25 Juni 2016

Only Sense Online Jilid 3 Bab 2 LN Bahasa Indonesia


PERPUSTAKAAN DAN LINGUISTIK
Area bengkel kerja Atelier. Di sudut ruangan di mana peralatan Mixing dan Craftmanship dipasang, sebuah item baru ditempatkan.
"Benda yang kuminta pada Lyly sebelumnya, akhirnya selesai. Ayo segera susun."
Yang kukeluarkan dari dalam inventory adalah sebuah rak buku kosong, terbuat dari kayu yang dipoles dan dipernis. Rak itu sama tingginya denganku, dan melihat papan kayu yang mengkilap tersebut memberiku rasa aman.
Aku meminta Lyly, yang adalah seorang pengrajin kayu, apakah dia dapat membuatnya, dan dia dengan mudah menerima permintaanku. Dia berkata bahwa dia bosan karena hanya membuat tongkat-tongkat, jadi dia dengan senang hati akan membuat yang lain.
Pada rak buku buatan pengrajin kayu itu, aku terus membariskan item yang telah terabaikan sampai saat ini.
"Berbagai ornamen harus ditaruh di tempat yang tinggi, tempat di mana penampilan mereka dapat dinikmati. Dan di bagian tengah rak, aku sebaiknya menaruh buku-buku … bagus, kelihatannya bagus."
Aku bergumam sendiri di bagian bengkel kerja dan terus menempatkan item untuk mengisi kekosongan rak.
Mulai dari bagian tengah ke bawah, aku terus menaruh buku-buku yang kudapatkan selama event musim panas. Di bagian atas rak, aku menaruh aksesoris yang juga kudapatkan selama event, untuk menghiasnya.
Aksesoris-aksesoris ini ditaruh seperti itu untuk membuat mereka terlihat lebih penting sebagai dekorasi. Kebanyakan dari ornamen tersebut adalah aksesoris yang dicurse dengan berbagai efek merugikan. Karena aku berniat untuk memanfaatkan mereka sebagai referensi desain Craftmanship, tidak ada masalah sekalipun mereka tidak dapat digunakan secara langsung.
Saat aku menempatkan semua item yang kurencanakan untuk menghias rak buku tersebut, hasilnya adalah sepertiga dari rak tersebut telah terisi.
"Yah, sudah selesai. Walau begitu, sepertinya ada sebuah masalah."
Bergumam, aku menarik salah satu dari buku-buku yang kutaruh di rak dan membuka sebuah halaman. Setelah itu, aku mencoba untuk membaca cepat keseluruhan buku itu, tapi ternyata, aku tidak dapat membaca satu kata pun, satu huruf pun. Itu sama untuk semua buku yang ada di rak.
"Haa, yah, karena Cloude mempunyai Linguistics. Aku mengambilnya juga untuk dapat membaca, tapi seperti yang diduga — aku tidak dapat melakukannya dengan level 1."
Sekali lagi bergumam, aku membuka menu untuk mengecek status Sense-ku


Possessed SP20
Bow Lv28】【Hawk Eyes Lv38 Speed Increase Lv22
Discovery Lv25 Magic Talent Lv42】【Magic Power Lv43
Enchant Arts Lv16 Dosing Lv22 Taming Lv6 Linguistics Lv1

Unequipped:
Alchemy Lv30 Synthesis Lv26 Earth Element Talent Lv13
Engraving Lv1 Swimming Lv13】【Crafting Knowledge Lv30
Cooking Lv21


Ini adalah Sense-ku saat ini. Berbicara tentang hal yang berubah, dengan menggunakan 1 SP, aku mendapatkan Linguistic dan mengubah Craftmanship menjadi Sense dengan level lebih tinggi, yaitu Engraving.
Untuk Sense Linguistic yang baru, tidak ada hal khusus untuk dibicarakan, selain dari kenyataan bahwa Sense ini dibutuhkan untuk dapat membaca huruf. Untuk Sense yang lebih tinggi yang membuatku menghabiskan 2 SP untuk mengubahnya menjadi Engraving, banyak hal yang berubah
Pertama, Engraving membuatku dapat menyediakan tambahan efek dalam jumlah terbatas ke dalam item yang kubuat.
Sebagai contoh, jika ada material penguat, item tersebut akan memberi sebuah efek yang berkaitan dengannya. Sebagai tambahan, Engraving pada dasarnya memiliki kemampuan untuk memasukkan sebuah efek tambahan yang memberikan item penggunanya tambahan status yang terlihat sebagai XX Bonus. Dengan begitu, karena Enchant Arts sudah menyediakan efek tambahan, masih ada banyak hal yang harus diketahui.
Hal lainnya adalah, Sense tersebut memungkinkan untuk menciptakan aksesoris dengan beragam material. Tentu saja, itu berarti material selain logam. Di sinilah di mana Engravingtertulis dengan huruf-huruf emas. Aku merasa seperti menyahuti diriku sendiri, tapi kemudian berhenti berpikir terlalu mendalam soal itu.
Bagaimanapun juga, tidak seperti sebelumnya di mana aku hanya dapat membuat aksesoris dari batangan logam, kini aku memiliki rentang kebebasan yang lebar saat membuat aksesoris.
Yah, ayo kesampingkan itu——
"Membaca buku, itu berarti sebuah perpustakaan, 'kan? Kalau aku tidak salah, seharusnya ada satu di bagian Utara kota."
Kadang-kadang, aku berjalan-jalan menyusuri kota bergaya Eropa itu yang terbentuk dari bata-bata dan bebatuan bulat untuk menikmati suasananya yang unik. Berkat itu, aku lebih kurang tahu lokasi berbagai fasilitas. Dari antara semuanya itu, tujuanku saat ini adalah perpustakaan. Tempat tersebut menghadap ke barat ke arah jalan utama di persimpangan. Aku seharusnya dapat ke sana tanpa tersesat.
"Tidak ada waktu selain sekarang, kurasa? Ayo segera ke sana."
Saat aku meninggalkan area bengkel kerja  Atelier, aku berpindah ke area toko; young beast Ryui dan Zakuro melihat dari tempat yang terang di mana mereka sedang tidur siang.
Aku berbicara pada penjual yang sedang berada di konter, Kyouko-san si NPC untuk mengatakan padanya aku akan pergi keluar.
"Kyouko-san, aku akan pergi ke perpustakaan sebentar."
"Baiklah. Tapi, kenapa begitu tiba-tiba?"
"Untuk meningkatkan level Linguistic? Aku tidak dapat membaca dengan baik buku-buku yang kumiliki sekarang."
"Aku mengerti. Hati-hati di jalan, Yun-san."
Merendahkan kepalanya sedikit, Kyouko-san menyunggingkan seulas senyum lembut dan menawan.
Pada saat yang sama, Ryui dan Zakuro yang mendengar percakapan kami berdiri dan bergerak mendekat padaku. Mereka melihatku dari bawah, apa kau akan keluar? Kalau begitu, ajak kami juga. Itulah yang kurasakan seakan-akan mereka yang berbicara.
"Aku tidak berpikir bahwa itu adalah tempat yang menarik, tapi … yah, ayo jalan-jalan sambil ke sana."
Kalau kuingat dengan benar, di sebelah perpustakaan adalah sebuah tempat beristirahat dengan sebuah taman hijau.
Sepertinya bagus bagi Ryui dan Zakuro untuk bermandikan cahaya matahari sedikit. Aku tersenyum dalam hati dan mengangkat Zakuro dengan kedua tanganku.
Sambil menopang kedua ekor dan bokongnya dengan satu tangan, aku meninggalkan Atelier bersama Ryui yang berjalan di sampingku.
Atelier bertempat di sisi selatan kota dan memiliki sebuah pintu keluar yang menuju ke jalan utama yang memanjang ke utara. Di atas jalan terdapat sebuah kain yang memanjang dan di pinggirannya ada para player yang membawa meja-meja dan menjalankan bisnis restoran. Semakin luas tempatnya, semakin banyak orang yang tertarik dengan stan-stan tersebut.
"Jumlah player yang menggunakan Sense Cookingbenar-benar meningkat."
Akhir-akhir ini, Sense tersebut berubah menjadi tren di mana hampir setengah dari stan player menjual bahan-bahan atau item makanan.
Beberapa waktu yang lalu, Sense Cooking hanya digunakan untuk membuat item yang secara sementara meningkatkan status. Sejujurnya, kegunaannya tidak terlalu bagus. Jika digunakan oleh orang yang tidak terampil, maka akan menjadi racun tidak lama kemudian, serta kurangnya jumlah material dari item drop monster untuk makanan peningkat-status, ada banyak masalah yang membuatnya sulit untuk digunakan. Akan tetapi, dengan diperkenalkannya sistem satiety dalam update game tepat sebelum event musim panas, sekarang dengan kesadaran semua orang terhadap level satiety yang para player butuhkan untuk bermain dalam waktu yang lama, secara alamiah Cooking telah menjadi perhatian.
"Yah, itu memang terlihat sebagai bisnis yang beresiko…"
Meskipun adalah tingkat permintaan yang tinggi, tidak semua hidangan yang disiapkan oleh player adalah level tinggi. Nyatanya, ada beberapa stan yang mempunyai gabungan hal yang baik dan buruk. Ada beragam masakan yang melampaui kebutuhan dasar untuk memuaskan satiety. Dan di situlah, terdapat ruang untuk pengembangan saat berkaitan dengan SenseCooking.
"Ayo makan sedikit di suatu tempat lalu menuju ke perpustakaan."
Mendengar perkataanku, Ryui berbalik mengarah padaku dan mulai mendorong punggungku pada sudut tertentu untuk memastikan dia tidak mengenaiku dengan tanduknya, seakan berkata 'ayo cepat dan cari sesuatu yang enak'.
Sebagai tambahan, melihat Zakuro yang sedang berdiam di kedua lenganku melihat dengan mata penuh harap dan dengan riang menggoyang-goyangkan kedua ekornya, aku tersenyum simpul.
"Ya ampun, saat berhubungan dengan makanan, mata kalian jadi berubah."
Gumamku seakan aku terheran-heran, tahu bahwa akulah yang membuat mereka mengingat rasa makanan, aku terus menyunggingkan senyum getir.
"Kalian bisa memilih apa yang kalian mau berdasarkan aromanya."
Saat aku berkata begitu, pandangan Ryui dan Zakuro mulai sibuk berkeliling mencari-cari. Kemudian, mereka mengarah ke salah satu stan.
Tepat pada saat itu, di salah satu stan, sate babi baru saja selesai diolah jadi aku pergi ke sana. Menyadari keberadaanku, orang yang berada di stan tersebut mengangkat tangannya ke arahku.
Terkejut dengan tindakannya, Zakuro tiba-tiba menyelinap pergi dari lenganku dan bersembunyi di belakang tudungku.
Akan tetapi … yah, dia menyembunyikan diri hanya sebagian saja karena kedua ekornya yang halus terlihat menyembul keluar, bergoyang-goyang. Baik aku maupun si penjual tersenyum simpul karenanya.
"Permisi, tolong berikan aku sepuluh tusuk sate babi."
"Yap. Sate Big Boar, segar baru dibuat juga."
"Ah, apakah kau punya piring atau semacamnya untuk menyajikan di luar?"
"Piring untuk menyajikan, ya, aku mengerti. Baiklah. Juga, dua tusuk lagi sebagai bonus karena menunjukkan sesuatu yang bagus padaku."
Orang baik di stan itu menerima pembayaran untuk satenya, menyengir, dan mengirimkan sebuah tatapan mantap ke arah ekor Zakuro. Mungkin karena menyadari tatapan tersebut, tubuh Zakuro menegang di dalam tudungku dan bulu-bulunya mengerut. Dia masih tidak terbiasa berhubungan dengan manusia, pikirku.
Aku berbicara sebentar dengan pria itu. Saat aku menerima sate dan piringnya, hal pertama yang kulakukan adalah melepaskan daging dari tusuknya selain yang untukku, kemudian membaginya ke piring.
Aku menyadari bahwa akan sulit bagi Ryui dan Zakuro untuk memakannya kalau aku memberikan pada mereka dalam bentuk sate, dan dengan demikian membuat cara yang mudah untuk mereka makan. Ryui dan Zakuro yang menyelinap keluar dari tudung mulai berlomba atas daging yang ada di atas piring itu. Meskipun Zakuro merasa terganggu dengan tatapan orang-orang untuk sesaat, dia kalah terhadap selera makannya dan mulai memakan daging tersebut dari piring.
"Seperti yang diduga dari Nanny. Aku tidak menyadarinya tadi, tapi kau benar-benar memperhatikan detail-detail kecil ini. Kali ini, biarkan aku memberikanmu sate-sate babi yang ada di piring itu sebagai bonus pelayanan."
"Jadi kau tahu nama julukanku … um, secara pribadi, aku sama sekali tidak suka nama Nanny itu."
Saat aku menaikkan alisku membuat ekspresi terganggu, dia menaikkan tangannya berkata "Maaf" dan menyerahkan padaku sate lainnya sebagai bonus. Aku dengan patuh menerimanya.
Aku mencoba menggigit daging babi itu, dan dapat merasakan bumbu dasar kecapnya. Rasanya sedikit manis, rasa bumbu yang sepertinya akan populer dengan jutaan orang. Karena ini sedikit berminyak, aku puas hanya dengan memakan satu tusuknya. Berapa banyak makanan ini yang kau pikir bisa kumakan. Di satu sisi, young beastku yang lapar menghabiskan sepuluh tusuk sate + bonus, tapi…
"Terima kasih untuk makanannya. Bisakah kau membungkuskan beberapa tusuk lagi untukku sebagai oleh-oleh? Kalau ada kesempatan lagi, aku akan datang kembali."
"Tapi Nanny sendiri punya Sense Cooking 'kan? Seharusnya tidak perlu untuk makan di stall, ya 'kan. Juga, aku telah melihat sesuatu yang bagus juga. Hewan-hewan kecil memang imut."
Saat pria yang lebih tua dariku itu melirik Zakuro dengan ekspresi yang begitu emosional, aku tersenyum simpul kesekian kalinya hari ini.
Aku mengucapkan salam perpisahan ringan dan menjauh dari stan, menuju ke perpustakaan.
Meninggalkan jalan utama yang lebih padat dibanding biasanya itu sangatlah sulit. Pada saat itu, sesuatu yang jauh lebih besar dari manusia mendekatiku. Sesuatu yang terlihat seperti batu kelabu yang perlahan-lahan berjalan melewati orang-orang.
"…a-apa itu?"
"Mutsu? Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?"

Tubuh kelabu itu bergerak mendorong orang-orang ke samping dan muncul di hadapanku. Terkejut dengan ukurannya, aku, Zakuro dan Ryui berhenti berjalan.
Kemudian, sebuah belalai mengendus-endus bungkusan sate yang baru saja kubeli. Aku perlahan mengikuti belalai di depanku itu dan melihat ke sumber suara tersebut. Seorang gadis dengan telinga elf yang tak asing bagiku, mencondongkan kepalanya keluar ke bawah ke arahku.
"Oh? Yun-san, halo."
"Letia? Dan … seekor monster jinak baru?"
Wajahku berkedut sedikit saat aku melihat sesuatu yang berkulit kelabu itu —— gadingnya sedang tumbuh, anggota tubuhnya lebih tebal dari tubuhku, sosoknya yang dapat bergerak dengan bebas, hidungnya yang panjang dan merupakan ciri tersendiri —— seekor gajah.
Letia melompat turun memanfaatkan kaki dari sosok yang dapat disebut sebagai gajah yang besar sebagai tangganya. Membandingkan Letia dan gajah yang dia turuni, membuat leherku terasa nyeri karena ukurannya.
"Ya. Ini adalah monster jinak yang baru, Mutsuki. Panggilannya Mutsu."
"Walau begitu, apakah ada monster seperti ini di luar sana? Kau benar-benar bekerja dengan baik untuk menjinakkan seekor monster kelas bos."
"Anak ini—adalah salah satu dari anak-anak dari event sebelumnya."
"…ha?"
Aku memiringkan kepalaku sedikit dan suara yang kukeluarkan lemah, tapi Letia sepertinya serius. Dia menatap ke arahku yang tidak dapat mengerti dan melanjutkan.
"Ini adalah seekor young beast yang menjadi rekanku saat event sebelumya. Seekor young beast Ganesha."
"Itu berarti … dia akan bertumbuh lebih besar lagi?"
Gajah raksasa di depanku masih anak-anak. Sekalipun aku merasa takut dengan kenyataan tersebut, Letia menurunkan alisnya, sepertinya kebingungan.
"Itu benar. Karena terlalu besar, juga sangat boros. Sebagai contoh, memanggil dan mengatur pengeluaran, makanan, bergerak di sekitar kota, dan makanan."
"Tidak, tunggu. Kenapa kau bilang 'makanan' dua kali?"
Saat aku menyahuti, "Apakah ada masalah?" Letia menelengkan kepalanya. Tidak, tidak juga … hei, sementara kita berbicara, hidung Mutsuki si Ganesha telah tertarik dengan bungkusan sate ini. Tidak mungkin, apakah makanan ini diincar?
"Ngomong-ngomong, berapa banyak yang dia perlukan untuk makan?"
"Siapa yang tahu? Kapanpun kami pergi melewati kota, dia berbelok ke stan. Ada player yang memberinya makan karena dia langka, tapi itu tidak selalu begitu. Baru saja dia memakan segala yang ada di stan di situ, jadi uangku menipis…"
Dia meletakkan tangannya di pipi dan berkata "Apa yang harus kita lakukan sekarang?". Tiba-tiba, sebuah suasana muncul seakan aku akan diminta sesuatu, lalu apa yang haruskulakukan? Aku berakhir dengan keinginan untuk menimpali.
"Yah, Mutsu dapat melakukan banyak hal kecil, jadi berikan kami beberapa makanan."
"Sekalipun kau bilang makanan … apa yang kupunya sekarang hanyalah sate-sate ini dan apa yang ada di dalam inventory…"
Seperti Ryui dan Zakuro, Mutsuki kelihatannya mengerti perkataanku dan menghadap ke arahku dengan mata berbinar-binar dan sangat penuh harap. Meskipun terlihat seperti gajah yang besar, dia seperti domba yang polos dan membuatku sulit untuk menolak.
"Ya ampun, mau bagaimana lagi. Ini, makanlah sedikit."
Saat aku dengan lembut membuka bungkusan sate, aroma dari saus manisnya menyebar. Belalai gajah itu bereaksi dan dengan terampilnya mengambil sate tersebut. Meskipun dagingnya masih berada di tusuknya, kurasa itu tidak masalah. Saat aku berpikir demikian, gajah tersebut menggunakan belalai dan mulutnya untuk memakan dagingnya dengan mudahnya. Meskipun jumlah daging ini tidaklah cukup untuk tubuh besarnya, tapi saat dia membuka matanya lebar-lebar dan membuka mulutnya untuk menikmatinya, aku merasa cukup senang karenanya.
"Hmmhmm. Sausnya sangat enak. Di stan mana kau membelinya?"
"Hei! Ahh, Letia memakannya juga! Lalu, Ryui dan Zakuro memakannya lagi?!"

Saat perhatianku teralihkan, Letia dengan gesit telah mengambil satu tusuk sate dan menilai rasanya bersama dengan Mutsuki. Sekalipun aku menyahut protes, young beast-ku sendiri mulai memohon padaku meminta beberapa sate lagi, jadi dengan terpaksa aku meletakkan sebuah piring dan melepaskan daging dari tusuk satenya.
"Apa ini? Kenapa kalian melihatku dengan mata seperti itu?"
Letia dan partnernya, Mutsuki selesai makan duluan dan sekarang sedang menatap ke arah sini dengan mata yang penuh rasa iri. Jadi itu tidak cukup, pikirku dan menghela nafas sedikit.
"Ya ampun. Kalau makanan yang lain tidak masalah?"
"Tentu, selama rasanya enak."
"Bukan, seharusnya itu 'selama itu adalah makanan', 'kan?"
Kenapa dia dengan liciknya meminta sesuatu yang enak. Tapi sekalipun aku berpikir demikian, dari dalam inventory, aku mengeluarkan sekeranjang roti lapis yang merupakan salah satu produk Atelier.
"Terima kasih banyak. Ayo makan!"
Letia dan Mutsuki dengan cepat mengambil roti lapis yang dikeluarkan satu demi satu dan melemparkannya ke dalam mulutnya. Setelah terus-terusan menyahut ketus, aku merasa cukup lelah, dan saat aku melihat raut wajah senang mereka, ekspresiku mengendur. Kemudian aku menyadari bahwa aku tidak punya kesempatan untuk menyentuh seekor gajah di dunia nyata sebelumnya, dan sebagai gantinya, aku mulai merasa tertarik.
"……‼"
Dengan diam-diam aku menjulurkan tangan saat dia sedang makan, tapi Mutsuki adalah pemakan yang cepat, sebelum aku dapat menyentuh hidungnya dia sudah menyambar sepotong roti lapis dari dalam keranjang dan aku menarik kembali tanganku. Kemudian aku mencoba menjulurkan tangan lagi padanya tapi aku tidak mendapatkan waktu yang tepat untuk mendapatkannya. Letia tertawa, merasa itu hal yang lucu.
"Tidak ada masalah kalau kau ingin menyentuhnya. Semua orang memberinya makan dan menyentuhnya karena dia langka."
"Tidak, um … tidak apa-apa?"
Aku ketahuan, sekalipun aku ingin menyangkalnya, aku telah dibuat terdiam oleh Letia. Karena dia menggelengkan kepalanya, berkata bahwa itu tidak masalah, aku meyakinkan diri dan mencoba menepuk-nepuk belalainya.
Mutsu yang sedang makan memberiku lirikan 'ada apa?' dan kembali asyik dengan makannya. Meskipun Mutsuki terasa nyaman disentuh, kulitnya lebih kasar dan keriput seperti kulit orang tua, bukannya lembut atau halus seperti bulu Ryui dan Zakuro. Akan tetapi, menyentuhnya ternyata secara mengejutkan membuat perasaan tenang.
Ryui dan Zakuro yang sudah selesai makan daging tersebut telah mengelilingiku, dan aku secara bergantian mengelus-elus mereka bertiga.
Dengan setiap mereka secara berbeda merasa senang disentuh, hatiku sepenuhnya terasa tenang.
Aku lupa bahwa kami berada di jalan yang ramai dan terhanyut dalam hal tersebut.
"Yun-san, ekspresimu jadi santai sepenuhnya."
"Eh, tidak mungkin?!"
Cepat-cepat aku menyentuhkan tangan ke wajahku. Apakah ekspresiku tadi benar-benar selemah itu? Aku penasaran. Saat aku berhenti mengelus-elus young beast tersebut dan meninggalkan duniaku sendiri tempatku melarikan diri, suara beberapa player yang sedang mengerubungi dan memperhatikan kami mencapai telingaku dan mengatakan kata tertentu yang mengangguku.
Nanny, Nanny, Nanny-nya Young Beast, Nanny…
"Apa kau merasa senang? Nona Pengasuh?"
"Letia!"
Sejujurnya, nama panggilan ini memalukan.
"…haaa, sudahlah. Aku sudah tertahan terlalu lama dan jumlah waktuku berkurang. Aku akan pergi."
"Aku mengerti. Maaf telah menahanmu."
"Juga, ini."
"……?"
"Selain Mutsuki, ada Haru dan Natsu, 'kan? Ini bagian mereka."
Aku menyerahkan keranjang lain pada Letia. Keranjang yang dia terima dengan kedua tangannya telah diisi dengan roti lapis yang cukup banyak. Dia paham dengan niatku dan menundukkan kepalanya dengan ringan.
"Terima kasih untuk perhatianmu. Nah sekarang, aku permisi dulu."
Letia meminta Mutsuki menaikkan kakinya, dan dengan menggunakannya sebagai tangga, dia memanjat ke atas dengan lincahnya.
Mutsuki dan Letia pergi mengarah ke gerbang timur dengan niat memanfaatkan tubuh besar itu untuk mengirim seekor Big Boar terbang dan mendapatkan uang untuk membeli makanan. Aku dapat dengan mudah membayangkan sosok Big Boar berguling-guling seperti sebuah bola setelah diserang tubuh besar Mutsuki.
"Itu juga, karena demi makanan."
Meninggalkan kata-kata yang tidak jelas apakah itu lelucon atau bukan, satu orang dan satu hewan berjalan menjauh.
Karena aku sedang menuju ke tempat yang berbeda, aku hanya melihat ke belakang dari punggungku … tapi saat gajah besar itu terus maju, baik itu player maupun NPC, semuanya terbagi ke salah satu sisi jalan. Pemandangan para player yang terlambat melarikan diri dari jalannya dan dengan ringan dipentalkan ke samping terasa sangat tidak nyata.
Akan tetapi, ini adalah hal yang mungkin karena player di sekitar merepotkan gadis itu makanya dia memilih untuk bergerak di dalam kota di atas Mutsuki, pikirku.
Bukankah begitu, Letia-san?, tanyaku dalam hati, dan tentu saja tidak ada jawaban yang datang.
Yah, kesampingkan saja masalah tentang dia. Aku pergi menuju ke tempat tujuanku sendiri—perpustakaan.  
Perpustakaan yang berada di bagian utara Kota Pertama adalah sebuah bangunan berlantai dua terbuat dari bata merah yang mengagumkan. Secara insting, aku menyimpan penampilannya sebagai screenshot.
Saat aku masuk lewat pintu masuknya yang terbuka lebar, aku disambut udara sejuk dan ketenangan khas perpustakaan. Dan, saat aku mulai berjalan ke buku-buku yang menarik perhatianku——
"Maaf, tapi membawa makanan dan minuman serta makhluk hidup itu dilarang. Juga, ada biaya 10k untuk pendaftaran dan iuran 10k setiap bulannya untuk penggunaan perpustakaan."
"Aku mengerti. Di samping perpustakaan ada sebuah lapangan terbuka, apakah hewan boleh berada di situ? Juga, ini biaya pendaftaran dan bulanannya."
"Ya, jika di lapangan maka tidak masalah. Anda bisa pergi langsung ke situ dari perpustakaan, dan diperbolehkan juga untuk membawa makanan dan minuman di situ. Tetapi, tolong jangan membawa buku keluar. Nah sekarang, silakan ambil kartu izin perpustakaan ini. Kami tutup pada pukul lima sore. Kalau anda ingin meminjam buku, anda akan dikenakan biaya lagi selain biaya pendaftaran dan iuran bulanan, besarnya 10kG juga."
"Untuk saat ini, aku hanya akan membaca di sini."
"Kalau begitu, silakan buat dirimu nyaman."
Tidak mungkin, aku tidak mengira bahwa aku akan segera dihentikan oleh seorang penjaga perpustakaan. Tidak seperti perpustakaan di Jepang era modern yang dikunjungi puluhan ribu orang, izin masuk di perpustakaan ini dibatasi. Setelah itu, aku mengantar Ryui dan Zakuro ke lapangan terbuka di sebelah perpustakaan, meminta mereka menunggu di situ dan kembali masuk ke dalam perpustakaan.
Ada banyak buku-buku tebal. Bahkan setelah membaca teks di bagian sampul belakangnya, aku tidak tahu apa yang harus diambil.
Pertama-tama, aku mencoba mengambil beberapa buku berukuran besar, kemudian yang tipis untuk melihat tapi aku tidak dapat membacanya dan level Linguistic-ku tidak meningkat.
"…Aku datang ke perpustakaan dan masih belum bisa membaca buku apapun, ya."
Aku tiba-tiba mulai merasa frustrasi, tapi ada orang-orang yang akan mengajariku jika aku memintanya dengan sopan. Aku kembali ke penjaga perpustakaan yang menyambutku beberapa saat lalu dan mencoba bertanya.
"Permisi, apa yang harus kulakukan agar dapat membaca huruf-huruf ini?"
"Untuk dapat membaca anda harus memiliki Linguistic. Setelah itu, kalau anda ingin mulai belajar, saya merekomendasikan untuk mulai membaca buku bergambar yang ada di pojok sebelah kanan."
"Terima kasih banyak. Aku akan segera pergi ke sana."
Pojokan dengan buku bergambar yang direkomendasikan padaku, memiliki buku-buku yang sangat tipis dengan ilustrasi pastel yang menarik perhatian.
Huruf-huruf yang kubaca untuk pertama kali kira-kira sama dengan huruf hiragana Jepang. Mungkin aku tidak akan dapat membaca buku-buku yang kupunya di Atelier sampai aku menaikkan levelku cukup tinggi.
"Ha~. Yah, ayo mulai dengan buku bergambar ini."
Tak disangka bahwa aku akan membaca sebuah buku bergambar di umur segini, itulah yang kurasakan tapi mau bagaimana lagi.
Buku yang berada di tanganku kelihatannya adalah sebuah cerita tentang seorang mage api. Lahir di lingkungan yang sangat biasa, pria itu menjadi seorang murid mage dan setelah beberapa kejadian, dia menundukkan seekor naga seorang diri. Itu adalah sebuah cerita tentang petualangan. Semuanya tertulis dalam huruf hiragana, aku dengan mudah membaca teks yang pendek.
"Yah, ini sangat normal, atau malah cukup standar."
Ini adalah sebuah buku bergambar bertema fantasi yang dapat kau temukan di manapun. Namun, pada akhir buku itu terdapat judul sebenarnya dari buku tersebut, tapi sesuatu yang seperti mosaik menutupinya dan aku tidak dapat membacanya sekalipun aku menegangkan mataku. Aku menilai sekali lagi, level Linguistic -ku masih belum cukup tinggi, bagian yang dapat kubaca hanyalah nama orang yang menjadi mage.
Apa yang ada di tanganku berikutnya adalah cerita seorang swordsman. Aku dengan mudah membaca yang ini juga dan kemudian aku mengambil buku yang lain di tanganku.
Semuanya adalah cerita yang biasa. Setelah beberapa saat, aku menyadari bahwa cerita-cerita tersebut menceritakan tentang orang-orang yang mengambil Sense tertentu.
Cerita seorang mage api bercerita tentang dirinya yang memiliki Fire Element Talentdan Magic Talent.
Seorang swordsman, di samping memiliki Sense Sword juga memiliki Sense Armour dan Physical Increase. Aku telah melihat pengaturan semacam itu sebelumnya. Kurasa itu adalah style khas yang biasa player ambil 'kan?
Kemudian, aku mencari sebuah buku bergambar tertentu.
"…ketemu."
Buku yang kucari adalah tentang seorang archer. Isinya bukanlah cerita seorang mage atau seorang swordsman yang membunuh seekor naga ataupun ratusan musuh, tapi tentang seorang pemburu yang menyusuri hutan untuk mencari sebuah tanaman obat yang akhirnya menghadapi seekor beruang seorang diri. Pada akhirnya, dia mengambil tanaman obat tersebut dan pulang ke rumah untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit dan menjadi akhir yang bahagia. Tetapi, karena itu adalah busur, tadinya aku berharap seseorang seperti Robin Hood atau Nasu no Yoichi. Itu sedikit mengecewakan.
Karena itulah, setelah itu aku mulai mencari buku-buku bergambar tentang Sense yang kumiliki. Sekalipun aku berkata begitu, adalah hal yang sulit untuk mengetahui dengan sekali lihat yang mana yang merupakan salah satunya. Aku tidak dapat menentukan yang mana untuk Sense tipe pemerkuat seperti Speed Increase atau Sense tambahan seperti Crafting Knowloedge, jadi aku menyerah untuk menemukannya.
Setelah membaca sejumlah buku, aku bergumam sambil menghela nafas.
"Kuharap aku mempunyai sebuah buku catatan dan pena."
Apa yang kupikir untuk lakukan, adalah mencatat judul-judul yang tertulis pada setiap akhir buku. Aku masih tidak dapat membacanya dengan sepenuhnya, tapi aku dapat mencari buku-buku ini berdasarkan nama-nama karakter dan bagian yang dapat kubaca. Kalau aku membaca referensi sebenarnya dari buku-buku bergambar ini, aku akan dapat memahami Sense ini dengan lebih dalam, pikirku. Pikiran tersebut membuatku ingin mendapatkan sebuah buku catatan secepatnya. Kutinggalkan buku bergambar dan menjauh dari pojokkan tersebut.
"…Ugh, tidak ada ternyata."
Setelah membaca buku-buku dan mendapatkan beberapa experience, level Linguistic-ku masihlah rendah, di level 3. Kupikir peralatan menulis mungkin akan diberikan padaku kalau aku naik level. Aku tidak dapat menemukannya dan memutuskan untuk kembali ke buku-buku bergambar.
"Ada sesuatu yang terjadi? Anda telah berjalan bolak-balik sejak tadi…"
"Ah, nona penjaga perpustakaan. Tidak, aku menginginkan sebuah buku catatan dan alat menulis, dan mulai bertanya-tanya apakah perpustakaan menjual apapun yang semacam itu…"
"Ohh, saya mengerti."
Sebelum aku memutuskan untuk memanggilnya sendiri, NPC di hadapanku berbicara padaku. Benar-benar, terkadang ini begitu nyata sampai aku mulai penasaran apakah aku sebaiknya berbicara dengan para NPC, dan reaksi manusiawi mereka begitu menarik, begitulah.
"Kalau yang seperti itu, maka kami memilikinya di bagian resepsionis. Saya akan mengambil apa yang dibutuhkan."
"Eh, begitukah?"
"Ya. Jika anda puas dengan pulpen dan sebuah buku catatan, kami dapat menjualnya pada anda. Perpustakaan bekerja sama dengan toko kertas dan peralatan menulis untuk menjualnya."
Aku diberitahu begitu, dan di tempat resepsionis, aku diberikan kertas poster. Sekalipun jari-jariku menyentuhnya, aku masih tidak dapat membaca sebagian besar hurufnya. Hanya sedikit saja, aku dapat membaca harganya. Pulpen harganya 50kG dan catatan harganya 10kG. Kurasa itu sangat mahal. Aku penasaran apakah itu sesuatu yang berharga di dalam settingan masa abad pertengahan ini.
Sekalipun aku ingin menabung uang untuk pendirian guild pengrajin, aku juga berpikir bahwa aku seharusnya melakukan investasi awal dalam kehidupan perpustakaanku yang nyaman.
"Mmmhh… A-Aku akan membelinya."
"Kalau begitu, silakan ambil ini."
"Ini, uangnya."
Tidak mungkin, aku tadinya tidak berpikir bahwa aku akan menghabiskan uang untuk hal lain selain biaya pendaftaran perpustakaan. Aku merasa pusing membayar biaya yang sepadan dengan harga armor yang bagus. Sekalipun akhir-akhir ini penjualan Atelier telah meningkat, aku masih belum memiliki cukup uang untuk digunakan dengan bebas.
"Sekarang, silakan kembali menikmati."
Saat si NPC penjaga perpustakaan memberiku sebuah anggukan santai, aku juga membalasnya dengan sebuah anggukkan ringan dan kembali ke pojokkan dengan buku-buku bergambar.
Item yang tidak terlalu penting itu, pulpen yang kubeli pada saat itu nantinya akan menjadi salah satu dari peralatan favoritku di OSO semakin lama aku bermain.
Sense berkaitan yang disebutkan di sudut buku bergambar dan judul dari sumber buku itu, aku mencatat judul aslinya pada buku catatan, kemudian mulai mengambil buku-buku bergambar yang baru.
Aku hanya menuliskan kata-kata sederhana untuk menemukan lebih banyak lagi tentang Sense tersebut, tapi itu lebih menyenangkan daripada yang kupikirkan sebelumnya. Aku mulai mempelajari Sense selain daripada yang kumiliki.
Karena aku terus berkonsentrasi untuk waktu yang lama, aku menyadari bahwa aku dapat membaca huruf-huruf lain sampai ke tingkat tertentu hanya setelah aku mengangkat kepalaku dengan tidak sengaja.
"Ah, aku dapat membaca huruf-huruf yang tidak dapat kubaca sebelumnya. Eh, walau begitu itu masih hanya pada level kanji sederhana, ya."
Saat aku mengecek statusku, aku melihat bahwa Linguistic telah meningkat menjadi level 6.
Sekalipun ada banyak buku bergambar yang tersisa, kalau terus membaca buku-buku yang sederhana, levelku tidak akan meningkat. Aku hampir selesai dengan yang satu ini, ayo menemukan buku yang baru.
"Tapi, di mana dan buku seperti apa yang sebaiknya kucari?"
Aku masih tidak dapat membaca bagian dari huruf-huruf poster.
"Mau bagaimana lagi, ayo gunakan referensinya."
Berbicara tentang referensi, secara kasar, itu adalah sejenis pelayanan di mana si penjaga perpustakaan membantu pengunjung perpustakaan untuk menemukan bahan yang dibutuhkan. Meskipun sulit untuk menemukan sebuah buku seorang diri, selama aku dapat memberitahukan apa isi buku yang sedang kucari, katanya aku dapat menemukannya. Sementara aku bersemangat melakukannya, ayo mencoba mempelajari sesuatu tentang Sense crafting.
"Maaf mengganggumu berkali-kali, apakah ada buku-buku resep untuk MixingAlchemy dan Synthesis yang bisa kugunakan untuk menaikkan level Linguistic-ku?"
"Ada. Lima di antaranya cocok dengan deskripsinya. Mana yang ingin anda baca?"
"Aku akan membaca kelima buku itu."
"Saya akan mengantar anda ke lokasi buku tersebut, silakan ikuti saya."
Aku berjalan di belakang si penjaga perpustakaan yang bersikap tenang. Kami meninggalkan lantai pertama dengan rak-rak buku dan tiba di pojok tertentu.
"Inilah tempat di mana anda dapat menemukan beberapa buku mengenai crafting. Dan buku yang anda spesifikasikan adalah yang ini, ini, dan…"
Dia mengeluarkan buku-buku tersebut dari rak dan menaruhnya di atas tanganku. Buku-buku itu sangat tebal, tapi setengah dari setiap buku tersebut diisi dengan ilustrasi.
"Kami akan segera tutup, apakah anda bisa membaca semuanya sebelum itu?"
"Ah, bagaimana ya? Aku akan membaca sebanyak yang kubisa sebelumnya, dan meminjam sisanya?"
"Kalau begitu, maka anda harus membayar 30kG sebagai biaya keamanan untuk meminjamnya. Batas waktunya adalah dua minggu. Jika anda melampauinya, benda tersebut akan dikirim kembali ke perpustakaan secara otomatis."
Apa-apaan dengan super-over-tekhnologi itu? Kalau begitu kau tidak memerlukan biaya keamanan, 'kan? pikirku, tapi si penjaga perpustakaan berkata "itulah aturannya" dengan seulas senyuman di wajahnya … aku akan memintanya untuk meminjamkan buku-buku itu saat pulang.
Aku memegang kelima buku itu dan duduk di meja terdekat. Aku membuka buku catatan dan terus menuliskan informasi yang penting.
Dan, tepat saat sebelum waktu tutup.
Yang dapat selesai kubaca, ada dua buku. Meskipun itu menghabiskan waktuku sampai saat tutup perpustakaan, isi dari kedua buku tersebut menuliskan tentang metode dasar penggunaan Mixing dan Alchemy. Itu hampir pas sepenuhnya dengan kuujikan sebelumnya. Tapi sekarang ada penemuan baru juga.
Jika seekor monster material dasar dengan efek negatif digunakan, efek negatif itu dapat dihilangkan dengan menggunakan material yang berhubungan, tetapi efek peningkat statusnya akan menurun.
Contoh dari resep tersebut adalah status buruk dari daging Rock Crab yang berefek negatif.
Medicine Stone yang dibuat dengan menggunakan Alchemy dari gallstone yang dijatuhkan Herbivore.
Dan efek negatif yang melawan antidote grasspill yang dibuat dari ketiga komponen itu berubah menjadi item tipe peningkat status.
Ini sepertinya adalah sesuatu yang harus coba kubuat. Entah apakah dapat dicocokkan dengan buff Enchant atau tidak. Juga, karena efeknya menurun setelah dinetralkan dengan material yang berkaitan, aku harus menemukan sebuah cara untuk meningkatkan efeknya sejumlah itu.
"Cara yang mana yang lebih cepat?"
Apakah dengan menaikkan level Linguistic-ku dan mendapatkan informasi di buku itu lebih cepat, atau mungkin melakukan percobaan untuk membuat pil peningkat —— Boost Tabletdan membuat sebuah resep seperti itu.
Untuk sesaat, kerutan-kerutan muncul di antara alisku, kemudian aku mendadak tertawa.
"Aku tidak harus memilih hanya salah satu dari pilihan-pilihan tersebut. Aku hanya perlu memeriksa buku dan mencoba menyiapkannya."
Pada saat aku meninggalkan perpustakaan, kota yang dibangun dari bebatuan telah berwarna merah karena matahari terbenam. Aku pergi untuk menjemput Ryui dan Zakuro yang sedang menunggu di lapangan di sebelah perpustakaan.
"Ryui, Zakuro … maaf, aku membuat kalian menunggu."
Saat aku menjemput mereka, kedua hewan yang sedang tidur di lapangan itu mengangkat kepalanya. Ryui, si kuda putih bermandikan warna senja yang lebih pekat, rambut hitam Zakuro memancarkan berkilaun dengan unik terhadap cahaya matahari terbenam itu.
"Nah, ayo pulang hari ini. Kalau ada yang dibutuhkan, ayo kembali ke tempat ini kapan-kapan."
Saat aku memeluk Zakuro dan akan bersebelahan dengan Ryui, aku menoleh ke belakang untuk sesaat ke arah perpustakaan. Tempat itu diterangi matahari senja.
Bereaksi terhadap cahaya matahari terbenam di jendelanya, aku merasa sedikit tidak nyaman saat melihat pantulan berwarna merah itu. Kupikir itu mungkin adalah imajinasiku dan kembali ke Atelier.
Sudah beberapa hari sejak aku meminjam buku dari perpustakaan. Pada dasarnya, karena aku tidak pergi ke luar ke kota dan bertarung, aku mencurahkan waktu senggangku untuk membaca buku. Saat aku mengumpulkan informasi, aku terus bekerja untuk meningkatkan itemnya.
"Hmm. Ini ke sini. Tidak, itu tidak bagus. Itu tidak akan berjalan dengan baik bagaimanapun juga."
Apa yang sedang kulakukan pada saat ini adalah meningkatkan item peningkat status yang disiapkan dari daging monster, Boost Tablet.
Awalnya, aku membuat itemnya menurut resep, tapi——

Boost Tablet (Rock Crab) Consumable
DEF+1 / 10 menit
Sebuah pil yang dibuat dari Rock Crab sebagai bahannya

Itulah yang muncul dari resep dasarnya. Mencoba untuk meningkatkan efeknya, aku mencoba mencincang dagingnya, mengeringkannya, merendamnya dalam antidote. Meskipun aku telah mencoba banyak hal, tidak ada efeknya. Yang ada, level Sense Cooking-ku naik satu tingkat saat aku mencampurnya dengan item bahan makanan.
"Haa, gawat. Meskipun aku mencoba untuk membuat item berefektivitas tinggi dengan biaya murah, sulit untuk membuat hal seperti itu begitu saja. Sebuah bahan yang tidak menyebabkan efek status buruk itu tinggi, tapi karena tingkat dropnya rendah maka akan menjadi mahal … mau bagaimana lagi. Tinggalkan saja dulu dan baca beberapa buku.”
Ngomong-ngomong, yang sedang kubaca saat ini adalah buku terakhir dari yang kupinjam kemarin.
Dua buku pertama yang kubaca, adalah cara memanfaatkan Sense Synthesis dan Alchemy dengan cara yang mudah. Itu adalah daftar sederhana resep item.
Tetapi, ada beberapa hal yang peralatan crafting Synthesis-ku tidak dapat bantu karena hanya dapat mensintesis tiga item. Selain dari item yang dibuat dari mensintesis empat material yang tertera di dalam buku, ada beberapa benda seperti stone arrow yang kubuat sebelumnya. Ada beberapa resep yang dapat dibuat dengan menggabungkan beberapa item di dalamnya. Tetapi, tadinya aku tidak berpikir untuk meningkatkan peralatan crafter sebelumnya.
Dan apa yang sedang kubaca saat ini, ada sebuah buku berjudul Membuat Chimera.
Ini tertulis dalam bahasa yang seperti dalam dunia fantasi. Sebagai ganti MP, disebutkan sebagai 'kekuatan sihir' dan monster digambarkan sebagai 'iblis' dan semacamnya yang membuatnya sulit untuk dimengerti. Aku menuliskan bagian-bagian penting yang tertera di situ.
Dan yang kupelajari sebagai hasilnya adalah——
Sense Synthesis dapat menggabungkan item tertentu untuk menciptakan monster.
Itu berbeda dari monster-monster yang menjadi teman dengan menggunakan Sense Taming. Tidak ada peningkatan level untuk makhluk-makhluk tersebut dan kekuatan monster ditentukan oleh kombinasi sintetisnya.
Yah, persyaratan untuk resepnya adalah Memiliki alat crafting yang mampu mensinstesis lima item. Itu dua tingkat di atas peralatan crafting yang kupunya saat ini.
Peralatan crafting yang mendukung empat item harganya 100kG, yang mendukung lima item harganya lima kali dari itu, 500kG. Kalau seperti itu, aku lebih baik mendapatkan peralatanMixing dan Craftmanship.
"Jadi, aku telah memikirkannya baik-baik. Tapi, itu mustahil untuk situasi saat ini."
Bukan materialnya yang menjadi masalah, tapi biaya investasinya terlalu tinggi. Karena monster yang diciptakan secara sintetis ini tidak dapat dibuat dengan berbagai penggunaan sintesis, itu ditunda dulu.
Hal yang terakhir … apa yang samar-samar kurasakan, adalah kecerdasan chimera meningkat tergantung dari material yang digunakan … dengan kata lain, hasil dari monster itu tidak berubah dan AI-nya (Artificial Intelligence — Kecerdasan Buatan) dapat ditingkatkan.
Itu sesuatu yang seperti tingkat kesulitan dalam permainan tempur di komputer, kurasa. Awalnya mereka lemah, dan secara bertahap menjadi semakin kuat. Tentu saja, kemampuan mereka tidak berubah dan kekuatannya tergantung dari seberapa baik tubuhnya ditangangi.
Aku menyelesaikan membaca buku tersebut dan menghela nafas panjang. Aku melirik buku-buku yang ada di rak. Sementara baru judulnya yang sedikit terbaca, isi dari buku tersebut belum diketahui. Level 9 Linguistic , rasanya masih ada jalan panjang yang harus dilalui.
"Mungkin aku seharusnya mencari buku baru untuk mengubah suasana hati…"
Aku menuju ke perpustakaan. Kali ini aku meninggalkan Ryui dan Zakuro di Atelier untuk menjaga toko dan memasuki perpustakaan seorang diri.
Aku mengembalikan buku-buku yang kupinjam terakhir kali di bagian resepsionis dan kembali menuju ke pojok yang berisi buku-buku tentang crafting.
Meskipun aku kira-kira tahu di mana lokasinya, perlu waktu bagiku untuk mencarinya. Itu adalah sebuah tempat yang temaram, jauh dari jendela kecil, di rak buku yang berada sangat di belakang. Aku mengambil buku yang ada di tanganku dan menuju ke jendela terdekat untuk membacanya.
Untuk menaikkan level, aku mengambil berbagai macam buku, tapi pada dasarnya semuanya berhubungan dengan Sense yang kupunya. Tapi, kalau aku membatasi hanya pada Senseku saja, pastinya akan ada batasan pada buku yang kubaca, jadi aku membaca buku-buku yang bisa diminati siapa saja.
Setelah membaca beberapa buku, yang berada di tanganku saat ini adalah buku yang berjudul Tekhnik sebelum memasak bahan khusus untuk mengeluarkan racunnya.
Yang tertulis di situ adalah cara untuk menangani item beracun.
Lokasi dan karakteristik dari kelenjar racunnya, cara untuk menilai bagian yang menyebabkan status abnormal berdasarkan warnanya. Juga, sepertinya mungkin untuk menghilangkan kelenjar racun dan memakannya.
Tiba-tiba, sesuatu terhubung di dalam kepalaku.
Ciri khas dari kelenjar racun itu mirip dengan daging Rock Crab.
Lebih tepatnya, saat mengiris secara vertikal, terdapat sesuatu yang seperti pembuluh darah berwarna ungu. Aku pernah melihatnya saat menggiling dan mengeringkan daging.
Jika aku memotongnya, kelenjar racun itu akan rusak dan dagingnya akan terkontaminasi. Daging itu juga bisa terkontaminasi oleh perubahan suhu. Di buku tertulis bagaimana biasanya menyingkirkan racun tersebut.
"Ini … bisakah aku menggunakan ini?"
Aku menutup mata dan mengumpulkan kembali bayangannya.
Buat sayatan vertikal pada daging Rock Crab, dengan hati-hati menghilangkan kelenjar racun pada sisi-sisinya agar tidak merusaknya. Setelah itu, tinggal membilas daging dan membuatBoost Tablet.
Ada buku-buku lain yang belum kubaca, tapi aku ingin mencoba informasi ini. Merasa seperti itu, aku berdiri.
Dengan cepat aku merapikan buku dan meminjam buku tentang racun, lalu segera kembali ke Atelier.
Ryui yang sedang berbaring di lokasi yang cerah di dalam toko, mengangkat kepala sebentar dan memiringkannya saat aku lewat. Aku memasuki bengkel kerja Atelier.
Secara vertikal aku menyelipkan ujung tajam pisau yang dibuatkan untukku oleh Magi-san ke dalam daging itu, membuka tubuhnya. Pekerjaan ini lebih sulit daripada memotong daging putih ayam dan aku berakhir dengan merusakkannya. Tetapi, karena kelenjar racunnya masih utuh, aku memutuskan untuk menghilangkannya sebagai praktek dan meneruskan.
Hasilnya adalah pada akhirnya aku merusak tiga kelenjar racun pada potongan daging itu. Yang kedua kalinya sama dengan yang pertama. Yang ketiga kali sedikit lebih baik tapi aku lengah pada akhirnya dan merusak kelenjarnya.
Setelahnya, hal tersebut berlanjut tanpa henti. Aku menghabiskan banyak daging karena kontaminasi racun tapi pada akhirnya berhasil menghilangkan kelenjar racunnya.
Kemudian, aku membiasakan diriku beberapa kali. Pada akhirnya, aku cukup terbiasa hingga mendapatkannya satu dari tiga kali percobaan. Aku dapat menyimpan sejumlah material. Saat aku berpikir begitu——
"Sense Cooking berada di level 10 atau lebih, jumlah percobaan menghilangkan racun dari material yang berhasil telah lebih dari sepuluh kali."
Itu adalah pesan yang sudah kulihat sebelumnya. Dengan tenang aku memeriksa skill yang baru.
"Sepertinya itu adalah Poison Removal. Sebuah skill yang menghilangkan racun dari bahan makanan. Apakah itu berhasil atau tidak, tergantung pada level player dan DEX. Tidak terpasang dan tidak terpakai pada saat pertarungan. Yah, ini adalah skill crafting tambahan."
Bagaimanapun, karena aku sudah mendapatkan skill Poison Removal , aku mencobanya pada daging Rock Crab, tapi…
"Hanya satu dari lima percobaan yang berhasil, jadi melakukannya secara manual memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi, ya."
Itulah hasil dari material tingkat rendah. Dengan tenang aku memutuskan untuk menghilangkan racun secara manual. Ngomong-ngomong, material yang gagal dihilangkan racunnya berubah menjadi item misterius penyebab cedera Poison yang pernah kulihat muncul saat Synthesis atau Alchemy gagal sebelumnya. Tadinya, itu adalah cairan, kali ini adalah potongan daging yang anehnya kelihatan beracun dan berwarna ungu. Aku penasaran apakah perbedaannya.
Aku menggunakan skill Dosing pada daging Rock Crab yang racunnya telah dihilangkan dan mengeringkannya, lalu menghancurkannya menjadi bubuk yang halus. Kemudian aku mengeluarkan Medicine Stone yang sudah dihancurkan menjadi bubuk lalu mencampurkannya dengan hati-hati, memastikannya seimbang.
"Akhirnya, tambahkan air sedikit demi sedikit dan gabungkan mereka. Ini dia."
Aku menuangkan sedikit air sulingan padanya dan dengan cepat mengaduknya, menjadi sebuah campuran. Karena ini menjadi pasta berair gara-gara jumlah airnya terlalu banyak, pasta ini berakhir gagal. Campuran ini tidak akan berakhir baik jika jumlah airnya terlalu sedikit juga, tapi itu bukanlah sebuah masalah yang cukup besar untuk dipikirkan.
Aku membagi campuran yang kumiliki tersebut menjadi bagian-bagian kecil dan membentuknya dengan telapak tanganku.
"Hal terakhir yang dilakukan, membungkusnya, kurasa."
Sekalipun aku dapat membuat pil setelah mengeringkannya, pil yang dimasukkan ke mulut sejujurnya terasa sangat tidak enak.
Dari sini ke depannya, benda ini tidak berefek pada jumlah penyembuhan. Aku membalut pil yang masih basah itu ke dalam tepung untuk menghaluskan teksturnya. Karena Medicine Stone dan Gallstone sendiri terasa sedikit berminyak, aku melekatkannya dengan kuat. Dan kemudian, aku memutuskan untuk menambahkan warna.
Untuk menunjukkan efek yang sama dengan Enchant Stone, setelah mengeringkannya, aku mewarnai Boost Tablet yang terbuat dari Rock Crab yang dapat meningkatkan kekuatan pertahanan dengan warna biru, yang merupakan warna dari enchant DEF.
Apa yang muncul pada akhirnya, adalah pill berwarna biru cerah.

Boost Tablet (Rock Crab) Consumable
DEF+ / 10 Menit
Sebuah pil yang dibuat dengan menggunakan Rock Crab sebagai bahannya.

"Aku membuatnya tanpa menambahkan Antidote Grass…"
Sekalipun awalnya aku ragu-ragu apakah aku benar-benar menghilangkan racunnya, tapi saat itu berhasil, aku meregangkan bahuku.
Perbandingan harga bahan dengan rasio efeknya cukup bagus. Yang tersisa adalah menjualnya di toko dengan harga yang tidak akan menganggu pasar Boost Tablet.
"Kyouko-san, kau di sini?"
"Ya, ada apa?"
"Maukah kau melakukan semacam penelitian pasar? Aku ingin menentukan harga jual optimal Boost Tablet dengan efek seperti ini."
"Produk baru lainnya, ya. Aku mengerti. Kali berikutnya aku pergi ke kota untuk membeli material, aku akan melihatnya."
"Juga, bisakah kau mengumpulkan sejumlah kecil daging monster dari tiap jenis? Untuk sampel."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan kembali ke konter."
Saat Kyouko-san meninggalkan bengkel kerja, Ryui dan Zakuro masuk sebagai gantinya.
"Oh, maaf. Aku masih belum membersihkannya. Hei, Zakuro, jangan datang ke sini."
Saat dia berjalan cepat dengan kedua kaki kecilnya ke arah meja kerja dengan pisau dapur di atanya, aku mengangkat Zakuro.
Tatapan Ryui terarah pada ujung meja kerja di mana daging Rock Crab yang terkontaminasi dengan kelenjar racun berada.
"Ayolah, kita kembali ke toko."
Aku mendesak Ryui dan mengelus punggungnya, tapi sebaliknya dia mengambil sebuah langkah maju.
"Heii——?!"
Saat aku melihatnya, Ryui telah menciptakan sebuah bola air dan menceburkannya ke dalam wadah berisi daging Rock Crab yang terkontaminasi, membilasnya dengan berisik. Dari sudut pandangku, itu adalah sebuah pemandangan yang mengejutkan seakan melihat ke dalam mesin cuci.
Dan kemudian, Ryui memakan daging Rock Crab yang dibilas itu! Heiii!?
"Hei! Itu untuk dibuang! Dan itu juga mentah! Muntahkan! Ayolah!"
Meskipun aku mencoba membujuknya dengan tergesa-gesa, Ryui menggigitnya dan dengan hati-hati mengunyah sebelum menelannya.
"…tidak ada yang terjadi? Racunnya tidak ada ya."
Ryui gemetar menanggapi perkataanku, memastikannya. Kemudian, aku mengambil sepotong daging dari bola air itu dan menaruhnya ke dalam mulutku.
Karena ini adalah kepiting, mungkin jadinya bisa dimakan mentah-mentah. Rasanya … lumayan, kurasa? Kupikir ini bagus untuk ditambahkan ke dalam sup miso atau semacamnya. Tidak, tunggu, bukan itu——
"Tidak ada racun? Kenapa?"
Kenapa, meskipun aku berkata begitu, jawabannya sudah jelas. Itu mungkin karena kemampuan Ryui.
Sebelumnya, saat aku mendapat Curse, Ryui menyembuhkanku dengan bola air itu. Sepertinya itu efektif terhadap status Poison.
"Hahaha, bagaimana ini. Padahal aku bersusah payah mencoba belajar untuk menghilangkan racun, seperti orang bodoh."
Tumpukan daging yang tadiny akan kubuang telah dimurnikan oleh bola air Ryui dan dapat dimanfaatkan lagi. Karena Zakuro mulai memakannya, jumlah daging Rock Crab berkurang sedikit, tapi aku dapat menyimpan sisanya.
Karena aku punya sedikit waktu, aku membuat sebuah makanan menggunakan sejumlah besar daging Rock Crab.
Nasi dengan irisan tipis kepiting dan sup miso kepiting, juga salad kepiting, sehingga menjadi menu kepiting. Entah kenapa, kenalan dan pelangganku mengetahui lewat aromanya dan memakan semangkuk nasi dan sup miso, sebelum malam melingkupi Atelier.

Only Sense Online Jilid 3 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

5 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.