahun lalu?”
Nashetani adalah juara turnamen tahun lalu. Dan jika dia bertarung melawan Goldof di final maka hasil perjuangan mereka seharusnya dengan kekalahan Goldof.
“Pada saat terakhir, dia sengaja lemah untukku. Itu tidak dapat membantu. Setelah semuanya, kami berdua memiliki kembali posisi kami.
Namun, bukan berarti itu mengecewakan karena aku membuatnya berjanji sesuatu padaku. Dia berjanji kalau dia tidak akan mati sehingga suatu hari kita akan melakukan pertandingan ulang. Dan karena janji itu, Goldof tidak akan mati. Dia tidak boleh mati.”
Setelah berpikir sejenak, Nashetania menambahkan satu kata di akhir.
“... Mungkin.”
“Apakah kau tidak percaya padanya?”
“Aku percaya padanya, tapi dia terlalu muda. Dia berumur 16 tahun.”
“Muda, huh? Kita tidak memiliki hak untuk berbicara seperti itu,”  kata Adlet. Umur adlet adalah 18 tahun, dan dia mendengar kalau Nashetania berumur sama sepertinya. Mereka berdua sedikit terlalu muda untuk membawa nasib dunia di pundak mereka.
“Meskipun Goldof kuat, aku masih memiliki beberapa keraguan.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Nah bagaimanapun juga, dia menemukan petunjuk tentang gerakan si pembunuh?”
“Ya. Sejak sekitar satu setengah bulan yang lalu, keberadaan Leura, Saint Matahari tidak dapat diketahui.”
“Leura? Saint Matahari?”
Dia mengetahui namanya juga. Dia adalah seorang legenda hidup, memiliki kekuatan dewa matahari.
Sekitar 40 tahun yang lalu, beberapa wanita telah ditunjukkan kekuatannya di dalam perang. Dari langit, sinar matahari yang membakar menghujani istana yang telah dikepung musuh dan untuk mengurangkan jumlah mereka menjadi abu. Dikatakan bahwa wanita muda menggulingkan lebih dari sepuluh kastil. Setelah menjadi lebih tua dia pasti menjabat sebagai pemimpin yang mengatur para Saint. Tapi sekarang dia harus sudah pensiun dari posisi itu.
“Dia terkenal, tapi dia tidak mungkin melawan usia, kan?”
“Benar. Umurnya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Tidak peduli seberapa kuatnya dia, aku tidak berpikir kalau tubuhnya dapat menangani medan pertempuran lagi.”
“Tidakkah kau berpikir itu aneh? Harus ada yang orang lain yang mencari pembunuhnya. Aku, kau, Goldof, Chamo sang rawa ... Masih banyak prajurit kuat yang tersebar di seluruh dunia.”
“Bahkan kupikir itu aneh, tapi ...” Nashetania mengangkat bahu. Bahkan jika membahasnya lebih jauh, mereka mungkin akan mengerti.
“Sudah cukup. Haruskah kita bergi tidur? Kita akan memperlajari tentang pembunuhan cepat atau lambat.”
“Cepat atau lambat?”
“Pasti, kita akan melawan mereka.”
“Apakah kau berpikir kemungkinan mereka adalah Kyouma? Atau mungkin mereka menjadi manusia?(mungkin maksudnya menyamar)”
“Aku tidak tahu.”
Nashetania pergi tidur dan Adlet meletakan lututnya ke dadanya dan menutup matanya. Itu merupakan posisi yang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran sambil berjaga-jaga.
Sisa malam itu berlalu tanpa kejadian apapun. Seperti yang dilakukan pada hari berikutnya dan berikutnya. Namun, fakta kalau tidak ada yang terjadi akan membuat Adlet pasti tidak merasa nyaman.
#
Keduanya berangkat selama sepuluh hari. Itu adalah tekanan dan mereka harus berganti kuda mereka beberapa kali sepanjang jalan. Selama waktu itu mereka tidak pernah tidur lebih dari tiga jam sehari. Jika mereka tidak mempunyai maksud, dan jika perjalanan normal, maka jarak yang mereka tempuh adalah tiga puluh hari untuk melakukan perjalanan.
Pada akhir perjalanan panjang mereka akhirnya mereka melewati perbatasan Gwinvarell, pulau besi dimana wilayah Ratapan Iblis berada. Jalan mereka hanya tinggal melalui lembah gunung yang terjal dan ada hutan di sekitar mereka.
Secara bertahap, rumor mengenai Raja Iblis nampaknya meningkat di dalam perbincangan masyarakat. Dan ketika mereka mendekati wilayah Ratapan Iblis, ekspresi orang yang mereka lihat menjadi lebih suram.
Kemudian ketika mereka benar-benar masuk ke negara pulau besi mereka melihat apa yang terlihat seperti banyak sekali keluarga yang melarikan diri dengan membawa barang-barang mereka.
“... Ayo cepat.”
Seperti yang diharapkan, ekspresi ceria Nashetania benar-benar tidak nampak saat mereka bergerak lebih jauh dan lebih jauh lagi menuju tujuan mereka. Gadis itu memiliki keperibadian yang naif, namun dia tidak bodoh.
“Perhatian. Sekarang, mungkin Kyouma akan melancarkan serangannya setiap saat.”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
“Musuh berencana untuk menyerang sebelum kita berkumpul. Itu sama seperti Enam Pahlawan yang sebelumnya.”
“Informasi yang bagus.”
“Guruku memberitahu informasi mengenai Kyouma kepadaku. Spesies mmereka, tempat tinggal mereka, titik lemah mereka, dan perilaku hipotesis mereka.”
“Aku akan bergantung padamu.”
Mereka berdua terus menelusuri lebih lanjut jalan tersebut. Saat mereka maju, jumlah kata yang Nashetania ucapkan menurun. Hingga akhirnya dia benar-benar diam.
Tidak sanggup menahan lebih lama lagi, Adlet berbicara. “Nashetania.”
Dia tidak merespon. Ekspresinya saat memegang tali kendali terlihat sangat serius.
“Nashetania.”
“Ya, apa?!”
“... Apa kau gugup?”
Tangannya yang memegang tali kendali tampak pucat. Dia melepaskan tali pengendali tersebut dan menyeka keringat yang ada di pahanya. Telapak tangan yang berkeringat adalah bukti kalau dia sudah kehilangan ketenangannya.
“Rileks, pertarungan belum dimulai.”
“Be ... Benar, tapi kenapa aku sangat gugup?”
Adlet memiiliki satu pertanyaan yang menghampiri pikirannya. “Sampai saat ini, apakah kau pernah berada di dalam pertempuran yang sebenarnya? Apakah kau memiliki pengalaman membunuh orang?”
“Tentang itu ...”
Belum pernah, ya, pikir Adlet. Mungkin itu tidak bisa membantu. Meskipun tidak sempurna, dia adalah putri dari seluruh negara.
“... Adlet, apakah kau pernah berpikir kalau aku kuat? Mungkin sampai saat ini semua orang yang baru akan menerima dengan mudah diriku,” kata Nashetania sambil menatap telapak tangan berkeringatnya.
“Tenang. Jangan berpikiran seperti itu.”
“Jika aku tidak bisa bersantai bahkan ketika kita belum benar-benar bertemu dengan Kyouma, maka ...”
Dia gemetar, seolah-olah semua yang telah dia mainkan sampai dengan kemarin adalah sebuah kebohongan. Tidak, mungkin lebih dari itu kalau semua keceriaannya sampai dengan kemarin adalah upaya untuk menutupi kegelisahannya.
Tapi Nashetania bukanlah seorang pengecut. Semua orang pasti merasa gugup karena ini adalah kali pertamanya mereka berada di medan perang. Tidak peduli seberapa kuatnya seseorangnamun fakta tersebut tidak pernah berubah.
“Nashetania, senyum.”
“Huh?”
“Senyum. Pertama, lakukanlah hal itu dan sisanya akan mengikuti.”
Melihat telapak tangannya, Nashetania berkata, “Adlet, aku tidak bisa. Bahkan tanganku tidak bisa berhenti gemetar kemudian tersenyum ...” saat dia mengatakannya, dia mengangkat wajahnya dan menatap Adlet.
Kemudian Adlet mengangkat hidungnya dengan jari-jarina dan meremas udara keluar dari pipinya.
Nashetania membuat suara aneh, kemudian menutup mulutnya dengan tangan dan memalingkan wajahnya ke bawah.
“Lihat, kau tertawa. Apakah kau merasa lebih tenang?” tanya Adlet.
Nashetania menatap tangannya kemudian mengukur denyut nadi di lehernya. “Aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih.”
Melihat ekspresi Nashetania, Adlet mengangguk. Dia baik-baik saja. Dan meskipun dia masih belum memiliki pengalaman dan juga naif, pada intinya dia memiliki esensi seorang pejuang besar dan kesatria yang gagah.
“Itu adalah hal pertama yang diajarkan oleh tuanku. Tertawa,”
“Kau memiliki guru yang baik.”
Aku heran. Adlet mengangkat bahunya.
Untuk saat ini tujuan mereka adalah pintu masuk ke wilayah Ratapan Iblis. Namun, tujuan pertama mereka adalah untuk mengumpulkan semua anggota Enam Bunga. Meskipun ada banyak rintangan yang menunggu kami sebelum saat itu terjadi.
Pada saat itu seorang pria memegang seorang anak dan seorang wanita dengan kaki yang terluka berlari ke arah mereka dari kejauhan.
“Apa yang terjadi?” nashetania turun dari kudanya dan mendekati keduanya. Wanita itu menempel pada Nashetania dan mulai menangis.
“Kami mencoba untuk lari! Kyouma, sebelum mereka datang kami mencoba untuk lari ...”
“Cobalah untuk tenang.”
Wanita itu meratap ke titik di mana dia  bahkan tidak bisa bicara. Jadi, Nashetania menoleh ke pria itu.
“Warga desa kami bermaksud untuk melarikan diri ke ibukota bersama dengan tentara. Tapi, di jalan para Kyouma menyerang, dan kami harus meninggalkan ... sahabat kami ... dan bahkan anak bungsu kami ...”
Pria itu berbicara, tangan Nashetania mulai gemetar kembali. Adlet menempatkan tangannya di bahunya dan berkata pelan, “Tenanglah. Dengan kekuatanmu tidak ada yang harus kau takutkan.” Setelah mengatakan itu, Adlet memecut kudanya setelah memberi tanda. “Nashetania, ikuti aku!”
“Oh, baiklah.”
Adlet mencengkram tali kekang kudanya dengan kuat dan memikirkan situasinya. Itu persis seperti yang telah diprediksi. Kyouma yang membakar desa-desa terdekat dan menyerang orang-orang dalam rangka untuk menarik setiap Pahlawan dan menghancurkan mereka. Taktik yang sama telah merenggut nyawa sala satu dari Enam Pahlawan dalam konflik sebelumnya.
Jika dia berpikir tentang kemenangan maka rencana rencana yang benar adalah mengabaikan serangan tersebut. Tapi Adlet berpikir kalau dia harus pergi ke neraka. Mengapa dia memerangi Raja Iblis jika tidak mampu melindungi orang-orang?
“Ada!”
Empat belas Kyouma menyerang sekelompok gerobak kuda. Mereka berukuran sekitar sepuluh meter dan terlihat seperti lintah. Bertanduk satu dan beberapa antena tumbuh dari kepala mereka dan di ujung antena ada mata yang sangat mirip dengan manusia.
Sementara itu, Kyouma adalah sebuah makhluk hidup dari pohon silsilah tunggal, mereka bisa mengubah mengubah bentuk mereka dalam jumlah yang tidak terbatas dan cara yang tidak terbatas pula.
Salah satu yang ada di hadapan mereka terlihat seperti lintah, tetapi Kyouma ada juga yang menyerupai serangga raksasa, burung, dan hewan. Bahkan ada yang menyerupai manusia dan dapat berbicara.
Tapi satu hal yang membuat mereka sama dengan yang lain adalah tanduk yang tumbuh dari kepala mereka. Itu saja.
Ada puluhan tentara yang melawan Kyouma bersama dengan para petani dan keluarga mereka. Ada banyak luka dan beberapa orang yang sudah mati. Melihat adegan itu, Adlet melompat dari kudanya dan menghadap Kyouma.
“Aku akan menahan mereka! Kemudian kau kalahkan mereka!” teriak Adlet kepada Nashetania yang berlari di belakangnya. Kemudian dia mengambil botol besi dari salah satu kantong kecilnya, dibuka tutupnya, dan menuangkan isinya ke dalam mulutnya.
Beberapa Kyouma yang sedang melihat Adlet ketika dia mendekati kemudian mengangkat  kepala mereka dan memuntahkan cairan ke arahnya. Tapi dia melakukan sebuah penyerangan setelah dia menghindari serangannya. Dan ketika dia mendarat dia menggesekkan batu di gigi depannya.
Botol tersebut berisi bahan-bahan khusus seperti alkohol yang mudah terbakar, sehingga menciptakan sebuah percikan api yang keluar dari mulutnya bdan mengarah ke wajah Kyouma. Meskipun api cukup lemah untuk ditangkis tanpa mengalami cedera apapun, namun Kyouma mulai menggeliat kesakitan.
Sama seperti yang telah kuprediksi. Kyouma lemah terhadapi api.
Sebagian besar senjata rahasia Adlet tidak memiliki kekuatan yang besar. Itu sebabnya dia menggunakan banyak senjata. Dan menyerang titik lemah Kyouma membuktikan manfaat senjatanya.
“Bagus!” teriak Nashetania.
Kemudian, menggunakan kekuatan dewa pedang, Nashetania memanggil tigah bilah pedang dari tanah, masing-masing menusuk seekor Kyouma dan membunuhnya. Tersisa tujuh Kyouma yang masih menyerang petani tanpa memperhatikan Adlet dan Nashetania.
Adlet segera mengeluarkan senjata rahasia berikutnya, sebuah seruling kecil. Dia kemudian memegangnya di depan mulut  dan meniupnya.
“...?”
Tidak ada suara yang keluar, namun semua Kyouma yang menyerang secara bersamaan menoleh ke arah Adlet. Seruling tersebut menghasilkan gelombang suara khusus yang menarik perhatian mereka.
Kyouma terus menyerang Adlet, dengan tenang dia menghindari serangan mereka. Saat mereka mendatangi Adlet, Nashetania tidak melewatkan kesempatan dan membunuh lima Kyouma dengan pedangnya. Kemudian Adlet membunuh dua sisanya dengan pedangnya.
Nampaknya pertempuran berakhir. Ini bahkan tidak lebih dari satu menit untuk mengalahkan Kyouma yang tersisa.
“Huu,” Adlet terengah-engah. Meskipun dia tidak lelah, dia berkeringat. Ini bukanlah pertarungan pertamanya, tapi pertarungan yang sebenarnya masih berlangsung.
“... Ha ... Ha ...” Nashetania kehabisan napas.
Adlet meletakkan tangan di bahunya kemudian berkata, “Sempurna. Itu sama sekali tidak terlihat seperti pertarungan pertamamu.”
“Aku bisa bertarung lebih tenang dari yang kukira. Jadi, mulai sekarang aku harus lebih berguna.”
“Aku akan memperhitungkanmu.”
Nashetania tersenyum.
Keduanya kemudian pergi dan membantu para tentara memberikan pertolongan. Para penduduk desa menumpuk mayat rekan mereka ke atas gerobak kuda. Tetapi melihat orang lain mati itu menyakitkan; seperti melihat wajah anak-anak dibiarkan sendiri setelah kematian orang tuanya.
“Sudah semuanya? Apakah ada yang masih tertinggal?” tanya Adlet sambil memberikan bantuan.
seolah-olah pertanyaan itu sulit untuk dijawab, beberapa orang berbicara pada Adlet sambil melihat ke tanah dan sekilas bertukar pandang dengan Adlet.
“Apa yang terjadi?”
“Mengenai itu ...” para penududk desa terlihat ragu-ragu untuk berbicara, dengan cepat Adlet menduga-duga informasi tersebut.
“Seseorang tertinggal.”
“Se ... Seorang gadis petualang datang ke desa begitu saja.”
Sesaat setelah salah satu penduduk desa mengatakannya Adlet melompat kembali ke kudanya. Saat dia hendak mencambuk kudanya, Nashetania datang dan bertanya dengan cepat, “Adlet, kau akan pergi ke mana?”
“Sepertinya ada seorang gadis yang tertinggal. Aku akan segera kembali. Aku akan pergi emeriksanya dan kembali.”
Saat Adlet mencoba memacu kudanya, Nashetania meraih pergelangan tangannya dan menghentikannya.
“Tunggu sebentar. Apa kau berencana untuk pergi seorang diri?”
“Benar. Jagalah tempat ini, Nashetania.”
Dia mencoba memacu kudanya berlari dengan tali pengendali, tapi kali ini Nashetania memegang ekor kuda.
“Kenapa kau menghentikanku?”
“Tidak ada gunanya, Adlet. Kau sudah terlambat.”
“....”
“Hanya ada kita berdua. Kita tidak bisa pergi ke sekitar untuk membantu semua orang, vahkan tidak untuk seorang yang tertinggal.”
Itu sedikit mengejutkan. Nashetania tampaknya melihat situasi dengan tenang.
“Tentu saja, kau benar.”
“Sangat disayangkan, tapi kami harus meninggalkan gadis itu dan terus maju.”
Nashetania melihat ke tanah dengan ekspresi sedih. Mungkin dia benar-benar ingin pergi dan membantu orang. Namun, pendapat Nashetania yang mengutamakan mengalahkan Raja Iblis adalah benar.
“... Kalahkan Raja Iblis. Menyelamatkan nyawa manusia, sulit untuk melakukan keduanya sekaligus.”
“Ini menyakitkan. Namun, kita harus mempertimbangkan prioritas utama kami adalah bertemu dengan Bunga lainnya.”
Ketika Nashetania melepaskan tangannya, Adlet memacu kudanya dengan tali pengendali. Kuda meringkik dan bergegas pergi.
“Maaf, tapi kau harus mengizinkanku untuk pergi. Aku orang terkuat di dunia!”
“Apa maksudnya?!”
Mengalahkan Raja Iblis dan membantu orang. Aku bisa melakukan keduanya karena aku adalah orang terkuat di dunia. Setidaknya itulah yang digumamkan Adlet di dalam pikirannya.

Bagian 5
Setelah membuat kudanya berlari selama sekitar tiga puluh menit, Adlet mulai melihat pagar yang mengelilingi desa. Perjalanan sudah mulai tenang. Tidak ada satupun manusia, Kyouma, atau hewan yang menunjukkan diri.
Desa ini terdiam seperti mati. Entah Kyouma yang belum datang atau mereka sudah menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan ... atau itu adalah sebuah jebakan. Adlet turun dari kudanya, menarik keluar pedangnya dan berjalan dengan hati-hati.
Gerbang desat terlihat tidak normal tergeletak di atas tanah. Ada juga mayat Kyouma yang menyerupai ular raksasa. Mereka besar dan menurut studi yang ini jauh lebih kuat daripada Kyouma berbentuk lintah yang dia kalahkan beberapa waktu lalu.
Adlet mendekati mayat dan mengamati kondisi mereka. Kepalanya telah pecah oleh sesuatu dengan kekuatan yang luar biasa. Dia menggali luka dari salah satu mayat dan menemukan palet besi berdiameter 2mm terkubur di dalamnya.
“... Sebuah katapel? Tidak, mungkin ini adalah sebuah senjata?”
Adlet mengulurkan lehernya ke samping(mungkin maksudnya memiringkan kepala?). Sejata adalah miniatur meriam yang diciptakan sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Sejalk saat itu, mereka telah menyebar sedikit demi sedikit ke seluruh negeri, tapi masih sulit untuk mengatakan kalau itu adalah senjata yang sangat kuat. Membunuh orang tanpa helm atau babi hutan adalah sesuatu yang bisa dilakukan dengan senjata terbaik. Dan dia belum pernah mendengar tentang senjata yang bisa membunuh Kyouma.
Adlet memasuki desa dan melihat lebih banyak mayat Kyouma berserakan. Masing-masing telah dikalahkan dengan satu tembakan, mengenai kepala atau hati(jantung?) mereka.
Kemudian dirinya sadar. Seorang gadis petualang, yang tertinggal di desa, belum ditemukan sama sekali. Dia telah bertarung dengan Kyouma di sini. untuk seorang petualang berpergian sendiri pada saat Raja Iblis terbangun dari tidur hanya berarti satu hal.
Dia melanjutkan untuk mencari gadis itu. tetapi setelah memeriksa setiap rumah dan mencari di sekitar desa tidak membuahkan hasil, dia memutuskan untuk berjalan ke tempat pembuatan arang terdekat di gubuk yang berada di tepi desa.
“Oh ...”
Gadis itu ada di sana. Dia mengangkat tangannya dan mencoba untuk berbicara; Namun, tangannya terhenti di tengah dan suaranya seolah terjebak di tenggorokannya. Rasanya seperti tubuh Adlet membeku saar dia melihatnya.
Gadis itu berjalan di depan pondok yang hancur. Dia nampak berusia 17 tahun atau lebih dan mengenakan jubah usang. Rambutnya putih dan dia memegang anak anjing kecil di kedua tangannya. Saat dia berjalan, dia membelai tengkuk leher anjing tersebut dengan penuh kasih sayang.
Sekilas Adlet mengetahui kalau dia adalah orang yang telah mengalahkan Kyouma. Ditambah ada sebuah pistol terlihat dari mantelnya. Tapi ini tidak berarti apa-apa bagi Adlet. Meskipun dia hanya memegang anak anjing, terlihat cukup biasa untuk membekukan pergerakan Adlet sepenuhnya.
“Aku menemukannya.”
Ada anjing lain yang terikat di tanah di depan pondok. Mungkin itu adalah orang tua anjing itu. gadis itu menurunkan anjing di lengannya ke tanah dan anjing tersebut mulai melompat ke arah anjing yang terlihat seperti induknya. Dan sementara anak anjing menggoyangkan ekornya dengan cara menyenangkan, gadis itu mengeluarkan pisau dari saku yang ada di dadanya, mengiris tali di dekat leher induk anjing dan membebaskannya.
Kyouma tidak menyerang apapun kecuali manusia. Jadi tinggalah di sini dan hiduplah dengan tenang.”
Induk dan anak anjing melenggang ke lutut gadis itu kemudian manjauhinya, menghilang ke dalam hutan. Sementara itu Adlet diam terpaku di tempat kejadian, benar-benar terpaku di tempat.
Dia adalah seorang gadis yang cantik. Wajahnya sedikit seperti anak kecil dengan penutup mata yang menutupi mata kananya. Mata kirinya begitu biru terlihat transparan. Tepi matanya indah melengkung ke bawah sedikit dari sudut-dudut, tetapannya dingin.
Mantelnya terbuat dari kulit dan dibaliknya dia juga mengenakan pakaian kulit yang menempel erat pada kulitnya. Ada juga kain hitam yang melilit kepalanya.
Hanya dengan melihatnya, Adlet mengerti kalau gadis itu kuat. Gerakannya yang sempurna dan terasah, seperti pisau yang tajam. Dan dari penampilannya, Adlet bisa menduga kalau dia adalah seorang prajurit yang sangat terlatih.
Melihantnya saja membuatnya merasa seperti hatinya akanberhenti jika dia mendekatinya.
Namun, cara di mana dia menggunakan tangannya untuk menyelamatkan anjing kecil membingungkannya. Membelitkan tangannya di belakang(perut?) anak anjing dan nampaknya telah menyampaikan kehangatannya pada hewan. Rasanay seperti tangan-tangan yang lembut yang ditujukan pada anjing persis seperti cinta dan kasih sayang.
Gadis itu menatap diam-diam hutan di mana dua anjing tersebut pergi. Tatapan serta ekspresinya terlihat sangat sementara (mungkin maksudnya bisa merubah ekspresi dalam waktu yang singkat), seperti bunga akan layu atau bintang jatuh. Melihatnya, sepertinya seperti seluruh keberadaannya cepat berlalu.
Adlet tidak bisa memahaminya secara keseluruhan. Dia dingin namun dia hangat. Sangat kuat, tapi pada saat yang sama dia lemah. Dan kesan pertama tentangnya, dia bingung.
“Kau siapa?”
Gadis itu berbalik ke arah Adlet, menyebabkan hatinya bterkejut. Pikirannya benar-benar kosong dan dia tidak bisa memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Dia bahkan muali bisa mendengarkan detak jantungnya.
Itu bukan berarti dia terkejut dengan kecantikannya. Juga dia sangat tidak emosional sehingga kemungkinan ini bukanlah cinta. Dia hanya tidak tahu apa yang harus dia lakukan, yang berarti kalu dia tidak bisa berbuat apa-apa melainkan bingung.
“Apakah kau suka anjing?” akhirnya Adlet mengeluarkan pertanyaan yang sepele.
Gadis itu menatapnya dengan mulut yang terbuka, sebuah ekspresi yang dia akui sebagai ekspresi jijik.
“Aku suka anjing, namun aku benci manusia.”
“... Apakah begitu? Aku suka keduanya.”
“Siapa kau?” katanya, menarik pistol dari bawah jubah dan meletakannya diantara matanya. Adlet benar-benar lupa untuk merasakan adanya bahaya. “Apakah kau juga datang untuk membunuhku?”
Pada bagian belakang tangan kirinya adalah tanda dari Enam Bunga. Dan dengan pistol yang masih mengarah pada wajahnya, Adlet menatap diam wajah gadis itu dan tandanya.
“Aku akan menyerang, oke?”
Mendengar kata-kata itu, Adlet kembali ke akal sehatnya. Dengan segera dia mengangkat kedua tangannya, menunjukkan kalau dia tidak memiliki niat untuk saling bermusuhan.
“Tunggu, jangan menembak. Namaku Adlet Mayer. Aku adalah salah satu dari Enam Bunga, sama sepertimu.”
Saat dia menujukkan tanda di punggung tangannya, dia menatap curiga.
“Aku pernah mendengar tentangmu. Seorang prajurit yang pengecut dalam turnamen Piena. Menurut rumor, kau benar-benar seorang pengecut.”
Kata-kata itu membingungkannya. “Tu ... Tunggu, apa yang kau katakan? Aku orang terkuat di dunia. Aku tidak sebanding dengan beberapa prajurit pengecut,” katanya sambil berusaha menenagkan hatinya.
“Kau salah satu dari Enam Bunga? Aku tidak mungkin percaya.”
Dia tidak merasa kelembutan atau kesombongan datang dari gadis yang menodongkan pistol ke arahnya. Semua yang ada di sana adalah seorang prajurit berkepala dingin, waspada dan prajurit asli. Dan sikap gadis itu menyebabkan kebingungan Adlet lenyap seperti kabut.
“Itu rumor yang salah. Aku menggunakan setipa metode untuk menang, dan itu bukan pengecut.”
“....”
“Aku Adlet, orang terkuat di dunia. Laki-laki pengecut tidak bisa disebut sebagai yang terkuat. Jadi jangan mengarahkan pistolmu padaku.”
Adlet berbicara dengan percaya diri, tapi gadis itu hanya menatapnya dengan ekspresi tercengang, tidak memberikan indikasi untuk menurunkan senjatanya.
“... Apakah kau memiliki rekan yang lainnya?”
“Nashetania berada di dekat sini. Kau mungkin sudah mengetahui tentangnya. Dia adalah putri Piena dan juga seorang Saint Pedang.”
“Nashetania ... benar. Jadi gadis itu juga terpilih, ya?”
Gadis itu masih tidak berusaha untuk menurunkan pistolnya, meskipun Adlet yakin dia telah menghilangakn pemikiran kalau dia adalah musuh. Dengan tatapan yang dingin, dia terus menatap jalan. Dia bahkan tidak berbicara padanya sebagai seseorang yang akan berjuang bersama dengannya.
“Katakan ini untuk Nashetania dan yang lainnya ketika kau bertemu.”
“... Apa?”
“Namaku Fremy Speeddraw. Aku adalah Saint Bubuk Mesiu.”
Saint Bubuk Mesiu. Adlet tidak pernah mendengar kata-kata itu. para dewa tinggal dalam segala hal dan mengatur semua nasib ciptaannya. Namun, dia tidak mernah mendengar Bubuk Mesiu, Dewa, juga tidak ada yang pernah menjadi Saint itu.
Tapi dia lebih tertarik pada mengapa dia berpikir itu penting u untuk memberitahu orang lain.
“Aku tidak akan pergi denganmu. Jadi izinkan aku untuk melawan Raja Iblis sendirian. Dan karena aku tidak ingin kau semua menjadi penghalangku, menyingkir dari jalanku.”
“Apa yang kau katakan?”
“Apa kau tuli? Aku mengatakan padamu dan yang lainnya kalau aku akan berpisah. Dan seperti yang ku katakan sebelumnya, menyingkir dari jalanku.”
Adlet terdiam. Bukankah seharusnya mereka justru menggabungkan kekuatan Enam Pahlawan? Apa yang bisa dilakukan salah satu dari mereka seorang diri?
“Katakan pada mereka persis seperti yang kukatakan. Kau harus bisa setidaknya melakukan semacam perintah, benar?”
Setelah mengatakan itu, Fremy menurunkan pistolnya, berbalik dan berlari menjauh. Dia cukup cepat.
“Oi, tunggu!” meskipun dia menyuruhnya untuk menunggu, tidak ada alasan untuk mengharapkannya. Dan sebelum dia tahu itu, Fremy hilang.
“Sial!”
Adlet memperhatikan sekitarnya. Dia melihat kudanya berjalan menuju ke arahnya dan mengambil pisau dari saku yang berada di dadanya. Kemudian dia mengukir pelananya, “Nashetania. Aku bertemu salah satu Enam Bunga. Aku akan mengikutinya. Jangan khawatir tentangku, dan terus maju ke lokasi yang sudah ditunjuk.”
Setelah membuat kuda berlari ke luar desa, Adlet memandang ke arah Fremy pergi.
“Tunggu! Di mana kau Fremy?!” dia memanggilnya, tapi tidak ada respon. Jadi, Adlet mengikutinya dan berlari ke hutan
#
Siapapun yang berlari melalui hutan akan meninggalkan jejak. Jika ada orang yang mengikuti ranging yang patah dan menginjak-injak daun yang tertinggal maka tidak akan terlalu sulit untuk melacak orang tersebut. Dan Adlet terus mengejarnya, mendaki dan menuruni gunung.
Tetapi jejak kaki Fremy sering tiba-tiba menghilang. Sepertinya dia berlari sambil menghapus langkahnya. Itu teknik berjalan dari seseorang yang digunakan untuk melarikan diri.
“Ada apa dengan gadis ini,” gumam Adlet ketika mencari di daerah sekitar menggunakan teleskop. Dia melihat siluet samar-samar manusia yang bergerak dan berlari ke suatu arah.
Ada saat ketika dia berpikir kalau dia harus menyerah mengejarnya dan kembali. Ditambah dia khawatir dengan Nashetania, yang dia tinggalkan. Namun demian, Adlet terus mengikuti Fremy. Naluri prajuritya berdering dan itu terlihat seperti pikirannya berbisik padanya, ‘Kau harus mengikutinya’ untuk beberapa alasan dia percaya kalau dia benar-benar tidak sendirian.
Dia melihat kembali Fremy ketika dia berlari lebih jauh ke dalam hutan. Nampaknya entah bagaimana kecepatak kaki Adlet lebih cepat darinya. Dan jika itu benar maka akhirnya  dia akan menangkapnya.
Dan benar saja, setelah mengejarnya selama satu jam, Adlet akhirnya berputar di depan gadis itu.
“Sudah cukup.”
“... Aku tidak mempercayainya. Kau menjebakku.”
Keduanya bertukar pandang satu sama lain, keduanya mencobaa mengembalikan napas mereka. Kemudian Fremy mengeluarkan pistol dan mengarahkan moncongnya pada Adlet.
“Aku sudah bilang apa yang harus kau katakan pada mereka. Jangan mengikutiku lagi.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau mendekatiku lebih jauh maka akan kutembak.”
Sebuah kemarahan yang teramat sangat naik dari bagian bawah perut Adlet. Bahkan melebihi fakta kalau apa yang dia katakan benar-benar egois, dia marah kalau dia telah datang ke titik di mana dia akan menembak.
“Berhenti main-main bodoh. Apa yang kau pikirkan? Kau tidak  mungkin mengalahkan Raja Iblis sendirian.”
“Pengganggu. Menyingkir.”
“Tentu kau mengalahkan Kyouma sebelumnya, tapi Raja Iblis berbeda. Kita mungkin akan mati jika keenam dari kita tidak menggabungkan kekuatan dan berjuang bersama ... Apakah kau bodoh yang bahkan tidak mengerti hal itu?”
“Aku bisa melawannya sendiri. Aku bisa menang sendiri. Jika kau memerlukan bukti, aku akan menunjukkannya.”
Fremy menempatkan jarinya di pelatuk dan Adlet merespon dengan menjatuhkan kotak besi di punggungnya dan menggeser tangannya ke gagang pedangnya. Dia tidak bisa berhenti di sini.
Untuk beberapa saat keduanya hanya menatap satu sama lain. Tentu saja tidak terlihat seperti Fremy yang sebenarnya dimaksudkan untuk memulai sebuah pertarungan di sini. mereka hanya melakukan tes daya tahan untuk melihat siapa yang akan mundur pertama.
“Minimal, katakan padaku mengapa. Mengapa kau ingin berjuang seorang diri? Kau harus memberitahu kita semua.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
Fremy terdiam.
“Katakan sesuatu.”
Dia tidak menjawab.
“Aku akan memeberitahumu sekarang. Sampai kau menjawab aku akan mengikutimu. Setelah kau menjawab, aku masih akan mengikutimu sampai kau mengatakan ke mana kau akan pergi. Orang terkuat di dunia juga yang terburuk ketika dia datang untuk menyerah.”
“Kau pria yang aneh. Apa yang akan terjadi jika kau bukanlah yang terkuat di dunia?”
“Mengapa kau pergi sendirian? Mengapa kau tidak bertemu dengan Bunga yang lainnya? Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun jika kau tidak menjawab.”
Fremy mempertahankan tatapannya, tapi giginya dan jari yang berada di pelatuk senapannya bergetar. Akhirnya meskipun dia menurunkan tatapannya dan diam-diam berkata, “Tanpa ragu aku akan dibunuh jika aku bertemu dengan yang lainnya.”
Adlet terdiam. Namun, meskipun dia tidak percaya apa yang dia katakan, dia bisa melihat kalau dia cukup serius tentang hal itu.
“Bodoh. Bukankah kita semua sesama Pahlawan Enam Bunga? Mengapa kita akan membunuh teman kami yang penting?”
“Aku tidak ingin kau menyertakanku sebagai salah satu dari sahabat pentingmu atau apapun itu.”
“Kenapa?”
Tatapan Fremy tiba-tiba menjadi dingin. Ini benar-benar berbeda dari cahaya yang menylaukan yang telah dia berikan sampai beberapa saat yang lalu. Itu tatapan yang menjanjikan dia sudah siap untuk menembak.
“Jika aku memberitahumu alasannya maka kau njuga mencoba untuk membunuhku.”
Adlet berhenti sejenak untuk berpikir. Jika dia menekannya lebih jauh, mereka akan berakhir saling membunuh satu sama lain.
“Pilihlah. Apakah kau ingin saling membunuh satu sama lain setelah mendengar alasannya atau kau ingin saling membunuh satu sama lain tanpa mendengar alasannya?”
“....”
“Atau kau ingin aku menjadi tenang dan meninggalkan tempat ini?”
Adlet mengembalikan pedangnya ke sarungnya dan mengambil kotak besi dari tanah. Nampak lega, Fremy juga menurunkan senjatanya.
“Aku akan melawan Raja Iblis sendirian. Kau melakukan seperti yang kau inginkan. Tapi jika memungkinkan, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”
Fremy mengembalikan pistol ke jubah dan berbalik membalakangi Adlet.
Apakah itu tidak apa-apa membiarkannya pergi? Dia bertanya pada dirinya sendiri, sebelum memberikan jawabannya sendiri. Tidak, itu pasti tidak apa-apa. Dan dengan kesimpulan tidak berdasar, Adlet berpindah dan menghampiri Fremy.
Begitu dia berbalik, Adlet melempatkan bom asap. Kemudian di dalam asap itu, dia merebut tasnya darinya.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Kau mengatakan untuk melaukan seperti yang kuinginkan. Jadi izinkan aku melakukan hal itu.”
“... Kembalikan itu padaku.”
Fremy meraih pistolnya kembali, tapi Adlet memegang erat tas yang dia ambil darinya ke dadanya. Ini kemunginan peluru atau amunisi yang dimasukan ke dalam pistol itu. Di dalam tas tersebut, ada juga yang terlihat seperti peta dan beberapa makanan ringan.
“Apakah kau bermain-main atau kau hanyalah seseorang yang bodoh?”
“Aku tidak bodoh, atau aku bermain-main. Aku sudah memutuskan. Aku akan menemanimu.”
“... Hah?”
“Sekarang jika sudah memantapkan, ayo kita pergi dengan cepat.” Dia membuat gadis tercengang ketika dia melewatinya.
“Apanya yang memantapkan? Kembalikan barang-barangku!”
Ekspresi Fremy berubah dari kebingungan menjadi marah. Dia menempatkan jarinya di pelatuk.
“... Maaf, tapi jika kau menyerangku, itu akan berakhir dengan aku melarikan diri dengan membawa tasmu. Jika itu terjadi, itu akan menjadi masalah untukmu.”
“... Apakah kau ingin aku menembakmu?”
“Atau apakah kau mengambil kembali barang-barangmu dan melarikan diri? Kau harus mengetahui dari awal kalau kau tidak bisa lolos.”
“Apa yang kau pikirkan?”
Adlet berhenti sejenak untuk mengumpulkan pikirannya. Kemudian, dia berbicara perlahan dengan nada menegur.
“Aku tidak tahu situasi apa yang kau hadapi, kau nampaknya tumbuh dalam tempat yang ketat. Dalam kesendirian, kau akan menuju wilayah Ratapan Iblis, tempat di mana Raja Iblis dan Kyouma menunggu. Selanjutnya, kau nampak berpikir kalau kau akan dibunuh jika kau bertemu Enam Bunga yang lain. Dengan standar umum dalam masyarakat, itu terlihat seperti kau terjebak diantara batu dan tempat yang keras.”
“Jadi?”
“Aku bukan orang yang akan meninggalkan rekanku jika mereka berada di tempat yang sulit. Orang terkuat di dunia ada bermacam-macam. Jadi, karena itu aku telah memutuskan untuk membantumu.”
“... Apa kau bercanda? Jika iya, hentikan itu.”
“Berhenti mengeluh. Sekarang cepatlah dan bergerak,” kata Adlet, berjalan melewatinya dan mengamabikan fakta kalau dia siap untuk menembaknya.
“... Aku tidak mempercayainya. Apa? Orang macam ... Orang macam apa ini?”
Meskipun dia menggenggam rambutnya frestasi, pada akhirnya itu terlihat seperti dia memutuskan untuk mengikutinya. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka berdua berjalan melalui pusat hutan.
Meskipun rencananya hanya untuk bergerak dan membiarkan hal-hal kecil mengganggu perjalanan mereka, dia bertanya-tanya apakah situasi saat itu benar-benar baik-baik saja. Pada akhirnya dia meninggalkan Nashetania di belakang. Dan di samping itu dia tidak tahu kapan Fremy serius untuk mencoba membunuhnya.
Dia melirik ke arah Fremy di belakang. Ekspresinya menunjukkan nkebingungan dan sekarang bahkan menunjukkan rasa takut. Kurasa akan baik-baik saja.aku yakin kami akan bekerja sama.
“Hei, Fremy,” katanya menghadap Fremy saat dia berbicara. “Meskipun aku tidak mengetahui situasimu, karena tidak ada yang lebih dari Enam Pahlawan dan kau adalah salah satunya, saat ini aku berencana untuk melindungimu.”
“Jadi tenanglah dan berjalan. Kau menggangguku” dia meludah saat dia berpaling dari pandangannya.

Bagian 6
“... Aku ... LAPAR! Aku akan MEMAKAN DAGINGMU ... dan MEMINUM DARAHMU!”
Nashetania bertarung melawan seekor Kyouma raksasa yang menyerupai serigala. Meskipun tidak sempurna, fakta kalau itu bisa menghasilkan suara manusia merupakan bukti kalau Kyouma kuat. Darahnya menetes sedikit dari pipinya.
Kyouma mencoba mengangkat kaki depannya dan meremasnya, tapi dia menahan dan membalas dengan pedang yang tumbuh dari tanah dan menancap tubuhnya.
Tertusuk oleh pedangnya, Kyouma meronta-ronta kesakitan. Seperti itu, Nashetania menyeka darah di pipinya ke Rapiernya. Pedangnya kemudian memanjang dan ujungnya didorong masuk ke mulut Kyouma.
Refleks, Kyouma memuntahkan muntahan dan terus menggeliat kesakitan.
“DARAH SAINT, tidak bisa makan ... TIDAK BISA MAKAN darah Saint.
Kyouma memakan manusia. Namun, tubuh para Saint seperti Nashetania adaah racun yang mematikan bagi mereka.
“Dari awal kau pikir aku takut,” gumam Nashetania. Kemudian dia membuat beberapa pedang di udara dan terus mencabik-cabik Kyouma.
“Ku pikir aku mendapatkan cara mengalahkan Kyouma dalam pertarungan.”
Kyouma—berbentuk serigala, sekarang terpotong empat bagian, berhenti bergerak.
Ketika pertempuran selesai, Nashetania melihat sekelilingnya. Daerah tersebut telah kembali ke dalam keheningan dan dia tidak bisa melihat Kyouma atau Adlet di sekitarnya. Nashetania mengerutkan kening. Dia menemukan sadel yang jatuh, namun, dengan pesan terukir di kulitnya.
“Nashetania. Aku bertemu salah satu Enam Bunga. Aku akan mengikutinya. Jangan khawatir tentangku, dan terus maju ke lokasi yang sudah ditunjuk.”
“... Apa ini?”
Nashetania memiringkan kepalanya ke samping bingung.
“Ketika dia mengatakan ‘ikuti’, mungkin itu berarti gadis itu melaikan diri. Aku bertanya-tanya mengapa dia melarikan diri. Siapakah di dunia ini adalah Pahlawan yang lain?”
Sementara dia bergumam, dia melihat kembali ke pusat desa, mencari sesuatu yang mungkin Adlet tinggalkan. Tapi selama pencariannya, seorang pria berotot besar mengenakan baju besi hitam berlari ke arah desa di atas kuda hitam,
Dan ketika dia melihat wajahnya, Nashetania berteriak, “Goldof!”
Pria itu ... Goldof turun dari kudanya di samping Nashetania dan menurunkan satu lututnya. Dia kemudian membuka helm dan melihat ke wajahnya.
“Putri, aku terlambat menemuimu.”
Goldof Aurora, dikatakan sebagai orang terkuat diantara kesatria Piena, nampaknya sama sekali tidak terlihat lebih muda dari Nashetania. Armor hitam itu terlihat berat dan kokoh. Selain itu, helm tersebut dibuat dengan sepasang tanduk domba jantan yang terbuat dari logam. Di tangan kanannya, dia memegang tombak besar dengan pegangan terbuat dari rantai yang terikat kokoh di pergelangan tangannya. Secara keseluruhan, dia nampak mirip seperti seorang veteran yang gagah dengan pengalaman militer selama bertahun-tahun. Dan meskipun ekspresinya terlihat keras, dia masih bisa melihat beberapa jejak pemuda di wajahnya.
“Kau datang seperti yang diharapkan. Ku pikir kau telah terpilih,” Nashetania berbicara pada Goldof dengan suara yang lembut.
“Aku merasa terhormat.”
“Aku bersyukur dewi nasib memilihmu. Denganmu di sini tidak ada yang perlu ditakuti.” Nashetania berbicara dengan cara yang anggun, namun nadanya agak kaku. Dia tidak memiliki hubungan informal sama sekali dengan Goldof seperti dia dengan Adlet.
“Perkenankanku untuk melindungimu dengan tubuh ini, putriku. Tanpa adanya keragu-raguan, aku berniat untuk membunuh Raja Iblis dan melihatmu kembali ke kerahaan dengan aman.”
Kata-kata itu membuatnya mengangkat alis.
“... Goldof.”
“Ya.”
“Mulai sekarang, kau dan aku adalah sama. Kau tidak akan melindungiku secara sepihak; kita akan saling melindungi.”
“Tapi putri, kau adalah seorang wanita yang spesial. Tidak ada yang harus terjadi padamu, bahkan jika kesempatan terkecilpun.”
“... Benar. Aku tahu. Kau benar,” kata Nashetania, sedikit menggelengkan kepala. “Tapi yang lebih penting, ada masalah. Aku pergi bersama Enam Bunga yang lainnya sampai beberapa saat yang lalu dia pergi ke suatu tempat.” Nashetania menunjukkan pada Goldof pelana kuda.
Dia membaca pesan dan menjulurkan lehernya ke samping(mungkin maksudnya memiringkan kepala).
“Aku tidak mengerti apa artinya.”
“Aku juga tidak.”
“Siapa rekanmu yang menulis ini?”
“Adlet Mayer. Kau mungkin telah mendengar tantangnya, kan?”
Ketika dia mendengar nama itu, ekspresi Goldof berubah. Kemungkinan besar dia juga telah mendengar semuanya tentang turnamen itu.
“Jangan membuat wajah seperti itu. dia adalah orang yang dapat diandalkan.”
“Terlepas dari kenyataan kalau dia meninggalkanmu, putri, dan pergi ke suatu tempat?”
Goldof menatapnya tajam, seolah-olah dia waspada tentang mempercayai Adlet.
“Itulah sebabnya kita akan mencarinya. Aku ingin tahu kemana arah dia pergi.”
Goldof terlihat merenungkan sejenak sambil menatap pesan yang ada di pelana itu. Tapi, dia tidak berpikir tentang arah mana Adlet melakukan pengejaran. Sebaliknya, ekspresinya terlihat menunjukkan dia sedang memikirkan sesuatu yang lain.
“Adlet mungkin juga menuju wilayah Ratapan Iblis. Jika kita pergi ke arah itu, ku pikir kita akan bergabung dengannya.”
“Itu mungkin satu-satunya pilihan. Namun, aku khawatir apakah dia baik-baik saja.”
Tanpa menjawab, Goldof mengulurkan kudanya pada Nashetania. Dia menolak, melempattkan pelananya kembali ke atas kuda Adlet yang terlah digunakan untuk sampai ke sana dan naik ke atasnya.
Ketika mereka naik kuda dan mengikuti jalanan desa Nashetania mengatakan, “Goldof. Adlet adalah orang yang baik. Tentu dia tampan dan ku pikir pada awalnya kau akan dibuat bingung olehnya. Tetapi jika kau berbicara dengannya, ku pikir kalau setelah beberapa saat kau akan menjadikannya teman.”
“... Tentu.”
“Dunia ini luas dan aku senang aku bisa bergi keluar dan melakukan perjalanan itu. Tidak ada cara aku akan bertemu orang yang misterius seperti Adlet jika aku berada di istana.”
“... Aku mengerti.”
“Dan satu hal lagi. Menggoda orang sangatlah menyenangkan.” Nashetania tersenyum dan menjulurkan lidahnya.
Namun, Goldof terlihat memiliki tampilan yang kompleks di wajahnya. Dia mengalihkan pandangannya ke tanah sehingga dia tidak akan melihatnya.
“Dengan segala hormat, putri ...”
“Apa itu?”
“Putriku, tentang ... Adlet.” Goldof mulai mengatakan sesuatu, kemudian dia ragu-ragu dan tetap diam untuk waktu yang lama.
Dan dengan wajanya yang mencari ke tanah dia terdiam untuk waktu yang lama.
“Ada apa? Kau sedang mengelak dan aku merasa seperti kau telah berubah dalam waktu singkat setelah kita berpisah.”
“Mungkin begitu. Maaf, putri. Aku luap dengan apa yang seharusnya kukatakan.”
Nashetania memiringkan kepalanya ke samping. Lalu dia bertepuk tangan besama-sama dan berteriak, “Benar. Apa ada hubungannya dengan pembunuh Enam Bunga? Apakah kau menemukan sebuah petunjuk?”
Di atas kudanya, Goldof menggeleng.
“... Aku malu untuk mengatakan kalau perjalananku tidak menemukan petujuk untuk kematian mereka. Namun aku tahu nama mereka, penampilan mereka, dan kekuatan mereka.”
“Kau telah menemukan petunjuk. Apakah ini informasi yang benar (dapat dipercaya)?”
“Ya. Informasi itu berasal dari seseorang yang bertarung langsung dengan si pembunuh. Mereka terlihat tidak berbohong.”
“Orang macam apa yang membunuh Enam Bunga?”
Goldof berbcara dengan tebal, suaranya pun kuat. “Pembunuh Enam Bunga adalah Saint Bubuk Mesiu. Dia adalah seorang gadis berambut putih yang menggunakan senjata. Dan namanya adalah Fremy.”



Rokka no Yuusha Jilid 1 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.